Aldebaran 19 months
Monday, March 31, 2008



Dalam bahasa Inggris, daam hal anak umur di bawah 2 tahun ada istilah 'terrible two'. Ini merujuk kepada kondisi di mana anak di bawah 2 tahun itu luar biasa rewel.


Sebenernya kejadian ini wajar dalam beberapa artian,
Sejak seorang anak berada di atas 1 tahun,
  1. dia sebenernya udah tau apa yang dia mau. Tapi masalahnya otaknya belum canggih untuk mengartikulasikan apa yang dia mau dalam bentuk vokal. Jadi lah seorang anak ngomong gak jelas dan tiba-tiba kicking and screaming. Untungnya gua dan ninit ngerti hal ini cukup dini sehingga segimana rewelnya pun Alde kita coba untuk gak bentak dia. Lha wong dia sebenernya gak salah. Cuman frustrasi karena gak ada yang bisa ngerti maunya dia. Dan sebenernya maunya anak itu simple-simple kok. Minta ambilin sesuatu karena kita simpan terlalu tinggi. Hal-hal seperti itu.
  2. Ini adalah masa di mana dia eksperimen dan eksplorasi. Yang dia makan bedak lah, yang dia pergi ke kolong meja lah, yang dia obok-obok orange juice lah. yang nasi dia injek-injek lah. Sebenernya semuanya wajar. Lagi-lagi kita coba untuk gak marah sama alde.
Yang paling susah adalah melarang dia melakukan eksperimen dan eksplorasi. Satu sisi pengen kita larang karena makan bedak itu jelas salah. Sisi lain, kalo sampe kita larang terus, takutnya kita membunuh rasa ingin tahu dia dan tumbuh jadi anak yang pendiam dan tidak mau belajar.

Untuk menanggulangi ini gua dan Ninit melakukan beberapa hal.

Kita pengen dia eksperimen sepuasnya
Ini karena di saat eksperimen otaknya berputar untuk menemukan logika dan meski meja tamu kita bisa berubah jadi seperti meja bedah film horor, Insya Allah dia ngerti buah dari eksperimen itu. Untuk itu, semua mainan dan semua barang yang dia bisa makan, ditaro di bawah. Pecah belah dan barang-barang beracun seperti, oh I dont know, racun tikus, itu di atas.

Kita gak pernah capek ajarin dia untuk makan sendiri dan megang gelas sendiri. Hasilnya lumayan. Aldebaran semakin sedikit tumpah-tumpah kalo minum. Masalah dengan minum adalah dia jadi sering sekali ngebanjur lantai dengan susu coklat dan orange juice.

Kita kasih dia kursi dan meja sendiri sebagai area eksperimen. Sebelum itu dia ekspermien di mana-mana.

Kita Pengen Dia Kaya akan Kosa Kata
Kalo kita lagi jalan, kita pasti tunjuk, that's a tiger.
Loook at the cars Alde, wow there are so many cars. How many cars Alde? Let's count together.
Look at the black bird alde. The black bird is flying!
Sebenernya rada aneh ngajak dia ngomong dengan kalimat penuh. Tapi setidaknya lama-lama dia ngerti bahwa benda itu adalah burung dan burung itu berwarna hitam. burung yang hitam itu sedang terbang.

Tentunya di kebanyakan waktu dia gak merhatiin. Tapi kuncinya di sini gak nyerah dan terus ajak dia ngomong. Dan ajak dia ngomong dalam 2 bahasa.

Kita Pengen Dia Jadi Decision Maker
Gua ragu dengan konsep natural born something. Gua percaya bahwa personality kita adalah hasil didikan lingkungan sekitar dan orang tua. Sebagai seorang bungsu gua terlatih untuk melihat dan mencerna dan itu adalah yang gua cerna. Kita adalah hasil didikan.

Mendidik Alde menjadi decision maker metode kita sangat gampang bahkan cenderung primitif karena kita juga masih belajar jadi orang tua.
Kalo kita lagi jalan pagi atau jalan sore, dia yang jalan di depan. Kita gak gandeng dia. Biarin aja dia mau belok kiri atau kanan. Mau dia kejar kucing atau kejar burung, terserah. Dia yang memutuskan mau ke mana.

Kalo Alde bingung, kita bantu dengan pilihan dan ini yang paling sering kita lakukan.
Alde mau ke mana? Ke kiri atau ke kanan?
Kalo Alde lagi ganti baju untuk pakai piyama, kita tanya
Alde mau yang merah atau yang biru? sambil menyodorkan keduanya pada Alde.
Kalo ke super market,
Alde mau coklat atau pocky-pocky?

Kita Pengen Alde Percaya Diri & Menggunakan Potensinya
Ketika Alde melakukan sesuatu yang salah atau bahaya. Kita larang.
Tapi ketika Alde berhasil melakukan sesuatu, kita tepukin tangan dan "bilang good job Alde!!"

Ini hasilnya sangat menggembirakan. Alde mulai bisa meng-apresiasi dirinya. Di saat dia berhasil melakukan sesuatu, dia berkata 'yay' sambil menyelamatkan diri dia dengan tepuk tangan pada diri sendiri. Dari 14 bulanan dia mulai bereaksi seperti ini. Contohnya pernah suatu kali dia naro apel di atas gelas dan bawa semua itu tanpa jauh dari dapur ke meja makan. Bagi kita mungkin itu remeh banget dan mikir 'ah gitu aja bangga' Tapi eh siapa tahu bagi dia itu adalah mile stone yang sangat-sangat tinggi. Ya gak?

Dan di 19 bulan, kita mulai dengar dia bilang 'good job' pada diri dia sendiri.

Bagi gua kedua hal di atas adalah sesuatu yang sangat menggembirakan. Dia bisa menghargai diri dia sendiri. Banyak orang tua yang gak sadar betapa pentingnya hal ini. Kalo kita gak bisa menghargai diri sendiri, orang akan bisa melihat itu dalam perilaku kita dan mereka gak akan menghargai kita.

Kalo kita percaya diri. Itu akan terpancar dari diri kita dan orang akan menghargai kita juga. Pernah gak ketemu orang yang ketika dia ngomong atau presentasi, karismanya terasa dan kita jadi terkesan dengan apa yang dia omongin? Itu percaya diri. Dan itu yang harus kita pupuk.

Di umur 12 bulan dia mandiri bisa naik turun tempat tidur sendiri. Ini karena beberapa kali dia bangun dan nangis minta gendong kita gak kasih. Malah, kita kasih tau dia cara naik turun tempat tidur sendiri. Hasilnya, dia gak pernah bangun nangis lagi.

Kita kasih tau dia cara buka pintu sendiri dan di umur 12 bulan udah bisa. Jadi kalo bangun dan bapak ibunya gak ada, dia gak perlu nangis. Dia bisa bergantung pada dirinya sendiri. Ini kita cenderung beruntung sih. Gerendel rumahpintu rumah kita cukup rendah untuk Alde bisa raih. Segera setelah gua sadar, gua langsung ajarin dia buka tutup pintu. Soalnya selain belajar mandiri, bagus untuk keselamatan. Api adalah sesuatu yang secara alami orang takuti Bayi juga takut sama api. Tapi pintu bukan sesuatu yang alami. Pintu adalah buatan manusia yang pengoperasiannya kita harus ajarkan. Makanya in case kebakaran, gua harap dengan tahu cara buka pintu, Alde bisa langsung melakukannya.

Kita kasih tahu cara minta ke kamar mandi dan sekarang kalo mau ke kamar mandi, narik-narik ibunya.

Kita Pengen Alde Bersosialisasi
Ketika kita melihat kecenderungan ketergantungan pada kita, kita mulai masukin dia ke dalam day care. Sayangnya day care di Singapur mahal banget jadinya kita masukin dia dua kali seminggu aja. Tapi ini adalah investment kita terbaik sejauh ini.

Dengan masuk day care, ada beberapa perkembangan yang kita lihat:
1. Alde jadi lebih mandiri lagi. Dia ngeliat beberapa temannya megang gelas dan minum sendiri dari pipet. Sebelum day care, ia selalu gak mau minum dari pipe dan malah dia maenin. Sekarang dia gak terlalu sering maen sama pipet dan akhirnya menggunakan pipet untuk minum.
2. Dia belajar dari teman-temannya beberapa kosa kata yang berbulan-bulan kita gak bisa.
3. Dia jadi sadar bahwa buah-buahan seperti apel ternyata banyak yang makan.
4. Dia belajar dari teman-temannya beberapa tindak-tanduk.
5. Ninit bisa punya waktu lebih untuk ngembangin bisnis zaralde (yang btw, booming!)

Kalo gua pikir-pikir bener juga sih.
- Kalo kita masukin day care meski mahal, dia dijaga oleh orang-orang yang berkualifikasi. Bukan pembantu yang lulus SD aja nggak.
- Orang-orang berkualifikasi ini tahu cara handle anak dan psikologi anak juga, gak kayak pembantu kita yang terkadang gak punya pengalaman. Mereka gak salah, kitanya yang salah mempercayakan anak pada mereka.
- Day care punya program yang terstruktur. Serahin anak ke pembantu? anak kita akan terstruktur nonton sinetron.

Tapi yang paling penting adalah Alde mulai make friends. Itu yang luar biasa penting. Kalo kita ingin dia menjadi mahluk sosial, biarkan dia interkasi dengan anak lain.

Lagi-lagi semuanya kembali pada kepercayaan yang gua anut di mana pribadi dan kecerdasan anak itu gak semuanya terpatri saat dalam DNA dia lahir. Makanan, lingkungan dan cara lingkungan itu mendidik anak jauh lebih penting, kalo gak sama pentingnya dalam membangun mentalitas anak.

Gua suka rada sewot sama orang tua yang bangga-banggain anaknya tapi ketika ditanya resepnya apa, mereka selalu bertolak kembali ke anak itu.

"Anak gua sekarang bisa gini lho!" -> wajar ortu bangga sama anak, wajar.
"Oh ya? Gimana caranya dia bisa sampe gitu?"
"Ntah. Dia langsung aja bisa sendiri. Wah anak gua hebat!" -> Ini yang ngeselin. Untuk beberapa hal memang kecerdasan seorang anak sering mengagetkan orang tua. Contohnya, anak temen baik gue umur 7 bulan udah bisa berdengung sangat mirip dai adzan. Ini mungkin karena dia sering mendengar adzan tanpa bapaknya ajarin. Ini wajar banget. Dan itu adalah contoh dia belajar dari lingkungan.

Tapi gak semua hal seperti itu
. Don't you know what you are teaching to your kids? Are you sure that's because of them? Atau thanks to your maid? Or thanks to you?

Alot of us just don't have a clue.

Kita pengen anak kita pinter tapi giliran dia ribut sedikit, kita bentak dia suruh diam. See? apa yang kita pengen sering kali gak sejalan dengan apa yang kita tahu. Kita sering merasa lebih pintar dari anak kita dan mengajarkan dia ini itu benar dan salah, tapi kita gak sadar kalo kita juga harus belajar jadi orang tua.

Apakah gua sukses? Gak tau lah. Metode-metode di atas juga gak certified dan gua hanya melakukan semua ini dari observasi saja. Don't take my words for it. Tapi hidup itu bukan game komputer. Apalagi hidup anak kita. Kita semua ingin memberikan yang terbaik untuk anak kita. Masalahnya terkadang kita sendiri gak sadar bahwa yang kita berikan itu bukan yang terbaik. At least, if we know what we'e doing, we're a bit safer.

Sekarang kalo bisa, sharig dong, didikan apa yang kalian berikan pada anak yang berbuah baik? Ajarin apa, jadinya gimana gitu. Sharing ya!

Rgds.

Labels: ,





Loosing My Mojo
Saturday, March 22, 2008

But not in a sexual way tho hahaha.

Gua sedang dalam kondisi yang bagi gua cukup menyedihkan. Sejak tahun 2003 gua selalu mencoba mendeliver 1 karya. masalahnya sekarang gua belum nulis dari februari 2007 sampai maret 2008. Itu adalah jedah satu tahun - terlama gua gak menghasilkan karya dalam bentuk apa pun. Be it script, novel, adaptation, anything.

Waktu ada. Waktu selalu ada. Secara kantor gua hanya 15 menit jalan kaki dari rumah. Tapi pulang kantor, selalu ada Alde menunggu dan minta main bareng. Apalagi akhir-akhir ini Alde lebih clingy ke gua. Kalo gua mau ke kantor dia teriak. Kalo pisahan di mall untuk nyewa dvd, dia teriak. But regardless, truth be told, any given day gua memilih untuk memberikan semua waktu gua pada Alde.

Jadi waktu bukan masalah. Terus apa masalah gua? Kerja? Bagian ini juga memiliki masalah. I've been making friends with a bohemian couple, the famous indrani.net. dan dari pertemuan dengan mereka gua jadi ingin ikutan les berlayar. Ada kali Indra 4-5 kali ngajakin gua memulai les tapi somehow gua selalu tolak. kebanyakan karena weekend gua harus kerja. Sekali waktu sakit. Dan kesempatannya selalu hilang. kemudian gua ajak dia ikut amazing race 3. yang mana besoknya langsung ada pengumuman dari kantor akan prkembangan downsizing. Gak lucu aja gua ikutan amazing race 3 dan dapet telfon
"Adhitya, would you liek a retrechment package?"

So that's that.

Kerja ini juga memberikan tingkat stress yang sangat tinggi. ketika gua mulai nulis bajak laut beberapa bulan yang lalu, company gua mengalami downsizing dan gua jadinya me-rem pekerjaan menulis untuk konsentrasi ke pekerjaan.

Apakah ide juga masalah? Ya. Safe to say bahwa gua kebanyakan ingin cerita dalam bajak laut ini.
Dari sejarah raja-raja nusantara - yang ternyata 1 raja bisa punya 3 versi yang gua bingung mana yang bener.
Kehidupan sosial Batavia yang sadis dan tidak komedik.
Sampe cerita bajak laut itu sendiri yang harus diramu dengan kocak.

Ketika seseorang mencoba menggabungkan ketiganya, emosi penulisan jadi naik turun dari bab ke ba. Bukan emosi membaca, tapi emosi menulis. Yang namanya nulis komedi itu moodnya harus pas. ketika mood kita komedik di bab 2 dan kita pindah ke bab 3 yang menerangkan kawasan penjaringan, mood komedi itu hilang. Masuk ke bab 4 yang komedi lagi, sulit sekali mendapatkan mood komedi itu lagi.

Trus lagi, proses kehidupan. Ketika gua nulis jomblo, gua masih jadi bujangan happy go lucky type. Nulis GMC gua masih married dengan posisi karir yang masih mencari bentuknya. Nulis TT anak gua masih kecil. Sekarang? gua udah jadi bapak anak satu yang punya portfolio investment besar untuk hari tua dan karir yang mulai speasialis dan hampir diguncang downsize (gua survie btw, alhamdulillah). Dengan cukup jelas, hal-hal yang gua hadapi, jalani dan atasi sekarang jauh lebih penting dan memerlukan kedewasaan berpikir. Dan itu merenggut semua cita rasa komedi gua/ If you look at my blog writings, there hasnt been any single comedic entry for a long, long time.

As a recap to all of this, I could be loosing my mojo in writing comedy.

Akhirnya untuk bajak laut ini, gua mulai nulis lagi. dan gua memutuskan untuk tidak menggunakan hasil riset 4 tahun dan mulai menulis mengalir begitu saja agar komedinya lepas. Terkadang gua berharap bis aselepas dan serileks Rasdit Kambing jantan atau Endang rukmana. Tapi gua sadar gua gak bisa. Gua punya tanggungan dan actually solid good career to maintain. Dan membalance kedua hal itu dengan menulis is no easy job at all.

Oh well. time to try to write again.

Brgds.

Labels: ,





Membeli Masa Depan
Tuesday, February 26, 2008

Sebelumnya makasih bagi yang udah komen dan ngasih masukan di posting gua yang ini.

Di Singapur sini kita bisa nonton RCTI dan SCTV. Di suatu malam gua lagi memindai channel dan melihat sebuah iklan yang menggugah. Iklan itu adalah iklan dari tabungan rencana Bank Mandiri.

Adegan pertama: Ada anak kecil lari-lari keliling meja makan. Di meja makan itu, ada pasangan muda meminjam uang ke orang tua mereka dan ada insert tulisan “Untuk biaya masuk SD”. Di akhir adegan itu, kita melihat liontin emas ibu muda.

Adegan kedua: pasangan tersebut sudah terlihat lebih dewasa dan sang ibu melepaskan liontin emas itu dengan muka urung. Insert: “Untuk biaya masuk SMP”

Adegan ketiga: Anak itu sudah dewasa, membuka garasi dan anak itu murung melihat garasi mereka kosong. Sang bapak keluar dengan vespa. “Untuk biaya SMA”.

Adegan ini diakhiri dengan sang bapak hujan-hujan pergi kerja naik vespa, di depan rumahnya ada tulisan “rumah dijual” insert: “untuk masuk kuliah”

Ini adalah satu iklan yang sangat-sangat kuat. Hati gua belum pernah ngerasa terenggut melihat sebuah iklan. Bener banget.

Life is not a game. You can’t restart your life. Once you make a mistake, that’s it. You’re done. Apalagi hidup di Indonesia yang jujur saja, sangat unforgiving. Gua pendukung SBY dan so far dia melakukan yang terbaik untuk kita semua. Sayangnya orang-orang seperti Mega dan Amien Rais kerjanya membuat sentimen negatif saja. Gak ngebantu. Kita ini gak akan pernah maju jika pemimpin negara dibacokin orang-orang yang kerjanya pengen jadi pemimpin negara.

Hidup untuk Masa Depan
Iklan di atas sempat membuat gua tidak tenang melihat apa yang sudah ada di tangan. Tapi gua berusaha merasa qana’ah karena tidak ada yang lebih buruk di hadapan Allah selain orang-orang yang kufur nikmat. Bener kata temen-temen yang komentar di bawah bahwa kalo kita takut, kita tidak akan pernah merasa cukup dan akhirnya menghabiskan waktu kita khawatir ketimbang bersyukur.

Kita itu (seharusnya) hidup untuk masa depan. Bokap gua pernah ngasih tau statistik di bawah:
5 dari 10 pensiunan hidup bergantung pada anak dan kerabat
2 dari 10 pensiunan masih harus kerja unutk membiayai sisa hidupnya
1 dari 10 pensiunan punya uang pas-pasan untuk mandiri setelah pensiun
1 dari 10 pensiunan punya uang berlebih di saat pensiun

Mengerikan ya? Dari yang gua lihat dalam hidup, memang begitu. Sebenernya bukan karena kita miskin-miskin amat sih tapi kita itu sering belanja hal-hal yang kalo dipikir baik-baik, gak perlu.

Sekarang gimana caranya kita pensiun dengan baik? Dan di atas itu, membekali anak dengan pendidikan yang cukup? Iya kalo anaknya satu. Kalo 3? Satu lagi ungkapan yang gua pernah dengar yang sangat-sangat memotivasi gua untuk nabung:

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Iya kalo anak kita sukses. Kalo gak sukses kan kasian dia. Mencukupi dirinya sendiri aja mungkin susah, apalagi nalangin kita? Masa muda anak kita adalah masa dia mencari penghidupan untuk mensecure hari tua dia, bukan hari tua kita.

Nah gua mau share sesuatu di bawah. Bukan karena gua sukses melakukannya, atau telah berhasil menyelesaikannya. Tapi gua pengen aja sharing karena penting untuk diketahui dan semoga memberikan insight yang baik bagi yang belum tahu.

Tentukan gaya Hidup Kita
Di umur 30 ini gua belajar begini: gaya hidup itu menentukan survivality kita di hari tua. Maksudnya gini:

Ini skema hidup keluarga A
Gaji = 100%
Living cost yang kita jalankan selama ini = 80%
Tabungan = 20%

Guess what? Setelah pensiun nanti, A akan kesulitan mengadjust gaya hidupnya karena setelah pensiun, dia gak punya atau punya sedikit income. Dan dia harus hidup berbiaya 80%. Tapi masalahnya dia cuman punya 20%. Mending kalo 20% ini bisa nutupin basicnya, kalo nggak gimana?

Jadi yang perlu kita tentukan sekarang adalah bagaimana gaya hidup yang kita inginkan dan berapa yang ingin kita tabung.

Basic Consumption & Life style

Persentase di atas tidak linier. Maksudnya, orang yang penghasilannya rendah akan mencak-mencak melihat persentase di atas karena memang ada biaya hidup pokok minimal. Mungkin bagi orang yang penghasilannya 20 juta setahun, persentase di atas gak jalan. baca: minimum living cost katakanlah 10 juta setahun. Jadi mending persentasenya kita kembalikan aja pada diri masing-masing.

Yang berusaha gua jelskan di sini adalah, living cost itu ada dua komponen.

Living cost = lifestyle x basic consumption.

Contoh, orang sama-sama butuh mobil ke kantor. Yang satu beli mobil second, yang satu beli Alphard. Orang sama-sama butuh dinner. Yang satu sering dine out, yang satu masak.
Orang sama-sama butuh tas. Yang satu beli satu 60 juta, yang satu 600 ribu.

Basic consumption semua orang sama. Tapi yang membuat living cost kita berbeda adalah gaya hidup kita. Apa beli tas mahal salah? Nggak kok. Terserah, gua gak ngejudge. kalo memang mampu ya by all means, beli aja. Hanya saja, di kebanyakan kasus, gaya hidup kita lah yang membuat living cost tinggi. Bukan basic consumptionnya.

Bagi pembaca yang tergerak untuk menerapkan hal yang sama, harap diingat bahwa makin banyak anak, ya gajinya makin terbagi kecil. Bisa jadi seperti ini:

45% cost
35% pensiun
10% anak 1
10% anak 2

45% cost
30% pensiun
8% anak 1
8% anak 2
8% anak 3

Masalahnya dengan skema ini adalah, skema ini tidak berlaku pada keluarga yang incomenya terlalu kecil. Gua pernah bergaji sangat kecil dan bahkan untuk menghidupi diri gua aja susah.

Automate your Savings
Sekarang kita udah menentukan gaya hidup kita dan bertekad menabung beberapa % income kita. Next step? Kebanyakan orang, termasuk gua, gak bisa nabung. Beberapa orang bikin channel tabungan. Termasuk gua. Gua gak tau apakah ini manjur karena resultnya kita lihat 25 tahun lagi tapi setidaknya ini yang gua percaya dan gua lakukan.

Setelah menentukan berapa yang harus ditabung, kita otomatisasikan tabungan kita. Manusia itu pada dasarnya susah nabung. David Bach dalam bukunya ‘Automatic Millionaire’ mengatakan bahwa semua pemerintah di dunia ini langsung otomatis motong pajak dari gaji kita karena mereka tau kita suka lupa bayar pajak. Ha yang sama kita terapkan saja pada diri kita. Kita bisa request ke bank agar setiap tanggal 1, gaji kita dipotong ke tabungan pensiun kita, ke tabungan pendidikan anak kita dan ke mana saja yang kta mau. Akhirnya yang ada di tabungan utama hanyalah sisa untuk living cost kita. Jadi di awal bulan, yang pertama kita amankan adalah masa depan kita, bukan masa depan mango, zara atau honda jazz kita. Kalo tidak dipagari seperti ini, kecenderungannya adalah habis. Untuk ini, gua rekomendasikan banget buku David Bach ‘Automatic Millionaire’

Security
Oke, sekarang ada tabungan pensiun. Bagus. Eh besok kita ditabrak bus. Pupuslah harapan anak untuk terus sekolah. Istri juga kalo gak berpenghasilan bisa repot. Yang tadinya kita bermimpi anak kita bisa sekolah di universitas top indonesia, jadi bisa gak kuliah sama sekali.

Dan tahukah kita bahwa statistik membuktikan bahwa rata-rta suami meninggal 6 tahun lebih cepat dari istrinya? Dari sini datanglah pentingnya asuransi.

Gimana cara milih asuransi yang baik? http://priyadi.net sudah membahasnya dengan baik. Mending baca di sana. Di sini, gua cuman pengen sharing apa yang gua tau (yang mana sedikit), agar mungkin temen-temen bisa untung dari sini.

Yang jelas, menentukan asuransi itu sebaiknya gini:

Uang pertanggungan = living cost / tahun x 20 tahun (atau terserah mau berapa tahun).

Dengan formula ini, maka jika kita meninggal, insya allah keluarga kita dapat hidup selama 12-20 tahun. Lho kenapa gak full 20 tahun? Karena inflasi. Living cost tahun 2008 mungkin 4 juta. Di tahun 2020 bisa jadi 10 juta.

Masalahnya, makin tinggi uang pertanggungan, makin tinggi premi pertahunnya. Untuk itu, menentukan nilai asuransi ini juga harus bijak dan harus dalam kemampuan kita juga. Misalnya kita tabung 40% gaji. Kita split 40% ini jadi 10 dan 30.

30% pensiun
10% insurance
Toh keduanya sama-sama berbunga kok.

Dulu asuransi ini sepi peminat karena asuransi tidak melink dana kita ke investasi. Yang ada, uang kita menyusut tanpa bunga. Mending taro di bank. Gitu pikiran banyak orang. Sekarang unit link ini menjadi buruan banyak orang. Gua dulu alergi yang namanya memercayakan uang keringet gua sama asuransi. Sekarang kenapa tidak? Not bad kalo gua bilang. Jika kepala keluarga meninggal, kepala keluarga akan mendapatkan mana yang lebih tinggi antara uang pertanggungan dan nilai investasi. Lumayan kan? Btw, http://priyadi .net sih tidak menganjurkan. Tapi gua sih merasa aman sekali dengan skema ini.

You may disagree with this ya. Tapi gua sih jalanin.

Invest
Di posting gua yang terdahulu gua udah bilang bahwa musuh gua setidaknya adalah inflasi. Mau income kita 1 juta per bulan atau 100 juta, kita taro di bank, tetap aja kalah sama inflasi. Contoh:

Inflasi = 10%
Bunga bank = 2%
Tabungan kita = 1000
Harga telur 2007 = 1000
Harga telur 2008 = 1100
Uang kita 2008 = 1020
Tahun 2008 kita gak mampu makan telur.

Di sini lah pentingnya investasi. Instrumen investasi apa yang dipilih? Beberapa sudah gua tulis di posting sebelumnya. Berapa yang mesti kita invest? Nah ini tergantung dari seberapa ambisiusnya kita dalam hidup. Yang jelas, ada beberapa pointers:

- asset & liability
Robert Kiyosaki dalam Rich dad poor dad bilang “rich dad buys assets. Poor dad buys liability”. Ini bener banget. Banyak sekali orang tua yang menghabiskan uang 200 juta membelikan anak mereka mobil. Masalahnya, mobil itu mengalami penyusutan 20% per tahun. Harganya tahun depan langsung 180 juta. Umur mobil juga 5 tahunan. Itu bukan aset. Itu liability.

Kalo memang ingin memberikan anak 200 juta, kenapa gak belikan dia rumah susun? Atau BTN? “Nak, ini ayah belikan rumah 1 bukan untuk ditempatin. Sana kamu kontrakin dan uangnya buat kamu tabung.” Rumah, di 80% kasus, adalah aset.

Aset adalah sesuatu yang memberikan kita return. Yang kalo kita jual lagi, nilainya bertambah dan memberikan kita proft.

Liability adalah sesuatu yang setelah kita beli, nilainya susut. Yang kalo kita jual lagi, kita mendapatkan loss.

- Biggest & Most Basic Investment
Hal pertama yang harus disukseskan dalam investasi, dan ini yang gua setuju ya, terserah kalo gak setuju, adalah rumah. Direkomendasikan untuk rumah sendiri. Jangan sampe ngontrak seumur hidup. Di kala kita ngontrak, kita membuat orang lain kaya tanpa memberikan kita hak kepemilikan. Bisa-bisa setelah pensiun, kita gak punya penghasilan untuk membayar kontraknya. Setelah itu mau tinggal di mana?

Kalo kita cicil rumah, sejelek apa pun rumah itu, rumah itu adalah hak milik kita. Tidak ada rasa aman yang lebih baik dari pada memiliki rumah tempat kita tumbuh tua nanti.

Kalo nggak gini, kasian anak. Mereka nanti nikah dan butuh ruang, waktu dan energi untuk membangun keluarga kecil mereka. Kalo kita tinggal bersama mereka, kasian. Lenyaplah impian istri untuk ML di dapur huahahaha. Gak deng. Memang di kebanyakan kasus, orang Indonesia menganut kebudayaan orang timur di mana:

Ketika kita kecil, mereka merawat kita.
Ketika dia tua, kita merawat dia.

Ini sebabnya banyak sekali temen gua yang bungsu yang bersikeras gak mau keluar rumah. Kasian ninggalin ibunya. Si bungsu lah yang bayarin listrik, air, kabelvision dll.

Ini sebabnya banyak temen gua yang sering bilang “Udah, mamah di sini aja sama saya”

Semua itu bagus. Semua itu mulia. Semua itu dianjurkan agama. Tapi semua itu adalah cerita temen-temen gua yang mapan secara finansial dan berniat mengembalikan budinya. Temen-temen gua yang kesulitan finansialnya? Well, beda cerita.

Setidaknya di mata gua, sebagai anak yang baik, harus selalu siap untuk menampung orang tua. Itu harus. Bokap gua menyisihkan 25% gajinya selama belasan tahun untuk hidupi orang tua dia.

Tapi sebagai orang tua yang baik, rasanya gak tega ngeliat anak ngerawat kita sementara dia bisa menghabiskan waktu muda dia mengejar impian-impian. Makanya, invest your money. Nah sekarang pertanyaan, berapa yang mesti kita investasikan dari income kita? Sekali lagi, terserah.

Tadi di atas sudah ada ini:
30% pensiun
10% insurance

Kenapa nggak,
10% atau 20% pensiun
10% insurance
20% atau 10% investasi

Ingat aja, makin kecil uang yang disisihkan untuk investasi makin lambat investasi itu bisa berbuah. Kalo sisihan untuk invetasi terlalu kecil, ditakutkan malah gak pernah terwujud impiannya. Contohnya, mau beli emas batangan. Tapi harganya naik lebih cepat ketimbang jumlah uang yang kita sisihkan perbulannya. Yang ada kejar-kejaran.

Sekali lagi, instrumen investasi sudah gua tulis di postingan sebelumnya dan juga banyak terdapat di blog ttp://priyadi.net

Hutang
Disarankan untuk jangan punya hutang, kecuali hutang itu untuk membeli rumah perdana dan itu pun jangan terlalu banyak. Banyak orang yang bermimpi memiliki rumah megah dan bersikeras beli cicil. Masalahnya,

Rumah gede = biaya maintenance gede
Rumah gede = cicilannya puluhan tahun

Temen gua ada yang lumayan jenius. Dia beli rumah kecil, 5 tahun lunas. Sementara 5 tahun itu dia juga nabung dengan istri. Setelah lunas ternyata mereka punya cukup tabungan untuk nyicil rumah ketiga yang lebih baik. Rumah pertama mereka kontrakin dan mereka tinggal di rumah cicilan kedua. Sebentar lagi meeka akan melakukan yang ketiga.

Ada lagi kasus yang lumayan miris. Rumahnya terlalu besar tapi gajinya terlalu kecil, sehingga dia butuh 20 tahun untuk lunasin. Itu semua gajiu habis hanya untuk rumah. Jujur aja, kalo cicilan sampe 20 tahunan, yang ada kita bayar rumah itu 2x harga beli kita. 2 kali! Itu sama dengan kita beli 2 rumah! Tapi ini nggak. Akhirnya orang itu pensiun tanpa sempat menggunakan uangnya untuk investasi.

Intinya, hutang itu boleh tapi terbatas dengan:

  1. pembelian aset
  2. pastikan beli rumah yang sesuai dengan gaji kita. Jangan ngoyo.
  3. pastikan cicilannya tidak terlalu banyak sehingga kita masih punya umur produktif untuk investasi yang lain juga.

Again, ini hanya dari pengalaman dan observasi pribadi gua. mungkin pembaca yang berwawasan lebih, boleh kasih input. Biasanya syarat umum Bank di indonesia adalah: uang cicilan = 1/3 dari income gabungan suami istri. Kalo gitu, skemanya jadi berubah:

45% cost
33% cicilan rumah
8% anak 1
8% anak 2
6% insurance atau investasi atau pensiun

Skemanya terserah tapi kita bisa lihat bahwa semua komponen itu penting. Dan bisa kita lihat juga bahwa adanya cicilan rumah benar-benar memotong keleluasaan kita dalam berinvestasi kan. Dan bahkan untuk cicil rumah, bukan gak mungkin kita harus memotong biaya hidup jadi lebih kecil dari 45%. Makanya cicilannya jangan terlalu lama dan telalu besar.

Metode Yang Beda
Metode di atas hanyalah 1 dari jutaan metode yang kita bisa jalankan. Contoh metode lain adalah:

- 5 tahun pertama konsen beli rumah

- 5 tahun kedua konsen nabung buat investasi

- 5 tahun ketiga konsen nabung pensiun

Beberapa temen gua malah hanya bergantung pada jamsostek untuk pensiun. Uang bebasnya semuanya dia investasikan di rumah kedua dan bilang “Ya ini sapi pensiun gua.” Agar nanti kalo udah pensiun, uang kontrakan rumah itu dapat nyambung hidup dia.

Upside
Dengan cara seperti ini, orang biasanya lebih cepat mendapatkan masing-masing target. 55% gaji dia dimasukin untuk investasi. Denga modal sebesar ini, returnnya juga bisa besar dan lebih cepat. Sound good. Tapi ada kelemahannya.

Downside
Kalo misalnya pas lagi ngejar lunasin rumah, kepala keluarganya meninggal, gak ada dana back up dong.

Kalo misalnya pas 5 tahun investasi ternyata reksadana crash, habis semua uang. Kalo 5 tahun nabung dollar ternyata dollar jadi 2000 perak, the end. Lenyap udah itu semua.

Kalo misalnya keasikan beli rumah dan investasi, bukan gak mungkin kita telat nabung buat pensiun. Kenapa sih pensiun itu penting meski sudah ada investasi yang berbuah?

Karena kita tidak bisa memprediksi masa depan. Kita bergantung sama 3 rumah kontrakan. Suatu hari 2 dari 3 digusur.

Intinya sih keuntungan dari diversifikasi adalah kalo kita sial di satu hal, kita masih bisa bergantung dengan hal lain. Memang gak banyak, tapi itu safe. Kerugian diversifikasi adalah menunggu semuanya berbuaha bisa belasan tahun. Gimana nggak? Secepat apa kita bisa memperbaiki taraf hidup kalo kita hanya mampu sisihkan gaji 2% untuk investasi?

Semuanya dikembalikan ke masing-masing lah. Gak ada yang benar dan salah. Gua yakin semua yang baca blog ini by now sudah mikir, skema apa yang selama ini mereka jalani dan gak defensif atau ofensif jika tidak setuju dengan penjelasan di atas. Toh semuanya dikembalikan ke diri dan kondisi masing-masing yang mana kondisi itu gak mungkin sama.

Gua sendiri menjalankan sebuah skema. Gua gak tau apakah skema itu akan berhasil. Yang penting, kalo niatnya baik, ikhtiarnya giat, dan sabar menghadapi cobaan, itu berarti kita sudah menjalankan skemanya dengan benar.

Penutup
Yang jelas, gua berpegang sama proverb di bawah:

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Kita Sebagai Anak
Sadarkah kita kenapa orang tua naik haji di usia senja? Karena orang tua kita ingin memastikan dulu kita mentas. Betapa mulianya ya mereka.

Sekedar sharing aja, temen gua dulu ada yang ngobat. Sekarang nyesel seumur hidup. Dia nyesel karena sampai akhir hayat mereka sang orang tua tidak pernah sempat menunaikan ibadah haji. Kenapa? Karena tabungan haji mereka habis membayar rehab temen gua. Setelah sembuh mentas dan kerja, hal pertama yang temen gua lakukan adalah haji dan mendoakan mereka.

Dari dia gua belajar untuk sebisa mungkin gak pernah nyusahin orang tua. Kalo gak bisa sukses, minimal gua gak bikin mereka sedih.

Kita Sebagai orang tua
Tantangan tiap jaman itu beda. Dan semakin ke sini, semakin hebat. Dulu bapak kita cukup dengan S1 dan dapat berkarir seorang diri membiayai semua keluarga.

Jaman kita? Dibutuhkan suami dan istri untuk kerja mencukupi kebutuhan hidup. Belum lagi kualifikasi sekarang banyak yang harus S2. Ambil koran, baca bagian karir dan hiotung berapa banyak yang kualifikasi S2? Chances are, many. Dan supply lulusan S2 pun banyak yang masih struggle mendapatkannya (yang mana menjadi constant reminder gua untuk harus sekolah lagi).

Jaman anak kita? Gak kebayang kan? Ini sebabnya pensiun itu sangat penting. Anak-anak kita menghadapi apa yang tidak terbayangkan oleh kita susahnya gimana. On top of that, mereka harus mencukupi diri mereka sendiri. Memang gua yakin banget kita sebagai masyarakat timur, mereka pasti tidak keberatan mengurusi kita. Masalahnya, kitanya tega gak?

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Ada mau sharing bagaimana bentuk pembelian masa depan yang lain?

Labels: ,





Getting Smart on Money
Saturday, February 23, 2008

Untuk kesekian kalinya gua gak tidur sampe pagi ninggalin ninit yang tidur sendiri di dalam kamar. Seperti biasa pikiran gua melayang ke mana-mana mikirin beberapa hal. Satu hal yang paling lama menghinggapi pikiran gua sampe pagi adalah keuangan.

Jahatnya Inflasi

Beberapa tahun terakhir ini gua sering mendalami ekonomi. Itu juga dengan kapasitas otak S1 gua yang sangat terbatas dengan legendarisnya. gua mulai belajar dengan menganalisis ekonomi yang ada dengan banyak baca dan banyak ngobrol sama orang. Referensi lain adalah blog-log terkenal seperti http://priyadi.net yang emang analisanya edan. Salut lah sama dia.

Semuanya berawal ketika gua menyadari bahwa laju lnflasi di Indonesia ternyata lebih tinggi dari kenaikan kesejahteraan gua. Contohnya:

Tahun kemarin gua bisa beli telur harga 1000. Tahun ini harganya 1100. Artinya lnflasi = 10%.

Sedangkan bunga di bank = 3%. Artinya tahun kemarin gua nabung 1000. Tahun ini jumlahnya 1030. Terus gua mikir. Gila ya. gua udah kerja siang dan nulis malem-malem tapi tiap tahunnya nilai dari uang yang gua capek-capek dapatkan, menyusut. Gak adil. Gua bukan koruptor. Gua kerja keras. Tapi itu lah keadaannya. mau pendapatan kita 1 juta atau 100 juta, kalau kita biarkan saja, nilainya akan menyusut.

Inflasi versi pemerintah = 6% per tahun. Kenyataan di lapangan berkata lain. Inflasi telah sukses membuat tukang goreng pisang bunuh diri karena gak kuat lagi beli minyak tanah. Itu tukang kurang usaha apa coba? Dia bisa aja ngemis pinggir jalan kalo mau dan earning 50000 per hari (1.5 jt / bulan) kalo dia mau. Tapi dia memilih ikhtiar. Yang dirasakan banyak orang saja 10% meski untuk beberapa sektor, lebih dari 10%.

Harga apartemen bersubsidi X di sebuah kawasan, akhir 2007 masih 200 juta. Awal 2008, 230 juta. Gila, ganti tahun, 15% naiknya. Ini masih apartemen murahan.

Harga apartemen yang mahalan, tahun 2006 masih 600 juta. Awal 2008, 700 juta. Itu sekitar 9%-10%.

Mengalahkan Inflasi
Dari analisis di atas, gua nemu bahwa musuhnya adalah inflasi. Gua gak bisa ngandelin pemerintah karena pemerintah sekarang terus dibacok calon-calon presiden yang pengen gulingin mereka. 10 tahun reformasi, semua orang yang menggulingkan Suharto berusaha saling menggulingkan dan meningalkan negara ini sebagai satu-satunya negara yang belum lepas dari krisis eknomi di Asia.

Inflasi sendiri dipengaruhi banyak faktor yang gua gak mungkin tahu. Tapi dari matematika dasar yang otak S1 ini bisa pikir, artinya:

1. Kenaikan income/tahun > laju inflasi.
Masalahnya, gua kayak gini aja udah ngos-ngosan dan stres. Apa iya gua pulang kantor masih harus ngojek juga?

2. Tabungan yang ada, nilainya bertambah > laju inflasi
Bagi gua ini yang menarik untuk dibedah lebih jauh. Setahu gua ada bebrapa cara. Mohon infonya jika ada cara lain.

Properti - bangunan
Begitu punya uang cukup, beli properti.

Downside

- Masalahnya, barrier of entry untuk bisnis ini minimal 100-200 juta.
Itu juga ngutang ke bank. Coba baca iklan di koran atau di website properti.

- Harga rumah dan apartemen di tengah kota sudah milyaran. Harga properti juga gak selalu naik terutama apartemen.

- Daerah jakarta utara sudah terlalu banyak apartemen. Temen gua di sana beli harga X, kemudian difurnish dan jual lagi. Eh dijual dengan harga X pun (yang artinya rugi di cost furnish), gak laku.

- Aset keras. Tentang kenapa aset keras ini merupakan keburukan, nanti dibahas di bawah,

Upside
- Naiknya lebih besar atau sama dengan inflasi. Ini contoh di atas gua tulis lagi:

Harga apartemen bersubsidi X di sebuah kawasan, akhir 2007 masih 200 juta. Awal 2008, 230 juta. Gila, ganti tahun, 15% naiknya. Ini masih apartemen murahan.

Harga apartemen yang mahalan, tahun 2006 masih 600 juta. Awal 2008, 700 juta. Itu sekitar 9%-10%.

- Properti = aset keras. Keunggulan aset keras adalah kao sampe pemerintah bilang "rupiah tidak berlaku lagi" setidaknya kita masih punya aset untuk dijual.

- Properti bangunan adalah aset keras yang bisa mendatangkan passive income. Simply dari ngontrakin rumah / apartemen itu.

Properti - tanah
Downside
- barrier of entry minimal 100 jutaan.

- tanah makin sedikit, tidak seperti apartemen yang bisa dibeli ke mana-mana.

- pemerintah sedang membuat wacana agar di masa depan, tanah tidak lagi menjadi hak milik tapi hanya hak guna. Masalahnya dengan hak guna adalah, kalo sampe digusur, hak guna menjadi alat pemerintah untuk mebyara ganti rugi minimum. Kalo hak milik, pemerintah bayar lebih tinggi. kalo wacana ini semakin cepat bergulir, maka harga tanah akan naik gila-gilaan. Habis itu harga tanah akan turun. Gak make sense lu beli tanah atas dasar hak guna, kemudian bangun rumah, kemudian digusur dengan ganti rugi minimal.

- aset keras. Satu-satunya keuntungan beli tanah adalah nilainya yang terjaga. Tapi kalo kita butuh duit, dijualnya gak bisa cepet. katakanlah kita beli tanah 300 juta di tahun 2000 dan tahun 2008 sudah 400 juta. Trus ternyata kita butuh banget uang 50 juta. Tanah itu gak bisa nolong kita - dalam artian, demi mendapatkan 50 juta, lu harus menjual tanah itu seharga 400 juta. perkara lu dapet 50 juta, beres. Tapi aset lu kejual dan lu harus nyari tanah lagi. dan di tahun 2008 belum tentu ada tanah strategis yang bisa debeli seharga 350 juta sisanya. bayangin anak kita harus dioperasi gawat dan kita gak bisa jual tanah dengan cepat. Apa yang terjadi? hasilnya adalah kita sering sekali lihat iklan 'dijual cepat, butuh uang'. Kan sayang. Kalo dijual cepat, mau gak mau kita pasang harga murah. Dan yang tadinya niat investasi, jadi hilang.

Upside
- Kecuali kita bener-bener sial, harga tanah gak pernah turun. Dan tidak seperti apartemen yang selalu ada, tanah tidak bertamah. Alias makin lama makin sedikit.

- aset keras - Bukan kertas uang yang setiap saat bisa terancam.

Pasar Modal
Sekarang udah ada yang namanya reksadana. http://priyadi.net dan beberapa blog terkenal lainnya pernah mengupas ini dengan sangat baik. Gua cuman mau ngasih tau risknya aja:

upside
- Secara historis returnnya sangat baik. 20% per tahun.

- Exitnya sangat mudah. Tidak seperti aset-aset keras. Maksudnya exit cepat gini:
katakanlah kita tanam di reksadana 50 juta. jalan beberapa bulan sudah 55 juta. Di saat itu, anak kita sakit dan harus operasi, butuh 40 juta. 40 juta itu bisa ditarik kapan saja.

- Barrier of entry rendah. Ada beberapa bank yang menjalin kerja sama dengan reksadana dan kita dapat ikut berinvestasi dengan dana 2 juta saja.

- Rupiah cost averaging. Nah ini kalo gua salah artiin, mohon dibenerkan ya. Maksudnya gini. Kita kalo beli tanah butuh uang ratusan juta siap. Dengan reksadana, ada yang namanya rupiah cost averaging. Maksudnya, tiap bulan kita bisa transfer 1 juta (atau sekuatnya) ke dalam tabungan reksadana itu. Jadi daripada pusing nyari modal 50 juta untuk ikutan reksadana, 50 juta itu bisa -istilahnya- kita cicil 50 x 1 juta sebulan.

Downside
- dengan return yang tinggi, risknya juga tinggi. Luar biasa tinggi. Investasinya tidak dijamin. Bisa return 20%, bisa rugi 20%. Temen gua masukin dana 50 juta. Jalan beberapa tahun berbuah jadi 240 juta. Kemudian dia cerita temponya reksadana crash dan sisanya tinggal 50 juta. Balik lagi ke saldo awal.

Emas
Ini favorit orang tua dan bahkan generasi kita. Orang tua kita sering beli emas dalam bentuk perhiasan karena mereka sudah menyadari bahwa nilai emas stabil.

upside
- Bisa dibeli dengan jumlah uang kecil, dalam bentuk perhiasan. Tapi nilai jualnya juga rendah karena perhiasan itu seirng dicampur, bukan emas 24 karat.

- Nilainya paling stabil dari semua bentuk investasi yang ada.

- Nilainya tidak pernhah turun drastis seperti dolar.

- Di saat US dollar atau rupiah tidak berlaku, emas adalah bahasa universal yang bisa dijual di mana saja. katakanlah setengah dari dunia ini perang dunia. US dollar tidak berlaku, rupiah tidak berlaku. Kita dipaksa mengungsi ke Irak. Rupiah dan US dollar mungkin diludahin di sana, tap emas? bahasa universal.

Downside
- Membeli emas adalah cara yang baik untuk menjaga nilai uang. Hanya saja tidak berbunga.

- Butuh ilmu dan waktu untuk belajar. Sebaiknya beli emas batangan yang bersertifikat.

Currency Asing - USD
Sekarang udah gak jamannya nabung dalam USD. Euro dan GBP terbukti lebih kuat dari USD. Di Indonesia USD juga lebih banyak menjadi dagangan fisik ketimbang mata uang. Ini wajar mengingat traumanya Indonesia di tahun 1998 dulu.

- Nilai USD lemah ketimbang mata uang lain.

- Karena Amerika sedang perang, nilai tukarnya semakin terjun melemah. Sekilas terlihat baik karena dengan USD menurun, Rupiah menguat. Tapi lihat juga kekuatan USD ke mata uang lain.

Gua mau cerita hal yang menarik tentang USD dan apakah kita mesti menabung dalam USD, just in case kita krismon lagi. Pertanyaan turunan dari sini adalah: Apaah kita akan mengalami krismon seperti tahun 1998?

Jawabannya: tergantung.

Kita lihat dulu kasus 1998. Gua sendiri lupa kenapa logika di belakang kasus 1998. Tapi yang jelas:

1991 Bush perang dengan Irak. Perang ini menyedot USD keluar dari Marik sehingga Amrik terlanda krismon. Ini yang membuat Bush tidak terpilih lagi.

1996-98 adalah era Clinton. nah di sini yang gua lupa. Clinton melakukan sesuatu yang membuat Warga Amrik menikmati ekonomi terbaik dalam 2 dekade, sedangkan di belahan dunia lain, seluruh asia krismon.
Sekarang Bush perang lagi dengan irak. Kali ini kembali membuat Amrik krismon. dalam waktu 5-7 tahun dari sekarang, Amrik bisa jadi ngejahatin negara2 lain lagi untuk memperkuat ekonominya dengan konsekuensi krismon di belahan dunia lain.

2008 ini adalah pemilu US. kalo sampe hilary terpilih, gua bilang, bisa jadi ada kemungkinan asia krisis lagi karena hilary bisa jadi akan melakukan hal yang sama seperti suaminya. After all, kesuksesan presiden adalah dari ekonomi rakyatnya. Walau pun itu membuat orang lain krisis. Apalagi Clinton suami dia. Dia akan tanya "Bill, what would you do?" Dan dari sana, bisa jadi neraka kita terulang lagi.

Apakah jika Mc Cain dan Obama terpilih, pattern yang sama tidak akan terulang? Itu juga tergantung. Entah bagaimana caranya, the next president US harus memperbaiki ekonomi rakyat US yang sudah terpuruk oleh perang irak. Tergantung mereka apakah mereka ingin memulihkan ini dengan cara membuat negara lain rugi (entah gimana logikanya).

Jadi, kembali ke pertanyaan, apakah USD adalah alternatif investasi yang baik? Jawaban gua sih, beli perlu, tapi gak usah kebanyakan. Mungkin sekitar 10% dari semua net wroth kita, dimasukkan dalam bentuk USD. dan ini hanya jika kita memiliki rencana menyekolahkan anak ke LN.

Kesimpulan
Dengan semua resiko yang ada di atas, apakah investasi yang baik?

Gua bilang sih semuanya. Diversifikasi. Trik yang kebayang sama gua adalah (dan ini belum gua lakukan ya, cuman yang kebayang aja sama gua)
1. kalo kita punya uang 50 juta, masukkan itu ke dalam investasi yang paling cepat berbuah, meski itu beresiko (reksadana). Katakanlah berbuah menjadi total 100 juta.

2. Dari 100 juta itu, tarik 50 juta modal awal kita keluar dari reksadana dan belikan rumah kontrakan. Dari rumah kontrakan ini bisa berbuah uang.

3. Sekarang kita punya income dari poin 1 dan 2. Setelah cukup, investasikan ke mungkin tanah, atau emas batangan secukupnya.

4. Lakukan poin 3 dengan fondasi poin 1 dan 2 seterusnya.

Nah ini adalah bayangan dan analisis gua yang cuman lulusan S1.

Selanjutnya terserah masing-masing.

Yang jelas, sesuai judul posting gua, pegangan gua adalah satu:

Gua udah capek-capek kerja keras. Alangkah sayangnya kalo gua gak berpikir pintar untuk menyelamatkan uang dari hasil kerja keras itu.

Rgds.

Labels: ,





Impian
Friday, February 08, 2008

Ini kerjaan gua tiap weekend. Nongkrongin marina belakang rumah ngeliatin sail boat yang merapat.

Dari kecil gua suka sama alat-alat transportasi. Sampe-sampe gua masuk teknik sipil subjurusan transport. Kemudian gua kerja di industri transportasi.

Dari mulai kerja gua udah ngumpulin replika perahu.

Dan gua sering ngayal nanti setelah pensiun untuk punya sail boat. kemudian dengan sail boat ini gua napak tilas pelayaran cheng ho dan Cina ke Afrika timur. That's not bad at all. Sampai dengan akhir 2007 khayalan itu tetap jadi khayalan. Kemudian gua spend some time dengan pasangan indi - rani. Mereka merencakan untuk travel dengan sail boat dalam waktu 10 tahun lagi. Akhirnya gua beranikan diri untuk bener-bener pasang target juga.

Gua selama ini belajar bahwa bedanya impian dan kenyataan adalah

kenyataan = impian + target + planning + usaha + luck

Bedanya gua menargetkan untuk beli sail boat dan travel dalam 25 tahun lagi instead of 10. Sail boat ini menjadi target finansial gua yang ke-6. Dari dulu gua punya 5 target finansial. Sampe sejauh ini, berkat kerja dan buku, target 1 & 2 udah tercapai. Sekarang tinggal 3 lagi, plus dengan sail boat ini sebagai penutup ambisi hidup. Dengan skema pendapatan dan pengeluaran gua sekarang, gua gak berani beli sail boat (AUS $ 300 000) sebelum yakin semua kebutuhan hidup sudah aman. baca: pensiun, pendidikan Alde, etc.

Gua juga sudah melapangkan dada untuk menempatkan sail boat ini sebagai sesuatu yang sekunder. Yang kalo gak bisa dimiliki, gua masih bisa hidup tanpanya. Yang kalo sampe gagal mendapatkanya, ya minimal gak jadi orang gila dan nari telanjang di tengah jalan. Secepat mungkin gua realisasikan target 3 4 5 makin cepet gua bisa beli sail boat ini.

Let's see what happens in 25 years, hehehe..

Rgds.

Labels:





Empat Tahun
Thursday, February 07, 2008

I must be the luckiest person on earth to have you. As a wife, lover, and most of all, as a best friend.

I still remember what I promised you 5 years ago, during our engaged day. I said that I would give you the world. Or die trying to. And yet what I found was,


Orang yang gak minta banyak. Gak minta apa-apa malah.
Orang yang selalu ada di samping gua.
Orang yang nerima diri gua yang angkuh dan rendah ini, apa adanya.

Kamu, yang tidak pernah minta prada.
Kamu, yang tidak pernah meninggalkan butiran nasi di atas piring.
Kamu, yang masih mengucap syukur di saat kita susah.

Kamu, alasan saya selalu bergegas ke rumah.
kamu, alasan saya bergegas ke kantor.
Kamu, alasan saya kuat menghadapi apa pun di dunia ini.

Thank you for standing by me.
Thank you for these 4 years.
Thank you for loving me.

I love you. Everyday.

Labels: ,





Siapa Wanita Yang Mendidik Anak ini?
Tuesday, January 22, 2008

Di bawah bukan pengalaman gua. Tapi gua dapet ini dari kumpulan orang-orang yang sukda berdiskusi di sini: kelompokdiskusi.multiply.com

Kalo ada yang bisa seperti ini, kenapa kita nggak.

-----------------------------------------------------

Setelah menyetir terlalu lama sepulang dari kampung saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan saya.

"Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya.

"Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan," jawab saya ringkas dan akhirnya dia berlalu.

Pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Gak sampe 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri calon pembeli lain. Saya lihat dia menghampiri sepasang suami istri. Mereka juga menolak tawaran anak itu, dan dia berlalu begitu
saja.

"Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?" tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya lagi.

"Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih," kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pun pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, "mau beli kue saya Bang, Pak... Kakak,... Ibu." Halus budi bahasanya pikir saya.

Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Namun belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi sudah berdiri di samping mobil. Dia tersenyum kepada saya. Saya turunkan kaca jendela, dan membalas senyumannya.

"Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlu bawa kue saya buat oleh-oleh untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang," katanya sopan sekali, sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya. "Ambil ini Dik! Abang sedekah... Tak usah Abang beli kue itu." Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan yang meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima restoran. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah kagetnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis buta. Saya terkejut, saya hentikan mobil, dan memanggil anak itu.
"Kenapa Bang, mau beli kue ya?" tanyanya.

"Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!" kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

"Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!" katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

"Abang mau beli semua ?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata.
"Rp 25.000,- saja Bang...." Dengan gembira dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan berlalu dari pandangan saya.

Ya Tuhan!. Saya hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidik anak itu ?. Sesungguhnya saya kagum dengan sikapnya. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.......

------------------------------------------------------

Rgds.

Labels: ,





Sulit #2
Saturday, January 19, 2008

Gusti Allah.... Gua kira hanya keputusan urusan kantor saja yang menyulitkan gua. Ternyata datang juga masalah-masalah lain yang harus kita berikan keputusan. Sebenernya kalo mau eling, objektif dan meng-assess masalah tanpa ikatan emosional sih kita tahu, apa keputusan yang harus diambil.

Masalah selalu hadir ke hadapan kita. Harus kita hadapi semua.

Kita awali dengan menyebut nama-Nya.
Kita kerjakan dengan mengharap ridha-Nya.
Kita selesaikan dengan mengharap agar hasilnya membuahkan kebaikan pada umat-Nya.

Sesungguhnya semua urusan sebaiknya dihadapi seperti itu.

Semoga gua dan keluarga kecil gua ini mampu melakukan itu semua.


Rgds.

Labels: ,





Sulit
Thursday, January 10, 2008

Lagi ada banyak masalah di kantor. Gua gak akan nulis dulu sampe sekitar akhir April. Bismillah.

Sesungguhnya di sesudah kesulitan itu, ada kemudahan.
Di sesudah kesulitan itu, ada kemudahan.
Al Insyira 5-6

Rgds.

Labels: ,





Cerita 3 Anak Sulung
Friday, December 07, 2007

Jadi anak sulung itu no doubt tidak mudah. Kita semua tahu bahwa sudah menjadi kebiasaan bhawa anak sulung kerap harus tumbuh menjadi pantuan adik-adiknya. Kerap juga kita dengan anak sulung membantu orang tua kerja. Yang lebih jauh lagi, beberapa anak sulung tidak sekolah, membantu ibu di sawah agar adik-adiknya dapat sekolah. para adik jadi insiyur dan si sulung tetap menjadi petani.

Tidak perlu sejauh itu, kita bisa lihat di kehidupan dekat kita sendiri. Maisng-masing dari kita kalo gak punya kakak sulung, ya jadi anak sulung itu sendiri. Sulitnya selain menjadi panutan adalah, harus sabar. Harus berbagi banyak hal dengan si kecil karena orang tua berpikir tidak perlu beli 2 barang yang sama untuk 2 anak yang beda.

Tapi ada satu hal yang gua lihat jarang dibahas. Yaitu bahwa pembentukan karakter si sulung oleh orang tua. no doubt bahwa semua orang tua ingin mendidik anaknya dengan benar. Gua belum pernah nemu orang tua yang niat ngedidik anaknya dari kecil jadi orang jahat. Jika kita berangkat dari asumsi bahwa semua orang tua niat mendidik anak dengan benar, bermental baik, menjadi bibit yang unggul, lantas kenapa di dunia ini ada orang yang sukses dan ada yang tidak? kenapa ada yang benar-benar menjadi bibit unggul, ada yang biasa saja, ada yang jadi tidak mandiri, dan malah ada yang menyusahkan orang tua?

Padahal niat semua orang tua itu sama, mendidik anak mereka agar menjadi orang yang baik bagi masyarakat. then there must be something wrong here.

Kemudian ada lagi pertanyaan. Jika memang semua anak sulung terdidik sabar, bermental tauladan dan lainnya, lantas kenapa dari semua deretan pemimpin yang terkenal, tidak semua sulung? deretan manusia-manusia luar biasa sepanjang masa lahir ada yang sulung, ada yang bungsu ada anak tengah, malah ada yang anak tunggal. Kenapa gak semua pemimpin di dunia ini anak sulung? Yang katanya terbiasa memimpin dan menjadi tauladan dari kecil?

Cerita 3 Anak Sulung
Untuk mencari jawabannya, gua mau cerita masa kecil gua dulu ketika gua lahir di Medan. Ceritanya orang tua gua kerja di kilang minyak lepas pantai di medan beserta 3 orang engineer lainnya. kita sebut saja mereka Pak AA, Pak BB, Pak CC dan bokap. Mereka semua diberi rumah berderet persis. Kita berbagi pekrangan belakang yang sama. Mereka semua juga sama, pengantin baru. Engineer-engineer yang baru lulus, keterima kerja dan ketika tahu bahwa mereka ditempatkan di Medan, langsung ngajak kawin. Di tahap ini mereka masih sama. bahkan mereka melahirkan anak sulung mereka di waktu yang berdekatan. Kemudian mereka melahirkan anak kedua dan ketiga. keempat engineer ini sistem kerjanya adalah 3 minggu di oil rig dan 3 minggu di rumah. Dan di sini lah gua mulai bisa mengingat.

Pak AA
Pak AA punya dua anak. AA sulung dan AA bungsu. Pak AA ingin mendidik disiplin pada mereka. Metode yang dia gunakan adalah mencambuk dengan ikat pinggang. yang lain adalah sapu lidi dan rotan kalo gak salah. gua pernah main ke rumah Pak AA dan mendapati AA sulung menangis di sofa. AA bungsu hanya melihat dari kejauhan.

Pak BB
Pak BB punya dua anak. BB sulung dan BB bungsu. Pak BB mendidik anak-anaknya dengan mengancam. Yang paling sering kena adalah BB sulung. Diancemnya macem-macem. gua pernah main di halaman belakang dan mendapati BB sulung stres berat. Dan stresnya gak main-main. CC sulung jadi mengidap kelainan saraf motorik di mana meski gak ada angin gak ada apa, dia kelojotan sendiri. gua pernah tanya ke nyokap kenapa CC sulung seperti itu. ternyata karena stres. umur kita d bawah 10 tahun by the way, waktu itu.

Pak CC
Pak CC punya 3 anak. CC sulung, CC tengah dan CC bungsu. Gua melihat dia sabar dan mengayomi. Seakan sadar bahwa gak banyak yang dia bisa harapkan dari anak kecil dan kenakalannya. Sering ajak diskusi, kasih perhatian. Dia jarang marah. malah gua gak pernah melihat dia marah, setidaknya ketika gua main sama anak-anaknya. Mungkin dia sadar bahwa setelah 3 minggu gak ketemu, dia harus win back simpati anak-anaknya makanya dia gak ambil pusing sama sedikit kesalahan-kesalahan adolescent mereka.

10 tahun kemudian
Lama berselang dari masa kecil kita, keempat keluarga ini banyak yang pindah ke kantor pusat mereka di Jakarta. Kita masih sering ketemu kalo ada acara kantor bokap. tapi karena rumahnya jauhan, jadi jarang. makin kita besar, kita makin lepas kontak.

25 tahun kemudian
Suatu hari kakak gua menikah dan bokap mengundang semua teman lamanya ke resepsi. gua excited banget karena anak-anak AA BB dan CC ini. dan ini yang gua dapatkan:

Anak-anak AA
AA bungsu lagi S2 dan sudah jadi kontraktor.
AA sulung mengidap narkoba.

Anak-anak BB
BB bungsu yang masih SMA sudah bolak-balik jakarta-Sao Paolo karena dia jadi duta Unicef dalam sebuah world wide programnya.
BB sulung kuliah aja seperti biasa dan itu pun katanya kesulitan berprestasi. setalh 25 tahun ini, kealinan syarafnya masih ada.

Anak-anak CC
CC bungsu sekolah di amrik.
CC tengah memilih kerja di San Diego.
CC sulung kerja di salah satu bank paling bergengsi di Indonesia.

Dari sini gua mikir. kenapa AA dan BB sulung memiliki kesulitan hidup? Sedangkan AA dan BB bungsu menjalani kehidupan yang gua bilang spektakuler. Ini berlawanan sekali dengan stigma yang hadir dalam kehidupan bangsa timur di mana kita kerap berpandangan:
- Si sulung anak yang mantep, mandiri.
- Si bungsu adalah anak manja yang gak bisa mandiri. Anak mami.
Sering kali dalam 20 tahun pertama hidup gua, dalam cincin sosial gua, ada aja yang bilang
"Lu bungsu sih dit"
"Lu bungsu ya Dit?"
"Dasar bungsu! Gini aja capek."

Jawabannya adalah:
1. Bungsu, dengan cepat belajar dari kesalahan kakaknya.
Sementara kakaknya nabrakin mobil dan dimarahin sampe trauma oleh si bapak, si bungsu dengan cepat belajar "Oh, nabrakin mobil gak boleh."
Dan ada banyak sekali hal-hal seperti ini di mana si sulung harus suffer dan si bungsu menuai pelajarannya. Sementara si sulung trauma dan kehilangan confidence untuk proaktif mencoba sesuatu lagi, si bungsu jadi well prepared dan malah penasaran pengen nyoba apakah dia bisa do better apa nggak.

2. Orang tua cenderung tidak sadar bahwa dia bereksperimen dengan si sulung.
Mau gak mau, memiliki si sulung adalah pengalaman pertama mereka menjadi orang tua. Ketika mereka menemukan sulungmelakukan kesalahan, 40% kemungkinan orang tua juga gak tau anaknya harus diapain. Si sulung mecahin kaca dan digampar bapaknya. tapi setelah lama bapaknya sadar bahwa sulung jadi trauma. Dia insyaf dan berjanji tidak mengulangnya. Ketika bungsu mecahin toples, si bapak gak gampar. Sementara si bungsu termaafkan, sulung yang udah trauma digampar, juga sakit hati melihat perlakuan yang gak adil. padahal sang bapak udah insyaf juga udah baik. Serba salah.

Dan ada banyak sekali kejadian seperti ini dalam kehidupan adik kakak. Pak AA misalnya, AA sulung pada awalnya dididik dengan sangat keras. 5 tahun kemudian sepertinya Pak AA sadar bahwa metodenya salah sehingga approach pada AA bungsu sangat berbeda. Sedihnya lagi, Pak AA terkadang menyiratkan kekecawaannya bahwa Aa sulung -kasarnya nih- "produk gagal"

Padahal kalo gua lihat, kegagalan ada di pihak dia. Gimana nggak? Di saat AA sulung berumur 5 tahun, di mana dia mendefine benar-salah dari ajaran ortu, dia jarang ketemu bapaknya yang ada di il rig dan pulang-pulang di sabuk.

3. Orang Tua juga berproses untuk menjadi dewasa.
Orang tua hidup di dua jaman. jaman dia jadi anak dan jaman dia jadi orang tua. Kedua jaman ini beda total. Masalahnya, ada beberapa orang tua yang anak sulungnya masuk usia didik kritis (masa di mana anak kecil mendefine benar-salah dari ajaran ortu -ini masa yang gua define sendiri ya, gak tau di dunia psikologi ada apa nggak. yang jelas sarajana psikologi lebih tahu deh dari gua) orang tuanya masih hidup di jaman dulu. contoh kasus,

Beberapa temen sulung gua ketika mulai pacaran susahnya setengah mati. Ada yang dibilang gak boleh lah, ada yang harus gini lah, gitu lah. Tapi giliran si bungsu pacaran dengan usi yang relatif lebih cepat, orang tua nyantai. Mungkin karena di saat ini orang tua sudah mulai beradaptasi dengan jaman sekarang. Di tambah lagi dengan kecenderungan di mana si bungsu ingin melakukan apa yang si sulung lakukan. Sulung pacaran di usia 18, kemungkinan besar si bungsu pacaran dari umur 14 karena melihat asyiknya si kakak.

There you have it, susahnya jadi orang tua.

Kalo anak gak didisiplinkan, takutnya jadi rusak dan pembangkang. Kalo gak pernah dimarahin, takutnya jadi lembek. Disetiap saat orang tua harus dihadapkan dengan pilihan kemungkinan yang gak enak ini. dan sadar tidak sadar pilihan yang mereka ambil membentuk mentalitas para anaknya.

Dan yang menyeramkan bagi orang tua, sadar gak sadar, mentalitas anak adalah bekal si anak untuk survive di kehidupan mereka nanti.

As for me and kakak gua, we grew up fine. Dan gua gak ngomong gitu karena bokap gua adalah penggemar blog gua, tapi we really did grow up fine. Kakak gua pinternya setengah mati, S2 dan jadi dosen. Profesi yang gua bilang sangta mulia karena membantu membuka wawasan muridnya agar muridnya bisa menjadi sukses. Gua? well, you know how I am now.

Tapi memang ada yang gua pelajari bokap yang gua belajar untuk nggak. Yaitu kerja di tempat remote yang jauh dari keluarga.

Nyokap gua pernah cerita, ketika gua masih ngerangkak dan hobi nelen kelereng, kakak gua udah bisa ngomong. Suatu hari bokap pulang dari oil rig dan kakak gua nanya ke nyokap
"Mah, itu siapa?"

gua kebayang pasti bokap sedih kalo inget atau tahu cerita ini. yang jelas, gua sengaja milih apartemen di Singapur ini yang bisa jalan kaki ke kantor. Makan siang gua bisa pulang dan main sama Alde. gua pernah baca di intisari bahwa ada kecenderungan di mana anak yang menghabiskan banyak waktu dengan bapaknya, ketika udah gede, kepandaiannya di atas rata-rata.

Makanya sampe sekarang gua belum pernah nulis lagi sejak Alde lahir. gua pengen make sure, he has enough attention a child can get from both parents.

In the end, jadi orang tua itu adalah pilihan yang kesiapannya terkadang harus lebih dalam dari yang kita kira. gua cuman bersyukur gua punya masa kecil dan teman-teman yang di mana gua bisa nimba pengalaman. Agar gua bisa terapkan atau malah jangan terapkan ke keluarga gua yang kecil ini.

jam 3 pagil, Sleeping beauty dulu ye bo.

Labels:





30 Years Old None the Wiser
Monday, December 03, 2007

Jadi ceritanya gua hari ini ulang tahun. Biasanya gua gak pernah menganggap ulang tahun itu terlalu spesial. Tapi ini adalah ulang tahun yang ke-30, sebuah milestone dalam kehidupan kita menjadi manusia. Have we got better? Have we got wiser?

Sedih melihat ke belakang.

Umur gua 30 tapi kedewasaan gua masih seperti yang masih 20 tahun aja. Ngomong dan bertidak tanpa mikir panjang hd perasaan dan persepsi orang lain. Gua pernah berkata ke alumni senior 10 tahun lebih tua dari gua "Im so sick and tired ama orang-orang seperti anda". 30 years old none the wiser. True what they say taht growing old doesnt meant growing up.

Umur gua 30 tapi badan gua seringkih 40. Minum dingin udah gak kuat. kantung mata selalu hitam. Dan yang paling parah adalah: terkena rematik dingin. My god, cucu belum punya rematik udah.

Tapi seneng juga melihat ke belakang. Senang karena semua planning dan mimpi gua dari anak kecil, sekatang hampir semua udah terwujud. Dan bahwa gua memang kerja keras untuk itu semua. Dan cukup beruntung bahwa kerja kerasnya berbuah. Banyak lho orang yang udah kerja keras dan gak berbuah. dan di sinilah gua lucky. Mungkin itu juga yang menjelaskan kenapa badan gua udah sakit-sakitan sekarang. Di-over clock kerja dua profesi.

Dan seneng juga bahwa, boleh badan gua 40. Boleh umur gua 30. Boleh temper gua seijo 20. Tapi yang paling gua syukuri adalah: gua masih punya imajinasi anak umur 10 tahun.

Labels:





Gloomy
Monday, November 19, 2007

Aduh lagi gloomy nih. Ada banyak yang dipikirin sampe gak bisa tidur. Udah coba pergi ke sajadah tapi masih gak bisa tenang juga.

Pasalnya gua baru melakukan kesalahan di kantor siang. Kesalahan yang mengakibatkan 4 negara harus mengulang kerjaan mereka dan masih gak yakin bahwa hasilnya akan 100% bener pula. Tambahan lagi besok allocation day, hari terberat. Belum lagi ada 2 masalah lain di kantor yang bener-bener menguras energy.

Belum lagi teringat bahwa sampe sekarang gua belum aja lagi mulai nulis buku keempat. Setiap hari keinget dan setiap hari juga ditunda. Padahal kalo mau ada output buku tahun 2008, harus dimulai sekarang.

Gua sebenernya benci sama kondisi hati sekarang. Lacking confidence. Itu benci banget. Gua belajar dari hidup bahwa kita harus PD. PD itu membawa sukses kecil yang menambah PD kita dan seterusnya. Pola hidup ini sebenernya yang membawa banyak hal ke dalam hidup gua.

Masalahnya PD itu lagi entah di mana. Makan di warung markonah mungkin, atau ketabrak bajaj pas beli es duren entah.

Masalahnya dengan pola pikir seperti itu, satu kegagalan menghilangkan PD kita. Ciutnya PD menggagalkan hal berikutnya dan seterusnya. Dan di titik itu lah gua berada sekarang.

I dont know. Life is funny some times. But not today I guess.

Sudahlah. Gua butuh energi untuk mikir kerjaan besok.

Labels:





We're Not the Best of People...
Wednesday, October 17, 2007

Jadi, mohon maaf lahir batin dan selamat lebaran.
Rgds.

Labels:





Pocong 23
Thursday, September 06, 2007

Jadi ceritanya gua baru sign up ke www.facebook.com. Di sana gua hook up sama temen gua orang sinemart yang jadi produser Pocong #2. Dalam statusnya dia bilang "can't wait to hear Pocong #3 scoring!!" Weleh, pikir gua, ternyata pocong udah mau dibuat threequelnya.

Gak banyak film yang selamet dibikin threequelnya. Kalo gak filmnya yang lama-lama gak laku, bintangnya yang lama-lama loyo. Liat Jurassic Park. Atau liat Rocky yang same dibikin #6-nya. Gila tu orang udah jadi aki-aki padahal baru #6 doang. Gua kebayang kalo sampe pocong dibikin film ke #23-nya.

"aaaaaaaaaaaand cut!" kata sutradara pocong #23. "Kita break makan siang dulu ya."
Si pocong yang beneran tertatih-tatih berdiri.
"Sut..." kata pocong, manggil sutradara, "Gua cabut dulu ya. Gua sekalian makan siang di luar"
"Ih kemana? Lu gimana sih! Gua mau syuting ngebut nih. Gaya amat lunch di luar segala. Inget lu jadi pocong udah jadi aki-aki. Itu orok udah gua sediain. Susah tauk nyari orok!"
Pocong jutek. "Ih masak gua keluar sebentar aja gak boleh?!"
"Lu mau apa? Tu liat di balik pu'un!" Keduanya menoleh ke pohon angker di setting syuting. Ada banyak pocong beneran ngintip dan langsung pura-pura sibuk sendiri. "Ada banyak pocong muda yang mau gantiin lu dengan bayaran lebih rendah. contohnya: orok sapi. Gak kayak elu mintanya orok manusia mulu. Kirain nyari orang beranak gampang apa?"
"Ye, bukannya belagu. Ini gua mau ngurusin jamsostek gua. Ntah kenapa gak cair bulan kemarin. Istri gua juga kan mesti belanja."
"Ya udah sana. 1/2 jam ya."
"Lu tega deh. Ini gua kan udah tua, gua lompat aja beser."
"Ya udah sana!"

30 menit kemudian, sesampainya di gedung jamsostek, Pocong masuk dengan melompat-lompat. Dia mengambil kartu tunggu dan duduk di sebelah jin tomang dan kuntilanak.
"Eh kunti. apa kabar?"
"Baek mas."
"Gak bunuh orang hari ini kun?"
"Gak. Lagi puasa."
"Oh pantes. Jamsostek lu gak cair ya?"
"Iya nih bete. Secara gua janda, ini pemasukan gua satu-satunya. Pemerintah makin gak beres aja."
Pocong teringat akan sesuatu. "Eh iya, gua janjian sama suster ngesot. Bentar gua telfon dulu."
"Halo, Sus? Lu di mana?"
"Aiyya, wo balu belok masuk thamlin aah."
Pocong bingung, dia berbisik pada kunti. "Kun, sejak kapan suster ngesot jadi cina?"
"Heh? cina? Dia kan kebumen."
"Sus, lu kenapa?"
"Ni ya wo kasih tau. Wo barusan makan orang cina. Makanya jadi gini wo punya omongan."
"Ya elah. Oh iya. balik ke topik semula. Gua mau nanya aja. LO KE SINI GIMANA? MELATA APA? LAMA AMAT?"
"Aiyaaa. WO KAN NGESOT! Udah ah berisik lu orang!"
-Klik-

Pocong terduduk dengan lesu di samping kunti.
"Jaman sekarang udah beda ya. Kun."
"Iya."
"Jaman dulu orang ngeliat kita, jerit-jerit. Sekarang, kita diperdubak jadi insan perfilman yang dibayar gak seberapa."
"Padahal semua film horor box office tuh."
"Iya. Sekarang kita bunuh orang gak seru lagi."
"Iya. Eh gini aja. kita ke atas gedung, trus jorokin yuk. Untuk seneng-seneng aja." ajak kunti.
"Ayo ayo!" mereka segera beranjak.
"Tapi pelan-pelan. Asam urat."
Di atas gedung mereka berpapasan dengan pegawai kantoran dan segera menakut-nakuti orang itu. Orang itu bereaksi dengan penuh logika dan logikanya berkata bahwa penyelesaian terbaik dari bertemu setan adalah melompat dari gedung.

Tak setelah setelah orang tu mejret kemana-mana di lantai dasar, pocong dan kunti kembali ke kantor jamsostek. Mereka senang. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama mereka membunuh untuk senang-senang lagi. Sesampainya di kanor jamsostek. Mereka bertemu dengan suster ngesot yang sekarang lebih pantes disebut nenek-ngesot.
"Dih, tampang lu jutek bener. Kayak yang baru makan orang jawa aja."
"BT nih. Jamsostek tutup."
"Kenapa?" tanya mereka.
"Kepala cabangnya baru lompat dari gedung. Jamsostek tutup sampai pengumuman selanjutnya." Nenek-ngesot menggedor-gedor jendela "LU KIRA GAMPANG AJA NGESOT RAGUNAN-THAMRIN!???????????? KUNYUK!"
Pocong dan kunti saling bertatapan.

This is definitely not their day.

Labels: ,





Gue, Mainan & Bankir Gue
Monday, July 16, 2007

Mainan
Salah satu hal yang gua suka dari ikea adalah bahwa hampir semua barang yang kita beli di sana harus kita rakit sendiri. Alasannya adalah agar gampang dibawa dari toko dan gak butuh tenaga pengangkut atau bagasi besar.

Bagi gua yang gua suka dari merakit-rakit adalah kalo gua beli mainan Alde, gua jadi bisa bonding sama dia. Dia selalu duduk di samping gua, penasaran bapaknya lagi ngapain. Bentar-bentar narik obeng atau narik kayunya.










Di Jakarta dulu waktu habis di macet sampe sering gua pergi kerja dengan Alde masih tidue dan pulang mendapati dia sudah tidur. To me, this here, is expensive. Quality time with my son.

Bankir Gue
Hehehe, tadinya gua nulis sesuatu beberapa jam yang lalu ttg bankir gue tapi terpaksa gua hapus karena yours truly's wife didn't approve the posting. So that's that. hehehe...

Rgds.

Labels: , ,





Gua, Nama Gua & Derita yang Gua Tanggung part Deux!!!!
Saturday, June 23, 2007

Sebagian dari kaliain mungkin pernah baca derita yang gua tanggung karena banyak orang salah eja nama gua. Kenyataan bahwa gua nulis buku dengan harapan bahwa 'kalo orang kenal nama gua dari buku gak mungkin salah eja lagi, tyt gak seberapa banyak ngebantu.

Masuk ke dalam kancah lingkup kerja internasional dari tahun 2001, masalah dengan nama gua makin menjadi-jadi aja beyond control.

Orang Eropa
Ternyata orang eropa kesulitan menyebut nama gua. Guru Liner trade pernah mau ngasih PR gua.
"Ahi...ad...adhhh...MULYA!" ujarnya sambil ngasih PR gua.
Selain dia ada kali puluhan fellow trainee yang kesulitan manggil nama gua.
Usut punya usut, ternyata yang bikin susah mereka itu adalah huruf H sesudah huruf Dnya. Dalam konteks dialog mereka, bacanya jadi AD HIT YA. Apparently di belahan bumi eropa sana, ngomong 3 suku kata ini bisa ngeden. Pernah gua minta mereka panggil gua Adit. Gak bisa juga. Jadilah gua yang waktu itu masih muda berkompromi dan bilang:
"You know what, call me Adi. As in, Adi-das."

Gua sebenernya gak pengen meng-compromise nama gua seperti itu tapi gua juga gak pengen liat sekelas mencret manggil nama gua.

Akhirnya pas gua expat pertama kali ke Afrika, gua gak mau kompromi lagi. Gua memperkenalkan diri gua seagai Adhitya. Dibaca: A Di Tya. Mencret, mencret dah lo sono. Ternyata gak seberapa susah dan semua orang eropa mulai terbiasa manggil Adhitya. Beres.

Beres? Gak juga sih. Ada 300 trainee di kantor yang kenal gua dengan nama Adi. Sedangkan setelah gua balik ke Indonesia, gua paksa semua orang, bahkan orang Indonesia, manggil gua dengan Adhitya. MAsalah datang ketika dalams ebuah project, temen gua dari Thailand yang namanya Pornurai, sampe bersitegang dengan manager gua.
"Adi told me Indonesia has sign off on the process."
"Adi who?"
"Adi! your process owner?"
"I never knew any Adi."
Setelah Pornurai garuk-garuk aspal, baru lah misteri terkuak bahwa Adi itu gua. INi sebabnya gua gak mau lagi compromise dengan nama yang bukan gua.

Happening again
Masalah yang sama datang di kali kedua gua expat. Semua orang di kantor, kecuali orang India, susah nyebut nama gua.
"Let's go meet the director." kata bos gua.
"Okay."
DI kantor bos gua?
"Hi Steen, this is adh...adh....adh......"
"Adhitya."

Abis itu, setelah dengan tidak suksesnya kenalan dengan director,
"Hey you know what? do you have a shorter name? Nick name?"

Departemen gua adalah vessel capacity. dan akhirnya gua go by the name of: That new guy in capacity.

Orang India
Satu-satunya ras di dunia ini yang gak susah nyebut nama gua adalah orang india. Tiap kali gua kenalan, meeka either senyum atau kaget.
"Lho kamu kan orang timur dan orang ganteng, kok make nama india sih?"
Di satu sisi gua seneng karena mereka bisa nyebut nama gua. Di satu sisi gua asem bener sama pertanyaan itu.

Origin of My Name
Sementara banyak orang mendapatkan namanya secara teliti dari Al-Qur'an, gua dapet nama dari bahasa Sansekerta. Adhitya, dalam bahasa sansekerta adalah Aditya yang berarti (ehm) pangeran.
Bagus gak artinya? Bagus kan? Bagus dong. Masalahnya adalah di-proses mendapatkan nama itu. Pertama kalinya gua tau arti nama gua, gua langsung ke ibu gua dan nanya:
"Mah, adit dinamain adit pasti karena artinya Pangeran ya?"
"Oh artinya itu ya? Gak sih. Waktu hamil kamu di medan, tetangga kita ada anak kecil orang india namanya aditya. anaknya lucu pinter dan ganteng. Ya udah kita ikutan aja namanya sama."
Kentut.

Yup, there you have it. Nama gua, ngikutin nama orang. On the lighter side of things, nasib gua masih mending ketimbang anak-anak yang lahir dan dinamain Suharto. Gua aja manyun mereka gimana coba.

Anyways, kejadian itu ngajarin gua sesuatu. Bahwa menamai anak itu penting untuk bagus, penting untuk meaningful, tapi penting untuk bisa diannounce secara universal.

Nama Anak
Makanya ketika Aldebaran lahir, gua hati-hati bener. Kriteria buanyak bener.
1. Gua pengen namanya Arab tapi gak terlalu arab sampe dia harus disetrum di imigrasi sama polisi di Algeciras atau kopernya dibongkar dua jam di Tokyo International Airport namanya Abdullah. Atau gagal terus dapet visa schegen. Basicallya gua pengen namanya Arab tapi gak ketauan sama orang bahwa itu nama Arab agar dia gak sulit travelling.

2. Gua pengen namanya selalu ada ke mana dia pergi.

3. Namanya berasal dari seuatu yang berguna.

4. Dan yang paling penting, namanya gak susah disebut.


Dapetlah gau nama sebuah bintang, "Aldebaran". Berasal dari nama arab Al Debaran, untuk bintang ke-13 palingterang di angkasa. Usianya lebih dai 4000 tahun, lebih tua dai beberapa peradaban di muka bumi ini dan karena dia ada di angkasa, namanya akan ada untuk 4000 ahun ke depan (asumsi belum kiamat). Berguna karena pelaut-pelaut arab selalu mencari Al Debaran untuk menuntun mereka melaut dan menuntun mereka pulang. Albdebaran saves the life of countless seafarers.

Suatu hari gua majang foto anak gua di meja kerja. Bos gua yang orang singapur nanya:
"Hey...is that your little boy?"
"Yes."
"What's his name?"
"Aldebaran."
"Ald...Ald...Adlebaban?"

OH COMMON!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Untuk Aldebaran: If you some day read his my son, then read this part: I only meant well.

Labels: , ,





Bokap Ultah
Friday, June 15, 2007

Bokap ultah lagi. Gua juga gak enak sama nyokap krn pas dia ulang tahun, gua sepertinya lupa ngasih selamat di blog. Bukan berarti gua lebih sayang sama bokap ketimbang nyokap lho.

Well selamat utk papah. Bingung mau ngomong semoga... karena sepertinya semuanya sudah dia capai. Nonetheless, wishing you good health and happy days for the rest of your life. Both of you, that is.

DItunggu kedatangannya ke singapur ya.

Labels:





Honda Jazz
Sunday, May 27, 2007

Honda Jazz kita terjual sudah. Minggu sore tadi pemiliknya datang dan serah terima. Sedih euy. Jazz ini mobil pertama gua yang gua beli pake uang sendiri. Gua itu orangnya suka sentimentil dan emosional dengan barang-barang pertama gua. Kamera pertama, gaji pertama, mobil pertama, rumah pertama.

Apalagi jazz ini. Jemput Aldebaran setelah dia lahri tuh pake mobil itu. Dan banyak hal lain yg terjadi dengannya.

Tapi ya udah. Gak make sense untuk mempertahankan Jazz ini karena dengan gua sebentar lagi pergi ke Singapur utk 3 tahun, Jazz itu akan terus turun harganya tanpa terpakai. So, common sense won and the car is sold.

Dijualnya juga ke sodara sih, jadi gua masih bisa liat dia kalo ketemuan sama sodara gua itu.

anyways, urusan mobil udah kelar. Sekarang tinggal urusan rumah. Bentar lagi agen gua mau bawa seorang peminat sewa untuk lihat juga.

Hope that works out too.

Rgds.

Labels:





We're Leaving Soon
Wednesday, May 16, 2007



And now we’re packing again. Venturing to yet another country. This time more complicated because we’re bringing a handsome little prince along.

He’s already busy helping his father packing. He's making sure his toys are properly packed.



For us, we're happy and sad. happy because it's traveling time but sad because we just moved to our house 6 months ago. We put our entire life saving building it and already we have to leave it. We're leasing it! Contact us for details eh!

We're having a slight problem on the working permit and thus our departure will be slightly delayed.

But everything's okay.
Everything's alright.

We're leaving soon.

Labels:





Flexi Time
Wednesday, March 21, 2007

Company gua secara mengejutkan menetapkan flexi-time. Ini adalah salah satu nilai baru yang mereka tanamkan yang mana sangat bertolak belakang dengan apa yang mereka pegang dulu.

Dengan flexi-time ini, kita bisa milih, dateng jam 9 pagi asalkan jangan pulang sebelum jam 6 sore. Potongan flexi-timenya:
7:30 - 16:30
8:30 - 17:30
9:00 - 18:00

Hari ini gua sign dengan manajemen untuk flexi-time 7:30 - 16:30. Gua mau gak mau harus selalu pergi sepagi mungkin agar dapet jatah kursi dalam transjakarta kor.6 dan karenanya, selalu sampe kantor jam 7 lewat dikit. SO, daripada jam kerja ditung dari jam 8, mending jam 7:30 sekalian.

Lumayan, dengan ini bisa pulang lebih cepat. Di jam 16:30, orang-orang belum pada make transjakarta jadi gua bisa pulang lebih cepat. Soalnya selama ini, paling cepet, gua sampe rumah jam 7 malem. dengan ini, semoga gua bisa pulang jam 6 sore.

Gua butuh ini. Sepertinya gua kurang waktu banget untuk Ninit. Sampe-sampe gak nyadar bahwa gua jarang ngebelai dia.

Anyways gua harap dari sekarang gua bisa belai dia hehehe. Rgds.

Labels:





3 Tahun Menikah
Wednesday, February 07, 2007

Tiga tahun yang lalu, sesaat setelah ijab kabul, kita berdua sungkeman dengan keempat orang tua kita. Waktu itu tiba giliran Ninit untuk sungkem sama bapak gua. To my surprise, orang yang gua tahu sebagai orang yang gak sabaran itu berkata pada istri gua:

"Yang sabar ya jadi istri Adit."


I think I need to thank my dad for that. Karena selama ini Ninit udah sabar sama gua.

I love you, baby.


Rgds.

Labels: ,





Turning 29
Wednesday, December 06, 2006

Umur 29.

Semoga gue punya kesabaran dan kedalaman umur 50an.
Semoga gue punya energi umur 25.
Semoga gue bisa riang lagi seperti umur 5 tahun.

Amin.

Labels:





Pemuda Bernama Djuhro
Wednesday, September 20, 2006

Seharian ini sistem di kantor ambruk. Gua menghabiskan hari melihat-lihat foto Aldebaran. Gua berpikir betapa beruntungnya gua memiliki bintang kecil ini. Bagaimana bisa semua ini terjadi. Kemudian gua teringat 1 hal penentu, kenapa semua hal ini bisa terjadi.

Berpuluh-puluh tahun yang lalu di desa Sumedang, hidup seorang pemuda bernama Djuhro Soemawiria. Di suatu pagi, Djuhro muda berjalan-jalan di pasar. Seorang anak tertangkap mencuri sepatu dan orang-orang hampir memukuli anak itu.

Djuhro muda datang dan melerai. Djuhro muda adalah seorang pemuda miskin tapi dia membayarkan sepatu anak itu. Anak itu berterima kasih dan pergi.

Djuhro muda dan anak kecil itu tidak pernah bertemu lagi.

Belasan tahun kemudian, Djuhro menikah dan memiliki 5 anak. Dia menjadi kepala stasiun Cicalengka, Bandung. Suatu malam, Di/TII memberontak. Mereka membuat kerusuhan. Memburu rumah-rumah dan mencoba membunuh aparat pemerintah.

Rumah Pak Djuhro ditendang terbuka dan sekelompok tentara masuk dengan senjata. Sersan kepala menodongkan senapannya pada Pak Djuhro dan keluarga.

Sersan kepala itu menodong orang yang pernah membelikannya sepatu.

Sersan itu tersenyum dan mengucap permisi.

Setelah kejadian itu Pak Djuhro dikarunai anak ketujuh bernama Ati Ernawati.

Dan di tahun 1977, ibu Ati melahirkan seorang anak lelaki bernama, Adhitya Mulya.

Dan di tahun 2006, sebuah bintang penunjuk lahir. Aldebaran

Apa yang kita lakukan dalam hidup, berpengaruh pada orang lain. Dan pada diri kita juga.

Rgds.

Labels:





Departures
Friday, September 01, 2006

Deepest condolences for teh Inong, who passed away recently.

And also for Ardian Susetyoadi (sipil ITB'96)

May they rest in peace.

Rgds.

Labels:





Kasta
Friday, July 14, 2006

Di deket rumah ada salon langganan gua. Sebenernya gua lebih tipe orang barbershop tapi krn itulah satu-satunya yang deket rumah, jadilah gua ke sana.

Gue jadi langganan di sana sejak 2001 karena 1 faktor aja, yaitu tukang cukurnya (wanita) yang sebut aja Rina (bukan nama asli).

Pertama kali Rina motong gua udah bagus dan sejak itu gua cuman mau dipotong dia. Gua potong rambut sebulan sekali dan setiap bulan kita pasti ketemuan untuk ngobrol.

Kita cukup tau masing-masing cerita lah krn kita pasti ngobrol, meski dia gak akan cerita kalo gua gak nanya. Seinget gue pernah dia cerita 2 kali kejadian putus sama pacarnya. Salah satunya udah pacaran cukup lama, tapi akhirnya putus krn gak direstuin orang tua pacar. Katanya ortu pacarnya lebih seneng sama calon lain atau gimanaaaa gitu.

Setelah itu dia pernah cerita bahwa dia ngambil kuliah malem, ngambil S1. Gua suka dengan spiritnya. Meski, sejak dia kuliah, gua jadi sulit banget ketemu dia untuk dicukur krn gua baru sampe deket rumah itu paling banter 18:30 dan dia jam 17:00 pasti udah cabut untuk ngejar kuliah.

Anyways, 2 minggu yang lalu gua ke sana dan gua kaget mendapati bahwa dia udah resign.

"Iya Pak, saya juga kaget dia resign. Cepet banget kejadiannya. Dia kan udah lulus tuh. Abis itu dapet kerja kantoran, langsung deh resign. Gak pake 1 month notice segala." ujar salah seorang temannya.

Gua shock sama kejadian ini. Rina adalah pencukur rambut yang sangat handal dan disukai oleh banyak orang, gak cuman gua. Yang paling bikin gua bingung, dia selalu positif dengan pekerjaannya sebagai hair dresser ini.

Abis itu gua nunggu di luar, bareng-bareng satpam salon yang juga kenal karena saking rutinnya liat gua.

"Rina keluar ya pak?" tanya gua.
"Iya Pak. Semua orang juga kaget."
"Kenapa ya dia keluar?"
"Itu tuh, dia beberapa kali diputusin sama pacar-pacarnya soalnya calon-calon mertua dia selalu gak mau punya menantu tukang cukur. Udah berapa kali mau nikah, tapi gagal terus."
"...."
"Makanya dia akhirnya kuliah lagi kan. Begitu lulus, dapet kerja di kantor yang bagus, langsung pergi dari sini."

Ternyata kasta masih ada dalam kehidupan sosial kita.

Rgds.

Labels:





Kemana Perginya Waktu?
Tuesday, July 11, 2006