Antara Rumah dan Pendidikan Anak

Surprisingly, ada yang kirim email seperti di bawah ke gue. Jujur gue rada ngeri jawabnya karena gue gak kerja di perbankan dan bukan sarjana ekonomi. Ternyata dia nulis karena pernah baca postingan gue ttg finance sebelumnya. Tapi gua jawab aja. Dan gua juga minta ijin ke orangnya untuk gua share di blog.

Sebelumnya gue kasih warning dulu:
1. Perhitungan gue gak pake rumus. Tolong dihaluskan dengan rumus.
2. Yang gua anjurkan di bawah, gua sendiri belum tentu mampu lakukan karena financial planning seseorang hampir unik, gak ada yang sama – tergantung income dan spending pattern masing-masing.
3. Surat di bawah gue rewording ke bahasa gue.
4. Semoga membantu bagi yang baru nikah.

Si X menikah 2 tahun dan sekarang punya bayi perempuan 1 tahun.
Income X = 5 jt/bln
Income Istri = 7 jt/bln
Rencana ingin beli rumah di kisaran 650 juta tapi bingung membagi antara tabungan anak, tabungan pensiun dan menyicil rumah dengan income 12 jt/bulan. Dengan komposisi 40%-40%-20% (yang X pernah baca dalam salah satu postingan gue) rasanya kok gak masuk dan akan lama sekali bisa punya rumah. Saat ini masih tinggal di rumah orang tua.

Ps: gua delete bagian-bagian di mana dia muji-muji kegantenga gue….well okay he didn’t.

Question: Gimana planning dan managementnya?

Update: ada kesalahan dalam perhitungan gua dalam memakai rule of 72. revisi gua pake font biru. Gua juga udah revisi ke pengirim suratnya sebelum dia planning. semoga dia gak pingsan huehehhe..

Ini jawaban gue:
Pertama filosofinya dulu:
1. Ketika kita tidak mampu menjalankan financial planning untuk diri kita dan anak kita secara bersamaan, maka yang harus didahulukan adalah kita, lebih tepatnya, rumah kita. Bukan pendidikan anak. Tidak ada investment yang lebih penting di dunia ini dari memiliki rumah sendiri dan lunas. Segubug-gubugnya itu rumah, kita punya kebanggaan, gak repotin orang tua dan selamat dari bahaya ngontrak di mana duit ilang.

2. Kita mendahulukan beli rumah daripada pendidikan anak, karena kita sayang sama mereka. Kita ingin dikala kita pensiun nanti, kita gak numpang/minta duit ke mereka yang sedang kerja keras nabung untuk anak mereka. Kalo udah punya rumah sendiri, kalo kita gak punya income lagi, paling apes itu rumah dijual, masukin deposito, kitanya masuk panti jompo dan hidup di panti jompo dari deposito, tanpa satu sen pun nyusahin anak.

[rule of 72 deleted]

Oke, pegang 2 prinsip itu dan kita lanjut ke planning dan perhitungan.

Home Planning
Pertama adalah memanage lifestyle dan living cost kita. Asumsi paling parah-parahnya kita bisa hidup dengan 40% income = 4.8 juta. Biar bulat gua bulatkan ke 5 juta aja. Hitung dengan jernih, terima dan adaptasi. Dengan living cost 5 juta, kita punya savings total 7 juta.

Kedua, mengingat kita belum punya rumah, maka jangan split 7 juta ini ke pensiun/investment dan anak. Konsentrasikan semua tabungan 3 tahun ke depan untuk beli rumah atau DP rumah. Kenapa 3 tahun? Alasannya akan terungkap jauh di bawah.

Ketiga, beberapa hal ttg KPR yang kita harus tahu:
1. Kebanyakan bank menetapkan minimal DP 15-20%.
2. Bank membatasi cicilan sebanyak 1/3 dari income gabungan. Artinya dengan income 12 juta, maka maksimal kita bisa cicil perbulan 4 juta.
Semakin besar DPnya, semakin kecil jumlah terutang dan semakin kecil bunganya dan semakin sebentar pinjaman kita. Misalnya, kalo bisa lunas 10 tahun, kenapa ambil 15 tahun? Ini sebabnya disarankan untuk konsentrasi semua savings untuk memerbesar DP.

Keempat, hitungan:
Kita mulai tabung 2009. Maka di akhir tahun ketiga, yaitu akhir 2011, kita udah punya = 7 jt x 13 bulan x 3 = 273 juta.
Gua itung 13 bulan karena biasanya kita nerima bonus gaji ke13.

Di akhir 2011 lu akan udah punya 273 juta + bunga bank (x)

Di akhir 2011 lah kita belanja rumah. Di titik ini, ada dua pilihan.

Pilihan 1: beli rumah murah/jauh/jelek/sempit tapi lunas
Kalo bisa beli rumah dengan lunas, beli lah dengan lunas. Apalagi hari gini bunga bank tinggi selangit. Kalo beli rumah lunas, kita bisa langsung nabung buat pensiun dan pendidikan anak.

Pilihan 2: Beli rumah yang diimpikan meski mahal
Kalo mau beli rumah yang harganya 650 juta, tabungan sebesar 273 juta + bunga itu = 42% harga rumah, dan 42% itu udah menjadi level DP yang sangat-sangat bagus. Jangan miris melihat rumah-rumah strategis terjual atau habis. Karena rumah yang bagus akan sia-sia kalo kita mampus-mampusan ngelunasinnya. Mending punya rumah yang seusai budget, DPnya bisa gede dan lunasinnya gampang dan sesingkat mungkin. Mau rumah mungil dan jauh juga, kalo kondisi keuangannya lancar, hidup lancar. Beda sama rumahnya mahal, kitanya maksa dan tiap hari kita stres mikirin cicilan 30 tahun. Apalagi hari gini, bunga bank tinggi banget.

Education Planning
Nah ini rada rumit jadi tolong konsentrasi. Ada 2 faktor penting di sini. Costing dan Timing.

Education Planning - Costing
Kita costing dulu, jaman sekarang adik-adik kita masuk S1 berapa sih biayanya sampe lulus 4 tahun kuliah?
Uang masuk = 50 juta
Kos-kosan 4 tahun = 18 juta
SKS+etc = 28 juta
Total = 96 juta
tolong dicek lagi dengan benar costingnya. Kalo bisa sedetil mungkin dan segemuk mungkin.)

Jadi biaya S1 present value = PV = 96 juta.

Anggap aja kebutuhan ini baru akan terjadi 18 tahun ke depan.
Anggap inflasi 12%
Maka Future Valuenya (FV18) = 660 juta
Hampir 7 kali lipatnya, bukan 3 kali lipatnya.

Kalo mau liat FV dari uang masuknya aja, yaitu 50 juta, maka FV18nya = 343 juta.

Education Planning - Timing
Inget satu hal, waktu berjalan dan gak balik. Perhatikan bolded fonts:
Umur anak masuk = 18 tahun.
Umur anak sekarang = 1 tahun
Ingat bahwa di 2009, 2010 dan 2011, semua uang elu abisin untuk kejar DP rumah. Itu total 3 tahun lu absen dari nabung untuk anak. Ini adalah pil yang harus kita telan kalo di awal-awal planning, gaji kita gak melimpah. Gak papa, itu emang rejeki kita kali. Bahkan sebenernya gaji income juta sebulan udah harus sujud sukur kali.
Buffer = 2 tahun. Kita butuh buffer ini, in case kita meninggal sebelum anak bisa S1. Logikanya, kita ingin benar-benar siap agar jika kita meninggal, kita meninggalkan anak dengan cukup bekal untuk S1.

Jadi, time span lu = 18 – 1 – 3 – 2 = 12 tahun.

Jadi, Costing dan Timing wise,
Option 1: Kalo cover semua pendidikan, elu harus kumpulin 660 juta selama 12 tahun ke depan.
Option 2: Kalo cover uang masuknya aja, elu harus kumpulin 343 juta selama 12 tahun ke depan.

Bukan 100 juta untuk 18 tahun ke depan. Kalo punya anak dua, selamat, bikin perhitungan lagi untuk anak kedua.

Dari sini timbul pertanyaan, apakah ini artinya kita harus tabung 660 juta / 12 th = 55 juta tiap tahunnya?

Ini kabar baiknya. Nggak. Kalo gitu berapa?
Well anggep lah deposito itu 6% (ada yang lebih, ini paitnya aja).
Maka kita hitung balik dari 660 juta 12 tahun ke belakang dari sana.
Kalo mau cover full pendidikan, jatohnya sekitar 40 juta setahun. Atau 3.3 juta sebulan.
Kalo mau cover uang masuknya aja, sekitar 20 juta setahun, atau 1.7 juta sebulan.

Jadi spending patternnya bakalan seperti ini:

2009, 2010, 2011
Income = 12 jt/mo = 156 /ann (13 bulan gaji)
Living cost = -5 jt/mo = 60 jt/ann
Savings utk DP = 7 jt/mo

2012 dst
Income = 12 ht/mo
Living cost = -5 jt/mo
Cicilan rumah 1/3 income = -4 jt/mo
uang masuk S1 anak = -3.3 jt/mo atau -1.7 jt/mo
Sisa = nol atau 1.3 ht/mo

Mungkin timbul pertanyaan, wah kalo anak gua dua, kapan gua nabung buat pensiunnya dong?
Ada beberapa jawaban:
1. Pasti tiap tahun naik gaji kan? Kenaikan itu yang lu sisihkan untuk pensiun.
2. Ini dia kenapa kita mending beli rumah lunas. Kalo lunas, bisa langsung nabung pensiun kan.
3. Kalo gak bisa, maka anggaplah pembelian rumah itu sebagai tabungan pensiun lu.

Terus asuransi pendidikan gimana?
Kita bisa memecah 1.6 jt/mo ini sebagian masuk deposito dan sebagian jadi premi asuransi. Salah-salah kalo kita mati cepat, tabungannya tetap mengalir.

Gua saranin banget lu cross check dengan orang perbankan. Gua nulis ini bukan karena gua sukses menjalaninya. Sukses atau tidak kita tunggu puluhan tahun ke depan. Yang penting ikhtiarnya dan planningnya. Mungkin financial planner yang lebih qualified akan saranin untuk bisa jalanin pendidikan anak dan cicil rumah bersamaan. Kalo gua sih nggak. Yang gitu-gitu lu mesti pilah sendiri.

Salah planning gak papa. Yang berat itu kalo sampe telat planning atau di tengah jalan planningnya dirubah total ke target-target baru. Itu rada susah. Which reminds me gua harus merevise total financial planning gue. Ihiks.

Kalo ada yang mau ngetawain perhitungan ini gak papa. Buktinya perhitungan posting pertama gua aja salah. Gua juga masih taraf belajar (selalu dalam taraf belajar) dan mungkin kalian bisa share pengalaman kalian untuk satu ini? If yes, leave a comment please, thanks. Semoga membantu bagi kalian yang akan atau baru saja nikah.

Rgds.

Post to Twitter Tweet This Post

No related posts.

4 responses to “Antara Rumah dan Pendidikan Anak”

  1. intania says:

    tentang itung2annya gua ga ikutan ah, salut buat bang adit yang udah puanjang banget ngebahasnya (mpe gua baca puyeng), bisa2 gantiin Aidil Akbar di tipi hehe

    gua baru nikah taun ini, udah tinggal di rumah sendiri, not much, tapi cukup lah, secara kita cuma bedua. saran gua buat yang akan atau baru aja nikah, mending consider buat beli rumah deh. apalagi kalo tempat kerja bedua udah kira2 fix di suatu tempat. awalnya kita rencana mau ngontrak rumah, cuma pas dipikir2 sayang juga, kalo ngontrak, uang habis, rumah ga kliatan. ortu2 juga tinggalnya di kampung, so gada yang bisa ditumpanin. jadinya kita carilah rumah yang terjangkau, yang kira2 nyicil setaun dua taun lunas. kita mikirnya toh kalo nanti punya rejeki lagi, bisa nyari lagi yang better.
    gapa2 lah, yang agak jauh dikit, selama masih ada akses antara rumah - kerjaan (asal jangan lo kerja di jakarta rumah di cianjur)

    gua setuju sama bang adit, kayak apapun rumahnya, kalo udah rumah sendiri mah, hari gini, i say lumayan.

    regards.

  2. bensolo says:

    d**n, i thought this blog funny..
    its beyond..
    haha
    cheers

    ps:ofcourseitisacompliment

  3. anna says:

    pak Biemo must be very proud of you… :D

  4. Mukajamban says:

    Mantabs……………

Leave a reply