zaralde.com

Antara Rumah dan Pendidikan Anak
Friday, January 09, 2009

Surprisingly, ada yang kirim email seperti di bawah ke gue. Jujur gue rada ngeri jawabnya karena gue gak kerja di perbankan dan bukan sarjana ekonomi. Ternyata dia nulis karena pernah baca postingan gue ttg finance sebelumnya. Tapi gua jawab aja. Dan gua juga minta ijin ke orangnya untuk gua share di blog.

Sebelumnya gue kasih warning dulu:
1. Perhitungan gue gak pake rumus. Tolong dihaluskan dengan rumus.
2. Yang gua anjurkan di bawah, gua sendiri belum tentu mampu lakukan karena financial planning seseorang hampir unik, gak ada yang sama – tergantung income dan spending pattern masing-masing.
3. Surat di bawah gue rewording ke bahasa gue.
4. Semoga membantu bagi yang baru nikah.

Si X menikah 2 tahun dan sekarang punya bayi perempuan 1 tahun.
Income X = 5 jt/bln
Income Istri = 7 jt/bln

Rencana ingin beli rumah di kisaran 650 juta tapi bingung membagi antara tabungan anak, tabungan pensiun dan menyicil rumah dengan income 12 jt/bulan. Dengan komposisi 40%-40%-20% (yang X pernah baca dalam salah satu postingan gue) rasanya kok gak masuk dan akan lama sekali bisa punya rumah. Saat ini masih tinggal di rumah orang tua.

Ps: gua delete bagian-bagian di mana dia muji-muji kegantenga gue….well okay he didn’t.

Question: Gimana planning dan managementnya?

Update: ada kesalahan dalam perhitungan gua dalam memakai rule of 72. revisi gua pake font biru. Gua juga udah revisi ke pengirim suratnya sebelum dia planning. semoga dia gak pingsan huehehhe..

Ini jawaban gue:
Pertama filosofinya dulu:
1. Ketika kita tidak mampu menjalankan financial planning untuk diri kita dan anak kita secara bersamaan, maka yang harus didahulukan adalah kita, lebih tepatnya, rumah kita. Bukan pendidikan anak. Tidak ada investment yang lebih penting di dunia ini dari memiliki rumah sendiri dan lunas. Segubug-gubugnya itu rumah, kita punya kebanggaan, gak repotin orang tua dan selamat dari bahaya ngontrak di mana duit ilang.

2. Kita mendahulukan beli rumah daripada pendidikan anak, karena kita sayang sama mereka. Kita ingin dikala kita pensiun nanti, kita gak numpang/minta duit ke mereka yang sedang kerja keras nabung untuk anak mereka. Kalo udah punya rumah sendiri, kalo kita gak punya income lagi, paling apes itu rumah dijual, masukin deposito, kitanya masuk panti jompo dan hidup di panti jompo dari deposito, tanpa satu sen pun nyusahin anak.

[rule of 72 deleted]

Oke, pegang 2 prinsip itu dan kita lanjut ke planning dan perhitungan.

Home Planning
Pertama adalah memanage lifestyle dan living cost kita. Asumsi paling parah-parahnya kita bisa hidup dengan 40% income = 4.8 juta. Biar bulat gua bulatkan ke 5 juta aja. Hitung dengan jernih, terima dan adaptasi. Dengan living cost 5 juta, kita punya savings total 7 juta.

Kedua, mengingat kita belum punya rumah, maka jangan split 7 juta ini ke pensiun/investment dan anak. Konsentrasikan semua tabungan 3 tahun ke depan untuk beli rumah atau DP rumah. Kenapa 3 tahun? Alasannya akan terungkap jauh di bawah.

Ketiga, beberapa hal ttg KPR yang kita harus tahu:
1. Kebanyakan bank menetapkan minimal DP 15-20%.
2. Bank membatasi cicilan sebanyak 1/3 dari income gabungan. Artinya dengan income 12 juta, maka maksimal kita bisa cicil perbulan 4 juta.
Semakin besar DPnya, semakin kecil jumlah terutang dan semakin kecil bunganya dan semakin sebentar pinjaman kita. Misalnya, kalo bisa lunas 10 tahun, kenapa ambil 15 tahun? Ini sebabnya disarankan untuk konsentrasi semua savings untuk memerbesar DP.

Keempat, hitungan:
Kita mulai tabung 2009. Maka di akhir tahun ketiga, yaitu akhir 2011, kita udah punya = 7 jt x 13 bulan x 3 = 273 juta.
Gua itung 13 bulan karena biasanya kita nerima bonus gaji ke13.

Di akhir 2011 lu akan udah punya 273 juta + bunga bank (x)

Di akhir 2011 lah kita belanja rumah. Di titik ini, ada dua pilihan.

Pilihan 1: beli rumah murah/jauh/jelek/sempit tapi lunas
Kalo bisa beli rumah dengan lunas, beli lah dengan lunas. Apalagi hari gini bunga bank tinggi selangit. Kalo beli rumah lunas, kita bisa langsung nabung buat pensiun dan pendidikan anak.

Pilihan 2: Beli rumah yang diimpikan meski mahal
Kalo mau beli rumah yang harganya 650 juta, tabungan sebesar 273 juta + bunga itu = 42% harga rumah, dan 42% itu udah menjadi level DP yang sangat-sangat bagus. Jangan miris melihat rumah-rumah strategis terjual atau habis. Karena rumah yang bagus akan sia-sia kalo kita mampus-mampusan ngelunasinnya. Mending punya rumah yang seusai budget, DPnya bisa gede dan lunasinnya gampang dan sesingkat mungkin. Mau rumah mungil dan jauh juga, kalo kondisi keuangannya lancar, hidup lancar. Beda sama rumahnya mahal, kitanya maksa dan tiap hari kita stres mikirin cicilan 30 tahun. Apalagi hari gini, bunga bank tinggi banget.

Education Planning
Nah ini rada rumit jadi tolong konsentrasi. Ada 2 faktor penting di sini. Costing dan Timing.

Education Planning - Costing
Kita costing dulu, jaman sekarang adik-adik kita masuk S1 berapa sih biayanya sampe lulus 4 tahun kuliah?
Uang masuk = 50 juta
Kos-kosan 4 tahun = 18 juta
SKS+etc = 28 juta
Total = 96 juta

tolong dicek lagi dengan benar costingnya. Kalo bisa sedetil mungkin dan segemuk mungkin.)

Jadi biaya S1 present value = PV = 96 juta.

Anggap aja kebutuhan ini baru akan terjadi 18 tahun ke depan.
Anggap inflasi 12%
Maka Future Valuenya (FV18) = 660 juta
Hampir 7 kali lipatnya, bukan 3 kali lipatnya.

Kalo mau liat FV dari uang masuknya aja, yaitu 50 juta, maka FV18nya = 343 juta.

Education Planning - Timing
Inget satu hal, waktu berjalan dan gak balik. Perhatikan bolded fonts:
Umur anak masuk = 18 tahun.
Umur anak sekarang = 1 tahun
Ingat bahwa di 2009, 2010 dan 2011, semua uang elu abisin untuk kejar DP rumah. Itu total 3 tahun lu absen dari nabung untuk anak. Ini adalah pil yang harus kita telan kalo di awal-awal planning, gaji kita gak melimpah. Gak papa, itu emang rejeki kita kali. Bahkan sebenernya gaji income juta sebulan udah harus sujud sukur kali.
Buffer = 2 tahun. Kita butuh buffer ini, in case kita meninggal sebelum anak bisa S1. Logikanya, kita ingin benar-benar siap agar jika kita meninggal, kita meninggalkan anak dengan cukup bekal untuk S1.

Jadi, time span lu = 18 – 1 – 3 – 2 = 12 tahun.

Jadi, Costing dan Timing wise,
Option 1: Kalo cover semua pendidikan, elu harus kumpulin 660 juta selama 12 tahun ke depan.
Option 2: Kalo cover uang masuknya aja, elu harus kumpulin 343 juta selama 12 tahun ke depan.

Bukan 100 juta untuk 18 tahun ke depan. Kalo punya anak dua, selamat, bikin perhitungan lagi untuk anak kedua.

Dari sini timbul pertanyaan, apakah ini artinya kita harus tabung 660 juta / 12 th = 55 juta tiap tahunnya?

Ini kabar baiknya. Nggak. Kalo gitu berapa?
Well anggep lah deposito itu 6% (ada yang lebih, ini paitnya aja).
Maka kita hitung balik dari 660 juta 12 tahun ke belakang dari sana.
Kalo mau cover full pendidikan, jatohnya sekitar 40 juta setahun. Atau 3.3 juta sebulan.
Kalo mau cover uang masuknya aja, sekitar 20 juta setahun, atau 1.7 juta sebulan.

Jadi spending patternnya bakalan seperti ini:

2009, 2010, 2011
Income = 12 jt/mo = 156 /ann (13 bulan gaji)
Living cost = -5 jt/mo = 60 jt/ann
Savings utk DP = 7 jt/mo

2012 dst
Income = 12 ht/mo
Living cost = -5 jt/mo
Cicilan rumah 1/3 income = -4 jt/mo
uang masuk S1 anak = -3.3 jt/mo atau -1.7 jt/mo
Sisa = nol atau 1.3 ht/mo

Mungkin timbul pertanyaan, wah kalo anak gua dua, kapan gua nabung buat pensiunnya dong?
Ada beberapa jawaban:
1. Pasti tiap tahun naik gaji kan? Kenaikan itu yang lu sisihkan untuk pensiun.
2. Ini dia kenapa kita mending beli rumah lunas. Kalo lunas, bisa langsung nabung pensiun kan.
3. Kalo gak bisa, maka anggaplah pembelian rumah itu sebagai tabungan pensiun lu.

Terus asuransi pendidikan gimana?
Kita bisa memecah 1.6 jt/mo ini sebagian masuk deposito dan sebagian jadi premi asuransi. Salah-salah kalo kita mati cepat, tabungannya tetap mengalir.

Gua saranin banget lu cross check dengan orang perbankan. Gua nulis ini bukan karena gua sukses menjalaninya. Sukses atau tidak kita tunggu puluhan tahun ke depan. Yang penting ikhtiarnya dan planningnya. Mungkin financial planner yang lebih qualified akan saranin untuk bisa jalanin pendidikan anak dan cicil rumah bersamaan. Kalo gua sih nggak. Yang gitu-gitu lu mesti pilah sendiri.

Salah planning gak papa. Yang berat itu kalo sampe telat planning atau di tengah jalan planningnya dirubah total ke target-target baru. Itu rada susah. Which reminds me gua harus merevise total financial planning gue. Ihiks.

Kalo ada yang mau ngetawain perhitungan ini gak papa. Buktinya perhitungan posting pertama gua aja salah. Gua juga masih taraf belajar (selalu dalam taraf belajar) dan mungkin kalian bisa share pengalaman kalian untuk satu ini? If yes, leave a comment please, thanks. Semoga membantu bagi kalian yang akan atau baru saja nikah.

Rgds.

Labels:





Hidup di Indonesia
Thursday, January 08, 2009

Meski sekarang relatif mudah mencari nafkah merantau di luar negeri, banyak yang masih beranggapan bahwa di hidup di Indonesia itu lebih mudah dan lebih murah.

Baru tahun 2008 kemarin mata gua terbuka bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang paling sulit untuk ditinggali, setidaknya secara finansial. Seriously.

Tapi apakah benar hidup di Indonesia itu lebih mudah dan murah?

Gua menemukan beberapa hal yang membuktikan itu salah.
1. Indonesia adalah satu-satunya negara yang gua tahu, yang jika negara sedang krisis, harga-harga tidak turun. Jika ekonomi baik, harga tidak turun juga.

2. Pajak Indonesia memang cenderung kecil. Secara rasio pajak/insentif, Indonesia adalah negara yang cukup jahat. maksudnya gini.

Belanda, US, Denmark, pajak PPh-nya besar sekali. mulai dari 37% sampai 48%. Tapi kesehatan, pensiun dan pendidikan terjamin, murah dan maju.

Indonesia? Pajaknya tidak terlalu besar namun, pendidikan mahal. Lihat aja sendiri, ada TK yang biaya masuknya 50 juta. Kalo sakit, bayar sendiri. Pajak memang kecil tapi rakyat harus keluar duit lebih banyak untuk survive.

3. Dan ini yang paling jahat. Ketika Bank sentralnya menurunkan suku bunga, Bank-bank di Indonesia tidak mau menurunkan suku bunganya. Itu gila. Itu udah yang paling jahat.

Baru-baru Bank sentral US menurunkan suku bunga hampir nol. Dan di negara yang katanya serakah dan kapitalis itu, mereka ada aturan main di mana bunga bank harus tidak lebih dari 3%+suku bunga Benk sentral. jadi ketika suku bunga dari BI-nya US turun, Bank-bank di US turun. Sekali lagi ini di negara paling kapitalis se dunia.

Indonesia? BI baru saja menurunkan suku bunganya 75 poin (25 poin + kemudian 50 poin) jadi 8.75%. Apa yang terjadi? bank-bank swasta belum mau menurunkan bunganya. Ini artinya ketika kita mau beli rumah, bunganya tetap tinggi. Yang pernah gua temukan baru-baru ini adalah 15%.

Kalo ada yang belum tau ttg suku bunga gini cara kerjanya:
1. Setiap bank punya 2 suku bunga (gua singkat aja SB). Pertama adalah SB simpanan. kedua adalah SB pinjaman. Logikanya biasnya SB simpanan < style="FONT-WEIGHT: bold">Amerika yang kapitalis aja gak gini-gini amat.


2. Kedua SB mengacu pada SB BI.
Masalahnya, yanggua liat dengan mata dan kepala gua, kalo SBI turun, SB simpanan turun tapi SB pinjaman nggak. Kalo SBI naik 0.5%, SB pinjamannya bisa naik 3-5%. Bener-bener gak ada aturan dan menggerogoti kita-kita yang kerja keras beli rumah impian.
Artikel terkait baca di sini:
http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/08/11174157/bi.rate.turun.perbankan.belum.urun

Perbandingannya? Kebetulan gua liat-liat perbankan Singapura. SB simpanannya bisa 1-2% per tahun. Gak menarik sama sekali. Tapi SB simpanannya 3-6%.
Intinya apa? gua terkejut bahwa seseorang dengan posisi dan karir yang persis sama, akan lebih mampu beli rumah di Singapura ketimbang kalo dia kerja di Indonesia. Di Indonesia, akan lebih banyak uang dari keringat dia yang menguap di bunga pinjaman Indonesia.

Apakah ini artinya gua gak cinta Indonesia? Nggak. Ini cuman bukti bahwa orang-orang yang menetap di Indonesia adalah orang-orang yang punya survavilitas yang tinggi - mengingat sistem perbankan kita yang sangat-sangat-sangat tamak.

Miris banget ngeliat kondisi gini. Gimana kita mau makmur kalo yang kayak gini-gini aja dibiarkan oleh pemerintah.

Sekarang semua partai gonjang-ganjing ingin memajukan kesejahteraan rakyat - termasuk dulu partai demokrat yang sekarang orangnya jadi presiden. Yang gini-gini aja gak ditanganin.

update: artikel Kompas yang membuktikan Bank masih belum mau turunkan kredit. Gila pengusaha yang meminjam uang ke bank, buangan 18-19%. Ngaco!

http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/09/07592735/turunkan.bunga.kredit

Rgds.

Labels:





Cosmopolitan Men edisi Desember 2008
Wednesday, December 17, 2008



Bukannya niat narsis, tapi mau ngasih tau aja bahwa kumpulan artikel finance gue di blog disarikan jadi sebuah artikel finance di cosmopolitan men edisi Desember 2008.
Tadinya gua usul, sekalian aja covernya gue gitu. Mereka udah iya iya aja. Tapi entah kenapa last minute diganti gitu. (halaaah).
Beli ye! hehehe. Semoga memberikan kebaikan.

Labels:





Akhir Ramadhan
Sunday, September 28, 2008

Satu bulanan ini penuh dengan ngelobi calon donatur, bikin kontrak, memilah-milah kebutuhan kandidat, dan bikin milis-milis. Alhamdulillah, saat ini udah terkumpul 33 donatur yang men-support 31 tersantun. rasionya 33:31, hampir 1:1. 31 orang ini tepatnya 3 orang anak asuh dan 6 keluarga guru asuh yang memiliki total 29 anggota keluarga. Kalo ada yang berminat gabung, please let me know.

Tambahan lagi, ternyata kegiatan ini masuk youtube. Direkam oleh seorang mahasiswa di perancis yang walau pun lagi sakit, masih aja ngomongin kegiatan sosial.

http://www.youtube.com/watch?v=agmtvx72yHI

Get well soon Bez! Semoga kondisi kamu membaik.

Kita sekeluarga juga ingin mengucapkan mohon maaf lahir batin. Gua tahu gua bukan pemilik blog yang baik. Mohon maaf untuk salah-salah kata dan untuk kata yang tidak terucap.

Rgds.

Labels: ,





Guru Asuh - Kisah Yang Berlanjut
Thursday, September 04, 2008

Ada yang pernah baca ini: http://suamigila.com/2008/05/asuhan.html ??

Di sana gua cerita ttg perkembangan kita mencari donatur untuk anak-anak tidak mampu dan sebuah wacana untuk mencari donatur untuk guru-guru yang tidak mampu.

Untuk anak asuh, gua dan adik-adik di ITB (Ima dan Puti) sudah mensukseskan support tahunan untuk 5 anak asuh. sampe-sampe sekarang Ima kesulitan handle.

Tiba sekarang merealisasikan guru asuh. Setelah satu tahun nyari kontak yang tepat, gua nemu seseorang bernama Yanti Herlanti. Dia punya multiply that is regularly updated: http://yherlanti1971.multiply.com/

Setelah ketemu. Kita ngobrol lewat email dan dia mulai mencari kandidat-kandidat guru. Dalam waktu 1 bulan udah ketemu 2 orang guru. Pak Musa & Pak Harun. Ini sedikit esai tentang mereka berdasarkan wawancara:

Pak Musa
Pak Musa adalah guru pamong untuk mata pelajaran matematika di SMP Terbuka Pamijahan, Kab. Bogor. SMP Terbuka Pamijahan berlokasi di SMP Negeri Pamijahan dan mengambil waktu belajar di petang hari. SMP Terbuka adalah SMP yang diperuntukkan bagi anak-anak yang kekurangan waktu sekolah karena bekerja membantu orang tuannya atau bagi anak-anak yang tidak punya uang untuk sekolah di SMP negeri/swasta. Kebanyakan murid di SMP Terbuka, siswa yang rawan drop out. Guru pamong di SMP Terbuka selain memberikan pelajaran, juga memberikan motivasi pada siswa akan perlunya sekolah. Untuk mendapatkan murid di SMP Terbuka, Pak Musa secara door to door mengetuk pintu calon orang tua murid yang tidak memasukkan anaknya untuk lanjut di SMP Negeri Pamijahan, agar mau menyekolahkan anak di SMP Terbuka Pamijahan dengan gratis. Untuk keperluan ini Pak Musa harus rela mencari murid sampai puluhan kilo meter dan mendapat tanggapan berbeda dari para orang tua, diantaranya menolak anaknya sekolah. Salah satu ungkapan yang sering dilontarkan orang tua adalah “saya membesarkan anak untuk bisa cari uang, tanpa sekolah pun anak-anak tetap bisa bertani dan beternak”. Kebanyakan orang tua di Kec. Pamijahan memang kurang perduli dengan sekolah, bagi mereka sudah cukup baca tulis di SD, selanjutnya menggarap lahan pertanian dan peternakan mereka. Pak Musa termasuk guru kreatif, mengetahui bahwa orang tua pun mengharapkan anak-anak mendapatkan penghasilan, maka Pak Musa bersama anak-anak terbuka mengelola kambing dan memanfaatkan lahan di sekolah untuk bertani, hasilnya bisa dipanen anak-anak.

Anak-anak di SMP Terbuka cukup dekat dengan Pak Musa, beberapa anak menganggapnya sebagai bapak, dan karena motivasi Pak Musa juga, beberapa anak menganggap penting sekolah dan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, yaitu SMA. Kepandaian komputer Pak Musa, digunakan untuk mengajarkan anak-anak di SMP Terbuka agar melek komputer. Malam hari adalah waktu yang Pak Musa gunakan untuk mengajarkan komputer pada mereka, dengan mengambil tempat di lab. Komputer di SMP Negeri Pamijahan. Sejak tahun 1997 Pak Musa mengabdi sebagai guru Pamong di SMP Terbuka, penghasilannya hanya Rp 96.000/bulan. Tahun 2006, seorang donatur mendirikan SMK Azkia, Pak Musa dipercaya menjadi TU dan guru komputer, dari SMK ini penghasilan Pak Musa bertambah 300.000.

Penghasilan yang minim ini membuat Pak Musa tak dapat menebus Ijazah D-2 PGMI di STAI Laa Roiba, sejak tahun 2003 sebenarnya Pak Musa sudah lulus, tapi karena utang uang semester, sks, dll sebesar 2,5-3 jt rupiah selama kuliah, menyebabkan ijazahnya tidak bisa diambil. Anak pak musa yang pertama, sebetulnya bersekolah di SMA Negeri 1 Ciampea, tetapi karena tunggakan sebesar 770.000 pada pihak sekolah, menjadikan anaknya yang kedua drop out dari sekolah pada kelas 2, dan kemudian Pak Musa memasukkannya ke SMK Azkia tempatnya mengajar. Isteri Pak Musa pada saat ini sedang melanjutkan S1, dan acapkali menunggak uang SKS. Minimnya penghasilan sebagai guru, membuat Pak Musa terbersit untuk berhenti menjadi guru dan beralih menjadi tukang bangunan di Jakarta. Tukang bangunan dalam sehari bisa meraup 50.000, sementara gajinya di SMP Terbuka sangat minim. Tetapi kecintaannya pada anak-anak di SMP Terbuka membuatnya bertahan hingga kini.

Pak Harun

Pak Harun adalah guru olah raga, alumnus SGO (sekolah guru olah raga). Keluarga Pak Harun termasuk katagori qonaah, artinya bersyukur apapun yang mereka terima. Contohnya sudah dua bulan Pak Harun tidak mendapatkan gaji dari MI Mutaalimin, karena keterlambatan pemerintah dalam mencairkan BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Keterlambatan ini tidak membuat keluarga Pak Harun frustasi, tetapi membuat Pak Harun mencari pekerjaan lain, sudah satu bulan ini Pak Harun menjadi guru olah raga di MTS Mambaul Islam. Walaupun hidup kekurangan, tetapi mereka menghindari “berutang” pada tetangga, jika ada beras mereka makan, jika tidak ada mereka mencari subtitusi makanan lain. Mendapatkan beras, bagi keluarga mereka sudah sangat beruntung.
-----------------

Yang ironis bagi gua adalah bahwa pak musa goes door to door menyadarkan orang-orang agar anak mereka sekolah. tapi pak musa harus melihat anaknya sendiri di DO karen nunggak SPP. 10 tahun reformasi Gus Dur yang alim, Mega yang katanya orang hebat, Amien rais yang kritis, Habibie yang pinter, SBY yang sabar, semuanya gak bisa memperbaiki hidup 1 orang aja?

Kebetulan dalam waiting list gua udah ada 20 orang yang tertarik untuk bantu tapi gua sendiri kekurangan orang yang bisa ditolong. Ketika gua tawarkan pak musa dan pak harun ke 20 orang ini, 11 orang memberkan komitmen mereka untuk membantu pak musa 11 juta setahun dan pak harun 7 juta setahun. Dan mereka komit membantu selama 3 tahun.

If you think this is amazing, you should know bahwa keduanya tercover 100% dalam waktu 6 jam saja. Gua sebar imel ttg mereka jam 1 PM, by 7 PM semuanya tercover.

Ini memberikan pelajaran yang berharga bagi gua. Bahwa dunia ini gak kekurangan orang baik yang mampu dan gak kekurangan orang baik yang kurang mampu. Yang diperlukan adalah bagaimana mempertemukan mereka. Terima kasih banget bagi temen-temen yang memberikan komitmennya kepada pak musa dan pak harun.

Posting yang similar bisa diliat di multiplynya ibu yanti:
http://yherlanti1971.multiply.com/journal/item/31/MARI_PERDULI_DAN_BERBAGI_PADA_GURU

Ada kabar gembira juga: Puti, salah satu relawan itb yang selama ini ngajar dan ngehandle manajemen anak asuh di Bandung, dapet beasiswa ke Inggris dan berangkat september ini. Puti sudah mengajar anak-anak tidak mampu selama beberapa tahun. I say good karma is bestowed upon her.

Kita sedang mempersiapkan 2 kandidat guru lagi dan sedang pitching/bidding 2 anak asuh. Bagi yang berminat untuk menjadi donatur dan berkomitmen selama 2-3 tahun, tolong kasih kirim email ke gue.

Labels: , ,





Survivalitas
Monday, August 04, 2008

Jakarta adalah kota yang sangat kejam. Lebih kejam dari bayangan banyak orang. Sebenernya apa sih modal penting untuk bisa hidup di Jakarta? Gelar S2? Punya mobil? Buka usaha? Uang yang banyak? Koneksi dan pergaulan?

Jawabannya satu: Survivalitas.

Dalam hidup, gua sering berpapasan dengan orang tua yang berusaha keras membantu anaknya mencari pekerjaan. Bahwa justru anak yang dilarang pergi dari rumah setelah mereka nikah.
”Biar sama kami aja dulu sampe kalian bisa nabung dan mentas...”

Ada lagi gua denger cerita ada bapak yang menyekolahkan anaknya S2 di sebuah lembaga yang bergengsi. Ketika tahu bagaimana teman-teman anaknya itu, sang bapak berinisiatif membelikan jas, HP dan mobil untuk sang anak pakai. Bukan manja. Tapi karena ayahnya ingin anaknya bisa masuk pergaulan yang membuat dirinya sukses. Dari banyak orang tua itu, ada hal yang sama yang gua dengar keluar dari mulut mereka.
”Jaman kami dulu kerjaan gak terlalu susah. Sekarang susah cari kerjaan.”

Intinya semua orang tua ingin melihat dan membantu anaknya menjadi sukses dan mentas di Jakarta ini. Semua orang ingin survive dan semua orang ingin anaknya survive. Kenapa sih beberapa orang menemukan bahwa untuk survive di Jakarta khususnya dan di Indonesia umumnya susah? Ini jawabannya:

Indonesia adalah Negara di Asia Tenggara yang pendapatan perkapitanya sangat kecil. Setidaknya termasuk di bottom 3 atau bottom 2.

Tapi ironisnya,

Jakarta adalah kota termahal kedua setelah Singapura untuk biaya hidup. Dan termahal ke 43 sedunia. Melebihi Berlin dan Melrbourne (mercer survey). Bayangkan, orang Jakarta harus hidup dengan biaya kedua termahal setelah singapura tapi pendapatan perkapita kita sangat-sangat-sangat kecil dibandingkan Thailand, Malaysia atau Filipina sekali pun. Ini artinya seseorang kerja di Jakarta hampir tidak bisa nabung tapi jika orang yang sama memutuskan untuk minggat dari Indonesia dan memulai hidup di Manila atau Thailand, mereka bisa nabung – untuk gelar, profesi dan industri yang persis sama.

Dari sini timbul pertanyaan kenapa kenyataannya seperti itu?
- karena kita banyak korupsi. Dana pembangunan yang seharusnya dipakai untuk membuat transportasi lebih efisien, malah dikorupsi oleh 1 orang. Imbasnya, ada 100 orang yang harus membayar ongkos transportasi lebih mahal. Ongkos transport lebih mahal membuat sebutir telur yang seharusnya bisa dibeli dengan harga 1100 menjadi 1300.

- Karena kita banyak import untuk hal-hal yang menjadi basic. Ini membuat biaya hidup jadi mahal. Kedelai import dan beras import. Ketika rupiah melemah, harga tempe dan nasi di warteg mau gak mau naik.

Bayangin aja lu makan di warteg. Lu makan nasi dan tempe. Nasi dan tempe harganya jadi naik ketika rupiah melemah. Ini karena mereka import. Nasi dan tempe jadi tambah naik lagi ketika ongkos transportasi naik.

Yang sebenernya nasi dan tempe itu berharga 2000 perak, kita harus bayar 2700 perak. Sayang kan 700 peraknya? Padahal di Thailand, mereka cukup pinter untuk ngakalin ini sehingga rakyat bisa nabungin 700 perak itu. Makanya untuk orang yang persis sama, mereka lebih kaya dan lebih mapan di negara lain ketimbang di Indonesia.

Yang ada, sebuah keluarga ayah ibunya bekerja siang malam hanya bisa untuk membiayai anak sekolah sampai mentas. Habis itu mereka melihat tabungan, kosong. Dan jadilah terbalik, setelah anaknya mentas, anak mereka harus balik menanggung orang tua. Ini membuat PR si anak jadi double. Satu dia harus support orang tuanya – balas budi. Satu dia harus nabung untuk anaknya sendiri. Makin lama makin parah.

Itu semua di atas adalah PR pemerintah. Kita gak bisa ngapa-ngapain kecuali doa. Kalo pun ada langkah kongkrit ya pindah ke negara lain dan menetap di sana sampai pensiun.

Apa yang kita bisa lakukan untuk ngakalin ini semua? Kita harus men-set up model finansial yang baik.

Model Finansial Keluarga
Ada beberapa jenis income berdasarkan caranya.
1. income aktif dari bekerja di sebuah perusahaan. Statusnya fixed.
2. income aktif dari wira usaha
3. income pasif dari asset intelektual
4. income pasif dari asset lunak/keras

Percaya atau nggak, gua bisa bilang bahwa satu keluarga dengan 2 tenaga kerja (ayah ibu) sebenernya bisa memiliki keempat jenis income itu di saat yang bersamaan.

1. income aktif dari bekerja di sebuah perusahaan. Statusnya fixed.
Ini adalah favorit semua orang. 4 dari 5 pasangan muda sekarang memiliki set up di mana suami dan istri kerja untuk perusahaan.
Semuanya mudah dengan kerja untuk perusahaan. Tapi apa masalahnya?
- Apa yang terjadi jika krismon datang lagi dan salah satu dipecat?
Jawabannya gampang, turunkan kualitas hidup.

- Apa yang terjadi jika keduanya dipecat?
Gak ada income lain. Ini sering terjadi di tahun 1998. Jaman kakak-kakak kita yang sekarang umurnya udah 35-40 tahun. Kita tanya sama mereka susah apa nggak hidup waktu itu.
Tapi ya semua ini probabilitasnya kecil.

Yang agak mengganggu gua adalah ada banyak sekali orang – terutama temen-temen cewek gua yang kerja karena gengsi. Kayaknya kalo gak kerja dipandang rendah sama temen-temen. Maluuuu banget kalo jadi ibu rumah tangga. Kalo gak pake powersuit dan bawa mobil bukan kerja namanya. Kayaknya gimana gitu kalo punya karir padahal kan inti hidup itu bukan karir tapi mencukupi keluarga di segala aspek. Lahir batin. 3 pertanyaan dalam kubur nanti tidak termasuk pertanyaan: “Apakah kamu kerja di HSBC di saat hidup?” Bukan juga “Apakah pernah expat?” Padahal penghasilan istri dari wira usaha jahit bisa aja malah jauh lebih gede dari penghasilan suami.

Dunia barat lah yang mengedepankan agar wanita dan pria harus sama-sama kerja. Padahal yang penting itu cukup lahir batin dan suami istri sama-sama memberikan kontribusi positif terhadap financial keluarga. Emansipasi wanita bukan berarti wanita harus ada di kantor seperti pria. Tapi seharusnya, sama-sama memiliki tanggung jawab dan kontribusi financial yang positif terhadap keluarga. Caranya gimana gak penting, yang penting halal.

Dan kalo mau lebih cuek lagi, biarin si suami yang buka usaha bengkel, si istri yang kerja. Terserah siapa yang mau ngantor dan siapa yang mau usaha. Yang penting keduanya produktif.

2. income aktif dari wira usaha
Model yang sangat baik adalah jika suami kerja, istri kerja tapi mereka juga punya bisnis sampingan yang bener-bener jalan. Tapi jarang ada yang bisa bertahan seperti ini.

Model yang gak kalah baiknya adalah salah satu kerja dan satunya lagi buka usaha. Income dari wira usaha ini penting agar kalo sampe yang kerja di PHK atau misalnya si suami jatuh sakit. Keluarga masih ada income yang berkesinambungan. Ingat bahwa rata-rata suami di dunia ini meninggal lebih cepat 6 tahun dari istri. Jadi kalo istri gak kerja atau gak wira usaha sama sekali, 6 tahun itu akan sangat sulit.

3. income pasif dari asset intelektual
Aset intelektual adalah aset yang lu hasilkan dari otak lu, dipatenkan dan lu mendapatkan royalti dari asset itu.

Di amerika sih, kalo lu bisa bikin tools, dipatenkan dan laku, lu bisa pensiun kaya dari royalti paten itu. Seperti penemu post it notes dan lainnya.

Di Indonesia yang namanya paten masih gak dihargai – apalagi dengan pembajakan menjamur ya. Sejauh ini yang gua tau, orang-orang mendapatkan royalti dari karya adalah:

- Buku dan penulisnya. Buku itu punya yang namanya nafas buku. Di Indonesia yang minat baca masih rendah, royalti buku biasanya berhenti mengalir di tahun ketiga kalo bukunya gak laku-laku amat. Royalti buku itu turun tiap 6 bulan sekali. Jadi kebayang udah nunggu 6 bulan dan karena gak laku, dapetnya cuman 100 ribu.
Pertanyaan: Jadi gimana caranya punya penghasilan yang berkesinambungan dari buku?
Jawab: Nulis banyak buku dan usahakan bukunya laku.
Kalo kita pinter ngatur timingnya, dengan menerbitkan 6 buku di bulan yang berbeda dapat memberikan kita pendapatan royalti perbulan. Ngerti kan maksudnya?

Ada penulis yang udah punya banyak buku dan dia berani beli rumah kecil (cicilan perbulannya kecil). Ini dia yang oke banget. Emang rumah kecil, tapi beli men. Beli.

- Penyanyi. Income yang berhubungan dengan royalty adalah:
Penjualan album. Tapi kasiannya, di Indonesia ini ada statistik yang menunjukkan bahwa untuk 1 kopi asli terjual, ada 14 pembeli memilih beli versi bajakannya. Jadi pendapatan dia itu turun 93% karena pembajakan. Untungnya dari bonus produser dan lainnya mereka masih dapet milyaran. Hyuukk. Terkadang gua mikir, ngapain gua sekolah jungkir balik masuk itb kalo modal suara bagus aja bisa beli rumah di PI?

Soundtrack Sinetron. Katakanlah lu penyanyi dan lagu lu dipakai sebagai opening titlenya sinetron. Biasanya PH itu ngasih lu royalty per episode. Rangingnya dari 5-10 jutaan. Nah kebayangkan rosa dapet berapa tuh dari stripping sinetron cinta Fitri yang episodenya udah 150?

4. income pasif dari asset lunak/keras
Saham, reksadana, emas, tanah, property.
Saham, reksadana, emas, tanah, semua ini memberikan kita income dalam bentuk paper value. Yang kalo belum kita cairkan kita gak akan ngerasa manisnya.

Property bisa memberikan kita income pasif yang lumayan dalam bentuk kontrakan. Dan gak perlu yang fancy dan mahal seperti beli apartemen dan ngontrakin. Sebagai perbandingan:
Beli apartemen 1 unit harganya 1 M dan disewain 10 juta sebulan. Sama aja dengan bikin kos-kosan sederhana 700 juta 10 kamar dengan harga 1 juta sebulan. Chances are bikin kos-kosan harganya lebih murah.
Cuman aja bikin kos-kosan butuh pinjaman bank, sedangkan beli unit untuk dikontrakin balik bisa cicil ke bank dalam bentuk KPR.

Nah sekarang kita udah liat nih. Semakin banyak jenis income yang kita kuasain, semakin mampu kita menahan resiko krismon. Kalo suami di-PHK, bisnis makanan istri masih jalan. Si suami sekalian aja jadi salesnya. Tangan si istri kepotong mesin obras, masih ada uang dari kontrakan sebelah. Orang kontrakan ketiban rejeki 1 milyar dan minggat, yah masih ada royalti buat bayar SPP anak.

Kita bisa bayangin kalo kita cuman punya 1 model income dan hanya 1 orang yang berpenghasilan.

Hal terakhir tentang survivalitas
Kita udah bahas apa, kenapa dan model-model finalsial seperti apa yang kita dapat pakai untuk survive di Jakarta. Ada satu hal terakhir yang menjadi kunci, yaitu:

Sekarang kita udah punya penghasilan dari keempat jenis incomenya dan penghasilan gabungan dari semuanya adalah X. Nasehat gua adalah kalo income kita X, jangan sampe biaya gaya hidup kita 0.8X. kalo bisa 0.5X. 0.5X lagi disimpan untuk hari tua. Jadilah orang yang sederhana tapi gak kikir. Jangan juga sampe terlalu banyak nabung tapi hidup jadi gak hepi dan yang ada di otak hanya duit duit dan duit.

Juga jangan sampai saking awarenya terhadap uang sampai-sampai selalu merasa miskin dan gak nolongin orang. Dari jaman kuliah gua banyak nawarin orang ikutan anak asuh dan mereka mendadak miskin. Jujur gua sedih ngedengernya. Ingat, sederhana bukan berarti miskin. Sesial-sialnya kita, kita gak lahir di Somalia. Sesial-sialnya kita, kita gak buta. Sesial-sialnya kita, setidaknya bisa lulus sampe sarjana. Jadi jangan pernah merasa miskin atau sial karena masih banyak yang lebih parah dari kita.

Hidup yang terbaik itu bukan hidup bergemilang harta karena harta itu gak dibawa mati. Hidup yang terbaik adalah hidup yang terplanning, cukup untuk menahan bantingan krismon dan merasa hepi dengan kecukupan itu.

Intinya, hidup yang terplanning, imbang, beralasan dan hepi.

Selamat mencoba.

Labels:





Membeli Masa Depan
Tuesday, February 26, 2008

Sebelumnya makasih bagi yang udah komen dan ngasih masukan di posting gua yang ini.

Di Singapur sini kita bisa nonton RCTI dan SCTV. Di suatu malam gua lagi memindai channel dan melihat sebuah iklan yang menggugah. Iklan itu adalah iklan dari tabungan rencana Bank Mandiri.

Adegan pertama: Ada anak kecil lari-lari keliling meja makan. Di meja makan itu, ada pasangan muda meminjam uang ke orang tua mereka dan ada insert tulisan “Untuk biaya masuk SD”. Di akhir adegan itu, kita melihat liontin emas ibu muda.

Adegan kedua: pasangan tersebut sudah terlihat lebih dewasa dan sang ibu melepaskan liontin emas itu dengan muka urung. Insert: “Untuk biaya masuk SMP”

Adegan ketiga: Anak itu sudah dewasa, membuka garasi dan anak itu murung melihat garasi mereka kosong. Sang bapak keluar dengan vespa. “Untuk biaya SMA”.

Adegan ini diakhiri dengan sang bapak hujan-hujan pergi kerja naik vespa, di depan rumahnya ada tulisan “rumah dijual” insert: “untuk masuk kuliah”

Ini adalah satu iklan yang sangat-sangat kuat. Hati gua belum pernah ngerasa terenggut melihat sebuah iklan. Bener banget.

Life is not a game. You can’t restart your life. Once you make a mistake, that’s it. You’re done. Apalagi hidup di Indonesia yang jujur saja, sangat unforgiving. Gua pendukung SBY dan so far dia melakukan yang terbaik untuk kita semua. Sayangnya orang-orang seperti Mega dan Amien Rais kerjanya membuat sentimen negatif saja. Gak ngebantu. Kita ini gak akan pernah maju jika pemimpin negara dibacokin orang-orang yang kerjanya pengen jadi pemimpin negara.

Hidup untuk Masa Depan
Iklan di atas sempat membuat gua tidak tenang melihat apa yang sudah ada di tangan. Tapi gua berusaha merasa qana’ah karena tidak ada yang lebih buruk di hadapan Allah selain orang-orang yang kufur nikmat. Bener kata temen-temen yang komentar di bawah bahwa kalo kita takut, kita tidak akan pernah merasa cukup dan akhirnya menghabiskan waktu kita khawatir ketimbang bersyukur.

Kita itu (seharusnya) hidup untuk masa depan. Bokap gua pernah ngasih tau statistik di bawah:
5 dari 10 pensiunan hidup bergantung pada anak dan kerabat
2 dari 10 pensiunan masih harus kerja unutk membiayai sisa hidupnya
1 dari 10 pensiunan punya uang pas-pasan untuk mandiri setelah pensiun
1 dari 10 pensiunan punya uang berlebih di saat pensiun

Mengerikan ya? Dari yang gua lihat dalam hidup, memang begitu. Sebenernya bukan karena kita miskin-miskin amat sih tapi kita itu sering belanja hal-hal yang kalo dipikir baik-baik, gak perlu.

Sekarang gimana caranya kita pensiun dengan baik? Dan di atas itu, membekali anak dengan pendidikan yang cukup? Iya kalo anaknya satu. Kalo 3? Satu lagi ungkapan yang gua pernah dengar yang sangat-sangat memotivasi gua untuk nabung:

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Iya kalo anak kita sukses. Kalo gak sukses kan kasian dia. Mencukupi dirinya sendiri aja mungkin susah, apalagi nalangin kita? Masa muda anak kita adalah masa dia mencari penghidupan untuk mensecure hari tua dia, bukan hari tua kita.

Nah gua mau share sesuatu di bawah. Bukan karena gua sukses melakukannya, atau telah berhasil menyelesaikannya. Tapi gua pengen aja sharing karena penting untuk diketahui dan semoga memberikan insight yang baik bagi yang belum tahu.

Tentukan gaya Hidup Kita
Di umur 30 ini gua belajar begini: gaya hidup itu menentukan survivality kita di hari tua. Maksudnya gini:

Ini skema hidup keluarga A
Gaji = 100%
Living cost yang kita jalankan selama ini = 80%
Tabungan = 20%

Guess what? Setelah pensiun nanti, A akan kesulitan mengadjust gaya hidupnya karena setelah pensiun, dia gak punya atau punya sedikit income. Dan dia harus hidup berbiaya 80%. Tapi masalahnya dia cuman punya 20%. Mending kalo 20% ini bisa nutupin basicnya, kalo nggak gimana?

Jadi yang perlu kita tentukan sekarang adalah bagaimana gaya hidup yang kita inginkan dan berapa yang ingin kita tabung.

Basic Consumption & Life style

Persentase di atas tidak linier. Maksudnya, orang yang penghasilannya rendah akan mencak-mencak melihat persentase di atas karena memang ada biaya hidup pokok minimal. Mungkin bagi orang yang penghasilannya 20 juta setahun, persentase di atas gak jalan. baca: minimum living cost katakanlah 10 juta setahun. Jadi mending persentasenya kita kembalikan aja pada diri masing-masing.

Yang berusaha gua jelskan di sini adalah, living cost itu ada dua komponen.

Living cost = lifestyle x basic consumption.

Contoh, orang sama-sama butuh mobil ke kantor. Yang satu beli mobil second, yang satu beli Alphard. Orang sama-sama butuh dinner. Yang satu sering dine out, yang satu masak.
Orang sama-sama butuh tas. Yang satu beli satu 60 juta, yang satu 600 ribu.

Basic consumption semua orang sama. Tapi yang membuat living cost kita berbeda adalah gaya hidup kita. Apa beli tas mahal salah? Nggak kok. Terserah, gua gak ngejudge. kalo memang mampu ya by all means, beli aja. Hanya saja, di kebanyakan kasus, gaya hidup kita lah yang membuat living cost tinggi. Bukan basic consumptionnya.

Bagi pembaca yang tergerak untuk menerapkan hal yang sama, harap diingat bahwa makin banyak anak, ya gajinya makin terbagi kecil. Bisa jadi seperti ini:

45% cost
35% pensiun
10% anak 1
10% anak 2

45% cost
30% pensiun
8% anak 1
8% anak 2
8% anak 3

Masalahnya dengan skema ini adalah, skema ini tidak berlaku pada keluarga yang incomenya terlalu kecil. Gua pernah bergaji sangat kecil dan bahkan untuk menghidupi diri gua aja susah.

Automate your Savings
Sekarang kita udah menentukan gaya hidup kita dan bertekad menabung beberapa % income kita. Next step? Kebanyakan orang, termasuk gua, gak bisa nabung. Beberapa orang bikin channel tabungan. Termasuk gua. Gua gak tau apakah ini manjur karena resultnya kita lihat 25 tahun lagi tapi setidaknya ini yang gua percaya dan gua lakukan.

Setelah menentukan berapa yang harus ditabung, kita otomatisasikan tabungan kita. Manusia itu pada dasarnya susah nabung. David Bach dalam bukunya ‘Automatic Millionaire’ mengatakan bahwa semua pemerintah di dunia ini langsung otomatis motong pajak dari gaji kita karena mereka tau kita suka lupa bayar pajak. Ha yang sama kita terapkan saja pada diri kita. Kita bisa request ke bank agar setiap tanggal 1, gaji kita dipotong ke tabungan pensiun kita, ke tabungan pendidikan anak kita dan ke mana saja yang kta mau. Akhirnya yang ada di tabungan utama hanyalah sisa untuk living cost kita. Jadi di awal bulan, yang pertama kita amankan adalah masa depan kita, bukan masa depan mango, zara atau honda jazz kita. Kalo tidak dipagari seperti ini, kecenderungannya adalah habis. Untuk ini, gua rekomendasikan banget buku David Bach ‘Automatic Millionaire’

Security
Oke, sekarang ada tabungan pensiun. Bagus. Eh besok kita ditabrak bus. Pupuslah harapan anak untuk terus sekolah. Istri juga kalo gak berpenghasilan bisa repot. Yang tadinya kita bermimpi anak kita bisa sekolah di universitas top indonesia, jadi bisa gak kuliah sama sekali.

Dan tahukah kita bahwa statistik membuktikan bahwa rata-rta suami meninggal 6 tahun lebih cepat dari istrinya? Dari sini datanglah pentingnya asuransi.

Gimana cara milih asuransi yang baik? http://priyadi.net sudah membahasnya dengan baik. Mending baca di sana. Di sini, gua cuman pengen sharing apa yang gua tau (yang mana sedikit), agar mungkin temen-temen bisa untung dari sini.

Yang jelas, menentukan asuransi itu sebaiknya gini:

Uang pertanggungan = living cost / tahun x 20 tahun (atau terserah mau berapa tahun).

Dengan formula ini, maka jika kita meninggal, insya allah keluarga kita dapat hidup selama 12-20 tahun. Lho kenapa gak full 20 tahun? Karena inflasi. Living cost tahun 2008 mungkin 4 juta. Di tahun 2020 bisa jadi 10 juta.

Masalahnya, makin tinggi uang pertanggungan, makin tinggi premi pertahunnya. Untuk itu, menentukan nilai asuransi ini juga harus bijak dan harus dalam kemampuan kita juga. Misalnya kita tabung 40% gaji. Kita split 40% ini jadi 10 dan 30.

30% pensiun
10% insurance
Toh keduanya sama-sama berbunga kok.

Dulu asuransi ini sepi peminat karena asuransi tidak melink dana kita ke investasi. Yang ada, uang kita menyusut tanpa bunga. Mending taro di bank. Gitu pikiran banyak orang. Sekarang unit link ini menjadi buruan banyak orang. Gua dulu alergi yang namanya memercayakan uang keringet gua sama asuransi. Sekarang kenapa tidak? Not bad kalo gua bilang. Jika kepala keluarga meninggal, kepala keluarga akan mendapatkan mana yang lebih tinggi antara uang pertanggungan dan nilai investasi. Lumayan kan? Btw, http://priyadi .net sih tidak menganjurkan. Tapi gua sih merasa aman sekali dengan skema ini.

You may disagree with this ya. Tapi gua sih jalanin.

Invest
Di posting gua yang terdahulu gua udah bilang bahwa musuh gua setidaknya adalah inflasi. Mau income kita 1 juta per bulan atau 100 juta, kita taro di bank, tetap aja kalah sama inflasi. Contoh:

Inflasi = 10%
Bunga bank = 2%
Tabungan kita = 1000
Harga telur 2007 = 1000
Harga telur 2008 = 1100
Uang kita 2008 = 1020
Tahun 2008 kita gak mampu makan telur.

Di sini lah pentingnya investasi. Instrumen investasi apa yang dipilih? Beberapa sudah gua tulis di posting sebelumnya. Berapa yang mesti kita invest? Nah ini tergantung dari seberapa ambisiusnya kita dalam hidup. Yang jelas, ada beberapa pointers:

- asset & liability
Robert Kiyosaki dalam Rich dad poor dad bilang “rich dad buys assets. Poor dad buys liability”. Ini bener banget. Banyak sekali orang tua yang menghabiskan uang 200 juta membelikan anak mereka mobil. Masalahnya, mobil itu mengalami penyusutan 20% per tahun. Harganya tahun depan langsung 180 juta. Umur mobil juga 5 tahunan. Itu bukan aset. Itu liability.

Kalo memang ingin memberikan anak 200 juta, kenapa gak belikan dia rumah susun? Atau BTN? “Nak, ini ayah belikan rumah 1 bukan untuk ditempatin. Sana kamu kontrakin dan uangnya buat kamu tabung.” Rumah, di 80% kasus, adalah aset.

Aset adalah sesuatu yang memberikan kita return. Yang kalo kita jual lagi, nilainya bertambah dan memberikan kita proft.

Liability adalah sesuatu yang setelah kita beli, nilainya susut. Yang kalo kita jual lagi, kita mendapatkan loss.

- Biggest & Most Basic Investment
Hal pertama yang harus disukseskan dalam investasi, dan ini yang gua setuju ya, terserah kalo gak setuju, adalah rumah. Direkomendasikan untuk rumah sendiri. Jangan sampe ngontrak seumur hidup. Di kala kita ngontrak, kita membuat orang lain kaya tanpa memberikan kita hak kepemilikan. Bisa-bisa setelah pensiun, kita gak punya penghasilan untuk membayar kontraknya. Setelah itu mau tinggal di mana?

Kalo kita cicil rumah, sejelek apa pun rumah itu, rumah itu adalah hak milik kita. Tidak ada rasa aman yang lebih baik dari pada memiliki rumah tempat kita tumbuh tua nanti.

Kalo nggak gini, kasian anak. Mereka nanti nikah dan butuh ruang, waktu dan energi untuk membangun keluarga kecil mereka. Kalo kita tinggal bersama mereka, kasian. Lenyaplah impian istri untuk ML di dapur huahahaha. Gak deng. Memang di kebanyakan kasus, orang Indonesia menganut kebudayaan orang timur di mana:

Ketika kita kecil, mereka merawat kita.
Ketika dia tua, kita merawat dia.

Ini sebabnya banyak sekali temen gua yang bungsu yang bersikeras gak mau keluar rumah. Kasian ninggalin ibunya. Si bungsu lah yang bayarin listrik, air, kabelvision dll.

Ini sebabnya banyak temen gua yang sering bilang “Udah, mamah di sini aja sama saya”

Semua itu bagus. Semua itu mulia. Semua itu dianjurkan agama. Tapi semua itu adalah cerita temen-temen gua yang mapan secara finansial dan berniat mengembalikan budinya. Temen-temen gua yang kesulitan finansialnya? Well, beda cerita.

Setidaknya di mata gua, sebagai anak yang baik, harus selalu siap untuk menampung orang tua. Itu harus. Bokap gua menyisihkan 25% gajinya selama belasan tahun untuk hidupi orang tua dia.

Tapi sebagai orang tua yang baik, rasanya gak tega ngeliat anak ngerawat kita sementara dia bisa menghabiskan waktu muda dia mengejar impian-impian. Makanya, invest your money. Nah sekarang pertanyaan, berapa yang mesti kita investasikan dari income kita? Sekali lagi, terserah.

Tadi di atas sudah ada ini:
30% pensiun
10% insurance

Kenapa nggak,
10% atau 20% pensiun
10% insurance
20% atau 10% investasi

Ingat aja, makin kecil uang yang disisihkan untuk investasi makin lambat investasi itu bisa berbuah. Kalo sisihan untuk invetasi terlalu kecil, ditakutkan malah gak pernah terwujud impiannya. Contohnya, mau beli emas batangan. Tapi harganya naik lebih cepat ketimbang jumlah uang yang kita sisihkan perbulannya. Yang ada kejar-kejaran.

Sekali lagi, instrumen investasi sudah gua tulis di postingan sebelumnya dan juga banyak terdapat di blog ttp://priyadi.net

Hutang
Disarankan untuk jangan punya hutang, kecuali hutang itu untuk membeli rumah perdana dan itu pun jangan terlalu banyak. Banyak orang yang bermimpi memiliki rumah megah dan bersikeras beli cicil. Masalahnya,

Rumah gede = biaya maintenance gede
Rumah gede = cicilannya puluhan tahun

Temen gua ada yang lumayan jenius. Dia beli rumah kecil, 5 tahun lunas. Sementara 5 tahun itu dia juga nabung dengan istri. Setelah lunas ternyata mereka punya cukup tabungan untuk nyicil rumah ketiga yang lebih baik. Rumah pertama mereka kontrakin dan mereka tinggal di rumah cicilan kedua. Sebentar lagi meeka akan melakukan yang ketiga.

Ada lagi kasus yang lumayan miris. Rumahnya terlalu besar tapi gajinya terlalu kecil, sehingga dia butuh 20 tahun untuk lunasin. Itu semua gajiu habis hanya untuk rumah. Jujur aja, kalo cicilan sampe 20 tahunan, yang ada kita bayar rumah itu 2x harga beli kita. 2 kali! Itu sama dengan kita beli 2 rumah! Tapi ini nggak. Akhirnya orang itu pensiun tanpa sempat menggunakan uangnya untuk investasi.

Intinya, hutang itu boleh tapi terbatas dengan:

  1. pembelian aset
  2. pastikan beli rumah yang sesuai dengan gaji kita. Jangan ngoyo.
  3. pastikan cicilannya tidak terlalu banyak sehingga kita masih punya umur produktif untuk investasi yang lain juga.

Again, ini hanya dari pengalaman dan observasi pribadi gua. mungkin pembaca yang berwawasan lebih, boleh kasih input. Biasanya syarat umum Bank di indonesia adalah: uang cicilan = 1/3 dari income gabungan suami istri. Kalo gitu, skemanya jadi berubah:

45% cost
33% cicilan rumah
8% anak 1
8% anak 2
6% insurance atau investasi atau pensiun

Skemanya terserah tapi kita bisa lihat bahwa semua komponen itu penting. Dan bisa kita lihat juga bahwa adanya cicilan rumah benar-benar memotong keleluasaan kita dalam berinvestasi kan. Dan bahkan untuk cicil rumah, bukan gak mungkin kita harus memotong biaya hidup jadi lebih kecil dari 45%. Makanya cicilannya jangan terlalu lama dan telalu besar.

Metode Yang Beda
Metode di atas hanyalah 1 dari jutaan metode yang kita bisa jalankan. Contoh metode lain adalah:

- 5 tahun pertama konsen beli rumah

- 5 tahun kedua konsen nabung buat investasi

- 5 tahun ketiga konsen nabung pensiun

Beberapa temen gua malah hanya bergantung pada jamsostek untuk pensiun. Uang bebasnya semuanya dia investasikan di rumah kedua dan bilang “Ya ini sapi pensiun gua.” Agar nanti kalo udah pensiun, uang kontrakan rumah itu dapat nyambung hidup dia.

Upside
Dengan cara seperti ini, orang biasanya lebih cepat mendapatkan masing-masing target. 55% gaji dia dimasukin untuk investasi. Denga modal sebesar ini, returnnya juga bisa besar dan lebih cepat. Sound good. Tapi ada kelemahannya.

Downside
Kalo misalnya pas lagi ngejar lunasin rumah, kepala keluarganya meninggal, gak ada dana back up dong.

Kalo misalnya pas 5 tahun investasi ternyata reksadana crash, habis semua uang. Kalo 5 tahun nabung dollar ternyata dollar jadi 2000 perak, the end. Lenyap udah itu semua.

Kalo misalnya keasikan beli rumah dan investasi, bukan gak mungkin kita telat nabung buat pensiun. Kenapa sih pensiun itu penting meski sudah ada investasi yang berbuah?

Karena kita tidak bisa memprediksi masa depan. Kita bergantung sama 3 rumah kontrakan. Suatu hari 2 dari 3 digusur.

Intinya sih keuntungan dari diversifikasi adalah kalo kita sial di satu hal, kita masih bisa bergantung dengan hal lain. Memang gak banyak, tapi itu safe. Kerugian diversifikasi adalah menunggu semuanya berbuaha bisa belasan tahun. Gimana nggak? Secepat apa kita bisa memperbaiki taraf hidup kalo kita hanya mampu sisihkan gaji 2% untuk investasi?

Semuanya dikembalikan ke masing-masing lah. Gak ada yang benar dan salah. Gua yakin semua yang baca blog ini by now sudah mikir, skema apa yang selama ini mereka jalani dan gak defensif atau ofensif jika tidak setuju dengan penjelasan di atas. Toh semuanya dikembalikan ke diri dan kondisi masing-masing yang mana kondisi itu gak mungkin sama.

Gua sendiri menjalankan sebuah skema. Gua gak tau apakah skema itu akan berhasil. Yang penting, kalo niatnya baik, ikhtiarnya giat, dan sabar menghadapi cobaan, itu berarti kita sudah menjalankan skemanya dengan benar.

Penutup
Yang jelas, gua berpegang sama proverb di bawah:

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Kita Sebagai Anak
Sadarkah kita kenapa orang tua naik haji di usia senja? Karena orang tua kita ingin memastikan dulu kita mentas. Betapa mulianya ya mereka.

Sekedar sharing aja, temen gua dulu ada yang ngobat. Sekarang nyesel seumur hidup. Dia nyesel karena sampai akhir hayat mereka sang orang tua tidak pernah sempat menunaikan ibadah haji. Kenapa? Karena tabungan haji mereka habis membayar rehab temen gua. Setelah sembuh mentas dan kerja, hal pertama yang temen gua lakukan adalah haji dan mendoakan mereka.

Dari dia gua belajar untuk sebisa mungkin gak pernah nyusahin orang tua. Kalo gak bisa sukses, minimal gua gak bikin mereka sedih.

Kita Sebagai orang tua
Tantangan tiap jaman itu beda. Dan semakin ke sini, semakin hebat. Dulu bapak kita cukup dengan S1 dan dapat berkarir seorang diri membiayai semua keluarga.

Jaman kita? Dibutuhkan suami dan istri untuk kerja mencukupi kebutuhan hidup. Belum lagi kualifikasi sekarang banyak yang harus S2. Ambil koran, baca bagian karir dan hiotung berapa banyak yang kualifikasi S2? Chances are, many. Dan supply lulusan S2 pun banyak yang masih struggle mendapatkannya (yang mana menjadi constant reminder gua untuk harus sekolah lagi).

Jaman anak kita? Gak kebayang kan? Ini sebabnya pensiun itu sangat penting. Anak-anak kita menghadapi apa yang tidak terbayangkan oleh kita susahnya gimana. On top of that, mereka harus mencukupi diri mereka sendiri. Memang gua yakin banget kita sebagai masyarakat timur, mereka pasti tidak keberatan mengurusi kita. Masalahnya, kitanya tega gak?

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Ada mau sharing bagaimana bentuk pembelian masa depan yang lain?

Labels: ,





Getting Smart on Money
Saturday, February 23, 2008

Untuk kesekian kalinya gua gak tidur sampe pagi ninggalin ninit yang tidur sendiri di dalam kamar. Seperti biasa pikiran gua melayang ke mana-mana mikirin beberapa hal. Satu hal yang paling lama menghinggapi pikiran gua sampe pagi adalah keuangan.

Jahatnya Inflasi

Beberapa tahun terakhir ini gua sering mendalami ekonomi. Itu juga dengan kapasitas otak S1 gua yang sangat terbatas dengan legendarisnya. gua mulai belajar dengan menganalisis ekonomi yang ada dengan banyak baca dan banyak ngobrol sama orang. Referensi lain adalah blog-log terkenal seperti http://priyadi.net yang emang analisanya edan. Salut lah sama dia.

Semuanya berawal ketika gua menyadari bahwa laju lnflasi di Indonesia ternyata lebih tinggi dari kenaikan kesejahteraan gua. Contohnya:

Tahun kemarin gua bisa beli telur harga 1000. Tahun ini harganya 1100. Artinya lnflasi = 10%.

Sedangkan bunga di bank = 3%. Artinya tahun kemarin gua nabung 1000. Tahun ini jumlahnya 1030. Terus gua mikir. Gila ya. gua udah kerja siang dan nulis malem-malem tapi tiap tahunnya nilai dari uang yang gua capek-capek dapatkan, menyusut. Gak adil. Gua bukan koruptor. Gua kerja keras. Tapi itu lah keadaannya. mau pendapatan kita 1 juta atau 100 juta, kalau kita biarkan saja, nilainya akan menyusut.

Inflasi versi pemerintah = 6% per tahun. Kenyataan di lapangan berkata lain. Inflasi telah sukses membuat tukang goreng pisang bunuh diri karena gak kuat lagi beli minyak tanah. Itu tukang kurang usaha apa coba? Dia bisa aja ngemis pinggir jalan kalo mau dan earning 50000 per hari (1.5 jt / bulan) kalo dia mau. Tapi dia memilih ikhtiar. Yang dirasakan banyak orang saja 10% meski untuk beberapa sektor, lebih dari 10%.

Harga apartemen bersubsidi X di sebuah kawasan, akhir 2007 masih 200 juta. Awal 2008, 230 juta. Gila, ganti tahun, 15% naiknya. Ini masih apartemen murahan.

Harga apartemen yang mahalan, tahun 2006 masih 600 juta. Awal 2008, 700 juta. Itu sekitar 9%-10%.

Mengalahkan Inflasi
Dari analisis di atas, gua nemu bahwa musuhnya adalah inflasi. Gua gak bisa ngandelin pemerintah karena pemerintah sekarang terus dibacok calon-calon presiden yang pengen gulingin mereka. 10 tahun reformasi, semua orang yang menggulingkan Suharto berusaha saling menggulingkan dan meningalkan negara ini sebagai satu-satunya negara yang belum lepas dari krisis eknomi di Asia.

Inflasi sendiri dipengaruhi banyak faktor yang gua gak mungkin tahu. Tapi dari matematika dasar yang otak S1 ini bisa pikir, artinya:

1. Kenaikan income/tahun > laju inflasi.
Masalahnya, gua kayak gini aja udah ngos-ngosan dan stres. Apa iya gua pulang kantor masih harus ngojek juga?

2. Tabungan yang ada, nilainya bertambah > laju inflasi
Bagi gua ini yang menarik untuk dibedah lebih jauh. Setahu gua ada bebrapa cara. Mohon infonya jika ada cara lain.

Properti - bangunan
Begitu punya uang cukup, beli properti.

Downside

- Masalahnya, barrier of entry untuk bisnis ini minimal 100-200 juta.
Itu juga ngutang ke bank. Coba baca iklan di koran atau di website properti.

- Harga rumah dan apartemen di tengah kota sudah milyaran. Harga properti juga gak selalu naik terutama apartemen.

- Daerah jakarta utara sudah terlalu banyak apartemen. Temen gua di sana beli harga X, kemudian difurnish dan jual lagi. Eh dijual dengan harga X pun (yang artinya rugi di cost furnish), gak laku.

- Aset keras. Tentang kenapa aset keras ini merupakan keburukan, nanti dibahas di bawah,

Upside
- Naiknya lebih besar atau sama dengan inflasi. Ini contoh di atas gua tulis lagi:

Harga apartemen bersubsidi X di sebuah kawasan, akhir 2007 masih 200 juta. Awal 2008, 230 juta. Gila, ganti tahun, 15% naiknya. Ini masih apartemen murahan.

Harga apartemen yang mahalan, tahun 2006 masih 600 juta. Awal 2008, 700 juta. Itu sekitar 9%-10%.

- Properti = aset keras. Keunggulan aset keras adalah kao sampe pemerintah bilang "rupiah tidak berlaku lagi" setidaknya kita masih punya aset untuk dijual.

- Properti bangunan adalah aset keras yang bisa mendatangkan passive income. Simply dari ngontrakin rumah / apartemen itu.

Properti - tanah
Downside
- barrier of entry minimal 100 jutaan.

- tanah makin sedikit, tidak seperti apartemen yang bisa dibeli ke mana-mana.

- pemerintah sedang membuat wacana agar di masa depan, tanah tidak lagi menjadi hak milik tapi hanya hak guna. Masalahnya dengan hak guna adalah, kalo sampe digusur, hak guna menjadi alat pemerintah untuk mebyara ganti rugi minimum. Kalo hak milik, pemerintah bayar lebih tinggi. kalo wacana ini semakin cepat bergulir, maka harga tanah akan naik gila-gilaan. Habis itu harga tanah akan turun. Gak make sense lu beli tanah atas dasar hak guna, kemudian bangun rumah, kemudian digusur dengan ganti rugi minimal.

- aset keras. Satu-satunya keuntungan beli tanah adalah nilainya yang terjaga. Tapi kalo kita butuh duit, dijualnya gak bisa cepet. katakanlah kita beli tanah 300 juta di tahun 2000 dan tahun 2008 sudah 400 juta. Trus ternyata kita butuh banget uang 50 juta. Tanah itu gak bisa nolong kita - dalam artian, demi mendapatkan 50 juta, lu harus menjual tanah itu seharga 400 juta. perkara lu dapet 50 juta, beres. Tapi aset lu kejual dan lu harus nyari tanah lagi. dan di tahun 2008 belum tentu ada tanah strategis yang bisa debeli seharga 350 juta sisanya. bayangin anak kita harus dioperasi gawat dan kita gak bisa jual tanah dengan cepat. Apa yang terjadi? hasilnya adalah kita sering sekali lihat iklan 'dijual cepat, butuh uang'. Kan sayang. Kalo dijual cepat, mau gak mau kita pasang harga murah. Dan yang tadinya niat investasi, jadi hilang.

Upside
- Kecuali kita bener-bener sial, harga tanah gak pernah turun. Dan tidak seperti apartemen yang selalu ada, tanah tidak bertamah. Alias makin lama makin sedikit.

- aset keras - Bukan kertas uang yang setiap saat bisa terancam.

Pasar Modal
Sekarang udah ada yang namanya reksadana. http://priyadi.net dan beberapa blog terkenal lainnya pernah mengupas ini dengan sangat baik. Gua cuman mau ngasih tau risknya aja:

upside
- Secara historis returnnya sangat baik. 20% per tahun.

- Exitnya sangat mudah. Tidak seperti aset-aset keras. Maksudnya exit cepat gini:
katakanlah kita tanam di reksadana 50 juta. jalan beberapa bulan sudah 55 juta. Di saat itu, anak kita sakit dan harus operasi, butuh 40 juta. 40 juta itu bisa ditarik kapan saja.

- Barrier of entry rendah. Ada beberapa bank yang menjalin kerja sama dengan reksadana dan kita dapat ikut berinvestasi dengan dana 2 juta saja.

- Rupiah cost averaging. Nah ini kalo gua salah artiin, mohon dibenerkan ya. Maksudnya gini. Kita kalo beli tanah butuh uang ratusan juta siap. Dengan reksadana, ada yang namanya rupiah cost averaging. Maksudnya, tiap bulan kita bisa transfer 1 juta (atau sekuatnya) ke dalam tabungan reksadana itu. Jadi daripada pusing nyari modal 50 juta untuk ikutan reksadana, 50 juta itu bisa -istilahnya- kita cicil 50 x 1 juta sebulan.

Downside
- dengan return yang tinggi, risknya juga tinggi. Luar biasa tinggi. Investasinya tidak dijamin. Bisa return 20%, bisa rugi 20%. Temen gua masukin dana 50 juta. Jalan beberapa tahun berbuah jadi 240 juta. Kemudian dia cerita temponya reksadana crash dan sisanya tinggal 50 juta. Balik lagi ke saldo awal.

Emas
Ini favorit orang tua dan bahkan generasi kita. Orang tua kita sering beli emas dalam bentuk perhiasan karena mereka sudah menyadari bahwa nilai emas stabil.

upside
- Bisa dibeli dengan jumlah uang kecil, dalam bentuk perhiasan. Tapi nilai jualnya juga rendah karena perhiasan itu seirng dicampur, bukan emas 24 karat.

- Nilainya paling stabil dari semua bentuk investasi yang ada.

- Nilainya tidak pernhah turun drastis seperti dolar.

- Di saat US dollar atau rupiah tidak berlaku, emas adalah bahasa universal yang bisa dijual di mana saja. katakanlah setengah dari dunia ini perang dunia. US dollar tidak berlaku, rupiah tidak berlaku. Kita dipaksa mengungsi ke Irak. Rupiah dan US dollar mungkin diludahin di sana, tap emas? bahasa universal.

Downside
- Membeli emas adalah cara yang baik untuk menjaga nilai uang. Hanya saja tidak berbunga.

- Butuh ilmu dan waktu untuk belajar. Sebaiknya beli emas batangan yang bersertifikat.

Currency Asing - USD
Sekarang udah gak jamannya nabung dalam USD. Euro dan GBP terbukti lebih kuat dari USD. Di Indonesia USD juga lebih banyak menjadi dagangan fisik ketimbang mata uang. Ini wajar mengingat traumanya Indonesia di tahun 1998 dulu.

- Nilai USD lemah ketimbang mata uang lain.

- Karena Amerika sedang perang, nilai tukarnya semakin terjun melemah. Sekilas terlihat baik karena dengan USD menurun, Rupiah menguat. Tapi lihat juga kekuatan USD ke mata uang lain.

Gua mau cerita hal yang menarik tentang USD dan apakah kita mesti menabung dalam USD, just in case kita krismon lagi. Pertanyaan turunan dari sini adalah: Apaah kita akan mengalami krismon seperti tahun 1998?

Jawabannya: tergantung.

Kita lihat dulu kasus 1998. Gua sendiri lupa kenapa logika di belakang kasus 1998. Tapi yang jelas:

1991 Bush perang dengan Irak. Perang ini menyedot USD keluar dari Marik sehingga Amrik terlanda krismon. Ini yang membuat Bush tidak terpilih lagi.

1996-98 adalah era Clinton. nah di sini yang gua lupa. Clinton melakukan sesuatu yang membuat Warga Amrik menikmati ekonomi terbaik dalam 2 dekade, sedangkan di belahan dunia lain, seluruh asia krismon.
Sekarang Bush perang lagi dengan irak. Kali ini kembali membuat Amrik krismon. dalam waktu 5-7 tahun dari sekarang, Amrik bisa jadi ngejahatin negara2 lain lagi untuk memperkuat ekonominya dengan konsekuensi krismon di belahan dunia lain.

2008 ini adalah pemilu US. kalo sampe hilary terpilih, gua bilang, bisa jadi ada kemungkinan asia krisis lagi karena hilary bisa jadi akan melakukan hal yang sama seperti suaminya. After all, kesuksesan presiden adalah dari ekonomi rakyatnya. Walau pun itu membuat orang lain krisis. Apalagi Clinton suami dia. Dia akan tanya "Bill, what would you do?" Dan dari sana, bisa jadi neraka kita terulang lagi.

Apakah jika Mc Cain dan Obama terpilih, pattern yang sama tidak akan terulang? Itu juga tergantung. Entah bagaimana caranya, the next president US harus memperbaiki ekonomi rakyat US yang sudah terpuruk oleh perang irak. Tergantung mereka apakah mereka ingin memulihkan ini dengan cara membuat negara lain rugi (entah gimana logikanya).

Jadi, kembali ke pertanyaan, apakah USD adalah alternatif investasi yang baik? Jawaban gua sih, beli perlu, tapi gak usah kebanyakan. Mungkin sekitar 10% dari semua net wroth kita, dimasukkan dalam bentuk USD. dan ini hanya jika kita memiliki rencana menyekolahkan anak ke LN.

Kesimpulan
Dengan semua resiko yang ada di atas, apakah investasi yang baik?

Gua bilang sih semuanya. Diversifikasi. Trik yang kebayang sama gua adalah (dan ini belum gua lakukan ya, cuman yang kebayang aja sama gua)
1. kalo kita punya uang 50 juta, masukkan itu ke dalam investasi yang paling cepat berbuah, meski itu beresiko (reksadana). Katakanlah berbuah menjadi total 100 juta.

2. Dari 100 juta itu, tarik 50 juta modal awal kita keluar dari reksadana dan belikan rumah kontrakan. Dari rumah kontrakan ini bisa berbuah uang.

3. Sekarang kita punya income dari poin 1 dan 2. Setelah cukup, investasikan ke mungkin tanah, atau emas batangan secukupnya.

4. Lakukan poin 3 dengan fondasi poin 1 dan 2 seterusnya.

Nah ini adalah bayangan dan analisis gua yang cuman lulusan S1.

Selanjutnya terserah masing-masing.

Yang jelas, sesuai judul posting gua, pegangan gua adalah satu:

Gua udah capek-capek kerja keras. Alangkah sayangnya kalo gua gak berpikir pintar untuk menyelamatkan uang dari hasil kerja keras itu.

Rgds.

Labels: ,






About This Strikingly Handsome Writer:


Adhitya Mulya adalah Dewa Ganteng yang tinggal di kahyangan bersama 100 dayang-dayang. Dia menghabiskan waktunya turun ke bumi untuk bertemu dengan rakyat jelata dan berburu menjangan dan babi hutan... (or is it, berburu rakyat jelata dan bertemu dengan babi hutan? anyways, same thing). Oh ya, sesekali dia menulis buku komedi.

Contact:

adhitya_mulya@hotmail.com

10 Recent Entries

  • Caleg-Caleg itu...
  • Masih Tentang Anchor Kita
  • Situ Gintung
  • Krismon dan Kerjaan Baru
  • Tolong Sebarin Ya Guys!
  • Anchor News Kita dan Nama Orang
  • Mantan-Mantan Kalian
  • SBY vs JK
  • Thank You God
  • Film Serem

  • orang telah melihat kegantengan gua yang legendaris itu.




    Get Firefox!

    Pictures




    Links

    Ninit ; Aan ; Agung ; Aip ; Alaya ; Avianto ; Aris ; Atta ; Detta ; Ewink ; Enda ; Erly ; Fairy ; Fanny ; Ganda ; Hagi ; Hanzky ; Isman ; Ita Leyla ; Ni'ang ; Ndari ; Nita ; Pip ; Okke ; Roi ; Ruri ; Shinta ; Tyaz ; Udhien ; Umar; Adi ; Afo ; Alaya ; Alfa ; Ale ; Alvons ; Aiff ; Andhi ; Andin ; Andin ; Anggie ; Anto ; Aprian ; arb3i ; Ari ; Arma ; Arif ; Ayu ; Axlandra ; Bantot ; Be-Es ; Beranda ; Bintang ; Bios ; Blub ; Brandy ; Buzz ; Cay ; CB ; Celia ; C'est la Vie ; Civent ; Claustrophobic ; Comel ; Comel ; Crey ; Dagungsta ; Dayat ; Deksay ; Dian ; Dican ; Didi ; Didiet ; Diki ; Dini ; Dion ; Disposable Hero ; Drey ; Duwie ; Dwi ; Dyah ; Ekodox ; Emil ; Ephe ; Eric ; Erika ; Erwin ; Eve ; Eyi ; Farid N ; Farid ; Finalizabeth ; Fitri ; Flow ; Flow ; Fresh ; Gajah Duduk ; Gauz ; goblog ; grE3nY' PrinceZz ; Guido ; Grizz ; Harris ; Harris ; Harris ; Heri ; Herlyanti ; Hero ; Ibiza ; Ika ; Ilsa ; Inex ; Inna ; Ipan ; Irene ; Irene ; Iris ; Isnaini ; Koebiz ; Kun ; Lacsar ; Lemans ; Lilik ; Lindie ; Little Mermaid ; Lontar ; Matz ; Memey ; Merkurius ; Morningdew ; N[a] ; Nasgor ; Neen ; Neenoy ; Nice green ; Nisa ; Nita+Agus ; Nono ; Novie ; Nukov ; Nunik ; Ochan ; Ollie ; Paylo ; Pipit ; Prazz ; Prianca ; QQ ; Radith ; Rapa ; Reena ; Ren ; Ria ; Richoz ; Ridwan Fauzi ; Rihsa ; Riena ; Rita ; Sapi ; Sasha ; Sazi ; Seggaf ; ; ; ; Snydez ; StormyMonday ; Supta ; Sweeney ; Sylvie ; Tamtam ; Tari ; Toet ; Trippin' D ; Tutup Botol ; t.w. ; Ty ; Tyaz ; Tychan ; Umar ; Un^Goe ; Vanda ; Vanya ; Viga ; Vellas ; Weedee ; Yudha ; visit rice bowl journals !