Sri Mulyani, Century & World Bank

Kita singkat aja SMI ya. Bangsa Indonesia ini paling jago sama yang namanya menihilkan jasa seseorang. Ada cerita yang menarik tentang SMI dan kasus Century.

Awal dari Century
Suatu hari yang cerah di tahun 2009 ketika SBY di luar negeri, SMI dan Boediono datang ke JK membawa kasus Century. Inti masalahnya adalah century basically digondol maling dan pemerintah harus memutuskan untuk
a. membail out century pakai uang negara
b. membiarkan century jatuh

JK menilai untuk membiarkan Century jatuh. Biar saja, ini sama saja dengan perampokan. SMI dan Boediono menilai bahwa resiko dari membiarkan century jatuh terlalu besar. Resikonya adalah, kepercayaan publik terhadap perbankan bisa jatuh, semua orang panik dan kita akan mengalami rush seperti yang kita alami tahun 1998. Yang terjadi saat itu begitu buruknya sehingga kita butuh recovery bertahun-tahun.

Ini adalah kondisi di mana tidak ada yang benar salah. Coba kita pikir baik-baik. Apakah kita mau industri perbankan collapse lagi? Lu semua mau susah cari makan lagi? Lu semua mau 1 USD = 20 ribu ? Lu semua mau masuk jeratan IMF lagi ? Di sisi lain, apakah kita semua mau uang pajak kita (yang tersisa dari catutan Gayus) dipakai untuk nalangin uang yang digondol maling ? Jawabannya sama-sama nggak.

Jadi SMI harus membuat keputusan dan keputusannya adalah membail out Century.

Ironi JK
Di sini lah gue bilang kita itu bodoh. Dari awal JK gak setuju dengan bail out ini. Dan dalam kampanye kepresidenan, JK menyerang Boediono atas kebijakan ini. Ironisnya, Boediono menang dan JK kalah pemilu. SEKARANG, DPR menganggap bahwa keputusan bail out itu salah. Kalo gue jadi JK, gue bakal mati sakit hati sama orang Indonesia. JK dalam hati mungkin udah ngomong ”GUE BILANG JUGA APE?”

Ironi SMI
SMI adalah satu orang yang kerja keras di kabinet. Dia berasal dari kalangan profesional dan karenanya gak punya darah atau tumpangan politik. Hal ini membuat dia mampu melakukan mereformasi birokrasi. Karena dia, kita menjadi negara ketiga dengan pertumbuhan positif tertinggi di masa krisis. Bahkan Singapura dan negara ASEAN yang lain tidak sebagus itu. Resiko akan collapsenya industri perbankan bisa menghapus semua pencapaian kita ini. Makanya dia memutuskan untuk membail out century. Tidak ada yang benar dan salah.

Makanya gue sakit hati banget ketika melihat Pansus Century abis-abisan menyalahkan dia.

Enak banget nyalahin SMI? Gak ada 1 orang pun yang berhak nyalahin karena kita semua tidak bisa melihat efek sesudahnya. Tidak ada yang bisa memastikan bahwa collapse itu akan atau tidak akan terjadi karena sudah lewat. Makanya tidak ada yang berhak menilai salah. Pansus Century enak bener cuman duduk, tanpa background ekonomi, melihat masalah dalam kilas balik dan menyalahkan SMI. Di saat SMI memutuskan dia gak tau dan gak bsia kilas balik karena masanya belum terjadi.

Gini deh, kita kasih analogi. Anak kita pengen kita masukin ke sekolah yang bagus. Dia lulus tes, sekarang tinggal masalah siapa yang bisa ngasih uang sumbangan terbesar. Si ayah bilang gak usah disumbang. Si ibu bilang, kasih 10 juta. Kita kan gak tau. Kalo kursinya 50 dan yang lulus 60, maka yang dipilih adalah 50 penyumbang tertinggi. Baik si bapak mau pun si ibu di saat itu gak bisa memutuskan apakah 10 juta itu kelebihan atau kekurangan. Akhirnya kita nurut sama si Ibu, kasih 10 juta. Beberapa minggu kemudian pengumuman keluar dan si anak diterima. Setelah itu kita tahu dari tetangga bahwa dia nyumbang 200 ribu dan masuk juga.

Apakah si ayah berhak marah sama si ibu ? Apakah si bapak berhak bilang I told you so ? Tidak.

Baik si ayah mau pun ibu gak tau di saat itu sumbangan minimum berapa yang layak dan apakah anak yang lulus > bangku yang ada. Dan di sinilah yang bikin gue gerah sama anggota Pansus. Mereka gak berhak memvonis salah.

Ironi SMI gak habis sampai di sini. Semua anggota Pansus menafsirkan penunjukkan World Bank ini sebagai penghindaran hukuman. Holoh ! seseorang gak bisa dihukum kalo dia gak salah dong.

Ironi Kita, Pembayar Pajak
Sekarang, dia pergi ke World Bank dan kita stuck dengan orang-orang bodoh ini. Orang-orang bodoh yang kita bayar gajinya pakai uang pajak kita. Orang-orang bodoh yang menyalahkan SMI mengucurkan dana 6.7 trilyun dan dengan cerdasnya meminta 1.7 trilyun untuk renovasi bangunan.

Kita stuck dengan orang-orang ini. Ironis.

No related posts.

48 responses to “Sri Mulyani, Century & World Bank”

  1. djiun says:

    satuju kang, klo orang2 pintar kita pd pindah kerja diluar karena ngerasa jasa2 ny g dihargai yg bakal rugi sapa coba

  2. yvan says:

    gw baca dan terus terang, gw sedih…ga boong, mata gw lembab…ngliat kenyataan Sri Mulyani, orang sebagus itu akhirnya malah ke World Bank…

    mungkin ntar giliran kita yang bilang ke orang2 politik yang ga jelas maunya apa (walaupun katanya demi kebaikan negara), “GUE BILANG JUGA APE!”…

  3. nadhika says:

    like this post….:)
    keep writing bro…dengan bahasa yang lucu dan logic yg keren

  4. desi says:

    smart writing.
    aku copy link nya ta taro fb ya mas..

  5. gue suka bgt baca tulisan kang adit.
    sangat membuka mataku terhadap kasus2 di indonesia.
    thanks ya kang.

  6. Luluk says:

    Makasih postingnya Dit. Gw ngerasa ini black day buat Indonesia karena manusia terbaik yg ngebawa Indonesia gak kena krisis ekonomi justru sekarang pindah ke WB. Gw gemes ngeliat DPR/MPR yg gak berguna kecuali tentunya naikin gaji mereka sendiri, terima suap, jalan2 dan blanja ke LN plus menghamburkan uang negara buat renov gedung. Duh…

  7. tirta says:

    kang, ijin naro link post ini ke fb ya..

  8. raisa says:

    Makanya semua harus di clear kan dulu. Terserah SMI mau ke WB kek, mau pulang kampung kek, tapi harus memang ada keputusan bahwa tidak terjadi penyimpangan seperti yang diisukan oleh Pansus. Makanya dari Presiden, KPK, sampai SMI sendiri harus bertindak cepat dan proaktif supaya isu cepat selesai. DPR memang tdk bisa memvonis bersalah sampai pihak ororitas hukum menyatakan demikian.
    Kalo menurut gue sendiri sih kita ini sebenarnya lebih butuh presiden yg tegas drpd Menkeu yg bekerja keras.

  9. Olie says:

    lam kenal bung,

    Tulisan anda mantepp.. gwe jadi ngeh storyline-nyah, yang selama ini baca tivi dan nonton koran aja males bahasanya ribed, hehehh..
    ..dan ternyata andapun penulis Jomblo ya. Baru ngeh, bung. Jomblo is my favorite story. Great.

    Jempol untuk Anda Adhitya!

  10. Olie says:

    Lam kenal bung,

    Tulisan anda manteppp.. gwe jadi ngerti storyline-nya di mana selama ini gw baca tivi nonton koran aja maless soale bahasanya ribed… dan ternyata anda ini penulis Jomblo, like that story very much! Great.

    Jempol untuk Anda, Adhitya!

  11. Jay says:

    saya share ya mas

  12. leti says:

    Baru baca, heheheh bagus nih artikelnya.. ska banget bahasanya.
    sekedar tambahan, dana yg di gunakan untuk bail out century adalah dana yg memang specifik di peruntukan untuk menjamin nasabah dan penanganan bank gagal berdampak sistemik, ada UU nya juga kok. Jadi kalo di bilang merugikan masyarakat yah gak pas dong, karena kalo pun gak ada century, dana itu gak bisa di pake buat bangun sekolah, jembatan, rumah sakit or apalah itu..

  13. Tebez says:

    ini yang gw tunggu…

    izin copas… buat bahan diskusi :D

  14. reno says:

    dear adit,
    tulisannya emosional ya.
    kebetulan saya lebih setuju ulasan bapak ekonomi kita yang lain; Kwik Kian Gie.

  15. cape deh says:

    oooh…pendukung JK yah mas??? pantes aja…

  16. pristi says:

    pencerahan atas kasus century yg selama ini tidak saya mengerti.. nuhun akang. nice post!

  17. faisal says:

    suka gaya penulisannya terasa ringan padahal masalahnya berat
    izin copas…

  18. eca says:

    kang adhit,
    slama ini slalu jadi silent readernya&kagum. tapi skarang memutuskan untuk komen karena this article moved me. sedih banget emang kalo orang yg berjasa gak bisa dihargai & orang2 bodoh yg keras kepala malah diikutin. saya copas ke fb yaa..

    thanx.

  19. way obi says:

    Maaf, kali ini saya ‘belum’ bisa seratus persen setuju sm kang Adhit.
    Kl ttg ini, pendapat saya..lebih baik di bereskan dulu kasus Century ini sejelas2nya. Agar tidak ada pertanyaan menduga2, yg ga jelas juntrungannya seperti sekarang ini. Disini, peran ‘hukum’ di Indonesia betul2 lemah. Karena kasus ini, kita jd lebih paham kalau terlalu banyak intervensi terhadap dunia hukum. Dan para pelaku di bidang hukum juga benar2 mengkhawatirkan. Akibatnya, banyak lini yg terkorbankan. Negara kita gak cuma masalah ttg DPR/MPR yg oknum2nya bermasalah, tp yg lebih mengkhawatirkan..pemegang kekuasaan negara kita jg gak punya ketegasan. Semua ini (menurut saya) krn Parpol. Semua Partai Politik punya andil dlm keterpurukan negara kita tercinta ini. (Parpol itu tempat untuk kongkalingkong, payah deh pokoknya) *ya Allah, smg saya tak tergoda masuk parpol..amin.

  20. sam says:

    ada baik na dg kemampuan menganalisa ekonomi yg spt itu, pemahaman politik yg segitu, mending pending dulu ‘nggoblog2-in’ org bang…masalah na g segampang itu, tll naif. sebaik na baca beritana dr berbagai sumber, biar dpt pandangan yg luas.
    thx…

  21. Sandy CeKa says:

    tulisannya bagus, gan. izin publish ke FB saya ya. thanks a lot.

  22. ImUmPh says:

    Iya, sekarang kita cuma bisa stuck dengan orang2 yang bisanya ngabisin uang negara.
    Smoga SMI cepat bisa kembali ke Indonesia dan mengatur perekonomian kita menjadi lebih baik lagi.

  23. _fiTri_ says:

    bener banget~ Ironiiiss~ BANGET!!!
    numpang izin publish k FB ya,Kang~ :)

  24. nurawan says:

    Absolutely, gw setuju.
    World Bank bukan lembaga ecek – ecek yg akan asal main comot untuk posisi yang strategis. Seharusnya kita belajar dari pihak luar yang cepat mengambil peluang dengan meminang SMI pada kondisi saat ini. Bukan tidak mungkin sejak dari dulu World Bank sudah mengincar SMI.
    The last, Permisi tuk dishare.

  25. illuminati boy says:

    pada bego, apa emg asal cuap aja org yg bikin nih thread, cay you do a little observation, than silly judging without basic fact?? why you so damn brainwashed with all the socalled thing “the world bank”?

  26. gusti galuh ratna sari says:

    century itu bank kecil dan tidak akan menimbulkan kolaps. dana yang diminta robert tantular hanya 2,7 T tapi malah digelontorkan 6,7 T dan parahnya lagi dananya tida kada yang sampai ke nasabah.
    reformasi birokrasi yang dilakukan SMI gagal karena salah satunya yaitu remunerasi malah berasal dari dana utangan luarnegeri. pertembuhan ekonomi kita … Lihat Selengkapnyadigerakkan oleh sektor riil yang memang berjalan oleh para pelaku usah itu sendiri bukan dari skenario pemerintah sehingga prestasi keberhasilan pertumbuhan ini bisa dikatakan klaim saja.
    orang-orang pansus memang secara umum latar belakangnya bukan dari eonomi tapi para ahli yang dipanggil kesana adalah ahli ekonomi dan dari berbagai pendapat inilah rekomendasi dibuat. jadi gak sembarangan.
    datanya salah, kesimpulannya salah analogi juga jadi salah.
    khusus tentang kepindahan SMI ke WB itu malah lebih memperjelas posisi mazhab ekonomi yang dianut SMI. WB adalah badan keuangan yang menjerat kita melalui hutang2nya lewat SMI.

  27. anonymous says:

    yang nulis ini waktu pemilihan milih orang bodoh juga lagi, wkwkwkw……..

  28. saya suka gaya penulisan mas adhit yang meledak-ledak :)

  29. pras says:

    Setuju banget Dit, banyak orang koar-koar masalah ekonomi walau ngaco abis. Gw pernah ngobrol sama kuli bangunan di stasiun Tebet (dengan tidak merendahkan profesi ini), dan dia bego-begoin SMI sama Budiono. Buset hebat banget ya?? Partai2 emang ga guna, ntar klo ada diktator yang sedikit tercerahkan gw dukung dah. bener kata Lee Kuen Yew , Asia ga butuh demokrasi, asia butuh disiplin.
    Buat yg suka baca analisi Kwik Kian Gie, yee jangan dibaca atuh tulisan orang sakit hati.

  30. tanpanama says:

    “Pansus Century enak bener cuman duduk, tanpa background ekonomi, melihat masalah dalam kilas balik dan menyalahkan SMI.”

    >> pd kenyataannya, apa yg loe lakukan tidak jauh beda dgn mereka. tanpa background ekonomi tp loe bs menganalisis bahwa “Resikonya adalah, kepercayaan publik terhadap perbankan bisa jatuh, semua orang panik dan kita akan mengalami rush seperti yang kita alami tahun 1998. Yang terjadi saat itu begitu buruknya sehingga kita butuh recovery bertahun-tahun. Ini adalah kondisi di mana tidak ada yang benar salah. Coba kita pikir baik-baik. Apakah kita mau industri perbankan collapse lagi? Lu semua mau susah cari makan lagi? Lu semua mau 1 USD = 20 ribu ? Lu semua mau masuk jeratan IMF lagi ?”

    mendingan kita rame2 blajar ilmu ekonomi dulu bareng para anggota pansus, baru abis itu bikin analisis rame2 juga

    yuk mari

  31. faihard says:

    Gw dapeet sudut pandang lain dari tulisan ini,, dan sayangnya dlu gw termasuk orang yang nyalahin SMI..
    Begitu gw denger SMI ditarik World Bank,, gw penasaran dan tulisan mas adhit memberi pencerahan…
    Ijin ngasih link,, setidaknya gw berharap ada pencerahan atau pemberian sudut pandang terhadap temen2 gw…

  32. erdeaka says:

    setuju….dan kita ga tahu sampai kapan kita bisa hidup bersama dengan orang2 bodoh sok teu itu…

  33. syera says:

    Mantap bgt kang, tulisannya..
    Izin Share di FB ya..

    jujur, aq trmasuk org yg kecewa dg rakyat indonesia yg cuma bisa menyalahkan SMI, pdhl mrka menyalahkan tnpa melihat jasa2 SMI yg berjuang utk perekonomian indonesia..
    aq salut dg ketegaran SMI menghadapi hujatan-hujatan dr org2 yg hanya bisa menyalahkan.

  34. soewoeng says:

    bendera setengah tiang untuk kepergian bu ani

  35. nartzco says:

    mantabs ulasannya :D

  36. tamu says:

    gw dari depkeu… gw tau integritas SMI di depkeu.. makanya jangan salahin pegawai depkeu waktu SMI dipanggil pansus kita mendukung mati2an… sekarang “udang” orang DPR udah dikeluarin dari “batu”… kita baru tau tujuan utama mereka apa… terima kasih tulisannya bang adhit…

  37. mantaff says:

    wkwkwkwkkwkwk,,,

    yang lebih bodoh = mereka yang pilih orang-orang bodoh tadi ….mungkin krn mereka jg belum tau kl yang dipilih adalah bodoh ya…
    wkwkwkwkkwkwk,,,

  38. Rasyidan says:

    ijin nge-link juga yah :-)

  39. presyl says:

    setujuuuuuuuuuuu!!
    saya juga ga suka SMI disalahin..
    ga ngeliat perjuangan dia banget dari tahun 2004 dah mencoba memperbaiki indonesia dengan berbagai macam kebijakan dia, enak2 aja nyuruh dia berenti jadi menkeu.

    ketika dia berenti jadi menkeu dan mutusin buat terima tawaran dari world bank, malah dibilang kabur. apa si maunya orang2 itu???!

  40. Riyan Sugandy says:

    sangat sarkastik ya, bang.. heu

  41. dewi says:

    liat kerja SMI bagus, gueh yakin dia udah ngelakuin yg PALING BAIK buat negara. tp sayang, sesuatu yg baik belum tentu mudah. kesian yang ngangkat/milih SMI, udah pintar milihnya eh di babat habis juga. Sayangnya terkadang org pintar otak nggak pinter lidah begtu juga sebaliknya. Bagmnpn..terima kasih SMI atas segala jasamu, jgn hujat negara ini, doakanlah kami yg engkau tinggalkan tidak ‘hancur’ tambah ‘lebur’…

  42. Adhitya says:

    Ijin copas ya Kang… mencerahkan sekali isinya.. :)

  43. zal says:

    nice post kang

    lebih keselnya lagi media bikin pemberitaannya ga seimbang. isinya nyalahin bu SMI semua

  44. Klo masalah ini sich hanya berpendapat”Bila Melakukan Kesalahan Pst kita akan dapat balasan bukan di dunia tapi di akhirat nti yang membalasnya..

  45. hadimonfiq says:

    SMI for President

  46. sunardi says:

    Dan akhirnya kita hanya bisa menyanyikan lagu Sony Jozz.

    “Ndang balio Sri,
    ndang balio…”

  47. agus r says:

    Nice article. Sy yg sebelumnya bingung knp SMI disalahkan jd paham ‘motif’ pansus2 ini. Ijin link back

  48. gufron says:

    punten kang mau nyaranin baca bukunya John Perkins yg Confession of Economic Hitman, mungkin nanti akang dapet pendapat dr sisi yg berbeda tentang IMF, World Bank dan antek2nya, haturnuhun

Leave a reply