Loosing My Mojo But not in a sexual way tho hahaha. Gua sedang dalam kondisi yang bagi gua cukup menyedihkan. Sejak tahun 2003 gua selalu mencoba mendeliver 1 karya. masalahnya sekarang gua belum nulis dari februari 2007 sampai maret 2008. Itu adalah jedah satu tahun - terlama gua gak menghasilkan karya dalam bentuk apa pun. Be it script, novel, adaptation, anything. Waktu ada. Waktu selalu ada. Secara kantor gua hanya 15 menit jalan kaki dari rumah. Tapi pulang kantor, selalu ada Alde menunggu dan minta main bareng. Apalagi akhir-akhir ini Alde lebih clingy ke gua. Kalo gua mau ke kantor dia teriak. Kalo pisahan di mall untuk nyewa dvd, dia teriak. But regardless, truth be told, any given day gua memilih untuk memberikan semua waktu gua pada Alde. Jadi waktu bukan masalah. Terus apa masalah gua? Kerja? Bagian ini juga memiliki masalah. I've been making friends with a bohemian couple, the famous indrani.net. dan dari pertemuan dengan mereka gua jadi ingin ikutan les berlayar. Ada kali Indra 4-5 kali ngajakin gua memulai les tapi somehow gua selalu tolak. kebanyakan karena weekend gua harus kerja. Sekali waktu sakit. Dan kesempatannya selalu hilang. kemudian gua ajak dia ikut amazing race 3. yang mana besoknya langsung ada pengumuman dari kantor akan prkembangan downsizing. Gak lucu aja gua ikutan amazing race 3 dan dapet telfon "Adhitya, would you liek a retrechment package?" So that's that. Kerja ini juga memberikan tingkat stress yang sangat tinggi. ketika gua mulai nulis bajak laut beberapa bulan yang lalu, company gua mengalami downsizing dan gua jadinya me-rem pekerjaan menulis untuk konsentrasi ke pekerjaan. Apakah ide juga masalah? Ya. Safe to say bahwa gua kebanyakan ingin cerita dalam bajak laut ini. Dari sejarah raja-raja nusantara - yang ternyata 1 raja bisa punya 3 versi yang gua bingung mana yang bener. Kehidupan sosial Batavia yang sadis dan tidak komedik. Sampe cerita bajak laut itu sendiri yang harus diramu dengan kocak. Ketika seseorang mencoba menggabungkan ketiganya, emosi penulisan jadi naik turun dari bab ke ba. Bukan emosi membaca, tapi emosi menulis. Yang namanya nulis komedi itu moodnya harus pas. ketika mood kita komedik di bab 2 dan kita pindah ke bab 3 yang menerangkan kawasan penjaringan, mood komedi itu hilang. Masuk ke bab 4 yang komedi lagi, sulit sekali mendapatkan mood komedi itu lagi. Trus lagi, proses kehidupan. Ketika gua nulis jomblo, gua masih jadi bujangan happy go lucky type. Nulis GMC gua masih married dengan posisi karir yang masih mencari bentuknya. Nulis TT anak gua masih kecil. Sekarang? gua udah jadi bapak anak satu yang punya portfolio investment besar untuk hari tua dan karir yang mulai speasialis dan hampir diguncang downsize (gua survie btw, alhamdulillah). Dengan cukup jelas, hal-hal yang gua hadapi, jalani dan atasi sekarang jauh lebih penting dan memerlukan kedewasaan berpikir. Dan itu merenggut semua cita rasa komedi gua/ If you look at my blog writings, there hasnt been any single comedic entry for a long, long time. As a recap to all of this, I could be loosing my mojo in writing comedy. Akhirnya untuk bajak laut ini, gua mulai nulis lagi. dan gua memutuskan untuk tidak menggunakan hasil riset 4 tahun dan mulai menulis mengalir begitu saja agar komedinya lepas. Terkadang gua berharap bis aselepas dan serileks Rasdit Kambing jantan atau Endang rukmana. Tapi gua sadar gua gak bisa. Gua punya tanggungan dan actually solid good career to maintain. Dan membalance kedua hal itu dengan menulis is no easy job at all. Oh well. time to try to write again. Brgds.
Sekuel Jomblo Guys, mau nanya nih. Gua punya feeling kuat banget untuk melanjutkan novel jomblo. Feeling ini datang dari niat gua untuk menyelesaikan apa yang di sinetron di cut. Jadi ya mungkin materi ceritanya sebagian kecil akan gua ambil dari serial Jomblo walau pun gua bisa jamin itu gak banyak. Menurut kalian gimana? Mau gak baca Jomblo 2? Tolong utarakan setuju tidak setujunya ya. Bukannya gua plin-plan tapi yang baca nantinya kan kalian-kalian juga. So, please speak up.
Gua, Buku Gua, & Anak Gua Another good news, TT masuk cetakan 4. Ekspektasi gua kecil thd buku ini mengingat kondisi pasar buku yang udah jenuh sama ribuan judul. Tapi ternyata Alhamdulillah, TT bisa masuk ke cetakan 4 padahal perasaan baru kemaren nerima kabar masuk cetakan 3. Gua selalu suka mendengar kabar buku laku di pasaran karena gua nulis buku untk menghibur. Dan penjualan yang lancar menandakan makin banyak orang terhibur. To me buku laku is never about the money because I do have them. Sekarang (mungkin karena pendewasaan?) gua melihatnya sebagai ibadah. Bukin orang ketawa kan pahala. Masuk 11 bulan, Alde menunjukkan banyak peningkatan.Berenang masih dipegangin tapi sering kakinya udah mulai ngayuh sesekali. Sesekali udah jalan. Meski masih jarang banget dan hanya 4 langkah sekali jalan sebelum dia jatuh. Yang paling menyenangkan bagi kita adalah: Alde udah bisa turun dari tempat tidur sendiri. Alde cukup pintar untuk mengasess ketinggian tempat tidur dari umur 8 bulan. Tapi baru di umur 11 bulan dia bisa ngumpulin keberanian untuk turun sendiri. Oke deh segitu aja dulu updte dari singapur. Akhir minggu depan gua ke Cape Town seminggu ninggalin anak kecil ini dan ibunya. Yay Cape Town! Labels: aldebaran, books, travelers' tale
Tips Nulis Buku Fiksi Anda sedang mencoba menulis? Anda sering mengalami writer's block? Anda sering mengalami kekurangan ide sehingga jerit-jerit sambil jongkok di pojok kamar? Anda sering gangguin penulis-penulis senior dengan cara kirim email ke mereka nanya ttg nulis buku? WORRY NO MORE!!! Setelah 3 tahun, ada lumayan banyak orang minta saran ke gua untuk nulis buku. Nah dari pada gua juling tiap hari ngasih tau mereka, akhirnya gua punya kesempatan untuk merangkum semuanya dan meng-uploadnya ke dalam sebuah blog. Kalian semua bisa liat tips nulis itu, di sini: http://tipsnulisfiksi.blogspot.com Semoga berguna. Rgds. Labels: books
Travelers' Tale Minggu kemarin kita jalan-jalan ke Gramedia PIM untuk cek stok buku-buku. TT masuk gramedia PIM tgl 13 feb sebanyak 150 kopi. tgl 25, sudah tinggal 64. That's 80+ copies sold in 12 days.Dari total 10 buku yang kita hasilkan, buku ini yang kedua paling cepat penjualannya dalam rentang waktu 2 minggu, setelah Jomblo. Kita berempat berterima kasih atas antusiasme temen-temen akan novel ini dan kalo temen-temen puas, bilang-bilang ya ke temen kalian! Rgds. Labels: books, travelers' tale
Have You Heard?
Plan & New Books Waktu itu bulan Mei. Gua memasuki hari-hari terakhir dari jabatan gua sebagai asmen di CFS site di Cakung. Beberapa anak buah sudah mengekspresikan keberatan mereka mengenai kepergian ini. Salah satu anak buah gua juga ada yang mengaku dia pernah menolak tawaran kerja di tempat lain hanya karena dia ingin lebih banyak belajar dari gua. Anyways, salah satu ada yang bertanya, "Kenapa sih pak harus ninggalin kita-kita? Apa yang kurang dari kita?" to which I replied, "Kalian gak kurang gak apa. Kalian tau kan saya sebentar lagi punya anak. Kalian liat sendiri kerjaan kita. 200 container per mingu. Rumah saya 45 kilometer dari sini. Saya gak kebayang kalo kita udah ngejar closing kapal, masih ada 40 container dan air ketuban istri saya pecah 45 kilometer di sana. Pastinya gak keburu." Dia mengangguk mengerti. Setelah itu gua kembali ke kantor pusat untuk menjadi asmen di project finance, agar gua pasti bisa punya waktu untuk melihat kelahiran anak pertama. Dia dijadwalkan untuk lahir 29 Aug. But as fate would have it... gua harus kerja di Bangkok dari 12 Aug - 20 Sep. The world can be so unforgiving sometimes. Anyways, menjelang kelahiran anak pertama, istri gua juga melahirkan 2 buah buku. They're very entertaining. Make sure you have them!!! ![]() Also, gak ketinggalan, temen baik gua meluncurkan buku perdananya. Namanya Fanny Hartanti. Bukunya lucu. Make sure you have this one as well!! With this, I'll be leaving to Bangkok. I love you, wife. Rgds. Labels: books
Novel Mendadak Dangdut ![]() I'm a complete anal when it comes to quality product tapi... Seriously, film dan bukunya gua harus akui, lucu. Sutradaranya Rudi Sujarwo. Scriptnya ditulis sama Monty Tiwa, whom I considered as one of the best script writer in Indonesia today. And lastly, skripnya diadaptasi oleh istribawel hue hue hue. Ninit membuat modifikasi yang gak kalah lucunya. Produser dari Sinemart dan Monty Tiwa juga, impressed dengan kepiawaian Ninit mengolah skrip yang udah lucu ke dalam novel yang berwarna beda. Dulu waktu Ninit masih belajar nulis gue pernah bilang ke dia bahwa suatu hari dia akan menjadi penulis yang lebih baik dari gua (bukan maksud hati sombong...) dan gua lihat sekarang, well, she's better. So, Buy the book, watch the movie, and laugh your ass off!!! Selamat ya Be. Proud of you. Rgds. Labels: books
Kejar Jakarta Editor gue yang ganteng itu paling tahu caranya bikin orang sengsara. 3 buku gue tulis belum pernah gue ada sesi tanda tangan (sumpeh!) dan ini email yang dia tulis:From: Redaksi GagasMedia To: 'Adhitya Mulya' Sent: Thursday, December 15, 2005 7:52 PM Subject: RE: cover dari kejar jakarta Alhamdulillah baik. ...... -----------Rgds. Well setidaknya gue dapet covernya. Strangely nice. SOOOOOOOO...without further ado... KEJAR JAKARTA THE BOOK: OUT NOW!! THE MOVIE: PREMIER 29 DECEMBER 2005 Gue ada request nih. Kalo bisa, kalian beli bukunya dan tonton filmnya. Gue pengen tau reaksi kalian atas perbedaan yang ada. tell us what you think ya. See you all at the premier. We're coming home. Rgds. Labels: books
3 Book Promos Kejar Jakarta - AdaptasiAdhitya Mulya Gagas Media Sedih deh jadi gue. Gue yang pulang ke Jakarta untuk nonton filnya. Gue yang baca skripnya. Gue yang nelfonin directornya. Gue yang nulis adaptasi novelnya. Dan secara spektakuler, sampe buku ini sekarang beredar di Jakarta, gue masih belum dapet bahkan cover softcopynya, hehehe. Tapi gak papa. Maish bisa gue colong from somewhere di internet. Jadi suatu hari Mas FX Rudy Gunawan nulis email ke gue, nawarin gue untuk nulis novel adaptasi dari skrip Kejar Jakarta. Iming-imingnya? Film ini dibintangi Project P. Gue pikir, wah dari kecil gue nonton manusia-manusia ini ngebanyol di SCTV. Ketemu Daan Aria aja udah megap-megap. Gak usah maen bareng, nonto mereka live aja gue ngimpi. Lah ini disuruh ngadaptasi novel mereka. WHAAAA!!! Makanya tantangannya langsung gue terima. Lagian sebenernya gue udah janji puasa nulis dulu soalnya mau riset untuk yang Bajak Laut itu. Tapi berhbung KOK YA O GUENYA GAK LANJUT-LANJUT AJA INSPIRASINYA (nulis komedi susah bo...susah!) ya udah gue terima tawarannya. Lagian gue pikir, gue udah nulis komedi. Udah dua kali. Project P adalah komedian yang brilyan. Seberapa susahnya sih nulis adaptasinya? Ternyata sangat-sangat susah. Pertama, skripnya ternyata tidak ditulis oleh Project P. Project P hanya jadi cast. Kedua, Project P ini jagoan di improvisasi. Ini masalah banget bagi gue karena gue nulis berdasarkan skrip namun Tidak ada satu pun dialog yang terekam dalam film ini yang dialognya utuh. Semuanya improv. Jadilah gue mencret. Ketiga, kembal ke skrip, banyak elemen-elemen skrip yang sebenernya gue pertanyakan ke penulis skripnya. Untungnya beliau bilang 'Dit, elo itu nulis novel untuk memberikan angle yang beda dari film. Jadi kalo ada kekurangan ya tambahin aja silahkan.' Oke deeeeh. Setelah tulis sana tulis sini, tambel sana, tambel sini, salah sana salah sini, mencret sana mencret sini, jadi deh ini buku. Baca bukunya, (udah beredar di toko buku terdekat) Tonton filmnya, (premier 29 Desember 2005) Silahkan bandingkan dan nilai. Btw, beberapa dari kalian udah ada yang baca dan nimel gue, thanks for that. Nita Sellya, Anzarra, Donna, thanks ya! -- Alexandria - Adaptasi Salman Aristo -> pssst, dia punya blog di sini... Gagas Media Kutipan: SALMAN ARISTO. Orang Minang yang lahir di Jakarta 13 April 1976. Tapi merasa dibesarkan Bandung. Saat masih berkutat dengan kuliahnya [dan recehan hidup lainnya] di Jurnalistik UNPAD. Metode berpikir kreatifnya terbentuk di sana dan makin menguatkan stigma 'Padang Murtad' karena tidak doyan cabai dan lebih sering berbahasa Sunda. Menggilai buku, film, musik, Belanda, Arsenal dan Newcastle. Merasa cuma bisa menulis dan bercerita. Sekarang sudah menghasilkan lima judul layar lebar Brownies [2004], Catatan Akhir Sekolah [2005], Cinta Silver [2005], Alexandria [2005] dan Jomblo (bersama Adhitya Mulya) [2006]. Lumayan sering juga diundang mengisi workshop penulisan kreatif dan skenario. Di samping kerjaan sebagai Senior Editor di majalah Trax. Adaptasi skenario Alexandria adalah novel pertamanya. Belakangan mencoba memikirkan sesuatu yang lebih berguna terhadap tumpukan coretan puisinya dan jadi makin berani melongok ide-ide novelnya yang berserakan. Lantas apa yang bisa disimpulkan dari orang ini? “Saya ini pencerita. Storyteller.” Begitu katanya. SINOPSIS ALEXANDRIA Seberapa jauh cinta bisa membawamu pergi? Cinta memang memiliki sayap terhebat. Bisa membawa pergi jauh melebihi batas apa pun. Batas diri, batas akal, batas tanah air dan banyak batas lagi. Jauh sekali. Buat Bagas Gunawan, Alexandra Yasmina dan Rafi Primasto, cinta bisa membawa mereka jauh melebihi batasan-batasan diri, impian dan obsesi. Jauh melebihi Alexandria. Lantas kemana hati Alex yang diterbangkan cinta itu akan berlabuh? Rafi kah? Mantan playboy yang mencoba tumbuh jadi lebih baik? Atau Bagas? Pengagum setianya sejak umur 7 tahun? Atau tidak keduanya, karena Bagas dan Rafi adalah sahabat sejak TK? Atau ternyata ada kenyataan lain yang akan membawa cinta itu kepada yang lebih tepat? Siapakah yang berkhianat? Lantas siapakah yang sebenarnya harus memilih dan merelakan? Ini kisah adalah tentang persahabatan, cinta segitiga dan obsesi. Cinta memang sumber inspirasi segalanya. Namun untuk mengejanya lebih dewasa ada satu elemen hati yang dibutuhkan: keikhlasan. Mungkin kamu pernah mengalaminya? Pernah jauh dibawa terbang oleh cinta? Berarti kalian akan bersahabat dengan Alex, Bagas dan Rafi. Kalau belum, membaca ini kalian akan merasakan terbang [dan jatuh] bersama cinta mereka. Gue telat banget ngasih unjuk ini buku. Well, you all know the movie. Salman Aristo adalah penulis skripnya. Dia memutuskan untuk menulis adaptasi novelnya juga. Dari yang gue dengar, cerita dari film ini di luar ekspektasi orang karena dalam proses peralihan dari skrip ke ke syuting, banyak detil yang kececer sehingga apa yang ada di buku yang merujuk ke skrip banyak yang gak sama dengan apa yang ada di film. Banyak orang bilang juga bahwa mereka prefer novel ini ketimbang filmnya. So kalo masih penasaran sama jalan cerita yang sesuai dengan si penulis skrip, baca aja novel ini. Udah masuk cetakan 7000, lumayan cepet banget mengingat banyaknya buku di pasaran saat ini. -- Test Pack - NovelNinit Yunita Gagas Media MASUK CETAKAN 4!! as of mid November kemarin, dari pertama kali terbit mid September. 2 Bulan 4 cetakan. That speaks alot. Kita lupa tanya kali ini dicetak berapa tapi cetakan 3 kemaren aja udah 10500 so..well...in short I'm very happy for my wife. Bangga sama dia? wah jangan tanya. That's all folks, bagi yang belum beli buku-buku di atas, beli dan tell us what you think. Labels: books
Kabar Baik & Buku-Buku FLP Kabar Baik Sebelum gue ngomongin tentang buku-buku dari FLP, ada kabar baik bagi kalian yang belum tau. ![]() Test Pack (Gagas Media - Ninit Yunita) masuk cetakan 3. Jadi jumlah total cetakan = 10500 kopi. Ini kabar baik banget mengingat jumlah buku fiksi yang beredar di Indonesia udah sangat banyak dan orang sekarang milih buku sampe mencret kali. But worry no more, klik di sini untuk testimoni orang yang udah baca, dari semua gendr dan ragam usia. Selamat ya Neng. Bangga sama kamu. Always. Buku-Buku terbitan Forum Lingkar Pena Forum Lingkar Pena adalah komunitas baca dan tulis yang sangat islami. Mereka terbilang cukup produktif mencetak buku dan mencari penulis-penulis baru. Hampir semua terbitan bernafaskan dakwah yang mana kalo gue bilang cukup unik dancutting edge ya, karena industri buku sekarang kabarnya (gue gak liat sendiri sih, tapi santer isu beredar bahwa) sangat-sangat padat dengan buku fiksi. Kita bisa mendapatkan update karya-karya terbaru dari FLP ini dari blognya, yaitu http://lingkarpena.multiply.com Nama-nama besar dari FLP ini adalah Mbak Asma Nadia dan Ibu Helvy Tiana Rosa. Keduany memiliki multiply sendiri. Kalo mau tahu alamatnya, klik aja dulu ke multiply Lingkar pena, abis itu view contacts mereka. ANYHOO... ini ada 3 buku dari FLP yang judulnya catchy banget. Coba beli dan baca deh. Mempelai Tanpa Pengantin ![]() Judul Buku: Mempelai Tanpa Pengantin Penulis: Fahri Asiza dan Shinta Yudisia Format buku: 12 x 18 cm Cetakan: pertama, November 2005 Harga buku: Rp. 21.000 Genre: Romance Yang menarik adalah sebenernya kalo diinggrisin judulnya lebih catcy lagi. A Bride Without a Groom. Sebuah Janji Untuk Istriku Judul Buku : Sebuah Janji Untuk Istriku (Seri Pernikahan)Penulis : Arul Khan dan Novia Syahidah Tebal buku : 181 halaman Format : 12 x 18 cm Cetakan : Pertama, Oktober 2005 ISBN : 979-3651-62-8 Harga :Rp. 24.000 Genre: Romance Penulisnya adalah sepasang suami istri. No HP No Cry Penulis : Koko Nata Tebal buku : ?? Format : 12 x 18 cm Cetakan : Pertama, Oktober 2005 ISBN : Harga : Genre: Teen Happy reading you guys! Labels: books
Look! I'm on Fire ![]() Dreng jeng... satu lagi dari blogger Indonesia yang menerbitkan buku. Introducing Aulia Halimatussadiah (iya tau, susah nyebutnya. Makanya dia dipanggil Olie heuheuheu). Buku ini adalah debutnya, diterbitkan oleh Gagas Media. Berkat Gagas Media Yang menarik dari buku ini adalah bahwa buku ini salah satu dari kalo gak salah, 50 buku yang lulus dari beasiswa Gagas Media. Jadi ceritanya Gagas Media itu tahun lalu memberikan beasiswa ke beberapa orang yang dicirikan memiliki bakat tulis dan mendidik mereka. Projectnya? Buku debut mereka. Nah Buku Ollie ini adalah salah satunya. Kalo dipikir-pikir asik juga ya. Betapa banyak orang yang nulis buku tapi gak tau harus kirim ke siapa. Betapa banyak orang yang pengen nulis buku tapi gak tau harus gimana. Then comes this scholarship. I can humbly say bahwa gue udah cukup lama melintang dalam di dunia buku untk mengetahui bahwa Gagas Media itu banyak disirikin penerbit lain (satu hal adalah pertumbuhannya yang diconfirm accountingnya 3000% dari 2003 ke 2004). Gagas sebenernya udah punya angin untuk cherry picking penulis mana yang dia mau dan memilih untuk menerbitkan mereka aja. Tapi nyatanya nggak. Nyatanya dia masih ngeluarin ratusan juta untuk beasiswa ini dan mengerti pentingnya generasi baru dalam dunia sastra. 30 tahun lagi, sastrawan yang ada akan meninggal (alami) dn di saat itu Indonesiahaus udah punya generasi pelanjut yang kuat. Satu dari banyak pangkal yang bisa dikembangkan adalah dengan gnre pop-culture ini. Gagas bisa banget berpegang aja ke penulis2 handal. Tapi sekali nggak. Mereka milih untuk mencari bibit baru. Seperti Ollie ini. Itu yang meski banyak pandangan sinis dari sesama pelaku industri buku, gue sih tetep salut sama Gagas. Tentang Buku Ini Gue pernah diminta baca draftnya sekitar 8 bukan yang lalu. Satu yang paling bikin gue impressed adalah gini. Settingnya di Seattle. Tapi gue berkali-kali tanya, penulisnya gak pernah ke Seattle. Dia membangun cerita di tempat yang dia gak pernah kunjungi. Riset. Riset yang akurat. Ini yang banyak penulis-penulis jaman sekarang gue liat rada kurang ya. Berangkat dari sana gue salut sama anak ini. Sama hasil risetnya untuk setting. Selamat ya Lie. Semoga produktif. Well, tanpa menulis lebih bayak lagi, ini excerpt dari dia: Look! I'm on Fire by Ollie When you're on FIRE… “Kriiiiiiiiinggggggg.” Alarm kebakaran berbunyi. Seorang security membawa megaphone dan berteriak-teriak, “Ini bukan latihan…saya ulangi…ini bukan latihan!!!” …you'll HOPE for a Savior… “Gue pengen ketemu ama yang nolong gue,” kata Ema. “Kalo udah ketemu emangnya mau lo apain? Kawinin?” …you'll SEARCH… “Suster, siapakah dia…? My Savior….” “Saya nggak bisa kasih tau….” Suster Susan menggelengkan kepala. “Please…, apa untungnya buat Suster merahasiakan ini??” Mata Ema berkaca-kaca. …you might be in LOVE… “Kok lu diem aja, sehh?” Basuki mengerutkan dahi. Joko tidak menjawab, malah makin asyik menggambar–gambar sesuatu dengan tablet pc-nya. “Dia lagi jatuh cinta sama the-accident-girl,” tukas Nick yang sedang menyetir. “Her name is Ema!” sergah Joko. “Wah, wah, emang dia secakep itu, ya, Ko? Sharon mau lu kemanain?” Basuki melotot ke arah Joko yang duduk di back seat. “Sharon kan cuma temen.” Joko cuek. Dia memandangi hasil sketsanya dan terlihat puas. “Wah, dia mabuk kepayang!” …and face CHOICES… Dengan satu gerakan cepat Sharon mengambil burger dari piringnya dan memegangnya di depan mukanya. “Maukah kau menjadi milikku? Makan burger ini kalo iya, makan french fries kalo nggak.” …then CAUGHT in the act… Konsentrasi Joko makin jauh dari berita tentang mergernya dua perusahaan komputer ternama yang sedang dibacanya dari Seattle Weekly. Dengan gelisah dibolak baliknya halaman kusut koran itu sambil terus menguping pembicaraan dua orang cewek bule di sofa ungu. “Baca apa, sih, serius amat.” Sharon dengan tampang sewot merebut koran dari tangan Joko. “Ih kok bacaannya ginian? Pantes serius banget….” Sharon menunjukkan beberapa kotak kecil berisi iklan kontak jodoh. “Haha…,” Joko tertawa kikuk. “Bukan yang itu! Gue baca yang di sebelahnya kok….” Sharon mengernyitkan dahi, “Yang ini?” Sharon menunjuk sebuah artikel yang berjudul Cara praktis memerah susu kambing. Joko menunduk. …creates FLAME… Message #4 Time : 5 pm Ema, kamu tau ini siapa, apapun yang kamu liat tadi siang yang membuatmu urung untuk bertemu denganku, tolong berikan sedikit ruang di hatimu untuk rasa pengertian dan sebuah positive thinking. I need that. Ema menekan sebuah tombol. Messages erased. …and so much PAIN… “Sudahlah Jack, sampai kapan kamu mau menunggu di sini…?” Greg menepuk pundak Joko saat Joko kembali ke titik nol. “Sampai Ema kembali.” “Jika ia tidak pernah kembali?” Joko tercenung. Kemungkinan itu tidak pernah ada dalam pikirannya. Bagaimana jika ia tidak pernah kembali ? Look! I'm on Fire. Komedi cinta yang hilang. By OLLIE. Available in the nearest bookstores. Get it, NOW! BLURBS This what a book should do, takes you places! Empat jempol buat Ollie atas debutnya yang menghibur! Raditya Dika - Penulis buku KambingJantan You made a genius plot!!! two thumbs up for breaking the plots like you did. Adhitya Mulya - Penulis novel 'Jomblo' Membaca Look! I'm on Fire... ini membuat saya terbakar untuk terus membuka halaman ke halaman lainnya. Ninit Yunita - Penulis novel 'Kok Putusin Gue' Nice story with nicely picked setting. Danni Junus – Penulis novel ‘Eituzè’ ...baca novel ini nggak rugi, serasa berada di Seattle... Ayu - Wanita Indonesia yang bekerja di Seattle Novelnya enak, gampang dimengerti dan bahasanya anak muda banget! Fathma Hariyani - Karyawan swasta Kalimat-kalimat kocak yang dilontarkan Ollie pas banget deh, bisa membuat saya ketawa-ketawa sendiri! Diah Ika Hendrayani - Karyawan swasta Labels: books
book launch: Test Pack Dateng dong dateng dong dateng dong ke: Book Launch:Sabtu 17 September 2005@ POTLUCK Coffeebar & Library JL Teuku Umar 9 Bandung Jam 15.00 - 18.00 Pembicara: Fira Basuki (Penulis & Editor In Chef SPICE! Magazine) Salman Aristo (Penulis Skenario & Jurnalis) Adhitya Mulya (Penulis novel best seller JomBlo & Gege Mengejar Cinta) FX Rudy Gunawan (Editor Test Pack, Penulis & Jurnalis) MC: Vinka Rae (SKY FM) Belum punya Test Pack? bisa dibeli on the spot... dapet discount yang gila-gilaan lagi sekalian dapet merchandise!!! ![]() Dateng yaaaa... ditunggu banget. Sekalian ngumpul... we're going back to Africa on Sept 19... so, really hoping to see you there. Labels: books
Book Promo Available at Bookstores near you!! (well not exactly right next to you but you get the message, no?) Setelah berbulan-bulan menampik ajakan gue untuk ini itu, akhirnya project kedua dia selesai. SOOOOOO, silahkan baca bukunya. Menurut gue pribadi secara objektif, buku ini telah melampaui godokan yang lebih mateng dan dalam menulis, dia memang lebih tune in ke tema yang dia stick to. Orang-orang baca buku karena mereka ingin mendapatkan sesuatu dari buku itu. Buku akan ditinggal jika tidak ada nilai tambah bagi mereka. Ada yang baca untuk dapetin ilmu baru. Ada yang baca untuk nilai hiburannya dan ada yang baca untuk belajar tentang filosofi hidup. Gue bilang, ninit berhasil menyelipkan filosofi2 ttg relationship suami istri yang recommended untuk dibaca. Di sini gue berbicara sbg seorang pembaca buku dan bukan seorang suami. bubye!!! ![]() Labels: books
Sketches from a draft - Best viewed by Modzilla Okay, so last weekend I finally had the time to write something. This is just the first draft. The kind of writing that goes first into mind so please do excuse some mistakes. I still need to do alot of revampings. But this topic has been long overdue to make. Risetnya udah banyak dan memang passion gue sebenernya ke komedi dan sejarah. Kalo kalian baca 2 buku gue, kalian akan selalu baca ada orang-orang dari masa lalu. Raja lah ratu lah, etc. One question for you guys...is it funny? ___________________________________________________________________ 1 – Meneer Muda Batava, Juni 1856 *DORR* Meneer itu jatuh tersungkur di dalam rumahnya yang telah 4 jam diobrak-abrik. Burung-burung beterbangan dari pohon dalam perumahan koloni Belanda di luar area Rijswijk[1]. Keempat perompak yang mengelilingi mayat arkeolog Belanda itu masih terdiam dan saling lirik. Ada satu yang berdeham, menambah situasi semakin salah tingkah. Gunadi, sang kepala perompak di usia 30-an mencoba konfirmasi. ”Apakah dia udah...” ”Iya.” ”Tapi kan dia belum..” ”Belum.” ”Jadi kita masih gak...” ”Nggak.” ”Dan sekarang kita harus...” ”Ya...” Gunadi menggaruk kepala dan menatap perompak yang memegang musket itu. Perompak itu masih baru. Dalam ekivalensi dengan dunia kerja abad 21, mungkin akan berstatus trainee dengan masa percobaan 30 hari dan makan siang sendiri tanpa teman. ”Saya...” Gunadi terlihat memilih kata yang tepat sebagai penjelasan untuk anak baru ini. ”Sayah gak tau ya di kampung kamuh itu gimana. Tapi di kampung sayah..” menunjuk diri berintonasi ”Kalo kita mau nanya sama orang, biasanya dia jawab dulu, BARU kita tembak.” jelasnya, dengan nadi berdenyut di dahi. Aceng, anggota mereka yang beretnis cina setuju. ”Kita orang juga gitu di Bangka. Sambil disiksa malah. Tapi ya gitu...jawabnya sambil jerit-jerit.” ”A...a....” begitu Rustam, sang anak baru sukses menjelaskan. ”Kalo aye boleh sumbang saran nih Bang..” Su’eb menunjuk tangan. ”..gimane kalo kite sambung lagi percakapan ini di kapal aje. Di tempat yang..gimana yah... gak bisa ditembakin Kumpeni[2] gitu Bang?” Gunadi memandang ini sebagai ide yang cukup cerdas dan segera memimpin mereka pergi ke luar rumah. Gunadi juga segera membatalkan 7 pesanan yang seorang tukang es cendol keliling sedang racik di depan kediaman meneer itu. Rencana awal Gunadi memang meminum cendol sambil melepas lelah menyiksa orang. Mencari yang Lain ”Sebentar, sebentar!” Gunadi yang tadinya berlari paling depan berhenti. ”Ada apa sih Gun?” tanya Aceng dan Su’eb dengan air muka tipikal ’gue-harap-ini-lebih-penting-dari- digantung-kumpeni’. ”Sekarang pikir aja,” Gunadi mulai lagi dengan penyakitnya yang terlalu banyak analisis. ”Barusan orang denger tembakan. Sekarang ada 4 orang berpakaian kumel semua lari-lari bawa senjata. Apa gak entar semua orang curiga.” ”Jadi kita orang ngapain dong?” tanya Aceng. ”Oh Pak! Pak! Saya tahu. Kita jogging aja!” ujar Rustam penuh aspirasi. Sebagai awak baru, dia selalu ingin sumbang ide untuk diterima dan diakui. ”Apaan tuh jogging?” ”Saya liat orang Inggris di Malaka sering melakukannya pagi-pagi. Seperti ini..” jelasnya berdemonstrasi. Gunadi tidak mendapati jogging setelah membunuh orang sebagai sebuah konsep yang menjual dan mereka memutuskan untuk segera menjemput 4 awak lain di Pasar Baroe. Tujuh Bulan Sebelumnya Gunadi pernah membaca surat kabar Batavia bahwa seorang arkeolog Belanda bernama Olivier van Gaal berhasil menemukan sebuah medallion tua dari sebuah ekskavasi beberapa kilometer lepas kota Buitenzorg[3]. Diberitakan dalam surat kabar itu bahwa medali ini berbahasa sansekerta dan ditemukan dalam reruntuhan kerajaan yang hilang. Kerajaan dari Prabu Siliwangi. Gunadi bukan sebuah mahluk yang terlalu intelek dan dia memang menemukan berita ini dari surat kabar yang telah menjadi kertas pisang goreng yang seorang awaknya beli ketika terakhir kali mereka ke Batavia. Meski begitu, barang yang Van Gaal temukan memang telah dia ketahui dan cari bertahun-tahun. Dia dan 14 nenek moyangnya ke atas. Barang pusaka tersebut penting bagi dia dan nenek moyangnya karena mereka adalah keturunan dari abdi kerajaan Prabu Siliwangi. Dan bahwa salah satu nenek moyang Gunadi, menghilangkan medali tersebut. Dan bahwa Medali itu sebenarnya adalah kunci dari harta karun sang Prabu. Lima Hari Sebelumnya Gunadi berlabuh di Soenda Kelapa dan membayar 10 gulden untuk biaya labuh kepada Sjahbandar. Sang Sjahbandar, seorang turunan Pakistan-Melayu dengan warisan bulu yang tidak normal itu[4] tampak tidak percaya ketika Gunadi mengaku sebagai pengusaha batik dari Banjarmasin, dengan beberapa alasan yang cukup fundamental. Pertama, Banjarmasin tidak memproduksi kain Jawa. Kedua, sejak kapan ada orang beraksen Garut menjadi pengusaha kain Jawa? Ketiga, sebagai pengusaha batik, Gunadi dan awak tampak terlalu banyak bekas luka tembak dan bacok dan membawa golok. Setelah Sjahbandar disuap, semua pertanyaan menguap.Gunadi segera mengalami kesulitan meng-koordinasi anak buah karena setelah berbulan-bulan merompak dan membunuh di selat Malaka, tidak ada yang mereka lebih inginkan dari makan gulali dan es lilin sambil menonton Barongsai di Glodok atau menonton Kumpeni bernyanyi aneh dalam celana ketat di Opera Huis dekat Rijswijk. Setelah 5 hari berada di Batavia, Gunadi dan awak berhasil menemukan di mana meneer Van Gaal dan semua perilakunya. Meneer Van Gaal adalah seorang duda tua berumur 50 tahun. Seorang pemuda Belanda tampak tinggal bersama beliau. Hari ini pemuda tersebut pergi ke Pasar Baroe. Gunadi menitah 4 orang awaknya untuk menguntit pria tersebut sementara dia dan 3 awak lain pergi ke rumah meneer. Rencana mencari medali itu berjalan dengan baik dengan satu cacat. Sebelum van Gaal dapat memberi tahu mereka, van Gaal mati ditembak. Oleh mereka. -- Di Pasar Baroe Keempat perompak yang lain itu adalah Daeng, Surendro, Gumelar dan Jamil. Daeng adalah seorang Bugis yang menjadi tangan kanan Gunadi. Surendro dan Gumelar adalah awak lama dari Nganjuk dan Banten. Surendro adalah bujangan sepi impian yang memiliki persepsi bahwa inti dari kehidupan manusia di dunia ini adalah fornikasi dengan lawan jenis. Gumelar, adalah seorang yang sedang belajar debus. Jamil adalah orang Riau yang baru mereka rekrut 1 bulan yang lalu bersama dengan Rustam dari Tumasik[5]. Pria Belanda itu memanggil dokar, sebuah kendaraan cukup mahal. Daeng dan awak segera memanggil riksaw. Abang riksaw menolak dengan alasan curiga karena penampilan mereka tidak cukup kredibel untuk membayar dan juga bahwa mereka berempat. ”Coba ya! EMPAT! Mau mati apa gue?” namun pada akhirnya dia mau. Sesampainya di Pasar Baroe, sang abang riksaw pingsan dengan sukses. Daeng menjelaskan pada ketiga temannya bahwa di kampung asalnya, tidak baik membangunkan orang pingsan. Untuk itu mereka tidak berani membayar dan meninggalkan sang abang di pinggir jalan. Pasar Baroe dengan hustle and bustlenya adalah salah satu dari banyak pasar yang menjadi pusat ekonomi Batavia. Konsumsi rumah tangga Batavia disokong oleh keberadaan Pasar Baroe, Pasar Ikan di Sunda Kelapa, Pasar Senen dan yang paling baru, pasar Tanah Abang[6]. Mereka menguntit sang belanda muda dan mengintip aktivitasnya secara tidak perlu karena pasar memang sibuk. ”Waduh! dia beli ayam!” ujar Surendro. ”Bukankah itu wajar?” tanya Daeng. ”Ndak jika sampeyan Londo...” Jamil turut masuk dalam percakapan minim kecerdasan ini. ”Gitu ya Mas...emangnya orang Belanda...makannya apa Mas?” Gumelar tidak berkata apa-apa namun dia mulai teriritasi dengan Jamil yang selalu bertanya orang apa makan apa. Pria Belanda itu kemudian membeli daging kambing setengah ekor, rempah-rempah dan 5 ekor ayam hidup yang disambung teori konspirasi aliran sesat oleh para awak. Jamil juga bertanya orang dalam sekte aliran sesat makan apa. Setelah menemukan bahwa ini semua membosankan, ketiganya memutuskan untuk berjalan-jalan di Pasar Baroe dan hanya Surendro yang menguntit. Daeng dan Gumelar berjalan-jalan mencari kain kashmir India namun gagal bernegosiasi dengan saudagar India dengan kondisi bulu yang mengerikan. Jamil bertanya orang India makan apa dan keduanya memutuskan untuk tidak menjawab. Setelah itu mereka membeli bak pao, ketoprak dan dengan sabar mengantri untuk foto. Sebuah teknologi baru yang mampu mengambil gambar dari objek nyata, seharga 12 gulden. Gumelar bertanya kepada pemilik toko apakah dia bisa difoto dengan seorang wanita belanda dengan pakaian dalam namun sang pemilik toko mengatakan bahwa dia hanya memiliki pembantu dari Wonosobo. -- Gunadi, Su’eb, Aceng dan Rustam menyewa riksaw dari Rijswijk sampai Pasar Baroe dan sesampainya di sana abang cina penarik riksaw itu pingsan di samping abang cina yang lain. ”Aneh ya, banyak orang pingsan hari ini?” tanya Aceng, retoris. Gunadi menyematkan 1 gulden di kantong abang pingsan itu. Gunadi memiliki prinsip yang kontradiktif di mana bekerja merampok orang bukan berarti gak perlu bayar karena dia merampok untuk bisa bayar-bayar[7]. Kelompok Gunadi dan Daeng bertemu di tengah pasar. ”Gimana?” tanya Daeng. ”Meneer itu meninggal terbunuh.” ”Bagus lah. Sama siapa?” ”Kita.” ”Oh, tapi yang penting medalinya dapat kan?” ”Itu lah. Dia ditembak si kutil inih sebelum kita bisa buat dia ngaku.” Semua melihat Rustam dengan tidak bersahabat. ”Di kampung saya ya...” tegas Daeng. ”Ya ya, di kampung sayah juga gituh.” ”A...a...” ”Sudahlah.” ”Rumahnya tapi udah dicari Gun?” tanya Daeng. ”Udah atuh. Sayah cari sampe jongkok. Gimana si kumpeni yang muda ituh? Ngapain ajah dia? Dan siapa dia?” Jamil turut dalam percakapan ini ”Mungkin meneer tua itu menyenangi percintaan sesama jenis. Meneer muda ini hidup dibawah kuasa sang meneer tua untuk memuaskan nafsu liarnya dan tiap hari harus ke pasar membeli ramuan aneh yang membuat mereka bercinta sapanjang malam, Pak.” ”...” ”...” ”...” ”Atau mungkin mereka sodaraan.” tukas Gunadi. ”Ya itu juga mungkin.” Menit-menit berikutnya mereka menyusun rencana dengan semua sedikit menjauh dari Jamil. Gunadi berkesimpulan bahwa mereka harus menculik pria muda ini karena dia mungkin satu-satunya yang tahu di mana medali ini disimpan. Masalahnya, apakah mereka mampu mengeksekusi sebuah rencana penculikan di tempat umum dalam kota berpopulasi 500 ribu orang, di siang hari bolong, 3 kilometer dari kapal dan dalam kota dengan 3 benteng penuh bedil kumpeni. Menculik Sang Meneer Sebuah rencana tersusun. "Nah, jadi gini." Gunadi menuturkan analisis tingkat tinggi dengan intelejensia tingkat rendah. "Orang dengan belanjaan sebanyak itu hanya mungkin kembali pulang dengan minimal dokar, atau riksaw dengan abang yang sebesar badak. Mengingat tidak ada orang sebesar itu, dia pasti make dokar!" "..." "..." "Terus?" "Ya sekarang ke pojok dokar!" Mereka berdelapan segera menuju pojok dokar di luar pasar. Gumelar langsung merebut dokar ”PAK! KAMI PERLU DOKAR INI!” ”Muke lu jidat!” -PLAK!- Mereka berdelapan meminta maaf dan memutuskan menunggu si belanda di pinggir jalan. ”Serasa gak punya harga diri ih!” gerutu Aceng yang menunggu di bawah pohon jambu. Tak lama kemudian, meneer muda itu benar naik dokar. ”Nah ini rencananya.” sigap Gunadi, lagi. ”Kamuh Ndro, kamu cegah dokar itu di tengah jalan. Dokar akan brenti dan kita bertujuh akan naik dokar, menyerang si londo, menendang abang dokar keluar dan setelah membayarnya 2 gulden, kita larikan dokar itu secepatnya ke pelabuhan.” susunnya, dengan detil. Mereka mengangguk. Semua siap aksi. Dokar lewat dan Surendro dengan sigap melompat ke tengah jalan ”BERHENTI!!” Dengan suksesnya, Surendro ditendang kuda dan sang dokar tetap berlalu. ”Kamuh gak papa Sur?” ”Ohhh..” ”KEJARRR!” Mereka berdelapan mengejar sang dokar dan mereka berhasil hinggap ke dalamnya. SUKSES! Pikir Gunadi, meski mereka harus hinggap dengan beberapa posisi yang tabu secara seksual di beberapa negara. Hanya Jamil yang tampak menikmati. Sekarang tinggal melarikan dokar ini ke pelabuhan. Dan dokar berhenti. Terlalu berat. Ada satu detik yang canggung ketika mereka menatap abang dokar yang ternyata menyemat golok sebesar lonceng dan kumis sebesar golok. Needless to say, mereka ciut. ”Permisi Bang, aye mo nyulik anak orang.” ”GRRR..” ”Aye bayar ya bang. 4 gulden. Ampe pelabuhan ya Bang” pinta Gunadi dengan sopan. Setelah dokar berjalan, barulah sang meneer muda panik. Dia tadi berharap dari kebaikan hati abang dokar untuk menendang 8 orang ini keluar namun itu tidak terjadi. ”KOWE! SIAPA KOWE! LEPASKAN IK! LEPASKAN!” teriaknya ketika mereka berdelapan berusaha mengikat sang belanda. Penculikan pun menjadi aneh karena menjadi tontonan orang banyak dan berjalan lambat. Akhirnya 5 orang turun dari dokar untuk menyerang dokar lain. Rencana dirubah menjadi menyewanya setelah abang dokar yang baru ini juga berkumis golok. ”Kita ini perompak. Perompak! Harusnya orang yang takut sama kita!” gerutu Gumelar pada 4 orang lain di dokar kedua. Mereka melihat Gunadi dengan susah payah mengikat dan mengarungkan kepala pria muda itu. Kedua dokar berjalan secepatnya menyusuri jalan yang sejajar dengan sungai Ciliwung dengan melewati beberapa pos jaga kumpeni. ”KOWE! STOP KOWE!” seru beberapa kumpeni. Mereka menembaki kedua dokar itu yang dibalas Gunadi dengan melempar daun sawi, daun bawang dan ayam hidup, sebelum dia teringat bahwa dari tadi dia memang membawa senjata. Kedua dokar itu dengan cepat memasuki daerah Pasar Ikan, melewati menara Sjahbandar dan tidak masuk kapal. Mereka berhenti di sebuah gudang pala dekat menara dan berjongkok di antara karung. Susana pasar ikan menjadi ramai dengan datangnya kumpeni. Mereka duduk terdiam di gudang itu. Sampai para kumpeni lewat. Setelah situasi aman, mereka berjalan menuju pier dari phinisi mereka dan segera siapkan layar. Mereka sedang memundurkan kapal ketika Gunadi akhirnya membuka karung dari kepala sang belanda muda itu. ”Di mana Ik?” ”Di kapal.” ”Kapal apa?” ”Nama kamuh siapa?” ”Douwes-Dekker. Eduard Douwes-Dekker.” ___________________________________________________________________ [1] Berdasarkan riset yang sama sekali tidak dapat diandalkan, kalo gak salah, Rijswijk itu di daerah jalan medan merdeka utara sekarang. [2] Orang pribumi sering menyamaratakan orang asing dengan sebutan kumpeni. Kata “Kumpeni” yang mereka kenal erat bermula dari 20 Maret 1602 ketika V.O.C pertama kali dibentuk. Orang Belanda di saat itu jarang memperkenalkan diri sebagai orang Belanda. Mereka memperkenalkan diri sebagai sebuah perusahaan bernama Verenidge Oost-Indische Compagnie (VOC). Compagnie -> Kumpeni. Yang banyak anak muda sekarang tidak tahu adalah bahwa dari 1600 sampai 1800 kita tidak dijajah oleh sebuah pemerintah negara*. Kita dijajah oleh sebuah perusahaan. Dari 1800, VOC bangkrut oleh korupsi dan kerajaan Belanda memutuskan mengambil alih otoritas di Indonesia. Karakteristik kolonialisasi oleh sebuah pemerintah adalah bahwa pemerintah kolonial cenderung memiliki keinginan untuk membuat koloninya maju (Inggris terhadap India, Singapur dan Malaysia). Sekolah, gereja, dan lainnya. Kolonialisasi oleh sebuah perusahaan (VOC terhadap Indonesia) cenderung hanya sebatas mengambil keuntungan. Itu salah satu sebab mengapa Indnesia kalah maju dari bekas jajahan lain. [3] Buitenzorg (Belanda) = Bogor (Indonesia). Didirikan oleh Governor Generaal Van Imhoff di 17 Februari 1745. [4] Now that’s a lot of unnecessary description right there. [5] Tumasik = Singapur. Berdasarkan, again, riset yang sangat asal (the kind of research you do on the net, flipping history pages with free porn) Singapore didirikan Sir Thomas Raffles di 19 Januari 1819. [6] Kota Batavia sejak abad 16 berkembang dari Utara ke Selatan. Itu sebabnya semakin ke selatan, umur bangunan dan tempat semakin muda dan bangunan-bangunan tua paling selatan di Jakarta hanya terlihat di Menteng. Itu karena Batas Kota Batavia waktu itu memang hanya sampai Menteng yang merupakan daerah perumahan mewah, bahkan sampai sekarang. [7] Loh? Labels: books
New Book - Quarter Life Fear Sketches:Bagi Belinda, ulang tahun itu mengerikan. Apalagi ulang tahunnya yang ke-25. Di saat orang lain merasa sukses dengan pekerjaan yang menjanjikan, memiliki pasangan, punya tujuan hidup yang jelas, Belinda malah merasa tidak punya apa-apa. Singkatnya, a loser. Tapi saat Jay, mantan kekasihnya, kembali dalam kehidupan Belinda, Belinda belajar bahwa ia harus berani menghadapi dunia-termasuk semua ketakutannya. --- Hwiyaaaa....Donna menulis buku!!!! Nama pengarang dari novel ini adalah Pimadonna Angela, istri dari Isman Suryaman, pengarang buku self-help (is it what they call it man?) 'Bertanya Atau Mati!'. Dua-duanya temen baik kita (gue dan Ninit). And this woman is to be taken very, very seriously. Tulisannya tajam. Artikelnya udah lumayan banyak. Blognya udah lama. This is not the kind of book that came out of nowhere. Anyhoo, you guys must read the book (and by that, I mean buying it first, ya?). Buku Dona masuk label 'Metro Pop'-nya GPU yang kalo gue liat, berniat dan berhasil menjadi saingan solid dari label 'Pop Culture'-nya Gagas Media. But let our publishers worry about that karena for my part, I'm thrilled we have more and more excellent writers. Regenerasi sastrawan dalam dunia sastra udah jalan lagi. Which is good. So here's to Dona... CONGRATS! Ngiring Bingah pisan! Visit her own blog at: http://vervain.blogspot.com Bagi yang ingin jpg dan kutipan bab satunya, email gue! --- Blurbs: "Tanyakanlah pada seorang juru dongeng tentang kecantikan. Maka akan berceritalah ia tentang rambut terurai panjang, badan tinggi semampai, kulit langsat dan tentu saja wajah yang cantik. Lalu coba tanyakan padanya tentang "ketidak-cantikan". Si juru dongeng akan terdiam, sebab sesuatu yang tidak cantik rupanya tak memberinya inspirasi bagi lahirnya sebuah dongeng. Namun juru dongeng ini pastilah bukan Primadonna Angela. Sebab penulis satu ini justru berangkat dari isyu ketidak-cantikan, yang terbukti bisa melahirkan novel "Quarter Life Fear". Bukan dongeng yang ber-setting istana megah, memang, melainkan "istana kecil" yang ada di keseharian seorang Belinda. Keseharian kita juga, tentunya." Jujur Prananto, scriptwriter, Jakarta, Indonesia "Buy her book, she's really cute." Michael Petrosino, musician/self-proclaimed sex idol, Brooklyn, NY, USA "Addictively enchanting. I want her mom!" Alexander Christian, Not-your-average-chicklit reader, Bogor-Jakarta, Indonesia ".quite interesting! Terutama karakter mama yang sangat dramatis dan kemungkinan besar adalah personifikasi diri mbak Donna di masa yang akan datang (hahaha)." Lucky Palupi, Researcher, Jakarta, Indonesia "Ringan dan gampang dicerna, seperti baca komik bergambar. Penyampaian cerita sangat lucu lengkap dengan pernak pernik pendukung, apalagi soal makanan, buat jadi lapar. Btw, nampannya pasti besar banget." Nengti Arda Rasjid-Borkhataria, Homemaker and Mom-to-be, Den Haag, Holland "Beautiful. Didukung dengan plot twist yang memukau, QLF menjadi bacaan yang ringan tetapi penuh dengan permainan 'perasaan'. QLF ini sangat menghibur dan mampu menjejali pembacanya dengan ide-ide brilian yang dapat diterapkan -instant- dalam kehidupan sehari-hari." Andi 'Julian' Saptono, , Internet Usability Expert (Pakar Kebergunaan Internet), Pittsburgh, USA "Baca karya Donna seperti pijat refleksi. Biar alis berkerut dan bibir monyong saat bagian yang memijat emosi, gak mau berhenti. Setelah buku ditutup dan ditaruh pun, perasaan ringannya terus terbawa. Jarang-jarang saya baca novel pop yang memiliki struktur tiga babak dan timing komedi yang pas. Kalau dijadikan film, siapapun yang jadi penulis skrip bisa leha-leha." isman hidayat suryaman, penulis buku humor "Bertanya atau Mati!" "Here we are following the journey of Belinda, entertained by addictive, funny and witty writing that captures the reality of many women during their soul searching days...Lucky Belinda, she found the Power within herself...There is something to say about a book that makes you read during work hours...;)" Alissa Jean Tuschall, Human Resources, Palo Alto, California, USA "Refreshingly witty and so easy to read ." Jessy Dewi Sweeney, Homemaker, Port Coquitlam, British Columbia, Canada "Sungguh menarik untuk dibaca oleh seorang wanita yang berusia jauh di atas usia Belinda. Cerita ini membawa kita pada kenangan jaman muda, dimana pikiran Belinda yang nakal dan spontan seakan menterjemahkan pikiran kita. Hal yang patut dicatat adalah dibalik ketidaksetujuannya kepada perlakuan ibunya, hubungan antara Belinda dan ibunya sangat menggambarkan kasih sayang yang mendalam di antara keduanya. Membangkitkan keingin tahuan kita untuk cepat-cepat mengetahui akhir ceritanya, sehingga tidak ingin berhenti sebelum cerita berakhir. Sukses untuk penulis berbakat ini." Etty Sambodo, Ibu dari 3 remaja & guru Bahasa Inggris dan Komputer, Depok-Jakarta, Indonesia "Saya ikut menangis, tertawa, gundah dan kuat bersama Belinda. Penulis benar-benar membawa saya ke dalam kamar Belinda, ke dunianya dan bertemu semua tokoh dalam buku ini. Ending-nya mengejutkan.Sebagai seorang ibu, saya ingin bisa seperti mamanya Belinda. Si kembar adik perempuan saya yang baru mulai kuliah harus membaca buku ini." Yureana Wijayanti, Dosen, Yogyakarta, Indonesia Rgds Ada yang nyusul? Labels: books
Book Promo SAMSARA - Putu Fajar Arcana
Bagi mereka yang suka yang berat-berat. Putu menghadirkan kumpulan cerpen yang isinya ternyata.....sebuah kumpulan cerpen!! heheheh, gak ngasih nilai tambah banget ya gue? Ah bodo. Rgds. Labels: books
Congrats Ucapan Selamat Wah, bulan April ini memang penuh berkah bagi banyak orang ya. Orang-orang yang gue tau di dunia media di Indonesia lagi pada seneng semua. Happy for you guys. 1. Untuk Ninit Selamat ya untuk KPG cetakan 7-nya. Never have I met someone who makes me proud on daily basis. 2. Untuk Miranda Sihir Cinta akan dijadikan film. Keren banget. Estimated time of releasenya masih lama sih, tapi ikutan seneng aja gue. 3. Untuk Enda + Nita Selamat atas kelahiran Gala Andara Nasution-nya. Alhamdulillah ibu dan anak keduanya sehat dan selamat. Ikut seneng ya Nda. 4. Untuk Joko Anwar Well, he never read this blog but I'm a fan of his work anyway. Have been hearing nothing but rave reviews on Janji Joni. Congrats Jok! 5. Untuk Raditya Selamat atas buku 'Kambing Jantan'- nya. 6. Untuk Nisha Rachmanti Selamat atas release buku chicklit keduanya 'Beauty Case'. Semoga kembali menjadi best-seller. 7. Untuk Stereofoam Yang baru aja rilis EP ke empatnya yg berjudul "Good Friend EP". Baru minggu lalu mereka terpilih jadi The Rocketeer For The Week di Hardrock FM. EPnya bisa ditemukan di distro2 ternama Jakarta dan Bandung, dan soon.. Surabaya juga. --- Orang-orang Indonesia udah mulai kreatif semua. Berprestasi pula. Alhamdulillah kita udah mulai jadi tuan di rumah sendiri. Rgds. Labels: books
Book Promo Si Kambing Menulis Buku ![]() Dari Buku ke Blog Semua pasti tau ya Raditya Dika (www.kambingjantan.com). Safe to say adalah salah satu celeblog indo. Well, sekarang giliran dia nerbitin buku. Bukan fiksi, tapi non-fiksi. Buku ini adalah asli plek-plekan dari blognya yang mana bagi gue merupakan prestasi sendiri. Soalnya gue liat gini. Kebanyakan blog itu bersifat personal. Meski bisa dan layak dikonsumsi publik, tetap sifatnya personal. Itu yang membuat blog sulit berubah menjadi buku. Karena nilai 'personal' yang tinggi, menghambat nilai 'komersialitas'-nya. Setidaknya ini pandangan gue yang nulis blog dulu dan baru nulis buku. Kenapa nilai personal dan nilai komersialitas berlawanan? Gue berpegang ini, dengan berangkat dari pengalaman pribadi. Salah satu penerbit yang pernah nolak Jomblo bilang ke gue gini: 'Apa yang ngebuat kamu ngerasa bahwa kisah hidup kamu layak baca dan layak beli dan lebih seru dari orang lain? Orang lain aja bisa kok ngomong 'ah kisah hidup gue lebih lucu kok dari apa yang ditulis.' Nyebelin as it may sound, gue setuju banget dan terima kasih banget ke dia. Atas dasar itu gue nulis fiksi. 2 tahun kemudian ada seseorang yang minta kritik ke gue atas draftnya, dia bilang atas pengalaman pribadi. Setelah gue baca gue kembali ke dia dengan 1 kalimat. 'Don't be honest. Be creative.' Tapi memang gak semua blog terlalu personal. Ada yang memang sengaja dari awal tidak cerita didi tapi cerita apaaaaa. Isman contohnya, gak pernah cerita diri dia di blognya tapi selalu come up with funny things which is great. On the other extremme, ada juga yang cerita makan apa tadi siang, which is okay too, karena isi blog memang urusan masing-masing yang kita harus hargai dan respek dan gak usah deh kita komentarin baik-buruknya. Keep it to ourselves. Atas dasar itulah gue bilang bahwa ini adalah prestasi tersendiri. Radit terlihat mau dan bisa menjual isi blognya mentah-mentah. Yang mana nunjukkin memang kehidupannya udah lucu dari awal. Tambahan lagi anak ini memang pinter. So, congrats buat Radit. Setelah, gue, Isman, Ninit dan Vierna...makin banyak aja blogger yang masuk serius ke dunia tulis menulis secara komersil. Congrat dan semoga (banyak dari blogger) yang lain nyusul. Oh ya, bagi yang gak tau seberapa santernya Radit dalam dunia blog indonesia, dia itu pemenang 'Funniest Indonesian Blog 2003', salip2an sama 'Doddy Nasi Goreng Kambing' (ada apa sih dengan blog lucu dan kambing, nih?) Februari Roy Suryo pernah bilang bahwa Blog itu hanya trend, which created a massive response dari bapak blog indonesia kita bahwa Roy salah. Blog is here to stay. Gue sependapat. Blog adalah alat bagi mereka yang ingin menulis buku, untuk menajamkan teknik menulisnya. Kebukti udah mulai banyak yang akhirnya menggigihkan diri menulis buku (I know some more people, but it's a secret). Tapi again, semua orang kan bikin blog dengan maksud yang beda-beda, so terserah kalian. Komentar Artis “Raditya Dika has taken you to his little journey of stupidity… Ridiculous, but unexpectexdly smart in a very hilarious way… He defines a new term of being funny… Kambingjantan is simply a unique refreshing read.” (Ririn, pemain sinetron AADC) “Buku ini, biarpun judulnya seperti buku tentang ternak, namun isinya justru memberikan saya lebih banyak pandangan tentang dunia anak muda Indonesia saat ini. Langsung, dari mata Raditya Dika yang diceritakan dengan sangat kocak!” (Sophie Navita, artis) “Seger! Membaca buku Kambingjantan ini seperti minum larutan penyegar, mandi di pancuran, terus nyebur di kolam ikan sambil minum jus jeruk.. Pokoknya seger!” (Ricky Jo, penyanyi) “Kambingjantan! Sebuah cerita tentang kepolosan Raditya Dika, yang justru mendatangkan ‘malapetaka’ bagi dirinya sendiri, yang malah menghibur diri kita dengan membaca bagaimana si Radith menghadapi ‘malapetaka’ itu dengan cara yang mengocok perut.” (Iang Project P, artis) “Beberapa kisah di buku ini, memperlihatkan kehidupan pelajar Indonesia yang kuliah di Australia. Lumayan, membuat kita-kita yang berencana kuliah ke sana jadi semakin tertarik… ditambah ketawa pula!” (Denny Cagur, komedian) “Buku non-fiksi paling gokil yang pernah gue baca.” (Wendi Cagur, komedian) “Gantinya minuman dingin. Benar-benar menyegarkan!” (Denny Project P, komedian) “Gila! Gimana Raditya Dika ngasi liat pandangannya tentang dunia anak muda yang dijalaninya bener-bener ngebuat gue ketawa. Jangan tertipu dengan judulnya, ini bukan buku tentang kambing lho! “ (Narji Cagur, komedian) “Kenaifan Raditya Dika dalam menghadapi berbagai macam ‘kesialan’ justru mendatangkan tawa sendiri bagi yang membaca. Mungkin, bisa dibilang dia beruntung dalam menghadapi ‘kesialan’.” (Olivia Zalianty, bintang sinetron) “Sebuah catatan harian yang begitu jujur. Boyish, nakal, dan menarik. Saya selalu tidak sabar membuka halaman selanjutnya; apa lagi yang akan si kambing ini lakukan?” (Andien, penyanyi) "Kocak, menghibur, bikin sirik (jd pengen kuliah di luar negeri) Wah, salut deh pokoknya buat Dika. Bisa menjadikan sesuatu (catatan harian loe yg dodol itu) lebih bermanfaat dan yg penting, bisa menghasilkan uang! Hehe..yang paling penting siy sebetulnya tulis-menulisnya itu. Jarang-jarang gue menemukan cowok yang rajin melapor kegiatannya sehari-hari pada sebuah tulisan. Teruslah berkarya! Buatlah orang-orang yang pergi ke toko buku, suatu saat nanti meneriakan : "Tiada kesan tanpa kehadiran (buku)mu..." (Intan Nuraini, bintang sinetron) Tentang Kambingjantan Kambingjantan adalah kumpulan cerita-cerita sehari-hari yang konyol dan unik dari kehidupan Raditya Dika (Radith), mahasiswa hasil peranakan orang batak dengan mesin jahit. Format yang ditampilkan adalah dengan format diary, karena buku ini adalah kumpulan dari diary dia yang diterbitkan di internet (blog). Semua kisah didalamnya merupakan kisah nyata dari tahun 2002 – 2004. Kambingjantan adalah cerita tentang sebuah proses seorang remaja, dari dia kelas 3 SMU, pergi ke luar negeri, kuliah, hingga magang. Semua proses dan hubungannya dengan keluarga, teman, dan pacar diceritakan dengan lugas dan lucu. Hal-hal yang sangat berhubungan dengan remaja jaman sekarang, seperti sering bingung, tidak percaya diri, serta polos yang berbuntut pada kisah yang lucu juga didapatkan pada buku ini. Cerita-cerita didalamnya menjadi lebih baik untuk dibaca karena semuanya adalah kisah nyata dari seorang remaja Indonesia biasa. Labels: books
Book Promo An Impressive Piece of Work ![]() "Siap-siap untuk tersihir dengan pesona cerita cinta Miranda ini. Menurut penglihatan bola kristal saya, cerita ini punya daya tarik yang tinggi. Lancar, imajinatif dan renyah. Saya ramalkan Miranda memiliki masa depan penulisan yang cerah dan orang-orang akan 'jatuh cinta' padanya." FIRA BASUKI "Mia tidak menjual mimpi. Alur dia tulis dengan ringan membawa pembaca dari halaman ke halaman dengan kilatan ramalan sang tokoh utama. Mia juga berhasil meng-capture dengan akurat gaya hidup mahasiswa kota Jogjakarta dari sisi yang tidak glamor." ADHITYA MULYA please visit Miranda's blog for more How Good Is It? An excellent job, well done. I can safely say bahwa Miranda adalah salah satu penulis fiksi terbaik today and I can also say this book will be Indonesian blockbuster 2005 (tapi masih tergantung marketingnya sih). Isi cerita memang terbatas dalam segi cinta namun teknik penyampaian dan bakat menulis Miranda membuat karya bertopik cinta ini, menjadi maksimal. Gue suka cara dia memilah plot dan mereveal dengan timing yang tepat. Ini adalah karya tulis kedua Miranda, namun karya pertama sebagai novel. Buku pertamanya adlah adapatasi dari sebuah sinetron kalo gak salah. Gue sangat rekomen pada mereka yang sedang mencoba menulis, untuk membuat buku ini menjadi panutan. Gue cuman berharap agar revisi2 minor yang gue rekomen ke dia dieksekusi sebelum naik cetak kemarin. Tapi kalo nggak pun gak papa. How good is she? Reputasinya gak diragukan lagi. 1. Dia adalah editor dari buku 'kok Putusin Gue?'-nya Ninit. Miranda dan Ninit tidak pernah bertemu namun semua eksekusi editorial terjalankan dengan rapi. 2. Dia mendapat dukungan dan rekomendasi dari Ayu Utami ke Gagas media. Menurut editor gue, Ayu Utami itu jarang banget rekomendasiin orang, so when she did, she really meant it. 3. Setelah itu Miranda datang ke gue dan Mbak Fira untuk minta paperback comment dan apa yang Ayu Utami pernah bilang, bener-bener gak salah. We were both separately impressed. Gue dan Mbak Fira gak pernah ngomongan ttg Miranda tapi ternyata reaksi Mbak Fira tercermin banget dari komentarnya. kalian bisa lihat seorang penulis sekaliber Fira bisa sampe ngomong kek gitu dan gue sendiri sampe nulis blog promo ini. 4. As for myself, gue gak akan komen ttg ceritanya krn mutu cerita subjektif ya di mata orang2. Namun gue bisa bilang, cara dia nulis, enak dibaca. Yang terakhir....covernya nendang. A gypsy casting a love spell. That's brilliant and very relevant to the book. Siapa sih yang bikin? Prediksi gue: 1. tanpa marketing yang baik, buku ini masih akan menjual di Area jawa karena setting tempat ada di Jogjakarta. 2. Dengan marketing yang baik, buku ini bisa juga menjual di Jakarta. Gue harap Miranda punya strategi yang baik. Congrats Miranda, atas karya kedua ini. Rgds. Labels: books
trailer kok putusin gue Another Trailer.... from 'KOK PUTUSIN GUE?' ![]() ”Uh hari gini baru nonton Troy,” keluh Maya dalam hati. Demi menjalankan misi balas dendam, ia rela menonton Troy untuk yang kelima kali-nya. Setelah Hari dan Si Nenek Sihir hilang dari pandangan, Maya bergegas menuju loket 2. ”Siang Mbak, saya minta satu tiket dan duduk nggak jauh dari orang yang baru pergi tadi,” ujarnya sambil mengeluarkan dompet. ”Ada alasan yang spesifik kenapa Mbak ingin duduk dekat orang yang banyak bulunya?” tanya si Mbak Loket heran. ”Oh... bukan yang itu... " available at bookstores now... UPDATE - 14 FEB 2005 - PROMO CERPEN Kemaren diajak majalah KawanKu untuk bikin sebuah cerpen. Ceritanya cerpen ini akan dimuat dalam sebuah booklet dalam majalah KawanKu edisi Valentine. Booklet itu isinya 3 cerpen. Monti Tiwa, Nisha Rahmanti dan gue. Udah pada beli belum? Kalo belum, ini trailernya. Beli ya guys!! Ini salah satu karya gue yang bahkan gue sendiri bisa bilang, lucu. start trailer - Judul - DIMSUM Dimsum Hai. Nama gue Ule dan gue adalah pacar paling sial di dunia. Pacar gue yang bernama Guti…uhmm, let me re-phrase that. Pacar gue, yang bernama Guti, tergila-gila dengan seorang bintang film Indonesia bernama Dimas Sumitro. Seorang bintang muda Indonesia yang gemilang. Akting dalam semua film layar lebarnya memang sih gue akui, jago. I tell you, gak ada yang lebih bikin minder dari pada seorang pacar yang tergila-gila sama orang yang lebih terkenal, 160 kali lebih kaya dan kurang lebih, 2 juta kali lebih ganteng di umur yang sama dengan gue. .... Anyway, where was I? oh yes, on the way to to my TU. Sampai di sana gue meminta agar gue dapat berbicara langsung dengan pegawai TU, maksud gue agar lebih sopan. Pegawai TU di seberang bernama Mbak Pipit, seorang wanita yang telah lewat masa mbak-mbaknya namun masih berstatus ‘mbak’. “Siang Mbak Pipit. Nama saya Ule. Rulli Prasetya. Boleh saya tahu nomor telfon Dimas Sumitro?” “Ada alasan khusus kenapa mas ingin tau nomor telfon mas-mas lain?” “Oh sori. Jadi gini Mbak. Saya ingin mengatur sebuah kencan di hari valentine dengan Dimas Sumitro.” “Uhmmm setahu saya dia bukan gay loh mas, maaf loh…” “Oh bukan Mbak. Bukan dengan saya. Dengan pacar saya.” “SAKIT!” -Klik- “Loh? Loh? LOHH!!” Akhirnya gue coba telfon lagi dan berusaha menjelaskan kepada Mbak Pipit sebaik mungkin. Mbak Pipit akhirnya kembali tenang. “Tapi saya gak tau mas nomor HP-nya, Kalo pun tau, ngapain saya ngasih tau Mas?” “Hhh…..Tapi dia ada di sana? Kuliah gak?” “Kuliah Mas. Saya yakin. Soalnya tadi dia baru saja masuk ke dalam kantor ini dengan rambut coklatnya. Dia menatap saya dengan tatapan dingin gagah yang memperlihatkan bahu bidang dibalut kemeja John Curtis biru. Tato di lengan kokohnya terlihat ketika dia menyerahkan buku absen dosen sambil berkata penuh chemistry pada saya ‘Ini mbak….’ Hhh hhh hhh..” “SAKIT!” -Klik- Labels: books
Book Promo NYU BUK
No, that's not the underpaid korean immigrant who works in the company. NEW BOOK!!! from another blogger, Vierna. ![]() Bisa dibilang bahwa Vierna udah lama jadi celeblog. I think she's been blogging way before me. She used to make sketches in writing here and finally turned it into a book. Gak tau apakah dia memang menargetkan ini dari awal untuk jadi buku atau akhirnya berniat di tengah jalan untuk menjadikannya buku. Either way her hard work paid off. Buku ini diterbitkan oleh Terrant Books. Terrant gue liat memang sedikit sama dengah Gagas Media di mana mereka mencari penulis muda untuk target reader muda juga. Di dalam Terrant Books kalian juga akan liat hasil karya Monty Tiwa. Penulis sukses banget yang sempet ikutan nulis skenario dari "Biarkan Bintang Menari". Tau 'Eiffel I'm In Love'? Ini juga Terrants.
Congrats untuk Vierna atas bukunya. Buku ini sudah beredar di Jakarta dan Bandung sejak minggu lalu. Ini ada teasernya di bawah.
-- Start Teaser: "Dia terlihat hanya seperti cewek-cewek pada umumnya, tapi ketika seseorang menatap wajah manisnya, orang itu akan berlama-lama melihatnya dan ingin melihatnya lagi dengan seberkas rasa "senang" di hatinya... dia hanya seorang 'Saskie'."
A story of young ordinary teenage girl... "Saskie... Saskie, loe tau kan gue tuh selalu ada buat elo, gue gak suka aja kalo loe terlalu banyak mikir gini-gitu sama gue... jangan pikirin gimana gue cabut dari kampus, dll. Elo sendiri keadaannya lebih penting dari kuliah gue."
...and an obsessive bestfriend... Sedangkan cowok itu adalah Farrel, cowok paling terkenal di sekolah ini dan ia cuma bergaul dengan kelompoknya saja, kadang-kadang bergabung dengan kelompoknya "Rhena" yang populer.
...and she finally falls for a boy... Seorang pria maju kedepan menghampiri Saskie. “Hai, cantik…kenalin nama gue Sandy, anak ‘Ganger Zone’ Gue mau ngasih tau ke elo bahwa cowo loe ini anak gank ‘Rodster’, posisi dia ada dikubu atas dan kemarin dia salah satu dalangnya yang bikin temen kita koma masuk rumah sakit…”
...that never far from trouble... "dan loe jawab…bahagia adalah waktu loe merasakan jiwa loe aman, waktu loe merasa puas dengan keberadaan diri loe, waktu loe merasa mudah untuk tersenyum bahkan untuk tertawa…“…sejak bertemu dengan loe, hidup gue gak sama lagi, gak gelap kaya dulu…gue sekarang tau yang namanya bahagia. It’s being with you, Sas…"
...are they really meant together... for more information go to: http://www.terrantbooks.com/ Labels: books
Behind The Scenes - Gege Mengejar Cinta Behind The Scenes - Gege Mengejar Cinta
Pentingnya Cover Salah satu proses paling mengasyikkan dalam pembuatan buku adalah pembuatan covernya. Cover bagi gue cukup penting karena:
Dalam hal ini gue dan ilustrator (Yan Baptista) berkomunikasi dengan email karena kita memang berjauhan. Unutk itu harus ada bantuan visual yang kuat untuk menjaga apa yang gue mau, ter-convey dengan baik ke Mas Yan. Akhirnya gue putusin untuk skecth dulu sendiri.
Awal Ini adalah sketch pertama gue. Lengkap dengan ini gue kasih notes di email. Emailnya gue lampirin nih:
mas yan. Ini contoh sampul adit coba bikin sendiri. temanya mesti kocak ya. jadi semua orang bayangannya sepinggang dan semua lari2 dengan gaya yang berbeda, masing2 orang menggambarkan tokoh dalam buku. A. Siluetnya harus setengah menghilang, cman rambut saja yang berkibar. Ini Wanita. B. Siluet cowok gendut C. Siluet cowok kurus lagi megang HP D. Hp yang dipegang harus terlihat bersuara E. Yang E cewek, rambutnya sebahu. F. Cowok make topeng ondel2 yang gedenya gak sebanding dengan besar badan. G. Turis jepang megang kamera, polisi bawa pistol dan orang pake peci (semua siluet) numpuk jadi satu H. kalo bisa ada siluet pesawat terbang atau gedung airport lain2: usahakan orang A sampe D itu terletak di halaman depan. Oh ya mas, harap ingat bahwa itu cover yang mas liat itu sebelah kanan cover depan dan sebelah kieri cover belakang ya. yang orang pake ondel2 dan sisanya boleh di belakang. Gradasi warna kuningnya persis seperti gradasi warna dalam jomblo. persis dimensinya = gue lupa tapi sama persis dengan dimensi buku jomblo. mas yan punya kan bukunya? maaf lo mas adit bener2 lupa dimensinya. kalo gak salah sih 12 cm x 18 cm. kasih ke adit secepatnya mas bisa bikin ya mas. Thanks in advance That was it. Tengah Ini dari dia. Gue revisi lagi dengan 2 email sebagai berikut:
revisi 1 1. posisi si gendut sudah tepat yang mas Yan harus lakukan hanya menggeser cewek kanan lebih tenggelam ke kanan, timpa sigendut dengan si kurus dan geser wanita kedua lebih ke kanan sedikit agar dia masuk cover depan. 2. si gendut jangan tertawa. Rambutnya juga cepak jadi jambulkan saja sedikit sisanya bulat. 3. si kurus dibuku saya menderita kebotakan jadi jangan di rambutin. bulat saja. udah itu saja tambahannya. Makasih ya mas. Revisi tambahan (rewel ya gue?) 1. Judulnya 'Gege Mengejar Cinta' 2. Warna font judul adalah hitam. 3. Di judul itu kalo mas perhatikan, ada banyak titik2 kecil ya mas. Itu titik2 kecilnya bisa dikurangin gak? udah gitu aja, selain itu udah bagus kok. bagus banget malah. Adit lebih suka ini dari jomblo. abis itu, semua udah selesai, tinggal mas Yan stand by aja untuk masukkin komentar2 di sebelah kirinya. makasih ya Mas. Revisi tambahan lagi (et dah buset!) Mas Yan. Adit baru nyadar satu hal. Wanita yang paling kanan itu terlalu lebar ya melangkahnya. Liat tanda panah deh. Nah, tangannya sebaiknya merapat dan kakinya juga sebaiknya merapat. dengan begitu, terlihat lebih enak dan ada jarak anatar si gendut dan si wanita. Maaf lo mas adit sendiri baru liat. Akhir Setelah komentar masuk kita masukin Judul dan lain-lain. Jadilah apa yang anda liat di etalase. gue memutuskan untuk menset tone color di yellow agar mirip jomblo. Ini juga mengandung efek psikologis. Yellow secara psikologis mendenote funny, comedy, laugh, dll. Sesuai dengan tema buku. Terlebih dari itu, warna ini emang pengen gue jadiin tone buku-buku gue. So there you have it. The process of getting it done. Gege mengejar Cinta's are available at bookstores near you. Rgds. Labels: books
Another Promo AADA - Ada Apa Dengan An?
Garing ya Gue? We interrupt this promo with...Another promo...
Yup Temen baek kita, si An, telah membuat film pendek dan masuk dalam nominasi Film Terbaik Festival Film Independen Indonesia (FFII) 2003. Nyembah pohon keknya ni orang kalo malem. Anyhoo, bagi mereka yang berdomisili di kota Bandung, coba saksikan penayangannya di: FESTIVAL FILM PENDEK BANDUNG 2004 23 Desember 2004 19.30 - 22.00 Yes people...to. day. Ini sinopsisnya: Di sebuah negeri bawah tanah, hiduplah 2 makhluk yang berjuang bersama untuk menggapai cercah cahaya. Ketika cercah cahaya berhasil mereka temukan, mulai terjadi pertentangan diantara mereka untuk dapat menikmati cahaya. Siapakah yang mampu bertahan? Akankah cahaya tetap menjadi milik mereka? Cercah, sebuah film animasi 3D karya Yudhatama dan Anzarra. Menawarkan sisi baru dari film animasi 3D (dan gayung hijau gratis bagi 10 pembeli tiket pertama! - Ingat, warna hijau!!). Dari gaya penceritaan yang memadukan antara teater, action dan slapstick ala srimulat hingga tema politis, metafisik, dan mengangkat unsur - unsur budaya Indonesia yang belum pernah ditemukan dalam film animasi 3D karya anak bangsa. To An: Best of luck man. Rgds. Labels: books
Another!!! Trailer..... from Gege Mengejar Cinta Another....Trailer of Gege Mengejar Cinta (in bookstores, now)
Pak Soni dan Pecat-memecat Tiga jam kemudian, Gege selesai dengan skrip pertama dan menemui Pak Soni.
--tok tok tok--
”Masuk!” Gege masuk dan, ”KAMU SAYA PECAT!” ”Hah?” ”Sori Ge. Saya sedang latihan mecat orang.” ”Ah, menarik....” ”You Psycho!” ”Menurut kamu, saya ngomong gitu dengan penuh kredibilitas gak Ge?” ”Iyah Pak.” ”Element of surprise gimana? Ada?” Pak Soni menjuggle kedua tangan, tidak menggesturkan apa-apa yang penting sama sekali. ”Jelas Pak.” ”Oke, ya..hm..ada apa?” ---- Masih dengan..Pak Soni dan Pecat-memecat Dalam sebuah pengejaran.... ”Halo? Gege? Ventha? Tia? Di sini Pak Soni.” dari telfon ke radio.
”Siang Paaaak.” sahut mereka. ”KAMU SEMUA SAYA PECAT!” ”Loh?” ”Kamu Tia, kamu saya pecat! Kamu Ventha, kamu saya pecat! Kamu Ge, kamu saya pecat, saya terima lagi kerja dan saya PECAT LAGI!” Labels: books
Trailer Gege Mengejar Cinta Trailer Gege Mengejar Cinta (in bookstores, this weekend)
On Characters Gege Tahun 1990. Tahun ajaran baru 1 bulan berjalan di SMP 19 Jakarta ketika para guru memutuskan untuk mengajak siswa kelas dua berkaryawista. Para siswa kelas dua itu berkeliaran dengan tidak jelas di pinggir Jalan Bumi. Mereka sedang berebut untuk naik sejumlah bus karyawisata. Sebagaimana layaknya karyawisata SMP, bus dibagi per kelas. Sayangnya, kelas di SMP itu terbagi dari pintar ke bodoh. Adalah Geladi Garnida, seorang anak sehat yang menyadari pembagian ini, hari itu. Hari itu juga mereka akan pergi ke Kebun Raya Bogor. Beberapa dari mereka yang tidak berniat naik kelas langsung memilih bus kota, bolos. ”Kelas 2-1 itu anaknya pinter semuah...” dia berusaha menjelaskan pada teman-teman sekelas, kelas 2-8 di dalam bus. ”Nah kelas kitah, isinya semua calon tukang nusuk orang.” Hal ini segera disanggah secara skeptis oleh teman-teman. ”Ah gak percaya gue!” ”Bagi kelasnya acak lagi. Kebetulan aja temen-temen kita yang preman, ngumpul di sini.” Gege berusaha terus menjelaskan. ”Liat ajah, semua yang ranking satu pas kelas satu masuk 2-1 kecuali guah. Ini sepertinya ada kesalahan.” ”Rese lo. Bilang aja pengen diaku pinter. Eh uhm, besok masih boleh nyontek ama elo kan?” ______________ Gege dengan penuh percaya diri berjalan pelan menghampiri sebuah cubicle. ”Selamat sore Caca...” ujarnya dengan nada pasti. ”Selamat sore Pak. Bisa saya bantu?” Gege melempar pulpen ke mukanya. --plak-- ”ADUH!” Gege berkata pada Ventha. ”Gimana guah bisa konsentrasi kalo yang jawab pake suara jin tomang?” Gege menunjuk lawan bicara yang tidak lain adalah Eman. ”Si Tia pake acara ijin setengah hari pula.” Gerutu Gege. Dia membayangkan lebih baik berlatih dengan seorang wanita. ”Ya udah, ulang. Ge, lo jalan lagi dari sana, ceritanya elo nasabah bank lah. Man, elo coba pake suara perempuan.” Gege kembali berjalan. ”Sore Ca.” ”Sore Mas....” jawab Eman dengan kerling mata. ”Okeh. Satu, mata Caca gak mungkin kerlip gituh kayak orang cacingan.” Gege kembali dengan sikap analitisnya. ”Dua, sekarang suaranyah mirip kuntilanak” ”Adaptif kek dikit?” omel Ventha.”Jadi gimanah dong guah? Terlebih lagi, guah entar ngomong apah?” ______________ Tia Di saat yang sama, pegal dan linu masih membuat Tia berjalan seperti orang kurang buah di pagi hari, diiringi lagu mellow dari ruang siaran. Seminggu setelah tangisnya di dalam studio, dia telah bertekad untuk mencari perhatian ekstra. Langkah kongkrit dari ikrar ini adalah dengan mengikuti kelas senam termahal yang, santer isu beredar, dapat merubah emak-emak bau tanah menjadi super model. Yang Tia tidak sangka adalah betapa berbahayanya aktivitas ini. Teriakan Bang Punjab – Sang pembugar masih mengiang men-traumakan Tia, lengkap dengan spandex pink ketatnya. ”AYO INDONESIA! JALAN KAYANG SEMUA!” ”Hiiighg” Tia menggigil traumatis menutup kuping. ”Things I do for Men...” gerutunya. _________________ Take sound selesai. Tia berjingkrak seperti anak kecil mendatangi Gege. Gege tampak sedang bersiap-siap pergi membawa sebuah bungkusan. ”Heh, Polar Bear...makan siang yuk. Kali ini gue janji deh gak rewel kalo lewat gedung sana” ”Wah guah gak bisa Ti....” ”...” ”Guah makan siang sama Caca.” ”...” Tia tiba-tiba ternggelam dalam khayalan. Gege menjadi bintang tamu acara masak Rudy Choiruddin. ’Jadi ibu-ibu... kita iris hatinya kecil-kecil...’ ”Kok...kok....kok bisa?” Tia kaget terbata-bata, seperti orang yang gengsi mencintai orang lain yang mencintai orang lain lagi dan baru tahu orang lain itu akan makan siang dengan orang yang dia cintai[1]. ”Iyah. Kemaren guah datengin dia.” ”Kok sekarang langsung makan siang? Besok ngapain? Beranak?” Gege merengut tidak mengerti. ”Elo udah mulai resmi nih, deketin dia? Bukannya masih nanti-nanti? Elo mau nunggu elo siap dulu?” Gege lantas menjelaskan apa yang terjadi kemarin hari. ”Kemaren ituh gara-gara gugup, guah kenalannyah pas udah tutup kantor. Jadinyah dia nawarin makan siang bareng hari inih. Di restoran Jepang atas kantor dia. Mahal bo. Miskin deh guah abis inih.” Tia terdiam. Kemarin? Kenapa Tia tidak mencegahnya? Ke mana Tia? Tia pergi. Izin pulang cepat. Beli soft lens. Demi Gege. ”*&%*%^#(&$*^%#%^$!!!!” ”Trus udah gitu dia tambah cakep Ti. Rambutnya sekarang yang bener-bener lemes jatoh gituh.” ”Lo suka ya rambut lemes?” tanya Tia sambil melirik ke cermin, melirik rambutnya yang ikal jatuh sejauh tengkuk dengan poni dan anak rambut yang sama panjangnya. ”Guah suka apa ajah yang Caca tampilkan...kecuali botak. Udah ah..guah duluan yah....” Gege berlalu menuju pintu. ”CEPAT! CEGAH! CE! GAH!” ”GE! GE! TUNGGU!” Gege berbalik menunggu Tia yang berlari. [1] Sori gua juga bingung. Let’s see. Orang lain cinta sama orang lain…you know what? Just go on reading! Labels: books
Current Happenings Updates On Many Things
Okay guys, need to break the trailers for more important news that you CANNOT miss. Firstly, Buku milik wanita ini masuk cetakan kedua, sejak pertama kali on sale dari tgl 3 Desember (in 10 days).
Selamat untuk dia for an excellent start and even more excellent effort.. believe me, I know. (Ya iyalah, gue suaminya). Just would like to take this moment to say that I am genuinely proud of her. The funniest thing is, on the thank you page, she wrote To Adhitya Mulya This book is written to impress you Well Neng, I am. Ketika dia masih nyebar buku untuk back cover comments, gue nanya apakah dia mau komentar gue. Dia nolak. She wants to make it on her own. Again, Neng...you do. Gue juga pengen ngucapin makasih ke semua temen2 yang melalui blog, friendster dan multiplynya, bersedia banget ngebantu promo kedua buku kita. Thanks guys, they mean alot to us. Secondly, Novita Estiti (pengarang buku ini) akan mengadakan launchingnya di:
Boutique Cafe Plaza Senayan Jakarta tgl 16 Desember 2003 time: 6.30 PM Be sure to be there. Thirdly, Akhirnya buku ini keluar juga. You see, ITB adlah sebuah institusi di mana semua orang pengen masuk jadi engineer dan lulusnya jadi KAPOK. Setelah gue dengan jomblo gue (sipil 96), Ncha dengan Cintapuccinonya (Arsitek 96), Isman (Informatika 94) sekarang ada Andi Eriawan (Penerbangan 98) yang menerbitkan buku di kiri.
It's a romance book and not a comedy. I personally have read it and it is poetic. Lucunya gini. Tahun 1996-1998, gue tinggal di Bandung sama sepupu2 gue. Nah, Andi itu sobatnya adek sepupu gue. Lucu aja sekarang kita berdua nulis. Funny how life goes hey? Fourthly, but not least Siapa sih yang ga tau Isman Suryaman? Honestly, you must be a mutant cow if you never read Isman's blog. Pengarang buku komedi di samping akan mengadakan launchingnya (which I may say, akan meriah) di: Hari Minggu,
19 Desember 2004 (sehari setelah Dago Festival), di Comedy House Bandung Dago Plaza lantai dasar (UG), Jl. Ir. H. Juanda 61-63 Bandung Be sure to catch all the actions above! Okay, more GMC trailers coming up for you guys. Rgds.
Labels: books
Gege Mengejar Cinta - Trailer Trailer from the book Gege Mengejar Cinta A – Awal Dari Segalanya --------- Masa SMP ------- Tahun 1990. Tahun ajaran baru 1 bulan berjalan di SMP 19 Jakarta ketika para guru memutuskan untuk mengajak siswa kelas dua berkaryawista. Para siswa kelas dua itu berkeliaran dengan tidak jelas di pinggir Jalan Bumi. Mereka sedang berebut untuk naik sejumlah bus karyawisata. Sebagaimana layaknya karyawisata SMP, bus dibagi per kelas. Sayangnya, kelas di SMP itu terbagi dari pintar ke bodoh. Adalah Geladi Garnida, seorang anak sehat yang menyadari pembagian ini, hari itu. Hari itu juga mereka akan pergi ke Kebun Raya Bogor. Beberapa dari mereka yang tidak berniat naik kelas langsung memilih bus kota, bolos. ”Kelas 2-1 itu anaknya pinter semuah...” dia berusaha menjelaskan pada teman-teman sekelas, kelas 2-8 di dalam bus. ”Nah kelas kitah, isinya semua calon tukang nusuk orang.” Hal ini segera disanggah secara skeptis oleh teman-teman. ”Ah gak percaya gue!” ”Bagi kelasnya acak lagi. Kebetulan aja temen-temen kita yang preman, ngumpul di sini.” Gege berusaha terus menjelaskan. ”Liat ajah, semua yang ranking satu pas kelas satu masuk 2-1 kecuali guah. Ini sepertinya ada kesalahan.” ”Rese lo. Bilang aja pengen diaku pinter. Eh uhm, besok masih boleh nyontek ama elo kan?” ”Itu anak baru! Itu tuh anak yang baru! CAKEP!” Gege dan teman-teman kali ini berebut keluar bus untuk melihat anak baru itu. Anak baru itu perempuan, cantik memang. Beberapa anak perempuan menggerutu. ”Lain kali bilang kek cowok apa cewek. Aku kan capek lari-lari.” ”Whaaa cantiknyaaa...” ujar anak-anak pria. Mereka sibuk membahas. ”Masih seger! Baru masuk minggu kemarin.” ”Emangnya ayam?” tanya Gege. ”Kelas berapah dia?” ”Kelas 2-1.” ujar teman Gege. ”Wah pinter dong, Ge, menurut teori lo.” ”Namanya siapa?” tanya Gege. ”Caca. Lengkapnya Annisa Saripuspita.” ”Cakep banget ya...” ”Iya...cakep.” ujar Gege pelan, masih di pintu bus menatap anak baru itu masuk. Dia mengenali anak gadis itu. Caca juga tetangga barunya. Mereka sampai di Bogor setelah 2 jam perjalanan. Sebuah perjalanan di mana Gege bertanya kepada wali kelas apakah pembagian kelas ini benar adanya dan bahwa kelas 2-8 berisi orang sakit semua. Gege juga bertanya apakah dia salah masuk. Sang wali kelas berkata tidak dan menjelaskan kepada Gege bahwa tidak ada yang perlu Gege khawatirkan tentang kelas ini sebelum meneruskan bermain kartu remi dengan anak-anak di belakang bus. ”Perhatian anak-anak, jalannya diperhatikan, hati-hati. Ini taman bunga presiden. Jalannya yang tertib.” ujar Bu Oom, guru biologi yang stres mengatur anak dengan toa dan desibel suara yang jaya. ”Ya, ya, contoh ni kelas 2-1, bagus. Kelas 2-8!! ADUH ITU BANDEL SEMUA!” Karyawisata ini dipakai oleh kebanyakan anak laki untuk mengambili bunga di kebun raya dan memberikannya pada Caca. Pelaku kejahatan terbanyak berasal dari kelas Gege. Seorang anak yang 2 kali tidak naik kelas mencabut bunga. ”Itu dong dibaca! Bunga Matahari Tibet. Spesies langka. Apa gak takut ditembak aparat?” protes Gege. ”Justru itu. Gue bisa bilang ke Caca. ’Sayangku, ini bunga langka. Selangka dirimu.’” Anak itu lantas pergi mendekati Caca yang sudah memegang banyak bunga. Tinggal Gege panik sendiri membereskan serabut tanah. ”GEGE! NGAPAIN KAMU NGAMBILIN BUNGA!?” ”Bukan saya bu, sumpah!” ”JADI KETUA KELAS BUKANNYA NGASIH CONTOH.” teriaknya dengan toa mengarah ke seorang anak yang sial. Dia kemudian berjalan menuju Gege. ”Sumpah bukan sayah Bu.” ”Bukan saya, bukan saya....kamu kira saya gampang apa diboongin? Balikin semua bunga!” ”Tapi kan udah pada dipetik Bu.” Sang ibu tidak ingin mendengar alasan apa pun. ”Biang kerok!” Gege menggerutu membereskan serabut tanah. ”Ini nih, aku kembaliin.” suara dari belakang Gege. ”Hei, ini aku kembaliin. Aduh anak-anak ya. Jahat sama tanaman.” Gege menoleh dan terdiam. Caca. ”Tapi aku ambil satu deh ya. Abisnya bagus sih.” ”...” ”Aku duluan ya.” Caca berlalu. Gege masih terdiam. Dia menatap bunga itu dan plang di depannya. ’Bunga Matahari Tibet[1]’ ”Tibet? Bukannya malah banyak Yak[2] di sanah?” Gege menanam kembali bunga langka itu. Semua bunga itu patah di tangkainya. ”Nah...sekarang lebih pantes dinamain Bunga Matahari Tibet Kontet.” Gege menatap di kejauhan. Caca terlihat di barisan paling belakang kelas, menerima gangguan dari siswa lain dan bunga masih mengalir. Gege menatap Bunga Matahari Tibet yang sekarang sedikit terhibrida. Gege mengantongi satu tangkai dan pergi menyakukannya. -------------------------------- 1 – Seseorang Dari Masa Lalu Every little thing she does is magic Every thing she does just turns me on Even though my life before was tragic Now I know my love for her goes on (The Police – Every Little Thing She Does Is Magic) “Ah…pernahkah kita merasakan cinta?” lagu itu memudar dan masuk suara seorang penyiar bernama Ventha . “..Di mana cinta itu membuat kita merasa bahwa segala hal yang wanita itu lakukan, indah? Ah, saya pernah… sayang ditolak. ANYWAY, mari kita dengarkan lagu lain.” Percakapan Tidak Penting Di Pagi Hari Gege sekarang telah tumbuh menjadi pria chubby yang lugu dan berusia 27 tahun. Rambutnya yang bergen keriting selalu dia rapikan cepak karena mengundang banyak hujatan. Dia berjalan masuk ke dalam kantornya di lantai 6 sebuah gedung di bilangan Sudirman. Di pintu elektronik, dia mengeluarkan kartu passnya dan berpikir sebentar. “Hmmmm…” hari ini dia memutuskan untuk menggesekkan kartu dengan gaya balet. --ting-- Resepsionis menatapnya dengan iba. Semenjak lulus 3 tahun yang lalu, Gege meniti karir di bidang broadcasting sebagai producer. Radio tempat dia bekerja adalah Radio Hertz 93.00 FM. Radio yang bersegmen 30 tahun ke atas dengan daya jual seleksi lagu lama. Radio ini membidik pendengar dengan memanggil mereka ’Profesional muda’ ’Pasangan muda’ ’Young mom and dads’ mengambil segmen sedikit di atas Hard Rock FM. Sahabat Gege adalah bentuk kehidupan hampa berintelejensia minim yang dengan salahnya dipercaya sebagai penyiar. Ventha. Ventha terlalu kurus untuk terlihat sehat dan terlalu miskin untuk disangka pemadat. Cacingan adalah deskripsi yang tepat. Ventha mengalami kebotakan dan berkacamata. Gege adalah Sunda. Ventha adalah setengah Jawa, setengah gila. Gege sampai dalam cubiclenya[3], menaruh tas, memboot komputer, mengambil mug berlabel ’Visit Indonesia year 1991’ dan sama sekali tanpa pertimbangan yang masak, meminum sisa kopi di dalamnya. Sepasang mata milik seorang wanita mengamati Gege dari jauh. Sepasang mata itu tidak pernah lepas dari pintu masuk untuk mengetahui dengan tingkah laku apa Gege akan membuatnya tertawa hari ini. Sepasang mata itu milik seorang wanita dalam bagian accounting bernama Fathia Shakuntala. --kring-- Gege yang masih berdiri dan minum, mengangkat telfon. ”Manusia jorok! Kopi kemaren diminum.” ejek Tia. Gege menengok ke sisi seberang dan memeletkan lidah. ”Pagi Tia. Minum kopi kemaren ituh penting bagi mereka yang kurang darah.” ”Kurang darah, kurang darah...kurang waras iya.” Jika Ventha adalah sobat pria, maka Tia adalah sobat wanita bagi Gege. Tia berambut pendek sassy, berkacamata kucing, smart, berpostur dan berbadan cukup menarik. Satu hal yang mencolok dari Tia adalah senyumnya yang manis. ”Guah ke tempat eluh.” ujar Gege, dengan logat sundanya menutup telfon. Gege berjalan sambil mengamati staf lain. Tidak pernah Gege sadar bahwa setiap kali Gege bersanding ke Tia, Tia selalu dengan cepat melirik cermin memastikan hal-hal kecil sudah rapi di muka. Menurut Gege, perjalanan menuju cubicle Tia dapat merangkup kurang lebih kondisi sosial para pekerja kerah putih di Jakarta. Hari belum berawal karena para staf datang terlambat. Sesampainya mereka, hari juga belum dimulai karena mereka sibuk bertukar informasi betapa macetnya Jakarta membuat mereka telat. Kemudian dibahas betapa aktivitas mereka membahas ’telatnya mereka akibat macet’ semakin memperlambat mulainya kerja lebih parah lagi. Habis itu tidak lupa sarapan. Setelah itu, e-mail. Setelah e-mail, cyberspace. Pilihan yang ada adalah serius membaca situs berita atau tertawa membaca situs gosip. Sebagian kolega terlibat perdebatan sengit dalam sebuah diskusi yang hangat, yaitu apakah Greg akan terus tahan dengan Dharma dalam kelanjutan episode ’Dharma & Greg’. Sebagian kolega tidak menyukai aktivitas ini karena menurut mereka, Dharma justru cocok dengan Greg. Setelah itu, 15 menit bekerja dan tiba waktu makan siang. Sibuk. ”Pagi lagi Tia.” ”Ngapain si lo tiap hari gentayangan ke tempat gue? Bikin sempit meja aja....ini apa seh!?” protes Tia yang spasinya dijajah Gege. ”Sanaan dong. Sanaan dong. Gak betah guah di tempat guah sendiri. Bau W.C.” ”Emang kenapa?” Gege memulai analisanya dengan serius. ”Tiap hari nih, jam 9 pagi orang udah berjejer mengantri depan guah depan pintu W.C. satu-satunya milik kantor. Gak ada tuh acara basa-basi ’Pagi Ge. Ge gua masuk W.C. dulu ya, mo nyiksa orang sekantor.’ ’Ge, semalem gua salah makan jadi...tabah aja ya Ge.’” ”Huahahah...” ”Apakah penderitaan guah selesai sampe di sanah?” ”Tidak?” ”Oh tidak. Giliran selesai, baunya cukup fatal untuk ngebuat resepsionis kantor yang bohai terlihat seperti demit. Belum lagi kalo Ventha yang masuk. Bikin guah bingung makan apa itu orang.” ”Seriously Ge, gak usah terlalu dipikirin Ventha makan apa.” ”Pagi semua.” Seseorang menyapa mereka. Eman. Sulaeman Chaniago. Dia adalah penyiar pagi, partner dari Ventha. Eman menyukai puisi dan tidak tahu bahwa dia tidak berbakat menulis puisi. ”Ngapain lo keluar kek ayam lepas? Balik sana siaran!” ”Pernahkah aku mengatakan betapa cantiknya Tia pagi-pagi?” ”Pernah dan itu gak cukup untuk gue ngebagi gorengan sama elo. Gege mau? Mau ya Ge, Gege mau ya, ini Tia beliin yang kesukaan Gege.” tutur Tia, dengan timpang. ”Pasti tadi udah jatoh deh...” Gege curiga. ”Ah, pilih kasih sekali Tia yang cantik pagi-pagi ini. Siapa yang ingin mendengarkan puisiku yang terbaru?” Gege dan Tia hanya saling berpandangan. ”Baiklah...” Eman mengeluarkan selembar kertas. ”Ke heula, ke heula....kitah belum bilang iyah.” ”Ehm..ehmm...” ”Oh God..” ”Man, Man, itu lagu mo abis itu! Ventha udah nyariin!” ”Judulnya Cinta yang Kelabu.” ”Man, kamih mohon....demi nilai-nilai kemanusiaan...” ”Anak kecil bermain di pinggir kali..” ”Wah lumayan nih.” ”Iya, lucu gitu, imut.” ”Dia kemudian...dipatok ayam...” ”BOOO!” Indonesia Merdeka Semua tim produksi duduk dalam ruang meeting setelah segmen pagi selesai. Gege, Ventha, Eman dan beberapa orang lainnya. Masuk Pak Soni, Programme Director (PD) radio. ”Pagi semua.” kilap botak stres Pak Soni memantulkan lampu tungsten ruangan. ”Silaw man!” ”Gak usah bikin gara-gara deh Ven..” ”Siang, Paaaaaak.” sahut para staf dengan canda ceria. ”Masih saya yang menggaji kalian dan ini pagi.” ”Pagi Paaaaaak.” Pak Soni menggaruk-garuk botaknya sambil melihat agenda rapat. ”Wuih wuih...ngerapel elmu! Ngerapel elmu!” bisik Ventha pada Gege. Gege yang sadar penuh bahwa Ventha memiliki hobi membahayakan nyawa umat dengan berkomentar sinis, tidak bereaksi. ”Minggu kemarin Bapak mendapat kabar dari Asosiasi Radio Jakarta. Dalam rangka menyambut ulang tahun Indonesia ke 59, sebuah dewan juri akan menilai secara kualitatif, radio mana yang paling mampu menyambut kemerdekaan.” ”Oooo....” begitu reaksi para staf. ”Mengerti maksudnya?” ”Nggak Pak.” Pak Soni memijit kepalanya dan memejamkan mata. ”Ini adalah tim paling jelek dalam sejarah karir saya. Maksudnya begini. Radio mana yang paling mampu men-generate excitement pendengar untuk menyambut kemerdekaan.” ”...” ”Well? Ada ide?” ”Aku Pak!!” Eman menunjuk dengan antusias. Pak Soni melirik Eman dan ”Yang lain?” ”Pak! Pak!” ”Yang lain?” ”Pak!” ”Ya sudah, kamu Man.” ”Bagaimana kalau aku pegang sebuah segmen yang berisi pembacaan puisi?” ”Wah, gak bisa!!” ”Jangan mau Pak!” ”Bisa minggat semua pendengar.” Usul ini dengan semangat juang, disanggah Gege, Ventha dan segenap tim. ”Puisi adalah bentuk apresiasi sastra yang tinggi. Lihat Dian Sastro. Pintar sekali dia buat puisi dalam film AADC.” ”Puisi dia, bermutu. Puisi lo, yang denger bisa meninggal.” ”CUKUP! Kamu Ven, tidak lagi komentar. Kamu Man, sekali lagi kamu usul tentang puisi, saya pastikan kamu akan menyedot sesuatu, segera. Apa saja yang penting segera. Kamu Ge, punya ide?” ”Nggak Pak.” ”Jawaban saya anulir. Sekali lagi, kamu punya ide Ge?” ”Punya Pak.” ”Saya gak percaya. Lha wong barusan kamu bilang gak punya kok.” ”Lho?” Gege berpikir sebentar, ”Gimanah kalo kitah bikin sandiwara radio Pak?” Usul ini juga mendapat sambutan kurang sedap oleh Ventha sendiri dan yang lain. ”Maksud lo yang kayak Saur Sepuh Ge?” ”Garingnya...” ”Sekarang ginih...semua yang ada di ruangan ini gak jauh kan umurnyah dari segmen kitah? Selain Eman, tentunya kita semuah punya masa kecil yang normal kan? Pulang sekolah dijemput ibu. Setelah itu kitah memiliki dua pilihan hiburan. Pertama, nonton Wok With Yan. Kedua, sang ibu nyalain radio, nyiapin makan siang sambil denger sandiwara radio yang kitah gak sengaja denger. Dulu ada banyak macamnya. Dari sengketa keluarga, Bagito sampe cerita rakyat.” ”...” ”Anak-anak ini sekarang telah dewasa dan meski pun sandiwara radio sudah tidak awam, mereka masih memiliki kenangan tentang itu..” Ini targetnyah. Kita bikin sandiwara perang kemerdekaan. ” ”Bagus, bagus!” semua orang setuju. ”Jenius luh Ge!” ”Baru jual nyawa sama setan ni kayaknya sobat gua.” ”..dan itu cocok sekali aku masukkan puisi perjuangan.” ”Man..” ”Ya Pak?” ”Pergi keluar dan sedot pemadam kebakaran. Kamu Ge, saya beri satu minggu untuk memulai membuat skrip. Delapan minggu lagi kan 17 Agustus. Kita harus cepat-cepat. Kamu juga mulai buat iklan-iklannya. Adlib[4]-nya juga.” Rapat selesai, waktunya makan siang. Tentang Seseorang Saat makan siang adalah saat-saat terindah bagi Tia setiap hari karena saat ini adalah saat di mana dia dapat menghabiskan 1 jam penuh dengan Gege, meski sering kali terpaksa harus menahan keinginan menempeleng Ventha. Pinang dibelah dua bukan frase yang tepat bagi mereka. Mengingat tingkah laku mereka yang kekanak-kanakan anak jin terbelah dua mungkin lebih tepat. Tia membereskan semua pekerjaan secepat mungkin sambil sesekali menatap pintu ruang meeting berkaca di mana rapat berlangsung. Dia memperhatikan Gege. Tia bergabung dengan radio Hertz sekitar satu tahun yang lalu dan sekitar 11 bulan 28 hari yang lalu dia jatuh cinta dengan Gege. Gege adalah pria pertama yang dia kenal dalam kantor yang tidak berusaha menggoda anak baru. Dia terbawa dalam ingatan. ”Ge, ini Fathia, anak baru yang kemarin kita terima. Kamu ajak keliling ya. Kenalkan dia dengan yang lain.” ”Oh...” mereka bersalaman. ”Fathia, ini Gege.” Pak Soni segera berlalu. Gege terdiam mengangguk, menyandarkan tangan pada dinding cubicle dan mengetuk jari ke dindingnya. Dia berpikir keras akan apa yang harus diperkenalkan pada Tia. ”Orientasi.” ”...” ”Orientasi.” Tia hanya mengangkat alis, antusias. ”Orien. Tasi.” tangan Gege membuat segregasi antara ’Orien’ dan ’Tasi’. ”Yap.” ”Ini W.C.” ”Oh.” ”Bau.” ”Hmm..” ”Ituh kaktus sayah. Empoy.” ”Hmm..” ”Itu Jakarta diliat dari lantai enam. Serasa di manaaa gituh.” ”...” Tia mulai tersenyum. ”Serasa di...ya di tingkat enam sebuah gedung melihat Jakarta kali yah?” ”...” Tia mulai menahan tawa. ”Saya di sinih jadi produser. Udah 2 tahun. Tahun depan ... ya tiga tahun.” Gege terus memberi informasi yang tidak memberi nilai tambah. Gege mengajak Tia berkenalan dengan anggota kebun binatang yang lain. ”Di radio ini, meski segmennya dewasa, secara mengejutkan kelakuan penyiarnya seperti anak kecil semuah. Untung cuman penyiarnya ajah yang ancur.” ”Maksudnya?” ”Tinjau sample pertama. Ini namanya Eman. Penyiar kitah.” tunjuk Gege ke sebelah. ”Tia, Mas.” ”Panggil aku Bang. Apakah Tia bersedia mendengar puisi?” ”Boleh Mas!” ”Emh, anak baru. Lanjut!” Gege segera beralih. ”Sekarang kitah menuju cubicle Ventha, penyiar juga.” jelas Gege sambil berjalan. ”Dia sobat sayah. Pak Soni mengharuskan kami untuk duduk berjauhan soalnya kalo deketan, dunia bisa kiamat. Ini diah... Halo Ven!” ”Mhh.. Mhhh.” ”Sample kedua melambangkan mereka yang sering tenggelam dalam keheningan kontemplatif mendownload yang nggak-nggak.” Tia mengangguk. Bukan cara membangun reputasi yang baik jika hari pertama sudah menunjukkan ketidaksukaan pada Ventha yang menghina harga diri wanita seperti itu. Terakhir mereka bersanding dalam pantry. ”Selain mereka sih orang-orang di sini normal, yah.” ”Bener nih Mas Gege, gak ada yang aneh-aneh lagi?” Mata Gege pergi ke atas sebentar dan, ”Yaaa....h. Terkadang saya suka ngomong sama kaktus.” ”Itu normal kok Mas. Banyak kok yang ngomong sama tumbuhan. Ada riset ilmiah untuk itu. Tia pernah baca.” ”Wah bagus deh. Trus kalo ngedenger kaktusnya ngejawab, masih normal juga kan?” Tia tersedak dari kopinya. Anak baru itu paling menyukai pria yang membuatnya tertawa. Mata mereka bertemu sejalan dengan Gege bercerita tentang Empoy, kaktusnya dan betapa Gege sering merasa Empoy menjawab. Diamatinya pria itu. Sangat biasa. Namun ada aura yang terlihat dari mata pria itu. Jenaka dan sedikit dewasa. Setidaknya, dibanding teman kerja yang lain. Hari berganti, mereka berteman. Cinta merambat tumbuh pelan tidak terasa dalam hati Tia setiap kali Gege membuatnya tertawa. Hanya ada dua masalah dalam hubungan mereka. Bahwa Gege tidak sadar dan bahwa Tia terlalu gengsi untuk menyatakan cinta. Sekte aliran sesat itu akhirnya selesai dengan rapat mereka. Gege menghampiri Tia. ”Makan?” Seseorang Dari Masa Lalu Ini adalah hari di mana gaji datang. Radio Hertz terletak di Gedung I dalam kompleks perkantoran Wisma Trinusa. Bank dari para staf radio Hertz adalah Bank Graha yang terletak di Gedung II. Gege, Ventha, Eman dan Tia dengan penuh suka cita berjalan ke bank itu di saat makan siang. ”Serang! Serang!” ”Iyah! Ganyang ajah!” ujar Gege dan Ventha menunjuk Bank Graha yang sudah ada di depan mata. Tia memasang muka tidak kenal. Gege memang paling tahu cara membuat Tia malu. Lokasi terbaik sebuah Bank dalam sebuah gedung adalah lantai dasar untuk memudahkan nasabah, begitu pula letak Bank Graha. Bank lokal pertama di Indonesia yang baru saja melebarkan jaringan nasabah ke skala regional. ”Elo ya Ge, aduh kayak anak kecil aja.” tawa Tia. Mereka kemudian mengantri di mesin ATM yang terletak di depan bank Graha. Gege, Ventha dan Eman terlibat dalam percakapan serius tentang bank dan ATM. Menurut hemat Gege jika ada Bank, sebaiknya tidak perlu ada ATM. Ventha berpikir bahwa jika ada ATM, lebih baik tutup banknya dan pecat semua orang. Eman lebih senang berurusan dengan ATM karena mesin ATM tidak pernah menatapnya dengan tidak ridho. ”Ge, giliran lo....” suruh Tia. Gege tidak menjawab dan melihat sesuatu dari luar jendela bank. Gege melihat sesuatu. Tangan Gege terlihat sedikit bergetar dan dengan pelan dia berjalan masuk ke dalam Bank. Teman-teman segera menyusul. ”Kenapa ni anak?” ”Ini adalah reaksi normal pria awam ketika melihat wanita cantik.” jelas Ventha. Mereka menemukan Gege berdiri dekat dispenser air dan menatap jauh ke areal kerja bank. Lama terdiam. ”Ge?” ”Ge?” ”Ge?” Gege tidak menjawab dan berjalan keluar lagi. Tatapannya penuh arti. Bibirnya tersenyum. Sebuah senyuman yang dia tunggu lama untuk hadir di mukanya. ”Kenapa sih?” Tanya Ventha. ”Caca.” [1] There’s no such thing. [2] The ugliest-looking kind of cows on earth. That, they have many. [3] Spasi kerja untuk seorang staf yang berkomposisi meja, kursi, dan 4 bilah dinding kayu setinggi dada * * No..I mean it. Seriously [4] Adlib = Sebuah teknik iklan yang diselipkan dalam pembicaraan penyiar ketika sang penyiar berbicara ketika siaran berlangsung. Beberapa orang menggunakan terminasi adlips untuk hal yang sama. Labels: books
Book Promo Gege Mengejar Cinta & Kok Putusin Gue?
Dua judul di atas adalah alasan knp gue dan istri morat-marit gak jelas dan hilang ditelan bumi dengan sukses selama liburan ini. Both of our books are now... ON SALE!!
Tentunya kedua buku ini dapat terbit berkat bantuan banyak orang juga, yang mana kebanyakan pembaca blog kita berdua. Kita berdua mengucapkan banyak terima kasih pada kalian dan dengan segala kerendahan hati dan kekurangan yang pasti ada dalam kedua buku, kami harap temen2 tetap terhibur. Oke deh, makasih ya kalo pada mau beli. Rgds, Adhitya & Ninit PS: Yang lain...kapan nyusul? :P Labels: books
Book Promo BOOK PROMO
Dear all, kindly find below, a new book to be released in November, not from me, but from Novita Estiti. Mind you, even though this is her first book, she has spent many years in modern and fashion journalism. Her CV can be found in her blog.
SUBJECT: RE: “Sebuah novel dengan cerita dan ‘twist’ affair yang menarik. Easy to read, dan gaya penceritaan yang segar melalui tampilan email. This book is a must read book, especially for those...hmm who love having an affair or having an imagination that love affair is something exciting, cuz it has this twist that can make these affair lovers to think and get back to the reality.....tidak hanya bermimpi akan bunga-bunga cinta gombal.”Sari Nila - Presenter, Book Reader “Solely bizzare, painfully quixotic. The ultimate ‘hope killer’ for romance seeker!”Diaz - Fashion Illustrator“Sebait desah di tapal senja: ‘Tak ada yang lebih misterius di jagad ini tinimbang cinta, tidak juga Tuhan atau manusia.’ Cinta sudah menghabiskan jutaan lembar kertas bergaris sejarah. Novel ini, menurut saya, dengan susah payah berhasil membuka satu pintu berkarat ruang tak berpenghuni itu, bahwa cinta tidak sama dengan bahagia. Ia lebih dari itu.”Donny Gahral Adian - Penikmat Sastra, Dosen Filsafat UI “Buku ini adalah tentang realita hidup. Diungkapkan dengan jujur, dan mungkin terlalu jujur. Banyak orang tidak suka bahkan menolak realita. Dan ketika realita itu diungkapkan dengan jujur, you can imagine bagaimana orang-orang yang tidak suka realita itu akan bereaksi ketika membaca buku ini. Mungkin menangis karena menemukan pribadi yang sama dengan dirinya. Atau choose to ignore dan lari kembali ke sudut nyamannya. Itulah power dari buku ini: realita yang jujur. Saya sendiri mungkin tidak bisa menerima banyak hal yang dituliskan di dalamnya, tapi saya tetap salut akan kejujuran buku ini.”Eliza Dewi – Blogger, Dosen Bahasa Mandarin, Adik Kandung “Kinda freaky… aren’t we all?”Ari Yandhi – Designer “Gloomy! Tapi gue gak pernah nyangka bahwa kumpulan e-mail dan skrip chatting bisa ngebangun cerita utuh tentang kehidupan seseorang plus emosinya, mungkin lain kali gue harus lebih teliti untuk ngebuang email-email dalam inbox....”Oktarina P. – Blogger, Dosen Seni Rupa dan Desain “I’m sure this book has been labeled as beautiful, sad, even strange. Apart from those things, I find this book to be disturbing. It’s disturbing because so many questions are thrown in this book that only seem to lead to more questions. Never answers. These questions are probably the very questions that we all think about, but are afraid to ask, or afraid to know the answers to. Or maybe we’re all afraid to ask them because we might find that there aren’t any answers in the end. It’s disturbing because this book revealed a fact that (maybe) we all suspected all along. That most of us walk on this earth without really knowing what we’re supposed to be doing or what everything in this life is supposed to mean to us.This book is a good example that everything is not like what it seems. It’s a disturbing tale about 2 people who might look ordinary on the surface, hanging out at Plaza Senayan, gossiping about people they worked with, getting caught up on the latest internet frenzy like Friendster or weblog, but really are two lost souls on the inside, wandering aimlessly in this life, trying to understand, trying to be understood, searching for true happiness without even knowing what it means to be happy. On their journey, they ask one question that I find the most disturbing of all : is there a point to all of this? If one starts to ask that question, it isn’t hard to understand why one feels the need to contemplate suicide.The affair in this book is an inevitable thing to happen between 2 people who seek comfort from each other’s apathy and found it. They tried to understand each other in order to understand themselves. But I think the true essence of this book lies not in the love story, but in the way they tried to go through the complex and tormenting roads to find the meaning of it all. Which leaves me with another question. Is happiness a journey? Or a destination?”Affi Assegaf – Blogger, Book Reader, Daydreamer
Untuk Novita, welcome aboard ya. for details please visit verypurpleperson's blog Labels: books
Book Promo Book Trailer
Desember ini,
Gege, Mengejar, Cinta
Coming soon to book stores near you. (final fixed image may vary) Rgds. Labels: books
Book Promo + Puasa Book Promo
Maafin Gue First off, pitching into Ramadhan, gue mohon maaf atas segala perkataan yang nyakitin dan yang lebih gue minta maaf lagi, segala perkataan yang gue gak tanggepin. As u know, one of my biggest flaw in life is not attending my own blog. Well that's because I have been working on the book. Sorry for that. berhubung skg udah selesai, insya allah, gue bisa bales semua comment yang masuk ke shoutbox atau komen. Sori ya, kemarin2 gue bener kudu konsen sih. Sounding buat buku gue, tunggu aja kali ye, gue masih dinilai dulu sama penerbit. Kan malu kalo udah sounding duluan eh penerbitnya bilang gak mau. Book Promo Oke, You tell me if the fight below is sensible in the most insensible way or not. Gue lagi upload foto yang nyiapin sounding buat Ratih Kumala ketika istri gue noticed what i was doing dan brenti jalan kayang dan deketin gue. 'Itu punya siapa?' 'Punya si Ratih.' 'Tinggalnya di mana?' 'Indonesia.' 'Dia penulis juga?' 'Iya.' 'PASTI KAMU NAKSIR YA?'
ANYHOO, allow me to have the honour of promoting her book. Ratih Kumala, seorang perempuan (ya iya lah, masak cowok?) beberapa pendapat informal berkata bahwa she can be the next best thing after Ayu Utami. Oh ya, peringatan aja. Ini bukan covernya yang final. Cover yang beredar adl yang tanpa tulisan 'In Memorian - Khrashnaya' Who is she? I know you begged to know because one of the features of this blog is IQ measurements and I can I tell you, WE IMPROVEMENTS, PEOPLE! Ratih Kumala relatif masih muda dan sudah bisa menjadi salah satu pemenang menulis novel, which is amazing. Ini gue quote dari cyber sastra.net ---- quote RATIH KUMALA, lahir di Jakarta, tanggal 4 Juni 1980. Dia adalah mahasiswa Jurusan Sastra Inggris, Universitas Sebelas Maret Surakarta, semester 7. Menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Inggris. Mengikuti International Poetry Contest 2001, diadakan oleh Library of Poetry. Puisinya "A Drop of Life" dan "Of Love (Mine)" masuk dalam semi final dan dimuat dalam buku kumpulan puisi amatir berjudul Under A Quicksilver Moon. Dia juga mengikuti Lomba Cerpen Perdamaian 2002, diadaka oleh Yayasan Citra Kasih Cerpennya yang berjudul "Tanahku di Satu Titik" masuk dalam 15 besar dan dimuat dalam buku kumpulan cerpen perdamaian berjudul Metamorfosa Cicak di Atas Peta. Beberapa tulisannya pernah dimuat di koran lokal. ---- end quote Beneran nih dia menang lomba? Ini gue quote lagi dari cybersastra.net. Para pemenang Sayembara Menulis Novel: Juara Pertama: Dadaisme, karya Dewi Sartika Juara Kedua: Geni Jora, karya Abidah El Khalieqy Juara Ketiga: Tabula Rasa, karya Ratih Kumala Juara Harapan I: Ular Keempat, karya Gus tf Sakai Juara Harapan I: Tanah Biru, karya Pandu Abdurrahman H. Ini hasil seleksi Dewan Kesenian Jakarta. Tapi sayangnya gue lupa apakah ini novel pertamanya atau nggak. yang jelas untuk bisa sampe menang juga udah keren banget, apalagi untuk ukuran gue yang mana juri Literary Award melewatkan jomblo untuk masuk shortlist hanya dengan alasan 'soalnya komedi sih'. Well, may be next time. But enough about me, this post is about Ratih. Beli deh ni buku. Keren punya. Teaser - Bab Satu Kampus - Yogyakarta, Agustus 2001 Galih Kamu seperti menara. Selalu dapat kulihat walau jauh dan dikerumunan orang. Ada sinergi di dalammu, kharisma yang dulu sempat kunikmati dari dekat dan dalam jarak. Adalah pesona yang membuat pria bertekuk dan mencium ujung-ujung jarimu. Hanya sanggup menunduk memandang kukumu yang tidak berkutex, mungkin juga hidungnya mencari odor tubuhmu yang akan selalu dikenang dan dikenalnya di kemudian hari pada setiap orang yang menyemprotkan parfum berbau sama denganmu ke tubuh-tubuh mereka. Dan saat tak mampu menggapaimu lagi, mungkin aku atau orang lain yang pernah mengagumimu akan bertanya pada orang itu; “Kumohon katakan, parfum apa yang kau pakai?” walau mungkin akan dianggap gila. Lalu kucari mereknya dan kusemprotkan pada kacuku agar senantiasa dapat kuhirup lembutnya bersamaan dengan kubanyangkan adamu. Tahukah kamu dari jauh selalu kunikmati gerakmu. Aku tak pernah yakin dengan perasaan ini (apakah aku pria yang sedang jatuh cinta?), atau aku hanya kembali terlena dengan adanya gambaran dirinya pada bahasa tubuhmu, caramu berdandan, dan keras kepalamu. Belum pernah kuungkapkan tapi aku tahu itu semua ada pada dirimu. Kamu mengingatkanku akan kehilangan yang sangat mendalam. Sungguh aku minta maaf jika terlalu lancang berani mencoba menggapaimu seperti bintang, mengangkatmu seperti dewi dan menjatuhkanmu kembali ke bumi nyata, terlempar di lautnya, cair, pasrah pada benda bermolekul padat yang menjadi wadah. Mengikuti bentuk. Bukan sebagai gas yang bebas beterbangan di ruang dan tak berruang sekalipun. Bahwa aku menginginkanmu karena ada gambaran dirinya dalam dirimu. Tuhan mungkin tengah kehabisan ide saat menciptakanmu, pokokmu begitu mirip, orang yang pernah aku miliki. Bangunkan kelaki-lakianku hingga tumbuh hasrat bercampur deru. Tengahkah kasmaran, atau rasa ini hanya mengulet dari tidur panjang ? 40 musim yang sudah hadir dalam 10 tahun. . . Kremlin - Moscow, 22 December 1990 Dingin. Antri. “Kenapa kita harus datang ke sini musin salju sih, yah?” “Karena memang jatah kita datang musim ini, son! Now, you quiet. Still wanna see that old grandpa there or not?” masih mau lihat ‘kakek’ nggak? “Okey…but I hate this, masak tiap mau apa-apa harus antri kayak gini?” “Memang begini keadaannya. If you keep complaining, you better wait there with Bunda. Ayah masih mau lihat Lenin.” kalau ngeluh terus, mendingan tunggu disana aja sama Bunda. “No, I want to see him now. Bunda nggak tau kalau nunggu besokpun masih harus antri. Kata Diaz orang disini antri mau lihat Lenin setiap hari dari jam 5 pagi. Jadi percuma nunggu besok.” Aku mau lihat Lenin. “Yeah…” Ayah tersenyum, menang, aku tahu dia senang karena aku ikut antri. Itu artinya dia masih punya teman untuk antri. Bunda dan adikku Dian sudah menyerah, kecapekan berdiri antri. Orang Rusia memang patut diacungi jempol dalam hal antri. Banyangkan, satu jam antripun dilakoni. Di Rusia kalau kamu tidak biasa antri maka kamu mati. Tidak bisa beli roti dan kebutuhan lainnya. Maka, mengantrilah! Ini hari kesepuluh kami di Moscow. Ayah tiba-tiba mengajak aku dan Dian untuk ikut tinggal di negara tempat tugasnya ini. Padahal aku sudah mulai merasa tenang tinggal di Jakarta dan tidak ikut Ayah dan Bunda tugas ke mana-mana. Aku tidak tahu berapa lama kami akan tinggal di sini. Ayah juga tidak tahu. Katanya, kalau tugasnya diperpanjang itu berarti dia harus tinggal lebih lama. Menurutnya sudah terlalu lama aku dan Dian hidup ‘terlantar’ tanpa pengawasan orang tua. Setelah terakhir saat aku kelas 3 SMP sampai kira-kira sekolah setingkat 1 SMA kami ikut Ayah ditugaskan di Hongkong, kini aku dan adikku ikut lagi. Kuliahku di Jakarta di transfer ke Moscow. Karena termasuk anggota keluarga orang dari kedutaan maka dengan mudah aku bisa masuk Moscow State University. Hanya saja aku harus menyesuaikan kredit yang sempat aku tempuh di Universitas Indonesia. Jadilah banyak kredit yang terbuang sia-sia, menurutku sama saja mengulang dari semester awal. Ini payah, kami tidak bisa bahasa Rusia. Yang aku ingat hanyalah “Ya nyemagu pa Ruski” diajari Diaz, anak teman ayah yang sudah 2 tahun tinggal di sini, yang artinya ‘saya tidak bisa bahasa Rusia’. Orang sini bahasa Inggrisnya juga payah. Mau tidak mau aku belajar bahasa Rusia sedikit-sedikit. Kebangsaan orang Rusia sangat kental. Kebanggaan akan negaranya sangat jelas. Mereka bahkan meletakkan karangan bunga dibawah kaki patung Lenin yang berserakkan di mana-mana. Hal ini untuk menunjukkan rasa cinta mereka kepada Lenin, pahlawan Rusia yang sekarang jasadnya terbujur kaku dan masih bisa dilihat kalau kamu bersedia antri masuk ke Mausoleum. And that’s exacly what I am doing now. “Lih! Galih!” suara Bunda memanggil sambil melambai-lambaikan tangan “sini aja, gak usah ikutan antri. Ayah biar sendiri.” Dari kejauhan aku bisa melihat Bunda dan Dian nyengir. Dian lalu lari menghampiriku, menarikku keluar antrian “ayo ikut, lihat prajurit aja.” Setiap satu jam selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, prajurit Rusia bergantian menjagai pintu masuk. Pergantian prajurit ini menjadi pemandangan indah tersendiri. Kira-kira dua menit sebelum lonceng Kremlin berdentang, tiga prajurit dengan senjata bayoret keluar dari pintu gerbang gedung utama Kremlin. Dua melangkah di muka satu mengawal di belakang. Ketiganya berbaris sangat-sangat rapi dan serempak seperti sudah diprogram menuju Lenin Mausoleum. Gagah sekali. Tatkala mereka tiba di muka Mausoleum lonceng berdentang lagi. Pergantian penjagaanpun berlangsung, yang lama melangkah keluar dan yang baru menggantikan masuk ke muka pintu gerbang Mausoleum. Seperti halnya prajurit istana di Inggris, mereka tidak boleh bergerak walau mungkin ada lalat lewat dan mampir di hidung. Soal lalat, jangan salah...aku sendiri agak terkejut dengan Rusia yang menurutku termasuk salah satu negeri indah dengan gedung-gedung kuno yang lumayan terawat. Memang pemerintah disini menyediakan biaya untuk perawatan gedung-gedung kuno terutama yang bersejarah. Dan aku yakin kalau aku sudah travel sana-sini di Rusia aku akan melihat lebih banyak gedung-gedung kuno nan megah. Tapi WC di mana-mana bahkan di tempat umumpun sangat kurang terrawat. Pertama-tama aku heran dengan lalat yang beterbangan, kok ada banyak? Ternyata sumbernya dari WC. Aku dengar dari Diaz kalau orang luar yang datang ke Rusia banyak yang mengeluh tentang WC umum yang kotor. Untuk ukuran negara besar seperti ini kesadaran kebersihan kakus sangat kurang, mungkin mereka tidak tahu bahwa kebersihan kakus akan sangat mempengaruhi kesehatan. Pantatku terbiasa duduk di kakus duduk atau kakus jongkokan ala Indonesia, dibersihkan pakai air kalau perlu sabun, selanjutnya dikeringkan dengan kertas tisu gulung. Tapi disini…sebuah lubang memang suatu prasyarat utama untuk sebuah tempat yang disebut WC. Hanya saja tidak dibarengi dengan alat sentor yang seharusnya menjadi prasyarat kedua sebuah tempat untuk disebut sebagai WC sebab kerap kali alat sentor tidak bisa digunakan dan tidak ada tisu gulung. Bukannya aku sok bersih. Kata Diaz pemerintah Rusia kekurangn pegawai untuk mengurus WC. Sejak perestroika-nya Gorbachev, pemerintah mulai membuka diri dan tidak lagi melulu semuanya milik pemerintah, tidak hanya taksi swasta saja, tapi juga siapa saja warga yang ingin buka WC umum. Menurut Diaz, waktu dia datang ke sini dua tahun yang lalu WC umum belum begitu banyak. Tapi kelihatannya sekarang mulai menjamur karena orang-orang bisa mendapatkan tambahan uang belanja yang lumayan dari WC umum. Kupikir sama halnya dengan wartel di Indonesia yang mulai menjamur. “Prajurit dari sini juga kelihatan, kok!” Ayah setengah teriak pada Dian “heh, jangan. Ayah sama siapa nanti? Galih, kamu disini aja.” Ayah dan Dian jadi tarik-tarikkan aku. “Udah, lihat ‘engkong’-nya besok-besok aja. Kelamaan nunggunya. Ayo jalan-jalan aja. Kita ‘kan disini masih lama. Kita ke GUM aja, yuk! Bunda pengen foto-foto di depan Katedral yang itu tuh.” Katanya sambil menunjuk St. Basil. Dian terlanjur menarikku. Ayah terpaksa melepaskan genggamannya, takut keluar antrian. Bisa-bisa malah harus ikut antri lagi dari ujung. Di hari-hari biasa Ayah harus ke kantor, jadi hari ini adalah kesempatan Ayah untuk melihat Lenin, makanya Ayah bertahan di antrian. Aku, Bunda dan Dian lalu foto-foto di depan Katedral St. Basil. Kami jingkrak-jingkrak kegirangan, maklum ini pertama kalinya kami ke Kremlin. We’re so excited. Red Square sangat luas, bisa untuk main bola. St. Basil Cantik sekali. Seperti istana. Ujung bangunannya seperti kubah masjid, hanya saja lebih kerucut dan berwarna-warni seperti permen. Dan ini bukan masjid melainkan dulunya gereja. Dari kejauhan ada beberapa orang yang sedang melukis. Saat aku dekati mereka kebanyakan melukis St. Basil. Beberapa orang yang belum selesai melukis menutup lukisannya dan membawa kanvasnya pergi. Mungkin besok mereka datang lagi untuk melanjutkan. Seorang gadis yang cukup menarik perhatianku. Sementara yang lain melukis St. Basil ia melukis Kremlin lengkap dengan Red Squarenya. Dari jauh tersamar kulihat warna catnya tidak berwarna-warni seperti kalau melukis St. Basil yang memang berwarna gembira. Coklat, kelabu, merah, abu-abu, hijau tua, putih, hitam. Dia menunggu lukisannya kering sebentar sambil memasukkan cat, kuas dan peralatan lukis lainnya ke dalam tas. Ambil jarak + 1 meter. Memandang lukisannya sebentar. 5 menit, 10 menit, 15 menit. Rasanya waktu seperti melambat, slow motion. 15 menit lebih berapa detik, waktu di jam tanganku. Tapi aku merasa lebih lama dari itu. Slow motion. Setelah itu gerakkannya mendekat ke arah lukisannya, menutupnya dengan kain putih. Diangkat. Tali gantungan lukisan di samirkan ke bahu. Dikempit di antar tubuh dan lengan kananya. Tangan kiri mengangkat tas dan tangan kanan mengangkan penyangga kanvas. Kenapa rasanya jadi lebih lambat, ya? Sooo Slooow... Ia berjalan membelakangiku yang jaraknya lumayan jauh. Aku tahu dia bahkan tidak sadar aku ada. Aku hanya salah satu dari sekian puluh, ratus bahkan mungkin ribu orang yang datang ke Red Square untuk menikmati indahnya, itulah aku baginya. Berlalu, berlalu, ber-la-lu, b e r l a l u...dan waktu seperti dibangunkan lagi. Waktu berjalan normal. Samar-samar terdengar diantara telinga yang tiba-tiba kedap suara, angin, dingin dan “...ya, Lih? Lih...Galih! Kok bengong sih? Hei, kamu lihat apa. Are you there, helloo...knock-knock-knock, anybody home...?” suara Dian, dan tangan yang melambai-lambai tepat di depan wajahku. Lalu bertepuk-tepuk. Aku mulai kembali dari alam slow motion. “Bunda, kakak baru mengalami mati waktu, mungkin déjà vu.” Katanya manja sambil menarik-narik baju Bunda. “Apaan sih, kamu...nggak kok!” Lalu aku berjalan ke arah mana saja. Kulihat antrian di pintu Lenin Mausoleum, mataku mencari Ayah. Tapi tidak kutemukan. Kelihatannya Ayah sudah masuk. Tadinya aku ingin ikut antri lagi untuk menghindari Dian yang ngoceh. Tapi sekarang aku sudah merasa malas. Lain kali aku pasti akan masuk untuk melihat Lenin. Diana terlanjur menarikku ke GUM. Dasar tukang belanja! Sebentar lagi Natal, tidak seperti di negara-negara lain. Walau suhu disini super dingin dan ..... ---- dan meski dingin coba deh Jij ke toko buku dan Jij beli buku punya temen Ik. Segitu dulu dari gue. Sumpah sekarang gue bisa balesin komen. sori ya guysssss. Labels: books
Book Promo - Bertanya Atau Mati Bertanya Atau Mati - oleh Isman H. Suryaman It's official. This book has already SOLD FREAKING OUT!!! gak ngira orang Indo udah mulai siap untuk humor di level mana Isman bersemanyam. Selamat untuk Isman yang sudah meluncurkan buku ini. Menambah deretan bloggers untuk terjun ke dunia tulis-menulis (karena jelas ini bukan sastra). It's kind of ... a book of thoughts...his thoughts. Anyhoo, all the best for Isman and I dare you to buy his first installment. HITTING THE BOOKSHELVES IN THE 2ND WEEK OF SEPTEMBER 2004 Buku Humor + Inspirasional? Kenapa tidak? Bertanya atau Mati! (BaM!) adalah buku humor yang menawarkan lebih dari sekedar kelucuan. "Baca buku ini seperti bercermin ke diri sendiri. Gue jadi bisa sadar dan intropeksi, tapi bukan berarti bukunya berat. Caranya lucu dan nggak perlu mengerutkan kening." --Arie Dagienkz Sebagai mantan pengejar bus kota profesional, kuli kantoran biasa, dan seorang paman berpengalaman, Isman mengungkapkan sisi lain dari beragam topik kehidupan sehari-hari. Dari cara menghubungkan peuyeum dengan kentongan hingga merancang pernikahan agar tidak terancam bahaya angin puyuh, pengarang ini membuktikan bahwa hidup dapat lebih bermakna dengan mempertanyakan hal-hal yang cenderung dianggap remeh, seperti: Apa artinya jika anjing Anda mulai menyanyi Nessun Dorma? Di manakah hubungan telepati paling mudah terjalin dalam acara pernikahan? Kapankah kita perlu menurunkan berat badan demi keselamatan dunia? Bagaimana bayi 21 bulan dapat menjadi kandidat presiden yang andal? Dan mengapa wanita bugil yang beterbangan di mana-mana dapat memajukan ilmu pengetahuan dengan pesat? "...ini gebrakan baru banget buat buku-buku di Indonesia. As far as I know, nobody ever made something like this so far. Lucu, tapi non-fiktif dan tanpa adegan slapstick, itu yang bikin beda." -—Ndari Utoyo, Mahasiswi BaM! mencoba membangkitkan kembali humor tulisan Indonesia yang merangsang Anda untuk bermain dengan otak Anda; humor yang universal, dan dapat menembus batas gender,... "Gila! Baca aja sendiri." —-Eric Natanael, Strategy consultant "Judulnya bikin penasaran. Sekali baca susah berhenti. Isinya komplit seperti resep masakan. Tapi kok resep masakannya sendiri malah nggak ada?" —-Titiek Onang, Nenek rumah tangga "Kalau [BaM!] dibaca untuk hiburan, lucu. Tapi kalau dibaca serius, bisa mengajarkan kita untuk memandang sesuatu dari arah yang lain." —-Arga Aridarma, Pengusaha "Judging from his way of criticizing the Bowlingual, I was so amazed that [his] work has modest wits, [with] penetrating insight through the every sentence. Even [though] he treats [something] critically, there is a lot of love, humor, and consideration." —-Nina Higa, Japanese mother of three: twin boys and a female rabbit ”Meowr." —-Popox, Kucing pemerhati humor ...Asalkan Anda termasuk orang-orang yang dapat menertawakan diri sendiri. "[Membaca buku ini] Seperti menyaksikan gerhana matahari. Indah, langka, dan hanya yang mengerti yang bisa menikmati. Pengarang memiliki pemahaman yang lumayan dalam terhadap segala sesuatu di sekitarnya. Dan ini pendapat yang sangat objektif!" —-Primadonna Angela, Istri Pengarang (yang euhm… objektif) Tunggu kehadiran BaM! di toko buku Gramedia terdekat pada minggu kedua September 2004! Selengkapnya dapat dilihat di website beliau sendiri. Rgds. Labels: books
A Big thank you Just wanna say thanks to all readers for the critics, I'll work on it and I hope I can post something in short future. So if don't mind, don't forget to subscribe (it's on the left below). Thanks again guys. Rgds. Labels: books
Cintapuccino - Nisha Rahmanti Tinggal di IndonesiaEnaknya tinggal di Indonesia. Sekarang film lagi marak2nya berkembang. Novel juga. Sekarang banyak banget novel pop-culture bermunculan. Ini diakui temen penulis gue sendiri di Indonesia. Novel di sebelah kiri ini adalah novel perdana temen gue, Nisha Rahmanti lulusan itb arsitek. Judulnya Cintapuccino Cerita Sukses Novel Cintapuccino adalah novel kedua yang gua tau yang secara tidak disangka-sangka menggebrak pasaran dengan baik*. Dalam waktu dua minggu, novel ini mengalami 3 kali cetakan. Bayangin, novel debutan dengan 11 ribu kopi cetakan dalam dua minggu. Jujur, memang tidak ada yang lebih membanggakan bagi seorang penulis selain ngeliat jumlah cetakan di awal buku di bulan dan tahun yang sama. Ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama. Berisi materi yang baik dan mengena ke masyarakat. kesalahan penulis sastra modern jaman sekarang adalah mereka terlalu persona dan ngayal dalam menulis. Mereka memakai istilah2 eksklusif yang membuat pembaca jangar. makanya jangan heran kalo novel debutan, 3000 kopi / tahun kejual juga udah bagus. lain halnya sama Cintapuccino. bahasanya mudah dimengerti. Gue, Ninit dan Enda termasuk sedikit orang yang diminta kritiknya mengenai buku ini dari tengah2 project berlangsung dan melihat sendiri bagaimana prosesnya terjadi. detilnya ya, mungkin pembaca tidak perlu tahu. Gue gak akan komen tentang isi ceritanya (bukan karena gak bagus) karena gue pengen pembaca menilai sendiri. Kedua. Marketing yang Baik. Waktu gua mulai masuk ke dalam komunitas penulis, gua mencermati bahwa rata2 penulis berkata 'Ah, gua sih gak peduli siapa yang beli yang penting gua bikin buku.' This, my dear readers, are the dumbest mistake a writer can ever, ever make. orang di cina kenapa bisa hidup lama? karena mereka mengonsumsi semuanya dengan seimbang. Seimbang. Karya yang baik tidak akan terdengar oleh orang jika tidak memiliki marketing strategy yang baik. karya dengan marketing yang baik akan menjadi cemoohan jika materinya buruk. Penulis adalah seniman dan buku adalah seninya. tapi di detik buku itu dicetak 3000 kopi dalam mesin, buku itu menjadi sesuatu yang kita namakan produk dan sebuah produk memerlukan marketing yang baik. (Makanya jomblo cuman kecetak 7 kali...soalnya gue gak bisa gencar promo, udah keburu ke Afrika). Ncha tau sekali akan hal ini dan dia berhasil memarket bukunya dengan baik. Setahu gua Ncha adl orang yang gaul dan supel dan profesinya sebagai penyiar, mengenalkan dia dengan banyak orang. Ketiga ilustrasi cover yang oke. ini penting. Sudah terbukti bahwa manusia lebih mudah dan cepat mencerna dan tertarik pada grafis dari pada tulisan. makanya cover emang kudu eye catching. Di sini, cintapuccino sampe bikinn gue sendiri rada nyesel kenapa gue gak kenal sama ilustratornya. Basically, if u want to make a phenomenal book, jangan hanya konsentrasi ke materinya tapi juga ke segala aspek dari buku itu sebagai sebuah produk selain sebuah seni. Hasilnya? Demand naik, masyarakat menjadi aware dan penasaran ingin membeli buku. 11000 kopi tercetak dalam dua minggu (bukan yang terjual ya, yang tercetak). Itu sangat-sangat cepat. tadi siang gue nelpon Rudy, editor kami, (penerbit dan editor kita sama) dan dia cuman bisa geleng2 kepala sama Ncha. Emang top abis marketingnya dan memang begitulah seharusnya seorang penulis. Tidak hanya care akan tulisannya tapi juga dengan marketingnya. * Dengan segala kerendahan hati, novel pertama yang gua tau yang ngegebrak ya...novel gue. Profil Ncha Gue kenal Ncha dari mulai kuliah. Anaknya udah funky dari dulu. berasal dari SMA 3 bandung dan masuk ITB 96 Arsitek. Dia juga adalah penyiar OZ Radio Bandung.Akhir kata dari gua, selamat untuk Ncha. Excellent Job welldone. untuk readers yang lain, terutama mereka yang memiliki Blog...kalian itu punya blog karena kalian mememiliki kemampuan untuk mengekspresikan diri. So, tunggu apa lagi? You'll never have time...then make, time. unlike other writers, gue dan Ncha adalah pekerja kantoran juga kok. So, ditunggu gilirannya, dan as always, gue siap bantu. rgds/ Adhitya Labels: books
Kedua dari Anjar First off, wld like to apologies because gue gak bisa attend comment di postingan sebelumnya. gue lagi sibuk banget, sumpeh lo. Anyways, ada bingkisan dari komunitas buku untuk komunitas blogger di bawah ini. Most likely u'll enjoy it! Grasindo lagi hoki akhir-akhir ini. Kemaren baru kita liat mang Jamal menerbitkan novel keduanya dan mendapat raving reviews from his readers. Sekarang, di waktu yang hampir bertepatan, salah teman kami juga menerbitkan buku keduanya. Setelah sukses dengan 'Beraja' (Grasindo - 2003), Anjar kembali dengan 'Kidung'. Do not miss this novel! and this is ME talking. Preview bab satu dapat dibaca di bawah. Untuk Teh Anjar, maaf kalo ada salah-salah kata atau gimana sama itu fotonya kemaren saya coba kecilin tapi kekecilan huahahah. Oh ya, kalo suka sama bukunya dari dulu atau emang fans, imelin aja ke gua ntar gua kasih tau imelnya dia. Segitu dulu aja, I'm off to the beach for the weekend. Have a nice weekend y'allCuplikan Kidung Warung Pecel Lele, Pasar Simpang, 28 Februari 1994 “Kamu tuh unik, Glen,” ujarku memulai pembicaraan, “Dan, katamu aku nyentrik.” Glenna terus menyuapkan pecel lelenya. Sesekali mulutnya menguap-nguap karena sambelnya yang pedas. Seteguk air Teh ia minum buat mengurangi kepedasannya. “Gimana kalo yang unik dan nyentrik ini dijadiin satu aja. Kayaknya bagus deh.”“Hah....?????” Mata bagus Glenna langsung melotot. Hampir saja ia menjatuhkan piring nasi. Aku cuma bisa menahan ketawa. “Kamu teh ngomong naon (apa) sih?” “Nembak kamu.” Glenna memandangku tak percaya. Dia seperti mencari-cari kebenaran atas apa yang barusan aku bilang. Ia mengkibas-kibaskan tangannya di depan wajahku seolah menyadarkan orang. Aku tetap bergeming. “Kamu nih nembak kok kayak nggak niat gitu sih?” “Dengan segala ketulusan hati, Glenna Riva. Aku niat.” Kali ini Glen mati kutu. Dia diam. Gaya makannya yang cepat itu mendadak sangat lamban. Pelan-pelan nasi tanpa diselipi sambal dan cuilan ikan lele, ia masukkan ke mulut. Nampaknya Glen sembari berpikir. “Kamu yang membuatku seperti tidak niat, Glenna,” kuberanikan diri menggenggam tangan kiri Glen yang ada di atas pahanya. “Aku yakin, kamu juga nggak akan percaya kalau dari awal pertemanan kita, sejak itulah aku ngecengin kamu.” Lagi-lagi tanpa komentar. “Ngecengin kamu, benar-benar enjoy. Tanpa beban. Aku sungguh-sungguh menikmati. Baik aku maupun kamu bisa manunjukkan siapa diri kita masing-masing. Nggak perlu bersandiwara.” Kalimat panjang itu keluar begitu saja. Ah, mungkin karena kekagumanku sekian lama padanya.... Glen menatapku. Kali ini tatapannya teduh. Sama seperti saat ia menyuapkan makanan ketika aku sakit tempo hari. Aku juga merasa tertantang untuk memandangnya sedemikian rupa. Beberapa detik kami saling bertatapan. Sampai akhirnya Glen kembali menyuapkan makanan. Kali ini gaya makannya sudah kembali seperti semula. Nggak lamban. “Aku nggak secantik Shifa, Jik.” Aku kaget. “Wah, gosip kampus sudah sampai ke telingamu juga?” Glen mengangguk pelan. “Aku cuma dua kali dengar. Itu juga nggak sengaja.” Kepalaku menggeleng-geleng. Siapa nih biang gosip. Kok ya urusan dalam negeri bisa merembes ke telinganya? “Shifa memang cantik. Banyak yang suka sama dia. Aku dekat dengannya sejak penataran P4. Tapi, sebatas itu saja. Nggak lebih. Perasaanku padanya biasa-biasa saja. Beda dengan kamu. Kamu bisa membuat perasaanku jadi luar biasa meskipun seringkali keras kepala kamu melebihi batu.” Aku tergelak. Glen ikut tersenyum lebar. Ia menyudahi makan malamnya. Tangannya dibersihkan dengan air yang ada di kobokan yang tersedia. Dihabiskan pula sisa air minumnya. Sementara aku, sebelum nembak tadi telah menghabiskan satu porsi nasi soto ayam. Aku nggak terlalu suka pecel lele. “Kalo gitu.... Gimana dengan Kei?” tanya Glen tiba-tiba. “Kenapa dengan Kei?” “Kamu nggak cemburu lagi dengan dia?” “Nggak.” “Biarpun aku sama dia sering jalan berdua?” “Nggak.” “Biarpun dia sering maen ke rumah?” “Nggak.” “Biarpun dia sering ke Jatinangor, jemput aku?” “Hah?!” Rada panas kupingku barusan. Spontan aku seperti orang tak percaya. “Hahaha.... Tu kan.... Kamu masih cemburu sama si Jepang itu!!!” Glen tertawa ngakak. Nampaknya dia senang bisa mengerjaiku. Tapi, buru-buru ia menerangkan kondisi sebenarnya. Dan, aku sangat percaya padanya. Amat sangat percaya. Nggak lama setelah itu, Glen menerima penembakanku yang jauh dari romantis itu. Glenna Riva telah resmi menjadi ratu hatiku yang amat kujaga. Persemaian yang kian hari kian subur itu memberi arti lebih dalam sejarah hidupku. Betapa kunikmati dan kusyukuri setiap kali mendapati keindahan hadir serta memancar terang dalam diri perempuan gagah perkasa itu. Terkadang Glen memang terlihat gagah perkasa. Lebih gagah daripada aku. Dengan potongan rambut dan gaya berpakaian yang nyaris jauh dari rok atau pakaian layaknya seorang perempuan, seringkali orang salah memanggilnya dengan embel-embel Mas. Kalau sudah begini, aku cuma bisa tergelak. Tak ada niatku untuk mengubah Glen menjadi yang kata orang, yang seharusnya kodrat seorang perempuan. Dengan apa yang ada sekarang, Glen sudah menampilkan keperempuanan, apa adanya. Keluarga di Lampung juga telah tahu hubunganku dengan Glen. Pada dasarnya mereka setuju meskipun mereka pernah mempertanyakan soal perbedaan diantara kami. Terus terang, aku nggak ambil perduli soal ini. Baik aku maupun Glen sejak awal sudah berjanji untuk tidak mengusik apalagi saling mempengaruhi. Kami akan saling menghormati. Walaupun kami merasa hubungan ini adalah hubungan sangat serius, namun untuk urusan ke depan, kami percaya alam dan yang di Atas akan menuntun kami. Perbedaan kami bukan halangan buat meneruskan hubungan ini. Toh, justru karena kami kebetulan berbeda itulah kini kami bersatu. Hari-hari pun dijalani dengan amat menyenangkan. Termasuk ketika aku lulus dan mendapat pekerjaan di Jakarta. Glenna yang waktu itu baru saja menyelesaikan masalah draft skripsinya yang bermasalah, merelakan aku bekerja di Jakarta. Sebenarnya aku nggak tega meninggalkan dia sendirian menyelesaikan skripsinya. Apalagi kalau sampai bermasalah lagi seperti draft sebelumnya. Ratu hatiku itu pasti akan lebih down. Kerja kerasnya seperti sia-sia. Namun, Glen berhasil meyakinkanku. Meyakinkan atas skirpsinya yang pasti akan berhasil dan menyakinkanku atas bakal pekerjaanku yang nggak boleh disia-siakan. “Itu konsultan hukum ternama, Jik. Sayang banget banget kalo panggilan kerjanya kamu sia-siakan. Ada banyak orang yang ngiler pengen kerja di sana.” “Tapi, mereka lebih sering dapat order dari pemerintah atau para pejabat yang jelas-jelas bermasalah.” “Justru itulah tantangannya, Jik. Apakah kamu akan bekerja pakai otak, hati atau keduanya?” Semangat dari Glen itulah yang kemudian menghantarkanku bekerja di sini, di sebuah konsultan hukum dari seorang kuasa hukum ternama di negeri ini. Harus kuakui, aku belajar banyak atas apa yang aku lalui selama di sini. Sementara Glen, setelah lulus dengan baik dari kuliahnya, lebih memilih tinggal di Bandung. Dari zaman masih kuliah, dia memang tertarik bisnis tanaman. Ia sangat rajin mengembangbiakkan berbagai jenis tanaman terutama tanaman bunga. Rumah yang sekarang ia tinggali, sebagian tanahnya ia isi dengan berbagai jenis tanaman termasuk “pohon cinta” kami. “Pohon cinta” itu menjadi kebanggaan tersendiri bagiku. Telah beberapa kali panen yang memuaskan. Hasil pengembangbiakkan tanaman ini telah bisa menghidupinya. Seminggu dua kali, Glen juga memberi les menyanyi di sebuah sekolah musik dan menjadi guru privat pelajaran sekolah. Pokoknya Glenna Riva yang amat kucintai itu kini telah menjadi perempuan mandiri. O ya, karena hobi bercocok tanam itu pula, Glenna berbisnis dengan Kei. Mereka berbisnis sayur mayur. Menurut yang aku dengar, selepas kuliah awalnya Kei coba-coba berbisnis sayur dengan seorang sepupunya. Karena ternyata cukup menguntungkan, Glen tertarik dan ikut menanamkan modal. Sekarang usaha itu bukan lagi cukup menguntungkan, tapi sudah sangat berkembang. Usaha Kei yang semula kecil-kecilan sekarang sudah berbentuk Perseroan Terbatas. Akta pendirian PT itu aku yang mengusahakan via seorang Notaris, teman kuliahku. Meski yang kudengar, pengelolaan sehari-hari masih Kei juga yang repot, tapi itu tidak menghalangi laju perkembangan usaha mereka. Dan, karena bisnis itulah yang kemudian hari menjadikan hubungan Kei dan Glen semakin dekat. Mereka lebih sering bertemu, berdiskusi bahkan turun ke lapangan bersama. Dari segala laporan Glen selama ini, kedekatan mereka memang tidak dapat dihindari. Terlebih dengan kondisi aku dan Glen yang terbatas jarak begini. Sekali lagi, aku tetap percaya pada Glen. Tetap percaya pada komitmen yang telah kami pegang bersama sekian lama. (“Kidung, senandung cinta untukku”, halaman 25-31, Grasindo 2004) “Perempuan bagiku adalah: hidup. Saat hidup kurang bermakna, mereka memberi warna warni yang tak kudapat di tempat lain. Hidupku jadi hijau, biru, merah, hitam, kuning, jingga, coklat…” (Andy Rahadian P) Aku tertawa terbahak-bahak ketika kudapati e-mail dari Kei hari ini. Si Juragan Sayur satu itu ternyata sedang kesulitan mengurus segala yang berbau administrasi. Menghitung segala bentuk pendapatan, pengeluaran, pajak, gaji pekerja dan sebagainya. Biasalah, jelang awal bulan begini, dia memang diharuskan konsentrasi untuk urusan satu itu. Padahal sudah sejak lama kuanjurkan agar ia mengambil seorang sekretaris atau orang yang cakap di bidang administrasi. Maksudnya sih supaya mengurangi kepusingannya tiap kali akhir bulan, mengurus tetek bengek itu sehingga dia bisa konsentrasi di lapangan. Tapi, jawabannya selalu sama: “Kalo lu mau nambah modal ke gua, gua ambil deh sepuluh sekretaris buat ngurusin hal yang musingin gua tiap bulannya ini.” Jawaban aneh karena bagaimana mungkin aku menambah modal dari yang sudah kuinvestasikan kepadanya hanya buat nambah pegawai administrasi? Padahal sebagai tukang sayur, begitu aku dan teman-teman menyebut pekerjaannya, Kei pastilah mampu membayar satu saja sekretaris. Nggak usah sepuluh. Tapi, itulah Kei. Kalau ada duit atau modal tambahan lain, dia lebih memilih ditanamkan buat bisnis sayur mayurnya. Makanya dia nggak mau nerima saran banyak orang, nggak cuma aku saja, buat nambah pegawai administrasi. Kei lebih memilih dia sendiri yang ngurus meskipun ujung-ujungnya ya seperti di e-mail barusan. misuh-misuh nggak jelas. “Lu aja deh yang jadi sekretaris gua. Itung-itung menghemat. Kan gaji lu ya deviden modal lu.” “Huuuu.... Lu enak, gua rugi.” “Lha daripada deviden lu telat terus gua masukin ke bank dan lu jadi tempat gua marah-marah?” “Gua lebih milih itu.” “Payah nih. Kagak setia kawan.” “Eh, kawan sih kawan. Bisnis mah still bisnis, man!” Itu debat kusir kami beberapa waktu lalu ketika Kei pertama bercerita tentang kesulitan yang lama-lama dia rasakan. Kalau sudah begini biasanya akan ada “perang” diantara kami. Kei yang sebenarnya ngambek, tapi masih berusaha merayu, nggak akan ragu-ragu melancarkan serangan mautnya, menggoda dikit-dikit, mengilikitik lalu bakal terjadi kejar-kejaran karena aku pasti tidak mau menerima dengan mudah segala rayuannya itu. Tinggal orang di sekeliling kami saja yang hanya bisa memandang heran. Sudah sebesar ini masih seperti anak-anak. Who cares?! Ngomong-ngomong soal kejar-kejaran... hmm.... Aku melongok ke luar jendela. Di dekat pagar masuk, dua tanaman setelahnya ada tanaman mangga bangkok sedang menonjolkan buahnya yang sedang kubungkus dengan kertas koran supaya lekas besar dan matang. Pohon mangga itu menyimpan cerita sendiri. Waktu itu dalam rangka lima tahun hubunganku dan Jik, kami berniat membeli sebuah tanaman sebagai lambang cinta kami yang hingga lima tahun tetap subur bersemi. Tadinya aku ngotot pengen beli tanaman bunga. Aku memang paling senang bunga. Tapi, Jik nggak kalah ngotot. Dia bilang, kalau tanaman bunga, cuma aku sendiri yang bisa menikmati sementara dia nggak. Setelah melalui adu argumentasi, aku mengalah. Kali ini menyenangkan kekasih hati, nggak ada salahnya, toh? Setelah berkeliling mencari, kami mendapati pohon itu di sebuah rumah penangkaran pohon buah-buahan di derah Lembang. Lalu, dibelilah tanaman mangga bangkok cengkir itu. “Setelah enam bulan, bakal menghasilkan buahnya, Neng,” begitu janji sang penjualnya. “Asal dirawat dengan baek. Jangan lupa disiram dan dipupukin.” Oleh karena Jik di Jakarta sementara aku masih di Bandung maka kesepakatan kedua adalah aku yang merawatnya. Aku sih tidak keberatan. Aku kan suka tanaman meski lebih memilih tanaman bunga. No problem. Enam bulan kemudian, buah mangga yang dijanjikan penjualnya akan membuahkan hasil itu ternyata benar berbuah. Cuma 3 biji, tapi cukup membikin Jik bergirang hati. Dia bela-belain minta cuti sehari hanya buat menikmati buah mangga itu. Saat kuiriskan mangga hasil dari “pohon cinta kami”, begitu Jik mengistilahkan, Jik benar-benar begitu menikmati iris demi iris. Bahkan dia nggak peduli ketika ada kliennya yang mendadak menelepon ke ponselnya memintanya untuk segera kembali ke Jakarta. Pokoknya hari itu adalah harinya untuk sang mangga yang ternyata manis serta gurih. Nyam..., nyam.... Seminggu kemudian, lewat jasa kurir, aku mendapat hadiah dari Jik. Hadiah yang membuatku geleng-geleng kepala. Ada tiga buah tanaman buah-buahan, jeruk garut, belimbing manis serta sawo kecik yang katanya “dititipkan” agar kurawat sehingga menghasilkan. Sempat kuajukan protes. Memelihara pohon buah bangkok harus lebih telaten ketimbang tanaman lain. Padahal tanaman di rumahku ini sudah begitu banyaknya. Namun, sekali lagi rayuan Jik memang paling mujarab, dia satu-satunya orang yang berhasil menjadikan keinginannya aku penuhi. Biar dengan segala persyaratan supaya ia juga mau terlibat, tanaman “titipan” Jik itu sudah beberapa kali panen. Yang terakhir, baru seminggu lalu panen. Hanya pohon sawo kecik saja yang sulit kukembang biakkan. Entah kenapa. Mungkin jenis tanahnya nggak bisa kompak dengan tanah atau udara di sini. Jik sempat menyesal, tapi mau dibagaimanakan lagi? Senyum memadati bibirku. Aku beranjak dari tempat duduk lalu keluar menuju tempat pohon-pohon itu berada. Ke tempat pohon mangga bangkok penuh kenangan itu berdiri, kakiku menghampiri. Kubelai daun dan buah-buah yang sedang kuperam. “Kamu itu belai daun kok lebih mesra daripada belai aku sih, Glen?” protes Jik saat melihat aku begitu serius membelai daun-daun pepohonan yang ada. “Ooo..., jadi kamu mau disamain dengan daun-daun yang kadang berulet itu?” sanggahku separo bergurau. “Oalah, Glen. Masa kekasih hatimu yang ganteng ini disamain ulet. Lha kalo aku ulet, kamu apanya?” “Ya aku kekasih hatinya sang ulet dong. Siapa lagi?” Jik cuma senyam senyum saja. Nggak lama, dia pasti akan menjitak lalu mengacak-acak rambutku. Akh. Mendadak aku kangen Jik. Kusentuh kepalaku yang lama tidak ia usap dengan kasih cintanya itu. Apa kabar pangeran jiwaku yang hingga kini tak bisa memudarkan rasa hatiku itu? (“Kidung, senandung cinta untukku”, halaman 45-49, Grasindo 2004) “Alam bagiku adalah: Alam bagiku adalah keindahan, sumber inspirasi, realitas dan tempat eksistensi” (Indra Herryantho) Pasar Andir 2002 Jumat malam, 23.27 Kei asyik memilah kangkung darat yang baru saja datang setelah ia pesan sore tadi. Di Pasar ini, ia tidak pernah takut bergaul dengan para pedagang dan buruh pasar. Meski mereka terlihat lebih lusuh dan kotor darinya, tanpa sungkan ia berbaur bersama mereka. Tanpa ragu. Tertawa dan bercanda khas orang-orang pasar ini menjadi makanan keseharian yang kadang-kadang justru Kei rindukan. “Aku punya cerita,” sela Kei tiba-tiba, “Ada orang sumbing lagi belajar alat-alat gamelan. Ini apa? Kecapi, kata orang sumbing itu. Yang ini? Gong. Kalo yang ini? Orang itu diam sambil memandang nggak senang yang nanya. Itu ngahina aing (menghina saya), gitu katanya.” “Emang yang ditunjuk apa, Gan?” tanya salah satu pedagang yang ikut nongkrong di situ. “Yang ditunjuk mah seruling. Tapi, kan karena dia sumbing jadi ngomongnya, suing haha…” Kei tertawa ngakak diikuti yang lain. (suing = sumbing) “Kang Gan mah aya-aya wae…” “Saya juga punya, Kang.” Tiba-tiba Ujang menerjang. Salah satu karyawan kesayangan Kei ini dengan yakin ikut menceritakan jokenya. “Ada orang cedal mau beli nasi goreng. Nasi goyeng satu, Bu. Ibu penjual bingung. Dia bilang nggak jual nasi goyeng. Si orang cedal itu ngotot. Ibu penjual juga ngotot. Akhirnya si cedal pulang. Di rumah, dia ngadu ke istrinya. Lalu sang istri mengajarkan ngomong nasi goreng yang benar. Seminggu kemudian, si cedal datang lagi ke penjual nasi. Dia bilang, nasi goreng spesial pake telor dengan lafal benar. Ibu penjual pun buatin pesanannya itu. Waktu ditanya mau minum apa, si cedal dengan stil yakin bilang: es jeyuk.” “Hahaha…” “Hehehe…” Humor Ujang menjadikan orang-orang di sekelilingnya langsung tertawa. Beberapa yang bingung akhirnya ikut tertawa begitu tahu apa yang dimaksud Ujang atas cerita itu. Ujang senang sekali bisa membuat suasana menjadi riang. Kei yang semula kelelahan mengangkut beberapa karung sayur mayur yang dia beli, kali ini merasa fresh. Meski gurauan tadi agak kasar, tapi mereka menganggap semua cerita itu dengan santai saja. Tidak ada yang tersinggung. Karena itu hanya sekadar joke. Kei merasa keakaraban di sini memang bisa meleraikan penatnya. Pekerjaan memilah kangkung, tidak terasa selesai sudah. “Gan Kei, kita buat makan malam, yok,” ajak Mang Yaya, salah satu pedagang sayur yang Kei kenal baik. Mang Yaya bergegas menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam yang ia tawarkan. “Sok-lah. Boleh aja,” Kei setuju. Ia membantu Mang Yaya untuk menyiapkan makan malam yang dimaksud. Tidak ada lilin panjang menyala, piring gelas bersih tersaji, anggur wangi pengahangat tubuh atau mawar sekuntum menambah suasana romantis. Yang ada justru katel hitam legam, bakaran yang terbuat dari kayu-kayu bekas peti buah-buahan, beberapa bumbu, minyak goreng dan daun pisang yang terbentang. Mulanya Kei dan Mang Yayat memasak nasi dalam ketel. Ngeliwet kalau mereka bilang. Liwetan nasi itu dicampur daun salam dan sereh yang sudah digepengkan. Sambil menunggu matang, cumi asin digoreng setelah matang dijadikan satu dengan liwetan nasi. Nggak lama, hidangan makan malam itu siap disantap. Jangan bayangkan cara santapnya sopan, anggun layaknya makan di resto besar dan mewah. Daun pisang yang dibentangkan itu adalah piring bersama yang menampung hasil liwetan tadi. Cara memakannya pun bersama-sama dengan siapa saja yang mau memakannya. Mereka duduk melingkar. Sambil bercerita tentang banyak hal, meminum segelas kopi atau merokok, orang-orang pasar itu memuaskan rasa lapar perut mereka. Tak perlu lama-lama untuk menghabiskan makan malam penuh keramaian itu. Mungkin rasanya tak selezat di restoran atau warung nasi yang pasti jam segitu sudah tutup. Tetapi, sensasi dan keakraban yang terjadi tak akan Kei temui di tempat “bersih” itu. Kamana atuh…, kamana. Neangan dana…. Nu opat angka…. (Kemana, kemana. Nyari dana yang empat angka) Itu lagu kebangsaan Kei, Mang Yayat dan pedagang lain jika mereka sedang mencoba memasang nomor buntut atau judi togel. Kegiatan ini memang ilegal, tapi bagi orang-oang pasar tersebut, bukan cuma karena menghasilkan duit tambahan, tapi juga untuk refreshing setelah seharian kerja. Hura-hura sedikit tanpa beban. Dapat sukur, tidak ya tidak masalah. Belum beruntung saja. Kei sendiri nggak seheboh para temannya yang lain. Mereka bisa selalu masang tiap minggunya. Kei cuma sekali dua kali saja. Cukup. Kei nggak mau menjadikan hal ini kebiasaan baru buatnya. Di kehidupan pasar itulah, Kei mendapat banyak hal yang bisa menambah kasanah hidupnya. (“Kidung, senandung cinta untukku”, halaman 99 - 102, Grasindo 2004) “Sesama bagiku adalah: mereka yang bikin aku tersenyum karena aku udah bikin mereka tersenyum…. Manis banget.” (Ferdinanda Sri Tjondro Utami) ----- rgds/ Adhitya on behalf of Anjar Labels: books
A new Novel from mang Jamal Baru terbit sebuah Novel, berjudul "Rakkaustarina" from a dear friend of mine dari Bandung. First of all, selamat buat mang Jamal untuk novel kedua ini. Sebelumnya beliau menerbitkan novel (obviously) pertamanya "Louisiana-Louisiana" di tahun 2003 dan dipandang beberapa orang seebagai salah satu novel dengan isi mendalam di tahun 2003 (versi milis tiziana@yahoogroups.com) Semoga semua berjalan lancar untuk beliau. feel free to visit his website here. Please find as per below guys. rgds.Penerbit: Grasindo Paperback Comments : Bukan Jamal bila tidak nakal, menggelitik, dengan humor-humor jahilnya dunia percintaan mahasiswa. Penjelajahan budaya dan etnis negeri Viking masih tetap memikat, bahkan memperkaya wawasan. Dengan jeli melalui tokoh bernama Hendra, ia gambarkan penuh hikmat keberadaan prasasti, patung-patung penyair dan sastrawan Finlandia yang menghias taman dan jalanan kota-kota secara terhormat. Menunjukkan kesadaran sebuah bangsa yang menyadari peradaban manusia hanya dapat dibangun oleh seni dan sastra bukan oleh kekuatan bedil. Kali ini novel Rakkaustarina mengajak kita lebih menukik ke dalam kepekatan renungan Jamal. Hidup berawal dari ketiadaan kembali pada ketiadaan. Di dalam ketiadaan ada banyak makna yang harus dicari manusia untuk dialami. Seniman harus memelihara kebebasan spiritualnya agar mampu berkarya, seperti kata pelukis besar Russia, Kasimir Malevich. Ani Sekarningsih, sastrawati Cara bertutur Jamal sangat lancar, segar, menghibur dan juga berwawasan. Dengan kelebihannya ini, kisah percintaan yang dituturkannya menjadi tidak klise atau murahan, namun menawarkan sesuatu yang baru: percintaan hanya menjadi bingkai dari apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh pengarang. Novel ini lebih berwarna ketimbang novelnya yang pertama, selain dibawa bertamasya pada kemegahan Eropa, kita juga bisa menengok tatar Sunda yang masih menyisakan keunikan alam, manusia dan budayanya. Lewat novel-novelnya, Jamal ingin merangsang kita untuk berapresiasi terhadap banyak hal yang ada hubungannya dengan kesenian dan kebudayaan. Acep Zamzam Noor, Penyair Dalam kesan saya, Jamal menulis seperti anak-anak yang bermain di bibir pantai: tak banyak beban, ringan, leluasa, dan mungkin cenderung gembira. Seperti dalam novelnya terdahulu, Louisiana Louisiana, dalam Rakkaustarina pun pembaca dapat merasakan kelancaran pengarang dalam upayanya untuk menuturkan kisah. Kecenderungannya untuk mengambil latar perkisahan dari tempat-tempat yang asing dan jauh bagi sebagian besar pembacanya barangkali akan menimbulkan kesan tersendiri bahwa membaca novel ini hingga batas tertentu seperti mengikuti tamasya. Seraya bertamasya pembaca diajaknya pula untuk memikirkan percikan permenungan filsafat mengenai cinta, seni, juga nilai-nilai budaya pada umumnya. Salah satu tantangan bagi Jamal, saya kira, adalah mencoba untuk menyiasati atau melampaui jebakan-jebakan turistik dalam prosa Hawe Setiawan, eseis. Ibarat berkendara, Jamal adalah pengemudi yang lancar. Dalam bingkai pop, ia mahir mengemas persoalan disorientasi budaya, moralitas, kejujuran, juga bagaimana tetap mempertahankan idealisme di tengah situasi atau godaan yang sulit dan tidak sesuai. Dibumbui konsep estetika arsitektur dan budaya urban Finlandia--sesuatu yang akan mengayakan pembaca Indonesia-Jamal kembali menghadirkan roman yang asyik untuk dibaca. Anwar Holid, kolumnis Sebagaimana novel perdananya Louisiana Louisiana, dalam Rakkaustarina-pun Jamal membawa pembaca ke 'belahan dunia lain' yang tentunya akan menambah wawasan pembaca dalam hal budaya maupun seni terutama kebiasaan warga negara lain dalam menghargai seni dan sekaligus senimannya. Percampuran budaya barat dan timur serta pergolakan bathin sang tokoh dalam mempertahankan prinsip, masih mewarnai novel ini. Dengan kepiawaiannya bercerita yang memikat, rasanya baca Rakka ini bisa diibaratkan makan kacang atau keripik yang tidak akan berhenti sampai semuanya terlahap habis. Dedi S Wihardja, penikmat buku. ________________________________________________________________________________________ BAB 1 - Sketsa Rumah TebingRandi sedang duduk-duduk di teras paviliun ketika dia melihat sepeda motor dengan Galuh di atasnya masuk halaman membonceng seseorang. Yang dibonceng loncat duluan, sementara Galuh melaju mendekati teras. "Hei. baru pulang, ya? Betah ya, di hutan? Dari pagi baru pulang." Galuh menyapa Randi sambil mematikan mesin motor lalu turun. "Haha.iya. A Hendra langsung ke Cirebon, katanya ada urusan." Randi melihat teman Galuh mendekat. "O iya, tadi pagi dia bilang mau ke Cirebon sore ini. Eh, kenalin ini teman saya, ulat bulu." Dipa memegang lengan Dipa yang nyengir dibilang ulat bulu. Dipa dan Randi tersenyum lalu bersalaman. "Luh, kalau temanmu Ulat Bulu, kamu ini siapa?' "Kadang-kadang kadal, kadang-kadang kutu. Seringnya toke belang!" Dipa cepat-cepat menjawab duluan. "Hahaha.." "Eh, tolong jagain makhluk satu ini, kang,"pinta Galuh pada Randi. "Jangan sampai dia makan semua daun, apalagi daun pintu. Kalau daun telinganya sendiri sih, tidak apa-apa." Galuh masuk rumah lewat paviliun. Dia merasa nyaman lewat situ, daripada harus lewat pintu ruang tamu di rumah utama, karena sore-sore begini biasanya Diah nongkrong di ruang tamu dengan segala macam buku, majalah, makanan kecil dan cd yang seluruhnya berserakan dan tidak perduli ada suara orang karena kupingnya ditutup headset cd-player. Kadang-kadang bersama gengnya mengerjakan tugas sekolah. Ibunya menjuluki Diah si ratu ruang tamu dan minta maaf kepada tamu yang kebetulan datang di tengah suasana ruang yang mirip pasar kaget. Diah sendiri memanfaatkan ruang tamu itu setelah ia tahu ruang itu sering menganggur, hanya jadi ruang antara dari teras depan dan ruang keluarga. Dipa duduk dengan takzim di teras bersama Randi. "Pa, kamu kenal Tia dan Wina, mahasiswi Arsitektur?" "Mm.kenal banget sih, tidak.Tapi karena mereka bening, kita hampir naksir waktu sekelas di TPB." "Haha.ada istilah 'hampir naksir' segala.eh, kita?" "Maksud saya, saya dan kutu yang barusan masuk pintu." "O ya? Tadi aku bertemu mereka di Pakar." "Hah? Waduh.kok bisa, ya? Sayang sekali saya tidak ikut. Bagaimana tampang mereka sekarang? Dulu yang rada saya taksir, Wina." "Wah, saya tidak tahu tampangnya dulu. Tapi mereka memang bening." "Ya, mereka gadis-gadis bening. Kalau saja Wina mau sama saya, dunia ini benar-benar elips. Benar-benar berputar, benar-benar mengelilingi matahari, benar.-benar.apa lagi ya?" kedua tangan Dipa membentuk bulatan di atas kepalanya, seperti anak TK sedang berdeklamasi! "Ada-ada saja." Randi tertawa ngakak melihat kekonyolan Dipa yang asli. "Saya mau ngajak Galuh lomba gaet cewe. Taruhannya SPP satu semester!" "Lho? Taruhannya kok unik begitu?" "SPP kampus negeripun sekarang mahal, kang. Heran saya, orang bilang pendidikan itu mahal. Udah tahu mahal, dibebankan pada masyarakat. Mestinya yang mahal-mahal begitu ditanggung negara. Seperti beli kapal induk atau pesawat tempur. Negara ngumpulin dananya dari pajak. Jadi lebih gampang, kan? Dasar stu." "Stu?" "Pid." Randi tertawa, ternyata dari stupid! "Ya, negara seharusnya menanggung semua biaya pendidikan seperti di Skandinavia, Jerman dan Perancis. Kalau banyak rakyat yang cerdas, yang untung kan negara juga. Rakyat banyak yang berpenghasilan tinggi, artinya pajak juga jadi banyak, lalu negeri ini jadi maju dan kaya dan rakyat sejahtera. Uang negara seharusnya diputar untuk meningkatkan kualitas generasi yang akan datang, investasi negara untuk meningkatkan kualitas bangsa." "Sayangnya nasionalisme para penyelenggara negara sudah luntur termakan keserakahan masing-masing. Big Stu!" Dipa mengangkat bahu. Randi tertawa mendengar cara Dipa menunjukkan kekecewaannya yang khas. "Eh, kamu pasti pengen ketemu Wina, kan?" "Tentu saja. Malah sekarang ini lagi cari akal gimana caranya ketemu dia, tanpa memberi kesan saya mengejarnya. Soalnya kalau begitu, nanti dia lari. Dia kan jinak-jinak polisi! Pura-pura ramah, ujungnya nilang juga." Randi tertawa lagi mendengar istilah-istilah Dipa. Ia heran, anak ini makannya apa, ucapannya aneh-aneh! Randi membetulkan posisi duduknya, lalu menatap Dipa. "Eh, aku punya ide. Tadi, Tia dan Wina meminjam buku sketsaku. Nah, kamu punya alasan untuk bertemu, pura-pura menanyakan buku gambarku. Bilang saja, aku memintamu untuk mengambilnya.' "Hmmm..usul bagus," kata Dipa dengan wajah cerah. "Tapi jangan bilang-bilang Galuh, ya? Soalnya dia pasti akan merusak suasana." "Tapi kan gadis bening itu berdua, satu-satu lah.." Randi mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Dipa menolak ketika disodori. "Eh. Pa, kenapa dulu kamu ngga nerusin naksir Wina?" "Waah, dulu saya dan Galuh sama-sama naksir keduanya. Padahal saya suruh dia naksir pohon saja!" "Hahaha.naksir kok disuruh-suruh?" "Yaa.supaya masing-masing tidak mengejar kedua gadis itu. Kan kalau masing-masing punya sasaran yang berbeda. Dunia persilatan aman. Tapi kedua gadis itu memang sebening danau Saguling, kalem tapi juga judes seperti kucing." "Hahaha.." Randi ngakak sambil geleng-geleng kepala mendengar gaya kocak Dipa yang sepertinya ngalir begitu saja. "Judes itu cara wanita menutupi hal lainnya yang bisa jadi kebalikannya, Pa." Dipa terdiam. Berusaha memahami ucapan Randi. Galuh keluar. Membawa dua gelas besar minuman dingin. Menyimpan satu di meja dengan hati-hati. Dipa siap-siap mengambilnya. "Eiit.enak ajah. Minuman ini buat kang Randi. Kamu ngga usah minum! Kapan pernah lihat ulat bulu minum?" Galuh mereguk minumannya dan meletakkan di meja. Randi tertawa sambil geleng-geleng kepala. Benar apa yang diceritakan Hendra tadi, mereka teman tapi gayanya saling serbu seperti kucing dan anjing! "Ngga usah, buat Dipa saja". Mendengar itu, Dipa dengan tersenyum penuh kemenangan mengambil gelas itu dan meminumnya sekaligus. Habis! "Dasar ulat bulu!" maki Galuh yang segera mengambil gelasnya takut di sambar Dipa. "Hahaha. Eh, Luh, aku punya strategi deketin lagi Wina.." "O ya? Sejak kapan kamu maen strategi? Strategimu kan BTN.!" "BTN?" Randi menatap Galuh lalu Dipa. "Berani Tampil Norak[1]!" "Pokoknya yang ini pasti tokcer." "Apaan, emang?" "Tuh.kan, jadi mau tahu. Kang Randi yang ngasih tahu." Galuh menoleh pada Randi yang tengah mematikan rokoknya di asbak. "Tadi saya ketemu Tia dan Wina di Pakar. Terus mereka meminjam sketsa yang saya bikin di sana. Saya minta Dipa mengambilnya.' "Waah.boleh juga. Kapan kamu ke tempat Wina?" "ASAP[2]! Pasti mau ikut!?" "Jangkrik! Aku takut keduanya malah naksir aku." "Hahaha.langkahi dulu mayat gajah!" "Galuh kan bisa sama Tia." Randi berusaha memberi solusi seperti tadi diceritakan Dipa," kalau kalian keukeuh mengejar gadis yang sama, repot atuh. Saya pikir keduanya juga sama-sama bening." "Memang.." Kata Galuh yang tiba-tiba setengah melamun. Pikirannya mencari-cari data wajah kedua gadis itu di memorinya. "Ah, kamu kan nyari tipe yang setia," kata Dipa sambil melirik gelas punya Galuh yang masih terisi setengah. "Terus?" "Pacarin aja pintu! Pintu kan selalu setia menantimu." "Dasar ulat bulu!" Randi tertawa ngakak. "Sebenarnya ada satu acara lain yang bisa kalian jadikan acara pedekate lagi." "O, ya? Acara apaan?" "Akhir bulan, mereka mau nganter saya ke Kampung Naga Tasik,"Randi melihat ke arah Galuh."Luh, minggu besok ngga ada acara? Kamu yang nyetir, ya, SIM saya sudah lama kadaluarsa." "Untuk bareng sama Wina dan Tia, ada acara apapun akhir bulan ini akan saya batalkan, kecuali membunuh ulat bulu yang satu ini." Galuh menunjuk Dipa. Dipa nyengir, lalu garuk-garuk kepala. "Luh, Tia dan Wina itu dua wanita yang berbeda. Kalau aku mati, salah satu atau keduanya akan sangat berduka. Tia akan menyumpahimu jadi cacing sedang Wina mengutukmu jadi jomlo[3]! Udah jadi cacing, jomlo lagi!" "Hahaha.." "Usai dari Tasik, aku mau ke Kuningan, nengok bibi. Kalian balik lagi aja ke Bandung. Saya pake bis dari Tasik. Kalian kan jadi asyik, double couple." "Siip, lah!" "Perlu kiat sukses menggaet wanita?" Randi iseng bertanya. "Barangsiapa mengajari saya satu huruf, maka saya akan menyebutnya Suhu!" "Hahaha.." "Cara kalian yang bicara ngawur, konyol tapi lucu, asal terkontrol sudah jadi modal buat menggaet wanita." "Lho? Apa iya? Itu saja.?" Galuh seperti tidak yakin. "Ya, itu saja. Bahasa bagusnya, buatlah mereka bahagia. Kalau perlu, coba berlagak tolol di depan wanita. Membuat mereka geli. Ada tipe wanita yang suka cowo keliatan stu." Randi meniru istilah Dipa. "Wah kalau tampang stu.tanpa pura-pura juga, si Dipa udah dari sononya begitu." "Ssst.jangan pernah memotong ucapan Suhu, kualat!" "Selain tampang bloon, pasang juga tampang baik hati, supaya mereka merasa nyaman. Terus, yang pokok, ketemu wanita yang kamu suka, tanyalah.apa saja. Jangan dibiarkan kesempatan lewat begitu saja. Paling tidak, bila ditolak, kamu sudah melakukan apa kata hatimu. Itu yang penting. Ketemu gadis yang kamu taksir, jangan berpikir, tanya saja, ajak ngobrol, apa saja." "Hahaha.kalau itu saja sih, dari dulu bisa gaet puluhan wanita." Galuh merasa mudah melakukannya, padahal ia dulu bikin ribut di kelas bersama Dipa karena ingin menarik perhatian gadis-gadis, tapi sayang respon mereka negatif, karena cara itu malah bikin mereka sebal. Cara kedua cowo norak ini memang sering over dosis! Sebenarnya, mereka tidak pernah bisa memulai mengajak gadis incaran mereka untuk sekedar ngobrol. Belum apa-apa mereka sudah diserbu rasa deg-degan! Ya, ketika perasaan cinta menguasai, nyali jadi sering sekecil ikan teri. "Cobalah. Tidak tokcer, uang kembali, tapi bayar dulu!" "Hehehe.."Galuh tertawa tapi terhenti tiba-tiba ketika ia lihat tangan Dipa meraih gelas minumannya dengan mereguknya isinya. Galuh menyeringai dengan geram sepenuh hati! ....................... [1] Mohon maaf pada yang memiliki singkatan yang mirip, kesamaaan singkatan hanya kebetulan saja. [2] As Soon As Possible [3] Basa gaul Bandung: tidak laku atau tidak punya pacar dalam waktu yang relatif lama. bab 6 - Seribu Cerita di Sauna Sauna milik keluarga kakak Ilona terletak beberapa meter di belakang rumah agak dekat ke danau Pyhajärvi. Bangunan seperti pondok yang seluruhnya terbuat dari bilah kayu birch dengan cerobong asap di salah satu dinding. Ilona dan Hendra masuk ke ruang ganti. Hendra agak ragu untuk ikut masuk, karena sebelah kanan ruang ganti terdapat kamar mandi berbentuk shower yang terbungkus kotak kaca transparan dengan pintu geser. Ia merasa jengah, lalu masuk ke sauna di sebelah kiri. Ia lihat ruangan empat persegi panjang dengan seluruhnya dari kayu birch yang berwarna krem cerah dilengkapi dengan bangku panjang dua tingkat berbentuk L, di salah satu dinding terdapat tungku perapian. "Hei.masuk sauna harus telanjang!" Hendra menoleh ke arah suara dan kaget ketika Ilona tengah membuka pakaian dengan cueknya. Ia mengajak Hendra masuk ruang ganti. "Buka pakaianmu." Pinta Ilona ketika ia usai melepas seluruh bajunya luarnya. Di tangan Ilona tergenggam botol Lapin Kulta yang kemudian dia reguk langsung lalu menyerahkannya pada Hendra. Ilona dengan enteng dan tanpa merasa kikuk lalu membuka seluruh kain yang tersisa di tubuhnya. Hendra kaget bukan main! Dalam keadaan telanjang, Ilona melenggang masuk ke shower. Hendra berusaha menghindarkan pandangannya dari kotak kaca itu. Sementara Ilona bernyanyi kecil di tengah guyuran air. Beberapa menit kemudian, Ilona keluar mengambil salah satu handuk yang terlipat di tempatnya. Sementara Hendra dengan perasaan tak menentu berpura-pura memperhatikan serat kayu birch yang dipakai rak botol yang digantung di samping rak handuk. "Sekarang, giliran kamu mandi, saya menyiapkan sauna. Ayo minum, sauna bikin kita haus." Ilona masuk ke ruang sauna untuk menyalakan kayu bakar di dalam tungku. Beberapa menit kemudian udara di ruangan terasa mulai hangat. Dengan kedua kaki terbuka lebar, Ilona duduk di bangku kayu beralaskan handuk kecil. Di shower, sambil membiarkan air menyiram kepala dan badannya, Hendra kebingungan. Usai mandi, Hendra mengenakan kembali celana dalamnya di ruang ganti. Ia berlama-lama di ruang ganti, mencoba membayangkan prosesi di sauna. Ia harus berada berdua dengan Ilona yang telanjang? Ya ampun.! "Hendraa.cepat ke sini!" Dengan perasaan masih diliputi bingung tapi juga kepala dipenuhi keingintahuan, Hendra masuk ruang sauna. Melihat-lihat sekeliling lalu memperhatikan tungku berisi kayu bakar dan perlengkapan sauna lainnya seperti batu seukuran kepala dengan lekukan di tengahnya dan bak berisi air dan seonggok daun birch. Uap mulai terasa menyentuh tubuhnya. Ia meletakkan handuk kecil di atas bangku dan duduk di atasnya, meniru Ilona. Duduk menyamping. Kesan canggung tampak sekali dari wajahnya yang mulai merasakan hangatnya uap. Ilona tersenyum menatap Hendra, lalu dengan santainya ia membuka lebar kedua kakinya persis di depan Hendra. "Ayo, buka saja semuanya. Lebih enak dalam keadaan telanjang." "Ngga..." suara Hendra putus. Ia lagi berpikir mengapa ia merasa malu sementara Ilona cuek-cuek saja dengan ketelanjangannya? "Ayo." Ilona mendekat dan berdiri di depan Hendra yang duduk di bangku paling atas, lalu memegang bagian atas celana dalam Hendra lalu menariknya ke bawah sampai ke lutut. Hendra terpana dengan apa yang dilakukan Ilona. Tapi lebih terpana lagi pada tubuh dan payudara Ilona yang berdiri di depannya! Jantungnya berdenyut lebih kencang. Ia ingin menutupi juniornya. Tapi ketika secara reflek matanya menatap dada dan pangkal paha Ilona, niat untuk menutupi alat vitalnya ia urungkan. Bila Ilona tidak merasa malu atau canggung telanjang di depannya, kenapa pula ia harus malu atau canggung? Ia meluruskan kedua kakinya membiarkan Ilona melorotkan celana dalamnya sampai ujung jari kaki lalu menyimpannya di tepi bangku. Gila! Dia dan Ilona tiba-tiba saja telanjang di sebuah ruangan! Ia lihat Ilona begitu wajar dengan ketelanjangannya. Tidak tampak grogi atau malu. Ia malah seperti dengan sengaja memamerkan keindahan lekuk liku tubuhnya yang memang indah. Tiba-tiba saja ia iri pada Ilona, karena dengan merapatkan kedua paha, alat vital Ilona otomatis tersembunyi, hanya menyisakan sedikit miniatur rumput liar. Melihat Hendra tampak grogi, Ilona tersenyum lalu beranjak ke ruang ganti dan sejurus kemudian kembali dengan Lapin Kulta di tangan. "Ayo minum, biar lebih rileks." Hendra menolak. "No, thank you, I'll be fine." Tapi udara panas di ruangan membuatnya haus. Ia mencari minuman lain, dapat, tapi apa ini? Ia mencicipinya sedikit, pahit. Sepertinya bir juga. Ia hanya berharap apa yang dikatakan Ilona tadi benar, dengan minum, ia akan lebih rileks dengan ketelanjangannya di depan seorang gadis yang juga telanjang. Tapi ia tidak yakin untuk minum. Ia takut minum akan mengurangi atau malah menghilangkan kesadarannya. Akhirnya ia mengambil Jaffa, minuman soda, sekedar membuat perhatiannya tidak melulu pada tubuh Ilona. Hendra butuh kesadaran penuh untuk menguasai dirinya, lebih-lebih di situasi seperti ini. Ilona mengambil botol dan meminumnya lagi dan lagi. Lalu bangkit ke arah tungku. Menuangkan sebagian isi botol ke atas batu di atas tungku, menghasilkan uap löyly yang kali ini dengan aroma khas menyebar di ruangan. Ilona kembali duduk di bangku bagian bawah di depan Hendra, badannya disandarkan pada bangku sebelah atas, menjulurkan kakinya, matanya terpejam. Tangannya mengipas-ngipaskan daun birch. Menikmati uap panas yang mengelus tubuhnya, membuka pori-pori di seluruh bagian tubuhnya dan mengeluarkan kotoran badan dalam bentuk keringat. Pengaruh bir yang memang berkadar alkohol tinggi mulai tampak pada Ilona, ia lebih rileks, telentang dengan kaki dijejakkan pada dinding. Hendra membuang pandangan dari Ilona, ia menatap dinding lain, lalu memejamkan mata, mencoba melupakan Ilona yang telanjang dengan nyamannya di bangku atas. Tapi segera ia buka kembali matanya. Dengan mata tertutup, pikiran malah dengan segara membayangkanan sosok Ilona. Gila! Menutup mata malah mempertajam apa yang tidak ingin ia lihat! Haha..ia jadi tahu, kenapa ketika Dewi meninggalkannya dulu, ia susah tidur, karena ketika matanya ia pejamkan, gambar Dewi muncul. Segala sesuatu ternyata tidak diatur pikiran. Indra membantu membuat pikiran bekerja atau tidak. Selama pikiran tidak terkonsentrasi dan tidak ada gerakan tubuh untuk melakukan apa yang dipikirkan, selama itu pula badan diam. Indra sering mememberi impuls pada otak hal-hal yang tidak diterima indra. Seperti bayangan tentang sesuatu atau seseorang, malah hadir jelas ketika mata dipej amkan! Pikiran sepertinya punya mata sendiri! Agar pikiran sibuk, Hendra biarkan matanya terbuka meskipun ia yang ia tatap hanya dinding kayu yang lalu ia coba lihat detailnya, garis-garis serat halus yang memanjang horisontal. Hendra dengan susah payah mengatur pikirannya agar tidak menjurus pada keinginan untuk melihat Ilona dari sisi erotis, meskipun objeknya persis di samping dia. Ia harus bisa merasa tidak canggung. Bila Ilona bisa, masa ia tidak? Ah, melihat juga sepertinya tidak apa-apa selama tidak menikmati objek yang dilihatnya, menatap lama-lama dengan sepenuh perasaan! "Boleh nanya?" Hendra menatap wajah Ilona, matanya masih terpejam. "Apa?" Ilona membuka matanya. "Kamu biasa ke sauna naked?" "Orang sini ke sauna naked." "Dengan orang lain?" "Resminya kita begitu kalau dengan keluarga. Tapi aku begitu waktu masih kecil saja. Di tempat sauna publik, laki-laki dan perempuan di pisah. Kalaupun di gabung, biasanya mereka memakai swimsuit. Tempat ini favoritku sejak kecil, kalau liburan aku tinggal di sini." "Eh, kamu kok telanjang? Padahal aku kan bukan keluarga." "Sengaja, biar kamu juga telanjang. Dan supaya uap sauna masuk ke semua pori-porimu. Lalu, aku juga ingin lihat kulit coklatmu. Indah." Cuma kulit? "Bukan untuk membuat kita saling terangsang?" Hendra mencoba blak-blakan. "Sebagian.hahah." Ilona membuka kedua pahanya lalu dirapatkan kembali. Hendra mendekat. Menyentuh telapak kaki Ilona yang langsung berteriak menahan geli. "Kulitku sudah coklat dari sananya, nanti sering sauna jadi gosong." "Haha.ngga kok, sauna tidak berpengaruh pada warna kulit. Sauna untuk refreshing. Kami punya peribahasa untuk itu, If sauna, liquor and tar don't help, your condition's fatal. Orang tua bilang, masuk sauna harus seperti masuk gereja, harus khidmat, beserta aturan lain seperti layaknya masuk ruang sakral. Hahah." "Hahahaha." Hendra jadi ingat tulisan di brosur wisata tentang sauna yang ia dapat ketika jalan-jalan bersama Gitta dulu di Esplanadi. Mereka mampir ke tourist office, Gitta mengambil berbagai macam brosur dan menjejalkannya pada ransel Hendra. "Jangan lupa, kamu harus rajin ke sauna, ya!" katanya waktu itu. Kata statistik, di Finlandia terdapat 1,7 juta sauna. Penduduk Finlandia 5,1 juta, berarti satu sauna untuk tiga orang. Sekarang Hendra dengan leluasa bisa melihat ketelanjangan Ilona dan dirinya dengan biasa saja. Aneh! Dulu ia pikir dengan melihat wanita telanjang akan segera terangsang dan membuat juniornya ereksi. Tapi ternyata tidak. Ia yakin dirinya normal, mungkin karena tanpa bersentuhan atau Ilona sendiri tidak melakukan gerakan sensual yang akan membangkitkan listrik diantara keduanya. Atau karena pikiran tidak terkonsentrasi ke hal-hal erotis meski matanya dapat dengan leluasa menikmati ketelanjangan gadis itu. ............ Mj http://geocities.com/mangjamal Labels: books
Book Review Jomblo by Adhitya Mulya I sincerely hope that you are not tired of Jomblo book. Gua kemaren dihubungin Leyla, dari MTVtrax dan dikasih tau akan hal ini. Kemudian iseng gua cari nama gua di google, and gua baru tahu kalo ada bbrp review lain. I hope you guys are not fed up ya. Thanks. Review oleh Leyla, dari untuk MTV Trax edisi Mei. Thanks to Leyla, for everything!!!! Tanpa kita sadari, hidup yang kita jalani ini ternyata enggak terlalu membosankan. Banyak sekali cerita yang bisa kita angkat dari sini, KALAU kita mau melihat. Contohnya Adhitya. Dari keseharian yang begitu sederhana, karena kemampuan observasi dan rasa humor yang tinggi, dia bisa membuat satu buku yang begitu menghibur dan tidak mengada-ada. Idealnya, dari semua aspek hidup kita, kita mampu melihat humornya. Rasanya dengan begitu, kita jadi lebih ‘nyaman’ menghadapi hidup. Begitu juga dengan empat tokoh utama di buku Jomblo ini. Agus, Doni, Bimo dan Olip merupakan mahasiswa di Universitas Negeri Bandung (UNB) yang punya teori yang ‚lengkap’ mengenai lawan jenis, tapi dalam pengejawantahannya? Ancur-ancuran banget. Agus akhirnya harus memilih antara 2 perempuan yang masing-masing punya kelebihan, Olip punya cinta mati yang terpendam untuk satu orang cewek, tapi dia sama-sekali tidak berani untuk mengungkapkannya, Doni akhirnya harus memilih antara persahabatan dan cinta dan Bimo? Nasibnya paling enggak enak, karena bentuk fisik yang kurang ‚menyenangkan’ bahkan untuk kopi darat, perempuan langsung ngeles begitu melihat bentuk mukanya. Loh, kok akhirnya mereka udah enggak jomblo lagi? Di situlah cerita buku ini menjadi menarik. Lika-liku mereka melepaskan diri dari cara mereka memandang perempuan dan hubungan secara klise. Bahwa ternyata hubungan antar manusia itu engga bisa sesederhana logika 2+2=4. Pengorbanan? Sudah pasti harus dilakukan. Jangan kuatir kalau buku ini akan membuat kerutan di kening makin dalam. Karena Adhitya menceritakannya dengan lancar, ringan dan lucu. Para jomblo ini senang sekali melontarkan teori-teori yang terkesan dalam tapi penuh dengan analogi yang kocak. Dijamin cekikikan minimal 2 kali, terutama kalau kita baca catatan kakinya. _______________________________________________________________________________________________ Other reviews: - On Female Radio (audio Interview) - On Web Gaul Labels: books
Jomblo - Official Launching !!! 1. Well... I have been confirmed that the above, is fixed...so I hope nothing changes as it wld be fucking embarassing... 2. Yes yes...i know, 15:00 sounds very odd...I'm, still wondeirng about that myself. Gua sampe kudu cuti demi ini. Tsk.. tapi gak papa lah, gua gak akan bisa ngalamin ini lagi dalam waktu yang cukup lama. 3. Bagi yang bisa dateng, pls dateng ya, nge-rame-ramein. 4. Untuk bloggers, di milis udah santer isu beredar bahwa anak-anak pengen ngumpul. Well, kalo gitu, sekalian aja kumpul2 bloggers pas acara ini. Gua sendiri gak tau apakah bakal nyaman atau gak. apakah bakal gaduh atau nggak. Hell, mungkin malah bakal sepi, tapi yg jelas, ngumpul aja yuk sekalian. Acara ini pas bgt dengan kedatangan bbrp anak blogger perantauan luar yg lagi mudik, so...hope u guys can make it 5. Really wish that she can come... update: 09 Dec 2003 gua bikin counter comments, di comment box! thanks and sorry lama jawabnya, gua lagi kudu packing2. rgds. Labels: books
Jomblo - Adhitya Mulya ![]() The Project Remember 2 months ago I made a quiz on my project? Well… In case u haven’t noticed, I wrote a book…yes…a book. YES, A BOOK. It took me a year to make it and took me 3 rejections but at last, I made it. The Story It’s a story about 4 jomblos. The 1st one never managed to find the one he loves. The 2nd one never had the guts to tell her dream girl that he loves her. The 3rd one stole away his own best friend’s dream girl. The 4th one had two girls fallen for him. It’s a book with comedy of errors. How tough it is to be a jomblo and how typical jomblos see women from male prespective. The Publishing By Gagas Media. Thanks to Moeammar Emka and FX Rudy Gunawan for everything! The Review “Jomblo, bukanlah cerita biasa… melainkan sebuah studi antropologis tentang hidup anak muda kita di masa kini, studi yang serius dan dalam.. tapi kok aku bacanya ngakak… Komedi?? Pembaca jangan senang dulu – halaman demi halaman dari novel ini akan semakin membawa anda menuju tikungan tikungan tajam yang menukik sekaligus. Dan berakhir dengan bensin dan api… Selamat Adhitya untuk debut novel yang penting ini.” Riri Riza – Produser Film Semua kejadian dan dialog dalam novel ini tidak ada yang 'diada-adain'. Tulisannya yang tidak bertele-tele, mudah divisualisasikan saat saya baca dari halaman ke halaman. Interaksi karakter yang apa adanya (dan membuat saya tertawa karena beberapa punchline-nya!) memang khas anak muda. This book is so 'today', so real, with just a dash of sarcasm in a fun way. Very entertaining. Sarah Sechan – Cosmo Girl! The Request BUY IT!! Heheheh :):):)…!!!! Chapter One – Promo Hinanya Menjadi Jomblo Peluh membasahi kedua badan mereka. Mereka bercinta. Deru nafas Agus mengibas rambut seorang wanita yang dia peluk dari belakang. Kulit langsat wanita itu bersinar indah diterpa lampu meja belajar di kamar kos. Menderu cinta, berbalas nafsu. Tenggelam dalam kecupan. ”Agus, datangi aku...” desah wanita itu, ”Saya sayang kamu..tapi..mengapa saya tidak pernah ingat nama kamu? Di mana kita pernah bertemu?” ”Aku juga sayang kamu....minta korek dong.” ”HAH?” Agus tergagap ketika wanita tanpa nama yang kerap datang dalam mimpinya tiba-tiba berbicara di luar konteks dan bersuara mengindikasikan adanya jakun. Dia terbangun, mendapati dirinya di kursi penumpang depan dalam mobil Doni yang meminta korek. Agus, Doni, Bimo dan Olip adalah empat mahasiswa tingkat 3 jurusan teknik sipil Universitas Negeri Bandung (UNB) yang sedang ada perlu ke Universitas Negeri Jatinangor (UNJAT), sebuah kampus yang terletak di pinggir kota Bandung. Mereka menemani Bimo membeli ganja ke pengedar terkenal se-Bandung yang kuliah di jurusan FISIP UNJAT sekaligus cuci mata dan jual pesona kepada anak-anak kampus seberang kota ini. Hal ini tidak dapat mereka lakukan di kampus mereka sendiri karena mayoritas mahasiswa di UNB adalah pria. Mereka sampai di kampus UNJAT. Doni memarkir mobilnya di areal parkir FISIP. Keempat anak itu turun dan menuju kantin. Agus memperhatikan mahasiswa-mahasiswa yang sedang bermain basket dari kejauhan. Dalam otaknya, dia berusaha membuat perbandingan antara mahasiswa UNJAT dan UNB. Mahasiswa UNJAT. Wanitanya cantik-cantik, modis dan terlebih lagi, intelek dan pintar. Banyak mahasiswi UNJAT yang berprofesi sampingan sebagai model. Pria-pria terlihat gagah, tampan dan wangi. Berotot perut seperti martabak yang membuat Agus merasakan pilunya iri ketika membandingkan mereka dengan dirinya yang berbentuk ikan asin. Mereka gagah seperti yang sering dia lihat di poster iklan parfum maskulin atau celana dalam pria. Mahasiswa UNB. Bau Naga. Pikirannya kembali ke celana dalam pria dan dia gagal menemukan korelasi mengapa sebuah iklan celana dalam harus memasangkan pria berparas tampan. Tidak berkoneksi, kecuali jika celana itu dipasangkan di muka dan meski sekonyol itu, tetap akan menimbulkan efek minder dan rasa bahwa dunia ini tidak adil kepada orang-orang bertampang minus sepertinya. ”Ngelamun jorok lu ya?” Doni mendorong Agus yang akan duduk di kantin. ”Nggak.” Sesaat mereka terdiam geli. Mereka mendapati beberapa kelompok mahasiswa yang mereka kenal sebagai mahasiswa UNB. Ada prinsip mendasar yang semua mahasiswa UNB pegang teguh secara kompak. Jangan pernah membuka identitas seorang teman, jika bertemu di kampus orang lain. ”Itu anak jurusan tambang UNB. Sebelah sana, segerombolan anak-anak geodesi UNB. Barusan gua liat ada anak mesin UNB lewatin kita...solo karir.” tunjuk Doni dengan geli. ”..dan kita sebagai kontingen dari teknik sipilnya, jangan menyapa mereka, ntar kita juga ketauan bukan anak sinih.” kata Agus. ”Kok ngeceng bisa sampe bedol desa geneh..” kata Doni. Mereka semua saling lirik dengan pria-pria penyusup dan saling tersenyum tahu-sama-tahu. Getir dan pahit mengudara bersilang di antara mengangkatnya alis mata dan dagu saling menyapa. Hal yang paling memalukan di dunia ini adalah terekspos menjadi jomblo dan jual pesona di kampus orang lain. ”Kalian tunggu saja di sini ya. Aku ta’ cari temenku yang itu. Kalo sudah dapet itunya, aku mbalik lagi.” kata Bimo, anak seorang ilmuwan nuklir dari Jogjakarta. ”Oh ya...rambutku gimana? Bagus?” Mahluk hitam bertampang kriminal itu berbalik dan bertanya sambil mengais-ais rambut keriting gagalnya. Anak-anak mengacungkan jempol penuh kebohongan dengan tatapan penuh hina. Bimo berlalu. ”Seperti biasa jika Bimo tertangkap, kita gak kenal dia, okeh?” Agus mengonfirmasi prosedur standar menemani Bimo beli ganja. ”Oke.” ”Mengapa Bimo setia dengan pengedar ganja yang ini?” tanya Olip. ”Dia punya cukup stok buat membuat orang 3 kabupaten teler.” Mata Agus dan Doni pergi ke kiri dan kanan menikmati mahasiswi-mahasiswi yang terlihat pintar dan cantik. Pemandangan yang kontras dengan kampus UNB di mana siswanya pintar dan berjanggut. Doni menspot seorang wanita. ”Gus, jam 3 elu, cantik!” ”Cantik sih, tapi itu adalah tipe kecantikan yang memiliki tendensi yang jika ditinggalkan seorang pacar, berubah menjadi psikopat dan mengoleksi ginjal dari sejumlah korban.” ujar Agus dengan penuh asumsi. Agus Gurniwa, pemuda kurus ceking, anak terkutuk jomblo dari Jakarta yang mengidap penyakit kurang percaya diri dan mudah salah tingkah. Dia tinggal bersama sepupunya, seorang pengusaha roti. Di waktu luangnya sendiri Agus mencoba mengikis penyakit minder tersebut dengan menjadi penyiar radio Arjay, sebuah stasiun radio anak muda. ”Elu kebanyakan nonton film” kata Doni Suprapto. Dia adalah tipikal anak gaul dari Jakarta yang kehidupannya dipenuhi dengan seks dan hedonisme. Mantan anak band ini berkulit coklat dan berbadan gempal. Penuh percaya diri, berbeda dengan sobatnya yang paling dekat, Agus. Dia juga seorang penyiar radio. ”Sialan, gua udah lama gak ketemu cewek yang satu alam sama gua.” ujar Doni sambil memain-mainkan teh botolnya. ”Hmm..” Agus menampik topik itu dengan antusiasme rendah dan kata –Hmm- yang sering dikeluarkan orang yang baru saja menduduki kacamatanya sendiri. ”Jangan kau coba-coba ajak tidur wanita di kampus ini ya. Kita bisa laa dicabik-cabik singa!” Olip yang tadinya terdiam, menunjuk ke Doni. Olfiyan Iskandar adalah seorang pemuda asal Langsa-Aceh. Pendidikan 3 tahun di Taruna Nusantara membuahkan hasil postur tubuh yang tinggi, tegap dan memiliki otot perut yang lelaki. Orang akan berpikiran dua kali sebelum mengundang masalah dengannya. ”Nggak kok Lip. Santai aja. Kita ke sini kan buat cuci mata dan nemenin Bimo.” Wanita ”Emangnya segampang itu Don? Cari kepuasan dari wanita?” Agus bertanya penuh rasa ingin tahu. Olip menunjukkan raut muka yang sama. Sejenak mereka terlepas dari kehausan akan menikmati pemandangan di depan mereka. ”Kok kayaknya eluh gampang pisan (banget) gaet sini-situ?” ”Gak gampang sebenernya. Untuk bisa mendapatkan kepuasan dari wanita, pertama-tama kita harus menemukan wanitanya.” Doni secara terstruktur menjelaskan sesuatu yang sudah jelas. ”Terima kasih. Itu guah baru tau.” Ujar Agus mengejek. Logat sunda didikan keluarganya masih melekat di mana selalu terdapat imbuhan H setelah saya dan kamu. ”Selanjutnya?” ”Selanjutnya go with the flow. Tapi bukan berarti wanita adalah mahluk yang gampangan. Justru mereka mahluk yang sangat rumit dan kompleks. Akan mudah untuk berbuat nakal..” Doni memberikan gestur tanda kutip dengan kedua tangan ”...jika kita, pria nakal, bertemu wanita nakal. It takes two to tango. Sering juga kok guanya udah pengen banget berbuat lebih...” Kembali dia dengan gestur kutipnya ”..si ceweknya cuman mau sekedar pengen ngobrol aja. Kalo gitu ya jangan maksain. Jangan pernah ngajak nakal wanita baik-baik. Ntar reputasi kita jatuh. Dia juga terhina dan kita sebagai pria, jangan pernah menghina harga diri wanita.” Kedua temannya tercenung. ”Mengapa kau tak punya pacar, Don?” Olip bertanya. ”Gua lebih suka dengan kebebasan seperti ini. Suka sama suka, nakal-nakalan sebentar dan berpisah dengan damai. Simple, lepas dan nggak terikat.” ”Kalo dari sudut pandang guah mah....lebih susah deketin wanita untuk hubungan serius ketimbang untuk sebuah hubungan singkat.” ujar Agus. ”Kok elu bisa bilang gitu?” tanya Doni. Olip mencondongkan badan ke depan. Semua ini hal baru baginya. ”Wanita adalah mahluk yang lebih superior derajatnya dari priah...” ”Pria.” ”Iyah, Priah.” ”Pria.” ”..pokoknya, KITAH kudu jungkir-balik, tiarap dan masuk jurang kalo udah ngejar cewek. Kitah kudu berhadapan dengan ketatnya persaingan,” Agus menunjuk jomblo-jomblo hina yang tadi mereka identifikasi ”...kepasrahan terhadap jeleknya tampang...” Agus menunjuk parasnya sendiri dan paras Olip. ”Terima kasih.” Tukas Olip dengan asam. ”Dan berlutut di belas kasih seleksi yang wanita miliki berdasarkan selera mereka. Orang yang 5 tahun memuja wanita bisa saja ditepis sang wanita dalam 2 detik jika wanita tersebut tidak suka atas dasar alasan apa pun.” Omongan Agus terpotong oleh peristiwa lewatnya beberapa bidadari UNJAT yang membuat mereka menyesal mengapa di kala TK mereka bercita-cita menjadi insinyur dan masuk UNB dan bukan akuntan. Setelah mereka lewat, Agus melanjutkan analisisnya akan wanita yang lebih rumit dari thesis ilmuwan pembuat roket. ”Wanita punya absolutisme menyeleksi. Dari alasan yang solid seperti ’Agamanya kurang kuat’ sampai alasan yang paling pikaseubeuleun (menyebalkan) ’Orangnya sih baik, tapi sayang bau kelek.’, mereka punya hak atas ituh. Setelah ituh sang wanita melanjutkan kehidupannya dengan tralala-lala sementara si pria hancur berkeping-keping di pinggir dunianya yang porak-poranda. Wanitalah yang memutuskan ’Oke, elu boleh kenalan sama guah’ ketika kitah berkenalan dengan mereka. Wanitalah yang memutuskan ’Oke, elu boleh jadi pacar guah’ ketika kitah menyatakan cinta pada mereka.” Agus menutup thesisnya dengan berdiri dan tangan mengacung ke atas dan dengan kata OKE yang terlalu banyak. ”Analisa yang mendalam....” ”Elu adalah bukti nyata betapa fatalnya efek kurang ASI.” Asri ”Elu kenapa masih terkena kutukan jomblo Lip?” tangan Doni mengarah ke Olip. Dia ingin tahu bagaimana orang selurus Olip, memilih teman hidup. ”Tak selera awak melihat mereka semua...” sambil menunjuk ke mahasiswi-mahasiswi UNJAT. Perkataan ini adalah penghinaan bagi Doni. ”Elu gegar otak atau minta dapet gegar otak?” tanya Doni. ”....awak punya puteri impian. Bidadari pagi awak. Ratu di hari rabu” ujar Olip dengan hiperbolis dan puitis menggambarkan sosok gadis impiannya. Telah 2 tahun Olip menaruh hati kepada satu wanita. Suatu hari wanita cantik itu melintas ke dalam kehidupan Olip, hinggap di hati dan tak pernah pergi. ”Ya..ya...Guah mah udah tau ceritanya...ampe bosen.” Ujar Agus melayangkan mata ke atas. ”Yang mana sih? Gua kok gak pernah tau.” Doni merasa kesal dengan kenyataan bahwa salah satu teman baiknya menyimpan sebuah rahasia yang dia tidak tahu selama 2 tahun. ”Asri, anak Biologi 96...seangkatan kok sama kitah...” kata Agus ”..sebenerna (sebenarnya) mah normal bisa naksir cewek. Sehat.” mata jenaka Agus menyala mengejek Olip ”...yang NGGAK normal adalah gak pernah berani kenalan.” ”Jadi 2 tahun elu belum pernah kenalan Lip?” tanya Doni mengacungkan dua jari. Olip menggelengkan kepala, tersenyum pahit. Matanya penuh dengan kenangan. Dia tenggelam dalam ingatan di suatu hari di kala dia masa awal kuliah. ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^ Kampus, September 1996 Agus dan Olip duduk di anak tangga gedung kuliah mereka. Waktu menunggu jam kuliah fisika mereka isi dengan perdebatan yang mengasah intelektualitas. ”Kalo eluh diberi kesaktian untuk mampu mengubah warna buah terong, eluh pilih warna apa?” Agus mengawali perdebatan. ”Awak pilih merah jambu..dan setelah itu, awak suruh kau pegang terong itu dan awak lempar kau ke dalam jurang.” ”Masak sih?...Merah jambu?” Agus gagal menangkap sarkasme Di saat itu sesosok manusia sempurna melintas, Asri, nama wanita itu, dari jurusan Biologi. Rambut hitam legam tergurai. Kulit seputih susu membungkus tubuhnya dengan apik, kontras dengan rambutnya. Memakai kemeja hitam dengan lengan sesiku dengan kancing terbuka sampai dada. Kaos putih membungkus badannya dari dalam. Dia berjalan melintas anak tangga dengan sendal hak 9 cm dan celana hitam. Dia berjalan bersama teman-teman sejurusannya. Mata mereka bertemu. Retina Olip membesar, jantung berdegup dan nafas terhenti. Dunia bergerak dengan slow motion. Asri memalingkan muka sambil terus bercakap. Satu detik yang tidak berarti baginya dan terlupakan dari hidup untuk tahun-tahun berikutnya. Namun, itu satu detik yang tidak akan Olip hapus dari memori sampai akhir hayat. Di detik itulah, hati dan setiap serat dalam tubuhnya menyatakan cinta kepada Asri. Sebuah rahasia yang sedikit saja dia bagi dengan sahabat-sahabatnya. Jika sampai teknologi mengijinkan adanya transplantasi otak, yang mana Olip sangat butuhkan untuk selamat dalam UNB, dia akan meminta kepada dokternya, ”Dokter, tolong jangan potong bagian otak awak yang menyimpan adegan seorang wanita cantik berkemeja hitam yang berjalan depan gedung jelek. Adegannya slow motion dan ada iringan lagu Brian McKnight – One Last Cry.MP3.” ”Oh maksud anda, bagian otak yang juga menyimpan 3313 adegan porno?” ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^ ”Olip? Yuhuuuuuuuu!!” Agus dan Doni memberikan gestur tangan ’halo’ dan ’lay-bangun-lah-kau-lay’. Olip kembali ke masa kini. Perbedaan ”Kalo elu Gus, punya kriteria khusus mencari pacar?” Doni bertanya sambil menyalakan rokok. ”Guah pengen pacar guah nanti, adalah seorang figur ibu yang baik bagi anak-anak.” ”Elu berpikir sejauh itu?” tanya Doni dengan nada penuh tidak percaya bahwa biawak di depannya memiliki tingkat seleksi wanita yang tinggi. ”Iya.” ”Kenapa? Kenapa mesti sedalam itu?” tanya Doni. ”Pacaran itu penting. Salah satu jenjang menuju pernikahan.” ”Jadi, meski dia nyebelin, gak cocok, sok ngatur, dominan dan menguasai diri lu...elu akan tetap cinta sama dia?” ”Guah rasa begitu ya....kayaknyah...demi anak-anak guah nanti. Guah pengen mereka tumbuh jadi orang-orang yang baik.” ”Mana ada bapak yang ingin anaknya ngerampok bank, Gus? Elu terlalu rumit deh kalo berpikir...Gak ada yang bakal ajarin anaknya, Bagus Nak, bagus. Nah, setelah kamu cekik anak itu dengan tali sepatunya sendiri, hantam kepalanya dengan batu ini. ...” ”Ya gak gituh juga.” ”Gua gak pernah berpikir sejauh elu....” Kata Doni ”Gua cuman nyari wanita yang cocok dan mengerti gua dan dia bisa mengerti gua.” ”Jadi kalo dia janda beranak tiga bekas tukang ngobat dan menderita raja singa...eluh akan tetap cinta sama dia?” ”Kenapa nggak? Yang penting cocok.” ”Gua mah gak bisa ... berpikir sependek itu.” Agus menggelengkan kepala. Semuanya terdiam. Dua orang yang berbeda. Fly ”Bimo minta dicolok gergaji mesin. Sampe sekarang belum dateng.” ujar Agus melihat jam. ”Santai aja....masak sih elu gak suka liat cew....” ”MONYET! ADA MONYET!” Suara parau berkumandang di tengah lapangan parkir. Dengan sekejap, semua orang di kantin melihat sumber suara itu. ”ADA MONYET CANTIK..ITU DIPOHON!!” Ujar Bimo sambil terhuyung menunjuk ke atas tiang bendera. Beberapa wanita cantik mulai cekikikan geli. Ketiga teman Bimo terpana. Syok oleh malu, amarah dan iba. Saat itu Bimo sangat rawan untuk keceplosan memberitahu seperempat kampus UNJAT dengan suara besarnya bahwa dia adalah anak UNB yang baru membeli ganja. Anak-anak UNB mampu mengambil resiko tertangkap membeli ganja. Yang mereka tidak kuat adalah menahan malu tertangkap basah menjadi jomblo hampa yang ngeceng di kampus orang lain. Mereka bertiga tidak keberatan melihat Bimo dihantam satpam dan massa. Malah mungkin mereka akan bantu carikan bensin dan korek api. Terbit ide brilyan Agus untuk berbagi tugas. ”Oke. Ini rencananya....” Agus menunjuk ke Olip dan Doni. ”Olip, eluh cari benda tumpul berat dan panjang, kalo bisa dari logam dan lakukan hal-hal keji pada saluran pembuangan dia.” ”Mengapa mesti Awak? Dan kenapa mesti organ itu?” Olip protes sambil berair muka ’oh-why-me?’ Agus tidak menjawab dan melanjutkan ”Guah cari batu dengan bentuk paling jelek sedunia dan pukul Bimo di kepala. Eluh Don, masukin Bimo dalam karung selagi dia megap-megap, naik ke mobil dan giles dia pelan-pelan sampe tulang belakangnya patah. Oke?” ”Hal-hal keji seperti?” ”Apa Guah mesti gambar?” ”Seperti apa?” ”Gak tau lah, Anuskopi mungkin?” ”Anuskopi ilegal di beberapa negara.” ”Tidak di negara ini.” ”Gua sebenernya pengen nimbrung di perdebatan yang penuh intelektualitas tentang kontribusi perangkat hukum berbagai negara pada saluran ekskresi warga negaranya, tapi saat ini kita punya prioritas yang lebih PENTING MUNGKIN?” Doni melerai sambil menunjuk Bimo yang dengan santai melambai-lambai ke arah mereka. Mereka bertiga menutupi muka dengan tas berlari ke tengah lapangan menuju Bimo. ”Lapor Komandan! Saya Lihat monyet!” ”Laporan diterima, kopral.” ”Monyetnya cantik, Komandan!” ”Yak, sekarang masuk mobil cepetan!” ”Siap komandan, laksanakan!....” Agus dengan sabar menggandeng temannya, mutan semangka. Agus menatap bungkusan ganja yang dibawa Bimo. Bimo membeli cukup banyak ganja untuk ditanam ulang dan mensukseskan program hutan hijau di Kalimantan. Mereka semua melompat ke dalam mobil dan pergi. Labels: books
We Got a Winner!! WE GOT A WINNER(s)!!and I found a bookDick!, I was almost sure nobody can guess it. Turned out it was answered.....So congrats yang udah menang. Gua udah kirim notifikasi ke yang bersangkutan(s) untuk minta alamatnya. Makasih banget bagi yang udah berpatisipasi. Ternyata project gua mesti dibongkar lagi karena satu dan lain hal tapi gak papa so, dengan sangat menyesal dan dengan tidak bermaksud disebelin orang-orang, kayaknya gua belum bnisa ngasih tau apa itu. Gua janji bila datang waktunya, gua pasti bilang. It has been one of the most exhausting set weeks ever in my life, and fun too.... Now, sementara gua belum bisa ngasih jawabannya, who would like to see me in a thong? (euuhhhhhh) Sorry juga beluim sempet posting-posting lagi. bener-bener lagi banyak pikiran. So cheers guys! Will try to write something in a short while. UPDATE 22 OCT 2003 Ada yang suka sejarah dan mitos Yunani? Gua semalem lagi load mail sebentar dan browsing and to my surprise, gua berhasil mendapatkan sesuatu yang bagi gua sangat berharga. Xenophon - Anabasisrgds. Labels: books |
Adhitya Mulya adalah Dewa Ganteng yang tinggal di kahyangan bersama 100 dayang-dayang. Dia menghabiskan waktunya turun ke bumi untuk bertemu dengan rakyat jelata dan berburu menjangan dan babi hutan... (or is it, berburu rakyat jelata dan bertemu dengan babi hutan? anyways, same thing). Oh ya, sesekali dia menulis buku komedi.
orang telah melihat kegantengan gua yang legendaris itu. Ninit ; Aan ; Agung ; Aip ; Alaya ; Avianto ; Aris ; Atta ; Detta ; Ewink ; Enda ; Erly ; Fairy ; Fanny ; Ganda ; Hagi ; Hanzky ; Isman ; Ita Leyla ; Ni'ang ; Ndari ; Nita ; Pip ; Okke ; Roi ; Ruri ; Shinta ; Tyaz ; Udhien ; Umar; Adi ; Afo ; Alaya ; Alfa ; Ale ; Alvons ; Aiff ; Andhi ; Andin ; Andin ; Anggie ; Anto ; Aprian ; arb3i ; Ari ; Arma ; Arif ; Ayu ; Axlandra ; Bantot ; Be-Es ; Beranda ; Bintang ; Bios ; Blub ; Brandy ; Buzz ; Cay ; CB ; Celia ; C'est la Vie ; Civent ; Claustrophobic ; Comel ; Comel ; Crey ; Dagungsta ; Dayat ; Deksay ; Dian ; Dican ; Didi ; Didiet ; Diki ; Dini ; Dion ; Disposable Hero ; Drey ; Duwie ; Dwi ; Dyah ; Ekodox ; Emil ; Ephe ; Eric ; Erika ; Erwin ; Eve ; Eyi ; Farid N ; Farid ; Finalizabeth ; Fitri ; Flow ; Flow ; Fresh ; Gajah Duduk ; Gauz ; goblog ; grE3nY' PrinceZz ; Guido ; Grizz ; Harris ; Harris ; Harris ; Heri ; Herlyanti ; Hero ; Ibiza ; Ika ; Ilsa ; Inex ; Inna ; Ipan ; Irene ; Irene ; Iris ; Isnaini ; Koebiz ; Kun ; Lacsar ; Lemans ; Lilik ; Lindie ; Little Mermaid ; Lontar ; Matz ; Memey ; Merkurius ; Morningdew ; N[a] ; Nasgor ; Neen ; Neenoy ; Nice green ; Nisa ; Nita+Agus ; Nono ; Novie ; Nukov ; Nunik ; Ochan ; Ollie ; Paylo ; Pipit ; Prazz ; Prianca ; QQ ; Radith ; Rapa ; Reena ; Ren ; Ria ; Richoz ; Ridwan Fauzi ; Rihsa ; Riena ; Rita ; Sapi ; Sasha ; Sazi ; Seggaf ; ; ; ; Snydez ; StormyMonday ; Supta ; Sweeney ; Sylvie ; Tamtam ; Tari ; Toet ; Trippin' D ; Tutup Botol ; t.w. ; Ty ; Tyaz ; Tychan ; Umar ; Un^Goe ; Vanda ; Vanya ; Viga ; Vellas ; Weedee ; Yudha ; visit rice bowl journals ! |