Category: life

Tujuh Tahun

Tujuh Februari 2011 kemarin adalah genap 7 tahun gua dan Ninit menikah. Cukup banyak hal yang terjadi selama itu.

Dalam 7 tahun itu, ada beberapa buku yang kita lahirkan. Sayangnya setelah Aldebaran lahir, waktu kita seakan tersita untuk mengasuh Aldebaran dan Arzachel. Sampai sekarang kita sudah 4 tahun tidak memroduksi buku lagi.

Dalam 7 tahun itu Ninit harus melepas karirnya dan mencari pekerjaan sebagai Work From Home Mom karena tuntutan karir gua. Meski beberapa kali bersusah payah, tidak ada yang layak gua keluhkan dalam karir ini.

Dalam 7 tahun itu kami dikaruniai 2 anak yang sehat dan lucu. Alhamdulillah lahir dan tumbuh tanpa komplikasi. Kita telah diberikan kepercayaan untuk membesarkan dua titipan Allah. Semoga gua diberikan kepercayaan untuk tidak merusak atau menyia-nyiakan mereka.

Tujuh tahun mengejar bus kota, mengejar kereta, mengejar pesawat, mengejar taxi. Seru, repot dan penuh tawa.

Dalam 7 tahun itu gua pribadi sebagai seorang suami. Bapak dan kepala rumah tangga, bisa look back dan bersyukur atas apa yang kita miliki. Juga bersyukur atas apa yang tidak. Seperti yang Ninit pernah ajarkan, semua yang mampu dicapai dan semua yang tidak mampu dicapai, adalah demi kebaikan kita sendiri. Jadi, tenang saja. Yang penting ikhlas berusaha.

Dalam 7 tahun itu, kita pindah 6 kali ke 7 rumah. Satu rumah untuk 1 tahun. Kita berdua belajar untuk menjadi pasangan yang praktis dan tidak ribet. Kita tidak pernah mengeluh akan hal ini karena ini memang tuntutan pekerjaan gua dan tuntutan hidup.

Seperti yang salah satu sobat gua pernah bilang, home is where the heart is.

And we know our hearts belongs to each other – wherever we are.

Life Happens

Sebagaimana yang teman-teman tahu, gue udah 300 tahun ga nulis buku. Sebenernya gue udah nulis 4 draft tapi semuanya ga beres. Terbungkus dengan rapi dalam harddisk laptop gue, conveniently tepat di sebelah folder porn yang jauh lebih sering gue klik itu. Ada teman gue yang merupakan fans gue juga yang rela telanjang untuk membaca karya gue berikutnya. Masalahnya gue yang gak rela karena dia laki-laki gay berusia 36 tahun.

Anyhoo..

Kalo ditanya kenapa gue ga nulis lagi? Jawaban gue pasti sama.
“Life happens.”
Setelah menikah dan punya dua anak, gue punya banyak prioritas yang harus dikejar. financial planning lah, investment lah, ngejar karir lah. Yang terakhir ke Afrika pun dikejar.

Gue punya temen-temen penulis yang memulai karir menulisnya setelah gue dan mereka menjadi lebih dikenal dan sukses dari gue. Gue sadar gue cuman manusia. Ada yang harus dikorbankan. Dan yang gue korbankan adalah menulis.

That’s life. life happens. Speaking about life, sebenernya posting ini bukan untuk gue. Posting ini adalah untuk seorang perempuan yang pernah gue taksir abis-abisan waktu kuliah dulu.

The Stereotype
Timespannya terletak di tahun 1997. Sesaat setelah gue putus sama pacar kedua gue. Gue baru saja menyelesaikan tingkat 1 di ITB (dengan ancurnya, if I may add). Suatu malam gue pergi ke semacam acara Pensi SMA 5 bandung. Saat itu gue motret-motret. Saat itu juga gue haus akan apresiasi dan kasih sayang and by sheer luck gue melihat seorang gadis angkatan 1998 yang mentas. Dia waktu itu kelas 2. Kita sebut saja dia dengan inisial NS.

NS ini terpaut 2 tahun dengan gue (lebih muda tentunya). Cantiknya bisa bikin tuyul mau belajar investment banking gue rasa. Anyhoo, NS ini sangat populer. Dia ikutan cheerleaders etc etc. You know lah, that kind of girl. The popular girl yang semua orang suka, segani dan semua cowok kejar…bahkan cowok dari SMA lain. Patethic almuni (read: yours truly) juga termasuk dalam demografi penggemar dia kali.

NS ini juga benar-benar memenuhi stereotipe gadis populer. cantik, seksi, cheerleader, vocal group, kaya dan manja. waktu ulang tahunnya, ada cokalis band yang dateng dan nyanyi. Intinya she is having the best time of her life.

Gue pernah coba kenalan sama dia tapi ditolak. Pendekatannya udah bener sih. Udah telfon beberapa kali. Udah janjian ketemuan jumat. Eh hari kamis gue nekat pergi ke sekolahnya dan minta kenalan. Dia BT selangit dan dari sana, bahtera menuju asmara karam sudah. (HALAH BAHASANYAA). Obviously, dia menghindar dengan segala cara. Nolak ketemuan, nolak nerima telfon etc etc. Kebetulan sepupunya satu jurusan dengan temen sebangku gue (jangan pusing). Dan dari dia gue tahu di saat yang sama dia menerima ajakan pacaran dari 3 cowok (ang sudah lebih dulu, lebih gencar dan lebih sukses dari gue). And you know what? Cowok yang dia pilih adalah cowok literally nyembah di hadapan dia untuk minta diterima.

The Axe Murderer in Me
But that wasnt my cue to stop. My cue to stop adalah ketika gue dengan tidak sadarnya naek motor dingin-dingin ke daerah rumah dia dan ngamatin rumahnya dari jauh. Okay sisi psikopat gue sepertinya udah jalan nih. Tiga minggu lagi gue biarkan sisi gelap ini keluar, gue rasa gue akan menjadi axe murderer. So I stop. I gave up on getting her.

And I think that was the best decision I could have ever made in my life. Why? because 2 years later I met a girl and 11 year later, I have this in my life:

And life went on.

Gue gak pernah inget lagi tentang NS ini. Gue cuman tahu dia masuk unpar 1998. Di tahun 2000 gue pernah naik mobil sama @istribawel melewati kampus Unpar dan gue melihat dia berjalan kaki. She looked kind of tired. That was the last time I saw her. That was like 10 years ago.

Sampai suatu ketika ipar gue ulang tahun kamis kemaren ini. Gue kasih dia selamat. Gue kemudian ingat bahwa sepupu gue yang mana adalah suami dia, angkatan 98 SMA 5 Bandung. dan ding ding ding, tiba-tiba gue keinget aja sama NS ini.

Jejak Maya
Jaman sekarang ini everyone is jumping into the wagon that we call social media. Let’s face it, di kaskus aja ada yang jualan F-16 dan tuyul. Seberapa susah sih kita nyari bekas kecengan (And dont tell me you’ve never done this before)?

Di jaman di mana jualan somay aja harus pake social media, langkah yang paling tepat untuk mencari orang adalah mencari di facebook. I mean cmonn, 500 juta orang memakai facebook dan Indonesia adalah peringkat 3 user terbanyak. Semua orang pasti di sana. Dan yang nggak di sana, justru aneh. Either orang itu memang untuk alasan yang sangat pribadi memilih untuk gak ikutan facebook, atau simply jauh dari akses. Tapi masak iya? Orang-orang di Pulau Miangas aja punya kok. http://miangas.multiply.com. Pasti semua orang ada dong.

Dia nggak.

O…..kay. right, most likely dia punya, tapi mungkin pake nama lain. pikir gue. Find. Kalo gitu masuk ke langkah kedua. Friendster.

Gak ada juga.

O….kay. Mungkin alasannya sama, dia pake nama lain. Cuman aneh aja, untuk seseorang yang dulunya sangat-sangat populer, 12 tahun kemudian dia almost untraceable. Itu sebuah jomplangan yang agak ekstrim bagi gue.

Kemudian gue pergi ke site yang memiliki jejak maya paling kuat, sebagai last attempt gue. Google.

Ada. Dan ini lah kenapa gue memutuskan untuk menulis blog ini.

Jejak mayanya tidak banyak. Hanya dua halaman. Tidak ada foto. Sebagai perbandingan, Farah Quinn aja berantakan di mana-mana (ya iya laaah). Gue notice bahwa di suatu titik waktu yang gak jelas kapan, dia sudah memiliki dua anak dan masih dalam proses menyelesaikan studinya di Unpar. Okay.

Kemudian ada link lain ke pengadilan agama. Di link itu tertera sebuah proses perceraian. Pengajuannya ditolak dan dieview Akhir september 2010 ini (kemarin). I stopped searching.

Internet is a scary thing. You can actually track someone life in a very remote way. Seseorang yang dulunya sangat populer bisa hampir hilang jejaknya. Seseorang yang dulunya havin the best time of tehir lives terlihat seperti yang sedang mengalami cobaan.

Let’s face it, kita semua punya teman seperti NS. Teman yang dulunya terlihat baik-baik saja. Secara tidak sadar image mereka melekat pada kita ketika kita berpisah. dan setelah belasan tahun, kita masih menyimpan citra itu. Ketika belasan tahun kemudian bertemu citra masa lalu itu bersanding dengan realita dan kita punya ekspektasi bahwa citra masa lalu dan realita masih sama. itu sebabnya saban reunian, sering kali kita berucap Gila! Lu berubah banget!

Memang ada beberapa ingatan kita yang mengandung bad blood dan seakan ingin melihat mereka gagal. Tapi jangan. Jangan pelihara sisi itu dalam diri kita karena orang akan melihat kita dengan ekspektasi yang sama. Jika ada pemikiran seperti itu, segeralah makan donat. Karena…donat enak. (masak iya makan pinsil?)

Sebagai orang yang baik kita harus selalu mendoakan semua orang yang kita kenal untuk selalu baik-baik saja. Lebih baik dari citra yang kita simpan. sebagai orang baik, kita harus selalu berprasangka baik ketika mendapatkan informasi yang sepotong-sepotong ini.

Mungkin saja perceraiannya batal dan mereka hepi. Mungkin saja mereka sangat hepi sekarang. Dengan apa yang mereka miliki dan apa yang mereka tidak miliki.

Yang jelas dia akan punya jawaban yang sama dengan gue ketika ditanya teman
“What happened to you?”
“Life happens.”

Dan sekarang gue ingin mengembalikan posting ini pada pembaca setia gue (yang ga setia juga ga papa). Ada gak temen/orang di masa lalu elu yang

- dulunya terlihat promising, sekarang tiba-tiba..well different.

- dulunya dipandang sebelah mata, sekarang cebok aja pake dolar?

- dulunya nyolot sekarang alim.

- dulunya alim sekarang moderator milis maria ozawa.

Dont mind if you share.

Angry Wife 2.0

Watching “angry wife 2.0″ now. Anyone by any chance can upload “I’m sorry honey 3.1″?

Terkadang Terbuka Sama Istri Juga Ada Batasnya

istri: Itu siapa A?
gue: temen SMA
istri: yang mana?
gue: Itu lho yang waktu SMA teteknya bagus banget, bulet gitu.

krik krik

daaaaan, gak ngomongan deh 2 hari.

Mbak Heni di Acara Uya Emang Kuya

Sabtu kemarin gue dan istri nonton acara “Uya Emang Kuya”. Ini adalah acara di mana Uya dengan jailnya menghipnotis orang dan di sana keluar lah kejujuran-kejujuran yang sebaiknya gak banyak orang tau. Biasanya gue annoyed dengan acara ini karena busuk-busuknya orang suka keluar tanpa perlu.

 

Tapi episode di Sabtu tanggal 6 Maret kemaren sangat menggugah. jadi korban Uya kali ini adalah seorang wanita berumur 35 bernama mbak Heni. Wanita ini sungguh riang dan bordering kocak dan very-very unassumming. Setidaknya sampai dia dihipnotis.

Ketika Mbak Heni ini dihipnotis oleh Uya baru lah ketauan bahwa dia sebenernya sangat sedih dan sangat merasa bersalah.

“Udah nikah belum?”

“Udah.”

“Suaminya mana kok ke sini sendiri?”

“Saya gak punya suami.”

“Lha, katanya udah nikah?”

“Suami saya meninggal.”

“Berapa lama?”

“4 bulan yang lalu.”

“Sakit apa mbak?”

“Sakit jantung.”

“Udah berapa lama?”

“Dari tahun 2002 dia sakit jantung. Jadinya gak bisa kerja. Jadinya saya yang harus kerja support dia dan kedua anak.”

“Masih sedih gak Mbak?”

“Masih. Saya ngerasa bersalah.”

“Lho kenapa?”

“Soalnya saya pernah ngerasa capek banget. Capek banget kerja. Sampe saya doa agar dia diambil aja sama Yang Maha Kuasa. Abisnya saya udah gak kuat sama cobaan ini. Kemudian suami saya kondisi membaik. Tapi kenapa justru pas dia udah membaik malah dia dipanggil berpulang.” Di sini mbak heni nangis. Gue baru nyadar bahwa orang dihipnotis masih bisa nangis.

“Kejadiannya gimana?”

“Kita lagi makan malem. Dia pergi ke dapur dan tiba-tiba aja serangan jantung. Jatuh. Saya teriak-teriak minta tolong. Tapi dia sudah berpulang.”

“Anak-anak gimana?”

“Keliatannya sih baik-baik aja tapi mungkin aja mendem perasaan seperti saya.”

“Kalo mbak hobinya apa?”

“Nyanyi.”

“Ada lagu favorit mbak?”

“Takkan Tergantinya Marcell. ”

“kenapoa?”

“Karena jadi inget suami saya.”

“Coba nyanyi Mbak.”

Kemudian Mbak Heni nyanyi lagu itu.  Dan sambil nangis.

“Tangannya kenapa mbak?”

“Kecelakaan motor.”

“Kapan?”

“Dua bulan yang lalu.”

“Kejadiannya gimana?”

“Diserempet Mikorlet terus gak inget lagi.”

“Lha kok gak inget?”

“Soalnya amnesia. Sampe 3 hari.”

“Wah parah dong. Gimana bisa sembuh Mbak?”

“Waktu di rumah sakit, saya ngeliat suami saya. Dia bilang, mamah jangan sakit. Kasian anak-anak gak ada yang ngerawat. Abis itu saya bangun. Rasanya seperti mimpi tapi saya gak yakin itu mimpi atau bukan.”

Abis itu Uya ngebaik-baikin Mbak Heni dan membangunkan dia. Ketika bangun, Mbak Heni cengar-cengir.

“Wah saya diapain Mas? hehehe, hehehe, hehehe.”

Gue gak bisa percaya sama wanita ini. Ketika dia sadar dia memasang muka yang berani dan tenang padahal masa lalu dia dan hati dia penuh dengan cobaan-cobaan yang menghantam kiri-kanan. Di tinggal suami dengan 2 bocah. Cari uang sana-sini pake motor pula. Sampe kecelakaan. Benar-benar wanita yang tegar.

Bagi gue, Mbak Heni adalah manusia-manusia tegar yang lewat di depan mata kita, yang memapas dengan motor di samping mobil kita. Yang berdiri depan mobil kita di sebuah lampu merah. Yang kita papas saat berteduh di kolong jembatan saat hujan. Yang mungkin rebutan baju sama kita saat belanja di sebuah ITC. Yang mungkin menjual laptop di toko sebelah. Mbak Heni adalah 1 dari manusia-manusia tegar yang memasang muka ikhlas dan riang menghadapi hidup. Air mukanya ringan, tidak membebani mereka yang menatap muka itu.

 

Bagi gue, Mbak Heni membuat gue merasa kecil. Gue gak mungkin bisa seriang itu jika diberi cobaan yang sama. Mbak Heni membuat letih gue hilang.  Ribuan orang seperti mbak Heni menerima cobaan yang lebih berat dari gue. Tidak pada tempatnya bagi gue untuk mengeluh, berkeluh kesah atau bahkan menyerah.

 

Gue coba google mbak Heni ini kemarin, gak ada yang nulis tentang dia sama sekali. Makanya gue tulis posting ini. Untuk Mbak Heni di luar sana, terima kasih ya Mbak. Sosok pribadi Mbak menjadi panutan saya. Terima kasih sudah mau dirinya ditayangkan di TV nasional dan menjadi inspirasi saya dan mungkin orang lain.

 

Jabat Erat untuk Mbak.

 

TAk Akan Terganti – Kahitna

Telah Lama Sendiri
Dalam Langkah Sepi

Tak Pernah Kukira
Bahwa Akhirnya
Tiada Dirimu Disisiku

(chorus)
Meski Waktu Datang
Dan Berlalu Sampai Kau Tiada Bertahan
Semua Takkan Mampu Mengubahku
Hanyalah Kau Yang Ada Direlungku

Hanyalah Dirimu
Mampu Membuatku Jatuh Dan Mencinta
Kau Bukan Hanya Sekedar Indah
Kau Tak Akan Terganti

Tak Pernah Kuduga
Bahwa Akhirnya
Tergugat Janjimu Dan Janjiku

(chorus 2x)
Meski Waktu Datang
Dan Berlalu Sampai Kau Tiada Bertahan
Semua Takkan Mampu Mengubahku
Hanyalah Kau Yang Ada Direlungku

Hanyalah Dirimu
Mampu Membuatku Jatuh Dan Mencinta
Kau Bukan Hanya Sekedar Indah
Kau Tak Akan Terganti

Kau Tak Akan Terganti

2010

Setelah babak belur digebuk banyak banget musibah dan set back di tahun 2009, kita siap menghadapi 2010.

Dengan kesabaran dan kalkulasi yang matang, Insya Allah, kali ini, semua berjalan lancar. Amien. Yang penting kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas.

Djuhro Sumawiria

Sepotong cerita dari blog gue yang lama, di tahun 2006. This is one of my all time favourite posts. Dia ada  salah satu orang yang paling berpengaruh dalam hidup gue. His presence in a room is majestic. Stories of him alone,  from the many people who loves him, is a book of life.

http://suamigila.com/2006/09/pemuda-bernama-djuhro.html

Seharian ini sistem di kantor ambruk. Gua menghabiskan hari melihat-lihat foto Aldebaran. Gua berpikir betapa beruntungnya gua memiliki bintang kecil ini. Bagaimana bisa semua ini terjadi. Kemudian gua teringat 1 hal penentu, kenapa semua hal ini bisa terjadi.

Berpuluh-puluh tahun yang lalu di desa Sumedang, hidup seorang pemuda bernama Djuhro Soemawiria. Djuhro tumbuh miskin. Saking miskinnya, dia diangkat seorang kerabat lain karena orang tua Djuhro tidak mampu memberikan suapan nasi. Di suatu pagi, Djuhro muda berjalan-jalan di pasar. Seorang anak tertangkap mencuri sepatu dan orang-orang hampir memukuli anak itu.

Djuhro muda datang dan melerai. Djuhro muda adalah seorang pemuda miskin tapi dia membayarkan sepatu anak itu. Anak itu berterima kasih dan pergi.

Djuhro muda dan anak kecil itu tidak pernah bertemu lagi.

Belasan tahun kemudian, Djuhro menikah dan memiliki 5 anak. Dia menjadi kepala stasiun Cicalengka, Bandung. Suatu malam, Di/TII memberontak. Mereka membuat kerusuhan. Memburu rumah-rumah dan mencoba membunuh aparat pemerintah.

Rumah Pak Djuhro ditendang terbuka dan sekelompok tentara masuk dengan senjata. Sersan kepala menodongkan senapannya pada Pak Djuhro dan keluarga.

Sersan kepala itu menodong orang yang pernah membelikannya sepatu.

Sersan itu tersenyum dan mengucap permisi.

Setelah kejadian itu Pak Djuhro dikarunai anak ketujuh bernama Ati Ernawati.

Dan di tahun 1977, ibu Ati melahirkan seorang anak lelaki bernama, Adhitya Mulya.

Dan di tahun 2006, sebuah bintang penunjuk lahir. Aldebaran

Apa yang kita lakukan dalam hidup, berpengaruh pada orang lain. Dan pada diri kita juga.

Moral of the story: Memang kita harus ikhlas bersedekah dan menolong orang lain. Imbalannya gak perlu diharap. Karena akan datang sendiri di saat dan dengan jalan yang tidak terduga.

G.I. Joe

Gue di mini market di bawah kontrakan:

“I need a baterry.”

Si koko kasih energizer.

“I need the cheapest battery you have.”

Si Koko kasih batere cina punya.

“80 cents, 4 pieces.”

“Uhm, actually, I just need 2.”

“It’s 80 cents!!!!!!!”

Ogah rugi bener ya gue? Oh well, penny wise pound foolish I guess. 80 cent aja gue masalahin padahal setelah abisin ratusan dolar beli optimus prime, sekarang gue melakukan hal yang sama dengan beli toy-nya GI Joe. Guilty feeling juga karena baru aja bilang ke istri kita gak akan beli stroller yang mahal untuk anak kedua. Huahahaha…

Anyway, gue punya story dengan toy GI Joe ini. Semua orang yang sekaang umurnya 25-35 mungkin pernah ngerasain punya atau setidaknya ngeh sama mainan GI Joe. Ini adalah action figure 3.75″ yang keren dan detil banget dan kendaraan2 perang mereka bagus-bagus.

well orang tua gue udah jarang beliin gue mainan mahal semenjak gue masuk SD. Mungkin takut gue jadi manja. Saking seringnye gue ditolak sampe-sampe gue gak berani lagi minta-minta. Yang ada, saban gue masuk ke toko mainan, gue berhitung berapa bulan gue bisa beli mainan mobil GO Joe berdasarkan uang saku yang gue tabung.

hasilnya: Gue gak pernah bisa beli mainan-mainan itu. Tapi matematika gue 9 terus.

Suatu hari waktu gue kelas 5 SD, gue diajak main sahabat gue ke rumah sodaranya. Katakanlah nama sodara ini David. ketika kita di sana, david belum pulang. Jadinya gue bengong duduk berkunjung ke rumah yang gue gak kenal siapa orangnya. Isenglah gue jalan-jalan masuk=masuk kamar tanpa izin. Gak sengaja, gue masuk ke sebuah kamar.

ternyata, David punya satu kamar khusus untuk mainan dan 1 lemari khusus untuk majang semua mainan GI Joenya.

SATU LEMARI. Bangke.

Dan di sana gue ngeliat banyak banget action figuresnya dan kendaraan2 perang. Kemudian mata gue tercengan melihat satu helicopter perang Tomahawk yang super gede bener. Kalo mau tau kayak apa bentuknya, liat sini:

http://cgi.ebay.com/G-I-Joe-TOMAHAWK-Helicopter-1986_W0QQitemZ350222020579QQcmdZViewItemQQptZLH_DefaultDomain_0?hash=item518adbefe3&_trksid=p3286.c0.m14&_trkparms=65%3A12|66%3A2|39%3A1|72%3A1205|293%3A1|294%3A50

Asli gue ngiri sampe tulang-tulang gue sakit. Langsung aja gue bandingin. Gila gue minta mobil kecil aja gak dikasih saking takutnya ortu gue, gak dikasih. action figure GI Joenya gue beli bekas dan trading dengan temen-temen SD gue. Lha ini, orang tuanya David ngasih begitu aja helicopter yang kalo ditegakkin, sepinggang tinggi badan anak SD 5 tahun. Di alam semesta gue kenyataan bahwa ada anak bisa sampe punya helicopter ini, absurd.

Gua pulang dengan hati hancur. 3 tahun kemudian gue mulai melupakan mainan itu. I guess I grew up. Tapi gue gak pernah bisa ngelupain Tomahawk itu.

20 tahun kemudian, di Singapur, tadi siang gue jalan-jalan dengan Aldebaran ke Toys R Us. Berhubung GI Joe akan rilis filmnya, mereka juga jual mainannya. sama persis dengan Transformers.

Tentunya di sana udah gak ada Tomahawk. Tapi gue ngeliat pesawat yang guede bener. Namanya Night Viper. Fuck it! noone tells me what to buy or what not to buy. Jadilah….

Ini mainan melebihi ekspektasi gue. ada light dan sound yang butuh batere. Punya ganggang di bawahnya yang bisa main pesawat dengan enaknya. ganggang itu punya trigger yang bisa luncurin misil di kiri kanan dan seperti revolver. Pokoknya keren deh. Lu kalo punya duit mesti beli ini.

Oh well, setidaknya setelah gue bosen dengan Night raven ini, Alde dan adeknya yang sama-sama cowok akan bisa menikmati mainan ini dengan waktu yang sama. Enaknya di keluarga gue ini, gue punya excuse beli maenan mahal. Karena akan dipake 3 anak laki-laki hueheheheh (boys will be boys).

Setelah istri berhenti shock atas pembelian gue yang ini, gue mulai cerita ttg David. istri gue ngangguk. Dia cuman nanya satu hal.

“Kalo boleh tau, sekarang David kabarnya gimana?”

Gue diem, nginget-nginget “Dia sempet gak naik kelas. Kebanyakan maen.”

“Go call your parents and say thank you.”

African Days

Setelah baca blognya Alaya tentang serial TV The No 1 Ladies’ Detective Agency, kita segera nonton juga.

Serial ini didasari dari novel dengan judul yang sama dari Alexander Mcall Smith, orang yang lahir dan besar di Botswana.

Yang menarik dari serial ini adalah bahwa syutingnya semua di Gaborone,  Botswana. Mengingatkan kita akan hari-hari Afrika kita dulu 2004-2005. cara mereka berpakaian, cara mereka ngomong, kursi plastik di diskotik.

Yang khas juga dari Afrika adalah banyaknya pasir di pinggir jalan. Botswana mendapat banyak pasir dari angin yang menghembus dari padang pasir Kalahari. Abidjan, tempat kita dulu, penuh dengan debu dari padang pasir Sahara.

Things I miss from Abidjan: Perahu, marina, udang, roti coklat bikinan toko patiseri dengan rasa world class deket apartemen yang bisa kita dapatkan dengan harga gopek, espresso, mmm…

Kita seneng kita pernah tinggal di Afrika. Setidaknya sekali seumur hidup memang sebaiknya kita punya kesempatan untuk merasakan tinggal di satu negara tertinggal, satu negara maju dan tentunya, negara sendiri. Setidaknya untuk perbandingan. Untuk bersyukur dengan apa yang negara kita punya.

Dulu gue selalu komplen akan Indonesia. Setelah gua pulang dari Afrika, Indonesia ternyata gak jelek-jelek aman. Bahkan sekarang udah cukup berprogres jauh dari 1998.

Anyways, nonton serial ini jadi kangen Afrika.

Sweet Child o’Mine

Tadi malem sesaat sebelum tidur, tiba-tiba Aldebaran bilang bahwa dia ingin a birthday party untuk ulang tahun ketiganya.

Alde want balloon,

Alde want chocolate cake

Alde want friends.

kemudian gue bilang “Alde, I promise you will have your birthday party okay.”

Setelah itu dia tidur.

He’s got a smile that it seems to me
Reminds me of childhood memories
Where everything
Was as fresh as the bright blue sky

Now and then when I see his face
He takes me away to that special place
And if I’d stare too long
I’d probably break down and cry

Sweet child o’ mine
Sweet love of mine

He’s got eyes of the bluest skies
As if they thought of rain
I hate to look into those eyes
And see an ounce of pain
His hair reminds me of a warm safe place
Where as a child I’d hide
And pray for the thunder
And the rain
To quietly pass me by

Sweet child o’ mine
Sweet love of mine

Where do we go
Where do we go now
Where do we go
Sweet child o’ mine

A catchy tune. Especially this part:

I hate to look into those eyes
And see an ounce of pain

Aldebaran, I promise you that birthday party.

Some day when you and your little brother are old enough, you will read my personal black book.

You will there and then see, how far your parents went, to ensure there is not an ounce of pain in your eyes.