zaralde.com

Masih Tentang Anchor Kita
Monday, April 06, 2009

Insomnia gue kumat nih. Padahal harus kerja secara kerjaan baru kuli bener. Anyway, masih tentang anchor-anchor kita, adik sepupu gue kerja di di sebuah stasiun TV di bagian HRDnya. Sejatinya setiap hari dia melihat anchor-anchor idola itu berkeliaran seperti ayam lepas.

Pas kemaren ke Indonesia, penasaran gue tanya,
"Eh Bung, beneran gak sih analisis di blog Abang?" For the record, sepupu gue adalah gaids cantik bernama Bunga, bukan orang medan yang tereak HEH BUNG.
"Wah salah semua Bang!"
"He?"
"Iya, satu-satunya yang bener adalah mereka itu pinter. Tapi masalah nama dan tampang justru kebalik."
"Contoh."
"Ya itu, nama aslinya bisa aja Tukinah. Tapi atas pertimbangan yang matang, berubahlah nama itu menjadi Diana Saszyafufunaszzzaaah."
"Bener juga." Memang gak semua orang pinter di dunia ini punya orang tua yang sama pinternya. Kebayang kan kalo anaknya berbakat jadi penyiar tapi orang tua dengan kejamnya ngasih nama Aneh Tapi Nyata Kusuma Wardana.
"Tapi mereka setidaknya cantik-cantik ya."
"Itu juga nggak Bang!"
"He?"
"Lha bang Adit kan fotografer, tau doing istilah fotogenik?"
"Iya."
"Di TV itu ada yang namana camera face."
"Maksudnya?"
"Di di liat pake kamera, cantik bang. Tapi kalo ni cewek keluar kantor dan ketabrak bajaj, NISCAYA GAK ADA YANG MAU NOLONGIN!!!"

HUAHAHAHAHAHAHA, ancur ade sepupu gue.


Labels:





Anchor News Kita dan Nama Orang
Monday, March 02, 2009

Gue gak sengaja nemu sebuah blog yang memantau dan mengidolakan semua newscaster di stasiun TV Indonesia. Bahkan sampai me-rate dan mem-vote siapa newscaster terbaik. Linknya di sini:
http://newsanchoradmirer.wordpress.com/2009/01/05/top-10-newsperson-untuk-bulan-desember-2008/

Ada hal aneh tentang newscaster yang gue temukan.

1. Mereka SELALU ganteng/cantik
Mari kita akui, gue belum pernah ngeliat newscaster yang mukanya jelek kayak mayat ngambang 3 hari.

2. Mereka SELALU pintar

3. Nama mereka SELALU catchy. Tinjau nama-nama di bawah ini:
Tina Talisa
Grace Natalie
Githa Nafeeza
Nane Nindya
Chantal della Concetta
Sandrina Malakiano
Jason Tedjasukmana

Dari sini gue nemu beberapa rumusan dalam hal nama newscaster. Hal yang sama pernah dibikin joke oleh Jon Stewart. Gua gak nyangka aja di Indonesia sama rumusnya:

1. Huruf pertama dari nama depan dan nama belakang, sama. Bukti:
Tina Talisa
Nane Nindya

2. Namanya berima. Bukti:
Tina Talisa
Githa Nafeeza
Nama berima ini punya banyak kegunaan. Nama berima juga sangat berguna dalam industri musik dangdut dan porn star. Jadi jaman krisis gini kalo sampe diphk dari stasiun TV, masih ada lah lapangan kerja.
"Permisi Mas, saya mau audisi newscaster."
"Baik. Buka bajunya dan nungging di depan."

3. Namanya, bisa memakai 2 nama depan. Bukti:
Tina Talisa
Grace Natalie
Nane Nindya
Astrid Katherene
Hanya saja gue menemukan ini berlaku hanya untuk perempuan. Maksud gue, gue belum pernah nemu newscaster cowok namanya Budi Bambang.

4. Punya nama belakang atau nama depan yang asing, memberikan obskuritas bahwa elu indo. Bukti:
Chantal della Concetta
Sandrina Malakiano
Jason Tedjasukmana
Catherine Keng
Sumi Yang
Hadijah Al-Jufri
Ziza Hamzah

Beudeuh! keren bener! Kalo mau curang, ini juga bisa.
Bapaknya Jember.
Ibunya Nganjuk.
Anak nya? Riandita Jefferson.
Minggir orang laen!

Jadi bapak-bapak dan ibu-ibu, itu lah tips dan trik ngasih anak nama, agar kelak anaknya bisa masuk TV, gaji gede tapi masih terlihat cantik, pintar dan gak diuber-uber infotainment. Gak perlu namain anaknya yang susah-susah amat. Ntar dia sendiri kesulitan reporting di TV.

Reporter: "Demikian dari Jakarta, Saya, Hendra Kjhlskewwbcnwows, melaporkan."

Ribet kan?

Ini beberapa contoh proses wawancara newscaster, kalo lu mau tau:

Contoh 1:
pewawancara: namanya siapa mbak?
future anchor: Laura Chaniago
Pewawancara: wah namanya bagus! mbak dari paraguay?f
uture anchor: Nggak mas, saya dari pariaman.

Contoh 2:
pewawancara: namanya siapa mbak?
future anchor: Suzi Suzetta
Pewawancara: wah namanya bagus! IPKnya berapa mbak?
future anchor: 1.4
Pewawancara: ok, saya tulis aja jadi 3.4 ya mbak. Lanjut aja sana ke medical check up.

Contoh 3:
pewawancara: IPKnya berapa mbak?
future anchor: 3.4
pewawancara: bagus. Kalo nama?
future anchor: Laura Dela Concetta
Pewawancara: Wah, asalnya di mana? Spanyol?
Future anchor: Jember
Pewawancara: Gak papa, gak akan ditanya kok. Tolong pipis di botol ini dan lanjut ke medical check up. Gak, gak, pipisnya gak perlu depan saya, makasih.

Contoh 4:
pewawancara: IPKnya berapa mbak?
future anchor: 3.99
pewawancara: bagus. Kalo nama?
future anchor: Marsinah
Pewawancara: Exit sebelah kiri mbak.

There you have it. Cara ngasih nama anak yang bener dan komplikasinya. Sekarang gue cabut dulu dan doa semoga gak ada anchor yang baca postingan ini huahahah.

Labels:





Film Serem
Saturday, February 07, 2009

Semalem Alde tidur bareng kita karena dia masih sakit. Satu hal tentang tidurnya Alde turunan ibunya, tidur motah. otomatis hasilnya adalah mereak berdua tidur membentuk huruf Y kecil. Biasanya tanpa Allde pun kita udah tidur membentuk huruf K, dengan gue bagian lurusnya. Kalo udah gini, gue kehilangan tempat gue di kasur dan dimulailah malem-malem begadang. Alde juga sering tidur sambil ketawa. Pertama kali gue denger itu, besoknya gue nelfon nyokap - mastiin aja kita gak punya keturunan orang gila.

Anyways, kalo udah kegusur gini, gua biasanya lari ke salah satu favourite pass time gue, yaitu nonton film serem. Yup gue adalah penggemar film serem. Salah satu buktinya adalah gue sering nulis tentang pocong dan kuntilanak.

Film serem itu gue bagi dalam skala 10 dengan angka 1 paling cemen dan angka 10 untuk film yang membuat gue trauma seumur hidup.

Dan untuk memberi gambaran seserem apa skala gue, gini aja. The ring versi jepang itu skala 5. Saw 1 2 3 4 5 itu, semuanya skala 1. Bagi gue, film-film genre gore seperti Saw itu gak terlalu masalah. Cuman nontonnya jadi ikutan sakit. Emang sih kalo ada adegan yang over the top pasti gue tutup mata tapi setidaknya kalo gue selesai nonton film itu, gue gak luat kiri kanan dan lari ke kamar like a little girl. Saw itu bagi gue cuman buat anak-anak (dengan catatan lu emang menargetkan anak-anak lu tumbuh bermental tidak wajar).

Yang jelek dari kesukaan gue ini adalah, ini adalah salah satu hal yang gue gak bisa share sama ninit.
"A, tidur yuk."
"Aa mau begadang Be, ini ada film serem thailand di tv."
"Film serem ya? Pffff!!"
dan ninit tidur sendiri. Yang mana semakin menguatkan bukti betapa kalo orang lain yang jadi istri gue, niscaya gue udah diminta cerai.


Sampe sekarang alhamdulillah gue belum nemu film indonesia atau film barat atau film asing yang skala 10. Yang BT adalah kalo kita nonton film dengan ekspektasi skala serem 5-6 tapi ternyata skala 2-3. Cemen. Kemaren gue nonton sebuah B-movie yang judulnya redsands. Sebuah film ttg 6 serdadu amerika di afghanistan yang ketemu jin. Gue tertarik dengan bagaimana persepsi filmmaker amerika ttg jin. Bener-bener gak akurat. Dan jinnya ketauan banget CGI.

Underestimation juga gue pernah ngalamin. Beberapa kali nonton film dengan ekspektasi skala 2-3 tapi ternyata skala 6-7. Wah itu monyet tuh. Contohnya, American Haunting. Wuiih orang gila.

Biasanya film-film barat yang gue takutin dan menjadikan aktifitas nonton sebagai sesuatu yang ngeri-ngeri sedap (suspense yang sama kita dapatkan kita cabut buku idung) adalah film tentang kesurupan dan arwah dan exorcism seperti the exorcist. The exorcism of emily rose, American haunting, the ring jepang dan beberapa film lainnya. Film indonesia juga rata-rata lebih serem dari film barat. Hanya saja makin ke sini, gue ngerasa film indonesia jadi gak terlalu serem karena artis-artisnya terlalu cantik (jadi makin nyaman dan tabah nontonnya) dan sutradaranya gue udah pada kenal. contohnya, kemaren nonton lewat tengah malam di youtube, yang maen joanna alexandra. Dari pada takut, gue malah ngebayangin ikut maen film dan saban joanna jerit-jerit, gue datang masuk ke scene dan bilang,
"sini-sini, tenang ya dik, tenang ada abang. Punya, nomor telefon?"
Kedua faktor itu menghilangkan kadar takut dalam nonton, somehow.

Nah sekarang gue mau nonton the haunting of hollymartley. Secara ini film arwah, gue expect skala 5-6. Let's see.


Labels: ,





Pocong vs Kuntilanak - the script reading
Monday, December 08, 2008

Setiap film block buster di Indonesia memerlukan 2 hal. Pertama adalah script reading antar pemain, sutradara dan poduser. Kedua adalah Dian Sastro. Karena bisa dipastikan bahwa bermain 40 film setahun akan membuat seorang Dian Sastro mimisan, maka kebanyakan produser lebih banyak berharap pada proses script reading.

Di hari yang panas itu pocong sampai di PH dengan setengah hati untuk sesi script reading terakhir. Dia masih ingat 3 bulan yang lalu saat signing kontrak,"Ini bakal jadi film maha dahsyat! 2 bintang yang keduanya telah memiliki trilogi!!! Bayangkan berapa milyar yang bisa diraup dari film ini!"

Pocong stres dengan film ini atas 3 hal:

1. Dia selalu merasa berada di bawah kesuksesan kuntilanak. saat Idul Fitri dan Idul Adha, Kuntilanak selalu diburu hantu lain untuk bertanya kiat suksesnya. Pocong? Cuman babi ngepet yang masih nganggep dia. dulu ada si suster ngesot. Sebelum terkenal, tiap haaaaari ngimelin dan sms-in Pocong minta ketemuan lah, minta tips lah, minta ikut casting lah... sekarang udah terkenal, maenannya ke mall bareng kunti. Pocong ulang tahun aja gak ada sms-sms acan. Monyet tu suster.

2. Dia merasa karakter pocong kurang dalam digali di film ini. Tidak ada musikal yang bisa show off kemampuan dia menyanyi. Juga pesan moral yang dikandung hanya dendam dan bunuh-bunuhan yang jaman sekarang udah dirasa, nggak banget.

3. Kuntilanak naik mobil Alphard. Pocong? Honda jazz aja. Kredit pula.

"Udah buruan selesein sesi ini supaya gua bisa prep syuting besok" sutradara membuka sesi dengan BT."Saya Mas, saya senang sekali dengan skripnya. baru kali ini ada film horor yang memadukannya dengan film sci-fi. Kalo boleh tau, kenapa ya di dalam skrip gak ada U.S.S. Enterprisenya Star Trek mendarat?"

"Lu ngomong apa sih Kun?" Sutrada mulai irritated.

"Lha itu Mas, kan saya karakternya Nyi Soroh yang kawin sama bangsa KLINGON kan?"

"Lu Nikah sama Von Klingen! Meneer Belanda! BUKAN KLINGON!" dua menit jalan, sutradara udah naek darah.

"Klingon itu yang di jidatnya ada kue pancong itu ya?" Pocong ingin ikut nimbrung untuk memperlihatkan intelejensia.

"Oh belanda toh? Okay, okay Ik faham. Ik faham." angguk Kunti, mendadak setengah Belanda.

"Gua pribadi masih ngerasa gak sreg sama skripnya." potong pocong.

"ELU LAGI! Coba gua pengen denger."

"Kenapa plotnya gak kita rubah?"

"Gua udah sewa alat. Desain produksi udah selesai. Dari pada ganti plot mending gua ganti pantat lu mau?"

"Setidaknya dengerin gua dulu deh. Menurut gua plotnya gini aja:

Kuntilanak adalah sehantu (bukan seorang) yang kerja sebagai investment banker. Kerjanya tiap hari crunching number, urusannya sama ekuitas, return of invesment, fund hedging, mortgage, yang mana semuanya hanya di atas kertas saja dan tidak pernah melihat langsung efeknya dalam pembangunan sebuah bangsa.

Pocong adalah seorang pionir dalam micro-banking, memberikan kredit ringan dengan harga terjangkau kepada wong cilik seperti penjual ayam, basically semua UKM deh. Termasuk ngasih dana pro bono ke suster apung - yang by the way, kita bisa masukin suster ngesot di sini sebagai cameo kalo dia gak sibuk.


Nah filmnya padet jadi semua informasi itu kita shoot dalam 3 menit." jelas Pocong secara komprehensif dan menunjukkan bahwa mengemas semua itu dxalam 3 menit adalah pertanda dia gak bakat jadi sutradara.

"Nah, konflik mulai terjadi ketika krisis ekonomi global terjadi. investment portfolio mbak Kunti jelas ancur lebur. Di saat ini dia ketemu gue, pocong, yang ternyata, bisnis mikro-bankingnya cukup likuid karena wong cilik ini gak pernah nunggak kredit. gak kayak klien besar yang ngutangnya milyaran tapi lenyap ditelan bumi. Kemudian bla bla bla bla bla blaa......"

tiga jam kemudian...

"....dan akhirnya, Pocong yang sudah kehilangan semua uangnya, tetap saja ingin menikahi kuntilanak yang pada saat ini hamil 7 bulan - meski sekali lagi, bukan anak pocong. Mereka tinggal di desa beternak soang dan hidup bahagia selamanya. The end."

"..."

"..."

"..."

"..."

"Oh ya gua lupa nambahin. Semua ini, musikal. Mas Sutradara, gimana? Mas? Mas?"

Pocong berpaling dan sutradara sudah mati berdiri.

Labels:





Scene 40 Yang Bermasalah Itu
Tuesday, December 11, 2007

Update: In case gak ada yang merhatiin, ada 2 berita baru di atas:
1. Serial Jomblo di re-run 2 kali seminggu dengan waktu di atas.
2. Serial Jomblo udah bisa dibeli di Disc Tarra. Katanya dari 3 serial yang dijual dvdnya (DTK, Wulan, Jomblo) Jomblo yang paling laku tapi seperti biasa, belum profit aja. hehehe. Makanya, kalo ada yang mau koleksi, silahkan.

"Scene 16 take 2!”

“AAAAAND ACTION!!”

Pemeran utama yang sedang naik daun itu berlari melintas lorong rumah sakit yang angker dan dengan tidak perlunya dia mendobrak sebuah pintu kamar. Dalam adegan sebelumnya yang disyut 3 hari yang lalu, ceritanya dia baru mendapat kabar bahwa sang ibu tertabrak truk semen cor. Tentang kenapa sampai ada ibu-ibu bisa sampe iseng banget berdiri deket truk semen cor, produser pun mengakui itu memang kebolongan skrip.

Anyway, di dalam kamar itu sudah ada beberapa pasien dan seorang dokter dengan make up yang cukup berlebih untuk menandakan bahwa make up artistnya sakit katarak. Sesampai di dalam sang pemeran utama segera memeluk seorang ibu yang terbaring

“IBU!! IBU!!!”
“Mbak, ibunya sebelah sini.” Ujar bu dokter.
“Oh.” Dia segera pindah “IBU!! Ibu jangan tinggalkan aku ibu huhuhuhu!!!”
“Maaf mbak, beliau sudah tidak tertolong lagi.”
“TIDAAAAAAAAAAAK!”
“Oh ya bu, ini kaki beliau” ujar sang dokter sambil menyerahkan sepasang kaki yang terputus.
“Terima kasih.”
“Dan ini semua jemarinya.” Sambil menyodorkan satu kantung plastic (ya, semua pemain gagal menangkap betapa anehnya adegan ini).
Pemeran utama terharu.

Tiba-tiba di belakang mereka muncul pocong. “Kok kakinya gak disambung sih? Kan sekarang udah ada teknologinya. Saya dulu mahasiswa kedokteran sebelum mati. Sini saya sambungin.”

“CUT!!!! CUT CUT CUT!!”

Sutradara membenamkan mukanya di kedua tangan. “Amit-amit jabang bayi ni pocong satu…” Sutradara berjalan medekati pocong itu sambil berusaha menyembunyikan kekesalannya dengan cara membanting topi dan menginjak-injak topi itu. Sang sutradara memang jengah dengan kelakuan pocong baru ini. Masalah dengan pocong baru dimulai setelah pocong 3 selesai dipasarkan. Setelah pocong 3, ternyata pocong lama telah memiliki cukup tabungan untuk melanjutkan kuliah akuntansi yang tertunda. Sang sutradara masih teringat kata-kata terakhir pocong lama.

“Nih ya Sut, gua bilangin, gua tuh sebenernya gak pengen jadi bintang tenar kek gini.”
“Lu maunya apa?”
“Gua pengennya buka kantor akuntan publik. Ini memang impian gua yang tertunda karena mati ketimpa baja 2 ton itu.”
“Nah sekarang gua cari pengganti lu gimana?”
“Ya terserah elu. Gue cabut ye.”

Pocong baru tidak seperti pocong lama. Pocong baru tergiur oleh gemerlapnya dunia entertainment apalagi setelah semua temen milisnya sukses. Dari Kuntilanak, manusia tanpa kepala, pocong, Wewe Gombel, sundel bolong, genderuwo, Leak dan bahkan Suster Ngesot pun menjadi perebutan 2 rumah produksi yang berbeda. Hanya pocong baru dan babi ngepet saja yang belum mencicipi ketenaran.

Pocong baru memutuskan untuk DO dari kuliah kedokteran, cari bajaj yang bisa nabrak dia dan bunuh diri dengan jayanya. Setelah arwahnya bangkit dan menunggu 60 hari untuk keluarnya SIG (Surat Ijin Gentayangan) dia segera mengirimkan CV ke semua rumah produksi.

Tidak dielakkan lagi bahwa pocong baru ini sangat kritis. Dari mulai memaksa untuk iktu script conference lah, maksa ikut sebagai desain produksi lah, mengritik tata cahaya lah, ini lah, itu lah. Pusing.

Anyway, kembali ke set, sutradara sekarang berdiri tepat depan pocong baru dengan muka muka merah padam.

“Sut..”
“Cong..”
“Lu nahan eek ya. Merah gitu muka lu.”

Dan sutradara pun meledak. “LU NGAPAIN DI SINI? LU GAK ON CALL HARI INI, GAK ADA ADEGAN LO.”

“Gua pengen aja dateng.”
“GAK USAH! KALO DATENG PUN LU JANGAN RECOKIN SET! NONTON AJA DARI JAUH TUH DI SANA BARENG-BARENG TUKANG BAJAJ!!” bentak sang sutradara sambil menunjuk pangkalan bajaj di ujung jalan. Sang sutradara menoleh ke sana dan baru sadar bahwa semua tukang bajaj sudah dimakan pocong dari tadi.
“Gua…gak bisa nonton kalo gak sambil ngemil.”
Sang sutradara membenamkan muka lagi. Ini akan membuahkan banyak paperwork di kantor polisi nanti, pikirnya.

“MAU LU TU APA SIH? HERAN DEH GUE! SUSAH AMAT SIH JADI POCONG? NIH YA, SEUMUR-UMUR GUA BIKIN FILM POCONG, KAGAK ADA YANG NAMANYA POCONG IKUTAN NGOMONG!”

“Nah itu dia yang gua protes dari sebelum syuting. Ini kan film tentang gue. Kenapa sih justru gua yang gak ada dialognya. Bagaimana nanti Indonesia bisa melihat bakat-bakat terpendam gua?”

“Bakat terpendam lu ya BIARIN AJA TERPENDAM!! DASAR BABI NGEPET!”
“Mana? Dia ikutan juga?”

Sang sutradara pingsan darah tinggi.

Tiga hari berikutnya, setelah sang sutradara dibolehkan keluar dari rumah sakit, mereka lanjut syuting. Kali ini pocong sangat bahagia karena kali ini memang ada adegan dia. Adegan kali ini adalah pocong harus membunuh pemeran utama.

“Nih, adegan lu! Seneng lu ya!” ujar sutradara.
“Seneng dong men. Gimana nih, gua harus gimana?”
“Ya lu harus bunuh itu actor. Lu tusuk pake tangan lu, ntar cut dan gua akan kasih ke elu sebuah klep jantung dari karet. Kemudian sambil memegang klep jantung lu menoleh perlahan ke kamera. Semuanya gua vision gak lebih dari 30 detik.”
“Kenapa harus klep jantung yang gua ambil?”
“Karena gua gak punya klep bajaj.” Sutradara gusar.
“Cipete kan deket.”
“UDAH DEH, LU PAKE AJA. Inget ntar lu pura-pura aja ayunkan tangan.”
“Ya udah. Klep jantung. Tapi muka gua harus gimana, sedih? Senang? Tertawa zolim atau gimana? Ekspresi kan penting ya biar penonton keikut.”
Sang sutradara mulai naik darah lagi. “Gini ya Cong. Gua penasaran nih gua pengen nanya, dari mulai ditabrak bajaj, lu pernah ngaca gak?”
“Sering. Gua kan narsis.”
“Nah itu, muka lu diem aja udah bikin orang jerit-jerit.”
“PKI aja bunuh orang sambil ngedangdut. Masak gua bunuh orang gak pake ekspresi? Jahat amat gua?”
“EMANG ELO JAHAT, JURIG!! UDAHLAH SANA MULAI AJAH!”

Dengan muka masam pocong baru melompat-lompat ke depan kamera melewati astrada 2 “Bilangin tu ke bos lu, kurang makan sayur dia.”

“Siap semua!”
Pemeran utama segera nungging (tuntutan skrip) dan pocong berdiri di depannya.
“Scene 40 take 1.”
“ACTION!”
“GRRRRRRRR”

“CUTTTT!!!” Sutradara mengambil toa “CONG, GAK USAH SUARAAN KEK PUDEL CONG.”
“Tapi itu untuk menciptakan suasana seram Sut!”
“KITA PAKE YANG NAMANYA SOUND MIXING CONG! HARI GINI ORANG BISA LULUS SARJANA DI SOUND ENGINEERING!!”
“Jadi gua gak perlu menggeram?”
“GAK USAH!”
“Yo wis.”

“Scene 40 take 2.”
“ACTION!”
“KU BUNUH KAU!!!” teriak si pocong.
“CUTTT! GAK PAKE NGOMONG CONG! MBAT AJA!”
“Menurut gua, gua harus ngomong. You know, untuk mengaksentuasi tindakan ngebunuh gua.”
“Baeknya lu aksentuasi aja hal lain Cong. Contohnya, lu bisa mengaksentuasi pantat gua sesudah syuting ini. TAPI SEKARANG BUNUH AJA CONG! SEMUA SIAP!?”
“Are we done yet? Gua cape nungging” Tanya pemeran utama.

“Scene 40 take 3.”
“ACTION!”
Pocong mengayunkan tangannya dan tiba-tiba berhenti.
“Emangnya logis ya nusuk orang pake tangan sendiri?”
“Gusti…”
“Beneran gak logis soalnya.”
“CONG, CERITANYA LU KUAT!”

“Scene 40 take 4!!!”
Semua hening dan camera rolling.
30 detik berlalu.
60 detik berlalu
3 menit berlalu.
“CUTTTT!!!! LU NGAPAIN LAGI SIH CONG?”
“Penghayatan men. Bunuh orang kan gak gampang. Nyawa orang itu berharga.”
“Lha tukang bajaj kemaren?”
“Itu sih Gua laper.”
“GAK PAKE PENGHAYATAN CONG. BUNUH AJA LANGSUNG! INGET 30 DETIK!!”
“Keknya gua gak bisa.”
“KENAPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA????”
“Nih ya gua jelasin. Waktu Christine Hakim bikin Pasir Berbisik, untuk menyiapkan mental adegan bunuh orang, dia butuh 6 jam men.”
“TRUS MAU LU APA?”
“Gua butuh 12 jam.”
“LAKUIN SEKARANG! LAKUIN SEKARANG JUGA! LAKUIN ATO GUA SURUH SEMUA ORANG DI SINI NGAJI BIAR LU BERASEP!”

Panik, pocong baru langsung mengayunkan tangan, membenamkannya ke pemeran utama dan menarik jantung asli keluar. Sampai pemeran utama jerit-jerit kesakitan, berdarah dan terkapar meninggal, semua orang masih terdiam.

Sutradara membuka suara dan dengan lirih mengonfirmasi pada astradanya.

“Dia udah….”
“Udah….”
“camera rolli…”
“Nggak…”
"Dia udah mat...“
“Iya.”

Sutradara terdiam. Dia membenamkan muka. This is going to be a long day.

Labels:





Pocong 23
Thursday, September 06, 2007

Jadi ceritanya gua baru sign up ke www.facebook.com. Di sana gua hook up sama temen gua orang sinemart yang jadi produser Pocong #2. Dalam statusnya dia bilang "can't wait to hear Pocong #3 scoring!!" Weleh, pikir gua, ternyata pocong udah mau dibuat threequelnya.

Gak banyak film yang selamet dibikin threequelnya. Kalo gak filmnya yang lama-lama gak laku, bintangnya yang lama-lama loyo. Liat Jurassic Park. Atau liat Rocky yang same dibikin #6-nya. Gila tu orang udah jadi aki-aki padahal baru #6 doang. Gua kebayang kalo sampe pocong dibikin film ke #23-nya.

"aaaaaaaaaaaand cut!" kata sutradara pocong #23. "Kita break makan siang dulu ya."
Si pocong yang beneran tertatih-tatih berdiri.
"Sut..." kata pocong, manggil sutradara, "Gua cabut dulu ya. Gua sekalian makan siang di luar"
"Ih kemana? Lu gimana sih! Gua mau syuting ngebut nih. Gaya amat lunch di luar segala. Inget lu jadi pocong udah jadi aki-aki. Itu orok udah gua sediain. Susah tauk nyari orok!"
Pocong jutek. "Ih masak gua keluar sebentar aja gak boleh?!"
"Lu mau apa? Tu liat di balik pu'un!" Keduanya menoleh ke pohon angker di setting syuting. Ada banyak pocong beneran ngintip dan langsung pura-pura sibuk sendiri. "Ada banyak pocong muda yang mau gantiin lu dengan bayaran lebih rendah. contohnya: orok sapi. Gak kayak elu mintanya orok manusia mulu. Kirain nyari orang beranak gampang apa?"
"Ye, bukannya belagu. Ini gua mau ngurusin jamsostek gua. Ntah kenapa gak cair bulan kemarin. Istri gua juga kan mesti belanja."
"Ya udah sana. 1/2 jam ya."
"Lu tega deh. Ini gua kan udah tua, gua lompat aja beser."
"Ya udah sana!"

30 menit kemudian, sesampainya di gedung jamsostek, Pocong masuk dengan melompat-lompat. Dia mengambil kartu tunggu dan duduk di sebelah jin tomang dan kuntilanak.
"Eh kunti. apa kabar?"
"Baek mas."
"Gak bunuh orang hari ini kun?"
"Gak. Lagi puasa."
"Oh pantes. Jamsostek lu gak cair ya?"
"Iya nih bete. Secara gua janda, ini pemasukan gua satu-satunya. Pemerintah makin gak beres aja."
Pocong teringat akan sesuatu. "Eh iya, gua janjian sama suster ngesot. Bentar gua telfon dulu."
"Halo, Sus? Lu di mana?"
"Aiyya, wo balu belok masuk thamlin aah."
Pocong bingung, dia berbisik pada kunti. "Kun, sejak kapan suster ngesot jadi cina?"
"Heh? cina? Dia kan kebumen."
"Sus, lu kenapa?"
"Ni ya wo kasih tau. Wo barusan makan orang cina. Makanya jadi gini wo punya omongan."
"Ya elah. Oh iya. balik ke topik semula. Gua mau nanya aja. LO KE SINI GIMANA? MELATA APA? LAMA AMAT?"
"Aiyaaa. WO KAN NGESOT! Udah ah berisik lu orang!"
-Klik-

Pocong terduduk dengan lesu di samping kunti.
"Jaman sekarang udah beda ya. Kun."
"Iya."
"Jaman dulu orang ngeliat kita, jerit-jerit. Sekarang, kita diperdubak jadi insan perfilman yang dibayar gak seberapa."
"Padahal semua film horor box office tuh."
"Iya. Sekarang kita bunuh orang gak seru lagi."
"Iya. Eh gini aja. kita ke atas gedung, trus jorokin yuk. Untuk seneng-seneng aja." ajak kunti.
"Ayo ayo!" mereka segera beranjak.
"Tapi pelan-pelan. Asam urat."
Di atas gedung mereka berpapasan dengan pegawai kantoran dan segera menakut-nakuti orang itu. Orang itu bereaksi dengan penuh logika dan logikanya berkata bahwa penyelesaian terbaik dari bertemu setan adalah melompat dari gedung.

Tak setelah setelah orang tu mejret kemana-mana di lantai dasar, pocong dan kunti kembali ke kantor jamsostek. Mereka senang. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama mereka membunuh untuk senang-senang lagi. Sesampainya di kanor jamsostek. Mereka bertemu dengan suster ngesot yang sekarang lebih pantes disebut nenek-ngesot.
"Dih, tampang lu jutek bener. Kayak yang baru makan orang jawa aja."
"BT nih. Jamsostek tutup."
"Kenapa?" tanya mereka.
"Kepala cabangnya baru lompat dari gedung. Jamsostek tutup sampai pengumuman selanjutnya." Nenek-ngesot menggedor-gedor jendela "LU KIRA GAMPANG AJA NGESOT RAGUNAN-THAMRIN!???????????? KUNYUK!"
Pocong dan kunti saling bertatapan.

This is definitely not their day.

Labels: ,





PROKLAMASI - THE SEQUEL!!!
Thursday, September 22, 2005

Oke guys, this is the sequel of the behind scenes of our independence.
peringatan: Jangan tersinggung ya. Ini cuman maen-maen kok.


-------------

Sukarno duduk di kursi meja bundar, dikelilingi oleh para inisiator proklamasi. Sukarno akan memproklamirkan kemerdekaan dari satu-satunya negara di dunia yang basis proklamasinya adalah mencari bahan omongan (baca previous post). Mukanya masih menunjukkan air muka tidak ridho atas benjol sebesar gaban yang sekarang bersarang dengan jayanya di jidat.
"Jadi bapak-bapak..." sambil elus-elus dan mengernyit ke atas "Saya baik-baik aja kok."
"..."
"..."
"..."
"..."
"Beneran deh saya gak papa. Gak perlu prohatin atau apa sama saya!!" dengan nada tidak ramah.
"..."
"..."
"..."
"..."
"NGGAK! NGGAK GAK PERLU MINTA MAAF KOK!!!! BIARIN AJA!!! SAYA UDAH BIASA DIBIKIN BENJOL ORANG. SERIUS KOK!!! GAK USAH MINTA MAAF YAAAA!!!"
"..."
"..."
"..."
"..."

Apatis dengan orang-orang yang menculiknya, dia mulai berpikir.

"Nah bapak-bapak, apa yang kita butuhkan untuk menciptakan sebuah proklamasi?"
"Darah dan keringat!!"
"PENGORBANAN DAN AIR MATA!!!"
"JIWA YANG GAGAH DAN PEMBERANI!"
"PERSATUAN INDONESIA!!!!!"

"Kita perlu mesin tik." Ujar Sukarno, pragmatis.
"Oh...."

Dan dibeli lah mesin tik dengan cara kembali mencari objek berat, menibannya sedemikian rupa kepada cina pemilik kelontong dan berhasil mendapatkan mesin tik berjenis qwerty. Hanya saja, objek berat yang dipakai untuk membuat pingsan pemilik toko adalah mesin tik itu sendiri dan sekarang dengan suksesnya menjadi rusak.

"Nah ini mesin tik udah dapet. Sekarang nulis apa?"
"Diktekan."
"Kami, bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaannya." Ujar Sukarno setelah berpikir panjang.
"Gitu aja?"
"Ih kok garing sih?"
"Ya abisnya mo ngomong apa lagi? kalo mau menyatakan kemerdekaan, masak iya bilang bahwa arak beras cu pek tong adalah arak beras termurah dan dapat dibeli dengan harga terjangkau?"
"Ya elah Suk. tapi masak iya segini doang? Gue udah bolos kuliah niiiii!!! Bajanya Pak Sindur! Tau ndiri gue udah ngulang. Hatrick lah pasti tahun ini."
"Ya udah, berisik! kita bikin aja apa ya? dasar negara kali?"
"Aduh jangan sekarang deh. Ntaran aja, kita mau pulang dulu. besok kan ujian."
"JADI ELO BIKIN GUE BENJOL BUAT APE??????"

Ada hening yang lama yang membuat semuanya kikuk dan saling berpandang mata.
"..."
"..."
"..."
"Suk...lo marah ya?"
"NANYA LAGI!!"

"Gini aja, kalo wo bilang, pertama, cu pek tong itu gak terlalu enak. Mendingan Xie Tjing Oei. Tapi gak usahlah dibahas. Kita kan udah pada mau ujian nih. Makanya, bilang aja, segala sesuatu yang menyangkut administrasi negara, akan diurus dalam waktu yang sesingkat-sesingkatnya. Bereskan?"

Semua bergumam setuju.
"Sana gih ngetik!"
"Ogah, males."

"ARRRRRRRRRRRRRRGGGHHHHHH.....BATAL UDAH PUASA GUE!"

"Kebetulan Suk, depan sono ada kupat sayur nih...."

"GKGKGKKKKGKGKGKGK...."

Dan lahirnya beberapa hari kemudian, sebuah negara, yang karena dalam proklamasinya tertulis, semua akan diatur dalam tempo sesingkat-singkatnya, jadi negara yang ancur.
Happy belated birthday to my own country.

You know....I'd die for you*


* just not any time soon, though...

Labels: ,





Proklamasi The Sequel
Tuesday, August 23, 2005

Tadinya judulnya gue pengen tulis Proklamasi & the Chamber of Secrets.
Sekali lagi bagi gue minta maaf in advance jika ada dari tulisan di bawah yang menyinggung perasaan.
______________
15 Agustus 1945. Setelah satu hari perjalanan dan pertama kalinya mereka mencoba untuk puasa, IK1, 2, 3, dan 4 sampai di Rengas Dengklok. Mereka keluar dari Holden butut pinjaman dari Pak Dosen yang sedang tidur lelap di kantornya, yang mereka hajar dengan bata.
IK1: "Gini rencananya. IK2, elu ama gue ngajak Sukarno ngobrol."
IK2: "ngobrol apaan?"
IK1: "ya apa kek terserah. nah IK3, selagi kita ngomong, elu timpuk Sukarno pake batu."
IK3: "yah kan. Yang gini-ginian wo aja disuluh. Males ah."
IK1: "Eh IK1 mana?" *celingak-celinguk sebentar* "WOY MANUSIA GAK PUASA! SINI! JANGAN KUPAT SAYUR AJA LO DATENGIN!"

Labels: ,





Independence Day - What They Never Teach You
Monday, August 15, 2005

Update 16 Agustus 2005:
A good friend from Malaysia posted an interview in her website. Farah is regarded as a Malaysian expert on Indonesian culture in her country (no! don't guess! it's Malaysia).

Click here for the interview

Click here for Farah's website

Thanks Farah!

_______________________________


Hari kemerdekaan adalah hari yang penting bagi bangsa Indonesia karena di hari itulah kita lahir sebagai negara yang satu, penuh harapan dan cita-cita dengan limitless opportunities di depan kita. How…ever, banyak orang yang gak tau bagaimana bangsa ini came about the idea of declaring their own independence.

Apakah karena menang melawan penjajah? I don’t think our bamboos had ever stood a chance againts meneer’s bedils. Apa yang kita baca selalu heroik. Merdeka atau Mati! Dan mereka menyerang meneers, stupidly carrying bamboos into arrays of bullets.

Most likely what happened most of the time was,
“Let’s just be sensible and hide.”

Kemerdekaan kita terjadi lebih kepada kenyataan bahwa ada 4 anak mahasiswa yang terbangun di pagi hari dalam himpunan, shitfaced, setelah semalam terlalu banyak minum arak cina asal peraman beras. They woke up one morning with such a hangover that they thought there were elephants’ asses sitting on their heads. These were the real story behind our independence dan apa yang dilakukan oleh Inisiator kemerdekaan (IK) kita, lakukan.

warning: following reconstruction may be offensive for most people...

Bandung, 14 Agustus 1945
Burung berkicau, pagi cerah, semua jepang udah minggat semalem sebelumnya.
IK1: (bangun pagi-pagi, shitfaced) “Eh tau gak. Mungkin ini perasaan gue aja ya, tapi keknya jepang udah gak ada deh.”

Burung berkicau

IK2: (shitfaced and pissing on IK3) “Ah masak sih?”

Burung berkicau

IK3: (bangun, stau-satunya etnis cina) “Segelnya…apa sih ni libut-libut?”

-DOR-
IK4: (masuk, bawa bedil dan burung yang tadi berkicau) “Nyarap?”


Lama kemudian mereka nyarap.

IK1: “Enak nih burung. Cuman aja gue gak akan pernah tega makan burung piaraan gue.”

IK4: (melirik IK2 dan IK3) ‘Quick! Talk about something else!’ “Eh jadi itu bener ya Jepang dibom? Belanda udah gak ada. Jepang udah gak ada. Jadi gimana nih kita mau nunggu dijajah lagi aja atau gimana?”

IK1: (terdiam mikir sebentar) “Eh gimana kalo kita merdekain aja ini negara? Trus entar kita jadi, apa namanya? Presiden ya?”

IK2: “Tapi ntar kalo salah-salah ngejalanin gimana?”

IK3: “Ya udah lah culik olang lain. Kita olang yang bikin plokamasinya, tapi suluh olang lain aja yang baca dan jalanin negala. Jadinya kalo dikejal belanda, ya dia yang ditembak.”

IK1: "Iya. iya, bener juga."

IK3: "Omong-omong wo tadi mimpi ada yang pipis gitu di muka Wo. Apa beneran ya?"

IK2: "Ah perasaan lo aja lagi...Eh itu siapa dong yang harus baca proklamasi? Apa bener kita mau jalanin? Soalnya besok gue ujian nih. Apa gak ditunda aja gitu? Lagian siapa juga yang ngerti proklamasi. Gue aja kagak ngerti itu apaan."

IK4: “Eh gue tau tuh ada anak angkatan 30. Mak, bawelnya! Jelema gandeng. Orasiiiiiiii terus. Merdeka lah, ini lah, itu lah. Giliran disuruh nyapu himpunan aja, gak mau. Apa dia aja ya?”

IK1: “Ih beneran deh enak banget ni burung. Soekarno itu ya? Males ah..” terdiam sebentar terdesak mengakui kekalahan. “Abisnya…dia ganteng sih..”

IK2: “Ya udah, kita culik aja dia sekarang. Sekarang dia lagi di mana?”

IK3: “Lagi sama dosen, Kelja Plaktek di Lengas dengklok. Lumayan tuh 3 sks. Eh elo orang bukannya ngulang juga itu mata kuliah?”

IK2: “Lulus mah ntar aja lah.”


Lama kemudian mereka pergi ke rengas dengklok, mementung Soekarno dengan objek berat, mengikatnya dengan tali tambang dan membawanya dalam mobil. In fact, pemakaian peci dilakukan untuk menutupi benjol segede buta hasil pentungan penuh hasrat para IK.

Dan jadilah sebuah negara di 17 Agustus tahun 1945.
(and we wonder why we get so messed up most of the time...)

Selamat Ulang Tahun ya, Indonesia.

Rgds.

Labels: ,






About This Strikingly Handsome Writer:


Adhitya Mulya adalah Dewa Ganteng yang tinggal di kahyangan bersama 100 dayang-dayang. Dia menghabiskan waktunya turun ke bumi untuk bertemu dengan rakyat jelata dan berburu menjangan dan babi hutan... (or is it, berburu rakyat jelata dan bertemu dengan babi hutan? anyways, same thing). Oh ya, sesekali dia menulis buku komedi.

Contact:

adhitya_mulya@hotmail.com

10 Recent Entries

  • Caleg-Caleg itu...
  • Masih Tentang Anchor Kita
  • Situ Gintung
  • Krismon dan Kerjaan Baru
  • Tolong Sebarin Ya Guys!
  • Anchor News Kita dan Nama Orang
  • Mantan-Mantan Kalian
  • SBY vs JK
  • Thank You God
  • Film Serem

  • orang telah melihat kegantengan gua yang legendaris itu.




    Get Firefox!

    Pictures




    Links

    Ninit ; Aan ; Agung ; Aip ; Alaya ; Avianto ; Aris ; Atta ; Detta ; Ewink ; Enda ; Erly ; Fairy ; Fanny ; Ganda ; Hagi ; Hanzky ; Isman ; Ita Leyla ; Ni'ang ; Ndari ; Nita ; Pip ; Okke ; Roi ; Ruri ; Shinta ; Tyaz ; Udhien ; Umar; Adi ; Afo ; Alaya ; Alfa ; Ale ; Alvons ; Aiff ; Andhi ; Andin ; Andin ; Anggie ; Anto ; Aprian ; arb3i ; Ari ; Arma ; Arif ; Ayu ; Axlandra ; Bantot ; Be-Es ; Beranda ; Bintang ; Bios ; Blub ; Brandy ; Buzz ; Cay ; CB ; Celia ; C'est la Vie ; Civent ; Claustrophobic ; Comel ; Comel ; Crey ; Dagungsta ; Dayat ; Deksay ; Dian ; Dican ; Didi ; Didiet ; Diki ; Dini ; Dion ; Disposable Hero ; Drey ; Duwie ; Dwi ; Dyah ; Ekodox ; Emil ; Ephe ; Eric ; Erika ; Erwin ; Eve ; Eyi ; Farid N ; Farid ; Finalizabeth ; Fitri ; Flow ; Flow ; Fresh ; Gajah Duduk ; Gauz ; goblog ; grE3nY' PrinceZz ; Guido ; Grizz ; Harris ; Harris ; Harris ; Heri ; Herlyanti ; Hero ; Ibiza ; Ika ; Ilsa ; Inex ; Inna ; Ipan ; Irene ; Irene ; Iris ; Isnaini ; Koebiz ; Kun ; Lacsar ; Lemans ; Lilik ; Lindie ; Little Mermaid ; Lontar ; Matz ; Memey ; Merkurius ; Morningdew ; N[a] ; Nasgor ; Neen ; Neenoy ; Nice green ; Nisa ; Nita+Agus ; Nono ; Novie ; Nukov ; Nunik ; Ochan ; Ollie ; Paylo ; Pipit ; Prazz ; Prianca ; QQ ; Radith ; Rapa ; Reena ; Ren ; Ria ; Richoz ; Ridwan Fauzi ; Rihsa ; Riena ; Rita ; Sapi ; Sasha ; Sazi ; Seggaf ; ; ; ; Snydez ; StormyMonday ; Supta ; Sweeney ; Sylvie ; Tamtam ; Tari ; Toet ; Trippin' D ; Tutup Botol ; t.w. ; Ty ; Tyaz ; Tychan ; Umar ; Un^Goe ; Vanda ; Vanya ; Viga ; Vellas ; Weedee ; Yudha ; visit rice bowl journals !