Untuk bahan bacaan:
http://www.newsweek.com/id/178817
http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/15/16273525/sri.mulyani.bagi-bagi.uang
http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/22/1816414/pendapatan.negara.bertambah.rp.136.triliun.dari.pajak
http://www.thejakartapost.com/news/2009/01/12/insight-indonesia-has-potential-become-a-black-swan.html
http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/16/09544795/setelah.swasembada.beras.lalu.apa.lagi
2009 ini Indonesia akan diberikan kesempatan untuk memilih presiden lagi. Dari tahun 2008 sebenarnya Amien Rais (AR), Mega (MS) dan Prabowo (PS) sudah gencar. Sementara PS gencar kampanye, AR dan MS gencar menjatuhkan SBY. Baru akhir-akhir ini gue denger PS mulai gencar kritik SBY. Bilangnya petani masih gak diperhatikan dan kalo bagi-bagi uang saja sih dia juga bisa.
Haruskah kita berikan SBY kesempatan lagi? Atau kinerja dia mengecewakan sehingga kita harus berikan kesempatan kepada yang lain? Gue di sini cuman ngajak untuk liat fakta-faktanya.
SBY mewarisi sebuah Indonesia yang sangat terpuruk dari 4 presiden sebelumnya. Hutang IMF yang banyak karena Suharto dan Habibie dulu berpikir itu hal yang baik untuk diambil. BUMN (indosat) yang terjual ke Singtel di Singapura oleh MS. Citra Indonesia sebagai negara teroris karena MS gak sigap terhadap terorisme. Anggota DPR yang korup gila-gilaan. Jika kita lihat, hampr semua kasus DPR yag korupsi, melakukan korupsinya di masa GD dan MS. Harga minyak dunia naik teus dalam 6 tahun tapi 4 presiden tidak ada yang berani kurangi subsidi karena akan mematikan popularitas. Di tahun 2002-2003 gua pernah baca bahwa Pemda DKI membayar gaji pegawai dengan menggunakan hutang luar negeri. Untuk gaji pegawai kita ngutang. Hidup mahal tapi banyak hutang.
Itu adalah sebuah Indonesia yang SBY warisi.
Jalan 2004 sampai 2009, apakah masih ada yang perlu diperbaiki? Jelas. Tentu. Baru kemarin gue posting tentang betapa hidup di Indonesia sangat kejam dalam hal perbankan. Bahwa kemiskinan masih di mana-mana dan nasib guru masih prihatin. Tapi kalo kita mau diam sebentar dan lihat, sebenarnya Indonesia sudah sangat-sangat maju dari 5 tahun yang lalu.
Sebenarnya indonesia itu harus memakan pil pahit jika ingin maju. Dan ini yang tim SBY paksa lakukan pada Indonesia. Sebenarnya tim SBY melakukan hal yang luar biasa simple. Perbanyak pemasukan, reduksi pengeluaran, dan ciptakan iklim politik dan citra negara yang baik untuk mengexecute 2 hal itu. And it works.
Tim SBY fokus dengan perbaikan citra internasional. Terorisme diberantas. Ini memberikan kondisi bisnis yang lebih baik dan memperbesar pemasukan. Ekspor kita mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah. Pengeluaran diperkecil dengan mengurangi subsidi dan membiarkan BBM terkait harga minyak dunia. Ini pil pahit untuk rakyat tapi membangunkan kita semua akan harga ekonomi kehidupan yang sebenarnya. Kita jadi berpikir “Oh jadi semahal ini toh barang-barang kalo pemerintah gak ngos-ngosan subsidi BBM?”. BUMN diperbaiki dan (setidaknya usaha) di buyback. Pajak diperbaiki dan bahkan tahun 2009 ini dikurangi yang mana memberikan penerimaan bagi negara. Ini artinya lebih banyak uang untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat sendiri. Korupsi diberantas. Memang ada yang bilang masih tebang pilih tapi kenyataannya gue gak pernah ngeliat KPK sesibuk ini dalam beberapa tahun. ekonomi mikro tumbuh seperti jamur. Hutang IMF dilunasi. Hutang kita sekarang lumayan kecil, secara presentasi paling kecil di negara asean malah.
Sepertinya semua yang tim SBY lakukan 4 tahun terakhir ini menyentuh fondasi negara kita sehingga ekonomi kita cukup kuat di saat krisis ekonomi global. PHK banyak tapi tidak sebanyak Singapura secara presentasi.
Kita tidak terlalu bergantung pada ekspor seperti Singapura sehingga kita negara impor cancel order kita masih bisa hidup.
Kita tidak terlalu bergantung pada parisiwisata seperti Thailand yang sangat bergantung, sehingga ketika para turis batal libur karena mereka harus hemat, efeknya kecil di Indonesia.
Kita berhasil swasembada beras di tahun 2008 sehingga ketika harga komiditi naik, kita gak jerit-jerit seperti yang terjadi di Filipina.
Lawan Lain?
PS dengan gerindranya selalu mengritik tim SBY tidak memberikan atensi pada petani. Tapi pada kenyataannya justru berbalikan. Di masa tim SBY lah harga gabah dinaikkan sehingga petani semangat menanam padi. Hasilnya, pertama kali dalam lebih dari 20 tahun, Indonesia swasembada beras. Jujur gue bingung dari sisi mana PS melihat bahwa petani tidak diperhatikan?
AR selalu mengritik dan iklan capresnya bermodal menjelekkan pemerintah tapi tidak menonjolkan dirinya. Sepertinya waktunnya sudah lewat. Dia adalah satu capresyang terlihat begitu ngotonya jadi presiden sehingga orang jadi enggan dan geli sendiri untuk pilih dia.
MS juga sering mengeritik SBY tapi MS sendiri dalam 3.5 tahun mencederai Indonesia lebih dari 3 presiden sebelum dia. Korupsi, terorisme, BUMN dijual, gas alam dijual murah. Masa MS sebagai presdien seperti masa-masa hidup di negara preman tanpa presiden.
Tanpa Cacat?
Tim SBY sendiri bukannya tanpa cacat. Korupsi masih banyak dan besar. visit indonesia dilaksanakan dengan sangat tidak siap. Bandara Internasional dan bandara daerah tidak ditata. Pesawat berjatuhan dan feri tenggelam. Tim SBY selalu menekankan para bank untuk memberikan pinjaman mikro pada rakyat kecil seperti nelayan. Tapi masalahnya tim SBY tidak melengkapi nelayan dengan pembangunan freezer serba guna. Tanpa freezer, nelayan harus jual cepat sehingga harganya masih murah. Memberikan pinjaman tanpa memberikan infrastruktur yang baik hanya menciptakan ekonomi yang mubazir. Maksudnya gini, tanpa freezer itu, nelayan kredit 1 juta dan untung dia sendiri 200 ribu. Jika ada 1 freezer di tiap kabupaten, maka jualannya bisa lebih banyak, lebih awet dan lebih jauh (ikannya bisa awet dibawa truk 400 km ke pedalaman). Yang dia pinjam 1 juta ke bank mikro, mungkin untungnya bisa 1.2 juta.
Apa Yang Masih Harus diperbaiki
Wah, banyak. Nelayan di atas itu contoh pertama - bahwa sudah bagus ekonomi mikro didukung, tapi ya infrastrukturnya.
Isu kedua adalah pendidikan dan apreasiasi guru. Kalo bisa semua guru disamakan dalam hal gaji. Jadi bedanya hanya di PNS dan non PNS. tapi tentunya ini butuh uang. Dan untuk dapat uang, peberimaan negara harus ditambah. Pelik juga.
Isu ketiga adalah tentunya korupsi. Diberantas sudah bagus dan diubah kulturnya lebih bagus lagi. Sebagai ilustrasi betapa korupsi berpengaruh pada ekspor adalah gini:
harga meja rotan itu di Indonesia sebenarnya 5000. Dan cina, 6000. Tapi eksportir Indonesia menghargai mejanya 7000 karena dia butuh 2000 untuk bayar pungli tengah jalan yang bisa distop 5-7 kali dari pabriknya ke pelabuhan. Dan ini masih berjalan dari dulu sampai sekarang.
Isu keempat adalah buruh. Ini adalah masalahyang maju kena mundur kena. Semakin tinggi UMR, semakin Indonesia tidak kompetitif dari Cina. Ini pelik dan gue gak punya pemikiran apa-apa di sini.
Isu kelima adalah BI rate yang kalo gue bilang sangat-sangat tinggi. Bahkan di saat sekarang yang 8.75% itu masih sangat jahat. Gue pernah nulis di sini: http://suamigila.com/2009/01/hidup-di-indonesia.html
Isu keenam adalah transportasi umum. Sebagai alumni dari transport engineering, ge kebetulan tahu bahwa transportasi umum itu sebenarnya harus disubsidi pemda. tapi yang ada di Indonesia adalah semua angkot adalah swasta dan kalo mau buka rute, justru harus bayar ke pemda. Dan orientasi swasta adalah mengeruk keuntungan. Jadilah transportasi menjadi beban masyarakat. Ini juga sinting. Malah kebalik. Pemda lah yang seharusnya menyubsidi rakyat. yang mengerikan dari hodup di Jakarta adalah jika gaji kita antara 700K sampai 2 juta, niscaya 40%-60% cuman abis di transport. tapi lagi-lagi kuncinya di sini adalah penerimaan negara.
Tapi selama ini tim SBY gak konsen ke sini. Apakah mereka bodoh? Gua rasa nggak. Atau mereka memilih untuk melakukan yang lebih fundamental seperti mengurus hutang luar negeri dulu (agar kita gak bayar bunganya di kemudian hari)? Semoga saja yang kedua karena buktinya memang IMF kita lunas tahun ini.
Extra income
bebrapa isu krusial di atasa sangat bergantung pada kondisi di mana negara punya lebih banyak uang. jadi meski extra income bukan hal terpenting, teteap aja lumayan sangat penting. Semakin banyak devisa dan semakin sedikit korupsinya, kita bisa lebih banyak beli barang2 yang berguna untuk belanja negara.
Ada beberapa hal yang mana jika SBy diberi kesempatan kedua, sebaiknya dia perbaiki di sektor-sektor ini:
Potensi pertama adalah tenaga kerja luar negeri (TKLN). Temen gue yang kerja di pemerintahan baru melihat laporan bahwa populasi TKLN di seluruh dunia adalah 6 juta. Dan devisa yang 6 juta orang datangkan ini dalam 1 tahun adalah USD 6 Milyar. bandingkan dengan cadangan devisa 2008 yang USD 51 Milyar. TKLN (dan yang gua maksud di sini bukan gue ya, tapi TKW dan TKI) menyumbang > 10% devisa negara. Tapi sejauh ini tim SBY lemah sekali perhatiannya pada TKLN. Mereka yang disetrika dan diperkosa di arab. Mereka yang diburu seperti budak di perkebunan di Malaysia. bekas petinggi KBRI di sebuah negara belakangan malah ketahuan sering memeras dan memungut uang dari 3 juta TKI yang kerja di negara itu. TKI pulang masih diperas. TKI yang pergi kurang dibekali added value sehingga upah mereka di luar negeri tergolong murah.
Sekarang gini aja, jika dengan kondisi kita yang upahnya serendah ini sudah menghasilkan >10% devisa, bayangkan berapa devisa yang kita dapatkan jika tim SBY memberikan insetif pendidikan pada TKI yang akan pergi dan pengamanan pada TKI yang pulang?
Ini penting sekali karena TKI adalah sumber daya yang tidak habis. Akan selalu ada tenaga kerja.
Potensi kedua adalah perbaikan ekspor perkebunan sebenarnya. Jika Thailand bisa sukses dengan duriannya, kenapa kita tidak? banyak kok orang pinter di Indonesia yang jika pemerintah mau bina, kita bisa buka satu perusahaan yang khusus untuk pengembangan bibit unggul dan langsung dibina ekspornya.
Potensi ketiga adalah pariwisata. Visit Indonesia 2008 seharusnya diawali dengan pembangunan infrastruktur dan sarana transportasi ke daerah-daerah yang potensial. yang ada, di desember 2008, jalan tol Sukarno hatta masih dibenerin.
Semua ini menunjukkan 2 hal penting sebenarnya.
Pertama, menyelamatkan bangsa itu tidak bisa langsung 240 juta orang sekaligus. Mungkin 4 tahun pertama dia fokus di pertanian, di mana 45% rakyat Indonesia adalah petani. Baru setelah itu dia konsen ke perikanan, perkebunan dan lainnya. Bahwa menyejahterakan semua orang sekaligus itu gak mungkin. Mesti satu-satu. Guru-guru yang resmi PNS ternyata gaji+tunjangannya sudah sangat oke. Gue tahu tunjangannya bisa 2.5 juta per bulan. Tapi pendidikan indonesia masih banya yang guru tidak tetapnya dan mereka ini yang masih terpuruk.
Kedua, menyelamatkan bangsa itu gak bisa 4 tahun. Semua ini butuh proses. Dari sekarang sudah terlihat fondasi ekonomi kita gak jelek-jelek amat. Ibarat mobil, sepertinya 4 tahun pertama ini dipakai untuk reparasi mobilnya. Mungkin dia butuh tahun kedua untuk menjalankan mobilnya.
Jadi, haruskah kita memberikan kesempatan kedua pada SBY?
Jawaban gue: melihat fakta-fakta dan fondasi yang sudah dibangun, dan melihat kondisi kita di 2004 dan 2009 sekarang, kita sebaiknya berikan kesempatan kedua itu.
Tweet This Post