Tanggal 9 Juli nanti buku gue akan terbit. Blogger/writer yang berpengalaman akan menghias blognya dengan promo untuk menyambut hari besar ini, termasuk di beberapa hari sebelum bukunya terbit. Tapi tidak untuk kali ini.
Kali ini ada yang lebih penting bagi gue untuk gue tulis. Sesuatu yang datang hanya 1 kali dalam 5 tahun. Sesuatu yang jika berhasil, bisa jadi akan mengubah banyak hal. Jadi, gue akan menulis di bawah ini.
Sebagai orang yang merdeka, gue bebas menulis apa saja. Termasuk mengajak pembaca blog ini melakukan sesuatu. Kali ini gue akan mengajak kalian untuk melakukan sesuatu yang gue juga akan lakukan.
Sesuatu itu adalah: Gue mengajak kalian, pembaca blog gue, pembaca buku gue, untuk memilih Faisal Basrie sebagai Gubernur Jakarta 2014-2019.
Sebelum bergerak lebih lanjut, gue ingin menandaskan beberapa hal:
- Gue gak dibayar untuk menulis ini.
- Faisal Basri dan atau timnya tidak menghubungi gue untuk menulis ini.
- Sama seperti Pandji di www.pandji.com, aspriasi politik gue tidak dapat dibeli dengan uang. Maaf tapi gue sudah berkecukupan. Suara gue dalam konteks politik terlalu berharga untuk dibayar dengan uang karena gue tahu 1 suara gue dapat menentukan kemenangan orang yang tepat untuk menjadi pemimpin.
Jelas ya. Gak usah ada yang komentar dibayar berapa.
Nah untuk kenapa gue mengajak kalian memilih Bang Faisal, gue gak akan mengupas banyak dari sosoknya. Kita semua sudah tahu kompetensi beliau. Tapi gue ingin mengupas beberapa aspek yang mungkin belum banyak dikupas orang lain. Gue juga gak akan mengupas apa yang Jakarta butuhkan. Kita semua tahu apa yang Jakarta butuhkan.
Aspek pertama adalah, beliau dari pihak independen
Ini luar biasa besar artinya. Beliau tidak terikat pada hutang politik pada parpol apa pun. Kita semua tahu mekanisme politik di negeri ini. Semua orang yang beneran pinter, yang ingin maju menjadi bupati, gubernur atau presiden harus datang dari atau meminta dukungan sebuah partai tertentu. Bertahun-tahun partai politik tumbuh besar menjadi calo, preman dan maling dari negeri ini. Negeri yang sama mereka klaim bela. Pada kenyataannya, semua partai dari ikon pohon, sapi, burung, bintang dan kabah sekali pun, semuanya minta bancakan. Semua parpol meminta posisi politik tertentu pada calonnya di tambah dengan uang juga. Hampir semua bupati dan gubernur wajib mengembalikan utang politik baik dari segi kedudukan atau uang kepada partai politik yang berhasil mengangkat mereka mendapat jabatannya. Di titik ini, negeri kita diperas. Diperas di tingkat daerah, di tingkat nasional, semua hal diperas. Semua orang memeras. Dengan mekanisme seperti ini lah semua partai politik itu hidup. Basi semuanya, Sampah semuanya. Maling semuanya.
Seorang calon yang datang secara independen, tidak ingin terlibat utang politik seperti ini. Dan tidak akan terjerat utang politik seperti ini. Dari semua cagub DKI, Bang Faisal datang secara independen.
Maju karena mau. Bukan maju karena ada maunya.
Meraih suara dengan reputasi yang puluhan tahun dia bangun, bukan dengan membeli suara dengan uang.
Aspek kedua adalah dana kampanye yang paling sedikit namun paling bersih.
ICW sudah merilis berita temuan (dan ini informasi publik, bukan black campaign) bahwa Foke memiliki aliran dana kampanye yang tidak jelas sebanyak 22 milyar. Kedua adalah Jokowi dengan 2 milyar yang dia harus jelaskan (mengingat integritas Jokowi, yakin lah dia mampu menjelaskan). Faisal Basri? 2 juta rupiah saja yang tidak jelas. Beliau harus menjual rumahnya untuk membiayai kampanye cagub ini. Yang lain karena didukung partai, dengan santai melenggang. Kita tidak perlu kasihan dengan pilihan beliau. Kita patut renungkan betapa dia menjaga integritas dan menjaga agar tidak terjadi banyak utang dari dirinya pada orang lain.
Aspek ketiga adalah visi beliau
Dia tidak menyetujui pembangunan 6 ruas jalan tol yang sedang dalam perencanaan karena pembangunan jalan hanya memanjakan pengguna mobil. Sebagai gantinya beliau akan merevitalisasi penggunaan bus dan kereta. Semua ini sejalan dengan apa yang gue pernah tulis di beberapa posting sebelumnya (sila klik tag politik). Bahwa pemerintah lebih suka membangun jalan karena akan memaksa orang membeli mobil. Kenapa? Karena pemerintah gak perlu keluar banyak uang merawat jalan. Karena pemerintah malah mendapat uang dari pajak mobil tahunan. Sedangkan jika pemerintah mervitalisasi bus dan kereta, pemerintah malah keluar uang untuk perawatan bus dan kereta.
Analisis gue tentang transportasi di atas sudah pernah gue posting di sini: http://suamigila.com/2012/03/24/rakyat-transportasi/
Aspek keempat yang ingin gue kupas justru adalah dampak jangka panjang dari kemenangan seorang calon independen.
Ingatkah kita sekitar 4-5 tahun yang lalu, semua orang kaget oleh Dede Jusuf dan Rano Karno yang menjadi cawagub jabar dan banten? Lebih dikagetkan lagi oleh kenyataan bahwa mereka menang. Sejak saat itu, mata semua orang terbuka bahwa seleb memiliki harga suara tinggi dalam politik. Seperti jamur, banyak seleb lain ikut masuk politik juga. Harus ada yang mendobrak sebuah ketidakmungkinan menjadi sebuah kepastian. Publik perlu dibuka matanya oleh sebuah contoh yang berhasil.
Hal yang sama gue harapkan dari kemenangan seorang calon independen. Bayangkan efeknya ketika seorang calon independen menjadi gubernur. Semua orang akan terbuka matanya,
“Eh ternyata saya gak perlu partai politik ya untuk merealisasikan idealisme saya untuk bangsa.”
“Eh ternyata saya gak perlu utang budi atau uang pada partai politik ya untuk maju menjadi bupati. Untuk maju menjadi gubernur.”
Jika Faisal Basri menang, ada ribuan Faisal Basri lainnya yang tiba-tiba akan merasa empowered dan memiliki kekuatan bahwa mereka dapat menyumbangkan idealism mereka tanpa cara kotor. Tanpa berhutang. Tanpa menjadi maling di kemudian hari. Ini poin pertama yang paling penting kenapa gue tulis postingan kali ini.
Poin penting kedua adalah…
presiden independen.
Mahkamah Konstitusi sudah mengunci bahwa semua capres harus datang dari partai politik. Masalahnya, kita tahu semua partai politik itu maling. Jika calon independen dapat menang menjadi gubernur, siapa tahu (dan ini sangat spekulatif) ada desakan kepada MK untuk mencabut aturan itu (aturan capres harus dari parpol). Ini yang gue benar-benar harapkan untuk terjadi. Jika pencabutan ini terjadi maka terbukalah pintu bagi calon independen untuk menjadi presiden. Dan setelah merasakan semua parpol maling, gue pribadi sangat menginginkan 2014 nanti ada calon independen.
Agar seorang presiden 2014 berasal dari calon independen, maka putusan MK harus dirubah.
Agar putusan MK dapat dirubah, harus ada bukti bahwa seorang calon independen dapat menang dalam sebuah pemilu.
Agar ini terjadi, kita harus membantu Faisal Basri menang.
Spekulatif ya? Long shot ya? Tentu, tentu. Tapi tidak ada salahnya menginginkan yang baik-baik. Dulu semua orang menginginkan pergi dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat namun dirasa tidak mungkin. Henry Ford mendobrak ketidakmungkinan itu dengan menciptakan mobil
Jutaan kakek-nenek kita mendamba kemerdekaan dari penjajah namun dirasa tidak mungkin. Sampai akhirnya Bung Karno, Hatta, Tan Malaka, Dan sejumput sosok super nekat lainnya mendobrak ketidakmungkinan itu. Apa yang terjadi? Terima kasih pada bung Karno dan Indonesia, Negara-negara lain melihat kita, dan mencontoh kita untuk merdeka juga. Gue tinggal di Pantai Gading 2 tahun. Di sana, mereka masih berterima kasih pada Bung Karno karena Bung Karno dan Indonesia mencontohkan pada mereka bagaimana caranya sebuah Negara menjadi merdeka. Gue gak boong.
Kembali pada cagub DKI kali ini.
Intinya: salah satu dari banyak penentu pemilu presiden 2014, bertumpu pada percontohan dari pemilu gubernur DKI 2012 ini.
Lihat ini jangan dalam konteks DKI, tapi efek psikologisnya dalam cakupan Negara. Lihat ini jangan dalam rentang waktu sampai 2012, tapi rentang waktu 2014. Lihat ini jangan dari 1 event tertentu, tapi melihat bahwa 1 event akan menjadi pemicu, pemacu dan pembuka gerbang kemungkinan untuk hal-hal baik lainnya (dan hal baik yang gue maksud di sini adalah, calon presiden independen).
Jadi, pembaca blog gue yang baik, yang dermawan, yang pintar, yang gak mandi aja cakep, gue ajak kalian untuk memilih Faisal Basri, cagub DKI independen.
Lihat ke jauh ke depan, lihat dari atas, lihat dari sudut pandang Negara.
Coblos nomor 5, pilih Faisal Basri
Rgds/ Adhitya
Penulis yang gak dibayar siapa-siapa untuk menentukan suaranya.



“5 kali satu tahun” -> satu kali 5 tahun maksudnya ya mas?
urun rembug dikit.
calon independen terpilih itu udah pernah terjadi. Yaitu di Aceh dan efeknya gak (kalo gak bisa dibilang belum) seperti yang elo tulis di atas. malah pada pemilihan kedua, calon independen tergeser sama calon dari partai.
Tapi kalo elo bilang bahwa independen itu muluk-muluk spt yang elo tulis. gw malah takutnya mereka jadi diiming-iming “mimpi”.
buat gw, gw gak meragukan kalo track record faisal spt yg elo tulis, tapi bagi gw pemilihan itu cukup liat integritas dan track record calon yg mau dipilih.
Sayangnya, gw belum memiliki KTP Jakarta untuk ikutan pemilihan
Setuju banget!
Gemeees….gimana caranya ya warga jakarta mau melek. Selama dtg dari partai, pasti punya utang politik. Siggh
sayang ktpnya bogor, jadi ga bisa ikutan milih
btw, link webnya panji salah dit.. ngelinknya ke pandjie.com harusnya pandji.com
kereeeennn
..
Dan Kota Kupang pun baru merayakan kemenangan Calon Walikota dari jalur independen:
http://www.antaranews.com/berita/319754/pasangan-independen-jadi-walikota-kupang-terpilih
yess..nomor 5!
ini apa maksudnya ya? —> yang gak mandi aja cakep
hehehehe, sedikit sentuhan humor di ujung posting yang berisi.
Saya turut bantu menyebarkan via twitter ya kang
Kang, di jabar sudah ada calon independen yg menang, di garut ( aceng fikry sama dicky candra) tp ahirny bubar. Mungkin yg harus dilakukan klo faisal menang,
1. pendukung ny harus bisa menjaga agar semua kebijakan yg dilakuin ngga di block dr dewan (karena ini akan jd oposisi). Back up dr masyarakat harus lebih dr sebelum2ny
2. Godaan untuk menarik salah satu (gub ato wagub) masuk partai pasti ada, jd bang faisal harus bisa kuat jaga idelisme ny
3. Pembagian tugas yg jelas antara gub dan wagub. Ini sebetulny berlaku bagi semua calon sih, bukan cman yg independen aj. Kalau ngga ada pembagian tugas, maka akan timbul perasaan terabaikan (biasany wagub) yg menyebabkan perpecahan hingga kinerja g maksimal.
berdayakan Jakarta, pilih yg independent, gak pake kontrak politik..:)
Berpikir idealis memang perlu tetapi kadang-kadang harus realistis hehe..
Alasan yg menarik, sayang banyak asumsi yg tidak berdasarkan fakta, terutama soal independen. Banyak kepala daerah dari parpol yg bagus, tidak dibebani utang ke parpol, seperti walikota Jogja (yg dulu), Surabaya, Solo. Sebaliknya, sudah banyak kepala daerah dari jalur independen, mana yg berhasil? Belum ada! Kebanyakan parpol memang brengsek, tapi banyak orang-orangnya yg lurus. Faisal memang bersih, karena ia cuma dosen, pengamat, jd sekjen PAN aja ga kuat godaan. Jokowi bersih, meski ia berkubang di lumpur. #sedikitkampanye hehehe
it’s a bullshit, kalo memang faisal basri itu bener2 independen, kenapa dia masih bawa2 biem benyamin buat cawagub, itu karena dia mau ngambil simpatik warga betawi. dan gw lebih gak suka lagi kalo si faisal di tanya, “Saya faisal biem dan cawagub saya BIEM BENYAMIN ANAKNYA BENYAMIN YANG NO. 3″ kalo emang dia mau bersih cari wakil yang gak usah kayak mas bilang “SELEBRITI”. menurut gw wakilnya masih di kategorikan selebriti karena masih bawa nama orang yang terkenal untuk menarik suku, agama atau ras tertentu. so i’ll not vote him.
baeklah mas, sy nurut sampeyan saja deh, tanpa usah dibayar saya coblos faisal basri itu jika saya punya ktp jakarta yah
tapi logis juga ulasan di atas, Basri menang yeaaah
saya mau tanya sama seperti yang saya tanyakan ke pendukung faisal-biem yang lain (sampai sekarang blm ada yg jawab dan belum ada yang menuliskan jawabannya):
1. kalau alasan independen, kenapa faisal-biem yang anda dukung? bukan hendardji-riza atau keduanya? kan sama2 independen? kok saya baca seolah2 anda menganggap hanya faisal-biem yang independen? apakah mungkin anda tidak tau fakta ini?
2. kalau alasan menurut ICW paling bersih karena dana kampanye yang tidak jelas paling sedikit, justru pada pasangan hendardji-riza sama sekali tidak ditemukan adanya dana kampanye yang tidak jelas. anda sengaja tidak menuliskan fakta ini?
saya hampir yakin kalau komentar ini juga tidak akan ditanggapi sama seperti komentar2 di blog pandji. paling tidak ada orang yang akan membaca pikiran kritis saya
Semua partai sudah busuk makanya pilih calon yg independen tapi inget DPRD itu orang mana? 100% parpol, kalo nanti ada kebijakan yg macet gara2 di DPRD apa yg mesti dilakukan? akhirnya merayu2 lah,kompromi2 lah ama partai, emang masyrakat pendukung indie ini ada hak suara di DPRD? paling biasanya cuma dukungan moril doang…dari banyak kasus di daerah2 mereka2 yg terpilih dari independen akhirnya gabung parpol juga karena mereka gak tahan, nanti FB kalo terpilih kuat gak? atau malah mutung seperti kasus dia waktu mundur dari sekjen PAN
so be wise!
Kenapa nyoblos ya?
Bukan nyentang.
*komen ga penting
)
[...] Aditya Mulya – Memilih Faisal Basri [...]
U/ sibudi : faktor independen itu sangat penting, tapi kita liat juga kompetensi dan program2nya kan. Coba mas bandingin sendiri antara 2 cagub independen itu. Pasti berasa bedanya. Jd sangat wajar kl mayoritas menyoroti cagub independen itu hanya ke pak faisal basri.
kalo gw sebagai wong cilik mendoakan Jokowi kang
, meski pakai partai yang penting orangnya keliatannya benar-benar merakyat, mau mendengar dan punya prinsip tersendiri itu aja sih. di Indonesia mungkin banyak pakar-pakar , ahli, dosen, tp yang merakyat dan mendengar sangaaaat jarang.
sebenernya calon independen udah pernah menang di garut,yaitu dicky candra,cuman memang tidak terlalu diekspos media,kemenangan calon independen bisa menjadi tolok ukur kemajuan berpolitik suatu bangsa,karena dengan begitu kedepannya tidak semua orang yang ingin membangun negeri ini harus berhutang kepada partai
[...] Aditya Mulya Memilih Faisal Basri [...]
Kalo gw punya ktp jakarta
pasti gw pilih nomor 5
Semoga menang Bang Isal
\m/
Dari newbie sih cuma bisa bilang :
Jangan terlalu naif dalam mendukung seorang cagub, jangan terhipnotis dan terpesona hanya karena sosoknya yang keliatan dari luar bersih, innocent, membumi, dan sebagainya….karena kehidupan nyata ga bakal seindah omongan…
biasanya orang yang dulunya ngomong anti kemapanan, anti korupsi, ingin memperjuangkan rakyat kecil, bla bla bla…kalau sudah mendapatkan kuasa pada akhirnya justru ga akan berbuat apa-apa malah lupa sama janji-janjinya…
silahkan ambil contoh salah seorang aktivis ternama era 90-an, Budiman Sudjatmiko…dulu bisa dilihat sepak terjangnya dalam menentang kesewenang-wenangan ORBA, rela di ciduk petugas….dulu newbie sebagai mahasiswa saja sampai kagum dengan nih orang…
Tapi lihat sekarang, begitu udah hidup enak karena dirangkul partai, kemana semua omongannya dulu ? kemana semua aksinya dulu ? toh akhirnya diam saja kan….
Mungkin juga masih ingat Rizal Malarangeng, calon independen untuk Presiden, sampai berkorban harta buat masang billboard segede gaban di pintu tol semanggi…sekarang mana ? toh akhirnya bergabung ke partai yang berkuasa juga…malah jadi enak sekarang karena ade’nya Andi Mallarangeng punya karir yang melejit di kabinet saat ini…
Dan masih banyak yang lain contohnya, yang ga mungkin dijelaskan disini…
Menurut newbie, ada 1 hal yang ga diperhitungkan para pendukung calon Independen ini dalam logika memilihnya…ini DKI JAKARTA…dimana didalamnya juga ada PEMERINTAH PUSAT…segala kebijakan yang akan berlaku di DKI JAKARTA harus bersesuaian dengan program PEMERINTAH PUSAT…terdiri dari apakah PEMERINTAH PUSAT ? ya dari gabungan orang-orang dari berbagai PARTAI yang memenangi Pemilu…dan terutama Partai Mayoritas yaitu PD…Oh iya jangan lupa kepada siapa ya Gubernur DKI bertanggung jawab…Mendagri kan ? Mendagri kan juga dari partai pemenang Pemilu pastinya…dan siapa bosnya Mendagri ? Presiden toh…dari Partai yang berkuasa…
Seandainya, Calon Independen ini menang dan menjabat Gubernur DKI, sudah bisa dipastikan mau tidak mau, suka tidak suka, harus mematuhi birokrasi yang sudah ada saat ini…apakah disaat itu netralitasnya bisa kita percaya ? Apakah saat itu segala janji dan omongannya bisa menjadi realita….Apakah Faisal Basri kalau terpilih bisa mewujudkan semua janjinya ? Silahkan kaskusers mikir sendiri…Kalau newbie sebagai orang yang bodoh, bisa jawab pasti ga bisa…
Karena namanya HAK OTONOMI DAERAH itu tidak bisa diterapkan 100% di Jakarta, disebabkan adanya kewajiban untuk menyesuaikan programnya dengan PEMERINTAH PUSAT….
Logika awam newbie, whatever the motives are, semua calon Gubernur secara kentara ga kentara pasti menginginkan kekuasaan atas Jakarta, karena apa 90% duit muter di Jakarta, Proyek2 besar semua ada di Jakarta, kesempatan untuk menjadi kaya raya ada di Jakarta…bullshit kalau ga ada pemikiran kaya gitu…mau yang juara bertahan, mau yang ditunjuk partai, apalagi yang independen justru kalau menurut newbie bisa lebih ngeri….
Tapi lepas dari semua komen newbie diatas, bagi para kaskuser yang besok akan memilih, pilihlah dengan penuh keyakinan dan logika yang matang, jangan memilih karena sosok…udah terbukti dulu yang milih sosok sekarang yang berkuasa, hasilnya yah bisa diliat…semoga sukses PILKADA 2012…Amin
Dari newbie sih cuma bisa bilang :
Jangan terlalu naif dalam mendukung seorang cagub, jangan terhipnotis dan terpesona hanya karena sosoknya yang keliatan dari luar bersih, innocent, membumi, dan sebagainya….karena kehidupan nyata ga bakal seindah omongan…
biasanya orang yang dulunya ngomong anti kemapanan, anti korupsi, ingin memperjuangkan rakyat kecil, bla bla bla…kalau sudah mendapatkan kuasa pada akhirnya justru ga akan berbuat apa-apa malah lupa sama janji-janjinya…
silahkan ambil contoh salah seorang aktivis ternama era 90-an, Budiman Sudjatmiko…dulu bisa dilihat sepak terjangnya dalam menentang kesewenang-wenangan ORBA, rela di ciduk petugas….dulu newbie sebagai mahasiswa saja sampai kagum dengan nih orang…
Tapi lihat sekarang, begitu udah hidup enak karena dirangkul partai, kemana semua omongannya dulu ? kemana semua aksinya dulu ? toh akhirnya diam saja kan….
Mungkin juga masih ingat Rizal Malarangeng, calon independen untuk Presiden, sampai berkorban harta buat masang billboard segede gaban di pintu tol semanggi…sekarang mana ? toh akhirnya bergabung ke partai yang berkuasa juga…malah jadi enak sekarang karena ade’nya Andi Mallarangeng punya karir yang melejit di kabinet saat ini…
Dan masih banyak yang lain contohnya, yang ga mungkin dijelaskan disini…
Menurut newbie, ada 1 hal yang ga diperhitungkan para pendukung calon Independen ini dalam logika memilihnya…ini DKI JAKARTA…dimana didalamnya juga ada PEMERINTAH PUSAT…segala kebijakan yang akan berlaku di DKI JAKARTA harus bersesuaian dengan program PEMERINTAH PUSAT…terdiri dari apakah PEMERINTAH PUSAT ? ya dari gabungan orang-orang dari berbagai PARTAI yang memenangi Pemilu…dan terutama Partai Mayoritas yaitu PD…Oh iya jangan lupa kepada siapa ya Gubernur DKI bertanggung jawab…Mendagri kan ? Mendagri kan juga dari partai pemenang Pemilu pastinya…dan siapa bosnya Mendagri ? Presiden toh…dari Partai yang berkuasa…
Seandainya, Calon Independen ini menang dan menjabat Gubernur DKI, sudah bisa dipastikan mau tidak mau, suka tidak suka, harus mematuhi birokrasi yang sudah ada saat ini…apakah disaat itu netralitasnya bisa kita percaya ? Apakah saat itu segala janji dan omongannya bisa menjadi realita….Apakah Faisal Basri kalau terpilih bisa mewujudkan semua janjinya ? Silahkan mikir sendiri…Kalau newbie sebagai orang yang bodoh, bisa jawab pasti ga bisa…
Karena namanya HAK OTONOMI DAERAH itu tidak bisa diterapkan 100% di Jakarta, disebabkan adanya kewajiban untuk menyesuaikan programnya dengan PEMERINTAH PUSAT….
Logika awam newbie, whatever the motives are, semua calon Gubernur secara kentara ga kentara pasti menginginkan kekuasaan atas Jakarta, karena apa 90% duit muter di Jakarta, Proyek2 besar semua ada di Jakarta, kesempatan untuk menjadi kaya raya ada di Jakarta…bullshit kalau ga ada pemikiran kaya gitu…mau yang juara bertahan, mau yang ditunjuk partai, apalagi yang independen justru kalau menurut newbie bisa lebih ngeri….
Tapi lepas dari semua komen newbie diatas, bagi para kaskuser yang besok akan memilih, pilihlah dengan penuh keyakinan dan logika yang matang, jangan memilih karena sosok…udah terbukti dulu yang milih sosok sekarang yang berkuasa, hasilnya yah bisa diliat…semoga sukses PILKADA 2012…Amin
tolong klo nulis masa periode yang benar
periodenya salah tuh, harusnya 2012-2017
salam penulis.
Ooo gitu toh analisanya…
Tapi Kalah nih yeee….
udah kalah nie mas adit…sampeyan siy nulisnya telat…
[...] contoh saja. Ada tulisan Pandji dan Adhitya Mulya yang bercerita tentang dukungannya terhadap calon nomor 5. Mereka berdua secara ekplisit [...]
wih kalau mikir politik, abis baca beberapa waktu yang lalu http://ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.com
jadi mikir mikir, apa terlalu pesimis yak, seperti tidak nasionalis sih, tapi bisa coba dilihat, jadi pesimis ama politik, mending kalifah abdul azis aja.
siapapunyang jadi..mga yang terbaik..!!
Mahkamah Konstitusi sudah mengunci bahwa semua capres harus datang dari partai politik. Masalahnya, kita tahu semua partai politik itu maling. Jika calon independen dapat menang menjadi gubernur, siapa tahu (dan ini sangat spekulatif) ada desakan kepada MK untuk mencabut aturan itu (aturan capres harus dari parpol). Ini yang gue benar-benar harapkan untuk terjadi. Jika pencabutan ini terjadi maka terbukalah pintu bagi calon independen untuk menjadi presiden. Dan setelah merasakan semua parpol maling, gue pribadi sangat menginginkan 2014 nanti ada calon independen.
Guuuyss…guys… ini si Adhit ngomong bener kok. Itu emang kondisi paling ideal. Dan gw seneng banget sama POV positive nya… Bikin semangat dan optimis
Buat lu Dhit… yang lu tulis disini semuanya bener kok, dan ane rasa hampir semua yang ada disini, termasuk gw, bakal “ngebeli” ide2 lu itu. Tapi dalam kacamata Idealism.
Sementara itu, selain keterlibatan parpol yang sering kali lebay itu… dinamika dalam masa pemilihan tu begitu bergejolak, nyampe2 strategi masing2 pasangan diumpetin sedemikian rupa. Karena emang banyak hal yang ga terduga yang bisa terjadi. Contohnya isu SARA yang tiba2 berhembus, dan yang terbaru adalah semakin tidak bisa ditebaknya aliran suara pada putaran kedua… akibat apa? Isu SARA? Keterlibatan PARPOL pendukung? Gw rasa bukan itu… ini opini gw ya dhit
Gw rasa ya karena pemilihnya sendiri yaitu ya kita2 ini alias rakyat DKI.
Penyikapan2 terhadap isu SARA yang tadinya sangat memihak ke salah satu calon, namun karena saking berlebihan responnya, justru saat ini publik mulai juga bersimpati sama calon yang satunya…. nah lu? hahaha… bingung kan? itu salah satu contoh aja sih…
Anyway, yang paling sehat emang yang paling jauh dari campur tangan partai. Namun terasa naif juga sih, karena sistem demokrasi dinegara kita emang sepertinya dibentuk oleh kepentingan2 partai dalam ranah politik, dengan berhiaskan topeng kepentingan rakyat.
Yuk ah… dukung aja ide revitalisasi kendaraan publik tadi
Juga ruang dan fasilitas publik lainnya… siapapun calon yang menang, harus mengusahakan ini. Alih2 dari lobi2 politik yang busuk dan hanya berpusat pada segilintir golongan demi menggelembungkan pundi2 babi mereka.
Makasiiiih.
Berpikir idealis memang perlu tetapi kadang-kadang harus realistis hehe..