Category: Uncategorized

Mencermati Paradigma Wagub ttg Mampu – Tidak Mampu

Pasangan Gubernur Teladan

Pemimpin yang baik harus memiliki 2 hal. Visi, dan control. Pemimpin yang sukses harus mampu bersikap visioner. Visi itu dia terapkan dan dia minta anak buahnya jalankan. Dalam pelaksanaannya, dia melaukan control atau dalam dunia korporat, melakukan performance management. Pasangan gubernur Jakarta, Jokowi dan Ahok membawa perubahan yang Jakarta perlukan karena mereka adalah sosok dengan performance management yang sangat kuat. Ahok itu jeli dan pintar dalam menyusun anggaran sehingga tidak ada yang dapat mengelabui dia. Jokowi sering blusukan sebaga control dan managing performance camat dan lurah. Berpasangan, kedua orang ini benar-benar mendatangkan perubahan yang hebat. Gue gak akan berlebihan jika berkata bahwa Jokowi dan Ahok adalah pemimpin teladan karena performance management ini.

 

Apa pun perangainya, apa pun motivasinya, tidak data dinihilkan bahwa Jokowi dan Ahok memberika perubahan positif. Tidak akan ada yang pernah mampu menihilkan hasil kerja mereka.

 

Bagaimana dengan Visi?

Tapi control/performance management, baru 1 sisi dari seorang pemimpin. Sisi lain adalah visi. Visi yang baik adalah visi yang mengakomodir semua rakyatnya. Visi juga dating dari kerangka berpikir seseorang. Setelah berapa lama menjadi wakil gubernur, gue mulai mencermati paradigm yang mengkhawatirkan dari Ahok. Simak setidaknya 2 artikel ini:

 

===

Berita 1: http://www.berita8.com/read/2012/10/18/1/57865/Ahok-Wacanakan-Orang-Kaya-Tinggal-di-Pinggiran-Jakarta

Quote: “Orang kaya harusnya tinggal di luar kota karena mereka punya sopir, mobil, dan duit.”  kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (18/10/2012).

Untuk merealisasikan wacana tersebut, Ahok akan menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Jakarta. Hal ini akan membuat keengganan untuk memiliki tanah maupun bangunan di kawasan Jakarta.

“Jadi di sini kenapa orang kaya pindah ke luar kota karena nanti kami akan menjadikan PBB di Jakarta ini tinggi sehingga mereka memilih tinggal di luar Jakarta.” katanya.

Dan untuk menyiasati agar warga yang berekonomi kecil tak terlalu terkena imbas naiknya PBB Jakarta. Ahok juga berwacana untuk membangun Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di kawasan bisnis Jakarta.

:End quote

===

Jujur aja ya, gue khawatir dengan kerangka berpikirnya. Kerangka berpikir Ahok dalam kasus ini adalah: Jika elo kaya, maka elo harus tinggal di luar kota, karena elo punya uang yang dapat elo hamburkan di supir dan bensin.

Gue bukan orang kaya. Gue kerja mati-matian untuk gaji gue. Tapi dengan gue punya uang, bukan berarti gue bersedia menghamburkan uang gue untuk supir dan bensin. Gue capek-capek kerja ya gue tabung lah. Paradigma di mana orang berduit = harus pindah ke pinggiran karena lebih mampu bayar supir dan bensin adalah paradigm sosialis/komunis. Yang lebih mampu harus suffer.

Maaf tapi gue jadi mampu karena kerja jujur kok. Kerja halal kok. Kerja keras kok. Gue punya uang juga gak dibantu sama Ahok kok. Kenapa gue harus dipunish dengan pindah ke pinggiran?

Niat Ahok adalah: memberikan kesempatan dan ruang bagirakyat kurang mampu untuk tinggal di tengah kota. Ini niat mulia. Caranya bisa kok, ya bangun aja apartemen murah di tengah kota dan pastikan yang membeli dengan slip gaji tertentu. Ini sudah dilakukan di apartemen kalibata. Gue pengen beli apartemen kalibata karena pada saat itu gaji gue udah over-qualified, gue mengurungkan niat. Sistem kontrolnya di situ. Ini solusi yang leih baik. Implementasinya keok. Implementasinya lah yang harus dijaga.

Jika niatnya memberikan ruang bagi golongan kurang mampu, maka caranya sudah ada, tinggal implementasinya dipantau. Tapi jangan pernah mengusir orang mampu dari rumah yang mereka beli dengan hasil kerja keras mereka. Itu namanya memberikan kesempatan bagi orang gak mampu dengan cara menghukum orang mampu, hanya karena mereka punya uang lebih banyak. Konyol.

 

===

Berita 2: http://lipsus.kompas.com/gebrakan-jokowi-basuki/read/xml/2012/11/16/08444818/Basuki.Anak.Orang.Kaya.Punya.Alphard..Masuk.Al.Azhar

Quote: “Filosofinya, semakin kurang beruntung nasib seorang anak karena penghasilan bapaknya rendah sekali, gizinya kurang, IQ-nya pas saja untuk tidak dikatakan idiot, masukkan dia ke sekolah unggulan tersebut. Karena itu negara yang bayar,” kata pria yang akrab disapa Ahok itu dalam video di Youtube berjudul “14 Nov 2012 Wagub Bpk Basuki T Purnama menerima paparan Dinas Pendidikan”.

“Jika anak orang kaya punya Alphard, sekolah aja di Al Azhar. Anak saya pun tidak boleh sekolah di MHT karena MHT didirikan untuk anak-anak tidak mampu supaya mereka bisa mengubah nasib untuk masa yang akan datang. Jadi, jangan dibalik,” ujar Basuki lagi.

: end quote

=====

Berita kedua berbicara tentang kualifikasi siswa di sekolah MHT yang dibiayai pemprov. Niatnya mulia; menjamin anak kurang mampu mendapatkan kualitas pendidikan yang tinggi. Karena selama ini pendidikan tinggi diiringi dengan harga mahal.

Implementasinya sudah benar. Anak dari orang mampu tidak boleh masuk ke sekolah ini.

Tapi lagi-lagi paradigm Ahok mengganggu: “Jika anak orang kaya punya Alphard, sekolah aja di Al Azhar.” Paradigma yang terbaca adalah: kalo elo punya duit, elo harus beli yang mahal-mahal. Sama dengan paradigm kasus rumah.

Jika gue jadi anak, gue juga gak akan mau masuk MHT. Gak akan boleh masuk MHT pula. Tapi dengan gue punya uang, bukan berarti gue akan memasukkan anak gue ke sekolah mahal juga.

 

Gue jadi ingin meneliti lebih lanjut tentang sekolah MHT ini. Apa bedanya dengan SMAN 70 yang gue masuk dulu. Dan ITB yang gue masuk dulu. MHT, katanya sekolahnya dibiayai Negara. Well, guru SMAN 70 juga pegawai negeri kok. Itu dibiayai Negara kan? Beda sama SMA Swasta yang gaji guru dari SPP. Gue dulu bayar SPP hanya 10 ribu karena sisanya ditanggung anggaran daerah. Masuk ITB, dosennya juga pegawai negeri kok. Gue hanya membayar 1/13 dari biaya pendidikan sebenarnya. Apa bedanya MHT, SMA 70 dan ITB? Mereka sama-sama sekolah subsidi. Ada yang tau? Gue bener-bener gak tau. Jawaban dari pertanyaan gue ini lumayan penting sebenernya.

Jika system subsidi MHT beda dengan SMA 70, then memang fair. Mungkin MHT disubsidi lebih banyak, selain dari APBN, juga dari APBD gitu. OK lah kalo gitu sih memang orang mampu gak boleh masuk MHT. Gue juga gak maul ah masuk sana.

Tapi jika system subsidi MHT = SMA 70, gimana dong? Apa ini artinya gue gak boleh masuk SMA unggulan? Enak aja. Siapa Ahok membatasi kesempatan orang mampu? Untuk kasus ini, semoga gue aja yang salah. Dan gue berharap gue memang salah. Jika ingin memberikan pendidikan yang baik, ya perbanyak aja jumlah sekolah unggulan. Ngapain batas-batasin orang kiri kanan?

 

  1. Kebanyakan orang jadi mampu karena kerja kerasnya, karena doanya karena rezekinya. Itu udah urusan masing-masing. Tetangga kiri gue miskin. Tetangga kanan gue kaya. Tetangga gue yang kaya tidak bersalah atas miskinnya tetangga gue yang di sebelah kiri kan?
  2. jangan pernah membuat kebijakan berdasarkan paradigma di mana “jika elo mampu, elo harus lebih susah. Elo harus keluar duit lebih banyak.” Kita udah ada pajak. Udah bayar pajak. Kita udah zakat. Kita udah bayar zakat. Kita udah sedekah. Orang yang tergolong mampu, kebanyakan udah melakukan bagiannya dalam menyokong kehidupan bernegara dan beragama. Gak perlu dikotak-kotakkan orang mampu harus tinggal di pinggiran.
  3. Implementasi dari sekolah MHT dan apartemen kalibata sudah benar. Tinggal diawasi aja.
  4. Memberikan kesempatan pada orang tidak mampu tidak harus dengan memerkecil kesempatan orang mampu. Orang mampu menjadi mampu, kebanyakan tidak dengan merugikan orang tidak mampu itu.

 

Ps: Waktu pilkada kemarin, gue pilih Jokowi dan Ahok (round 2). Jadi gue punya tempat dan hak juga untuk ngomong gini.

Swasembada di Indonesia

Sebelumnya mohon maaf kepada pembaca blog gue Karen bahasan yang ada di bawah, kembali lagi sebuah bahasan serius. Sekarang Indonesia sedang disibukkan oleh kasus tersangka korupsi seorang anggota dewan, yang mana korupsi tersebut berada dalam bidang pertanian (sapi). Di sini gue ingin mengupas tentang swasembada dan kenapa kita beda denga Negara lain. Semoga ini membuat kita mengerti juga.

 

Berangkat dari Sapi

Dari tahun 2004, Indonesia melalui kementan menggagas dan menggegas agar Indonesia bisa swasembada daging sapi. Target awal 2010. Kemudian direvisi jadi tahun 2014. Definisi swasembada = ada cukup daging untuk memenuhi kebutuhan local. Ini, adalah definisi ekonomi. Yang lain, ekonomi dasar nih ya,

Swasembada adalah di mana produksi local = konsumsi + sedikit buffer.

Dalam definisi lain, swasembada adalah di mana produksi lokal = 90% konsumsi + 10% import.Pendekatan mana yang Indonesia ambil? gue gak tau.

Net eksportir adalah di mana produksi local > konsumsi

Net importer adalah di mana produksi local < konsumsi

Gue baca di twitter juga, ada seorang ulama yang mengatakan bahwa kementan dan semua pakarnya mengatakan bahwa progress swasembada daging sapi ini sudah mencapai 80%. Artinya produksi local dapat memenuhi 80% konsumsi. Maka dari itu, impor sudah mulai dapat dibatasi.

Di sini, mulai aneh semuanya. Logisnya putus. Mari kita tilas balik harga daging sapi.

Harga daging potong awal 2012 = rp 65 rb/kg vs. harga daging Negara lain 40-45 rb/kg.

Kita sudah 20% lebih mahal. Ini adalah kondisi di mana daging sapi dipasok dengan campuran local dan impor.

Harga daging potong Mei 2012 = rp 75 rb/kg

Ini adalah kondisi di mana pasokan masih campuran namun impor sudah dibatasi.

harga daging potong awal 2013 = rp 90 rb/kg

ini adalah kondisi yang sama. Pasokan masih campuran namun impor dibatasi.

pertama, inflasi daging sapi tu dari 65k ke 90k. itu 38%. Inflasi Negara kita aja paling parah 6%. Artinya kenaikan daging sapi >>>>> inflasi. Dan 38% ini adalah kenaikan dari 65rb/kg sementara Negara lain 40-45 rb/kg.

Kedua, jika pasokan local mampu mencakup 80%, artinya kekurangan hanya 20%. Teorinya, harga naik 20%. Dari 65rb ke 78rb. Tapi nyatanya meroket ke 90 rb/kg.

 

Ini fakta. Harga di pasar adalah fakta. Harga faktanya naik 38% dan terus naik. Pakar khusus, ngakunya cukup 80% pasar.

 

Pertanyaan yang muncul dari sini adalah, kenapa swasembadanya tidak di 100%kan dulu sebelum kuota dibatasi? Kenapa impor harus dibatasi ketika swasembada baru hanya 80%. Dengan kekurangan 20% saja, harga naik 38%. Mau sampai kapan seperti ini?

 

Nah sebelumnya, swasembada adalah ranah pertanian dan impor adalah ranah perdagangan. Apa ini artinya terjadi diskonek? Kementan belum beres swasembada tapi kemendag dan menkoekuin udah membatasi impor? Apakah kesalahan dalam koordinasi? Apakah kesalahan dalam kerja sama? Apakah memang ada yang niat buruk?

 

Pertanyaan-pertanyaan ini gak bisa gue jawab tentunya. Buntu di situ semua. Yang jelas, semua pertanyaan di atas berawal dari pertanyaan, jika memang swasembadanya SUKSES 80% dan on going, kenapa harganya naik 38% dalam satu tahun? Ingat, swasembada itu ada cukup barang untuk dikonsumsi dalam harga wajar.

 

Tentang Swasembada

Pertanyaan-pertanyaan di atas gak bisa terjawab. Namun memang memaksa kita untuk berpikir lagi tentang swasembada. By the way, ini omongan mulai lepas dari sapi ya. Kita masih ingat banyak rakyat, anggota DPR dan banyak golongan yang berteriak:

“IH! Gula aja impor!”

“Mau jadi apa Indonesia? Kedelai aja impor!”

“Kita ngapain aja? Beras kok impor dari Thailand”

“Hee? Garem impor? Sumpeh lo?”

“Sapi aja impor dari Amiriki? KONSPIRASEEEH!”

Apa yang sebaiknay kita swasembada?

Kita kembali lagi definisi atau prinsip. Prinsipnya, sebuah Negara akan menjadi efisien jika Negara itu mampu memroduksi local (swasembada) semua kebutuhan hidup yang mereka anggap penting. Ada 5 hal yang manusia Indonesia konsumsi dengan banyak:

Gandum/terigu, beras, kedelai, daging, minyak goreng. Gandum dan kedelai bukan termasuk sembako tapi kenyataannya kita membutuhkan kedua hal ini dalam jumlah yang luar biasa banyak.

OK, kita tau barang yang kita butuhkan untuk sebaiknya swasembada. Ini masih teorinya ya. Sekarang kita lihat resourcesnya. Kita punya gak?

Alat Pendukung swsembada (kita punya gak?)

Untuk swasembada semua hal di atas, kita butuh 3 hal. Iklim, landmass dan teknologi.

Iklim – kunci pertama swasembada

Kedelai adalah bahan dasar tempe dan kecap yang berasal dari kedelai. Roti dan mie berasal dari terigu dari gandum. Kedelai dan gandum adalah tenaman 4 musim. Indonesia sebagai pengonsumsi kedelai dan gandu yang besar, tidak memiliki iklim untuk menumbuhkan kedua tanaman ini. Jangan omongin lahan dulu, iklimnya aja. Mau sampe botak juga kita tidak akan mampu membuat sebuah iklim buatan yang cukup luas untuk menumbuhkan jumlah kedelai dan dan gandum yang kita butuhkan untuk swasembada. Makanya ketika beberapa orang koar-koar tentang kenapa kita harus impor kedelai dan gandum, 2-3 hari setelah itu, suara lantang mereka juga lenyap kok. Akal sehat aja. Seorang presiden yang pintar, akan selalu meninjau tiga hal ini,iklim, landmass dan teknologi.

Apakah kita punya iklim untuk menumbuhkannya?

Apakah kita punya cukup lahan untuk menumbuhkannya?

Jika lahan tidak cukup, apakah kita punya teknologi untuk intensifikasi panen? Panen 3-4 kali ketimbang 1-2 kali? Jika punya, berapa harga teknologi itu?

Jika iklim yang tidak cocok, apakah kita punya teknologi membuat iklim buatan? Jika iya, berapa harga teknologi itu?

Jika harga teknologi > harga impor, maka presiden yang memaksakan swasembada akan menghasilkan gandum dan kedelai yang mahal (karena teknologinya mahal). Presiden yang cinta sama rakyatnya gak akan tega menciptakan pasar dengan kecap 500 ribu/botol. Mending impor aja kedelai dari Negara yang memang memiliki lahan dan iklim untuk menumbuhkannya dengan teknologi rendah.

Itu sebabnya, Indonesia mengimpor gandum dari dari Australia, USA, Brazil dan Argentina. Mari kita lihat berapa sih lahan yang tersedia untuk setiap kepala, dari Negara-negara produsen gandum dan kedelai ini:

USA, 916 jt ha, 313 jt, 2.9 ha/org

Brazil, 845 jt ha, 205 jt, 4.1 ha/org

Australia, 767 jt ha, 22 jt, 34.8 ha/org

Argentina, 273 jt ha, 42 jt, 6.5 ha/org

Dan berapa Indonesia?

Indonesia, 182 jt ha, 237 jt, 0.76 ha/org

Lets say kedelai bisa lah tumbuh di Indonesia. Padahal tidak. Mau maksa numbuhin gandum untuk konsumsi 237 juta? Boleh. Itu htang lindung tolong ditebang. Ntar banjir gak usah komplen. Itu lahan sawah padi untuk dikonversikan. Ntar beras jadi 600 rb/kg ga usah komplen. Atau mau beras dan gandum? Bisaaa. Kita batalin aja semua kontrak pendirian pabrik untuk tenaga kerja. Nanti kalo pengangguran dan gak punya uang untuk beli kecap dan nasi, ga usah komplen.

 

Pemerintah memilih. Dan pemerintah gak bisa melawan dikte iklim.

 

Landmass – kunci kedua dari sasembada

Landmass? Benda apa itu? Kenapa itu penting? Indonesia tidak pernah punya masalah dengan landmass!! Ow? Really? Ini adalah daftar luas daratan Negara-negara di dunia:

http://beasiswa.ptkpt.net/_a.php?_a=area&info1=4

Ini adalah Negara-negara pilihan guekarena ada relevansinya denga tulisan gue.

Russia, 1700 jt ha, 138 jt, 12.3 ha/org

China, 937 jt ha, 1343 jt, 0.7 ha/org

USA, 916 jt ha, 313 jt, 2.9 ha/org

Brazil, 845 jt ha, 205 jt, 4.1 ha/org

Australia, 767 jt ha, 22 jt, 34.8 ha/org

Argentina, 273 jt ha, 42 jt, 6.5 ha/org

Perancis, 64 jt ha, 65 jt, 0.98 ha/org

New Zealand, 27 jt ha, 4 jt, 6.75 ha/org

Indonesia, 182 jt ha, 237 jt, 0.76 ha/org

Vietnam, 32 jt ha, 91 jt, 0.35 ha/org

Thailand, 51 jt ha, 67 jt, 0.76 ha/org

Indonesia hanya memiliki 0.76 ha/org untuk bertahan hidup. 0.76 ha/org ini harus dibagi untuk

Perumahan, untuk 237 juta orang,

industry, untuk lapangan kerja 237 orang itu

hutan lindung (untuk air),

pengairan (untuk industry dan pertanian),

pertambangan (mari kita akui, kalo ada kandungan emas atau minyak di atas sebuah sawah, mending menambang emas dan minyak) ,

swasembada beras, sapi, garam, minyak goreng, gula, (gandum dan kedelai sudah kita perlihatkan tidak akan mampu karena iklim).

Dengan 0.76 ha/org, memenuhi semua kebutuhan Negara di atas jauh lebih menantang ketimbang melakukannya di Negara lain seperti Australia atau Newa Zealand atau Brazil. Intinya yang gue ingin bilang adalah: dari awal, kita gak punya terlalu banyak landmass. Perkara apakah bisa atau tidak swasembada beras dan sapi, tinggal mikirin teknologinya. Gue bahas sapi dulu ya.

Australia, 767 jt ha, 22 jt, 34.8 ha/org

New Zealand, 27 jt ha, 4 jt, 6.75 ha/org,

USA, 916 jt ha, 313 jt, 2.9 ha/org dan

Argentina, 273 jt ha, 42 jt, 6.5 ha/org

Bandingkan dengan Indonesia: Indonesia, 182 jt ha, 237 jt, 0.76 ha/org

Sapi tidak membutuhkan iklim tertentu untuk berkembang biak. Ini kesempatan untuk Indonesia. Tapi sapi adalah hewan yang membutuhkan lahan luas untuk perkembang biakan. Lebih tepat lagi, pakan sapi membutuhkan lahan yang luas. Ini bisa diakalin sama teknologi dan industry yang terintegrasi sebenernya. Gue akan jelaskan.

Yang pemerintah sudah lakukan untuk swasembada sapi sebenarnya sudah tepat. Eg: mereka tahu impor daging potong mahal. Maka mereka tidak membeli daging potong. Tapi mengimpor bibit sapi muda. Mereka ternakkan di Indonesia. Pakannya gimana? Indonesia juga impor kok. Animal feed itu banyak sekali impornya ke Indonesia dari US. Indonesia tahu bahwa mereka gak punya lahan untuk memanen pakan ternak. Jadi ketika pemerintah mereka ingin swasembada sapi, mereka bermaksud bilang swasembada DAGING sapi. Bibitnya masih impor. Pakannya impor. Tapi gak papa. Ini sudah cukup bagus. Indonesia cukup pintar. Bibitnya juga tidak selalu harus diimpor. Cukup beli bibit beberapa kali, dan kembang biakkan di Indonesia.

Yang tidak pintar adalah ketika swasembada daging sapi belum mencapai 100% + buffer tapi impornya sudah dibatasi. Itu yang menyebabkan harga naik dari 65 rb/kg ke 90 rb/kg (38%) > dari inflasi Negara.

Bisa jadi ini salah perhitungan dari kemendag. Bisa jadi ini adalah salah koordinasi antara kementan dan kemendag. Entah lah, pemerintah juga tidak pernah bagus dalam memberitakan progress bagus dan prestasi mereka dan selalu membiarkan media memberitakan progress buruk dan set back mereka.

 

Teknologi – Kunci ketiga dari Swasembada

Kita mengimpor beras dari Negara-negara ini:

Vietnam, 32 jt ha, 91 jt, 0.35 ha/org

Thailand, 51 jt ha, 67 jt, 0.76 ha/org

Tambahan juga, jepang juga swasembada beras ya.

Bandingkan dengan Indonesia, 182 jt ha, 237 jt, 0.76 ha/org

Iklim, kita tahu kita punya.

Lahan, nah ini dia. Thailand dan Vietnam memiliki luas lahan/kapita yang sama dengan Indonesia. Kenapa kok ya kita masih impor dari mereka? Yang gue tahu:

Pertama, kita sebenarnya sudah hampir mampu swasembada. Impor beras itu sebatas untuk buffer. Ingat bahwa swasembada itu = konsumsi + buffer.

Kedua, teknologi kita lebih buruk dari mereka. Untuk setiap petak sawah, teknologi yang mereka gunakan lebih baik dari kita sehingga bisa panen lebih banyak dan lebih sering.

Ketiga, konsumi beras kita lebih tinggi karena kita tidak mampu (atau mau) makan yang lain. Konsumsi beras orang Indonesia 139 kg/orang. Bandingkan dengan Cina yang 100 kg/orang ata jepang yang 70kg/orang. Gak salah juga sih karena kentang juga gak bisa tumbuh di sini dengan skala besar. Gandum bukan tanaman tropis. Ini kenyataan hidup aja. Pemerintah juga sadar bahwa kjika mereka suruh kita makan mie, impor gandum akan lebih besar dari sekarang.

Tahukah kalian, penggilingan gandum terbesar di dunia di mana? Di Sumatera, namanya Indofood I. Tahukah kalian penggilingan gandum kedua terbesar di dunia? Di sebelahnya. Namanya Indofood II. Jadi menjawab pertanyaan apakah konsumsi 139 kg/kapita itu sudah dengan mencampur dengan konsumsi staple lain? Sudah kok. Tap kita ga punya iklim untuk tani gandum. Itu aja.

Jadi sudahlah, kalo memang kita mampunya makan beras ya mau diapain lagi? Jepang dan Cina konsumsinya bisa rendah karena luas Negara mereka mencakup iklim tropis (bisa panen beras) DAN subtropis (bisa panen gandum >> terigu >> mie).

Gue lebih concern kepada teknologi yang kita gunakan untuk swasembada beras. Di atas kertas, jika kita menerapkan teknologi yang sama dengan Vietnam dan Thailand, kita akan mampu untuk swasembada beras (local + buffer) DAN masih bisa ekspor.

Produktivitas lahan tergantung dari teknologi pengairan, suplai air, bibit unggul yang digunakan.

Sekarang kita memiliki produktivitas 5 ton/ha sawah. Genetic engineering sangat kita perlukan untuk menghasilkan padi tahan hama dan yang mampu panen 3-4 kali pertahun ketimbang sekarang (terakhir gue baca, 2-3 kali setahun ). Dengan ini, diharpakn produktivitas tahunan meningkat >> 5 ton/ha sawah.

Bisa dilakukan? Bisa. Thailand adalah contoh yang sangat baik dalam genetic science untuk hasil tani mereka. Itu sebabnya semua durian di Thailand bijinya kecil dan dagingnya besar. Ini sebabnya thailand dengan raio landmass yang sama 0.76 ha/orang dengan indonesia, mampu mengekspor beras dan kita terkadang mampu dan terkadang tidak. Jika negara lain mampu melakukan inovasi dalam teknologi, maka Indonesia harus bisa. Inovasi teknologi bergantung pada otak manusia. beda dengan iklim dan landmass yang merupakan takdir yang tidak dapat kita ubah, kita semua terlahir dengan otak yang sama.

 

Apakah kita bisa swasembada beras? Bisa. Lahan terbatas tapi bisa. Tinggal kitanya aja mau gak jadi orang pinter menambahkan teknologi.

Apakah kita bisa swasembada sembako yang lain? dalam strategic management, ada istilah, choose your battles. Choose the battles that we can win. We can win on beras. We may win on daging sapi. We cannot win on gandum and kedelai. We already win on minyak goreng (secara ya banyak bener plantasi kelapa sawit)

Gula dan garam? mari pakai akal sehat saja. Jika memang tidak mampu karena lahan terbatass jangan dipaksakan. kondisi sekarang dengan porduksi lokal + impor, gula dan garam harganya X. Jika maksa swasembada dan harganya menjadi 2X, itu akan membahayakan hajat hidup orang banyak.

Apakah kita bisa swasembada DAGING sapi? Gue akan berprasangka baik dan percaya pada angka 80% ini. Tapi sampai target demand local + buffer tercapai, impornya jangan dikurangi. Kasian rakyat.

Sebenernya dengan harga naik 38%, gue jadi ingin riset lebih lanjut, apa benar swsembada daging sapi kita sudah sampai di 80%? Jangan-jangan tidak. isu yang santer sekarang adalah produksi lokal sudah 80% dan impor 20% tapi stoknya dipermainkan agar ada keuntungan yang diambil. Ini adalah perkara hajat hidup orang banyak. Siapa pun yang mengambil keuntungan layak diparut mukanya.

Itu aja sih. Udah malem. Tidur dulu. Thanks for reading guys.

Kita dan Makanan

Berawal dari sharing gue di twitter tentang makanan, gue akhirnya bikin juga posting blog ini.

 

Generasi Dulu dan Sekarang

Tentang makanan dan pola hidup, ada beberapa hal yang berbeda antara generasi bapak kita dan generasi kita sekarang. Gue kupas satu persatu ya.

  1. Ketika bapak dan ibu gue dan teman-teman segenerasi mereka melahirkan kita, semuanya melahirkan anak yang sehat. Tapi ketika generasi kita melahrikan anak-anak kita (cucu mereka), kita melihat bertambahnya anomali seperti, autism, anak bayi yang lahir tanpa anus. Atau paru-paru di luar badan. Jantungnya gak punya klep yang sempurna. Bayi lahir tanpa tempurung otak.
  2. Ketika bapak dan ibu gue dan teman-teman segenerasi mereka mencoba punya anak, hanya sedikit sekali yang tidak berhasil. Di generasi kita, mari kita lihat kiri-kanan. Pasti ada 1 teman SMP kita yang susah punya anak. Ada 1 lagi di SMA. Ada 1-2 lagi di teman kuliah. Ada yang terkena rubella lah. Ada yang terkena toksoplasma lah. Banyak dan miris mendengarnya.
  3. Ketika kita semua masih kecil, satu kompleks biasanya didatangi oleh 1 tukang somay, 1-2 tukang baso, 1 tukang bubur ayam keliling dan lainnya. JAman sekarang, kalo kita jalan di trotoar jalan KH Mas mansyur, dalam jarak 700 meter gue melihat setidaknya 5 tukang bubur ayam bersaing.

 

Semuanya menuju ke satu hal. Bahwa pola hidup generasi kita ternyata melahirkan generasi anak dengan kelainan yang meningkat. Apa penyebabnya? Ada 3 hal yang kita konsumsi setiap hari. Udara, makanan dan air.

 

Makanan Dulu dan Sekarang

Udara yang kita hirup lebih banyak polusi. Buruknya pemerintah mengelola Negara berbuntut pada kondisi di mana kita memiliki terlalu banyak mobil, mengonsumsi terlalu banyak bensin dan menghasilkan terlalu banyak polusi. Namun ini adalah sesuatu yang tidak dapat kita hindari. Udara adalah sesuatu yang kita tidak dapat pilih untuk hirup atau tidak. Jadi mari kita tidak perlu bahas udara.

Makanan. Ini yang menjadi pokok bahasan gue. Setidaknya waktu gue kecil, Jumlah itu ga banyak-banyak amat. Seperti yang tadi gue bilang. Sekomplek itu ga seberapa banyak lah tukangnya. Mereka juga orang-orang yang menjadi langganan kita. Lha sekarang? Gila tukang bubur ayam berserakan di mana-mana. Pedagang kaki lima (K5) jadi punya banyak saingan. Di saat yang sama, di generasi kita ini mulai terungkap banyak hal. Berikut adalah kasus-kasus yang pernah terjadi. Kita bisa google sendiri kok.

  1. Jualan martabak, ternyata dagingnya pake daging busuk (lebih murah, cost cutting).
  2. Jualan nasi goreng, ternyata nasinya adalah nasi basi yang dibeli dari sisa vendor catering (lebih murah, cost cutting).
  3. Makan somay pinggir jalan, ada kaki kecoanya terselip dalam satu somay (Mungkin orangnya ga mampu ngontrak tempat bersih di saat mengolah somay mentahnya).
  4. Air minum dan es batunya dari air mentah (kalo masak airnya dulu, jadi mahal, cost cutting).
  5. Jualan bubur ayam, ayam yang digoreng adalah ayam mati kemaren (lebih murah, cost cutting).
  6. Jualan baso, pake boraks biar awet dan gak buang stok (reduce waste, cost cutting).
  7. Jualan tahu pake formalin biar awet dang a buang stok (reduce waste, cost cutting).
  8. Makan gudeg di pinggir jalan ganesha, tepat di depan tai kuda yang mongering.
  9. Makan di pinggir jalan yang ada lalatnya. Kita ga tau apakah lalatnya cukup santun untuk cuci kaki dulu setelah sebelumnya dia hinggap bangkai tikus 200 meter di kanan.

 

Kenapa ini terjadi? Mungkin karena harga makanan gak bisa terlalu mahal. Kalo mau pake daging yang busuk atau tiren, pedagang bisa cost cutting. Kenapa sih cost cutting jadi idola? Karena saingan banyak dan harga jual ga bisa mahal-mahal. Dulu, orang desa migrasi ke Jakarta karena Jakarta adalah land of opportunity. Dengan jualan baso, dia masih bisa kirim banyak uang ke kampong. Itu generasi dulu. Generasi sekarang? Jakarta sudah berubah jadi land of opportunists. Jika tidak cost cutting, maka lebih sedikit uang yang terkumpul.

 

Pastinya masih lebih banyak pedagang K5 yang jujur. Yang beli daging ayam segar. Yang beli daging sapi yang ga busuk. Yang masak airnya dulu sebelum dijadikan es. Tetap saja jika dia jualan di tempat yang lingkungan kotor, ada lalat yang menghinggapi dan kita gak tau lalat itu dari mana.

 

Gue bukan dokter dan tidak memiliki data untuk membuktikan korelasi antara bayi lahir cacat dan jumlah tahu dan baso yang orang tua konsumsi sebelumnya. Tapi tolong tunjuk tangan jika ada yang setuju bahwa makan formalin dan daging busuk itu sehat dan halal. Bahwa daging ayam mati kemaren benar-benar tidak ada 100% aman dan tidak ada korelasinya dengan sakit. Mohon tangannya. Ga ada kan? Setuju kan semuanya bahwa jika pun hubungannya dipertanyakan, cheating dalam berjualan makanan itu sangat keji dan berbahaya.

 

Gue pribadi juga sering makan di warung. Tapi warung itu terpercaya. Sudah tahunan. Dalam warung itu, ada air keran yang mencuci piring. Ada panic yang masak air panas untuk minum. Lha kalo gerobak langganan? Meski langganan tahunan juga tetep aja gerboak. Logikanya, gerobak = mobilitas tinggi = akses ke air bersih ga ada = cuci piring pake apa? Dia pipis di pinggir jalan megang anunya, cuci tangan pake apa? Iya kalo baek anunya bersih. Kalo dia baru semalem pulang dari lokalisasi gimana? Paling aman ya memang warteg sih. Di dalam. Kita bisa liat kompornya masak air. Kita bisa liat ikannya dimasak sendiri. Itu mengurangi resiko daging curang dan air mentah, setidaknya. Meski gak mengurangi resiko lalat yang menghantarkan tipus, hepatitis dan berbagai macam penyakit lain juga. Selama ini gue makan di kantin basement. Air keran ada. Mereka cuci piringnya. Mereka masak makanannya. Dan lalat ga ada.

 

We owe it to ourselves to stay healthy. We owe it to our children to be a healthy parent and giving birth to healthy children. Segitu aja tweeps. Thanks.

 

 

 

 

Jualan DVD Jomblo (Film & Serial)

Dear pembaca yang setia mantengin blog gue karena kangen sama kegantenjgan gue yang mendunia ini… *tiaraaap*

 

Jadi ini. Selama tahun 2077 sampe 2011 kemaren, banyak orang yang nanya sama gue, di mana mereka bisa DVD film dan serial TV Jomblo. well, waktu itu udah abis.

 

Gue inisiatif nanya ke sinemart dan mereka bersedia mencetak ulang DVD untuk film dan serialnya. Lumayan terbatas. Maksud gue, kalo ada satu juta orang mau beli, ya gak akan cukup. (siapa juga yang mau beli satu juta kopi, ngeheee….)

 

DVD Film Jomblo

Harganya 39000 + ongkos kirim ya.

Hanya bisa dibeli eksklusif di sini: http://books.istribawel.com/detail-jomblo-film.html

 

 

 

 

 

 

 

DVD Serial TV Jomblo

Harganya: 105000 + ongkos kirim

Hanya dijual eksklusif di sini: http://books.istribawel.com/detail-jomblo-serial-tv.html

Ada sedikit disclaimer tentang serial TV Jomblo ini guys, sebaiknya kalian baca dulu ya.

 

1. Serial Jomblo ini ceritanya kurang tersusun rapi. Kerangka cerita untuk satu season sebenarnya ada, namun cerita per episode kerap menjadi berbeda demi rating.
2. Mungkin ini akan terasa sejalan dengan kalian menyaksikan serial jomlo, terutama di episode 9 ke atas, di mana waktu itu gue dan tim penulis pada dasarnya udah putus asa menjadi budak rating dan mencoba bereksperimen.
3. Bagi yang mengikuti dari awal, hasil eksperimen ini terasa garing, beberapa bilang tidak bermutu, dan ada yang bilang agak kasar dalam konteks menyerempet porno.

Untuk semua ini, gue ingin meminta maaf di depan jika kalian memiliki ekspektasi yang berbeda dengan apa yang kalian lihat di episode-episode akhir.

Serial ini dicancel oleh RCTI karena rating yang rendah di tahun 2007.

 

So there you have it. In case kalian berada di luar negeri, mungkin kalian bisa titip beliin oleh sanak saudara karena mohon maaf gue gak melayani pengiriman ke luar negeri euy.

 

OK deh, gue tunggu ya pesanan dari kalian. sebelumnya gue haturkan terima kasih bagi mereka yang udah nanya-nanya selama ini. Membuat gue terharu karena ada juga yang minat koleksi.

Rgds.

 

 

Pre-Order – Joker by Valiant Budi Yogi


Hi guys, ada kesempatan untuk Pre-order nih. Dapet tanda tangan dan ketjup matjoh dari penulisnya sendiri huhuuu…

Joker adalah sebuah buku lawas dari Valiant Budi Yogi (@vabyo) yang harus kamu miliki. Buku ini mengantarkan Budi nominasi Penulis Muda Berbakat dari Khatulistiwa Award 2007. Joker akan di rilis ulang pertengahan/akhir Janurai 2012 di toko buku terdekat. Tapi kamu bisa mendapatkan jauh lebih dulu di www.books.istribawel.com

How To Pre order

1. Batas akhir Pemesanan dan Pembayaran sampai tanggal 3 Januari 2012 pukul 23:59

2. Buku dikirimkan 5 Januari 2012

3. Jika ada buku lain yang dipesan bersama Preorder Joker ini, maka semua buku akan dikirimkan tanggal 5 januari 2012.

the Book:

Ketika yang kamu kejar ternyata bukan yang kamu inginkan—semua yang klise ternyata tidak biasa—atau batu justru berada di balik udang.

Mungkin kamu baru saja bertemu dengan seorang Joker.

Hati-Hati

Gak semua yang tampak seperti yang terlihat

Gak semua yang bunyi seperti yang terdengar

the Buzz:

“Banyak keganjilan di buku ini yang berhasil bikin gue penasaran buat membuka halaman demi halaman. Begitu dapet jawabannya, malah bikin tercengang!”

— Morgan Oey (Penyanyi)

“Amati baik-baik sebuah kartu Joker dan temukan bahwa sang badut itu tidak sepenuhnya melucu atau tertawa. Selalu ada sisi mengejutkan darinya. Temukan kejutan itu dalam Joker yang kocak dan misterius ini.”

— Icha Rahmanti (Penulis)

“Joker celebrates our right to be young, smart, and rebelliously immature.”

— Willy Priyoko (Broadcaster)

“…Membaca detail Joker seperti membaca serangkaian pelajaran tentang hidup, tanpa tersadar kalau sedang diajari. Pemikiran liar dan absurd terhadap karakter Brama membuat saya tergelitik untuk terus membuka halaman demi halaman….”

— Mhala (Vokalis Numata, song writer)

“Cerdik dan mengena. Awalnya saya ‘takut’ membacanya, tetapi sekarang saya bangga telah menjadi setitik inspirasi yang turut mengisi lembaran Joker. Selamat menikmati.”

— Mario (Vokalis Kahitna)

Ditunggu ya orderannya.
Rgds.

Catatan Mahasiswa Gila – Preorder

Dear readers, after 4 years, please accept my humble offerings, sebuah buku non-fiksi:

Bisa dipesan di www.plasa.com atau klik di banner atas yaaaa.

Terima kasih sudah menunggu 4 tahun.

Your humble writer/ Adhitya

Toko Buku Kami

Guys, kita buka toko buku nih. Khusus buku-buku kita.

Kalo ada yang kesulitan cari buku kita, ke sini aja. Dan, semua buku memakai tanda tangan.

Ini dia linknya:  http://books.istribawel.com

Sila divisit. Thanks ya.

Jualan Buku – Sundul Gaaaaan

Reposting karena udah terlalu di bawah sana.

Semua buku yang dijual adalah signature edition. Untuk how to order, silahkan lihat di bawah ya. Terima kasih dan ditunggu orderannya. Thanks in advance rgds.

Testpack cover baru: 39000

4 Musim Cinta: 33000


Jomblo: 27000

GMC: 31000

Travelers Tale: 44000

KPG: 29000

Kamar Cewek: 29000

Chocoluv: 29000

Heart: 17000

Caranya:

1. Kirim email ke gue berisikan alamat pengiriman kalian dengan format di bawah:

nama

alamat

kode pos + kota

Nomor HP (Di kala kurirnya nyasar, mereka ingin bisa menelfon penerima)

email gue: adhitya.mulya@gmail.com

2. Ntar gue cek stoknya, kalo ada gue email balik dan kirim langsung ke alamat lo.

3. Upon confirmation gue, kalian transfer uangnya + ongkos kirim

Ongkos kirim dalam Jakarta

Beli 1 atau 2 buku = Ongkir Rp 5000

Beli > 2 buku = 2500

Ongkos kirim luar Jakarta (Tangerang & Depok terhitung luar Jakarta) = ntar gue kasih tau dalam emailnya

Sekali lagi, email gue: adhitya.mulya@gmail.com

Sedekah #2

Wah udah lama banget gak punya kesempatan update blog. Sejak kembali ke Jakarta, kita numpang dulu di rumah bokap sampai kita nemu rumah baru. Di rumah tempat gue tumbuh besar ini, somehow ISPnya gak bisa buka wordpress dan atau suamgila. Jadilah gue coba-coba hampir tiap hari dan dari sebualanan ini, baru sekarang tiba-tiba “eh bisa!”

Ya udah gue posting. Tema yang gue pengen angkat di postingan kali ini adalah, kembali, sedekah. Hampir 1 tahun yang lalu gue menulis posting ini:

http://suamigila.com/2009/07/21/sedekah/

Gak gue sangka, yang respon 112. Orang gila. Sepertinya ini postingan dengan komen terbanyak top 5. Yang gue inget itu komen terbanyak pas nerbitin buku jomblo, buku GMC dan pas nikah.

Makin ke sini, komennya makin sadis. Gue gak tau teknologi ngeceknya tapi gue curiga postingan itu di link ke sebuah forum atau milis penggemarnya ustadz YM. Dibilangin suruh belajar agama lah etc etc. Komentar yang paling sering keluar bisa di intisarikan seperti ini:

wajar kalo kita pamrih. Kita sholat aja pamrih meminta ini itu ke Allah.

Yang lucunya ada yang sampe berusaha membuktikan. Ada yang sholat jumat, kasih sedekah dan abis itu dapet uang 400 dolar. Anjuran dia, gak usah dengerin omongan gue.

Gak setuju sama gue sih silahkan. gue gak akan mati dengan ribuan orang gak setuju. Hidup mati gue gak ditentukan berapa banyak follower, fans atau berapa orang yang membenci gue. Tapi kemudian ada beberapa hal dari komentar orang yang bersebarangan dengan gue yang lumayan menarik.

1. Bahwa sedekah dengan pamrih pada Allah itu wajar.

2. Lha wong kita sholat aja pamrih kok. Pamrih untuk diampuni dosanya, etc etc.

3. Lha wong kita sholat aja pamrih kok, untuk meminta ini itu.

Gue setuju dengan dua dari tiga poin ini. Yang mana artinya yang kontra dengan gue salah baca atau gue yang salah tulis.

Yang gue setuju: Bahwa sedekah dengan pamrih pada Allah itu boleh.

Yang gue NGGAK setuju: Bahwa kita sedekah 100 ribu ke seseorang, dan secara matematis menuntut 1 juta dari Allah untuk dikembalikan. Ini mentalitas yang sangat berbahaya karena eksesnya:

Ini mendidik orang untuk berpegang pada prinsip: bahwa jika kita lagi kepepet butuh uang, kita sedekah. Pertanyaan gue: Kalo gak kepepet? mau kita apain duit kita?

Di bawah adalah potensi kesalahpahaman yang dapat terjadi jika orang salah mengerti ajaran Ustadz YM ini:

Kita lagi kepepet butuh uang 10 juta. kemudian ada tetangga kita dateng.

“Pak Kasian Pak, anak saya sakit.”

“Oh iya. Kebetulan saya juga lagi butuh 10 juta. Bu, ini 1 juta silahkan pake.”

kalo kita lagi gak kepepet:

“Pak Kasian Pak, anak saya sakit.”

“Wah gue lagi gak butuh duit nih. Gak usah lah. Bu minta tolong aja sama tetangga yang depan.”

Muslim seperti ini yang kita cita-citakan? Beneran muslim seperti ini yang kita ingin? Mentalitas seperti ini yang ustadz YM inginkan dari 87% x 238 juta orang Indonesia?

Muslim seperti ini, jika sedang butuh duit, anak tetangga akan selamat. Kalo lagi gak butuh, anak tetangga mati dia gak peduli.

Niatnya sedekah udah salah. Niatnya sedekah bukan agar sedekahnya terpakai di jalan Allah dan dipakai umat-Nya. Niatnya gak tulus meringakan beban umat.  Tapi niatnya udah langsung narsis balik ke diri kita, agar kita untung. Profit.

2. Dari sudut pandang gue, kita tidak pantas me-matematika-kan sifat pemurah Allah. Bahwa dengan menolong orang dengan 100 ribu, kita berhak untuk dalam hati menuntut “Allah, I expect you to give me back 1 juta.” Emangnya elu siapa? Engkongnya Allah? Berani-beraninya elu menuntut seperti itu? Siap-siap aja disamber petir. Di bawah adalah celah kesalahpahaman orang yang mendengar ceramah ustadz YM.

Gue mau beli motor 15 juta. kurang 5 juta. Ah beres. Gue gak perlu kerja keras. gue keluarin aja 500 ribu, sumbangin ke mesjid, ongkang-ongkang kaki dan tuntut ke Allah “Ya Allah, ini udah 500 ribu nih. Besok dapet 5 juta ya.”

Mau jadi muslim macem apa kita? Muslim kayak gini cita-cita kita? Muslim yang nggak bekerja keras. Muslim yang bergantung dan yakin bahwa keajaiban akan datang. Muslim yang mematematikakan keajaiban itu.

Iya bahwa sedekah tidak akan membuat kita miskin. Iya bahwa Allah pasti memberikan imbalan. Tapi jangan kira kita punya derajat kepintaran yang sama dengan Allah untuk membayangkan kita akan dapat eksak 1, 2 atau 10 juta.

Gua bukannya mau ngajarin bagaimana sebaiknya sedekah. Silahkan aja mau sedekah dengan niatan apa. Tapi asal tau aja,di tingkatan yang sangat personal, ini yang gue niatkan saat sedekah:

Ya Allah, kusedekahkan hartaku ini untuk dipakai sebaik-baiknya dijalanMu. Untuk dipakai sebaik-baiknya oleh umatMu. Semoga sedekah ini menjadikan diriku dalam lindungan Mu dan di dalam jalan Mu yang lurus. Semoga Engkau melancarkan urusanku sebagaimana sedekah ini melancarkan urusan umatMu. Amin.


Gue lakukan ini saat gue butuh dan gak butuh bantuan. Gue lakukan ini tanpa mengharap investasi yang balik dengan sejumlah uang yang eksak. Gue gak demand spefisically “Ya Allah, ini 500 ribu, saya butuh 200 juta, tanggal 15.” Yang gue doakan adalah agar urusan gue dilancarkan. Dan semua urusan gue ya kan ujung-ujungnya nafkah dan tabungan yang mana duit semua. Dan bahwa dengan gue sedekah, ya gue tetep usaha. hanya saja sepertinya berkat sedekah dan niat ini, semua usaha dan urusannya lancar. Ini pamrih gak pada Allah? Jelas ini pamrih, saya akui. Tapi gue gak mau melupakan sisi kemanusiaan dari sedekah ini.

Bahwa sedekah ini bukan hanya untuk pamrih agar ikhtiar lancar. Tapi agar sedekah ini memberikan kebaikan pada umat. Ini yang penting untuk diingat. Karena jika kita melupakan sisi kemanusiaan ini, di kala kita tidak kekurangan apa pun sementara jutaan orang lain kekurangan, kita jadi ngerasa gak perlu sedekah.

Untuk mayoritas komentator posting ini yang kontra dengan gue:

- Niat sang ustadz baik. Tapi konstruksi logika yang beliau bangun, berpotensi untuk orang salah tangkap.

- Hanya karena dia ustadz dan gue nggak, tidak membuat dia lebih baik dari gue. hanya karena dia ustadz, tidak membuat dia lebih kompeten untuk mengupas agama dari gue. Gak membuat elo, lebih baik dari gue. dan gak membuat gue, lebih baik dari sang ustadz dan elo. Malah jika dia membuat ribuan orang salah paham, tanggung jawab dia di kemudian hari sangat berat.

- Bener banget bahwa sah-sah aja pamrih sama Allah. Jika bukan pada dia, ya pada siapa lagi. Kita shalat wajib dan sunnah bahkan sedekah untuk meminta agar ikhtiar lancar. Itu pamrih. Tapi jangan lantas membangun mentalitas, kalo kita kepepet, kita nolong orang/sedekah. Karena kalo konstruksi logika ini yang dibangun, kalo kita udah sukses, gak nolong orang/sedekah? di mana segi kemanusiaan kita?

Rgds.

Celoteh Suami

istri: Kamu kok gak bilang ke saya minggu depan ada BBQ alumni ITB?

suami: Waduh iya. Maaf ya. Suka lupa aja.

istri: Iya.

suami: maksud saya, suka lupa aja udah punya istri.

dan sodara-sodara, itu lah contoh komentar yang akan mendaratkan anda tidur di sofa malam ini.