Category: Uncategorized

Sedekah #2

Wah udah lama banget gak punya kesempatan update blog. Sejak kembali ke Jakarta, kita numpang dulu di rumah bokap sampai kita nemu rumah baru. Di rumah tempat gue tumbuh besar ini, somehow ISPnya gak bisa buka wordpress dan atau suamgila. Jadilah gue coba-coba hampir tiap hari dan dari sebualanan ini, baru sekarang tiba-tiba “eh bisa!”

Ya udah gue posting. Tema yang gue pengen angkat di postingan kali ini adalah, kembali, sedekah. Hampir 1 tahun yang lalu gue menulis posting ini:

http://suamigila.com/2009/07/21/sedekah/

Gak gue sangka, yang respon 112. Orang gila. Sepertinya ini postingan dengan komen terbanyak top 5. Yang gue inget itu komen terbanyak pas nerbitin buku jomblo, buku GMC dan pas nikah.

Makin ke sini, komennya makin sadis. Gue gak tau teknologi ngeceknya tapi gue curiga postingan itu di link ke sebuah forum atau milis penggemarnya ustadz YM. Dibilangin suruh belajar agama lah etc etc. Komentar yang paling sering keluar bisa di intisarikan seperti ini:

wajar kalo kita pamrih. Kita sholat aja pamrih meminta ini itu ke Allah.

Yang lucunya ada yang sampe berusaha membuktikan. Ada yang sholat jumat, kasih sedekah dan abis itu dapet uang 400 dolar. Anjuran dia, gak usah dengerin omongan gue.

Gak setuju sama gue sih silahkan. gue gak akan mati dengan ribuan orang gak setuju. Hidup mati gue gak ditentukan berapa banyak follower, fans atau berapa orang yang membenci gue. Tapi kemudian ada beberapa hal dari komentar orang yang bersebarangan dengan gue yang lumayan menarik.

1. Bahwa sedekah dengan pamrih pada Allah itu wajar.

2. Lha wong kita sholat aja pamrih kok. Pamrih untuk diampuni dosanya, etc etc.

3. Lha wong kita sholat aja pamrih kok, untuk meminta ini itu.

Gue setuju dengan dua dari tiga poin ini. Yang mana artinya yang kontra dengan gue salah baca atau gue yang salah tulis.

Yang gue setuju: Bahwa sedekah dengan pamrih pada Allah itu boleh.

Yang gue NGGAK setuju: Bahwa kita sedekah 100 ribu ke seseorang, dan secara matematis menuntut 1 juta dari Allah untuk dikembalikan. Ini mentalitas yang sangat berbahaya karena eksesnya:

Ini mendidik orang untuk berpegang pada prinsip: bahwa jika kita lagi kepepet butuh uang, kita sedekah. Pertanyaan gue: Kalo gak kepepet? mau kita apain duit kita?

Di bawah adalah potensi kesalahpahaman yang dapat terjadi jika orang salah mengerti ajaran Ustadz YM ini:

Kita lagi kepepet butuh uang 10 juta. kemudian ada tetangga kita dateng.

“Pak Kasian Pak, anak saya sakit.”

“Oh iya. Kebetulan saya juga lagi butuh 10 juta. Bu, ini 1 juta silahkan pake.”

kalo kita lagi gak kepepet:

“Pak Kasian Pak, anak saya sakit.”

“Wah gue lagi gak butuh duit nih. Gak usah lah. Bu minta tolong aja sama tetangga yang depan.”

Muslim seperti ini yang kita cita-citakan? Beneran muslim seperti ini yang kita ingin? Mentalitas seperti ini yang ustadz YM inginkan dari 87% x 238 juta orang Indonesia?

Muslim seperti ini, jika sedang butuh duit, anak tetangga akan selamat. Kalo lagi gak butuh, anak tetangga mati dia gak peduli.

Niatnya sedekah udah salah. Niatnya sedekah bukan agar sedekahnya terpakai di jalan Allah dan dipakai umat-Nya. Niatnya gak tulus meringakan beban umat.  Tapi niatnya udah langsung narsis balik ke diri kita, agar kita untung. Profit.

2. Dari sudut pandang gue, kita tidak pantas me-matematika-kan sifat pemurah Allah. Bahwa dengan menolong orang dengan 100 ribu, kita berhak untuk dalam hati menuntut “Allah, I expect you to give me back 1 juta.” Emangnya elu siapa? Engkongnya Allah? Berani-beraninya elu menuntut seperti itu? Siap-siap aja disamber petir. Di bawah adalah celah kesalahpahaman orang yang mendengar ceramah ustadz YM.

Gue mau beli motor 15 juta. kurang 5 juta. Ah beres. Gue gak perlu kerja keras. gue keluarin aja 500 ribu, sumbangin ke mesjid, ongkang-ongkang kaki dan tuntut ke Allah “Ya Allah, ini udah 500 ribu nih. Besok dapet 5 juta ya.”

Mau jadi muslim macem apa kita? Muslim kayak gini cita-cita kita? Muslim yang nggak bekerja keras. Muslim yang bergantung dan yakin bahwa keajaiban akan datang. Muslim yang mematematikakan keajaiban itu.

Iya bahwa sedekah tidak akan membuat kita miskin. Iya bahwa Allah pasti memberikan imbalan. Tapi jangan kira kita punya derajat kepintaran yang sama dengan Allah untuk membayangkan kita akan dapat eksak 1, 2 atau 10 juta.

Gua bukannya mau ngajarin bagaimana sebaiknya sedekah. Silahkan aja mau sedekah dengan niatan apa. Tapi asal tau aja,di tingkatan yang sangat personal, ini yang gue niatkan saat sedekah:

Ya Allah, kusedekahkan hartaku ini untuk dipakai sebaik-baiknya dijalanMu. Untuk dipakai sebaik-baiknya oleh umatMu. Semoga sedekah ini menjadikan diriku dalam lindungan Mu dan di dalam jalan Mu yang lurus. Semoga Engkau melancarkan urusanku sebagaimana sedekah ini melancarkan urusan umatMu. Amin.


Gue lakukan ini saat gue butuh dan gak butuh bantuan. Gue lakukan ini tanpa mengharap investasi yang balik dengan sejumlah uang yang eksak. Gue gak demand spefisically “Ya Allah, ini 500 ribu, saya butuh 200 juta, tanggal 15.” Yang gue doakan adalah agar urusan gue dilancarkan. Dan semua urusan gue ya kan ujung-ujungnya nafkah dan tabungan yang mana duit semua. Dan bahwa dengan gue sedekah, ya gue tetep usaha. hanya saja sepertinya berkat sedekah dan niat ini, semua usaha dan urusannya lancar. Ini pamrih gak pada Allah? Jelas ini pamrih, saya akui. Tapi gue gak mau melupakan sisi kemanusiaan dari sedekah ini.

Bahwa sedekah ini bukan hanya untuk pamrih agar ikhtiar lancar. Tapi agar sedekah ini memberikan kebaikan pada umat. Ini yang penting untuk diingat. Karena jika kita melupakan sisi kemanusiaan ini, di kala kita tidak kekurangan apa pun sementara jutaan orang lain kekurangan, kita jadi ngerasa gak perlu sedekah.

Untuk mayoritas komentator posting ini yang kontra dengan gue:

- Niat sang ustadz baik. Tapi konstruksi logika yang beliau bangun, berpotensi untuk orang salah tangkap.

- Hanya karena dia ustadz dan gue nggak, tidak membuat dia lebih baik dari gue. hanya karena dia ustadz, tidak membuat dia lebih kompeten untuk mengupas agama dari gue. Gak membuat elo, lebih baik dari gue. dan gak membuat gue, lebih baik dari sang ustadz dan elo. Malah jika dia membuat ribuan orang salah paham, tanggung jawab dia di kemudian hari sangat berat.

- Bener banget bahwa sah-sah aja pamrih sama Allah. Jika bukan pada dia, ya pada siapa lagi. Kita shalat wajib dan sunnah bahkan sedekah untuk meminta agar ikhtiar lancar. Itu pamrih. Tapi jangan lantas membangun mentalitas, kalo kita kepepet, kita nolong orang/sedekah. Karena kalo konstruksi logika ini yang dibangun, kalo kita udah sukses, gak nolong orang/sedekah? di mana segi kemanusiaan kita?

Rgds.

Post to Twitter Tweet This Post

Celoteh Suami

istri: Kamu kok gak bilang ke saya minggu depan ada BBQ alumni ITB?

suami: Waduh iya. Maaf ya. Suka lupa aja.

istri: Iya.

suami: maksud saya, suka lupa aja udah punya istri.

dan sodara-sodara, itu lah contoh komentar yang akan mendaratkan anda tidur di sofa malam ini.

Post to Twitter Tweet This Post

Masih Susah Cari Buku Kita?

Apakah kalian kesulitan mencari buku ini?

Beberapa bulan terakhir gue sering dapetin email yang komplen bahwa kalian susah nyari buku ini. Setelah gue kontak penerbit, memang udah gak banyak, tapi masih ada.

Sooooo, gue memutuskan untuk menjual buku-buku gue sendiri di website ini.

Caranya:

1. Kirim email ke gue berisikan alamat pengiriman kalian dengan format di bawah:

nama

alamat

kode pos + kota

email gue: adhitya.mulya@gmail.com

2. Ntar gue cek stoknya, kalo ada gue email balik dan kirim langsung ke alamat lo.

3. Upon confirmation gue, kalian transfer uangnya + ongkos kirim

Nah terhitung 24 Oktober 2009 ini, aturan ongkos kirimnya gue rubah karena ternyata gue nombok berat.

Ongkos kirim dalam Jakarta

Beli 1 buku = Ongkir Rp 5000

Beli 2 buku = Ongkir Rp 2500

Beli > 2 buku = gratis

Ongkos kirim luar Jakarta = ntar gue kasih tau dalam emailnya

4. Harga bukunya:

Jomblo: 21000 (harga toko 24000)

GMC: 24000 (harga toko 28000)

Travelers’ Tale: 40000 (harga toko 44000)

Test Pack: 30000 (harga toko 34500) -> test pack sudah tidak dicetak lagi.

Kok Putusin Gue: 22500 (harga toko 26500)

Chocoluv: 22000 (harga toko 26000)

Kamar Cewek: 23000 (harga toko 27500)

Sekali lagi, email gue: adhitya.mulya@gmail.com

Oke deh ya. Kalo berminat, kirim email ke gue, kalo nggak juga gak papa. Thanks in advance.

Post to Twitter Tweet This Post

Gore

Entah kenapa, gue suka sama film-film gore. Itu lho, genre film yang suka motong-motong orang pake perkakas kebun.

Setelah pintu terlarang sekarang ada lagi rumah dara. Wuiiih, gila. gak sabar nunggu dvdnya.

Tapi kenapa ya gue suka sama Gore? Apakah untuk memuaskan sesuatu yang gak mungkin gue lakukan?

YouTube Preview Image

Post to Twitter Tweet This Post

The Urban Mama

Istribawel dan ketiga sobatnya, Shinta, Thalia dan Udhien, bulan lalu meluncurkan blog dan forum ini (klik di atas).

Gue dan istri adalah sepasang starter parents. Maksudnya, kami belum lama punya anak dan kami butuh sebuah situs komunitas yang memiliki perasaan dan posisi yang sama. Di sana kita bisa berbagi pengalaman, tips dan info untuk kita pakai atau hindari.

Gue jamin, bagi kalian starter parents, couples who are expecting babies, single parents forum ini sangat powerful dan berguna bagi kalian. Serius!

Bahasa dan bahasan ang ada di dalam forum itu juga sangat humble dan membumi.

I urge you to join.

Post to Twitter Tweet This Post

Idul Fitri

Waktu jaman kuliah dulu, sobat gue yang namanya Dimas Seno, iseng makan bakso di warung pinggir jalan. Dia di sana krn darurat aja harus nuggu sesuatu. Di warung itu, ada sebuah keluarga, bapak, ibu dan seorang anak.

Si anak: “Bu, minta coca-cola boleh?”

Si ibu melihat ke bapak. Si bapak mengangguk sambil berkata “Boleh deh, lebaran ini.”

Kita merayakan lebaran berbeda-beda. Ada keuarga yang merayakan hari kemenangan ini dengan makan bakso dan hanya mampu beli coca-cola sesekali aja, sejarang lebaran.

Mohon Maaf lahir batin untuk kalian semua. Gue tau gue banyak salahnya. Semoga cerita di atas menjadi bingkisan bagi gue untuk kita semua, sebagai pengingat untuk merayakan hari kemenangan ini dengan moderation and humbleness.

rgds.

Post to Twitter Tweet This Post

Repost - Gua, Motor Gua dan Wanita-Wanita Disekelilingnya

Kita tahu ini saat yang paceklik komedi ketika, gue ngerepot postingan lama heheheheh..

Postingan Desember 2006.

Gua, Motor Gua dan Wanita-Wanita Disekelilingnya

Jaman kuliah dulu, gue naik motor. Setidaknya di ITB, motor adalah faktor yang menseparasi pria dari…uhm…pria lain. Intinya, setidaknya, tahun 96, cowok yang punya motor di ITB (lumayan) jadi dambaan wanita.

Sayangnya yang kerap menjadi dambaan adalah motornya karena motor ini menjadi alat bagi cewek-cewek itb untuk nebeng dan minta anter. Pemilik motornya sendiri tetap tidak mengalami perbaikan kasta atau nasib dalam asmara.

Singkatnya, kita-kita di sipil96 yang punya motor sering diminta cewek-cewek untk minta anter mereka. dan berhubung cewek sipil hany 20 dari 160 populasi, jelas segala permintaan mereka kita penuhi.

“Dit, gue nebeng!”
“Oke!”
di mana kata nebeng itu tertukar dengan wording ‘minta anter’ karena definisi nebeng adalah sejalan arah kos gue DAN BUKAN nun jauh di pinggiran Bandung.

“Dit, anterin gue ke rumah sakit!”
“Beres!”
Meski pun penyakitnya menular dan seperti dia, gue ikutan meriang 3 hari.

“Dit, jemput ade gue di SMP!”
“Jam berapa?”
Di mana sesampainya di SMP itu, gue baru nyadar gue belum tahu tampang itu anak kek gimana.

But all in all, kita sayang sama cewek-cewek sipil ini dan tidak pernah ada kata tidak untuk melayani mereka. Tapi tetep aja entah kenapa gue selalu kena kasus. berikut adalah kasus-kasus yang paling parah yang gue pernah alami.

Dengan Wiwin
Kita sebut saja namanya Wiwin karena kalo sampe ketauan nama aslinya dalam blog ini, riwayat gua bisa tamat. Wiwin adalah wanita berkacamata tebal dengan otak yang lebih tebal lagi. IPKnya terancam 4. Wiwin adalah juga atlet yang tergabung dalam pelatda voli JABAR. Dia punya tangan yang cukup kuat untuk serve voli…dan kalo nampar cowok, itu cowok bisa melintir. Gua suka boncengin dia pulang karena dengan begini gue bisa nodongin dia dengan,
“Eh Win, adit sekalian fotokopi catetan Wiwin yah.”
Wiwin secara reluktan mengiyakannya dengan syarat, dalam proses fotokopi itu, dia ikut sama gue nongkrongin tukang fotokopian dan sang catetan selalu ada dalam jarak pandang dia. Ini adalah hikmah dari pengalaman buruk di mana catetan dia dipinjem gak jelas berpindah seribu tangan dan saking putus asa nyari, dia harus belajar dari fotokopian catetan dia sendiri. Bagi gue, berdiri samping-sampingan dengan Wiwin di toko fotokopian adalah situasi yang awkward. Gimana gak awkward? Apa sih topik yang bisa lu omongin sama cewek, kalo di depan lo ada orang minang keringetan gak pake baju megang-megang mesin fotokopian?

Anyways di suatu hari yang windy (faktor angin memegang peranan penting dalam plot cerita ini) gua nganter Wiwin pulang. karena banyak angin, suara yang keluar dari mulut gua selalu terbawa angin.
“Win gue motokopi catetan ya!”
“Apa?”
“Gue minjem catetan lo!”
“Hah?”
“GUA MINJEM CATETAN LOOOO!!”
“ADUH NGOMONG YANG JELAS KEK!”
Halah! Emang sih gue kan ngomong sambil merhatiin jalan jadi mulut gue ke depan dan gak ke muka dia yang di leher gue. Akhirnya gua balik badan dan bilang lagi. Sayangnya, entah kenapa gua lagi memproduksi banyak air liur di saat itu. Sayangnya lagi, ini terjadi di saat angin bertiup kencang. Sooooo gue balik badan, buka mulut lebar-lebar dan..
“GUE MINJE..PLUEEHHH…..”

crooot

Angin mengantarkan saliva gue ke kacamata wiwin. Itu gak terlalu wiwin masalahin karena SEBAGIAN BESAR liurnya kena ke sisa muka yang kacamata gak cover.

She never spoke ever since.

Dengan Titin
Lagi-lagi nama samaran. Titin ini rada ganjen. Kalo ke kondangan dia selalu nyalon. Entah kesamber jin apa, suatu hari dia minta anter gue ke salon dan ke kondangan setelah dari salon. biar efisien, tuturnya.

ya sudah gua turuti itu kemauan. Setelah berkarat nungguin di salon, dia muncul dengan sanggul yang indah menawan. gua rasa kalo orang lempar jeruk ke sanggul itu, bisa nyangkut.
“Gimana, cakep gak?”
“Mirip roro kidul Tin.”
“Monyet. Udah buruan ke resepsi! yang cepet ya!”
gua udah kek budak aja. di sini terjadi sesuatu yang Titin gak pernha maafin gua sape sekarang, meski kalo gue bilang, itu salah dia.
dia kos di simpang (bandung utara).
Nyalonnya di simpang.
Undangannya di gedung kartini (bandung selatan)
dia minta cepet.

Ya udah, gue ngebut dong!
Sayangnya ini berbuntut di mana kita pergi dengan Titin tampak seperti finalis putri indonesia dan sampai di resepsi terlihat seperti singa.

“ADUH RAMBUT GUE! ELU SIH DIT!”
“Makanya gua bilang PAKE helm!”
“gua kira kalo helm, sanggulnya rusak, jadi jelek!.”
“gak pake helm jadi singa. Tuh.”
“Benci gua sama elu! Benci! Benciiiiiiiiiiiiiiii!!”

Dengan Mimin
Untuk, lagi, alasan keselamatan, gua gak akan mereveal nama dia. Suatu hari gua sekelompok sama dia dan kita harus ngerjain paper nih ceritanya. Singkat cerita, anggota lain pada egois dan gak kerja. Cuman gua dan Mimin aja yang ngerjain di rumah dia di bilangan kuburan Ciputra. paper selesai dan 10 menit lagi kuliah paper itu dikumpulin.
“DIT! AYO KITA CEPETAN!”
“AYO!”
“NGEBUT YA!”
“LU PEGANGAN MA GUA!”
“NAJIS!” (Cewek-cewek sipil ini selalu teguh menjaga iman mereka).

Adalah kebiasaan mereka untuk memegang handle di belakang ketimbang melingkarkan tangannya di supir. Tapi yo wis, gue juga gak keberatan. Pasaran gue juga bisa turun. Akhirnya gua ngebut! tapi tertahan di lampu merah kuburan. Percakapan di bawah terjadi dengan mata gua liat ke depan dan hanya denger suara dia.
“Min, kita harus bener-bener ngebut nih. tau sendiri Bandung. Sekali kena merah, sampe 5 lampu ke depan kena merah juga.”
“Ya udah ngebut! Eh bentar tas gua jatoh.”
“Udah Min?”
“Bentar.”
“Ijo Min!”
“Nah, …”
“OKE!”
Gua langsung kebut itu motor!
Gue salip semua mobil di pasar suci!
Gua ngesot di tikungan telkom!!
Gue jemping depan UNPAD!
Gue terabas lampu merah simpang dago!!
Gue turun kek orang gila sepanjang dago!!
Gue ampir nabrak kuda di ganesa!
Akhirnya masuk juga parkiran sipil.

Abis ngerem, gue bilang,
“Gimana motoran sama James Bond? Min? Min?”
gue ngeliat ke belakang dan Mimin lenyap.

Keesokan harinya, di rumah sakit boromeus...
“Gua gak ngerti Min..”
“Lu gak ngerti bagian mana dit? bagian yang elu ngajleng dengan gua baru setengah pantat? ato bagian gue ngegelinding di perapatan jalan?” tukasnya jutek dengan tangan yang retak.
“Tapi kan gua udah bilang ijo! dan lu udah bilang ‘NAH’!’
“NAH itu maksud gue baru mau duduk lagi.”
“tapi kan!”
“Sudah lah! gua bingung manusia kek lo bisa masuk itb.”
Wah, kecerdasan dia bawa-bawa. padahal kalo mau cerdas dikit, dia megang gue.

Itulah sekelumit cerita gua, motor gua, dan wanita-wanita yang ngegelinding karena motor itu. Yang jelas sejak itu demand menurun drastis. Imbasnya adalah bahwa Oyep, temen gue, menjadi idola ke 20 anak itu untuk dianter ke mana-mana. berkorelasi dengan itu, IPK gue menurun dan IPK Oyep naik secara fantastis. Oh nasib.

Post to Twitter Tweet This Post

Gun Ship

Dan pemborosan bulan ini jatuh kepada….. GI JOE Gun Ship. Just sooo cool.

Tadinya gue gak mau beliin Aldebaran maenan mobil karena takut ngebaret kontrakan., Tapi kemudian gue gak mau Alde terbatas khayalannya. Ya udah gue beliin pesawat Night Raven GI JOE yang gue bahas di sini: http://suamigila.com/2009/07/11/gi-joe/

Terus gue baru nyadar bahwa gak seru juga dia maen sendiri. Akhirnya setelah nunggu gajian, gue beliin dia Gun Ship GI JOE. efeknya? Seru abis! We are spending the entire weekend playing tembak-tembakan. All the things that I dreamt about being a father!!

Watch out Alde, I’m shooting! cucucucucucucuuww..!!!! Gun Ship itu yang Alde pegang.

Gue sebenernya masih pengen beli toys GI Joe yang terakhir. Yang ini: Namanya RHINO. Mobile armor yang combined sama helicopter. Anehnya dari semua maenan GIJOE yang direproduksi untuk masuk ke GI JOE rise of cobra, ini adalah 1 maenan yang gue gak bisa nemu di Singapur.

Post to Twitter Tweet This Post

Indonesia Still Needs to Pay MU USD 1,85 million????

http://biangbola.com/berita/LOC-Tetap-Bayar-MU-Rp–19-1-Milyar/22990.html

According to this news, the local comittee (LOC) in Indonesia is legally bound on the fact that the sum paid to MU, around IDR 1.95 Billikon or USD 1.85 Million, cannot be refunded.

So..

1. There was a bombing in Indonesia

2. LOC did plan this to happen

3. MU, fair enough, cancels the visit to Indonesia

4. But MU still get paid USD 1.85 Million?

To me, this is outrageous. Okay lah, it is fair enough if they get scared. But still getting paid? Arrggh I think that’s too cruel.

I really hope the people working for LOC has some way to recover from USD 1.85 Million loss. 1.85 million. That’s alot of money!!! The kind of money that can make people bankrupt and never able to recover again. The kind of money that forces people to sell their own home to pay for the money owed.

I think the contract is stupid and this is basiscally a rip off. Manschester United doesn’t know what they’re missing out on and they don’t know how severe the impact of 1.85 million is to the hard working people in LOC.

They have just dissapointed 28 million Indonesian fans, one of their biggest market target. Good luck winning back our hearts.

I have been a fan of Manchester United from the days of Eric Cantona. Now? I really honestly hope they have the worst fucking season ever.

To all Indo-ManUnited fans: They’re not worth it anymore.

Post to Twitter Tweet This Post

We Will Not Go Down

Post to Twitter Tweet This Post