Wah udah lama banget gak punya kesempatan update blog. Sejak kembali ke Jakarta, kita numpang dulu di rumah bokap sampai kita nemu rumah baru. Di rumah tempat gue tumbuh besar ini, somehow ISPnya gak bisa buka wordpress dan atau suamgila. Jadilah gue coba-coba hampir tiap hari dan dari sebualanan ini, baru sekarang tiba-tiba “eh bisa!”
Ya udah gue posting. Tema yang gue pengen angkat di postingan kali ini adalah, kembali, sedekah. Hampir 1 tahun yang lalu gue menulis posting ini:
http://suamigila.com/2009/07/21/sedekah/
Gak gue sangka, yang respon 112. Orang gila. Sepertinya ini postingan dengan komen terbanyak top 5. Yang gue inget itu komen terbanyak pas nerbitin buku jomblo, buku GMC dan pas nikah.
Makin ke sini, komennya makin sadis. Gue gak tau teknologi ngeceknya tapi gue curiga postingan itu di link ke sebuah forum atau milis penggemarnya ustadz YM. Dibilangin suruh belajar agama lah etc etc. Komentar yang paling sering keluar bisa di intisarikan seperti ini:
wajar kalo kita pamrih. Kita sholat aja pamrih meminta ini itu ke Allah.
Yang lucunya ada yang sampe berusaha membuktikan. Ada yang sholat jumat, kasih sedekah dan abis itu dapet uang 400 dolar. Anjuran dia, gak usah dengerin omongan gue.
Gak setuju sama gue sih silahkan. gue gak akan mati dengan ribuan orang gak setuju. Hidup mati gue gak ditentukan berapa banyak follower, fans atau berapa orang yang membenci gue. Tapi kemudian ada beberapa hal dari komentar orang yang bersebarangan dengan gue yang lumayan menarik.
1. Bahwa sedekah dengan pamrih pada Allah itu wajar.
2. Lha wong kita sholat aja pamrih kok. Pamrih untuk diampuni dosanya, etc etc.
3. Lha wong kita sholat aja pamrih kok, untuk meminta ini itu.
Gue setuju dengan dua dari tiga poin ini. Yang mana artinya yang kontra dengan gue salah baca atau gue yang salah tulis.
Yang gue setuju: Bahwa sedekah dengan pamrih pada Allah itu boleh.
Yang gue NGGAK setuju: Bahwa kita sedekah 100 ribu ke seseorang, dan secara matematis menuntut 1 juta dari Allah untuk dikembalikan. Ini mentalitas yang sangat berbahaya karena eksesnya:
Ini mendidik orang untuk berpegang pada prinsip: bahwa jika kita lagi kepepet butuh uang, kita sedekah. Pertanyaan gue: Kalo gak kepepet? mau kita apain duit kita?
Di bawah adalah potensi kesalahpahaman yang dapat terjadi jika orang salah mengerti ajaran Ustadz YM ini:
Kita lagi kepepet butuh uang 10 juta. kemudian ada tetangga kita dateng.
“Pak Kasian Pak, anak saya sakit.”
“Oh iya. Kebetulan saya juga lagi butuh 10 juta. Bu, ini 1 juta silahkan pake.”
kalo kita lagi gak kepepet:
“Pak Kasian Pak, anak saya sakit.”
“Wah gue lagi gak butuh duit nih. Gak usah lah. Bu minta tolong aja sama tetangga yang depan.”
Muslim seperti ini yang kita cita-citakan? Beneran muslim seperti ini yang kita ingin? Mentalitas seperti ini yang ustadz YM inginkan dari 87% x 238 juta orang Indonesia?
Muslim seperti ini, jika sedang butuh duit, anak tetangga akan selamat. Kalo lagi gak butuh, anak tetangga mati dia gak peduli.
Niatnya sedekah udah salah. Niatnya sedekah bukan agar sedekahnya terpakai di jalan Allah dan dipakai umat-Nya. Niatnya gak tulus meringakan beban umat. Tapi niatnya udah langsung narsis balik ke diri kita, agar kita untung. Profit.
2. Dari sudut pandang gue, kita tidak pantas me-matematika-kan sifat pemurah Allah. Bahwa dengan menolong orang dengan 100 ribu, kita berhak untuk dalam hati menuntut “Allah, I expect you to give me back 1 juta.” Emangnya elu siapa? Engkongnya Allah? Berani-beraninya elu menuntut seperti itu? Siap-siap aja disamber petir. Di bawah adalah celah kesalahpahaman orang yang mendengar ceramah ustadz YM.
Gue mau beli motor 15 juta. kurang 5 juta. Ah beres. Gue gak perlu kerja keras. gue keluarin aja 500 ribu, sumbangin ke mesjid, ongkang-ongkang kaki dan tuntut ke Allah “Ya Allah, ini udah 500 ribu nih. Besok dapet 5 juta ya.”
Mau jadi muslim macem apa kita? Muslim kayak gini cita-cita kita? Muslim yang nggak bekerja keras. Muslim yang bergantung dan yakin bahwa keajaiban akan datang. Muslim yang mematematikakan keajaiban itu.
Iya bahwa sedekah tidak akan membuat kita miskin. Iya bahwa Allah pasti memberikan imbalan. Tapi jangan kira kita punya derajat kepintaran yang sama dengan Allah untuk membayangkan kita akan dapat eksak 1, 2 atau 10 juta.
Gua bukannya mau ngajarin bagaimana sebaiknya sedekah. Silahkan aja mau sedekah dengan niatan apa. Tapi asal tau aja,di tingkatan yang sangat personal, ini yang gue niatkan saat sedekah:
Ya Allah, kusedekahkan hartaku ini untuk dipakai sebaik-baiknya dijalanMu. Untuk dipakai sebaik-baiknya oleh umatMu. Semoga sedekah ini menjadikan diriku dalam lindungan Mu dan di dalam jalan Mu yang lurus. Semoga Engkau melancarkan urusanku sebagaimana sedekah ini melancarkan urusan umatMu. Amin.
Gue lakukan ini saat gue butuh dan gak butuh bantuan. Gue lakukan ini tanpa mengharap investasi yang balik dengan sejumlah uang yang eksak. Gue gak demand spefisically “Ya Allah, ini 500 ribu, saya butuh 200 juta, tanggal 15.” Yang gue doakan adalah agar urusan gue dilancarkan. Dan semua urusan gue ya kan ujung-ujungnya nafkah dan tabungan yang mana duit semua. Dan bahwa dengan gue sedekah, ya gue tetep usaha. hanya saja sepertinya berkat sedekah dan niat ini, semua usaha dan urusannya lancar. Ini pamrih gak pada Allah? Jelas ini pamrih, saya akui. Tapi gue gak mau melupakan sisi kemanusiaan dari sedekah ini.
Bahwa sedekah ini bukan hanya untuk pamrih agar ikhtiar lancar. Tapi agar sedekah ini memberikan kebaikan pada umat. Ini yang penting untuk diingat. Karena jika kita melupakan sisi kemanusiaan ini, di kala kita tidak kekurangan apa pun sementara jutaan orang lain kekurangan, kita jadi ngerasa gak perlu sedekah.
Untuk mayoritas komentator posting ini yang kontra dengan gue:
- Niat sang ustadz baik. Tapi konstruksi logika yang beliau bangun, berpotensi untuk orang salah tangkap.
- Hanya karena dia ustadz dan gue nggak, tidak membuat dia lebih baik dari gue. hanya karena dia ustadz, tidak membuat dia lebih kompeten untuk mengupas agama dari gue. Gak membuat elo, lebih baik dari gue. dan gak membuat gue, lebih baik dari sang ustadz dan elo. Malah jika dia membuat ribuan orang salah paham, tanggung jawab dia di kemudian hari sangat berat.
- Bener banget bahwa sah-sah aja pamrih sama Allah. Jika bukan pada dia, ya pada siapa lagi. Kita shalat wajib dan sunnah bahkan sedekah untuk meminta agar ikhtiar lancar. Itu pamrih. Tapi jangan lantas membangun mentalitas, kalo kita kepepet, kita nolong orang/sedekah. Karena kalo konstruksi logika ini yang dibangun, kalo kita udah sukses, gak nolong orang/sedekah? di mana segi kemanusiaan kita?
Rgds.
possibly related posts:



[...] This post was mentioned on Twitter by Indra Wahyudi. Indra Wahyudi said: RT @deadyrizky: Artikel tentang Sedekah yang menarik nih —> http://suamigila.com/2010/07/09/sedekah-2/ [...]
dari salah satu buku YM yang pernah saya baca, di situ diterangkan bahwa “return” sedekah belum tentu dalam bentuk “mentah” tapi bisa dalam bentuk lain misal kesehatan, dimudahkan urusan kita, dijauhkan dari musibah dsb
kalo mau sedekah ya sedekah aja, ga usah minta2. nanti juga pasti dapet balesannya kok
Sebenernya mungkin maksudnya adalah kalo kita sedekah hidup jadi berkah makanya jangan takut sedekah. Cuman kalo dibikin matematika mati, sedekah 100 ribu, minggu depan cicilan motor lunas, ya ngga bisa gitu. Secara oksigen aja ngga pernah Allah kirim ntu tagihannya ke kita, jadi cuma ngasi 100 ribu kita berharap yg aneh2?? Hehe… Aya2 wae.
Gw punya sodara yg ngandelin wirid buat lulus tes masuk sekolah. Ntu bokapnya yg ngajarin. Gemessss… Ujung2nya ga lulus juga secara dia ga belajar. Ck ck ck…
Makanya hikmah atau nasehat ga bisa ditelen bulet2, tapi kudu dikaji lagi. Tul gak?
Wallahu a’lam
sy jg ga stuju konsep mtematika sedekahnya ustadz ym. ms qt twr mnawar sm tuhan? ga kufur nikmat tu namany? udh d kasih gratis mcm2 msh dgn ga tau malunya minta mcm2 lg. sdekah y sdekah aj, ga ush pke hitung2an, cm bhrp mudah2n ktk qt ngbantu yg susah,tuhan jg bkl mmudahkn qt saat lg ksusahan. sm sy jg kurg suka si ustadz suka ujug2 nyuruh nyedekahin semua yg qt punya. lah, bsok2 sdekah pke ap dunk? mding sdikit2 tp rutin. piss^^
Assalamualaikum wr wb :),
Dengan segenap concern dan kerendahan hati.
satu hal yang kurang gw suka dari mentalitas kita (ya, kita, termasuk gw juga kadang2), generasi zaman internet ini, adalah bahwa kita seringkali mencoba untuk memberi solusi tapi tanpa sadar membuat permasalahan menjadi jauh lebih besar.
sekali lagi, agar tidak salah tangkap :),
kita seringkali mencoba memberi solusi (which is bagus banget, kek ginilah seorang muslim seharusnya, bukan? :), tapi tanpa sadar membuat permasalahan jadi jauh lebih besar.
Satu contoh saat kita mengoreksi seseorang.
Kadang kita lupa bahwa Rasulullah selain diperintahkan untuk mengatakan kebenaran juga diperintahkan untuk menyampaikannya dengan cara yang tepat.
contoh dalilnya ada di Al-Qur’an surat Al-Baqarah, perintah Allah swt pada nabi Musa a.s untuk memperingatkan Fir’aun dengan cara yang baik.
Itu nabi Musa sama Rasulullah, yang notabene orang2 suci, masih diperintah buat baik2 gitu sama Allah, dan yang diperingatkan pun adalah Fir’aun, seburuk2nya manusia yang menentang Tuhan.
Sedangkan kadangkala kita memperingatkan saudara kita sendiri dengan cara yang kurang menjaga harga dirinya, membicarakan hal ini di tempat umum, bukankah ujung-ujungnya bisa jadi ghibah? :),
saya jadi teringat kisah ketika Sahabat Ustman r.a lupa menjawab salam dari sahabat Sa’ad r.a.
Sa’ad ibn Abi Waqas pada saat itu tidak langsung menduga atau menyalahkan Ustman, apalagi menulis syair tentang ustman yang tidak menjawab ucapan salam dari sa’ad (ingat, syair adalah media sekelas CNN atau Al-Jazera pada zaman rasulullah). Yang dilakukan Sa’ad pada saat itu adalah bertanya kepada Qadi (hakim) setempat, dan Sa’ad pada saat itu menggunakan praduga tak bersalah dengan berfikir pasti Utsman sedang memiliki beban fikiran yang sangat besar tentang tanggung keadaan umat islam.
Sang Qadi pun pada saat itu, Umar ibn Khatab R.A, tidak langsung mengumumkan mengenai perkara ini ke hadapan publik, tapi membicarakan hal ini terlebih dahulu langsung dengan orangnya, yaitu Utsman ibn Affan R.A, yang ternyata pada saat itu memang sedang banyak fikiran karena lupa salah satu do’a yang diajarkan oleh Rasulullah saw.
Utsman meminta maaf, dan Sa’ad memaafkan utsman. Persaudaraan mereka terjaga, dan tidak terjadi perpecahan pada tubuh umat yang memihak kepada utsman maupun sa’ad r.a :),
sumber kisah : http://www.youtube.com/watch?v=O_3BvAeSEOM
Menurut saya, akan sangat indah apabila setiap kali terjadi perbedaan pendapat hal seperti ini yang dilakukan, tidak langsung memfloor ke publik sehingga terjadi pengelompokan dukungan oleh publik pada pihak2 yang berselisih (yang mana tentunya memperbesar peluang dari perpecahan :),
memang, sekali lagi, dengan adanya bentuk2 perilaku baru dalam menggunakan media yang tidak sempat tersentuh oleh pemikir2 islam kontemporer (saya pernah nanya, ada nggak ya sebetulnya kitab fikih yang mengatur prilaku bermedia), dan tidak adanya mediator2 konflik yang islami (seperti qadi yang ada pada zaman rasulullah), hal ini masih belum begitu realistis. Tapi akankah, oh akankah, suatu saat terjadi harmoni seperti ini? dan akankah kita menjadi bagian dari orang2 yang memelopori hal2 seperti ini? :),
Mohon maaf sebesar2nya apabila tulisan ini menyinggung beberapa pihak, sekali lagi saya tidak menyalahkan orang-orang tertentu, saya sendiri tidak lebih baik dari yang lain, dari kekurangan saya sendirilah tulisan ini lahir; karena dengan adanya pergaulan baru ala internet ini, banyak hal yang seringkali kita lupakan padahal hal2 tersebut telah diatur oleh Allah swt.
Insya Allah, semua tulisan ini lahir dari kecintaan yang sama dengan anda semua kepada Allah swt, dan kepada Rasulullah saw yang telah menjadi wasilah bagi iman islam dan persaudaraan kita hari ini :),
mencintai antum karena Allah
- Lagilelengkahalu
Kok pas gue Google dengan keyword “ustadz ym” keluarnya di hasil pertama malah artikel begini yah Mas Adit??
http://nasional.vivanews.com/news/read/151201-diduga_gelapkan_rp_10_m__ustadz_ym_dilaporkan
Huhuhu makin gak kredibel deh. Terlepas dari bener apa nggak nya itu berita, kalo gak ada api mana ada asapnya sihhh…
Gue jujur emang kurang suka dgn org2 yg terlalu banyak omong tp ternyata tdk sesempurna itu…Bukannya sok sempurna juga yah, tapi menurut gue sangatlah munafik kalo kita sok2 ngajarin kebaikan tapi kitanya sendiri belum pantas jadi contoh.
Dulu gue satu sekolah sama anak beberapa ustadz/penceramah besar, dan kok ya sosok mereka yang kita tangkap ketika bergaul di kalangan orangtua murid, amat sangat jauhhhhhhhhhhh banget dari sosok humble dan memasyarakat yang mereka imejkan ke para umatnya.
Kasarnya, kalo di TV kok lain banget yah ama aslinya?
Trus kalo gue baca komen2 para pendukung Ustadz YM, mereka kok kayaknya emang fanatik jadi gak bisa dikritik, dan semua angle loe disalahkan padahal kebenaran itu kan relatif dan personal, kalo gak suka sama pemikiran loe ya UDAH gak usah baca, beres kan. Blog ini kan blog loe.
Trus ini yg nulis2 komen gaya nulis dan isi tulisannya kok sama/mirip2 banget semua gitu. Gue curiga nih jgn2 yg nulis2 ini ORANGNYA SAMA tapi pake nama lain2 dan semuanya orang dekat/pendukung ato bahkan UYM sendiri hehehe…
Mas Adit loe nulis buku ttg keagamaan yang dikupas dari segi pemikiran loe gitu deh, pasti laku berat.
Don’t stop writing and sharing your intelligent thoughts with us - whether it is about govt, about religions and beliefs, just about anything. I may not leave comments so often but I am a big fan of you and your wife. Kudos.
sedekah dan pamrih?
well.. apa itu sebenarnya ikhlas?? karena kalo saya pun, terkadang sholat karena INGIN MERASA TENANG..
saya butuh pamrih toh?? saya sholat dan MENGHARAPKAN ketengangan hati..
jadi, ya tergantung bagaimana kita mau jujur mengakui tingkat kepamrihan kita.. :p
alhamdulillah.ucpn dmkian yg baik bg kt stp shbs sdekah
congrat ya kang udh di Jkt lagi,semoga banyak waktu untuk membuat esai yg lbh keren2 lagi.saya melihat comment kang adit u topik sedekah kali ini kok agak emosional ya,apa pengaruh lokasi nulis yg semrawut panas dan macet (Jkt),gak se cool kalo nulisnya di sing.he he…do the best n tetap semangat!!
wallahua’lam.
Ho oh, emang logika untuk bersedekahnya yg krg lurus. Harus hati2 untuk si pembawa pesan.
Semoga ini jadi pelajaran untuk mereka yang berpikir, untuk kita semua.
Jujur sih gw juga suka pamrih di hampir segala aspek ibadah yang gw lakuin, termasuk bersedekah. Kadang niatan gw sedekah biar dilancarkan segala urusan. Tapi terkadang cuma niatan ngasih aja. Biar bisa berbagi kebahagian. Begitupula ibadah yang lain, mengharap pahala dari Allah. Dan itu gw rasa termasuk pamrih.
Mungkin yang bikin aneh, kalo pamrihnya yang td dibilang dimatematikain. Sedekah ngarep duit datang berlipat-lipat, ato pengen dapet cewek cantik (iya sih hehehe).
Tapi intinya sih asal semua dilakukin dengan keikhlasan, baru sedekahnya mantabbbbsss.
Allah SWT maha tahu apa yang ada dihati kita…
“Ya Allah, kusedekahkan hartaku ini untuk dipakai sebaik-baiknya dijalanMu. Untuk dipakai sebaik-baiknya oleh umatMu. Semoga sedekah ini menjadikan diriku dalam lindungan Mu dan di dalam jalan Mu yang lurus. Semoga Engkau melancarkan urusanku sebagaimana sedekah ini melancarkan urusan umatMu. Amin”
patut dicontoh doanya…
izin dipake juga ya gan…
kalo gw bilang sih wajar aja kita membela diri kalo dikritik, yang gak boleh itu kalau kita jadi super defensif dan membutakan mata kita terhadap kenyataan.
dari dulu gw selalu bilang, sedekah duit jangan ngarepin baliknya dobel (kalo gitu mendingan lo invest di saham). sedekah itu niatnya untuk membantu orang, harapannya kita juga nantinya akan dibantu kalo ada kesusahan.
satu lagi soal sedekah yang gw heran, orang suka males ngasih pengemis di jalanan, alasannya “ah paling juga dikasih ke bos-nya, atau dipake ngobat”. yaelah, kalo mau sedekah, sedekah aja kali. ini pahala aja belum tentu diterima allah, sedekahnya udah milih-milih.
assalamu’alaykum wr wb,
mas adit
Saya kira tulisan anda juga berbahaya dan penuh emosi, apalagi menulis mengenai agama tidak menggunakan dasar atau ilmu Agama apalagi al-qur’an dan hadist dan pemikiran2 ulama terdahulu … kalo ternyata tulisan anda banyak yang keliru dan banyak yang mengikuti, saya yakin Allah akan meminta pertanggung jawaban anda.. saya kira di sini kita semua harus bersabar dan terus menggali ilmu agama yang benar sebelum mengoreksi orang lain .. *bukan berarti saya setuju dengan ust. yang anda sindir cuman di sini saya hanya mengingatkan kepada kita untuk berhati2 dalam membuat statement mengenai agama yang notabenenya kita tidak pernah sama sekali belajar ilmu agama.. kalo mau beramal punya ilmu dulu, kalo sudah punya ilmu lalu beramal.. saya kira anda cocok untuk membuat cerita2 fiksi belum untuk memberikan topik mengenai agama..
Mohon maaf kalo ada salah kata-kata, semoga kita selalu dilindungi dari fitnah dunia..
wallahu’alam bishawab
wassalamu’alaykum
Welcome back to Jakarta Dit. Makasih sama posting segar dan kritisnya. Soal sedekah, buat gw sama dengan apapun yg kita kerjakan syaratnya kalo mau disebut ibadah: diniatin hanya buat Allah, sesuai Qur’an dan hadist dan hanya berharap ridha Allah. Kalo sedekah lalu minta “balasan” dari Allah, ya jadinya gak ibadah dong Dit:-) Kalo gw mikirnya “balasan” yg kita minta dari allah diniatin jadi doa aja…namanya doa, boleh aja dong kita minta apa aja pada Allah.
Soal ustadz, gw cukup percaya sama Qur’an dan hadist sahih aja. Toh segala perbuatan kita, kit ajuga yg bakal mempertanggungjawabkan di akhirat, bukan ustadz. Lagian kalo ustadz kan kategori “orang berilmu” tapi tetap kita yang memutuskan dan bertanggungjawab dikemudian hari dihadapan Allah.
selamat datang kembali! aku padamu deh soal sedekah ini. bismillah semoga selalu damai.
kita benar2 harus belajar ilmu ikhlas.
salam kenal buat bang suamigila.
Saya sudah lama meninggalkan agama. Setiap bersedekah atau berbuat apa yg pemeluk agama katakan sebagai “amalan baik”, tidak pernah lagi terbesit soal imbalan surga atau pahala krn toh saya sudah tinggalkan itu semua
Mungkin ada baiknya ketika bersedekah atau perbuatan baik lainnya cobalah berfikir murni atas dasar kemanusiaan dan biarkan pahala ato imbalan nantinya sebagai bonus tambahan
gusti ALLAH mboten sare…
sedekah gak akan jadi sedekah kalau gak ikhlas. gw sih lebih setuju kalau sedekah jgn dibarengin sama pamrih. mau ngasih ya ngasih aja, gak usah pake syarat2 atau minta atau apapun ke Tuhan. toh Tuhan liat sendiri isi hati kita. kalau lagi ada perlu trus mo minta sama Tuhan .. ya minta aja lewat doa. tau ntar dikasih apa gak kan urusan Tuhan. the two words shouldn’t be in one sentence.
setuju banget. tpi yang penting ikhlasnya….
salam kenal…
mungkin bedanya bicara secara verbal dengan berbicara melalui tulisan adalah tidak mengetahui secara pasti emosi/ekspresi yang sedang ingin disampaikan dan mempengeruhi lawan bicara (in case adalah pembaca).
jadi mohon maaf, statement yang anda ungkapkan menunjukkan anda begitu arogan, seolah-olah pendapat andalah yang benar. apalagi anda dengan tidak bijak menaggapi komen yang tidak sejalan dengan pikin anda.
mohon maaf jika ternyata saya salah menginterpretasi suasana dalam perbincaan anda mengenai ustad ym
Salam Kenal dariku, artikel menarik
Sekalian mau bilang Met Puasa bagi yang puasa. Met sejahtera bagi yang gak njalanin. Semoga selamat & damai dimuka Bumi. Amin
Maksud Mas Adit dan teman2 benar ttg sedekah harus ikhlas dan tanpa pamrih tetapi apa yang diungkapkan ust. YM tidaklah salah karena ini semua didasarkan oleh kisah nyata, masalah kekawatiran kita ttg pemahaman umat memaknai sedekah biar mengikuti waktu, sedekah sebagai amalan mulia yg wajib kita kerjakan hendaknya dikerjakan..boleh dg atau tanpa pamrih, sesungguhnya diri kitalah yang butuh sedekah bukan org lain. wassalam
saya mungkin termasuk yang ikut barisan setuju dengan omongan adit…
malah menurut saya kalo mo bantu orang ga usah mikir pamrih apa pun itu bentuknya [termasuk pamrih dari allah]. kalo mo membantu sesama ya niatnya karna ingin meringankan kesulitan orang lain. kepuasan batin kita saya rasa bukan pada pamrih yg kita terima, tapi kalo ngeliat orang yg kita bantu keluar dari kesulitan yg dia hadapi.
Pamrih dari allah itu hak prerogatif Yang Maha Kuasa. kalo pada akhirnya kita dapet ‘hadiah’ ya alhamdulilah…anggep saja bonus…tp kalo itu jadi motivasi membantu orang/sedekah…saya kok kurang setuju…maaf nih….
Nice Artikel, dan Kasih Tuhan akan dilimpahkan dari langit kepada orang-orang yang memberikan sedekah kepada orang miskin. Kebahagiaan yang berlipat ganda akan diberikan kepada orang- orang yang ikhlas untuk memberi, selagi masih bisa melakukannya, bertemu dengan seseorang miskin dan dengan lemah lembut mengucapkannya Terima Kasih, Sesuatu hal yang istimewa untuk kita.Thx
Setuju sama yohan wibisono. Mungkin kritik harus disampaikan dengan lebih lembut, seperti layaknya saudara yang tidak ingin saling menyakiti. Rasulullah SAW memberi teladan bahwa agama Islam itu agama yang lembut dan penuh kasih sayang. Mudah-mudahan kita bisa menjadi orang yang lebih baik. Amin.