Indonesia Pasca Jusuf Kalla

Ini perasaan gue aja atau elu semua juga ngerasa bahwa semua masalah yang negara kita miliki tidak memeiliki solusi, sejak Jusuf Kalla tidak lagi jadi wapres?

Sejujurnya gue melihat fenomena ini. Waktu ada JK, pemerintah terasa dan terlihat berjalan, resolute, responsif dan komunikatif. JK memang sosok yang mencari solusi. Banyak yang memberikan kritik bahwa JK itu quick fix tapi plasteran dan fixnya itu tidak fundamental. Sementara SBY itu lambat tapi solusi fixnya fundamental.

Bagi gue keduanya benar. SBY dengan fundamental fixnya gak akan ada apa-apanya tanpa quick fix. Maksudnya gini. Katakanlah atap rumah lu bocor. Fundamental fixnya membutuhkan elu untuk memerbaiki atap dan butuh 2 bulan. Quick fixnya, elu pake plaster dan hanya butuh 5 menti, tapi gak tahan lama. Guess what, elu butuh keduanya. Selagi elu membetulkan atap selama 2 bulan, elu akan tetap mengalami kebocoran. Jadinya sementara elu memrbaiki atap, elu tetap butuh memplaster atap lu itu.

Masalah yang kita punya di Indonesia banyak sekali yang seperti itu. Kita memang butuh fundamental fix, yang bisa menyembuhkan kita. Dan mari kita berbaik sangka bahwa SBY sedang melakukannya. Tapi sampai dia berhasil, rakyat tidak bisa hidup tanpa quick fix yang meredakan sakit sampai penyakit itu sembuh. Dan JK pun tidak selamanya quick fix. Perseteruannya dengan Boediono mengenai pembangunan energy plant adalah cerminan usaha dia akan fundamental fix. Ceritanya adalah, Boediono tidak mau menuruti JK yang menyuruh menjamin pembangunan energy plant yang penting bagi bangsa. Instead Boediono mengalihkan uang negara membail kasus century.

Ketika isu ini mencuat, JK dianggap menjatuhkan SBY-Boediono. Di kemudian hari, publik setuju bahwa menolong Century adalah hal yang salah. Artinya selama ini paksaan JK benar. Dan kita yang salah menilai JK.

Keberpihakan JK kepada pengusaha juga sering dianggap miring banyak orang. Bahwa ditakutkan kedekatannya dengan pengusaha akan:
- menyuburkan kolusi
- mengulang rezim Soeharto di mana pengusaha jadi kaya banget
- menyengsarakan buruh.

Ini juga yang menjadi penghambat dia menjadi presiden dulu. Bahwa jika dia jadi RI1 maka pengusaha akan dimenangkan dan tidak berpihak ke rakyat kecil. Sesungguhnya ini ketakutan yang salah arah. JK itu seperti Sri Mulyani. Orang yang datang dari kalangan profesional. Mereka bukan orang yang menomorsatukan politik tapi menomorsatukan result, tidak seperti SBY yang sebaliknya. Jika JK jadi presiden dulu, maka pengusaha akan lebih berkembang di Indonesia dan ini penting karena berkembangan pengusaha di Indonesia akan:

1. menggerakkan roda ekonomi dalam negeri
2. #1 dan #3 akan membuat pengangguran berkurang karena pengusaha ini menyerap tenaga kerja
3. outsourcing berkurang dan sourcing kerja akan berada di Indonesia lagi
4. #3 akan mendatangkan devisa.
5. #1 dan #3 akan membuat Sumber daya alam kita digali, dipakai dan dibeli orang orang Indonesia sendiri.
6. karena terbiasa dari kacamata pengusaha, maka hal-hal yang menghambat wirausaha akan dibabat seperti korupsi pejabat, korupsi pajak.
7. kita bisa memerangi produk cina sambil menghormati perjanjian AFTA/APEC.
8. yang paling penting: bermindset profit for country. Orang dengan otak pengusaha adalah orang yang berotak balance sheet. ini adalah otak orang-orang Singapura dan lihat betapa pemerintah Singapura mampu memakmurkan rakyatnya dengan Sumber daya alam yang minim. Gue [ercaya bahwa JK selalu bergerak untuk kepentingan dan profit bangsa.

Ini semua, sekarang gue hanya bisa gigit jari karena semua baik RI1 dan RI2, gue gak yakin punya pola pikir seperti ini.

Kesalahan JK adalah tidak akur dengan SBY dan tidak sabar ingin menjadi presiden. Ketidakakurannya dengan SBY membuat dia akan didepak dari RI2 dan karena itulah dia mencalonkan diri untuk RI1. Manuver yang prematur. Seharusnya dia bertindak lebih politis dengan cara lebih akur dengan SBY, ikut dengan SBY sampai termin 2. Setelah selesai termin 2, barulah dia mencalonkan diri. di saat itu, dia tidak akan melawan SBY dan dia lah yang akan terlihat sebagai calon terkuat. Gue gak ngerti kenapa JK gak bisa ngeliat ini waktu itu. Coba dia punya nomor HP gue huehehehe (Kayak yang bakal didenger aja).

Gue pribadi bener-bener berharap bahwa Pemilu berikutnya, JK akan mencoba lagi mencalonkan diri. Untuk sekarang dan beberapa tahun ke depan, gue hanya bisa berharap masalah-masalah negara bisa tuntas beres. Gak usah cepat, tapi bener-bener (setidaknya terlihat) beres.

No related posts.

16 responses to “Indonesia Pasca Jusuf Kalla”

  1. nengbiker says:

    iya, yg keliatan waktu itu JK grusa grusu uda kepengen jd presiden aja. pdhl waktu itu SBY JK itu pasangan pas. Klo dibalik sih, belum tentu JK SBY bisa sebaik itu. Figur yg dicari masih ada di SBY. Kalo setelah periode SBY selse JK maju, kesempatannya pasti lebih besar.

  2. peachespeak says:

    Iya A, menurut saya JK itu sosok yg dbutuhkan RI at times like this..tp emg syg bgt dia terlalu terburu2 pgn jd presiden..pdhl kl term ini dia msh mndampingi SBY,next term dia bs jd presiden krn rakyat udah bs liat ‘hasil’ upaya dia buat negara,dan pembangunan RI bs lbh baik krn berkesinambungan 3periode..dgn kondisi skrg saya mah ragu JK bkl kepilih jd presiden periode berikutnya klopun dia nyalonin diri lg..

  3. @RoySayur says:

    kalo pemilu dilaksanain skr, JK yg jadi presiden

  4. Jay says:

    Yep… Gw jg mikir SBY JK adalah pasangan paling pas untuk saat itu dan harusnya untuk sekarang jg.
    Dulu waktu pencalonan SBY-Boediono jd gw udah mikir2, harusnya wapres adalah figur yang bisa menjalankan pemerintahan saat presiden tidak mampu melaksanakan tugasnya.
    Misalnya nih, SBY kenapa2, sorry sekali lagi misalnya, meninggal dunia.. Do you really think Boediono could handle the job??
    Dan JK emang tipikalnya wapres bgt; siap kondisi darurat dengan quick fix nya.
    IMHO

  5. wigid says:

    bener banget..
    sayangnya JK saat itu berkendara di kendaraan yang salah.. which is gol**..

    saya juga sangat merindukan sosok beliau, yang berkerja dan berfikir untuk quick solve, bukan hanya bermanis muka di depan cermin agar masalah di belakang di lupakan orang

    mungkin yang kang adit kurang inget, umur JK sudah tua, kayaknya gak mungkin untuk menunggu 5 tahun ke depan,,

    and as u say,, beliau ingin QUICK FIX,,
    not fundamental FIX.. as a choise..

  6. roswanda says:

    setuju ma yang di atas. satu-satunya ga sukanya saya ma JK cuma Golkarnya. tapi kang kalo dia nunggu termin 2 buat nyapres, JK bakal udah ketuaan. sekarang aja udah tua…

  7. Tebez says:

    pemikiran loe bener-bener outside the box kang :D

    numpang copas untuk bahan diskusi yaa :D

  8. keputusan JK buat jadi presiden dan pisah dengan SBY bukannya karena didorong Golkar ya? Golkar yang ga rela jadi wakil melulu padahal partainya lebih senior dari PD.

    Jadi nurut gw JK juga ga bisa total lepas dari pengaruh kepentingan partainya. Dia ga bisa bilang tidak sama partai, partai yg selanjutnya mendepak dia.

    Waktu itu ga milih JK karena mana mungkin milih orang yang ga bisa bilang TIDAK sama partai yang track record 32 tahun nya C.

    kalau dia bisa bilang Tidak dan milih strategi Akang.. *berandai-andai*

  9. ega says:

    sebenernya pengen milih JK, tp pasangannya wirantoo sihhhhhh….yg satu lgi mega prabowo…do i have any option left? yah tinggal SBy n budiono jdinyaa

  10. sofia says:

    sampai sekarang saya masih berharap akan ada suatu keajaiban dan JK maju kembali. Oia, jangan lupa nonton alangkah lucunya negri ini…baguuus sekali :-)

  11. Iccank Razcal says:

    Setuju bro. Tapi kenapa JK ninggalin SBY saat pilpres??? Itu karena SBY sendiri yg ragu2 memutuskan calon wakilnya saat itu. Katanya, JK sdh 2 kali mnta kepastian (5 bulan sebelum pemilu) tapi SBY sok jual mahal. Ditambah gesekan lingkaran SBY yg tdk suka sama JK. Hasilnya, Indonesia dipimpin org pintar tapi kuper !

  12. Ya namanya Partai pasti ada Pro dan Kontra,apalagi pantneran….

  13. she says:

    bener banget, coba wktu sblm pemilu itu pak JK punya no HP mas adit… :) ) pdhal bnyk yg dukung JK tpi ko dia g menang ya….. klo diulang pasti dia menang… :

  14. hermawan says:

    Engga juga bro, langkah JK dipandang terlalu berani dan frontal. Ini sebenernya baik dan cocok untuk sebagian orang Indonesia yang aga keras kepala dan susah diatur. Tp, karna cara-caranya JK itulah sebagian besar masyarakat jadi antipati. Kalah deh Pemilu…

  15. [...] by Adhitia Mulya’s writing here, Let me write what do i feel now about my beloved country named INDONESIA. As i wrote before that [...]

  16. noel says:

    Setuju kang, ..numpang copas y kang utk FB page ” Seandainya Indonesia memilih JK”..boleh y kang?..sumbernya tetap d link ksini kang…..matur nuhun kang…bolehlah gabung kang d page FB kite….dtunggu y kang…

Leave a reply