Category: politics

Idul Fitri

Waktu jaman kuliah dulu, sobat gue yang namanya Dimas Seno, iseng makan bakso di warung pinggir jalan. Dia di sana krn darurat aja harus nuggu sesuatu. Di warung itu, ada sebuah keluarga, bapak, ibu dan seorang anak.

Si anak: “Bu, minta coca-cola boleh?”

Si ibu melihat ke bapak. Si bapak mengangguk sambil berkata “Boleh deh, lebaran ini.”

Kita merayakan lebaran berbeda-beda. Ada keuarga yang merayakan hari kemenangan ini dengan makan bakso dan hanya mampu beli coca-cola sesekali aja, sejarang lebaran.

Mohon Maaf lahir batin untuk kalian semua. Gue tau gue banyak salahnya. Semoga cerita di atas menjadi bingkisan bagi gue untuk kita semua, sebagai pengingat untuk merayakan hari kemenangan ini dengan moderation and humbleness.

rgds.

Post to Twitter Tweet This Post

Mereaksi Pemboman 17 Juli

Motif Bom Itu

Sejak 17 July Bombing, ada banyak orangyang menghembuskan semangat #indonesiaunite. Kata mereka, semangat ini adalah semangat Indonesia untuk bersatu, merasa dan berkat bahwa kita tidak takut sama teroris.

Pertama-tama, gue setuju dengan gerakan ini. What they do is admirable. Dan kita harus bantu mereka.  Namun dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap orang-orang yang kerja keras untuk ini, gerakan semangat ini bisa jadi sesuatu yang rada bahaya karena motif dari teroris itu sendiri apa gue gak jelas.  Bahwa bom itu meledak di hotel asing dan (sepertinya) menargetkan orang asing, ada beberapa hal di sini:

1. Sepertinya bom ini adalah aksi kebencian terhadap orang asing. Bahwa golongan teroris ini tidak ingin ada pengaruh asing di Indonesia dan ingin mengukuhkan Islam yang fundamentalis.

2. Sama dengan poin 1, tapi motifnya, golongan ini pengen semua aset Indonesia berada di tangan indonesia. Kalo ini motifnya, gak perlu jaringan teroris islam kali ya. Amien rais aja berkali-kali kritik betapa kekayaan alam kita dikeruk asing tapi toh dia gak capek-capek ngebom.

3. Ada golongan tertentu yang pengen Indonesia selalu buruk citranya di mata dunia. Kenyataan bahwa 2 kali bom di Indonesia dalanganya adalah teroris asal Malaysia, Malaysia anggap rendah kita dan turisme malaysia sedang benar-benar digalakkan, gak susah menuduh Malaysia ada sangkut-pautnya dengan bom ini.

4. Ingin menakut-nakuti bangsa Indonesia, entah motifnya apa.

dari 4 motif di atas, sepertinya semangat kita yang menantang kita gak takut sama teroris kok jadi berasa aneh ya? Maksud gue, kalo mereka ngebom untuk usir bangsa asing, kenyataan bahwa kita malah teriak gak takut bisa-bisa bikin bomnya tambah parah. Kalo dia ngebom pasar jumat, gue rasa relevan kalo kita bilang kita gak takut. tapi ini ritz carlton, yang mana dari 220 juta orang, cuman seupil yang mampu nginep di sana.

Reaksi Natural dari Bangsa Indonesia

Waktu jaman Mega, ketika bom meledak reaksi natural kebanyak orang itu:

1. Atmosfir yang terasa adalah  (well setidaknya gue) sedih dan merasa tidak berdaya

2. pasar modal anjlok

3. rupiah makin terpuruk karena orang lokal dan asing pada dolarnya.

4. orang asing minggat

reaksi kita sekarang ketika Bom terjadi di jaman SBY-JK ini:

1. Atmosfir yang terasa adalah semua marah

2. IHSG terbang tinggi tembus 2300 (atau 220 ya) yang penting naik.

3. Rupiah tetep kenceng.

4. Cuman turis aja yang minggat

Semangat Indonesia Unite adalah perwujudan dari poin 1 di atas. Ungkapan kemarahan. Gue rasa kita semua marah karena kita semua merasa 5 tahun terakhir, kita melihat jerih payah pemerintah berusaha menjaga keamanan. Usaha mereka memerbaiki citra kita di mata Internasional. Jadi waktu bom meledak, gue marah dan gue gak malu jadi bangsa Indonesia. Wajar kita marah. gue marah. Apakah waktu bom bali gue marah? well gue pribadi sih nggak. Malah gue malu jadi orang Indonesia waktu jaman Mega karena dari sebelum bom itu, gue gak liat usaha Mega melakukan perbaikan untuk negara ini.

Langkah Konkret untuk Kita

Well sebenernya gak perlu bom ya untuk membuat kita bersatu.

1. Be vigilant. Kalo melihat sosok yang mencurigakan di Mall, awasi dan kalo udah gak beres banget, laporkan.

Sering kali orang yang terlihat kaya masuk mall dan security gak ngecek!!! Kalo lu liat security yang kek gini, bilang mereka “PAK ITU ORANG YANG ITU DIPERIKSA DONG!!”

2. Untuk yang masih kuliah atau sekolah, gak perlu takut bilang ke seksi rohisnya “hati-hati ya sama orang yang menyebarkan ajaran islam. terkadan suka ekstrim.” ingat bahwa teroris mengambil pembibitan dari segaa celah yang mereka bisa.

3. kalo ada orang ninggalin tasnya, teriakin aja MAS TASNYA KETINGGALAN!!! jangan malah kita copet. iya kalo isinya duit. kalo bom kan bisa sirna kegantengan lo.

4. Yang keempat ini sebenernya gak terlalu relevant malah. Tapi gak papa: dukung usaha lokal dengan mengonsumsi barang lokal. Alangkah menyedihkan kalo dibutuhkan bom untuk kita sadaar bahwa hal ini penting. Ada gak ada bom, seharusnya kita support produk dan pengusaha lokal. Ingat bahwa gak semua dari kita bisa, mampu, punya waktu, punya akses jadi pengusaha lokal. Tapi kita semua bisa menentukan pola konsumsi kita. Bagi yang gak tau apa pengaruh pola komsumsi kita terhadap devisa negara,  baca postingan gue yang ini.

5. Buka usaha lokal. Gak perlu pusing mikirin gimana caranya ekspor. Pasar indonesia aja udah 220 juta konsumen. Itu sebabnya Indosat dibeli sama pihak asing (Thanks tu Mega - untung dia gak jadi presiden). Mereka tahu kita itu pasar yang sangat besar. Kita yang malah sering gak sadar. Gak ekspor juga bisa kaya kalo produk lu bagus. mau bukti? dagadu jogja. Bakmie GM.

Banyak factory outlet di bandung yang produki garmennya di Garut. beli baju di bandung, jangan di Mall.

6. Bagi kalian pengusaha sukses di dalam negeri, coba rambah ke luar negeri. Pasarkan dengan baik. Memang ini adalah sebuah herculian task (tugas yang sangat berat). tapi coba aja.

7. baca profil-profil sosok di kompas. Kebanyakan eksportir kerajinan kita, malah orang-orang yang luar biasa sederhana. Lu bisa liat dari senyum mereka dan baju mereka. beda sama baju kita yang kita beli import brand di mall.

8. Kirim email ke temen-temen asing kalian dan tunjukkan bahwa kita gak setuju dengan orang yang ngebom itu, apa pun motif mereka. Indonesia tidak berisi orang-orang seperti itu.

9. Bilang ke mereka untuk jangan takut. Indonesia aman. kalo terorisnya ada di depan mata kita juga udah kita gamparin duluan.

update tambahan:

10. Jangan ngaku cinta Indonesia kalo belum punya NPWP. Pajak kita bener-bener membangun negara. dan jangan takut sama SPT. Kalo elo emang pegawai yang jujur, pajak lo udah dipotong duluan gak ada yang perlu disembunyiin.

11. Hormati TKI-TKI norak yang sering lu liat ketika pulang ke Indonesia. Remittance 4 juta TKI kita pertahunnya itu USD 6 milyar. Bandingkan dengan devisa negara yang USD 51 Milyar. Sementara kita habiskan devsa di dalam negeri dengan beli barang impor mewah, mereka memberika kontribusi positif ke negara.

12. Bantu TKI pulang. Inget satu hal: Pergi mereka diperas agen. Di seberang mereka dipukulin majikan. Pulang diperas oknum Airport. Ini treatment kepada pahlawan devisa. Kalo kita jadi mereka, terima gak?

Makanya kalo ngeliat TKI pulan bareng di pesawat, tawarin kawal mereka keuar airport dengan aman.

There you have it, 11 langkah konkret yang 9 di antaranya, bisa lu lakukan segera setelah selesai baca postingan ini.

Post to Twitter Tweet This Post

Gaji PNS Harus Besar atau Kecil?

Orang sering bilang bahwa pemerintah kurang efisien. Kita sendiri juga sering menggerutu oleh service pemerintah. Tapi sebenernya salahnya di mana? dan apa underlying factor yang bisa diperbaiki?

 

Gaji PNS kecil itu sebenernya bawaan orde baru. Jaman Pak Harto dulu, untuk menurunkan angka pengangguran, lowongan PNS dibuka tiap tahun. Tapi karena begitu banyak yang jadi PNS, gajinya mau gak mau kecil. Ya iyalah, satu departemen yang seharusnya cukup dikerjakan efisien 100 orang, di sana ada 300 orang. Kalo gue bilang ini kurang tepat karena:

1. Bikin orang berharap. Orang menjadi abdi negara (PNS) tidak berdasarkan kompetensi tapi cari aman. Ah jadi PNS meski gaji kecil gak akan pernah di PHK, sering sekali kata itu kita dengar.

2. Satu menit kemudian, kita akan komplen betapa kecilnya gaji PNS. Lha mau gimana? Kalo nyerap banyak orang, mau gak mau duit yang ada terbagi lebih kecil.

3. Karena gaji kecil, tendensi yang terjadi adalah (mungkin ya, gak semua PNS) korupsi.

4. Dan ini yang paling mengerikan: karena PNS itu buanyak banget, mereka harus dikasih kerjaan. Sebuah proses sebenernye bisa dari A ke B langsung. dan dikerjakan 1 orang. Tapi dengan memekarnya jumlah PNS, pemerintah kan harus ngasih job desc nih ke orang-orang yang baru dia serap. Tendensinya adalah kita harus pergi ke banyak meja A B C D untuk menyeleesaikan 1 urusan. Padahal masing-masing meja A B C D megang satu stempel yang kalo kita mau, bisa aja 1 orang megang 4 stempel.

 

Ini sebenernya sangat-sangat bahaya. Niat pemerintah baik tapi efek yang dia timbulkan dari kebijakan penyerapan ini adalah birokrasi yang tidak efisien, rawan korupsi dan lainnya. Dan apakah ini hanya Indonesia? Oh tidak. Malaysia dan US juga gini. CUman aja kita kan 220 juta orang dan miskin, jadinya kerasa bener ketidakefisienannya.

 

Gue paling gak suka banding-bandingin negara tapi untuk satu kebijakan ini, gue mau gak mau harus akui Singapur cukup bagus dalam hal ini. Pemerintah SIngapur punya kebijakan:

1. Gaji PNS disetarakan dengan gaji swasta sesuai pasar tenaga kerja. Bisa jadi gaji kepala divisi i deprtemen pertanian misalnya, sama dengan gaji manager di mungkin, Astra.

Efeknya: Kebijakan ini mengattract talent-talent yang tepat. Sekarang kita punya insinyur pertanian kerja di bank dan sarjana ekonomi di departemen pertanian. Gue gak bilang bahwa PNS itu isinya orang-orang gak tepat. Tapi mari kita akui, temen-temen gue yang lulus dengan IPK terancam 4, sedikit yang jadi pegawai negeri. Talent itu gak lari kerja di swasta. Tapi tertarik untuk bersaing menjadi PNS.

2. Saban graduation day, pemerintah mendekati semua best graduatenya dan nawarin kerja di departemen. Di Indonesia, waktu gue lulus ITB, yang approach the best graduatenya malah swasta semua. PNG ada. Unilever, bank Niaga, semua oil company. Malah pemerintah gak ada. Seperti yang pemerintah tidak tertarik menyemai bibit-bibit terbaik bangsa.

 

Apa hasil konkret dari kebijakan Singapura ini?

- The right talent for the right job.

- Terbentuk pemerintahan yang menguntungkan

- Kecil korupsi. Ada 2 macam korupsi. Korupsi karena butuh, dan korupsi karena tamak. Korupsi karena butuh selalu menjadi awalnya. Setelah tau bahwa gak ketauan, mulai korupsi karena tamak.

ini 2 contoh konkretnya:

1. Singapore Airline adalah penerbangan paling baik dan paling eksklusif. Dan ini milik pemerintah. Cuman Singapur aja? Wait, Air France juga milik pemerintah (51%).

2. Changi airport adalah perusahaan milik pemerintah. Dan liat dari tahun ke tahun selalu menjadi airport terbaik dunia. Baru tahun ini aja kalah sama Korea.

3. PSA. Port of Singapore Auhtorhity, punya thru put container terbanyak…sedunia.

 

Dengan gaji tinggi, memang berarti departemen yang tadinya 100 orang mungkin dipangkas gila-gilaan jadi 30 orang. Pengangguran meningkat. Tapi pemerintahan jadi efisien, pegawai juga mau mencurahkan talentnya untuk memajukan departemen yang mana memajukan negara. Kalo ini dilakukan, niscaya presiden akan sangat tidak populer tapi ini adalah pil pahit yang tepat bisa kita telan - that is, in my opinion.

 

Gus Dur pernah bilang, untuk menghentikan budaya-budaya buruk seperti korupsi dan inefisiensi, satu generasi harus dibabat. Agar yang muda tidak terkontaminasi kultur lama dan tidak lelah menghamba ke yang tua. Sebenernya, menaikkan gaji PNS dengan cara perampingan besar-besaran juga bisa membabat hal ini. Rampingkan yang sudah tua-tua dan atau kurang performing. Budaya buruk hilang (rakyat untung), gaji naik (PNS untung), pemerintahan efisien (semua orang untung).

 

Gak perlu dikritik apakah gue pernah ngerasain jadi PNS apa nggak. Mertua gue PNS dan gue liat dari dia potret kehidupan PNS. Yang baik-baik seperti dia, biasa aja. Yang gak bener bisa sukses bener.

Post to Twitter Tweet This Post

Devisa

Devisa adalah salah satu faktor yang penting (kalo gak yang terpenting) bagi sebuah negara. Devisa yang kasus kita memakai USD, quite simply bisa dianalogikan sebagai semua tabungan yang sang ayah miliki dalam sebuah keluarga.

Ketika si anak sakit, sang ayah menjebol tabungannya untuk belanja obat. Ketika atap bocor, si ayah keluarkan tabungannya untuk benerin atap.

Ketika anaknya pengen sekolah, ayah bayar SPPnya pake devisa.

Dari mana ayah dapat devisanya? Ada banyak caranya.

Ayah 1, menanam kopi di kebunnya dan di depan rumah bikin gerai kopi. Dia jual capuccino mahal. Untung besar setelah rugi sedikit dari bikin gerai kopinya. Sekalian dia nanem sayur dan piara dan buka gerai burger. Di kebunnya juga ada kayu jati. Di garasi dia bikin mainan kayu dan dia jual mahal mainan itu. Ayah 1 ini menjual barang jadi.

Yaitu harga jual = modal + bahan mentah  + keahliannya.

Ayah 2, punya hal yang sama. Dia punya kebun kopi, sapi dan hutan kayu. Tapi dia jual panen biji kopinya. Dia jual panen sayur dan sapinya. Dia jualin kayunya. Tentunya karena semuanya bahan mentah, harga jualmya gak seberapa.

harga jual = bahan mentah.

Ayah 2 jual biji kopi 500 perak 1 kilo ke ayah 1. Di mana 1 kilo bisa bikin 100 cangkir. Ayah 2 kemudian haus dan beli kopi ke ayah 1. harga 1 cangkir 200.

kebayangkan kan betapa ayah 1 makin kaya dan betapa ayah 2 makin miskin tiap harinya?

Betapa tiap harinya, devisa ayah 2 makin menipis sedangkan devisa ayah 1 makin meningkat.

Ayah 2 adalah Indonesia dan ayah 1 adalah negara maju.

Kita sebagai rakyat Indonesia gak bisa menghalangi free trading atau gak bisa menghalangi global commerce. tapi setiap barang impor yang kita beli, sebagian dari duit itu pergi ke negara lain.

Ayah kita adalah negara kita. Dia memegang devisa dalam USD. Kita sebagai rakyat memegang IDR. Sejatinya, kita sebenernya tidak memiliki USD kita secara personal. Maksudnya gini.

kasus 1:

Elo eksport biji kopi, laku USD 1000. kemudian, lu pengen beli motor. USD 1000 lu itu ada di tangan lu, tapi sebenernya itu devisa milik negara. Ini karena setelah lu ekspor kopi, lu gak mungkin memakai USD untuk beli motor kan? makanya lu pasti tukerin USD 1000 ke negara ke rupiah, barulah beli motor.

Di kasus ini, berkat elu, devisa negara bertambah USD 1000. Sebagai tukarannya, negara memberikan elu rupiah 10 juta untuk lu pake.

Kasus 2:

gue menghabiskan 2 juta per bulan beli kopi enak asal (katakanlah perancis) bernama Bax. Enak banget. Yang gue gak sadar adalah, dari 2 juta rupiah itu, katakanlah 1 juta (USD 100) diambil oleh manajemen Bax balik ke negaranya. Apakah negara itu mengambil 1 juta rupiah? gak lah, mana laku rupiah di negara dia. Untuk mengambil 1 juta rupiah itu, Bax tukar 1 jutanya ke negara Indonesia dan dengan terpaksa negara memberikan Bax USD 100. Abis itu, Bax bawa USD 100 itu balik ke negaranya. Di negaranya, USD juga gak laku. Yang laku Euro. Makanya sesampai di Perancis, dia tukarkan USD 100 itu ke euro.

Hasil:

1. Gue bokek 2 juta.

2. Negara berkurang devidanya USD 100.

3. Perancis bertambah kaya USD 100.

4. Bax tambah kaya karena dapet Euro itu.

Dari sini keliatan ada dua bahaya:

1. Indonesia adalah pengekspor bahan mentah. yang mana harganya murah.

2. Indonesia juga mengonsumsi barang jadi yang mahal harganya.

Intinya, di kala petani kita ekspor biji kopi dan garmen, mereka dapet paling cuman USD 1 juta dan menjadi devisa negara. Tapi berapa banyak orang kota minum kopi? beli baju branded? beli sepatu import? konsumsi barang impor kita bisa menggerus devisa yang petani udah susah payah kumpulkan untuk negara.

Kalo kita pengen maju, negara harus punya uangnya/devisanya. Kita komplen pendidikan gak maju. Pemerintah akan meningkatkan pendidikan kalo ada devisa untuk bangun sekolah, lab, etc. Dari mana devisanya? harus lebih banyak orang Indonesia yang buka gerai seperti Bax itu. Di mana saking kerennya, kita yang buka cabang di negara mereka dan menyedot devisa mereka menjadi devisa negara kita.

Intinya apa coba? Kita lah yang harus mulai.

1. Beli produk lokal agar

- devisa negara tidak tergerus.

- murah

- mengurangi pengangguran.

2. Bikin usaha lokal yang menginternasional agar

- bisa ambil devisa negara lain untuk negara kita.

- jadi kaya

- juga menyerap tenaga kerja

Kalo Indonesia miskin, jangan gampang salahin pemerintah. Kita liat dulu pola konsumsi kita. gue gak bilang untuk boikot produk impor. Gue juga gak bilang kita harus pakai 100% produk lokal karena jujur aja, bikin mobil dan lainnya kita belum bisa.

Tapi yang penting ini:  gua gak berhak ngatur orang bagaimana mereka harus berkonsumsi. tapi kita semua bisa memilih 1 dari 2 hal:

1. Pola konsumsi yang menggerus devisa negara?

2. Pola konsumsi yang tidak menggerus devisa negara?

dan ingat, devisa negara lah yang membangun subway. Devisa negara lah yang membangun jembatan dan jalan.

Jadi, gue personally, gak akan maki-maki kenapa jakarta gak mampu bikin subway, kalo gue lagi kejebak macet sambil minum kopi brand import.

Post to Twitter Tweet This Post

Bunuh Dirinya Golkar…Benar kah?

Sadar gak sadar, dan entah ada yang merencanakan atau tidak, Golkar sudah sukses sekali bunuh diri. Dari pandangan gue ini adalah pertama kalinya Golkar bener-bener kalah.

Berawal dari kalangan DPD Golkar yang merasa JK pantas jadi presiden, mereka maksa JK (sejujurnya dia pantas sekali). Katanya demi harga diri. JK pun, entah suka rela atau amanah menjalankan amanah partainya memisahkan diri dari SBY.

teori 1:

Ada satu pihak yang melihat bahwa SBY-JK adalah duet yang sangat baik dan membahayakan jalan pihak itu untuk kekuasaan. Untuk itu mereka memecah  JK dari SBY. Dengan pecahnya JK dan SBY, suara akan terpecah dan pihak ini punya kans yang imbang untuk jadi presiden. Secara teori memang lebih mudah melawan 2 oponen yang lemah ketimbang melawan 1 oponen gabungan yang kuat.

Pecahnya berhasil. Majunya pihak itu menjadi presiden? Ternyata pihak SBY masih terlalu kuat.

Siapa kah pihak itu? Entah. Lha wong ini cuma teori kok.

teori 2:

Golkar benar-benar salah perhitungan. memang ini adalah satu-satunya partai di Indonesia yang, saking tuanya, generasi pengrusu Golkar sekarang gak pernah ngerasain membangun partai dari nol. Lihat PDIP, sengawur-ngawurnya Megawati, pemilihnya setia karena dia bangun dari dulu sejak era Suharto. 26% yang dia dapat, itu 26% solid. Lihat demokrat, mulai dari nol juga. Golkar sudah merasa dirinya besar sejak 42 tahun yang lalu. Orang-orang yang membangun Golkar sudah banyak yang tidak ada lagi. Dia besar di era Suharto. Dia masih mendominasi selama reformasi. Dia juga masih dominan di era pertama SBY. Semua itu semu. Bisa jadi dia pikir dia besar. Tapi mungkin saja semua itu semu. Era suharto besar karena dipaksa. Era reformasi dan era SBY besar karena berkoalisi. Baru lah sadar betapa (mungkin) Golkar tidak terlalu signifikan ketika harus berdiri sendiri.

Mana teori yang benar (adanya konspirasi untuk membelah SBY JK atau memang Golkar salah perhitungan) GOLKAR cuman punya 2 pilihan.

pilihan 1: Jilat ludah sendiri dan kembali berkoalisi.

Sepertinya ini tidak akan mereka lakukan. Lha wong pertama kali mereka pecah dari Demokrat pun hanya karena perkara orang salah ngomong kok. kekalahan JK adalah sesuatu yang lebih menohok dari sekedar salah ucap. Gue lihat kecil sekali hal ini terjadi.

pilihan 2: Bergabung dengan mega menjadi oposisi

Salah satu pendukung demokrasi adalah adanya check and balance. Adanya partai oposisi penting untuk mendukung ini. Bagi gue 5 tahun dengan PDIP sendiri yang menjadi oposisi gue rasa sudah cukup garang menjadi oposisi. terkadang malah larut dan debat, retorika dan lain-lain. Apalagi kalo golkar gabung? Oposisi bisa cukup besar sampai ke tahap di mana semua larut dalam perdebatan dan tidak ada orang yang jalan di depan membangun negara ini.

Gue pribadi masih lebih memilih cara: kita pilih 1 presiden yang amanah dan pintar dan let him do his job. Lihat Singapur dan Malaysia. Mereka otoriter. Dan mereka sangat maju. Itu karena dua hal. Pemimpinnya otoriter tapi amanah. We’ll do our best to build this country, but lave us alone.

Gue percaya kok kalo manusia Indonesia gak banyak yang cing cong dan semuanya mengerahkan energi membantu pemerintahan, kemajuan kita akan lebih cepat.

Feel free to disagree.

And… sorry to say this, if you feel you need to give your 2 cents of strong disagreement, please remember this is my blog. My house. Not yours. Yang santun ya.

Post to Twitter Tweet This Post

Caleg-Caleg itu…

Beberapa hal tentang pemilu ini yang mencengangkan.

Gue nganga ngeliat betapa tiap pinggir jalan penuh dengan spanduk caleg. Sementara tiap caleg kehilangan uang mereka, bisa dipastikan jemaah haji tahun ini dan tahun depan , 90% adalah tukang sablon dan percetakan.

Gue gak habis pikir dengan caleg yang dengan jitunya mengira bahwa dengan muncul kemaren sore, dia bisa mendapatkan suara yang banyak. Bukankah dukungan yang murni datang dari waktu dan pengabdian?

Gue senang melihat bahwa di masa yang katanya krisis ini, setidaknya banyak sekali kejadian perataaan kesejahteraan sosial. Liat aja, semua caleg nyumbang kalo nggak uang, pasti barang ke rakyat. Ada yang nyumbang uang, bangunin mesjid, dirikan tiang listrik, kasih karpet ke musholla dan lain-lain. bahkan ada yang sampe bangun jalan. Coba kalo gak ada caleg2-caleg ini, uangnya pasti ngumpul di sebagian kecil orang. Selain manuver ekonomi yang jitu dari sri mulyani, faktor pemilu ini juga telah sangat membantu kesejahteraan rakyat.

Gue suka geli sama kasus caleg-caleg yang minta uangnya balik. Ada yang ngasih karpet ditarik lagi. Ada yang beliin sak semen, ditagih lagi. yang paling parah itu nyumbang tiang listrik dan diambil lagi. I mean seriously, kalo udah diambil lagi, apa iya mau ditaro di ruang TV?

Gue heran sama partai-partai yang dari sekarang udah bincang sana sini. Kok buru-buru amat ya? kan dari 171 juta suara, baru 6 juta suara yang terhitung. Bisa jadi di akhir hari peringkatnya berubah.

Gue sedih sama mereka yang bunuh diri, atau kampanye sampe meninggal. Atau sampe gila. Ini benar-benar membuktikan bahwa kita itu gak bisa muncul kemaren sore untuk mendapatkan simpati rakyat. Simpati dan dukungan rakyat butuh tahunan dan relationship untuk dibangun.

Semua ini untuk Indonesia yang lebih baik pastinya. semoga hasilnya yang terbaik bagi kita. Amien.

Post to Twitter Tweet This Post

Tolong Sebarin Ya Guys!

Jadi ceritanya gue bikin blog ini: http://apakatacalegln.wordpress.com

Gue bikin karena selama ini TKI kurang dapet perhatian. kerja di luar negeri sering disiksa dan gajinya rendah. Gak jarang dipukul, disetrika dan diperkosa. Pulangnya diperas orang sendiri.

Kali ini banyak caleg yang meminta TKI ini untuk memilih mereka. Maka dari itu gue bikin blog ini untuk pengen tau apa sih yang mereka bisa kasih ke TKI dan TKW kita?

Gue mohon bantuannya untuk nyebarin link ini ya guys. Semakin banyak orang (perantau) baca, semakin baik karena mereka akan bisa menentukan pilihan yang bijak.

Gue gak punya niatan politis. gue cuman prihatin aja. Siapa tau dengan bantuan kalian, secara gak langsung 5 tahun ke depan gak ada lagi TKW yang badannya disetrika, atau bahkan gak dikasih makan. Think about that. That could have been us.

Thanks guys!

Post to Twitter Tweet This Post

SBY vs JK

Dengan segala keterbatasan informasi gue mencoba dan semangat ingikutin perkembangan politik di Indonesia. Dari Youtube, kompas.com, gatra.com dan sumber-sumber yang gue rasa kredibel. Karena meski gue jauh dari Indonesia, tetep aja gue WNI dan hajat hidup gue akan terimbas. Terlebih lagi, anak gue juga WNI. Kebijakan yang diambil di masa kini, arahan yang pemimpin hari ini berikan, blunder yang pemimpin hari ini lakukan, anak gue akan suatu saat merasakannya atau membayarnya.

Anyway, kemaren di kompas cetak gue sempet baca sebuah wacana SBY melawan JK. Di mana Jk pdikatakan punya peluang besar untuk jadi presiden. Kedua, bahwa baik SBY dan JK selaku ketua umum masing-masing partai memilih tidak menyebutkan capres dan cawapres sampai pemilu legislatif selesai.

Gue pribadi gak liat partai. Tapi figur, visi, etika, kinerja dan bagaima mereka memimpin satu tim.

Amien Rais (AR) visioner terbaik tapi ngerasa di atas semua orang (etikanya minus).

Mega (MS) jangan ditanya. Kinerja buruk, figur buruk, visi buruk, etika juga buruk, kepemimpinan dalam 1 tim ketika menjabat presiden memimpin tim kabinetnya buruk.

Sultan X (SX), figur yang baik. Etikanya juga baik. Dia bergerak keluar golkar karena mendapat dukungan dari daerah. banyak daerah meminta dirinya. Dia satu orang yang jadi capres hanya karena tahu dia didukung. gak ambisius seperti AR atau MS.

Prabowo (PS), visi bagus. Etika kurang. Kampanyenya mulai berisi dengan omongan ‘kalo cuman bagi-bagi uang saya juga bisa’. Aduh udah deh, kampanye yang beretika itu, mending jual kelebihan diri ketimbang jelekin orang lain.

SBY & JK. Nah ini gue bingung. Selama ini gue ngerasa mereka itu bagus karena berdua dan saling melengkapi. Cukup ideal. dalam 4 tahun terakhir, mereka ketiban banyak bencana alam dan mewarisi banyak masalah. Kebanyakan sudah improve. Ini bukan berkat SBY semata.

Banyak yang bilang mereka gak cocok tapi yang terlihat dari kinerjanya justru cocok. Misalnya gini. SBY lebih kalem, JK lebih desisif. Apa yang SBY tangani, JK tidak tangani. JK sebagai wapres juga menyelesaikan banyak masalah. Sebagai perbandingan,
jaman suharto, suharto kerja sendiri. Wapresnya boneka.
jaman habibie, sama. Habibie kerja sendiri, wapresnya boneka.
jaman gus dur, sama. gus dur kerja, Mega diem.
jaman Mega, Meganya gak kerja, wapresnya juga kerjaannya poligami.

Di jaman SBY lah gue ngeliat Indonesia seorang pres dan wapres bener-bener kerja sana-sini. Ibaratnya kalo masalahnya ada 10. SBY kerjain 6-7 dan JK kerjain 3-4 masalah. Jadinya permasalahan di 2004-2009 ini, meski banyak bencana alam dan krisis, jauh lebih banyak masalah selesai ketimbang 1999-2004.

Jadinya gue gak tau itu semua atas jasa siapa? karena SBY kah? atau JK? yuang jelas, kalo keduanya jalan bareng, beres. perkara mereka sebenernya gak akur, untungnya mereka sepertinya kesampingkan dan negara jalan.

Yang paling salut dari kinerja keduanya adalah 5 hasil:
1. cadangan dana 51 M
2. IMF lunas
3. beras swasembada
4. citra di kancah internasional membaik

Tapi ini hasil kerja siapa? SBY atau JK? atau tim mereka secara keseluruhan? maksud gue, SBY dan JK pun gak akan bisa raih semua itu kalo Sri Mulyani dan Darmin Nasution ak ada. Bukan gak mungkin kalo SBy jalan sendiri, prestasi kita menurun. Bukan gak mungkin kalo JK jalan sendiri, akan sebaik sekarang.

Yang jelas, tim yang sekarang, yang dari beragam partai, dipimpi oleh SBY, ada hasilnya dalam 5 tahun.

Orang masih selalu liat kekurangannya. Itu jelas. Kita, masyarakat Indonesia memang terkenal tidak sabar dan susah menghargai lawan. Mega contohnya, tidak datang ke inaugurasi SBY. Reformasi ekonomi Indonesia dipuji newsweek, times, dan banyak media internasional lainnya, dengan special mention to Sri Mulyani sementara media kita sendiri sangat kritikal mengungkapkan kurangnya ini itu dengan detil, setiap hari, dan didukung partai-partai oposisi. Kritik adalah satu hal, over critical is another thing.

Lihatnya gini. warga itu ibarat pasir. dan presiden adalah tangan yang menyiduk pasir itu dari satu tempat ke tempat lain. tentunya ada yang tercecer. itu wajar. Gak mungkin semua terangkut dan tercover dalam satu kali angkut. mesti 2 kali angkut. yang jatuh-jatuh ini lah yang sering kali di over-critised sama banyak orang.

Dan satu lagi. meletakkan fondasi pembangunan dan ekonomi bangsa gak cukup 5 tahun. reformasi dari tahun 1998, kita ganti-ganti kebijakan terus. Satu ambil IMF, satu lunasin IMF, satu BUMN, satu buy back BUMN.

Kembali ke masalah SBY vs JK. gue pribadi yakin, akur gak akur, mereka adalah pasangan yang baik dan produktif. Kalo masing-masing jalan sendiri, belum tentu. Mungkin
SBY-JK
SBY-Sri Mulyani
JK-Sri Mulyani
SBY-Fadel Muhammad
JK-Fadel muhammad

Gak tau lah gue. Yang jelas bakal bingung banget kalo sampe SBY-JK pisah.

Tapi ada satu hal yang bagi gue, bisa membuat gue gak milih SBY atau pun JK. Yaitu masalah pertambangan dan energi. Sebenci-bencinya gue sama etikanya AR, gue setuju dengan visinya bahwa kekayaan negara harus lebih banyak dikelola negara. Klaim AR adalah:
- 98% kekayaan alam masih dikuasai asing.
- UU pertambangan tahun 2007 merugikan negara

gue pribadi belum baca UU 2007 itu bunyinya apa dan apa yang terjadi dengan kekayaan kita saat ini karena UU itu. Tapi kalo sampe kita dijarah secara legal, baik SBY mau pun JK gak akan gue pilih lagi terlepas dari kinerja mereka sekarang. Ini pribadi gue ya.

Btw, ada yang bisa kasih gue liat UU pertambangan 2007 ini?

Post to Twitter Tweet This Post

Politik Indonesia di tahun 2009 - haruskah kita beri kesempatan?

Untuk bahan bacaan:

http://www.newsweek.com/id/178817

http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/15/16273525/sri.mulyani.bagi-bagi.uang

http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/22/1816414/pendapatan.negara.bertambah.rp.136.triliun.dari.pajak

http://www.thejakartapost.com/news/2009/01/12/insight-indonesia-has-potential-become-a-black-swan.html

http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/16/09544795/setelah.swasembada.beras.lalu.apa.lagi

2009 ini Indonesia akan diberikan kesempatan untuk memilih presiden lagi. Dari tahun 2008 sebenarnya Amien Rais (AR), Mega (MS) dan Prabowo (PS) sudah gencar. Sementara PS gencar kampanye, AR dan MS gencar menjatuhkan SBY. Baru akhir-akhir ini gue denger PS mulai gencar kritik SBY. Bilangnya petani masih gak diperhatikan dan kalo bagi-bagi uang saja sih dia juga bisa.

Haruskah kita berikan SBY kesempatan lagi? Atau kinerja dia mengecewakan sehingga kita harus berikan kesempatan kepada yang lain? Gue di sini cuman ngajak untuk liat fakta-faktanya.

SBY mewarisi sebuah Indonesia yang sangat terpuruk dari 4 presiden sebelumnya. Hutang IMF yang banyak karena Suharto dan Habibie dulu berpikir itu hal yang baik untuk diambil. BUMN (indosat) yang terjual ke Singtel di Singapura oleh MS. Citra Indonesia sebagai negara teroris karena MS gak sigap terhadap terorisme. Anggota DPR yang korup gila-gilaan. Jika kita lihat, hampr semua kasus DPR yag korupsi, melakukan korupsinya di masa GD dan MS. Harga minyak dunia naik teus dalam 6 tahun tapi 4 presiden tidak ada yang berani kurangi subsidi karena akan mematikan popularitas. Di tahun 2002-2003 gua pernah baca bahwa Pemda DKI membayar gaji pegawai dengan menggunakan hutang luar negeri. Untuk gaji pegawai kita ngutang. Hidup mahal tapi banyak hutang.

Itu adalah sebuah Indonesia yang SBY warisi.

Jalan 2004 sampai 2009, apakah masih ada yang perlu diperbaiki? Jelas. Tentu. Baru kemarin gue posting tentang betapa hidup di Indonesia sangat kejam dalam hal perbankan. Bahwa kemiskinan masih di mana-mana dan nasib guru masih prihatin. Tapi kalo kita mau diam sebentar dan lihat, sebenarnya Indonesia sudah sangat-sangat maju dari 5 tahun yang lalu.

Sebenarnya indonesia itu harus memakan pil pahit jika ingin maju. Dan ini yang tim SBY paksa lakukan pada Indonesia. Sebenarnya tim SBY melakukan hal yang luar biasa simple. Perbanyak pemasukan, reduksi pengeluaran, dan ciptakan iklim politik dan citra negara yang baik untuk mengexecute 2 hal itu. And it works.

Tim SBY fokus dengan perbaikan citra internasional. Terorisme diberantas. Ini memberikan kondisi bisnis yang lebih baik dan memperbesar pemasukan. Ekspor kita mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah. Pengeluaran diperkecil dengan mengurangi subsidi dan membiarkan BBM terkait harga minyak dunia. Ini pil pahit untuk rakyat tapi membangunkan kita semua akan harga ekonomi kehidupan yang sebenarnya. Kita jadi berpikir “Oh jadi semahal ini toh barang-barang kalo pemerintah gak ngos-ngosan subsidi BBM?”. BUMN diperbaiki dan (setidaknya usaha) di buyback. Pajak diperbaiki dan bahkan tahun 2009 ini dikurangi yang mana memberikan penerimaan bagi negara. Ini artinya lebih banyak uang untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat sendiri. Korupsi diberantas. Memang ada yang bilang masih tebang pilih tapi kenyataannya gue gak pernah ngeliat KPK sesibuk ini dalam beberapa tahun. ekonomi mikro tumbuh seperti jamur. Hutang IMF dilunasi. Hutang kita sekarang lumayan kecil, secara presentasi paling kecil di negara asean malah.

Sepertinya semua yang tim SBY lakukan 4 tahun terakhir ini menyentuh fondasi negara kita sehingga ekonomi kita cukup kuat di saat krisis ekonomi global. PHK banyak tapi tidak sebanyak Singapura secara presentasi.

Kita tidak terlalu bergantung pada ekspor seperti Singapura sehingga kita negara impor cancel order kita masih bisa hidup.
Kita tidak terlalu bergantung pada parisiwisata seperti Thailand yang sangat bergantung, sehingga ketika para turis batal libur karena mereka harus hemat, efeknya kecil di Indonesia.
Kita berhasil swasembada beras di tahun 2008 sehingga ketika harga komiditi naik, kita gak jerit-jerit seperti yang terjadi di Filipina.

Lawan Lain?
PS dengan gerindranya selalu mengritik tim SBY tidak memberikan atensi pada petani. Tapi pada kenyataannya justru berbalikan. Di masa tim SBY lah harga gabah dinaikkan sehingga petani semangat menanam padi. Hasilnya, pertama kali dalam lebih dari 20 tahun, Indonesia swasembada beras. Jujur gue bingung dari sisi mana PS melihat bahwa petani tidak diperhatikan?

AR selalu mengritik dan iklan capresnya bermodal menjelekkan pemerintah tapi tidak menonjolkan dirinya. Sepertinya waktunnya sudah lewat. Dia adalah satu capresyang terlihat begitu ngotonya jadi presiden sehingga orang jadi enggan dan geli sendiri untuk pilih dia.

MS juga sering mengeritik SBY tapi MS sendiri dalam 3.5 tahun mencederai Indonesia lebih dari 3 presiden sebelum dia. Korupsi, terorisme, BUMN dijual, gas alam dijual murah. Masa MS sebagai presdien seperti masa-masa hidup di negara preman tanpa presiden.

Tanpa Cacat?
Tim SBY sendiri bukannya tanpa cacat. Korupsi masih banyak dan besar. visit indonesia dilaksanakan dengan sangat tidak siap. Bandara Internasional dan bandara daerah tidak ditata. Pesawat berjatuhan dan feri tenggelam. Tim SBY selalu menekankan para bank untuk memberikan pinjaman mikro pada rakyat kecil seperti nelayan. Tapi masalahnya tim SBY tidak melengkapi nelayan dengan pembangunan freezer serba guna. Tanpa freezer, nelayan harus jual cepat sehingga harganya masih murah. Memberikan pinjaman tanpa memberikan infrastruktur yang baik hanya menciptakan ekonomi yang mubazir. Maksudnya gini, tanpa freezer itu, nelayan kredit 1 juta dan untung dia sendiri 200 ribu. Jika ada 1 freezer di tiap kabupaten, maka jualannya bisa lebih banyak, lebih awet dan lebih jauh (ikannya bisa awet dibawa truk 400 km ke pedalaman). Yang dia pinjam 1 juta ke bank mikro, mungkin untungnya bisa 1.2 juta.

Apa Yang Masih Harus diperbaiki
Wah, banyak. Nelayan di atas itu contoh pertama - bahwa sudah bagus ekonomi mikro didukung, tapi ya infrastrukturnya.

Isu kedua adalah pendidikan dan apreasiasi guru. Kalo bisa semua guru disamakan dalam hal gaji. Jadi bedanya hanya di PNS dan non PNS. tapi tentunya ini butuh uang. Dan untuk dapat uang, peberimaan negara harus ditambah. Pelik juga.

Isu ketiga adalah tentunya korupsi. Diberantas sudah bagus dan diubah kulturnya lebih bagus lagi. Sebagai ilustrasi betapa korupsi berpengaruh pada ekspor adalah gini:
harga meja rotan itu di Indonesia sebenarnya 5000. Dan cina, 6000. Tapi eksportir Indonesia menghargai mejanya 7000 karena dia butuh 2000 untuk bayar pungli tengah jalan yang bisa distop 5-7 kali dari pabriknya ke pelabuhan. Dan ini masih berjalan dari dulu sampai sekarang.

Isu keempat adalah buruh. Ini adalah masalahyang maju kena mundur kena. Semakin tinggi UMR, semakin Indonesia tidak kompetitif dari Cina. Ini pelik dan gue gak punya pemikiran apa-apa di sini.

Isu kelima adalah BI rate yang kalo gue bilang sangat-sangat tinggi. Bahkan di saat sekarang yang 8.75% itu masih sangat jahat. Gue pernah nulis di sini: http://suamigila.com/2009/01/hidup-di-indonesia.html

Isu keenam adalah transportasi umum. Sebagai alumni dari transport engineering, ge kebetulan tahu bahwa transportasi umum itu sebenarnya harus disubsidi pemda. tapi yang ada di Indonesia adalah semua angkot adalah swasta dan kalo mau buka rute, justru harus bayar ke pemda. Dan orientasi swasta adalah mengeruk keuntungan. Jadilah transportasi menjadi beban masyarakat. Ini juga sinting. Malah kebalik. Pemda lah yang seharusnya menyubsidi rakyat. yang mengerikan dari hodup di Jakarta adalah jika gaji kita antara 700K sampai 2 juta, niscaya 40%-60% cuman abis di transport. tapi lagi-lagi kuncinya di sini adalah penerimaan negara.

Tapi selama ini tim SBY gak konsen ke sini. Apakah mereka bodoh? Gua rasa nggak. Atau mereka memilih untuk melakukan yang lebih fundamental seperti mengurus hutang luar negeri dulu (agar kita gak bayar bunganya di kemudian hari)? Semoga saja yang kedua karena buktinya memang IMF kita lunas tahun ini.

Extra income
bebrapa isu krusial di atasa sangat bergantung pada kondisi di mana negara punya lebih banyak uang. jadi meski extra income bukan hal terpenting, teteap aja lumayan sangat penting. Semakin banyak devisa dan semakin sedikit korupsinya, kita bisa lebih banyak beli barang2 yang berguna untuk belanja negara.

Ada beberapa hal yang mana jika SBy diberi kesempatan kedua, sebaiknya dia perbaiki di sektor-sektor ini:

Potensi pertama adalah tenaga kerja luar negeri (TKLN). Temen gue yang kerja di pemerintahan baru melihat laporan bahwa populasi TKLN di seluruh dunia adalah 6 juta. Dan devisa yang 6 juta orang datangkan ini dalam 1 tahun adalah USD 6 Milyar. bandingkan dengan cadangan devisa 2008 yang USD 51 Milyar. TKLN (dan yang gua maksud di sini bukan gue ya, tapi TKW dan TKI) menyumbang > 10% devisa negara. Tapi sejauh ini tim SBY lemah sekali perhatiannya pada TKLN. Mereka yang disetrika dan diperkosa di arab. Mereka yang diburu seperti budak di perkebunan di Malaysia. bekas petinggi KBRI di sebuah negara belakangan malah ketahuan sering memeras dan memungut uang dari 3 juta TKI yang kerja di negara itu. TKI pulang masih diperas. TKI yang pergi kurang dibekali added value sehingga upah mereka di luar negeri tergolong murah.

Sekarang gini aja, jika dengan kondisi kita yang upahnya serendah ini sudah menghasilkan >10% devisa, bayangkan berapa devisa yang kita dapatkan jika tim SBY memberikan insetif pendidikan pada TKI yang akan pergi dan pengamanan pada TKI yang pulang?

Ini penting sekali karena TKI adalah sumber daya yang tidak habis. Akan selalu ada tenaga kerja.

Potensi kedua adalah perbaikan ekspor perkebunan sebenarnya. Jika Thailand bisa sukses dengan duriannya, kenapa kita tidak? banyak kok orang pinter di Indonesia yang jika pemerintah mau bina, kita bisa buka satu perusahaan yang khusus untuk pengembangan bibit unggul dan langsung dibina ekspornya.

Potensi ketiga adalah pariwisata. Visit Indonesia 2008 seharusnya diawali dengan pembangunan infrastruktur dan sarana transportasi ke daerah-daerah yang potensial. yang ada, di desember 2008, jalan tol Sukarno hatta masih dibenerin.

Semua ini menunjukkan 2 hal penting sebenarnya.

Pertama, menyelamatkan bangsa itu tidak bisa langsung 240 juta orang sekaligus. Mungkin 4 tahun pertama dia fokus di pertanian, di mana 45% rakyat Indonesia adalah petani. Baru setelah itu dia konsen ke perikanan, perkebunan dan lainnya. Bahwa menyejahterakan semua orang sekaligus itu gak mungkin. Mesti satu-satu. Guru-guru yang resmi PNS ternyata gaji+tunjangannya sudah sangat oke. Gue tahu tunjangannya bisa 2.5 juta per bulan. Tapi pendidikan indonesia masih banya yang guru tidak tetapnya dan mereka ini yang masih terpuruk.

Kedua, menyelamatkan bangsa itu gak bisa 4 tahun. Semua ini butuh proses. Dari sekarang sudah terlihat fondasi ekonomi kita gak jelek-jelek amat. Ibarat mobil, sepertinya 4 tahun pertama ini dipakai untuk reparasi mobilnya. Mungkin dia butuh tahun kedua untuk menjalankan mobilnya.

Jadi, haruskah kita memberikan kesempatan kedua pada SBY?

Jawaban gue: melihat fakta-fakta dan fondasi yang sudah dibangun, dan melihat kondisi kita di 2004 dan 2009 sekarang, kita sebaiknya berikan kesempatan kedua itu.

Post to Twitter Tweet This Post

John Adams

Lagi nonton mini seri John Adams yang diproduksi HBO dan Tom Hanks.

1. Keren
2. Terlihat sekali jaman dulu itu orang2 sangat idealis dan gak korup.
3. Opening scorenya bagus - irish sekali.
4. Pribadi yang sangat bertolak belakang dengan Bung Hata tapi memiliki 1 kesamaan. Bung hatta dan John Adams adalah wakil presiden di saat sebuah negara terbentuk, dan kontribusi mereka terhadap negaranya sangat-sangat kurang di apresiasi.

Post to Twitter Tweet This Post