Sebagaimana yang teman-teman tahu, gue udah 300 tahun ga nulis buku. Sebenernya gue udah nulis 4 draft tapi semuanya ga beres. Terbungkus dengan rapi dalam harddisk laptop gue, conveniently tepat di sebelah folder porn yang jauh lebih sering gue klik itu. Ada teman gue yang merupakan fans gue juga yang rela telanjang untuk membaca karya gue berikutnya. Masalahnya gue yang gak rela karena dia laki-laki gay berusia 36 tahun.
Anyhoo..
Kalo ditanya kenapa gue ga nulis lagi? Jawaban gue pasti sama.
“Life happens.”
Setelah menikah dan punya dua anak, gue punya banyak prioritas yang harus dikejar. financial planning lah, investment lah, ngejar karir lah. Yang terakhir ke Afrika pun dikejar.
Gue punya temen-temen penulis yang memulai karir menulisnya setelah gue dan mereka menjadi lebih dikenal dan sukses dari gue. Gue sadar gue cuman manusia. Ada yang harus dikorbankan. Dan yang gue korbankan adalah menulis.
That’s life. life happens. Speaking about life, sebenernya posting ini bukan untuk gue. Posting ini adalah untuk seorang perempuan yang pernah gue taksir abis-abisan waktu kuliah dulu.
The Stereotype
Timespannya terletak di tahun 1997. Sesaat setelah gue putus sama pacar kedua gue. Gue baru saja menyelesaikan tingkat 1 di ITB (dengan ancurnya, if I may add). Suatu malam gue pergi ke semacam acara Pensi SMA 5 bandung. Saat itu gue motret-motret. Saat itu juga gue haus akan apresiasi dan kasih sayang and by sheer luck gue melihat seorang gadis angkatan 1998 yang mentas. Dia waktu itu kelas 2. Kita sebut saja dia dengan inisial NS.
NS ini terpaut 2 tahun dengan gue (lebih muda tentunya). Cantiknya bisa bikin tuyul mau belajar investment banking gue rasa. Anyhoo, NS ini sangat populer. Dia ikutan cheerleaders etc etc. You know lah, that kind of girl. The popular girl yang semua orang suka, segani dan semua cowok kejar…bahkan cowok dari SMA lain. Patethic almuni (read: yours truly) juga termasuk dalam demografi penggemar dia kali.
NS ini juga benar-benar memenuhi stereotipe gadis populer. cantik, seksi, cheerleader, vocal group, kaya dan manja. waktu ulang tahunnya, ada cokalis band yang dateng dan nyanyi. Intinya she is having the best time of her life.
Gue pernah coba kenalan sama dia tapi ditolak. Pendekatannya udah bener sih. Udah telfon beberapa kali. Udah janjian ketemuan jumat. Eh hari kamis gue nekat pergi ke sekolahnya dan minta kenalan. Dia BT selangit dan dari sana, bahtera menuju asmara karam sudah. (HALAH BAHASANYAA). Obviously, dia menghindar dengan segala cara. Nolak ketemuan, nolak nerima telfon etc etc. Kebetulan sepupunya satu jurusan dengan temen sebangku gue (jangan pusing). Dan dari dia gue tahu di saat yang sama dia menerima ajakan pacaran dari 3 cowok (ang sudah lebih dulu, lebih gencar dan lebih sukses dari gue). And you know what? Cowok yang dia pilih adalah cowok literally nyembah di hadapan dia untuk minta diterima.
The Axe Murderer in Me
But that wasnt my cue to stop. My cue to stop adalah ketika gue dengan tidak sadarnya naek motor dingin-dingin ke daerah rumah dia dan ngamatin rumahnya dari jauh. Okay sisi psikopat gue sepertinya udah jalan nih. Tiga minggu lagi gue biarkan sisi gelap ini keluar, gue rasa gue akan menjadi axe murderer. So I stop. I gave up on getting her.
And I think that was the best decision I could have ever made in my life. Why? because 2 years later I met a girl and 11 year later, I have this in my life:

And life went on.
Gue gak pernah inget lagi tentang NS ini. Gue cuman tahu dia masuk unpar 1998. Di tahun 2000 gue pernah naik mobil sama @istribawel melewati kampus Unpar dan gue melihat dia berjalan kaki. She looked kind of tired. That was the last time I saw her. That was like 10 years ago.
Sampai suatu ketika ipar gue ulang tahun kamis kemaren ini. Gue kasih dia selamat. Gue kemudian ingat bahwa sepupu gue yang mana adalah suami dia, angkatan 98 SMA 5 Bandung. dan ding ding ding, tiba-tiba gue keinget aja sama NS ini.
Jejak Maya
Jaman sekarang ini everyone is jumping into the wagon that we call social media. Let’s face it, di kaskus aja ada yang jualan F-16 dan tuyul. Seberapa susah sih kita nyari bekas kecengan (And dont tell me you’ve never done this before)?
Di jaman di mana jualan somay aja harus pake social media, langkah yang paling tepat untuk mencari orang adalah mencari di facebook. I mean cmonn, 500 juta orang memakai facebook dan Indonesia adalah peringkat 3 user terbanyak. Semua orang pasti di sana. Dan yang nggak di sana, justru aneh. Either orang itu memang untuk alasan yang sangat pribadi memilih untuk gak ikutan facebook, atau simply jauh dari akses. Tapi masak iya? Orang-orang di Pulau Miangas aja punya kok. http://miangas.multiply.com. Pasti semua orang ada dong.
Dia nggak.
O…..kay. right, most likely dia punya, tapi mungkin pake nama lain. pikir gue. Find. Kalo gitu masuk ke langkah kedua. Friendster.
Gak ada juga.
O….kay. Mungkin alasannya sama, dia pake nama lain. Cuman aneh aja, untuk seseorang yang dulunya sangat-sangat populer, 12 tahun kemudian dia almost untraceable. Itu sebuah jomplangan yang agak ekstrim bagi gue.
Kemudian gue pergi ke site yang memiliki jejak maya paling kuat, sebagai last attempt gue. Google.
Ada. Dan ini lah kenapa gue memutuskan untuk menulis blog ini.
Jejak mayanya tidak banyak. Hanya dua halaman. Tidak ada foto. Sebagai perbandingan, Farah Quinn aja berantakan di mana-mana (ya iya laaah). Gue notice bahwa di suatu titik waktu yang gak jelas kapan, dia sudah memiliki dua anak dan masih dalam proses menyelesaikan studinya di Unpar. Okay.
Kemudian ada link lain ke pengadilan agama. Di link itu tertera sebuah proses perceraian. Pengajuannya ditolak dan dieview Akhir september 2010 ini (kemarin). I stopped searching.
Internet is a scary thing. You can actually track someone life in a very remote way. Seseorang yang dulunya sangat populer bisa hampir hilang jejaknya. Seseorang yang dulunya havin the best time of tehir lives terlihat seperti yang sedang mengalami cobaan.
Let’s face it, kita semua punya teman seperti NS. Teman yang dulunya terlihat baik-baik saja. Secara tidak sadar image mereka melekat pada kita ketika kita berpisah. dan setelah belasan tahun, kita masih menyimpan citra itu. Ketika belasan tahun kemudian bertemu citra masa lalu itu bersanding dengan realita dan kita punya ekspektasi bahwa citra masa lalu dan realita masih sama. itu sebabnya saban reunian, sering kali kita berucap Gila! Lu berubah banget!
Memang ada beberapa ingatan kita yang mengandung bad blood dan seakan ingin melihat mereka gagal. Tapi jangan. Jangan pelihara sisi itu dalam diri kita karena orang akan melihat kita dengan ekspektasi yang sama. Jika ada pemikiran seperti itu, segeralah makan donat. Karena…donat enak. (masak iya makan pinsil?)
Sebagai orang yang baik kita harus selalu mendoakan semua orang yang kita kenal untuk selalu baik-baik saja. Lebih baik dari citra yang kita simpan. sebagai orang baik, kita harus selalu berprasangka baik ketika mendapatkan informasi yang sepotong-sepotong ini.
Mungkin saja perceraiannya batal dan mereka hepi. Mungkin saja mereka sangat hepi sekarang. Dengan apa yang mereka miliki dan apa yang mereka tidak miliki.
Yang jelas dia akan punya jawaban yang sama dengan gue ketika ditanya teman
“What happened to you?”
“Life happens.”
Dan sekarang gue ingin mengembalikan posting ini pada pembaca setia gue (yang ga setia juga ga papa). Ada gak temen/orang di masa lalu elu yang
- dulunya terlihat promising, sekarang tiba-tiba..well different.
- dulunya dipandang sebelah mata, sekarang cebok aja pake dolar?
- dulunya nyolot sekarang alim.
- dulunya alim sekarang moderator milis maria ozawa.
Dont mind if you share.