Gayus & Runtuhnya Kepercayaan Rakyat

Kasus Gayus bagi gue merupakan titik nadir kesabaran. Titik nadir dari kesabaran menunggu pemerintah meningkatkan kualitasnya. Dua belas tahun dari reformasi, apa yang kita dapet?

 

Tahun 1998 dulu, janji akan perubahan ada di depan mata. Suharto lengser dan perubahan itu hampir bisa digapai. Tapi ternyata semuanya pada rebutan kekuasaan sementara piramida dan budaya korupsi didikan orde baru tidak ditumbangkan. Presiden ganti presiden, piramida itu tidak hancur dan percaya atau tidak, korupsi mengganas. Jaman order baru, korupsi itu tertata rapi dan terstuktur. Yang gue alamin adalah gue diperas hanya 1 kali. Kemudian gue tahu bahwa dari 1 kali diperas itu, mereka bagi-bagi di belakang meja.

 

Jaman sekarang, dengan semangat reformasi semua orang memeras. Pergi ke meja perijinan 1m kena. Kemudian ke meja 2, kena lagi. Meja ketiga juga. Hidup menjadi lebih mahal dan melarat hari ini karena korupsinya.

 

Itu dulu dan sekarang. Mari sekarang kita fokus ke Pajak. Kasus gayus membuat pilu banyak orang karena tepat setahun yang lalu, semua angkatan kerja masyarakat diwajibkan punya NPWP. Katanya agar kita gak mencurangi pajak. Karena > 50% anggaran belanja pemerintah berpijak pada penyerapan pajak dan oleh karena itu harus dipastikan bahwa semua wajib pajak harus bayar pajak. NPWP kemudian dengan gilanya dikaitkan ke semua hal. Semua transaksi di atas sekian ratus juta harus pakai NPWP. Di beberapa bank, bikin tabungan pun harus ada NPWP. Pikirannya, kalo elu punya disposable income, elu bisa bayar pajak.

 

NPWP membuat harta kita transaparan di mata pemerintah. Dan jumlah/pertambahan yang aneh akan dapat dispot oleh pegawai pajak. Misalnya income tercatat hanya 100 juta dan sudah bayar pajak. Tapi kok asetnya bertambah dari 300 juta jadi 700 juta. Ada tambahan 400 juta dibanding income 100 juta. Dari mana 300 juta ini dan apakah pajaknya sudah dibayar. Intinya hidup kita sekarang dalam mikroskop.

 

Tapi sekarang terbuka bahwa orang-orang yang melihat kita dari mikroskop itu korupsi. Orang jadi mikir, lha elu udah minta gue transparan ini gue kasih transparansi tapi elunya korup. Gimana kita bisa percaya? Padahal pegawai level Gayus itu sudah hidup enak banget. Tunjangannya udah bikin iri orang lain.

 

Satu lagi yang menyakitkan di sini adalah bahwa jadinya banyak uang hilang. Anggaran belanja negara berpijak pada penyerapan pajak. Ketika pajak yang diserap itu sedikit, maka kita harus potong anggarannya. Ini efek langsung lho. Uang pajak yang tadinya diharapkan bisa dianggarkan untuk, misalnya, menaikkan gaji guru, karena dikorup, maka anggarannya tidak ada. Langsung aja ratusan ribu guru tidak naik gaji sementar segelintir orang yang mengambil uang itu kaya 7 turunan.

 

Apa yang salah dengan bangsa ini? Kenapa korupsi sulit dihilangkan? Ke lima agama yang negara ini pegang semuanya mengharamkan korupsi. Lantas kenapa korupsi tidak bisa diberantas? Apa ini artinya kita bukan bangsa yang beragama? Wah kacau deh negara ini. Sedih bener gue liatnya. Di saat negara lain berlomba-lomba menjadi simbol dunia, punya airport terbaik, punya gedung tertinggi, punya ini itu, kita masih aja dimiskinkan oleh korupsi.

PR pemerintah yang paling urgent adalah bagaimana caranya mereka mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap dunia perpajakan Indonesia. Gara-gara rusaknya citra ini, kepercayaan orang runtuh dan orang pada males lapor, apalagi bayar.

Tanpa pajak, negara tidak bisa membangun.

Ketika pajaknya dikorup, negara juga gak bisa membangun.

Apa satu resep yang bisa membuat semua ini tambah parah? Jawabannya satu: Jika pemerintah tidak merasa perlu mengembalikan kepercayaan rakyat. Kalo ini gue udah kenyang banget dari Jaman Mega. Ketika pemerintah berdiam diri dan dingin, terasa oleh rakyat bahwa mereka tidak peduli pada kita. Tidak merasa perlu menenangkan kita. Terasanya bahwa kita adalah hamba dari pemerintah yang pemerintah tidak perlu ambil hati, meski mereka tinggal di istana dan yang makananya dibayar pakai pajak rakyat. Persepsinya bukan lagi pemerintah adalah hamba masyarakat yang kita percayakan untuk menjalankan pemerintahan.

Orang-orang korup harus ditumpas. Kalo nggak, kita gak akan bisa ke mana-mana. Sia-sia kita sebagai rakyat kerja siang malam untuk memberikan penghidupan yang lebih baik untuk anak istri, jika penghidupan yang lebih baik itu tidak mampu pemerintah sediakan karena korupsi segelintir orang.

No related posts.

21 responses to “Gayus & Runtuhnya Kepercayaan Rakyat”

  1. Tika says:

    wah, lg gw bathin lho kang,gw nunggu2 banget tulisannya ttg gayus ini.tambah hari kok tambah pabaliut ya??
    salam u teh Ninit dan 2 jagoan kecil.

  2. zidni says:

    Kita hukum mati para koruptor itu saja kang.
    apalagi yang korupsi hakim dan jaksa,
    langsung hukum mati

  3. tirta says:

    bener banget kang, gue jadi geram sendiri ngeliat berita sekarang, nonton tv cuma bikin sakit hati..pindah chanel cuma sinetron ama infotaiment.pusing ga ada tontonan..

    sekalinya posting masalah berat gini kang??rajin diupdate dong kang..

  4. Fadlun_M. says:

    Sedihnya bukan kepalang emang. Apalagi liat dia cengar-cengir di pesawat waktu dijemput pulang dari Singapura ituh, lagaknya salah tingkah tapi kok ya jadi pengen bikin kerunyut tuh muka pake tangan kosong, trus disetrika, trus dikerunyutin lagi, begitu seterusnya sampe dia brenti cengengesan dan menampakkan wajah iblisnya yang sesungguhnya. Maaf kalau kesannya sadistis, tapi mengingat betapa kejam yang dia lakukan dan betapa banyak korbannya, saya rasa dia berhak diperlakukan begitu. Ada baiknya hukuman mati untuk koruptor dipertimbangkan.
    Birokrasi baru bisa diberesin kalo udah ganti generasi, sementara pada masa transisi, generasi yang udah kadung rusak itu jangan sampe bersentuhan dengan juniorannya sehingga dia gak sempat kaderisasi dan generasi idealis penggantinya itu gak keburu tercemar dengan paham sesat itu. Gimana mas Adhit? Masuk akal gak?

  5. way obi says:

    dulu ad solusi dgn istilah ‘potong generasi’ ya kang..he2, ternyata skrg ad oknum dirjen pajak yg korupsi msh muda..jd gak jaminan generasinya dong ya, trus ad kah solusi lain? he2..tp insya allah, sy masih rela gaji sy dipotong pajak oleh negara ( tgl.23 maret kmarin sy ud lapor SPT) kl urusan hukum, sy berusaha membantu mengawasi lewat media internet dan akan melaporkan kpd yg berwenang bila ad penyalahgunaan. yg penting skrg stiap individu WNI, hrs mau berjanji & berperilaku lebih baik sbg WNI. seperti kt bang iwan fals, sepenggal lirik lagu “Sumbang” [Album Sumbang 1983]…

    Lusuhnya kain bendera di halaman rumah kita,
    bukan satu alasan untuk kita tinggalkan… atau

    “Bangunlah Putra-putri Pertiwi” [Album Sarjana Muda, 1980] sebuah lagu dengan lirik yang teramat cerdas…

    … setelah itu kita berjanji,
    tadi pagi, esok hari atau lusa nanti
    Garuda bukan burung perkutut,
    sang saka bukan sandang pembalut.
    Dan coba kau dengarkan,
    Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut,
    yang hanya berisi harapan,
    yang hanya berisi khayalan… atau

    Juga lirik sinis di lagu “Jangan Bicara” [Album Barang Antik 1984], lagu yang ia tulis meluapkan rasa apatis dirinya atas negeri ini…

    Jangan bicara soal idealisme.
    Mari bicara berapa banyak uang di kantong kita
    atau berapa dasyatnya ancaman yang membuat kita terpaksa onani.
    Jangan bicara soal nasionalisme.
    Mari bicara tentang kita yang lupa warna bendera sendiri
    atau tentang kita yang buta,
    bisul tumbuh subur di hidung yang memang tak mancung
    Jangan bicara soal runtuhnya moral.
    Mari bicara tentang harga diri yang tak ada arti,
    atau tentang tanggung jawab yang kini dianggap sepi…

    marilah kita merenungkan semua lirik itu, dan terakhir resapi kalimat ini..”Garuda tidak akan bisa terbang tinggi, bila kita semau hati..tidak peduli dan masa bodoh”.

    * jd tidak salah bila kita tetap byr pajak, asalkan kita jg menyediakan waktu untuk mengawasi pemerintahan ini. kita hrs kritis !!

  6. way obi says:

    oh ya, tttg lirik lagu bang Iwan fals, sy kutip dan saya copas dr http://kepakgaruda.wordpress.com/2009/08/09/garuda-02/ .. sebuah site yg oke bgt yg dibuat oleh anak muda Indonesia. thx ud boleh comment kang Adit. (sy penggemar berat Gege) http://wayobikameramen.multiply.com

  7. saya berharap dengan kata-kata mas adhit “Di saat negara lain berlomba-lomba menjadi simbol dunia, punya airport terbaik, punya gedung tertinggi, punya ini itu, kita masih aja dimiskinkan oleh korupsi” kita jadi tu diri untuk ga ngelakuin korupsi.
    dan ini membuktikan pemikiran bangsa ini belum berkembang..
    terima kasih mas..udah ngingetin dgn artikel ini :)

  8. Luluk says:

    Gw sedih baca tulisan lo Dit, kebayang aja sama gw bapak2 dan ibu2 yg gelayutan di KRL tiap hari buat sesuap nasi tapi kehidupan gak lebih baik juga karena korupsi. Solusinya cuma satu: belajar dari RRC, hukum mati semua koruptor berapapun nilai yg dikorupsi. Gw barusan dari Af-Sel, klo AfSel aja bisa maju, kenapa Indonesia nggak? ya jelas sebabnya: Korupsi!

  9. Rama Sejati says:

    Artikel yang bagus !

    Barangkali artikel “gila” berikut juga berguna bagi rekan rekan lainnya > Gila ?

  10. ega says:

    males rasanya denger berita korupsi terkuak, trus markus terkuak, ini itu dll..ujung2nya ga jelas gimana akhirnya, ilang ditelen bumi, ato ketiban berita lain. ujung2nya malah berita selebritis lebih jelas keakuratannya.
    Klo saya setuju bgt, org yg korupsi, anak dan istrinya ikut dihukum ato diekspos biar malu skalian. Itu utk shock terapi, supaya org2 mikir klo mo korupsi bisa bikin keluarga susah.
    Dah ga trlalu banyak berharap dgn pemerintah, tinggal tunggu adzab buat mereka yg makan bukan haknya. Insya Alloh kita tetap istiqomah utk jaga kebersihan harta yg akan kita beri utk org2 tercinta kita makan.
    uang panas ga akan pernah berkah! emang enak ntr anaknya jd pecandu narkoba! *geraaaah!!!!

  11. Resep says:

    Betuul..jadi tambah males ama pajak..ngisi formulirnya ribet, masih harus bayar, nyasar lagi duitnya..weleh..

    tapi cuma males doang, bukannya menolak bayar pajak loh :D

  12. Manse says:

    Gw se7 ma zidni.
    koruptor kyknya dihukum mati aja. kyk di china.
    disono aja meski dihukum mati msh ada yg brani.
    biar jadi jera.. kalo cuma dihukum bui kyknya ga mempan.. liat aja senyum mesumnya.. bukannya malu kalo ditanggap eehhh malah bangga. ga tau bangsa ni mo jadi apa?
    tanya knapa!

  13. aishi lely says:

    semua menyudutkan orang pajak yah… kasian sekali..^^

  14. a121 says:

    argumen yang bagus. mungkin karena itu makin banyak orang indonesia yg lebih rela bayar pajak di negara lain. soalnya hasilnya lebih jelas juga. maksudnya, mereka pindah tempat tinggal dan kerja di luar negeri.

  15. Rasyidan says:

    Aye link ke FB ya kang :-)

  16. ogi says:

    Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi.
    Kita semua berdoa untuk itu.

  17. Bi Willy Julivanie says:

    Bener Dit, miris pisan dengernya…gregetan, gemeletuk entah apa lagi emosi kita udah kelewatan pisan ke rakyatnya..

    Postingnya bagus, jd semangat..nuhun ya..salam Ninit en Alde sama Arza.

  18. Iman says:

    Kl orang2 yg teriak repotmasi dan menyuarakan “suara” rakyat kecil (proletar, ngaku2 sosialis nasionalis bla..bla dgn marxis marhaenis) … sudah nyaman di DPR, aman dari penyelidikan tim korupsi … Bagaimana mau benar pelaksanaan ganyang korupsi di negeri kita ini.

    Semuanya diguyur uang dan kekuasaan, sehingga teriakan2 mereka di “masa muda” dulu memang sudah berbalas dengan kebaikan mereka di “masa tua” :-) Dipelihara oleh rezim kekuasaan sehingga mereka pura2 lupa dgn apa yg diperjuangkan dulu. Sejaraha berulang lah 1966 – 1998 – ?

  19. kangmase says:

    Gara-gara rusaknya citra ini, kepercayaan orang runtuh dan orang pada males lapor, apalagi bayar.

    itu tidak terbukti, tahun ini, yang lapor pajak naik jauh diatas kenaikan taun2 sebelumnya.

    yang bayar juga naik jumlahnya, meskpiun jumlah yang dibayarkan tak jauh beda dengan taun2 sebelumnya…

  20. UguH says:

    Sia-sia kita sebagai rakyat kerja siang malam untuk memberikan penghidupan yang lebih baik untuk anak istri, jika penghidupan yang lebih baik itu tidak mampu pemerintah sediakan karena korupsi segelintir orang, <<<

    Maap ni bang, cuma mo mastiin aja. apa iya menurut abang yang korupsi di pemerintahan cuma segelintir??? ato yang segelintir malah yang gak korupsi???

  21. Keisya says:

    Capek Dech Apa Katah Dunia ..:(

Leave a reply