zaralde.com

Aldebaran 19 months
Monday, March 31, 2008



Dalam bahasa Inggris, daam hal anak umur di bawah 2 tahun ada istilah 'terrible two'. Ini merujuk kepada kondisi di mana anak di bawah 2 tahun itu luar biasa rewel.


Sebenernya kejadian ini wajar dalam beberapa artian,
Sejak seorang anak berada di atas 1 tahun,
  1. dia sebenernya udah tau apa yang dia mau. Tapi masalahnya otaknya belum canggih untuk mengartikulasikan apa yang dia mau dalam bentuk vokal. Jadi lah seorang anak ngomong gak jelas dan tiba-tiba kicking and screaming. Untungnya gua dan ninit ngerti hal ini cukup dini sehingga segimana rewelnya pun Alde kita coba untuk gak bentak dia. Lha wong dia sebenernya gak salah. Cuman frustrasi karena gak ada yang bisa ngerti maunya dia. Dan sebenernya maunya anak itu simple-simple kok. Minta ambilin sesuatu karena kita simpan terlalu tinggi. Hal-hal seperti itu.
  2. Ini adalah masa di mana dia eksperimen dan eksplorasi. Yang dia makan bedak lah, yang dia pergi ke kolong meja lah, yang dia obok-obok orange juice lah. yang nasi dia injek-injek lah. Sebenernya semuanya wajar. Lagi-lagi kita coba untuk gak marah sama alde.
Yang paling susah adalah melarang dia melakukan eksperimen dan eksplorasi. Satu sisi pengen kita larang karena makan bedak itu jelas salah. Sisi lain, kalo sampe kita larang terus, takutnya kita membunuh rasa ingin tahu dia dan tumbuh jadi anak yang pendiam dan tidak mau belajar.

Untuk menanggulangi ini gua dan Ninit melakukan beberapa hal.

Kita pengen dia eksperimen sepuasnya
Ini karena di saat eksperimen otaknya berputar untuk menemukan logika dan meski meja tamu kita bisa berubah jadi seperti meja bedah film horor, Insya Allah dia ngerti buah dari eksperimen itu. Untuk itu, semua mainan dan semua barang yang dia bisa makan, ditaro di bawah. Pecah belah dan barang-barang beracun seperti, oh I dont know, racun tikus, itu di atas.

Kita gak pernah capek ajarin dia untuk makan sendiri dan megang gelas sendiri. Hasilnya lumayan. Aldebaran semakin sedikit tumpah-tumpah kalo minum. Masalah dengan minum adalah dia jadi sering sekali ngebanjur lantai dengan susu coklat dan orange juice.

Kita kasih dia kursi dan meja sendiri sebagai area eksperimen. Sebelum itu dia ekspermien di mana-mana.

Kita Pengen Dia Kaya akan Kosa Kata
Kalo kita lagi jalan, kita pasti tunjuk, that's a tiger.
Loook at the cars Alde, wow there are so many cars. How many cars Alde? Let's count together.
Look at the black bird alde. The black bird is flying!
Sebenernya rada aneh ngajak dia ngomong dengan kalimat penuh. Tapi setidaknya lama-lama dia ngerti bahwa benda itu adalah burung dan burung itu berwarna hitam. burung yang hitam itu sedang terbang.

Tentunya di kebanyakan waktu dia gak merhatiin. Tapi kuncinya di sini gak nyerah dan terus ajak dia ngomong. Dan ajak dia ngomong dalam 2 bahasa.

Kita Pengen Dia Jadi Decision Maker
Gua ragu dengan konsep natural born something. Gua percaya bahwa personality kita adalah hasil didikan lingkungan sekitar dan orang tua. Sebagai seorang bungsu gua terlatih untuk melihat dan mencerna dan itu adalah yang gua cerna. Kita adalah hasil didikan.

Mendidik Alde menjadi decision maker metode kita sangat gampang bahkan cenderung primitif karena kita juga masih belajar jadi orang tua.
Kalo kita lagi jalan pagi atau jalan sore, dia yang jalan di depan. Kita gak gandeng dia. Biarin aja dia mau belok kiri atau kanan. Mau dia kejar kucing atau kejar burung, terserah. Dia yang memutuskan mau ke mana.

Kalo Alde bingung, kita bantu dengan pilihan dan ini yang paling sering kita lakukan.
Alde mau ke mana? Ke kiri atau ke kanan?
Kalo Alde lagi ganti baju untuk pakai piyama, kita tanya
Alde mau yang merah atau yang biru? sambil menyodorkan keduanya pada Alde.
Kalo ke super market,
Alde mau coklat atau pocky-pocky?

Kita Pengen Alde Percaya Diri & Menggunakan Potensinya
Ketika Alde melakukan sesuatu yang salah atau bahaya. Kita larang.
Tapi ketika Alde berhasil melakukan sesuatu, kita tepukin tangan dan "bilang good job Alde!!"

Ini hasilnya sangat menggembirakan. Alde mulai bisa meng-apresiasi dirinya. Di saat dia berhasil melakukan sesuatu, dia berkata 'yay' sambil menyelamatkan diri dia dengan tepuk tangan pada diri sendiri. Dari 14 bulanan dia mulai bereaksi seperti ini. Contohnya pernah suatu kali dia naro apel di atas gelas dan bawa semua itu tanpa jauh dari dapur ke meja makan. Bagi kita mungkin itu remeh banget dan mikir 'ah gitu aja bangga' Tapi eh siapa tahu bagi dia itu adalah mile stone yang sangat-sangat tinggi. Ya gak?

Dan di 19 bulan, kita mulai dengar dia bilang 'good job' pada diri dia sendiri.

Bagi gua kedua hal di atas adalah sesuatu yang sangat menggembirakan. Dia bisa menghargai diri dia sendiri. Banyak orang tua yang gak sadar betapa pentingnya hal ini. Kalo kita gak bisa menghargai diri sendiri, orang akan bisa melihat itu dalam perilaku kita dan mereka gak akan menghargai kita.

Kalo kita percaya diri. Itu akan terpancar dari diri kita dan orang akan menghargai kita juga. Pernah gak ketemu orang yang ketika dia ngomong atau presentasi, karismanya terasa dan kita jadi terkesan dengan apa yang dia omongin? Itu percaya diri. Dan itu yang harus kita pupuk.

Di umur 12 bulan dia mandiri bisa naik turun tempat tidur sendiri. Ini karena beberapa kali dia bangun dan nangis minta gendong kita gak kasih. Malah, kita kasih tau dia cara naik turun tempat tidur sendiri. Hasilnya, dia gak pernah bangun nangis lagi.

Kita kasih tau dia cara buka pintu sendiri dan di umur 12 bulan udah bisa. Jadi kalo bangun dan bapak ibunya gak ada, dia gak perlu nangis. Dia bisa bergantung pada dirinya sendiri. Ini kita cenderung beruntung sih. Gerendel rumahpintu rumah kita cukup rendah untuk Alde bisa raih. Segera setelah gua sadar, gua langsung ajarin dia buka tutup pintu. Soalnya selain belajar mandiri, bagus untuk keselamatan. Api adalah sesuatu yang secara alami orang takuti Bayi juga takut sama api. Tapi pintu bukan sesuatu yang alami. Pintu adalah buatan manusia yang pengoperasiannya kita harus ajarkan. Makanya in case kebakaran, gua harap dengan tahu cara buka pintu, Alde bisa langsung melakukannya.

Kita kasih tahu cara minta ke kamar mandi dan sekarang kalo mau ke kamar mandi, narik-narik ibunya.

Kita Pengen Alde Bersosialisasi
Ketika kita melihat kecenderungan ketergantungan pada kita, kita mulai masukin dia ke dalam day care. Sayangnya day care di Singapur mahal banget jadinya kita masukin dia dua kali seminggu aja. Tapi ini adalah investment kita terbaik sejauh ini.

Dengan masuk day care, ada beberapa perkembangan yang kita lihat:
1. Alde jadi lebih mandiri lagi. Dia ngeliat beberapa temannya megang gelas dan minum sendiri dari pipet. Sebelum day care, ia selalu gak mau minum dari pipe dan malah dia maenin. Sekarang dia gak terlalu sering maen sama pipet dan akhirnya menggunakan pipet untuk minum.
2. Dia belajar dari teman-temannya beberapa kosa kata yang berbulan-bulan kita gak bisa.
3. Dia jadi sadar bahwa buah-buahan seperti apel ternyata banyak yang makan.
4. Dia belajar dari teman-temannya beberapa tindak-tanduk.
5. Ninit bisa punya waktu lebih untuk ngembangin bisnis zaralde (yang btw, booming!)

Kalo gua pikir-pikir bener juga sih.
- Kalo kita masukin day care meski mahal, dia dijaga oleh orang-orang yang berkualifikasi. Bukan pembantu yang lulus SD aja nggak.
- Orang-orang berkualifikasi ini tahu cara handle anak dan psikologi anak juga, gak kayak pembantu kita yang terkadang gak punya pengalaman. Mereka gak salah, kitanya yang salah mempercayakan anak pada mereka.
- Day care punya program yang terstruktur. Serahin anak ke pembantu? anak kita akan terstruktur nonton sinetron.

Tapi yang paling penting adalah Alde mulai make friends. Itu yang luar biasa penting. Kalo kita ingin dia menjadi mahluk sosial, biarkan dia interkasi dengan anak lain.

Lagi-lagi semuanya kembali pada kepercayaan yang gua anut di mana pribadi dan kecerdasan anak itu gak semuanya terpatri saat dalam DNA dia lahir. Makanan, lingkungan dan cara lingkungan itu mendidik anak jauh lebih penting, kalo gak sama pentingnya dalam membangun mentalitas anak.

Gua suka rada sewot sama orang tua yang bangga-banggain anaknya tapi ketika ditanya resepnya apa, mereka selalu bertolak kembali ke anak itu.

"Anak gua sekarang bisa gini lho!" -> wajar ortu bangga sama anak, wajar.
"Oh ya? Gimana caranya dia bisa sampe gitu?"
"Ntah. Dia langsung aja bisa sendiri. Wah anak gua hebat!" -> Ini yang ngeselin. Untuk beberapa hal memang kecerdasan seorang anak sering mengagetkan orang tua. Contohnya, anak temen baik gue umur 7 bulan udah bisa berdengung sangat mirip dai adzan. Ini mungkin karena dia sering mendengar adzan tanpa bapaknya ajarin. Ini wajar banget. Dan itu adalah contoh dia belajar dari lingkungan.

Tapi gak semua hal seperti itu
. Don't you know what you are teaching to your kids? Are you sure that's because of them? Atau thanks to your maid? Or thanks to you?

Alot of us just don't have a clue.

Kita pengen anak kita pinter tapi giliran dia ribut sedikit, kita bentak dia suruh diam. See? apa yang kita pengen sering kali gak sejalan dengan apa yang kita tahu. Kita sering merasa lebih pintar dari anak kita dan mengajarkan dia ini itu benar dan salah, tapi kita gak sadar kalo kita juga harus belajar jadi orang tua.

Apakah gua sukses? Gak tau lah. Metode-metode di atas juga gak certified dan gua hanya melakukan semua ini dari observasi saja. Don't take my words for it. Tapi hidup itu bukan game komputer. Apalagi hidup anak kita. Kita semua ingin memberikan yang terbaik untuk anak kita. Masalahnya terkadang kita sendiri gak sadar bahwa yang kita berikan itu bukan yang terbaik. At least, if we know what we'e doing, we're a bit safer.

Sekarang kalo bisa, sharig dong, didikan apa yang kalian berikan pada anak yang berbuah baik? Ajarin apa, jadinya gimana gitu. Sharing ya!

Rgds.

Labels: , ,





Cerita 3 Anak Sulung
Friday, December 07, 2007

Jadi anak sulung itu no doubt tidak mudah. Kita semua tahu bahwa sudah menjadi kebiasaan bhawa anak sulung kerap harus tumbuh menjadi pantuan adik-adiknya. Kerap juga kita dengan anak sulung membantu orang tua kerja. Yang lebih jauh lagi, beberapa anak sulung tidak sekolah, membantu ibu di sawah agar adik-adiknya dapat sekolah. para adik jadi insiyur dan si sulung tetap menjadi petani.

Tidak perlu sejauh itu, kita bisa lihat di kehidupan dekat kita sendiri. Maisng-masing dari kita kalo gak punya kakak sulung, ya jadi anak sulung itu sendiri. Sulitnya selain menjadi panutan adalah, harus sabar. Harus berbagi banyak hal dengan si kecil karena orang tua berpikir tidak perlu beli 2 barang yang sama untuk 2 anak yang beda.

Tapi ada satu hal yang gua lihat jarang dibahas. Yaitu bahwa pembentukan karakter si sulung oleh orang tua. no doubt bahwa semua orang tua ingin mendidik anaknya dengan benar. Gua belum pernah nemu orang tua yang niat ngedidik anaknya dari kecil jadi orang jahat. Jika kita berangkat dari asumsi bahwa semua orang tua niat mendidik anak dengan benar, bermental baik, menjadi bibit yang unggul, lantas kenapa di dunia ini ada orang yang sukses dan ada yang tidak? kenapa ada yang benar-benar menjadi bibit unggul, ada yang biasa saja, ada yang jadi tidak mandiri, dan malah ada yang menyusahkan orang tua?

Padahal niat semua orang tua itu sama, mendidik anak mereka agar menjadi orang yang baik bagi masyarakat. then there must be something wrong here.

Kemudian ada lagi pertanyaan. Jika memang semua anak sulung terdidik sabar, bermental tauladan dan lainnya, lantas kenapa dari semua deretan pemimpin yang terkenal, tidak semua sulung? deretan manusia-manusia luar biasa sepanjang masa lahir ada yang sulung, ada yang bungsu ada anak tengah, malah ada yang anak tunggal. Kenapa gak semua pemimpin di dunia ini anak sulung? Yang katanya terbiasa memimpin dan menjadi tauladan dari kecil?

Cerita 3 Anak Sulung
Untuk mencari jawabannya, gua mau cerita masa kecil gua dulu ketika gua lahir di Medan. Ceritanya orang tua gua kerja di kilang minyak lepas pantai di medan beserta 3 orang engineer lainnya. kita sebut saja mereka Pak AA, Pak BB, Pak CC dan bokap. Mereka semua diberi rumah berderet persis. Kita berbagi pekrangan belakang yang sama. Mereka semua juga sama, pengantin baru. Engineer-engineer yang baru lulus, keterima kerja dan ketika tahu bahwa mereka ditempatkan di Medan, langsung ngajak kawin. Di tahap ini mereka masih sama. bahkan mereka melahirkan anak sulung mereka di waktu yang berdekatan. Kemudian mereka melahirkan anak kedua dan ketiga. keempat engineer ini sistem kerjanya adalah 3 minggu di oil rig dan 3 minggu di rumah. Dan di sini lah gua mulai bisa mengingat.

Pak AA
Pak AA punya dua anak. AA sulung dan AA bungsu. Pak AA ingin mendidik disiplin pada mereka. Metode yang dia gunakan adalah mencambuk dengan ikat pinggang. yang lain adalah sapu lidi dan rotan kalo gak salah. gua pernah main ke rumah Pak AA dan mendapati AA sulung menangis di sofa. AA bungsu hanya melihat dari kejauhan.

Pak BB
Pak BB punya dua anak. BB sulung dan BB bungsu. Pak BB mendidik anak-anaknya dengan mengancam. Yang paling sering kena adalah BB sulung. Diancemnya macem-macem. gua pernah main di halaman belakang dan mendapati BB sulung stres berat. Dan stresnya gak main-main. CC sulung jadi mengidap kelainan saraf motorik di mana meski gak ada angin gak ada apa, dia kelojotan sendiri. gua pernah tanya ke nyokap kenapa CC sulung seperti itu. ternyata karena stres. umur kita d bawah 10 tahun by the way, waktu itu.

Pak CC
Pak CC punya 3 anak. CC sulung, CC tengah dan CC bungsu. Gua melihat dia sabar dan mengayomi. Seakan sadar bahwa gak banyak yang dia bisa harapkan dari anak kecil dan kenakalannya. Sering ajak diskusi, kasih perhatian. Dia jarang marah. malah gua gak pernah melihat dia marah, setidaknya ketika gua main sama anak-anaknya. Mungkin dia sadar bahwa setelah 3 minggu gak ketemu, dia harus win back simpati anak-anaknya makanya dia gak ambil pusing sama sedikit kesalahan-kesalahan adolescent mereka.

10 tahun kemudian
Lama berselang dari masa kecil kita, keempat keluarga ini banyak yang pindah ke kantor pusat mereka di Jakarta. Kita masih sering ketemu kalo ada acara kantor bokap. tapi karena rumahnya jauhan, jadi jarang. makin kita besar, kita makin lepas kontak.

25 tahun kemudian
Suatu hari kakak gua menikah dan bokap mengundang semua teman lamanya ke resepsi. gua excited banget karena anak-anak AA BB dan CC ini. dan ini yang gua dapatkan:

Anak-anak AA
AA bungsu lagi S2 dan sudah jadi kontraktor.
AA sulung mengidap narkoba.

Anak-anak BB
BB bungsu yang masih SMA sudah bolak-balik jakarta-Sao Paolo karena dia jadi duta Unicef dalam sebuah world wide programnya.
BB sulung kuliah aja seperti biasa dan itu pun katanya kesulitan berprestasi. setalh 25 tahun ini, kealinan syarafnya masih ada.

Anak-anak CC
CC bungsu sekolah di amrik.
CC tengah memilih kerja di San Diego.
CC sulung kerja di salah satu bank paling bergengsi di Indonesia.

Dari sini gua mikir. kenapa AA dan BB sulung memiliki kesulitan hidup? Sedangkan AA dan BB bungsu menjalani kehidupan yang gua bilang spektakuler. Ini berlawanan sekali dengan stigma yang hadir dalam kehidupan bangsa timur di mana kita kerap berpandangan:
- Si sulung anak yang mantep, mandiri.
- Si bungsu adalah anak manja yang gak bisa mandiri. Anak mami.
Sering kali dalam 20 tahun pertama hidup gua, dalam cincin sosial gua, ada aja yang bilang
"Lu bungsu sih dit"
"Lu bungsu ya Dit?"
"Dasar bungsu! Gini aja capek."

Jawabannya adalah:
1. Bungsu, dengan cepat belajar dari kesalahan kakaknya.
Sementara kakaknya nabrakin mobil dan dimarahin sampe trauma oleh si bapak, si bungsu dengan cepat belajar "Oh, nabrakin mobil gak boleh."
Dan ada banyak sekali hal-hal seperti ini di mana si sulung harus suffer dan si bungsu menuai pelajarannya. Sementara si sulung trauma dan kehilangan confidence untuk proaktif mencoba sesuatu lagi, si bungsu jadi well prepared dan malah penasaran pengen nyoba apakah dia bisa do better apa nggak.

2. Orang tua cenderung tidak sadar bahwa dia bereksperimen dengan si sulung.
Mau gak mau, memiliki si sulung adalah pengalaman pertama mereka menjadi orang tua. Ketika mereka menemukan sulungmelakukan kesalahan, 40% kemungkinan orang tua juga gak tau anaknya harus diapain. Si sulung mecahin kaca dan digampar bapaknya. tapi setelah lama bapaknya sadar bahwa sulung jadi trauma. Dia insyaf dan berjanji tidak mengulangnya. Ketika bungsu mecahin toples, si bapak gak gampar. Sementara si bungsu termaafkan, sulung yang udah trauma digampar, juga sakit hati melihat perlakuan yang gak adil. padahal sang bapak udah insyaf juga udah baik. Serba salah.

Dan ada banyak sekali kejadian seperti ini dalam kehidupan adik kakak. Pak AA misalnya, AA sulung pada awalnya dididik dengan sangat keras. 5 tahun kemudian sepertinya Pak AA sadar bahwa metodenya salah sehingga approach pada AA bungsu sangat berbeda. Sedihnya lagi, Pak AA terkadang menyiratkan kekecawaannya bahwa Aa sulung -kasarnya nih- "produk gagal"

Padahal kalo gua lihat, kegagalan ada di pihak dia. Gimana nggak? Di saat AA sulung berumur 5 tahun, di mana dia mendefine benar-salah dari ajaran ortu, dia jarang ketemu bapaknya yang ada di il rig dan pulang-pulang di sabuk.

3. Orang Tua juga berproses untuk menjadi dewasa.
Orang tua hidup di dua jaman. jaman dia jadi anak dan jaman dia jadi orang tua. Kedua jaman ini beda total. Masalahnya, ada beberapa orang tua yang anak sulungnya masuk usia didik kritis (masa di mana anak kecil mendefine benar-salah dari ajaran ortu -ini masa yang gua define sendiri ya, gak tau di dunia psikologi ada apa nggak. yang jelas sarajana psikologi lebih tahu deh dari gua) orang tuanya masih hidup di jaman dulu. contoh kasus,

Beberapa temen sulung gua ketika mulai pacaran susahnya setengah mati. Ada yang dibilang gak boleh lah, ada yang harus gini lah, gitu lah. Tapi giliran si bungsu pacaran dengan usi yang relatif lebih cepat, orang tua nyantai. Mungkin karena di saat ini orang tua sudah mulai beradaptasi dengan jaman sekarang. Di tambah lagi dengan kecenderungan di mana si bungsu ingin melakukan apa yang si sulung lakukan. Sulung pacaran di usia 18, kemungkinan besar si bungsu pacaran dari umur 14 karena melihat asyiknya si kakak.

There you have it, susahnya jadi orang tua.

Kalo anak gak didisiplinkan, takutnya jadi rusak dan pembangkang. Kalo gak pernah dimarahin, takutnya jadi lembek. Disetiap saat orang tua harus dihadapkan dengan pilihan kemungkinan yang gak enak ini. dan sadar tidak sadar pilihan yang mereka ambil membentuk mentalitas para anaknya.

Dan yang menyeramkan bagi orang tua, sadar gak sadar, mentalitas anak adalah bekal si anak untuk survive di kehidupan mereka nanti.

As for me and kakak gua, we grew up fine. Dan gua gak ngomong gitu karena bokap gua adalah penggemar blog gua, tapi we really did grow up fine. Kakak gua pinternya setengah mati, S2 dan jadi dosen. Profesi yang gua bilang sangta mulia karena membantu membuka wawasan muridnya agar muridnya bisa menjadi sukses. Gua? well, you know how I am now.

Tapi memang ada yang gua pelajari bokap yang gua belajar untuk nggak. Yaitu kerja di tempat remote yang jauh dari keluarga.

Nyokap gua pernah cerita, ketika gua masih ngerangkak dan hobi nelen kelereng, kakak gua udah bisa ngomong. Suatu hari bokap pulang dari oil rig dan kakak gua nanya ke nyokap
"Mah, itu siapa?"

gua kebayang pasti bokap sedih kalo inget atau tahu cerita ini. yang jelas, gua sengaja milih apartemen di Singapur ini yang bisa jalan kaki ke kantor. Makan siang gua bisa pulang dan main sama Alde. gua pernah baca di intisari bahwa ada kecenderungan di mana anak yang menghabiskan banyak waktu dengan bapaknya, ketika udah gede, kepandaiannya di atas rata-rata.

Makanya sampe sekarang gua belum pernah nulis lagi sejak Alde lahir. gua pengen make sure, he has enough attention a child can get from both parents.

In the end, jadi orang tua itu adalah pilihan yang kesiapannya terkadang harus lebih dalam dari yang kita kira. gua cuman bersyukur gua punya masa kecil dan teman-teman yang di mana gua bisa nimba pengalaman. Agar gua bisa terapkan atau malah jangan terapkan ke keluarga gua yang kecil ini.

jam 3 pagil, Sleeping beauty dulu ye bo.

Labels: ,






About This Strikingly Handsome Writer:


Adhitya Mulya adalah Dewa Ganteng yang tinggal di kahyangan bersama 100 dayang-dayang. Dia menghabiskan waktunya turun ke bumi untuk bertemu dengan rakyat jelata dan berburu menjangan dan babi hutan... (or is it, berburu rakyat jelata dan bertemu dengan babi hutan? anyways, same thing). Oh ya, sesekali dia menulis buku komedi.

Contact:

adhitya_mulya@hotmail.com

10 Recent Entries

  • Caleg-Caleg itu...
  • Masih Tentang Anchor Kita
  • Situ Gintung
  • Krismon dan Kerjaan Baru
  • Tolong Sebarin Ya Guys!
  • Anchor News Kita dan Nama Orang
  • Mantan-Mantan Kalian
  • SBY vs JK
  • Thank You God
  • Film Serem

  • orang telah melihat kegantengan gua yang legendaris itu.




    Get Firefox!

    Pictures




    Links

    Ninit ; Aan ; Agung ; Aip ; Alaya ; Avianto ; Aris ; Atta ; Detta ; Ewink ; Enda ; Erly ; Fairy ; Fanny ; Ganda ; Hagi ; Hanzky ; Isman ; Ita Leyla ; Ni'ang ; Ndari ; Nita ; Pip ; Okke ; Roi ; Ruri ; Shinta ; Tyaz ; Udhien ; Umar; Adi ; Afo ; Alaya ; Alfa ; Ale ; Alvons ; Aiff ; Andhi ; Andin ; Andin ; Anggie ; Anto ; Aprian ; arb3i ; Ari ; Arma ; Arif ; Ayu ; Axlandra ; Bantot ; Be-Es ; Beranda ; Bintang ; Bios ; Blub ; Brandy ; Buzz ; Cay ; CB ; Celia ; C'est la Vie ; Civent ; Claustrophobic ; Comel ; Comel ; Crey ; Dagungsta ; Dayat ; Deksay ; Dian ; Dican ; Didi ; Didiet ; Diki ; Dini ; Dion ; Disposable Hero ; Drey ; Duwie ; Dwi ; Dyah ; Ekodox ; Emil ; Ephe ; Eric ; Erika ; Erwin ; Eve ; Eyi ; Farid N ; Farid ; Finalizabeth ; Fitri ; Flow ; Flow ; Fresh ; Gajah Duduk ; Gauz ; goblog ; grE3nY' PrinceZz ; Guido ; Grizz ; Harris ; Harris ; Harris ; Heri ; Herlyanti ; Hero ; Ibiza ; Ika ; Ilsa ; Inex ; Inna ; Ipan ; Irene ; Irene ; Iris ; Isnaini ; Koebiz ; Kun ; Lacsar ; Lemans ; Lilik ; Lindie ; Little Mermaid ; Lontar ; Matz ; Memey ; Merkurius ; Morningdew ; N[a] ; Nasgor ; Neen ; Neenoy ; Nice green ; Nisa ; Nita+Agus ; Nono ; Novie ; Nukov ; Nunik ; Ochan ; Ollie ; Paylo ; Pipit ; Prazz ; Prianca ; QQ ; Radith ; Rapa ; Reena ; Ren ; Ria ; Richoz ; Ridwan Fauzi ; Rihsa ; Riena ; Rita ; Sapi ; Sasha ; Sazi ; Seggaf ; ; ; ; Snydez ; StormyMonday ; Supta ; Sweeney ; Sylvie ; Tamtam ; Tari ; Toet ; Trippin' D ; Tutup Botol ; t.w. ; Ty ; Tyaz ; Tychan ; Umar ; Un^Goe ; Vanda ; Vanya ; Viga ; Vellas ; Weedee ; Yudha ; visit rice bowl journals !