Masih inget postingan gue yang ini?
http://suamigila.com/2011/03/16/akar-masalah-negara-ini/
Ada uneg-uneg lebih lanjut nih. Kita tinggal di negara yang populasi islamnya tertinggi. Negara yang semarak pengabdian ritualnya (hubungan dengan Allah) sangat kental. Namun gue selalu ngeliat bahwa ajaran islam pada masyarakat kita tidak membentuk karakter yang islami.
Korupsi marak dan mendarah daging. Di jalanan, orang gak bisa antri. Maen serobot aja. Mobil boleh deh Kijang Innova 200 juta. Mental antrinya kayak tai. Ibu-ibu boleh deh pake jilbab. Giliran antri Transjakarta, maen serobot. banyak orang yang shalat tapi gak seua dari orang itu terbentuk karakternya oleh sholat dan Al Quran yang mereka baca.
Justru di Indonesia, rugi jadi orang baik. Rugi kalo mengikuti aturan. Antri bikin paspor bisa 1 hari lebih. Orang yan bayar calo bisa 1 jam selesai. Antri macet gak pake serobot bisa 3 jam stuck. Maen serobot bisa 1 jam. Di kerjaan, gak mau korupsi justru dikucilkan dan disusahkan karirnya karena kiri kanan dan atas maen korupsi semua.
Mau ngadu? Mau lapor? Sistem keadilannya gak jalan. Jaksanya maen tuntut dengan hukuman ringan, hakimnya bisa diatur. Orang yan melanggar atau orang yang korupsi, lebih enak hidupnya. Orang baik, susah. Sistem keadilannya tidak memerlihatkan bahwa Kejahatan Akan Diganjar. Apa hubungannya sistem keadilan dengan islam? Kan neara kita bukan negara islam. Betul. Tapi kita negara dengan populasi islam 87% dari 230 juta. Artinya meski sistem keadilan kita bukan negara islam, tetap 8 dari 10 jaksa, 8 dari 10 hakim, 8 dari 10 polisi, adalah orang islam. orang islam yang baik akan menunaikan profesinya dengan baik. Ini tidak terjadi. Sholat jumat aja kenceng. Lebaran aja kenceng. Tapi nilai dari ibadah itu tidak dipraktekkan.
Semua ini membuat gue bertanya, sebenarnya seberapa islam kah negara kita? seberapa jauh kah orang indonsia, yang 8 dari 10 orangnya muslim, enegakkan ajaran agamanya dalam perilaku sehari-hari?
Pertanyaan gue akhirnya terjawab dala artikel kompas di bawah ini.
(di copy paste dari kompas)
——————————————————-
Keislaman Indonesia
KOMPAS | Sabtu, 5 November 2011 | 09:03 WIB
Oleh : Komaruddin Hidayat,
Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Sebuah penelitian sosial bertema ”
How Islamic are Islamic Countries” menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140.
Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial?
“Kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam ketimbang yang mereka jumpai, baik di Indonesia maupun di Timur Tengah ”
Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.
Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei.
Pengalaman UIN Jakarta
Kesimpulan penelitian di atas tak jauh berbeda dari pengalaman dan pengakuan beberapa ustaz dan kiai sepulang dari Jepang setelah kunjungan selama dua minggu di Negeri Sakura. Program ini sudah berlangsung enam tahun atas kerja sama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, dengan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta.
Para ustaz dan kiai itu difasilitasi untuk melihat dari dekat kehidupan sosial di sana dan bertemu sejumlah tokoh. Setiba di Tanah Air, hampir semua mengakui bahwa kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam ketimbang yang mereka jumpai, baik di Indonesia maupun di Timur Tengah. Masyarakat terbiasa antre, menjaga kebersihan, kejujuran, suka menolong, dan nilai-nilai Islam lain yang justru makin sulit ditemukan di Indonesia.
Pernyataan serupa pernah dikemukakan Muhammad Abduh, ulama besar Mesir, setelah berkunjung ke Eropa. “Saya lebih melihat Islam di Eropa, tetapi kalo orang Muslim banyak saya temukan di dunia Arab”, katanya.
Kalo saja yang dijadikan indikator penelitian untuk menimbang keberislaman masyarakat itu ditekankan pada aspek ritual-individual, saya yakin Indonesia menduduki peringkat pertama menggeser Selandia Baru. Jumlah yang pergi haji setiap tahun meningkat, selama Ramadhan masjid penuh dan pengajian semarak dimana-mana. Tidak kurang dari 20 stasiun televisi di Indonesia setiap hari pasti menyiarkan dakwah agama. Terlebih lagi selama bulan Ramadhan, hotel pun diramaikan oleh tarawih bersama. Ditambah lagi yang namanya ormas dan parpol Islam yang terus bermunculan.
Namun, pertanyaan yang kemudian dimunculkan oleh Rehman dan Askari bukan semarak ritual, melainkan seberapa jauh ajaran Islam itu membentuk kesalehan sosial berdasarkan ajaran Al Quran dan Hadis.
Contoh perilaku sosial di Indonesia yang sangat jauh dari ajaran Islam adalah maraknya korupsi, sistem ekonomi dengan bunga tinggi, kekayaan tidak merata, persamaan hak bagi setiap warga Negara untuk memperoleh pelayanan Negara dan untuk berkembang, serta banyak aset sosial yang mubazir. Apa yang dikecam ajaran Islam itu ternyata lebih mudah ditemukan di masyarakat Muslim ketimbang negara-negara Barat. Kedua peneiliti itu menyimpulkan:
… it is our belief that most self-declared and labeled Islamic countries are not conducting their affairs in accordance with Islamic teachings – at least when it comes to economic, financial, political, legal, social and government policies.
Dari 56 negara anggota OKI, yang memperoleh nilai tertinggi adalah Malaysia (urutan ke-38), Kuwait (48), Uni Emirat Arab (66), Maroko (119), Arab Saudi (131), Indonesia (140), Pakistam (147), dan terburuk adalah Somalia (206). Negara barat yang dinilai mendekati nilai-nilai Islam adalah Kanada di urutan ke-7, Inggris (8), Australia (9), dan Amerika Setikat (25).
Sekali lagi, penelitian ini tentu menyisakan banyak pertanyaan serius yang perlu juga dijawab melalui penelitian sebanding. Jika masyarakat atau negara Muslim korup dan represif, apakah kesalahan ini lebih disebabkan oleh perilaku masyarakatnya atau pada sistem pemerintahnya? Atau akibat sistem dan kultur pendidikan Islam yang salah? Namun, satu hal yang pasti, penilitian ini menyimpulkan bahwa perilaku sosial, ekonomi, dan politik negara-negara anggota OKI justru berjarak lebih jauh dari ajaran Islam dibandingkan negara-negara non-Muslim yang perilakunya lebih Islami.
Semarak dakwah dan ritual
Hasil penelitian ini juga menyisakan pertanyaan besar dan mendasar: mengapa semarak dakwah dan ritual keagamaan di Indonesia tidak mampu mengubah perilaku sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, yang justru dipraktikkan di negara-negara sekuler?
Tampaknya keberagamaan kita lebih senang di level dan semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial. Kalau seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam – shahadat, shalat, puasa, zakat, haji – dia sudah merasa sempurna. Semakin sering berhaji, semakin sempurna dan hebatlah keislamannya. Padahal misi Rasulullah itu datang untuk membangun peradaban yang memiliki tiga pilar utama: kelimuan, ketakwaan, dan akhlak mulia atau integritas. Hal yang terakhir inilah, menurut Rehman dan Askari, dunia Islam mengalami krisis.
Sekali lagi, kita boleh setuju atau menolak hasil penelitian ini dengan cara melakukan penelitian tandingan. Jadi jika ada pertanyaan:
How Islamic are Islamic Political Parties?, menarik juga dilakukan penelitian dengan terlebih dahulu membuat indikator atau standar berdasarkan Al Quran dan Hadis. Lalu diproyeksikan juga untuk menakar keberislaman perilaku partai-partai yang mengusung simbol dan semangat agama dalam perilaku sosialnya. ***
——————————————————-
Ternyata artikel di atas, dan studi di atas, mengonfirmasikan kekecewaan gue selama ini. Mengonfirmasikan kenapa perilaku orang indonesia seperti ini.
Semua kembali ke diri masing-masing. mau setuju silahkan, mau nggak setuju ya gak papa, gue juga ga ngemis orang untuk baca blog ini.
Ada beberapa cara praktis untuk menjadi orang Indonesia yang lebih baik.
1. 30% isi Al quran mengatur Hamblumminallah (hubungan dengan Allah), 70% tentang hamblumminannas (ubungan antar manusia). Mesjid penuh adalah pertanda kita baik dalam mempraktisi 30% isi Quran. maraknya korupsi, gak mau antre di jalan, pertanda kita masih harus beljar yang sisa 70% itu.
2. Hubungan dengan Allah sama pentingnya dengan hubungan dengan manusia. Yang terjadi sekarang adalah orang korupsi 100 milyar tapi masih sholat. Hubungan dengan Allah merasa baik, tapi bikin sengsara ribuan rakyat karena rizkinya tertahan oleh korupsinya.
3. Al-Quran jangan dibaca. Tapi dikaji. Makanya aktifitasnya kita namakan mengaji Quran.
“Eh ngaji Yuk.”
“Udah maghrib, waktunya ngaji.”
selesai baca, didiskusikan, dipelajari dengan ustadz dan dipraktekkan.
Itu sih gue aja. Kalo ada yang gak setuju ya silahkan.
Viking berada di ujung utara eropa. Kalo gue adalah petinggi agama viking yang ingin memastikan semua orang di dunia menganut agama viking, maka gue dan 3 orang staf gue hanya akan bisa berjalan ke selatan dan timur. Sebelum sampai Cina, gue udah mati. Jika pun diteruskan oleh anak gue, anak gue pun akan sudah mati. Gak sampe. Kejauhan.

