Persiapan Sebelum Menikah

Baru-baru ini nemu kasus di mana seseorang, katakanlah X dan Y menikah. Agak miris juga sih. Sampai sekarang mereka hepi-hepi aja. Tapi mereka berada dalam beberapa masalah praktikal seperti, mau DP rumah tapi salary gabungan kurang cukup. DPnya juga kurang cukup. Mau DP pun anak sedang dikandung. Intinya they wanted to progress tapi ternyata ada beberapa hal yang sebaiknya mereka miiki sebelum nikah, belum mereka miliki sampai mereka telah menikah dan sedang mengandung anak.

I’m not an expert in finance but I do intend to share what I know. Semoga bisa jadi bahan rujukan adik-adik kita yang sedang berjalan menuju stage ini.

Gue rasa di jaman susah gini, gak ada salahnya pasangan yang akan menikah duduk bareng dan buka-bukaan soal uang. And as an individual, we want to be the part of the solution kan, bukan part of the problem.

Intinya gini. Ketika seseorang menikahi kita, dia akan mengabdikan semua dirinya untuk kita dan keluarga yang akan kita bangun. Oleh karena itu, mereka berhak untuk tidak menikah dengan masalah kita. Kalo kita punya utang, yuk coba sebaik mungkin bereskan dulu, demi kita dan demi dia. Masak iya udah lah dia mengabdikan semua hidupnya untuk kita, dia juga jadi susah beli rumah, gajinya yang seharusnya buat pensiun kita, abis buat utang-utang kita. Gak tega kan ya.

Sebaliknya juga gitu. Kita akan mengabdi pada dia selamanya. Kita berhak untuk mendapatkan pasangan yang bersih lahir batin. Soleh iya, namun kalo soleh tapi punya utang CC 20 juta dan credit score buruk? kita bisa terlantung-lantung 5 tahun gak bisa ajukan KPR.

Things you might want to check before marriage:

Debts
1.a. Pastikan kita sendiri gak punya CC debt. CC debt akan menurunkan credit score kita di BI. Ini akan bermasalah ketika pasangan akan membeli rumah. Bisa jadi pasangan kita bersih, eh credit score kita buruk. Kalo udah gini, kasian pasangan kita apalagi kalo dia udah mati-matian nabung.

1.b. Pastikan calon pasangan gak punya CC debt. Sebaliknya juga berlaku, dia harus kasian juga dong sama kita kalo kitanya yang udah hemat kiri kanan buat beli rumah, tapi KPRnya ditolak bank.

2.a. Pastikan bahwa selain CC, kita juga gak punya utang apa pun, berapa pun, dalam bentuk apa pun. Menikah adalah kegiatan di mana reputasi finansial (credit score) dan daya beli 2 individu menjadi satu. Menikah juga adalah titik di mana kita bukan lagi menjadi tertanggung namun menjadi penanggung dan penanggungan ini pertanggunjawabannya juga ditanya di akhirat nanti. So we might want to be ready and make sure there is no minus in our bank account before we start. Kita ingin memulai rumah tangga setidaknya dari titik nol, bukan dari titik minus. Jika masih minus, tidak apa-apa. That doesn’t make us a bad person. Tapi sebaiknya dibereskan dulu.

Mungkin ada beberapa lajang yang nyicil mobil. This is fine. Meski sebaiknya dilunasi dulu atau setidaknya jika belum, bisa lunas saat menikah, benar-benar didata dulu sebelum nikah. Konsekwensinya, cicilan mobil ini akan mengurangi daya cicil kita dalam mencicil rumah.

2.b. Pastikan kondisi utang pasangan juga sehat.

Dua hal di atas sangat realistis untuk dilakukan. Ini pasti bisa dilakukan semua orang.

Tanggungan
3.a. Data semua tanggungan sebelum nikah. Di sini mungkin orang mulai variatif. Mungkin ada orang yang bukan punya utang namun punya tanggungan seperti biaya kuliah adik, biaya sakit orang tua, atau kita mensupport orang tua. Ini jangan dihitung sebagai hutang namun sebagai tertanggung. Jangan juga dihitung sebagai beban. Mereka darah daging kita juga kan. Kalo gak ada mereka belum tentu kita seperti ini.
Yang jelas, tertanggung ini sebaiknya didata aja untuk memanage expectation.

Contoh kasusnya. Waktu pacaran, istri gak bilang bahwa biaya rumah sakit bapaknya 5 juta sebulan. Padahal suami sangat ingin beli rumah perdana. Setelah menikah, rencana itu terpaksa tertunda. Marahan. Dengan mendata tanggungan, pasangan bisa memanage expectation.

OK, 3 perihal pertama adalah tentang tanggungan dan yang minus-minusan ya.

Aset

4. Disarankan untuk memiliki asset, bukan liability (maaf terdengar seperti Robert Kiyosaki). Aset ini bisa semua hal definisi dari asset dari mulai jumlah tabungan yang cukup, atau saham, LM atau rumah. Kalo bisa beli rumah dari gaji single sendiri, itu fantastic. Malah sebaiknya beli rumah itu gak perlu nunggu nikah kok. Dan gak harus cowok yang beli rumah. Khusus untuk laki-laki, beli rumah sendiri berguna jadi mas kawin. Ntar kalo nikah bisa dijual, jadikan DP dan bersama salary istri beli rumah yang lebih besar. Perempuan juga begitu.

5. Disarankan untuk convert semua liability jadi asset. Ada temen yang realistis. Dia punya mobil kesayangan waktu dulu kuliah. Pas nikah, itu mobil dia jual, jadiin DP rumah dan dia+istri naek motor. Heart breaking? Yes. Tapi dia bilang that was the best decision of his life karena dia melihat harga mobilnya seidkit demi sedikit turun sedangkan harga rumah naik terus.

6. Buat cowok (dan muslim – maaf), biasakan beli emas sedikit demi sedikit dari awal kerja sampai menikah. Sunnah nabi menyatakan bahwa sebaiknya mas kawin dari pria utnuk wanita adalah sesuatu yang memiliki nilai gadai. Ini agar jika terjadi sesuatu, mas kawin itu bisa digadaikan dan membantu keuangan. Baiknya sih emas atau apa terserah (yang jelas bukan pompa aer). Yang jelas, sajadah dan seperangkat alat shalat, meski memiliki nilai agama yang tinggi, tidak memiliki nilai jual.

Let’s review how realistic the above 3 are. Semua mungkin, asal hitungannya dingin dan tidak pakai emosi. There is no such thing as mobil kesayangan. Yang ada hanya mobil. Atau mungkin dengan gaji 5-6 juta kita belum bisa cicil rumah 1.2 M. tapi gaji segitu bisa kok cicil rumah 40/90 di depok yang harganya 90-150 juta.

Lebih baik investasi kecil yang riil tapi naik ketimbang keinginan yang hanya tinggal keinginan.

Lebih baik murah dan sederhana tapi kebeli ketimbang yang jetset dan highclsss tapi gak kebeli-beli.

Meski kecil dan jauh, valuenya naik. Bisa jadi mas kawin, dan bisa jual dengan profit setelah menikah untuk beli rumah baru.

Finance

7. Ini untuk menjawab, berapa sih nilai tabungan+asset kertas yang sebaiknya seseorang miliki sebelum menikah? Di sini pasti jawabannya variatif dan secara nominal berbeda. Maka dari itu mungkin rumus ini bekerja:

Nilai tabungan+asset kertas minimum = ½ ongkos nikah + ½ DP rumah (jika belum punya rumah) + ½ ongkos melahirkan Caesar + 6 bulan biaya hidup

Semuanya ½ dengan asumsi pasangan kita akan cover setengahnya lagi. Atau dalam kasus ongkos melahirkan Caesar, dicover asuransi kantor.

DP rumah masuk rumus ini jika belum punya rumah. Memang bisa ngontrak atau bareng orang tua. Tapi alasan kenapa kita tinggal bareng orang tua atau ngontrak adalah karena kita mengumpulkan uang untuk suatu saat beli rumah sendiri kan? Jika pun bukan itu alasannya (mungkin untuk menemani orang tua), kepemilikan rumah oleh sebuah rumah tangga cukup penting sebagai tabungan asset keras. Malah jadi lebih untung akrena saat kita menemani orang tua di rumahnya, rumah itu kita kontrakkan dan autofinance dengans endirinya.

Ongkos melahirkan masuk sana just in case kita subur wakakak. Seriously, ada beberapa orang yang tokcer dan gelagepan juga. Alasan kenapa ongkos melahirkan masuk sana juga karena ini: Kalo baru nikah dan ngejar beli rumah, ngejar lunasi CC, ngejar beli motor atau mobil. Biasanya untuk melahirkan itu suka aja kelupaan.

Kayaknya 7 faktor ini juga udah cukup ya for now. Gue sengaja segeneric mungkin karena gak mau menggambarakan betapa horornya menikah itu.

Semua factor ini ada dengan asumsi kita tidak diberi bekal oleh orang tua. Memang pasti orang tua berusaha memberikan yang terbaik ya. Ada yang bayarin nikahan, ada yang beliin rumah atau mobil. Tapi ketujuh factor ini gue pikirkan dengan asumsi kita tidak mendapat pertolongan dari orang tua atau mertua. Pemberian itu gak salah malah kita harus bersyukur ada yang meringankan.

Menikah itu bukan solusi. Menikah itu pekerjaan yang hasilnya akan ditanya pertanggungjawabannya di saat kubur nanti. Makanya untuk teman-teman yang menikah ‘untuk menghindari zinah’ percayalah jangan pakai alasan itu. Ada banyak masalah yang akan datang hanya karena gak tahan syahwat. Menikah tanpa bekal akan membuat tanggungan kita sengsara dan bukti bahwa kita tidak siap. terlebih lagi bisa buat orang tua kiat sengsara. gue kenal seorang ketua remaja mesjid, menikah saat kuliah. Ketika anaknya lahir, ibu dari ketua masjid itu harusjual emasnya untuk biaya lahir cucu. Alim? iya. Siap menikah? well, gue bilang sih seharusnya nanti dulu ya. Dia kan udah jadi penanggung, kok ya masih ditanggung sang ibu? Dan saat itu terjadi, kita (terutama laki sebagai kepala keluarga) dituntut petanggungjawabannya.

Makanya, gak ada salahnya seseorang mengambil prinsip:

waktu kecil gak nyusahin orang tua, udah tua gak nyusahin anak.

Gue sendiri gak ada satu pun yang lulus ketika gue menikah huahaha. But I was lucky to go to Africa. Kalo belum nikah gue pribadi akan memertimbangkan yang di atas.

Pertanyaan kedua mungkin adalah, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjaga 7 faktor di atas? Regret there is a time frame for this.

55 adalah usia kita pensiun.

21 adalah usia anak terakhir lulus kuliah. Plus + 1 tahun in case dia gak naik kelas.

1 tahun adalah mengandung anak terakhir (kecuali hamil sebelum nikah).

Sediakan 1 tahun in case proses punya momongan gak terlalu tokcer.

55-21-1-1-1 = 31 tahun.

Time span seseorang untuk mengumpulkan 7 faktor di atas adalah dari dia mulai lulus kuliah usia 21-22 tahun, sampai umur dia 31 tahun. Sekitar 10-11 tahun. Jika ingin punya 2 anak, then time span is shorter.

Ini semua membuat kita sadar beberapa hal:
1. belum kerja? then mari cari kerja/buka usaha yang benar.
2. Udah kerja tapi gaji kecil? ini pertanda kita harus cari kerjaan lain.
3. pengen kerja tapi susah. Ini pelajaran bagi yang masih kuliah untuk belajar dengan benar. Miliki IPK yang baik agar keterima kerja yang bener atau buka usaha dengan perhitungan yang bener.

Semoga bermanfaat. I’m not an expert on this. I just intend to share.

74 responses to “Persiapan Sebelum Menikah”

  1. ibnumarogi says:

    Menikah itu bukan sekedar jenjang menunaikan kewajiban agama, tapi memang banyak faktor yang lainnya. Saya seperti tersadar bahwa menikah meski bukan hal yang susah banget, tapi tidak bisa dikatakan mudah [yang, di tengah-tengah gitu lah].

    Semoga artikel ini bisa jadi bahan rujukan bagi saya, dan juga ‘adik-adik yang sedang berjalan menuju stage ini’.

  2. Subhanallah.. Terima kAsih banyak atas sharing infonya.. Bener2 membuka mata.. walaupun saya tidak ada rencana menikah dalam wakktu dekat..Paling tidak ini jadi input besar buat saya.. ^_^.. Moga jadi ilmu yang manfaat dan barokah Amiien.

  3. Mantab Kang. Terimakasih banyak buat checklistnya. Apparently banyak banget yang belom disiapin. Termasuk saya sendiri masih terlilit hutang kartu kredit. It is my first priority to ge rid off my credit card debt.

    What a list to go but thanks.. :-)

  4. anggi says:

    terima kasih infonya Kang, worth to try for a single like me :D

  5. phio says:

    thanks bang atas postingannya….
    bermanfaat bangettt…. :)

  6. sepuas hati says:

    mikirin nikah? belum sampai situ. Masih sampai mikirin yang mau diajak nikah itu siapa? Sigh.

  7. Ira says:

    makasi banyak mas buat rujukannya. Jadi lebih kebayang dari sebelumnya :D

  8. Shasha says:

    Another great thoughts kang!
    Meskipun belum kebayang bakalan nikah dalam waktu dekat, tp tulisan ini benar2 menampar krn ngingetin saya kalo nikah bukan cuma soal penunaian perintah ‎​اَللّهُ dan sebagai jalan keluar dr ‘menghindari zina’ doang :p

    Rasanya pengen di share ke semua temen2 saya yang bakal nikah dlm wktu dekat.

    Makasih banyak kang, checklist ini bakal saya ikutin sbelum nanti benar2 menuju kesana :)

  9. risa says:

    hoho banyak bgt yang harus disiapin ya kang..at least saya masih punya bberapa taun lagi buat ngumpulin dana..tapi susahnya uang tabungan seing kepake buat beli gadget baru T_T

  10. risa says:

    hoho banyak bgt yang harus disiapin ya kang..at least saya masih punya bberapa taun lagi buat ngumpulin dana..tapi susahnya uang tabungan seRing kepake buat beli gadget baru T_T

  11. didi says:

    bagus dit, asli.

  12. Ocha says:

    Ijin share yaa…bagus banget.

  13. psw says:

    mantep, jadi ada gambaran setelah baca ini, sebelumnya yang penting ada duit buat mahar+resepsi. :D

  14. ndoel says:

    thx kang, pencerahan2.. :D

  15. Hacques says:

    Terima kasih ya, ini sangat bagus buat rujukan saya dan calon suami, Insya Allah dalam waktu dekat.

    Benar-2 berguna ^^

  16. Bulan Purnamasari says:

    ijin share ya Dit…

  17. Tata says:

    Greaatt!!! Terima kasihh.. Sangat bermanfaat bagi saya, kebetulan tahun depan insyaAllah akan menikah. Langsung forward ke calon suami, buat bahan diskusi. Nice post :)

  18. Dian says:

    Very informative and useful. Thank you banget sudah mau sharing ke kita2. It’s nice that you broke down the plan step-by-step.

  19. wied says:

    thanks sharingnya. kebetulan berencana menikah dlm wkt dekat. ditunggu tips2 lainnya kang…

  20. hiro says:

    weh. postingan yang sangat mantap! sassuga adhitya mulya!

  21. ibudosen says:

    semoga yang baca jadi tercerahkan, baguuuus tulisannya :)

    jadi inget ada aktivis mushola yang kawin dengan mas kawin hasil kencleng temen2nya, anak lahir juga idem dibiayai “kencleng umat”

  22. [...]  banget  dari Adhitya Mulya (selama ini emang postingannya selalu berguna, meski ga rutin). Check it out…its for gurls and boys….yang punya rencana future biar lebih [...]

  23. aimangayatri says:

    mantap! membuka mata dan nambah ilmu. Jangan bosan berbagi ilmu ya pak suamigila, semoga barokah selalu, amin ^^

  24. Linda says:

    seandainya postingan ini ada sebelum saya menikah mungkin keuangan keluarga kecil kami tertata rapi lebih dini :). TFS!

  25. huger dhanu says:

    Share ilmu yang sangat baik. terima kasih,,
    Luar biasa tulisannya yang ini “Menikah itu bukan solusi. Menikah itu pekerjaan yang hasilnya akan ditanya pertanggungjawabannya di saat kubur nanti. Makanya untuk teman-teman yang menikah ‘untuk menghindari zinah’ percayalah jangan pakai alasan itu. Ada banyak masalah yang akan datang hanya karena gak tahan syahwat. Menikah tanpa bekal akan membuat tanggungan kita sengsara dan bukti bahwa kita tidak siap. terlebih lagi bisa buat orang tua kiat sengsara. gue kenal seorang ketua remaja mesjid, menikah saat kuliah. Ketika anaknya lahir, ibu dari ketua masjid itu harusjual emasnya untuk biaya lahir cucu. Alim? iya. Siap menikah? well, gue bilang sih seharusnya nanti dulu ya. Dia kan udah jadi penanggung, kok ya masih ditanggung sang ibu? Dan saat itu terjadi, kita (terutama laki sebagai kepala keluarga) dituntut petanggungjawabannya.”

    kalau kita hidup hanya untuk dunia pasti saya akan sangat setuju sekali dengan paragraf yang ini, dan akan mempertahankan pendapat manusiawi ini. Tapi sayangnya bagi saya menikah bukanlah pekerjaan melainkan ibadah yang apabila dilakukan lebih cepat akan lebih baik. “menikah bukan solusi?” saya belum begitu mengerti solusi untuk apa menurut penulis, apakah penyaluran syahwat atau pembentukan karakter atau mungkin solusi keuangan bagi pasangan yang mau menikah.
    kalau untuk yang ketua remaja masjid itu menurut saya yang meminta pertanggung jawaban adalah orang-orang di sekitar dia, hanya Dia sang Maha Kuasa lah yang berhak meminta pertanggung jawaban terhadap hamba-Nya, mungkin ilmu sosial ketua remaja masjid tidak sebaik orang-orang di sekitar yang melihat istrinya dibiayai oleh orang tua adalah bukti ketidak mampuan sebagai suami, tetapi di mata Tuhannya tentu bukan itu yang dilihat, karena di Islam ada hukum-hukum menikah yang berbeda, tentu mas Adhit ini sudah membaca buku-buku menikah karena tulisan yang berisi tentu didapat dari banyaknya pengetahuan yang didapat oleh mas Adhit ini,,

    terima kasih,, salam sesama Suami…

    • admin says:

      Mas Dhanu, salam kenal. Mohon maaf saya harus tidak setuju dengan Mas. Dan saya ingi semua orang yang membaca komen ini sadar di mana letak ketidaksetujuan ini.

      Mas Dhanu bilang: Tapi sayangnya bagi saya menikah bukanlah pekerjaan melainkan ibadah yang apabila dilakukan lebih cepat akan lebih baik.

      Menikah adalah ibadah. Saya setuju. Dan dalam ibadah itu terkandung kewajiban kepala rumah tangga untuk mencukupkan keluarganya. caranya dengan bekerja dan dengan memersiapkan diri lahir batin, moril dan materil di saat sebelum dan ketika sedang menikah. Kita kita moril siap namun namun materil tidak siap, pertanggungjawaban macam apa yang bisa kita berikan?

      Ambil seseorang secara moril siap. Agama kuat. Al quran hafal 30 juz. Tapi ketika anak bayi butuh makan, dia masih ke kakeknya meminta uang pensiunnya “Pak, minat uang pak, untuk susu cucumu”. tetap saja orang ini bersalah. Salah karena tidak siap memberi makan sang bayi, dan masih saja menyusahkan orang tua di saat dia sendiri menjadi seorang orang tua. Siap moril bagus. Lebih baik lagi jika materil siap. Siap materil tidak berarti harus kaya. Tapui harus cukup untuk diri sendiri dan keluarga yang dia tanggung. Kita harus ingat satu hal. Anak kita tidak minta kita lahirkan. Kita yang berbuat. Jika kita yang berbuat, kita yang harus siap.

      Jika melihat contoh ini, jelas sekali lebih cepat lebih baik tidak berlaku. Lebih pas jika konteksnya: Lebih cepat lebih baik setelah kita mandiri secara finansial.

      Mas Dhanu bilang: hanya Dia sang Maha Kuasa lah yang berhak meminta pertanggung jawaban terhadap hamba-Nya,

      Kalo saya pribadi, saya selalu berusaha belajar seimbang antara mendekatkan diri dengan Tuhan dan berhubungan baik dengan manusia. Dari yang saya pelajari, Al Quran berisi 30% tentang hubungan dengan Allah. dan 70% hubungan dengan manusia. Allah ingin menekankan bahwa hubungan denganNya sama pentingnya dengan hubungan dengan sesama manusia. Misalnya sebagai ayah kita gak pernah putus mengaji semalaman. tapi anak saya kelaparan. Saya salah. Kewajiban saya adalah mencukupkan anak istri saya sewajarnya. Itu diajarkan di dalam Al Quran yang saya baca. Jika saya mengerti apa yang saya baca, saya akan mengatur waktu lebih baik antara habiskan waktu mengaji dan keluar rumah mencari uang untuk mencukupkan anak saya. Anak saya gak minta kok lahir dari keturunan saya. Tapi zalim sekali saya untuk membuat dia kelaparan. Bagaimana menurut kita Penilaian Allah? Akankah dia menghargai cara kita menghabiskan waktu kita?

      Kalo saya gak ngerti intisari dari kitab yang saya baca, nasib saya akan sama dengan ketua remaja mesjid itu. hafal al quran tapi gak nyadar bahwa di dalam al quran itu diajarkan kewajiban mencukupi keluarga saya. Bukannya menyusahkan orang lain. Dan mari kita ingat, bekerja mencukupi keluarga sewajarnya adalah ibadah. Inti dari pernikahan itu sendiri.

      Seperti itu Mas Dhanu.

  26. tata says:

    saya setuju ama “admin” dan (maaf) amat sangat gak setuju ama mas dhanu…
    orang yg hanya mementingkan ibadah pada Tuhannya kadang sangat picik cara berpikirnya..
    ibadah itu gak melulu soal menjalankan ritual kewajiban, mensejahterakan keluarga itu juga ibadah
    alim tapi ngrepotin orang lain setelah dia menjalankan ibadahnya (called menikah) well….apa kayak getu bisa disebut BIJAK??

  27. Agus R says:

    Cool, saya membaca postingan ini di usia saya yg ke 31 dan belum menikah. Very inspiring. Tq

  28. santi says:

    cool. Membuat saya ingin segera melunasi semua cicilan. hahaha.

    saya setuju dengan pendapat om ademin, eh admin :P
    dan kurang sepaham dengan mas dhanu *maaf lho mas*
    Menikah yang dilakukan hanya dengan berpegang pada lebih cepat lebih baik, tidak selalu menimbulkan masalah, akan tetapi pada umumnya, mayoritas, akan menimbulkan masalah. Misalnya karena alasan mental yang belum siap dan emosi sesaat yang dirasakan pada saat memutuskan untuk menikah. Jadi, kematangan mental juga diperlukan saat menikah, bukan hanya lebih cepat lebih baik, maka pas akil balik lalu menikah.
    pertanggung jawaban bukan hanya diminta dan dilakukan oleh Dia yang maha pengasih loh mas dhanu, tetapi juga wajib diberikan kepada istri dan anak.

    Semoga bisa menjadi sudut pandang lain bagi semuanya. Amin

  29. edp7 says:

    Mansab broder…
    Mesti pinter nabung buat para cow yg mau nikah trus diusahakan punya sumber penghasilan tambahan diluar gaji dari perusahaan..

  30. me says:

    bagussss..malahan saya nyuruh pasangan saya baca ini,,hihihihi

  31. anak betawi says:

    Saya suka baca tulisan anda, cuma kalo bisa gunakan bahasa yang baik, kalau menggunakan Indonesia, ya pakai Indonesia semua, kalau inggris, pakai inggris semua. Model yg begini neh merusak bahasa.

    salam
    Anak betawi orang indonesia asli

  32. bonaey says:

    “Persiapan Sebelum Menikah” secara finansial di kota metropolitan kali nih judulnya???

    gak usah digeneralisir lah semuanya..

    toh pasangan yang menikah biasanya didasari sama niat baik, dengan begitu mereka bakal berusaha sebaik mungkin supaya bisa kasih makan keluarga, beli rumah, sekolahin anak, dll.

    kalo soal dibiayain orang tua terus kenapa? kalo toh itu emang udah jalanya, seperti lo yg “LUCKY go to AFRICA..” gak usah bawa2 alim.. ==”

    udah ah paling komen gw di ignore sama admin yg un open minded kayak gini..
    ini blog lo suka2 lo deh hahah…

    suamigila? suami itung2an kalih…

    • adhitya mulya says:

      Tidak semua saran bisa diaplikasikan ke semua orang. Setuju silahkan, gak setuju ya gak papa.
      Gue sendiri gak bilang dibiayain orang tua itu salah. Kalo memang iya ya rejekinya seperti itu dan Allah tidak akan pernah salah memberi rejeki. Itu aja.

  33. indira says:

    Bonaey, lucky go to africa apaan tuh artinya? Si lucky pergi ke afrika? marah2 ko ngga belajar dulu sih?

  34. juleha says:

    Gue setuju sm apa yg diutarakan Adit. Gapapa dibilang suami itung²an Dhit,hari gini kalo ga matre dikit idup sengsara.. Ibadah jg ga khusyu kalo anak-istri dirumah blom pd makan, hari ini mau dikasih makan apa. Tangan diatas jauh lebih baik dr tangan dibawah. Masa iya buat ngidupin anak istri sendiri mau”namprak” dr orang lain.

  35. Prima says:

    Hehehe…true mas.

    Saya punya cerita. Ada pasangan yang nggak hamil duluan. Tetep melalui masa menikah dan hamil. Eh, pas mau lahiran sibuk pinjem kanan kiri katanya untuk kebutuhan darurat. Kebutuhan darurat melahirkan maksudnya. 9 bulan ketika hamil kemana aja?!

  36. suwel says:

    kalau itu niatnya baik, lakukan saja!!!menurut saya semua pendapat diatas pasti ada niat baiknya walaupun beda pendapat. jadi kalau itu menurut anda baik, lakukan saja dan yakinlah bahwa Allah akan selalu membimbing dan memberi petunjuk kepada kita, insya allah.

  37. venes says:

    Menarik! Tulisan yang sangat menarik Kang. Hatur Nuhun. Saya jadi termotivasi untuk mengumpulkan uang sebaik-baiknya dan sehalal-halalnya demi keluarga masa depan yang bahagia sejahtera. Thank you

  38. wening says:

    Waw, membuat sy jd dagdigdug,,
    karena benatr lagi merit, tp masih blank dot com buat planning financial after merit,,klo ada kang adith mau donk financial review after merit, walopun bilangnya bukan axpert di bidang finansial, tp biasanya justru punya trik jitu buat kaum awam sperti saya hehe..
    suksess :D

  39. christin says:

    Setuju banget sama postingan ini :) mudah-mudahan banyak cowok yang sepikiran sama adhit supaya keluarga Indonesia makin maju tingkat ekonomi (dan tentunya) kesejahteraannya .

  40. sabiwirhiji says:

    wow..sae pisan kang adhit!
    Izin share ya!

  41. Ifa says:

    Terima kasih ya, mas Adhit atas tulisan yg berguna ini. kadang saya juga ga abis pikir sama orang yg menikah di saat kuliah, atau masih belum punya pekerjaan…klo saya sih malu ya masih minta ke orang tua untuk menghidupi keluarga saya -semampu apapun orang tua saya-
    menyempurnakan separo agama?iya. tapi klo krn blm siap scr finansial pasangan jadi sengsara kan jatohnya jadi zalim. saya izin share ya mas.

  42. Bi Willy says:

    Adhit, saya suka sekali posting yang ini. Semua posting juga suka, tetapi yang ini benar-benar eye opener, jelas, tegas, lugas, dan right to the point. Memang ya kalau menikah, pesta, happy semua juga mau. Banyak yang belum mengerti hal-hal di atas yang Adhit jabarkan, kebayang kalau urusan pre-nuptial agreement juga dimasukkan bakalan tambah tercengang ya. Good point dan memang perlu kalau urusan finance ini.

  43. agaluh says:

    wah ane banyak setujunya nih sama postingan ini, pas banget ane baru mau ngambil KPR.

  44. matijoni says:

    makasih banyak mas. Sebelumnya kalo diajak ngomong pernikahan ama pacar, saya yg mengelak. Bukan karena gak niat tp masih ruwet bener ga ada gambaran step by step apa yg musti disiapin. Abis baca postingan ini langsung pede ngajak diskusi pacar tentang pernikahan. Hasilnya? doi yg mumet karena ga pernah mikir sampe sekompleks gini.. lol

  45. Shafia says:

    wow..great!! thx kang adit …

  46. reno says:

    hai adhit, makin maju aja nih pemikirannya. untuk itu aku salut sama dirimu dan keluarga yang pasti menjadi sumber inspirasi keseharianmu yang semakin bermanfaat waktu demi waktu ya. berbekal baca dan lakukan hasil2 pemikiranmu selama ini, keluarga kecil aku alhamdulillah merasakan manfaatnya. serius. aku cuma ingin kamu tau kalau “ilmu yang bermanfaat” sudah kamu siarkan dan sungguh menentramkan hati aku dan suami dan suatu saat pasti aku tularkan kepada buah hati kami. terima kasih ya adhit. jangan pernah bosan membagi isi kepalamu :)
    salam.

  47. azi minako says:

    hy dit.gue dr m’sia.apa sih DP sma ML?gue bru tau psal ML stlh nonton jomblo …masalahnya org indonesia sering pkai shortform.jd gue ngak ngerti donk.bantuin gue.bisa aja lo list down shortform sma kata pnjangnya.jomblo lucu banget deh!!

  48. [...] selanjutnya ga bisa di buka tanpa gue beli rumah dulu nih. Coba baca ini deh. Abis baca itu, gue berpikir ribuan kali buat buru-buru menang targetnya tahun ketiga [...]

  49. anio says:

    Jadi intinya, pilih makan cinta atau makan nasi?
    Kalo orang jaman dulu pernikahannya baik baik aja karna pasangannya “belum siap” itu karena jaman dulu beras masih murah, rumahpun tinggal sama ortu :)

  50. ayuparamita says:

    ijin copy paste di Blog ya om…..
    buat catatan ……

    keren amat analisis nya…………

  51. baim says:

    ijin ccopas ya masss

  52. jojo says:

    wuih keren nih two thumbs ijin d cop jg yah om,,,,

  53. pety puri says:

    siiiiiiiip bisa jadi wacana nih *mumpung saya belum menikah :)

    salam kenal, mas Adit… nice to know you closer here :)

  54. Intinya hidup ini penuh dengan deadline ya kang adhit :)

  55. dee says:

    Assalamualaikum mas Adhit (merujuk bukunya mas Catatan Mahasiswa Gila yang sering salah nulis nama ;> ),
    Postingan ini bener2 membuka mata hati n pikiran, walo saya udah nikah tapi kesulitan yang disampaikan udah dialami mpe sekarang. Semoga semua yang akan dan sedang menjalani pernikahan bisa terbebas dari hal2 seperti ini, aamiin….
    Ijin copas y mas

  56. ara says:

    terpesona sama tulisannya. WAW.

  57. [...] belum nikah – ini termasuk saya juga – bisa baca postingannya Adhitya Mulya dulu di http://suamigila.com/2011/05/16/persiapan-sebelum-menikah/. Kali aja bisa menginspirasi sebelum bener-bener bertemu dengan jodoh masing-masing.  Betewe, [...]

  58. aldi says:

    wah, telat gw bacanya.
    dah kadung nikah 7 thn lalu, pas belum punya apa2, pas utang lg menggunung.

  59. iskandar says:

    hororrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrudin, intinya sebagai laki-laki kita harus cari uang yang banyak………………………………dan halal, bisa g y…….butuh beberapa faktor.

  60. iskandar says:

    sayah pikire

  61. Wirya says:

    Just intend to share as well.

    Rejeki, itu hak Allah untuk mengorchestrate. Perhitungan matematika tidak akan bisa untuk memforecast cukup tidak cukupnya.

    Dulu waktu sebelum gw menikah, kesiapan financial sudah dihitung dan akan cukup. Jalan beberapa bulan. ada musibah. Family member got ill, semua tabungan habis dan harus hutang kanan kiri.

    semua perhitungan di atas kertas meaningless. I cried, solat duha hampir tiap hari, mengemis sama Allah untuk dicukupkan.

    Today, 2 years has passed. Keadaan berubah 180 derajat, alhamdulillah rejeki datang dari berbagai arah tak terduga. Semua utang lunas, medical cost teratasi, rumah dan kendaraan lebih dari cukup.

    Really within just 3 years keluarga kami pernah berada di dua titik ekonomi ekstrim yang berbeda.

    Prepare your best financially, dan pasrahkan sama Pemilik dunia.

  62. nadia says:

    sebagai first Jobber yang udah kerja 5 tahun, (eh bukan first lagi dong ya kang? hehe) saya tersentak baca tulisan ini.
    ngebut pengen nikah tanpa ngeh sama kondisi finansial saat ini. kebanyakan gaya, dan (almost) zero saving. walaupun alhamdulilah gak ada utang CC.
    terimakasih untuk pencerahannya, semoga masih bisa kekejar untuk persiapan.

  63. Sazali says:

    Tulisan bagus sekali. Saya sudah terlanjur segera menikah, tapi apakan daya, planning harus jalan. Meski tabungan yang ga cukup dan masih kredit rumah, dan saya harus jual motor saya…

  64. Fitri says:

    Heeem heeem,,,manhuuk q om,,,
    nikah niku mboten cuma modal siap aliaas hoo’oh ajh y,,msok mpon nikah biaya anak lahir minta uang nyokap kan ksiaan tu

  65. supri says:

    Subhanallah. Tulisannya sangat bagus sekali. Yakinlah bahwa allah akan menambah rizki orang sudah menikah jika di bandingkan dengan orang yang belum menikah. Kalo sudah mampu, segeralah menikah, jangan takut untuk menikah. Ayo susun rencana mulai dari sekarang agar kita cepat menikah. Semoga sukses. Amin

  66. LikeAnEarth says:

    ijin copas di blog saya…
    bwt catetan..
    :p
    makasih..

  67. matahari says:

    izin share yaa :)

  68. nartie says:

    bagus banget mas adhittt , izin copas yaaa :)

  69. dida says:

    thanks yaa :)

  70. Rendy says:

    makasih banget ilmunya bang, mantep!

  71. fitri says:

    Mas, makasi ya pencerahanya..boleh ijin copas ya mas…matur suwun

Leave a reply