Category: finance

Persiapan Sebelum Menikah

Baru-baru ini nemu kasus di mana seseorang, katakanlah X dan Y menikah. Agak miris juga sih. Sampai sekarang mereka hepi-hepi aja. Tapi mereka berada dalam beberapa masalah praktikal seperti, mau DP rumah tapi salary gabungan kurang cukup. DPnya juga kurang cukup. Mau DP pun anak sedang dikandung. Intinya they wanted to progress tapi ternyata ada beberapa hal yang sebaiknya mereka miiki sebelum nikah, belum mereka miliki sampai mereka telah menikah dan sedang mengandung anak.

I’m not an expert in finance but I do intend to share what I know. Semoga bisa jadi bahan rujukan adik-adik kita yang sedang berjalan menuju stage ini.

Gue rasa di jaman susah gini, gak ada salahnya pasangan yang akan menikah duduk bareng dan buka-bukaan soal uang. And as an individual, we want to be the part of the solution kan, bukan part of the problem.

Intinya gini. Ketika seseorang menikahi kita, dia akan mengabdikan semua dirinya untuk kita dan keluarga yang akan kita bangun. Oleh karena itu, mereka berhak untuk tidak menikah dengan masalah kita. Kalo kita punya utang, yuk coba sebaik mungkin bereskan dulu, demi kita dan demi dia. Masak iya udah lah dia mengabdikan semua hidupnya untuk kita, dia juga jadi susah beli rumah, gajinya yang seharusnya buat pensiun kita, abis buat utang-utang kita. Gak tega kan ya.

Sebaliknya juga gitu. Kita akan mengabdi pada dia selamanya. Kita berhak untuk mendapatkan pasangan yang bersih lahir batin. Soleh iya, namun kalo soleh tapi punya utang CC 20 juta dan credit score buruk? kita bisa terlantung-lantung 5 tahun gak bisa ajukan KPR.

Things you might want to check before marriage:

Debts
1.a. Pastikan kita sendiri gak punya CC debt. CC debt akan menurunkan credit score kita di BI. Ini akan bermasalah ketika pasangan akan membeli rumah. Bisa jadi pasangan kita bersih, eh credit score kita buruk. Kalo udah gini, kasian pasangan kita apalagi kalo dia udah mati-matian nabung.

1.b. Pastikan calon pasangan gak punya CC debt. Sebaliknya juga berlaku, dia harus kasian juga dong sama kita kalo kitanya yang udah hemat kiri kanan buat beli rumah, tapi KPRnya ditolak bank.

2.a. Pastikan bahwa selain CC, kita juga gak punya utang apa pun, berapa pun, dalam bentuk apa pun. Menikah adalah kegiatan di mana reputasi finansial (credit score) dan daya beli 2 individu menjadi satu. Menikah juga adalah titik di mana kita bukan lagi menjadi tertanggung namun menjadi penanggung dan penanggungan ini pertanggunjawabannya juga ditanya di akhirat nanti. So we might want to be ready and make sure there is no minus in our bank account before we start. Kita ingin memulai rumah tangga setidaknya dari titik nol, bukan dari titik minus. Jika masih minus, tidak apa-apa. That doesn’t make us a bad person. Tapi sebaiknya dibereskan dulu.

Mungkin ada beberapa lajang yang nyicil mobil. This is fine. Meski sebaiknya dilunasi dulu atau setidaknya jika belum, bisa lunas saat menikah, benar-benar didata dulu sebelum nikah. Konsekwensinya, cicilan mobil ini akan mengurangi daya cicil kita dalam mencicil rumah.

2.b. Pastikan kondisi utang pasangan juga sehat.

Dua hal di atas sangat realistis untuk dilakukan. Ini pasti bisa dilakukan semua orang.

Tanggungan
3.a. Data semua tanggungan sebelum nikah. Di sini mungkin orang mulai variatif. Mungkin ada orang yang bukan punya utang namun punya tanggungan seperti biaya kuliah adik, biaya sakit orang tua, atau kita mensupport orang tua. Ini jangan dihitung sebagai hutang namun sebagai tertanggung. Jangan juga dihitung sebagai beban. Mereka darah daging kita juga kan. Kalo gak ada mereka belum tentu kita seperti ini.
Yang jelas, tertanggung ini sebaiknya didata aja untuk memanage expectation.

Contoh kasusnya. Waktu pacaran, istri gak bilang bahwa biaya rumah sakit bapaknya 5 juta sebulan. Padahal suami sangat ingin beli rumah perdana. Setelah menikah, rencana itu terpaksa tertunda. Marahan. Dengan mendata tanggungan, pasangan bisa memanage expectation.

OK, 3 perihal pertama adalah tentang tanggungan dan yang minus-minusan ya.

Aset

4. Disarankan untuk memiliki asset, bukan liability (maaf terdengar seperti Robert Kiyosaki). Aset ini bisa semua hal definisi dari asset dari mulai jumlah tabungan yang cukup, atau saham, LM atau rumah. Kalo bisa beli rumah dari gaji single sendiri, itu fantastic. Malah sebaiknya beli rumah itu gak perlu nunggu nikah kok. Dan gak harus cowok yang beli rumah. Khusus untuk laki-laki, beli rumah sendiri berguna jadi mas kawin. Ntar kalo nikah bisa dijual, jadikan DP dan bersama salary istri beli rumah yang lebih besar. Perempuan juga begitu.

5. Disarankan untuk convert semua liability jadi asset. Ada temen yang realistis. Dia punya mobil kesayangan waktu dulu kuliah. Pas nikah, itu mobil dia jual, jadiin DP rumah dan dia+istri naek motor. Heart breaking? Yes. Tapi dia bilang that was the best decision of his life karena dia melihat harga mobilnya seidkit demi sedikit turun sedangkan harga rumah naik terus.

6. Buat cowok (dan muslim – maaf), biasakan beli emas sedikit demi sedikit dari awal kerja sampai menikah. Sunnah nabi menyatakan bahwa sebaiknya mas kawin dari pria utnuk wanita adalah sesuatu yang memiliki nilai gadai. Ini agar jika terjadi sesuatu, mas kawin itu bisa digadaikan dan membantu keuangan. Baiknya sih emas atau apa terserah (yang jelas bukan pompa aer). Yang jelas, sajadah dan seperangkat alat shalat, meski memiliki nilai agama yang tinggi, tidak memiliki nilai jual.

Let’s review how realistic the above 3 are. Semua mungkin, asal hitungannya dingin dan tidak pakai emosi. There is no such thing as mobil kesayangan. Yang ada hanya mobil. Atau mungkin dengan gaji 5-6 juta kita belum bisa cicil rumah 1.2 M. tapi gaji segitu bisa kok cicil rumah 40/90 di depok yang harganya 90-150 juta.

Lebih baik investasi kecil yang riil tapi naik ketimbang keinginan yang hanya tinggal keinginan.

Lebih baik murah dan sederhana tapi kebeli ketimbang yang jetset dan highclsss tapi gak kebeli-beli.

Meski kecil dan jauh, valuenya naik. Bisa jadi mas kawin, dan bisa jual dengan profit setelah menikah untuk beli rumah baru.

Finance

7. Ini untuk menjawab, berapa sih nilai tabungan+asset kertas yang sebaiknya seseorang miliki sebelum menikah? Di sini pasti jawabannya variatif dan secara nominal berbeda. Maka dari itu mungkin rumus ini bekerja:

Nilai tabungan+asset kertas minimum = ½ ongkos nikah + ½ DP rumah (jika belum punya rumah) + ½ ongkos melahirkan Caesar + 6 bulan biaya hidup

Semuanya ½ dengan asumsi pasangan kita akan cover setengahnya lagi. Atau dalam kasus ongkos melahirkan Caesar, dicover asuransi kantor.

DP rumah masuk rumus ini jika belum punya rumah. Memang bisa ngontrak atau bareng orang tua. Tapi alasan kenapa kita tinggal bareng orang tua atau ngontrak adalah karena kita mengumpulkan uang untuk suatu saat beli rumah sendiri kan? Jika pun bukan itu alasannya (mungkin untuk menemani orang tua), kepemilikan rumah oleh sebuah rumah tangga cukup penting sebagai tabungan asset keras. Malah jadi lebih untung akrena saat kita menemani orang tua di rumahnya, rumah itu kita kontrakkan dan autofinance dengans endirinya.

Ongkos melahirkan masuk sana just in case kita subur wakakak. Seriously, ada beberapa orang yang tokcer dan gelagepan juga. Alasan kenapa ongkos melahirkan masuk sana juga karena ini: Kalo baru nikah dan ngejar beli rumah, ngejar lunasi CC, ngejar beli motor atau mobil. Biasanya untuk melahirkan itu suka aja kelupaan.

Kayaknya 7 faktor ini juga udah cukup ya for now. Gue sengaja segeneric mungkin karena gak mau menggambarakan betapa horornya menikah itu.

Semua factor ini ada dengan asumsi kita tidak diberi bekal oleh orang tua. Memang pasti orang tua berusaha memberikan yang terbaik ya. Ada yang bayarin nikahan, ada yang beliin rumah atau mobil. Tapi ketujuh factor ini gue pikirkan dengan asumsi kita tidak mendapat pertolongan dari orang tua atau mertua. Pemberian itu gak salah malah kita harus bersyukur ada yang meringankan.

Menikah itu bukan solusi. Menikah itu pekerjaan yang hasilnya akan ditanya pertanggungjawabannya di saat kubur nanti. Makanya untuk teman-teman yang menikah ‘untuk menghindari zinah’ percayalah jangan pakai alasan itu. Ada banyak masalah yang akan datang hanya karena gak tahan syahwat. Menikah tanpa bekal akan membuat tanggungan kita sengsara dan bukti bahwa kita tidak siap. terlebih lagi bisa buat orang tua kiat sengsara. gue kenal seorang ketua remaja mesjid, menikah saat kuliah. Ketika anaknya lahir, ibu dari ketua masjid itu harusjual emasnya untuk biaya lahir cucu. Alim? iya. Siap menikah? well, gue bilang sih seharusnya nanti dulu ya. Dia kan udah jadi penanggung, kok ya masih ditanggung sang ibu? Dan saat itu terjadi, kita (terutama laki sebagai kepala keluarga) dituntut petanggungjawabannya.

Makanya, gak ada salahnya seseorang mengambil prinsip:

waktu kecil gak nyusahin orang tua, udah tua gak nyusahin anak.

Gue sendiri gak ada satu pun yang lulus ketika gue menikah huahaha. But I was lucky to go to Africa. Kalo belum nikah gue pribadi akan memertimbangkan yang di atas.

Pertanyaan kedua mungkin adalah, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjaga 7 faktor di atas? Regret there is a time frame for this.

55 adalah usia kita pensiun.

21 adalah usia anak terakhir lulus kuliah. Plus + 1 tahun in case dia gak naik kelas.

1 tahun adalah mengandung anak terakhir (kecuali hamil sebelum nikah).

Sediakan 1 tahun in case proses punya momongan gak terlalu tokcer.

55-21-1-1-1 = 31 tahun.

Time span seseorang untuk mengumpulkan 7 faktor di atas adalah dari dia mulai lulus kuliah usia 21-22 tahun, sampai umur dia 31 tahun. Sekitar 10-11 tahun. Jika ingin punya 2 anak, then time span is shorter.

Ini semua membuat kita sadar beberapa hal:
1. belum kerja? then mari cari kerja/buka usaha yang benar.
2. Udah kerja tapi gaji kecil? ini pertanda kita harus cari kerjaan lain.
3. pengen kerja tapi susah. Ini pelajaran bagi yang masih kuliah untuk belajar dengan benar. Miliki IPK yang baik agar keterima kerja yang bener atau buka usaha dengan perhitungan yang bener.

Semoga bermanfaat. I’m not an expert on this. I just intend to share.

Devisa

Devisa adalah salah satu faktor yang penting (kalo gak yang terpenting) bagi sebuah negara. Devisa yang kasus kita memakai USD, quite simply bisa dianalogikan sebagai semua tabungan yang sang ayah miliki dalam sebuah keluarga.

Ketika si anak sakit, sang ayah menjebol tabungannya untuk belanja obat. Ketika atap bocor, si ayah keluarkan tabungannya untuk benerin atap.

Ketika anaknya pengen sekolah, ayah bayar SPPnya pake devisa.

Dari mana ayah dapat devisanya? Ada banyak caranya.

Ayah 1, menanam kopi di kebunnya dan di depan rumah bikin gerai kopi. Dia jual capuccino mahal. Untung besar setelah rugi sedikit dari bikin gerai kopinya. Sekalian dia nanem sayur dan piara dan buka gerai burger. Di kebunnya juga ada kayu jati. Di garasi dia bikin mainan kayu dan dia jual mahal mainan itu. Ayah 1 ini menjual barang jadi.

Yaitu harga jual = modal + bahan mentah  + keahliannya.

Ayah 2, punya hal yang sama. Dia punya kebun kopi, sapi dan hutan kayu. Tapi dia jual panen biji kopinya. Dia jual panen sayur dan sapinya. Dia jualin kayunya. Tentunya karena semuanya bahan mentah, harga jualmya gak seberapa.

harga jual = bahan mentah.

Ayah 2 jual biji kopi 500 perak 1 kilo ke ayah 1. Di mana 1 kilo bisa bikin 100 cangkir. Ayah 2 kemudian haus dan beli kopi ke ayah 1. harga 1 cangkir 200.

kebayangkan kan betapa ayah 1 makin kaya dan betapa ayah 2 makin miskin tiap harinya?

Betapa tiap harinya, devisa ayah 2 makin menipis sedangkan devisa ayah 1 makin meningkat.

Ayah 2 adalah Indonesia dan ayah 1 adalah negara maju.

Kita sebagai rakyat Indonesia gak bisa menghalangi free trading atau gak bisa menghalangi global commerce. tapi setiap barang impor yang kita beli, sebagian dari duit itu pergi ke negara lain.

Ayah kita adalah negara kita. Dia memegang devisa dalam USD. Kita sebagai rakyat memegang IDR. Sejatinya, kita sebenernya tidak memiliki USD kita secara personal. Maksudnya gini.

kasus 1:

Elo eksport biji kopi, laku USD 1000. kemudian, lu pengen beli motor. USD 1000 lu itu ada di tangan lu, tapi sebenernya itu devisa milik negara. Ini karena setelah lu ekspor kopi, lu gak mungkin memakai USD untuk beli motor kan? makanya lu pasti tukerin USD 1000 ke negara ke rupiah, barulah beli motor.

Di kasus ini, berkat elu, devisa negara bertambah USD 1000. Sebagai tukarannya, negara memberikan elu rupiah 10 juta untuk lu pake.

Kasus 2:

gue menghabiskan 2 juta per bulan beli kopi enak asal (katakanlah perancis) bernama Bax. Enak banget. Yang gue gak sadar adalah, dari 2 juta rupiah itu, katakanlah 1 juta (USD 100) diambil oleh manajemen Bax balik ke negaranya. Apakah negara itu mengambil 1 juta rupiah? gak lah, mana laku rupiah di negara dia. Untuk mengambil 1 juta rupiah itu, Bax tukar 1 jutanya ke negara Indonesia dan dengan terpaksa negara memberikan Bax USD 100. Abis itu, Bax bawa USD 100 itu balik ke negaranya. Di negaranya, USD juga gak laku. Yang laku Euro. Makanya sesampai di Perancis, dia tukarkan USD 100 itu ke euro.

Hasil:

1. Gue bokek 2 juta.

2. Negara berkurang devidanya USD 100.

3. Perancis bertambah kaya USD 100.

4. Bax tambah kaya karena dapet Euro itu.

Dari sini keliatan ada dua bahaya:

1. Indonesia adalah pengekspor bahan mentah. yang mana harganya murah.

2. Indonesia juga mengonsumsi barang jadi yang mahal harganya.

Intinya, di kala petani kita ekspor biji kopi dan garmen, mereka dapet paling cuman USD 1 juta dan menjadi devisa negara. Tapi berapa banyak orang kota minum kopi? beli baju branded? beli sepatu import? konsumsi barang impor kita bisa menggerus devisa yang petani udah susah payah kumpulkan untuk negara.

Kalo kita pengen maju, negara harus punya uangnya/devisanya. Kita komplen pendidikan gak maju. Pemerintah akan meningkatkan pendidikan kalo ada devisa untuk bangun sekolah, lab, etc. Dari mana devisanya? harus lebih banyak orang Indonesia yang buka gerai seperti Bax itu. Di mana saking kerennya, kita yang buka cabang di negara mereka dan menyedot devisa mereka menjadi devisa negara kita.

Intinya apa coba? Kita lah yang harus mulai.

1. Beli produk lokal agar

- devisa negara tidak tergerus.

- murah

- mengurangi pengangguran.

2. Bikin usaha lokal yang menginternasional agar

- bisa ambil devisa negara lain untuk negara kita.

- jadi kaya

- juga menyerap tenaga kerja

Kalo Indonesia miskin, jangan gampang salahin pemerintah. Kita liat dulu pola konsumsi kita. gue gak bilang untuk boikot produk impor. Gue juga gak bilang kita harus pakai 100% produk lokal karena jujur aja, bikin mobil dan lainnya kita belum bisa.

Tapi yang penting ini:  gua gak berhak ngatur orang bagaimana mereka harus berkonsumsi. tapi kita semua bisa memilih 1 dari 2 hal:

1. Pola konsumsi yang menggerus devisa negara?

2. Pola konsumsi yang tidak menggerus devisa negara?

dan ingat, devisa negara lah yang membangun subway. Devisa negara lah yang membangun jembatan dan jalan.

Jadi, gue personally, gak akan maki-maki kenapa jakarta gak mampu bikin subway, kalo gue lagi kejebak macet sambil minum kopi brand import.

Antara Rumah dan Pendidikan Anak

Surprisingly, ada yang kirim email seperti di bawah ke gue. Jujur gue rada ngeri jawabnya karena gue gak kerja di perbankan dan bukan sarjana ekonomi. Ternyata dia nulis karena pernah baca postingan gue ttg finance sebelumnya. Tapi gua jawab aja. Dan gua juga minta ijin ke orangnya untuk gua share di blog.

Sebelumnya gue kasih warning dulu:
1. Perhitungan gue gak pake rumus. Tolong dihaluskan dengan rumus.
2. Yang gua anjurkan di bawah, gua sendiri belum tentu mampu lakukan karena financial planning seseorang hampir unik, gak ada yang sama – tergantung income dan spending pattern masing-masing.
3. Surat di bawah gue rewording ke bahasa gue.
4. Semoga membantu bagi yang baru nikah.

Si X menikah 2 tahun dan sekarang punya bayi perempuan 1 tahun.
Income X = 5 jt/bln
Income Istri = 7 jt/bln
Rencana ingin beli rumah di kisaran 650 juta tapi bingung membagi antara tabungan anak, tabungan pensiun dan menyicil rumah dengan income 12 jt/bulan. Dengan komposisi 40%-40%-20% (yang X pernah baca dalam salah satu postingan gue) rasanya kok gak masuk dan akan lama sekali bisa punya rumah. Saat ini masih tinggal di rumah orang tua.

Ps: gua delete bagian-bagian di mana dia muji-muji kegantenga gue….well okay he didn’t.

Question: Gimana planning dan managementnya?

Update: ada kesalahan dalam perhitungan gua dalam memakai rule of 72. revisi gua pake font biru. Gua juga udah revisi ke pengirim suratnya sebelum dia planning. semoga dia gak pingsan huehehhe..

Ini jawaban gue:
Pertama filosofinya dulu:
1. Ketika kita tidak mampu menjalankan financial planning untuk diri kita dan anak kita secara bersamaan, maka yang harus didahulukan adalah kita, lebih tepatnya, rumah kita. Bukan pendidikan anak. Tidak ada investment yang lebih penting di dunia ini dari memiliki rumah sendiri dan lunas. Segubug-gubugnya itu rumah, kita punya kebanggaan, gak repotin orang tua dan selamat dari bahaya ngontrak di mana duit ilang.

2. Kita mendahulukan beli rumah daripada pendidikan anak, karena kita sayang sama mereka. Kita ingin dikala kita pensiun nanti, kita gak numpang/minta duit ke mereka yang sedang kerja keras nabung untuk anak mereka. Kalo udah punya rumah sendiri, kalo kita gak punya income lagi, paling apes itu rumah dijual, masukin deposito, kitanya masuk panti jompo dan hidup di panti jompo dari deposito, tanpa satu sen pun nyusahin anak.

[rule of 72 deleted]

Oke, pegang 2 prinsip itu dan kita lanjut ke planning dan perhitungan.

Home Planning
Pertama adalah memanage lifestyle dan living cost kita. Asumsi paling parah-parahnya kita bisa hidup dengan 40% income = 4.8 juta. Biar bulat gua bulatkan ke 5 juta aja. Hitung dengan jernih, terima dan adaptasi. Dengan living cost 5 juta, kita punya savings total 7 juta.

Kedua, mengingat kita belum punya rumah, maka jangan split 7 juta ini ke pensiun/investment dan anak. Konsentrasikan semua tabungan 3 tahun ke depan untuk beli rumah atau DP rumah. Kenapa 3 tahun? Alasannya akan terungkap jauh di bawah.

Ketiga, beberapa hal ttg KPR yang kita harus tahu:
1. Kebanyakan bank menetapkan minimal DP 15-20%.
2. Bank membatasi cicilan sebanyak 1/3 dari income gabungan. Artinya dengan income 12 juta, maka maksimal kita bisa cicil perbulan 4 juta.
Semakin besar DPnya, semakin kecil jumlah terutang dan semakin kecil bunganya dan semakin sebentar pinjaman kita. Misalnya, kalo bisa lunas 10 tahun, kenapa ambil 15 tahun? Ini sebabnya disarankan untuk konsentrasi semua savings untuk memerbesar DP.

Keempat, hitungan:
Kita mulai tabung 2009. Maka di akhir tahun ketiga, yaitu akhir 2011, kita udah punya = 7 jt x 13 bulan x 3 = 273 juta.
Gua itung 13 bulan karena biasanya kita nerima bonus gaji ke13.

Di akhir 2011 lu akan udah punya 273 juta + bunga bank (x)

Di akhir 2011 lah kita belanja rumah. Di titik ini, ada dua pilihan.

Pilihan 1: beli rumah murah/jauh/jelek/sempit tapi lunas
Kalo bisa beli rumah dengan lunas, beli lah dengan lunas. Apalagi hari gini bunga bank tinggi selangit. Kalo beli rumah lunas, kita bisa langsung nabung buat pensiun dan pendidikan anak.

Pilihan 2: Beli rumah yang diimpikan meski mahal
Kalo mau beli rumah yang harganya 650 juta, tabungan sebesar 273 juta + bunga itu = 42% harga rumah, dan 42% itu udah menjadi level DP yang sangat-sangat bagus. Jangan miris melihat rumah-rumah strategis terjual atau habis. Karena rumah yang bagus akan sia-sia kalo kita mampus-mampusan ngelunasinnya. Mending punya rumah yang seusai budget, DPnya bisa gede dan lunasinnya gampang dan sesingkat mungkin. Mau rumah mungil dan jauh juga, kalo kondisi keuangannya lancar, hidup lancar. Beda sama rumahnya mahal, kitanya maksa dan tiap hari kita stres mikirin cicilan 30 tahun. Apalagi hari gini, bunga bank tinggi banget.

Education Planning
Nah ini rada rumit jadi tolong konsentrasi. Ada 2 faktor penting di sini. Costing dan Timing.

Education Planning – Costing
Kita costing dulu, jaman sekarang adik-adik kita masuk S1 berapa sih biayanya sampe lulus 4 tahun kuliah?
Uang masuk = 50 juta
Kos-kosan 4 tahun = 18 juta
SKS+etc = 28 juta
Total = 96 juta
tolong dicek lagi dengan benar costingnya. Kalo bisa sedetil mungkin dan segemuk mungkin.)

Jadi biaya S1 present value = PV = 96 juta.

Anggap aja kebutuhan ini baru akan terjadi 18 tahun ke depan.
Anggap inflasi 12%
Maka Future Valuenya (FV18) = 660 juta
Hampir 7 kali lipatnya, bukan 3 kali lipatnya.

Kalo mau liat FV dari uang masuknya aja, yaitu 50 juta, maka FV18nya = 343 juta.

Education Planning – Timing
Inget satu hal, waktu berjalan dan gak balik. Perhatikan bolded fonts:
Umur anak masuk = 18 tahun.
Umur anak sekarang = 1 tahun
Ingat bahwa di 2009, 2010 dan 2011, semua uang elu abisin untuk kejar DP rumah. Itu total 3 tahun lu absen dari nabung untuk anak. Ini adalah pil yang harus kita telan kalo di awal-awal planning, gaji kita gak melimpah. Gak papa, itu emang rejeki kita kali. Bahkan sebenernya gaji income juta sebulan udah harus sujud sukur kali.
Buffer = 2 tahun. Kita butuh buffer ini, in case kita meninggal sebelum anak bisa S1. Logikanya, kita ingin benar-benar siap agar jika kita meninggal, kita meninggalkan anak dengan cukup bekal untuk S1.

Jadi, time span lu = 18 – 1 – 3 – 2 = 12 tahun.

Jadi, Costing dan Timing wise,
Option 1: Kalo cover semua pendidikan, elu harus kumpulin 660 juta selama 12 tahun ke depan.
Option 2: Kalo cover uang masuknya aja, elu harus kumpulin 343 juta selama 12 tahun ke depan.

Bukan 100 juta untuk 18 tahun ke depan. Kalo punya anak dua, selamat, bikin perhitungan lagi untuk anak kedua.

Dari sini timbul pertanyaan, apakah ini artinya kita harus tabung 660 juta / 12 th = 55 juta tiap tahunnya?

Ini kabar baiknya. Nggak. Kalo gitu berapa?
Well anggep lah deposito itu 6% (ada yang lebih, ini paitnya aja).
Maka kita hitung balik dari 660 juta 12 tahun ke belakang dari sana.
Kalo mau cover full pendidikan, jatohnya sekitar 40 juta setahun. Atau 3.3 juta sebulan.
Kalo mau cover uang masuknya aja, sekitar 20 juta setahun, atau 1.7 juta sebulan.

Jadi spending patternnya bakalan seperti ini:

2009, 2010, 2011
Income = 12 jt/mo = 156 /ann (13 bulan gaji)
Living cost = -5 jt/mo = 60 jt/ann
Savings utk DP = 7 jt/mo

2012 dst
Income = 12 ht/mo
Living cost = -5 jt/mo
Cicilan rumah 1/3 income = -4 jt/mo
uang masuk S1 anak = -3.3 jt/mo atau -1.7 jt/mo
Sisa = nol atau 1.3 ht/mo

Mungkin timbul pertanyaan, wah kalo anak gua dua, kapan gua nabung buat pensiunnya dong?
Ada beberapa jawaban:
1. Pasti tiap tahun naik gaji kan? Kenaikan itu yang lu sisihkan untuk pensiun.
2. Ini dia kenapa kita mending beli rumah lunas. Kalo lunas, bisa langsung nabung pensiun kan.
3. Kalo gak bisa, maka anggaplah pembelian rumah itu sebagai tabungan pensiun lu.

Terus asuransi pendidikan gimana?
Kita bisa memecah 1.6 jt/mo ini sebagian masuk deposito dan sebagian jadi premi asuransi. Salah-salah kalo kita mati cepat, tabungannya tetap mengalir.

Gua saranin banget lu cross check dengan orang perbankan. Gua nulis ini bukan karena gua sukses menjalaninya. Sukses atau tidak kita tunggu puluhan tahun ke depan. Yang penting ikhtiarnya dan planningnya. Mungkin financial planner yang lebih qualified akan saranin untuk bisa jalanin pendidikan anak dan cicil rumah bersamaan. Kalo gua sih nggak. Yang gitu-gitu lu mesti pilah sendiri.

Salah planning gak papa. Yang berat itu kalo sampe telat planning atau di tengah jalan planningnya dirubah total ke target-target baru. Itu rada susah. Which reminds me gua harus merevise total financial planning gue. Ihiks.

Kalo ada yang mau ngetawain perhitungan ini gak papa. Buktinya perhitungan posting pertama gua aja salah. Gua juga masih taraf belajar (selalu dalam taraf belajar) dan mungkin kalian bisa share pengalaman kalian untuk satu ini? If yes, leave a comment please, thanks. Semoga membantu bagi kalian yang akan atau baru saja nikah.

Rgds.

Cosmopolitan Men edisi Desember 2008

Bukannya niat narsis, tapi mau ngasih tau aja bahwa kumpulan artikel finance gue di blog disarikan jadi sebuah artikel finance di cosmopolitan men edisi Desember 2008.

Tadinya gua usul, sekalian aja covernya gue gitu. Mereka udah iya iya aja. Tapi entah kenapa last minute diganti gitu. (halaaah).
Beli ye! hehehe. Semoga memberikan kebaikan.