Korupsi, Pemerintah & Mobil Korupsi Sori nih kalo postingan gua gak lucu atau gimana. Dalam beberapa posting gua ttg negara ini gua selalu punya keyakinan akan bangsa ini. Bahwa kemajuan bangsa ini dimulai dari kita dan gak perlu tunggu orang lain dulu (baca pemerintah/dpr) untuk membuat bangsa maju. Pemikiran gua, kalo sampe saling tunggu, ya kitanya gak maju-maju. Berita-berita tentang proses hukum kasus dana BLBI yang menyangkut 52 mantan anggota DPR lumayan membuat itu semua pupus. Kenapa ya bangsa kita ini suka sekali korupsi? mengambil apa yang bukan haknya? Ini bahaya sekali. Karena ketika satu orang korupsi karena tamak, dia memaksa 100 orang lain untuk korupsi demi survival. Formula setan yang tterbentuk ini lah yang akhirnya membuat biaya hidup dan biaya pembangunan mahal. Jaman gua SMP banyak guru korupsi. gua gak bisa nyalahin mereka. Gaji mereka kecil dan butuh untuk survive di jakarta yang merupakan kota ke #43 termahal di dunia untuk bahkan ukuran expat (mercer survey). Korupsi dana milyaran itu kasus yang parah. Kita kaum pekerja, kerja keras dan dipotong pajak. Pajak ini diambil pemerintah untuk membiayai rakyat dan pembangunan. Uang ini bersirkulasi dalam berbagai macam bentuk. ketika uang ini dikorupsi, ini artinya rakyat golongan pekerja hidup untuk membiayai korupsi orang dan teman-teman rakyat yang kelaparan tidak dapat makan. Pembangunan juga tidak berjalan yang membuat kita semakin ketinggalan. Tahun 1999-2004 terasa sekali bagi gua bahwa Indonesia jalan di tempat dalam ranking di dunia dan kesejahteraan menurun. Dan sekarang, di tahun 2008 terbukti. Banyak sekali anggota DPR periodie 1999-2004 yang korupsi. Intinya semakin banyak lagi bukti bahwa 5 tahun kita mempercayai Gus Dur dan Mega gak ada hasilnya. (dan sekarang mega menyerang SBY habis-habisan. mbok ya ngaca). Gus Dur juga pantas turun. Punya partai aja bisa pecah, gimana ngurus negara? Mega juga kritisi cara SBy menghadapi krisis minyak dunia. menjadikannya cerminan kegagalan SBY. Heleh namanya juga krisis minyak dunia. Semua presiden di dunia ini di demo sama rakyatnya. Jika kita me-list dosa besar presdien sekarang, harga minyak bumi tidak pantas dimasukkan karena semua presiden di dunia juga dikecam rakyatnya. Ini krisis global. Negara dan Mobil Periode 2004-2009 kabinet SBY merapihkan pajak agar semua orang bayar pajak. Ini sebenarnya bagus. Ini sebenarnya sesuatu yang bisa dilakukan dari jaman Mega yang entah kenapa dia tidak lakukan. Banyak entah kenapanya kalo ngomongin Mega, sumpah. Gua juga sebenernya rada percaya bahwa semua kebijakan SBY berangkat dari niat baik. Punya NPWP juga baik tapi di saat yang sama SBy memerintahkan semua orang punya NPWP, kita dihadapkan dengan persidangan kasus di masa 1999-2004 di mana pajak itu dikorup oleh tak lain wakil rakyat. Weleh, gimana orang bisa PD? Dan ujian thd pemerintahan SBY sendiri akan terlihat 4 tahun lagi. 4 tahun lagi kita akan liat apakah ada trilyunan rupiah yang terkorup di bawah batang hidung dia seperti yang terungkap di bawah hidung Gus Dur-Mega sekarang? SBY ini ibaratnya diamanatkan jadi supir sebuah mobil tapi sampe sekarang turun pangkat jadi montir. Rakyat teriak mobil ingin maju tapi ya gak bisa. Dia harus benerin mobilnya dulu sebelum bisa jalan karena 3 presdien sebelum dia gak benerin mobilnya. Jadi ketika dia naik jadi presiden, dia menemukan mobil yang sangat rusak. Ini buah simalakama juga untuk SBY. Kalo kerusakan negara sangat parah, bisa-bisa mobil kita baru bener di saat 2009. Di saat itu rakyat sudah tidak sabar dan mengganti SBY dengan presiden X. Presiden X ini yang keenakan. Dia jadi presiden mendapati mobilnya sudah lumayan oke. kalo mobil jalan, bisa-bisa dia yang kena harumnya. Gua bukan pendukung SBY tapi gua yakin kerusakan materil dan mental negara kita butuh lebih dari 5 tahun untuk undergo perbaikan. Kalo presdien yang sama tidak diberikan kesempatan untuk termin kedua, bisa-bisa perbakan dasar yang SBY sudah lakukan 5 tahun ini dirubah lagi oleh presiden X. SBY sendiri bukan tanpa cacat. Dia meng-approve visit indonesia 2008 tanpa persiapan yang terlihat. Airport gak dibagusin. Akses ke tempat wisata tidak diperbaiki. Tempat wisatanya sendiri tidak mekarkan. gak ada persiapan sama sekali. Atau setidaknya, tidak ada persiapan yang terlihat. Abisin 17 milyar bangun website untuk apa? Greece dan Yunani, nih gua sering ngeliat banner mereka di semua website dunia. yahoo lah, msn lah, di semua website. kesitulah sebenernya 17 milyar itu seharusnya habis. tapi ya sejauh ini baru itu blunder terbesar dia sebagai presiden di mata gua. Tsunami? itu alam. Krisis minyak dunia dan naiknya BBM? itu global. Lapindo? well itu juga sih. Jadinya apa kalo kita menerima presiden baru? Skenario baiknya: bisa jadi presiden memajukan indonesia dengan mobil yang SBY capek-capek perbaiki. Skenario buruk: Mobilnya masih ngadat dan presiden X juga mereparasi mobil. Pekerjaan SBy dirubah lagi. PP dirubah, ketentuan-ketentuan dirubah, policy dan strategi dirubah. Mentah lagi semuanya danrakyat harus tunggu lagi 5 tahun. Tiap 5 tahun akan terjadi saja seperti itu. Sukarno dan Suharto juga bisa sukse bangun negara karena mereka memiliki termin keduanya kan? mereka bisa follow up apa yang mereka kerjakan di termin pertama mereka. Pengaruhnya apa bagi pekerja keras seperti kita-kita? Gua cuman ngarepin bahwa pajak yang gua berikan pada bangsa ini tidak digelapkan. Agar bisa membangun negara. Agar uang itu dapat mempercepat presiden sekarang selesai memperbaiki mobilnya dan agar kita bisa segera naik mobil itu. Korupsi menghalangi proses kelajuan mobil dan bahkan proses perbaikan mobil kita ini. Gua berharap Indonesia masih bisa diperbaiki. Jujur, ada lho kata terlambat. Jangan sampai kita berada dalam titik di mana kita tidak maju-maju. Di saat itu kita akan semakin tertinggal. Apakah gua berharap banyak dengan pemerintah sekarang? ya, masih. Labels: politics
Kita ini Bisa Maju Gak Sih #2 Koreksi Gua dikoreksi oleh beberapa orang di posting sebelum ini. Koreksi yang bagus dan put things in perspective. YIM bisa jadi hanya mejalankan tugasnya sebagai DPR. Guna DPR Sekarang mari kita anggap YIM hanya mejalankan tugasnya dengan baik. Dengan kritis mempertanyakan tindakan para eksekutif. Jika memang begitu, ini gak menyelesaikan masalah, yaitu kenapa banyak orang yang sepertinya jenius dan tahu segala, end up duduk di posisi yang hanya bisa ngeritik? Kalo memang anggota DPR itu perwakilan rakyat dan ngerasa tahu apa yang terbaik untuk rakyat, kenapa DPR end up sbg pengeritik dan gak punya otoritas untuk untuk do something? Do something, do anything, untuk bikin kita maju. Kalau memang YIM ini memang tahu bener ttg etika berpolitik LN, kenapa dia sbg DPR gak punya authority untuk terjun dan membantu memperbaiki? Ini artinya kita bayar pajak untuk bayar anggota DPR gaji berlebih tapi gak punya otoritas untuk action. Sinting. Itu namanya sinting. Gua ngomong gini karena status kerawanan kondisi negara kita bagi gua sudah berada di tahap di mana bahkan kritik mebangun pun gak akan memperbaiki keadaan. Action. Do something. Do anything. Kita udah liat, bahas dan setuju SBY, meski ada cacatnya, bener-bener kerja dan kecapekan. Do, something Indonesians!!! Laler Politik Granted bahwa setelah koreksi teman-teman gua jadi sadar oh mungkin YIM pengen bantu tapi terkekang. Dan sekarang gua bukannya ingin mengakhiri posting ini dengan pindah topik, menarik ditemukan bahwa gak banyak yang menanggapi bagian tulisan gua ttg kontes politik. Menarik bahwa berkali-kali gua kritik Amien Rais sebagai banci tampil tapi gak ada yang respon. Granted mungkin YIM hanya menjalankan kapasitasnya sebagai DPR. Granted bahwa kita bayar pajak untuk bayar anggota DPR untuk kritik tanpa kasih otoritas untuk take action, meski itu sinting. Tapi Indonesia bisa bergerak lebih maju kalo kontes politiknya berkurang. Orang-orang seperti Amien Rais, Indonesia bisa istirahat dari orang-orang kek dia. Kenapa sih kok gua kayaknya sentimen bener sama dia? Ceritanya gini: Kekuatan "Do Something" Tahun 2003 gua menemukan gaji gua kecil. Gua gak nyalahin pemerintah. Instead gua siang kerja malem nulis. Berubah hidup gua. Sekarang gua udah bisa punya anak asuh. Berbuat lah sesuatu dan itu akan mengubah hidup lu. Dan Insya Allah bisa merubah/membantu hidup orang lain. Itu baru gua, warga negara dengan kekuatan politik nol. Laler-laler politik seperti dia punya otorita, karisma dan kapasitas untuk membantu presiden mengubah hidup rakyat, memperbaiki. Ini yang gua gak liat. Klik disini kalo mau baca. Ironisnya gua pernah milih dia. Ternyata dia hanya salah satu dari banyak laler politik yang pamrih dan gak mau nolong orang kalo dia bukan presiden. Bahkan dengan negara sebagai taruhannya. Malaysia lebih maju dari kita bukan karena mereka lebih demokatris. Mereka diktator. Singapur lebih maju dari kita bukan juga demokrasi, tapi justru rezim pemerintahnya lebih parah dari jaman Suharto. Masalahnya, semua orang di kedua negara itu setuju untuk gak berpolitik dan kerja sama bikin negara maju. Ini yang gua gak liat di Indonesia. Labels: politics
Kita ini Bisa Maju Gak Sih? Satu tahun yang lalu gua nulis ini (klik sini) sebuah postingan yang mengundang banyak pro kontra. Waktu itu gua menyuarakan mending kita memperbaiki diri dari pada ngarep sama pemimpin-pemimpin kita. Banyak yang menghujat gua dengan bilang bahwa masalahnya bukan di rakyat tapi pemimpin-pemimpin kita lah yang bobrok. Gua setuju kok pemimpin kita banyak yang bobrok. Masalahnya kalo mau ngarep mereka berubah susah. Kalo ngarepin kita berubah, itu lebih bisa dijalankan. Simpen dulu itu di sana. Gua mau lompat dulu bentar ke masalah bawah: Akhir-akhir ini gua sering baca kasus-kasus kekerasan thd WNI oleh warga Malaysia. Granted bahwa kondisi makin parah. Granted bahwa sebagian kasus adalah karena kecerobohan WNI sendiri yang gak bawa surat lengkap. api beberapa kasus memang asli aja warga Malaysia tidak punya respek thd kita. Bagi mereka kita warga kelas dua yang memiliki semua konotasi negatif yang kita bisa bayangkan. Pembantu lah (padahal pekerjaan juga apa aja asal halal itu yang dilihat Allah), tukang cari masalah hal, perilaku buruk, bla bla bla. Granted. Dari sini kita sebagai bangsa bereaksi. Bagi gua, ada rasa senang melihat orang-orang merasa panas harga diri bangsa diinjak-injak. Ngeliatin aja gitu bahwa orang Indonesia masih care thd bangsanya. Kita boleh jadi bangsa tertinggal, tapi masih punya dignity. Apa hubungannya sama pemimpin-pemimpin kita? Ini hubungannya: perkataan dari Yusron Ihza Mahendra (YIM), anggota komisis I DPR di artikel detik ini (klik seneeeh) quote: "Jangan masalah penculikan anak aja yang diurus. Masalah harkat dan martabat di mata internasional yang diinjak negara lain, SBY hanya diam" Gua meledak. Bagi gua, bangsa kita menjadi bangsa yang tertinggal ketimbang negara lain justru karena orang-orang seperti YIM ini. Kerjanya ngeritik. Bantuin nggak. DPR ada berapa ratus orang? Presiden cuman 1. Indonesia susah maju karena kita punya kebanyakan orang-orang seperti YIM ini. Terlebih lagi, kontes politik itu terlalu ramai. Tidak hanya mengeritik tapi juga menjatuhkan. Kebanyakan orang ngira dia pantes jadi calon pemimpin dan gak brenti sampe yang lain jatuh. Semua orang ingin maju dan menjatuhkan orang lain. Sampai saatnya dia bisa maju, dia ditusuk orang dari belakang dan begitu seterusnya. Tidak ada satu pun pemimpin di Indonesia yang didukung oleh segenap rakyat, bawahan dan counter politicsnya. Akhirnya jadi counter productive. Ngakunya reformasi tapi reformasi itu jadi ajang orang saling tusuk. Amien Rais dukung Gus Dur jadi presiden, beberapa tahun kemudian dia juga yang seret Gus Dur turun. Udah tahu Mega gak bisa apa-apa masih aja sengaja didorong ke atas utk diekspos ketidak becusannya dan begitu seterusnya. Sekarang SBY. Anggota2 DPR dan lawan-lawan politiknya juga kenceng bener kritik dan hakimi SBY kurang ini kurang itu. Lagi ngurus A, dikritik kok gak ngurus B? Ngurus B, Itu C gak diurus. Tapi gak ada lawan politik yang nolong dia. Presiden hanya manusia. Dibutuhkan kerja sama semua orang untuk bisa bikin bangsa maju. Ini nggak. Semua cuman di pinggir lapangan ngeritik. Ngarep jatuh agar dia bisa naik. Gak sadar apa dia juga ntar digituin? Juga harus gua singgung kayaknya yang namanya Amien Rais itu meriang kali ya kalo gak jelekin presiden. Gus Dur dia langsirin. Mega dia jelek2in. SBY dia ekspos. Banci tampil manusia itu. Padahal gua bilang sih SBY untuk saat ini yang paling mending dari semua presiden kita. Oke deh mungkin dia jenderal. Itu membuat orang was-was apakah akan menjadi totaliter. Tapi dia satu-satunya jenderal yang jadi presiden yang asli beneran S2. Educated. Banyak orang bilang dia gak cukup berbuat untuk memperbaiki negara ini. NAH MEREKA NOLONGIN GAK? Kita udah pilih 1 orang. Mendingan kita dukung orang itu, siapa pun dia untuk bawa kita maju. Jangan ngeritik gak guna seperti YIM. Liat sekarang, mana ada elit politik yang nolong SBY? Semua ngeritik. Giliran kampanye presiden semuanya tiba-tiba muncul kayak maling ayam, berusaha meyakinkan kita bahwa dia punya cara dan janji bikin kita maju. Respon gua adalah: KEMANE AJE JEK? Bikin maju negara gak usah jadi presiden kali? Bantu aja presiden yang sekarang. Itu sih namanya pamrih. Banyak orang bilang dia gak cukup berbuat untuk memperbaiki negara ini. Ya iyalah, dia ngabisin banyak waktu memperbaiki kesalahan 3 presiden sebelumnya yang gak berbuat banyak. Dia gak perfect. Tapi kita lihat, dia kewalahan ngerjain semuanya karena kebanyakan kerjaan itu seharusnya sudah dibereskan 3 presiden sebelumnya. SBY udah kita reduce menjadi tukang sapu masalah masa lalu. Belum lagi orang-orang kelebihan gaji seperti YIM ini yang gak ngasih added value ke kemajuan negara. Orang-orang terburuk yang negara ini bisa miliki adalah orang-orang seperti YIM. Seriously, kita gak butuh kritik sekarang. Kita butuh dukung siapa pun yang jadi pemimpin di negara ini untuk ngejar ketinggalan. Pembaca mungkin boleh gak setuju sama gua. Sori kalo ada idola kalian yang gua tulis negatif di sana. After all ini blog pribadi ya, bukan blog orang lain. Labels: politics
Satu Tahun Perubahan Sebentar lagi Indonesia berumur 61 tahun. Jika kamu orang Indonesia, satu aktifitas di bawah mungkin berguna. Ada yang berubah dari Indonesia selama setahun terakhir? Macet, korupsi, hutang negara? atau selalu menjadi satu-satunya negara yang, ketika currency se-Asean membaik, rupiah kita tidak? Tidak ada yang membaik? Stagnan? Frustasi dengan itu semua? Suka membandingkan dengan negara lain? Jika jawabannya 'ya', maka saya ingin bertanya satu hal lagi. Ada yang berubah dari kamu sebagai orang Indonesia selama setahun terakhir? Secara pribadi, saya paling benci mendengar ada orang Indonesia mengeluh tentang negaranya sendiri. Kenapa? Saya akui bahwa tidak banyak dari pemerintahan kita yang layak dibanggakan akhir-akhir ini. Tapi kita harus ingat bahwa sebuah negara berisi dan dibentuk orang warga negaranya sendiri dan kita, kamu, dia dan mereka adalah warga negara dari Indonesia. Dan ketika sebuah negara tidak membaik, itu bukan salah siapa-siapa kecuali salah kita sendiri. Kita iri kenapa bahkan negara ASEAN lain sudah mampu bangun mass transit sendiri. Di lain sisi disuruh daftar NPWP, malesnya setengah mati. padahal pajak adalah sumber pemerintah mendanai pembangunan negara. Banyak dari kita yang mengritik pemerintah yang belum juga bisa mengurangi hutang luar negeri, tapi...kita pergi ke mall membeli baju yang diimpor. Ke mall, naik mobil yang CBU yang diimpor. Di sana, makan di rumah makan yang sistem franchisenya mendikte bahwa 60% revenue harus dikonversikan ke USD dan transfer keluar negeri. Kita malu jadi negara yang hutangnya besar tapi barang yang setiap hari kita beli membuat pemerintah makin sulit menabung devisanya. Semua keluar karena kelakuan kita yang tidak melakukan apa-apa. Kita orang kota yang hidup seperti itu seharusnya malu dengan pengrajin rotan yang mengekspor kursi ke Jerman. Sementara kita habiskan devisa beli barang impor, dia menyelamatkan negara dengan memberinya devisa. Tidak ada yang peduli dengan TKW yang berpenghasilan USD10000 setahun. Yang di negeri tuannya digampar dan diperkosa. Yang ketika pulang uangnya diperas supir dan calo. Yang di cengkareng ditempatkan di terminal khusus agar 'tidak mengganggu' kita-kita. Padahal kita pergi keluar negeri membawa dollar dan mengamburkannya dengan belanja. Mereka mengais dollar dan memulangkannya ke Indonesia dan membantu negara menambah devisa. Lucunya, kita yang foya-foya ini memandang rendah mereka. Kita pergi ke supermarket membeli apel australi dan durian monthong dan bergumam 'coba indonesia bisa seperti ini'. Di saat dia makan dia tidak sadar bahwa uangnya telah pergi membayar apel tersebut ke Australia dan Thailand. Dan bahwa ada ratusan sarjana IPB, UI dan ITB yang seharusnya bisa membantu genetic engineering untuk pembibitan unggul buah ekspor yang kerja di bank. Kita ingin Indonesia berubah? Mulailah berubah dari diri kita. Mulai berubah dari apa yang kita bisa. Mulai berubah sekarang. (mengikuti nasihat Aa Gym, hehe) Ada yang berubah dari kita sejak setahun yang lalu? Apa yang kita perbuat yang membantu negara kita menjadi lebih baik dan lebih berarti? tanya dulu itu. Baru merasa malu. Nasib negara kita ada di tangan kita sendiri. Bukan orang lain. Bukan dia, bukan mereka, tapi kita. Dirgahayu Indonesia ke-61. btw: Seseorang harusnya membuka bisnis transportasi antar jemput dan security untuk TKW. kasian sekali nasib mereka. Labels: politics |
Adhitya Mulya adalah Dewa Ganteng yang tinggal di kahyangan bersama 100 dayang-dayang. Dia menghabiskan waktunya turun ke bumi untuk bertemu dengan rakyat jelata dan berburu menjangan dan babi hutan... (or is it, berburu rakyat jelata dan bertemu dengan babi hutan? anyways, same thing). Oh ya, sesekali dia menulis buku komedi.
orang telah melihat kegantengan gua yang legendaris itu. Ninit ; Aan ; Agung ; Aip ; Alaya ; Avianto ; Aris ; Atta ; Detta ; Ewink ; Enda ; Erly ; Fairy ; Fanny ; Ganda ; Hagi ; Hanzky ; Isman ; Ita Leyla ; Ni'ang ; Ndari ; Nita ; Pip ; Okke ; Roi ; Ruri ; Shinta ; Tyaz ; Udhien ; Umar; Adi ; Afo ; Alaya ; Alfa ; Ale ; Alvons ; Aiff ; Andhi ; Andin ; Andin ; Anggie ; Anto ; Aprian ; arb3i ; Ari ; Arma ; Arif ; Ayu ; Axlandra ; Bantot ; Be-Es ; Beranda ; Bintang ; Bios ; Blub ; Brandy ; Buzz ; Cay ; CB ; Celia ; C'est la Vie ; Civent ; Claustrophobic ; Comel ; Comel ; Crey ; Dagungsta ; Dayat ; Deksay ; Dian ; Dican ; Didi ; Didiet ; Diki ; Dini ; Dion ; Disposable Hero ; Drey ; Duwie ; Dwi ; Dyah ; Ekodox ; Emil ; Ephe ; Eric ; Erika ; Erwin ; Eve ; Eyi ; Farid N ; Farid ; Finalizabeth ; Fitri ; Flow ; Flow ; Fresh ; Gajah Duduk ; Gauz ; goblog ; grE3nY' PrinceZz ; Guido ; Grizz ; Harris ; Harris ; Harris ; Heri ; Herlyanti ; Hero ; Ibiza ; Ika ; Ilsa ; Inex ; Inna ; Ipan ; Irene ; Irene ; Iris ; Isnaini ; Koebiz ; Kun ; Lacsar ; Lemans ; Lilik ; Lindie ; Little Mermaid ; Lontar ; Matz ; Memey ; Merkurius ; Morningdew ; N[a] ; Nasgor ; Neen ; Neenoy ; Nice green ; Nisa ; Nita+Agus ; Nono ; Novie ; Nukov ; Nunik ; Ochan ; Ollie ; Paylo ; Pipit ; Prazz ; Prianca ; QQ ; Radith ; Rapa ; Reena ; Ren ; Ria ; Richoz ; Ridwan Fauzi ; Rihsa ; Riena ; Rita ; Sapi ; Sasha ; Sazi ; Seggaf ; ; ; ; Snydez ; StormyMonday ; Supta ; Sweeney ; Sylvie ; Tamtam ; Tari ; Toet ; Trippin' D ; Tutup Botol ; t.w. ; Ty ; Tyaz ; Tychan ; Umar ; Un^Goe ; Vanda ; Vanya ; Viga ; Vellas ; Weedee ; Yudha ; visit rice bowl journals ! |