Sepotong cerita dari blog gue yang lama, di tahun 2006. This is one of my all time favourite posts. Dia ada salah satu orang yang paling berpengaruh dalam hidup gue. His presence in a room is majestic. Stories of him alone, from the many people who loves him, is a book of life.
http://suamigila.com/2006/09/pemuda-bernama-djuhro.html
Seharian ini sistem di kantor ambruk. Gua menghabiskan hari melihat-lihat foto Aldebaran. Gua berpikir betapa beruntungnya gua memiliki bintang kecil ini. Bagaimana bisa semua ini terjadi. Kemudian gua teringat 1 hal penentu, kenapa semua hal ini bisa terjadi.
Berpuluh-puluh tahun yang lalu di desa Sumedang, hidup seorang pemuda bernama Djuhro Soemawiria. Djuhro tumbuh miskin. Saking miskinnya, dia diangkat seorang kerabat lain karena orang tua Djuhro tidak mampu memberikan suapan nasi. Di suatu pagi, Djuhro muda berjalan-jalan di pasar. Seorang anak tertangkap mencuri sepatu dan orang-orang hampir memukuli anak itu.
Djuhro muda datang dan melerai. Djuhro muda adalah seorang pemuda miskin tapi dia membayarkan sepatu anak itu. Anak itu berterima kasih dan pergi.
Djuhro muda dan anak kecil itu tidak pernah bertemu lagi.
Belasan tahun kemudian, Djuhro menikah dan memiliki 5 anak. Dia menjadi kepala stasiun Cicalengka, Bandung. Suatu malam, Di/TII memberontak. Mereka membuat kerusuhan. Memburu rumah-rumah dan mencoba membunuh aparat pemerintah.
Rumah Pak Djuhro ditendang terbuka dan sekelompok tentara masuk dengan senjata. Sersan kepala menodongkan senapannya pada Pak Djuhro dan keluarga.
Sersan kepala itu menodong orang yang pernah membelikannya sepatu.
Sersan itu tersenyum dan mengucap permisi.
Setelah kejadian itu Pak Djuhro dikarunai anak ketujuh bernama Ati Ernawati.
Dan di tahun 1977, ibu Ati melahirkan seorang anak lelaki bernama, Adhitya Mulya.
Dan di tahun 2006, sebuah bintang penunjuk lahir. Aldebaran
Apa yang kita lakukan dalam hidup, berpengaruh pada orang lain. Dan pada diri kita juga.
Moral of the story: Memang kita harus ikhlas bersedekah dan menolong orang lain. Imbalannya gak perlu diharap. Karena akan datang sendiri di saat dan dengan jalan yang tidak terduga.
No related posts.



SUBHANALLAH!!
mengharukan sekali ceritanya bang!
bener tuh…aku juga udah ngerasain..
memberi tanpa mengharap imbalan..emang agak susah tapi kalo mau pasti bisa…
btw mas..aku taro link nya di blog ku boleh ya…
biar gampang kalo mo mampir lagi…
bole ya….
waaaaaaaaaah kakng aditt..ini postingannya okeeee bgtt…
postingan di 2006 jg dah pernah ak baca…
subhanallah ya…hal simple yg kita lakukan, bisa berpengaruh di masa yg akan datang..jdi banyak2 berbuat baik…
Terharu bacanya…
Itulah mengapa peranan kita dalam kehidupan ternyata sangat berdampak untuk orang lain. Nice story
subhanalloh….beneran…banyak bgt hikmah yg bisa diambil dari cerita ini..very inspiring…
setuju mas, terkadang lingkaran hidup kita dn org lain beririsan dalam fungsi waktu. klau sj pa Djuhro tidak membelikan sepatu ank kecil itu, pastiny sy ndak kan pernah menikmati novel jomblo, dn gege..
setuju kang adhit.
ibarat menanam benih, klo benihnya baik ya yg akan dipanen nanti jg baik, dan sebaliknya.
Terharu…
Subhanallah.. ikhlas emang slah satu ilmu yang paling susah.. tapi semoga kita bisa mengamalkan nya..
menangis tanpa meneteskan airmata
betapa mulianya hati pah djuhro.
Setuguu!! eh setujuuu!! berillah dengan tangan kananmu tanpa sepengetahuan tangan kirimu. Begitulah kiasan yg cocok untuk orang yang iklas berbuat dan tidak mengharap balasan.
beberapa hari yang lalu, kebetulan my aunt lagi mau pulang kantor (me and my aunt sekantor, lucky!! hehe) akhir2 ini dia emang lagi rada sakit2an…dan kebetulan tu hari dia ga bs djmput sopir, jadi kalo mau pulang naek taxi mesti jalan dulu keluar gedung pusat niaga PRJ baru d stop taxi (kita kerja di Gedung pusat niaga PRJ Ji EXPO), dan dia bawa tas segede gaban yang sangkin besarnya, bisa dimasukin ema kucing, suaminya dan 4 / 5 ekor anaknya. Saya menawarkan bantuan untuk membawa tas nya, simple si buat saya, tapi means a lot to her, saya anterin ke tempat naek taxi yang kebetulan berlawanan arah dengan tempat parkir motor saya, lalu dia pun bertanya “kok kamu mau bantuin bawa tas berat itu? padahal tempat parkir motor mu jauh banget” saya cuman jawab “karena…saya yakin, dengan begini, suatu saat nanti, bakal ada orang yang bantu saya, disaat saya membutuhkan”
mungkin bagi beberapa org cerita saya ga penting, cuman prinsip saya, apa yg kita tabur itu yang kita tuai, jadi sekarang saya lagi banyak2nya nabung… heheheh
cheers, btw saya baru 1x buka ni web…baru tau kemaren malem…bagus…banget… salam kenal…
Moral yang patut diteladani
setuju!!
saia menyebutnya: karma
simple….
tapi touching,
hahaha… ceritanya, mengahrukan, salut deh buat yang nulis bisa membawa pembaca ikut merasakan
hmm, tidak ada update lagi?
salam,
tulisan yang bagus, sorry ngikut thread komentar ini sbg salam perkenalan… saya Agus Suhanto
Kerenh ..
Salam kenal om Adhit
wah jadi ingat kisahnya Alexander Fleming dan Winston Churchil. Churchil anak bangsawan yang masuk ke rawa hampir mati ditolong oleh Fleming seorang pemuda miskin, Fleming akhirnya disekolahkan oleh ortu Churchil dan menjadi dokter yang menemukan penisilin sedangkan Churchil berkarir di Militer sampai akhirnya menjadi PM Inggris. Intinya menolong tanpa pamrih, siapa menanam dia menuai
benang merah kehidupan Mas.
ga akan berhenti hanya di kita ato anak kita…tapi sampe cucu, cicit, canggah, sampe akhirnya putus generasi..
jadi inget ‘pelangiku’ dirumah
Terharu bacanya… apa yang kita tanam, itu yang akan kita dapet nantinya ya
domino effect ya kang, jadinya?
Sederhana tapi kaya makna.
Huahahaha.
Ceritanya gila.
*Ngakak puas*
NAH!
Kapan2 aku link ya.
Salam kenal.
dasar penulis…
suka banged…
emang bener klu sedekah itu ibadah yang ga pernah putus pahalanya…
bagus banget dan sangat mengharukan
nice post…. ^^
ceritanya menarik,. sip banget,. ^^