zaralde.com

Bapak dan Gua
Friday, June 16, 2006

Hari ini bapak gua ulang tahun. Paginya dia menelfon gua dan bilang bahwa malam ini kita sekeluarga makan di outback steak di PIM jam 7 malem.

However, tadi kerjaan ada pekerjaan yang belum selesai jadinya gua terpaksa gak ke rumah dulu tapi langsung aja ke PIM. Gua nyampe jam 7.30 dengan cengar-cengir.

Gua meng-adore kedua orang tua gua. Ibu gua, orangnya lucu. Apa pun isi cerita yang keluar dari mulutnya kita selalu dibuat ketawa karena cara dia bercerita. In fact, cara gua bercerita dalam buku sedikit banyak menurun dari cara dia bertutur.

The Apple Tree
Bapak gua lain lagi. Gua lupa apakah gua pernah bilang ini ke dia, tapi dia adalah seorang panutan. Dia termasuk jarang ngasih nasihat - for the simple fact bahwa dia dulu jarang ada di rumah. Siang kerja di kantor dan malam berusaha muterin duit di sana-sini. Sering kali ke Bogor ngebantuin adik-adik dan kakak-kakaknya karena dia diangap paling berada dan jadi panutan keluarga besar juga.

Dia pernah mengakui bahwa dia menyesal kerja terlalu keras karena meski dia bisa menjamin kesejahteraan kami, dia gagal untuk melihat kami tumbuh dewasa. Dan memang, Imbasnya adalah hubungan yang sama sekali tidak dekat. Suatu kali pernah gua 3 bulan gak balik ke Jakarta sewaktu sekolah di Bandung. Gua sudah akan pergi cari makan dan ada orang nelfon. Orang itu becanda garig
"Hayo tebak ini siapa?"
"Maaf pak, saya laper dan gak punya waktu untuk bercanda!" gertak gua.
"Ini papah Dit."

Heee?

Ketika kakaknya gua berumur 3 tahun dan gua 1 tahun, dia pulang dari oil rig di Arun setelah 1 bulan kerja. Reaksi pertama dari kakak gua adalah bertanya pada ibu gua:
"Mah, itu siapa?"

Ironis ya. Pilih mana? Spend time dengan anak tapi suruh anak itu cari duit sendiri untuk hidupnya? Atau cari uang demi anak, tapi gak liat anak itu tumbuh?

Dia juga pernah bilang bahwa kalau gua punya anak nanti, jangan seperti dia karena rugi gak bisa liat anaknya tumbuh. Dan bahwa kalo dia bisa ngulang semuanya, dia akan melakukannya dengan cara yang beda.

Sebenarnya cara dia menjalani hidup sangat rentan dengan resiko anak menjadi pecandu narkoba atau hal-hal negatif lainnya karena it is generally admitted bahwa kebanyakan screw up anak dilatarbelakangi oleh kurangnya perhatian ayah.

Tapi jika dia bisa mengulang semuanya lagi, gua akan suruh dia mengulang hal yang persis sama.

Kenapa?

Karena dia bekerja keras demi keluarga. Dan itulah yang seharusnya seorang ayah lakukan. Gua dan kakak sebagai anak cukup sadar untuk respek itu dari kecil sehingga kita gak penah mau coba macem-macem. Gimana perasaan bokap dan nyokap kalo mereka udah segigih itu ngidupin anak dan kita malah nyandu narkoba? Mau kita taro di mana muka mereka? mau kita taro di mana muka kita? Menjadi ayah gak gampang. Satu dari 3 pertanyaan di kubur adalah apakah kia menjadi kepala rumah tangga yang baik. Bapak gua harus membuat keputusan ttg bagaimana dia memimpin keluarga dia dan gua mendidik diri gua untk menghormati keputusan itu, dari kecil. Meski I do miss having him in my life, to be honest.

The Apple
Growing up, gua me-list hal-hal yang baik dan buruk dari dia dan mencoba mengambil yang baik dan menyimpan yang buruk (teorinyaaaaaa).

Kebetulan, gua memang dididik untuk gak mau kalah. Dan singkat cerita, gua gak lihat ada orang di muka bumi ini yang lebih sulit dikalahin dari..well..bapak gua sendiri. Sejak SMP gua selalu menyimpan pertanyaan iseng "Apakah kali ini gua bisa ngalahin dia?". Maksudnya, gua usahakan agar tidak terobsesi untuk ngalahin dia tapi cuman buat cross check aja from time to time because I know what I want in my own life.

Dia itu:
lulus SD juara umum
lulus SMP juara umum
lulus SMA juara umum
Masuk ITB
Lulus ITB IPK 3+ n durasi kuliah 4 tahun
Sekali lamar langsung masuk kerja.
Expat ke benua lain
Travel ke 4 dari 5 benua
Umur 30 bisa bangun rumah sendiri
Kerja untuk 1 perusahaan seumur hidupnya

Setelah gua sadar akan semua ini, gua terpatri untuk minimal menandingi lah. Kali-kali aja bisa. Walau akhirnya jadi anak dia itu, stres banget.

Contoh, gua tidak suka dengan semua kakak sepupu gua dari pihak bapak karena waku gua kecil, mereka selalu meremehkan gua.
"si anak orang kaya."
"Elu mah apa-apa tinggal minta.."
And shits like that. Rese lah.

Situasi makin seriously injuring ketika gua masuk kuliah. Kebetulan saat itu dia membangun rumah di bandung untuk rumah masa tua dan selesai ketika gua tingkat 1 kuliah. Mau gak mau gua harus tinggal di rumah segede itu dan logo
"anak-orang-kaya-yang-dapet-segalanya-dengan-gampang" yang bikin gua benci sama kakak2 sepupu gua, hadir lagi dicap oleh temen-temen kuliah gua.

Ada insiden fatal bedurasi panjang di tingkat 2 dan 3 antara gua dan beberapa teman-teman gua (for sipil 96 who read this...cuman sedikit kok guys, not all of you) di mana terconfirmed bahwa mereka nganggep remeh gua banget.

Gua pernah tanpa sengaja nangkep mereka ngomong
"Biasanya sih kalo bokapnya tajir, generasi berikutnya suka lembek. Tu liat si Adit."

Gua gak pernah memaafkan manusia-manusia itu.

Ever.

question: Why never? Even God is forgiving.

Well I'm not God.

Instead gua kembali ke diri gua untuk membuktikan bahwa gua bisa membungkam mulut mereka. Caranya gampang. Kalahin aja prestasi bapak gua dalam hidup di masa ekonomi yang lebih sulit dan gua akan mengalahkan kebanyakan orang. (Gua gak keberatan dengan hal ini dan gua gak pernah merasa hidup dalam bayang-bayang kebesaran bapak) karena gua dan bapak memang memiliki interest, visi dan prinsip yang sama. Contoh, kita sama-sama seneng travel. Sama-sama mikir bahwa kerja untuk multinational company is the best way to go. Hardwork is assurance for family future.

Semua itu gua setuju dan gua jalankan. Sekarang siang gua kerja dan malam cari duit lagi. Persis seperti orang yang gua liat ketika gua kecil. Travel ke sana-sini bawa koper, persis seperti orang yang gua liat ketika gua jemput dia di Halim dulu. That's the effort side.

As for the result...well, gua gak akan melist down apa yang udah gua capai. It's basically my dad's list...

with some additions. And shorter time. :)

The Old Lion
Sekarang bapak gua udah pensiun. Tiap hari main sama cucunya (ponakan gua) dan nonton cable kalo lagi di rumah. Orang tua itu terlihat pegal sekali tidak bekerja. Gua ngeliat dia seperti seekor singa yang mondar-mandir sekeliling kelompok singa muda. Pegel udah gak punya lawan lagi saking jagonya.

Waktu kecil, gua belum bangun ketika dia pergi kerja dan sudah tidur sebelu dia pulang. Sekarang kebalikannya.

Yang paling lucu gini. Orang yang selama ini gua jadikan panutan dalam hal bekerja keras dan menghidupi keluarga, mendatangi gua di suau malam setelah gua pulang dan bilang..
"Don't work too hard."

The Cub
Gua sering sadar bahwa gua melihat diri dia ketika gua bercermin. Dan bahwa dia juga melihat diri dia saban kali dia ngeliat gua.

Now I have a baby on the way...

Entah drama apa yang akan terjadi antara dia dan gua.
Gua gak tau apakah gua akan jadi ayah yang baik.
Tapi gua tau gua punya ayah yang baik yang bisa gua jadikan panutan.


Happy birthday Dad.

Labels:






About This Strikingly Handsome Writer:


Adhitya Mulya adalah Dewa Ganteng yang tinggal di kahyangan bersama 100 dayang-dayang. Dia menghabiskan waktunya turun ke bumi untuk bertemu dengan rakyat jelata dan berburu menjangan dan babi hutan... (or is it, berburu rakyat jelata dan bertemu dengan babi hutan? anyways, same thing). Oh ya, sesekali dia menulis buku komedi.

Contact:

adhitya_mulya@hotmail.com

10 Recent Entries

  • Anak & Pasangan
  • Akhirnya
  • One Big Push
  • Mission Impossible III
  • Episode
  • Transfer
  • A Story About a Pair of Shoes
  • Si Dede
  • Let's Wait for the 3rd Time

  • orang telah melihat kegantengan gua yang legendaris itu.




    Get Firefox!

    Pictures




    Links

    Ninit ; Aan ; Agung ; Aip ; Alaya ; Avianto ; Aris ; Atta ; Detta ; Ewink ; Enda ; Erly ; Fairy ; Fanny ; Ganda ; Hagi ; Hanzky ; Isman ; Ita Leyla ; Ni'ang ; Ndari ; Nita ; Pip ; Okke ; Roi ; Ruri ; Shinta ; Tyaz ; Udhien ; Umar; Adi ; Afo ; Alaya ; Alfa ; Ale ; Alvons ; Aiff ; Andhi ; Andin ; Andin ; Anggie ; Anto ; Aprian ; arb3i ; Ari ; Arma ; Arif ; Ayu ; Axlandra ; Bantot ; Be-Es ; Beranda ; Bintang ; Bios ; Blub ; Brandy ; Buzz ; Cay ; CB ; Celia ; C'est la Vie ; Civent ; Claustrophobic ; Comel ; Comel ; Crey ; Dagungsta ; Dayat ; Deksay ; Dian ; Dican ; Didi ; Didiet ; Diki ; Dini ; Dion ; Disposable Hero ; Drey ; Duwie ; Dwi ; Dyah ; Ekodox ; Emil ; Ephe ; Eric ; Erika ; Erwin ; Eve ; Eyi ; Farid N ; Farid ; Finalizabeth ; Fitri ; Flow ; Flow ; Fresh ; Gajah Duduk ; Gauz ; goblog ; grE3nY' PrinceZz ; Guido ; Grizz ; Harris ; Harris ; Harris ; Heri ; Herlyanti ; Hero ; Ibiza ; Ika ; Ilsa ; Inex ; Inna ; Ipan ; Irene ; Irene ; Iris ; Isnaini ; Koebiz ; Kun ; Lacsar ; Lemans ; Lilik ; Lindie ; Little Mermaid ; Lontar ; Matz ; Memey ; Merkurius ; Morningdew ; N[a] ; Nasgor ; Neen ; Neenoy ; Nice green ; Nisa ; Nita+Agus ; Nono ; Novie ; Nukov ; Nunik ; Ochan ; Ollie ; Paylo ; Pipit ; Prazz ; Prianca ; QQ ; Radith ; Rapa ; Reena ; Ren ; Ria ; Richoz ; Ridwan Fauzi ; Rihsa ; Riena ; Rita ; Sapi ; Sasha ; Sazi ; Seggaf ; ; ; ; Snydez ; StormyMonday ; Supta ; Sweeney ; Sylvie ; Tamtam ; Tari ; Toet ; Trippin' D ; Tutup Botol ; t.w. ; Ty ; Tyaz ; Tychan ; Umar ; Un^Goe ; Vanda ; Vanya ; Viga ; Vellas ; Weedee ; Yudha ; visit rice bowl journals !