Category: humor

Masih Tentang Anchor Kita

Insomnia gue kumat nih. Padahal harus kerja secara kerjaan baru kuli bener. Anyway, masih tentang anchor-anchor kita, adik sepupu gue kerja di di sebuah stasiun TV di bagian HRDnya. Sejatinya setiap hari dia melihat anchor-anchor idola itu berkeliaran seperti ayam lepas.

Pas kemaren ke Indonesia, penasaran gue tanya,
“Eh Bung, beneran gak sih analisis di blog Abang?” For the record, sepupu gue adalah gaids cantik bernama Bunga, bukan orang medan yang tereak HEH BUNG.
“Wah salah semua Bang!”
“He?”
“Iya, satu-satunya yang bener adalah mereka itu pinter. Tapi masalah nama dan tampang justru kebalik.”
“Contoh.”
“Ya itu, nama aslinya bisa aja Tukinah. Tapi atas pertimbangan yang matang, berubahlah nama itu menjadi Diana Saszyafufunaszzzaaah.”
“Bener juga.” Memang gak semua orang pinter di dunia ini punya orang tua yang sama pinternya. Kebayang kan kalo anaknya berbakat jadi penyiar tapi orang tua dengan kejamnya ngasih nama Aneh Tapi Nyata Kusuma Wardana.
“Tapi mereka setidaknya cantik-cantik ya.”
“Itu juga nggak Bang!”
“He?”
“Lha bang Adit kan fotografer, tau doing istilah fotogenik?”
“Iya.”
“Di TV itu ada yang namana camera face.”
“Maksudnya?”
“Di di liat pake kamera, cantik bang. Tapi kalo ni cewek keluar kantor dan ketabrak bajaj, NISCAYA GAK ADA YANG MAU NOLONGIN!!!”

HUAHAHAHAHAHAHA, ancur ade sepupu gue.

Post to Twitter Tweet This Post

Anchor News Kita dan Nama Orang

Gue gak sengaja nemu sebuah blog yang memantau dan mengidolakan semua newscaster di stasiun TV Indonesia. Bahkan sampai me-rate dan mem-vote siapa newscaster terbaik. Linknya di sini:
http://newsanchoradmirer.wordpress.com/2009/01/05/top-10-newsperson-untuk-bulan-desember-2008/

Ada hal aneh tentang newscaster yang gue temukan.

1. Mereka SELALU ganteng/cantik
Mari kita akui, gue belum pernah ngeliat newscaster yang mukanya jelek kayak mayat ngambang 3 hari.

2. Mereka SELALU pintar

3. Nama mereka SELALU catchy. Tinjau nama-nama di bawah ini:
Tina Talisa
Grace Natalie
Githa Nafeeza
Nane Nindya
Chantal della Concetta
Sandrina Malakiano
Jason Tedjasukmana

Dari sini gue nemu beberapa rumusan dalam hal nama newscaster. Hal yang sama pernah dibikin joke oleh Jon Stewart. Gua gak nyangka aja di Indonesia sama rumusnya:

1. Huruf pertama dari nama depan dan nama belakang, sama. Bukti:
Tina Talisa
Nane Nindya

2. Namanya berima. Bukti:
Tina Talisa
Githa Nafeeza
Nama berima ini punya banyak kegunaan. Nama berima juga sangat berguna dalam industri musik dangdut dan porn star. Jadi jaman krisis gini kalo sampe diphk dari stasiun TV, masih ada lah lapangan kerja.
“Permisi Mas, saya mau audisi newscaster.”
“Baik. Buka bajunya dan nungging di depan.”

3. Namanya, bisa memakai 2 nama depan. Bukti:
Tina Talisa
Grace Natalie
Nane Nindya
Astrid Katherene
Hanya saja gue menemukan ini berlaku hanya untuk perempuan. Maksud gue, gue belum pernah nemu newscaster cowok namanya Budi Bambang.

4. Punya nama belakang atau nama depan yang asing, memberikan obskuritas bahwa elu indo. Bukti:
Chantal della Concetta
Sandrina Malakiano
Jason Tedjasukmana
Catherine Keng
Sumi Yang
Hadijah Al-Jufri
Ziza Hamzah

Beudeuh! keren bener! Kalo mau curang, ini juga bisa.
Bapaknya Jember.
Ibunya Nganjuk.
Anak nya? Riandita Jefferson.
Minggir orang laen!

Jadi bapak-bapak dan ibu-ibu, itu lah tips dan trik ngasih anak nama, agar kelak anaknya bisa masuk TV, gaji gede tapi masih terlihat cantik, pintar dan gak diuber-uber infotainment. Gak perlu namain anaknya yang susah-susah amat. Ntar dia sendiri kesulitan reporting di TV.

Reporter: “Demikian dari Jakarta, Saya, Hendra Kjhlskewwbcnwows, melaporkan.”

Ribet kan?

Ini beberapa contoh proses wawancara newscaster, kalo lu mau tau:

Contoh 1:
pewawancara: namanya siapa mbak?
future anchor: Laura Chaniago
Pewawancara: wah namanya bagus! mbak dari paraguay?f
uture anchor: Nggak mas, saya dari pariaman.

Contoh 2:
pewawancara: namanya siapa mbak?
future anchor: Suzi Suzetta
Pewawancara: wah namanya bagus! IPKnya berapa mbak?
future anchor: 1.4
Pewawancara: ok, saya tulis aja jadi 3.4 ya mbak. Lanjut aja sana ke medical check up.

Contoh 3:
pewawancara: IPKnya berapa mbak?
future anchor: 3.4
pewawancara: bagus. Kalo nama?
future anchor: Laura Dela Concetta
Pewawancara: Wah, asalnya di mana? Spanyol?
Future anchor: Jember
Pewawancara: Gak papa, gak akan ditanya kok. Tolong pipis di botol ini dan lanjut ke medical check up. Gak, gak, pipisnya gak perlu depan saya, makasih.

Contoh 4:
pewawancara: IPKnya berapa mbak?
future anchor: 3.99
pewawancara: bagus. Kalo nama?
future anchor: Marsinah
Pewawancara: Exit sebelah kiri mbak.

There you have it. Cara ngasih nama anak yang bener dan komplikasinya. Sekarang gue cabut dulu dan doa semoga gak ada anchor yang baca postingan ini huahahah.

Post to Twitter Tweet This Post

Film Serem

Semalem Alde tidur bareng kita karena dia masih sakit. Satu hal tentang tidurnya Alde turunan ibunya, tidur motah. otomatis hasilnya adalah mereak berdua tidur membentuk huruf Y kecil. Biasanya tanpa Allde pun kita udah tidur membentuk huruf K, dengan gue bagian lurusnya. Kalo udah gini, gue kehilangan tempat gue di kasur dan dimulailah malem-malem begadang. Alde juga sering tidur sambil ketawa. Pertama kali gue denger itu, besoknya gue nelfon nyokap - mastiin aja kita gak punya keturunan orang gila.

Anyways, kalo udah kegusur gini, gua biasanya lari ke salah satu favourite pass time gue, yaitu nonton film serem. Yup gue adalah penggemar film serem. Salah satu buktinya adalah gue sering nulis tentang pocong dan kuntilanak.

Film serem itu gue bagi dalam skala 10 dengan angka 1 paling cemen dan angka 10 untuk film yang membuat gue trauma seumur hidup.

Dan untuk memberi gambaran seserem apa skala gue, gini aja. The ring versi jepang itu skala 5. Saw 1 2 3 4 5 itu, semuanya skala 1. Bagi gue, film-film genre gore seperti Saw itu gak terlalu masalah. Cuman nontonnya jadi ikutan sakit. Emang sih kalo ada adegan yang over the top pasti gue tutup mata tapi setidaknya kalo gue selesai nonton film itu, gue gak luat kiri kanan dan lari ke kamar like a little girl. Saw itu bagi gue cuman buat anak-anak (dengan catatan lu emang menargetkan anak-anak lu tumbuh bermental tidak wajar).

Yang jelek dari kesukaan gue ini adalah, ini adalah salah satu hal yang gue gak bisa share sama ninit.
“A, tidur yuk.”
“Aa mau begadang Be, ini ada film serem thailand di tv.”
“Film serem ya? Pffff!!”
dan ninit tidur sendiri. Yang mana semakin menguatkan bukti betapa kalo orang lain yang jadi istri gue, niscaya gue udah diminta cerai.

Sampe sekarang alhamdulillah gue belum nemu film indonesia atau film barat atau film asing yang skala 10. Yang BT adalah kalo kita nonton film dengan ekspektasi skala serem 5-6 tapi ternyata skala 2-3. Cemen. Kemaren gue nonton sebuah B-movie yang judulnya redsands. Sebuah film ttg 6 serdadu amerika di afghanistan yang ketemu jin. Gue tertarik dengan bagaimana persepsi filmmaker amerika ttg jin. Bener-bener gak akurat. Dan jinnya ketauan banget CGI.

Underestimation juga gue pernah ngalamin. Beberapa kali nonton film dengan ekspektasi skala 2-3 tapi ternyata skala 6-7. Wah itu monyet tuh. Contohnya, American Haunting. Wuiih orang gila.

Biasanya film-film barat yang gue takutin dan menjadikan aktifitas nonton sebagai sesuatu yang ngeri-ngeri sedap (suspense yang sama kita dapatkan kita cabut buku idung) adalah film tentang kesurupan dan arwah dan exorcism seperti the exorcist. The exorcism of emily rose, American haunting, the ring jepang dan beberapa film lainnya. Film indonesia juga rata-rata lebih serem dari film barat. Hanya saja makin ke sini, gue ngerasa film indonesia jadi gak terlalu serem karena artis-artisnya terlalu cantik (jadi makin nyaman dan tabah nontonnya) dan sutradaranya gue udah pada kenal. contohnya, kemaren nonton lewat tengah malam di youtube, yang maen joanna alexandra. Dari pada takut, gue malah ngebayangin ikut maen film dan saban joanna jerit-jerit, gue datang masuk ke scene dan bilang,
“sini-sini, tenang ya dik, tenang ada abang. Punya, nomor telefon?”
Kedua faktor itu menghilangkan kadar takut dalam nonton, somehow.

Nah sekarang gue mau nonton the haunting of hollymartley. Secara ini film arwah, gue expect skala 5-6. Let’s see.

Post to Twitter Tweet This Post

Pocong vs Kuntilanak - the script reading

Setiap film block buster di Indonesia memerlukan 2 hal. Pertama adalah script reading antar pemain, sutradara dan poduser. Kedua adalah Dian Sastro. Karena bisa dipastikan bahwa bermain 40 film setahun akan membuat seorang Dian Sastro mimisan, maka kebanyakan produser lebih banyak berharap pada proses script reading.

Di hari yang panas itu pocong sampai di PH dengan setengah hati untuk sesi script reading terakhir. Dia masih ingat 3 bulan yang lalu saat signing kontrak,”Ini bakal jadi film maha dahsyat! 2 bintang yang keduanya telah memiliki trilogi!!! Bayangkan berapa milyar yang bisa diraup dari film ini!”

Pocong stres dengan film ini atas 3 hal:

1. Dia selalu merasa berada di bawah kesuksesan kuntilanak. saat Idul Fitri dan Idul Adha, Kuntilanak selalu diburu hantu lain untuk bertanya kiat suksesnya. Pocong? Cuman babi ngepet yang masih nganggep dia. dulu ada si suster ngesot. Sebelum terkenal, tiap haaaaari ngimelin dan sms-in Pocong minta ketemuan lah, minta tips lah, minta ikut casting lah… sekarang udah terkenal, maenannya ke mall bareng kunti. Pocong ulang tahun aja gak ada sms-sms acan. Monyet tu suster.

2. Dia merasa karakter pocong kurang dalam digali di film ini. Tidak ada musikal yang bisa show off kemampuan dia menyanyi. Juga pesan moral yang dikandung hanya dendam dan bunuh-bunuhan yang jaman sekarang udah dirasa, nggak banget.

3. Kuntilanak naik mobil Alphard. Pocong? Honda jazz aja. Kredit pula.

“Udah buruan selesein sesi ini supaya gua bisa prep syuting besok” sutradara membuka sesi dengan BT.”Saya Mas, saya senang sekali dengan skripnya. baru kali ini ada film horor yang memadukannya dengan film sci-fi. Kalo boleh tau, kenapa ya di dalam skrip gak ada U.S.S. Enterprisenya Star Trek mendarat?”

“Lu ngomong apa sih Kun?” Sutrada mulai irritated.

“Lha itu Mas, kan saya karakternya Nyi Soroh yang kawin sama bangsa KLINGON kan?”

“Lu Nikah sama Von Klingen! Meneer Belanda! BUKAN KLINGON!” dua menit jalan, sutradara udah naek darah.

“Klingon itu yang di jidatnya ada kue pancong itu ya?” Pocong ingin ikut nimbrung untuk memperlihatkan intelejensia.

“Oh belanda toh? Okay, okay Ik faham. Ik faham.” angguk Kunti, mendadak setengah Belanda.

“Gua pribadi masih ngerasa gak sreg sama skripnya.” potong pocong.

“ELU LAGI! Coba gua pengen denger.”

“Kenapa plotnya gak kita rubah?”

“Gua udah sewa alat. Desain produksi udah selesai. Dari pada ganti plot mending gua ganti pantat lu mau?”

“Setidaknya dengerin gua dulu deh. Menurut gua plotnya gini aja:

Kuntilanak adalah sehantu (bukan seorang) yang kerja sebagai investment banker. Kerjanya tiap hari crunching number, urusannya sama ekuitas, return of invesment, fund hedging, mortgage, yang mana semuanya hanya di atas kertas saja dan tidak pernah melihat langsung efeknya dalam pembangunan sebuah bangsa.

Pocong adalah seorang pionir dalam micro-banking, memberikan kredit ringan dengan harga terjangkau kepada wong cilik seperti penjual ayam, basically semua UKM deh. Termasuk ngasih dana pro bono ke suster apung - yang by the way, kita bisa masukin suster ngesot di sini sebagai cameo kalo dia gak sibuk.

Nah filmnya padet jadi semua informasi itu kita shoot dalam 3 menit.” jelas Pocong secara komprehensif dan menunjukkan bahwa mengemas semua itu dxalam 3 menit adalah pertanda dia gak bakat jadi sutradara.

“Nah, konflik mulai terjadi ketika krisis ekonomi global terjadi. investment portfolio mbak Kunti jelas ancur lebur. Di saat ini dia ketemu gue, pocong, yang ternyata, bisnis mikro-bankingnya cukup likuid karena wong cilik ini gak pernah nunggak kredit. gak kayak klien besar yang ngutangnya milyaran tapi lenyap ditelan bumi. Kemudian bla bla bla bla bla blaa……”

tiga jam kemudian…

“….dan akhirnya, Pocong yang sudah kehilangan semua uangnya, tetap saja ingin menikahi kuntilanak yang pada saat ini hamil 7 bulan - meski sekali lagi, bukan anak pocong. Mereka tinggal di desa beternak soang dan hidup bahagia selamanya. The end.”

“…”

“…”

“…”

“…”

“Oh ya gua lupa nambahin. Semua ini, musikal. Mas Sutradara, gimana? Mas? Mas?”

Pocong berpaling dan sutradara sudah mati berdiri.

Post to Twitter Tweet This Post