Pra-Kelahiran

Menjelang kelahiran Arza, gue dan Ninit menghabiskan banyak waktu mikirin gimana memanage Alde. Maksudnya, gimana caranya agar Alde gak cemburu pada adeknya. karena yang pasti Arza akan mendapat 100% perhatian ibu dan kita ingin Alde menjadi kakak yang baik dan tidak cemburu. After all, kita hanya bertiga merantau di sini jadi kita gak butuh konflik. Kita pengen ketika Arza lahir, Alde juga menyambut Arza dengan baik dan sayang juga sama adeknya. Di atas semua ini, kita gak ngomongin sembarang orang. Kita ngomongin seorang Aldebaran, seorang pribadi yang ekspresif dan emosional. Liat aja fotonya. Jadi, planningnya sebagai berikut:
1. Dari sebelum lahir, kita udah sounding bahwa baby Arza akan datang. dan Baby Arza sangat-sangat sayang sama Aa’ Alde.
2. Kita didik Aldebaran untuk jadi anak yang independent. Kalo mau minta permen di rumah sakit, kita suruh dia minta sendiri dan gak usah minta melalui kita.
3. Kita siapin maenan yang komprihensif untuk Alde dan kita kasih di saat Arza sudah lahir. Tujuannya:
- Agar dia distracted dan gak terlalu craving attention ibu.
- Kita bilang bahwa ini adalah kado dari Arza. Ini tips dari sahabat kita.
4. Gua ambil cuti 14 hari kerja dan attention gue sebagai seorang ayah adalah ke Aldebaran sementara attention Ninit sebagai ibu, ditujukan pada Arza.
Semua teori di atas baru bisa dibuktikan setelah Arza lahir.
Lahirnya Arza
Ternyata Ninit mengalami kontraksi hebat 2 minggu lebih cepat dari yang dokter perkirakan. Perkiraan dokter adalah 9 September dan gue udah setting cuti 14 hari kerja dengan tim gue, mulai dari 7 september. Ibu kandung dan ibu mertua juga udah beli tiket untuk dateng 6 September. Semuanya udah perfect, timing wise.
Kemudian kontraksi dimulai Sabtu 29 Agustus pagi. Whaaa!!! semua rencana ke laut deh. baby box belum dateng, changing station belum beli,jolang buat mandi Arza belum beli, semuanya rencana beli hari sabtu itu. eh ini malah kontraksi. Kalo iya, gila kita menghadapi ini semua cuman bertiga jek.
Yang paling gue khawatir adalah apakah Alde sudah cukup dididik untuk menghadapi ini? karena penkondisian dan pendidikan kita juga kita set secara halus agar dia siap ketika 9 september itu.
Kemudian kita pergi ke rumah sakit dan segera check in. Ninit langsung masuk ruang bersalin dan udah langsung bukaan 4 aja. Glen eagles punya policy bahwa yang menemani istri di ruang delivery hanya 1 orang aja, yang artinya gue harus ninggalin Aldebaran di ruang tunggu sendirian. gue berusaha membuat Aldebaran senyaman dan seasik mungkin, terutama setelah dia mulai nanya “where’s mama?” beberapa kali. Gue tau dia suka banget ngoprek digicam pocket kita. Untuk hari itu, gue biarin dia monopli digicamnya. Ini adalah distraksi terbaik ternyata karena dengan dia menghabiskan waktu jepret sana-sini, gue bisa ninggalin dia sesekali dan nemenin Ninit di ruang salin. Berikut adalah beberapa hasil jepretan Aldebaran, which objectively I have to say, not bad at all for a 3 year-old.

Gue sempet minta tolong sama sahabat gue di Singapur ini, pasangan Shandy dan Ochie tapi ternyata ngerepotin mereka banget. Jadinya malah bikin gak enak hati.
“Iya Dit, gak papa. gue kr rumah sakit sekarang dan gue akan bawa Aldebaran ke kantor gue. karena gue perlu ngantor.”
“Wah Shan, saking menacenya GUE AJA gak mau bawa Alde ke kantor gue. Apalagi orang laen.”
tapi ternyata solusinya terletak di digicam itu. Perhatian Aldebaran teralihkan olehnya. Mungkin salah satu hal lain yang membuat Aldebaran tenang adalah bahwa gue juga memanage expectation dia. Kalo gue mau pergi ke ruang salin, gua akan bilang ke dia bahwa gue masuk dulu ke dalem (tapi gak bilang ke mamah).
“Alde, I’m going in now for 10 minutes. After 10 minutes, I promise I will go back to you. I will return when this pointer hits number 11.” kata gue, sambil nunjuk jam.
Secara mengejutkan, Aldebaran ngangguk dan nunggu di waiting room. tentunya sambil motret semua dispenser, vas bunga dan orang-orang yang lewat. Da gue juga menepati janji gue balik ke Aldebaran di waktu yang gue janjikan.
Gue gak bilang bahwa gue ke dalem untuk nemenin mamah, karena Aldebaran sangat dekat dengan mamahnya. Malah, protektif. Sebelum ini, setiap kali dokter Tracey (dokter kandungan) meriksa kandungan Ninit, Aldebaran selalu ngelarang dan meluk mamahnya. Dokter Tracey sendiri ngakuin bahwa untuk anak seumur Aldebaran, dia protektif, mandiri dan outspoken. Ninit pernah ke dokter gigi dan ketika Ninit duduk di kursi pasien, yang heboh Aldebaran.
“Mamah, are you okay?” sambil megangin kaki mamahnya.
Itu sebabnya gue gak berani menyinggung mamah. Bukannya takut Aldebaran crancky, tapi gue justru gak mau Aldebaran khawatir akan ibunya.
Jam 12, dokter Tracey dateng dan bilang bahwa Ninit udah siap banget ngelahirin. Gue keluar lagi ke Aldebaran.
“Aldebaran, I need you to be a big boy and I need you to be a good boy. Listen to Bapak. Babak needs to go back in there for 10 minutes. I really have to. I need you to wait in this waiting room. Don’t go anywhere. Can you do that for me, please?”
“Okay.”
Proses kelahiran berjalan lancar dan Aldebaran gak nangis sama sekali. So very proud of Aldebaran. I am a so very blessed person.
gue segera laporan ke kantor dan cuti gue dimajukan sampe tanggal 16 September hehehe. Abis itu, ternyata kamar belum siap jadinya gue dan Alde pulang dulu ke rumah. Aldebaran gue kasih makan, susu dan nappy time. Di sini dia mulai bilang, “Pak, I miss mamah.”
That’s my cue to reveal the ditracting present. Kita beliin dia 3 buah train set yang bisa digabung jadi 1 gigantic set. foto di bawah adalah set yang pertama.

Abis itu kita tidur bareng, seperti biasa.
Pasca Kelahiran
1. Spend time with Aldebaran

hari berikutnya gue dan Aldebaran bener-bener gak pisah. Ke mana-mana bareng dan yang paling utama, maen kereta bareng. Sementara Ninit kasih atensi ke Arza, gue kasih atensi ke Aldebaran. Ngebuktiin ke dia bahwa kasih sayang kita gak berkurang dengan lahirnya Arza. Ini kita, di east coast, nyewa sepeda. bener-bener seru abis. Aldebaran terus-terusan bunyiin klakson sepeda saban kali lewat orang.
2. Menumbuhkan rasa sayang Aldebaran untuk Arza

Ternyata poin satu di atas adalah sumber untuk poin 2 ini. Dengan kita membuktikan kita tetep sayang sama Aldebaran, dia punya cukup kasih sayang untuk dia limpahkan pada Arza. jadi, bukannya iri tapi juga ikut nyayangin. Jalan dua minggu, sebelum kita tidur Aldebaran sering menuntut agar baby Arza tidur berempat sempit-sempitan di kasur. Abis itu dia ciumin. Dia yang ambilkan blanket, bantal dan semua keperluan tidur Arza. Yang paling sering kita lakukan adalah pura-pura dengerin kemulut Arza dan bilang,
“Alde, baby Arza says he is very scared, he needs yout to protect him.”
“Alde, baby Arza says he wants you to kiss him.”
It works.
Gue dan istri lega banget kita bisa melalui kejadian besar ini dengan lancar. Beberapa poin penting dari proses ini adalah komunikasi:
1. We need to manage his expectation. Tell him what he can expect ande what he cannot.
2. We need to keep our promises.
3. Give him enough love and he will have enough love to give to the younger one.
4. Spend time with the older one. Cuti.
So that’s it. Gua bakal balik masuk kantor tanggal 17 September. Ah males banget.
