Sedekah

Beberapa waktu yang lalu kita pergi ke KBRI untuk dengerin ceramah ustadz Yusuf Mansyur.

Bagi yang belum pernah kenal ciri ceramah dia, ni gue kasih tau: Dia adalah ustadz yang berusaha menyosialisasikan 2 ajaran Allah:

1. Orang yang bersedekah tidak pernah miskin

2. Sedekahlah dan pasti dilipatgandakan (dalam berbagai cara dan bentuk).

Satu hal yang bikin ceramahnya gak nyaman adalah, bahwa ceramahnya cenderung menjerumuskan orang. Di mana konsep yang diajarkan berisiko salah tangkap.

Dia berusaha ngajarin secara eksak dan matematis bahwa kalo kita sedekah 10 ribu maka kita akan diberi imbalan 100 ribu. Dia juga cerita ada seorang teman di jawa, katakanlah Joko, yang punya uang 2 juta. Joko sangat butuh uang tahun dpean untuk bayar kontrkannya 1.5 juta. modal hariannya 1 juta. Dia kurang 500 ribu. kemudian dia mendengar ceramah ustadz Jusuf ini bertajuk “menjadi kaya karena sedekah”. Kemudian Joko bersedekah 1 juta dengan harapan dan kepercayaan bahwa Allah akan memberikan imbalan yang lipat ganda. Beberapa bulan kemudian ada lumpur lapindo. Kemudian dia ditunjuk lapindo untuk menyediakan catering 16000 orang tiap hari. Akhir tahun dia punya 600 juta.

Cerita seperti ini jujur aja sangat menbahayakan. Gue aja pertama kali dengernya malah kok kita sedekah pamrih ya? Kok kita itungan ya sama Allah? Inti dari cerita dia, Allah selalu akan mengembalikan dengan berlebih. Dia juga membuktikan dari cerita ini bahwa orang sedekah gak akan miskin. Tapi yang ustadz ini gagal menerangkan bahwa kalo sedekah juga harus ikhlas.

Kalo gue pribadi, ada hikmah yang gue bisa ambil dari cerita lapindo ini sama dengan cerita guru agama gue waktu SD dulu. Dan entah kenapa ustadz ini gak ungkapkan. Entah dianya nyadar atau nggak nyadar. Hikmah itu adalah:

Sedekahlah when it matters. Maksudnya, si Joko ini tabungannya cuman 2 juta dan dia nekat nolong orang 1 juta, meski pake harapan dan pamrih segala. Kalo kita punya 1 milyar dan sedekah 1 juta, ya atu gimana ya itu cuman 0.1%. Zakat aja 2.5%. dia sedekah 1% itu memang belum cukup cover kewajiban zakatnya.

Kalo yang gue diajarinnya ada beberapa hal:

1. Sayang kalo kita sedekah banyak kalo sholat kita masih bolong-bolong. Guru gue pernah bilang, Shalat itu tiang agama. sedekah, puasa, haji dan lainnya menggantung di ketekunan shalat kita. Kalo kita sedekah 1 Milyar, sebaik-baiknya 1 Milyar, itu sunnah. Shalat yang wajib malah bolong. Sebaiknya sejalan dengan kita sedekah banyak, kita pastikan shalat kita gak bolong. Sama aja kayak orang rajin tahajud api karena kerja, sering lewat shalat Ashar. Itu bukannya ngawur, tapi ibarat kata guru gue, hasil kamu shalat tahajud mau digantungkan di tiang mana? tiangnya aja rapuh bolong-bolong.

2. Sedekahlah when it matters.

3. Sedekahlah di atas kewajiban zakat kita.

katakanlah salary kita 10 juta sebulan. Sebulannya kita berikan ke orang miskin 200 ribu. Apakah itu sedekah namanya? Gimana mau sedekah, lha wong kewajiban zakatnya aja 2.5% = 250 ribu. bereskan dulu yang wajibnya. Apa pun yang kita amalkan di atas itu, adalah sedekah.

4. Sedekah lah kapan saja, gak perlu pas kepepet.

Sama kayak shalat. Shalatnya bolong. Baru aja kalo ada perampingan perusahaan, kita rajin shalat. Kalo ada keperluan satu milyar baru kita sibuk sedekah 20 juta. Malaikat bisa-bisa “bilang kemaren kemana aja tong?” Ini yang sering ustadz Jusuf ceritakan. Tapi kok yang gue dapet, kok sekilas mendidik jadi pamrih ya? Bukan pamrih ke orang miskinnya, tapi pamrih ke Allahnya.

5. Sedekahlah untuk memberi manfaat.

Sejak diajarin sama guru SD gue, kecenderungan gue adalah sedekah untuk guru. Sedekah untuk pendidikan seorang anak. Dan lainnya. Gue gak pernah sedekah ke badan zakat meski itu bisa memberikan kita potongan pajak. karena gue gak tau itu uangnya ke mana. Mending yang ketauan memberi manfaat.

6. Sedekah dahulukan pada kerabat, tetangga dan orang-orang terdekat kita ie: pembantu.

Kita sering gak sadar bahwa orang-orang terdekat kita seperti kerabat (orang tua, adik, sepupu, keluarga besar),  tetangga dan pembantu, mereka lah orang-orang yang diam-diam ikut mendoakan kesuksesan kita – padahal mereka belum tentu sukses. Mereka juga lah orang-orang pertama dalam hidup kita yang melihat kita menapaki sukses. Contohnya,

- Kita baru beli BMW sementara tetangga baik kiat di sebelah baru saja bangkrut.

- Kita rencanakan liburan ke australia depan pembantu, tapi somehow kita gak pernah inget untuk naikkin gaji dia.

dan pembantu itu parah lho. Sering kali kita gak sadar betapa buruk kita memerlakukan pembantu kita. Contoh: majikan kita di kantor kasih kita jatah cuti 20 hari pertahun. tapi berapa hari kah kita ijinkan cuti pulang kampung? dan masihkan dia kita bayar pas cuti?

Majikan kita kasih kita bonus terkadang 2, 3, 4 bulan gaji. bahkan terkadang 5-10 bulan gaji. bahkan ada perusahaan yang kasih 20 bulan gaji!! Subhanallah! tapi apakah kita sebagai majikan memerlakukan bonus yang sama pada pembantu kita?

Yang paling gampang deh: ketika kita baby sitter dan supir ke sushi tei, apakah kita suruh mereka makan bareng kita? atau kita suruh mereka makan dulu di rumah biar gak ngiler liat kita makan sushi sementara mereka bengong?

Dan bukannya kita jahat tapi kita sering gak sadar bahwa ketika majikan kita memberikan sesuatu pada kita. sering kali kita gak mikirin diri kita dengan posisi yang sama pada pembantu kita.

Belum lagi orang tua dan keluarga besar. Banyak dari mereka yang lebih dari kita dan juga kurang. Sementara kita sedekah jutaan untuk bikin atap mesjid depan rumah, apa kita yakin bahwa sodara kita di (katakanlah) Nganjuk gak ada yang kelaperan?

7. ini yang paling penting: Sedekah lah dengan ikhlas, mengharap ridho Allah dari perbuatan sedekah itu. Bukannya ngarep jutaan perak. Intinya nolong karena rasa kemanusiaan kita. Bukan ngarep imbalan.

Logika-logika yang kayak gini yang guru agama (SD) gue sering tekenin ke anak-anak didiknya. Emang waktu dulu gak ada sushi tei.

Anyways,  semoga gak menggurui, gue cuman sharing aja. Kalo ada yang protes, inget ini blog gue.

No related posts.

153 responses to “Sedekah”

  1. Yuni Kiyut says:

    Persoalan meminta sama Allah itu bukan persoalan ikhlas atau tidak ikhlas. Itu persoalan ibadah. Meminta adalah do’a. Silahkan saja sedekah tanpa berharap. Tapi kalau sedekah sambil berharap, maka dapat dua ibadah; pahala sedekah dan pahala berharap. Namun kita tidak boleh memaksa, hanya boleh meminta dan berharap.Dan bukanlah disebut meminta dan berharap, kecuali yakin bahwa apa yang diminta dan yang diharap adalah bisa dikabulkan. Ilmu penyertanya adalah sabar, tawakkal, juga ikhlas. Termasuk ikhlas bila Allah tidak mengabulkan. Husnudzan kepada Allah adalah seninya. Yakinlah Allah Maha Tahu apa yang terbaik.

    Sementara itu, mengikuti seruan-Nya, percaya akan janji-Nya; yang akan mengganti 2x, 10x, 700x, lebih banyak lagi, atau mengganti dengan yang lebih baik, adalah juga sebuah keutamaan. Tauhid itu. Percaya sekali sama Allah.

    Saking percayanya ya kita ikuti seruannya. Dan apa sebutannya kalo bukan ikhlas juga? Nyari duit setengah mati, tiba-tiba ketika datang tawaran bersedekah dari Allah dengan janji akan dilipatgandakan-Nya, lalu kita percaya? Hingga kita menyerahkan semuanya? Apa gak di sebut ikhlas tuh? Bahwa kemudian jangan meminta hanya dunia, itu betul.

    Minta juga ampunan-Nya, keselamatan dari-Nya, kasih sayang-Nya, bisa hafal qur’an, bisa istiqomah, bisa tambah sehat. Pengetahuan akan ilmu konversi juga penting. Sesiapa yang sedekah 1 di kali 10. Lalu sepuluhnya gak dapet, pertanyaannya: benarkah gak dapat? Apakah itu dikarenakan bodohnya kita?

    Sesungguhnya Allah sudah membalas. Hanya balasannya kita gak paham hingga bertambah ilmu kita dan hikmah. Juga ketika kita baik sangka. Subhanallah, betapa rahasia ilmu Allah itu luas sekali. Belum lagi kalau bicara bahwa ternyata bayaran Allah itu terus dan terus. Kita anggap udah gak akan dibayar lagi. Ternyata setelah kita malah lupa sama do’a kita, eh Allah tetep kabulkan. Rupanya, “panen” pertama, bukan ke apa yang kita minta. Sementara kita bersabar, rupanya tanaman kita panen yang kedua, ketiga, dan seterusnya hingga sampailah pada apa yang kita minta.

    Waba’du, meminta kepada Allah, tidaklah salah. Demikian juga berharap dari-Nya. Gak sedekah aja, boleh meminta, boleh berharap. Apalagi dengan bersedekah, tambah boleh meminta, tambah boleh berharap.

    Sesiapa yang berdo’a dengan amal soleh sebagai pendahuluannya, jelas akan lebih bertenaga do’anya. Dan amal soleh itu banyak, sedekah adalah hanya salah satunya. Begitupun do’a. Do’a akan menjadi pendorong yang hebat buat sedekah.

    Jangan hanya bersedekah. Tapi juga berdo’a. Di rawat itu sedekah dengan do’a. Jangan ditinggal begitu saja. Meskipun saya yakin, seperti biji cabe, yang di aurin (dibiarin) aja dia tumbuh, namun jika dirawat, dikawal, hingga ia tumbuh banyak dan bagus, adalah sebuah keutamaan yang lain adanya. Selamat menuntut ilmu terus, terus, dan terus. Hingga sampai kepada hikmah yang kita mintakan dari Allah datangnya. Amin.

    Emang juga diam aja Allah udah akan aturin. Tapi kita ga dapet pahala do’a. Bahkan do’a itu kepalanya ibadah. Jika ibadah, ibadah doangan, kaga berdo’a, maka kita hanya ampe leher. Itu ibadah ga ada kepalanya. Dengan berdo’a, itu menyatakan kelemahan kita juga di hadapan Allah Yang Begitu Kuasa. Sekaligus pernyataan-pernyataan menghamba, penuh harap, menjadikan Allah sandaran, dan lain-lain. Masya Allah dah. Rugi mereka yang ga mau berdo’a. Sedang do’a sendiri adalah sebuah ibadah tersendiri.

    Dan bahkan do’a adalah perintah Gusti Allah langsung. Ayat-ayat tentang do’a tidak hanya di satu ayat. Tapi di banyak ayat. Dan tidak ada do’a yang tidak dikabulkan kecuali ia menjadi pengampunan buat yang berdo’a, menjadi penolak bala, dan disimpan sebagai kebaikan yang lain dari hal yang tidak diminta. Nah, apakah yang tidak berdo’a bakalan dapat keistimewaan yang berdo’a? Tentu saja tidak.

  2. dede iwan setiawan says:

    trus lu selama ini berharap dapet jodoh,rejeki,anak kesehatan dll ma siapa,klo jawaban lu ya sama Allah apa itu namanya lu pamrih jg,dan klo ngak minta sama Allah mau minta sama siapa lagi???

  3. Luluk Fur says:

    “Memberi sedekah dengan ikhlas berarti kita masih hanya orang biasa saja. Kita harus berani menembus batas ikhlas ini, kita harus berani memberi sedekah yang membuat keheranan yang menerima sedekah kita”

    “Kalau kita memberi sedekah dan yang kita beri sedekah merasa biasa saja, maka kita belum boros sedekah. Boroslah bersedekah dan tunggulah hasilnya”

Leave a reply