Loosing My Mojo
Saturday, March 22, 2008

But not in a sexual way tho hahaha.

Gua sedang dalam kondisi yang bagi gua cukup menyedihkan. Sejak tahun 2003 gua selalu mencoba mendeliver 1 karya. masalahnya sekarang gua belum nulis dari februari 2007 sampai maret 2008. Itu adalah jedah satu tahun - terlama gua gak menghasilkan karya dalam bentuk apa pun. Be it script, novel, adaptation, anything.

Waktu ada. Waktu selalu ada. Secara kantor gua hanya 15 menit jalan kaki dari rumah. Tapi pulang kantor, selalu ada Alde menunggu dan minta main bareng. Apalagi akhir-akhir ini Alde lebih clingy ke gua. Kalo gua mau ke kantor dia teriak. Kalo pisahan di mall untuk nyewa dvd, dia teriak. But regardless, truth be told, any given day gua memilih untuk memberikan semua waktu gua pada Alde.

Jadi waktu bukan masalah. Terus apa masalah gua? Kerja? Bagian ini juga memiliki masalah. I've been making friends with a bohemian couple, the famous indrani.net. dan dari pertemuan dengan mereka gua jadi ingin ikutan les berlayar. Ada kali Indra 4-5 kali ngajakin gua memulai les tapi somehow gua selalu tolak. kebanyakan karena weekend gua harus kerja. Sekali waktu sakit. Dan kesempatannya selalu hilang. kemudian gua ajak dia ikut amazing race 3. yang mana besoknya langsung ada pengumuman dari kantor akan prkembangan downsizing. Gak lucu aja gua ikutan amazing race 3 dan dapet telfon
"Adhitya, would you liek a retrechment package?"

So that's that.

Kerja ini juga memberikan tingkat stress yang sangat tinggi. ketika gua mulai nulis bajak laut beberapa bulan yang lalu, company gua mengalami downsizing dan gua jadinya me-rem pekerjaan menulis untuk konsentrasi ke pekerjaan.

Apakah ide juga masalah? Ya. Safe to say bahwa gua kebanyakan ingin cerita dalam bajak laut ini.
Dari sejarah raja-raja nusantara - yang ternyata 1 raja bisa punya 3 versi yang gua bingung mana yang bener.
Kehidupan sosial Batavia yang sadis dan tidak komedik.
Sampe cerita bajak laut itu sendiri yang harus diramu dengan kocak.

Ketika seseorang mencoba menggabungkan ketiganya, emosi penulisan jadi naik turun dari bab ke ba. Bukan emosi membaca, tapi emosi menulis. Yang namanya nulis komedi itu moodnya harus pas. ketika mood kita komedik di bab 2 dan kita pindah ke bab 3 yang menerangkan kawasan penjaringan, mood komedi itu hilang. Masuk ke bab 4 yang komedi lagi, sulit sekali mendapatkan mood komedi itu lagi.

Trus lagi, proses kehidupan. Ketika gua nulis jomblo, gua masih jadi bujangan happy go lucky type. Nulis GMC gua masih married dengan posisi karir yang masih mencari bentuknya. Nulis TT anak gua masih kecil. Sekarang? gua udah jadi bapak anak satu yang punya portfolio investment besar untuk hari tua dan karir yang mulai speasialis dan hampir diguncang downsize (gua survie btw, alhamdulillah). Dengan cukup jelas, hal-hal yang gua hadapi, jalani dan atasi sekarang jauh lebih penting dan memerlukan kedewasaan berpikir. Dan itu merenggut semua cita rasa komedi gua/ If you look at my blog writings, there hasnt been any single comedic entry for a long, long time.

As a recap to all of this, I could be loosing my mojo in writing comedy.

Akhirnya untuk bajak laut ini, gua mulai nulis lagi. dan gua memutuskan untuk tidak menggunakan hasil riset 4 tahun dan mulai menulis mengalir begitu saja agar komedinya lepas. Terkadang gua berharap bis aselepas dan serileks Rasdit Kambing jantan atau Endang rukmana. Tapi gua sadar gua gak bisa. Gua punya tanggungan dan actually solid good career to maintain. Dan membalance kedua hal itu dengan menulis is no easy job at all.

Oh well. time to try to write again.

Brgds.

Labels: ,





Sekuel Jomblo
Sunday, March 02, 2008

Guys, mau nanya nih.

Gua punya feeling kuat banget untuk melanjutkan novel jomblo.

Feeling ini datang dari niat gua untuk menyelesaikan apa yang di sinetron di cut. Jadi ya mungkin materi ceritanya sebagian kecil akan gua ambil dari serial Jomblo walau pun gua bisa jamin itu gak banyak.

Menurut kalian gimana? Mau gak baca Jomblo 2?

Tolong utarakan setuju tidak setujunya ya.

Bukannya gua plin-plan tapi yang baca nantinya kan kalian-kalian juga. So, please speak up.

Labels: ,





Gua, Buku Gua, & Anak Gua
Saturday, August 04, 2007

Another good news, TT masuk cetakan 4. Ekspektasi gua kecil thd buku ini mengingat kondisi pasar buku yang udah jenuh sama ribuan judul. Tapi ternyata Alhamdulillah, TT bisa masuk ke cetakan 4 padahal perasaan baru kemaren nerima kabar masuk cetakan 3.

Gua selalu suka mendengar kabar buku laku di pasaran karena gua nulis buku untk menghibur. Dan penjualan yang lancar menandakan makin banyak orang terhibur. To me buku laku is never about the money because I do have them. Sekarang (mungkin karena pendewasaan?) gua melihatnya sebagai ibadah. Bukin orang ketawa kan pahala.


Masuk 11 bulan, Alde menunjukkan banyak peningkatan.

Berenang masih dipegangin tapi sering kakinya udah mulai ngayuh sesekali.

Sesekali udah jalan. Meski masih jarang banget dan hanya 4 langkah sekali jalan sebelum dia jatuh.

Yang paling menyenangkan bagi kita adalah: Alde udah bisa turun dari tempat tidur sendiri. Alde cukup pintar untuk mengasess ketinggian tempat tidur dari umur 8 bulan. Tapi baru di umur 11 bulan dia bisa ngumpulin keberanian untuk turun sendiri.

Oke deh segitu aja dulu updte dari singapur. Akhir minggu depan gua ke Cape Town seminggu ninggalin anak kecil ini dan ibunya. Yay Cape Town!

Labels: , ,





Tips Nulis Buku Fiksi
Friday, May 04, 2007

Anda sedang mencoba menulis?

Anda sering mengalami writer's block?

Anda sering mengalami kekurangan ide sehingga jerit-jerit sambil jongkok di pojok kamar?

Anda sering gangguin penulis-penulis senior dengan cara kirim email ke mereka nanya ttg nulis buku?

WORRY NO MORE!!!

Setelah 3 tahun, ada lumayan banyak orang minta saran ke gua untuk nulis buku.

Nah dari pada gua juling tiap hari ngasih tau mereka, akhirnya gua punya kesempatan untuk merangkum semuanya dan meng-uploadnya ke dalam sebuah blog.

Kalian semua bisa liat tips nulis itu, di sini: http://tipsnulisfiksi.blogspot.com

Semoga berguna. Rgds.

Labels:





Travelers' Tale
Monday, February 19, 2007

Minggu kemarin kita jalan-jalan ke Gramedia PIM untuk cek stok buku-buku. TT masuk gramedia PIM tgl 13 feb sebanyak 150 kopi. tgl 25, sudah tinggal 64. That's 80+ copies sold in 12 days.

Dari total 10 buku yang kita hasilkan, buku ini yang kedua paling cepat penjualannya dalam rentang waktu 2 minggu, setelah Jomblo.

Kita berempat berterima kasih atas antusiasme temen-temen akan novel ini dan kalo temen-temen puas, bilang-bilang ya ke temen kalian!

Rgds.

Labels: ,





Have You Heard?
Tuesday, October 10, 2006



Plan & New Books
Saturday, August 12, 2006

Waktu itu bulan Mei. Gua memasuki hari-hari terakhir dari jabatan gua sebagai asmen di CFS site di Cakung. Beberapa anak buah sudah mengekspresikan keberatan mereka mengenai kepergian ini. Salah satu anak buah gua juga ada yang mengaku dia pernah menolak tawaran kerja di tempat lain hanya karena dia ingin lebih banyak belajar dari gua. Anyways, salah satu ada yang bertanya,

"Kenapa sih pak harus ninggalin kita-kita? Apa yang kurang dari kita?" to which I replied,
"Kalian gak kurang gak apa. Kalian tau kan saya sebentar lagi punya anak. Kalian liat sendiri kerjaan kita. 200 container per mingu. Rumah saya 45 kilometer dari sini. Saya gak kebayang kalo kita udah ngejar closing kapal, masih ada 40 container dan air ketuban istri saya pecah 45 kilometer di sana. Pastinya gak keburu."

Dia mengangguk mengerti. Setelah itu gua kembali ke kantor pusat untuk menjadi asmen di project finance, agar gua pasti bisa punya waktu untuk melihat kelahiran anak pertama. Dia dijadwalkan untuk lahir 29 Aug.

But as fate would have it... gua harus kerja di Bangkok dari 12 Aug - 20 Sep.

The world can be so unforgiving sometimes.

Anyways, menjelang kelahiran anak pertama, istri gua juga melahirkan 2 buah buku. They're very entertaining. Make sure you have them!!!




Also, gak ketinggalan, temen baik gua meluncurkan buku perdananya. Namanya Fanny Hartanti. Bukunya lucu. Make sure you have this one as well!!


With this, I'll be leaving to Bangkok. I love you, wife.

Rgds.

Labels:





Novel Mendadak Dangdut
Friday, August 04, 2006

I'm a complete anal when it comes to quality product tapi...

Seriously, film dan bukunya gua harus akui, lucu.

Sutradaranya Rudi Sujarwo. Scriptnya ditulis sama Monty Tiwa, whom I considered as one of the best script writer in Indonesia today.

And lastly, skripnya diadaptasi oleh istribawel hue hue hue. Ninit membuat modifikasi yang gak kalah lucunya. Produser dari Sinemart dan Monty Tiwa juga, impressed dengan kepiawaian Ninit mengolah skrip yang udah lucu ke dalam novel yang berwarna beda.

Dulu waktu Ninit masih belajar nulis gue pernah bilang ke dia bahwa suatu hari dia akan menjadi penulis yang lebih baik dari gua (bukan maksud hati sombong...) dan gua lihat sekarang, well, she's better.

So, Buy the book, watch the movie, and laugh your ass off!!!

Selamat ya Be. Proud of you.

Rgds.

Labels:





Kejar Jakarta
Thursday, December 15, 2005

Editor gue yang ganteng itu paling tahu caranya bikin orang sengsara. 3 buku gue tulis belum pernah gue ada sesi tanda tangan (sumpeh!) dan ini email yang dia tulis:

Sent: Thursday, December 15, 2005 7:52 PM
Subject: RE: cover dari kejar jakarta

Alhamdulillah baik.


Kita baru aja selesai ikutan Indonesia Book Fair 2005. Sayang, Kang Adhit nggak ada di sini ya :) Kalo ada, kan, acara peluncuran Kejar Jakarta-nyah bisa lebih afdol tuh, hehehe. But generally, acaranya berjalan lancar kok. Semua personel Project P, Pak Chandra, Pak Bayu, dan Wulan Guritno juga hadir memeriahkan acara itu.
......

Rgds.
denny

-----------
Well setidaknya gue dapet covernya. Strangely nice. SOOOOOOOO...without further ado...



KEJAR JAKARTA

THE BOOK: OUT NOW!!


THE MOVIE: PREMIER 29 DECEMBER 2005



Gue ada request nih. Kalo bisa, kalian beli bukunya dan tonton filmnya. Gue pengen tau reaksi kalian atas perbedaan yang ada. tell us what you think ya.

See you all at the premier. We're coming home. Rgds.

Labels:





3 Book Promos
Monday, December 12, 2005

Kejar Jakarta - Adaptasi
Adhitya Mulya
Gagas Media

Sedih deh jadi gue. Gue yang pulang ke Jakarta untuk nonton filnya. Gue yang baca skripnya. Gue yang nelfonin directornya. Gue yang nulis adaptasi novelnya. Dan secara spektakuler, sampe buku ini sekarang beredar di Jakarta, gue masih belum dapet bahkan cover softcopynya, hehehe. Tapi gak papa. Maish bisa gue colong from somewhere di internet.

Jadi suatu hari Mas FX Rudy Gunawan nulis email ke gue, nawarin gue untuk nulis novel adaptasi dari skrip Kejar Jakarta. Iming-imingnya? Film ini dibintangi Project P. Gue pikir, wah dari kecil gue nonton manusia-manusia ini ngebanyol di SCTV. Ketemu Daan Aria aja udah megap-megap. Gak usah maen bareng, nonto mereka live aja gue ngimpi. Lah ini disuruh ngadaptasi novel mereka. WHAAAA!!! Makanya tantangannya langsung gue terima. Lagian sebenernya gue udah janji puasa nulis dulu soalnya mau riset untuk yang Bajak Laut itu. Tapi berhbung KOK YA O GUENYA GAK LANJUT-LANJUT AJA INSPIRASINYA (nulis komedi susah bo...susah!) ya udah gue terima tawarannya.

Lagian gue pikir, gue udah nulis komedi. Udah dua kali. Project P adalah komedian yang brilyan. Seberapa susahnya sih nulis adaptasinya? Ternyata sangat-sangat susah. Pertama, skripnya ternyata tidak ditulis oleh Project P. Project P hanya jadi cast. Kedua, Project P ini jagoan di improvisasi. Ini masalah banget bagi gue karena gue nulis berdasarkan skrip namun Tidak ada satu pun dialog yang terekam dalam film ini yang dialognya utuh. Semuanya improv. Jadilah gue mencret. Ketiga, kembal ke skrip, banyak elemen-elemen skrip yang sebenernya gue pertanyakan ke penulis skripnya. Untungnya beliau bilang
'Dit, elo itu nulis novel untuk memberikan angle yang beda dari film. Jadi kalo ada kekurangan ya tambahin aja silahkan.'
Oke deeeeh.

Setelah tulis sana tulis sini,
tambel sana, tambel sini,
salah sana salah sini,
mencret sana mencret sini,

jadi deh ini buku.

Baca bukunya, (udah beredar di toko buku terdekat)
Tonton filmnya, (premier 29 Desember 2005)

Silahkan bandingkan dan nilai. Btw, beberapa dari kalian udah ada yang baca dan nimel gue, thanks for that. Nita Sellya, Anzarra, Donna, thanks ya!

--

Alexandria - Adaptasi
Salman Aristo
-> pssst, dia punya blog di sini...
Gagas Media


Kutipan:

SALMAN ARISTO. Orang Minang yang lahir di Jakarta 13 April 1976. Tapi merasa dibesarkan Bandung. Saat masih berkutat dengan kuliahnya [dan recehan hidup lainnya] di Jurnalistik UNPAD. Metode berpikir kreatifnya terbentuk di sana dan makin menguatkan stigma 'Padang Murtad' karena tidak doyan cabai dan lebih sering berbahasa Sunda. Menggilai buku, film, musik, Belanda, Arsenal dan Newcastle. Merasa cuma bisa menulis dan bercerita. Sekarang sudah menghasilkan lima judul layar lebar Brownies [2004], Catatan Akhir Sekolah [2005], Cinta Silver [2005], Alexandria [2005] dan Jomblo (bersama Adhitya Mulya) [2006]. Lumayan sering juga diundang mengisi workshop penulisan kreatif dan skenario. Di samping kerjaan sebagai Senior Editor di majalah Trax. Adaptasi skenario Alexandria adalah novel pertamanya. Belakangan mencoba memikirkan sesuatu yang lebih berguna terhadap tumpukan coretan puisinya dan jadi makin berani melongok ide-ide novelnya yang berserakan. Lantas apa yang bisa disimpulkan dari orang ini? “Saya ini pencerita. Storyteller.” Begitu katanya.

SINOPSIS ALEXANDRIA

Seberapa jauh cinta bisa membawamu pergi? Cinta memang memiliki sayap terhebat. Bisa membawa pergi jauh melebihi batas apa pun. Batas diri, batas akal, batas tanah air dan banyak batas lagi. Jauh sekali. Buat Bagas Gunawan, Alexandra Yasmina dan Rafi Primasto, cinta bisa membawa mereka jauh melebihi batasan-batasan diri, impian dan obsesi. Jauh melebihi Alexandria.

Lantas kemana hati Alex yang diterbangkan cinta itu akan berlabuh? Rafi kah? Mantan playboy yang mencoba tumbuh jadi lebih baik? Atau Bagas? Pengagum setianya sejak umur 7 tahun? Atau tidak keduanya, karena Bagas dan Rafi adalah sahabat sejak TK? Atau ternyata ada kenyataan lain yang akan membawa cinta itu kepada yang lebih tepat? Siapakah yang berkhianat? Lantas siapakah yang sebenarnya harus memilih dan merelakan?

Ini kisah adalah tentang persahabatan, cinta segitiga dan obsesi. Cinta memang sumber inspirasi segalanya. Namun untuk mengejanya lebih dewasa ada satu elemen hati yang dibutuhkan: keikhlasan.

Mungkin kamu pernah mengalaminya? Pernah jauh dibawa terbang oleh cinta? Berarti kalian akan bersahabat dengan Alex, Bagas dan Rafi. Kalau belum, membaca ini kalian akan merasakan terbang [dan jatuh] bersama cinta mereka.

:Akhir Kutipan

Gue telat banget ngasih unjuk ini buku. Well, you all know the movie. Salman Aristo adalah penulis skripnya. Dia memutuskan untuk menulis adaptasi novelnya juga. Dari yang gue dengar, cerita dari film ini di luar ekspektasi orang karena dalam proses peralihan dari skrip ke ke syuting, banyak detil yang kececer sehingga apa yang ada di buku yang merujuk ke skrip banyak yang gak sama dengan apa yang ada di film. Banyak orang bilang juga bahwa mereka prefer novel ini ketimbang filmnya.

So kalo masih penasaran sama jalan cerita yang sesuai dengan si penulis skrip, baca aja novel ini. Udah masuk cetakan 7000, lumayan cepet banget mengingat banyaknya buku di pasaran saat ini.

--


Test Pack - Novel
Ninit Yunita
Gagas Media


MASUK CETAKAN 4!! as of mid November kemarin, dari pertama kali terbit mid September. 2 Bulan 4 cetakan. That speaks alot. Kita lupa tanya kali ini dicetak berapa tapi cetakan 3 kemaren aja udah 10500 so..well...in short I'm very happy for my wife. Bangga sama dia? wah jangan tanya.

That's all folks, bagi yang belum beli buku-buku di atas, beli dan tell us what you think.

Labels:





Kabar Baik & Buku-Buku FLP
Thursday, November 10, 2005

Kabar Baik
Sebelum gue ngomongin tentang buku-buku dari FLP, ada kabar baik bagi kalian yang belum tau.

Test Pack (Gagas Media - Ninit Yunita) masuk cetakan 3. Jadi jumlah total cetakan = 10500 kopi. Ini kabar baik banget mengingat jumlah buku fiksi yang beredar di Indonesia udah sangat banyak dan orang sekarang milih buku sampe mencret kali. But worry no more, klik di sini untuk testimoni orang yang udah baca, dari semua gendr dan ragam usia.

Selamat ya Neng. Bangga sama kamu. Always.



Buku-Buku terbitan Forum Lingkar Pena
Forum Lingkar Pena adalah komunitas baca dan tulis yang sangat islami. Mereka terbilang cukup produktif mencetak buku dan mencari penulis-penulis baru. Hampir semua terbitan bernafaskan dakwah yang mana kalo gue bilang cukup unik dancutting edge ya, karena industri buku sekarang kabarnya (gue gak liat sendiri sih, tapi santer isu beredar bahwa) sangat-sangat padat dengan buku fiksi.

Kita bisa mendapatkan update karya-karya terbaru dari FLP ini dari blognya, yaitu http://lingkarpena.multiply.com

Nama-nama besar dari FLP ini adalah Mbak Asma Nadia dan Ibu Helvy Tiana Rosa. Keduany memiliki multiply sendiri. Kalo mau tahu alamatnya, klik aja dulu ke multiply Lingkar pena, abis itu view contacts mereka.

ANYHOO... ini ada 3 buku dari FLP yang judulnya catchy banget. Coba beli dan baca deh.

Mempelai Tanpa Pengantin


Judul Buku: Mempelai Tanpa Pengantin
Penulis: Fahri Asiza dan Shinta Yudisia
Format buku: 12 x 18 cm
Cetakan: pertama, November 2005
Harga buku: Rp. 21.000
Genre: Romance

Yang menarik adalah sebenernya kalo diinggrisin judulnya lebih catcy lagi. A Bride Without a Groom.


Sebuah Janji Untuk Istriku

Judul Buku : Sebuah Janji Untuk Istriku (Seri Pernikahan)
Penulis : Arul Khan dan Novia Syahidah
Tebal buku : 181 halaman
Format : 12 x 18 cm
Cetakan : Pertama, Oktober 2005
ISBN : 979-3651-62-8
Harga :Rp. 24.000
Genre: Romance

Penulisnya adalah sepasang suami istri.


No HP No Cry

Judul Buku : No HP No Cry
Penulis : Koko Nata
Tebal buku : ??
Format : 12 x 18 cm
Cetakan : Pertama, Oktober 2005
ISBN :
Harga :
Genre: Teen


Happy reading you guys!

Labels:





Look! I'm on Fire
Friday, October 21, 2005






Dreng jeng... satu lagi dari blogger Indonesia yang menerbitkan buku. Introducing Aulia Halimatussadiah (iya tau, susah nyebutnya. Makanya dia dipanggil Olie heuheuheu). Buku ini adalah debutnya, diterbitkan oleh Gagas Media.

Berkat Gagas Media
Yang menarik dari buku ini adalah bahwa buku ini salah satu dari kalo gak salah, 50 buku yang lulus dari beasiswa Gagas Media. Jadi ceritanya Gagas Media itu tahun lalu memberikan beasiswa ke beberapa orang yang dicirikan memiliki bakat tulis dan mendidik mereka. Projectnya? Buku debut mereka. Nah Buku Ollie ini adalah salah satunya. Kalo dipikir-pikir asik juga ya. Betapa banyak orang yang nulis buku tapi gak tau harus kirim ke siapa. Betapa banyak orang yang pengen nulis buku tapi gak tau harus gimana. Then comes this scholarship.

I can humbly say bahwa gue udah cukup lama melintang dalam di dunia buku untk mengetahui bahwa Gagas Media itu banyak disirikin penerbit lain (satu hal adalah pertumbuhannya yang diconfirm accountingnya 3000% dari 2003 ke 2004). Gagas sebenernya udah punya angin untuk cherry picking penulis mana yang dia mau dan memilih untuk menerbitkan mereka aja. Tapi nyatanya nggak. Nyatanya dia masih ngeluarin ratusan juta untuk beasiswa ini dan mengerti pentingnya generasi baru dalam dunia sastra. 30 tahun lagi, sastrawan yang ada akan meninggal (alami) dn di saat itu Indonesiahaus udah punya generasi pelanjut yang kuat. Satu dari banyak pangkal yang bisa dikembangkan adalah dengan gnre pop-culture ini. Gagas bisa banget berpegang aja ke penulis2 handal. Tapi sekali nggak. Mereka milih untuk mencari bibit baru. Seperti Ollie ini.

Itu yang meski banyak pandangan sinis dari sesama pelaku industri buku, gue sih tetep salut sama Gagas.

Tentang Buku Ini
Gue pernah diminta baca draftnya sekitar 8 bukan yang lalu. Satu yang paling bikin gue impressed adalah gini. Settingnya di Seattle. Tapi gue berkali-kali tanya, penulisnya gak pernah ke Seattle. Dia membangun cerita di tempat yang dia gak pernah kunjungi. Riset. Riset yang akurat. Ini yang banyak penulis-penulis jaman sekarang gue liat rada kurang ya. Berangkat dari sana gue salut sama anak ini. Sama hasil risetnya untuk setting. Selamat ya Lie. Semoga produktif.

Well, tanpa menulis lebih bayak lagi, ini excerpt dari dia:

Look! I'm on Fire
by Ollie
When you're on FIRE…

“Kriiiiiiiiinggggggg.” Alarm kebakaran berbunyi.
Seorang security membawa megaphone dan berteriak-teriak, “Ini bukan latihan…saya ulangi…ini bukan latihan!!!”

…you'll HOPE for a Savior…

“Gue pengen ketemu ama yang nolong gue,” kata Ema.
“Kalo udah ketemu emangnya mau lo apain? Kawinin?”


…you'll SEARCH…

“Suster, siapakah dia…? My Savior….”
“Saya nggak bisa kasih tau….” Suster Susan menggelengkan kepala.
“Please…, apa untungnya buat Suster merahasiakan ini??” Mata Ema berkaca-kaca.


…you might be in LOVE…


“Kok lu diem aja, sehh?” Basuki mengerutkan dahi.
Joko tidak menjawab, malah makin asyik menggambar–gambar sesuatu dengan tablet pc-nya.
“Dia lagi jatuh cinta sama the-accident-girl,” tukas Nick yang sedang menyetir.
“Her name is Ema!” sergah Joko.
“Wah, wah, emang dia secakep itu, ya, Ko? Sharon mau lu kemanain?” Basuki melotot ke arah Joko yang duduk di back seat.
“Sharon kan cuma temen.” Joko cuek. Dia memandangi hasil sketsanya dan terlihat puas.
“Wah, dia mabuk kepayang!”

…and face CHOICES…

Dengan satu gerakan cepat Sharon mengambil burger dari piringnya dan memegangnya di depan mukanya.
“Maukah kau menjadi milikku? Makan burger ini kalo iya, makan french fries kalo nggak.”


…then CAUGHT in the act…

Konsentrasi Joko makin jauh dari berita tentang mergernya dua perusahaan komputer ternama yang sedang dibacanya dari Seattle Weekly. Dengan gelisah dibolak baliknya halaman kusut koran itu sambil terus menguping pembicaraan dua orang cewek bule di sofa ungu.
“Baca apa, sih, serius amat.” Sharon dengan tampang sewot merebut koran dari tangan Joko.
“Ih kok bacaannya ginian? Pantes serius banget….” Sharon menunjukkan beberapa kotak kecil berisi iklan kontak jodoh.
“Haha…,” Joko tertawa kikuk. “Bukan yang itu! Gue baca yang di sebelahnya kok….”
Sharon mengernyitkan dahi, “Yang ini?” Sharon menunjuk sebuah artikel yang berjudul Cara praktis memerah susu kambing.
Joko menunduk.


…creates FLAME…

Message #4 Time : 5 pm
Ema, kamu tau ini siapa, apapun yang kamu liat tadi siang yang membuatmu urung untuk bertemu denganku, tolong berikan sedikit ruang di hatimu untuk rasa pengertian dan sebuah positive thinking. I need that.

Ema menekan sebuah tombol.
Messages erased.


…and so much PAIN…

“Sudahlah Jack, sampai kapan kamu mau menunggu di sini…?” Greg menepuk pundak Joko saat Joko kembali ke titik nol.
“Sampai Ema kembali.”
“Jika ia tidak pernah kembali?”
Joko tercenung. Kemungkinan itu tidak pernah ada dalam pikirannya.
Bagaimana jika ia tidak pernah kembali ?


Look! I'm on Fire.
Komedi cinta yang hilang.
By OLLIE.
Available in the nearest bookstores. Get it, NOW!
BLURBS
This what a book should do, takes you places! Empat jempol buat Ollie atas debutnya yang menghibur!
Raditya Dika - Penulis buku KambingJantan

You made a genius plot!!! two thumbs up for breaking the plots like you did.
Adhitya Mulya - Penulis novel 'Jomblo'

Membaca Look! I'm on Fire... ini membuat saya terbakar untuk terus membuka halaman ke halaman lainnya.
Ninit Yunita - Penulis novel 'Kok Putusin Gue'

Nice story with nicely picked setting.
Danni Junus – Penulis novel ‘Eituzè’

...baca novel ini nggak rugi, serasa berada di Seattle...
Ayu - Wanita Indonesia yang bekerja di Seattle

Novelnya enak, gampang dimengerti dan bahasanya anak muda banget!
Fathma Hariyani - Karyawan swasta

Kalimat-kalimat kocak yang dilontarkan Ollie pas banget deh, bisa membuat saya ketawa-ketawa sendiri!
Diah Ika Hendrayani - Karyawan swasta

Labels:





book launch: Test Pack
Friday, September 16, 2005

Dateng dong dateng dong dateng dong ke:

Book Launch:

TEST PACK

Sabtu 17 September 2005
@ POTLUCK Coffeebar & Library JL Teuku Umar 9 Bandung
Jam 15.00 - 18.00

Pembicara:
Fira Basuki (Penulis & Editor In Chef SPICE! Magazine)
Salman Aristo (Penulis Skenario & Jurnalis)
Adhitya Mulya (Penulis novel best seller JomBlo & Gege Mengejar Cinta)
FX Rudy Gunawan (Editor Test Pack, Penulis & Jurnalis)

MC: Vinka Rae (SKY FM)

Belum punya Test Pack?
bisa dibeli on the spot... dapet discount yang gila-gilaan lagi sekalian dapet merchandise!!!

Dateng yaaaa... ditunggu banget. Sekalian ngumpul... we're going back to Africa on Sept 19... so, really hoping to see you there.

Labels:





Book Promo
Sunday, September 11, 2005

Available at Bookstores near you!!
(well not exactly right next to you but you get the message, no?)
Setelah berbulan-bulan menampik ajakan gue untuk ini itu, akhirnya project kedua dia selesai. SOOOOOO, silahkan baca bukunya.
Menurut gue pribadi secara objektif, buku ini telah melampaui godokan yang lebih mateng dan dalam menulis, dia memang lebih tune in ke tema yang dia stick to. Orang-orang baca buku karena mereka ingin mendapatkan sesuatu dari buku itu. Buku akan ditinggal jika tidak ada nilai tambah bagi mereka. Ada yang baca untuk dapetin ilmu baru. Ada yang baca untuk nilai hiburannya dan ada yang baca untuk belajar tentang filosofi hidup. Gue bilang, ninit berhasil menyelipkan filosofi2 ttg relationship suami istri yang recommended untuk dibaca.
Di sini gue berbicara sbg seorang pembaca buku dan bukan seorang suami.
bubye!!!

Labels:





Sketches from a draft - Best viewed by Modzilla
Sunday, July 24, 2005

Okay, so last weekend I finally had the time to write something. This is just the first draft. The kind of writing that goes first into mind so please do excuse some mistakes. I still need to do alot of revampings.
But this topic has been long overdue to make. Risetnya udah banyak dan memang passion gue sebenernya ke komedi dan sejarah. Kalo kalian baca 2 buku gue, kalian akan selalu baca ada orang-orang dari masa lalu. Raja lah ratu lah, etc.
One question for you guys...is it funny?

___________________________________________________________________
1 – Meneer Muda



Batava, Juni 1856

*DORR*
Meneer itu jatuh tersungkur di dalam rumahnya yang telah 4 jam diobrak-abrik. Burung-burung beterbangan dari pohon dalam perumahan koloni Belanda di luar area Rijswijk[1].

Keempat perompak yang mengelilingi mayat arkeolog Belanda itu masih terdiam dan saling lirik. Ada satu yang berdeham, menambah situasi semakin salah tingkah.

Gunadi, sang kepala perompak di usia 30-an mencoba konfirmasi.
”Apakah dia udah...”
”Iya.”
”Tapi kan dia belum..”
”Belum.”
”Jadi kita masih gak...”
”Nggak.”
”Dan sekarang kita harus...”
”Ya...”
Gunadi menggaruk kepala dan menatap perompak yang memegang musket itu. Perompak itu masih baru. Dalam ekivalensi dengan dunia kerja abad 21, mungkin akan berstatus trainee dengan masa percobaan 30 hari dan makan siang sendiri tanpa teman.
”Saya...” Gunadi terlihat memilih kata yang tepat sebagai penjelasan untuk anak baru ini. ”Sayah gak tau ya di kampung kamuh itu gimana. Tapi di kampung sayah..” menunjuk diri berintonasi ”Kalo kita mau nanya sama orang, biasanya dia jawab dulu, BARU kita tembak.” jelasnya, dengan nadi berdenyut di dahi.
Aceng, anggota mereka yang beretnis cina setuju. ”Kita orang juga gitu di Bangka. Sambil disiksa malah. Tapi ya gitu...jawabnya sambil jerit-jerit.”
”A...a....” begitu Rustam, sang anak baru sukses menjelaskan.

”Kalo aye boleh sumbang saran nih Bang..” Su’eb menunjuk tangan. ”..gimane kalo kite sambung lagi percakapan ini di kapal aje. Di tempat yang..gimana yah... gak bisa ditembakin Kumpeni[2] gitu Bang?”

Gunadi memandang ini sebagai ide yang cukup cerdas dan segera memimpin mereka pergi ke luar rumah. Gunadi juga segera membatalkan 7 pesanan yang seorang tukang es cendol keliling sedang racik di depan kediaman meneer itu. Rencana awal Gunadi memang meminum cendol sambil melepas lelah menyiksa orang.

Mencari yang Lain
”Sebentar, sebentar!” Gunadi yang tadinya berlari paling depan berhenti.
”Ada apa sih Gun?” tanya Aceng dan Su’eb dengan air muka tipikal ’gue-harap-ini-lebih-penting-dari- digantung-kumpeni’.
”Sekarang pikir aja,” Gunadi mulai lagi dengan penyakitnya yang terlalu banyak analisis. ”Barusan orang denger tembakan. Sekarang ada 4 orang berpakaian kumel semua lari-lari bawa senjata. Apa gak entar semua orang curiga.”
”Jadi kita orang ngapain dong?” tanya Aceng.
”Oh Pak! Pak! Saya tahu. Kita jogging aja!” ujar Rustam penuh aspirasi. Sebagai awak baru, dia selalu ingin sumbang ide untuk diterima dan diakui.
”Apaan tuh jogging?”
”Saya liat orang Inggris di Malaka sering melakukannya pagi-pagi. Seperti ini..” jelasnya berdemonstrasi.
Gunadi tidak mendapati jogging setelah membunuh orang sebagai sebuah konsep yang menjual dan mereka memutuskan untuk segera menjemput 4 awak lain di Pasar Baroe.

Tujuh Bulan Sebelumnya
Gunadi pernah membaca surat kabar Batavia bahwa seorang arkeolog Belanda bernama Olivier van Gaal berhasil menemukan sebuah medallion tua dari sebuah ekskavasi beberapa kilometer lepas kota Buitenzorg[3]. Diberitakan dalam surat kabar itu bahwa medali ini berbahasa sansekerta dan ditemukan dalam reruntuhan kerajaan yang hilang. Kerajaan dari Prabu Siliwangi.

Gunadi bukan sebuah mahluk yang terlalu intelek dan dia memang menemukan berita ini dari surat kabar yang telah menjadi kertas pisang goreng yang seorang awaknya beli ketika terakhir kali mereka ke Batavia.

Meski begitu, barang yang Van Gaal temukan memang telah dia ketahui dan cari bertahun-tahun. Dia dan 14 nenek moyangnya ke atas. Barang pusaka tersebut penting bagi dia dan nenek moyangnya karena mereka adalah keturunan dari abdi kerajaan Prabu Siliwangi.

Dan bahwa salah satu nenek moyang Gunadi, menghilangkan medali tersebut.

Dan bahwa Medali itu sebenarnya adalah kunci dari harta karun sang Prabu.

Lima Hari Sebelumnya
Gunadi berlabuh di Soenda Kelapa dan membayar 10 gulden untuk biaya labuh kepada Sjahbandar. Sang Sjahbandar, seorang turunan Pakistan-Melayu dengan warisan bulu yang tidak normal itu[4] tampak tidak percaya ketika Gunadi mengaku sebagai pengusaha batik dari Banjarmasin, dengan beberapa alasan yang cukup fundamental. Pertama, Banjarmasin tidak memproduksi kain Jawa. Kedua, sejak kapan ada orang beraksen Garut menjadi pengusaha kain Jawa? Ketiga, sebagai pengusaha batik, Gunadi dan awak tampak terlalu banyak bekas luka tembak dan bacok dan membawa golok. Setelah Sjahbandar disuap, semua pertanyaan menguap.

Gunadi segera mengalami kesulitan meng-koordinasi anak buah karena setelah berbulan-bulan merompak dan membunuh di selat Malaka, tidak ada yang mereka lebih inginkan dari makan gulali dan es lilin sambil menonton Barongsai di Glodok atau menonton Kumpeni bernyanyi aneh dalam celana ketat di Opera Huis dekat Rijswijk.

Setelah 5 hari berada di Batavia, Gunadi dan awak berhasil menemukan di mana meneer Van Gaal dan semua perilakunya. Meneer Van Gaal adalah seorang duda tua berumur 50 tahun. Seorang pemuda Belanda tampak tinggal bersama beliau. Hari ini pemuda tersebut pergi ke Pasar Baroe.

Gunadi menitah 4 orang awaknya untuk menguntit pria tersebut sementara dia dan 3 awak lain pergi ke rumah meneer.

Rencana mencari medali itu berjalan dengan baik dengan satu cacat. Sebelum van Gaal dapat memberi tahu mereka, van Gaal mati ditembak.

Oleh mereka.

--

Di Pasar Baroe
Keempat perompak yang lain itu adalah Daeng, Surendro, Gumelar dan Jamil. Daeng adalah seorang Bugis yang menjadi tangan kanan Gunadi. Surendro dan Gumelar adalah awak lama dari Nganjuk dan Banten. Surendro adalah bujangan sepi impian yang memiliki persepsi bahwa inti dari kehidupan manusia di dunia ini adalah fornikasi dengan lawan jenis. Gumelar, adalah seorang yang sedang belajar debus. Jamil adalah orang Riau yang baru mereka rekrut 1 bulan yang lalu bersama dengan Rustam dari Tumasik[5].

Pria Belanda itu memanggil dokar, sebuah kendaraan cukup mahal. Daeng dan awak segera memanggil riksaw. Abang riksaw menolak dengan alasan curiga karena penampilan mereka tidak cukup kredibel untuk membayar dan juga bahwa mereka berempat.
”Coba ya! EMPAT! Mau mati apa gue?” namun pada akhirnya dia mau.

Sesampainya di Pasar Baroe, sang abang riksaw pingsan dengan sukses. Daeng menjelaskan pada ketiga temannya bahwa di kampung asalnya, tidak baik membangunkan orang pingsan. Untuk itu mereka tidak berani membayar dan meninggalkan sang abang di pinggir jalan.

Pasar Baroe dengan hustle and bustlenya adalah salah satu dari banyak pasar yang menjadi pusat ekonomi Batavia. Konsumsi rumah tangga Batavia disokong oleh keberadaan Pasar Baroe, Pasar Ikan di Sunda Kelapa, Pasar Senen dan yang paling baru, pasar Tanah Abang[6].

Mereka menguntit sang belanda muda dan mengintip aktivitasnya secara tidak perlu karena pasar memang sibuk.
”Waduh! dia beli ayam!” ujar Surendro.
”Bukankah itu wajar?” tanya Daeng.
”Ndak jika sampeyan Londo...”
Jamil turut masuk dalam percakapan minim kecerdasan ini. ”Gitu ya Mas...emangnya orang Belanda...makannya apa Mas?”
Gumelar tidak berkata apa-apa namun dia mulai teriritasi dengan Jamil yang selalu bertanya orang apa makan apa.

Pria Belanda itu kemudian membeli daging kambing setengah ekor, rempah-rempah dan 5 ekor ayam hidup yang disambung teori konspirasi aliran sesat oleh para awak. Jamil juga bertanya orang dalam sekte aliran sesat makan apa.

Setelah menemukan bahwa ini semua membosankan, ketiganya memutuskan untuk berjalan-jalan di Pasar Baroe dan hanya Surendro yang menguntit. Daeng dan Gumelar berjalan-jalan mencari kain kashmir India namun gagal bernegosiasi dengan saudagar India dengan kondisi bulu yang mengerikan. Jamil bertanya orang India makan apa dan keduanya memutuskan untuk tidak menjawab.

Setelah itu mereka membeli bak pao, ketoprak dan dengan sabar mengantri untuk foto. Sebuah teknologi baru yang mampu mengambil gambar dari objek nyata, seharga 12 gulden. Gumelar bertanya kepada pemilik toko apakah dia bisa difoto dengan seorang wanita belanda dengan pakaian dalam namun sang pemilik toko mengatakan bahwa dia hanya memiliki pembantu dari Wonosobo.

--

Gunadi, Su’eb, Aceng dan Rustam menyewa riksaw dari Rijswijk sampai Pasar Baroe dan sesampainya di sana abang cina penarik riksaw itu pingsan di samping abang cina yang lain.
”Aneh ya, banyak orang pingsan hari ini?” tanya Aceng, retoris.
Gunadi menyematkan 1 gulden di kantong abang pingsan itu. Gunadi memiliki prinsip yang kontradiktif di mana bekerja merampok orang bukan berarti gak perlu bayar karena dia merampok untuk bisa bayar-bayar[7].

Kelompok Gunadi dan Daeng bertemu di tengah pasar.
”Gimana?” tanya Daeng.
”Meneer itu meninggal terbunuh.”
”Bagus lah. Sama siapa?”
”Kita.”
”Oh, tapi yang penting medalinya dapat kan?”
”Itu lah. Dia ditembak si kutil inih sebelum kita bisa buat dia ngaku.”
Semua melihat Rustam dengan tidak bersahabat.
”Di kampung saya ya...” tegas Daeng.
”Ya ya, di kampung sayah juga gituh.”
”A...a...”
”Sudahlah.”
”Rumahnya tapi udah dicari Gun?” tanya Daeng.
”Udah atuh. Sayah cari sampe jongkok. Gimana si kumpeni yang muda ituh? Ngapain ajah dia? Dan siapa dia?”
Jamil turut dalam percakapan ini ”Mungkin meneer tua itu menyenangi percintaan sesama jenis. Meneer muda ini hidup dibawah kuasa sang meneer tua untuk memuaskan nafsu liarnya dan tiap hari harus ke pasar membeli ramuan aneh yang membuat mereka bercinta sapanjang malam, Pak.”
”...”
”...”
”...”
”Atau mungkin mereka sodaraan.” tukas Gunadi.
”Ya itu juga mungkin.”
Menit-menit berikutnya mereka menyusun rencana dengan semua sedikit menjauh dari Jamil. Gunadi berkesimpulan bahwa mereka harus menculik pria muda ini karena dia mungkin satu-satunya yang tahu di mana medali ini disimpan. Masalahnya, apakah mereka mampu mengeksekusi sebuah rencana penculikan di tempat umum dalam kota berpopulasi 500 ribu orang, di siang hari bolong, 3 kilometer dari kapal dan dalam kota dengan 3 benteng penuh bedil kumpeni.

Menculik Sang Meneer
Sebuah rencana tersusun.
"Nah, jadi gini." Gunadi menuturkan analisis tingkat tinggi dengan intelejensia tingkat rendah. "Orang dengan belanjaan sebanyak itu hanya mungkin kembali pulang dengan minimal dokar, atau riksaw dengan abang yang sebesar badak. Mengingat tidak ada orang sebesar itu, dia pasti make dokar!"
"..."
"..."
"Terus?"
"Ya sekarang ke pojok dokar!"
Mereka berdelapan segera menuju pojok dokar di luar pasar. Gumelar langsung merebut dokar
”PAK! KAMI PERLU DOKAR INI!”
”Muke lu jidat!”
-PLAK!-
Mereka berdelapan meminta maaf dan memutuskan menunggu si belanda di pinggir jalan.
”Serasa gak punya harga diri ih!” gerutu Aceng yang menunggu di bawah pohon jambu.

Tak lama kemudian, meneer muda itu benar naik dokar.
”Nah ini rencananya.” sigap Gunadi, lagi. ”Kamuh Ndro, kamu cegah dokar itu di tengah jalan. Dokar akan brenti dan kita bertujuh akan naik dokar, menyerang si londo, menendang abang dokar keluar dan setelah membayarnya 2 gulden, kita larikan dokar itu secepatnya ke pelabuhan.” susunnya, dengan detil. Mereka mengangguk. Semua siap aksi.

Dokar lewat dan Surendro dengan sigap melompat ke tengah jalan
”BERHENTI!!”
Dengan suksesnya, Surendro ditendang kuda dan sang dokar tetap berlalu.

”Kamuh gak papa Sur?”
”Ohhh..”
”KEJARRR!”
Mereka berdelapan mengejar sang dokar dan mereka berhasil hinggap ke dalamnya. SUKSES! Pikir Gunadi, meski mereka harus hinggap dengan beberapa posisi yang tabu secara seksual di beberapa negara. Hanya Jamil yang tampak menikmati. Sekarang tinggal melarikan dokar ini ke pelabuhan.

Dan dokar berhenti.

Terlalu berat.

Ada satu detik yang canggung ketika mereka menatap abang dokar yang ternyata menyemat golok sebesar lonceng dan kumis sebesar golok.

Needless to say, mereka ciut.
”Permisi Bang, aye mo nyulik anak orang.”
”GRRR..”
”Aye bayar ya bang. 4 gulden. Ampe pelabuhan ya Bang” pinta Gunadi dengan sopan.

Setelah dokar berjalan, barulah sang meneer muda panik. Dia tadi berharap dari kebaikan hati abang dokar untuk menendang 8 orang ini keluar namun itu tidak terjadi.
”KOWE! SIAPA KOWE! LEPASKAN IK! LEPASKAN!” teriaknya ketika mereka berdelapan berusaha mengikat sang belanda. Penculikan pun menjadi aneh karena menjadi tontonan orang banyak dan berjalan lambat. Akhirnya 5 orang turun dari dokar untuk menyerang dokar lain. Rencana dirubah menjadi menyewanya setelah abang dokar yang baru ini juga berkumis golok.

”Kita ini perompak. Perompak! Harusnya orang yang takut sama kita!” gerutu Gumelar pada 4 orang lain di dokar kedua. Mereka melihat Gunadi dengan susah payah mengikat dan mengarungkan kepala pria muda itu.

Kedua dokar berjalan secepatnya menyusuri jalan yang sejajar dengan sungai Ciliwung dengan melewati beberapa pos jaga kumpeni.

”KOWE! STOP KOWE!” seru beberapa kumpeni. Mereka menembaki kedua dokar itu yang dibalas Gunadi dengan melempar daun sawi, daun bawang dan ayam hidup, sebelum dia teringat bahwa dari tadi dia memang membawa senjata.

Kedua dokar itu dengan cepat memasuki daerah Pasar Ikan, melewati menara Sjahbandar dan tidak masuk kapal. Mereka berhenti di sebuah gudang pala dekat menara dan berjongkok di antara karung.

Susana pasar ikan menjadi ramai dengan datangnya kumpeni. Mereka duduk terdiam di gudang itu. Sampai para kumpeni lewat.

Setelah situasi aman, mereka berjalan menuju pier dari phinisi mereka dan segera siapkan layar. Mereka sedang memundurkan kapal ketika Gunadi akhirnya membuka karung dari kepala sang belanda muda itu.
”Di mana Ik?”
”Di kapal.”
”Kapal apa?”
”Nama kamuh siapa?”
”Douwes-Dekker. Eduard Douwes-Dekker.”
___________________________________________________________________

[1] Berdasarkan riset yang sama sekali tidak dapat diandalkan, kalo gak salah, Rijswijk itu di daerah jalan medan merdeka utara sekarang.
[2] Orang pribumi sering menyamaratakan orang asing dengan sebutan kumpeni. Kata “Kumpeni” yang mereka kenal erat bermula dari 20 Maret 1602 ketika V.O.C pertama kali dibentuk. Orang Belanda di saat itu jarang memperkenalkan diri sebagai orang Belanda. Mereka memperkenalkan diri sebagai sebuah perusahaan bernama Verenidge Oost-Indische Compagnie (VOC). Compagnie -> Kumpeni.
Yang banyak anak muda sekarang tidak tahu adalah bahwa dari 1600 sampai 1800 kita tidak dijajah oleh sebuah pemerintah negara*. Kita dijajah oleh sebuah perusahaan. Dari 1800, VOC bangkrut oleh korupsi dan kerajaan Belanda memutuskan mengambil alih otoritas di Indonesia.
Karakteristik kolonialisasi oleh sebuah pemerintah adalah bahwa pemerintah kolonial cenderung memiliki keinginan untuk membuat koloninya maju (Inggris terhadap India, Singapur dan Malaysia). Sekolah, gereja, dan lainnya.
Kolonialisasi oleh sebuah perusahaan (VOC terhadap Indonesia) cenderung hanya sebatas mengambil keuntungan. Itu salah satu sebab mengapa Indnesia kalah maju dari bekas jajahan lain.
[3] Buitenzorg (Belanda) = Bogor (Indonesia). Didirikan oleh Governor Generaal Van Imhoff di 17 Februari 1745.
[4] Now that’s a lot of unnecessary description right there.
[5] Tumasik = Singapur. Berdasarkan, again, riset yang sangat asal (the kind of research you do on the net, flipping history pages with free porn) Singapore didirikan Sir Thomas Raffles di 19 Januari 1819.
[6] Kota Batavia sejak abad 16 berkembang dari Utara ke Selatan. Itu sebabnya semakin ke selatan, umur bangunan dan tempat semakin muda dan bangunan-bangunan tua paling selatan di Jakarta hanya terlihat di Menteng. Itu karena Batas Kota Batavia waktu itu memang hanya sampai Menteng yang merupakan daerah perumahan mewah, bahkan sampai sekarang.
[7] Loh?

Labels:





New Book - Quarter Life Fear
Wednesday, July 06, 2005

Sketches:

Bagi Belinda, ulang tahun itu mengerikan. Apalagi ulang tahunnya yang ke-25. Di saat orang lain merasa sukses dengan pekerjaan yang menjanjikan, memiliki pasangan, punya tujuan hidup yang jelas, Belinda malah merasa tidak punya apa-apa. Singkatnya, a loser. Tapi saat Jay, mantan kekasihnya, kembali dalam kehidupan Belinda, Belinda belajar bahwa ia harus berani menghadapi dunia-termasuk semua ketakutannya.

---

Hwiyaaaa....Donna menulis buku!!!! Nama pengarang dari novel ini adalah Pimadonna Angela, istri dari Isman Suryaman, pengarang buku self-help (is it what they call it man?) 'Bertanya Atau Mati!'. Dua-duanya temen baik kita (gue dan Ninit). And this woman is to be taken very, very seriously. Tulisannya tajam. Artikelnya udah lumayan banyak. Blognya udah lama. This is not the kind of book that came out of nowhere.

Anyhoo, you guys must read the book (and by that, I mean buying it first, ya?). Buku Dona masuk label 'Metro Pop'-nya GPU yang kalo gue liat, berniat dan berhasil menjadi saingan solid dari label 'Pop Culture'-nya Gagas Media. But let our publishers worry about that karena for my part, I'm thrilled we have more and more excellent writers. Regenerasi sastrawan dalam dunia sastra udah jalan lagi. Which is good.

So here's to Dona... CONGRATS! Ngiring Bingah pisan!

Visit her own blog at: http://vervain.blogspot.com
Bagi yang ingin jpg dan kutipan bab satunya, email gue!

---

Blurbs:

"Tanyakanlah pada seorang juru dongeng tentang kecantikan. Maka akan berceritalah ia tentang rambut terurai panjang, badan tinggi semampai, kulit langsat dan tentu saja wajah yang cantik. Lalu coba tanyakan padanya tentang "ketidak-cantikan". Si juru dongeng akan terdiam, sebab sesuatu yang tidak cantik rupanya tak memberinya inspirasi bagi lahirnya sebuah dongeng. Namun juru dongeng ini pastilah bukan Primadonna Angela. Sebab penulis satu ini justru berangkat dari isyu ketidak-cantikan, yang terbukti bisa melahirkan novel "Quarter Life Fear". Bukan dongeng yang ber-setting istana megah, memang, melainkan "istana kecil" yang ada di keseharian seorang Belinda. Keseharian kita juga, tentunya."
Jujur Prananto, scriptwriter, Jakarta, Indonesia

"Buy her book, she's really cute."
Michael Petrosino, musician/self-proclaimed sex idol, Brooklyn, NY, USA

"Addictively enchanting. I want her mom!"
Alexander Christian, Not-your-average-chicklit reader, Bogor-Jakarta, Indonesia

".quite interesting! Terutama karakter mama yang sangat dramatis dan kemungkinan besar adalah personifikasi diri mbak Donna di masa yang akan datang (hahaha)."
Lucky Palupi, Researcher, Jakarta, Indonesia

"Ringan dan gampang dicerna, seperti baca komik bergambar. Penyampaian cerita sangat lucu lengkap dengan pernak pernik pendukung, apalagi soal makanan, buat jadi lapar. Btw, nampannya pasti besar banget."
Nengti Arda Rasjid-Borkhataria, Homemaker and Mom-to-be, Den Haag, Holland

"Beautiful. Didukung dengan plot twist yang memukau, QLF menjadi bacaan yang ringan tetapi penuh dengan permainan 'perasaan'. QLF ini sangat menghibur dan mampu menjejali pembacanya dengan ide-ide brilian yang dapat diterapkan -instant- dalam kehidupan sehari-hari."
Andi 'Julian' Saptono, , Internet Usability Expert (Pakar Kebergunaan Internet), Pittsburgh, USA

"Baca karya Donna seperti pijat refleksi. Biar alis berkerut dan bibir monyong saat bagian yang memijat emosi, gak mau berhenti. Setelah buku ditutup dan ditaruh pun, perasaan ringannya terus terbawa. Jarang-jarang saya baca novel pop yang memiliki struktur tiga babak dan timing komedi yang pas. Kalau dijadikan film, siapapun yang jadi penulis skrip bisa leha-leha."
isman hidayat suryaman, penulis buku humor "Bertanya atau Mati!"

"Here we are following the journey of Belinda, entertained by addictive, funny and witty writing that captures the reality of many women during their soul searching days...Lucky Belinda, she found the Power within herself...There is something to say about a book that makes you read during work hours...;)"
Alissa Jean Tuschall, Human Resources, Palo Alto, California, USA

"Refreshingly witty and so easy to read ."
Jessy Dewi Sweeney, Homemaker, Port Coquitlam, British Columbia, Canada

"Sungguh menarik untuk dibaca oleh seorang wanita yang berusia jauh di atas usia Belinda. Cerita ini membawa kita pada kenangan jaman muda, dimana pikiran Belinda yang nakal dan spontan seakan menterjemahkan pikiran kita. Hal yang patut dicatat adalah dibalik ketidaksetujuannya kepada perlakuan ibunya, hubungan antara Belinda dan ibunya sangat menggambarkan kasih sayang yang mendalam di antara keduanya. Membangkitkan keingin tahuan kita untuk cepat-cepat mengetahui akhir ceritanya, sehingga tidak ingin berhenti sebelum cerita berakhir. Sukses untuk penulis berbakat ini."
Etty Sambodo, Ibu dari 3 remaja & guru Bahasa Inggris dan Komputer, Depok-Jakarta, Indonesia

"Saya ikut menangis, tertawa, gundah dan kuat bersama Belinda. Penulis benar-benar membawa saya ke dalam kamar Belinda, ke dunianya dan bertemu semua tokoh dalam buku ini. Ending-nya mengejutkan.Sebagai seorang ibu, saya ingin bisa seperti mamanya Belinda. Si kembar adik perempuan saya yang baru mulai kuliah harus membaca buku ini."
Yureana Wijayanti, Dosen, Yogyakarta, Indonesia


Rgds

Ada yang nyusul?

Labels:





Book Promo
Tuesday, May 03, 2005

SAMSARA - Putu Fajar Arcana







Bagi mereka yang suka yang berat-berat. Putu menghadirkan kumpulan cerpen yang isinya ternyata.....sebuah kumpulan cerpen!! heheheh, gak ngasih nilai tambah banget ya gue? Ah bodo.

Rgds.

Labels:





Congrats
Saturday, April 30, 2005

Ucapan Selamat



Wah, bulan April ini memang penuh berkah bagi banyak orang ya. Orang-orang yang gue tau di dunia media di Indonesia lagi pada seneng semua. Happy for you guys.

1. Untuk Ninit
Selamat ya untuk KPG cetakan 7-nya. Never have I met someone who makes me proud on daily basis.

2. Untuk Miranda
Sihir Cinta akan dijadikan film. Keren banget. Estimated time of releasenya masih lama sih, tapi ikutan seneng aja gue.

3. Untuk Enda + Nita
Selamat atas kelahiran Gala Andara Nasution-nya. Alhamdulillah ibu dan anak keduanya sehat dan selamat. Ikut seneng ya Nda.

4. Untuk Joko Anwar
Well, he never read this blog but I'm a fan of his work anyway. Have been hearing nothing but rave reviews on Janji Joni. Congrats Jok!

5. Untuk Raditya
Selamat atas buku 'Kambing Jantan'- nya.

6. Untuk Nisha Rachmanti

Selamat atas release buku chicklit keduanya 'Beauty Case'. Semoga kembali menjadi best-seller.
7. Untuk Stereofoam
Yang baru aja rilis EP ke empatnya yg berjudul "Good Friend EP". Baru minggu lalu mereka terpilih jadi The Rocketeer For The Week di Hardrock FM.
EPnya bisa ditemukan di distro2 ternama Jakarta dan Bandung, dan soon.. Surabaya juga.
---
Orang-orang Indonesia udah mulai kreatif semua. Berprestasi pula. Alhamdulillah kita udah mulai jadi tuan di rumah sendiri.


Rgds.


Labels:





Book Promo
Saturday, April 16, 2005

Si Kambing Menulis Buku






Dari Buku ke Blog


Semua pasti tau ya Raditya Dika (www.kambingjantan.com). Safe to say adalah salah satu celeblog indo. Well, sekarang giliran dia nerbitin buku. Bukan fiksi, tapi non-fiksi. Buku ini adalah asli plek-plekan dari blognya yang mana bagi gue merupakan prestasi sendiri.


Soalnya gue liat gini. Kebanyakan blog itu bersifat personal. Meski bisa dan layak dikonsumsi publik, tetap sifatnya personal. Itu yang membuat blog sulit berubah menjadi buku. Karena nilai 'personal' yang tinggi, menghambat nilai 'komersialitas'-nya. Setidaknya ini pandangan gue yang nulis blog dulu dan baru nulis buku. Kenapa nilai personal dan nilai komersialitas berlawanan? Gue berpegang ini, dengan berangkat dari pengalaman pribadi.


Salah satu penerbit yang pernah nolak Jomblo bilang ke gue gini:
'Apa yang ngebuat kamu ngerasa bahwa kisah hidup kamu layak baca dan layak beli dan lebih seru dari orang lain? Orang lain aja bisa kok ngomong 'ah kisah hidup gue lebih lucu kok dari apa yang ditulis.'

Nyebelin as it may sound, gue setuju banget dan terima kasih banget ke dia. Atas dasar itu gue nulis fiksi. 2 tahun kemudian ada seseorang yang minta kritik ke gue atas draftnya, dia bilang atas pengalaman pribadi. Setelah gue baca gue kembali ke dia dengan 1 kalimat.
'Don't be honest. Be creative.'
Tapi memang gak semua blog terlalu personal. Ada yang memang sengaja dari awal tidak cerita didi tapi cerita apaaaaa. Isman contohnya, gak pernah cerita diri dia di blognya tapi selalu come up with funny things which is great. On the other extremme, ada juga yang cerita makan apa tadi siang, which is okay too, karena isi blog memang urusan masing-masing yang kita harus hargai dan respek dan gak usah deh kita komentarin baik-buruknya. Keep it to ourselves.

Atas dasar itulah gue bilang bahwa ini adalah prestasi tersendiri. Radit terlihat mau dan bisa menjual isi blognya mentah-mentah. Yang mana nunjukkin memang kehidupannya udah lucu dari awal. Tambahan lagi anak ini memang pinter.

So, congrats buat Radit. Setelah, gue, Isman, Ninit dan Vierna...makin banyak aja blogger yang masuk serius ke dunia tulis menulis secara komersil. Congrat dan semoga (banyak dari blogger) yang lain nyusul.
Oh ya, bagi yang gak tau seberapa santernya Radit dalam dunia blog indonesia, dia itu pemenang 'Funniest Indonesian Blog 2003', salip2an sama 'Doddy Nasi Goreng Kambing' (ada apa sih dengan blog lucu dan kambing, nih?)
Februari Roy Suryo pernah bilang bahwa Blog itu hanya trend, which created a massive response dari bapak blog indonesia kita bahwa Roy salah. Blog is here to stay. Gue sependapat. Blog adalah alat bagi mereka yang ingin menulis buku, untuk menajamkan teknik menulisnya. Kebukti udah mulai banyak yang akhirnya menggigihkan diri menulis buku (I know some more people, but it's a secret). Tapi again, semua orang kan bikin blog dengan maksud yang beda-beda, so terserah kalian.

Komentar Artis

“Raditya Dika has taken you to his little journey of stupidity… Ridiculous, but unexpectexdly smart in a very hilarious way… He defines a new term of being funny… Kambingjantan is simply a unique refreshing read.”
(Ririn, pemain sinetron AADC)

“Buku ini, biarpun judulnya seperti buku tentang ternak, namun isinya justru memberikan saya lebih banyak pandangan tentang dunia anak muda Indonesia saat ini. Langsung, dari mata Raditya Dika yang diceritakan dengan sangat kocak!”
(Sophie Navita, artis)

“Seger! Membaca buku Kambingjantan ini seperti minum larutan penyegar, mandi di pancuran, terus nyebur di kolam ikan sambil minum jus jeruk.. Pokoknya seger!”
(Ricky Jo, penyanyi)

“Kambingjantan! Sebuah cerita tentang kepolosan Raditya Dika, yang justru mendatangkan ‘malapetaka’ bagi dirinya sendiri, yang malah menghibur diri kita dengan membaca bagaimana si Radith menghadapi ‘malapetaka’ itu dengan cara yang mengocok perut.”
(Iang Project P, artis)

“Beberapa kisah di buku ini, memperlihatkan kehidupan pelajar Indonesia yang kuliah di Australia. Lumayan, membuat kita-kita yang berencana kuliah ke sana jadi semakin tertarik… ditambah ketawa pula!”
(Denny Cagur, komedian)

“Buku non-fiksi paling gokil yang pernah gue baca.”
(Wendi Cagur, komedian)

“Gantinya minuman dingin. Benar-benar menyegarkan!”
(Denny Project P, komedian)

“Gila! Gimana Raditya Dika ngasi liat pandangannya tentang dunia anak muda yang dijalaninya bener-bener ngebuat gue ketawa. Jangan tertipu dengan judulnya, ini bukan buku tentang kambing lho! “
(Narji Cagur, komedian)

“Kenaifan Raditya Dika dalam menghadapi berbagai macam ‘kesialan’ justru mendatangkan tawa sendiri bagi yang membaca. Mungkin, bisa dibilang dia beruntung dalam menghadapi ‘kesialan’.”
(Olivia Zalianty, bintang sinetron)

“Sebuah catatan harian yang begitu jujur. Boyish, nakal, dan menarik. Saya selalu tidak sabar membuka halaman selanjutnya; apa lagi yang akan si kambing ini lakukan?”
(Andien, penyanyi)

"Kocak, menghibur, bikin sirik (jd pengen kuliah di luar negeri) Wah, salut deh pokoknya buat Dika. Bisa menjadikan sesuatu (catatan harian loe yg dodol itu) lebih bermanfaat dan yg penting, bisa menghasilkan uang! Hehe..yang paling penting siy sebetulnya tulis-menulisnya itu. Jarang-jarang gue menemukan cowok yang rajin melapor kegiatannya sehari-hari pada sebuah tulisan. Teruslah berkarya! Buatlah orang-orang yang pergi ke toko buku, suatu saat nanti meneriakan : "Tiada kesan tanpa kehadiran (buku)mu..."
(Intan Nuraini, bintang sinetron)


Tentang Kambingjantan

Kambingjantan adalah kumpulan cerita-cerita sehari-hari yang konyol dan unik dari kehidupan Raditya Dika (Radith), mahasiswa hasil peranakan orang batak dengan mesin jahit. Format yang ditampilkan adalah dengan format diary, karena buku ini adalah kumpulan dari diary dia yang diterbitkan di internet (blog). Semua kisah didalamnya merupakan kisah nyata dari tahun 2002 – 2004.

Kambingjantan adalah cerita tentang sebuah proses seorang remaja, dari dia kelas 3 SMU, pergi ke luar negeri, kuliah, hingga magang. Semua proses dan hubungannya dengan keluarga, teman, dan pacar diceritakan dengan lugas dan lucu. Hal-hal yang sangat berhubungan dengan remaja jaman sekarang, seperti sering bingung, tidak percaya diri, serta polos yang berbuntut pada kisah yang lucu juga didapatkan pada buku ini.

Cerita-cerita didalamnya menjadi lebih baik untuk dibaca karena semuanya adalah kisah nyata dari seorang remaja Indonesia biasa.

Labels:





Book Promo
Friday, March 04, 2005

An Impressive Piece of Work



"Siap-siap untuk tersihir dengan pesona cerita cinta Miranda ini. Menurut penglihatan
bola kristal saya, cerita ini punya daya tarik yang tinggi.
Lancar, imajinatif dan renyah. Saya ramalkan Miranda memiliki masa depan
penulisan yang cerah dan orang-orang akan 'jatuh cinta' padanya."
FIRA BASUKI

"Mia tidak menjual mimpi. Alur dia tulis dengan ringan membawa pembaca dari halaman ke halaman dengan kilatan ramalan sang tokoh utama. Mia juga berhasil meng-capture dengan akurat gaya hidup mahasiswa kota Jogjakarta dari sisi yang tidak glamor."
ADHITYA MULYA


please visit Miranda's blog for more





How Good Is It?
An excellent job, well done. I can safely say bahwa Miranda adalah salah satu penulis fiksi terbaik today and I can also say this book will be Indonesian blockbuster 2005 (tapi masih tergantung marketingnya sih). Isi cerita memang terbatas dalam segi cinta namun teknik penyampaian dan bakat menulis Miranda membuat karya bertopik cinta ini, menjadi maksimal. Gue suka cara dia memilah plot dan mereveal dengan timing yang tepat.

Ini adalah karya tulis kedua Miranda, namun karya pertama sebagai novel. Buku pertamanya adlah adapatasi dari sebuah sinetron kalo gak salah.

Gue sangat rekomen pada mereka yang sedang mencoba menulis, untuk membuat buku ini menjadi panutan. Gue cuman berharap agar revisi2 minor yang gue rekomen ke dia dieksekusi sebelum naik cetak kemarin. Tapi kalo nggak pun gak papa.

How good is she?
Reputasinya gak diragukan lagi.
1. Dia adalah editor dari buku 'kok Putusin Gue?'-nya Ninit. Miranda dan Ninit tidak pernah bertemu namun semua eksekusi editorial terjalankan dengan rapi.

2. Dia mendapat dukungan dan rekomendasi dari Ayu Utami ke Gagas media. Menurut editor gue, Ayu Utami itu jarang banget rekomendasiin orang, so when she did, she really meant it.

3. Setelah itu Miranda datang ke gue dan Mbak Fira untuk minta paperback comment dan apa yang Ayu Utami pernah bilang, bener-bener gak salah. We were both separately impressed. Gue dan Mbak Fira gak pernah ngomongan ttg Miranda tapi ternyata reaksi Mbak Fira tercermin banget dari komentarnya. kalian bisa lihat seorang penulis sekaliber Fira bisa sampe ngomong kek gitu dan gue sendiri sampe nulis blog promo ini.

4. As for myself, gue gak akan komen ttg ceritanya krn mutu cerita subjektif ya di mata orang2. Namun gue bisa bilang, cara dia nulis, enak dibaca.

Yang terakhir....covernya nendang. A gypsy casting a love spell. That's brilliant and very relevant to the book. Siapa sih yang bikin?

Prediksi gue:
1. tanpa marketing yang baik, buku ini masih akan menjual di Area jawa karena setting tempat ada di Jogjakarta.
2. Dengan marketing yang baik, buku ini bisa juga menjual di Jakarta. Gue harap Miranda punya strategi yang baik.

Congrats Miranda, atas karya kedua ini.

Rgds.

Labels:





trailer kok putusin gue
Saturday, February 12, 2005

Another Trailer.... from 'KOK PUTUSIN GUE?'






”Uh hari gini baru nonton Troy,” keluh Maya dalam hati. Demi menjalankan misi balas dendam, ia rela menonton Troy untuk yang kelima kali-nya. Setelah Hari dan Si Nenek Sihir hilang dari pandangan, Maya bergegas menuju loket 2.

”Siang Mbak, saya minta satu tiket dan duduk nggak jauh dari orang yang baru pergi tadi,” ujarnya sambil mengeluarkan dompet.

”Ada alasan yang spesifik kenapa Mbak ingin duduk dekat orang yang banyak bulunya?” tanya si Mbak Loket heran.

”Oh... bukan yang itu... "

available at bookstores now...

UPDATE - 14 FEB 2005 - PROMO CERPEN

Kemaren diajak majalah KawanKu untuk bikin sebuah cerpen. Ceritanya cerpen ini akan dimuat dalam sebuah booklet dalam majalah KawanKu edisi Valentine. Booklet itu isinya 3 cerpen. Monti Tiwa, Nisha Rahmanti dan gue.

Udah pada beli belum? Kalo belum, ini trailernya. Beli ya guys!! Ini salah satu karya gue yang bahkan gue sendiri bisa bilang, lucu.

start trailer - Judul - DIMSUM

Dimsum

Hai. Nama gue Ule dan gue adalah pacar paling sial di dunia. Pacar gue yang bernama Guti…uhmm, let me re-phrase that. Pacar gue, yang bernama Guti, tergila-gila dengan seorang bintang film Indonesia bernama Dimas Sumitro. Seorang bintang muda Indonesia yang gemilang. Akting dalam semua film layar lebarnya memang sih gue akui, jago. I tell you, gak ada yang lebih bikin minder dari pada seorang pacar yang tergila-gila sama orang yang lebih terkenal, 160 kali lebih kaya dan kurang lebih, 2 juta kali lebih ganteng di umur yang sama dengan gue.

....

Anyway, where was I? oh yes, on the way to to my TU. Sampai di sana gue meminta agar gue dapat berbicara langsung dengan pegawai TU, maksud gue agar lebih sopan. Pegawai TU di seberang bernama Mbak Pipit, seorang wanita yang telah lewat masa mbak-mbaknya namun masih berstatus ‘mbak’.
“Siang Mbak Pipit. Nama saya Ule. Rulli Prasetya. Boleh saya tahu nomor telfon Dimas Sumitro?”
“Ada alasan khusus kenapa mas ingin tau nomor telfon mas-mas lain?”
“Oh sori. Jadi gini Mbak. Saya ingin mengatur sebuah kencan di hari valentine dengan Dimas Sumitro.”
“Uhmmm setahu saya dia bukan gay loh mas, maaf loh…”
“Oh bukan Mbak. Bukan dengan saya. Dengan pacar saya.”
“SAKIT!”

-Klik-

“Loh? Loh? LOHH!!” Akhirnya gue coba telfon lagi dan berusaha menjelaskan kepada Mbak Pipit sebaik mungkin. Mbak Pipit akhirnya kembali tenang.
“Tapi saya gak tau mas nomor HP-nya, Kalo pun tau, ngapain saya ngasih tau Mas?”
“Hhh…..Tapi dia ada di sana? Kuliah gak?”
“Kuliah Mas. Saya yakin. Soalnya tadi dia baru saja masuk ke dalam kantor ini dengan rambut coklatnya. Dia menatap saya dengan tatapan dingin gagah yang memperlihatkan bahu bidang dibalut kemeja John Curtis biru. Tato di lengan kokohnya terlihat ketika dia menyerahkan buku absen dosen sambil berkata penuh chemistry pada saya ‘Ini mbak….’ Hhh hhh hhh..”
“SAKIT!”

-Klik-

Labels:





Book Promo
Saturday, January 08, 2005

NYU BUK




No, that's not the underpaid korean immigrant who works in the company. NEW BOOK!!! from another blogger, Vierna.

Bisa dibilang bahwa Vierna udah lama jadi celeblog. I think she's been blogging way before me. She used to make sketches in writing here and finally turned it into a book. Gak tau apakah dia memang menargetkan ini dari awal untuk jadi buku atau akhirnya berniat di tengah jalan untuk menjadikannya buku. Either way her hard work paid off.

Buku ini diterbitkan oleh Terrant Books. Terrant gue liat memang sedikit sama dengah Gagas Media di mana mereka mencari penulis muda untuk target reader muda juga. Di dalam Terrant Books kalian juga akan liat hasil karya Monty Tiwa. Penulis sukses banget yang sempet ikutan nulis skenario dari "Biarkan Bintang Menari". Tau 'Eiffel I'm In Love'? Ini juga Terrants.

Congrats untuk Vierna atas bukunya. Buku ini sudah beredar di Jakarta dan Bandung sejak minggu lalu. Ini ada teasernya di bawah.

-- Start Teaser:

"Dia terlihat hanya seperti cewek-cewek pada umumnya, tapi ketika seseorang menatap wajah manisnya, orang itu akan berlama-lama melihatnya dan ingin melihatnya lagi dengan seberkas rasa "senang" di hatinya... dia hanya seorang 'Saskie'."

A story of young ordinary teenage girl...

"Saskie... Saskie, loe tau kan gue tuh selalu ada buat elo, gue gak suka aja kalo loe terlalu banyak mikir gini-gitu sama gue... jangan pikirin gimana gue cabut dari kampus, dll. Elo sendiri keadaannya lebih penting dari kuliah gue."

...and an obsessive bestfriend...

Sedangkan cowok itu adalah Farrel, cowok paling terkenal di sekolah ini dan ia cuma bergaul dengan kelompoknya saja, kadang-kadang bergabung dengan kelompoknya "Rhena" yang populer.

...and she finally falls for a boy...

Seorang pria maju kedepan menghampiri Saskie. “Hai, cantik…kenalin nama gue Sandy, anak ‘Ganger Zone’ Gue mau ngasih tau ke elo bahwa cowo loe ini anak gank ‘Rodster’, posisi dia ada dikubu atas dan kemarin dia salah satu dalangnya yang bikin temen kita koma masuk rumah sakit…”

...that never far from trouble...

"dan loe jawab…bahagia adalah waktu loe merasakan jiwa loe aman, waktu loe merasa puas dengan keberadaan diri loe, waktu loe merasa mudah untuk tersenyum bahkan untuk tertawa…“…sejak bertemu dengan loe, hidup gue gak sama lagi, gak gelap kaya dulu…gue sekarang tau yang namanya bahagia. It’s being with you, Sas…"

...are they really meant together...

for more information go to: http://www.terrantbooks.com/


Labels:





Behind The Scenes - Gege Mengejar Cinta
Sunday, December 26, 2004

Behind The Scenes - Gege Mengejar Cinta

Pentingnya Cover
Salah satu proses paling mengasyikkan dalam pembuatan buku adalah pembuatan covernya. Cover bagi gue cukup penting karena:
  1. Dia adl representasi dari isi buku. Memang bukan aturan mutlak. Bisa jadi orangnya mau artisitik abis tanpa merelate 100% ke bku, ada yang ingin sebenayk mungkin merelate. Dalam kasus GMC ini, gue putusin untuk bikin cover yang rusuh, mewakili adegan akhir dalam buku. Dalam hal ini secara gak langsung gue udah memberti tahu pembaca bahwa "Just in case you feel bored, wait just a minute because the scene on the cover is coming up." That's psychology. And that's important.
  2. Sebagai Eye catcher. Pepatah "Never judge a book by it's cover" berlaku dalam segala hal di perikehidupan manusia kecuali buku secara harfiah. People do judge books by their covers.
Dalam hal ini gue dan ilustrator (Yan Baptista) berkomunikasi dengan email karena kita memang berjauhan. Unutk itu harus ada bantuan visual yang kuat untuk menjaga apa yang gue mau, ter-convey dengan baik ke Mas Yan. Akhirnya gue putusin untuk skecth dulu sendiri.

Awal

Ini adalah sketch pertama gue. Lengkap dengan ini gue kasih notes di email. Emailnya gue lampirin nih:

mas yan. Ini contoh sampul adit coba bikin sendiri. temanya mesti kocak ya.

jadi semua orang bayangannya sepinggang dan semua lari2 dengan gaya yang berbeda, masing2 orang menggambarkan tokoh dalam buku.
A. Siluetnya harus setengah menghilang, cman rambut saja yang berkibar. Ini Wanita.
B. Siluet cowok gendut
C. Siluet cowok kurus lagi megang HP
D. Hp yang dipegang harus terlihat bersuara
E. Yang E cewek, rambutnya sebahu.
F. Cowok make topeng ondel2 yang gedenya gak sebanding dengan besar badan.
G. Turis jepang megang kamera, polisi bawa pistol dan orang pake peci (semua siluet) numpuk jadi satu
H. kalo bisa ada siluet pesawat terbang atau gedung airport

lain2:
usahakan orang A sampe D itu terletak di halaman depan. Oh ya mas, harap ingat bahwa itu cover yang mas liat itu sebelah kanan cover depan dan sebelah kieri cover belakang ya. yang orang pake ondel2 dan sisanya boleh di belakang. Gradasi warna kuningnya persis seperti gradasi warna dalam jomblo. persis

dimensinya = gue lupa tapi sama persis dengan dimensi buku jomblo. mas yan punya kan bukunya? maaf lo mas adit bener2 lupa dimensinya. kalo gak salah sih 12 cm x 18 cm. kasih ke adit secepatnya mas bisa bikin ya mas. Thanks in advance


That was it.

Tengah
Ini dari dia. Gue revisi lagi dengan 2 email sebagai berikut:

revisi 1
1. posisi si gendut sudah tepat yang mas Yan harus lakukan hanya menggeser cewek kanan lebih tenggelam ke kanan, timpa sigendut dengan si kurus dan geser wanita kedua lebih ke kanan sedikit agar dia masuk cover depan.
2. si gendut jangan tertawa. Rambutnya juga cepak jadi jambulkan saja sedikit sisanya bulat.
3. si kurus dibuku saya menderita kebotakan jadi jangan di rambutin. bulat saja. udah itu saja tambahannya. Makasih ya mas.

Revisi tambahan (rewel ya gue?)
1. Judulnya 'Gege Mengejar Cinta'
2. Warna font judul adalah hitam.
3. Di judul itu kalo mas perhatikan, ada banyak titik2 kecil ya mas. Itu titik2 kecilnya bisa dikurangin gak?

udah gitu aja, selain itu udah bagus kok. bagus banget malah. Adit lebih suka ini dari jomblo. abis itu, semua udah selesai, tinggal mas Yan stand by aja untuk masukkin komentar2 di sebelah kirinya. makasih ya Mas.

Revisi tambahan lagi (et dah buset!)
Mas Yan. Adit baru nyadar satu hal. Wanita yang paling kanan itu terlalu lebar ya melangkahnya. Liat tanda panah deh. Nah, tangannya sebaiknya merapat dan kakinya juga sebaiknya merapat. dengan begitu, terlihat lebih enak dan ada jarak anatar si gendut dan si wanita. Maaf lo mas adit sendiri baru liat.

Akhir
Setelah komentar masuk kita masukin Judul dan lain-lain. Jadilah apa yang anda liat di etalase. gue memutuskan untuk menset tone color di yellow agar mirip jomblo. Ini juga mengandung efek psikologis.
Yellow secara psikologis mendenote funny, comedy, laugh, dll. Sesuai dengan tema buku. Terlebih dari itu, warna ini emang pengen gue jadiin tone buku-buku gue.
So there you have it. The process of getting it done.
Gege mengejar Cinta's are available at bookstores near you. Rgds.



Labels:





Another Promo
Tuesday, December 21, 2004

AADA - Ada Apa Dengan An?


Garing ya Gue? We interrupt this promo with...Another promo...




Yup Temen baek kita, si An, telah membuat film pendek dan masuk dalam nominasi Film Terbaik Festival Film Independen Indonesia (FFII) 2003. Nyembah pohon keknya ni orang kalo malem.

Anyhoo, bagi mereka yang berdomisili di kota Bandung, coba saksikan penayangannya di:

FESTIVAL FILM PENDEK BANDUNG 2004
23 Desember 2004
19.30 - 22.00

Yes people...to. day.

Ini sinopsisnya:

Di sebuah negeri bawah tanah, hiduplah 2 makhluk yang berjuang bersama untuk menggapai cercah cahaya. Ketika cercah cahaya berhasil mereka temukan, mulai terjadi pertentangan diantara mereka untuk dapat menikmati cahaya. Siapakah yang mampu bertahan? Akankah cahaya tetap menjadi milik mereka?

Cercah, sebuah film animasi 3D karya Yudhatama dan Anzarra.

Menawarkan sisi baru dari film animasi 3D (dan gayung hijau gratis bagi 10 pembeli tiket pertama! - Ingat, warna hijau!!). Dari gaya penceritaan yang memadukan antara teater, action dan slapstick ala srimulat hingga tema politis, metafisik, dan mengangkat unsur - unsur budaya Indonesia yang belum pernah ditemukan dalam film animasi 3D karya anak bangsa.

To An: Best of luck man. Rgds.

Labels:





Another!!! Trailer..... from Gege Mengejar Cinta

Another....Trailer of Gege Mengejar Cinta (in bookstores, now)




Pak Soni dan Pecat-memecat
Tiga jam kemudian, Gege selesai dengan skrip pertama dan menemui Pak Soni.
--tok tok tok--
”Masuk!”
Gege masuk dan,
”KAMU SAYA PECAT!”
”Hah?”
”Sori Ge. Saya sedang latihan mecat orang.”
”Ah, menarik....” ”You Psycho!”
”Menurut kamu, saya ngomong gitu dengan penuh kredibilitas gak Ge?”
”Iyah Pak.”
”Element of surprise gimana? Ada?” Pak Soni menjuggle kedua tangan, tidak menggesturkan apa-apa yang penting sama sekali.
”Jelas Pak.”
”Oke, ya..hm..ada apa?”
----
Masih dengan..Pak Soni dan Pecat-memecat
Dalam sebuah pengejaran....
”Halo? Gege? Ventha? Tia? Di sini Pak Soni.” dari telfon ke radio.
”Siang Paaaak.” sahut mereka.
”KAMU SEMUA SAYA PECAT!”
”Loh?”
”Kamu Tia, kamu saya pecat!
Kamu Ventha, kamu saya pecat!
Kamu Ge, kamu saya pecat, saya terima lagi kerja dan saya PECAT LAGI!”

Labels:





Trailer Gege Mengejar Cinta
Thursday, December 16, 2004

Trailer Gege Mengejar Cinta (in bookstores, this weekend)




On Characters


Gege
Tahun 1990. Tahun ajaran baru 1 bulan berjalan di SMP 19 Jakarta ketika para guru memutuskan untuk mengajak siswa kelas dua berkaryawista. Para siswa kelas dua itu berkeliaran dengan tidak jelas di pinggir Jalan Bumi. Mereka sedang berebut untuk naik sejumlah bus karyawisata. Sebagaimana layaknya karyawisata SMP, bus dibagi per kelas. Sayangnya, kelas di SMP itu terbagi dari pintar ke bodoh. Adalah Geladi Garnida, seorang anak sehat yang menyadari pembagian ini, hari itu. Hari itu juga mereka akan pergi ke Kebun Raya Bogor. Beberapa dari mereka yang tidak berniat naik kelas langsung memilih bus kota, bolos.

”Kelas 2-1 itu anaknya pinter semuah...” dia berusaha menjelaskan pada teman-teman sekelas, kelas 2-8 di dalam bus. ”Nah kelas kitah, isinya semua calon tukang nusuk orang.”
Hal ini segera disanggah secara skeptis oleh teman-teman.
”Ah gak percaya gue!”
”Bagi kelasnya acak lagi. Kebetulan aja temen-temen kita yang preman, ngumpul di sini.”
Gege berusaha terus menjelaskan.
”Liat ajah, semua yang ranking satu pas kelas satu masuk 2-1 kecuali guah. Ini sepertinya ada kesalahan.”
”Rese lo. Bilang aja pengen diaku pinter. Eh uhm, besok masih boleh nyontek ama elo kan?”

______________

Gege dengan penuh percaya diri berjalan pelan menghampiri sebuah cubicle.
”Selamat sore Caca...” ujarnya dengan nada pasti.
”Selamat sore Pak. Bisa saya bantu?”
Gege melempar pulpen ke mukanya.

--plak--
”ADUH!”
Gege berkata pada Ventha. ”Gimana guah bisa konsentrasi kalo yang jawab pake suara jin tomang?” Gege menunjuk lawan bicara yang tidak lain adalah Eman.
”Si Tia pake acara ijin setengah hari pula.” Gerutu Gege. Dia membayangkan lebih baik berlatih dengan seorang wanita.
”Ya udah, ulang. Ge, lo jalan lagi dari sana, ceritanya elo nasabah bank lah. Man, elo coba pake suara perempuan.”

Gege kembali berjalan.
”Sore Ca.”
”Sore Mas....” jawab Eman dengan kerling mata.
”Okeh.
Satu, mata Caca gak mungkin kerlip gituh kayak orang cacingan.” Gege kembali dengan sikap analitisnya.
”Dua, sekarang suaranyah mirip kuntilanak”
”Adaptif kek dikit?” omel Ventha.”Jadi gimanah dong guah? Terlebih lagi, guah entar ngomong apah?”

______________

Tia
Di saat yang sama, pegal dan linu masih membuat Tia berjalan seperti orang kurang buah di pagi hari, diiringi lagu mellow dari ruang siaran. Seminggu setelah tangisnya di dalam studio, dia telah bertekad untuk mencari perhatian ekstra.

Langkah kongkrit dari ikrar ini adalah dengan mengikuti kelas senam termahal yang, santer isu beredar, dapat merubah emak-emak bau tanah menjadi super model. Yang Tia tidak sangka adalah betapa berbahayanya aktivitas ini. Teriakan Bang Punjab – Sang pembugar masih mengiang men-traumakan Tia, lengkap dengan spandex pink ketatnya.

”AYO INDONESIA! JALAN KAYANG SEMUA!”
”Hiiighg” Tia menggigil traumatis menutup kuping. ”Things I do for Men...” gerutunya.

_________________


Take sound selesai. Tia berjingkrak seperti anak kecil mendatangi Gege. Gege tampak sedang bersiap-siap pergi membawa sebuah bungkusan.
”Heh, Polar Bear...makan siang yuk. Kali ini gue janji deh gak rewel kalo lewat gedung sana”
”Wah guah gak bisa Ti....”
”...”
”Guah makan siang sama Caca.”
”...” Tia tiba-tiba ternggelam dalam khayalan. Gege menjadi bintang tamu acara masak Rudy Choiruddin.

’Jadi ibu-ibu... kita iris hatinya kecil-kecil...’

”Kok...kok....kok bisa?” Tia kaget terbata-bata, seperti orang yang gengsi mencintai orang lain yang mencintai orang lain lagi dan baru tahu orang lain itu akan makan siang dengan orang yang dia cintai[1].
”Iyah. Kemaren guah datengin dia.”
”Kok sekarang langsung makan siang? Besok ngapain? Beranak?”
Gege merengut tidak mengerti.
”Elo udah mulai resmi nih, deketin dia? Bukannya masih nanti-nanti? Elo mau nunggu elo siap dulu?”
Gege lantas menjelaskan apa yang terjadi kemarin hari.
”Kemaren ituh gara-gara gugup, guah kenalannyah pas udah tutup kantor. Jadinyah dia nawarin makan siang bareng hari inih. Di restoran Jepang atas kantor dia. Mahal bo. Miskin deh guah abis inih.”
Tia terdiam.
Kemarin?
Kenapa Tia tidak mencegahnya?
Ke mana Tia?
Tia pergi.
Izin pulang cepat.
Beli soft lens.
Demi Gege.
”*&%*%^#(&$*^%#%^$!!!!”
”Trus udah gitu dia tambah cakep Ti. Rambutnya sekarang yang bener-bener lemes jatoh gituh.”
”Lo suka ya rambut lemes?” tanya Tia sambil melirik ke cermin, melirik rambutnya yang ikal jatuh sejauh tengkuk dengan poni dan anak rambut yang sama panjangnya.
”Guah suka apa ajah yang Caca tampilkan...kecuali botak. Udah ah..guah duluan yah....” Gege berlalu menuju pintu.

”CEPAT! CEGAH! CE! GAH!”

”GE! GE! TUNGGU!”
Gege berbalik menunggu Tia yang berlari.

[1] Sori gua juga bingung. Let’s see. Orang lain cinta sama orang lain…you know what? Just go on reading!

Labels:





Current Happenings
Tuesday, December 14, 2004

Updates On Many Things


Okay guys, need to break the trailers for more important news that you CANNOT miss.


Firstly,
Buku milik wanita ini masuk cetakan kedua, sejak pertama kali on sale dari tgl 3 Desember (in 10 days).
Selamat untuk dia for an excellent start and even more excellent effort.. believe me, I know. (Ya iyalah, gue suaminya). Just would like to take this moment to say that I am genuinely proud of her.
The funniest thing is, on the thank you page, she wrote

To Adhitya Mulya
This book is written to impress you

Well Neng, I am.

Ketika dia masih nyebar buku untuk back cover comments, gue nanya apakah dia mau komentar gue. Dia nolak. She wants to make it on her own.
Again, Neng...you do.
Gue juga pengen ngucapin makasih ke semua temen2 yang melalui blog, friendster dan multiplynya, bersedia banget ngebantu promo kedua buku kita. Thanks guys, they mean alot to us.

Secondly,
Novita Estiti (pengarang buku ini) akan menga