Keuangan Negara – Masalah & Potensi

Ada masalah menakutkan tentang bagaimana uang Negara di-manage di Indonesia. Beberapa hal seperti korupsi sangat jelas. Tapi jika pun tidak dalam kondisi korupsi, keuangan negara tetap tidak dalam kondisi sehat. Ada beberapa hal yang menunjang ketidaksehatan ini. Postingan ini tidak akan membahas korupsi ya. Kita semua tau, bangkrut ga bangkrut, korupsi harus hilang.

 

Masalah

Kita mulai dari yang paling mudah dulu ya. Dari kaca mata gue keuangan negara itu hanya sedikit beda dari keuangan perusahaan. Negara harus surplus dalam budgettingnya karena surplus itu lah yuang negara butuhkan untuk investasi di pembangunan. Jika tidak surplus (eg: pemasukan hanya cukup[ untuk bayar utang dan belanja rutin pegawai dan negara) maka secara akunting dapat dibilang bahwa negara hanya break even. Mending tutup toko sekalian. Lebih parah lagi kalau untuk bayar utang + belanja rutin saja sudah minus. Itu parah sekali.

Cost = bayar pokok utang + bayar bunga utang + belanja rutin PNS + belanja rutin negara

Revenue = Pajak + royalti pertambangan etc etc

 

Kalo revenue = cost, mana buat pembangunan infrastruktur kita?

 

1. Belanja Pegawai

Ini yang gampang dilihat mata. Kabar terakhir yang gue baca dari kompas, bahwa subsidi BMM + PNS mencapai 40% (atau malah 60%) dari APBN. Ini bahaya sekali. Sisanya bayar pokok dan bunga utang dan sisa sedikit sekali untuk pembangunan.

 

Belanja rutin untuk gaji pegawai harus dipotong karena kuantitas PNS terlalu banyak. Agus Marto sudah teriak berulang kali tentang ini.

 

2. Hasil dari SDA diandalkan sebagai Pemasukan

Ini yang gak gampang. Kalian sering kan baca koran atau lihat berita bahwa pemerintah menargetkan lifting minyak bumi 1 juta barrel/hari untuk membiayai APBN? Nah ini yang salah. Di sini, minyak bumi diumpamakan sebagai uang yang kita ambil dari perut bumi Indonesia untuk membiayai hidup negara. Ibaratnya, perut bumi kita adalah mesin ATM yang kita ambil sesuka hati untuk membiayai negara yang mana 40% adalah belanja rutin. Pertanyaan gue: Apa yang pemerintah lakukan jika minyak bumi kita habis? Ini penmting untuk dicari solusinya karena belanja rutin (kekal) akan selalu rutin sedangkan minyak bumi tidak kekal. In fact, minyak bumi akan habis dalam 10-15 tahun. Oh kan masih ada batubara yang cadangannya masih 200 tahun lagi. Yeah, lantas nanti cicit dari cicit gue belanja rutinnya gimana ketika 200 tahun ketika batubara habis?

 

Solusi

Lantas solusinya apa? Kita kupas satu-satu

 

  1. Kurangi Belanja rutin

Sudah ada moratorium penerimaan PNS. Sudah ada dorongan untuk PNS pensiun dini. Proses untuk mengikis ini sudah ada, namun gue harus bilang lambat dan tidak dilakukan sepenuh hati di setiap departemen.

 

Buat semua departemen dan PNSnya kerja efisien. Seefisien mungkin. Insentifnya bagaimana? Bisa aja kita cut jumlah PNS -40% tapi anggaran untuk gaji PNS hanya kita cut -30%. Praktisnya, PNS yang tersisa kerja lebih keras tapi hidup lebih makmur. Lumayan kan? Kasih tau gue manusia mana, PNS atau bukan PNS yang tidak ingin dapat kenaikan gaji 10%? Semua pengen pastinya.

 

Menghemat belanja negara juga wajib karena ini jadi ladang korupsi juga. Haruskah pejabat travel dengan kelas bisnis? Haruskah mobnil dinas ban-nya ganti setahun sekali? Kemungkinan tidak dan takutnya ini jadi ladang korupsi. Ada sejuta hal-hal kenegaraan seperti ini yang bisa dipangkas.

 

  1. Pendapatan dari pertambangan dijaga

Maksudnya gini. Pastikan bahwa yang cost yang rutin (belanja PNS, negara) dicover oleh revenue yang rutin juga (pajak). Sedangkan revenue dari pertambangan (yang mana tidak kekal) harus dimasukkan ke dalam investasi. Maksudnya investasi di sini adalah pendidikan, pembangunan kilang minyak, pembangunan infrastruktur. Intinya adalah kita measytikan bahwa revenue dari pertambangan (yang suatu saat akan habis) kita gunakan untuk investasi yang berbuah revenue di masa depan.

 

Contoh satu:

Saat ini, kita jual 50% minyak mentah dan kita beli 50% BBM. Nah revenue dari penjualan minyak mentah kita pakai untuk bangun kilang minyak agar 5 tahun lagi, kita bisa memroduksi semua minyak mentah kita agar menjadi BBM, agar kita tidak perlu beli BBM impor.

 

Contoh dua:

Saat ini kita jual batu bara kita ke cina. Padahal cina juga punya tambang batu bara. Ryoyalti penjualan batu batra harus kita pakai untuk kembangkan teknologi destilasi batu bara menjadi BBM. Ini bisa, South Africa melakukannya. Pionir dan leading market untuk destilasi.

 

Contoh tiga:

Royalti pertambangan kita pakai untuk menggalakkan pembuatan ethanol dari tebu. Kita beri insentif untuk industri tebu untuk memenuhi gula dan ethanol dalam 20 tahun. Kalo bisa, tanah kita, digunakan untuk tanam padi dan tebu saja untuk memanen ethanol. Memangnya ethanol bisa jadi BBM? 40% mobil di Brazil berhasil dikonversikan untuk memakai ethanol.

 

Contoh empat:

Royalti penjualan minyak bumi kita pakai untuk membangun jembatan, jalan dan jaringan transportasi yang luas, agar ongkos kirim menjadi murah. Asal tahu saja, 1 sak semen di papua bisa sampai 1 juta rupiah. Kiriman 1 kontainer 40 feet ke papua bisa sampai 40 juta. Orang papua itu kaya-kaya. Tapi ada mafia transportasi yang membuat biaya transportasi jadi mahal. Kasian.

 

Ini semua untuk memastikan agar di saat minyak bumi kita habis, kita sudah menjadi negara yang mandiri dari minyak bumi. Gak bangkrut, gak kolpas dan gak defisit. Dengan setting APBN sekarang, maaf aja, ada kemungkinan kita kolaps.

 

  1. Galakkan, bina dan do our best untuk mendapatkan revenue dari pariwisata

Contoh lima: gunakan royalti batu bara untuk mengemas tujuan pariwisata kita dan prasarananya agar turis datang dan menghabiskan dollarnya di Indonesia. At teh end of the day, its about revenue. Mengirimkan 100,000 anak beasiswa ke Luar negeri butuh dolar kan. Beli vaksin kan butuh dolar. Nah untuk mendapatkan dollar yang fresh dan kekal (tidak seperti OGC yang tidak kekal) pariwisata lah kuncinya. Thailand nomor 1 di ASEAN. Malaysia belajar dari Thailand. Kita? Satu iklan bilangnya kita punya trademark ‘remarable Indonesia’ iklan lain di saat yang sama, trademarknya ‘wonderful indonesia’. Come on government… really? Can you be this stupid?

Jangan bangga bahwa raja ampat bagus. Jangan bangga bahwa pantai belitung itu bagus. jangan bangga sama indahnya pemandangan bromo. Itu semua pemberian Tuhan. Gak ada keringat dan otak kita yang membuat ketiga lokasi itu jadi indah. Bangga lah kalo kita berhasil membangun prasarana yang membuat pantai belitung mudah diakses dan menjadi penghasil devisa penduduknya.

 

  1. Galakkan, bina dan do our best untuk mendapatkan revenue dari SDM

Bingung memberikan lapangan pekerjaan ke 30 juta angkatan kerja? Tenang. Ini ada 2 fakta dalam ekonomi:

  1. Sebuah negara tidak membutuhkan 100% angkatan kerjanya untuk menggerakkan eknomi. Katakanlah kita punya 150 juta angkatan kerja. Kita hanya butuh 80 juta orang untuk menggerakkan ekonomi dalam negeri untuk membuat ekonomi tumbuh 8%. Jika dipaksakan tambah tenaga kerja, malah jadi tidak efisien. Malah jadi padat karya.
  2. Sebuah negara hanya membutuhkan sekitar 20-35% kerah putih dan 65-80% kerah biru (pekerja buruh, pekerja domestik, asisten rumah tangga) untuk menggerakkan ekonomi domestiknya.

 

Jika kita hanya membutuhkan 80 juta tenaga kerja untuk menggerakkan ekonomi di Indonesia, ke mana 70 juta lainya harus bekerja? Jawab: kirim ke luar negeri.

 

Apakah ada lapangan kerja? Ah paling jadi Asisten rumah tangga semua.

 

Jawab: nggak juga.

Kesempatan satu: Beberapa negara maju seperti Negara eropa, dan jepang mengalami pertumbuhan negatif.

Penduduknya udah mulai senior. Di Inggris sudah confirm bahwa angkatan manula > angkatan kerja. Inggris dan jepang, kekurangan tenaga kerah putih untuk kerja di bank, dokter, engineer dan sebagainya. Lihat kiri-kanan kita, pasti kita punya teman di facebook yang kerja di luar negeri. Ya kan? Coba liat temen elo dari TK sampai kuliah. Pasti udah ada yang kerja di luar negeri.

 

Kesempatan dua: beberapa negara lain membutuhkan tenaga kerja kerah biru (buruh) untuk menjalankan ekonomi mereka

 

Bagaimana menggunakan kesempatan ini?

  1. Pemerintah harus menjamin keselamatan TKI (baik kerah biru dan kerah putih).
  2. Pemerintah harus memberikan pelatihan untuk menjadi TKI kerah biru yang terampil. Jangan lepaskan ke swasta yang asal kirim aja.
  3. Pemerintah harus memermudah semua orang untuk kerja di luar negeri. Tenang, kita ini negara 240 juta orang. Kita tidak akan kekurangan orang pintar untuk dibagi kerja di dalam negeri dan di luar negeri.
  4. Ubah mindset. Orang kerja di luar negeri itu jangan dipersulit. Orang sampe bisa kerja di luar negeri itu sudah meringankan beban pemerintah karena kita praktis mengurangi tingkat pengangguran di dalam negeri.
  5. Orang kerja di luar negeri yang gak mau pulang, jangan dikatain ga nasionalis. Mereka udah memermudah hidup kita di Indonesia dengan kiriman uang mereka. Mereka udah bagus gak berebut butiran nasi yang kita makan di dalam negeri sini. Ada banyak kabupaten di Indonesia yang 70-80% income daerah mereka adalah dari remittance warga mereka yang menjadi TKI/TKW.
  6. Semua lulusan S1 harus world class. Jangan sampe inggrisnya malu-maluin.

 

Contoh sukses di sektor SDM kerah putih adalah India. India, meski diuntungkan bahasa inggris, tetap berhasil mengirimkan jutaan kerah putih  ke luar negeri.

 

Contoh sukses di sektor kerah biru adalah Filipina. Filipina butuh SDM mereka untuk remit dolar ke filipina karena jika tidak ekonomi mereka kolaps. Orang di Filipina beli beras memakai devisa kiriman orang filipina yang kerja di luar negeri. Ngeri kan? Karena itu Filipina kerja keras dan memiliki perjanjian bilateral dengan Singapura dan Saudi Arabia. Bahwa setiap TKW mereka harus diupah minium XXX, harus mendapatkan 1 hari libur. Indonesia? Bahkan MoU aja ga ada. Kasian kan.

 

Satu-satunya contoh sukses akan TKW kita adalah di Jepang, Taiwan dan Hong Kong. Di sana kita mensuplai perawat.

 

Sebenarnya ngomongin potensi devisa untuk negara ini ga ada abisnya. Banyak sekali yang kita dapat lakukan dengan lebih smart namun kita tidak lakukan.

 

Indonesia emas itu sebentar lagi. Di 2020-2025. Indonesia emas adalah era di mana Indonesia memiliki angkatan kerja produktif terbanyak sepanjang sejarah. Ini harus pemerintah siapkan dari sekarang. Kalo nggak, ratusan juta angkatan kerja produktif itu akan menjadi pengangguran.

Indonesia emas hanya akan terjadi jika uang yang kita punya sekarang kita pakai untuk investasi. Jika SDM kita, kita bagi untudengan cermat untuk gerakkan ekonomi dalam negeri dan sebagian kita kirim keluar untuk menjadi penghasil devisa. Indonesia emas bisa terjadi jika biaya rutin PNS kita bayar dari hasil pariwisata plus pajak.

Intinya satu: gunakan semua SDM kekal dan SDA yang tidak kekal, untuk mendapatkan revenue yang kekal, yang harus mencover biaya kekal.

Kalo kita masih ngandelin minyak bumi untuk bayar biaya rutin kita? Selamat tinggal Indonesia.

Gitu aja dari gue. Udah jam 3 pagi. Mohon maaf gue tidur dulu ya. Semoga mencerahkan.

Rgds.

16 responses to “Keuangan Negara – Masalah & Potensi”

  1. Ayu D. says:

    Mas, diskusi tentang FPI dong bahas. Lagi seru2nya neh~

  2. RoySayur says:

    keuangan negara sebetulnya cuma dibagi dua hal pokok. 1. dari sisi moneter dan 2. dari sisi fiscal. nah pemerintah, ambil bagian di nomor dua dengan cara narik pajak dan belanja pemerintah.
    sedangkan nomor dua dijaga ketat oleh bank sentral.

    tapi berhubung bakalan banyak komentar,
    maka singkat aja deh.
    SDM.
    itu aja.
    itu yg membedakan negara maju apa enggak.

  3. ria ria ria says:

    Kang? Kapan mau jadi presiden? Hahahahaa..
    Saya dukung 100%..
    Bener banget apa yang Kang adit bilang..

  4. rcdp says:

    wih mas, ulasan yg kumplit banget. kalo dikembangin lagi, udah bisa jadi paper nih. semoga ini juga dibaca oleh para pengambil keputusan di pemerintahan negara ini.

  5. yudhaAarjuna says:

    Setuju mas adit, kalo saya lebih suka meniru(gapapa meniru asal jadinya bagus), china dan india. mereka pada periode 70-80 membangun habis-habisan infrastuktur dan menurunkan suku bunga kredit di bank, tujuannya agar masyarakat mereka mau menjadi pengusaha semua. Hasilnya keliatan di 90 sampai sekarang. jadi semoga pemerintahan kita punya pemikiran yang lebih baik..semangat garuda

  6. aris says:

    inspiratif kang tulisannya, cuma ada yg mengganjal soal pengurangan pns, program pensiun dini itu dikhawatirkan yg pd pensiun justru pns yg bermutu semua, mereka bakal lebih berani untuk nyari kerja/usaha lain krn kemampuan mereka. PNS yang tersisa tinggal pns ga mutu yg kerjanya main solitaire sepanjang hari, krn yg model begini emang ga punya kemampuan dan siapa jg yg mau hire makhluk model begini.

    Kalau dipaksakan (misalnya pns ga mutu dipecatin semua), bisa banyak pengangguran juga, jadi masalah lagi :D

  7. sherlie says:

    izin share ya mas.. indeed..i think u should apply to be indonesia president next period :)

  8. Intinya cuma satu mas Adhit,

    Presiden yang cukup bergigi untuk melakukan semua hal di atas. Selama presiden masih takut bertindak karena tekanan parpol atau mafia, ga akan bisa mas. IMO

    Good thoughts thou..

  9. Lestari News says:

    yang bermasalah penguasanya deh kayaknya alias pemimpin negara

  10. dwi kartikasari says:

    gute idee. sayangnya kalo diaplikasikan, kebijakan yg bagus2 bisa jad malah ditentang rakyatnya sendiri, contohnya BBM. Banyak org indo yg mikirnya short term aj

  11. nadhika says:

    Ya Tuhan, benar-benar mencerahkan postingannya mas, good thoughts!!

  12. yus says:

    masalah: persentase yg pikirannya seperti mas adhit masih sedikit. Rakyat ngawur pilih pemimpin.
    solusi : wajib dan hak pendidikan politik di semua kalangan dipenuhi. Untuk guru, siswa, buruh2 yg waktunya habis di pabrik, karyawan yg sangat sibuk, pengangguran, artis, ulama dll.
    Harus ada jaminan kesempatan: waktu, biaya, SDM, dan pendekatan yg baik untuk masing2 kalangan.

    Gimana kalau mas Adhit bikin buletin cetak untuk rakyat…..? tidak hanya lewat internet?

  13. ian says:

    bicara keuangan dan asal usul ekonomi, baru baca http://ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.com

    penasaran aja gimana pendapat mas setelah baca website tsb. bisa counter analysisnya atau jadi penyegaran. sorry kasih link tersebut di beberapa tempat, soalnya baru fresh bacanya dan gimana jadinya setelah baca analisis dislamer di web tersebut.

  14. sherli says:

    pemikiran yg bagus mas adhit. saya kagum bacanya. andai pemimpin Indonesia lebih berani bertindak ya. Masa kita mau terus-terusan mengandalkan SDA yg nantinya pasti habis.. ijin share ya mas d blog saya. Thanks.

  15. anne says:

    udah lama ga mampir disini..mas adhit keren abiess!!

  16. tomi wiranto says:

    Sedikit nambahin Kang Adhit….

    Sektor Pajak kalo gak salah menyumbang 70% APBN Kita….benahi sektor ini :
    1. Reformasi birokrasi total… (reward and punishment kudu jalan)
    2. Tindak tegas pengemplang Pajak (Nindak Bakrie yang ngemplang 1T lebih kira2 brani gak yah :) )
    3. Mendorong sektor2 kek yang Kang adhit bilang tadi. Karena karena kalo perekonomian tumbuh otomatis sektor perpajakan akan naik….

    that’s all dulu ada tamu :)

Leave a reply