Membuat Petani dan Nelayan menjadi Kaya

Sebenernya sebra salah ya. Petani adalah 40% populasi. Kita ingin dia kaya. Tapi kalo petani kaya, bisa jadi harga beras naik dan ini menyusahkan 60% populasi yang lain. Di sisi lain, sembako murah berarti pemerintah menekan harga gabah. Ini artinya membuat daya jual petani melemah. Ini artinya petani miskin. Petani pun kehilangan insentif untuk menanam padi. pada akhirnya percayalah, swasembada pangan akan hilang.

Petani

Kita lihat bagaimana PKS dengan Pak Anton sebagai menteri pertanian membawa Indonesia ke swasembada pangan.

Harga gabah dia naikkan. Ini membuat petani mau menanam padi karena pertama kalinya dalam berpuluh-puluh tahun, daya jual mereka naik. peani ramai-ramai menanam padi. Harga gabah yang tinggi ini membuat harga beras naik. Buruk bagi 60% populasi tapi ingat bahwa 40% orang Indonesia profesinya petani. Jadi ini masih tergolong adil tapi tetap wacana akan bagaimana meredam harga beras tetap ada.

Swasembada pangan sendiri sebenarnya 3 tahap, tergantung dari seberapa maunya sebuah negara.

1. Kebutuhan nasional terpenuhi.

2. Cadangan pangan terpenuhi.

3. Ekspor eksesnya.

Kalo gue bilang, Indonesia baru beres kalo sudah melewati ketiganya. Jadi gini.

1. Tetap naikkan harga gabah agar banyak petani menanam padi. teruskan sampai pada tahap kita punya cadangan pangan. Sampai titik ini, 60% populasi Indonesia masih harus akan merasakan tingginya harga beras.

2. Eksesnya dibeli oleh pemerintah dan diekspor. Revenue yang pemerintah dapatkan, disubsidikan ke harga sembako.

end game: Petani menjadi kaya (40% populasi Indonesia naik kesejahtraannya), sembako sedikit lebih murah (60% populasi Indonesia tidak turun kesejahteraannya), dan pemerintah tidak harus berhutang untuk mensubsidi.

Industri pertanian menjadi industri yang dapat menopang pangan negara tanpa subsidi.

Jujur saja, matematika untuk sampai ke tahap ini sangat rumit. revenue ekspor jutaan dollar mungkin hanya akan memengaruhi turunnya harga beras sebesar 50-75 perak per kilonya. Tapi setidaknya pola keuangan dari sistem pangan kita mantap dan mandiri.

Nelayan

Nelayan ini yang lebih rumit dan lebih mahal pembiayaannya. Nelayan itu butuh 2 cost besar dalam pekerjaannya.

1. Mereka tergantung BBM.

2. Mereka tergantung freezer. Percaya apa nggak, ini penting. Jadi gini.

Mereka melaut memakai solar. Naiknya harga solar membuat cost mereka tinggi.

Hasil tangkapan mereka cepat busuk. nelayan capek-capek melaut. tapi karena pasar lelang ikan mereka tidak punya freezer, ikan mereka cepat busuk. Akhirnya tiap hari mereka harus jual cepat dan murah.

Karena cepat busuk ini pula, daya jual mereka tidak lebih dari 100-200 km ke pedalaman.

Maksudnya gini. Nelayan di pelabuhan ratu mungkin susah menjual kepiting mereka sampai Jakarta. Artinya, pembeli meeka terbatas di radius 100-200 km yang mana mungkin 30000 orang. Padahal kalo ada freezer, ikan mereka jadi lebih awet dan pembeli yang di 300 km di pedalamanan bisa juga beli. ini membuat peluang jual nelayan berlipat ganda. Demand menjadi naik (karena cakupan area dari dagangan mereka meluas) dan harga jual mereka jadi tinggi. Intinya mereka butuh gudang dingin. Gudang dingin ini pake apa lagi operasinya kalo gak pake listrik. dan ini pun, lagi-lagi cost bagi mereka.

Untuk nelayan ini, setidaknya dari pola pikir gue yang S1 ini, mungkin yang ada hanya subsidi di solar dan subsidi di listrik untuk gudang esnya.

1. Solar disubsidi agar dengan uang yang sama, mereka dapat solar lebih banyak dan melaut lebih jauh.

2. Listrik untuk gudang es disubsidi agar tangkapan mereka jadi awet. yang tadinya mereka melaut malam dan jual siang, mereka bisa melaut siang malam dan di waktu yang sama, tangkapan mereka yang kemarin masih bisa dijual karena awet di freezer.

Kemudian, bagaimana cara pemerintah mengompensasi uang negara yang hilang karena subsidi solar dan subsidi listrik ini?

Pemerintah membeli ikan-ikan komoditas ekspor dan mengekspor ikan-ikan ini. revenue yang pemerintah dapatkan bisa mengganti subsidi solar dan listrik. Mungkin gak akan pernah nutup. Tapi setidaknya kerugian negara menurun.

end game: gimana caranya industri perikanan kita dapat memerbaiki hajat hidup orang banyak tanpa bikin negara bangkrut oleh subsidi.

Namanya juga teori, ngomong sih gampang ya.

Multi budi daya ganda. dosen gue di ITB (ehm :P:P:P) pernah bilang bahwa nelayan bisa kaya kalo mau pinter dikit.

Di Indonesia banyak sekali hutan bakau. Di hutan bakau ini mereka bisa ternak kepiting. Sekilonya USD 12 kalo diekspor. Kemudian, ampas kepiting itu, adalah makanan yang baik untuk udang. Bukalah tambak udang. harganya USD 15 sekilo kalo diekspor. Kalo pun dijual lokal, kepiting dan udang selalu baik harganya. Memang ngomong mudah. Udang itu adalah budidaya yang sangat sensitif oleh hama. Tapi secara teori menggiurkan. Pemerintah juga gak mau denger, kata dosen gue. dan jadilah nelayan gak pernah kaya.

Hmm, sebenernya pengen untuk bisa mengeksekusi ini di lapangan. Sobat gue ada yang sudah merintis ini di bidang pertanian. Insya Allah kalo ada jalannya gue mau ikutan.

Post to Twitter Tweet This Post

No related posts.

12 responses to “Membuat Petani dan Nelayan menjadi Kaya”

  1. arman says:

    kalo harga beras lokal naik apa gak kalah saing ama beras import?

    orang jadi mendingan beli beras thailand. akhirnya beras lokal gak laku. gitu juga diexport pun gak laku karena kalah saing ama beras dari negara lain…

  2. admin says:

    Ya kita stop impor beras sekalian? toh ini game berandai-andai?

  3. Mr. Raccoon says:

    Menurut ane, untuk dapetin beras cuma ada satu cara :
    1. nanem padi

    Jalannya memang ada dua cara :
    1. nanem di tanah sendiri
    2. impor (dalam arti, misalnya kita minta tolong orang Thailand untuk nanem padi, berasnya dikirim kesini, trus kita bayar)

    Orang akan mau nanem padi kalo :
    1. punya tanah yang bisa ditanemin padi
    2. dia merasa kegiatan “menanam padi” itu adalah kegiatan yang berguna, bermanfaat, mendatangkan keuntungan dan bukan wasting time.
    3. punya modal, tenaga, dan waktu untuk ngurus padi tsb

  4. [...] Ini tulisan saya ambil dari www.suamigila.com 11 Juli 2009 Membuat Petani dan Nelayan menjadi Kaya [...]

  5. junda says:

    sebenernya indonesia itu punya potensi SANGAT BESAR buat bisa mandiri..indonesia bisa aja ga impor apa-apa dan rakyatnya tetep hidup makmur..

    penduduknya 200 juta orang dan naik terus gitu loh!!

    orang jualan kacang rebus aja bisa kaya..

    tapi emang masalahnya ga segampang itu, kalo kita ga impor, kita ga enak juga sama negara lain..efek lebih lanjutnya ya kita ga tau juga..
    yang jelas dibayangan gw, kalo kita ga impor apa-apa, kita tetep masih bisa ekspor macem-macem..walaupun negara lain pada mewek karena kita berhenti impor dari mereka, mereka bisa apa, mau bales ga terima barang ekspor kita?yang ada juga mereka yang rugi kehilangan 200 juta customer..contohnya ni ya, bridgestone misalnya, karet mentah dia cuma dari brazil dan indonesia..kalo kita ga ekspor ke dia, brazil jadi merasa superior dan berani jual mahal..maka bridgestone bakal ngemis2 lagi ke kita supaya ekspor karet..

    tapi semua ini juga penglihatan gw aja..kita tau lah ada banyak irang-orang berkuasa yang bisa mengendalikan hampir apa aja..

  6. didi says:

    di pangandaran, bu susi bikin pabrik pengepakan ikan, dia juga bikin bandara sendiri, dia angkut itu ikan2 pake pesawatnya sendiri (susi air) ke cengkareng ato halim. jadi ikan2 segar itu bisa nyampe ke jepang dengan waktu kurang dari 24 jam. itu menaikan harga sampai 1,5$. ini udah kejadian. tanpa dukungan pemerintah.
    beras kan masalah politis, mau gak mau harus impor. sama kayak utang. utang itu harus. kalo nggak gak asyik. negara2 kaya bingung mau nyalurin kemana duit parkir yang seabrek2 di negaranya.

  7. Pemilih.com says:

    Adhitya Mulya: Membuat Petani dan Nelayan menjadi Kaya…

    Di Indonesia banyak sekali hutan bakau. Di hutan bakau ini mereka bisa ternak kepiting. Sekilonya USD 12 kalo diekspor. Kemudian, ampas kepiting itu, adalah makanan yang baik untuk udang.
    Bukalah tambak udang. harganya USD 15 sekilo kalo diekspor. Ka…

  8. Orang Kampung says:

    The thing is, we’re very good at making comment or analysis, but do you actually want to become farmer or fisher? So, there will be many SMART ASS KICKIN’ Indonesian farmers and fishers…

  9. wahhh…walau udah lama meninggalkan masa kuliah.. idealisme mahasiswa ITB nya masih kelihatan yaa kak..

  10. lhogog says:

    beras murah, sawah dijual buat modal urbanisasi. Di jawa sudah jarang ada petani punya tanah lebihdari 1/2 hektar………. kebanyakan petani penggarap, tidak punya sawah. Tidak ada satupun pemuda yang mau kerja di sawah, nyangkul, bersihin gulma dari pagi jam 6 sampai jam 11 cuma dibayar 7500. mending jadi kernet, tidak kotor, nepukin pantat cewek, rokok samsu, makan di warung padang, sehari bisa dapet 25 rb.
    Yangkerja di sawah sekarang orang2 tua miskin, rata2 umur diatas 50 th. yang anaknya kerja jadi buruh pabrik, atau jadi pembantu di jakarta.

  11. lhogog says:

    rata-rata nelayan pake perahu 6 X 1.5 meter mendominasi cirebon dan pantura pada umumnya, ikan cirebon nyaris habis, mereka melaut cuma sehari, rata-rata hasil melaut sehari cuma 3-5 kilo, rugi solar, ikan segitu tidak perlu freese, begitu merapat sudah banyak yang beli, karena memang ikan laut sudah susah didapat.

    Di Cirebon freezer itu hanya dipakai kapal kayu ukuran panjang 25-35 m dan lebar 6-8 meter. Semua milik cina kaya, pribumi tidak ada, mereka ngomong juga bahasa cina, gak bisa bahasa indonesia. Kalo nelayan jenis ini sudah kaya, kapalnya bisa lebih dari 25 armada. 1 kapal sebulan pergi bisa nangkap cumi-cumi 24 ton, atau kakap merah 15 ton. padahal 1 kilo cumi 60-90 ribu, semua di eksor kembali ke negaranya, cina, hongkong. Nelayan jenis ini seharusnya ini tidak perlu subsidi BBM dan Freeser. ini bukan nelayan, tapi cukong cina datang kesini memanfaatkan subsidi BBM.

  12. lhogog says:

    saat ini yang namanya subsidi pupuk adalah bukan untuk petani, tapi untuk OKD (Orang Kaya Desa) yang kerjanya beli sawah petani beneran yang lg kepepet dan butuh uang, misalnya bayar sekolah anak, bayar jadi polisi, untuk pesta nikah, bayar lintah darat dll.

    Tiap mendapat keuntungan panen mereka para OKD ini membeli sawah, dan ada saja pasti tiap bulan petani kepepet yang jual sawah, padahal satu-satunya penghidupan mereka, walau kecil, rata-rata 0.2 hektar atau 2000 meteran.

    padahal untuk hidup layak petani transmigran aja di beri tanah 2 hektar, itupun masih susah, bagaimana dengan petani beneran yang cuma sawah rata-rata 0.2 hektar?

    ya subsidi pupuk hanya untuk OKD….. tukang beli sawah murah dari petani kepepet…….

Leave a reply