Setiap film block buster di Indonesia memerlukan 2 hal. Pertama adalah script reading antar pemain, sutradara dan poduser. Kedua adalah Dian Sastro. Karena bisa dipastikan bahwa bermain 40 film setahun akan membuat seorang Dian Sastro mimisan, maka kebanyakan produser lebih banyak berharap pada proses script reading.
Di hari yang panas itu pocong sampai di PH dengan setengah hati untuk sesi script reading terakhir. Dia masih ingat 3 bulan yang lalu saat signing kontrak,”Ini bakal jadi film maha dahsyat! 2 bintang yang keduanya telah memiliki trilogi!!! Bayangkan berapa milyar yang bisa diraup dari film ini!”
Pocong stres dengan film ini atas 3 hal:
1. Dia selalu merasa berada di bawah kesuksesan kuntilanak. saat Idul Fitri dan Idul Adha, Kuntilanak selalu diburu hantu lain untuk bertanya kiat suksesnya. Pocong? Cuman babi ngepet yang masih nganggep dia. dulu ada si suster ngesot. Sebelum terkenal, tiap haaaaari ngimelin dan sms-in Pocong minta ketemuan lah, minta tips lah, minta ikut casting lah… sekarang udah terkenal, maenannya ke mall bareng kunti. Pocong ulang tahun aja gak ada sms-sms acan. Monyet tu suster.
2. Dia merasa karakter pocong kurang dalam digali di film ini. Tidak ada musikal yang bisa show off kemampuan dia menyanyi. Juga pesan moral yang dikandung hanya dendam dan bunuh-bunuhan yang jaman sekarang udah dirasa, nggak banget.
3. Kuntilanak naik mobil Alphard. Pocong? Honda jazz aja. Kredit pula.
“Udah buruan selesein sesi ini supaya gua bisa prep syuting besok” sutradara membuka sesi dengan BT.”Saya Mas, saya senang sekali dengan skripnya. baru kali ini ada film horor yang memadukannya dengan film sci-fi. Kalo boleh tau, kenapa ya di dalam skrip gak ada U.S.S. Enterprisenya Star Trek mendarat?”
“Lu ngomong apa sih Kun?” Sutrada mulai irritated.
“Lha itu Mas, kan saya karakternya Nyi Soroh yang kawin sama bangsa KLINGON kan?”
“Lu Nikah sama Von Klingen! Meneer Belanda! BUKAN KLINGON!” dua menit jalan, sutradara udah naek darah.
“Klingon itu yang di jidatnya ada kue pancong itu ya?” Pocong ingin ikut nimbrung untuk memperlihatkan intelejensia.
“Oh belanda toh? Okay, okay Ik faham. Ik faham.” angguk Kunti, mendadak setengah Belanda.
“Gua pribadi masih ngerasa gak sreg sama skripnya.” potong pocong.
“ELU LAGI! Coba gua pengen denger.”
“Kenapa plotnya gak kita rubah?”
“Gua udah sewa alat. Desain produksi udah selesai. Dari pada ganti plot mending gua ganti pantat lu mau?”
“Setidaknya dengerin gua dulu deh. Menurut gua plotnya gini aja:
Kuntilanak adalah sehantu (bukan seorang) yang kerja sebagai investment banker. Kerjanya tiap hari crunching number, urusannya sama ekuitas, return of invesment, fund hedging, mortgage, yang mana semuanya hanya di atas kertas saja dan tidak pernah melihat langsung efeknya dalam pembangunan sebuah bangsa.
Pocong adalah seorang pionir dalam micro-banking, memberikan kredit ringan dengan harga terjangkau kepada wong cilik seperti penjual ayam, basically semua UKM deh. Termasuk ngasih dana pro bono ke suster apung – yang by the way, kita bisa masukin suster ngesot di sini sebagai cameo kalo dia gak sibuk.
Nah filmnya padet jadi semua informasi itu kita shoot dalam 3 menit.” jelas Pocong secara komprehensif dan menunjukkan bahwa mengemas semua itu dxalam 3 menit adalah pertanda dia gak bakat jadi sutradara.
“Nah, konflik mulai terjadi ketika krisis ekonomi global terjadi. investment portfolio mbak Kunti jelas ancur lebur. Di saat ini dia ketemu gue, pocong, yang ternyata, bisnis mikro-bankingnya cukup likuid karena wong cilik ini gak pernah nunggak kredit. gak kayak klien besar yang ngutangnya milyaran tapi lenyap ditelan bumi. Kemudian bla bla bla bla bla blaa……”
tiga jam kemudian…
“….dan akhirnya, Pocong yang sudah kehilangan semua uangnya, tetap saja ingin menikahi kuntilanak yang pada saat ini hamil 7 bulan – meski sekali lagi, bukan anak pocong. Mereka tinggal di desa beternak soang dan hidup bahagia selamanya. The end.”
“…”
“…”
“…”
“…”
“Oh ya gua lupa nambahin. Semua ini, musikal. Mas Sutradara, gimana? Mas? Mas?”
Pocong berpaling dan sutradara sudah mati berdiri.
No related posts.


