Category: Uncategorized

Celoteh Suami

istri: Kamu kok gak bilang ke saya minggu depan ada BBQ alumni ITB?

suami: Waduh iya. Maaf ya. Suka lupa aja.

istri: Iya.

suami: maksud saya, suka lupa aja udah punya istri.

dan sodara-sodara, itu lah contoh komentar yang akan mendaratkan anda tidur di sofa malam ini.

Post to Twitter Tweet This Post

Masih Susah Cari Buku Kita?

Apakah kalian kesulitan mencari buku ini?

Beberapa bulan terakhir gue sering dapetin email yang komplen bahwa kalian susah nyari buku ini. Setelah gue kontak penerbit, memang udah gak banyak, tapi masih ada.

Sooooo, gue memutuskan untuk menjual buku-buku gue sendiri di website ini.

Caranya:

1. Kirim email ke gue berisikan alamat pengiriman kalian dengan format di bawah:

nama

alamat

kode pos + kota

email gue: adhitya.mulya@gmail.com

2. Ntar gue cek stoknya, kalo ada gue email balik dan kirim langsung ke alamat lo.

3. Upon confirmation gue, kalian transfer uangnya + ongkos kirim

Nah terhitung 24 Oktober 2009 ini, aturan ongkos kirimnya gue rubah karena ternyata gue nombok berat.

Ongkos kirim dalam Jakarta

Beli 1 buku = Ongkir Rp 5000

Beli 2 buku = Ongkir Rp 2500

Beli > 2 buku = gratis

Ongkos kirim luar Jakarta = ntar gue kasih tau dalam emailnya

4. Harga bukunya:

Jomblo: 21000 (harga toko 24000)

GMC: 24000 (harga toko 28000)

Travelers’ Tale: 40000 (harga toko 44000)

Test Pack: 30000 (harga toko 34500) -> test pack sudah tidak dicetak lagi.

Kok Putusin Gue: 22500 (harga toko 26500)

Chocoluv: 22000 (harga toko 26000)

Kamar Cewek: 23000 (harga toko 27500)

Sekali lagi, email gue: adhitya.mulya@gmail.com

Oke deh ya. Kalo berminat, kirim email ke gue, kalo nggak juga gak papa. Thanks in advance.

Post to Twitter Tweet This Post

Gore

Entah kenapa, gue suka sama film-film gore. Itu lho, genre film yang suka motong-motong orang pake perkakas kebun.

Setelah pintu terlarang sekarang ada lagi rumah dara. Wuiiih, gila. gak sabar nunggu dvdnya.

Tapi kenapa ya gue suka sama Gore? Apakah untuk memuaskan sesuatu yang gak mungkin gue lakukan?

YouTube Preview Image

Post to Twitter Tweet This Post

The Urban Mama

Istribawel dan ketiga sobatnya, Shinta, Thalia dan Udhien, bulan lalu meluncurkan blog dan forum ini (klik di atas).

Gue dan istri adalah sepasang starter parents. Maksudnya, kami belum lama punya anak dan kami butuh sebuah situs komunitas yang memiliki perasaan dan posisi yang sama. Di sana kita bisa berbagi pengalaman, tips dan info untuk kita pakai atau hindari.

Gue jamin, bagi kalian starter parents, couples who are expecting babies, single parents forum ini sangat powerful dan berguna bagi kalian. Serius!

Bahasa dan bahasan ang ada di dalam forum itu juga sangat humble dan membumi.

I urge you to join.

Post to Twitter Tweet This Post

Idul Fitri

Waktu jaman kuliah dulu, sobat gue yang namanya Dimas Seno, iseng makan bakso di warung pinggir jalan. Dia di sana krn darurat aja harus nuggu sesuatu. Di warung itu, ada sebuah keluarga, bapak, ibu dan seorang anak.

Si anak: “Bu, minta coca-cola boleh?”

Si ibu melihat ke bapak. Si bapak mengangguk sambil berkata “Boleh deh, lebaran ini.”

Kita merayakan lebaran berbeda-beda. Ada keuarga yang merayakan hari kemenangan ini dengan makan bakso dan hanya mampu beli coca-cola sesekali aja, sejarang lebaran.

Mohon Maaf lahir batin untuk kalian semua. Gue tau gue banyak salahnya. Semoga cerita di atas menjadi bingkisan bagi gue untuk kita semua, sebagai pengingat untuk merayakan hari kemenangan ini dengan moderation and humbleness.

rgds.

Post to Twitter Tweet This Post

Repost - Gua, Motor Gua dan Wanita-Wanita Disekelilingnya

Kita tahu ini saat yang paceklik komedi ketika, gue ngerepot postingan lama heheheheh..

Postingan Desember 2006.

Gua, Motor Gua dan Wanita-Wanita Disekelilingnya

Jaman kuliah dulu, gue naik motor. Setidaknya di ITB, motor adalah faktor yang menseparasi pria dari…uhm…pria lain. Intinya, setidaknya, tahun 96, cowok yang punya motor di ITB (lumayan) jadi dambaan wanita.

Sayangnya yang kerap menjadi dambaan adalah motornya karena motor ini menjadi alat bagi cewek-cewek itb untuk nebeng dan minta anter. Pemilik motornya sendiri tetap tidak mengalami perbaikan kasta atau nasib dalam asmara.

Singkatnya, kita-kita di sipil96 yang punya motor sering diminta cewek-cewek untk minta anter mereka. dan berhubung cewek sipil hany 20 dari 160 populasi, jelas segala permintaan mereka kita penuhi.

“Dit, gue nebeng!”
“Oke!”
di mana kata nebeng itu tertukar dengan wording ‘minta anter’ karena definisi nebeng adalah sejalan arah kos gue DAN BUKAN nun jauh di pinggiran Bandung.

“Dit, anterin gue ke rumah sakit!”
“Beres!”
Meski pun penyakitnya menular dan seperti dia, gue ikutan meriang 3 hari.

“Dit, jemput ade gue di SMP!”
“Jam berapa?”
Di mana sesampainya di SMP itu, gue baru nyadar gue belum tahu tampang itu anak kek gimana.

But all in all, kita sayang sama cewek-cewek sipil ini dan tidak pernah ada kata tidak untuk melayani mereka. Tapi tetep aja entah kenapa gue selalu kena kasus. berikut adalah kasus-kasus yang paling parah yang gue pernah alami.

Dengan Wiwin
Kita sebut saja namanya Wiwin karena kalo sampe ketauan nama aslinya dalam blog ini, riwayat gua bisa tamat. Wiwin adalah wanita berkacamata tebal dengan otak yang lebih tebal lagi. IPKnya terancam 4. Wiwin adalah juga atlet yang tergabung dalam pelatda voli JABAR. Dia punya tangan yang cukup kuat untuk serve voli…dan kalo nampar cowok, itu cowok bisa melintir. Gua suka boncengin dia pulang karena dengan begini gue bisa nodongin dia dengan,
“Eh Win, adit sekalian fotokopi catetan Wiwin yah.”
Wiwin secara reluktan mengiyakannya dengan syarat, dalam proses fotokopi itu, dia ikut sama gue nongkrongin tukang fotokopian dan sang catetan selalu ada dalam jarak pandang dia. Ini adalah hikmah dari pengalaman buruk di mana catetan dia dipinjem gak jelas berpindah seribu tangan dan saking putus asa nyari, dia harus belajar dari fotokopian catetan dia sendiri. Bagi gue, berdiri samping-sampingan dengan Wiwin di toko fotokopian adalah situasi yang awkward. Gimana gak awkward? Apa sih topik yang bisa lu omongin sama cewek, kalo di depan lo ada orang minang keringetan gak pake baju megang-megang mesin fotokopian?

Anyways di suatu hari yang windy (faktor angin memegang peranan penting dalam plot cerita ini) gua nganter Wiwin pulang. karena banyak angin, suara yang keluar dari mulut gua selalu terbawa angin.
“Win gue motokopi catetan ya!”
“Apa?”
“Gue minjem catetan lo!”
“Hah?”
“GUA MINJEM CATETAN LOOOO!!”
“ADUH NGOMONG YANG JELAS KEK!”
Halah! Emang sih gue kan ngomong sambil merhatiin jalan jadi mulut gue ke depan dan gak ke muka dia yang di leher gue. Akhirnya gua balik badan dan bilang lagi. Sayangnya, entah kenapa gua lagi memproduksi banyak air liur di saat itu. Sayangnya lagi, ini terjadi di saat angin bertiup kencang. Sooooo gue balik badan, buka mulut lebar-lebar dan..
“GUE MINJE..PLUEEHHH…..”

crooot

Angin mengantarkan saliva gue ke kacamata wiwin. Itu gak terlalu wiwin masalahin karena SEBAGIAN BESAR liurnya kena ke sisa muka yang kacamata gak cover.

She never spoke ever since.

Dengan Titin
Lagi-lagi nama samaran. Titin ini rada ganjen. Kalo ke kondangan dia selalu nyalon. Entah kesamber jin apa, suatu hari dia minta anter gue ke salon dan ke kondangan setelah dari salon. biar efisien, tuturnya.

ya sudah gua turuti itu kemauan. Setelah berkarat nungguin di salon, dia muncul dengan sanggul yang indah menawan. gua rasa kalo orang lempar jeruk ke sanggul itu, bisa nyangkut.
“Gimana, cakep gak?”
“Mirip roro kidul Tin.”
“Monyet. Udah buruan ke resepsi! yang cepet ya!”
gua udah kek budak aja. di sini terjadi sesuatu yang Titin gak pernha maafin gua sape sekarang, meski kalo gue bilang, itu salah dia.
dia kos di simpang (bandung utara).
Nyalonnya di simpang.
Undangannya di gedung kartini (bandung selatan)
dia minta cepet.

Ya udah, gue ngebut dong!
Sayangnya ini berbuntut di mana kita pergi dengan Titin tampak seperti finalis putri indonesia dan sampai di resepsi terlihat seperti singa.

“ADUH RAMBUT GUE! ELU SIH DIT!”
“Makanya gua bilang PAKE helm!”
“gua kira kalo helm, sanggulnya rusak, jadi jelek!.”
“gak pake helm jadi singa. Tuh.”
“Benci gua sama elu! Benci! Benciiiiiiiiiiiiiiii!!”

Dengan Mimin
Untuk, lagi, alasan keselamatan, gua gak akan mereveal nama dia. Suatu hari gua sekelompok sama dia dan kita harus ngerjain paper nih ceritanya. Singkat cerita, anggota lain pada egois dan gak kerja. Cuman gua dan Mimin aja yang ngerjain di rumah dia di bilangan kuburan Ciputra. paper selesai dan 10 menit lagi kuliah paper itu dikumpulin.
“DIT! AYO KITA CEPETAN!”
“AYO!”
“NGEBUT YA!”
“LU PEGANGAN MA GUA!”
“NAJIS!” (Cewek-cewek sipil ini selalu teguh menjaga iman mereka).

Adalah kebiasaan mereka untuk memegang handle di belakang ketimbang melingkarkan tangannya di supir. Tapi yo wis, gue juga gak keberatan. Pasaran gue juga bisa turun. Akhirnya gua ngebut! tapi tertahan di lampu merah kuburan. Percakapan di bawah terjadi dengan mata gua liat ke depan dan hanya denger suara dia.
“Min, kita harus bener-bener ngebut nih. tau sendiri Bandung. Sekali kena merah, sampe 5 lampu ke depan kena merah juga.”
“Ya udah ngebut! Eh bentar tas gua jatoh.”
“Udah Min?”
“Bentar.”
“Ijo Min!”
“Nah, …”
“OKE!”
Gua langsung kebut itu motor!
Gue salip semua mobil di pasar suci!
Gua ngesot di tikungan telkom!!
Gue jemping depan UNPAD!
Gue terabas lampu merah simpang dago!!
Gue turun kek orang gila sepanjang dago!!
Gue ampir nabrak kuda di ganesa!
Akhirnya masuk juga parkiran sipil.

Abis ngerem, gue bilang,
“Gimana motoran sama James Bond? Min? Min?”
gue ngeliat ke belakang dan Mimin lenyap.

Keesokan harinya, di rumah sakit boromeus...
“Gua gak ngerti Min..”
“Lu gak ngerti bagian mana dit? bagian yang elu ngajleng dengan gua baru setengah pantat? ato bagian gue ngegelinding di perapatan jalan?” tukasnya jutek dengan tangan yang retak.
“Tapi kan gua udah bilang ijo! dan lu udah bilang ‘NAH’!’
“NAH itu maksud gue baru mau duduk lagi.”
“tapi kan!”
“Sudah lah! gua bingung manusia kek lo bisa masuk itb.”
Wah, kecerdasan dia bawa-bawa. padahal kalo mau cerdas dikit, dia megang gue.

Itulah sekelumit cerita gua, motor gua, dan wanita-wanita yang ngegelinding karena motor itu. Yang jelas sejak itu demand menurun drastis. Imbasnya adalah bahwa Oyep, temen gue, menjadi idola ke 20 anak itu untuk dianter ke mana-mana. berkorelasi dengan itu, IPK gue menurun dan IPK Oyep naik secara fantastis. Oh nasib.

Post to Twitter Tweet This Post

Gun Ship

Dan pemborosan bulan ini jatuh kepada….. GI JOE Gun Ship. Just sooo cool.

Tadinya gue gak mau beliin Aldebaran maenan mobil karena takut ngebaret kontrakan., Tapi kemudian gue gak mau Alde terbatas khayalannya. Ya udah gue beliin pesawat Night Raven GI JOE yang gue bahas di sini: http://suamigila.com/2009/07/11/gi-joe/

Terus gue baru nyadar bahwa gak seru juga dia maen sendiri. Akhirnya setelah nunggu gajian, gue beliin dia Gun Ship GI JOE. efeknya? Seru abis! We are spending the entire weekend playing tembak-tembakan. All the things that I dreamt about being a father!!

Watch out Alde, I’m shooting! cucucucucucucuuww..!!!! Gun Ship itu yang Alde pegang.

Gue sebenernya masih pengen beli toys GI Joe yang terakhir. Yang ini: Namanya RHINO. Mobile armor yang combined sama helicopter. Anehnya dari semua maenan GIJOE yang direproduksi untuk masuk ke GI JOE rise of cobra, ini adalah 1 maenan yang gue gak bisa nemu di Singapur.

Post to Twitter Tweet This Post

Sedekah

Beberapa waktu yang lalu kita pergi ke KBRI untuk dengerin ceramah ustadz Yusuf Mansyur.

Bagi yang belum pernah kenal ciri ceramah dia, ni gue kasih tau: Dia adalah ustadz yang berusaha menyosialisasikan 2 ajaran Allah:

1. Orang yang bersedekah tidak pernah miskin

2. Sedekahlah dan pasti dilipatgandakan (dalam berbagai cara dan bentuk).

Satu hal yang bikin ceramahnya gak nyaman adalah, bahwa ceramahnya cenderung menjerumuskan orang. Di mana konsep yang diajarkan berisiko salah tangkap.

Dia berusaha ngajarin secara eksak dan matematis bahwa kalo kita sedekah 10 ribu maka kita akan diberi imbalan 100 ribu. Dia juga cerita ada seorang teman di jawa, katakanlah Joko, yang punya uang 2 juta. Joko sangat butuh uang tahun dpean untuk bayar kontrkannya 1.5 juta. modal hariannya 1 juta. Dia kurang 500 ribu. kemudian dia mendengar ceramah ustadz Jusuf ini bertajuk “menjadi kaya karena sedekah”. Kemudian Joko bersedekah 1 juta dengan harapan dan kepercayaan bahwa Allah akan memberikan imbalan yang lipat ganda. Beberapa bulan kemudian ada lumpur lapindo. Kemudian dia ditunjuk lapindo untuk menyediakan catering 16000 orang tiap hari. Akhir tahun dia punya 600 juta.

Cerita seperti ini jujur aja sangat menbahayakan. Gue aja pertama kali dengernya malah kok kita sedekah pamrih ya? Kok kita itungan ya sama Allah? Inti dari cerita dia, Allah selalu akan mengembalikan dengan berlebih. Dia juga membuktikan dari cerita ini bahwa orang sedekah gak akan miskin. Tapi yang ustadz ini gagal menerangkan bahwa kalo sedekah juga harus ikhlas.

Kalo gue pribadi, ada hikmah yang gue bisa ambil dari cerita lapindo ini sama dengan cerita guru agama gue waktu SD dulu. Dan entah kenapa ustadz ini gak ungkapkan. Entah dianya nyadar atau nggak nyadar. Hikmah itu adalah:

Sedekahlah when it matters. Maksudnya, si Joko ini tabungannya cuman 2 juta dan dia nekat nolong orang 1 juta, meski pake harapan dan pamrih segala. Kalo kita punya 1 milyar dan sedekah 1 juta, ya atu gimana ya itu cuman 0.1%. Zakat aja 2.5%. dia sedekah 1% itu memang belum cukup cover kewajiban zakatnya.

Kalo yang gue diajarinnya ada beberapa hal:

1. Sayang kalo kita sedekah banyak kalo sholat kita masih bolong-bolong. Guru gue pernah bilang, Shalat itu tiang agama. sedekah, puasa, haji dan lainnya menggantung di ketekunan shalat kita. Kalo kita sedekah 1 Milyar, sebaik-baiknya 1 Milyar, itu sunnah. Shalat yang wajib malah bolong. Sebaiknya sejalan dengan kita sedekah banyak, kita pastikan shalat kita gak bolong. Sama aja kayak orang rajin tahajud api karena kerja, sering lewat shalat Ashar. Itu bukannya ngawur, tapi ibarat kata guru gue, hasil kamu shalat tahajud mau digantungkan di tiang mana? tiangnya aja rapuh bolong-bolong.

2. Sedekahlah when it matters.

3. Sedekahlah di atas kewajiban zakat kita.

katakanlah salary kita 10 juta sebulan. Sebulannya kita berikan ke orang miskin 200 ribu. Apakah itu sedekah namanya? Gimana mau sedekah, lha wong kewajiban zakatnya aja 2.5% = 250 ribu. bereskan dulu yang wajibnya. Apa pun yang kita amalkan di atas itu, adalah sedekah.

4. Sedekah lah kapan saja, gak perlu pas kepepet.

Sama kayak shalat. Shalatnya bolong. Baru aja kalo ada perampingan perusahaan, kita rajin shalat. Kalo ada keperluan satu milyar baru kita sibuk sedekah 20 juta. Malaikat bisa-bisa “bilang kemaren kemana aja tong?” Ini yang sering ustadz Jusuf ceritakan. Tapi kok yang gue dapet, kok sekilas mendidik jadi pamrih ya? Bukan pamrih ke orang miskinnya, tapi pamrih ke Allahnya.

5. Sedekahlah untuk memberi manfaat.

Sejak diajarin sama guru SD gue, kecenderungan gue adalah sedekah untuk guru. Sedekah untuk pendidikan seorang anak. Dan lainnya. Gue gak pernah sedekah ke badan zakat meski itu bisa memberikan kita potongan pajak. karena gue gak tau itu uangnya ke mana. Mending yang ketauan memberi manfaat.

6. Sedekah dahulukan pada kerabat, tetangga dan orang-orang terdekat kita ie: pembantu.

Kita sering gak sadar bahwa orang-orang terdekat kita seperti kerabat (orang tua, adik, sepupu, keluarga besar),  tetangga dan pembantu, mereka lah orang-orang yang diam-diam ikut mendoakan kesuksesan kita - padahal mereka belum tentu sukses. Mereka juga lah orang-orang pertama dalam hidup kita yang melihat kita menapaki sukses. Contohnya,

- Kita baru beli BMW sementara tetangga baik kiat di sebelah baru saja bangkrut.

- Kita rencanakan liburan ke australia depan pembantu, tapi somehow kita gak pernah inget untuk naikkin gaji dia.

dan pembantu itu parah lho. Sering kali kita gak sadar betapa buruk kita memerlakukan pembantu kita. Contoh: majikan kita di kantor kasih kita jatah cuti 20 hari pertahun. tapi berapa hari kah kita ijinkan cuti pulang kampung? dan masihkan dia kita bayar pas cuti?

Majikan kita kasih kita bonus terkadang 2, 3, 4 bulan gaji. bahkan terkadang 5-10 bulan gaji. bahkan ada perusahaan yang kasih 20 bulan gaji!! Subhanallah! tapi apakah kita sebagai majikan memerlakukan bonus yang sama pada pembantu kita?

Yang paling gampang deh: ketika kita baby sitter dan supir ke sushi tei, apakah kita suruh mereka makan bareng kita? atau kita suruh mereka makan dulu di rumah biar gak ngiler liat kita makan sushi sementara mereka bengong?

Dan bukannya kita jahat tapi kita sering gak sadar bahwa ketika majikan kita memberikan sesuatu pada kita. sering kali kita gak mikirin diri kita dengan posisi yang sama pada pembantu kita.

Belum lagi orang tua dan keluarga besar. Banyak dari mereka yang lebih dari kita dan juga kurang. Sementara kita sedekah jutaan untuk bikin atap mesjid depan rumah, apa kita yakin bahwa sodara kita di (katakanlah) Nganjuk gak ada yang kelaperan?

7. ini yang paling penting: Sedekah lah dengan ikhlas, mengharap ridho Allah dari perbuatan sedekah itu. Bukannya ngarep jutaan perak. Intinya nolong karena rasa kemanusiaan kita. Bukan ngarep imbalan.

Logika-logika yang kayak gini yang guru agama (SD) gue sering tekenin ke anak-anak didiknya. Emang waktu dulu gak ada sushi tei.

Anyways,  semoga gak menggurui, gue cuman sharing aja. Kalo ada yang protes, inget ini blog gue.

Post to Twitter Tweet This Post

Indonesia Still Needs to Pay MU USD 1,85 million????

http://biangbola.com/berita/LOC-Tetap-Bayar-MU-Rp–19-1-Milyar/22990.html

According to this news, the local comittee (LOC) in Indonesia is legally bound on the fact that the sum paid to MU, around IDR 1.95 Billikon or USD 1.85 Million, cannot be refunded.

So..

1. There was a bombing in Indonesia

2. LOC did plan this to happen

3. MU, fair enough, cancels the visit to Indonesia

4. But MU still get paid USD 1.85 Million?

To me, this is outrageous. Okay lah, it is fair enough if they get scared. But still getting paid? Arrggh I think that’s too cruel.

I really hope the people working for LOC has some way to recover from USD 1.85 Million loss. 1.85 million. That’s alot of money!!! The kind of money that can make people bankrupt and never able to recover again. The kind of money that forces people to sell their own home to pay for the money owed.

I think the contract is stupid and this is basiscally a rip off. Manschester United doesn’t know what they’re missing out on and they don’t know how severe the impact of 1.85 million is to the hard working people in LOC.

They have just dissapointed 28 million Indonesian fans, one of their biggest market target. Good luck winning back our hearts.

I have been a fan of Manchester United from the days of Eric Cantona. Now? I really honestly hope they have the worst fucking season ever.

To all Indo-ManUnited fans: They’re not worth it anymore.

Post to Twitter Tweet This Post

We Will Not Go Down

Post to Twitter Tweet This Post