Sedekah

Beberapa waktu yang lalu kita pergi ke KBRI untuk dengerin ceramah ustadz Yusuf Mansyur.

Bagi yang belum pernah kenal ciri ceramah dia, ni gue kasih tau: Dia adalah ustadz yang berusaha menyosialisasikan 2 ajaran Allah:

1. Orang yang bersedekah tidak pernah miskin

2. Sedekahlah dan pasti dilipatgandakan (dalam berbagai cara dan bentuk).

Satu hal yang bikin ceramahnya gak nyaman adalah, bahwa ceramahnya cenderung menjerumuskan orang. Di mana konsep yang diajarkan berisiko salah tangkap.

Dia berusaha ngajarin secara eksak dan matematis bahwa kalo kita sedekah 10 ribu maka kita akan diberi imbalan 100 ribu. Dia juga cerita ada seorang teman di jawa, katakanlah Joko, yang punya uang 2 juta. Joko sangat butuh uang tahun dpean untuk bayar kontrkannya 1.5 juta. modal hariannya 1 juta. Dia kurang 500 ribu. kemudian dia mendengar ceramah ustadz Jusuf ini bertajuk “menjadi kaya karena sedekah”. Kemudian Joko bersedekah 1 juta dengan harapan dan kepercayaan bahwa Allah akan memberikan imbalan yang lipat ganda. Beberapa bulan kemudian ada lumpur lapindo. Kemudian dia ditunjuk lapindo untuk menyediakan catering 16000 orang tiap hari. Akhir tahun dia punya 600 juta.

Cerita seperti ini jujur aja sangat menbahayakan. Gue aja pertama kali dengernya malah kok kita sedekah pamrih ya? Kok kita itungan ya sama Allah? Inti dari cerita dia, Allah selalu akan mengembalikan dengan berlebih. Dia juga membuktikan dari cerita ini bahwa orang sedekah gak akan miskin. Tapi yang ustadz ini gagal menerangkan bahwa kalo sedekah juga harus ikhlas.

Kalo gue pribadi, ada hikmah yang gue bisa ambil dari cerita lapindo ini sama dengan cerita guru agama gue waktu SD dulu. Dan entah kenapa ustadz ini gak ungkapkan. Entah dianya nyadar atau nggak nyadar. Hikmah itu adalah:

Sedekahlah when it matters. Maksudnya, si Joko ini tabungannya cuman 2 juta dan dia nekat nolong orang 1 juta, meski pake harapan dan pamrih segala. Kalo kita punya 1 milyar dan sedekah 1 juta, ya atu gimana ya itu cuman 0.1%. Zakat aja 2.5%. dia sedekah 1% itu memang belum cukup cover kewajiban zakatnya.

Kalo yang gue diajarinnya ada beberapa hal:

1. Sayang kalo kita sedekah banyak kalo sholat kita masih bolong-bolong. Guru gue pernah bilang, Shalat itu tiang agama. sedekah, puasa, haji dan lainnya menggantung di ketekunan shalat kita. Kalo kita sedekah 1 Milyar, sebaik-baiknya 1 Milyar, itu sunnah. Shalat yang wajib malah bolong. Sebaiknya sejalan dengan kita sedekah banyak, kita pastikan shalat kita gak bolong. Sama aja kayak orang rajin tahajud api karena kerja, sering lewat shalat Ashar. Itu bukannya ngawur, tapi ibarat kata guru gue, hasil kamu shalat tahajud mau digantungkan di tiang mana? tiangnya aja rapuh bolong-bolong.

2. Sedekahlah when it matters.

3. Sedekahlah di atas kewajiban zakat kita.

katakanlah salary kita 10 juta sebulan. Sebulannya kita berikan ke orang miskin 200 ribu. Apakah itu sedekah namanya? Gimana mau sedekah, lha wong kewajiban zakatnya aja 2.5% = 250 ribu. bereskan dulu yang wajibnya. Apa pun yang kita amalkan di atas itu, adalah sedekah.

4. Sedekah lah kapan saja, gak perlu pas kepepet.

Sama kayak shalat. Shalatnya bolong. Baru aja kalo ada perampingan perusahaan, kita rajin shalat. Kalo ada keperluan satu milyar baru kita sibuk sedekah 20 juta. Malaikat bisa-bisa “bilang kemaren kemana aja tong?” Ini yang sering ustadz Jusuf ceritakan. Tapi kok yang gue dapet, kok sekilas mendidik jadi pamrih ya? Bukan pamrih ke orang miskinnya, tapi pamrih ke Allahnya.

5. Sedekahlah untuk memberi manfaat.

Sejak diajarin sama guru SD gue, kecenderungan gue adalah sedekah untuk guru. Sedekah untuk pendidikan seorang anak. Dan lainnya. Gue gak pernah sedekah ke badan zakat meski itu bisa memberikan kita potongan pajak. karena gue gak tau itu uangnya ke mana. Mending yang ketauan memberi manfaat.

6. Sedekah dahulukan pada kerabat, tetangga dan orang-orang terdekat kita ie: pembantu.

Kita sering gak sadar bahwa orang-orang terdekat kita seperti kerabat (orang tua, adik, sepupu, keluarga besar),  tetangga dan pembantu, mereka lah orang-orang yang diam-diam ikut mendoakan kesuksesan kita – padahal mereka belum tentu sukses. Mereka juga lah orang-orang pertama dalam hidup kita yang melihat kita menapaki sukses. Contohnya,

- Kita baru beli BMW sementara tetangga baik kiat di sebelah baru saja bangkrut.

- Kita rencanakan liburan ke australia depan pembantu, tapi somehow kita gak pernah inget untuk naikkin gaji dia.

dan pembantu itu parah lho. Sering kali kita gak sadar betapa buruk kita memerlakukan pembantu kita. Contoh: majikan kita di kantor kasih kita jatah cuti 20 hari pertahun. tapi berapa hari kah kita ijinkan cuti pulang kampung? dan masihkan dia kita bayar pas cuti?

Majikan kita kasih kita bonus terkadang 2, 3, 4 bulan gaji. bahkan terkadang 5-10 bulan gaji. bahkan ada perusahaan yang kasih 20 bulan gaji!! Subhanallah! tapi apakah kita sebagai majikan memerlakukan bonus yang sama pada pembantu kita?

Yang paling gampang deh: ketika kita baby sitter dan supir ke sushi tei, apakah kita suruh mereka makan bareng kita? atau kita suruh mereka makan dulu di rumah biar gak ngiler liat kita makan sushi sementara mereka bengong?

Dan bukannya kita jahat tapi kita sering gak sadar bahwa ketika majikan kita memberikan sesuatu pada kita. sering kali kita gak mikirin diri kita dengan posisi yang sama pada pembantu kita.

Belum lagi orang tua dan keluarga besar. Banyak dari mereka yang lebih dari kita dan juga kurang. Sementara kita sedekah jutaan untuk bikin atap mesjid depan rumah, apa kita yakin bahwa sodara kita di (katakanlah) Nganjuk gak ada yang kelaperan?

7. ini yang paling penting: Sedekah lah dengan ikhlas, mengharap ridho Allah dari perbuatan sedekah itu. Bukannya ngarep jutaan perak. Intinya nolong karena rasa kemanusiaan kita. Bukan ngarep imbalan.

Logika-logika yang kayak gini yang guru agama (SD) gue sering tekenin ke anak-anak didiknya. Emang waktu dulu gak ada sushi tei.

Anyways,  semoga gak menggurui, gue cuman sharing aja. Kalo ada yang protes, inget ini blog gue.

No related posts.

165 responses to “Sedekah”

  1. schizilly says:

    Resiko being famous blogger ya dit..
    U need to justify this blog is ur blog. Ur media in saying opinions, w/o being judged.
    Sori, maybe OOT comment

    Cheers xx

  2. yani says:

    setuju bgt sama guru nya & mas aditnya, hehe..nyokap gue tiap ada ustad ini di TV selalu bilang “tuuuh kamu dengerin..eh itu cara ngitungnya di perhatiin dong nnt ajarin mama”
    hihi, gemana mau ikhals kalo diitung2 cost & benefit nya…

  3. ipang says:

    bener banget kang,..
    Orang nyumbang terkadang main itung2an sama Allah. Berpikir bahwa sedekahnya akan membantunya menjadi kaya, karena Allah pasti mengembalikannya dengan lebih, *ama ALLAh perhitungan, selama ini kita bernafas, Allah nggak pernah perhitungan ke kita*…

    Sesungguhnya ibadah, amalan, dan perbuatan baik kita bukan jaminan kita masuk surga.. Yang membuat seseorang masuk surga adalah Syafaat Allah…

    Semoga kita termsuk orang-orang yang selalu mendapat syafaat dan rahmatNya..

  4. ogi says:

    Syafaat ituh dari Rasulullah saw [kalo saya bener]
    Allah itu yang ngasi Hidayah [I think]

    Mengharapkan supaya gak dimasupin neraka juga merupakan suruhan Dia . Liyat do’a sapu jagat. Di sana jelas maknanyah bahwa yang berdoa minta supaya dijauhin api neraka [otomatis kita jg jadi pamrih kan...?]. Jadi sah-sah saja kalo kita tuh pamrih. Dan memang wajip!
    [panjang yah kalo dijelaskeun. Apalagi saya belon ustat]

    Gak bisa jg nyalain siapa2. Ustadz manusia. Kitah manusia. Wajar kalo dia dikritik dan kita mengeritik. Semoga apa yang sudah kitah omongkeun bisa bermanfaat. Wallahu A’lam.
    amiiin! [all of us]

    ps: kalo ada yang protes, inget inih cuman komen kok. Jadi terserah.

  5. suci says:

    Saya belum pernah sih, dengerin ceramahnya si ustat itu, tapi kalo dari penjelasan nya mas adit, menurut saya mungkin maksud ustat itu baik sih ya, ngajak orang untuk sedekah, gak usah takut miskin karena sedekah. Maksudnya biar orang gak jadi pelit sedekah gitu. Tergantung orang yang nerima ceramahnya juga sih, kalo bisa mengambil kesimpulan dengan baik, ya bagus, tapi kalo gak, saya setuju dengan pendapat nya mas adit, bisa-bisa kita sedekah tanpa keikhlasan. Ibu saya juga selalu menekankan ke anak-anak nya bahwa kalo kita ibadah ke Allah itu gak usah ngarep2 lebih. Soal imbalan yang Allah bakal kasih ke kita, biarlah Allah yang menentukan.

  6. ayuuumi says:

    setuju c a’
    dia juga menceritakan hal yg sama waktu dikantorku
    dan sempet juga berfikiran sama kaya aa’
    tapi mungkin maksudnya ustadz mansyur ga gitu kali a’
    tapi yg aku tangkep c ambil postive-nya jah
    klo mau sedekah itu ga usah mikir ga usah ragu berapa banyaknya karena Allah pasti membalasnya,,dalam bentuk apapun,,
    jadi ga usah takut
    mungkin maksudnya gitu kali a’
    intinya mengajak tuk sedekah:)

  7. Kang Jodhi says:

    trademark nya ustad yusuf mansyur
    - para peserta disuruh membuka dompet
    - terus disuruh mengacungkan sebuah lima puluh ribuan
    - terus disuruh sedekahin

    menurutku sih memang logika sedekahnya pak yusuf mansyur yang eksak itu terlalu naif

  8. melinda says:

    menurut sy, manusia emg tercipta dengan sifat pamrih. makanya Allah menyediakan surga sebagai imbalan amal baik, dan neraka sebagai hukuman. dan makna ikhlas bagi sy adlh meniatkan karna Allah. itu pamrihnya: ALLAH > Surga…

    mengenai bliau yg kang adit maksud, sy emg g begitu memperhatikan. entah mengapa, ganjil sj rasanya melihat ustadz2 populer model gitu. benar mungkin niatnya, tapi klo jalannya salah y,,, podo ae lah.

  9. Eline says:

    gw dah pernah denger ceramahnya ustad tersebut dikampus, waktu itu dia ngajak salah satu orang ke depan ditanyain gajnya berapa? didompet ada berapa? mau sedekah ga? berapa? nanti dapetnya berlipat lho….

    di depan kerumunan orang di masjid,bisakah menolak?

    sorry tak bermaksud buruk, tapi sampe sekarang gw masih suka inget, tu orang tukang sapu jalan, setelah sedekah dia langsung masih bisa makan ga ya? trus iklas ga ya saat dia keluarin lembaran2 uang dari dompetnya buat di masukin di kotak, di depan banyak orang itu?

  10. tiwi says:

    satu hal yg pernah tiwi dapetin (lupa dr siapa dengernya), sama Allah memang sangat tidak dianjurkan untuk “itung-itungan”…

    Bahkan sebenarnya, melakukan sesuatu kebaikan untuk mengharapkan surga atau dijauhkan dr neraka Allah saja bisa disebut ibadah ala saudagar… karena ada pamrih di situ…

    Ibadah ikhlas yg dianjurkan adalah ibadah karena Allah memerintahkan. [Titik]

    Agree Dhit dg apa yg ditulis.

  11. Liza says:

    salam.bagus banget kang adit..boleh kushare kefacebook gak?

  12. ega says:

    hi kang adit..
    pembahasan ini ngingetin aku dgn taun lalu, tpatnya ramadhan 08, waktu itu ak dpt kerjaan yg tnyata kliennya ust YM ini,yg membuat ak bnyk berinteraksi dgn beliau. memang inspiring, betapa kita jgn takut miskin, jgn takut2 utk berbagi, krn kita ga akan kehilangan, malah akan dpt berlipat ganda, spt janji Allah SWT dalam Al Quran.

    ya memang, ak jg ga nyaman, dgn cara itung2 matematisnya, ko kyknya kita jd sangat pamrih, kita jd ga ridho, kita malah bermain2 dengan Allah. knp sedekah, kmdian dijadikan alat utk memperkaya diri. mmg sih, ada bbrp kali ustad ini slip.
    pdhal mgkin mksudnya utk menekankan ayat yg menyatakan, dgn memberi kita bs dpat berpuluh2 kli lipat.

    tp ga smua org mikirnya akan memberi krn utk mendapatkan ridho Allah, malah mgkin ada yg berpikir, utk memberi biar Allah kasih lebih banyak.

    ini yg jdi masalah. kenapa kita meng-tuhankan Uang. knp kita jd ga ikhlas. knp kita ko jd itung2an.

    gaya tausiah beliau, mmg harus hati2. mmg harus ditekankan kembali tujuan awalnya.
    bahwa matematis sedekah itu hanya salah satu bukti nyata, tp jgn dijadikan rumus utk memperkaya diri.

    mksudnya sih baik, utk mengingatkan n berbagi. tp ak sndiri cnderung menggunakan style sedekah akang. yaitu mengutamakan kerabat terdekat dl. insyaAllah istiqomah. krn mmg mrkalah org2 pertama yg plg mendoakan kita. klo ada lebih, bru ke org2 lain or masjid.

    kita jg sbagai manusia, harus mau menggunakan akal pikiran kita utk memfilter smua info yg masuk, n kroscek dgn Al Quran Al kareem kita. Karena Ustad bukanlah Rosul, beliau jg pasti melakukan kekeliruan. tinggal kita menyikapinya, jgn menelan bulat2.

    artikelnya oke kang..
    maap komennya panjang

  13. zahra says:

    Saya dateng ceramah yang sama kang adit:)
    Agree with you, tidak sreg rasanya dengan logika dan pemahaman saya. Tapi seperti komen yang lain, saya mengambil intinya saja kalau dianjurkan sedeqah.

    Tapi kalau ada yang menelan bulat2 cara seperti ini, kasihan, agama itu adalah untuk orang-orang yang berpikir.

  14. zahra says:

    ‘seperti ini’–>maksudnya bukan kang adit, tapi kalau ada yg bulat2 ngitung dan berharap balik nominal yang dijanjikan Allah..hehe

  15. indri says:

    mungkin uztad YM punya hujjah kuat utk mendukung ajakannya…dan itu yg nggak disharing ke kita2.
    YM jg pasti setuju ama point2 penjelasan diatas..

  16. ekSi says:

    Setuju Kang adit… Cuma mungkin Ustadz tsb mencoba menjelaskan yg paling mudah ditangkap oleh banyak org… Kalau kaya kang adit yg level pengertiannya lebih tinggi dan diolah lagi, timbullah kejanggalan2x sepert yg sedekah kok kaya pamrih… Karena level pemahaman org ttg agama itu beda2, jadinya dia pilih yg paliiinggg mudah. Kaya Kang adit ngomong sama anak SD aja, tentu berbeda dgn ngomong sama anak SMP, SMA, dll… Hehehe

  17. ambar says:

    wahh..udah ngga bener tuh klo malah ngajarin pamrih dan itung2an ama Tuhan,,
    saya memang bukan muslim, saya non muslim,,,tapi saya juga sering dengerin ustad2 pada ceramah,, termasuk si ustad ini ..

    setuju banget ama poin2nya..
    yang paling bikin saya mikir itu poin ke 6..kadang banyak loh yang ngga ngehargain pembantu kita..
    padahal dirinya sendiri minta dihargain,,,

    sedekah emang ngga boleh pamrih dan harus dengan ikhlas, mengharap ridho Allah.

  18. Rifan Ahmad says:

    Assalamu ‘alaikum wr wb Pak Adit,

    Saya secara pribadi tidak sreg dengan ustad YM dalam mematematiskan sedekah meski ada dalil naqli-nya mengenai Allah akan mengganti sedekah berlipat ganda. Penafsiran dalil itu harus tepat, penggantian di sini tidak selalu harus uang kan…

    Selanjutnya, sekedar tambahan perspektif, tempatnya pamrih adalah pada Allah. Selain dari itu, tidaklah layak. Bukankah hanya pada-Nya kita menyembah dan hanya pada-Nya kita meminta? (Al-Fatihah)

    Salam
    Rifan

  19. Ayu says:

    Aku sering baca tulisan diblog ini, baru ini ninggalin jejak dan aku setuju sekali dengan tulisan ini ..thanks ya buat sharing nya :)

  20. admin says:

    boleh boleh.

  21. mira says:

    baru kepikiran. iya ya, kok kita diajarin buat melakukan kebaikan tapi dengan embel-embel pamrih.
    ingat satu hal aj : luruskan niat. heheu^^

  22. ita says:

    ya mungkin maksud itung2annya pak ustadz agar untuk level tertentu bisa lbh memahami. Mungkin bagi teman2 yg makan sekolahan agak janggal dengernya, tp buat yg gak makan sekolahan itu pasti bakal memacu mereka untuk lebih giat lagi bersedekah.. Seperti anak kecil jg kadang kita mesti kasih reward jg ke mereka kl mereka bisa sesuatu, itu kan biar mereka semangat, nah setelah bisa dan biasa reward jg ndak perlu lagi.. Jadi mungkin awalnya niat kita sedekah mungkin dapet pahala berlipat2 tp kl itu terus dilakukan rutin pasti gak kepikir lg pahala yg di dapat, malah mungkin berasa ada yg kurang kl belum sedekah…

  23. dizzydessy says:

    Rifan bener…balesan sedekah nggak selalu dalam bentuk uang ato materi. Sedekah sendiri klo niat ngelakuinnya ikhlas bwt ngebantu orang lain, balesannya kan udah pasti. Perasaan lega dan senang krn bisa bermanfaat buat orang lain itu uda termasuk balesan sedekah bukan?

  24. ansav says:

    Yang penting ikhlas… tapi ikhlas ternyata perlu dididik sejak dini.. jadi sebelum terlambat mati sedekah dari sekarang.

  25. errisubakti says:

    Inilah bedanya cara berpikir orang intelek seperti Adit, komprehensif dan sistematis, beda sama Pak Ustadz yang simple aja ngejelasinnya. Udah pasti Adhit betul semua, pak ustadz juga gak diragukan kesaksian dan kejujurannya soal sedekah.
    Anyway, salah satu ‘hobby’ gw dagang, dan gw pernah mraktekin apa yg pak ustadz bilang; janji Allah pasti (ttg itung2-an sedekah itu). Jadi tiap gw mau dagang, paginya gw masukin duit di kotak mesjid, bervariasi jumlahnya. Misalnya gw masukin 20 ribuan, trus siangnya ternyata gw dapet 200 ribu. Tentu harus ada proses iklasnya juga. Misalnya sepanjang pagi pembeli sepiiii, trusgw pasrah, eh tau2 agak siangan banyak yg beli. gitu deh… just sharing.

  26. bunga says:

    udah cukup lama juga ngerasa agak kurang sreg dgn filosofi hitung-hitungan sedekah nya p’ustad ini, mikir aja gitu..dimana tanggung jawab seorang kepala keluarga kepada istri dan anak anaknya kalo dia langsung memasukkan seluruh gajinya satu bulan dengan harapan mendapatkan 10x lipat balasan dari ALLAH SWT, menurut gw sih sedekah itu harus murni mengharapkan ridho dan berkah dari ALLAH SWT, karena menurut gw rizki dari ALLAH SWT tidak selalu harus berbentuk dalam bentuk Materi, bisa melalui Kesehatan, Rumah Tangga yang Sakinah, Anak Anak yang Sholeh, iman, hidayah dan ilmu yang selalu bertambah.

  27. cah ndeso says:

    lebih baik beramal dari pada cuma pinter kritik doang…

  28. alexander says:

    mas kalo posting yang bener dikit dong,bener2 gak mutu…sdnya mana luch

  29. anakcekolah says:

    wajar-ajar aja ko’ pak adit atas apa yg disampaikan ustadz YM, sahare perenunganku ja ya—>>> begini… Ikhlas itu adalah urusan Hati, dan Hati hanya bisa dikomunikasikan oleh Tuhan kepada manusia, bukan oleh manusia untuk manusia. ungkapan ustadz YM gak lebih cm teori yang diambil dr sebuah ajaran, banyak toh ajaran di Islam yg apabila melakukan ini maka akan mendapatkan itu, sprt jika kita rajin sholat maka dapet syurga….dsb. dan tentu saja Tuhan tidak main2 dengan janjiNya (insyaAllah), jika kita rajin sholat maka kelak Tuhan akan memberikan syurgaNya (ini adalah pemahaman syare’atnya), namun kalo kita berfikir lebih jauh lagi……syurga itu sama dengan kita, yaitu sama2 makhluk cipta’an, apakah kita hanya mengharapkan makhlukNya saja???? apa kita gak menginginkan penciptaNya???—>>>jalan berfikir untuk menjadi ikhlas.

    begitu juga masalah sedekah, jika kita bersedekah maka kita akan mendapatkan imbalan yg berlipat Ganda (sesuai janjiNya) melalui jalan sesuai kemampuan kita (profesi), mis kita pedagang yg suka bersedekah, maka balasan atas sedekahnya melalui jalan perdagangan itu, banyak kok buktinya, coba dipraktekan saja.
    ini lebih pada teori “menanam dan menuai”.

    menurut sy IKHLAS itu sendr HARUS PAMRIH, kok bisa???
    belajar IKHLAS—->>>> jalurnya jika kita MENGHARAP PenciptaNya (Allah) bukan mengharap yg laen (ciptaanNya) dan ini perlu dilatih…………jadi PAMRIH dengan memperoleh penciptaNya (dicintai)

    hanya share ja…nih…bahasanya tak singkat2…SEMOGA SEMPAT DIBACA

  30. anakcekolah says:

    wajar-ajar aja ko’ pak adit atas apa yg disampaikan ustadz YM, sahare perenunganku ja ya—>>> begini… Ikhlas itu adalah urusan Hati, dan Hati hanya bisa dikomunikasikan oleh Tuhan kepada manusia, bukan oleh manusia untuk manusia. ungkapan ustadz YM gak lebih cm teori yang diambil dr sebuah ajaran, banyak toh ajaran di Islam yg apabila melakukan ini maka akan mendapatkan itu, sprt jika kita rajin sholat maka dapet syurga….dsb. dan tentu saja Tuhan tidak main2 dengan janjiNya (insyaAllah), jika kita rajin sholat maka kelak Tuhan akan memberikan syurgaNya (ini adalah pemahaman syare’atnya), namun kalo kita berfikir lebih jauh lagi……syurga itu sama dengan kita, yaitu sama2 makhluk cipta’an, apakah kita hanya mengharapkan makhlukNya saja???? apa kita gak menginginkan penciptaNya???—>>>jalan berfikir untuk menjadi ikhlas.

    begitu juga masalah sedekah, jika kita bersedekah maka kita akan mendapatkan imbalan yg berlipat Ganda (sesuai janjiNya) melalui jalan sesuai kemampuan kita (profesi), mis kita pedagang yg suka bersedekah, maka balasan atas sedekahnya melalui jalan perdagangan itu, banyak kok buktinya, coba dipraktekan saja.
    ini lebih pada teori “menanam dan menuai”.

    menurut sy IKHLAS itu sendr HARUS PAMRIH, kok bisa???
    belajar IKHLAS—->>>> jalurnya jika kita MENGHARAP PenciptaNya (Allah) bukan mengharap yg laen (ciptaanNya) dan ini perlu dilatih…………jadi PAMRIH untk memperoleh penciptaNya (dicintai)

    hanya share ja…nih…bahasanya tak singkat2…SEMOGA SEMPAT DIBACA

  31. absolutely agree w/ ur (n ur elementary school teacher) thoughts. two thumbs up!

  32. J says:

    Dhit, thanks for the bit about pembantu, gw setuju banget. In developing countries house maids itu ga pernah diperlakukan seperti employee pada umumnya, padahal mereka kerja buat makan sama kaya kita semua. Gw nyesek kadang2 mikirin gimana nasib pembantu2 di rumah gw sendiri… but I don’t have the means to support them yet. In the meantime, gw bikin aja trust fund kecil2an dengan gaji gw yang terbatas buat pembantu gw yang paling lama. Moga2 aja ini bisa ngebantu dia pensiun.

    Gw juga cuma mo nambahin: gw salut sama usaha lu ngasih zakat ke guru dan anak2 sekolah, tapi ngasih ke badan zakat dan organisasi kemanusiaan itu juga bisa ber”manfaat” ketika duit yang dibutuhin jauh lebih besar dari yang kita bisa tanggung. Contoh kalo ada bencana, atau mo bikin change dengan cara yang lebih sistemik (e.g. bayarin duit buat 1 orang punya obat AIDS atau kasih duit ke lembaga kemanusiaan yang lagi kumpulin duit buat hire lebih banyak dokter di rumah sakit, who then bisa administer obat ke lebih banyak orang)? Gw ga bilang yang kedua selalu lebih bagus dari yang pertama –I think often it comes down to individual choice– but the choice itself is not always that clear cut.

  33. kalau memang di dalam hati gak ada rasa ikhlas mending gak usah amal ya ???

  34. beramal sedikit asal ikhlas, lebih baik daripada beramal banyak namun mengharap imbalan.

  35. juns says:

    Ustadnya masih muda sich.., jadi pengetahuaannya
    dangkal..Loool..
    Kalau ada yg dilipatgandakan mungkin itu cuma kebetulan saja..
    Islam makin identik dg ilmu klenik gara2 ustads matre satu ini..

  36. fifiet says:

    dah mw protes, tp ga jadi de. udh dibilangin ga boleh protes duluan si… piss kang!!

  37. yoreney says:

    di agama gw ada bbrp cerita dengan konsep yg sama dengan omongan lu dit. salah satunya:

    ada seorang janda tua, miskin pula. dia pergi ke bait Allah. semua kaum farisi disitu gila2an nyumbangnya, secara di depan umum..jor2an lah pokoknya karena sekalian carmuk. tapi si janda miskin ini cuma kasih 2dinar (which i gather, wasn’t much). tapi di mata Allah justru persembahan dia lah yg di terima karena dia memberi dari ketidak-punyaan, dan ikhlas tanpa menyombongkan diri.

    which is why i always agree with the saying, that if you give with your right hand, don’t let your left hand know. i think it’s a concept most people still have to learn. terutama para artis2 ibukota kita. hihihi. :p

  38. Riana says:

    mending pamrih ke Allah, daripada pamrih ke atasan..
    kalo suka ya diikuti, kalo gak suka ya tinggalin aja..
    gitu aja kok repot.

  39. ibun says:

    Itu tentang pertanyaan dirimu, Tentang AA GYM (sorry oot, gak punya twitter), dia tiap selasa minggu kedua ada di masjid Pondok Indah, lalu tiap minggunya di Istiqlal, tiap pagi ada di radio MQ. dlsb, dan di masjid2 lain.

    saat ini, dia tiarap dulu dari media, tapi tetap berikhtiar di jalur offline… masih full booked. penggemarnya masih banyak, kata temen gue yang hadir di pondok indah kemarin, yang nangis di masjid ada 90%. dan nangis itu melunakkan hati…. dan dia udah 6 bulan gak nangis… lah…

    semoga berguna.

  40. irene says:

    Menurut saya, intinya ustadz YM mengajak utk banyak bersedekah. Dan memang Allah menjanjikan akan memberikan balasan yg berlipat ganda jika kita mau memberikan sebagian rezeki kita di jalan Allah. Soal ikhlas atau tidak ikhlas, biarlah itu menjadi urusan masing2 pribadi dengan Allah. Karena toh…hanya Allah yg tahu isi hati setiap manusia. Lagipula, manusia memang hanya boleh meminta kepada Allah. Apa salahnya kalau kita meminta dimudahkan pintu rezeki melalui sedekah yg kita lakukan? nBukankah sama saja dengan kita meminta diberika kemudahan ataupun kelapangan melalui doa atau shalat pada saat kita sedang dihimpit kesusahan? Mungkin soal hitung2an yg tidak bisa dihitung secara eksak, tapi ajakannya tetap baik dan sesuai dgn yg diperintahkan Allah. Oh ya satu lagi Kang, kepada orang tua…..kita tidak bersedekah…karena kalau anaknya mampu, sudah menjadi kewajiban kita sebagai anak untuk membantu orang tua. Itulah makanya zakat juga tidak boleh dibayarkan kepada orang tua. Mohon maaf kalau kurang berkenan.

  41. Erma says:

    Mas Adit, saya belum pernah dengar ceramahnya atau baca bukunya. Tapi dari tulisan mas Adit diatas, saya menduga bahwa cara yang digunakan ustad ini sepertinya paling ‘pas’ untuk menggaet orang2 yang belum tau/ngerti/sadar pentingnya dan manfaatnya sedekah. Jadi untuk ‘memikat’ mereka untuk bersedekah, dipaparkanlah ‘keuntungan’ yang akan mereka dapatkan setelah bersedekah. Sebagian besar orang kan kalo melakukan sesuatu, mikir apa yang bakal didapatkannya sebagai balasan.

    Nah, untuk orang2 yang uda ngerti pentingnya dan manfaatnya sedekah (seperti mas adit salah satunya), rasanya dibutuhkan cara/isi ceramah lainnya.

    Jadi, ya menurut saya harusnya ustad ini punya beberapa metode/isi ceramah, disesuaikan dengan audiense nya gitu.

    Maap kok jadi kepanjangan gini :)

  42. sofia says:

    Agree ma Mas Adit…

    Itung2an gini suka disalahartikan oleh para koruptor….mereka jadi merasa “gak papa korupsi” yang penting 1 m buat sedekah or bangun masjid

    padahal yang sunah tidak bisa menggugurkan yang wajib…..dan juga kebaikan tidka bisa dilakukan dengan cara kejahatan

  43. sofia says:

    nambahin lagi tentang sushi tei…..

    dulu di kantor kita suka membedakan makanan kalau rapat…untuk karyawan dibeliin makanan restoran berkelas….untuk OB/pesuruh yang bertugas dibeliin warteg/yang lebih murah

    ada salah satu staf yang komen dan membuat saya malu:
    “tega lo, masak yang beli cuman dapet bau nya doang sama sampahnya. bisa jadi sampai rumah dia ngiler pengen itu tapi cuman bisa mimpi. kalau gak mau kasih mimpi, jangan suruh dia beli”

    akhirnya kebijakan dirubah…OB/pesuruh mendapatkan makanan restoran yang sama dengan karyawan….biar dia gak sekedar mencium baunya saja tapi bisa mencicipi juga rasanya

    dan saya rasa, ini bisa diterapkan juga ke kebijakan uang cuti bagi asisten RT, kebijakan bonus, dll

    ^_^

  44. way obi says:

    hmm, nice post..i think.

  45. Sitta Karina says:

    Blogpost yg sangat bagus! Lucu deh, sbl baca tulisan ini sedikit-banyak saya menjalani spt yg Adhit tulis. Setuju sekali kl intinya sedekah dilakukan dg tidak berpamrih dan setuju jg dg pemikiran ttg sedekah lainnya di sini. Jujur, suka sekali baca ini. Salam dr Teh Diar (ex-Maersk) dan salam jg u/Ninit! ;)

  46. mas Adit uda menyampaikan ini ke Ust.YM blum?

    Klo belum, klo memungkinkan..disampaikan ke beliau aja mas.
    Biar beliau jg bisa dapet masukan untuk instrospeksi diri. Saya yakin, beliau pasti nerima kritik dengan terbuka & insyaAllah kritik ini akan bisa membuat beliau lebih baik.

    Sayang kan kalo kritik yg bagus ini ngga sampai ke telinga yg dikritik.

    Dan lagi…buat pembaca kan akan lebih bijak klo tulisan ini didampingi klarifikasi dari ust.YM. biar bisa `cover the both sides` gitu lho mas. :D

  47. ogi says:

    hooh. daripada kitah malah jg ghibah.

  48. fara says:

    Setuju banget….
    Btw, boleh di forward di milist kah? menurut gw bagus niy….

  49. yosi says:

    Saya setuju dengan konsep ikhlasnya kang adit. Maksudnya Ust YM juga belum tentu salah, tapi untuk kita yang kritis emang kesannya kok itung2an banget sih sama Allah.
    tapi apapun ibadah, selain ikhlas jangan lupa juga kualitasnya. Kayak kisah Ali bin Abi Thalib yang tetap ikhlas dan yakin sedekah meskipun anaknya di rumah belum makan, tapi karna keikhlasannya Allah ganti berlipat ganda. nah, buat ikhlas ini yang susah banget.

  50. ivan says:

    yg penting itu niatnya.. orang preman yang gak pernah ibadah aja boleh2 aja minta dalam doanya sm Allah (berdoa agar gak dibunuh sm preman lain sekaligus rejekinya biar lancar), lha kok orang yang ibadah dan sedekah gak boleh minta sm Allah. Bukan pamrih, tapi memang kita diwajibkan utk berdoa & meminta. Perkara Allah ngasih atau gak, itu mah urusannya Allah SWT. Kl saya setuju ustad Mansyur..

Leave a reply