Category: politics

Pencabutan Subsidi BBM

Efek dari Harga Minyak Bumi

Jika ada anggota DPR di luar sana, atau orang yang merasa cukup pintar untuk menghitung bahwa kenaikan harga minyak bumi tidak perlu berimbas pada kenaikan BBM, maka gue ingin mengajak semua orang ini untuk bekerja di industry transportasi.

 

Dua belas hari lagi dari sekarang gue akan sudah bekerja 11 tahun di perusahaan transportasi kapal laut terbesar di dunia. Di tahun 2008, gue dibangunkan dari tidur dan dihadapkan pada 1 realitas. Ketika harga minyak bumi naik dari $80 ke $100 per barrel, harga bunker kita (bunker = bensin untuk kapal laut) naik juga. Naik ke tahap di mana kami mulai mecat-mecatin orang. Antara 2008-2009, gue mengalami 3 kali perampingan perusahaan. Itu sebabnya gue gak pernah nulis lagi. Gue terlalu sibuk mengejar karir dan mencoba survive (Alhamdulillah sekarang surviving). Apakah gue menyalahkan company gue atas hal ini? Tidak. Company gue hanya berusaha bertahan hidup melawan kenaikan bunker price yang terjadi karena naiknya oil price ini.

 

Apakah ini terjadi hanya di perusahaan gue? Tidak. Industri transportasi penerbangan terkena lebih parah. Pertama mereka melakukan perampingan. Jutaan orang worldwide dari industry penerbangan kena PHK. Mereka yang survive tidak diPHK, harus mendapatkan potongan gaji 10-25%. Company gue yang mana adalah industry transportasi laut, tidak separah itu. Kita masih naik gaji. Kita masih dapet bonus. I am so very lucky.

 

Separah itulah dan selangsung itulah, efek kenaikan harga minyak bumi kepada hajat hidup orang banyak. Jadi kalo ada manusia yang ngerasa cukup pinter dan sotoy untuk ngitung-ngitung, sini lo, kerja bareng gue di industri transportasi. Sehari juga udah kena pecat kali.

 

Bagaimana Sih Korelasi Minyak Bumi Indonesia?

Fakta 1: Kita mengekspor minyak mentah dan mengimpor BBM (minyak jadi).

Fakta 2: perbandingannya, jumlah ekspor minyak mentah kita < jumlah impor BBM

Fakta 3: harga 1 barrel minyak mentah < harga 1 barrel BBM. Perbandingannya jauh pula. 2:3 atau 1:2 sekarang.

Banyak anggota DPR yang bilang, kalo harga minyak bumi naik, Indonesia sebenarnya untung. Well, no. karena kita mengimpor BBM > ekspor minyak mentahnya. Jadi ketika harga minyak bumi naik, harga BBM juga naik. Ini yang anggota DPR luput untuk pikirkan.

 

Kenapa subsidi BBM harus dikurangi?

Sekarang ambil 2 asumsi.

Asumsi 1: perbandingan jumlah ekspor import kita 2:3

Asumsi 2: perbandingan harga minyak bumi vs BBM jadi 2:3 juga (ada yang bilanmg udah 1:2 malah).

Asumsi 3: Jika harga minyak bumi naik 10%, katakanlah harga BBM jadi yang kita beli juga naik 10% (padahal sebenernya nggak. Naiknya eksponensial).

Liat aja matematikanya.

neraca awal = harga x jumlah =  2×2 (ekspor) : 3×3 (impor) = 4:9 (belum apa-apa, pemerintah jebol 4-9 = 5)

Harga setelah kenaikan 10% jadi: 4.4 : 9.9 (pemerintah jebol 0.5)

Setiap kenaikan 10%, pemerintah jebol 0.5. Nah kebayangkan kalo naiknya lebih dari 10%.

Penambahan ini lah yang pemerintah gak sanggup lagi untuk subsidi.

 

Apakah Benar Pemerintah Gak Sanggup Subsidi?

Sanggup sih. Yang gak sanggup adalah men-subsidi penambahan harga yang terjadi akibat kenaikan harga itu. Jika kenaikan harga ini selalu diimbangi dengan penambahan subsidi, maka akan tersisa lebih sedikit uang untuk pembangunan infrastruktur. Lama-lama, ekstrimnya bukan ga mungkin semua anggaran habis untuk subsidi.

 

Apakah Ada Cara Lain Selain Menurunkan Subsidi BBM?

Jawabannya, ya dan tidak.

Untuk jawaban ada, apa saja solusi lain itu?

Pertama: Efisiensi anggaran. Bagi kalian yang pernah baca kompas, subsidi BBM dan listrik + belanja gaji PNS = 60% APBN. Hanya tersisa 40% untuk pembangunan infrastruktur dan perkembangan bangsa. Mohon maaf bagi pembaca yang PNS tapi harus diakui, kalian itu jumlahnya kebanyakan. Apakah ini salah kalian? Tidak kok. Salah pemerintah jaman ORBA yang memaksa menyerap PNS gede-gedean dulu. Kita bisa memertahankan subsidi BBM jika jumlah PNS dikurangi dan dibuat efektif. Mungkin 60% dari jumlah sekarang. Agenda ini sudah dipush sekuat tenaga oleh Agus Marto, menkeu kita sekarang. That’s a good start.

 

Tapi apakah ini gampang? Ini akan susah. Sebagian dari kita pasti tahu bahwa saking enaknya jadi PNS, banyak orang termotivasi menjadi PNS karena benefitsnya. Sampai-sampai, orang yang gak punya koneksi, bersedia nyogok 20-80 juta per kursi. Orang yang punya koneksi, menitipkan saudaranya untuk menjadi PNS. Merampingkan jumlah PNS tidak bisa dalam 1-2 hari. Sedangkan minyak bumi bisa naik dari $80/barrel jadi $120/barrel dalam 2 hari. Good luck fighting that one.

 

Kedua: Berantas korupsi di mana-mana. Gayus punya asset 100 milyar dari hasil penggelapan pajak. Yang mana jika semua perusahaan yang Gayus tangani bayar pajak semestinya, negara bisa mendapatkan trilyunan. Apakah hanya Gayus saja? Itu kemarin ada Dhana. Kemarin lagi ada Bahasyim Asyafii yang punya asset 800 milyar. Itu dari sektor pajak aja. Anggota DPR juga gitu. Setiap kali daerah minta dana untuk membangun jembatan atau jalan, badan Anggran meminta fee antara 4-6% atau bahkan 10% dari nilai permintaan. Gue pernah denger cerita miris bahwa ada bupati yang tidak memiliki cara lain selain menyuap anggota DPR untuk mendapatkand ana untuk membangun daerahnya. Caranya? Miris. Sang bupati sampe harus meminta uang pada anak-anak buahnya. Salah satu anak buahnya, sampai mencairkan deposito mertua. Orang baik pun dipaksa jadi jahat untuk mendapatkan uang dari badan anggaran. By the way, Bahasyim, Gayus dan Dhana itu aktif di masa pemerintahan menteri mana? Sri Mulyani.

 

Ketiga: Gunakan APBN yang tersisa untuk membangun infrastruktur energy terbarukan, atau bangun PLT dengan tenaga batu bara. Contohnya:

  1. Pastikan setiap lampu fasilitas umum memiliki energy dari solar panel. Bupati Sarmi, Eduard Fonataba di Papua membuat terobosan di mana dia menggunakan APBDnya untuk menginstall solar panel di setiap rumah warganya, gratis. Multiplier effectnya:

-      Bupati tersebut tidak perlu meminta PLN untuk menggali kabel sampai daerah sana (cost saving untuk APBN).

-      Rakyat Sarmi yang tadinya membeli solar untuk menerangi rumahnya, sekarang memiliki energy gratis dari matahari. Tiba-tiba daya beli rakyat papua meningkat karena uang yang tadinya habis untuk solar, mereka dapat tabung dan belikan seragam untuk anak-anak mereka.

  1. Sekarang ini 51% energy yang PLN gunakan sudah berasal dari batu bara karena solar sudah terlalu mahal. Ini adalah langkah pemerinta yang sangat smart. Entah apakah ini ide Jusuf Kalla, SBY atau Dahlan Iskan.
  2. Bangun PLT panas bumi (PLTG = pembangkit listrik tenaga geothermal). Tenaga panas bumi adalah gratis dan satu lagi karunia Tuhan pada negara Indonesia. Kita hanya perlu mengharnessnya. Dulu Jusuf Kalla pernah marah-marah pada seseorang karena orang itu gak mau memberikan jaminan untuk proyek pembuatan sebuah PLTG. Tau siapa orang itu? Sri Mulyani.

Intinya sih, menggunakan APBN, membangun infrastruktur yang memetik energy yang gratis atau yang kita punya secara berlimpah. Baca: tenaga matahari. Batu bara (cadangan kita cukup untuk 200 tahun dibandingkan minyak bumi yang cukup untuk 12 tahun). Tenaga angin untuk daerah-daerah pesisir yang menghadap hamparan samudera.

 

Untuk tenaga angin ini, gue baru tahu bahwa Indonesia adalah lokasi pertemuan dua angin besar dari hamparan samudera pasiik dan hindia. Keduanya bertabrakan di Indonesia sehingga saling membatalkan. Artinya kecepeatan anginnya sangat rendah dan tidak cukup untuk membangun energy. Cuman ya, ada beberapa daerah di Indonesia (baca pesisir pantai) yang mendapatkan angin kencang konstan sepanjang tahun. Itu lumayan banget.

 

Keempat: Bangun lebih banyak kilang refinasi. Deangan begini, kita bisa mengurangi BBM jadi dan hanya membeli minyak mentah. Dengan begitu, kita lebih hemat. Sekarang ini kan kita harus menjual 3 barrel minyak mentah untuk membeli 1-2 barrel BBM jadi. INi karena kilan refinasi kita gak cukup banyak. Kalo banyak, maka minimal rasionya bisa lebih seimbang, jadi 1 barrel minyak mentah ekspor untuk mengcover 1 barrel minyak mentah impor.

 

Kemudian timbul pertanyaan, kalo sudah cukup banyak refinasi, kenapa sih kita harus masih ekspor dan impor minyak mentah? Itu karena karakteristiknya beda-beda. Contoh: minyak bumi dari tanah Amerika hanya cocok untuk menghasilkan minyak jadi kualitas rendah yang cocok untuk kapal laut. Sedangkan minyak dari Libya, sangat bagus sehingga hanya butuh 1 kali refinasi untuk menjadi BBM (kepada teman-teman oil engineers, correct me if I’m wrong here…)

 

Kelima: Mengurangi subsidi BBM. Ini adalah solusi yang paling cepat dan bagus karena dua factor:

  1. Bagus karena minyak bumi bisa naik dalam 1 hari. Sedangkan 4 solusi pertama butuh 5-10 tahun untuk membuatnya.
  2. Bagus asalkan hasil dari pengurangan subsidi ini dipakai untuk membangun 4 opsi pertama. Dan in lah niat pemerintah.

 

Tapi itu dia masalahnya. Partai politik menggunakan isu ini untuk memerlihatkan pada rakyat bahwa mereka membela rakyat. Maklum, pemilu capres 2 tahun lagi. Di depan TV dan kamera mereka tampak membela rakyat hari ini.

 

Masalahnya adalah, dengan tidak adanya pengurangan subsidi, ada lebih sedikit uang di APBN untuk membangun infrastruktur energy yang gue paparkan. Efeknya, guenya sih enak. Tapi anak cucu gue? Mereka suatu hari akan menjadi budak minyak bumi dan berkata, “iya, ada orang tolol di jama bokap gue yang gak mikir jauh ke depan…”

 

Mau anak kita ngomong gitu?

 

Mau berantas korupsi dulu sebelum cabut subsidi BBM? Itu belasan tahun aja gak beres-beres kok. Gus Dur gak bisa. Mega gak bisa. SBY gak bisa.

 

Mau bangun kilang refinasi, PLTG, bangun kincir angin sebelum cabut subsidi BBM? Pertama, itu butuh 3-5 tahun. Bangun kayak gituan gak bisa besok selesai. By the time we build it, Subsidi sudah makin parah.

 

Mau rampingkan PNS? Itu pertanyaan yang bagus tapi butuh berbulan-bulan prosesnya, jika tidak bertahun-taun. Belum lagi pasti ini dipolitisir sama anggota DPR atas nama yang sama dengan menahan cabutan subsidi BBM. Yaitu, “Atas nama Rakyat”.

 

Mencabut subsidi BBM bukan satu-satunya opsi. Tapi kenaikan harga minyak bumi itu nyata. Benar-benar nyata. Dan opsi-opsi lain yang ada di meja, makan tahunan sebelum efeknya kita rasakan.

 

Apakah gue suka dengan SBY? Gue menilai dia lambat dalam memberantas korupsi, so, no, gue gak suka. Tapi u know what? Gue lebih percaya pada SBY + menteri-menterinya seperti Dahlan Iskan, Gita Wirwayan, Agus Marto ketimbang anggota-anggota DPR yang tidak pernah tulus membela rakyat. Setidaknya pemerintahan kali ini terlihat ketulusannya. Liat SBY, meski gua gak suka dengan kelambanannya, dia masih santun. DAlam pidato BBMNya, udah dikebiri sama DPR, masih bilang terima kasih. Anggota DPR bisanya apa? Melancong dengan biaya 5 milyar per trip (bawa istri pula), pulang-pulang minta bancakan ke setiap bupati. Elo mau percaya sama orang kayak gitu? Mana yang elo lebih percaya? Gue sih pemerintah.

 Rgds.

Rakyat & Transportasi

Kisah 2 Anak Manusia

Kondisi solidnya ekonomi di Indonesia telah membuat banyak orang berpindah kategori dari golongan bawah dan masuk ke golongan menengah. Jangan terlena dulu, karena yang namanya golongan menengah secara definitive adalah golongan yang earningnya $2-$2000 per hari. Gue llupa batas atasnya berapa, kalo gak salah $2000, you might want to google this. Anyway, itu cakupannya luas banget. Dalam konteks ini, mari kita lihat kehidupan 2 anak manusia yang bernama Andi dan Rahman yang bertetangga di Depok. Keduanya kerja di Jakarta. Mari kita lihat keseharian mereka.

Andi adalah seorang pegawai sales dari sebuah perusahaan. Gaji Andi adalah rp 3 juta perbulan ($11/hari). Dari sini terlihat Andi menempati bagian tengah dari golongan menengah.

Rahman adalah seorang pegawai sales dari perusahaan yang lebih kecil. Gaji Rahman adalah Rp 1 juta ($3.6/hari). Dari sini terlihat bahwa Rahman berada di batas bawah antara golongan menengah dan golongan miskin.

Andi berangkat kerja memakai mobil. Tapi dia menghabiskan 1.5 juta (50%) gajinya untuk bayar bensin. Gue aja waktu tinggal di Jakarta Selatan menghabiskan bensin 2 juta per bulan. Gak kebayang perjuangan mereka yang bergaji pas 3 juta. Bensin bisa menghabiskan 50% gaji Andi karena macet. Karena terlalu banyak mobil, jadi macet. Macet = boros bensin. Macetnya juga gak tanggung-tanggung. 1.5 jam di pagi hari dan 2 jam pulan ke rumah. Tangki bensin 40 liter itu, isinya terbuang percuma.

Rahman lebih prihatin dari Andi. Mobil aja dia gak punya. Rahman pergi memakai bus kota. Murah, tapi tetap kena macet dan lama. Dia kemudian memilih kereta yang selalu penuh. Hati ngebatin, dan naik kereta itu jauh dari nyaman, tapi Rahman harus menghemat uang.

Keduanya punya masalah yang sama selain uang yang habis di transportasi. Yaitu kenyataan bahwa waktu adalah uang. Di Singapura, seorang sales dapat melakukan sales visit ke klien 4-5 lcient per hari karena transportasinya efisien. Di Jakarta, Andi yang memakai mobil hanya bisa bertemu 2-3 klien. Rahman hanya bisa bertemu 2-3 klien juga. Ketika Andi harus ngedrop barang dagangan, itu pun terbatas karena macet. Rahman lebih parah Dia ngedrop barang dagangan naik bus, repot.

Apa Pilihan para golongan middle class ini?

Apakah di Jakarta itu transportasi massalnya kurang baik? Well baik-buruk itu relative.

Tapi yang jelas, kurang banyak. Kurang banyak untuk mengakomodir 12 juta penduduk Jakarta + 3 juta commuter dari area BODETABEK. Andi dan Rahman dan 15 juta orang yang bekerja di Jakarta punya pikiran yang sama, menghindari macet = punya lebih banyak waktu = lebih produktif dalam kerja = income tambahan + bisa punya waktu tambahan untuk keluarga. Bagi Andi, punya mobil itu menyedot keuangan dia. Bagi Rahman, transportasi umum tidak cukup cepat membawa dia menjadi lebih produktif. Keduanya mencari aternatif yang dapat menghindarinya dari kemacetan.

Rahman berada di garis antara golongan miskin dan menengah, Dia gak mampu beli mobil. Pilihan dia adalah:

1. Transportasi umum yang kurang memadai secara jumlah dan waktunya tidak dapat diandalkan

2. Motor

Andi mampu dan sudah punya mobil. Pilihan dia adalah:

1. Mobil

2. Transportasi umum yang kurang memadai secara jumlah dan waktunya tidak dapat diandalkan

3. Motor

Rahman yang ingin menjadi lebih produktif, akhirnya memilih motor. Andi yang mampu beli mobil, akhirnya juga beli motor.

Bagi Andi, ini adalah penghematan langsung untuk incomenya. Bagi Rahman, naik motor bensinnya gak lebih murah dari uang yang dia keluarkan naik kereta, tapi dia dapat bertemu lebih banyak klien dan punya kesempatan menjadi lebih produktif. Again, produktifitas tinggi = income lebih banyak.

Aplikasikan kasus Andi dan Rahman pada kita dan kita akan mengerti kenapa sekarang ada banyak motor. Yang gak mampu mending membeli motor untuk menghindari macet. Beberapa orang yang mampu beli mobil, meninggalkan mobilnya di rumah dan memakai motor.

Bagi golongan menengah, motor adalah pilihan yang lebih baik karena biaya bensin mengambil porsi besar dari income mereka. Golongan atas yang kaya, mungkin bensin 3-4 juta itu hanya 2-3% gaji mereka. Gak kerasa. Bagi Andi, kenaikan BBM akan menjadikan naik mobil itu sesuatu yang mewah bagi dia. Bagi Rahman, kenaikan BBM itu akan menaikkan tariff angkotnya. Bahkan bus pun akan jadi mewah bagi dia.

Penduduk Jakarta, meski mereka sering memaki pengendara motor, percaya atau tidak seharusnya bersyukur bahwa motor menjadi pilihan. Kenapa? Karena yang menjadi Andi itu bukan 1 orang, guys. 1 juta orang! Ada ratusan ribu orang mampu, yang memutuskan untuk tidak memakai mobilnya atau tidak membeli mobil meski mampu dan memakai motor. Anggaplah 1 juta orang. Kebayang gak jika orang seperti Andi ini memilih mobil? Niscaya Jakarta hari ini akan memiliki 1 juta mobil lebih banyak dari yang sekarang. Dan tahukah kita, bahwa 1 mobil itu memakan ruang jalan = 6 motor? Coba 1 juta orang ini membeli mobil ketimbang motor. Kebayang gak macetnya jakarta?

Motor secara langsung telah memerlambat laju pemadatan jalan di Jakarta, karena golongan menengah ini.

Saat ini semua orang dipukul oleh kenaikan BBM. Semua orang kecuali golongan atas, teriak.

Golongan menengah yang memakai mobil jelas teriak karena proposi bensin dari gaji mereka akan meningkat, sedangkan gaji belum tentu naik.

Golongan menengah dan miskin yang memakai motor juga teriak akan hal yang sama.

Golongan menengah dan miskin yang memakai kendaraan umum juga teriak karena angkot dan bus akan menaikkan tariff mereka.

Lantas dengan kenaikan BBM ini apa yang akan terjadi?

Ini yang akan terjadi:

1. Akan ada lebih banyak golongan menengah pemakai mobil yang beralih memakai motor dan transportasi umum. Bagi mereka, memakai mobil tidak akan making sense lagi dan motor atau kendaraan umumlah pilihannya. Makin banyak orang seperti Andi.

2. Akan ada lebih banyak golongan menengah pengguna kendaraan umum yang beralih memakai motor. Bagi mereka, gaji mereka terlalu kecil sehingga kenaikan tariff angkot, mikrolet dan bus sudah tidak making sense lagi. Sebagai ilustrasi: untuk pergi dari pin A ke B, Rahman butuh 3 kali naik angkot. Masing-masing monta 2000. Total satu trip 6000, Itu sama dengan 1 liter bensin. Lebih making sense make motor kan?

Di Mana Rahasia Pemerintah Kota?

Pertama, kita harus pisahkan yang namanya pemerintah. Pemerintah kota (pemkot) dan pemerintah pusat (pempus). Kedua, kita lihat dulu rantai kejadiannya.

Kenaikan BBM itu instruksi dari pempus. Kenapa?

Karena Pempus tidak punya pilihan lain. Kenapa?

Karena pembangunan di daerah yang berarah bottom up (ditentukan dari daerah) menciptakan kondisi di mana peningkatan mobil lebih tinggi dari pengingkatan pemakaian transportasi umum. Kenapa?

Karena semua kota lebih suka membangun jalan ketimbang membangun rel kereta. Lebih suka membangun jalan ketimbang bikin transbandung atau transolo misalnya.

Kenapa kebanyakan pemda tidak mengelola transportasi umum? Kenapa pemda malah membolehkan angkot dikelola swasta?

Karena system transpotasinya dikelola terbalik. Di negara lain, transportasi itu meliputi hajat hidup orang banyak. Karenanya menjadi tanggung jawab pemerintah. MRT di Barcelona hanya 1 euro. Mungkinkah segitu? Nggak! Pemerintah spanyol mensubsidi 5-6 eruo untuk setiap trip saking mahalnya biaya operasi di sana. Harga MRT di Singapura hanya 1-2 dolar. Emang segitu costnya? Nggak. Pemerintah sinigapur memanage uangnya dan mensubsidi biaya operasi MRT itu.

Di Indonesia, terbalik. Uang pemda dan pemkot gak cukup atau habis dikorup, sehingga pemda dan pemkot melakukan hal berikut:

1. menyerahkannya pada swasta. Di negara lain, pemda yang menentukan rute transportasi. Pemda yang keluar uang membangun infrasrtukturnya. Pemda yang menentukan harga tarifnya. Dan pemda yang mensubsidi marginnya. Pemda di kota-kota di Indonesia, terbalik. pengusaha angkot yang malah datang ke pemda. Mereka bayar uang untuk buka trayek. Tarif? Terserah swasta. Pemda untung berkali lipat. Keuntungan pertama, mereka tidak keluar uang untuk infrastruktur, malah pengusaha angkot yang usaha keluar uang beli 200 unit angkot. Pemda malah dapat uang trayek. Tahukah elo, bahwa ada 1 ruas jalan di jalan Ahmad Yani Bandung yang dilalui 14 rute angkot? Ngehek kan? Pemda juga tidak mensubsidi apa-apa. Pemda untung 3 kali. Kita ini memilih siapa yang layak menjadi gubernur, walikota dan bupati, tapi mereka tidak bekerja untuk kepentingan kita. Ini yang membuat kita sulit. Ketika BBM naik, ya tariff angkot juga naik lah.

2. Ketika pemda dan pemkot melihat pilihan antara bangun MRT dan bangun jalan, ini yang mereka lihat:

Bangun MRT:

Biaya infrastruktur, dari pemkot

Biaya operasi kereta, dari pemkot

Biaya subsidi tariff, dari pemkot

Bangun jalan:

Biaya infrastruktur, dari pemkot

Biaya operasi mobil, dari rakyat sendiri yang memakai mobil

Biaya bensin, dtanggung rakyat sendiri

Malah, pemkot dapat uang besar sekali dari pembayaran STNK tahunan yang mana adalah 5% dari nilai mobil.

Keputusan pemkot: bangun jalan lebih hemat bagi pemkot. Biaya hidup ditanggung rakyat sendiri. Pemkot malah dapet duit dari pajak.

Yang dibangun hanya jalan, jalan dan jalan. Yang subur hanya motor dan mobil. Pajak mobil lebih mahal. Bensin mobil lebih mahal. Transportasi umum kurang banyak. Pilihan rakyat apa?

Yep, you guessed it.

Motor.

Motor – Ibarat Jodoh terakhir yang buruk rupa tapi kita nikahi karena tidak ada lagi pilihan lain

Apakah motor solusi yang efektif? Tentu tidak.

Apakah motor bahkan sebuah solusi? Tentu tidak.

Tapi mau gimana? Kenyataan yang ada sekarang ini, Pemkot gak akan mengubah mindsetnya menjadi abdi rakyat. Mereka gak akan mau invest apalagi menanggung subsidi transportasi. Lebih baik suruh rakyat memakai mobil atau motor. Ini jepitan pertama rakyat. Jepitan kedua, antara mobil dan motor, mobil lebih boros bensin, pajaknya lebih mahal. Ya motor lah yang menjadi pilihan terakhir golongan menengah (dan golongan miskin).

Apa solusinya?

Gampang aja.

1. Kemauan pemerintah untuk merubah mindsetnya menjadi abdi rakyat, bukan tukang pajek.

2. Kemauan pemerintah untuk merubah undang-undangnya. Agar transportasi mereka tanggung.

3. Kemauan pemerintah untuk berhenti korupsi. Dengan sedikit korupsi, lebih banyak anggaran untuk bangun MRT.

4. Kemauan pemerintah untuk mereduksi PNS menjadi 40%-50%. Kerjanya lebih efektif. Dan akan ada sisa anggaran untuk membangun infrastruktur.

Sampai ini terjadi, kita bisa expect angka penjualan motor terus meroket. Selama semua paparan di atas menjadi realitas, kita bisa lupakan semua kebijakan, semua andai-andaian. Suka atau nggak, orang akan memandang motor sebagai solusi keuangan mereka. Solusi untuk mereka survive.

Rgds.

Akar Masalah Negara Ini

Bencana Di Jepang

Di  milis alumni jurusan sedang merebak beberapa e-mail viral yang menggambarkan betapa etisnya orang Jepang menghadapi bencana. Media TV lokal mereka sebaik  mungkin menghindari menayangkan jasad atau detik-detik kematian seseorang. Setelah bencana, tidak terjadi penjarahan. Cara pemerintah menanggapi bencana dan mengurus rakyatnya juga dibahas. Intinya, rakyat Jepang melalui bencana ini dengan penuh etika dan harga diri. Seburuk apa pun, ada satu set nilai-nilai etika yang mereka junjung tinggi tidak tergoyahkan oleh tsunami dan gempa terburuk itu.

Kemudian e-mail-e-mail viral itu membandingkannya dengan Indonesia. Selesai urusan. Tiba-tiba gue tau apa yang salah dengan bangsa ini. kenapa kita gak maju-maju seperit bangs alain. Kenapa kita yang merdeka 20 tahun lebih dulu dari Singapura dan Malaysia, lebih ketinggalan dari mereka. seharusnya kita yang bermental lebih baik karena kita mendapatkan kemerdekaan ini dengan cara merebut dan memertahankan. Tidak seperti mereka yang diberi.

Padahal Indonesia sebenarnya memiliki formula yang dahsyat ketimbang Jepang untuk menjadi bangsa maju. Formula itu adalah: 5 agama yang kita anut.

Indonesia.

Fakta:

1. Jepang menganut kepercayaan. Mereka meghidupkan nilai-nilai yang leluhur mereka wariskan. Bukan yang turun dari langit.

2. Indonesia menganut 5 agama. Kelima agama ini mengajarkan menegakkan ibadah dan menegakkan akhlak. Menegakkan ibadah untuk urusan dengan Tuhan, menegakkan  akhlak untuk urusan dengan sesama manusia.

3. Lantas kenapa orang jepang anti korupsi dan indonesia adalah salah satu negara terkorup? Orang jepang yang menganut aliran kepercayaan lebih puya etika untuk tidak korup dan menjarah dibanding Orang indonesia yang menganut 5 agama ini?

4. Kenapa ada pejabat PNS yang kekayaannya bisa sampa 883 milyar? Kenapa Gayus yang semuda itu bisa sampai 100 Milyar dan masih punya nyali untuk bilang dalam pledoinya, membela diri ‘saya bukan orang baik, tapi saya bukan orang jahat.’ Sedang di Jepang, Menteri Luar negerinya resign karena terkena isu menerima uang dari pengusaha Korea puluhan juta rupiah? mana nih cerminan agama yang Gayus dan pejabat bernama arab itu anut? Mana? kok gak keliatan? Kok malah masih merasa bukan orang jahat? Dan ingat, gayus dan pejabat itu tertangkap basah. tidak seperti menlu jepang yang sadar resign.

Sekedar informasi, sebuah pembangkit listrik tenaga geothermal (PLTG) berdaya 45 MW dapat dibangun dengan biaya 900 milyar. Degan investasi 900 milyar, 45 MW ini dapat menyuplai 450 pabrik menengah. Setara dengan 450 pengusaha. 450 pabrik ini memberi kerja masing-masing 100 orang. Totalnya 45000 tenaga kerja dapat menggerakkan ekonomi. 45000 tenaga kerja ini memiliki 4 mulut untuk diberi makan. itu setara dengan kesejahteraan 180 ribu orang.

Pejabat PNS yang korup itu, melakkan penggelapan pajak dengan imbalan mencapai 800 milyar. kekayaan dia ditambah dengan kekayaan Gayus, dapat membangun 1 PLTG.

Kesejahteraan dan rizki 180 ribu orang tertunda oleh 2 orang. mana yang bukan orang jahat?

Semua PNS dan pejabat rajin kok ke masjid jumatan. ke gereja untuk kebaktian. banyak juga yang di hari-hari kerjanya korupsi dan korupsi waktu. pergi telat, pulang cepat. Cara dari bagaimana agama ini diajarkan di Indonesia sepertinya mengajarkan untuk ibadaha kepada Tuhan tapi sistem pengajaran tersebut gagal total mengajarkan Akhlak. Dan akhlak = etika.

Jika agama-agama ini diajarkan dengan cara yang benar pada setiap insan penganutnya, seberapa kepepet pun insan tersebut, dia akan mengedepankan akhlak untuk sesama dan mengedepankan ibadah kepada Tuhan.

Mengedepankan akhlak ini yang tidak ada di Indonesia. Ini yang salah.

Ini yang benar-benar salah. Ini lah akar permasalahan kita.

Tidak ada agama yang membenarkan rizki 180 ribu orang ditahan oleh 2 orang.

Ketiadaan akhlak. Itu lah akar masalah negara ini.

Solusinya? Kita pastikan 5 agama yang kita akui di negara ini, diajarkan dengan benar. Itu harapan kita satu-satunya.

Tanpa itu, setiap hari Indonesia mengalami bencana.

Sebuah negeri bernama Nyarissia

Gue tau seharusnya kita mengawali sebuah tahun dengan sebuah optimisme. Tapi 2010 adalah sebah tahun yang penuh dengan kekecewaan gue terhadap pemerintah dan politisi.

Kegemaran penguasa (pemerintah+politisi) menihilkan dan menahan usaha orang lain dan bahkan usaha mereka sendiri dari mencapai 100% kesuksesan. Ini bukan dari tahun 2010 saja tapi dari 1998. semuanya serba nyaris. Bukti:

1. 1998. Kita akhirnya bisa menumbangkan Suharto. Era baru akan keadilan dan harapan bahwa orang-uang hasil korupsi akan diadili terbit. Apa yang tejadi? reformasi berjalan tapi setelah tikung sana-sini dan lipat sana-sini, Suharto dan asetnya masih aman sampai dia meninggal.reformasi kita NYARIS berhasil.

2. 1999. Kita akhirnya berhasil memberdayakan DPR. Amien Rais melakukan perubahan selaku ketua MPR kepada fungsi dan jobdes DPR. Kali ini kekuasaan DPR sudah perfect untuk mewakili rakyat dan menjalankan demokrasi. Kita nyaris bisa memebersihkan korupsi dan menjalankan demokrasi di negeri ini. Apa yang terjadi? jabatan DPR begitu powerful sehingga sering diabuse anggota DPR sendiri.Demokrasi kita NYARIS berhasil.

3. Indonesia terselematkan dari krisis ekonomi sebagian besar karena ketergantungan pada ekspor hanya 15% dan kita selamat karena komposisi GDP kita mayoritas adalah local consumption. Maksudnya gini: Indonesia selamat karena tidak seperti malaysia dan Singapur yang ayam saja impor dari Amerika Selatan, ketika kita mau makan ayam, kita pergi ke halaman belakang dan potong ayam sendiri. Ketika USA ingin membeli meja, dia beli meja dari cina. Kita? pergi ke tukang kayu di sebelah yang nebang pohon di halaman belakangnya sendiri. Bagus? iya.

Indonesia juga memiliki devisa 91 milyar dolar, tertinggi sepanjang sejarah. tapi kenapa gue melabel ini dengan nyaris dan bukan sukses?

Karena semua prestasi di atas terjadi bukan karena pernanan pemerintah tapi karena pola hidup kita dari dulu memang begitu. bagus ekspor kita tinggi tapi dari penjualan barang mentah dan bukan barang jadi. mana peranan pemerintah di bidang energi? mana pernana pemerintah di bidang infrastrukuur yang mendukung industri? Sementara kita ekspor kayu mentah ke Cina, Cina ekspor meja ke US dengan harga lebih mahal.

Kita NYARIS berhasil dalam bidang devisa karena 95 Milyar itu TANPA pernana pemerintah yang fokus dan transparan. Coba kalo iya. bisa 150 milyar kali.

4. Bursa Efek kita memberika performance yang terbaik atau kedua terbaik di Asia Pasifik. kenapa ini juga gue katakan nyaris? karena kebijakan pemerintah sangat buruk. Investor masuk ke dalam bursa dengan harapan return. Sebagai tuan rumah yang menerima uangnya kita harus dapat mengolah uang di sektor finance itu ke sektor riil. dapat 1 milyar dolar dari investor asing di dalam bursa jangan seneng dulu. 1 milyar itu harus ditemani perankat kebijakan yang bisa mengubah 1 milyar itu menjadi lapangan pekerjaan, pabrik dan produksi lainnya yang menghasilkan real return 2 milyar. Kalo 1 milyar ngendon begitu saja di bursa nanti ngebubble. karena soon enough orang akan realise bahwa 1 milyar investasi dia naik hanya karena naik demand dan bukan karena valuenya bertambah secara riil (karena dipindahkan ke sektor riil).

5. Korupsi. Kita NYARIS memberantas korpsi karena sementara tangan penangkap bekerja, tangan pengadil tidak bekerja. Banyak koruptor yang berhasil tertangkap bisa lepas karena sistem peradilan yang korup. Yang tertangkap, divonis ringan. yang tertangkap dilama-lamakan. ie: Gayus.

6. 2004-2009 berkat SBY-JK kita maju bergegas melewati negara-negara lain. 2009-2010 kita HARUS ganti wapres dan SBY-Boediono sukses berjalan lebih lambat dari negara lain. Liat pertumbuhan ekonomi kita di 2010, lebih rendah dari filipina sekali pun. Kita NYARIS bergegas, tapi berjalan lambat lagi.

7. Timnas NYARIS menang dalam kompetisi AFF tapi di final, timnas kita HARUS diganggu dengan politisasinya. Diajak doa lah, diajak ke Bakrie lah yang NB ga ada kepentingannya sama sekali. belum lagi Menpora yang minta ketemuan dan makan malem bareng juga, Semuanya jadi tukang rusak konsentrasi. Here’s the thing: dalam AFF, Indonesia sudah 3 kali masuk inal dan KALAH terus. Kemarin itu yang kempat. Seharusnya tidak ada selebrasi yang dini karena UDAH 3 KALI.

Yup, kita adalah warga negara yang tinggal di sebuah negara yang selalu Nyaris. Nyaris berhasil, Nyaris menang, Nyaris sukses. Negeri di mana 999 langkah telah digapai rakyatnya dengan susah payah dan minim kebijakan publik (bahkan tak jarang TANPA bantuan pemerintah) dan langkah ke-1000 dirusak oleh politisi dan orang-orang korup. Lihat timnas, mereka berhasil ke final despite kondisi PSSI yang korup dan carut. 999 langkah. and what did it take to fail them? just 1 step. By politicians themselves. Fuckers.

Ada mungkin yang bilang, berhentilah mengeluh dan mulailah take action. Well fuck you. Gue dan istri udah kerja sampe keringetan. Mana regulasi pemerintah di pengendalian harga pendidikan? pengendalian harga rumah? pengendalian kemacetan yang bisa membuat kerja kita lebih produktif? Gue dan istri gak jarang bantu anak asuh kiri-kanan, turun tangannya kita karena mereka adalah orang yang tidak tersentuh regulasi dan kebijakan pemerintah.

Sebagai warga elu bisa menjadi malaikat dan berusaha menyelamatakan 1 juta orang. usaha lu belum tentu maksimal jika kebijakan publiknya tidak mendukung elu melakukan itu. bahkan bukan ga mungkin usaha elu itu nihil dengan sukses.

Sudah banyak orang berusaha mengajak orang menumbuhkan cinta pada Indonesia. Lihat @pandji, @greatindonsia (salut untuk mereka, BTW). Tapi politisi di negeri ini bertindak dan tidak bertindak yang membuahkan hasil di mana untuk mencintai negeri ini, sangat melelahkan. Lihat timeline di twitter @GNFI dan elu akan lihat mayoritas prestasi yang membanggakan adalah prestasi individu dan prestasi sekelompok orang yang berusaha gigih. Bukan tidak didukung kebijakan pemerintah.

Negeri ini sepantasnya bernama negeri Nyarissia. Sebuah penanda dunia bahwa jika ada negara lain melihat bagaimana sebuah usaha menjadi mubazir, mereka harus rujuk ke negeri ini.

Sebuah negeri bernama Nyarissia.

Menerawang Peta Kekuatan Politik 2014

Pertanyaan yang menarik adalah siapa yang akan menang di tahun 2014. Di tahun 2004 tidak ada yang mengira bahwa SBY dengan PD-nya yang kecil mampu membawa diri menjadi presiden di bidang eksekuif dan menjadi memiliki kekuatan yang cukup di DPR. Tahun 2009 dilalui dengan mudah bagi SBY dan dia tinggal meneruskan sampai 2014. Pertanyaanya, partai dan sosok mana kah yang akan memimpin setelahnya? Gue ingin meniliknya satu-persatu.

PD

PD adalah sucess story yang luar biasa 6 tahun terakhir. Jumlah massa dan kadernya membengkak dengan super cepat karena pada dasarnya mereka ingin jump into the right wagon. Masalah yang timbul kemudian adalah pembinaan kadernya. Peningkatan massa dengan cepat ini terlihat tidak diimbangi dengan kekompakan para kader dan pendidikan kader ke level seorang presiden. Rasanya selain SBY tidak ada lagi figur sekelas dia di dalam PD. Jika PD tidak mampu mendidik dan melahirkan seoarang figur sekelas SBY di tahun 2012 maka sepertinya akan sulit bagi PD untuk menang di bidang pemerintahan.

Gue juga dapet bocoran dari temen gue bahwa kader PD tidak ada yang kompak di DPR. Akibatnya cukup fatal di termin II ini. Anggota DPR dari PD yang tidak kompak ini akhirnya kesulitan untuk melindungi SBY dan menteri-menterinya saban kali mereka mengajukan anggaran atau membahas undang-undang di DPR. Mereka dibantai oleh sekian banyak oponen mereka di DPR. Jika PD tidak menyadari kelemahan mereka di sini, pamor SBY dan PD akan terus turun sampai di level di mana PD bukan lagi menjadi jaminan mutu. PD harus ingat bahwa di tahun 2014 mereka tidak akan mampu menggunakan nama SBY. Mereka harus benar-benar berdiri di atas kualitas partai mereka, berdiri di atas sosok kader baru untuk memenangkan pemilu.

Anas Urbaningrum contohnya. Dia punya sampai 2014 untuk mulai unjuk gigi dan membuktikan dirinya ke masyarakat jika dia ingin menjadi presiden. Jika PR ini tidak mereka kerjakan sebagai sebuah partai, maka PD bisa jadi kehilangan sebagian besar pendukungnya.

Andi Malarangeng? Lupakan. Dari mulutnya saja sudah ketauan dia tidak pantas menjadi presiden. Ga usah menarik simpati rakyat Indonesia,  menarik simpati partainya sendiri untuk menjadi ketua partai pun tidak bisa.

PDI-P

Kita semua tahu betapa mutungnya Mega kepada SBY. Nah, masyarakat ekonomi kelas menengah yang mampu beli koran dan nonton TV mampu melihat betapa inkompeten Mega selama ini. Kita melihat betapa Mega bertahun-tahun tidak pernah datang di acara 17-agustusan negara dan tidak datang saat pelantikan SBY 2 kali. Dahsyatnya, giliran Obama datang ke Jakarta, Mega dengan senang hati datang ke jamuan. Presiden sendiri tidak dia hargai tapi presiden negara lain dia datang. Cerdas bu! Cerdas! bagi masayarakat kelas menengah aksi terakhir itu mungkin adalah semen yang memastikan menutup pintu Mega jika dia ingin menjadi presiden lagi.

PDIP sendiri sebenarnya lumayan buntu dalam hal presiden. Banyak kadernya yang korup dan tidak ada satu pun yang mencuat. Apalagi yang mencuat dengan baik. perbandingan dengan PD, setidaknya PD punya Anas Urbaningrum yang hadir dengan membawa harapan dan ibaratnya kertas rapor yang bersih.

Namun dalam DPR, PDIP lain lagi. bertahun-tahun menjadi oposisi anggota DPR dari PDIP menjadi sangat kompak. Mereka sangat hati-hati bermain dan membangun network dia di dalam DPR. Praktis sebenarnya dalam hal keunggulan, PDIP adalah partai yang paling unggul dalam DPR. Ini sebenarnya yang mengerikan. PDIP adalah partai dengan visi yang sangat kerdil. Contoh kerdilnya, mereka memandang bahwa keberadaan TKI di luar negeri adalah wujud dari ketidakmampuan pemerintah memberikan lapangan kerja di dalam negeri. padahal TKI ini di tahun 2008 saja memberikan devisa USD 6 milyar. ini sama dengan 12% cadangan devisa. Juga, tidak ada satu pun kader dalam PDIP yang sadar cara kerja supply demand tenaga kerja internasional. Beberapa negara memiliki sumber daya alam yang banyak tapi simply kekurangan SDM untuk menggalinya. Di sinilah TKI dibutuhkan. Adalah sangat bodoh bagi PDIP untuk tidak sadar melihat ini.

Untuk mengusung capres pun, PDIP akan sangat bermasalah di kelas menengah. Jika mereka masih mengangap bahwa Mega adalah nama yang masih menjual, maka mereka tidak melihat betapa karatannya ide ini. Presiden yang gagal, 2 kali pemilu gagal juga, masih mau maju di 2014? Mending salurkan dana untuk mendidik capres baru. Sayangnya PDIP selalu memanipulasi masyarakat kelas bawah. tapi PDIP pun harus segera sadar bahwa poster Soekarno tidak lama lagi akan menjadi komoditas yang tidak laku. Mega sering berpidato dengan latar belakang poster Soekarno. Pertama, Mega sendiri buruk. kedua, generasi kita semakin muda dan efek getar Soekarno sudah mulai pudar. Tanyakan pada gue akan Soekarno dan gue akan bilang dia dahsyat. Tanyakan Soekarno pada keponakan kita yang sekarang SMP (nanti 2014 akan menjadi pemilih), efek getarnya kurang. Jika ada satu sosok dari PDIP yang masih idealis dan mampu menarik massa, maka orang itu adalah Budiman Sujatmiko (bener ga nih nulisnya). dari speak terjangnya di twitter, dia adalah anggota DPR yang lurus dan berkualitas. Kita lihat saja nanti.

Yang ideal adalah PD mengusung Anas Urbaningrum dan PDIP mengusung Budiman Sujatmiko. Dua tokoh muda dengan reputasi yang sama-sama bersih.

Golkar

Golkar telah sukses membunuh diri mereka sendiri di tahun 2009 ketika mereka memutuskan untuk tidak menunggu SBY dan memaksa JK menjadi capres. Planning yang kurang memaksa mereka menggandeng Wiranto yang kampanye partainya ofensif dan memiliki sejarah buruk dengan Indonesia di tahun 1997. Itu semua resep untuk masakan gosong dan Golkar gagal dengan sukses. Menjadi urutan ketiga dari pemilihan presiden sebenarnya adalah pertanda bagi golkar untuk segera berbenah diri. Tapi apakah golkar sudah berbenah diri? Kita lihat.

Menguasai media adalah kunci sukses menjadi presiden. media adalah hal yang penting. Lihat saja bagaimana TVOne dengan hati-hati mengupas kasus Gayus tanpa Aburizal bakrie sementara saat kasus century, SMI mereka panggang kiri kana depan belakang. Media dapat menyetir opini. Namun untuk capres 2009, Golkar kurang memanfaatkan ini padahal TVOne, MetroTV dan AnTV milik orang golkar. Jadilah mereka kehilangan.

Seharusnya Golkar adalah partai yang kuat. Beda dengan PD dan PDIP yang kekurangan sosok, Golkar adalah satu partai yang kadernya banyak sekali. Tantangan Golkar adalah perpecahan di dalam mereka sendiri. Surya Paloh yang memiliki MetroTV sudah keluar dan membentuk PND dengan sangat awal di 2010. Ini memberikan Surya Paloh cukup waktu untuk membangun kekuatan politiknya ke depan. disadari atau tidak, PND adalah pelemahan Golkar. SDM dan media pendukungnya jadi hilang.

Golkar masih punya JK jika ingin jadi presien dan mungkin kali depan 2014 akan berhasil. Jika mengusung Aburizal Bakrie, bisa kalah atau menang. Jika kalah, maka citra dia memang benar-benar buruk di semua kalangan. Jika menang maka mungkin uang berbicara karena secara hukum, orang ini sudah ketahuan integritasnya kurang dengan kasus Gayus.

PAN & PKS

Lupakan PAN. Partai yang gak pernah mau rugi terlihat tidak populis dan yang mana kampanye iklan mereka selalu mencaplok prestasi orang lain yang bukan hasil didikan mereka.

Lupakan PKS. Pegangan mereka yang terlalu islami tidak akan menyentuh rakyat yang kebanyakan mempraktekkan islam yang lebih moderat.

PND

partai Nasional Demokrat bisa jadi adalah cerminan Partai demokrat di tahun 2004 dulu. Mulai menggulat. Bedanya PND memiliki MetroTV sebagai media yang bisa memompa popularitas mereka. PND tinggal konsisten melakukannya dan menemukan sosok yang bersih untuk dijadikan capres. sangat mungkin PND menjadi kekuatan yang sangat besar dan berpengaruh di saat pilpres 2014 nanti.

Kita lihat bagaimana politik bergerak sampai di tahun 2014 dan apakah postingan ini, yang dibuat 4 tahun sebelumnya akurat atau tidak.

rgds.

Solusi Kemacetan Jakarta

Setelah tinggal di sini lagi baru deh kerasa betapa gilanya macet di Jakarta. Gue pribadi sih udah pasrah dan dari awal balik udah berniat meng-embrace kesulitan ini. Misalnya, kalo pergi pagi, pake sendal dan kaos. Biar nanti sampe kantor baru pasang separu dan kemeja. Toh di mobil gak ada yang dikecengin. KJika pun niat ngeceng, udah ada golok istri nunggu di rumah.

Terlepas dari gue yang pasrah macet, solusi harus ada. Dan solusi yang ada harus dijalankan tanpa tertunda kepentingan politik atau kepentingan uang pejabat. Kita ulas dulu beberapa hal:

Bahaya macet

Macet ini bahaya karena macet membuat konsumsi energi kita meningkat tanpa perlu. Seharusnya devisa negara bisa terpakai untuk bangun subway, ini habis terbakar di jutaan tanki kendaraan bermotor di Jakarta.

Membuat orang Jakarta jadi tidak produktif. Dengan kemacetan 4 jam sehari, seorang sales hanya dapat 3 meeting dan 2 deal. Jika macetnya hanya 1 jam, maka dia akan mampu katakanlah, dapat 6 meeting dan closing 4-5 deal.

Belum lagi masalah psikologis. Kurang waktu sama anak.

Belum lagi masalah fisik. Macet > 2 jam beresiko orang sakit ginjal karena ada yang nahan pipis misalnya. Atau orang dapat serangan jantung di bus dan tidak bisa tertolong karena busnya stuck di macet. Itu kejadian udah sering bener orang meninggal di dalam bus.

Kemakmuran wearga terhambat. Jika tidka macet maka budget perbulan untuk bensin hanya 500k. karena macet, bisa 1.2jt.

The Problem with Jakarta

- Jakarta ini aneh. Udah belasan tahun blue print subway udah jadi tapi gak realisasi juga. Kenapa ya? Apa karena segelintir pejabat mendapat untung dari setoran bus/angkot? Apa karena mafia/kartel bus/angkot sedemikian kuatnya? Jika iya, orang-orang itu layak dilaknati karena membuat hidup dari 12 juta orang lebih susah dari yang seharusnya.

- Apakah Transjakarta sebuah solusi?

Ya dan tidak. TJ adalah satu dari banyak simbol inkompetensi PEMDA membunuh root cause. Maunya solusi cepat dan murah tanpa memikirkan collateral effect yang terjadi karena solusi cepat itu.

TJ secara teori adalah sebuah solusi. Tapi kenyataannya, TJ memerparah kemacetan Jakarta. Kenapa? Ini sebabnya:

Logika simple dari pengadaan TJ adalah ini:

TJ mengambil 1 dari 3 jalur mobil. Jika tidak ada TJ, maka seharunya di satu garis jalan, terdapat 3 mobil. Karena 1 diambil jalur TJ maka mobil hanya bisa 2. Logika simplenya, TJ hanya akan efektif jika dia mampu menyerap

+ 1/3 pengguna mobil Jakarta

+ pengguna bus

+ pengguna motor

Jika 1/3 tidak terserap maka jalan hanya makin macet. Meski tidak ada data, jelas kita melihat bahwa TJ tidak menyerap 1/3 pengguna mobil Jakarta. Bukti dari ini adalah sebagian pengguna mobil akhirnya pindah menjadi pengguna motor. salah satu faktor Ini yang menyebabkan motor jumlahnya sangat banyak.

- Celakanya, Pemda Jakarta tidak melihat bahwa naiknya motor adalah konsekwensi alami kebijakan yang buruk. Mereka malah menganggap bahwa motor sebagai penyebab kemacetan. dan sekarang ada wacana bahwa motor harus dibatasi. Oalah, bukannya mobil yang dibatasi, bukannya subway dibangun, bukannya penyerapan TJ diperbaiki. Malah motor yang ditembak.

Solusi Kemacetan Jakarta:

+ pastikan TJ menyerap 1/3 pengguna mobil karena jalur TJ telah mengorbankan 1/3 kapasitas jalan umum. Caranya:

1. perbanyak armada

2. halte yang lebih manusiawi. masak WC aja gak ada?

3. Jika tidak kuat sediakan AC, mbok ya haltenya dibikin rindang, pake kaca rayban + kipas angin.

4. Sterilkan busway.

5. Perbanyak stasiun gas. Jika kita tidak kuat menyediakan banyak armada, maka armada yang ada harus terpakai semaksimal mungkin. Sekarang ini armada harus antri 3 jam hanya untuk isi gas. Itu bodoh. Sekarang tinggal dihitung mana yang lebih mahal. Penyediaan armada? atau penyediaan stasiun gas? Ingat bahwa bertambahnya armada, makin banyak yang antri gas juga. Jadi multiplikasi stasiun gas sangat wajib. Kenapa sih gak disatukan saja dengan pertamina? dari pada bagun stasiun gas dari nol yang pastinya mahal, mending taro semua gas di SPBU yang ada.

6. Jangan dibebankan ke rakyat. Ini lah beda pola pikir negara maju dan negara tertinggal. Bahwa angkutan umum itu tidak bisa menguntungkan dan maka dari itu, disubsidi pemerintah. Di Barcelona. Paris dan Singapore, semua tarif subway rata2 1 dolar atau 1 euro. emangnya dipikir balik modal apa investasi segitu mahal dengan 1 dolar. Tentu tidak. Negara yang tanggung agar rakyat dapat menyisihkan uangnya agar lebih makmur.

7. Di setiap jalan yang ada busway, angkutan lain minggir. Jangan ada yang bareng. Contohnya, kita punya koridor TJ kota blok M via sudirman. Maka reduksikanlah metro mini yang melewati sudirman. ini untuk memastikan semua pengguna bus beralih ke TJ dan jalanan jadi lebih nyaman. Ini membutuhkan renegosiasi dengan operator bus yang pastinya tidak hepi. Ini juga hanya menjadi masalah tambahan jika armada tidak ditambah.

+ Bangun Subway

Ini udah jelas, gue gak perlu terangin lagi kenapa.

+ Parkir!

Gue baca dari seorang blogger bernama treespoter yang sangat brilyan. Untuk lengkapnya, tolong baca di blog dia di sini: http://treeatwork.blogspot.com/2010/07/tujuh-solusi-kemacetan-jakarta.html

Ini gue kutip:

Parking surcharge, bukan road pricing.
Road pricing bagus, tapi repot pelaksanaannya dan rawan pelanggaran. Ada cara lebih mudah dan efektif: kenakan saja biaya parkir tambahan yang cukup tinggi (Rp 20.000 per sekali masuk?) di luar biaya parkir resmi buat seluruh kendaraan yang parkir di kawasan bisnis utama Jakarta. Orang akan enggan membawa mobil ke kawasan tersebut . Kalaupun membawa mobil, kalau sudah parkir akan enggan mengeluarkannya lagi. Untuk bepergian mereka akan terdorong untuk memilih berjalan kaki atau menggunakan angkutan umum.

Bagus kan? Tapi pre-conditionnya jelas bahwa

+ TJ harus dimaksimalkan

+ pertumbuhan motor jangan dihalangi

+ bangun subway

jangan sampai parking surcharge ini diberlakukan tanpa ada penyelesaian. Pemda dari dulu dalam mengatasi kemacetan selalu menerapkan kebijakan tanpa memberikan alternatif. Ketika altrnatif ini berbuah buruk, dibiat lagi kebijakan tambal sulam. Gitu aja terus sampai semua orang Jakarta rugi uang dan waktunya.

+ Perbaiki Perolehan SIM

motor dan angkot dituding ugal-ugalan oleh semua orang. Dibilangnya gak tau aturan etc etc. Tapi kita ga pernah nanya pada diri kita sendiri, lantas proses mendapatkan SIMnya gimana? Sekarang ini dalam jargon bebas korupsi, POLRI sudah bagus memudahkan proses SIM. Gak ada lagi korupsi dan calo. Nah di situ root causenya. Semua yang ingin mendapat SIM wajib lulus tes rambu dan tes kendara. Nanti di dalam SIMnya tandalan saja dengan  bintang yang mengartikan telah lulus tes itu. Bintang ini akan membedakan mana orang yang belum perpanjang SIMnya dan mana yang sudah.

Oke deh segitu aja dulu dari gue. Yang jelas, warga Jakarta butuh solusio cepat. Merealisasikan semua yang di atas butuh waktu dan uang jadi gak pemda gak bisa gerak cepat memberi. Tapi mbok ya solusi yang diberikan itu menyentuh akar masalahnya. Bukannya kebijakan tembak itik terbang.

Demokrasi Kita Mahal

Tahun 1998 adalah tahun dibukanya tabir KKN. Puncak di mana publik melihat bahwa keuntungan SDA daerah tidak kembali ke daerah dan hanya berkumpul di pusat. Dan itu pun digerogoti. Trauma dari kejadian ini, tokoh-tokoh reformasi di saat itu membuat aturan baru. bahwa semua pemimpin harus dipilih langsung oleh rakyat. Konsekwensi logisnya, kita harus menjalani pesta demokrasi 4 kali dalam 5 tahun.

1. Presiden dipilih rakyat

2. DPR dipilih rakyat

3. Gubernur dipilih rakyat

4. Bupati dipilih rakyat

Ini Baik Atau Buruk?

Baik karena kita tidak jadi kucing dalam karung. Minimal kita tahu proses pemilihannya. Buruk karena masih dipolitisir. Semua calon di atas harus terkait sebuah partai. Semua calon harus punya uang untuk menjalankan PEMILU. Tidak bisa calon independen. Konsekwensinya, dosen Teknik Planonogi ITB yang bisa jadi memiliki kompetensi mengurangi kemacetan di sebuah kota, tidak dapat jadi walikotanya. Sedangkan (maaf saya tidak bilang semua walikota bodoh) tapi orang yang kurang ilmu namun berlimpah uang memiliki rasio kesuksesan menjadi pemimpin kita.

Dua hal baik dari sini adalah :

- secara finansial 4 kali dalam setahun, rakyat ketiban sedikit rejeki. jalanan masih macet tapi sebagian dapet BLT. jaman dulu, mungkin orang itu udah nyimpen duitnya di bank mana entah.

- kita menegakkan demokrasi dan untuk itu reputasi dan image kita di mata Internasional menjadi lebih baik.

 

Padahal sayang sekali. Coba gubernur yang nunjuk walikota. Dia akan benar-benar menunjuk orang yang kompeten dan bisa jadi semua masalah akan beres lebih cepat. Uang milyaran yang habis terbagi ke rakyat untuk perut kenyang sebenarnya dapat digunakan untuk government expenditure membangun jembatan, rumah sakit dan pendidikan yang mana jauh lebih baik bagi rakyat daripada kasih uang ketika pemilu begitu saja. memberi infrastruktur, bendanya awet 2 generasi. bagi2 uang ke rakyat, besok udah keluar di wc.

Ongkos Demokrasi

Kita dapat bayangkan berapa banyak uang yang berputar di dalam negeri untuk ini. ratusan calon walikota/bupati, 99 pasang calon gubernur, 3-4 pasang capres semuanya mencari uang milyaran untuk dana kampanye dan membagi2kan pada rakyat. Dari mana uang sebanyak itu? Benarkah itu uang mereka? Apa iya di Indonesia terdapat sebanyak itu orang yang memiliki uaang milyaran? Apakah itu uang orang lain yang nantinya meminta timbal balik?

Ini yang sering terjadi.

“Saya dukung anda, nanti saya dapet tanah di sini ya.”

“saya dukung anda, tapi jatah menteri yang strategis ya.”

Runtutan yang terjadi adalah:

calon meminta uang ke donatur

donatur beri dukungan/uang tapi minta konsesi

calon memutar uangnya ke rakyat dalam bentuk pemilu

calon berjanji A B C pada rakyat

calon terpilih (yang sekarang pemimpin) menggunakan kekuasaan dan waktunya memberikan konsesi pada donatur.

pemimpin, jika ada waktu dan ruang kekuasaan yang tersisa, baru memenuhi janjinya pada rakyat.

 

Apa yang terjadi? Demokrasi jalan tapi sistem kontrol rakyat tidak jalan. padahal kita memilih demokrasi dari otoriterisme demi mendapatkan kontrol rakyat itu seperti yang gue bilang di posting ini tentang diskoneksi rakyat dan penguasa.

 

Iya kalo tidak merugikan rakyat. Kalo merugikan rakyat?

Intinya seseorang meminta kita menjadi pemimpin mereka hanya untuk mendapatkan dia menjadi budak konsesi setelah dia mendapatkan status pemimpin itu. Coba baca cuplikan artikel metrotv di bawah ini:

http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/analisdetail/2010/06/07/21/Parpol-Bingung-Pemerintah-Direcoki

Lalu, bagaimana peran dan jasa parpol kita selama ini? Yang pertama tentu saja berpartisipasi untuk membangun dan menjaga tradisi berdemokrasi yang sehat dan dewasa. Demokrasi yang tidak mencerdaskan dan mensejahteraan rakyat pada akhirnya akan digugat keberadaannya. Orang sering menyebutnya sebagai demokrasi semu, demokrasi setengah hati, demokrasi prosedural, atau bahkan democrazy.  Jadi, banyaknya jumlah parpol tidak identik dengan kematangan berdemokrasi. Benarkah aktivitas dan produk parpol yang wakilnya berkumpul di lembaga DPR dan sebagian duduk di jajaran kabinet kinerjanya bagus? Ataukah hanya sibuk dengan dirinya sendiri mempersiapkan pemilu dan pilkada?

 

Di berbagai daerah peran parpol seakan hanya berjualan “boarding pass” bagi calon kepala daerah yang berminat dan berduit, namun yang bersangkutan tidak memiliki visi dan komitmen untuk membangun daerahnya. Berbagai kasus yang terjadi amat sangat menyedihkan: calon yang kalah ada yang gila dan ekonomi keluarganya bangkrut tak ubahnya orang gulung tikar kalah judi.

 

Yang menang pun sarat manipulasi. Begitu menang agenda pertama menghitung ongkos yang telah dikeluarkan selama kampanye untuk dicari gantinya plus untungnya dengan jalan korupsi. Inikah wajah demokrasi kita? Apa yang hendak dilakukan parpol terhadap semua ini?

 

Sinting kan? ada lagi yang lebih parah dari sini.

 

Pembangunan justru jadi tidak sinergis. Kisah nyata adalah sebuah kisah dari teman gue yang kerja di UKP (Unit Kerja presiden). Menteri Perikanan punya niat baik membangun freezer di sebuah desa X di Selatan Jawa. Jalan beberapa bulan, ditemukan bahwa freezer itu tidak ada di desa X. Semua orang panik. Setelah cek sama bupatinya ternyata bupati melihat bahwa freezer ini, jika ditempatkan di desa Y, akan memberi manfaat langsung untuk desa A B C sekaligus.

 

Tapi masalahnya bupati dan menteri gak saling ngomong. Buat sapa saling ngomong, emangnya bupati bertanggung jawab pada presiden? Gak langsung. Kenapa? Kan rakyat yang pilih. nah lo?! Kita pilih bupati. Kita pilih presiden (yang milih kabinetnya). keudanya kita yang milih tapi keduanya gak koordinasi. Mau jadi apa pembangunan kita? Untung keduanya berniat baik dan freezernya memang terbangun di desa Y. Coba dibawa lari? Itu cermin betapa buruknya ekses demokrasi yang tengah kita bangun ini. Untung kebanyakan dari mereka masih waras.

 

If I have it my way, gue:

1. akan limit PEMILU jadi Presiden, DPR dan Gubernur. Biar gubernur yang pilih walikota. Agar gubernur bisa memilih talent yang kompeten untuk membangun daerahnya.

2. gue gak akan mendemokrasikan semua aspek dalam kehidupan kita. karena untuk terjadi pembangunan memang harus ada satu orang yang kita percaya untuk kerja, dan kita beri dia waktu dan ruang untuk bekerja. Jangan tiap detik kita teriakin salah – seperti yang terjadi dengan pemertintah-DPR sekarang ini. Ketengilan.

 

Gua akan akhiri posting ini dengan satu kutipan dari (salah satu) novel (yang entah kapan selesainya) yang sedang gue bikin:

“Tidak ada anak bangsa yang terlahir meminta menjadi anak Indonesia. Namun kita pemimpin bangsa, meminta dan merayu mereka untuk percaya memimpin mereka. Kita berhutang pada mereka untuk memberikan yang terbaik.”

Diskoneksi Rakyat – Penguasa

Beberapa peristiwa yang terjadi di negara kita dan tindak tanduk wakil rakyat kita membuat gue mikir,
“Bukan ini yang kita inginkan.”

Rakyat – DPR
Indonesia adalah demokrasi ketiga terbesar setelah India dan Amerika. Tapi gue melihat bahwa sistem demokrasi yang sekarang masih bisa diperbaiki. Ada diskoneksi di sini.
Rakyat milih anggota DPR -> anggota DPR terpilih -> anggota DPR bertindak/melakukan/memutuskan hal-hal yang rakyat sendiri tidak setuju.

Sedangkan antara anggota DPR dan Pemerintah:
anggota DPR ngebully pemerintah -> pemerintah terkadang bereaksi dan terkadang terpojok.

Jika pemerintah adalah kuda, maka anggota DPR orang yang memiliki tali kendali atas kuda itu.
Tapi jika anggota DPR adalah kuda, kenapa yang gue liat adalah rakyat tidak memiliki kendali atas anggota DPRnya? Setelah terpilih, lepas aja lari tanggang langgang berbuat onar, tidak jarang merusak kebun kita sampai merugikan kita sendiri.

Tidak jarang kita lihat di media, mereka mengusung kepentingan partai mereka sendiri sedangkan kita tidak.

Demokrasi di Indonesia memeiliki sistem yang baik yang membolehkan DPR melakukan check and balance pada pemerintah tapi siapa yang mencek dan membalance DPR?

Hidup rakyat diatur oleh hukum. Hukum disahkan oleh DPR dan di-execute oleh pemerintah. Lantas kenapa hukum-hukum yang keluar, sangat timpang? UU perfilman misalnya, sangat memberatkan orang-orang kreatif Indonesia. ketika DPR yang notabene wakil kita menelaah UU itu, apakah mereka turun dan meminta pendapat kalangan sineas? Jika iya,. kenapa banyak sekali yang kemudian kecewa?

Ketika mereka minta dana 1.2 trilyun untuk renov kantor, siapa yang bisa mencegah mereka? ketika mereka tiba-tiba minta ini itu, siapa yang bisa mencegah mereka? Sistem yang ada tidak membolehkan rakyat untuk secara langsung bilang tidak boleh dan hanya bisa nonton di TV dan gigit jari.

Rakyat – Pemerintah
Kita ambil 2 kasus.
Kisah pasangan HADE menjadi gubernur JABAR. Pasangan HADE terpilih jadi gubernur atas pemilu langsung rakyat. Sistem yang ada membolehkan calong penguasa untuk mengajak rakyat memilih mereka. Tapi setelah jadi gubernur, ketika masyarakat Bandung mengeluh banyaknya jalan yang rusak, kita seperti yang tidak bisa pergi ke kantor gubernur dan menjewer gubernur itu untuk turun ke jalan dan memerbaiki jalan.

Kisah SBY menjadi presiden kedua kalinya
Kita seperti yang tidak punya kuasa untuk menuntut penjelasan dari banyak kasus. Ketika SMI mundur, dia seperti yang punya kuasa untuk tidak perlu menjawab pertanyaan rakyat. Ketika Susno Duadji ditangkap polisi, presiden tidak berkomentar sama sekali.

Dan masalah dengan SBY, dia memiliki upperhand. Dia toh tidak bisa menjabvat presiden kedua kalinya sehingga tidak ada tekanan untuk menujukkan performa yang baik. Beda sekali dengan orang yang sama 5 tahun yang lalu yang giat ke sana kemari.

Sejauh ini, satu-satunya kekuatan rakyat yang jelas ada hanyalah kekuatan memilih dan itu pun 5 tahun sekali. Di antara lima tahun itu, kita hanya jadi orang yang disuruh bayar pajak dan terpana sakit hati dipakai apa saja uang pajak kita. Dan let me tell you something, tax rate kita tidak murah.

Sekarang gue pengen tanya sama pembaca: ada gak anggota DPR atau anggota DPRD kalian yang secara berkala, atau pun sekali-kali, mengadakan acara kumpul bersama, urun dengar, pengaduan, diskusi dengan rakyat, atau paling minimal memberikan kotak surat pengaduan?

Ada gak? Semoga jawabannya ada ya. Karena jika tidak, maka ada diskoneksi antara kita – DPR, dan kita – Pemerintah. Dan ini harus dibenahi. Ada yang bisa kasih pendapat tentang ini?

Survey Kecil – Bagaimana Alokasi Dana Lu?

Tergelitik dari posting ini: http://www.pandji.com/surcil/, gue juga pengen melakukan analisa dan survey yang sama. Tapi bedanya, itemnya sedikit gue expand ya.

Gue akan membeberkan versi gue terlebih dahulu dan gue pengen tahu, versi kalian bagaimana.

Jika kita mengatur APBN kita dan kita memiliki item-item di bawah, bagaimana kalian akan mengalokasi dan mendistribusikan dana kalian. Ini dengan asumsi tidak ada korupsi ya. Well, any ways work ketika tidak ada korupsi.

1. Pendidikan
2. Kesehatan
3. Pariwisata
4. Olahraga
5. Pertahanan Negara
6. Agrikultur & Pangan
7. Infrastuktur

Versi gue:
Versi gue ini didasari oleh pemikiran balance sheet sebenarnya. Di mana objectivenya adalah memastikan balance sheet kita positif. Untuk itu, dana harus disalurkan pada sektor-sektor yang akan memberikan:
- devisa dari luar
- memastikan bahwa kebutuhan basic negara dipenuhi oleh resource dari Indonesia. Karena jika kebutuhan basic negara harus diimpor. Kita akan seterusnya berhutang.
- kita juga harus cukup kaya (liquid) ke level di mana untuk running cost sebuah negara, kita harus bisa membiayainya dengan uang sendiri. Bagi kalian yang masih muda, mungkin kalian gak tau bahwa ada masanya negeri ini memakai hutang untuk membayar gaji pegawai negeri dan guru. Itu adalah sebuah kondisi yang kita tidak ingin alami lagi.

Infrastruktur 40%
Kebetulan gue lulusan teknik sipil. Dari sini gue diajarin bahwa bangsa bisa bergerak jika ada infrastrukturnya. Uang yang dihabiskan untuk membangun infrastruktur bisa saja dianggap sunken cost. Tapi sebenarnya kita butuh infrastruktur.

Kita butuh lebih banyak bendungan agar petani bisa lebih banyak panen pertahunnya. Ini membantu sektor agrikultur dan membantu kita surplus beras. Ketika kita surplus beras, maka kita gak perlu impor beras dan karenanya, devisa kita surplus. Jangan sampai seperti Filipina yang untuk beli beras, mereka impor.

Kita butuh jaringan jalan dan jaringan perkapalan yang lebih baik agar semua kota tersambung dengan baik agar lintas barang bisa lebih cepat. Contohnya gini. Kalimantan bukan pulau vulkanik dan karenanya kesulitan menanam sayur. Akhirnya kebanyakan ambil sayur dari pulau jawa dan sulawesi. Ini membutuhkan angkutan laut dan angkutan darat. Kabayang kan kalo kapal2 kita gak jalan? Kalo jalan kita hanya 2 jalur. Harga sayur di kalimantan akan makin mahal. Lengkapnya infrastruktur akan memotong harga barang karena transportasi dari barang-barang ini menjadi lebih efisien.

Kita butuh pelabuhan lokal dan freezer lokal untuk dibangun di seluruh pesisir pantai karena dengan begitu, jerih payah nelayan akan lebih = awet tersimpan. Sekarang ini, umur ikan yang mereka tangkap sangat pendek karena tidak ada wahana freezer ini. Akhirnya seharian melaut, harus dijual cepat dan jual cepat = jual murah. Jaringan jalan juga penting bagi para nelayan. Tanpa jalan yang bagus, ikan-ikan di Pangandaran hanya sedikit yang sampai pedalaman. Dengan jaringan jalan yang baik, dan freezer ini, ikan mereka dapat terjual ratusan kilometer lebih jauh dan mereka akan lebih kaya.

Ini adalah rancangan di desa-desa. Di perkotaan infrastruktur seperti mass rapid transit penting untuk membuat hidup orang lebih baik. Sekarang ini, temen gue si dept sales, cuman bisa ketemu 2 klien sehari karena macet. Adanya rapid transit mungkin bisa membuat waktunya lebih produktif dalam 1 hari. Dan lagi-lagi, productive time = better income.

Ekspor kita akan lebih produktif dan lebih bersaing jika infrastrukturnya baik. Gue kebetulan kerja di shipping. Gue tau banget bahwa parahnya jalanan dan infrastruktur di pulau Jawa membuat tukang kayu memasukkan komponen transportation cost sebesar 20% dari harga kursi yang dia jual. Katakanlah dia jual kursi 1 juta. Orang cina jual kursi 900k. Padahal, sebenernya tukang kayu kita bisa jual kursi itu dengan harga 800k. Hanya saja transportasi dan korupsi pajak, cukai dan polisi mengharuskan dia memasang price tag 1 juta. Sayang kan? Buyer di amerika ya jelas lah lari ke tukabng kursi cina meski lebih murah 100k. So you see kenapa transportasi dan infrastriuktur harus bagus (dan korupsi harus minim tentunya).

Mau pariwisata maju? Bangun lah airport yang memadai. Airport yang kecil tidak akan mengijinkan pesawat besar masuk. Ketika pesawat besar tidak bisa masuk, semua turis harus lewat jakarta atau lewat singapur dan ganti pesawat budget. Ini yang membuat pariwisata agak sulit berkembang, Kalo airport dan runwaynya gede sedikit aja, maka turis dari jepang bisa buka direct flight Nagoya-Tarakan misalnya.

Agrikultur & Pangan 20%
Indonesia sudah tidak boleh bergantung pada sumber daya alam yang terbatas seperti Oil and gas. Indoinesia kaya akan 2 hal. Tanah yang subur yang bisa ditanam apa saja dan sumber daya manusia.

Kita harus memanfaatkan seluas mungkin tanah subur yang tersisa untuk menanam semua jenis pangan untuk:

- kebutuhan konsumsi 200+ juta penduduk Indonesia Dari 25% itu, sepertiga harus masuk ke riset untuk mendapatkan bibit unggul. Riset penting banget. Dengan menemukan bibit unggul (dan infrastruktur yang lengkap) seorang petani yang sekarang bisa panen 10 ton per tahun dari 1 hektar, bisa panen 40 ton pertahun dari luas tanah yang sama. Ini yang Pak Harto dulu bilang dengan intensifikasi pertanian.

Duren Rancamaya misalnya. Sekarang duren rancamaya, katakanlah bijinya gede dan gak tahan hama. Jadinya petani hanya panen 1 tahun sekali dan itu pun hanya diminati oleh orang domestik. Kalo kita berhasil riset duren rancamaya yang dagingnya lebih tebal dan bijinya kecil dan tahan hama, maka petani bisa gunakan bibit ini untuk panen 2 kali setahun, harganya lebih baik dan dia bisa ekspor. Yang tadinya earning rupiah, petani ini bisa earning dolar dan bukan gak mungkin menyekolahkan semua anaknya ke luar negeri.

Gue emang nulis manis-manisnya tapi setidaknya ini adalah efek yang mungkin terjadi. Setidaknya ini adalah efek yang Thailand rasakan dengan durian monthongnya.

- Sepertiga kedua harus jatuh ke pembebasan dan pelestarian lahan dari lahan Industri. Yang gua maksud dengan pembebasan lahan di sini bukannya pembeasan lahan dari hutan ke sawah ya. Tapi dari lahan guna industri, balik ke lahan guna tani.

You see, yang salah dari jaman Orba adalah sentrralisasinya. Semua industri didirikan di pulau jawa. Akibatnya lahan tani menjadi sedikit karena lahan tani malah dijadikan pabrik. Mereka dulu pikirnya gak mau industri di Kalimantan karena infrastrukturnya gak ada. Yang salah dari pemikiran ini adalah seharusnya infrastruktur kelautan antar pulau lah yang harus diperbaiki. Kalimatan cocok untuk industri karena tanahnya tidak vulkanik. Jadi mendirikan pabrik itu gak sayang lahan.

Makanya luas lahan vulkanik harus sebanyak mungkin digunakan untuk agrikultur. Malah Suharto bersikeras untuk menjalankan program lahan sejuta hektar di Kalimantan. Gagal total itu.

- Ada kekhawatiran bahwa jika semua petani sukses, maka harga pangan akan turun dan petani tidak akan kaya. Jangan takut. Surplus bisa dipackage dan dimarketkan ekspor ke luar negeri. Sepertiga dana pertanian harus masuk ke dalam marketing untuk mengenalkan produk-produk agrikultur kita pada dunia.
Thailand sukses dengan riset duren dan marketing durennya. sekarang ketika orang sedunia mikirin duren, mereka mikir, duren monthong thailand.
Australia sukses dengan apelnya dengan cara yang persis sama. riset dan marketing.
New Zealand sukses dengan daging sapi dan kambingnya dengan cara yang sama. riset dan marketing.

Ini adalah kedua hal yang justru tidak terlihat dari dept pertanian padahal luas tanah kita lebih banyak dari new zealand dan thailand. Kita menang wilayah tapi gak pernah menggunakan otak kita. 30% alokasi dana untuk agrikultur dan pangan (termasuk hasil laut ya) akan mempu memberi makan 200 juta bangsa Indonesia dari tanah sendiri dan menjual kelebihannya sebagai devisa negara.

Pendidikan 20%
Semua orang bilang pendidikan itu penting. Ya. Tapi mari kita coba rincikan mana yang penting dalam area pendidikan itu.
- 5% wajib masuk untuk gaji guru. Ketika guru dibayar dengan baik, guru akan konsen ngajar.
- 5% masuk ke maintenance sekolah dan pembangunan sekolah.
- 15% masuk ke perbaikan mutu pendidikan sarjana agar sarjana bisa lulus dan bersaing secara internasional & masuk ke perbaikan kualitas tenaga kerja buruh. Alasannya gue kasih di bawah.

Indonesia itu yang berlimpah adalah sumber daya manusia. Secara natural kita punya lebih banyak tenaga kerja daripada lapangan kerja. Sangat tidak logis untuk berpikiran bahwa pemerintah wajib memberikan lapangan kerja untuk 200 juta orang di dalam negeri. sebagian harus merantau. Ini sebabnya gue benci sama PDIP. Mereka penganut kepercayaan ini. Sebenarnya PDIP harus menjilat ludah sendiri karena pada masa pemerintahan Mega, dia sendiri tidak berhasil menciptakan lapangan kerja yang cukup. Malah gaji PNS kita bayar pakai hutang. Gue lihat sikap ini adalah bersikukuh memegang pandangan yang salah tapi tidak mau mengakui bahwa pandangan itu salah. Partai seperti ini jika sampai berkuasa, bisa-bisa rakyatnya binasa.

Tapi untuk merantau, kualitas kita harus baik. Jangan sampai terjadi brain drain seperti kasus Sri Mulyani. Bibit terbaik bangsa malah kerja di luar negeri. Jangan sampai seperti kasus TKI kita di Malaysia. Kurangnya mereka akan pendidikan membuat mereka mudah diabuse oleh majikan. Semuanya harus imbang. Lulusan Baik lulusan sarjana mau pun buruh harus lulus dari pendidikan yang baik dan berstandar internasional.

Kita harus jadi negara yang mampu memersiapkan sarjana dan buruh kita untuk kerja di luar negeri. Saat ini ada 200-400 ribu tenaga kerja kerah putih WNI yang kerja di luar negeri. Dan sekiat 3.6 juta kerah biru tersebar di arab, singapur, malaysia, taiwan dan jepang. totalnya 4 juta orang, 2% populasi. Bagi kalian yang gak tau, di tahun 2008 saja, remittance dari TKI ini USD 6 Milyar. ibaratnya 1 orang TKI kirim uang ke Indonesia USD 1500 pertahun. Devisa Indonesia di tahun 2008 adalah USD 56 Milyar. Bayangkan, 2% populasi Indonesia menyumbang 10.7% devisa negara.

Bayangkan apa jadinya kalo ada lebih banyak lagi TKI di luar negeri? Ini yang menyebabkan India sangat kaya. Ini yang menyebabkan Filipina masih bertahan. Filipina sudah dalam fase di mana mereka menggunakan remittance 4 juta perantau mereka untuk membeli beras dari Vietnam dan Indonesia untuk memberi makan 60 juta teman-teman mereka di dalam negeri. Alhamdulillah Indonesia berkat Pak Anton, surplus beras. Jadinya devisa hasil 4 juta teman TKI ini tidak habis. Anehnya beliau tidak lagi menjadi menteri pertanian.

Pariwisata 15%
Pariwisata adalah potensi devisa yang tidak ada habisnya. Dengan asumsi semua airport dan jalan akses ke tempat pariwisata sudah diambil dari Infrastruktur ya. Alokasi dana untuk ini adalah:
- 1/2 untuk memercantik semua tempat wisata.
- 1/2 untuk iklan di seluruh channel dunia untuk iklanm pariwisata Indonesia.

Jika tidak cukup dana maka seharusnya dikoordinir atau digilir. tahun ini semua dana konsentrasi ke tarakan, lombok, komodo, nias dan belitung. Percantik daerahnya, educate orang lokal untuk tidak terlalu oportunis dan bikin international advertising campaign besar-besaran untuk 5 daerah ini untuk tahun 2010. Begitu berikutnya untuk tempat wisata lain.

Langkah-Langkahnya adalah sebagai berikut:
- Perbesar runway airport
Seperti yang sudah dijelaskan di atas. RUnway yang lebih besar akan mengijinkan pesawat besar untuk masuk. Selama ini untuk masuk Indonesia itu gak murah lho. Turis harus berganti pesawat di Jakarta untuk pergi ke daerah wisata. ganti pesawat artinya harga tiket keseluruhan lebih mahal. Karena lebih mahal, mereka memilih untuk gak ke Indonesia sekalian.
- Perbaiki infrastruktur di kota/pulau itu. Pastikan dan bayangkan jika kita jadi turis, kenyamanan dan kemudahan akses apa yang kita harapkan?
+ Signage bahasa inggris
+ jalan yang rapi
+ tata kota yang rapi
- penduduk lokal yang relatif bisa bahasa inggris
- penduduk kota dieducate bahwa daerah mereka adalah daerah target wisata tapi jangan jadi tamak dan sombong. Ada sebuah pulau di Indonesia yang saking terkenalnya, mereka lebih menghormati turis asing dan tidak menghormati turis lokal.

Lihat Bali. Bali udah beberapa puluh tahun terkenal dan karenanya banyak bupati di Bali yang sudah bisa menggratiskan pendidikan dan kesehatan. Mari kita konsen ke tempat-tempat lain yang sama indahnya agar rizkinya terbagi.

Sisanya gure cuman punya 5%. Itu dibagi-bagi antara kesehatan, pertahanan, dan olahraga.

Dari analisis di atas, terlihat bahwa infrastruktur menjadi fondasi penting bagi semuanya. Ekspor gak akan jalan tanpa infrastruktur. Pertanian dan ketahanan pangan gak akan jalan tanpa infrastruktur. Pariwisata gak akan jalan tanpa infrastruktur. Semua penggerak eknomi suatu bangsa gak akan jalan tanpa infrastruktur.

Kenapa kesehatan dan pertahanan negara gak penting bagi gue? Bukannya gak penting tapi mungkin itu tahap berikutnya.
Yang urgent bagi kita adalah menggunakan sumber daya kita, baik alam dan manusia, untuk memberi makan dari kantong sendiri (tidak impor) dan bagaimana caranya memerbanyak ekspor.

Ketika kedua ini terpenuhi, maka balance sheet kita akan positif. Hutang kita akan mengecil dan kita akan mampu menyediakn kesehatan dan pendidikan. Kita tidak lagi bergantung pada negara lain dan bahkan negara lain akan bergantung sama beras kita, duren kita, ekspor kita dan buruh dan serjana-serjana kita. dari semua item ini,. datanglah devisa yang kita bisa pakai untuk membeli kesehatan. membeli peralatan perang dan membeli sarana yang baik untuk memerbaiki olahraga kita. Bottom line, kita butuh duitnya dulu sih menurut gue.

Sekarang gue mohon dong dishare dari kalian, kalo versi kalian alokasi dananya gimana?

Sri Mulyani, Century & World Bank

Kita singkat aja SMI ya. Bangsa Indonesia ini paling jago sama yang namanya menihilkan jasa seseorang. Ada cerita yang menarik tentang SMI dan kasus Century.

Awal dari Century
Suatu hari yang cerah di tahun 2009 ketika SBY di luar negeri, SMI dan Boediono datang ke JK membawa kasus Century. Inti masalahnya adalah century basically digondol maling dan pemerintah harus memutuskan untuk
a. membail out century pakai uang negara
b. membiarkan century jatuh

JK menilai untuk membiarkan Century jatuh. Biar saja, ini sama saja dengan perampokan. SMI dan Boediono menilai bahwa resiko dari membiarkan century jatuh terlalu besar. Resikonya adalah, kepercayaan publik terhadap perbankan bisa jatuh, semua orang panik dan kita akan mengalami rush seperti yang kita alami tahun 1998. Yang terjadi saat itu begitu buruknya sehingga kita butuh recovery bertahun-tahun.

Ini adalah kondisi di mana tidak ada yang benar salah. Coba kita pikir baik-baik. Apakah kita mau industri perbankan collapse lagi? Lu semua mau susah cari makan lagi? Lu semua mau 1 USD = 20 ribu ? Lu semua mau masuk jeratan IMF lagi ? Di sisi lain, apakah kita semua mau uang pajak kita (yang tersisa dari catutan Gayus) dipakai untuk nalangin uang yang digondol maling ? Jawabannya sama-sama nggak.

Jadi SMI harus membuat keputusan dan keputusannya adalah membail out Century.

Ironi JK
Di sini lah gue bilang kita itu bodoh. Dari awal JK gak setuju dengan bail out ini. Dan dalam kampanye kepresidenan, JK menyerang Boediono atas kebijakan ini. Ironisnya, Boediono menang dan JK kalah pemilu. SEKARANG, DPR menganggap bahwa keputusan bail out itu salah. Kalo gue jadi JK, gue bakal mati sakit hati sama orang Indonesia. JK dalam hati mungkin udah ngomong ”GUE BILANG JUGA APE?”

Ironi SMI
SMI adalah satu orang yang kerja keras di kabinet. Dia berasal dari kalangan profesional dan karenanya gak punya darah atau tumpangan politik. Hal ini membuat dia mampu melakukan mereformasi birokrasi. Karena dia, kita menjadi negara ketiga dengan pertumbuhan positif tertinggi di masa krisis. Bahkan Singapura dan negara ASEAN yang lain tidak sebagus itu. Resiko akan collapsenya industri perbankan bisa menghapus semua pencapaian kita ini. Makanya dia memutuskan untuk membail out century. Tidak ada yang benar dan salah.

Makanya gue sakit hati banget ketika melihat Pansus Century abis-abisan menyalahkan dia.

Enak banget nyalahin SMI? Gak ada 1 orang pun yang berhak nyalahin karena kita semua tidak bisa melihat efek sesudahnya. Tidak ada yang bisa memastikan bahwa collapse itu akan atau tidak akan terjadi karena sudah lewat. Makanya tidak ada yang berhak menilai salah. Pansus Century enak bener cuman duduk, tanpa background ekonomi, melihat masalah dalam kilas balik dan menyalahkan SMI. Di saat SMI memutuskan dia gak tau dan gak bsia kilas balik karena masanya belum terjadi.

Gini deh, kita kasih analogi. Anak kita pengen kita masukin ke sekolah yang bagus. Dia lulus tes, sekarang tinggal masalah siapa yang bisa ngasih uang sumbangan terbesar. Si ayah bilang gak usah disumbang. Si ibu bilang, kasih 10 juta. Kita kan gak tau. Kalo kursinya 50 dan yang lulus 60, maka yang dipilih adalah 50 penyumbang tertinggi. Baik si bapak mau pun si ibu di saat itu gak bisa memutuskan apakah 10 juta itu kelebihan atau kekurangan. Akhirnya kita nurut sama si Ibu, kasih 10 juta. Beberapa minggu kemudian pengumuman keluar dan si anak diterima. Setelah itu kita tahu dari tetangga bahwa dia nyumbang 200 ribu dan masuk juga.

Apakah si ayah berhak marah sama si ibu ? Apakah si bapak berhak bilang I told you so ? Tidak.

Baik si ayah mau pun ibu gak tau di saat itu sumbangan minimum berapa yang layak dan apakah anak yang lulus > bangku yang ada. Dan di sinilah yang bikin gue gerah sama anggota Pansus. Mereka gak berhak memvonis salah.

Ironi SMI gak habis sampai di sini. Semua anggota Pansus menafsirkan penunjukkan World Bank ini sebagai penghindaran hukuman. Holoh ! seseorang gak bisa dihukum kalo dia gak salah dong.

Ironi Kita, Pembayar Pajak
Sekarang, dia pergi ke World Bank dan kita stuck dengan orang-orang bodoh ini. Orang-orang bodoh yang kita bayar gajinya pakai uang pajak kita. Orang-orang bodoh yang menyalahkan SMI mengucurkan dana 6.7 trilyun dan dengan cerdasnya meminta 1.7 trilyun untuk renovasi bangunan.

Kita stuck dengan orang-orang ini. Ironis.