Devisa

Devisa adalah salah satu faktor yang penting (kalo gak yang terpenting) bagi sebuah negara. Devisa yang kasus kita memakai USD, quite simply bisa dianalogikan sebagai semua tabungan yang sang ayah miliki dalam sebuah keluarga.

Ketika si anak sakit, sang ayah menjebol tabungannya untuk belanja obat. Ketika atap bocor, si ayah keluarkan tabungannya untuk benerin atap.

Ketika anaknya pengen sekolah, ayah bayar SPPnya pake devisa.

Dari mana ayah dapat devisanya? Ada banyak caranya.

Ayah 1, menanam kopi di kebunnya dan di depan rumah bikin gerai kopi. Dia jual capuccino mahal. Untung besar setelah rugi sedikit dari bikin gerai kopinya. Sekalian dia nanem sayur dan piara dan buka gerai burger. Di kebunnya juga ada kayu jati. Di garasi dia bikin mainan kayu dan dia jual mahal mainan itu. Ayah 1 ini menjual barang jadi.

Yaitu harga jual = modal + bahan mentah  + keahliannya.

Ayah 2, punya hal yang sama. Dia punya kebun kopi, sapi dan hutan kayu. Tapi dia jual panen biji kopinya. Dia jual panen sayur dan sapinya. Dia jualin kayunya. Tentunya karena semuanya bahan mentah, harga jualmya gak seberapa.

harga jual = bahan mentah.

Ayah 2 jual biji kopi 500 perak 1 kilo ke ayah 1. Di mana 1 kilo bisa bikin 100 cangkir. Ayah 2 kemudian haus dan beli kopi ke ayah 1. harga 1 cangkir 200.

kebayangkan kan betapa ayah 1 makin kaya dan betapa ayah 2 makin miskin tiap harinya?

Betapa tiap harinya, devisa ayah 2 makin menipis sedangkan devisa ayah 1 makin meningkat.

Ayah 2 adalah Indonesia dan ayah 1 adalah negara maju.

Kita sebagai rakyat Indonesia gak bisa menghalangi free trading atau gak bisa menghalangi global commerce. tapi setiap barang impor yang kita beli, sebagian dari duit itu pergi ke negara lain.

Ayah kita adalah negara kita. Dia memegang devisa dalam USD. Kita sebagai rakyat memegang IDR. Sejatinya, kita sebenernya tidak memiliki USD kita secara personal. Maksudnya gini.

kasus 1:

Elo eksport biji kopi, laku USD 1000. kemudian, lu pengen beli motor. USD 1000 lu itu ada di tangan lu, tapi sebenernya itu devisa milik negara. Ini karena setelah lu ekspor kopi, lu gak mungkin memakai USD untuk beli motor kan? makanya lu pasti tukerin USD 1000 ke negara ke rupiah, barulah beli motor.

Di kasus ini, berkat elu, devisa negara bertambah USD 1000. Sebagai tukarannya, negara memberikan elu rupiah 10 juta untuk lu pake.

Kasus 2:

gue menghabiskan 2 juta per bulan beli kopi enak asal (katakanlah perancis) bernama Bax. Enak banget. Yang gue gak sadar adalah, dari 2 juta rupiah itu, katakanlah 1 juta (USD 100) diambil oleh manajemen Bax balik ke negaranya. Apakah negara itu mengambil 1 juta rupiah? gak lah, mana laku rupiah di negara dia. Untuk mengambil 1 juta rupiah itu, Bax tukar 1 jutanya ke negara Indonesia dan dengan terpaksa negara memberikan Bax USD 100. Abis itu, Bax bawa USD 100 itu balik ke negaranya. Di negaranya, USD juga gak laku. Yang laku Euro. Makanya sesampai di Perancis, dia tukarkan USD 100 itu ke euro.

Hasil:

1. Gue bokek 2 juta.

2. Negara berkurang devidanya USD 100.

3. Perancis bertambah kaya USD 100.

4. Bax tambah kaya karena dapet Euro itu.

Dari sini keliatan ada dua bahaya:

1. Indonesia adalah pengekspor bahan mentah. yang mana harganya murah.

2. Indonesia juga mengonsumsi barang jadi yang mahal harganya.

Intinya, di kala petani kita ekspor biji kopi dan garmen, mereka dapet paling cuman USD 1 juta dan menjadi devisa negara. Tapi berapa banyak orang kota minum kopi? beli baju branded? beli sepatu import? konsumsi barang impor kita bisa menggerus devisa yang petani udah susah payah kumpulkan untuk negara.

Kalo kita pengen maju, negara harus punya uangnya/devisanya. Kita komplen pendidikan gak maju. Pemerintah akan meningkatkan pendidikan kalo ada devisa untuk bangun sekolah, lab, etc. Dari mana devisanya? harus lebih banyak orang Indonesia yang buka gerai seperti Bax itu. Di mana saking kerennya, kita yang buka cabang di negara mereka dan menyedot devisa mereka menjadi devisa negara kita.

Intinya apa coba? Kita lah yang harus mulai.

1. Beli produk lokal agar

- devisa negara tidak tergerus.

- murah

- mengurangi pengangguran.

2. Bikin usaha lokal yang menginternasional agar

- bisa ambil devisa negara lain untuk negara kita.

- jadi kaya

- juga menyerap tenaga kerja

Kalo Indonesia miskin, jangan gampang salahin pemerintah. Kita liat dulu pola konsumsi kita. gue gak bilang untuk boikot produk impor. Gue juga gak bilang kita harus pakai 100% produk lokal karena jujur aja, bikin mobil dan lainnya kita belum bisa.

Tapi yang penting ini:  gua gak berhak ngatur orang bagaimana mereka harus berkonsumsi. tapi kita semua bisa memilih 1 dari 2 hal:

1. Pola konsumsi yang menggerus devisa negara?

2. Pola konsumsi yang tidak menggerus devisa negara?

dan ingat, devisa negara lah yang membangun subway. Devisa negara lah yang membangun jembatan dan jalan.

Jadi, gue personally, gak akan maki-maki kenapa jakarta gak mampu bikin subway, kalo gue lagi kejebak macet sambil minum kopi brand import.

60 responses to “Devisa”

  1. Ria says:

    Nice post,mas. tadinya gw ngga ngerti soal devisa.. tapi baca entry ini, gw jadi ngerti. Analoginya keren, bisa dicerna sama otak ‘irit’ gw :)

    Gw juga pengen bantu negara ini, dan artikel ini ngebantu banget. makasih mas.

  2. Ria says:

    Nice post,mas. tadinya gw ngga ngerti soal devisa.. tapi baca entry ini, gw jadi ngerti. Analoginya keren, bisa dicerna sama otak ‘irit’ gw :)

    Gw juga pengen bantu negara ini, dan artikel ini ngebantu gw banget. makasih mas. :)

  3. ita says:

    Sbux di luar udah banyak yg mati, kok di Indonesia masih ramai aja yah?? Tren atau prestis?? Ayo cintai produk2 dalam negri, kl mau ngopi ke warung kopi indonesia aja untuk membantu negara kita juga…

  4. diaz says:

    postingan ini keren banget. analoginya masuk banget di otak, dan membuat gua ngak maki-maki pemerintah mulu. meskipun gua lagi kuliah di luar negeri hehehe. orang kayak gua nih yang ngasih duitnya ke negara maju.

    • admin says:

      Diaz, kalo belajar di luar negeri, namanya investasi karena dari scope negara, negara melihat bahwa anaknya mendapat sesuatu yang berguna dan dapat diaplikasikan setelah anak itu (elu) pulang ke Indonesia. mau kerja di luar juga gak berarti gak nasionalis. Kerja di luar itu mengurangi pengangguran dalam negeri. Kalo kirim uang pulang artinya nambah devisa. Perantau/pelajar mah gak masalah, I think.

  5. Nyubi says:

    Keren.. Simple analogci make it easy dicerna
    Halahhh

  6. Kang Jodhi says:

    wow, finally

    that’s all i want from You, Mr SBY. So glad that I finally read this at http://www.sbypresidenku.com

    ooops? what? this is but http://suamigila.com? d$@n, must have been daydreaming

    yo, kang adit, if someday you make your way to be presidential nominees, I’ll vote You, insyaAllah

    regards

  7. sedikit bingung dan sedikit mengerti. :D

  8. zahra says:

    Nice post.
    Sekarang masalahnya gimana post ini dibaca dan bikin orang sadar sebanyak2nya. 1-2 juta orang kaya yg merubah gaya hidupnya pasti berarti banget.

  9. admin says:

    Guys feel free to copy paste this posting kok. To your blog or to any mailing list. Ok? Thanks.

  10. Luluk says:

    Postingnya bagus baget Dit…Makasih banget..gw sekarang makin ngerti soal konsep devisa…daan…gw gak mau minder skrg walo gw jadi TKI :-D Keep writing Dit!

  11. setuju banget mas. nasionalisme model gini yg insyaAllah lebih bermanfaat dari sekedar simbolis2. :D
    Mengutip kata2 salah satu capres, “Bangsa ini bisa cepat maju klo orang2nya sudah ‘satu kata, satu perbuatan’”.

    *beneran, ga bermaksud kampanye. udah slese kan pemilu. :D*

  12. ndari says:

    top mas Adit…:)

    sekalian copy paste ahh…:p

  13. umar says:

    Amazing post! nerangin konsep devisa, yg mungkin akan diterangin oleh
    ‘ekonom’ dg jelimet, secara gamblang. Ayo stop pake brand luar krn ‘prestige minded’ pake produk lokal with pride!

  14. heriyadi says:

    Berdasarkan data 10 tahun terakhir sebenarnya neraca ekspor impor kita itu rata2 surplus 20 milyar dollar pertahun. Tapi banyak yang lalu menyompan uangnya di negara asing karena sistem devisa kita adalah devisa bebas. Jadi cadangan devisa kita juga cuma dikit nambahnya. Jadi pemerintah yg mesti mikirin gimana biar uang ini diinvestasikan di Indonesia dan ngga dibawa kabur ke luar negeri.

  15. ima says:

    Kereen… Tulisannya nambah pengetahuan bgt… Gue ijin copy ya mas… Tq…

  16. riefai says:

    gw kerja di luar negeri, uang gw kirim ke Indonesia dlm bentuk USD trus ditukar Rupiah. berarti negara dpt tambahan devisa USD dan gw ttp dpt simpan Rupiah. trus uang Rupiah gw bikin usaha yg bisa nyerap tenaga kerja lokal ! gw dah bantu negara dong :)

  17. dyNa says:

    teramat sangat masuk diakal..ternyata…nice stories and info jadi kita lebih tau ttg yang namanya devisa…

  18. sekar ayu says:

    walaaaahhh…. nice posting mas adhit.
    ni bikin gwe pribadi sadar, gimana lebih ngertiin apa yang harus dilakuin sebagai warga negara yg baek. gak mesti selalu beli produk luar kalo ternyata produk lokal pun kualitasnya sama dan malah jadi salah satu produk yg diimport ke luar.

  19. tyo says:

    penjelasan yang sangat simple tapi gak ngurangin isi, hehhe

    makasih mas adit

  20. wisatajiwa says:

    Nice posting mas… memang kita jangan sampai ikut terbius dalam konsumtivisme global di mana ujung-ujungnya adalah transfer devisa keluar negeri.
    Opini saya pernah tertuang di sini:
    http://wisatajiwa.wordpress.com/2009/02/02/resesi-global-vs-peningkatan-konsumsi/

    Salam damai

  21. saginos says:

    Nice post. bener banget walau banyak yang bilang harus pake produk lokal yg murah, tetep aja masih lebih banyak yg make produk import yg lebih mahal. Hmmm. Tapi gue sedikit ngebantu dengan selalu beli air mineral brand lokal. Haha :p

  22. Ini yg juga gue pikirin, bangsa Indonesia itu ga usah di debat kekayaannya.
    Kita punya bahan mentahnya.
    Tapi utk menang dalam berbisnis, bukan hanya butuh bahan dasar/mentahnya.
    Ada ilmu marketing.
    Ada desain.

    Orang suka bilang: Beli dong produk Indonesia, orang Nike aja made in Indonesia!

    Padahal, bukan itu masalahnya!
    Cth: Taukah elo pabrik dan pekerja yang bikin Nike “made in Indonesia” sama dengan yang bikin LEAGUE.
    Sebuah merk sepatu olahraga Indonesia.

    TEMEN GUE DESAINER PRODUK yang kerja disitu.

    Apakah elo beli?
    Kenapa?
    Wong yang bikin sama kok.

    ELo ga beli, karena kekuatan marketing LEAGUE tidak sebesar NIKE.

    Temen gue adalah desainer sepatu yang brilian.
    Tapi dia sendirian.
    Dia muda, dan dia tersibuki oleh begitu banyak jobdesc
    But i have tremendous ammount of hope for him
    He too, i think, understands that he’s learning.

    Belajar dari mana?
    Dari kompetitor, dari brand lain, yang notabene lebih maju.
    Dia, mempraktekkan ATM, Amati Tiru Modifikasi.

    Dia, adalah pahlawan kita.

    PS: Beberapa tahun lagi, NIKE akan total berhenti produksi di Indonesia (sekarang mengurangi gradually)
    Ketika itu terjadi, semua pabrik dan karyawan yg ngerjain NIKE akan HANYA ngerjain LEAGUE.

    Ketika hari itu tiba dan LEAGUE tidak laku (karena tim marketing mereka ga kuat) maka bayangkan apa yg terjadi pada buruh tsb.

    Salah temen gue kah?
    Nggak.
    Yang pasti temen gue berpacu dengan waktu.
    Makanya, dia adalah pahlawan Indonesia.

    Buruh dan bahan mah Indonesia banyak.
    Marketer dan Desainer yang handal yang jarang.

    Ingin bangsa kita pake barang Indonesia 100%?
    Barang Indonesia harus 100% menang bersaing.
    Ingin kita 100% menang bersaing?
    Indonesia harus belajar.

  23. chester says:

    masalahnya di dunia ga hanya ada 2 orang ayah dan semua trading berlaku secara net, itulah yg disebut sebagai comparative advantage. contoh ini emang sederhana, menyederhanakan masalah, dan cenderung menyesatkan…

  24. tiar says:

    nasional yg kemudian buka cabang di internasional contohnya JCo gt ya?

  25. Halimatos Sa'diah says:

    Kenapa “PAHLAWAN DEVISA” iaitu para TKI tidak di lindungi semesti nya. Perdesaan maju gara2 mereka . Coba bikin survei , seberapa besar jasa mereka utk Indonesia.

  26. juns says:

    indonesia, udah miskin suka bertengkar lagi..
    Sosok ayah(presiden) sering tidak dihargai, dicemooh bahkan dibakar fotonya..
    Gmn NKRI bisa maju brur kalau caranya begitu??

  27. GeledekBiru says:

    Ada yang jadi pertanyaan, kenapa kita memakai USD sebagai devisa? Kenapa tidak Euro, Rupiah, Yen?

  28. Shasha says:

    stuju pisan mas :)! kadang saya juga suka miris kalo ngeliat temen-temen menghina negara+pemerintah tp ga melakukan apa2 buat bikin indonesia lebi baik.
    membuka mata skali postnya mas! ditunggu buku2 selanjutnya!

  29. AND 1 says:

    Artikelnya…. Mantaabbbz….. simple tapi menggelitik dan menambah pengetahuan kita mengenai devisa, mudah2an informasi ini bisa dibaca dan dimengerti oleh semua orang2 INDONESIA….. Bravo Produk Dalam Negeri…. Go to Smart Worker…..

  30. nurawan says:

    Setuju & analogi Ok…
    Tetapi yang perlu dibenahi juga moralitas dari penyelenggara pemerintahan juga karena pada pelaksanaannya di lapangan devisa yang susah payah dikumpulkan oleh keringat & airmata saudara – saudara kita seringkali menguap dan tidak tepat pada sasaran.

  31. way obi says:

    Hmm..dari reaksi orang-orang yang sudah baca postingnya kang Adhitya Mulya. Saya makin bangga dan yakin sama bangsa ini. Ternyata bangsa Indonesia sudah mempunyai generasi yang mampu belajar dari bangsa lain yang lebih maju, untuk memperbaiki kelemahan yang sedang di hadapi oleh bangsa ini (contoh:saran dari Pandji Pragiwaksono. Yang saya tahu dia adalah seorang “public figure”) Maju terus bangsaku. Berkibarlah Indonesiaku. Saya berjanji, akan melakukan yang terbaik untukmu.

    nb: buat kang Adhit, God bless you. btw, gmn kbr bajaj ringseknya kang? he2..ud gak sabar nih (krn sy termasuk orang yg menyukai buku2 anda (jomblo,gege) walupun sy gak mengkoleksi tanda tangan & foto2 anda..ini serius kang, maaf krn sbg seorang lelaki yg alhamdulillah normal..agak aneh buat sy mengkoleksi ‘itu’ (itu, maksud sy..ah,kang adhit pasti tau lah maksud sayah..he2, maaf ud ketularan nih gaya nulisnya sama kang adhit..maapkeun yah..) he2

  32. Fajar says:

    Salam kenal Bung Adhitya,

    Tulisan Bung mengingatkan saya akan penulis buku The Undercover Economist, menjelaskan gagasan ekonomi dengan ilustrasi yang awam.

    Mohon ijin utk repost di FB notes saya.

    Trims.

  33. Rika says:

    postingan yang bagus buat dibaca ibu2 muda yg doyan belanja barang2 branded, bukan karena kebutuhan tp gaya2an doang, aq linknya tulisannya

  34. Dika says:

    Keren,mas!! Aku jadi ngertu maksudnya devisa he5
    Tengkyu ya :)

  35. aZhura says:

    LIKE THIS!!!!!!!!

  36. kiky says:

    Kalimat terakhirnya mantap!! :)) kena banget…

  37. bulan says:

    Mas Adit, aku copy paste ya artikel ini ke note di fbku.

  38. “Kalo Indonesia miskin, jangan gampang salahin pemerintah.” aku suka kata2 ini. kadang2 kasian juga pemerintah. selalu aja disalahin. yah..walaupun kdg2 juga mereka yg salah. hehehe

  39. [...] saya mau share lagi sekelumit fakta yang saya dapat dari sumber lain: Blog Suami Gila di mana didalamnya ada komentar dari Pandji Pragiwaksono sebagai berikut (saya copy di [...]

  40. icha says:

    duh, suer..keren bangedh postingannya…
    mohon ijin buat di re-post di note FB sayah ya?????

  41. wisangkala says:

    saya link ya…
    thx…

  42. tara says:

    gila keren bgt nih !!!izin sedot gan :))

  43. mewarnai says:

    wah bener banget niy… selama beberapa tahun belakangan ini tinggal di negara orang …..yang paling berasa adalah kecintaan mereka pada produk dalam negeri sendiri dan gw akuin kualitas produk bisa bersaing dalam kualitas tapi kalo harga ya sama aja …
    dan satu hal selama disini kalo beli kopi atau produk turunan nya merasa lebih sreg dengan produk lokal negeri tempat saya tinggal soal nya kalo beli di sbux udah mahal kopinya encer pula jd kalo emang niat nya minum kopi gak sudi beli di sbux mending beli di gerai lokal.. lebih murah dan mantap …..kecuali buat kongkow2 sama teman baru ke sbux minjem tempat nya …..

  44. mutje says:

    ternyata mas aditya selain bisa bikin cerita kocak juga pandai memotivasi kita untuk kritis dengan lingkungan sekitar. Salam kenal mas!! saya termasuk orang yg suka hunting novel karangan mas yang lucu2.. kaya jomblo dan gege.. kok nda bikin novel lg mas!!? pasti lgsg saya beli mas!!! nuwun

  45. andin says:

    wah ,kereeeennn,, jadi ngerti. slama ini terkadang ada hal hal yg populer disebut2 tp tenyata ga ngerti sepenuhnya ttg hal tersebut..
    aku share ya

  46. Nadya Fadila says:

    Tulisan yang bagus sekaliiii… =)

  47. arifan says:

    ijin copas ya, taro di forum

  48. src034 says:

    ijin forward gan…!!!
    Smoga bergunan buat yang laen

  49. errr.. gw baru nyadar kalo efeknya segede itu.. thanks for this enlightening article :)

  50. Juragan says:

    ilustrasi ayah2an itu bgs d..
    Kekny musti digalakkan tagline ‘hare gene barang impor??’
    he he he..

    Anyway, salam ganesha pak..!!
    *kata2ny aj dah lupa pdhl ^ ^’*

  51. eka_maolana says:

    emang sihh…, kadang gw ngumpat2 nya bukan karena gak mampu…, tapi devisa negara kt sebenarny bs banya.., cm kadang gemes2 ma kutipan2 ma KKN ny itu lohh..,aduuhh..

  52. dama says:

    Kadang kita gak tau apa yang kita kira hanya perbuatan remeh, ternyata berpengaruh besar pada bangsa ini, ex: beli produk import

  53. EKa says:

    hehehehe…..bikin kopi brand Indo aja….CrushCoffee a.k.a. Kopi Tubruk…nama sementara pake inggrisan dulu, buat ngibulin orang2 yang western minded gitu….wakakakakak :p

  54. ari says:

    Baru nyadar nih…..

  55. Rendy says:

    Dahsyat juga efeknya, hehe…
    mulai sekarang ngga ngopi di S***bucks lagi deh, mending di kedai kopi di pinggir jalan.

  56. rama3i says:

    ya gitu lah pak nasib negara berkembang. Bisanya jual barang mentah. Klo dah pinter jual barang jadi ya jadi negara maju donk…

    Tapi ada hikmahnya lho. Karena ekonomi kita besar karena konsumsi dalam negeri, waktu krisis kemaren kita selamet, bahkan termasuk negara yg ekonominya solid.

Leave a reply