Category: gua

Rakyat & Transportasi

Kisah 2 Anak Manusia

Kondisi solidnya ekonomi di Indonesia telah membuat banyak orang berpindah kategori dari golongan bawah dan masuk ke golongan menengah. Jangan terlena dulu, karena yang namanya golongan menengah secara definitive adalah golongan yang earningnya $2-$2000 per hari. Gue llupa batas atasnya berapa, kalo gak salah $2000, you might want to google this. Anyway, itu cakupannya luas banget. Dalam konteks ini, mari kita lihat kehidupan 2 anak manusia yang bernama Andi dan Rahman yang bertetangga di Depok. Keduanya kerja di Jakarta. Mari kita lihat keseharian mereka.

Andi adalah seorang pegawai sales dari sebuah perusahaan. Gaji Andi adalah rp 3 juta perbulan ($11/hari). Dari sini terlihat Andi menempati bagian tengah dari golongan menengah.

Rahman adalah seorang pegawai sales dari perusahaan yang lebih kecil. Gaji Rahman adalah Rp 1 juta ($3.6/hari). Dari sini terlihat bahwa Rahman berada di batas bawah antara golongan menengah dan golongan miskin.

Andi berangkat kerja memakai mobil. Tapi dia menghabiskan 1.5 juta (50%) gajinya untuk bayar bensin. Gue aja waktu tinggal di Jakarta Selatan menghabiskan bensin 2 juta per bulan. Gak kebayang perjuangan mereka yang bergaji pas 3 juta. Bensin bisa menghabiskan 50% gaji Andi karena macet. Karena terlalu banyak mobil, jadi macet. Macet = boros bensin. Macetnya juga gak tanggung-tanggung. 1.5 jam di pagi hari dan 2 jam pulan ke rumah. Tangki bensin 40 liter itu, isinya terbuang percuma.

Rahman lebih prihatin dari Andi. Mobil aja dia gak punya. Rahman pergi memakai bus kota. Murah, tapi tetap kena macet dan lama. Dia kemudian memilih kereta yang selalu penuh. Hati ngebatin, dan naik kereta itu jauh dari nyaman, tapi Rahman harus menghemat uang.

Keduanya punya masalah yang sama selain uang yang habis di transportasi. Yaitu kenyataan bahwa waktu adalah uang. Di Singapura, seorang sales dapat melakukan sales visit ke klien 4-5 lcient per hari karena transportasinya efisien. Di Jakarta, Andi yang memakai mobil hanya bisa bertemu 2-3 klien. Rahman hanya bisa bertemu 2-3 klien juga. Ketika Andi harus ngedrop barang dagangan, itu pun terbatas karena macet. Rahman lebih parah Dia ngedrop barang dagangan naik bus, repot.

Apa Pilihan para golongan middle class ini?

Apakah di Jakarta itu transportasi massalnya kurang baik? Well baik-buruk itu relative.

Tapi yang jelas, kurang banyak. Kurang banyak untuk mengakomodir 12 juta penduduk Jakarta + 3 juta commuter dari area BODETABEK. Andi dan Rahman dan 15 juta orang yang bekerja di Jakarta punya pikiran yang sama, menghindari macet = punya lebih banyak waktu = lebih produktif dalam kerja = income tambahan + bisa punya waktu tambahan untuk keluarga. Bagi Andi, punya mobil itu menyedot keuangan dia. Bagi Rahman, transportasi umum tidak cukup cepat membawa dia menjadi lebih produktif. Keduanya mencari aternatif yang dapat menghindarinya dari kemacetan.

Rahman berada di garis antara golongan miskin dan menengah, Dia gak mampu beli mobil. Pilihan dia adalah:

1. Transportasi umum yang kurang memadai secara jumlah dan waktunya tidak dapat diandalkan

2. Motor

Andi mampu dan sudah punya mobil. Pilihan dia adalah:

1. Mobil

2. Transportasi umum yang kurang memadai secara jumlah dan waktunya tidak dapat diandalkan

3. Motor

Rahman yang ingin menjadi lebih produktif, akhirnya memilih motor. Andi yang mampu beli mobil, akhirnya juga beli motor.

Bagi Andi, ini adalah penghematan langsung untuk incomenya. Bagi Rahman, naik motor bensinnya gak lebih murah dari uang yang dia keluarkan naik kereta, tapi dia dapat bertemu lebih banyak klien dan punya kesempatan menjadi lebih produktif. Again, produktifitas tinggi = income lebih banyak.

Aplikasikan kasus Andi dan Rahman pada kita dan kita akan mengerti kenapa sekarang ada banyak motor. Yang gak mampu mending membeli motor untuk menghindari macet. Beberapa orang yang mampu beli mobil, meninggalkan mobilnya di rumah dan memakai motor.

Bagi golongan menengah, motor adalah pilihan yang lebih baik karena biaya bensin mengambil porsi besar dari income mereka. Golongan atas yang kaya, mungkin bensin 3-4 juta itu hanya 2-3% gaji mereka. Gak kerasa. Bagi Andi, kenaikan BBM akan menjadikan naik mobil itu sesuatu yang mewah bagi dia. Bagi Rahman, kenaikan BBM itu akan menaikkan tariff angkotnya. Bahkan bus pun akan jadi mewah bagi dia.

Penduduk Jakarta, meski mereka sering memaki pengendara motor, percaya atau tidak seharusnya bersyukur bahwa motor menjadi pilihan. Kenapa? Karena yang menjadi Andi itu bukan 1 orang, guys. 1 juta orang! Ada ratusan ribu orang mampu, yang memutuskan untuk tidak memakai mobilnya atau tidak membeli mobil meski mampu dan memakai motor. Anggaplah 1 juta orang. Kebayang gak jika orang seperti Andi ini memilih mobil? Niscaya Jakarta hari ini akan memiliki 1 juta mobil lebih banyak dari yang sekarang. Dan tahukah kita, bahwa 1 mobil itu memakan ruang jalan = 6 motor? Coba 1 juta orang ini membeli mobil ketimbang motor. Kebayang gak macetnya jakarta?

Motor secara langsung telah memerlambat laju pemadatan jalan di Jakarta, karena golongan menengah ini.

Saat ini semua orang dipukul oleh kenaikan BBM. Semua orang kecuali golongan atas, teriak.

Golongan menengah yang memakai mobil jelas teriak karena proposi bensin dari gaji mereka akan meningkat, sedangkan gaji belum tentu naik.

Golongan menengah dan miskin yang memakai motor juga teriak akan hal yang sama.

Golongan menengah dan miskin yang memakai kendaraan umum juga teriak karena angkot dan bus akan menaikkan tariff mereka.

Lantas dengan kenaikan BBM ini apa yang akan terjadi?

Ini yang akan terjadi:

1. Akan ada lebih banyak golongan menengah pemakai mobil yang beralih memakai motor dan transportasi umum. Bagi mereka, memakai mobil tidak akan making sense lagi dan motor atau kendaraan umumlah pilihannya. Makin banyak orang seperti Andi.

2. Akan ada lebih banyak golongan menengah pengguna kendaraan umum yang beralih memakai motor. Bagi mereka, gaji mereka terlalu kecil sehingga kenaikan tariff angkot, mikrolet dan bus sudah tidak making sense lagi. Sebagai ilustrasi: untuk pergi dari pin A ke B, Rahman butuh 3 kali naik angkot. Masing-masing monta 2000. Total satu trip 6000, Itu sama dengan 1 liter bensin. Lebih making sense make motor kan?

Di Mana Rahasia Pemerintah Kota?

Pertama, kita harus pisahkan yang namanya pemerintah. Pemerintah kota (pemkot) dan pemerintah pusat (pempus). Kedua, kita lihat dulu rantai kejadiannya.

Kenaikan BBM itu instruksi dari pempus. Kenapa?

Karena Pempus tidak punya pilihan lain. Kenapa?

Karena pembangunan di daerah yang berarah bottom up (ditentukan dari daerah) menciptakan kondisi di mana peningkatan mobil lebih tinggi dari pengingkatan pemakaian transportasi umum. Kenapa?

Karena semua kota lebih suka membangun jalan ketimbang membangun rel kereta. Lebih suka membangun jalan ketimbang bikin transbandung atau transolo misalnya.

Kenapa kebanyakan pemda tidak mengelola transportasi umum? Kenapa pemda malah membolehkan angkot dikelola swasta?

Karena system transpotasinya dikelola terbalik. Di negara lain, transportasi itu meliputi hajat hidup orang banyak. Karenanya menjadi tanggung jawab pemerintah. MRT di Barcelona hanya 1 euro. Mungkinkah segitu? Nggak! Pemerintah spanyol mensubsidi 5-6 eruo untuk setiap trip saking mahalnya biaya operasi di sana. Harga MRT di Singapura hanya 1-2 dolar. Emang segitu costnya? Nggak. Pemerintah sinigapur memanage uangnya dan mensubsidi biaya operasi MRT itu.

Di Indonesia, terbalik. Uang pemda dan pemkot gak cukup atau habis dikorup, sehingga pemda dan pemkot melakukan hal berikut:

1. menyerahkannya pada swasta. Di negara lain, pemda yang menentukan rute transportasi. Pemda yang keluar uang membangun infrasrtukturnya. Pemda yang menentukan harga tarifnya. Dan pemda yang mensubsidi marginnya. Pemda di kota-kota di Indonesia, terbalik. pengusaha angkot yang malah datang ke pemda. Mereka bayar uang untuk buka trayek. Tarif? Terserah swasta. Pemda untung berkali lipat. Keuntungan pertama, mereka tidak keluar uang untuk infrastruktur, malah pengusaha angkot yang usaha keluar uang beli 200 unit angkot. Pemda malah dapat uang trayek. Tahukah elo, bahwa ada 1 ruas jalan di jalan Ahmad Yani Bandung yang dilalui 14 rute angkot? Ngehek kan? Pemda juga tidak mensubsidi apa-apa. Pemda untung 3 kali. Kita ini memilih siapa yang layak menjadi gubernur, walikota dan bupati, tapi mereka tidak bekerja untuk kepentingan kita. Ini yang membuat kita sulit. Ketika BBM naik, ya tariff angkot juga naik lah.

2. Ketika pemda dan pemkot melihat pilihan antara bangun MRT dan bangun jalan, ini yang mereka lihat:

Bangun MRT:

Biaya infrastruktur, dari pemkot

Biaya operasi kereta, dari pemkot

Biaya subsidi tariff, dari pemkot

Bangun jalan:

Biaya infrastruktur, dari pemkot

Biaya operasi mobil, dari rakyat sendiri yang memakai mobil

Biaya bensin, dtanggung rakyat sendiri

Malah, pemkot dapat uang besar sekali dari pembayaran STNK tahunan yang mana adalah 5% dari nilai mobil.

Keputusan pemkot: bangun jalan lebih hemat bagi pemkot. Biaya hidup ditanggung rakyat sendiri. Pemkot malah dapet duit dari pajak.

Yang dibangun hanya jalan, jalan dan jalan. Yang subur hanya motor dan mobil. Pajak mobil lebih mahal. Bensin mobil lebih mahal. Transportasi umum kurang banyak. Pilihan rakyat apa?

Yep, you guessed it.

Motor.

Motor – Ibarat Jodoh terakhir yang buruk rupa tapi kita nikahi karena tidak ada lagi pilihan lain

Apakah motor solusi yang efektif? Tentu tidak.

Apakah motor bahkan sebuah solusi? Tentu tidak.

Tapi mau gimana? Kenyataan yang ada sekarang ini, Pemkot gak akan mengubah mindsetnya menjadi abdi rakyat. Mereka gak akan mau invest apalagi menanggung subsidi transportasi. Lebih baik suruh rakyat memakai mobil atau motor. Ini jepitan pertama rakyat. Jepitan kedua, antara mobil dan motor, mobil lebih boros bensin, pajaknya lebih mahal. Ya motor lah yang menjadi pilihan terakhir golongan menengah (dan golongan miskin).

Apa solusinya?

Gampang aja.

1. Kemauan pemerintah untuk merubah mindsetnya menjadi abdi rakyat, bukan tukang pajek.

2. Kemauan pemerintah untuk merubah undang-undangnya. Agar transportasi mereka tanggung.

3. Kemauan pemerintah untuk berhenti korupsi. Dengan sedikit korupsi, lebih banyak anggaran untuk bangun MRT.

4. Kemauan pemerintah untuk mereduksi PNS menjadi 40%-50%. Kerjanya lebih efektif. Dan akan ada sisa anggaran untuk membangun infrastruktur.

Sampai ini terjadi, kita bisa expect angka penjualan motor terus meroket. Selama semua paparan di atas menjadi realitas, kita bisa lupakan semua kebijakan, semua andai-andaian. Suka atau nggak, orang akan memandang motor sebagai solusi keuangan mereka. Solusi untuk mereka survive.

Rgds.

Djuhro Sumawiria

Sepotong cerita dari blog gue yang lama, di tahun 2006. This is one of my all time favourite posts. Dia ada  salah satu orang yang paling berpengaruh dalam hidup gue. His presence in a room is majestic. Stories of him alone,  from the many people who loves him, is a book of life.

http://suamigila.com/2006/09/pemuda-bernama-djuhro.html

Seharian ini sistem di kantor ambruk. Gua menghabiskan hari melihat-lihat foto Aldebaran. Gua berpikir betapa beruntungnya gua memiliki bintang kecil ini. Bagaimana bisa semua ini terjadi. Kemudian gua teringat 1 hal penentu, kenapa semua hal ini bisa terjadi.

Berpuluh-puluh tahun yang lalu di desa Sumedang, hidup seorang pemuda bernama Djuhro Soemawiria. Djuhro tumbuh miskin. Saking miskinnya, dia diangkat seorang kerabat lain karena orang tua Djuhro tidak mampu memberikan suapan nasi. Di suatu pagi, Djuhro muda berjalan-jalan di pasar. Seorang anak tertangkap mencuri sepatu dan orang-orang hampir memukuli anak itu.

Djuhro muda datang dan melerai. Djuhro muda adalah seorang pemuda miskin tapi dia membayarkan sepatu anak itu. Anak itu berterima kasih dan pergi.

Djuhro muda dan anak kecil itu tidak pernah bertemu lagi.

Belasan tahun kemudian, Djuhro menikah dan memiliki 5 anak. Dia menjadi kepala stasiun Cicalengka, Bandung. Suatu malam, Di/TII memberontak. Mereka membuat kerusuhan. Memburu rumah-rumah dan mencoba membunuh aparat pemerintah.

Rumah Pak Djuhro ditendang terbuka dan sekelompok tentara masuk dengan senjata. Sersan kepala menodongkan senapannya pada Pak Djuhro dan keluarga.

Sersan kepala itu menodong orang yang pernah membelikannya sepatu.

Sersan itu tersenyum dan mengucap permisi.

Setelah kejadian itu Pak Djuhro dikarunai anak ketujuh bernama Ati Ernawati.

Dan di tahun 1977, ibu Ati melahirkan seorang anak lelaki bernama, Adhitya Mulya.

Dan di tahun 2006, sebuah bintang penunjuk lahir. Aldebaran

Apa yang kita lakukan dalam hidup, berpengaruh pada orang lain. Dan pada diri kita juga.

Moral of the story: Memang kita harus ikhlas bersedekah dan menolong orang lain. Imbalannya gak perlu diharap. Karena akan datang sendiri di saat dan dengan jalan yang tidak terduga.

Hari-Hari Seperti Ini

Bertahun-tahun yang lalu, gue berkata pada diri gue, akan datang masanya hari-hari ini. Di mana cobaan yang sama datang bertubi-tubi tanpa ampun.

Gue cuman bisa bersyukur dengan apa yang ada. Dan bersabar dengan apa yang nggak.

Angkat Beban

Akhir-akhir ini istri lagi demen banget pergi gym buat olah raga. Gak ada yang salah kecuali sebuah kenyataan kecil di mana dia gak punya Ivorian Driving Licence yang mana gue kudu nganter dan secara natural, jadilah gue ikut olah raga. Katanya it’s the better way of spending the weekend.

Sedangkan gue, definisi gue akan spending weekend adalah nonton film-film yang bermutu seperti ‘Master & Commander’, ‘Mr & Mrs Smith’ dan ‘Hungry For Pussy 6′ (which by the way, memberikan banyak jawaban dari layer-layer pertanyaan yang berkembang dari Hungry for Pussy 1-5). Atau tidur dengan celana kesayangan gue (figure 3). Anyhoo, jadilah gue ikut ke gym.

Angkat Beban

I. Hate. Gym. Bagi gue, gym bukanlah tempat di mana seseorang dapat bertambah baik. Sebaliknya, gym adalah tempat di mana gue makin minder ngeliat betapa jauhnya gue ketinggalan dan betapa jauhnya gue harus mengejar. Waktu gue single gue gak mau pergi ke gym untuk ngeceng karen yang pasti gue malah ngebantu cowok ganteng makin lancar dapet jodoh. Example:

cowok ganteng : duduk di kiri angkat beban 50 kilo
gue: duduk di kanan angkat beban 5 kilo.
cewek cantik: lewat, liat kiri dan liat kanan, terus mikir. Cowok ganteng? apa Ikan asin? Cowok ganteng aja kali yeeee?

Dan celana olah raga ITB gue secara pamungkas lebih sering menemani gue di saat-saat santai di rumah, kasual (figure 1). Dari ketakutan itu gue beli perangkat angkat beban dan fitness di rumah (baca: gak pernah).

Tapi akhirnya gue nikah dan gue gak perlu ngeceng lagi. Gue mikir, ‘Yeah, gak perlu jaim lah sekarang. Bisa dong gue angkat beban di gym nemenin istri’. Gue dengan pedenya masuk gym. GILA! Orang pada berotot semua. Ada yang yang maen bulu tangkis. Ada yang sit up, ada yang lari, ada yang naek sepeda and get this! ada yang jalan kayang. Tapi gak papa. Gue gak terlalu hasrat untuk unjuk-unjukan siapa yang lebih jago jadi orang aneh di gym. Ya sudah akhirnya gue cari area angkat beban dan mulai men-stel beban gue.

50 kilo. Wah berat ya ternyata? Gila, gue ngambil disc yang 50 kg-nya aja kudu ngegelinding, gimana gue bisa angkat? Kiri kanan pula? Bisa mencret. Gak deh. MOVING ON to 25 kilo….

25 kilo. Dengan segala perjuangan gue masih aja gak berhasil. Mau minta tolong ke instruktur (yang mana orangnya segede-gede buta) pasti gue diketawain. Masanginnya aja minta tolong, gimana bisa angkat? Fine, untuk menjaga kegantengan gue (figure 4) tidak berubah secara permanen seperti figure 5, gue mengambil berat yang gue yakin dan gue nyaman bisa.

2.5 kilo. No, it’s true! Akhirnya gue tiduran nih di benchnya. Wah gaya deh, dengan celana andalan gue yang dari saat kepemilikannya dari 1996 akan pertama kalinya dipakai berolahraga dalam artian yang harfiah. Pas gue angkat, asli ternyata masih berat. Gue lupa bahwa barnya juga berat. Tapi mau ganti ke yang lebih ringan malu bo, yang lebih ringan dari itu, adanya di bagian anak-anak.

Ya sud akhirnya gue paksain 2.5 kg x 2 (kiri kanan) + bar. Berat juga dan dener aja, 10 angkatan gue udah shitfaced (figure 5). Ada satu instruktur yang baek banget nolongin sana sini.
“Iya Mas, He-em, ngangkatnya gini. Sini saya pegangin dikit” ujarnya, kepada seseorang berotot gede yang entah kenapa masih gotong 100 kilo kiri kanan (Kurang apa sih lo?). Anyway, sama si instruktur ini, kiri kanan orang semua dibantuin kecuali gue. Ya iya sih. 100 kilo kesulitan angkat pasilah dibantuin. Nah gue? 5 kilo kiri kanan mau dibantuin juga? Mau dikemanakan muka ganteng ini (figure 4).

Terus ada 3 orang lebanon depan gue yang LOMBA cepet2-an angkat 10 x sekian kilo dalam berapa detik. Set dah, gila gengsi gue akhirnya keluar. Gue satu-satunya asia di sini, masak iya gue akan menajamkan persepsi bahwa orang asia cuman bisa makan jengkol? Ya udah akhirnya gara-gara peer pressure, gue nambah beban. 1.75 kilo x 2.

Tai lumayan lah. Udah beberapa kali ke sana tanpa menyesal. Cuman aja abis pulang Gym, saking pegelnya gue gak kuat ML. Sepertinya gue adalah satu-satunya eksekutif muda yang menolak seks karena encok.

Dan juga kata isri gue, sekarang kalo dia meluk gue..
“Asik A, serasa adaan!” Dada gue dengan nistanya dia raba-raba, “Iya tuh adaan!”
“Lo kira gue bungkus wafer?”

Cerita Seorang Nukie

Waktu gue masih kuliah di Bandung, gue akrab dengan temen-temen kosnya sobat gue, Dimas Seno. Cukup akrab sampe gue selalu maen sama mereka dan kudu ada foto bareng mereka di nikahan.

Salah satu dari mereka adalah manusia bernama Nukie. Angkatan 96, SP UNPAR. Anaknya baek banget. Asli selangit. Hanya saja, dunia itu selalu kejam memperlakukannya namun nya, tetap tabah dan berseri menyongsong hari esok.

Salah satu yang kejam of course, adalah teman-teman pergaulannya di kuliah.

Singkat cerita, mereka harus kuliah karyawisata ke Anyer. yeah right. Bagi gue, pergi ke Anyer untuk belajar adalah sebuah konsep yang asing, jujur aja. Bisa-bisa ada yang scientifically exciting di Anyer.

Anyhoo, Mereka janjian make bus berangkat jam 6 pagi dari Bandung, langsung ke Anyer, beberapa anak memutuskan untuk naik mobil. Nukie, objek penderita kita kali ini, naik bus charter itu.

elo: (baru bangun tidur dan lagi males-malesan di Minggu pagi).

Suara dari luar
Nukie: MASYA ALLAH!!!!!!!!!!!!!!
*Jduk!* (suara pintu dibuka, panik)
*Bruk bruk bruk bruk bruk bruk bruk* (suara panik turun tangga kayu)
*Kincling-kincling* (suara telfon koin dibuka paksa untuk bypass nelfon HP gratis)

Nukie: Halo? Jeng? kalian udah pada berangkat ya?

Nukie: Aduuuuuuuuh! gimana dong, gua kan ketinggalan.

Nukie: Halo semuanya…eh kok ninggalin gue sih?

Nukie: Ya salah gue….gak kok gue gak nyalahin kalian.

Nukie: busnya bisa brenti gak?

Nukie: ya gak usah pake bentak dong.

Nukie: Si Yosep pake mobil ya?

Nukie: Ya udah deh gue sama Yosep aja.

Nukie: Emangnya busnya udah sampe mana sih?

Nukie: HAH? BARU MASUK PASTEUR? EH TUNGGUI…halo? halo? HALOOOO????????

In retrospect, dari satu sisi pembicaraan Nukie, anak-anak kos udah bisa mereka counter dialog di seberang telfon. Berikut rekonstruksi:

dalam Bus
*Semua lagi nyanyi sambil ngegitar*
“Di sana senang, di sini senang…”
*Kring kring* suara HP si jeng, bunyi
jeng: Siapa sih ni ganggu aja? Halo?
anak2: Di sana senang, di sini senang…
Jeng: Udah. Ini siapa sih? Nukie ya?
anak2: Di mana-mana hatiku senang..”
Jeng: Eh semuanya! Nukie ketinggalan!
anak2: *Diem sebentar*….di sana senang di sini senang…
Jeng: Ini serius ini!
anak2: Halo Nukie!
Jeng: Jadi gitu ya? Emangnya salah siapa gak bangun? mau nyalahin kita ya?

Jeng: nah gitu dong, nyadar. Kuda nil, dasar.

Jeng: YA NGGAK LAH! UDAH JALAN JUGA!

Jeng: Abisnya elo rese sih!

Jeng: Iya tuh telfon Yosep. Abis-abisin batere gue aja…

Jeng: Ya udah sana.

Jeng: Ini baru mau masuk tol.

*klik*
“di sana senang di sini senang….”

Meanwhile, in the batcave… uhm , okay, di kos-kosan

Nukie: Halo? Yosep? SEP NI NUKIE! GUE IKUT DONG!

Nukie: Udah berangkat ya? sampe mana?

Nukie: Padalarang? Jemput gue dong!

Nukie: Minimal brenti dulu deh, gue ngangkot ke padalarang!

Nukie: Aduhh…gue bayarin bensin ke anyernya!

Nukie: PLISSSSS PLISSSSSSSSSSSSS SEP! BRENTI DONG PLISSSSSSSSSS. SEP SEP! BRENTI DULU DEH BRENTI DULU…PLISSSSSSSS……SE..halo? halo? HALLOOOOOOOO!?

Gema nestapa Nukie mengudara melarung ruang-ruang kosong, menyusup ke dalam pagi yang kelu dan menghangatkan jiwa. (DANGDUT!).

Singkat cerita, temen-temen kos Dimas nganter Nukie ke terminal bus bandung timur dengan tulusnya setelah dirayu cebanan.

Setengah hari kemudian, dan setelah dipalak preman terminal bandung, kesabet kelek ibu-ibu yang bawa ayam dan dipalak preman terminal Serang, sampailah Nukie di Anyer. Di sana dia minta dijemput oleh teman-teman yang ninggalin dia itu.

Nukie: Hey! aduh akhirnya!
Anak2: Gimana sih lo? Bikin kita telat tau gak!?
bentak mereka pada Nukie, YANG SAMPE DULUAN.
Nukie: Iya sori, sori.
anak2: yang kek elo gini nih, bikin susah satu umat!
Nukie: iya sori.
anak2: Kan risih gue ke termial sini, banyak premannya. Ntar ditusuk gimana?
Nukie: Iya makanya, kalian baik deh.

Nukiee..Nukie. Ck ck. Someday someone will find out how nice a person you are.

Madam Pulibale

I found, at last, a restaurant that serves food that does NOT bite u back when u want to eat them.

Adalah madam Pulibale, pemilik restoran itu. hal pertama yang muncul di pikiran gua ketika gua diajak ke sana adalah,

“Kok ya punya nama yang nyiksa bibir orang ya?”

Madam Pulibale untuk menjaga stamina gua, gua singkat aja dia MB. adalah tipikal ibu-ibu ivorian. besar, twice my size, oh-my-god-those-r-so-enormously-off-turning-breasts, extra black, and butts the size of a buick.

Dia memiliki 6 pegawai, yang semua mirip dia dan dengan rajin dan lihai, ngemilin makanan yang mereka siapin untuk dihidangkan ke orang-orang. Aduh, ampun deh kelakuan. Asiknya lagi, mb adl satu2nya pengelola restoran di radius 300 km kanotr yang sudi bahasa inggris.

mb hanya menyediakan Ayam goreng, ikan goreng dan kari ikan. Kombinasi temennya adl nasi aneh, kentang goreng, pisang goreng, Taleus (casava) parut dan satu lagi yang namanya susah untuk gua sebutin. kita sbut aja ‘oirewqk’..u know, biar gampang.

Satu yang paling gua suka adl, ayamnya enak banget dan ukurannya, wah, gila…gua bersumpah gak mau sampe kapan pun dipatok ayam sini. Gila gede bangeeeet. Ini dengan catatan tentunya bahwa jangan liat cara masaknya soalnya, interior restoran yang serba seadanya membutuhkan para pegawainya, yang cewek semua itu, untuk memakai baju seminim mungkin.

Baju minimalis, badan maksimalis. Gua pingsan.

Jujur gua, gak keberatan kok berhadapan dengan wanita dengan baju minimalis. In fact, sewaktu bujangan, gua adalah penonton setia dibalik lensa. U know that TV show dont u? U know, TV seri yang mana cuplikan di bawah sering muncul:

“Menurut saya, kecantikan yang paling penting itu dari dalam, bukan fisik” kata sang model….sambil Nnungging (terkadang gua gak gak abis pikir, orang2 di tv itu mikir gak sih kalo ngomong?).

Nah, when it comes to seeing 6 badak yang nungging depan gua, it’s a total nightmare. Kids sldn’t see this. I really sld make a documentary this restaurant. Probably phoning HBO and say

I say: ‘Guys, u want to make sex and the City – the sequel?’
They say: ‘YES! what about?’
I say: ’6 girls working hard in a restaurant..’
They say: ‘We’ll take it!’
I say: Good!…now, there’s juuuuuust one problem…..’

Nevertheless, gua suka masakannya. Itu dan kenyataan bhw gua gak tau restoran yang lain. Beliau sampe udah apal bgt sama gua dan gua gak perlu ngomong apa2 lagi selain angkat alis dan voila, dimasakin…sambil dicemilin tentunya.

Ini beda pas gua di Indonesia. Waktu gua di INdonesia. I’m a nobody. Ceritanya gua suka banget kopi dan bertahun2 pergi ke regal cafe. Tiap kali ke sana mesen hal yang sama. Giliran gua angkat alis, mereka menatap gua balik..tatapan yang berkata ‘Ih, lalaki cabul!’. Akhirnya gua jadi pembeli kopi fanatik di Sandro Coffee. Gak pernah denger ya? Sandro kopi itu, enak ngopi banget. Orang yang minum kopi buat gaul gak akan kenal krn emang gak begitu ngejual. Tapi yang pasti kualitas kopinya enak banget. Cabangnya cuman 3 di Indonesia dan yang paling penting lagi……toko ini bukan franchise luar negeri. Asli milik orang Indonesia. Which reminds me we’ll have to buy an esspresso machine.

Sampe di mana tadi? oh ya, badak. Nah, pertamanya sih makan di sana…geuleuh…gimana nggak? kelek kemana-mana, tangan comot sana sini, pokoknya lebih ancur dari warteg. Tapi, lama-lama…masih geuleuh juga tapi hey gua dikontrak di sini dua tahun, so… I said to myself, ‘DEAL WITH IT!’

Gua belum pernah kesampean ngajak istri ke sini krn tutupnya jam lima dan meski gua selesai kantor jam 4, kerjaan selalu membuat gua pulang jam 6-an. Weekend tutup. Gaya.

Oh by the way…. Akhirnya Jomblo masuk cetakan ke lima. Norak ya gua bilang2. Abis seneng sih. Segini aja gua udah bersyukur banget. Gak ngira banyak yang suka. 5 cetakan dlm 4 bulan.

Gua mo ngucapin banyak bgt terima kasih ke Istri gua (Ninit) dan temen2 blogger se Indonesia, Enda, Nita, Slesta, Okke, Erly, Ndari, Ita, Isman, Pip, An, Dimsen, Muti, semua yang nge-review, yang bantuin promosi, yang ngedukung, yang nyebar2 di milis, dan maaf jika ada yang gak ketulis namanya, aduh makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih, makasih …

Seriously, kalo ada yang mau nulis buku, send me an email and I’ll help. rgds.

And THEY, were The Gods

What’s this? why yes…..it’s anOTHER African Journal!!

Before I flew back to INA to marry my wife, gua mau beliin keluarga dan temen deket gua, oleh-oleh…u know, something Ivorish. Gua akhirnya dianjurkan ke pasar seninya oleh temen gua, Moise (he’s ivorian) untuk dapet harga yang kompetitif.

As a rule of thumb, di mana2 kita pergi, kalo kita terlihat asing, nah pasti harga dimahalin. Now, being the only yellow skinned bloke in Ivory coast, gua yakin pasti gua dikibulin makanya gua minta Moise dan pacarnya, Frida, untuk nemenin gua dan bener aja, pas nyampe sana, whaaaaa…gua ditarik-tarik sana-sini oleh penjual, suruh beli ini-itu at a reasonable price of 6 TIMES THE FUCKING VALUE!! U TWATS! What’s wrong with u people?

Gua panik.
They were shouting at me…
I was shouting back at their penises (we were standing on the same ground level, but everyone’s here is twice my size.”

“U need to calm down when going to places lie this.” kata Moise
Oh yeah? why dont U TRY to be calm when everyone looks like they want U to be gang-raped. Ill calm down AS SOON AS I HAVE A FUCKING SHOTGUN, MATE!.

Kita jalan. Di sini banyak patung dewa. Gua gagal mendapatkan literatur ttg dewa mereka coz guess what? THEY NEVER WRITE? So naturally I asked alot of questions.

“What is that statue?”
“That’s goddess Kouk goabone akibnyeorteri.”
“Riiiiiiiight….that was my guess. Who is she?”
“The goddess of fertility.”
“Why does she look like as if she is killing someone?”

“What’s that?”
“That’s the goddess of Potowensw cowbailabalibali.”
“What is she?”
“Goddess of virgin.”
“Why does she have big butts?”
“That’s her breasts.”

“What is that?”
“Poj enbsi xoew sqoa x kalokaiutaran.”
“Whatever…” I why-me-ed my eyes.
“He’s the God of fertility.”
What is it with them and fertility?
“You ivorians are very much into this fertility issue huh?”
“No, no…he is the god of LAND fertility” He said, pointing index finger upwards, intonizing a difference.
“AHHHH I see.” It became clear to me. “And what is he holding there?”
“Human skull.”

We cam accross this huge balck wooden statue. BIG ASS.
“This is soooo hyperbolic” gua membentuk tanda bulan dengan kedua tangan gua.
“What is she?”
My friend tapped his finger on the lips and looked at the sky…”I dont know.”
“With the size of her BUTT, she sld stand as tall as the empire state building.”
“No she’s not.”
“Yes she is my frined heheheh” kata gua sambil nyolok2 pake tongkat yang ada di dekatnya.”
“She’s not, because she’s alive.”

Gua ama temen gua buru2 sebelum wanita itu nyadar dan nengok. We finally arrived at this store. It has
1. these white wooden ivorian dolls,
2. masks
3. a strore vendor, twice my size, with notorious curly hair chest, no clothes, and lokked as if he had just gunned someone down.

Kita buka bargain. Gua beli banyak patung, harga dibuka di 6000 cfa. lama-lama turun dan settle di 2500 cfa. TWAT!

“What’s that?” kata gua setelah beli, melihat ke patung gede, nyeremin bgt megang tongkat.
“I don’t know how to say it, but she’s a goddess. She helps people find their wife/husband faster…”
“AHHHHH dewa Jomblo!!!!” kata gua.
“Excuse me?”
“Oh, nothing….and what’s the story with the stick?”
“You have to hit the person first.”
“That’s a suicidal way to get married isn’t it?”
“What do u mean, sucidal?”
“Well, I wld like to find a wife, but I dont want to have a cracked skull.”
“Oh no, who hit them nicely.”
“It’s a Big ass stick, Moise…”

Dear Dad,

Me and Ninit is doing fine. We are still staying in the hotel because there is a problem with the contract with the apartment. We’re sorting it out next week and hipefully we’ll move in as soon as possible. Agak sedikit BT juga dengan kinerja orang2 administrasi di kantor krn mereka selalu butuh di push and press to get everything done.

Adit mulai BT juga tinggal di hotel krn meski hanya berjarak 400 meter dari kantor, setiap hari, and i mean every fucking day, there’s always preman malakin adit untuk rokok. emang salah adit dari pertama dulu pas mereka minta adit kasih. lama2 mereka minta setiap hari. I had to take another route to get home (go around the block) but they noticed, unfortunately. Kemaen ada yang minta rokok dan minta sesuatu lagi, kayaknya uang, tapi gak adit kasih. alo iya, whaaa bisa bencana.

I also developed an allergy which is strange coz I dont think I ever had one. Adit tiap saat gatel2. tadinya adit kira krnmandi gak bersih atau gimaa, tapi ninit gak ketularan. adit coba mandi berendam pake dettol, consumming three times as much as the allowable dose. This, apparently, turned out to be LETHAL coz I think I burnt my penis.

and gatel2nya masih ada, so the current hypothesis is that, I have an allergy….and now, a burnt penis as well.

Ninit is also beginning to wonder mengapa setiap kali sholat Adit cuman bisa qulhu dan ina a’toina, which is embarassing so she wants me to memorize other surat2. Being married certainly need us to be immam as well. heheheh It takes time and I will be a good immam.

So how’s everything going in JKT? any international sclae incident? national scale disaster? Just remember, IT WASN’T ME! heheheheheh…

dapet kabar dari gagas Media bahwa Jomblo cetakan keempat, stoknya sudah hampir habis, which is good news, tapi kita belum mutusin apakah sudah cukup kritis untuk bikin cetakan kelima. We’ll see, hope so lah ya. You see, the difficult thing about marketing the book is that in indonesia, buku itu masih membutuhkan sosok pengarang untuk dekat dengannya, which I’m not. Kalo kayak gini, nafas buku bisa pendek. I was lucky enough to be in a condition where cetaklan ketiga dan keempat masih terjadi meski saya udah pindah ke afrika.

So, I don’t know….we’ll see, hope there will be a fitfh print.

Adit juga mau ngucapin makasih ke papah mamah atas kepengurusan nikahan kemaren. I didnt take much part in it, sorry, I was in africa. But I want u to know, that I love u both and I am really grateful for the wedding and the cost and stuff. Thank you, that was one big wedding hey? Kata bapaknya ninit, sampe skg kenalan2 mereka masih ngebahas loh.

anyway ttg telpon.
1. telecel (nomor lokal di sini) gak bisa kirim sms ke luar negeri. Hanya bisa ke nomor2 mentari dan itu juga dengan kondisi, mereka gak bisa bales ke saya. Mereka harus bales ke nomor ninit +62816624477.

2. My telkomsel number, is not working at all. Padahal di singapur dan di paris jalan. Jadinya saya hilang kontak dengan semua network saya di jkt, which sucks, krn saya butuh komunikasi dengan mereka, terutama orang2 sineas dan sastra.

3. The only reachable number by sms is matrixnya ninit: +62816624477. pls send sms there ya. btw, saya bbrp kali kirim sms ke papah mamah tapi kok gak pernah dibales ya?

gimana kabarnya nayla? mamah? kakak dan mas fuad?

semoga semua baik2 aja ya. Guess what…I adit skg lagi nulis buku, tapi krn gak nyaman I eneded up having 7 2nd book. Bikin sampe bab 4, trus adit tinggalin krn gak bagus untuk dilanjutin. Am really looking forward to settle down so that i can start to write.

About ninit. atasan adit tyt adl sobatnya petinggi di dhl
‘what did your wife do?’
‘she was a sales support in dhl.’
‘really? can u give me her CV? because we are really close to their top management.’

whaaaa…….asik banget. adit dan ninit sepakat untuk ninit belajar prancis dulu dan abis itu nyari kerja di dhl sini.

udah aja segini dulu, Ive been feeling guilty stealing office time heheheh. salam ke mamah, pls print this letter fopr her to read.

and yes, i still have a burnt penis.

UPDATE:
Dear Dad,

everyone’s making fun of my penis….burnt penis…that is. What5 sld I do? I have to be politically correct here. I mean I can’t be offended just because of a penis (although it does NOT belong to public, like buses or bajajs). I cant just say
‘Oh look, Captain Winky is badly burnt, guys…please sit down and discuss.

:) :):):):)

rgds/

Lost In Translation

I. Am. Lost.

Gua diajak rapat sama bos gua hari ini. Sales meeting. They do this from time to time. Yang ngeselin, they all speak french. INi secara spektakuler membuat gua jelas2 SUSAH untuk kerja. MBOK YA! Im a marketing manager, not GOD. Berikut cuplikan.

‘koe ?erj spic sldcqb w?’ kata bos gua,
‘ifde sifzr zucbz aeoa’ kata si B, defensif.
‘ie r^pfdoz zioda adsnhoabe’ kata si A sambil nunjuk2
‘ieozr zedcbq qdkaq apqpoid aqia aipefda’ kata si C menekan dada, pause for dramatic effect, dan mata mulai berkaca-kaca.

gua bengong.

‘iozdi reoiue fudcqu sd?’ tanya si C

semua ngangguk.
Gua sendiri geleng kepala.
Semua nengok. Dont u ever get the notion that when u do something spectacularly stupid, THEY NOTICED? Its almost as certain as Newton law #3

‘why did u say no?’ bos gua akhirnya ngomong inggris.
‘oh no I have something in my throat, uhk, uhk’ kata gua. Mereka melanjutkan perdebatan. Sebuah argumen berkembang but I cant quite comprehend what it is. With my level of french, these are the only possible options:
a. C wants everyone to get a rabies shot.
b. B want C to be fired.
c. Sales are dropping, C need to get gunned down.
d. Wheather is lovely out there, we sld all strip naked and ngangkang getting tan.
e. C is complaining that someones toe is exceptionally smelly and to keep smelling it in the office is sale as pushing the boundaries of humanity.

It felt more like as if u r negotiating in a hostage situation with an angry, war tribe due to a certain delicate, sensitive issue, like when the neighbouring goats passes a piece of their land. ‘THIS MEANS BLOOD!!!’ they say.

AND NO THATS NOT MY TOE!!!!

I still cant make out which, yang jelas si B berkata:
‘poiezr xcnxc sdiafe zerozbpza’ kata si B
‘pozez etiepz zdfiuzbzfz zdfz’ sanggah si C sambil banting kertas. OF COURSSE!!!!! it makes a lot of sense now…..u twats!

si A ngangguk2

bos gua tampak setuju

Gua ngompol ketakutan di brendeng warlords.

akhirnya gua bilang ke bos gua bhw gua gak bisa tll contribute ke rapat ini dan balik kerja….2 years of these…

To tell u the truth; it is truly intimidating working in africa, even in office. Gimana gak? Everytime u get into a debate, what do u do? U stand up right? Well, when I do, stand up nothing really takes effect coz ALL of them are twice my size. Gua pernah cerita ttg hal ini di postingan sebelumnya, suatu hari gua lmarah2 ke bawahan gua
‘pokoknya gua gak mau lu dateng telat lagi TITIK!’ ujar gua berdiri tegap nunjuk2 penis mereka. Gua disentil juga bisa minum sayur asem dari sedotan.

Dont try to get all nasty and stuff to a man who comes from a tribe who stab people as sign of maturity.
‘ah son, you are from today….a man’
‘thank you father’
‘now go get a knife and kill some one. be back before dinner u hear?’

or

‘do this, clean that, sacrifice a virgin on your way out…’

honestly, u dont point fingers to these people.

Things NOT To Do, In Abidjan

1. Never give preman what they want
Jarak dari hotel ke kantor hanya 400 meter. Yang ngeselin adl bahwa sepanjang rute ang gua titi by walking di siang hari, dipenuhi oleh preman yang suka meminta duit atau rokok. Tiap hari gua lewat, tiap hari gua diminta oleh kelompok yang beda-beda. Gua dpt distinctive feeling bhw mereka apal ama gua. Being the only asian, makes me well….let’s just say, conspicuous.

Gua berusaha meng-assess situasi ini dengan berjalan 400 meter ke kantor dengan cara, pretending as if I am casual, cross the street back and forth 16 kali. menghindari berbagai macam geng. Tengok kiri, tengok kanan tengok belakang apakah gua bakal digang-bang atau nggak. nyebrang deh…..16 kali. Quite cumbersome honestly. Nyampe kantor gua udah ngos-ngosan kayak orang baru selesai nimba. Lama-lama taktik ini mulai terlihat sama mereka dan atas dasar keinginan untuk melihat hari esok, akhirnya gua kurangin jumlah penyebrangan gua jadi lebih subtle and normal. 13 kali.

Apakah gua kasih? Gak. Gua hanya ngasih rokok sebatang bagi mereka yang minta tapi gua gak ngasih mereka uang.
Kalo satu dikasih uang, gua dibilangin bhw yang lain pasti ikutan minta dan itu hanya untuk 1 hari itu aja. Besoknya pas gua lewat lagi, whaaa…..gua bisa secara misterius menghilang ditelan bumi. Itu sebabnya juga akhirnya gua nolak apartemen yg mrk tawarkan terletak di jalan yang sama. Whaaa gak makasih. Akhirnya gua dpt 4 km dari kantor. Tapi daerahnya enak. bisa jogging pagi-pagi tanpa disapa ‘Good monrnig sir, kindly give me your shoes if you VALUE YOUR LIFE.’

2. Never try to make a conversation on a boat, speeding 70 mph
If u ever get into a situation as stated in the above…..well you’re toast. 2 weeks ago, they took me to a restaurant reachable only by boat which was waaaaayyyyyyyy beautiful, honestly. Tapi ke sana hanya bisa pake boat. Kita naek speed boat kantor, got out of the port, into the lagoona at faster than the speed of my thought. The bloke was running the boat 70-80 mph. Kaliin sama 1.6 = 112 km/jam on water. It was of course terbuka jadi rambut gua seperti yang baru kesamber naga. Rudi Hadisuwarno kalo sampe liat bakal teriak ke murid-muridnya:

‘Okay student todaywe will learn about ahir do national disaster…tinjau SAMPLE A’ katanya sambil nunjuk gua.

At this speed, gua mencoba basa-basi by stupidly stating the obvious fact that we are running fast.

gue: “Wow this boat is really faaaa..PHHUUUEH

I spat on my manager.

The moral of the story is, Unless u can control your production of saliva. Shut the fuck up till u get to where u are.

Gak kerasa, nanti malem gua pulang. Untuk nikah. Besar kemungkinan bahwa ini adl postingan terakhir gua inggu ini, bulan ini dan dengan status masih selibat.

The next time I post, Ill bemarried…….and all hell will…break loose heheheheheheheheh…

Have a nice weekend guys.

Oh ya, ntar malem gua balik ke jakarta, taking on a 28 hr flight +7 hr time difference. Total is 35 hrs. So, gua gak bakal bisa bales komen. tapi keep writing it anyway ya. Ntar gua sampe jkt, gua bales. Asumsi, internet connection belum dicabut nyokap secara brutal.

Adhitya Mulya….reporting from Abidjan. rgds.