Asuhan Mudah-mudahan apa yang gua tulis di bawah gak dianggap menyombong dan bisa memotivasi beberapa orang. Anak Asuh - Guru Asuh Di agama gua, kebiasaannya adalah 2.5% dari income kita berikan pada fakir miskin. Dari jaman gua kuliah 2.5% ini gua pakai untuk membiayai pendidikan anak asuh. Sekarang gua lagi mengontrak 1 anak untuk 3 tahun ke depan. Gua mikirnya, daripada memberikan dalam bentuk makanan, pendidikan lebih membekas kepada orang yang tersantun. Mikirnya lagi, daripada mereka ada di jalan mending kita sekolahin karena ada banyak sekali anak-anak yang putus sekolah Tapi kemaren pas ke Indonesia ada sesuatu yang agak merubah logika gua. Gua gak sengaja nonton Kick Andy dalam episode di mana dia mengupas tenaga pengajar di Indonesia. Ada satu guru yang sampe sekarang masih honorer setelah 15 tahun. 15 tahun man! Jujur aja 15 tahun terakhir di Indonesia, presiden yang menjabat sudah Suharto, Habibie, Gus Dur, mega dan SBY. Gak ada satu presiden pun yang, jika pun berusaha, berhasil memperbaiki hidup guru ini. Indonesia juga tercatat sebagai negara yang memberikan anggaran pendidikan terkecil sedunia. Ini udah jaman SBY. Anggaran pendidikan ini ditranslasikan ke bangunan, maintenance, sistem, dan gaji guru. Wajah guru berjilbab itu teus rada ngebekas di kepala gua. Iya selama ini gua punya anak asuh. Gua asuh dia agar dia tenang belajar. Tapi gua baru nyadar bahwa yang ngajar anak asuh gua banyak yang kelapran. banyak yang gak punya keamanan masa depan. banyak yang kerja dobel. dan ironisnya mereka lah yang membekali generasi depan untuk menjadi generasi unggul. mau unggul sebelah mana kalo yang ngajar juga laper? Gak sengaja setelah nonton ini, gua pergi ke Plaza Indonesia dan Pacific Place. Gila, tempat itu luar biasa exclusive. Gua perhatiin baik-baik marmer lantai dan dindingnya. Ini kalo uangnya buat nyantunin guru honorer, bisa cover berapa orang ya? Gua liat butik-butiknya, sepi karena udah kebanyakan shopping mall yang high end seperti ini. Sepi dan megah. Gua gak kebayang gimana perasaan guru honorer itu kalo mereka ngelintas depan toko-toko ini ya. Gua masih terikat kontrak dengan anak asuh gua sampe 3 tahun ke depan. Dari sini gua punya niat untuk mengalihkan zakat gua. Daripada punya anak asuh, mending gua punya guru asuh. Kita bisa cari guru honorer yang udah belasan tahun dan kita santunin mereka. Well semoga aja mereka mau nerima barang beberapa ratus ribu rupiah. Ini baru rencana, baru niatan. Semoga gua punya cukup rejeki untuk merealisasikannya. Pengalaman Gua dan Anak Asuh Omong-omong tentang anak asuh, ada yang berminat gak membiayai anak asuh? Gua mau cerita seidkit tentang skema pengalaman anak asuh gua yang sekarang. Jadi gini, ada sekumpulan mahasiswa ITB yang menyisihkan waktu mereka untuk mengajar sebuah SD dan SMP di Bandung utara. SD dan SMP ini sangat kecil dan kekurangan guru dan jadilah mereka mengajar di sana tanpa bayar. Kemudian sekolah ini akhirnya ditutup dan anak-anak kecilnya terpaksa mencari sekolah. Di titik ini masalah mulai timbul karena anak-anak kurang mampu ini harus bayar SPP di sekolah baru. Para mahasiswa ITB ini lantas kirim email ke milis ITB apakah ada yang berminat jadi orang tua asuh. Gua salah satunya. Gua salut sama mahasiswa-mahasiswa ini. mereka bersedia jadi hub bagi penyantun dan dan tersantun. kita kirim uang SPP kita ke bank account mereka. Mereka yang mendistribusikannya. Bukti-bukti SPP, dan semua pemeblian mereka scan dan kirim balik ke penyantun dan mereka melakukan ini semua tanpa bayar. Tips Jadi Orang Tua Asuh Ini kalo ada yang berminat jadi ortu asuh: 1. Supply Tentukan aja berapa yang kita mampu. Sebagai gambaran, kalo kita punya income 5 juta sebulan, maka zakat 2.5%nya Rp 125.000. Kalo mau lebih ya lebih bagus. 2. demand Dari sini kita lihat demand dari anak asuh kita apa saja dari yang premier sampe tertier. Contoh berdasarkan priotitas: SPP: 50.000 / bln perlengkapan sekolah: 20.000 / bln transport: 30.000/bln jajan: 10.000/bln Nah terserah kita mau cover semuanya atau nggak. Makin besar budget kita, makin banyak yang kita bisa cover. SPP jelas harus dicover, itu basic. Perlengkapan sekolah seperti seragam dan buku itu terserah. Kalo gua mikirnya, gua mending biayain buku-buku dia juga karena buku lumayan mahal. Transport? Terserah. Yang jelas itu ngaruh. sering kali kita takut kalo kita ngasih duit, itu disalahgunakan. Kalo gua, gua modal percaya aja. Yang jelas, kita udah kasih uang transport untuk pergi ke sekolah, kalo dia pake buat yang lain, resikonya tanggung sendiri. Jajan? terserah. 3. Kontrak Oke, kita udah tau supply dan demandnya. Sekarang kita ikat diri kita dan mereka dengan kontrak. Again, ini saran gue aja. jadi kita pake perjanjian bahwa kita akan menanggung dia selama 1 atau 3 tahun. kalo ambil anak SMP, atau SMA sebaiknya ikat sampe dia lulus. Kenapa? Soalnya tanggung kalo kita biayain cuman 1 tahun aja. masuk kelas 1 tapi gak lanjut ke kelas dua, dia putus sekolah tanpa dapet ijazahnya. Kalo kita ikat sampe dia lulus, maka setidaknya pas kontrak berakhir, dia punya ijazah SMP atau SMA itu. Dan itu penting bagi mereka. Yang win-win bagi kita dan mereka adalah kalo kita ambil anak-anak kelas 4-5-6 SD, atau 1 2 3 SMP atau 1 2 3 SMA. Jelas. kalo ambil dari kelas 1 SD, memang murah tapi ikatannya lama juga ya 6 tahun. 4. Exit Clause Banyak orang yang berniat baik, berhenti di sini. Kontrak? yang bener aja pikir mereka. Serius amat? Kalo gua bilang ini langkah paling oke bagi semua orang. Dan ingat bahwa yang menulis kontrak itu ya kita, bukan mereka. Jadi kita yang menentukan. Kita bisa tulis dalam kontrak itu, kalo kita sebagai penyantun kehilangan pekerjaan atau meninggal, maka kita otomatis sudah tidak aktif lagi menyantun. Ini jadinya bagus dari awal. dari awal, yang tersantun udah tahu bahwa dia gak bisa minta lagi kalo kita kena musibah. Bagi anak asuh, ini adalah ketenangan bagi mereka. Dan bisa memotivasi mereka untuk belajar. Ditanggung 1 tahun lebih baik dari pada nggak sama sekali. Ditanggung 3 tahun SMP lebih baik dari pada 1 tahun. 5. Syarat-Syarat dalam banyak program beasiswa yang mewajibkan penerima beasiswanya berprestasi. IPK harus 3. Ranking harus 1. Dalam kasus anak asuh free lance seperti ini, kita harus bijak juga sebagai ortu asuh. Jangan memaksakan hal yang sama jika tidak perlu. kenapa? karena ini: Kenyataan bahwa mereka perlu disantun membuktikan bahwa mereka kurang mampu. Dan dalam banyak kasus, keluarga kurang mampu itu, gizinya kurang. Gizi keluarga kurang, jangan terlalu ngarep tu anak brilyan. Dari pengalaman gue, gua sih masukin klausa yang ringan, bahwa santunan tetap berjalan dengan syarat sang tersantun naik kelas. Gua gak peduli dia ranking 1 atau 40.selama dia naik kelas, gua hepi. Malah ketika gua akhirnya ketemu Hani di Bandung dulu, gua bilang ke dia, selain belajar, kamu harus ikut osis ya. Biar kamu gaul dan berkembang. Kamu masih gak ngerti apa yang saya omongin sekarang tapi Insya Allah 10 tahun lagi kamu ngerti kenapa. Mahasiswa-mahasiswa ITB ini masih aktif menjadi penghubung antara penyantun dan tersantun. kalo ada yang berminat tolong kirim email ke gua dan gua akan hubungkan dengan mereka. Gua sendiri, seperti yang gua bilang di atas, mungkin akan coba untuk cari guru asuh dalam waktu 2-3 tahun ke depan, setelah kontrak gua dan Hani selesai. Bukannya apa-apa, baru mampu nyantunin 1 orang booossss. Dan sementara gua udah paham bener kebutuhan anak-anak asuh, gua masih blank akan guru asuh. Kemungkinan besar kebutuhan mereka sama aja dengan kebutuhan pekerja biasa kali ya? Sekali lagi, kalo ada yang berminat jadi orang tua asuh, hubungin gua di adhitya_mulya@hotmail.com Kalo ada yang mau sharing pengalaman jadi orang tua asuh, tolong dishare. Kalo ada yang punya insight ttg kehidupan guru atau guru honorer, tolong dishare juga. Thanks! Labels: islam |
Adhitya Mulya adalah Dewa Ganteng yang tinggal di kahyangan bersama 100 dayang-dayang. Dia menghabiskan waktunya turun ke bumi untuk bertemu dengan rakyat jelata dan berburu menjangan dan babi hutan... (or is it, berburu rakyat jelata dan bertemu dengan babi hutan? anyways, same thing). Oh ya, sesekali dia menulis buku komedi.
orang telah melihat kegantengan gua yang legendaris itu. Ninit ; Aan ; Agung ; Aip ; Alaya ; Avianto ; Aris ; Atta ; Detta ; Ewink ; Enda ; Erly ; Fairy ; Fanny ; Ganda ; Hagi ; Hanzky ; Isman ; Ita Leyla ; Ni'ang ; Ndari ; Nita ; Pip ; Okke ; Roi ; Ruri ; Shinta ; Tyaz ; Udhien ; Umar; Adi ; Afo ; Alaya ; Alfa ; Ale ; Alvons ; Aiff ; Andhi ; Andin ; Andin ; Anggie ; Anto ; Aprian ; arb3i ; Ari ; Arma ; Arif ; Ayu ; Axlandra ; Bantot ; Be-Es ; Beranda ; Bintang ; Bios ; Blub ; Brandy ; Buzz ; Cay ; CB ; Celia ; C'est la Vie ; Civent ; Claustrophobic ; Comel ; Comel ; Crey ; Dagungsta ; Dayat ; Deksay ; Dian ; Dican ; Didi ; Didiet ; Diki ; Dini ; Dion ; Disposable Hero ; Drey ; Duwie ; Dwi ; Dyah ; Ekodox ; Emil ; Ephe ; Eric ; Erika ; Erwin ; Eve ; Eyi ; Farid N ; Farid ; Finalizabeth ; Fitri ; Flow ; Flow ; Fresh ; Gajah Duduk ; Gauz ; goblog ; grE3nY' PrinceZz ; Guido ; Grizz ; Harris ; Harris ; Harris ; Heri ; Herlyanti ; Hero ; Ibiza ; Ika ; Ilsa ; Inex ; Inna ; Ipan ; Irene ; Irene ; Iris ; Isnaini ; Koebiz ; Kun ; Lacsar ; Lemans ; Lilik ; Lindie ; Little Mermaid ; Lontar ; Matz ; Memey ; Merkurius ; Morningdew ; N[a] ; Nasgor ; Neen ; Neenoy ; Nice green ; Nisa ; Nita+Agus ; Nono ; Novie ; Nukov ; Nunik ; Ochan ; Ollie ; Paylo ; Pipit ; Prazz ; Prianca ; QQ ; Radith ; Rapa ; Reena ; Ren ; Ria ; Richoz ; Ridwan Fauzi ; Rihsa ; Riena ; Rita ; Sapi ; Sasha ; Sazi ; Seggaf ; ; ; ; Snydez ; StormyMonday ; Supta ; Sweeney ; Sylvie ; Tamtam ; Tari ; Toet ; Trippin' D ; Tutup Botol ; t.w. ; Ty ; Tyaz ; Tychan ; Umar ; Un^Goe ; Vanda ; Vanya ; Viga ; Vellas ; Weedee ; Yudha ; visit rice bowl journals ! |