Category: books

Susah Mencari Jomblo & Gege?

Apakah kalian kesulitan mencari buku ini?

Beberapa bulan terakhir gue sering dapetin email yang komplen bahwa kalian susah nyari buku ini. Setelah gue kontak penerbit, memang udah gak banyak, tapi masih ada.

Sooooo, gue memutuskan untuk menjual buku-buku gue sendiri di website ini.

Caranya:

1. Kirim email ke gue berisikan alamat pengiriman kalian dengan format di bawah:

nama

alamat

kode pos + kota

email gue: adhitya.mulya@gmail.com

2. Ntar gue cek stoknya, kalo ada gue email balik dan kirim langsung ke alamat lo.

3. Upon confirmation gue, kalian transfer uangnya + ongkos kirim

Nah terhitung 24 Oktober 2009 ini, aturan ongkos kirimnya gue rubah karena ternyata gue nombok berat.

Ongkos kirim dalam Jakarta

Beli 1 buku = Ongkir Rp 5000

Beli 2 buku = Ongkir Rp 2500

Beli > 2 buku = gratis

Ongkos kirim luar Jakarta = ntar gue kasih tau dalam emailnya

4. Harga bukunya:

Jomblo: 21000 (harga toko 24000)

GMC: 24000 (harga toko 28000)

Travelers’ Tale: 40000 (harga toko 44000)

Test Pack: 30000 (harga toko 34500) -> test pack sudah tidak dicetak lagi.

Kok Putusin Gue: 22500 (harga toko 26500)

Chocoluv: 22000 (harga toko 26000)

Kamar Cewek: 23000 (harga toko 27500)

Sekali lagi, email gue: adhitya.mulya@gmail.com

Oke deh ya. Kalo berminat, kirim email ke gue, kalo nggak juga gak papa. Thanks in advance.

Post to Twitter Tweet This Post

book launch: Test Pack

Dateng dong dateng dong dateng dong ke:
Book Launch:

TEST PACK
Sabtu 17 September 2005
@ POTLUCK Coffeebar & Library JL Teuku Umar 9 Bandung
Jam 15.00 - 18.00

Pembicara:
Fira Basuki (Penulis & Editor In Chef SPICE! Magazine)
Salman Aristo (Penulis Skenario & Jurnalis)
Adhitya Mulya (Penulis novel best seller JomBlo & Gege Mengejar Cinta)
FX Rudy Gunawan (Editor Test Pack, Penulis & Jurnalis)

MC: Vinka Rae (SKY FM)

Belum punya Test Pack?
bisa dibeli on the spot… dapet discount yang gila-gilaan lagi sekalian dapet merchandise!!!

Dateng yaaaa… ditunggu banget. Sekalian ngumpul… we’re going back to Africa on Sept 19… so, really hoping to see you there.

Post to Twitter Tweet This Post

book promo: test pack

Available at Bookstores near you!!
(well not exactly right next to you but you get the message, no?)

Setelah berbulan-bulan menampik ajakan gue untuk ini itu, akhirnya project kedua dia selesai. SOOOOOO, silahkan baca bukunya.

Menurut gue pribadi secara objektif, buku ini telah melampaui godokan yang lebih mateng dan dalam menulis, dia memang lebih tune in ke tema yang dia stick to. Orang-orang baca buku karena mereka ingin mendapatkan sesuatu dari buku itu. Buku akan ditinggal jika tidak ada nilai tambah bagi mereka. Ada yang baca untuk dapetin ilmu baru. Ada yang baca untuk nilai hiburannya dan ada yang baca untuk belajar tentang filosofi hidup. Gue bilang, ninit berhasil menyelipkan filosofi2 ttg relationship suami istri yang recommended untuk dibaca.

Di sini gue berbicara sbg seorang pembaca buku dan bukan seorang suami.
bubye!!!

Post to Twitter Tweet This Post

Sketches from a draft - Best viewed by Modzilla

Okay, so last weekend I finally had the time to write something. This is just the first draft. The kind of writing that goes first into mind so please do excuse some mistakes. I still need to do alot of revampings.
But this topic has been long overdue to make. Risetnya udah banyak dan memang passion gue sebenernya ke komedi dan sejarah. Kalo kalian baca 2 buku gue, kalian akan selalu baca ada orang-orang dari masa lalu. Raja lah ratu lah, etc.
One question for you guys…is it funny?

___________________________________________________________________
1 – Meneer Muda

Batava, Juni 1856

*DORR*
Meneer itu jatuh tersungkur di dalam rumahnya yang telah 4 jam diobrak-abrik. Burung-burung beterbangan dari pohon dalam perumahan koloni Belanda di luar area Rijswijk[1].

Keempat perompak yang mengelilingi mayat arkeolog Belanda itu masih terdiam dan saling lirik. Ada satu yang berdeham, menambah situasi semakin salah tingkah.

Gunadi, sang kepala perompak di usia 30-an mencoba konfirmasi.
”Apakah dia udah…”
”Iya.”
”Tapi kan dia belum..”
”Belum.”
”Jadi kita masih gak…”
”Nggak.”
”Dan sekarang kita harus…”
”Ya…”
Gunadi menggaruk kepala dan menatap perompak yang memegang musket itu. Perompak itu masih baru. Dalam ekivalensi dengan dunia kerja abad 21, mungkin akan berstatus trainee dengan masa percobaan 30 hari dan makan siang sendiri tanpa teman.
”Saya…” Gunadi terlihat memilih kata yang tepat sebagai penjelasan untuk anak baru ini. ”Sayah gak tau ya di kampung kamuh itu gimana. Tapi di kampung sayah..” menunjuk diri berintonasi ”Kalo kita mau nanya sama orang, biasanya dia jawab dulu, BARU kita tembak.” jelasnya, dengan nadi berdenyut di dahi.
Aceng, anggota mereka yang beretnis cina setuju. ”Kita orang juga gitu di Bangka. Sambil disiksa malah. Tapi ya gitu…jawabnya sambil jerit-jerit.”
”A…a….” begitu Rustam, sang anak baru sukses menjelaskan.

”Kalo aye boleh sumbang saran nih Bang..” Su’eb menunjuk tangan. ”..gimane kalo kite sambung lagi percakapan ini di kapal aje. Di tempat yang..gimana yah… gak bisa ditembakin Kumpeni[2] gitu Bang?”

Gunadi memandang ini sebagai ide yang cukup cerdas dan segera memimpin mereka pergi ke luar rumah. Gunadi juga segera membatalkan 7 pesanan yang seorang tukang es cendol keliling sedang racik di depan kediaman meneer itu. Rencana awal Gunadi memang meminum cendol sambil melepas lelah menyiksa orang.

Mencari yang Lain
”Sebentar, sebentar!” Gunadi yang tadinya berlari paling depan berhenti.
”Ada apa sih Gun?” tanya Aceng dan Su’eb dengan air muka tipikal ’gue-harap-ini-lebih-penting-dari- digantung-kumpeni’.
”Sekarang pikir aja,” Gunadi mulai lagi dengan penyakitnya yang terlalu banyak analisis. ”Barusan orang denger tembakan. Sekarang ada 4 orang berpakaian kumel semua lari-lari bawa senjata. Apa gak entar semua orang curiga.”
”Jadi kita orang ngapain dong?” tanya Aceng.
”Oh Pak! Pak! Saya tahu. Kita jogging aja!” ujar Rustam penuh aspirasi. Sebagai awak baru, dia selalu ingin sumbang ide untuk diterima dan diakui.
”Apaan tuh jogging?”
”Saya liat orang Inggris di Malaka sering melakukannya pagi-pagi. Seperti ini..” jelasnya berdemonstrasi.
Gunadi tidak mendapati jogging setelah membunuh orang sebagai sebuah konsep yang menjual dan mereka memutuskan untuk segera menjemput 4 awak lain di Pasar Baroe.

Tujuh Bulan Sebelumnya
Gunadi pernah membaca surat kabar Batavia bahwa seorang arkeolog Belanda bernama Olivier van Gaal berhasil menemukan sebuah medallion tua dari sebuah ekskavasi beberapa kilometer lepas kota Buitenzorg[3]. Diberitakan dalam surat kabar itu bahwa medali ini berbahasa sansekerta dan ditemukan dalam reruntuhan kerajaan yang hilang. Kerajaan dari Prabu Siliwangi.

Gunadi bukan sebuah mahluk yang terlalu intelek dan dia memang menemukan berita ini dari surat kabar yang telah menjadi kertas pisang goreng yang seorang awaknya beli ketika terakhir kali mereka ke Batavia.

Meski begitu, barang yang Van Gaal temukan memang telah dia ketahui dan cari bertahun-tahun. Dia dan 14 nenek moyangnya ke atas. Barang pusaka tersebut penting bagi dia dan nenek moyangnya karena mereka adalah keturunan dari abdi kerajaan Prabu Siliwangi.

Dan bahwa salah satu nenek moyang Gunadi, menghilangkan medali tersebut.

Dan bahwa Medali itu sebenarnya adalah kunci dari harta karun sang Prabu.

Lima Hari Sebelumnya
Gunadi berlabuh di Soenda Kelapa dan membayar 10 gulden untuk biaya labuh kepada Sjahbandar. Sang Sjahbandar, seorang turunan Pakistan-Melayu dengan warisan bulu yang tidak normal itu[4] tampak tidak percaya ketika Gunadi mengaku sebagai pengusaha batik dari Banjarmasin, dengan beberapa alasan yang cukup fundamental. Pertama, Banjarmasin tidak memproduksi kain Jawa. Kedua, sejak kapan ada orang beraksen Garut menjadi pengusaha kain Jawa? Ketiga, sebagai pengusaha batik, Gunadi dan awak tampak terlalu banyak bekas luka tembak dan bacok dan membawa golok. Setelah Sjahbandar disuap, semua pertanyaan menguap.

Gunadi segera mengalami kesulitan meng-koordinasi anak buah karena setelah berbulan-bulan merompak dan membunuh di selat Malaka, tidak ada yang mereka lebih inginkan dari makan gulali dan es lilin sambil menonton Barongsai di Glodok atau menonton Kumpeni bernyanyi aneh dalam celana ketat di Opera Huis dekat Rijswijk.

Setelah 5 hari berada di Batavia, Gunadi dan awak berhasil menemukan di mana meneer Van Gaal dan semua perilakunya. Meneer Van Gaal adalah seorang duda tua berumur 50 tahun. Seorang pemuda Belanda tampak tinggal bersama beliau. Hari ini pemuda tersebut pergi ke Pasar Baroe.

Gunadi menitah 4 orang awaknya untuk menguntit pria tersebut sementara dia dan 3 awak lain pergi ke rumah meneer.

Rencana mencari medali itu berjalan dengan baik dengan satu cacat. Sebelum van Gaal dapat memberi tahu mereka, van Gaal mati ditembak.

Oleh mereka.

Di Pasar Baroe
Keempat perompak yang lain itu adalah Daeng, Surendro, Gumelar dan Jamil. Daeng adalah seorang Bugis yang menjadi tangan kanan Gunadi. Surendro dan Gumelar adalah awak lama dari Nganjuk dan Banten. Surendro adalah bujangan sepi impian yang memiliki persepsi bahwa inti dari kehidupan manusia di dunia ini adalah fornikasi dengan lawan jenis. Gumelar, adalah seorang yang sedang belajar debus. Jamil adalah orang Riau yang baru mereka rekrut 1 bulan yang lalu bersama dengan Rustam dari Tumasik[5].

Pria Belanda itu memanggil dokar, sebuah kendaraan cukup mahal. Daeng dan awak segera memanggil riksaw. Abang riksaw menolak dengan alasan curiga karena penampilan mereka tidak cukup kredibel untuk membayar dan juga bahwa mereka berempat.
”Coba ya! EMPAT! Mau mati apa gue?” namun pada akhirnya dia mau.

Sesampainya di Pasar Baroe, sang abang riksaw pingsan dengan sukses. Daeng menjelaskan pada ketiga temannya bahwa di kampung asalnya, tidak baik membangunkan orang pingsan. Untuk itu mereka tidak berani membayar dan meninggalkan sang abang di pinggir jalan.

Pasar Baroe dengan hustle and bustlenya adalah salah satu dari banyak pasar yang menjadi pusat ekonomi Batavia. Konsumsi rumah tangga Batavia disokong oleh keberadaan Pasar Baroe, Pasar Ikan di Sunda Kelapa, Pasar Senen dan yang paling baru, pasar Tanah Abang[6].

Mereka menguntit sang belanda muda dan mengintip aktivitasnya secara tidak perlu karena pasar memang sibuk.
”Waduh! dia beli ayam!” ujar Surendro.
”Bukankah itu wajar?” tanya Daeng.
”Ndak jika sampeyan Londo…”
Jamil turut masuk dalam percakapan minim kecerdasan ini. ”Gitu ya Mas…emangnya orang Belanda…makannya apa Mas?”
Gumelar tidak berkata apa-apa namun dia mulai teriritasi dengan Jamil yang selalu bertanya orang apa makan apa.

Pria Belanda itu kemudian membeli daging kambing setengah ekor, rempah-rempah dan 5 ekor ayam hidup yang disambung teori konspirasi aliran sesat oleh para awak. Jamil juga bertanya orang dalam sekte aliran sesat makan apa.

Setelah menemukan bahwa ini semua membosankan, ketiganya memutuskan untuk berjalan-jalan di Pasar Baroe dan hanya Surendro yang menguntit. Daeng dan Gumelar berjalan-jalan mencari kain kashmir India namun gagal bernegosiasi dengan saudagar India dengan kondisi bulu yang mengerikan. Jamil bertanya orang India makan apa dan keduanya memutuskan untuk tidak menjawab.

Setelah itu mereka membeli bak pao, ketoprak dan dengan sabar mengantri untuk foto. Sebuah teknologi baru yang mampu mengambil gambar dari objek nyata, seharga 12 gulden. Gumelar bertanya kepada pemilik toko apakah dia bisa difoto dengan seorang wanita belanda dengan pakaian dalam namun sang pemilik toko mengatakan bahwa dia hanya memiliki pembantu dari Wonosobo.

Gunadi, Su’eb, Aceng dan Rustam menyewa riksaw dari Rijswijk sampai Pasar Baroe dan sesampainya di sana abang cina penarik riksaw itu pingsan di samping abang cina yang lain.
”Aneh ya, banyak orang pingsan hari ini?” tanya Aceng, retoris.
Gunadi menyematkan 1 gulden di kantong abang pingsan itu. Gunadi memiliki prinsip yang kontradiktif di mana bekerja merampok orang bukan berarti gak perlu bayar karena dia merampok untuk bisa bayar-bayar[7].

Kelompok Gunadi dan Daeng bertemu di tengah pasar.
”Gimana?” tanya Daeng.
”Meneer itu meninggal terbunuh.”
”Bagus lah. Sama siapa?”
”Kita.”
”Oh, tapi yang penting medalinya dapat kan?”
”Itu lah. Dia ditembak si kutil inih sebelum kita bisa buat dia ngaku.”
Semua melihat Rustam dengan tidak bersahabat.
”Di kampung saya ya…” tegas Daeng.
”Ya ya, di kampung sayah juga gituh.”
”A…a…”
”Sudahlah.”
”Rumahnya tapi udah dicari Gun?” tanya Daeng.
”Udah atuh. Sayah cari sampe jongkok. Gimana si kumpeni yang muda ituh? Ngapain ajah dia? Dan siapa dia?”
Jamil turut dalam percakapan ini ”Mungkin meneer tua itu menyenangi percintaan sesama jenis. Meneer muda ini hidup dibawah kuasa sang meneer tua untuk memuaskan nafsu liarnya dan tiap hari harus ke pasar membeli ramuan aneh yang membuat mereka bercinta sapanjang malam, Pak.”
”…”
”…”
”…”
”Atau mungkin mereka sodaraan.” tukas Gunadi.
”Ya itu juga mungkin.”
Menit-menit berikutnya mereka menyusun rencana dengan semua sedikit menjauh dari Jamil. Gunadi berkesimpulan bahwa mereka harus menculik pria muda ini karena dia mungkin satu-satunya yang tahu di mana medali ini disimpan. Masalahnya, apakah mereka mampu mengeksekusi sebuah rencana penculikan di tempat umum dalam kota berpopulasi 500 ribu orang, di siang hari bolong, 3 kilometer dari kapal dan dalam kota dengan 3 benteng penuh bedil kumpeni.

Menculik Sang Meneer
Sebuah rencana tersusun.
“Nah, jadi gini.” Gunadi menuturkan analisis tingkat tinggi dengan intelejensia tingkat rendah. “Orang dengan belanjaan sebanyak itu hanya mungkin kembali pulang dengan minimal dokar, atau riksaw dengan abang yang sebesar badak. Mengingat tidak ada orang sebesar itu, dia pasti make dokar!”
“…”
“…”
“Terus?”
“Ya sekarang ke pojok dokar!”
Mereka berdelapan segera menuju pojok dokar di luar pasar. Gumelar langsung merebut dokar
”PAK! KAMI PERLU DOKAR INI!”
”Muke lu jidat!”
-PLAK!-
Mereka berdelapan meminta maaf dan memutuskan menunggu si belanda di pinggir jalan.
”Serasa gak punya harga diri ih!” gerutu Aceng yang menunggu di bawah pohon jambu.

Tak lama kemudian, meneer muda itu benar naik dokar.
”Nah ini rencananya.” sigap Gunadi, lagi. ”Kamuh Ndro, kamu cegah dokar itu di tengah jalan. Dokar akan brenti dan kita bertujuh akan naik dokar, menyerang si londo, menendang abang dokar keluar dan setelah membayarnya 2 gulden, kita larikan dokar itu secepatnya ke pelabuhan.” susunnya, dengan detil. Mereka mengangguk. Semua siap aksi.

Dokar lewat dan Surendro dengan sigap melompat ke tengah jalan
”BERHENTI!!”
Dengan suksesnya, Surendro ditendang kuda dan sang dokar tetap berlalu.

”Kamuh gak papa Sur?”
”Ohhh..”
”KEJARRR!”
Mereka berdelapan mengejar sang dokar dan mereka berhasil hinggap ke dalamnya. SUKSES! Pikir Gunadi, meski mereka harus hinggap dengan beberapa posisi yang tabu secara seksual di beberapa negara. Hanya Jamil yang tampak menikmati. Sekarang tinggal melarikan dokar ini ke pelabuhan.

Dan dokar berhenti.

Terlalu berat.

Ada satu detik yang canggung ketika mereka menatap abang dokar yang ternyata menyemat golok sebesar lonceng dan kumis sebesar golok.

Needless to say, mereka ciut.
”Permisi Bang, aye mo nyulik anak orang.”
”GRRR..”
”Aye bayar ya bang. 4 gulden. Ampe pelabuhan ya Bang” pinta Gunadi dengan sopan.

Setelah dokar berjalan, barulah sang meneer muda panik. Dia tadi berharap dari kebaikan hati abang dokar untuk menendang 8 orang ini keluar namun itu tidak terjadi.
”KOWE! SIAPA KOWE! LEPASKAN IK! LEPASKAN!” teriaknya ketika mereka berdelapan berusaha mengikat sang belanda. Penculikan pun menjadi aneh karena menjadi tontonan orang banyak dan berjalan lambat. Akhirnya 5 orang turun dari dokar untuk menyerang dokar lain. Rencana dirubah menjadi menyewanya setelah abang dokar yang baru ini juga berkumis golok.

”Kita ini perompak. Perompak! Harusnya orang yang takut sama kita!” gerutu Gumelar pada 4 orang lain di dokar kedua. Mereka melihat Gunadi dengan susah payah mengikat dan mengarungkan kepala pria muda itu.

Kedua dokar berjalan secepatnya menyusuri jalan yang sejajar dengan sungai Ciliwung dengan melewati beberapa pos jaga kumpeni.

”KOWE! STOP KOWE!” seru beberapa kumpeni. Mereka menembaki kedua dokar itu yang dibalas Gunadi dengan melempar daun sawi, daun bawang dan ayam hidup, sebelum dia teringat bahwa dari tadi dia memang membawa senjata.

Kedua dokar itu dengan cepat memasuki daerah Pasar Ikan, melewati menara Sjahbandar dan tidak masuk kapal. Mereka berhenti di sebuah gudang pala dekat menara dan berjongkok di antara karung.

Susana pasar ikan menjadi ramai dengan datangnya kumpeni. Mereka duduk terdiam di gudang itu. Sampai para kumpeni lewat.

Setelah situasi aman, mereka berjalan menuju pier dari phinisi mereka dan segera siapkan layar. Mereka sedang memundurkan kapal ketika Gunadi akhirnya membuka karung dari kepala sang belanda muda itu.
”Di mana Ik?”
”Di kapal.”
”Kapal apa?”
”Nama kamuh siapa?”
”Douwes-Dekker. Eduard Douwes-Dekker.”
___________________________________________________________________

[1] Berdasarkan riset yang sama sekali tidak dapat diandalkan, kalo gak salah, Rijswijk itu di daerah jalan medan merdeka utara sekarang.
[2] Orang pribumi sering menyamaratakan orang asing dengan sebutan kumpeni. Kata “Kumpeni” yang mereka kenal erat bermula dari 20 Maret 1602 ketika V.O.C pertama kali dibentuk. Orang Belanda di saat itu jarang memperkenalkan diri sebagai orang Belanda. Mereka memperkenalkan diri sebagai sebuah perusahaan bernama Verenidge Oost-Indische Compagnie (VOC). Compagnie -> Kumpeni.
Yang banyak anak muda sekarang tidak tahu adalah bahwa dari 1600 sampai 1800 kita tidak dijajah oleh sebuah pemerintah negara*. Kita dijajah oleh sebuah perusahaan. Dari 1800, VOC bangkrut oleh korupsi dan kerajaan Belanda memutuskan mengambil alih otoritas di Indonesia.
Karakteristik kolonialisasi oleh sebuah pemerintah adalah bahwa pemerintah kolonial cenderung memiliki keinginan untuk membuat koloninya maju (Inggris terhadap India, Singapur dan Malaysia). Sekolah, gereja, dan lainnya.
Kolonialisasi oleh sebuah perusahaan (VOC terhadap Indonesia) cenderung hanya sebatas mengambil keuntungan. Itu salah satu sebab mengapa Indnesia kalah maju dari bekas jajahan lain.
[3] Buitenzorg (Belanda) = Bogor (Indonesia). Didirikan oleh Governor Generaal Van Imhoff di 17 Februari 1745.
[4] Now that’s a lot of unnecessary description right there.
[5] Tumasik = Singapur. Berdasarkan, again, riset yang sangat asal (the kind of research you do on the net, flipping history pages with free porn) Singapore didirikan Sir Thomas Raffles di 19 Januari 1819.
[6] Kota Batavia sejak abad 16 berkembang dari Utara ke Selatan. Itu sebabnya semakin ke selatan, umur bangunan dan tempat semakin muda dan bangunan-bangunan tua paling selatan di Jakarta hanya terlihat di Menteng. Itu karena Batas Kota Batavia waktu itu memang hanya sampai Menteng yang merupakan daerah perumahan mewah, bahkan sampai sekarang.
[7] Loh?

Post to Twitter Tweet This Post

New Book - Quarter Life Fear

Sketches:

Bagi Belinda, ulang tahun itu mengerikan. Apalagi ulang tahunnya yang ke-25. Di saat orang lain merasa sukses dengan pekerjaan yang menjanjikan, memiliki pasangan, punya tujuan hidup yang jelas, Belinda malah merasa tidak punya apa-apa. Singkatnya, a loser. Tapi saat Jay, mantan kekasihnya, kembali dalam kehidupan Belinda, Belinda belajar bahwa ia harus berani menghadapi dunia-termasuk semua ketakutannya.

Hwiyaaaa….Donna menulis buku!!!! Nama pengarang dari novel ini adalah Pimadonna Angela, istri dari Isman Suryaman, pengarang buku self-help (is it what they call it man?) ‘Bertanya Atau Mati!’. Dua-duanya temen baik kita (gue dan Ninit). And this woman is to be taken very, very seriously. Tulisannya tajam. Artikelnya udah lumayan banyak. Blognya udah lama. This is not the kind of book that came out of nowhere.

Anyhoo, you guys must read the book (and by that, I mean buying it first, ya?). Buku Dona masuk label ‘Metro Pop’-nya GPU yang kalo gue liat, berniat dan berhasil menjadi saingan solid dari label ‘Pop Culture’-nya Gagas Media. But let our publishers worry about that karena for my part, I’m thrilled we have more and more excellent writers. Regenerasi sastrawan dalam dunia sastra udah jalan lagi. Which is good.

So here’s to Dona… CONGRATS! Ngiring Bingah pisan!

Visit her own blog at: http://vervain.blogspot.com
Bagi yang ingin jpg dan kutipan bab satunya, email gue!

Blurbs:

“Tanyakanlah pada seorang juru dongeng tentang kecantikan. Maka akan berceritalah ia tentang rambut terurai panjang, badan tinggi semampai, kulit langsat dan tentu saja wajah yang cantik. Lalu coba tanyakan padanya tentang “ketidak-cantikan”. Si juru dongeng akan terdiam, sebab sesuatu yang tidak cantik rupanya tak memberinya inspirasi bagi lahirnya sebuah dongeng. Namun juru dongeng ini pastilah bukan Primadonna Angela. Sebab penulis satu ini justru berangkat dari isyu ketidak-cantikan, yang terbukti bisa melahirkan novel “Quarter Life Fear”. Bukan dongeng yang ber-setting istana megah, memang, melainkan “istana kecil” yang ada di keseharian seorang Belinda. Keseharian kita juga, tentunya.”
Jujur Prananto, scriptwriter, Jakarta, Indonesia

“Buy her book, she’s really cute.”
Michael Petrosino, musician/self-proclaimed sex idol, Brooklyn, NY, USA

“Addictively enchanting. I want her mom!”
Alexander Christian, Not-your-average-chicklit reader, Bogor-Jakarta, Indonesia

“.quite interesting! Terutama karakter mama yang sangat dramatis dan kemungkinan besar adalah personifikasi diri mbak Donna di masa yang akan datang (hahaha).”
Lucky Palupi, Researcher, Jakarta, Indonesia

“Ringan dan gampang dicerna, seperti baca komik bergambar. Penyampaian cerita sangat lucu lengkap dengan pernak pernik pendukung, apalagi soal makanan, buat jadi lapar. Btw, nampannya pasti besar banget.”
Nengti Arda Rasjid-Borkhataria, Homemaker and Mom-to-be, Den Haag, Holland

“Beautiful. Didukung dengan plot twist yang memukau, QLF menjadi bacaan yang ringan tetapi penuh dengan permainan ‘perasaan’. QLF ini sangat menghibur dan mampu menjejali pembacanya dengan ide-ide brilian yang dapat diterapkan -instant- dalam kehidupan sehari-hari.”
Andi ‘Julian’ Saptono, , Internet Usability Expert (Pakar Kebergunaan Internet), Pittsburgh, USA

“Baca karya Donna seperti pijat refleksi. Biar alis berkerut dan bibir monyong saat bagian yang memijat emosi, gak mau berhenti. Setelah buku ditutup dan ditaruh pun, perasaan ringannya terus terbawa. Jarang-jarang saya baca novel pop yang memiliki struktur tiga babak dan timing komedi yang pas. Kalau dijadikan film, siapapun yang jadi penulis skrip bisa leha-leha.”
isman hidayat suryaman, penulis buku humor “Bertanya atau Mati!”

“Here we are following the journey of Belinda, entertained by addictive, funny and witty writing that captures the reality of many women during their soul searching days…Lucky Belinda, she found the Power within herself…There is something to say about a book that makes you read during work hours…;)”
Alissa Jean Tuschall, Human Resources, Palo Alto, California, USA

“Refreshingly witty and so easy to read .”
Jessy Dewi Sweeney, Homemaker, Port Coquitlam, British Columbia, Canada

“Sungguh menarik untuk dibaca oleh seorang wanita yang berusia jauh di atas usia Belinda. Cerita ini membawa kita pada kenangan jaman muda, dimana pikiran Belinda yang nakal dan spontan seakan menterjemahkan pikiran kita. Hal yang patut dicatat adalah dibalik ketidaksetujuannya kepada perlakuan ibunya, hubungan antara Belinda dan ibunya sangat menggambarkan kasih sayang yang mendalam di antara keduanya. Membangkitkan keingin tahuan kita untuk cepat-cepat mengetahui akhir ceritanya, sehingga tidak ingin berhenti sebelum cerita berakhir. Sukses untuk penulis berbakat ini.”
Etty Sambodo, Ibu dari 3 remaja & guru Bahasa Inggris dan Komputer, Depok-Jakarta, Indonesia

“Saya ikut menangis, tertawa, gundah dan kuat bersama Belinda. Penulis benar-benar membawa saya ke dalam kamar Belinda, ke dunianya dan bertemu semua tokoh dalam buku ini. Ending-nya mengejutkan.Sebagai seorang ibu, saya ingin bisa seperti mamanya Belinda. Si kembar adik perempuan saya yang baru mulai kuliah harus membaca buku ini.”
Yureana Wijayanti, Dosen, Yogyakarta, Indonesia

Rgds

Ada yang nyusul?

Post to Twitter Tweet This Post

Book Promo

SAMSARA - Putu Fajar Arcana

Bagi mereka yang suka yang berat-berat. Putu menghadirkan kumpulan cerpen yang isinya ternyata…..sebuah kumpulan cerpen!! heheheh, gak ngasih nilai tambah banget ya gue? Ah bodo.

Rgds.

Post to Twitter Tweet This Post

Congrats

Ucapan Selamat

Wah, bulan April ini memang penuh berkah bagi banyak orang ya. Orang-orang yang gue tau di dunia media di Indonesia lagi pada seneng semua. Happy for you guys.

1. Untuk Ninit
Selamat ya untuk KPG cetakan 7-nya. Never have I met someone who makes me proud on daily basis.

2. Untuk Miranda
Sihir Cinta akan dijadikan film. Keren banget. Estimated time of releasenya masih lama sih, tapi ikutan seneng aja gue.

3. Untuk Enda + Nita
Selamat atas kelahiran Gala Andara Nasution-nya. Alhamdulillah ibu dan anak keduanya sehat dan selamat. Ikut seneng ya Nda.

4. Untuk Joko Anwar
Well, he never read this blog but I’m a fan of his work anyway. Have been hearing nothing but rave reviews on Janji Joni. Congrats Jok!

5. Untuk Raditya
Selamat atas buku ‘Kambing Jantan’- nya.

6. Untuk Nisha Rachmanti

Selamat atas release buku chicklit keduanya ‘Beauty Case’. Semoga kembali menjadi best-seller.
7. Untuk Stereofoam
Yang baru aja rilis EP ke empatnya yg berjudul “Good Friend EP”. Baru minggu lalu mereka terpilih jadi The Rocketeer For The Week di Hardrock FM.
EPnya bisa ditemukan di distro2 ternama Jakarta dan Bandung, dan soon.. Surabaya juga.
Orang-orang Indonesia udah mulai kreatif semua. Berprestasi pula. Alhamdulillah kita udah mulai jadi tuan di rumah sendiri.

Rgds.

Post to Twitter Tweet This Post

Book Promo

Si Kambing Menulis Buku

Dari Buku ke Blog

Semua pasti tau ya Raditya Dika (www.kambingjantan.com). Safe to say adalah salah satu celeblog indo. Well, sekarang giliran dia nerbitin buku. Bukan fiksi, tapi non-fiksi. Buku ini adalah asli plek-plekan dari blognya yang mana bagi gue merupakan prestasi sendiri.

Soalnya gue liat gini. Kebanyakan blog itu bersifat personal. Meski bisa dan layak dikonsumsi publik, tetap sifatnya personal. Itu yang membuat blog sulit berubah menjadi buku. Karena nilai ‘personal’ yang tinggi, menghambat nilai ‘komersialitas’-nya. Setidaknya ini pandangan gue yang nulis blog dulu dan baru nulis buku. Kenapa nilai personal dan nilai komersialitas berlawanan? Gue berpegang ini, dengan berangkat dari pengalaman pribadi.

Salah satu penerbit yang pernah nolak Jomblo bilang ke gue gini:
‘Apa yang ngebuat kamu ngerasa bahwa kisah hidup kamu layak baca dan layak beli dan lebih seru dari orang lain? Orang lain aja bisa kok ngomong ‘ah kisah hidup gue lebih lucu kok dari apa yang ditulis.’

Nyebelin as it may sound, gue setuju banget dan terima kasih banget ke dia. Atas dasar itu gue nulis fiksi. 2 tahun kemudian ada seseorang yang minta kritik ke gue atas draftnya, dia bilang atas pengalaman pribadi. Setelah gue baca gue kembali ke dia dengan 1 kalimat.

‘Don’t be honest. Be creative.’
Tapi memang gak semua blog terlalu personal. Ada yang memang sengaja dari awal tidak cerita didi tapi cerita apaaaaa. Isman contohnya, gak pernah cerita diri dia di blognya tapi selalu come up with funny things which is great. On the other extremme, ada juga yang cerita makan apa tadi siang, which is okay too, karena isi blog memang urusan masing-masing yang kita harus hargai dan respek dan gak usah deh kita komentarin baik-buruknya. Keep it to ourselves.

Atas dasar itulah gue bilang bahwa ini adalah prestasi tersendiri. Radit terlihat mau dan bisa menjual isi blognya mentah-mentah. Yang mana nunjukkin memang kehidupannya udah lucu dari awal. Tambahan lagi anak ini memang pinter.

So, congrats buat Radit. Setelah, gue, Isman, Ninit dan Vierna…makin banyak aja blogger yang masuk serius ke dunia tulis menulis secara komersil. Congrat dan semoga (banyak dari blogger) yang lain nyusul.

Oh ya, bagi yang gak tau seberapa santernya Radit dalam dunia blog indonesia, dia itu pemenang ‘Funniest Indonesian Blog 2003′, salip2an sama ‘Doddy Nasi Goreng Kambing’ (ada apa sih dengan blog lucu dan kambing, nih?)
Februari Roy Suryo pernah bilang bahwa Blog itu hanya trend, which created a massive response dari bapak blog indonesia kita bahwa Roy salah. Blog is here to stay. Gue sependapat. Blog adalah alat bagi mereka yang ingin menulis buku, untuk menajamkan teknik menulisnya. Kebukti udah mulai banyak yang akhirnya menggigihkan diri menulis buku (I know some more people, but it’s a secret). Tapi again, semua orang kan bikin blog dengan maksud yang beda-beda, so terserah kalian.
Komentar Artis

“Raditya Dika has taken you to his little journey of stupidity… Ridiculous, but unexpectexdly smart in a very hilarious way… He defines a new term of being funny… Kambingjantan is simply a unique refreshing read.”
(Ririn, pemain sinetron AADC)

“Buku ini, biarpun judulnya seperti buku tentang ternak, namun isinya justru memberikan saya lebih banyak pandangan tentang dunia anak muda Indonesia saat ini. Langsung, dari mata Raditya Dika yang diceritakan dengan sangat kocak!”
(Sophie Navita, artis)

“Seger! Membaca buku Kambingjantan ini seperti minum larutan penyegar, mandi di pancuran, terus nyebur di kolam ikan sambil minum jus jeruk.. Pokoknya seger!”
(Ricky Jo, penyanyi)

“Kambingjantan! Sebuah cerita tentang kepolosan Raditya Dika, yang justru mendatangkan ‘malapetaka’ bagi dirinya sendiri, yang malah menghibur diri kita dengan membaca bagaimana si Radith menghadapi ‘malapetaka’ itu dengan cara yang mengocok perut.”
(Iang Project P, artis)

“Beberapa kisah di buku ini, memperlihatkan kehidupan pelajar Indonesia yang kuliah di Australia. Lumayan, membuat kita-kita yang berencana kuliah ke sana jadi semakin tertarik… ditambah ketawa pula!”
(Denny Cagur, komedian)

“Buku non-fiksi paling gokil yang pernah gue baca.”
(Wendi Cagur, komedian)

“Gantinya minuman dingin. Benar-benar menyegarkan!”
(Denny Project P, komedian)

“Gila! Gimana Raditya Dika ngasi liat pandangannya tentang dunia anak muda yang dijalaninya bener-bener ngebuat gue ketawa. Jangan tertipu dengan judulnya, ini bukan buku tentang kambing lho! “
(Narji Cagur, komedian)

“Kenaifan Raditya Dika dalam menghadapi berbagai macam ‘kesialan’ justru mendatangkan tawa sendiri bagi yang membaca. Mungkin, bisa dibilang dia beruntung dalam menghadapi ‘kesialan’.”
(Olivia Zalianty, bintang sinetron)

“Sebuah catatan harian yang begitu jujur. Boyish, nakal, dan menarik. Saya selalu tidak sabar membuka halaman selanjutnya; apa lagi yang akan si kambing ini lakukan?”
(Andien, penyanyi)

“Kocak, menghibur, bikin sirik (jd pengen kuliah di luar negeri) Wah, salut deh pokoknya buat Dika. Bisa menjadikan sesuatu (catatan harian loe yg dodol itu) lebih bermanfaat dan yg penting, bisa menghasilkan uang! Hehe..yang paling penting siy sebetulnya tulis-menulisnya itu. Jarang-jarang gue menemukan cowok yang rajin melapor kegiatannya sehari-hari pada sebuah tulisan. Teruslah berkarya! Buatlah orang-orang yang pergi ke toko buku, suatu saat nanti meneriakan : “Tiada kesan tanpa kehadiran (buku)mu…”
(Intan Nuraini, bintang sinetron)

Tentang Kambingjantan

Kambingjantan adalah kumpulan cerita-cerita sehari-hari yang konyol dan unik dari kehidupan Raditya Dika (Radith), mahasiswa hasil peranakan orang batak dengan mesin jahit. Format yang ditampilkan adalah dengan format diary, karena buku ini adalah kumpulan dari diary dia yang diterbitkan di internet (blog). Semua kisah didalamnya merupakan kisah nyata dari tahun 2002 – 2004.

Kambingjantan adalah cerita tentang sebuah proses seorang remaja, dari dia kelas 3 SMU, pergi ke luar negeri, kuliah, hingga magang. Semua proses dan hubungannya dengan keluarga, teman, dan pacar diceritakan dengan lugas dan lucu. Hal-hal yang sangat berhubungan dengan remaja jaman sekarang, seperti sering bingung, tidak percaya diri, serta polos yang berbuntut pada kisah yang lucu juga didapatkan pada buku ini.

Cerita-cerita didalamnya menjadi lebih baik untuk dibaca karena semuanya adalah kisah nyata dari seorang remaja Indonesia biasa.

Post to Twitter Tweet This Post

Book Promo

An Impressive Piece of Work

“Siap-siap untuk tersihir dengan pesona cerita cinta Miranda ini. Menurut penglihatan
bola kristal saya, cerita ini punya daya tarik yang tinggi.
Lancar, imajinatif dan renyah. Saya ramalkan Miranda memiliki masa depan
penulisan yang cerah dan orang-orang akan ‘jatuh cinta’ padanya.”
FIRA BASUKI

“Mia tidak menjual mimpi. Alur dia tulis dengan ringan membawa pembaca dari halaman ke halaman dengan kilatan ramalan sang tokoh utama. Mia juga berhasil meng-capture dengan akurat gaya hidup mahasiswa kota Jogjakarta dari sisi yang tidak glamor.”
ADHITYA MULYA

please visit Miranda’s blog for more

How Good Is It?
An excellent job, well done. I can safely say bahwa Miranda adalah salah satu penulis fiksi terbaik today and I can also say this book will be Indonesian blockbuster 2005 (tapi masih tergantung marketingnya sih). Isi cerita memang terbatas dalam segi cinta namun teknik penyampaian dan bakat menulis Miranda membuat karya bertopik cinta ini, menjadi maksimal. Gue suka cara dia memilah plot dan mereveal dengan timing yang tepat.

Ini adalah karya tulis kedua Miranda, namun karya pertama sebagai novel. Buku pertamanya adlah adapatasi dari sebuah sinetron kalo gak salah.

Gue sangat rekomen pada mereka yang sedang mencoba menulis, untuk membuat buku ini menjadi panutan. Gue cuman berharap agar revisi2 minor yang gue rekomen ke dia dieksekusi sebelum naik cetak kemarin. Tapi kalo nggak pun gak papa.

How good is she?
Reputasinya gak diragukan lagi.
1. Dia adalah editor dari buku ‘kok Putusin Gue?’-nya Ninit. Miranda dan Ninit tidak pernah bertemu namun semua eksekusi editorial terjalankan dengan rapi.

2. Dia mendapat dukungan dan rekomendasi dari Ayu Utami ke Gagas media. Menurut editor gue, Ayu Utami itu jarang banget rekomendasiin orang, so when she did, she really meant it.

3. Setelah itu Miranda datang ke gue dan Mbak Fira untuk minta paperback comment dan apa yang Ayu Utami pernah bilang, bener-bener gak salah. We were both separately impressed. Gue dan Mbak Fira gak pernah ngomongan ttg Miranda tapi ternyata reaksi Mbak Fira tercermin banget dari komentarnya. kalian bisa lihat seorang penulis sekaliber Fira bisa sampe ngomong kek gitu dan gue sendiri sampe nulis blog promo ini.

4. As for myself, gue gak akan komen ttg ceritanya krn mutu cerita subjektif ya di mata orang2. Namun gue bisa bilang, cara dia nulis, enak dibaca.

Yang terakhir….covernya nendang. A gypsy casting a love spell. That’s brilliant and very relevant to the book. Siapa sih yang bikin?

Prediksi gue:
1. tanpa marketing yang baik, buku ini masih akan menjual di Area jawa karena setting tempat ada di Jogjakarta.
2. Dengan marketing yang baik, buku ini bisa juga menjual di Jakarta. Gue harap Miranda punya strategi yang baik.

Congrats Miranda, atas karya kedua ini.

Rgds.

Post to Twitter Tweet This Post

trailer kok putusin gue

Another Trailer…. from ‘KOK PUTUSIN GUE?’

”Uh hari gini baru nonton Troy,” keluh Maya dalam hati. Demi menjalankan misi balas dendam, ia rela menonton Troy untuk yang kelima kali-nya. Setelah Hari dan Si Nenek Sihir hilang dari pandangan, Maya bergegas menuju loket 2.

”Siang Mbak, saya minta satu tiket dan duduk nggak jauh dari orang yang baru pergi tadi,” ujarnya sambil mengeluarkan dompet.

”Ada alasan yang spesifik kenapa Mbak ingin duduk dekat orang yang banyak bulunya?” tanya si Mbak Loket heran.

”Oh… bukan yang itu… “

available at bookstores now…

UPDATE - 14 FEB 2005 - PROMO CERPEN

Kemaren diajak majalah KawanKu untuk bikin sebuah cerpen. Ceritanya cerpen ini akan dimuat dalam sebuah booklet dalam majalah KawanKu edisi Valentine. Booklet itu isinya 3 cerpen. Monti Tiwa, Nisha Rahmanti dan gue.

Udah pada beli belum? Kalo belum, ini trailernya. Beli ya guys!! Ini salah satu karya gue yang bahkan gue sendiri bisa bilang, lucu.

start trailer - Judul - DIMSUM

Dimsum

Hai. Nama gue Ule dan gue adalah pacar paling sial di dunia. Pacar gue yang bernama Guti…uhmm, let me re-phrase that. Pacar gue, yang bernama Guti, tergila-gila dengan seorang bintang film Indonesia bernama Dimas Sumitro. Seorang bintang muda Indonesia yang gemilang. Akting dalam semua film layar lebarnya memang sih gue akui, jago. I tell you, gak ada yang lebih bikin minder dari pada seorang pacar yang tergila-gila sama orang yang lebih terkenal, 160 kali lebih kaya dan kurang lebih, 2 juta kali lebih ganteng di umur yang sama dengan gue.

….

Anyway, where was I? oh yes, on the way to to my TU. Sampai di sana gue meminta agar gue dapat berbicara langsung dengan pegawai TU, maksud gue agar lebih sopan. Pegawai TU di seberang bernama Mbak Pipit, seorang wanita yang telah lewat masa mbak-mbaknya namun masih berstatus ‘mbak’.
“Siang Mbak Pipit. Nama saya Ule. Rulli Prasetya. Boleh saya tahu nomor telfon Dimas Sumitro?”
“Ada alasan khusus kenapa mas ingin tau nomor telfon mas-mas lain?”
“Oh sori. Jadi gini Mbak. Saya ingin mengatur sebuah kencan di hari valentine dengan Dimas Sumitro.”
“Uhmmm setahu saya dia bukan gay loh mas, maaf loh…”
“Oh bukan Mbak. Bukan dengan saya. Dengan pacar saya.”
“SAKIT!”

-Klik-

“Loh? Loh? LOHH!!” Akhirnya gue coba telfon lagi dan berusaha menjelaskan kepada Mbak Pipit sebaik mungkin. Mbak Pipit akhirnya kembali tenang.
“Tapi saya gak tau mas nomor HP-nya, Kalo pun tau, ngapain saya ngasih tau Mas?”
“Hhh…..Tapi dia ada di sana? Kuliah gak?”
“Kuliah Mas. Saya yakin. Soalnya tadi dia baru saja masuk ke dalam kantor ini dengan rambut coklatnya. Dia menatap saya dengan tatapan dingin gagah yang memperlihatkan bahu bidang dibalut kemeja John Curtis biru. Tato di lengan kokohnya terlihat ketika dia menyerahkan buku absen dosen sambil berkata penuh chemistry pada saya ‘Ini mbak….’ Hhh hhh hhh..”
“SAKIT!”

-Klik-

Post to Twitter Tweet This Post