Tergelitik dari posting ini: http://www.pandji.com/surcil/, gue juga pengen melakukan analisa dan survey yang sama. Tapi bedanya, itemnya sedikit gue expand ya.
Gue akan membeberkan versi gue terlebih dahulu dan gue pengen tahu, versi kalian bagaimana.
Jika kita mengatur APBN kita dan kita memiliki item-item di bawah, bagaimana kalian akan mengalokasi dan mendistribusikan dana kalian. Ini dengan asumsi tidak ada korupsi ya. Well, any ways work ketika tidak ada korupsi.
1. Pendidikan
2. Kesehatan
3. Pariwisata
4. Olahraga
5. Pertahanan Negara
6. Agrikultur & Pangan
7. Infrastuktur
Versi gue:
Versi gue ini didasari oleh pemikiran balance sheet sebenarnya. Di mana objectivenya adalah memastikan balance sheet kita positif. Untuk itu, dana harus disalurkan pada sektor-sektor yang akan memberikan:
- devisa dari luar
- memastikan bahwa kebutuhan basic negara dipenuhi oleh resource dari Indonesia. Karena jika kebutuhan basic negara harus diimpor. Kita akan seterusnya berhutang.
- kita juga harus cukup kaya (liquid) ke level di mana untuk running cost sebuah negara, kita harus bisa membiayainya dengan uang sendiri. Bagi kalian yang masih muda, mungkin kalian gak tau bahwa ada masanya negeri ini memakai hutang untuk membayar gaji pegawai negeri dan guru. Itu adalah sebuah kondisi yang kita tidak ingin alami lagi.
Infrastruktur 40%
Kebetulan gue lulusan teknik sipil. Dari sini gue diajarin bahwa bangsa bisa bergerak jika ada infrastrukturnya. Uang yang dihabiskan untuk membangun infrastruktur bisa saja dianggap sunken cost. Tapi sebenarnya kita butuh infrastruktur.
Kita butuh lebih banyak bendungan agar petani bisa lebih banyak panen pertahunnya. Ini membantu sektor agrikultur dan membantu kita surplus beras. Ketika kita surplus beras, maka kita gak perlu impor beras dan karenanya, devisa kita surplus. Jangan sampai seperti Filipina yang untuk beli beras, mereka impor.
Kita butuh jaringan jalan dan jaringan perkapalan yang lebih baik agar semua kota tersambung dengan baik agar lintas barang bisa lebih cepat. Contohnya gini. Kalimantan bukan pulau vulkanik dan karenanya kesulitan menanam sayur. Akhirnya kebanyakan ambil sayur dari pulau jawa dan sulawesi. Ini membutuhkan angkutan laut dan angkutan darat. Kabayang kan kalo kapal2 kita gak jalan? Kalo jalan kita hanya 2 jalur. Harga sayur di kalimantan akan makin mahal. Lengkapnya infrastruktur akan memotong harga barang karena transportasi dari barang-barang ini menjadi lebih efisien.
Kita butuh pelabuhan lokal dan freezer lokal untuk dibangun di seluruh pesisir pantai karena dengan begitu, jerih payah nelayan akan lebih = awet tersimpan. Sekarang ini, umur ikan yang mereka tangkap sangat pendek karena tidak ada wahana freezer ini. Akhirnya seharian melaut, harus dijual cepat dan jual cepat = jual murah. Jaringan jalan juga penting bagi para nelayan. Tanpa jalan yang bagus, ikan-ikan di Pangandaran hanya sedikit yang sampai pedalaman. Dengan jaringan jalan yang baik, dan freezer ini, ikan mereka dapat terjual ratusan kilometer lebih jauh dan mereka akan lebih kaya.
Ini adalah rancangan di desa-desa. Di perkotaan infrastruktur seperti mass rapid transit penting untuk membuat hidup orang lebih baik. Sekarang ini, temen gue si dept sales, cuman bisa ketemu 2 klien sehari karena macet. Adanya rapid transit mungkin bisa membuat waktunya lebih produktif dalam 1 hari. Dan lagi-lagi, productive time = better income.
Ekspor kita akan lebih produktif dan lebih bersaing jika infrastrukturnya baik. Gue kebetulan kerja di shipping. Gue tau banget bahwa parahnya jalanan dan infrastruktur di pulau Jawa membuat tukang kayu memasukkan komponen transportation cost sebesar 20% dari harga kursi yang dia jual. Katakanlah dia jual kursi 1 juta. Orang cina jual kursi 900k. Padahal, sebenernya tukang kayu kita bisa jual kursi itu dengan harga 800k. Hanya saja transportasi dan korupsi pajak, cukai dan polisi mengharuskan dia memasang price tag 1 juta. Sayang kan? Buyer di amerika ya jelas lah lari ke tukabng kursi cina meski lebih murah 100k. So you see kenapa transportasi dan infrastriuktur harus bagus (dan korupsi harus minim tentunya).
Mau pariwisata maju? Bangun lah airport yang memadai. Airport yang kecil tidak akan mengijinkan pesawat besar masuk. Ketika pesawat besar tidak bisa masuk, semua turis harus lewat jakarta atau lewat singapur dan ganti pesawat budget. Ini yang membuat pariwisata agak sulit berkembang, Kalo airport dan runwaynya gede sedikit aja, maka turis dari jepang bisa buka direct flight Nagoya-Tarakan misalnya.
Agrikultur & Pangan 20%
Indonesia sudah tidak boleh bergantung pada sumber daya alam yang terbatas seperti Oil and gas. Indoinesia kaya akan 2 hal. Tanah yang subur yang bisa ditanam apa saja dan sumber daya manusia.
Kita harus memanfaatkan seluas mungkin tanah subur yang tersisa untuk menanam semua jenis pangan untuk:
- kebutuhan konsumsi 200+ juta penduduk Indonesia Dari 25% itu, sepertiga harus masuk ke riset untuk mendapatkan bibit unggul. Riset penting banget. Dengan menemukan bibit unggul (dan infrastruktur yang lengkap) seorang petani yang sekarang bisa panen 10 ton per tahun dari 1 hektar, bisa panen 40 ton pertahun dari luas tanah yang sama. Ini yang Pak Harto dulu bilang dengan intensifikasi pertanian.
Duren Rancamaya misalnya. Sekarang duren rancamaya, katakanlah bijinya gede dan gak tahan hama. Jadinya petani hanya panen 1 tahun sekali dan itu pun hanya diminati oleh orang domestik. Kalo kita berhasil riset duren rancamaya yang dagingnya lebih tebal dan bijinya kecil dan tahan hama, maka petani bisa gunakan bibit ini untuk panen 2 kali setahun, harganya lebih baik dan dia bisa ekspor. Yang tadinya earning rupiah, petani ini bisa earning dolar dan bukan gak mungkin menyekolahkan semua anaknya ke luar negeri.
Gue emang nulis manis-manisnya tapi setidaknya ini adalah efek yang mungkin terjadi. Setidaknya ini adalah efek yang Thailand rasakan dengan durian monthongnya.
- Sepertiga kedua harus jatuh ke pembebasan dan pelestarian lahan dari lahan Industri. Yang gua maksud dengan pembebasan lahan di sini bukannya pembeasan lahan dari hutan ke sawah ya. Tapi dari lahan guna industri, balik ke lahan guna tani.
You see, yang salah dari jaman Orba adalah sentrralisasinya. Semua industri didirikan di pulau jawa. Akibatnya lahan tani menjadi sedikit karena lahan tani malah dijadikan pabrik. Mereka dulu pikirnya gak mau industri di Kalimantan karena infrastrukturnya gak ada. Yang salah dari pemikiran ini adalah seharusnya infrastruktur kelautan antar pulau lah yang harus diperbaiki. Kalimatan cocok untuk industri karena tanahnya tidak vulkanik. Jadi mendirikan pabrik itu gak sayang lahan.
Makanya luas lahan vulkanik harus sebanyak mungkin digunakan untuk agrikultur. Malah Suharto bersikeras untuk menjalankan program lahan sejuta hektar di Kalimantan. Gagal total itu.
- Ada kekhawatiran bahwa jika semua petani sukses, maka harga pangan akan turun dan petani tidak akan kaya. Jangan takut. Surplus bisa dipackage dan dimarketkan ekspor ke luar negeri. Sepertiga dana pertanian harus masuk ke dalam marketing untuk mengenalkan produk-produk agrikultur kita pada dunia.
Thailand sukses dengan riset duren dan marketing durennya. sekarang ketika orang sedunia mikirin duren, mereka mikir, duren monthong thailand.
Australia sukses dengan apelnya dengan cara yang persis sama. riset dan marketing.
New Zealand sukses dengan daging sapi dan kambingnya dengan cara yang sama. riset dan marketing.
Ini adalah kedua hal yang justru tidak terlihat dari dept pertanian padahal luas tanah kita lebih banyak dari new zealand dan thailand. Kita menang wilayah tapi gak pernah menggunakan otak kita. 30% alokasi dana untuk agrikultur dan pangan (termasuk hasil laut ya) akan mempu memberi makan 200 juta bangsa Indonesia dari tanah sendiri dan menjual kelebihannya sebagai devisa negara.
Pendidikan 20%
Semua orang bilang pendidikan itu penting. Ya. Tapi mari kita coba rincikan mana yang penting dalam area pendidikan itu.
- 5% wajib masuk untuk gaji guru. Ketika guru dibayar dengan baik, guru akan konsen ngajar.
- 5% masuk ke maintenance sekolah dan pembangunan sekolah.
- 15% masuk ke perbaikan mutu pendidikan sarjana agar sarjana bisa lulus dan bersaing secara internasional & masuk ke perbaikan kualitas tenaga kerja buruh. Alasannya gue kasih di bawah.
Indonesia itu yang berlimpah adalah sumber daya manusia. Secara natural kita punya lebih banyak tenaga kerja daripada lapangan kerja. Sangat tidak logis untuk berpikiran bahwa pemerintah wajib memberikan lapangan kerja untuk 200 juta orang di dalam negeri. sebagian harus merantau. Ini sebabnya gue benci sama PDIP. Mereka penganut kepercayaan ini. Sebenarnya PDIP harus menjilat ludah sendiri karena pada masa pemerintahan Mega, dia sendiri tidak berhasil menciptakan lapangan kerja yang cukup. Malah gaji PNS kita bayar pakai hutang. Gue lihat sikap ini adalah bersikukuh memegang pandangan yang salah tapi tidak mau mengakui bahwa pandangan itu salah. Partai seperti ini jika sampai berkuasa, bisa-bisa rakyatnya binasa.
Tapi untuk merantau, kualitas kita harus baik. Jangan sampai terjadi brain drain seperti kasus Sri Mulyani. Bibit terbaik bangsa malah kerja di luar negeri. Jangan sampai seperti kasus TKI kita di Malaysia. Kurangnya mereka akan pendidikan membuat mereka mudah diabuse oleh majikan. Semuanya harus imbang. Lulusan Baik lulusan sarjana mau pun buruh harus lulus dari pendidikan yang baik dan berstandar internasional.
Kita harus jadi negara yang mampu memersiapkan sarjana dan buruh kita untuk kerja di luar negeri. Saat ini ada 200-400 ribu tenaga kerja kerah putih WNI yang kerja di luar negeri. Dan sekiat 3.6 juta kerah biru tersebar di arab, singapur, malaysia, taiwan dan jepang. totalnya 4 juta orang, 2% populasi. Bagi kalian yang gak tau, di tahun 2008 saja, remittance dari TKI ini USD 6 Milyar. ibaratnya 1 orang TKI kirim uang ke Indonesia USD 1500 pertahun. Devisa Indonesia di tahun 2008 adalah USD 56 Milyar. Bayangkan, 2% populasi Indonesia menyumbang 10.7% devisa negara.
Bayangkan apa jadinya kalo ada lebih banyak lagi TKI di luar negeri? Ini yang menyebabkan India sangat kaya. Ini yang menyebabkan Filipina masih bertahan. Filipina sudah dalam fase di mana mereka menggunakan remittance 4 juta perantau mereka untuk membeli beras dari Vietnam dan Indonesia untuk memberi makan 60 juta teman-teman mereka di dalam negeri. Alhamdulillah Indonesia berkat Pak Anton, surplus beras. Jadinya devisa hasil 4 juta teman TKI ini tidak habis. Anehnya beliau tidak lagi menjadi menteri pertanian.
Pariwisata 15%
Pariwisata adalah potensi devisa yang tidak ada habisnya. Dengan asumsi semua airport dan jalan akses ke tempat pariwisata sudah diambil dari Infrastruktur ya. Alokasi dana untuk ini adalah:
- 1/2 untuk memercantik semua tempat wisata.
- 1/2 untuk iklan di seluruh channel dunia untuk iklanm pariwisata Indonesia.
Jika tidak cukup dana maka seharusnya dikoordinir atau digilir. tahun ini semua dana konsentrasi ke tarakan, lombok, komodo, nias dan belitung. Percantik daerahnya, educate orang lokal untuk tidak terlalu oportunis dan bikin international advertising campaign besar-besaran untuk 5 daerah ini untuk tahun 2010. Begitu berikutnya untuk tempat wisata lain.
Langkah-Langkahnya adalah sebagai berikut:
- Perbesar runway airport
Seperti yang sudah dijelaskan di atas. RUnway yang lebih besar akan mengijinkan pesawat besar untuk masuk. Selama ini untuk masuk Indonesia itu gak murah lho. Turis harus berganti pesawat di Jakarta untuk pergi ke daerah wisata. ganti pesawat artinya harga tiket keseluruhan lebih mahal. Karena lebih mahal, mereka memilih untuk gak ke Indonesia sekalian.
- Perbaiki infrastruktur di kota/pulau itu. Pastikan dan bayangkan jika kita jadi turis, kenyamanan dan kemudahan akses apa yang kita harapkan?
+ Signage bahasa inggris
+ jalan yang rapi
+ tata kota yang rapi
- penduduk lokal yang relatif bisa bahasa inggris
- penduduk kota dieducate bahwa daerah mereka adalah daerah target wisata tapi jangan jadi tamak dan sombong. Ada sebuah pulau di Indonesia yang saking terkenalnya, mereka lebih menghormati turis asing dan tidak menghormati turis lokal.
Lihat Bali. Bali udah beberapa puluh tahun terkenal dan karenanya banyak bupati di Bali yang sudah bisa menggratiskan pendidikan dan kesehatan. Mari kita konsen ke tempat-tempat lain yang sama indahnya agar rizkinya terbagi.
Sisanya gure cuman punya 5%. Itu dibagi-bagi antara kesehatan, pertahanan, dan olahraga.
Dari analisis di atas, terlihat bahwa infrastruktur menjadi fondasi penting bagi semuanya. Ekspor gak akan jalan tanpa infrastruktur. Pertanian dan ketahanan pangan gak akan jalan tanpa infrastruktur. Pariwisata gak akan jalan tanpa infrastruktur. Semua penggerak eknomi suatu bangsa gak akan jalan tanpa infrastruktur.
Kenapa kesehatan dan pertahanan negara gak penting bagi gue? Bukannya gak penting tapi mungkin itu tahap berikutnya.
Yang urgent bagi kita adalah menggunakan sumber daya kita, baik alam dan manusia, untuk memberi makan dari kantong sendiri (tidak impor) dan bagaimana caranya memerbanyak ekspor.
Ketika kedua ini terpenuhi, maka balance sheet kita akan positif. Hutang kita akan mengecil dan kita akan mampu menyediakn kesehatan dan pendidikan. Kita tidak lagi bergantung pada negara lain dan bahkan negara lain akan bergantung sama beras kita, duren kita, ekspor kita dan buruh dan serjana-serjana kita. dari semua item ini,. datanglah devisa yang kita bisa pakai untuk membeli kesehatan. membeli peralatan perang dan membeli sarana yang baik untuk memerbaiki olahraga kita. Bottom line, kita butuh duitnya dulu sih menurut gue.
Sekarang gue mohon dong dishare dari kalian, kalo versi kalian alokasi dananya gimana?