Krismon dan Kerjaan Baru Gara-gara Krismon Global Gue melakukan suatu perubahan yang besar dalam hidup dan karir. Jadi ceritanya karena krismon global ini, company gue mengusir semua expat balik ke negara masing-masing. Expat dari Asia tenggara seperti gue masih mending dikasih 3 pilihan. Ambil paket, ubah status jadi pegawai lokal singapur atau pulang ke cabang Indonesia. Masalahnya ambil paket abis itu mau kerja di mana? Terus dengan ngenesnya cabang Indonesia juga gak ada pekerjaan yang pas. Akhirnya gue memilih jadi pegawai lokal singapur. gue beruntung dibanding expat dari non asia tenggara yang disuruh pulang ke areanya masing-masing atau ambil paket. Intinya dengan jadi pegawai lokal singapur, gue akan ada di sini untuk waktu yang tidak ditetapkan. Huaaa gila juga. Umur 31 dan mengulang semuanya dari nol. Nabung lagi buat beli rumah, mengubah semua rencana finansial, dan lainnya. Kerjaan Baru Divisi operasi pusat tempat gue kerja juga ditutup dan gue harus ambil pekerjaan baru di divisi operasi regional. Ini yang menarik. ternyata kerjanya berat banget. Di divisi ini ada yang namanya weekend duty, dapat tiap 3-4 minggu sekali. Itu bisa nginep di kantor lah. kerja sepanjang weekend lah, dan lainnya. Mampus. Kita 1 tim 7 orang dapet 1000 email sehari yang harus dibales. Ya jelas aja gak kebales semua. reminder dari mana-mana, semua email adalah urgent. manager mereka lah di cc, diescalate lah, waduh ancur deh. Kayaknya 8 tahun gue kerja di company ini, ini adalah divisi yang ketika gue masuk, paling tidak tertata rapi. Dan seperti biasa gue datang sebagai team leader dengan ditautkan ekspektasi tinggi untuk bisa turn things around. Somehow. I'm a confident person. Tanpa harus nyombong gue bisa bilang bahwa gue adalah salah satu orang yang paling optimistis dan agresif yang gue tau. Dan dengan bekal ini pun, masuk ke dalam divisi operasi regional ini gue jiper. yang kasian sebenernya keluarga gue. Dan juga kerjaan sampingan. Lupakan nulis buku untuk sementara. blog asuhan gue http://apakatacalegln.wordpress.com gak kepegang. project anak asuh gue yang udah masuk tahap 3 terpaksa gue suspend dulu sampe weekend ini. Duh semoga gue dikasih waktu bisa nolong orang. Sumpah deh bahwa seseorang sangat serba salah adalah ketika kita punya niat baik tapi tidak punya waktu untuk itu. Dan to make it worse, gue akan berada dalam divisi ini sampai waktu yang tidak ditentukan. Masalahnya lagi ada hukum tidak tertulis di company gue bahwa kita harus menginvest waktu dan perfomance di divisi tempat kita sekarang kalo kita mau pindah divisi lain. Otherwise kita akan dicap cry baby. Tantangan Generasi Kita Sodara gue banyak yang dateng dan nanya ke gue, prediksi ekonomi ke depan gimana. Gue bilang gak tau. karena sesungguhnya tantangan generasi kita lebih berat dari generasi ayah kita. Jaman mereka dulu mungkin mereka tumbuh dari keluarga miskin. Tapi 30 tahun yang lalu, terjadi booming lapangan kerja. Tidak ada dari ayah kita yang menganggur lama. Generasi kita? Gila krisis berkali-kali. Kemudian booming yang terjadi adalah booming tenaga kerja, bukan booming lapangannya. Go figure that one out. Gue ngomong ini untuk menghibur orang-orang yang mungkin masih nganggur. Atau berada di bawah pressure atau bayang-bayang kesuksesan orang dan dan di bawah kesuksesan ayah/ibu. Percayalah, untuk mendapatkan pencapaian yang sama dengan generasi sebelumnya, generasi sekarang harus kerja 2 kali lebih keras. Hikmahnya Dari dulu gue sadar bener bahwa semakin tua kita dalam hidup, kita itu semakin mandiri tapi ironisnya juga semakin menjadi terkekang ini itu. Gak percaya? Bukti, Umur 20 tahun kita bisa melakukan apa aja yang kita mau. Umur 30 mau resign? anak mau dikasih makan apa? asuransi bayarnya gimana? Umur 40 mau pensiun? rumah belum tentu lunas. Gue sadar benar dengan itu. kemudian gue juga sadar bahwa kita gak bisa selamanya ngerasain enak. Ketika kita kesulitan sering kali kita bisa keluar dari kesulitan itu berkat mungkin kecerdikan kita atau even dumb luck. Tapi suatu saat ada aja fase dalam hidup di mana kita kecerdikan kita udah mentok dan satu-satunya jalan adalah feel the pain and deal with it everyday. Apalagi ini krismon global. Semua orang kena. It's called living a life. Satu hal hikmah dari krimon global ini, dan gue bilang ini purely dengan bersyukur dan tidak bermaksud menyombong (berhubung pembaca gue banyak takutnya ada yang ngerasa gue arogan, sori) adalah: Beli lah rumah dan lunasi rumah itu sedini mungkin. Jadinya ketika phk, setidaknya gak luntang-lantung dan yang dipikirin hanya ongkos hidup dan pendidikan anak. Bagi kalian yang baru dapet kerjaan dan masih single. Belilah rumah. Biar kata tipe 24 juga kalo dari uang sendiri, bener-bener kerasa amannya. Gue pernah denger cerita seorang cewek gak jadi kawin sama cowoknya karena cowoknya memperlihatkan BTN yang dia beli dengan keringat sendiri, dan cewek itu merasa BTN tersebut rendah banget. She said poor guy. I say poor girl. Gitu aja untuk postingan kali ini. Selamat berjuang melawan krismon deh. Labels: life
Mantan-Mantan Kalian Hidup itu punya cara tersendiri untuk membuat sejarah masa lalu kita nyengir depan kita dan membuat kita nyengir balik. Dalam konteks cinta, umumnya yang terjadi itu mantan. Contohnya, tetangga gue ada seorang ibu-ibu. Katanya waktu kuliah dia pacaran sama X. Waktu itu si X itu biasa-biasa aja. Kemudian mereka putus dan menjalani hidup masing-masing. Ternyata Sekarang pak X ini udah jadi menteri. Si ibu tetangga ini sih gak nyesel. Cuman suka ketawa-ketiwi aja kalo sesekali si mantannya masuk TV dan terlihat jauh sekali dari penampilan dia di masa muda. Nah, pertanyaan gue, apakah kalian pernah ngalamin hal yang sama? Mungkin dijodohin sama anak kecil ingusan dan ternyata anak ingusan ini adalah, katakanlah, Mulan Jameela (whaa).. Kalo ada cerita, please share di comment ya, untuk sekedar lucu-lucuan aja. Update: Gue ngakak bener ngebaca semua cerita temen-temen yang dalam komen. Sekarang bagaimana dengan gue? Weleh.. jujur aja, gue sih udah kenyang ditolakin cewek. Sejarah hidup itu biar lah tersimpan dalam tabir misteri gue huehehe. Anyhoo, ada sih satu yang netral, maksudnya gak pahit. Dulu waktu gue kelas 2 SMP gue naksir cewek yang kelas 3, katakanlah X. X ini disukain banyak orang termasuk sesama kelas 3, laki-laki bernama Y. Gue sih gak comel tapi entah kenapa si Y ini tau. Nah gue dulu penakut bener jadinya gue tiap hari doa semoga gak digebukin Y. Suatu hari gue nunggu bis patas 21 dari mayestik ke PI. X muncul dengan kedua temannya. "Kamu mau ke mana?" tanya dia dengan gue jadi rada off karena dia nanya dengan aura seorang kakak nanya ke adik. Kandas lah harapan gue nyatain. "Ngg..ngg..ke PI kak." "Ya udah ikut kita aja yuk. Kita mau ke radio dalem. Kamu bisa nebeng sampe sana." "Ngg...boleh." "Ya udah, kamu tolong stopin bajaj dong." "???" aduh kak...bilang aja gengsi nyetopin bajaj. Setelah itu naik bajaj lah gue, berempat. Mungkin hari itu gue anak laki paling beruntung sedunia, bisa satu bajaj sama 3 cewek. Tapi kenyataannya gue tegang bener duduk samping dia. Gue dieeeem aja. Dia sendiri ketawa-ketiwi bareng temennya. Gue hampir membuka percakapan dengan ban serep. Kemudian gue melihat sesuatu dalam diri gue yang bikin gue lupa sama dia besok harinya. Ada bayem di gigi dia. Yuuuk. open directory, open file X, delete. Belasan tahun berlalu. salah satu mantan gue sms gue dengan harotnya "Dit, mau liat x gak? dia jadi presenter trans tv. Nonton trans tv sekarang!!" "Di singapur gak ada trans tv." mantan gue ini juga satu SMP dengan kita. Iseng-iseng gue google X. Memang ada. Dan tanpa bayem. Beda bener. Kata orang sih cantik dari banyak forum yang bahas dia, kayaknya ada yang jungkir balik suka sama dia. Gue sih prefer penampilan dia waktu SMP. Kalo dulu ada ada orang bikin novel terkenal "the girl with the pearl earrings" gue juga punya, "gadis dengan bayem di giginya" Update: Gue barusan baca sebuah forum yang fokus ke pemujaan terhadapa anchor TV-TV di Indonesia dan ada bahasan panjang ttg X. Gue ngebayangin orang pada pissing competition tentang betapa dekatnya mereka ke X ini: Dudul: Gue pernah slow dance sama dia pas SMP! Dodol: Gue pernah cium dia pas SMA!!!! Dudul 2: Gue NYARIS ngelamar dia pas kuliah Dodol 3: GUA YANG BERHASIL JADI SUAMI DIA!!!!! Gue: GUE SATU BAJAJ SAMA DIA! MINGGIR LU SEMUA!!!!!!!!!!!!!!! Labels: life
Film Serem Semalem Alde tidur bareng kita karena dia masih sakit. Satu hal tentang tidurnya Alde turunan ibunya, tidur motah. otomatis hasilnya adalah mereak berdua tidur membentuk huruf Y kecil. Biasanya tanpa Allde pun kita udah tidur membentuk huruf K, dengan gue bagian lurusnya. Kalo udah gini, gue kehilangan tempat gue di kasur dan dimulailah malem-malem begadang. Alde juga sering tidur sambil ketawa. Pertama kali gue denger itu, besoknya gue nelfon nyokap - mastiin aja kita gak punya keturunan orang gila. Anyways, kalo udah kegusur gini, gua biasanya lari ke salah satu favourite pass time gue, yaitu nonton film serem. Yup gue adalah penggemar film serem. Salah satu buktinya adalah gue sering nulis tentang pocong dan kuntilanak. Film serem itu gue bagi dalam skala 10 dengan angka 1 paling cemen dan angka 10 untuk film yang membuat gue trauma seumur hidup. Dan untuk memberi gambaran seserem apa skala gue, gini aja. The ring versi jepang itu skala 5. Saw 1 2 3 4 5 itu, semuanya skala 1. Bagi gue, film-film genre gore seperti Saw itu gak terlalu masalah. Cuman nontonnya jadi ikutan sakit. Emang sih kalo ada adegan yang over the top pasti gue tutup mata tapi setidaknya kalo gue selesai nonton film itu, gue gak luat kiri kanan dan lari ke kamar like a little girl. Saw itu bagi gue cuman buat anak-anak (dengan catatan lu emang menargetkan anak-anak lu tumbuh bermental tidak wajar). Yang jelek dari kesukaan gue ini adalah, ini adalah salah satu hal yang gue gak bisa share sama ninit. "A, tidur yuk." "Aa mau begadang Be, ini ada film serem thailand di tv." "Film serem ya? Pffff!!" dan ninit tidur sendiri. Yang mana semakin menguatkan bukti betapa kalo orang lain yang jadi istri gue, niscaya gue udah diminta cerai. Sampe sekarang alhamdulillah gue belum nemu film indonesia atau film barat atau film asing yang skala 10. Yang BT adalah kalo kita nonton film dengan ekspektasi skala serem 5-6 tapi ternyata skala 2-3. Cemen. Kemaren gue nonton sebuah B-movie yang judulnya redsands. Sebuah film ttg 6 serdadu amerika di afghanistan yang ketemu jin. Gue tertarik dengan bagaimana persepsi filmmaker amerika ttg jin. Bener-bener gak akurat. Dan jinnya ketauan banget CGI. Underestimation juga gue pernah ngalamin. Beberapa kali nonton film dengan ekspektasi skala 2-3 tapi ternyata skala 6-7. Wah itu monyet tuh. Contohnya, American Haunting. Wuiih orang gila. Biasanya film-film barat yang gue takutin dan menjadikan aktifitas nonton sebagai sesuatu yang ngeri-ngeri sedap (suspense yang sama kita dapatkan kita cabut buku idung) adalah film tentang kesurupan dan arwah dan exorcism seperti the exorcist. The exorcism of emily rose, American haunting, the ring jepang dan beberapa film lainnya. Film indonesia juga rata-rata lebih serem dari film barat. Hanya saja makin ke sini, gue ngerasa film indonesia jadi gak terlalu serem karena artis-artisnya terlalu cantik (jadi makin nyaman dan tabah nontonnya) dan sutradaranya gue udah pada kenal. contohnya, kemaren nonton lewat tengah malam di youtube, yang maen joanna alexandra. Dari pada takut, gue malah ngebayangin ikut maen film dan saban joanna jerit-jerit, gue datang masuk ke scene dan bilang, "sini-sini, tenang ya dik, tenang ada abang. Punya, nomor telefon?" Kedua faktor itu menghilangkan kadar takut dalam nonton, somehow. Nah sekarang gue mau nonton the haunting of hollymartley. Secara ini film arwah, gue expect skala 5-6. Let's see.
Aldebaran 19 months ![]() Dalam bahasa Inggris, daam hal anak umur di bawah 2 tahun ada istilah 'terrible two'. Ini merujuk kepada kondisi di mana anak di bawah 2 tahun itu luar biasa rewel. Sebenernya kejadian ini wajar dalam beberapa artian, Sejak seorang anak berada di atas 1 tahun,
Untuk menanggulangi ini gua dan Ninit melakukan beberapa hal. Kita pengen dia eksperimen sepuasnya Ini karena di saat eksperimen otaknya berputar untuk menemukan logika dan meski meja tamu kita bisa berubah jadi seperti meja bedah film horor, Insya Allah dia ngerti buah dari eksperimen itu. Untuk itu, semua mainan dan semua barang yang dia bisa makan, ditaro di bawah. Pecah belah dan barang-barang beracun seperti, oh I dont know, racun tikus, itu di atas. Kita gak pernah capek ajarin dia untuk makan sendiri dan megang gelas sendiri. Hasilnya lumayan. Aldebaran semakin sedikit tumpah-tumpah kalo minum. Masalah dengan minum adalah dia jadi sering sekali ngebanjur lantai dengan susu coklat dan orange juice. Kita kasih dia kursi dan meja sendiri sebagai area eksperimen. Sebelum itu dia ekspermien di mana-mana. Kita Pengen Dia Kaya akan Kosa Kata Kalo kita lagi jalan, kita pasti tunjuk, that's a tiger. Loook at the cars Alde, wow there are so many cars. How many cars Alde? Let's count together. Look at the black bird alde. The black bird is flying! Sebenernya rada aneh ngajak dia ngomong dengan kalimat penuh. Tapi setidaknya lama-lama dia ngerti bahwa benda itu adalah burung dan burung itu berwarna hitam. burung yang hitam itu sedang terbang. Tentunya di kebanyakan waktu dia gak merhatiin. Tapi kuncinya di sini gak nyerah dan terus ajak dia ngomong. Dan ajak dia ngomong dalam 2 bahasa. Gua ragu dengan konsep natural born something. Gua percaya bahwa personality kita adalah hasil didikan lingkungan sekitar dan orang tua. Sebagai seorang bungsu gua terlatih untuk melihat dan mencerna dan itu adalah yang gua cerna. Kita adalah hasil didikan. Mendidik Alde menjadi decision maker metode kita sangat gampang bahkan cenderung primitif karena kita juga masih belajar jadi orang tua. Kalo kita lagi jalan pagi atau jalan sore, dia yang jalan di depan. Kita gak gandeng dia. Biarin aja dia mau belok kiri atau kanan. Mau dia kejar kucing atau kejar burung, terserah. Dia yang memutuskan mau ke mana. Kalo Alde bingung, kita bantu dengan pilihan dan ini yang paling sering kita lakukan. Alde mau ke mana? Ke kiri atau ke kanan? Kalo Alde lagi ganti baju untuk pakai piyama, kita tanya Alde mau yang merah atau yang biru? sambil menyodorkan keduanya pada Alde. Kalo ke super market, Alde mau coklat atau pocky-pocky? Kita Pengen Alde Percaya Diri & Menggunakan Potensinya Ketika Alde melakukan sesuatu yang salah atau bahaya. Kita larang. Tapi ketika Alde berhasil melakukan sesuatu, kita tepukin tangan dan "bilang good job Alde!!" Ini hasilnya sangat menggembirakan. Alde mulai bisa meng-apresiasi dirinya. Di saat dia berhasil melakukan sesuatu, dia berkata 'yay' sambil menyelamatkan diri dia dengan tepuk tangan pada diri sendiri. Dari 14 bulanan dia mulai bereaksi seperti ini. Contohnya pernah suatu kali dia naro apel di atas gelas dan bawa semua itu tanpa jauh dari dapur ke meja makan. Bagi kita mungkin itu remeh banget dan mikir 'ah gitu aja bangga' Tapi eh siapa tahu bagi dia itu adalah mile stone yang sangat-sangat tinggi. Ya gak? Dan di 19 bulan, kita mulai dengar dia bilang 'good job' pada diri dia sendiri. Bagi gua kedua hal di atas adalah sesuatu yang sangat menggembirakan. Dia bisa menghargai diri dia sendiri. Banyak orang tua yang gak sadar betapa pentingnya hal ini. Kalo kita gak bisa menghargai diri sendiri, orang akan bisa melihat itu dalam perilaku kita dan mereka gak akan menghargai kita. Kalo kita percaya diri. Itu akan terpancar dari diri kita dan orang akan menghargai kita juga. Pernah gak ketemu orang yang ketika dia ngomong atau presentasi, karismanya terasa dan kita jadi terkesan dengan apa yang dia omongin? Itu percaya diri. Dan itu yang harus kita pupuk. Di umur 12 bulan dia mandiri bisa naik turun tempat tidur sendiri. Ini karena beberapa kali dia bangun dan nangis minta gendong kita gak kasih. Malah, kita kasih tau dia cara naik turun tempat tidur sendiri. Hasilnya, dia gak pernah bangun nangis lagi. Kita kasih tau dia cara buka pintu sendiri dan di umur 12 bulan udah bisa. Jadi kalo bangun dan bapak ibunya gak ada, dia gak perlu nangis. Dia bisa bergantung pada dirinya sendiri. Ini kita cenderung beruntung sih. Gerendel rumahpintu rumah kita cukup rendah untuk Alde bisa raih. Segera setelah gua sadar, gua langsung ajarin dia buka tutup pintu. Soalnya selain belajar mandiri, bagus untuk keselamatan. Api adalah sesuatu yang secara alami orang takuti Bayi juga takut sama api. Tapi pintu bukan sesuatu yang alami. Pintu adalah buatan manusia yang pengoperasiannya kita harus ajarkan. Makanya in case kebakaran, gua harap dengan tahu cara buka pintu, Alde bisa langsung melakukannya. Kita kasih tahu cara minta ke kamar mandi dan sekarang kalo mau ke kamar mandi, narik-narik ibunya. Kita Pengen Alde Bersosialisasi Ketika kita melihat kecenderungan ketergantungan pada kita, kita mulai masukin dia ke dalam day care. Sayangnya day care di Singapur mahal banget jadinya kita masukin dia dua kali seminggu aja. Tapi ini adalah investment kita terbaik sejauh ini. Dengan masuk day care, ada beberapa perkembangan yang kita lihat: 1. Alde jadi lebih mandiri lagi. Dia ngeliat beberapa temannya megang gelas dan minum sendiri dari pipet. Sebelum day care, ia selalu gak mau minum dari pipe dan malah dia maenin. Sekarang dia gak terlalu sering maen sama pipet dan akhirnya menggunakan pipet untuk minum. 2. Dia belajar dari teman-temannya beberapa kosa kata yang berbulan-bulan kita gak bisa. 3. Dia jadi sadar bahwa buah-buahan seperti apel ternyata banyak yang makan. 4. Dia belajar dari teman-temannya beberapa tindak-tanduk. 5. Ninit bisa punya waktu lebih untuk ngembangin bisnis zaralde (yang btw, booming!) Kalo gua pikir-pikir bener juga sih. - Kalo kita masukin day care meski mahal, dia dijaga oleh orang-orang yang berkualifikasi. Bukan pembantu yang lulus SD aja nggak. - Orang-orang berkualifikasi ini tahu cara handle anak dan psikologi anak juga, gak kayak pembantu kita yang terkadang gak punya pengalaman. Mereka gak salah, kitanya yang salah mempercayakan anak pada mereka. - Day care punya program yang terstruktur. Serahin anak ke pembantu? anak kita akan terstruktur nonton sinetron. Tapi yang paling penting adalah Alde mulai make friends. Itu yang luar biasa penting. Kalo kita ingin dia menjadi mahluk sosial, biarkan dia interkasi dengan anak lain. Lagi-lagi semuanya kembali pada kepercayaan yang gua anut di mana pribadi dan kecerdasan anak itu gak semuanya terpatri saat dalam DNA dia lahir. Makanan, lingkungan dan cara lingkungan itu mendidik anak jauh lebih penting, kalo gak sama pentingnya dalam membangun mentalitas anak. Gua suka rada sewot sama orang tua yang bangga-banggain anaknya tapi ketika ditanya resepnya apa, mereka selalu bertolak kembali ke anak itu. "Anak gua sekarang bisa gini lho!" -> wajar ortu bangga sama anak, wajar. "Oh ya? Gimana caranya dia bisa sampe gitu?" "Ntah. Dia langsung aja bisa sendiri. Wah anak gua hebat!" -> Ini yang ngeselin. Untuk beberapa hal memang kecerdasan seorang anak sering mengagetkan orang tua. Contohnya, anak temen baik gue umur 7 bulan udah bisa berdengung sangat mirip dai adzan. Ini mungkin karena dia sering mendengar adzan tanpa bapaknya ajarin. Ini wajar banget. Dan itu adalah contoh dia belajar dari lingkungan. Tapi gak semua hal seperti itu. Don't you know what you are teaching to your kids? Are you sure that's because of them? Atau thanks to your maid? Or thanks to you? Alot of us just don't have a clue. Kita pengen anak kita pinter tapi giliran dia ribut sedikit, kita bentak dia suruh diam. See? apa yang kita pengen sering kali gak sejalan dengan apa yang kita tahu. Kita sering merasa lebih pintar dari anak kita dan mengajarkan dia ini itu benar dan salah, tapi kita gak sadar kalo kita juga harus belajar jadi orang tua. Apakah gua sukses? Gak tau lah. Metode-metode di atas juga gak certified dan gua hanya melakukan semua ini dari observasi saja. Don't take my words for it. Tapi hidup itu bukan game komputer. Apalagi hidup anak kita. Kita semua ingin memberikan yang terbaik untuk anak kita. Masalahnya terkadang kita sendiri gak sadar bahwa yang kita berikan itu bukan yang terbaik. At least, if we know what we'e doing, we're a bit safer. Sekarang kalo bisa, sharig dong, didikan apa yang kalian berikan pada anak yang berbuah baik? Ajarin apa, jadinya gimana gitu. Sharing ya! Rgds. Labels: aldebaran, kids and parenting, life
Loosing My Mojo But not in a sexual way tho hahaha. Gua sedang dalam kondisi yang bagi gua cukup menyedihkan. Sejak tahun 2003 gua selalu mencoba mendeliver 1 karya. masalahnya sekarang gua belum nulis dari februari 2007 sampai maret 2008. Itu adalah jedah satu tahun - terlama gua gak menghasilkan karya dalam bentuk apa pun. Be it script, novel, adaptation, anything. Waktu ada. Waktu selalu ada. Secara kantor gua hanya 15 menit jalan kaki dari rumah. Tapi pulang kantor, selalu ada Alde menunggu dan minta main bareng. Apalagi akhir-akhir ini Alde lebih clingy ke gua. Kalo gua mau ke kantor dia teriak. Kalo pisahan di mall untuk nyewa dvd, dia teriak. But regardless, truth be told, any given day gua memilih untuk memberikan semua waktu gua pada Alde. Jadi waktu bukan masalah. Terus apa masalah gua? Kerja? Bagian ini juga memiliki masalah. I've been making friends with a bohemian couple, the famous indrani.net. dan dari pertemuan dengan mereka gua jadi ingin ikutan les berlayar. Ada kali Indra 4-5 kali ngajakin gua memulai les tapi somehow gua selalu tolak. kebanyakan karena weekend gua harus kerja. Sekali waktu sakit. Dan kesempatannya selalu hilang. kemudian gua ajak dia ikut amazing race 3. yang mana besoknya langsung ada pengumuman dari kantor akan prkembangan downsizing. Gak lucu aja gua ikutan amazing race 3 dan dapet telfon "Adhitya, would you liek a retrechment package?" So that's that. Kerja ini juga memberikan tingkat stress yang sangat tinggi. ketika gua mulai nulis bajak laut beberapa bulan yang lalu, company gua mengalami downsizing dan gua jadinya me-rem pekerjaan menulis untuk konsentrasi ke pekerjaan. Apakah ide juga masalah? Ya. Safe to say bahwa gua kebanyakan ingin cerita dalam bajak laut ini. Dari sejarah raja-raja nusantara - yang ternyata 1 raja bisa punya 3 versi yang gua bingung mana yang bener. Kehidupan sosial Batavia yang sadis dan tidak komedik. Sampe cerita bajak laut itu sendiri yang harus diramu dengan kocak. Ketika seseorang mencoba menggabungkan ketiganya, emosi penulisan jadi naik turun dari bab ke ba. Bukan emosi membaca, tapi emosi menulis. Yang namanya nulis komedi itu moodnya harus pas. ketika mood kita komedik di bab 2 dan kita pindah ke bab 3 yang menerangkan kawasan penjaringan, mood komedi itu hilang. Masuk ke bab 4 yang komedi lagi, sulit sekali mendapatkan mood komedi itu lagi. Trus lagi, proses kehidupan. Ketika gua nulis jomblo, gua masih jadi bujangan happy go lucky type. Nulis GMC gua masih married dengan posisi karir yang masih mencari bentuknya. Nulis TT anak gua masih kecil. Sekarang? gua udah jadi bapak anak satu yang punya portfolio investment besar untuk hari tua dan karir yang mulai speasialis dan hampir diguncang downsize (gua survie btw, alhamdulillah). Dengan cukup jelas, hal-hal yang gua hadapi, jalani dan atasi sekarang jauh lebih penting dan memerlukan kedewasaan berpikir. Dan itu merenggut semua cita rasa komedi gua/ If you look at my blog writings, there hasnt been any single comedic entry for a long, long time. As a recap to all of this, I could be loosing my mojo in writing comedy. Akhirnya untuk bajak laut ini, gua mulai nulis lagi. dan gua memutuskan untuk tidak menggunakan hasil riset 4 tahun dan mulai menulis mengalir begitu saja agar komedinya lepas. Terkadang gua berharap bis aselepas dan serileks Rasdit Kambing jantan atau Endang rukmana. Tapi gua sadar gua gak bisa. Gua punya tanggungan dan actually solid good career to maintain. Dan membalance kedua hal itu dengan menulis is no easy job at all. Oh well. time to try to write again. Brgds.
Membeli Masa Depan Sebelumnya makasih bagi yang udah komen dan ngasih masukan di posting gua yang ini. Di Singapur sini kita bisa nonton RCTI dan SCTV. Di suatu malam gua lagi memindai channel dan melihat sebuah iklan yang menggugah. Iklan itu adalah iklan dari tabungan rencana Bank Mandiri.
Sekarang gimana caranya kita pensiun dengan baik? Kecil, gak nyusahin orang tua Nah gua mau share sesuatu di bawah. Bukan karena gua sukses melakukannya, atau telah berhasil menyelesaikannya. Tapi gua pengen aja sharing karena penting untuk diketahui dan semoga memberikan insight yang baik bagi yang belum tahu.
30% pensiun
- asset & liability - Biggest & Most Basic Investment Ketika kita kecil, mereka merawat kita. Setidaknya di mata gua, sebagai anak yang baik, harus selalu siap untuk menampung orang tua. Itu harus. Bokap gua menyisihkan 25% gajinya selama belasan tahun untuk hidupi orang tua dia.
- 5 tahun pertama konsen beli rumah - 5 tahun kedua konsen nabung buat investasi - 5 tahun ketiga konsen nabung pensiun Upside Downside
Kecil, gak nyusahin orang tua Kita Sebagai Anak Kita Sebagai orang tua
Getting Smart on Money Untuk kesekian kalinya gua gak tidur sampe pagi ninggalin ninit yang tidur sendiri di dalam kamar. Seperti biasa pikiran gua melayang ke mana-mana mikirin beberapa hal. Satu hal yang paling lama menghinggapi pikiran gua sampe pagi adalah keuangan. Jahatnya Inflasi Beberapa tahun terakhir ini gua sering mendalami ekonomi. Itu juga dengan kapasitas otak S1 gua yang sangat terbatas dengan legendarisnya. gua mulai belajar dengan menganalisis ekonomi yang ada dengan banyak baca dan banyak ngobrol sama orang. Referensi lain adalah blog-log terkenal seperti http://priyadi.net yang emang analisanya edan. Salut lah sama dia. Semuanya berawal ketika gua menyadari bahwa laju lnflasi di Indonesia ternyata lebih tinggi dari kenaikan kesejahteraan gua. Contohnya: Tahun kemarin gua bisa beli telur harga 1000. Tahun ini harganya 1100. Artinya lnflasi = 10%. Sedangkan bunga di bank = 3%. Artinya tahun kemarin gua nabung 1000. Tahun ini jumlahnya 1030. Terus gua mikir. Gila ya. gua udah kerja siang dan nulis malem-malem tapi tiap tahunnya nilai dari uang yang gua capek-capek dapatkan, menyusut. Gak adil. Gua bukan koruptor. Gua kerja keras. Tapi itu lah keadaannya. mau pendapatan kita 1 juta atau 100 juta, kalau kita biarkan saja, nilainya akan menyusut. Inflasi versi pemerintah = 6% per tahun. Kenyataan di lapangan berkata lain. Inflasi telah sukses membuat tukang goreng pisang bunuh diri karena gak kuat lagi beli minyak tanah. Itu tukang kurang usaha apa coba? Dia bisa aja ngemis pinggir jalan kalo mau dan earning 50000 per hari (1.5 jt / bulan) kalo dia mau. Tapi dia memilih ikhtiar. Yang dirasakan banyak orang saja 10% meski untuk beberapa sektor, lebih dari 10%. Harga apartemen bersubsidi X di sebuah kawasan, akhir 2007 masih 200 juta. Awal 2008, 230 juta. Gila, ganti tahun, 15% naiknya. Ini masih apartemen murahan. Harga apartemen yang mahalan, tahun 2006 masih 600 juta. Awal 2008, 700 juta. Itu sekitar 9%-10%. Mengalahkan Inflasi Dari analisis di atas, gua nemu bahwa musuhnya adalah inflasi. Gua gak bisa ngandelin pemerintah karena pemerintah sekarang terus dibacok calon-calon presiden yang pengen gulingin mereka. 10 tahun reformasi, semua orang yang menggulingkan Suharto berusaha saling menggulingkan dan meningalkan negara ini sebagai satu-satunya negara yang belum lepas dari krisis eknomi di Asia. Inflasi sendiri dipengaruhi banyak faktor yang gua gak mungkin tahu. Tapi dari matematika dasar yang otak S1 ini bisa pikir, artinya: 1. Kenaikan income/tahun > laju inflasi. Masalahnya, gua kayak gini aja udah ngos-ngosan dan stres. Apa iya gua pulang kantor masih harus ngojek juga? 2. Tabungan yang ada, nilainya bertambah > laju inflasi Bagi gua ini yang menarik untuk dibedah lebih jauh. Setahu gua ada bebrapa cara. Mohon infonya jika ada cara lain. Properti - bangunan Begitu punya uang cukup, beli properti. Downside - Masalahnya, barrier of entry untuk bisnis ini minimal 100-200 juta. Itu juga ngutang ke bank. Coba baca iklan di koran atau di website properti. - Harga rumah dan apartemen di tengah kota sudah milyaran. Harga properti juga gak selalu naik terutama apartemen. - Daerah jakarta utara sudah terlalu banyak apartemen. Temen gua di sana beli harga X, kemudian difurnish dan jual lagi. Eh dijual dengan harga X pun (yang artinya rugi di cost furnish), gak laku. - Aset keras. Tentang kenapa aset keras ini merupakan keburukan, nanti dibahas di bawah, Upside - Naiknya lebih besar atau sama dengan inflasi. Ini contoh di atas gua tulis lagi: Harga apartemen bersubsidi X di sebuah kawasan, akhir 2007 masih 200 juta. Awal 2008, 230 juta. Gila, ganti tahun, 15% naiknya. Ini masih apartemen murahan. Harga apartemen yang mahalan, tahun 2006 masih 600 juta. Awal 2008, 700 juta. Itu sekitar 9%-10%. - Properti = aset keras. Keunggulan aset keras adalah kao sampe pemerintah bilang "rupiah tidak berlaku lagi" setidaknya kita masih punya aset untuk dijual. - Properti bangunan adalah aset keras yang bisa mendatangkan passive income. Simply dari ngontrakin rumah / apartemen itu. Properti - tanah Downside - barrier of entry minimal 100 jutaan. - tanah makin sedikit, tidak seperti apartemen yang bisa dibeli ke mana-mana. - pemerintah sedang membuat wacana agar di masa depan, tanah tidak lagi menjadi hak milik tapi hanya hak guna. Masalahnya dengan hak guna adalah, kalo sampe digusur, hak guna menjadi alat pemerintah untuk mebyara ganti rugi minimum. Kalo hak milik, pemerintah bayar lebih tinggi. kalo wacana ini semakin cepat bergulir, maka harga tanah akan naik gila-gilaan. Habis itu harga tanah akan turun. Gak make sense lu beli tanah atas dasar hak guna, kemudian bangun rumah, kemudian digusur dengan ganti rugi minimal. - aset keras. Satu-satunya keuntungan beli tanah adalah nilainya yang terjaga. Tapi kalo kita butuh duit, dijualnya gak bisa cepet. katakanlah kita beli tanah 300 juta di tahun 2000 dan tahun 2008 sudah 400 juta. Trus ternyata kita butuh banget uang 50 juta. Tanah itu gak bisa nolong kita - dalam artian, demi mendapatkan 50 juta, lu harus menjual tanah itu seharga 400 juta. perkara lu dapet 50 juta, beres. Tapi aset lu kejual dan lu harus nyari tanah lagi. dan di tahun 2008 belum tentu ada tanah strategis yang bisa debeli seharga 350 juta sisanya. bayangin anak kita harus dioperasi gawat dan kita gak bisa jual tanah dengan cepat. Apa yang terjadi? hasilnya adalah kita sering sekali lihat iklan 'dijual cepat, butuh uang'. Kan sayang. Kalo dijual cepat, mau gak mau kita pasang harga murah. Dan yang tadinya niat investasi, jadi hilang. Upside - Kecuali kita bener-bener sial, harga tanah gak pernah turun. Dan tidak seperti apartemen yang selalu ada, tanah tidak bertamah. Alias makin lama makin sedikit. - aset keras - Bukan kertas uang yang setiap saat bisa terancam. Pasar Modal Sekarang udah ada yang namanya reksadana. http://priyadi.net dan beberapa blog terkenal lainnya pernah mengupas ini dengan sangat baik. Gua cuman mau ngasih tau risknya aja: upside - Secara historis returnnya sangat baik. 20% per tahun. - Exitnya sangat mudah. Tidak seperti aset-aset keras. Maksudnya exit cepat gini: katakanlah kita tanam di reksadana 50 juta. jalan beberapa bulan sudah 55 juta. Di saat itu, anak kita sakit dan harus operasi, butuh 40 juta. 40 juta itu bisa ditarik kapan saja. - Barrier of entry rendah. Ada beberapa bank yang menjalin kerja sama dengan reksadana dan kita dapat ikut berinvestasi dengan dana 2 juta saja. - Rupiah cost averaging. Nah ini kalo gua salah artiin, mohon dibenerkan ya. Maksudnya gini. Kita kalo beli tanah butuh uang ratusan juta siap. Dengan reksadana, ada yang namanya rupiah cost averaging. Maksudnya, tiap bulan kita bisa transfer 1 juta (atau sekuatnya) ke dalam tabungan reksadana itu. Jadi daripada pusing nyari modal 50 juta untuk ikutan reksadana, 50 juta itu bisa -istilahnya- kita cicil 50 x 1 juta sebulan. Downside - dengan return yang tinggi, risknya juga tinggi. Luar biasa tinggi. Investasinya tidak dijamin. Bisa return 20%, bisa rugi 20%. Temen gua masukin dana 50 juta. Jalan beberapa tahun berbuah jadi 240 juta. Kemudian dia cerita temponya reksadana crash dan sisanya tinggal 50 juta. Balik lagi ke saldo awal. Emas Ini favorit orang tua dan bahkan generasi kita. Orang tua kita sering beli emas dalam bentuk perhiasan karena mereka sudah menyadari bahwa nilai emas stabil. upside - Bisa dibeli dengan jumlah uang kecil, dalam bentuk perhiasan. Tapi nilai jualnya juga rendah karena perhiasan itu seirng dicampur, bukan emas 24 karat. - Nilainya paling stabil dari semua bentuk investasi yang ada. - Nilainya tidak pernhah turun drastis seperti dolar. - Di saat US dollar atau rupiah tidak berlaku, emas adalah bahasa universal yang bisa dijual di mana saja. katakanlah setengah dari dunia ini perang dunia. US dollar tidak berlaku, rupiah tidak berlaku. Kita dipaksa mengungsi ke Irak. Rupiah dan US dollar mungkin diludahin di sana, tap emas? bahasa universal. Downside - Membeli emas adalah cara yang baik untuk menjaga nilai uang. Hanya saja tidak berbunga. - Butuh ilmu dan waktu untuk belajar. Sebaiknya beli emas batangan yang bersertifikat. Currency Asing - USD Sekarang udah gak jamannya nabung dalam USD. Euro dan GBP terbukti lebih kuat dari USD. Di Indonesia USD juga lebih banyak menjadi dagangan fisik ketimbang mata uang. Ini wajar mengingat traumanya Indonesia di tahun 1998 dulu. - Nilai USD lemah ketimbang mata uang lain. - Karena Amerika sedang perang, nilai tukarnya semakin terjun melemah. Sekilas terlihat baik karena dengan USD menurun, Rupiah menguat. Tapi lihat juga kekuatan USD ke mata uang lain. Gua mau cerita hal yang menarik tentang USD dan apakah kita mesti menabung dalam USD, just in case kita krismon lagi. Pertanyaan turunan dari sini adalah: Apaah kita akan mengalami krismon seperti tahun 1998? Jawabannya: tergantung. Kita lihat dulu kasus 1998. Gua sendiri lupa kenapa logika di belakang kasus 1998. Tapi yang jelas: 1991 Bush perang dengan Irak. Perang ini menyedot USD keluar dari Marik sehingga Amrik terlanda krismon. Ini yang membuat Bush tidak terpilih lagi. 1996-98 adalah era Clinton. nah di sini yang gua lupa. Clinton melakukan sesuatu yang membuat Warga Amrik menikmati ekonomi terbaik dalam 2 dekade, sedangkan di belahan dunia lain, seluruh asia krismon. Sekarang Bush perang lagi dengan irak. Kali ini kembali membuat Amrik krismon. dalam waktu 5-7 tahun dari sekarang, Amrik bisa jadi ngejahatin negara2 lain lagi untuk memperkuat ekonominya dengan konsekuensi krismon di belahan dunia lain. 2008 ini adalah pemilu US. kalo sampe hilary terpilih, gua bilang, bisa jadi ada kemungkinan asia krisis lagi karena hilary bisa jadi akan melakukan hal yang sama seperti suaminya. After all, kesuksesan presiden adalah dari ekonomi rakyatnya. Walau pun itu membuat orang lain krisis. Apalagi Clinton suami dia. Dia akan tanya "Bill, what would you do?" Dan dari sana, bisa jadi neraka kita terulang lagi. Apakah jika Mc Cain dan Obama terpilih, pattern yang sama tidak akan terulang? Itu juga tergantung. Entah bagaimana caranya, the next president US harus memperbaiki ekonomi rakyat US yang sudah terpuruk oleh perang irak. Tergantung mereka apakah mereka ingin memulihkan ini dengan cara membuat negara lain rugi (entah gimana logikanya). Jadi, kembali ke pertanyaan, apakah USD adalah alternatif investasi yang baik? Jawaban gua sih, beli perlu, tapi gak usah kebanyakan. Mungkin sekitar 10% dari semua net wroth kita, dimasukkan dalam bentuk USD. dan ini hanya jika kita memiliki rencana menyekolahkan anak ke LN. Kesimpulan Dengan semua resiko yang ada di atas, apakah investasi yang baik? Gua bilang sih semuanya. Diversifikasi. Trik yang kebayang sama gua adalah (dan ini belum gua lakukan ya, cuman yang kebayang aja sama gua) 1. kalo kita punya uang 50 juta, masukkan itu ke dalam investasi yang paling cepat berbuah, meski itu beresiko (reksadana). Katakanlah berbuah menjadi total 100 juta. 2. Dari 100 juta itu, tarik 50 juta modal awal kita keluar dari reksadana dan belikan rumah kontrakan. Dari rumah kontrakan ini bisa berbuah uang. 3. Sekarang kita punya income dari poin 1 dan 2. Setelah cukup, investasikan ke mungkin tanah, atau emas batangan secukupnya. 4. Lakukan poin 3 dengan fondasi poin 1 dan 2 seterusnya. Nah ini adalah bayangan dan analisis gua yang cuman lulusan S1. Selanjutnya terserah masing-masing. Yang jelas, sesuai judul posting gua, pegangan gua adalah satu: Gua udah capek-capek kerja keras. Alangkah sayangnya kalo gua gak berpikir pintar untuk menyelamatkan uang dari hasil kerja keras itu. Rgds.
Impian Ini kerjaan gua tiap weekend. Nongkrongin marina belakang rumah ngeliatin sail boat yang merapat.Dari kecil gua suka sama alat-alat transportasi. Sampe-sampe gua masuk teknik sipil subjurusan transport. Kemudian gua kerja di industri transportasi. Dari mulai kerja gua udah ngumpulin replika perahu. Dan gua sering ngayal nanti setelah pensiun untuk punya sail boat. kemudian dengan sail boat ini gua napak tilas pelayaran cheng ho dan Cina ke Afrika timur. That's not bad at all. Sampai dengan akhir 2007 khayalan itu tetap jadi khayalan. Kemudian gua spend some time dengan pasangan indi - rani. Mereka merencakan untuk travel dengan sail boat dalam waktu 10 tahun lagi. Akhirnya gua beranikan diri untuk bener-bener pasang target juga. Gua selama ini belajar bahwa bedanya impian dan kenyataan adalah kenyataan = impian + target + planning + usaha + luck Bedanya gua menargetkan untuk beli sail boat dan travel dalam 25 tahun lagi instead of 10. Sail boat ini menjadi target finansial gua yang ke-6. Dari dulu gua punya 5 target finansial. Sampe sejauh ini, berkat kerja dan buku, target 1 & 2 udah tercapai. Sekarang tinggal 3 lagi, plus dengan sail boat ini sebagai penutup ambisi hidup. Dengan skema pendapatan dan pengeluaran gua sekarang, gua gak berani beli sail boat (AUS $ 300 000) sebelum yakin semua kebutuhan hidup sudah aman. baca: pensiun, pendidikan Alde, etc.Gua juga sudah melapangkan dada untuk menempatkan sail boat ini sebagai sesuatu yang sekunder. Yang kalo gak bisa dimiliki, gua masih bisa hidup tanpanya. Yang kalo sampe gagal mendapatkanya, ya minimal gak jadi orang gila dan nari telanjang di tengah jalan. Secepat mungkin gua realisasikan target 3 4 5 makin cepet gua bisa beli sail boat ini. Let's see what happens in 25 years, hehehe.. Rgds. Labels: life
Empat Tahun I must be the luckiest person on earth to have you. As a wife, lover, and most of all, as a best friend. I still remember what I promised you 5 years ago, during our engaged day. I said that I would give you the world. Or die trying to. And yet what I found was, Orang yang gak minta banyak. Gak minta apa-apa malah. Orang yang selalu ada di samping gua. Orang yang nerima diri gua yang angkuh dan rendah ini, apa adanya. Kamu, yang tidak pernah minta prada. Kamu, yang tidak pernah meninggalkan butiran nasi di atas piring. Kamu, yang masih mengucap syukur di saat kita susah. Kamu, alasan saya selalu bergegas ke rumah. kamu, alasan saya bergegas ke kantor. Kamu, alasan saya kuat menghadapi apa pun di dunia ini. Thank you for standing by me. Thank you for these 4 years. Thank you for loving me. I love you. Everyday.
Siapa Wanita Yang Mendidik Anak ini? Di bawah bukan pengalaman gua. Tapi gua dapet ini dari kumpulan orang-orang yang sukda berdiskusi di sini: kelompokdiskusi.multiply.com Kalo ada yang bisa seperti ini, kenapa kita nggak. ----------------------------------------------------- Setelah menyetir terlalu lama sepulang dari kampung saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan saya. "Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya. "Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan," jawab saya ringkas dan akhirnya dia berlalu. ------------------------------------------------------
Sulit #2 Gusti Allah.... Gua kira hanya keputusan urusan kantor saja yang menyulitkan gua. Ternyata datang juga masalah-masalah lain yang harus kita berikan keputusan. Sebenernya kalo mau eling, objektif dan meng-assess masalah tanpa ikatan emosional sih kita tahu, apa keputusan yang harus diambil. Masalah selalu hadir ke hadapan kita. Harus kita hadapi semua. Kita awali dengan menyebut nama-Nya. Kita kerjakan dengan mengharap ridha-Nya. Kita selesaikan dengan mengharap agar hasilnya membuahkan kebaikan pada umat-Nya. Sesungguhnya semua urusan sebaiknya dihadapi seperti itu. Semoga gua dan keluarga kecil gua ini mampu melakukan itu semua. Rgds.
Sulit
Cerita 3 Anak Sulung Jadi anak sulung itu no doubt tidak mudah. Kita semua tahu bahwa sudah menjadi kebiasaan bhawa anak sulung kerap harus tumbuh menjadi pantuan adik-adiknya. Kerap juga kita dengan anak sulung membantu orang tua kerja. Yang lebih jauh lagi, beberapa anak sulung tidak sekolah, membantu ibu di sawah agar adik-adiknya dapat sekolah. para adik jadi insiyur dan si sulung tetap menjadi petani. Tidak perlu sejauh itu, kita bisa lihat di kehidupan dekat kita sendiri. Maisng-masing dari kita kalo gak punya kakak sulung, ya jadi anak sulung itu sendiri. Sulitnya selain menjadi panutan adalah, harus sabar. Harus berbagi banyak hal dengan si kecil karena orang tua berpikir tidak perlu beli 2 barang yang sama untuk 2 anak yang beda. Tapi ada satu hal yang gua lihat jarang dibahas. Yaitu bahwa pembentukan karakter si sulung oleh orang tua. no doubt bahwa semua orang tua ingin mendidik anaknya dengan benar. Gua belum pernah nemu orang tua yang niat ngedidik anaknya dari kecil jadi orang jahat. Jika kita berangkat dari asumsi bahwa semua orang tua niat mendidik anak dengan benar, bermental baik, menjadi bibit yang unggul, lantas kenapa di dunia ini ada orang yang sukses dan ada yang tidak? kenapa ada yang benar-benar menjadi bibit unggul, ada yang biasa saja, ada yang jadi tidak mandiri, dan malah ada yang menyusahkan orang tua? Padahal niat semua orang tua itu sama, mendidik anak mereka agar menjadi orang yang baik bagi masyarakat. then there must be something wrong here. Kemudian ada lagi pertanyaan. Jika memang semua anak sulung terdidik sabar, bermental tauladan dan lainnya, lantas kenapa dari semua deretan pemimpin yang terkenal, tidak semua sulung? deretan manusia-manusia luar biasa sepanjang masa lahir ada yang sulung, ada yang bungsu ada anak tengah, malah ada yang anak tunggal. Kenapa gak semua pemimpin di dunia ini anak sulung? Yang katanya terbiasa memimpin dan menjadi tauladan dari kecil? Cerita 3 Anak Sulung Untuk mencari jawabannya, gua mau cerita masa kecil gua dulu ketika gua lahir di Medan. Ceritanya orang tua gua kerja di kilang minyak lepas pantai di medan beserta 3 orang engineer lainnya. kita sebut saja mereka Pak AA, Pak BB, Pak CC dan bokap. Mereka semua diberi rumah berderet persis. Kita berbagi pekrangan belakang yang sama. Mereka semua juga sama, pengantin baru. Engineer-engineer yang baru lulus, keterima kerja dan ketika tahu bahwa mereka ditempatkan di Medan, langsung ngajak kawin. Di tahap ini mereka masih sama. bahkan mereka melahirkan anak sulung mereka di waktu yang berdekatan. Kemudian mereka melahirkan anak kedua dan ketiga. keempat engineer ini sistem kerjanya adalah 3 minggu di oil rig dan 3 minggu di rumah. Dan di sini lah gua mulai bisa mengingat. Pak AA Pak AA punya dua anak. AA sulung dan AA bungsu. Pak AA ingin mendidik disiplin pada mereka. Metode yang dia gunakan adalah mencambuk dengan ikat pinggang. yang lain adalah sapu lidi dan rotan kalo gak salah. gua pernah main ke rumah Pak AA dan mendapati AA sulung menangis di sofa. AA bungsu hanya melihat dari kejauhan. Pak BB Pak BB punya dua anak. BB sulung dan BB bungsu. Pak BB mendidik anak-anaknya dengan mengancam. Yang paling sering kena adalah BB sulung. Diancemnya macem-macem. gua pernah main di halaman belakang dan mendapati BB sulung stres berat. Dan stresnya gak main-main. CC sulung jadi mengidap kelainan saraf motorik di mana meski gak ada angin gak ada apa, dia kelojotan sendiri. gua pernah tanya ke nyokap kenapa CC sulung seperti itu. ternyata karena stres. umur kita d bawah 10 tahun by the way, waktu itu. Pak CC Pak CC punya 3 anak. CC sulung, CC tengah dan CC bungsu. Gua melihat dia sabar dan mengayomi. Seakan sadar bahwa gak banyak yang dia bisa harapkan dari anak kecil dan kenakalannya. Sering ajak diskusi, kasih perhatian. Dia jarang marah. malah gua gak pernah melihat dia marah, setidaknya ketika gua main sama anak-anaknya. Mungkin dia sadar bahwa setelah 3 minggu gak ketemu, dia harus win back simpati anak-anaknya makanya dia gak ambil pusing sama sedikit kesalahan-kesalahan adolescent mereka. 10 tahun kemudian Lama berselang dari masa kecil kita, keempat keluarga ini banyak yang pindah ke kantor pusat mereka di Jakarta. Kita masih sering ketemu kalo ada acara kantor bokap. tapi karena rumahnya jauhan, jadi jarang. makin kita besar, kita makin lepas kontak. 25 tahun kemudian Suatu hari kakak gua menikah dan bokap mengundang semua teman lamanya ke resepsi. gua excited banget karena anak-anak AA BB dan CC ini. dan ini yang gua dapatkan: Anak-anak AA AA bungsu lagi S2 dan sudah jadi kontraktor. AA sulung mengidap narkoba. Anak-anak BB BB bungsu yang masih SMA sudah bolak-balik jakarta-Sao Paolo karena dia jadi duta Unicef dalam sebuah world wide programnya. BB sulung kuliah aja seperti biasa dan itu pun katanya kesulitan berprestasi. setalh 25 tahun ini, kealinan syarafnya masih ada. Anak-anak CC CC bungsu sekolah di amrik. CC tengah memilih kerja di San Diego. CC sulung kerja di salah satu bank paling bergengsi di Indonesia. Dari sini gua mikir. kenapa AA dan BB sulung memiliki kesulitan hidup? Sedangkan AA dan BB bungsu menjalani kehidupan yang gua bilang spektakuler. Ini berlawanan sekali dengan stigma yang hadir dalam kehidupan bangsa timur di mana kita kerap berpandangan: - Si sulung anak yang mantep, mandiri. - Si bungsu adalah anak manja yang gak bisa mandiri. Anak mami. Sering kali dalam 20 tahun pertama hidup gua, dalam cincin sosial gua, ada aja yang bilang "Lu bungsu sih dit" "Lu bungsu ya Dit?" "Dasar bungsu! Gini aja capek." Jawabannya adalah: 1. Bungsu, dengan cepat belajar dari kesalahan kakaknya. Sementara kakaknya nabrakin mobil dan dimarahin sampe trauma oleh si bapak, si bungsu dengan cepat belajar "Oh, nabrakin mobil gak boleh." Dan ada banyak sekali hal-hal seperti ini di mana si sulung harus suffer dan si bungsu menuai pelajarannya. Sementara si sulung trauma dan kehilangan confidence untuk proaktif mencoba sesuatu lagi, si bungsu jadi well prepared dan malah penasaran pengen nyoba apakah dia bisa do better apa nggak. 2. Orang tua cenderung tidak sadar bahwa dia bereksperimen dengan si sulung. Mau gak mau, memiliki si sulung adalah pengalaman pertama mereka menjadi orang tua. Ketika mereka menemukan sulungmelakukan kesalahan, 40% kemungkinan orang tua juga gak tau anaknya harus diapain. Si sulung mecahin kaca dan digampar bapaknya. tapi setelah lama bapaknya sadar bahwa sulung jadi trauma. Dia insyaf dan berjanji tidak mengulangnya. Ketika bungsu mecahin toples, si bapak gak gampar. Sementara si bungsu termaafkan, sulung yang udah trauma digampar, juga sakit hati melihat perlakuan yang gak adil. padahal sang bapak udah insyaf juga udah baik. Serba salah. Dan ada banyak sekali kejadian seperti ini dalam kehidupan adik kakak. Pak AA misalnya, AA sulung pada awalnya dididik dengan sangat keras. 5 tahun kemudian sepertinya Pak AA sadar bahwa metodenya salah sehingga approach pada AA bungsu sangat berbeda. Sedihnya lagi, Pak AA terkadang menyiratkan kekecawaannya bahwa Aa sulung -kasarnya nih- "produk gagal" Padahal kalo gua lihat, kegagalan ada di pihak dia. Gimana nggak? Di saat AA sulung berumur 5 tahun, di mana dia mendefine benar-salah dari ajaran ortu, dia jarang ketemu bapaknya yang ada di il rig dan pulang-pulang di sabuk. 3. Orang Tua juga berproses untuk menjadi dewasa. Orang tua hidup di dua jaman. jaman dia jadi anak dan jaman dia jadi orang tua. Kedua jaman ini beda total. Masalahnya, ada beberapa orang tua yang anak sulungnya masuk usia didik kritis (masa di mana anak kecil mendefine benar-salah dari ajaran ortu -ini masa yang gua define sendiri ya, gak tau di dunia psikologi ada apa nggak. yang jelas sarajana psikologi lebih tahu deh dari gua) orang tuanya masih hidup di jaman dulu. contoh kasus, Beberapa temen sulung gua ketika mulai pacaran susahnya setengah mati. Ada yang dibilang gak boleh lah, ada yang harus gini lah, gitu lah. Tapi giliran si bungsu pacaran dengan usi yang relatif lebih cepat, orang tua nyantai. Mungkin karena di saat ini orang tua sudah mulai beradaptasi dengan jaman sekarang. Di tambah lagi dengan kecenderungan di mana si bungsu ingin melakukan apa yang si sulung lakukan. Sulung pacaran di usia 18, kemungkinan besar si bungsu pacaran dari umur 14 karena melihat asyiknya si kakak. There you have it, susahnya jadi orang tua. Kalo anak gak didisiplinkan, takutnya jadi rusak dan pembangkang. Kalo gak pernah dimarahin, takutnya jadi lembek. Disetiap saat orang tua harus dihadapkan dengan pilihan kemungkinan yang gak enak ini. dan sadar tidak sadar pilihan yang mereka ambil membentuk mentalitas para anaknya. Dan yang menyeramkan bagi orang tua, sadar gak sadar, mentalitas anak adalah bekal si anak untuk survive di kehidupan mereka nanti. As for me and kakak gua, we grew up fine. Dan gua gak ngomong gitu karena bokap gua adalah penggemar blog gua, tapi we really did grow up fine. Kakak gua pinternya setengah mati, S2 dan jadi dosen. Profesi yang gua bilang sangta mulia karena membantu membuka wawasan muridnya agar muridnya bisa menjadi sukses. Gua? well, you know how I am now. Tapi memang ada yang gua pelajari bokap yang gua belajar untuk nggak. Yaitu kerja di tempat remote yang jauh dari keluarga. Nyokap gua pernah cerita, ketika gua masih ngerangkak dan hobi nelen kelereng, kakak gua udah bisa ngomong. Suatu hari bokap pulang dari oil rig dan kakak gua nanya ke nyokap "Mah, itu siapa?" gua kebayang pasti bokap sedih kalo inget atau tahu cerita ini. yang jelas, gua sengaja milih apartemen di Singapur ini yang bisa jalan kaki ke kantor. Makan siang gua bisa pulang dan main sama Alde. gua pernah baca di intisari bahwa ada kecenderungan di mana anak yang menghabiskan banyak waktu dengan bapaknya, ketika udah gede, kepandaiannya di atas rata-rata. Makanya sampe sekarang gua belum pernah nulis lagi sejak Alde lahir. gua pengen make sure, he has enough attention a child can get from both parents. In the end, jadi orang tua itu adalah pilihan yang kesiapannya terkadang harus lebih dalam dari yang kita kira. gua cuman bersyukur gua punya masa kecil dan teman-teman yang di mana gua bisa nimba pengalaman. Agar gua bisa terapkan atau malah jangan terapkan ke keluarga gua yang kecil ini. jam 3 pagil, Sleeping beauty dulu ye bo. Labels: kids and parenting, life
30 Years Old None the Wiser Jadi ceritanya gua hari ini ulang tahun. Biasanya gua gak pernah menganggap ulang tahun itu terlalu spesial. Tapi ini adalah ulang tahun yang ke-30, sebuah milestone dalam kehidupan kita menjadi manusia. Have we got better? Have we got wiser? Sedih melihat ke belakang. Labels: life
Gloomy Aduh lagi gloomy nih. Ada banyak yang dipikirin sampe gak bisa tidur. Udah coba pergi ke sajadah tapi masih gak bisa tenang juga. Pasalnya gua baru melakukan kesalahan di kantor siang. Kesalahan yang mengakibatkan 4 negara harus mengulang kerjaan mereka dan masih gak yakin bahwa hasilnya akan 100% bener pula. Tambahan lagi besok allocation day, hari terberat. Belum lagi ada 2 masalah lain di kantor yang bener-bener menguras energy. Belum lagi teringat bahwa sampe sekarang gua belum aja lagi mulai nulis buku keempat. Setiap hari keinget dan setiap hari juga ditunda. Padahal kalo mau ada output buku tahun 2008, harus dimulai sekarang. Gua sebenernya benci sama kondisi hati sekarang. Lacking confidence. Itu benci banget. Gua belajar dari hidup bahwa kita harus PD. PD itu membawa sukses kecil yang menambah PD kita dan seterusnya. Pola hidup ini sebenernya yang membawa banyak hal ke dalam hidup gua. Masalahnya PD itu lagi entah di mana. Makan di warung markonah mungkin, atau ketabrak bajaj pas beli es duren entah. Masalahnya dengan pola pikir seperti itu, satu kegagalan menghilangkan PD kita. Ciutnya PD menggagalkan hal berikutnya dan seterusnya. Dan di titik itu lah gua berada sekarang. I dont know. Life is funny some times. But not today I guess. Sudahlah. Gua butuh energi untuk mikir kerjaan besok. Labels: life
We're Not the Best of People...
Pocong 23 Jadi ceritanya gua baru sign up ke www.facebook.com. Di sana gua hook up sama temen gua orang sinemart yang jadi produser Pocong #2. Dalam statusnya dia bilang "can't wait to hear Pocong #3 scoring!!" Weleh, pikir gua, ternyata pocong udah mau dibuat threequelnya. Gak banyak film yang selamet dibikin threequelnya. Kalo gak filmnya yang lama-lama gak laku, bintangnya yang lama-lama loyo. Liat Jurassic Park. Atau liat Rocky yang same dibikin #6-nya. Gila tu orang udah jadi aki-aki padahal baru #6 doang. Gua kebayang kalo sampe pocong dibikin film ke #23-nya. "aaaaaaaaaaaand cut!" kata sutradara pocong #23. "Kita break makan siang dulu ya." Si pocong yang beneran tertatih-tatih berdiri. "Sut..." kata pocong, manggil sutradara, "Gua cabut dulu ya. Gua sekalian makan siang di luar" "Ih kemana? Lu gimana sih! Gua mau syuting ngebut nih. Gaya amat lunch di luar segala. Inget lu jadi pocong udah jadi aki-aki. Itu orok udah gua sediain. Susah tauk nyari orok!" Pocong jutek. "Ih masak gua keluar sebentar aja gak boleh?!" "Lu mau apa? Tu liat di balik pu'un!" Keduanya menoleh ke pohon angker di setting syuting. Ada banyak pocong beneran ngintip dan langsung pura-pura sibuk sendiri. "Ada banyak pocong muda yang mau gantiin lu dengan bayaran lebih rendah. contohnya: orok sapi. Gak kayak elu mintanya orok manusia mulu. Kirain nyari orang beranak gampang apa?" "Ye, bukannya belagu. Ini gua mau ngurusin jamsostek gua. Ntah kenapa gak cair bulan kemarin. Istri gua juga kan mesti belanja." "Ya udah sana. 1/2 jam ya." "Lu tega deh. Ini gua kan udah tua, gua lompat aja beser." "Ya udah sana!" 30 menit kemudian, sesampainya di gedung jamsostek, Pocong masuk dengan melompat-lompat. Dia mengambil kartu tunggu dan duduk di sebelah jin tomang dan kuntilanak. "Eh kunti. apa kabar?" "Baek mas." "Gak bunuh orang hari ini kun?" "Gak. Lagi puasa." "Oh pantes. Jamsostek lu gak cair ya?" "Iya nih bete. Secara gua janda, ini pemasukan gua satu-satunya. Pemerintah makin gak beres aja." Pocong teringat akan sesuatu. "Eh iya, gua janjian sama suster ngesot. Bentar gua telfon dulu." "Halo, Sus? Lu di mana?" "Aiyya, wo balu belok masuk thamlin aah." Pocong bingung, dia berbisik pada kunti. "Kun, sejak kapan suster ngesot jadi cina?" "Heh? cina? Dia kan kebumen." "Sus, lu kenapa?" "Ni ya wo kasih tau. Wo barusan makan orang cina. Makanya jadi gini wo punya omongan." "Ya elah. Oh iya. balik ke topik semula. Gua mau nanya aja. LO KE SINI GIMANA? MELATA APA? LAMA AMAT?" "Aiyaaa. WO KAN NGESOT! Udah ah berisik lu orang!" -Klik- Pocong terduduk dengan lesu di samping kunti. "Jaman sekarang udah beda ya. Kun." "Iya." "Jaman dulu orang ngeliat kita, jerit-jerit. Sekarang, kita diperdubak jadi insan perfilman yang dibayar gak seberapa." "Padahal semua film horor box office tuh." "Iya. Sekarang kita bunuh orang gak seru lagi." "Iya. Eh gini aja. kita ke atas gedung, trus jorokin yuk. Untuk seneng-seneng aja." ajak kunti. "Ayo ayo!" mereka segera beranjak. "Tapi pelan-pelan. Asam urat." Di atas gedung mereka berpapasan dengan pegawai kantoran dan segera menakut-nakuti orang itu. Orang itu bereaksi dengan penuh logika dan logikanya berkata bahwa penyelesaian terbaik dari bertemu setan adalah melompat dari gedung. Tak setelah setelah orang tu mejret kemana-mana di lantai dasar, pocong dan kunti kembali ke kantor jamsostek. Mereka senang. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama mereka membunuh untuk senang-senang lagi. Sesampainya di kanor jamsostek. Mereka bertemu dengan suster ngesot yang sekarang lebih pantes disebut nenek-ngesot. "Dih, tampang lu jutek bener. Kayak yang baru makan orang jawa aja." "BT nih. Jamsostek tutup." "Kenapa?" tanya mereka. "Kepala cabangnya baru lompat dari gedung. Jamsostek tutup sampai pengumuman selanjutnya." Nenek-ngesot menggedor-gedor jendela "LU KIRA GAMPANG AJA NGESOT RAGUNAN-THAMRIN!???????????? KUNYUK!" Pocong dan kunti saling bertatapan. This is definitely not their day.
Gue, Mainan & Bankir Gue Mainan Salah satu hal yang gua suka dari ikea adalah bahwa hampir semua barang yang kita beli di sana harus kita rakit sendiri. Alasannya adalah agar gampang dibawa dari toko dan gak butuh tenaga pengangkut atau bagasi besar.Bagi gua yang gua suka dari merakit-rakit adalah kalo gua beli mainan Alde, gua jadi bisa bonding sama dia. Dia selalu duduk di samping gua, penasaran bapaknya lagi ngapain. Bentar-bentar narik obeng atau narik kayunya. ![]() Di Jakarta dulu waktu habis di macet sampe sering gua pergi kerja dengan Alde masih tidue dan pulang mendapati dia sudah tidur. To me, this here, is expensive. Quality time with my son. Bankir Gue Hehehe, tadinya gua nulis sesuatu beberapa jam yang lalu ttg bankir gue tapi terpaksa gua hapus karena yours truly's wife didn't approve the posting. So that's that. hehehe... Rgds.
Gua, Nama Gua & Derita yang Gua Tanggung part Deux!!!! Sebagian dari kaliain mungkin pernah baca derita yang gua tanggung karena banyak orang salah eja nama gua. Kenyataan bahwa gua nulis buku dengan harapan bahwa 'kalo orang kenal nama gua dari buku gak mungkin salah eja lagi, tyt gak seberapa banyak ngebantu. Masuk ke dalam kancah lingkup kerja internasional dari tahun 2001, masalah dengan nama gua makin menjadi-jadi aja beyond control. Orang Eropa Ternyata orang eropa kesulitan menyebut nama gua. Guru Liner trade pernah mau ngasih PR gua. "Ahi...ad...adhhh...MULYA!" ujarnya sambil ngasih PR gua. Selain dia ada kali puluhan fellow trainee yang kesulitan manggil nama gua. Usut punya usut, ternyata yang bikin susah mereka itu adalah huruf H sesudah huruf Dnya. Dalam konteks dialog mereka, bacanya jadi AD HIT YA. Apparently di belahan bumi eropa sana, ngomong 3 suku kata ini bisa ngeden. Pernah gua minta mereka panggil gua Adit. Gak bisa juga. Jadilah gua yang waktu itu masih muda berkompromi dan bilang: "You know what, call me Adi. As in, Adi-das." Gua sebenernya gak pengen meng-compromise nama gua seperti itu tapi gua juga gak pengen liat sekelas mencret manggil nama gua. Akhirnya pas gua expat pertama kali ke Afrika, gua gak mau kompromi lagi. Gua memperkenalkan diri gua seagai Adhitya. Dibaca: A Di Tya. Mencret, mencret dah lo sono. Ternyata gak seberapa susah dan semua orang eropa mulai terbiasa manggil Adhitya. Beres. Beres? Gak juga sih. Ada 300 trainee di kantor yang kenal gua dengan nama Adi. Sedangkan setelah gua balik ke Indonesia, gua paksa semua orang, bahkan orang Indonesia, manggil gua dengan Adhitya. MAsalah datang ketika dalams ebuah project, temen gua dari Thailand yang namanya Pornurai, sampe bersitegang dengan manager gua. "Adi told me Indonesia has sign off on the process." "Adi who?" "Adi! your process owner?" "I never knew any Adi." Setelah Pornurai garuk-garuk aspal, baru lah misteri terkuak bahwa Adi itu gua. INi sebabnya gua gak mau lagi compromise dengan nama yang bukan gua. Happening again Masalah yang sama datang di kali kedua gua expat. Semua orang di kantor, kecuali orang India, susah nyebut nama gua. "Let's go meet the director." kata bos gua. "Okay." DI kantor bos gua? "Hi Steen, this is adh...adh....adh......" "Adhitya." Abis itu, setelah dengan tidak suksesnya kenalan dengan director, "Hey you know what? do you have a shorter name? Nick name?" Departemen gua adalah vessel capacity. dan akhirnya gua go by the name of: That new guy in capacity. Orang India Satu-satunya ras di dunia ini yang gak susah nyebut nama gua adalah orang india. Tiap kali gua kenalan, meeka either senyum atau kaget. "Lho kamu kan orang timur dan orang ganteng, kok make nama india sih?" Di satu sisi gua seneng karena mereka bisa nyebut nama gua. Di satu sisi gua asem bener sama pertanyaan itu. Origin of My Name Sementara banyak orang mendapatkan namanya secara teliti dari Al-Qur'an, gua dapet nama dari bahasa Sansekerta. Adhitya, dalam bahasa sansekerta adalah Aditya yang berarti (ehm) pangeran. Bagus gak artinya? Bagus kan? Bagus dong. Masalahnya adalah di-proses mendapatkan nama itu. Pertama kalinya gua tau arti nama gua, gua langsung ke ibu gua dan nanya: "Mah, adit dinamain adit pasti karena artinya Pangeran ya?" "Oh artinya itu ya? Gak sih. Waktu hamil kamu di medan, tetangga kita ada anak kecil orang india namanya aditya. anaknya lucu pinter dan ganteng. Ya udah kita ikutan aja namanya sama." Kentut. Yup, there you have it. Nama gua, ngikutin nama orang. On the lighter side of things, nasib gua masih mending ketimbang anak-anak yang lahir dan dinamain Suharto. Gua aja manyun mereka gimana coba. Anyways, kejadian itu ngajarin gua sesuatu. Bahwa menamai anak itu penting untuk bagus, penting untuk meaningful, tapi penting untuk bisa diannounce secara universal. Nama Anak Makanya ketika Aldebaran lahir, gua hati-hati bener. Kriteria buanyak bener. 1. Gua pengen namanya Arab tapi gak terlalu arab sampe dia harus disetrum di imigrasi sama polisi di Algeciras atau kopernya dibongkar dua jam di Tokyo International Airport namanya Abdullah. Atau gagal terus dapet visa schegen. Basicallya gua pengen namanya Arab tapi gak ketauan sama orang bahwa itu nama Arab agar dia gak sulit travelling. 2. Gua pengen namanya selalu ada ke mana dia pergi. 3. Namanya berasal dari seuatu yang berguna. 4. Dan yang paling penting, namanya gak susah disebut. Dapetlah gau nama sebuah bintang, "Aldebaran". Berasal dari nama arab Al Debaran, untuk bintang ke-13 palingterang di angkasa. Usianya lebih dai 4000 tahun, lebih tua dai beberapa peradaban di muka bumi ini dan karena dia ada di angkasa, namanya akan ada untuk 4000 ahun ke depan (asumsi belum kiamat). Berguna karena pelaut-pelaut arab selalu mencari Al Debaran untuk menuntun mereka melaut dan menuntun mereka pulang. Albdebaran saves the life of countless seafarers. Suatu hari gua majang foto anak gua di meja kerja. Bos gua yang orang singapur nanya: "Hey...is that your little boy?" "Yes." "What's his name?" "Aldebaran." "Ald...Ald...Adlebaban?" OH COMMON!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Untuk Aldebaran: If you some day read his my son, then read this part: I only meant well.
Bokap Ultah Bokap ultah lagi. Gua juga gak enak sama nyokap krn pas dia ulang tahun, gua sepertinya lupa ngasih selamat di blog. Bukan berarti gua lebih sayang sama bokap ketimbang nyokap lho. Well selamat utk papah. Bingung mau ngomong semoga... karena sepertinya semuanya sudah dia capai. Nonetheless, wishing you good health and happy days for the rest of your life. Both of you, that is. DItunggu kedatangannya ke singapur ya. Labels: life
Honda Jazz Honda Jazz kita terjual sudah. Minggu sore tadi pemiliknya datang dan serah terima. Sedih euy. Jazz ini mobil pertama gua yang gua beli pake uang sendiri. Gua itu orangnya suka sentimentil dan emosional dengan barang-barang pertama gua. Kamera pertama, gaji pertama, mobil pertama, rumah pertama. Apalagi jazz ini. Jemput Aldebaran setelah dia lahri tuh pake mobil itu. Dan banyak hal lain yg terjadi dengannya. Tapi ya udah. Gak make sense untuk mempertahankan Jazz ini karena dengan gua sebentar lagi pergi ke Singapur utk 3 tahun, Jazz itu akan terus turun harganya tanpa terpakai. So, common sense won and the car is sold. Dijualnya juga ke sodara sih, jadi gua masih bisa liat dia kalo ketemuan sama sodara gua itu. anyways, urusan mobil udah kelar. Sekarang tinggal urusan rumah. Bentar lagi agen gua mau bawa seorang peminat sewa untuk lihat juga. Hope that works out too. Rgds. Labels: life
We're Leaving Soon And now we’re packing again. Venturing to yet another country. This time more complicated because we’re bringing a handsome little prince along. He’s already busy helping his father packing. He's making sure his toys are properly packed. For us, we're happy and sad. happy because it's traveling time but sad because we just moved to our house 6 months ago. We put our entire life saving building it and already we have to leave it. We're leasing it! Contact us for details eh! We're having a slight problem on the working permit and thus our departure will be slightly delayed. But everything's okay. Everything's alright. We're leaving soon. Labels: life
Flexi Time Company gua secara mengejutkan menetapkan flexi-time. Ini adalah salah satu nilai baru yang mereka tanamkan yang mana sangat bertolak belakang dengan apa yang mereka pegang dulu. Dengan flexi-time ini, kita bisa milih, dateng jam 9 pagi asalkan jangan pulang sebelum jam 6 sore. Potongan flexi-timenya: 7:30 - 16:30 8:30 - 17:30 9:00 - 18:00 Hari ini gua sign dengan manajemen untuk flexi-time 7:30 - 16:30. Gua mau gak mau harus selalu pergi sepagi mungkin agar dapet jatah kursi dalam transjakarta kor.6 dan karenanya, selalu sampe kantor jam 7 lewat dikit. SO, daripada jam kerja ditung dari jam 8, mending jam 7:30 sekalian. Lumayan, dengan ini bisa pulang lebih cepat. Di jam 16:30, orang-orang belum pada make transjakarta jadi gua bisa pulang lebih cepat. Soalnya selama ini, paling cepet, gua sampe rumah jam 7 malem. dengan ini, semoga gua bisa pulang jam 6 sore. Gua butuh ini. Sepertinya gua kurang waktu banget untuk Ninit. Sampe-sampe gak nyadar bahwa gua jarang ngebelai dia. Anyways gua harap dari sekarang gua bisa belai dia hehehe. Rgds. Labels: life
3 Tahun Menikah Tiga tahun yang lalu, sesaat setelah ijab kabul, kita berdua sungkeman dengan keempat orang tua kita. Waktu itu tiba giliran Ninit untuk sungkem sama bapak gua. To my surprise, orang yang gua tahu sebagai orang yang gak sabaran itu berkata pada istri gua: "Yang sabar ya jadi istri Adit." I think I need to thank my dad for that. Karena selama ini Ninit udah sabar sama gua. I love you, baby. Rgds.
Turning 29 Umur 29. Semoga gue punya kesabaran dan kedalaman umur 50an. Semoga gue punya energi umur 25. Semoga gue bisa riang lagi seperti umur 5 tahun. Amin. Labels: life
Pemuda Bernama Djuhro Seharian ini sistem di kantor ambruk. Gua menghabiskan hari melihat-lihat foto Aldebaran. Gua berpikir betapa beruntungnya gua memiliki bintang kecil ini. Bagaimana bisa semua ini terjadi. Kemudian gua teringat 1 hal penentu, kenapa semua hal ini bisa terjadi. Berpuluh-puluh tahun yang lalu di desa Sumedang, hidup seorang pemuda bernama Djuhro Soemawiria. Di suatu pagi, Djuhro muda berjalan-jalan di pasar. Seorang anak tertangkap mencuri sepatu dan orang-orang hampir memukuli anak itu. Djuhro muda datang dan melerai. Djuhro muda adalah seorang pemuda miskin tapi dia membayarkan sepatu anak itu. Anak itu berterima kasih dan pergi. Djuhro muda dan anak kecil itu tidak pernah bertemu lagi. Belasan tahun kemudian, Djuhro menikah dan memiliki 5 anak. Dia menjadi kepala stasiun Cicalengka, Bandung. Suatu malam, Di/TII memberontak. Mereka membuat kerusuhan. Memburu rumah-rumah dan mencoba membunuh aparat pemerintah. Rumah Pak Djuhro ditendang terbuka dan sekelompok tentara masuk dengan senjata. Sersan kepala menodongkan senapannya pada Pak Djuhro dan keluarga. Sersan kepala itu menodong orang yang pernah membelikannya sepatu. Sersan itu tersenyum dan mengucap permisi. Setelah kejadian itu Pak Djuhro dikarunai anak ketujuh bernama Ati Ernawati. Dan di tahun 1977, ibu Ati melahirkan seorang anak lelaki bernama, Adhitya Mulya. Dan di tahun 2006, sebuah bintang penunjuk lahir. Aldebaran Apa yang kita lakukan dalam hidup, berpengaruh pada orang lain. Dan pada diri kita juga. Rgds. Labels: life
Departures Deepest condolences for teh Inong, who passed away recently. And also for Ardian Susetyoadi (sipil ITB'96) May they rest in peace. Rgds. Labels: life
Kasta Di deket rumah ada salon langganan gua. Sebenernya gua lebih tipe orang barbershop tapi krn itulah satu-satunya yang deket rumah, jadilah gua ke sana. Gue jadi langganan di sana sejak 2001 karena 1 faktor aja, yaitu tukang cukurnya (wanita) yang sebut aja Rina (bukan nama asli). Pertama kali Rina motong gua udah bagus dan sejak itu gua cuman mau dipotong dia. Gua potong rambut sebulan sekali dan setiap bulan kita pasti ketemuan untuk ngobrol. Kita cukup tau masing-masing cerita lah krn kita pasti ngobrol, meski dia gak akan cerita kalo gua gak nanya. Seinget gue pernah dia cerita 2 kali kejadian putus sama pacarnya. Salah satunya udah pacaran cukup lama, tapi akhirnya putus krn gak direstuin orang tua pacar. Katanya ortu pacarnya lebih seneng sama calon lain atau gimanaaaa gitu. Setelah itu dia pernah cerita bahwa dia ngambil kuliah malem, ngambil S1. Gua suka dengan spiritnya. Meski, sejak dia kuliah, gua jadi sulit banget ketemu dia untuk dicukur krn gua baru sampe deket rumah itu paling banter 18:30 dan dia jam 17:00 pasti udah cabut untuk ngejar kuliah. Anyways, 2 minggu yang lalu gua ke sana dan gua kaget mendapati bahwa dia udah resign. "Iya Pak, saya juga kaget dia resign. Cepet banget kejadiannya. Dia kan udah lulus tuh. Abis itu dapet kerja kantoran, langsung deh resign. Gak pake 1 month notice segala." ujar salah seorang temannya. Gua shock sama kejadian ini. Rina adalah pencukur rambut yang sangat handal dan disukai oleh banyak orang, gak cuman gua. Yang paling bikin gua bingung, dia selalu positif dengan pekerjaannya sebagai hair dresser ini. Abis itu gua nunggu di luar, bareng-bareng satpam salon yang juga kenal karena saking rutinnya liat gua. "Rina keluar ya pak?" tanya gua. "Iya Pak. Semua orang juga kaget." "Kenapa ya dia keluar?" "Itu tuh, dia beberapa kali diputusin sama pacar-pacarnya soalnya calon-calon mertua dia selalu gak mau punya menantu tukang cukur. Udah berapa kali mau nikah, tapi gagal terus." "...." "Makanya dia akhirnya kuliah lagi kan. Begitu lulus, dapet kerja di kantor yang bagus, langsung pergi dari sini." Ternyata kasta masih ada dalam kehidupan sosial kita. Rgds. Labels: life
Kemana Perginya Waktu? Waktu dan gua sepertinya tidak memiliki hubungan yang baik. Waktu itu seperti orang yang kita cari tapi gak suka sama kita dan selalu menghindar ketika kita pergi cari. Mirip seperti kecengan-kecengan gua jaman dulu. Ngehindar ntah ke mana, huehehe. Ke mana perginya waktu? Apakah terselip di kantong gua? Not there. Tertinggal di dalam tas? cant see it. tergeletak di meja kantor? Nope. Where did it go? Akhir-akhir ini waktu banyak habis benar-benar di luar. Siang kerja, malamnya gua masih harus menyelesaikan sebuah project yang besar juga. Sayangnya, ini mengharuskan gua untuk meninggalkan Ninit sendirian di rumah. Padahal sebagai suami yang baik, seharusnya gua gak gitu. Seharusnya ada di samping dia. Memang sih gak banyak yan gua bisa bantu dalam kehamilan dia. Mau ngapain coba? Ikut hamil? Wha. Tapi I know well enough setidaknya kehadiran gua bisa meringankan dia. Unfortunately that's what I cannot afford right now. gua pergi jam 7 pagi dan pulang jam 11 malem. All beaten and tired. Dan gak tega ngeliat Ninit tidur sendiri. Besok malem ada rapat penting lagi yang sifatnya pivotal thd project yang sedang gua undertake. Not to mention masalah rumah yang gua bangun yang masih menyedot biaya dan perhatian (baca: waktu) juga. Ninit gak bisa in charge akan rumah itu karena Ninit sudah mulai hamil tua dan harus konsen lebih ke senam dan persiapan kelahiran. Belum lagi gua harus ke Thailand. Gua dijadwalkan untuk pergi ke Thailand (lagi) selama 3 minggu. Gak masalah sih...tapi kalo gua itung, Ninit akan due untuk ngelahirin di saat gua di sana (I find Thailand too humid for me as well.) Mampus aja gua. Time! Why can't I find you? Labels: life
Bapak dan Gua Hari ini bapak gua ulang tahun. Paginya dia menelfon gua dan bilang bahwa malam ini kita sekeluarga makan di outback steak di PIM jam 7 malem.However, tadi kerjaan ada pekerjaan yang belum selesai jadinya gua terpaksa gak ke rumah dulu tapi langsung aja ke PIM. Gua nyampe jam 7.30 dengan cengar-cengir. Gua meng-adore kedua orang tua gua. Ibu gua, orangnya lucu. Apa pun isi cerita yang keluar dari mulutnya kita selalu dibuat ketawa karena cara dia bercerita. In fact, cara gua bercerita dalam buku sedikit banyak menurun dari cara dia bertutur. The Apple Tree Bapak gua lain lagi. Gua lupa apakah gua pernah bilang ini ke dia, tapi dia adalah seorang panutan. Dia termasuk jarang ngasih nasihat - for the simple fact bahwa dia dulu jarang ada di rumah. Siang kerja di kantor dan malam berusaha muterin duit di sana-sini. Sering kali ke Bogor ngebantuin adik-adik dan kakak-kakaknya karena dia diangap paling berada dan jadi panutan keluarga besar juga. Dia pernah mengakui bahwa dia menyesal kerja terlalu keras karena meski dia bisa menjamin kesejahteraan kami, dia gagal untuk melihat kami tumbuh dewasa. Dan memang, Imbasnya adalah hubungan yang sama sekali tidak dekat. Suatu kali pernah gua 3 bulan gak balik ke Jakarta sewaktu sekolah di Bandung. Gua sudah akan pergi cari makan dan ada orang nelfon. Orang itu becanda garig "Hayo tebak ini siapa?" "Maaf pak, saya laper dan gak punya waktu untuk bercanda!" gertak gua. "Ini papah Dit." Heee? Ketika kakaknya gua berumur 3 tahun dan gua 1 tahun, dia pulang dari oil rig di Arun setelah 1 bulan kerja. Reaksi pertama dari kakak gua adalah bertanya pada ibu gua: "Mah, itu siapa?" Ironis ya. Pilih mana? Spend time dengan anak tapi suruh anak itu cari duit sendiri untuk hidupnya? Atau cari uang demi anak, tapi gak liat anak itu tumbuh? Dia juga pernah bilang bahwa kalau gua punya anak nanti, jangan seperti dia karena rugi gak bisa liat anaknya tumbuh. Dan bahwa kalo dia bisa ngulang semuanya, dia akan melakukannya dengan cara yang beda. Sebenarnya cara dia menjalani hidup sangat rentan dengan resiko anak menjadi pecandu narkoba atau hal-hal negatif lainnya karena it is generally admitted bahwa kebanyakan screw up anak dilatarbelakangi oleh kurangnya perhatian ayah. Tapi jika dia bisa mengulang semuanya lagi, gua akan suruh dia mengulang hal yang persis sama. Kenapa? Karena dia bekerja keras demi keluarga. Dan itulah yang seharusnya seorang ayah lakukan. Gua dan kakak sebagai anak cukup sadar untuk respek itu dari kecil sehingga kita gak penah mau coba macem-macem. Gimana perasaan bokap dan nyokap kalo mereka udah segigih itu ngidupin anak dan kita malah nyandu narkoba? Mau kita taro di mana muka mereka? mau kita taro di mana muka kita? Menjadi ayah gak gampang. Satu dari 3 pertanyaan di kubur adalah apakah kia menjadi kepala rumah tangga yang baik. Bapak gua harus membuat keputusan ttg bagaimana dia memimpin keluarga dia dan gua mendidik diri gua untk menghormati keputusan itu, dari kecil. Meski I do miss having him in my life, to be honest. The Apple Growing up, gua me-list hal-hal yang baik dan buruk dari dia dan mencoba mengambil yang baik dan menyimpan yang buruk (teorinyaaaaaa). Kebetulan, gua memang dididik untuk gak mau kalah. Dan singkat cerita, gua gak lihat ada orang di muka bumi ini yang lebih sulit dikalahin dari..well..bapak gua sendiri. Sejak SMP gua selalu menyimpan pertanyaan iseng "Apakah kali ini gua bisa ngalahin dia?". Maksudnya, gua usahakan agar tidak terobsesi untuk ngalahin dia tapi cuman buat cross check aja from time to time because I know what I want in my own life. Dia itu: lulus SD juara umum lulus SMP juara umum lulus SMA juara umum Masuk ITB Lulus ITB IPK 3+ n durasi kuliah 4 tahun Sekali lamar langsung masuk kerja. Expat ke benua lain Travel ke 4 dari 5 benua Umur 30 bisa bangun rumah sendiri Kerja untuk 1 perusahaan seumur hidupnya Setelah gua sadar akan semua ini, gua terpatri untuk minimal menandingi lah. Kali-kali aja bisa. Walau akhirnya jadi anak dia itu, stres banget. Contoh, gua tidak suka dengan semua kakak sepupu gua dari pihak bapak karena waku gua kecil, mereka selalu meremehkan gua. "si anak orang kaya." "Elu mah apa-apa tinggal minta.." And shits like that. Rese lah. Situasi makin seriously injuring ketika gua masuk kuliah. Kebetulan saat itu dia membangun rumah di bandung untuk rumah masa tua dan selesai ketika gua tingkat 1 kuliah. Mau gak mau gua harus tinggal di rumah segede itu dan logo "anak-orang-kaya-yang-dapet-segalanya-dengan-gampang" yang bikin gua benci sama kakak2 sepupu gua, hadir lagi dicap oleh temen-temen kuliah gua. Ada insiden fatal bedurasi panjang di tingkat 2 dan 3 antara gua dan beberapa teman-teman gua (for sipil 96 who read this...cuman sedikit kok guys, not all of you) di mana terconfirmed bahwa mereka nganggep remeh gua banget. Gua pernah tanpa sengaja nangkep mereka ngomong "Biasanya sih kalo bokapnya tajir, generasi berikutnya suka lembek. Tu liat si Adit." Gua gak pernah memaafkan manusia-manusia itu. Ever. question: Why never? Even God is forgiving. Well I'm not God. Instead gua kembali ke diri gua untuk membuktikan bahwa gua bisa membungkam mulut mereka. Caranya gampang. Kalahin aja prestasi bapak gua dalam hidup di masa ekonomi yang lebih sulit dan gua akan mengalahkan kebanyakan orang. (Gua gak keberatan dengan hal ini dan gua gak pernah merasa hidup dalam bayang-bayang kebesaran bapak) karena gua dan bapak memang memiliki interest, visi dan prinsip yang sama. Contoh, kita sama-sama seneng travel. Sama-sama mikir bahwa kerja untuk multinational company is the best way to go. Hardwork is assurance for family future. Semua itu gua setuju dan gua jalankan. Sekarang siang gua kerja dan malam cari duit lagi. Persis seperti orang yang gua liat ketika gua kecil. Travel ke sana-sini bawa koper, persis seperti orang yang gua liat ketika gua jemput dia di Halim dulu. That's the effort side. As for the result...well, gua gak akan melist down apa yang udah gua capai. It's basically my dad's list... with some additions. And shorter time. :) The Old Lion Sekarang bapak gua udah pensiun. Tiap hari main sama cucunya (ponakan gua) dan nonton cable kalo lagi di rumah. Orang tua itu terlihat pegal sekali tidak bekerja. Gua ngeliat dia seperti seekor singa yang mondar-mandir sekeliling kelompok singa muda. Pegel udah gak punya lawan lagi saking jagonya. Waktu kecil, gua belum bangun ketika dia pergi kerja dan sudah tidur sebelu dia pulang. Sekarang kebalikannya. Yang paling lucu gini. Orang yang selama ini gua jadikan panutan dalam hal bekerja keras dan menghidupi keluarga, mendatangi gua di suau malam setelah gua pulang dan bilang.. "Don't work too hard." The Cub Gua sering sadar bahwa gua melihat diri dia ketika gua bercermin. Dan bahwa dia juga melihat diri dia saban kali dia ngeliat gua. Now I have a baby on the way... Entah drama apa yang akan terjadi antara dia dan gua. Gua gak tau apakah gua akan jadi ayah yang baik. Tapi gua tau gua punya ayah yang baik yang bisa gua jadikan panutan. Happy birthday Dad. Labels: life
Anak & Pasangan Istri gue sedang hamil 7 bulan. Seperti kebanyakan orang tua, kita senang melihat si kecil tiap malam mulai nendang-nendang seperti yang sedang kung fu di dalam perut ibunya. Salah satu kolega gue di kanto berkata “Wah, tunggu kalo udah lahir. Dijamin. Lebih seneng lagi. Anak itu lebih penting dari istri. Pooknya anak nomor satu deh!” Statement terakhir ini cukup mengganggu gue baik sebagai orang tua atau sebagai individu. Apa iya anak lebih penting dari pasangan? Bahwa anak = nomor satu? Mungkin gue belum berhak menilai karena gue belum jadi orang tua beneran. Tapi kalo gue ditanya, gue akan jawab bahwa gue gak setuju dan untuk alasan yang sangat sederhana. Seorang anak akan tinggal bersama kita maksimum sampai umur 25. Dalam beberapa kasus, sampai umur 20 saja. Anak adalah given. Maksudnya, suka atau nggak, anak itu lahir dan harus kita pertanggungjawabkan well-beingnya sampai dia mampu mencari nafkah sendiri. You don’t choose who your children are. Pasangan? Pasangan adalah seseorang yang elu pilih secara hati-hati dan setelah memilih elu akan mengabiskan 50 tahun hidup satu atap bersama dia. Gue sih gak mau memenangkan kepentingan orang yang 20 tahun bersama kita dari orang yang 50 tahun bersama kita. Ketika seroang anak screw up, kita jauh lebih cepat maklum. Ketika seorang pasangan screw up, sering kali kita less forgiving dengan alasan “kamu itu kan orang gede, mestinya nyadar, bladibladibla..” Kenapa seperti ini? Karena kita secara natural menyayangi anak karena dia darah daging kita. Pasangan? Dia darah daging orang lain. Pada dasarnya tetap saja kita harus make an effort untuk mencintai dia. Menurut ini tidak benar karena anak memiliki advantage di mana dia darah daging kita dan pasangan bukan. Ingat saja bahwa pasangan kita adalah orang yang kita pilih dengan hati-hati untuk menjalankan hidup bersama dan sama pentingnya, dia udah bersedia menjalankan hidupnya bareng kita yang juga banyak kekurangannya. Dengan seorang anak, segala seusatunya kita perjuangkan karena dua hal. Kasih sayang dan tanggung jawab. Jadi kalau pun kita kesal pada anak kita, kita tetap memperjuangkan segala seuatunya buat dia, no matter what. Tapi dengan seorang pasangan, segala sesuatunya kita perjuangkan simply karena kita sayang. Nabi sendiri pernah bilang bahwa segala sesuatunya harus balanced, harus imbang dan menurut gue, itu adalah nasihat terbijak yang bisa diberikan pada manusia untuk menjalankan hidup. Mungkin artikel di atas terdengar terlalu accounting di mana kita terlalu menimbang untung rugi, upside dan down side dan matematika dari kasih sayang. But the problem is, it’s true. I love my child because he is my flesh and blood. But I love my wife because I asked her to be with me for the rest of her life. Labels: life
Akhirnya Last night was the last day of my working in CFS. From monday it's finance. It'll all be about crunching numbers and datas. The goodbyes with the staff were quite saddening. They're hard and honest workers. Labels: life
One Big Push So here's the thing. My days in Warehouse (JKTCFS) are numbered. Only 4 days left before I am transferred back to head office. And yet we're in the biggest project so far. We're splitting the operation of JKT into 2 different and distant location. This has to be done in 3 steps in 4 days. Alot of coordinations, meetings, tele-conferences, bargains, shoutings, pushings and technical rundowns. The containers, the cargo, the man management. ARRGH. I kept repeating the technical rundown that I made since yesterday to my staffs, to my manager, to the clients and worse, to myself in the car, on the way home. "So the last container will come on Sunday and that's a wrap." I said to my manager. "So all of this will be done by hen and Monday we operate in the new location?" "Unless a giant octopuss blocks the road and kills everyone, yeah that's the plan." "And you'll be sipping espressos in the Head Office pantry by then?" "Yup." "You're gonna miss this." he pointed to the mess that is the warehouse. "Yeah..." The transfer begins tomorrow. The transfer must not fail. Labels: life
A Story About a Pair of Shoes Gua bukan orang yang boros when it comes to penampilan. Entahlah mungkin jiwa gembel kampus gua masih melekat atau gimana, yang jelas gua itu jarang banget yang namanya beli asesoris. Gua dengan suksesnya selalu ketinggalan fashion sekitar 2-3 tahun ke belakang dan gua gak cerita ttg fashion yang jor-joran tapi a decent fashion aja. Contohnya, gua baru nyadar bahwa kemeja kerja terakhir yang gua beli adalah sebelum gue ke afrika, which is 2004! Buset, 2 tahun gua gak beli kemeja. Gua baru nyadar ketika tadi pagi 1/2 koleksi baju kerja gue udah rombeng semua kerahnya. Kemudian akhir-akhir ini gua tambah gendut (YAY! 53 kg!). Gua baru nyadar ketika nyoba 3 celana dan sempit semua. Then gua coba mikir kapan terakhir kali gua beli celana. Celana terakhir gue beli aja nggak, tapi bikin. Itu juga 1 tahun yang lalu. Terakhir dan yang paling mahal adalah sepatu. Musim ujan ini, setiap gua jalan ke lapangan di kantor, entah kenapa meski hanya becek setitik kaos kaki kanan gua langsung basah. Setelah gua cek hati-hati, ternyata bolong. Asli solnya bolong. Terus gua berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali gua beli sepatu. Ini yang paling parah. 2003. gua terakhir beli sepatu itu 2003. Gua cuman punya 1 pasang sepatu dan itu udah 3 tahun lebih. If you see a gembel walking down a road, that might be me you know.. Sadar dengan hal itu, gua bilang sama istri gua apakah sebaiknya gua beli sepatu baru, to which she replied, of course, gua udah harus beli. Not out of fashion tapi karena udah bolong beneran. But then you see her carrying an unborn baby in her belly. Then you get to remember that you're building a house. Then you remembered that the baby and the house will due at the same time. Then you remembered that you don't have enough savings to cover them all. Then you freaked out thinking how the hell are you going to pay for them. Then you get to think you are the unluckiest person on earth. Then I replied again, no. Let's keep my feet wet for a few more months. Then she smiled. She's just finished a book. She's buying me a new pair of shoes. Suddenly it was the other way around. Im the luckiest person on the planet....with hole on his shoes. :) Labels: life Akhir-akhir ini gua dan ninit punya kerjaan baru yaitu main-main sama si dede kecil yang umurnya masih 5 bulan kandungan. Lucu deh, sekarang dia sudah mampu bereaksi terhadap sebuah rangsangan. Tiap kali gua gelitikin perut si ibu, dia pasti bergerak dan itu terjadi setiap kali. Seneng ngeliat dia seperti itu. Dan main sama dede kecil adalah bagian terfavorit gua meski gua gak bisa maksa karena sering kali juga dia tidur. Gua cuman berani gelitikin dia kalo Ninit sebagai host pengandungnya yakin dia lagi bangun tidur. Gua juga gak mau ganggu cycle tidurnya lah, krn tidur kan penting bagi bayi. It's a good distraction from work and everything else. Di kantor stres menggunung. Di writing weleh sama aja. Cuman aja akhir-akhir ini juga, gua sering harus pulang larut. Contohnya malem ini, kerjaan belum selesai krn banyak bgt pihak terkait yang gak perform. hih gak kebayang apa jadinya besok.Paling gak enak kalo stres kantor kebawa ke rumah ya. Padahal larut malam ninit dan dede udah bobo. Jadinya gak berani ganggu deh. Rgds. Labels: life
Let's Wait for the 3rd Time They've done it twice! Totally unprovoked. Let's see if this is just a weird co-incidents or do they really want to start messing with me. tips: Don't. Labels: life
Being 10 Years Old Weekend ini gua nonton film yang bagus scriptnya. Film ini bercerita ttg first love seorang anak cowok kecil berusia 10 tahun. Gabe Burton jatuh cinta dengan teman yang dia kenal dari TK yang bernama Rosemary Telesco.Ada 2 hal yang bagus dari film ini. Pertama skripnya tidak terlalu tua. Skripnya ditulis sedemikian sehingga kita mampu dan ingat seberapa kecil dan simple pemikiran anak berumur 10 tahun. Apa yang menurut seorang anak 10 tahun itu their end of the world dan apa yang membaagiakan mereka tentu beda dari sudut pandang orang dewasa. Di sini penulisnya (Jennifer Flackket & Mark Levin) tepat menempatkan kedewasaan skrip. Dan aktingnya dieksekusi oleh Josh Hutcherson dengan natural dan tidak berlebihan. Easily one of the best film ini 2005 dari penilaian gue. Yang lebih bagus lagi dari film ini, gak musikal. Jujur gue lumayan capek dengan kenyataan bahwa banyak film anak kecil yang musikal baik produksi dalam atau luar negeri. Emang sih, itu marketing strategi untuk membuat penonton anak kecil lebih mudah menyerap tapi tetep aja annoying. Nah itu keuntungannya film ini. Gak musikal. Film tentang cinta anak kecil yang lain yang gua suka adalah Liberty Heights (2000), settingnya 1959-an, tentang anak imigran yahudi yang jatuh cinta pada anak kulit hitam yang keduanya sama-sama ditekan oleh lingkungan. Labels: life
Go Ahead
..The Fuck!! Gue bisa bilang bahwa saat ini gue berada dalam posisi yang sulit. In fact it has been that way since the moment we went back to Indonesia. Di siang hari gue harus menghandle 100 orang langsung dan + 200 orang tidak langsung yang kesejahteraannya harus diperhatikan. Bahwa gue juga harus mendirect mereka mendeliver level of service yang diterapkan perusahaan. Lucunya dengan banyak batasan dan terlalu ketat dan longgar dan sering kali gak jelas. Gue sekarang sedang pissed off banget denga atasan gue yang mengharuskan semua staff harus masuk besok karena ada kerjaan. Padahal we all know bahwa besok itu libur nasional. Staff gue gak ada masalah karena kerja hari libur berarti mereka dibayar lembur 3 kali lipat sepanjang mereka bekerja. There are two fucking problems to that. 1. Beban kerja yang berupa bongkaran vendor tidak ada yang datang besok karena guess what? MEREKA LIBUR! Akhirnya gue harus mengunci vendor malam ini di luar karena gue ingin mereka dikerjakan besok pagi saja, agar team gue yang 200 orang harus masuk itu ada kerjaan. 2. Ketika mereka kerja, mereka butuh gue. Hence, gue harus ada di sana. Padahal..gue udah kerja 6 hari per minggu. Gue bener-bener butuh setiap hari libur untuk ngerjain 5 dari 7 project gue yang pending. Malem ini akibatnya gue ditelfon setiap 5 menit karena orang bertanya 'pak besok beneran masuk?' dan 'pak bendor kenapa gak boleh masuk?' Padahal... di kantor itu gue make otak ang logic. Di rumah gue harus memakai sisi otak yang nyeni. Dan sulit sekali memindahkannya. Harus pakai mood. Gue gak bisa konsentrasi makai otak yang nyeni ketika telfon2 itu membutuhkan gue untuk makai otak logic gue. I really-really need a normal life. Labels: life
Cetak Biru Masa Lalu Hey guys!!! makasih atas komen kalian di posting sebelumnya, sori gue gak sempet balesin satu-satu. Di tahun 1977, seorang pekerja tambang dengan kaos barong dan bebek tuanya sedang berdiri di atas pondasi rumah. Pondasi itu adalah rumah yang sedang dia bangun. Sesekali dia pergi ke site ini di kala day offnya dari oil rig lepas pantai Aceh. Gua pernah melihat foto dirinya di site itu. Ada raut muka yang aneh yang gua gak bisa korelasikan dengan kata sifat. Paling dekat sih sembelit tapi gua gak yakin. Gua gak pernah bisa selama ini menerka apa yang ada di pikiran dia di saat itu. Di tahun 2006 ini gua baru tau. Baru tau apa arti raut muka itu. Itu raut muka bingung. Bingung mikirin bagaimana melunasi rumah yang sedang dia bangun. bahwa di rumah kontrakan, sedang ada istri yang mengandung anak keduanya. Mungkin dia berharap bahwa anak kedua adalah anak lelaki karena si sulung adalah perempuan. Mungkin dia berharap bahwa rumah harus selesai sebelum si bungsu lahir namun entah uangnya dari mana. Gua tau apa yang bokap gua alamin 29 tahun yang lalu karena di saat ini gua sedang mengalami hal yang sama dengan dia. Merenung sendiri seusai jam kantor di site rumah yang belum selesai. Nunggu matahari terbenam dan mikirin "how the fuck am I going to go thru this?" Yang paling lucu adalah... ketika foto itu diambil 29 tahun yang lalu, bayi yang ada di kandungan sang istri..adalah gua. dan sekarang Ninit sedang mengandung anak kami. Cetak Biru Masa lalu? Hmmm. Growing up is never easy. But I'm glad that I'm growing up to be like my mom and dad. I love you guys... Labels: life
Missing Many Things Seminggu belakangan ini galau abis. Mulai dari film yang akan tampil perdana. Anniversary. Ketemu temen-temen lama dan ngeliat udah sampai di mana mereka sekarang. Kabar buruk tentang kesehatan istri. Semua bener-bener membuat gue kenyang secara mental dan capek. Untung masih ganteng. (untung masih WHAT NOW?) Jomblo Film Well, banyak sineas dan jurnalis wartawan yang bilang film ini bagus. Itu cukup melegakan. Lega banget mereka menulis bahwa film ini mendidik, asli indonesia dan lainnya. Meski kita akui ada beberapa kekurangan. Itu kita harus pakai sebagai pelajaran. If that is not a great start then it is at least a good one.Dari segi pembaca, cukup beragam dari yang puas atau tidak puas dengan filmnya yang mana dapat gue mengerti. Secara semuanya bermula dari tangan gue, ketika pindah ke tangan lain untuk dibuat filmnya, memang ad beberapa hal yang tidak sejalan dengan isi gue. Namun itu adalah harga untuk belajar dan bekerja sama dengan orang lain. Dari segi penonton murni, yang gak baca bukunya dari awal, reaksi mereka cukup beragam. All in all, gue masih gedeg aja missing the premiere. Tapi gak papa. That's life. You can't have everything. I'm just glad everything turned out okay. Jadwal main jomblo bisa diklik di sini Temen-Temen Kerja Kemaren sempet ketemuan dengan banyak temen-temen yang berasal dari Thailand, Malaysia dan Indonesia. Damn they have good things going for them. Heran aja, kok giliran yang lain, selesai ekspat boleh apply ke singapur tapi kenapa gue sendiri harus pulang? Politik kantor apa lagi ini? Anniversary 7 Februari kemaren adalah ulang tahun pernikahan kita yang kedua. Barengan dengan premiere. Both of which, I missed. Anyhoo... lucu deh gue baaru nyadar bahwa gue dan Ninit belum pernah merayakan anniversary kita bareng. Ulang tahun pertama itu, gue di Afrika dan Nini di Jakarta. Kita terpaksa pisah karena perang dan company gue tidak menyarankan istri untuk ikut kembali setelah evakuasi. Uang tahun kedua kita tadinya mau dirayain dengan nonton premiere. Trus ada last minute request gue kudu ke singapur untuk training. Basically kita belum pernah ulang tahun bareng. Semoga yang kek gini gak jadi kebiasaan. Dulu, waktu kita tunangan, kita sepakat nikah 4 oktober 2003. Kita udah sampe menggrafir tanggal itu di cincin pertunangan kita. Waktu berjalan dan ternyata gue gak bisa nabung. stres berat. Lowongan ekspat kalah-kalah terus. Buku gak jadi-jadi. Basically tiap malem di tahun 2003 itu gue selalu nangis mikirin calon istir gue mau gue kasih makan apa karena perhitungan tabungan gue meleset. Sampe akhirnya gue minta ke keluarga dia untuk mengundurkan waktu pernikahan. Saking gak siapnya. Tapi mending gitu. Namanya juga suami. Gue gak mikirin gimana resepsinya nanti. Gue mikirin the life I have to lead her for the rest of our lives AFTER the wedding. My responsibility starts from there. Akhirnya diijinin nikah undur ke 7 Februari 2004 ini. Gue terus nyari lowongan internal dan terusin abisin buku jomblo. Sambil tentunya, masih nangis-nangis sendiri tiap malem. Untungnya Ninit mau sabar. Ninit mau ngerti bahwa tanggung jawab suami itu besar dan ngebiarin gue nyari duit dulu. Mendingan gini daripada nikah tapi gak punya apa-apa. Cinta gak bikin kenyang. That's a reality. The funny thing was, the day my book was on sale was the day I got accepted in Africa. Jadilah nikah. And the rest is history. Gue gak pernah mau mengubah grafir itu. Selamanya cincin itu harus bertuliskan 4 Oktober 2003. Untuk ngingetin kita di masa-masa susah kita. And that I have the best wife in the world yang mau diajak susah. Mau diajak tidur di kursi airport, mau disuruh pisah negara, mau mnunda pernikahan. Mau ngalah karir demi ngikut suami... Happy late anniverary, baby. I want to give you the world. Or at least, die trying to. Labels: life
Missing the Premiere
Things to Start With... Well, gue udah balik ke Indonesia, obviously... Gak nyangka aja bahwa sekembalinya gue ke cabang Jajarta di perusahaan yang sama ini, jam kerja gue melebihi 40 jam dan terutama tersita justru di weekend. Gak suka aja dengan kondisi ini karena, gak usah deh waktu untuk nulis, waktu untuk keluarga aja gak ada. Anyways... gue gak banyak yang bisa diceritain kecuali beberapa highlights aja.
Banyak kejadian gak ngenakin yang gak bisa gue share di sini. Biarlah kegantengan gue menyimpan semua duka (yuuukkk). Overall, it's a fairly good start of a year. Alot of surprises to begin with. Tapi gak papa. Cuman aja target selesai bikin rumah bakalan mepet dengan ninit ngelahirin. Hua....gak papa. Apa artinya hidup tanpa tantangan, ya gak? and all this....are just the start, of the year. Anyways...gottago. See you guys later and keep in touch. Rgds. Labels: life
End of a Dream Ada dua hal di dunia ini yang selama ini gue pikir gak mampu gue lakukan. Pertama adalah melalui rimba korupsi dan perijinan dalam ngirim barang pulang ke Indonesia. Kedua adalah sumo wrestling. Now let's not discuss me in a thong staring at a 300-pound japanese. Anyway, ternyata gue berhasil juga ngisi kontainer. Sedikit lagi formalitas, and this baby is going home. Gak kerasa aja udah 2 tahun gue ngerantau. Ngerantau memang salah satu hal yang dari kecil gue udah mimpiin. Dulu mimpinya, pengen ngerantau ke semua benua dengan usaha sendiri. I worked so hard to make it come true. Sekarang peer gue tinggal Australia. I think I spend half my life planning things and spend the other half making them come true. I'm not the type of person who let things flow and let life surprise you. I hate that. There's no hardwork (something everyone can do) in it and too much luck (something not everyone always have). At the end of the day, I think that's all we do. Plan, execute, plan, execute. The dreams we have itself is not always gratifying or valuable. What is, is process of getting it. Untuk berani bermimpi. Berani berusaha. Berani mengambil langkah yang elo sendiri gak tentu karena tidak ada yang bisa memastikan masa depan. Now it's time to head home. A different kind of adventure as I see it. A different kind of challenge. But at the end of the day, there are always 1 common thing. It started from my dream. Labels: life |
Adhitya Mulya adalah Dewa Ganteng yang tinggal di kahyangan bersama 100 dayang-dayang. Dia menghabiskan waktunya turun ke bumi untuk bertemu dengan rakyat jelata dan berburu menjangan dan babi hutan... (or is it, berburu rakyat jelata dan bertemu dengan babi hutan? anyways, same thing). Oh ya, sesekali dia menulis buku komedi.
orang telah melihat kegantengan gua yang legendaris itu. Ninit ; Aan ; Agung ; Aip ; Alaya ; Avianto ; Aris ; Atta ; Detta ; Ewink ; Enda ; Erly ; Fairy ; Fanny ; Ganda ; Hagi ; Hanzky ; Isman ; Ita Leyla ; Ni'ang ; Ndari ; Nita ; Pip ; Okke ; Roi ; Ruri ; Shinta ; Tyaz ; Udhien ; Umar; Adi ; Afo ; Alaya ; Alfa ; Ale ; Alvons ; Aiff ; Andhi ; Andin ; Andin ; Anggie ; Anto ; Aprian ; arb3i ; Ari ; Arma ; Arif ; Ayu ; Axlandra ; Bantot ; Be-Es ; Beranda ; Bintang ; Bios ; Blub ; Brandy ; Buzz ; Cay ; CB ; Celia ; C'est la Vie ; Civent ; Claustrophobic ; Comel ; Comel ; Crey ; Dagungsta ; Dayat ; Deksay ; Dian ; Dican ; Didi ; Didiet ; Diki ; Dini ; Dion ; Disposable Hero ; Drey ; Duwie ; Dwi ; Dyah ; Ekodox ; Emil ; Ephe ; Eric ; Erika ; Erwin ; Eve ; Eyi ; Farid N ; Farid ; Finalizabeth ; Fitri ; Flow ; Flow ; Fresh ; Gajah Duduk ; Gauz ; goblog ; grE3nY' PrinceZz ; Guido ; Grizz ; Harris ; Harris ; Harris ; Heri ; Herlyanti ; Hero ; Ibiza ; Ika ; Ilsa ; Inex ; Inna ; Ipan ; Irene ; Irene ; Iris ; Isnaini ; Koebiz ; Kun ; Lacsar ; Lemans ; Lilik ; Lindie ; Little Mermaid ; Lontar ; Matz ; Memey ; Merkurius ; Morningdew ; N[a] ; Nasgor ; Neen ; Neenoy ; Nice green ; Nisa ; Nita+Agus ; Nono ; Novie ; Nukov ; Nunik ; Ochan ; Ollie ; Paylo ; Pipit ; Prazz ; Prianca ; QQ ; Radith ; Rapa ; Reena ; Ren ; Ria ; Richoz ; Ridwan Fauzi ; Rihsa ; Riena ; Rita ; Sapi ; Sasha ; Sazi ; Seggaf ; ; ; ; Snydez ; StormyMonday ; Supta ; Sweeney ; Sylvie ; Tamtam ; Tari ; Toet ; Trippin' D ; Tutup Botol ; t.w. ; Ty ; Tyaz ; Tychan ; Umar ; Un^Goe ; Vanda ; Vanya ; Viga ; Vellas ; Weedee ; Yudha ; visit rice bowl journals ! |