Kisah 2 Anak Manusia
Kondisi solidnya ekonomi di Indonesia telah membuat banyak orang berpindah kategori dari golongan bawah dan masuk ke golongan menengah. Jangan terlena dulu, karena yang namanya golongan menengah secara definitive adalah golongan yang earningnya $2-$2000 per hari. Gue llupa batas atasnya berapa, kalo gak salah $2000, you might want to google this. Anyway, itu cakupannya luas banget. Dalam konteks ini, mari kita lihat kehidupan 2 anak manusia yang bernama Andi dan Rahman yang bertetangga di Depok. Keduanya kerja di Jakarta. Mari kita lihat keseharian mereka.
Andi adalah seorang pegawai sales dari sebuah perusahaan. Gaji Andi adalah rp 3 juta perbulan ($11/hari). Dari sini terlihat Andi menempati bagian tengah dari golongan menengah.
Rahman adalah seorang pegawai sales dari perusahaan yang lebih kecil. Gaji Rahman adalah Rp 1 juta ($3.6/hari). Dari sini terlihat bahwa Rahman berada di batas bawah antara golongan menengah dan golongan miskin.
Andi berangkat kerja memakai mobil. Tapi dia menghabiskan 1.5 juta (50%) gajinya untuk bayar bensin. Gue aja waktu tinggal di Jakarta Selatan menghabiskan bensin 2 juta per bulan. Gak kebayang perjuangan mereka yang bergaji pas 3 juta. Bensin bisa menghabiskan 50% gaji Andi karena macet. Karena terlalu banyak mobil, jadi macet. Macet = boros bensin. Macetnya juga gak tanggung-tanggung. 1.5 jam di pagi hari dan 2 jam pulan ke rumah. Tangki bensin 40 liter itu, isinya terbuang percuma.
Rahman lebih prihatin dari Andi. Mobil aja dia gak punya. Rahman pergi memakai bus kota. Murah, tapi tetap kena macet dan lama. Dia kemudian memilih kereta yang selalu penuh. Hati ngebatin, dan naik kereta itu jauh dari nyaman, tapi Rahman harus menghemat uang.
Keduanya punya masalah yang sama selain uang yang habis di transportasi. Yaitu kenyataan bahwa waktu adalah uang. Di Singapura, seorang sales dapat melakukan sales visit ke klien 4-5 lcient per hari karena transportasinya efisien. Di Jakarta, Andi yang memakai mobil hanya bisa bertemu 2-3 klien. Rahman hanya bisa bertemu 2-3 klien juga. Ketika Andi harus ngedrop barang dagangan, itu pun terbatas karena macet. Rahman lebih parah Dia ngedrop barang dagangan naik bus, repot.
Apa Pilihan para golongan middle class ini?
Apakah di Jakarta itu transportasi massalnya kurang baik? Well baik-buruk itu relative.
Tapi yang jelas, kurang banyak. Kurang banyak untuk mengakomodir 12 juta penduduk Jakarta + 3 juta commuter dari area BODETABEK. Andi dan Rahman dan 15 juta orang yang bekerja di Jakarta punya pikiran yang sama, menghindari macet = punya lebih banyak waktu = lebih produktif dalam kerja = income tambahan + bisa punya waktu tambahan untuk keluarga. Bagi Andi, punya mobil itu menyedot keuangan dia. Bagi Rahman, transportasi umum tidak cukup cepat membawa dia menjadi lebih produktif. Keduanya mencari aternatif yang dapat menghindarinya dari kemacetan.
Rahman berada di garis antara golongan miskin dan menengah, Dia gak mampu beli mobil. Pilihan dia adalah:
1. Transportasi umum yang kurang memadai secara jumlah dan waktunya tidak dapat diandalkan
2. Motor
Andi mampu dan sudah punya mobil. Pilihan dia adalah:
1. Mobil
2. Transportasi umum yang kurang memadai secara jumlah dan waktunya tidak dapat diandalkan
3. Motor
Rahman yang ingin menjadi lebih produktif, akhirnya memilih motor. Andi yang mampu beli mobil, akhirnya juga beli motor.
Bagi Andi, ini adalah penghematan langsung untuk incomenya. Bagi Rahman, naik motor bensinnya gak lebih murah dari uang yang dia keluarkan naik kereta, tapi dia dapat bertemu lebih banyak klien dan punya kesempatan menjadi lebih produktif. Again, produktifitas tinggi = income lebih banyak.
Aplikasikan kasus Andi dan Rahman pada kita dan kita akan mengerti kenapa sekarang ada banyak motor. Yang gak mampu mending membeli motor untuk menghindari macet. Beberapa orang yang mampu beli mobil, meninggalkan mobilnya di rumah dan memakai motor.
Bagi golongan menengah, motor adalah pilihan yang lebih baik karena biaya bensin mengambil porsi besar dari income mereka. Golongan atas yang kaya, mungkin bensin 3-4 juta itu hanya 2-3% gaji mereka. Gak kerasa. Bagi Andi, kenaikan BBM akan menjadikan naik mobil itu sesuatu yang mewah bagi dia. Bagi Rahman, kenaikan BBM itu akan menaikkan tariff angkotnya. Bahkan bus pun akan jadi mewah bagi dia.
Penduduk Jakarta, meski mereka sering memaki pengendara motor, percaya atau tidak seharusnya bersyukur bahwa motor menjadi pilihan. Kenapa? Karena yang menjadi Andi itu bukan 1 orang, guys. 1 juta orang! Ada ratusan ribu orang mampu, yang memutuskan untuk tidak memakai mobilnya atau tidak membeli mobil meski mampu dan memakai motor. Anggaplah 1 juta orang. Kebayang gak jika orang seperti Andi ini memilih mobil? Niscaya Jakarta hari ini akan memiliki 1 juta mobil lebih banyak dari yang sekarang. Dan tahukah kita, bahwa 1 mobil itu memakan ruang jalan = 6 motor? Coba 1 juta orang ini membeli mobil ketimbang motor. Kebayang gak macetnya jakarta?
Motor secara langsung telah memerlambat laju pemadatan jalan di Jakarta, karena golongan menengah ini.
Saat ini semua orang dipukul oleh kenaikan BBM. Semua orang kecuali golongan atas, teriak.
Golongan menengah yang memakai mobil jelas teriak karena proposi bensin dari gaji mereka akan meningkat, sedangkan gaji belum tentu naik.
Golongan menengah dan miskin yang memakai motor juga teriak akan hal yang sama.
Golongan menengah dan miskin yang memakai kendaraan umum juga teriak karena angkot dan bus akan menaikkan tariff mereka.
Lantas dengan kenaikan BBM ini apa yang akan terjadi?
Ini yang akan terjadi:
1. Akan ada lebih banyak golongan menengah pemakai mobil yang beralih memakai motor dan transportasi umum. Bagi mereka, memakai mobil tidak akan making sense lagi dan motor atau kendaraan umumlah pilihannya. Makin banyak orang seperti Andi.
2. Akan ada lebih banyak golongan menengah pengguna kendaraan umum yang beralih memakai motor. Bagi mereka, gaji mereka terlalu kecil sehingga kenaikan tariff angkot, mikrolet dan bus sudah tidak making sense lagi. Sebagai ilustrasi: untuk pergi dari pin A ke B, Rahman butuh 3 kali naik angkot. Masing-masing monta 2000. Total satu trip 6000, Itu sama dengan 1 liter bensin. Lebih making sense make motor kan?
Di Mana Rahasia Pemerintah Kota?
Pertama, kita harus pisahkan yang namanya pemerintah. Pemerintah kota (pemkot) dan pemerintah pusat (pempus). Kedua, kita lihat dulu rantai kejadiannya.
Kenaikan BBM itu instruksi dari pempus. Kenapa?
Karena Pempus tidak punya pilihan lain. Kenapa?
Karena pembangunan di daerah yang berarah bottom up (ditentukan dari daerah) menciptakan kondisi di mana peningkatan mobil lebih tinggi dari pengingkatan pemakaian transportasi umum. Kenapa?
Karena semua kota lebih suka membangun jalan ketimbang membangun rel kereta. Lebih suka membangun jalan ketimbang bikin transbandung atau transolo misalnya.
Kenapa kebanyakan pemda tidak mengelola transportasi umum? Kenapa pemda malah membolehkan angkot dikelola swasta?
Karena system transpotasinya dikelola terbalik. Di negara lain, transportasi itu meliputi hajat hidup orang banyak. Karenanya menjadi tanggung jawab pemerintah. MRT di Barcelona hanya 1 euro. Mungkinkah segitu? Nggak! Pemerintah spanyol mensubsidi 5-6 eruo untuk setiap trip saking mahalnya biaya operasi di sana. Harga MRT di Singapura hanya 1-2 dolar. Emang segitu costnya? Nggak. Pemerintah sinigapur memanage uangnya dan mensubsidi biaya operasi MRT itu.
Di Indonesia, terbalik. Uang pemda dan pemkot gak cukup atau habis dikorup, sehingga pemda dan pemkot melakukan hal berikut:
1. menyerahkannya pada swasta. Di negara lain, pemda yang menentukan rute transportasi. Pemda yang keluar uang membangun infrasrtukturnya. Pemda yang menentukan harga tarifnya. Dan pemda yang mensubsidi marginnya. Pemda di kota-kota di Indonesia, terbalik. pengusaha angkot yang malah datang ke pemda. Mereka bayar uang untuk buka trayek. Tarif? Terserah swasta. Pemda untung berkali lipat. Keuntungan pertama, mereka tidak keluar uang untuk infrastruktur, malah pengusaha angkot yang usaha keluar uang beli 200 unit angkot. Pemda malah dapat uang trayek. Tahukah elo, bahwa ada 1 ruas jalan di jalan Ahmad Yani Bandung yang dilalui 14 rute angkot? Ngehek kan? Pemda juga tidak mensubsidi apa-apa. Pemda untung 3 kali. Kita ini memilih siapa yang layak menjadi gubernur, walikota dan bupati, tapi mereka tidak bekerja untuk kepentingan kita. Ini yang membuat kita sulit. Ketika BBM naik, ya tariff angkot juga naik lah.
2. Ketika pemda dan pemkot melihat pilihan antara bangun MRT dan bangun jalan, ini yang mereka lihat:
Bangun MRT:
Biaya infrastruktur, dari pemkot
Biaya operasi kereta, dari pemkot
Biaya subsidi tariff, dari pemkot
Bangun jalan:
Biaya infrastruktur, dari pemkot
Biaya operasi mobil, dari rakyat sendiri yang memakai mobil
Biaya bensin, dtanggung rakyat sendiri
Malah, pemkot dapat uang besar sekali dari pembayaran STNK tahunan yang mana adalah 5% dari nilai mobil.
Keputusan pemkot: bangun jalan lebih hemat bagi pemkot. Biaya hidup ditanggung rakyat sendiri. Pemkot malah dapet duit dari pajak.
Yang dibangun hanya jalan, jalan dan jalan. Yang subur hanya motor dan mobil. Pajak mobil lebih mahal. Bensin mobil lebih mahal. Transportasi umum kurang banyak. Pilihan rakyat apa?
Yep, you guessed it.
Motor.
Motor – Ibarat Jodoh terakhir yang buruk rupa tapi kita nikahi karena tidak ada lagi pilihan lain
Apakah motor solusi yang efektif? Tentu tidak.
Apakah motor bahkan sebuah solusi? Tentu tidak.
Tapi mau gimana? Kenyataan yang ada sekarang ini, Pemkot gak akan mengubah mindsetnya menjadi abdi rakyat. Mereka gak akan mau invest apalagi menanggung subsidi transportasi. Lebih baik suruh rakyat memakai mobil atau motor. Ini jepitan pertama rakyat. Jepitan kedua, antara mobil dan motor, mobil lebih boros bensin, pajaknya lebih mahal. Ya motor lah yang menjadi pilihan terakhir golongan menengah (dan golongan miskin).
Apa solusinya?
Gampang aja.
1. Kemauan pemerintah untuk merubah mindsetnya menjadi abdi rakyat, bukan tukang pajek.
2. Kemauan pemerintah untuk merubah undang-undangnya. Agar transportasi mereka tanggung.
3. Kemauan pemerintah untuk berhenti korupsi. Dengan sedikit korupsi, lebih banyak anggaran untuk bangun MRT.
4. Kemauan pemerintah untuk mereduksi PNS menjadi 40%-50%. Kerjanya lebih efektif. Dan akan ada sisa anggaran untuk membangun infrastruktur.
Sampai ini terjadi, kita bisa expect angka penjualan motor terus meroket. Selama semua paparan di atas menjadi realitas, kita bisa lupakan semua kebijakan, semua andai-andaian. Suka atau nggak, orang akan memandang motor sebagai solusi keuangan mereka. Solusi untuk mereka survive.
Rgds.



menarik mas. logis dan enak dibaca opininya. kira kira gimana caranya biar sampe ini suara ke pihak pemkot ya?
Izin copy ke note FB Kang,,
Ada peraturan BI mengenai batas minimun DP motor 25% dari semula Rp 500 ribu. Produsen motor agak khawatir dengan ini. Tapi tampaknya rakyat tidak punya pilihan lain selain memilih diantara ini, Mencicil mobil, motor, naik busway naik metromini, naik sepeda atau berjalan kaki ke apartemen terdekat.
Atau ngontrak rumah yang dekat tempat kerja.
Karena itu pemda mulai membangun apartemen (rumah susun), supaya rakyat bisa lebih dekat dengan tempat kerja. Tapi pengelola rusun bisa brengsek juga, bikin rugi pembeli. Sementara harganya juga gak murah dibanding dengan rumah dipinggir kota.
Mari berdoa supaya hidup di dunia ini makin barokah dan mendapat harta yang halal.
Hmmm sorry lupa bilang ini artikel yang bagus.
Titip satu isu lagi, tentang rencana “tersembunyi” pemerintah untuk menjadikan pulau Jawa sbg pusat jasa dan industri. Katanya bisa diartikan bahwa pertanian di Jawa tidak akan disokong lagi.
Abad 21, Matinya Pertanian di Pulau Jawa
http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2012/03/19/abad-21-matinya-pertanian-di-pulau-jawa/
Ayo keluarga Indonesia, masa sih gak bisa melahirkan pemimpin yang amanah barang 500 ribu orang. Keluarga Indonesia ini tugasmu….
tulisan yang sangat nalistis dan mengena.
betul2 sesuai dengan kondisi saat ini dan mendatang.
apakah kita menyerah? jangan, sangatnya kita menantang pemerintah (pusat, propinsi, kota,kabupaten) untuk bertindak pro transportasi massal, murah, nyaman, dan rapi.
BBM naik sampai sesuai harga ekonomisnya? nggak masalah, asal ada subsidi buat bangun transportasi yang baik dan murah.
HIduuuupp Kang Adiitt.. muehehehee..
Kang, cobaaak aja deh pemerintah Indonesia isi kepalanya kaya Kang Adit.. hmmmmhhh.. *doa komat-kamit*
well said ,tapi kok dampaknya cuma buat jabodetabek aja yah ?? indonesia bukan hanya jakarta looh -_-
analoginya jd kurang mendukung soalnya ane dari jakarta sekarang pindah keluar kota,dan 180derajat berbeda keadaan kendaraan umumnya jauh lebih baik menurut ane
yaaaah semoga aja,sekali lagi cuma bisa berharap ,kenaikan BBM ini diikutin perbaikan infrastuktur sama perbaikan dan penjumlaah kuantitas kendaraan umum di INDONESIA
tulisan yang bagus tapi ,like this
ini tulisan yg keren, mohon ijin disebarkan mas
Bang, gue terkesan banget sm tulisan lo ini. Jujur nih ya, lo itu kan anak teknik, tapi kok ngerti banget yang sifatnya politik-ekonomi-hukum gini-gini sih? Tau darimana? Sumpah gw aja yang mahasiswa hukum tp gak ngeh sm jalan pemikiran kayak gini? Impressive, bravo bang!
mas, cocok deh jadi gubernur ..kita dukung yooksss
tulisan yg mencerahkan…
Dear all, terima kasih atas komennya. Saya bersyukur jika tulisan ini mencerahkan.
kang adhit, ijin share link nya d facebook yah…
thx
Glad to read another of your articles after so long. I’m not entirely agree, though.
Nice kak! very very nice…
mohon ijin sebar tulisan asyik ini yaa..
mas, tolong “merubah” diganti “mengubah” ya
)
Salah satu cara untuk mengatasi ini adalah (menurutku): Teleworking, dengan semua transaksi n komunikasi bisa dikerjain via internet n media komunikasi lain, semua bisa dikerjain ga harus nemuin macet tiap hari otw ke kantor.pernah ngajuin ke kantor saya (yg mana adalah sepupu dr kantornya Aditya Mulya) sebagai salah satu cost initiative tapi dibilang terlalu revolusioner….
Mas, u know what, banyak orang punya ide ide brilian seperti yang mas tulis. tapi apa sih yang kurang?. yak, IMPLEMENTASI nya. rata2 mereka terbuai oleh fasilitas dan uang once mereka duduk di singgasananya.
saya yakin, yang diperluin negara kita sekarang adalah orang kuat, punya posisi/kekuasaan, jujur, dan amanah, yang mampu menghabisi cecunguk2 bangsa pengerat yang merampok bangsa sendiri *maaf agak kasar istilahnya mas*.
keep writing
rakyat dibikinin slogan ‘orang bijak taat bayar pajak’, kebalik ya..harusnya ‘pemerintah bijak gak korup pajak’. lagian mana bisa sih rakyat ngelak bayar pajak? gak bayar pajak udah dipotong lgsg dari gaji, tapi pemerintah sendiri ngurus korupsi aja gak kelar-kelar. pffftttt….
membaca posting di blog Adhitya Mulya ini sungguh menarik. Cermin dari perubahan pola pikir dan kematangan emosional seseorang. lebih dari sepuluh tahun lalu, jika saya baca blog dia, kebanyakan berisi tentang salah model cukur rambut, model popular atau pentingnya foreplay, tetapi sekarang, lebih ke arah sosio ekonomi dengan analisa yang bagus dan mendalam. Semoga bisa makin sering posting
Mantap gan, ini namanya suara rakyat. Saya sangat mendukung aktifitas anda. Baru kali ini saya membaca artikel di blog yg sangat menarik. Di tunggu posting2 yg laen gan.
komentar yang bijak,,,tak memihak siapa pun,,,berpikir logis,,,,semoga semua rakyat indonesia yg lain bisa terbuka pikirannya,,,saya sangat setuju.
setujuuuu…rakyat sudah patuh untuk bayar pajak tapi pemerintah/pejabatnya yang tidak menghargai hasil jerih payah rakyatnya…katanya wail rakyat…
Salam kenal, Mas Adhit!
Terima kasih udah bikin tulisan-tulisan seperti ini, sangat membantu saya memahami banyak hal. Saya suka gaya bercerita Mas Adhit yang to-the-point dan reasoningnya logical. Jadi mudah dimengerti anak muda seperti saya hahahaha! Keep writing this stuffs, Mas Adhit! It’s educating people about the reality di tanah airku tercinta ini. Entah kenapa jadi (sedikit) optimis setiap habis baca postingan Anda; mungkin karena setidaknya pelan-pelan saya jadi tahu MASALAH kita ini sebenernya apa, tinggal mendesain SOLUSInya, yang memang gak gampang. Reality bites.
With compliments.
[...] Analisis gue tentang transportasi di atas sudah pernah gue posting di sini: http://suamigila.com/2012/03/24/rakyat-transportasi/ [...]
ah ini ternyata fenomena yg terjadi di jakarta sana toh, motor solusi tepat guna untuk menghindari macet
nggak kebayang kerja di jakarta, mau berangkat udah stress sama macet, dikantor kerjaan bikin stress, pulang kantor kena macet lagi
orang jakarta itu sabar-sabar yah
Tulisan yang bagus, Mas. Terima kasih sudah berbagi pandangan dan informasi. Mungkin sebalnya kita adalah kita tahu bahwa kekacauan ini mayoritas terjadi akibat pengaturan yang kurang baik dari pemerintah, pemerintah sadar disalah-salahkan, tetapi mereka tidak peduli.
Pekerjaan Rumah yang berat untuk kita, tetapi masih bisalah ya.
[...] long until our transportation system is more reliable and comfortable to use. Oh, here's an interesting approach of viewing the transportation system in Indonesia by Adhitia Mulya. 4. I end up thinking that my motorbike is the most reliable and fastest mode of transportation to [...]
Ijin share di FB