Category: social

How Islamic, Are Islamic Countries?

Masih inget postingan gue yang ini?
http://suamigila.com/2011/03/16/akar-masalah-negara-ini/

Ada uneg-uneg lebih lanjut nih. Kita tinggal di negara yang populasi islamnya tertinggi. Negara yang semarak pengabdian ritualnya (hubungan dengan Allah) sangat kental. Namun gue selalu ngeliat bahwa ajaran islam pada masyarakat kita tidak membentuk karakter yang islami.

Korupsi marak dan mendarah daging. Di jalanan, orang gak bisa antri. Maen serobot aja. Mobil boleh deh Kijang Innova 200 juta. Mental antrinya kayak tai. Ibu-ibu boleh deh pake jilbab. Giliran antri Transjakarta, maen serobot. banyak orang yang shalat tapi gak seua dari orang itu terbentuk karakternya oleh sholat dan Al Quran yang mereka baca.

Justru di Indonesia, rugi jadi orang baik. Rugi kalo mengikuti aturan. Antri bikin paspor bisa 1 hari lebih. Orang yan bayar calo bisa 1 jam selesai. Antri macet gak pake serobot bisa 3 jam stuck. Maen serobot bisa 1 jam. Di kerjaan, gak mau korupsi justru dikucilkan dan disusahkan karirnya karena kiri kanan dan atas maen korupsi semua.

Mau ngadu? Mau lapor? Sistem keadilannya gak jalan. Jaksanya maen tuntut dengan hukuman ringan, hakimnya bisa diatur. Orang yan melanggar atau orang yang korupsi, lebih enak hidupnya. Orang baik, susah. Sistem keadilannya tidak memerlihatkan bahwa Kejahatan Akan Diganjar. Apa hubungannya sistem keadilan dengan islam? Kan neara kita bukan negara islam. Betul. Tapi kita negara dengan populasi islam 87% dari 230 juta. Artinya meski sistem keadilan kita bukan negara islam, tetap 8 dari 10 jaksa, 8 dari 10 hakim, 8 dari 10 polisi, adalah orang islam. orang islam yang baik akan menunaikan profesinya dengan baik. Ini tidak terjadi. Sholat jumat aja kenceng. Lebaran aja kenceng. Tapi nilai dari ibadah itu tidak dipraktekkan.

Semua ini membuat gue bertanya, sebenarnya seberapa islam kah negara kita? seberapa jauh kah orang indonsia, yang 8 dari 10 orangnya muslim, enegakkan ajaran agamanya dalam perilaku sehari-hari?

Pertanyaan gue akhirnya terjawab dala artikel kompas di bawah ini.
(di copy paste dari kompas)
——————————————————-
Keislaman Indonesia

KOMPAS | Sabtu, 5 November 2011 | 09:03 WIB

Oleh : Komaruddin Hidayat,

Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Sebuah penelitian sosial bertema ”

How Islamic are Islamic Countries” menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140.

Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial?

“Kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam ketimbang yang mereka jumpai, baik di Indonesia maupun di Timur Tengah ”

Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.

Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei.

Pengalaman UIN Jakarta

Kesimpulan penelitian di atas tak jauh berbeda dari pengalaman dan pengakuan beberapa ustaz dan kiai sepulang dari Jepang setelah kunjungan selama dua minggu di Negeri Sakura. Program ini sudah berlangsung enam tahun atas kerja sama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, dengan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta.

Para ustaz dan kiai itu difasilitasi untuk melihat dari dekat kehidupan sosial di sana dan bertemu sejumlah tokoh. Setiba di Tanah Air, hampir semua mengakui bahwa kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam ketimbang yang mereka jumpai, baik di Indonesia maupun di Timur Tengah. Masyarakat terbiasa antre, menjaga kebersihan, kejujuran, suka menolong, dan nilai-nilai Islam lain yang justru makin sulit ditemukan di Indonesia.

Pernyataan serupa pernah dikemukakan Muhammad Abduh, ulama besar Mesir, setelah berkunjung ke Eropa. “Saya lebih melihat Islam di Eropa, tetapi kalo orang Muslim banyak saya temukan di dunia Arab”, katanya.

Kalo saja yang dijadikan indikator penelitian untuk menimbang keberislaman masyarakat itu ditekankan pada aspek ritual-individual, saya yakin Indonesia menduduki peringkat pertama menggeser Selandia Baru. Jumlah yang pergi haji setiap tahun meningkat, selama Ramadhan masjid penuh dan pengajian semarak dimana-mana. Tidak kurang dari 20 stasiun televisi di Indonesia setiap hari pasti menyiarkan dakwah agama. Terlebih lagi selama bulan Ramadhan, hotel pun diramaikan oleh tarawih bersama. Ditambah lagi yang namanya ormas dan parpol Islam yang terus bermunculan.

Namun, pertanyaan yang kemudian dimunculkan oleh Rehman dan Askari bukan semarak ritual, melainkan seberapa jauh ajaran Islam itu membentuk kesalehan sosial berdasarkan ajaran Al Quran dan Hadis.

Contoh perilaku sosial di Indonesia yang sangat jauh dari ajaran Islam adalah maraknya korupsi, sistem ekonomi dengan bunga tinggi, kekayaan tidak merata, persamaan hak bagi setiap warga Negara untuk memperoleh pelayanan Negara dan untuk berkembang, serta banyak aset sosial yang mubazir. Apa yang dikecam ajaran Islam itu ternyata lebih mudah ditemukan di masyarakat Muslim ketimbang negara-negara Barat. Kedua peneiliti itu menyimpulkan:

… it is our belief that most self-declared and labeled Islamic countries are not conducting their affairs in accordance with Islamic teachings – at least when it comes to economic, financial, political, legal, social and government policies.

Dari 56 negara anggota OKI, yang memperoleh nilai tertinggi adalah Malaysia (urutan ke-38), Kuwait (48), Uni Emirat Arab (66), Maroko (119), Arab Saudi (131), Indonesia (140), Pakistam (147), dan terburuk adalah Somalia (206). Negara barat yang dinilai mendekati nilai-nilai Islam adalah Kanada di urutan ke-7, Inggris (8), Australia (9), dan Amerika Setikat (25).

Sekali lagi, penelitian ini tentu menyisakan banyak pertanyaan serius yang perlu juga dijawab melalui penelitian sebanding. Jika masyarakat atau negara Muslim korup dan represif, apakah kesalahan ini lebih disebabkan oleh perilaku masyarakatnya atau pada sistem pemerintahnya? Atau akibat sistem dan kultur pendidikan Islam yang salah? Namun, satu hal yang pasti, penilitian ini menyimpulkan bahwa perilaku sosial, ekonomi, dan politik negara-negara anggota OKI justru berjarak lebih jauh dari ajaran Islam dibandingkan negara-negara non-Muslim yang perilakunya lebih Islami.

Semarak dakwah dan ritual

Hasil penelitian ini juga menyisakan pertanyaan besar dan mendasar: mengapa semarak dakwah dan ritual keagamaan di Indonesia tidak mampu mengubah perilaku sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, yang justru dipraktikkan di negara-negara sekuler?

Tampaknya keberagamaan kita lebih senang di level dan semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial. Kalau seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam – shahadat, shalat, puasa, zakat, haji – dia sudah merasa sempurna. Semakin sering berhaji, semakin sempurna dan hebatlah keislamannya. Padahal misi Rasulullah itu datang untuk membangun peradaban yang memiliki tiga pilar utama: kelimuan, ketakwaan, dan akhlak mulia atau integritas. Hal yang terakhir inilah, menurut Rehman dan Askari, dunia Islam mengalami krisis.

Sekali lagi, kita boleh setuju atau menolak hasil penelitian ini dengan cara melakukan penelitian tandingan. Jadi jika ada pertanyaan:

How Islamic are Islamic Political Parties?, menarik juga dilakukan penelitian dengan terlebih dahulu membuat indikator atau standar berdasarkan Al Quran dan Hadis. Lalu diproyeksikan juga untuk menakar keberislaman perilaku partai-partai yang mengusung simbol dan semangat agama dalam perilaku sosialnya. ***
——————————————————-

Ternyata artikel di atas, dan studi di atas, mengonfirmasikan kekecewaan gue selama ini. Mengonfirmasikan kenapa perilaku orang indonesia seperti ini.

Semua kembali ke diri masing-masing. mau setuju silahkan, mau nggak setuju ya gak papa, gue juga ga ngemis orang untuk baca blog ini.

Ada beberapa cara praktis untuk menjadi orang Indonesia yang lebih baik.
1. 30% isi Al quran mengatur Hamblumminallah (hubungan dengan Allah), 70% tentang hamblumminannas (ubungan antar manusia). Mesjid penuh adalah pertanda kita baik dalam mempraktisi 30% isi Quran. maraknya korupsi, gak mau antre di jalan, pertanda kita masih harus beljar yang sisa 70% itu.

2. Hubungan dengan Allah sama pentingnya dengan hubungan dengan manusia. Yang terjadi sekarang adalah orang korupsi 100 milyar tapi masih sholat. Hubungan dengan Allah merasa baik, tapi bikin sengsara ribuan rakyat karena rizkinya tertahan oleh korupsinya.

3. Al-Quran jangan dibaca. Tapi dikaji. Makanya aktifitasnya kita namakan mengaji Quran.
“Eh ngaji Yuk.”
“Udah maghrib, waktunya ngaji.”
selesai baca, didiskusikan, dipelajari dengan ustadz dan dipraktekkan.

Itu sih gue aja. Kalo ada yang gak setuju ya silahkan.

Solusi Kemacetan Jakarta

Setelah tinggal di sini lagi baru deh kerasa betapa gilanya macet di Jakarta. Gue pribadi sih udah pasrah dan dari awal balik udah berniat meng-embrace kesulitan ini. Misalnya, kalo pergi pagi, pake sendal dan kaos. Biar nanti sampe kantor baru pasang separu dan kemeja. Toh di mobil gak ada yang dikecengin. KJika pun niat ngeceng, udah ada golok istri nunggu di rumah.

Terlepas dari gue yang pasrah macet, solusi harus ada. Dan solusi yang ada harus dijalankan tanpa tertunda kepentingan politik atau kepentingan uang pejabat. Kita ulas dulu beberapa hal:

Bahaya macet

Macet ini bahaya karena macet membuat konsumsi energi kita meningkat tanpa perlu. Seharusnya devisa negara bisa terpakai untuk bangun subway, ini habis terbakar di jutaan tanki kendaraan bermotor di Jakarta.

Membuat orang Jakarta jadi tidak produktif. Dengan kemacetan 4 jam sehari, seorang sales hanya dapat 3 meeting dan 2 deal. Jika macetnya hanya 1 jam, maka dia akan mampu katakanlah, dapat 6 meeting dan closing 4-5 deal.

Belum lagi masalah psikologis. Kurang waktu sama anak.

Belum lagi masalah fisik. Macet > 2 jam beresiko orang sakit ginjal karena ada yang nahan pipis misalnya. Atau orang dapat serangan jantung di bus dan tidak bisa tertolong karena busnya stuck di macet. Itu kejadian udah sering bener orang meninggal di dalam bus.

Kemakmuran wearga terhambat. Jika tidka macet maka budget perbulan untuk bensin hanya 500k. karena macet, bisa 1.2jt.

The Problem with Jakarta

- Jakarta ini aneh. Udah belasan tahun blue print subway udah jadi tapi gak realisasi juga. Kenapa ya? Apa karena segelintir pejabat mendapat untung dari setoran bus/angkot? Apa karena mafia/kartel bus/angkot sedemikian kuatnya? Jika iya, orang-orang itu layak dilaknati karena membuat hidup dari 12 juta orang lebih susah dari yang seharusnya.

- Apakah Transjakarta sebuah solusi?

Ya dan tidak. TJ adalah satu dari banyak simbol inkompetensi PEMDA membunuh root cause. Maunya solusi cepat dan murah tanpa memikirkan collateral effect yang terjadi karena solusi cepat itu.

TJ secara teori adalah sebuah solusi. Tapi kenyataannya, TJ memerparah kemacetan Jakarta. Kenapa? Ini sebabnya:

Logika simple dari pengadaan TJ adalah ini:

TJ mengambil 1 dari 3 jalur mobil. Jika tidak ada TJ, maka seharunya di satu garis jalan, terdapat 3 mobil. Karena 1 diambil jalur TJ maka mobil hanya bisa 2. Logika simplenya, TJ hanya akan efektif jika dia mampu menyerap

+ 1/3 pengguna mobil Jakarta

+ pengguna bus

+ pengguna motor

Jika 1/3 tidak terserap maka jalan hanya makin macet. Meski tidak ada data, jelas kita melihat bahwa TJ tidak menyerap 1/3 pengguna mobil Jakarta. Bukti dari ini adalah sebagian pengguna mobil akhirnya pindah menjadi pengguna motor. salah satu faktor Ini yang menyebabkan motor jumlahnya sangat banyak.

- Celakanya, Pemda Jakarta tidak melihat bahwa naiknya motor adalah konsekwensi alami kebijakan yang buruk. Mereka malah menganggap bahwa motor sebagai penyebab kemacetan. dan sekarang ada wacana bahwa motor harus dibatasi. Oalah, bukannya mobil yang dibatasi, bukannya subway dibangun, bukannya penyerapan TJ diperbaiki. Malah motor yang ditembak.

Solusi Kemacetan Jakarta:

+ pastikan TJ menyerap 1/3 pengguna mobil karena jalur TJ telah mengorbankan 1/3 kapasitas jalan umum. Caranya:

1. perbanyak armada

2. halte yang lebih manusiawi. masak WC aja gak ada?

3. Jika tidak kuat sediakan AC, mbok ya haltenya dibikin rindang, pake kaca rayban + kipas angin.

4. Sterilkan busway.

5. Perbanyak stasiun gas. Jika kita tidak kuat menyediakan banyak armada, maka armada yang ada harus terpakai semaksimal mungkin. Sekarang ini armada harus antri 3 jam hanya untuk isi gas. Itu bodoh. Sekarang tinggal dihitung mana yang lebih mahal. Penyediaan armada? atau penyediaan stasiun gas? Ingat bahwa bertambahnya armada, makin banyak yang antri gas juga. Jadi multiplikasi stasiun gas sangat wajib. Kenapa sih gak disatukan saja dengan pertamina? dari pada bagun stasiun gas dari nol yang pastinya mahal, mending taro semua gas di SPBU yang ada.

6. Jangan dibebankan ke rakyat. Ini lah beda pola pikir negara maju dan negara tertinggal. Bahwa angkutan umum itu tidak bisa menguntungkan dan maka dari itu, disubsidi pemerintah. Di Barcelona. Paris dan Singapore, semua tarif subway rata2 1 dolar atau 1 euro. emangnya dipikir balik modal apa investasi segitu mahal dengan 1 dolar. Tentu tidak. Negara yang tanggung agar rakyat dapat menyisihkan uangnya agar lebih makmur.

7. Di setiap jalan yang ada busway, angkutan lain minggir. Jangan ada yang bareng. Contohnya, kita punya koridor TJ kota blok M via sudirman. Maka reduksikanlah metro mini yang melewati sudirman. ini untuk memastikan semua pengguna bus beralih ke TJ dan jalanan jadi lebih nyaman. Ini membutuhkan renegosiasi dengan operator bus yang pastinya tidak hepi. Ini juga hanya menjadi masalah tambahan jika armada tidak ditambah.

+ Bangun Subway

Ini udah jelas, gue gak perlu terangin lagi kenapa.

+ Parkir!

Gue baca dari seorang blogger bernama treespoter yang sangat brilyan. Untuk lengkapnya, tolong baca di blog dia di sini: http://treeatwork.blogspot.com/2010/07/tujuh-solusi-kemacetan-jakarta.html

Ini gue kutip:

Parking surcharge, bukan road pricing.
Road pricing bagus, tapi repot pelaksanaannya dan rawan pelanggaran. Ada cara lebih mudah dan efektif: kenakan saja biaya parkir tambahan yang cukup tinggi (Rp 20.000 per sekali masuk?) di luar biaya parkir resmi buat seluruh kendaraan yang parkir di kawasan bisnis utama Jakarta. Orang akan enggan membawa mobil ke kawasan tersebut . Kalaupun membawa mobil, kalau sudah parkir akan enggan mengeluarkannya lagi. Untuk bepergian mereka akan terdorong untuk memilih berjalan kaki atau menggunakan angkutan umum.

Bagus kan? Tapi pre-conditionnya jelas bahwa

+ TJ harus dimaksimalkan

+ pertumbuhan motor jangan dihalangi

+ bangun subway

jangan sampai parking surcharge ini diberlakukan tanpa ada penyelesaian. Pemda dari dulu dalam mengatasi kemacetan selalu menerapkan kebijakan tanpa memberikan alternatif. Ketika altrnatif ini berbuah buruk, dibiat lagi kebijakan tambal sulam. Gitu aja terus sampai semua orang Jakarta rugi uang dan waktunya.

+ Perbaiki Perolehan SIM

motor dan angkot dituding ugal-ugalan oleh semua orang. Dibilangnya gak tau aturan etc etc. Tapi kita ga pernah nanya pada diri kita sendiri, lantas proses mendapatkan SIMnya gimana? Sekarang ini dalam jargon bebas korupsi, POLRI sudah bagus memudahkan proses SIM. Gak ada lagi korupsi dan calo. Nah di situ root causenya. Semua yang ingin mendapat SIM wajib lulus tes rambu dan tes kendara. Nanti di dalam SIMnya tandalan saja dengan  bintang yang mengartikan telah lulus tes itu. Bintang ini akan membedakan mana orang yang belum perpanjang SIMnya dan mana yang sudah.

Oke deh segitu aja dulu dari gue. Yang jelas, warga Jakarta butuh solusio cepat. Merealisasikan semua yang di atas butuh waktu dan uang jadi gak pemda gak bisa gerak cepat memberi. Tapi mbok ya solusi yang diberikan itu menyentuh akar masalahnya. Bukannya kebijakan tembak itik terbang.

Mereaksi Pemboman 17 Juli

Motif Bom Itu

Sejak 17 July Bombing, ada banyak orangyang menghembuskan semangat #indonesiaunite. Kata mereka, semangat ini adalah semangat Indonesia untuk bersatu, merasa dan berkat bahwa kita tidak takut sama teroris.

Pertama-tama, gue setuju dengan gerakan ini. What they do is admirable. Dan kita harus bantu mereka.  Namun dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap orang-orang yang kerja keras untuk ini, gerakan semangat ini bisa jadi sesuatu yang rada bahaya karena motif dari teroris itu sendiri apa gue gak jelas.  Bahwa bom itu meledak di hotel asing dan (sepertinya) menargetkan orang asing, ada beberapa hal di sini:

1. Sepertinya bom ini adalah aksi kebencian terhadap orang asing. Bahwa golongan teroris ini tidak ingin ada pengaruh asing di Indonesia dan ingin mengukuhkan Islam yang fundamentalis.

2. Sama dengan poin 1, tapi motifnya, golongan ini pengen semua aset Indonesia berada di tangan indonesia. Kalo ini motifnya, gak perlu jaringan teroris islam kali ya. Amien rais aja berkali-kali kritik betapa kekayaan alam kita dikeruk asing tapi toh dia gak capek-capek ngebom.

3. Ada golongan tertentu yang pengen Indonesia selalu buruk citranya di mata dunia. Kenyataan bahwa 2 kali bom di Indonesia dalanganya adalah teroris asal Malaysia, Malaysia anggap rendah kita dan turisme malaysia sedang benar-benar digalakkan, gak susah menuduh Malaysia ada sangkut-pautnya dengan bom ini.

4. Ingin menakut-nakuti bangsa Indonesia, entah motifnya apa.

dari 4 motif di atas, sepertinya semangat kita yang menantang kita gak takut sama teroris kok jadi berasa aneh ya? Maksud gue, kalo mereka ngebom untuk usir bangsa asing, kenyataan bahwa kita malah teriak gak takut bisa-bisa bikin bomnya tambah parah. Kalo dia ngebom pasar jumat, gue rasa relevan kalo kita bilang kita gak takut. tapi ini ritz carlton, yang mana dari 220 juta orang, cuman seupil yang mampu nginep di sana.

Reaksi Natural dari Bangsa Indonesia

Waktu jaman Mega, ketika bom meledak reaksi natural kebanyak orang itu:

1. Atmosfir yang terasa adalah  (well setidaknya gue) sedih dan merasa tidak berdaya

2. pasar modal anjlok

3. rupiah makin terpuruk karena orang lokal dan asing pada dolarnya.

4. orang asing minggat

reaksi kita sekarang ketika Bom terjadi di jaman SBY-JK ini:

1. Atmosfir yang terasa adalah semua marah

2. IHSG terbang tinggi tembus 2300 (atau 220 ya) yang penting naik.

3. Rupiah tetep kenceng.

4. Cuman turis aja yang minggat

Semangat Indonesia Unite adalah perwujudan dari poin 1 di atas. Ungkapan kemarahan. Gue rasa kita semua marah karena kita semua merasa 5 tahun terakhir, kita melihat jerih payah pemerintah berusaha menjaga keamanan. Usaha mereka memerbaiki citra kita di mata Internasional. Jadi waktu bom meledak, gue marah dan gue gak malu jadi bangsa Indonesia. Wajar kita marah. gue marah. Apakah waktu bom bali gue marah? well gue pribadi sih nggak. Malah gue malu jadi orang Indonesia waktu jaman Mega karena dari sebelum bom itu, gue gak liat usaha Mega melakukan perbaikan untuk negara ini.

Langkah Konkret untuk Kita

Well sebenernya gak perlu bom ya untuk membuat kita bersatu.

1. Be vigilant. Kalo melihat sosok yang mencurigakan di Mall, awasi dan kalo udah gak beres banget, laporkan.

Sering kali orang yang terlihat kaya masuk mall dan security gak ngecek!!! Kalo lu liat security yang kek gini, bilang mereka “PAK ITU ORANG YANG ITU DIPERIKSA DONG!!”

2. Untuk yang masih kuliah atau sekolah, gak perlu takut bilang ke seksi rohisnya “hati-hati ya sama orang yang menyebarkan ajaran islam. terkadan suka ekstrim.” ingat bahwa teroris mengambil pembibitan dari segaa celah yang mereka bisa.

3. kalo ada orang ninggalin tasnya, teriakin aja MAS TASNYA KETINGGALAN!!! jangan malah kita copet. iya kalo isinya duit. kalo bom kan bisa sirna kegantengan lo.

4. Yang keempat ini sebenernya gak terlalu relevant malah. Tapi gak papa: dukung usaha lokal dengan mengonsumsi barang lokal. Alangkah menyedihkan kalo dibutuhkan bom untuk kita sadaar bahwa hal ini penting. Ada gak ada bom, seharusnya kita support produk dan pengusaha lokal. Ingat bahwa gak semua dari kita bisa, mampu, punya waktu, punya akses jadi pengusaha lokal. Tapi kita semua bisa menentukan pola konsumsi kita. Bagi yang gak tau apa pengaruh pola komsumsi kita terhadap devisa negara,  baca postingan gue yang ini.

5. Buka usaha lokal. Gak perlu pusing mikirin gimana caranya ekspor. Pasar indonesia aja udah 220 juta konsumen. Itu sebabnya Indosat dibeli sama pihak asing (Thanks tu Mega – untung dia gak jadi presiden). Mereka tahu kita itu pasar yang sangat besar. Kita yang malah sering gak sadar. Gak ekspor juga bisa kaya kalo produk lu bagus. mau bukti? dagadu jogja. Bakmie GM.

Banyak factory outlet di bandung yang produki garmennya di Garut. beli baju di bandung, jangan di Mall.

6. Bagi kalian pengusaha sukses di dalam negeri, coba rambah ke luar negeri. Pasarkan dengan baik. Memang ini adalah sebuah herculian task (tugas yang sangat berat). tapi coba aja.

7. baca profil-profil sosok di kompas. Kebanyakan eksportir kerajinan kita, malah orang-orang yang luar biasa sederhana. Lu bisa liat dari senyum mereka dan baju mereka. beda sama baju kita yang kita beli import brand di mall.

8. Kirim email ke temen-temen asing kalian dan tunjukkan bahwa kita gak setuju dengan orang yang ngebom itu, apa pun motif mereka. Indonesia tidak berisi orang-orang seperti itu.

9. Bilang ke mereka untuk jangan takut. Indonesia aman. kalo terorisnya ada di depan mata kita juga udah kita gamparin duluan.

update tambahan:

10. Jangan ngaku cinta Indonesia kalo belum punya NPWP. Pajak kita bener-bener membangun negara. dan jangan takut sama SPT. Kalo elo emang pegawai yang jujur, pajak lo udah dipotong duluan gak ada yang perlu disembunyiin.

11. Hormati TKI-TKI norak yang sering lu liat ketika pulang ke Indonesia. Remittance 4 juta TKI kita pertahunnya itu USD 6 milyar. Bandingkan dengan devisa negara yang USD 51 Milyar. Sementara kita habiskan devsa di dalam negeri dengan beli barang impor mewah, mereka memberika kontribusi positif ke negara.

12. Bantu TKI pulang. Inget satu hal: Pergi mereka diperas agen. Di seberang mereka dipukulin majikan. Pulang diperas oknum Airport. Ini treatment kepada pahlawan devisa. Kalo kita jadi mereka, terima gak?

Makanya kalo ngeliat TKI pulan bareng di pesawat, tawarin kawal mereka keuar airport dengan aman.

There you have it, 11 langkah konkret yang 9 di antaranya, bisa lu lakukan segera setelah selesai baca postingan ini.

Gaji PNS Harus Besar atau Kecil?

Orang sering bilang bahwa pemerintah kurang efisien. Kita sendiri juga sering menggerutu oleh service pemerintah. Tapi sebenernya salahnya di mana? dan apa underlying factor yang bisa diperbaiki?

 

Gaji PNS kecil itu sebenernya bawaan orde baru. Jaman Pak Harto dulu, untuk menurunkan angka pengangguran, lowongan PNS dibuka tiap tahun. Tapi karena begitu banyak yang jadi PNS, gajinya mau gak mau kecil. Ya iyalah, satu departemen yang seharusnya cukup dikerjakan efisien 100 orang, di sana ada 300 orang. Kalo gue bilang ini kurang tepat karena:

1. Bikin orang berharap. Orang menjadi abdi negara (PNS) tidak berdasarkan kompetensi tapi cari aman. Ah jadi PNS meski gaji kecil gak akan pernah di PHK, sering sekali kata itu kita dengar.

2. Satu menit kemudian, kita akan komplen betapa kecilnya gaji PNS. Lha mau gimana? Kalo nyerap banyak orang, mau gak mau duit yang ada terbagi lebih kecil.

3. Karena gaji kecil, tendensi yang terjadi adalah (mungkin ya, gak semua PNS) korupsi.

4. Dan ini yang paling mengerikan: karena PNS itu buanyak banget, mereka harus dikasih kerjaan. Sebuah proses sebenernye bisa dari A ke B langsung. dan dikerjakan 1 orang. Tapi dengan memekarnya jumlah PNS, pemerintah kan harus ngasih job desc nih ke orang-orang yang baru dia serap. Tendensinya adalah kita harus pergi ke banyak meja A B C D untuk menyeleesaikan 1 urusan. Padahal masing-masing meja A B C D megang satu stempel yang kalo kita mau, bisa aja 1 orang megang 4 stempel.

 

Ini sebenernya sangat-sangat bahaya. Niat pemerintah baik tapi efek yang dia timbulkan dari kebijakan penyerapan ini adalah birokrasi yang tidak efisien, rawan korupsi dan lainnya. Dan apakah ini hanya Indonesia? Oh tidak. Malaysia dan US juga gini. CUman aja kita kan 220 juta orang dan miskin, jadinya kerasa bener ketidakefisienannya.

 

Gue paling gak suka banding-bandingin negara tapi untuk satu kebijakan ini, gue mau gak mau harus akui Singapur cukup bagus dalam hal ini. Pemerintah SIngapur punya kebijakan:

1. Gaji PNS disetarakan dengan gaji swasta sesuai pasar tenaga kerja. Bisa jadi gaji kepala divisi i deprtemen pertanian misalnya, sama dengan gaji manager di mungkin, Astra.

Efeknya: Kebijakan ini mengattract talent-talent yang tepat. Sekarang kita punya insinyur pertanian kerja di bank dan sarjana ekonomi di departemen pertanian. Gue gak bilang bahwa PNS itu isinya orang-orang gak tepat. Tapi mari kita akui, temen-temen gue yang lulus dengan IPK terancam 4, sedikit yang jadi pegawai negeri. Talent itu gak lari kerja di swasta. Tapi tertarik untuk bersaing menjadi PNS.

2. Saban graduation day, pemerintah mendekati semua best graduatenya dan nawarin kerja di departemen. Di Indonesia, waktu gue lulus ITB, yang approach the best graduatenya malah swasta semua. PNG ada. Unilever, bank Niaga, semua oil company. Malah pemerintah gak ada. Seperti yang pemerintah tidak tertarik menyemai bibit-bibit terbaik bangsa.

 

Apa hasil konkret dari kebijakan Singapura ini?

- The right talent for the right job.

- Terbentuk pemerintahan yang menguntungkan

- Kecil korupsi. Ada 2 macam korupsi. Korupsi karena butuh, dan korupsi karena tamak. Korupsi karena butuh selalu menjadi awalnya. Setelah tau bahwa gak ketauan, mulai korupsi karena tamak.

ini 2 contoh konkretnya:

1. Singapore Airline adalah penerbangan paling baik dan paling eksklusif. Dan ini milik pemerintah. Cuman Singapur aja? Wait, Air France juga milik pemerintah (51%).

2. Changi airport adalah perusahaan milik pemerintah. Dan liat dari tahun ke tahun selalu menjadi airport terbaik dunia. Baru tahun ini aja kalah sama Korea.

3. PSA. Port of Singapore Auhtorhity, punya thru put container terbanyak…sedunia.

 

Dengan gaji tinggi, memang berarti departemen yang tadinya 100 orang mungkin dipangkas gila-gilaan jadi 30 orang. Pengangguran meningkat. Tapi pemerintahan jadi efisien, pegawai juga mau mencurahkan talentnya untuk memajukan departemen yang mana memajukan negara. Kalo ini dilakukan, niscaya presiden akan sangat tidak populer tapi ini adalah pil pahit yang tepat bisa kita telan – that is, in my opinion.

 

Gus Dur pernah bilang, untuk menghentikan budaya-budaya buruk seperti korupsi dan inefisiensi, satu generasi harus dibabat. Agar yang muda tidak terkontaminasi kultur lama dan tidak lelah menghamba ke yang tua. Sebenernya, menaikkan gaji PNS dengan cara perampingan besar-besaran juga bisa membabat hal ini. Rampingkan yang sudah tua-tua dan atau kurang performing. Budaya buruk hilang (rakyat untung), gaji naik (PNS untung), pemerintahan efisien (semua orang untung).

 

Gak perlu dikritik apakah gue pernah ngerasain jadi PNS apa nggak. Mertua gue PNS dan gue liat dari dia potret kehidupan PNS. Yang baik-baik seperti dia, biasa aja. Yang gak bener bisa sukses bener.

Membuat Petani dan Nelayan menjadi Kaya

Sebenernya sebra salah ya. Petani adalah 40% populasi. Kita ingin dia kaya. Tapi kalo petani kaya, bisa jadi harga beras naik dan ini menyusahkan 60% populasi yang lain. Di sisi lain, sembako murah berarti pemerintah menekan harga gabah. Ini artinya membuat daya jual petani melemah. Ini artinya petani miskin. Petani pun kehilangan insentif untuk menanam padi. pada akhirnya percayalah, swasembada pangan akan hilang.

Petani

Kita lihat bagaimana PKS dengan Pak Anton sebagai menteri pertanian membawa Indonesia ke swasembada pangan.

Harga gabah dia naikkan. Ini membuat petani mau menanam padi karena pertama kalinya dalam berpuluh-puluh tahun, daya jual mereka naik. peani ramai-ramai menanam padi. Harga gabah yang tinggi ini membuat harga beras naik. Buruk bagi 60% populasi tapi ingat bahwa 40% orang Indonesia profesinya petani. Jadi ini masih tergolong adil tapi tetap wacana akan bagaimana meredam harga beras tetap ada.

Swasembada pangan sendiri sebenarnya 3 tahap, tergantung dari seberapa maunya sebuah negara.

1. Kebutuhan nasional terpenuhi.

2. Cadangan pangan terpenuhi.

3. Ekspor eksesnya.

Kalo gue bilang, Indonesia baru beres kalo sudah melewati ketiganya. Jadi gini.

1. Tetap naikkan harga gabah agar banyak petani menanam padi. teruskan sampai pada tahap kita punya cadangan pangan. Sampai titik ini, 60% populasi Indonesia masih harus akan merasakan tingginya harga beras.

2. Eksesnya dibeli oleh pemerintah dan diekspor. Revenue yang pemerintah dapatkan, disubsidikan ke harga sembako.

end game: Petani menjadi kaya (40% populasi Indonesia naik kesejahtraannya), sembako sedikit lebih murah (60% populasi Indonesia tidak turun kesejahteraannya), dan pemerintah tidak harus berhutang untuk mensubsidi.

Industri pertanian menjadi industri yang dapat menopang pangan negara tanpa subsidi.

Jujur saja, matematika untuk sampai ke tahap ini sangat rumit. revenue ekspor jutaan dollar mungkin hanya akan memengaruhi turunnya harga beras sebesar 50-75 perak per kilonya. Tapi setidaknya pola keuangan dari sistem pangan kita mantap dan mandiri.

Nelayan

Nelayan ini yang lebih rumit dan lebih mahal pembiayaannya. Nelayan itu butuh 2 cost besar dalam pekerjaannya.

1. Mereka tergantung BBM.

2. Mereka tergantung freezer. Percaya apa nggak, ini penting. Jadi gini.

Mereka melaut memakai solar. Naiknya harga solar membuat cost mereka tinggi.

Hasil tangkapan mereka cepat busuk. nelayan capek-capek melaut. tapi karena pasar lelang ikan mereka tidak punya freezer, ikan mereka cepat busuk. Akhirnya tiap hari mereka harus jual cepat dan murah.

Karena cepat busuk ini pula, daya jual mereka tidak lebih dari 100-200 km ke pedalaman.

Maksudnya gini. Nelayan di pelabuhan ratu mungkin susah menjual kepiting mereka sampai Jakarta. Artinya, pembeli meeka terbatas di radius 100-200 km yang mana mungkin 30000 orang. Padahal kalo ada freezer, ikan mereka jadi lebih awet dan pembeli yang di 300 km di pedalamanan bisa juga beli. ini membuat peluang jual nelayan berlipat ganda. Demand menjadi naik (karena cakupan area dari dagangan mereka meluas) dan harga jual mereka jadi tinggi. Intinya mereka butuh gudang dingin. Gudang dingin ini pake apa lagi operasinya kalo gak pake listrik. dan ini pun, lagi-lagi cost bagi mereka.

Untuk nelayan ini, setidaknya dari pola pikir gue yang S1 ini, mungkin yang ada hanya subsidi di solar dan subsidi di listrik untuk gudang esnya.

1. Solar disubsidi agar dengan uang yang sama, mereka dapat solar lebih banyak dan melaut lebih jauh.

2. Listrik untuk gudang es disubsidi agar tangkapan mereka jadi awet. yang tadinya mereka melaut malam dan jual siang, mereka bisa melaut siang malam dan di waktu yang sama, tangkapan mereka yang kemarin masih bisa dijual karena awet di freezer.

Kemudian, bagaimana cara pemerintah mengompensasi uang negara yang hilang karena subsidi solar dan subsidi listrik ini?

Pemerintah membeli ikan-ikan komoditas ekspor dan mengekspor ikan-ikan ini. revenue yang pemerintah dapatkan bisa mengganti subsidi solar dan listrik. Mungkin gak akan pernah nutup. Tapi setidaknya kerugian negara menurun.

end game: gimana caranya industri perikanan kita dapat memerbaiki hajat hidup orang banyak tanpa bikin negara bangkrut oleh subsidi.

Namanya juga teori, ngomong sih gampang ya.

Multi budi daya ganda. dosen gue di ITB (ehm :P :P:P) pernah bilang bahwa nelayan bisa kaya kalo mau pinter dikit.

Di Indonesia banyak sekali hutan bakau. Di hutan bakau ini mereka bisa ternak kepiting. Sekilonya USD 12 kalo diekspor. Kemudian, ampas kepiting itu, adalah makanan yang baik untuk udang. Bukalah tambak udang. harganya USD 15 sekilo kalo diekspor. Kalo pun dijual lokal, kepiting dan udang selalu baik harganya. Memang ngomong mudah. Udang itu adalah budidaya yang sangat sensitif oleh hama. Tapi secara teori menggiurkan. Pemerintah juga gak mau denger, kata dosen gue. dan jadilah nelayan gak pernah kaya.

Hmm, sebenernya pengen untuk bisa mengeksekusi ini di lapangan. Sobat gue ada yang sudah merintis ini di bidang pertanian. Insya Allah kalo ada jalannya gue mau ikutan.