Sketches from a draft - Best viewed by Modzilla Okay, so last weekend I finally had the time to write something. This is just the first draft. The kind of writing that goes first into mind so please do excuse some mistakes. I still need to do alot of revampings. But this topic has been long overdue to make. Risetnya udah banyak dan memang passion gue sebenernya ke komedi dan sejarah. Kalo kalian baca 2 buku gue, kalian akan selalu baca ada orang-orang dari masa lalu. Raja lah ratu lah, etc. One question for you guys...is it funny? ___________________________________________________________________ 1 – Meneer Muda Batava, Juni 1856 *DORR* Meneer itu jatuh tersungkur di dalam rumahnya yang telah 4 jam diobrak-abrik. Burung-burung beterbangan dari pohon dalam perumahan koloni Belanda di luar area Rijswijk[1]. Keempat perompak yang mengelilingi mayat arkeolog Belanda itu masih terdiam dan saling lirik. Ada satu yang berdeham, menambah situasi semakin salah tingkah. Gunadi, sang kepala perompak di usia 30-an mencoba konfirmasi. ”Apakah dia udah...” ”Iya.” ”Tapi kan dia belum..” ”Belum.” ”Jadi kita masih gak...” ”Nggak.” ”Dan sekarang kita harus...” ”Ya...” Gunadi menggaruk kepala dan menatap perompak yang memegang musket itu. Perompak itu masih baru. Dalam ekivalensi dengan dunia kerja abad 21, mungkin akan berstatus trainee dengan masa percobaan 30 hari dan makan siang sendiri tanpa teman. ”Saya...” Gunadi terlihat memilih kata yang tepat sebagai penjelasan untuk anak baru ini. ”Sayah gak tau ya di kampung kamuh itu gimana. Tapi di kampung sayah..” menunjuk diri berintonasi ”Kalo kita mau nanya sama orang, biasanya dia jawab dulu, BARU kita tembak.” jelasnya, dengan nadi berdenyut di dahi. Aceng, anggota mereka yang beretnis cina setuju. ”Kita orang juga gitu di Bangka. Sambil disiksa malah. Tapi ya gitu...jawabnya sambil jerit-jerit.” ”A...a....” begitu Rustam, sang anak baru sukses menjelaskan. ”Kalo aye boleh sumbang saran nih Bang..” Su’eb menunjuk tangan. ”..gimane kalo kite sambung lagi percakapan ini di kapal aje. Di tempat yang..gimana yah... gak bisa ditembakin Kumpeni[2] gitu Bang?” Gunadi memandang ini sebagai ide yang cukup cerdas dan segera memimpin mereka pergi ke luar rumah. Gunadi juga segera membatalkan 7 pesanan yang seorang tukang es cendol keliling sedang racik di depan kediaman meneer itu. Rencana awal Gunadi memang meminum cendol sambil melepas lelah menyiksa orang. Mencari yang Lain ”Sebentar, sebentar!” Gunadi yang tadinya berlari paling depan berhenti. ”Ada apa sih Gun?” tanya Aceng dan Su’eb dengan air muka tipikal ’gue-harap-ini-lebih-penting-dari- digantung-kumpeni’. ”Sekarang pikir aja,” Gunadi mulai lagi dengan penyakitnya yang terlalu banyak analisis. ”Barusan orang denger tembakan. Sekarang ada 4 orang berpakaian kumel semua lari-lari bawa senjata. Apa gak entar semua orang curiga.” ”Jadi kita orang ngapain dong?” tanya Aceng. ”Oh Pak! Pak! Saya tahu. Kita jogging aja!” ujar Rustam penuh aspirasi. Sebagai awak baru, dia selalu ingin sumbang ide untuk diterima dan diakui. ”Apaan tuh jogging?” ”Saya liat orang Inggris di Malaka sering melakukannya pagi-pagi. Seperti ini..” jelasnya berdemonstrasi. Gunadi tidak mendapati jogging setelah membunuh orang sebagai sebuah konsep yang menjual dan mereka memutuskan untuk segera menjemput 4 awak lain di Pasar Baroe. Tujuh Bulan Sebelumnya Gunadi pernah membaca surat kabar Batavia bahwa seorang arkeolog Belanda bernama Olivier van Gaal berhasil menemukan sebuah medallion tua dari sebuah ekskavasi beberapa kilometer lepas kota Buitenzorg[3]. Diberitakan dalam surat kabar itu bahwa medali ini berbahasa sansekerta dan ditemukan dalam reruntuhan kerajaan yang hilang. Kerajaan dari Prabu Siliwangi. Gunadi bukan sebuah mahluk yang terlalu intelek dan dia memang menemukan berita ini dari surat kabar yang telah menjadi kertas pisang goreng yang seorang awaknya beli ketika terakhir kali mereka ke Batavia. Meski begitu, barang yang Van Gaal temukan memang telah dia ketahui dan cari bertahun-tahun. Dia dan 14 nenek moyangnya ke atas. Barang pusaka tersebut penting bagi dia dan nenek moyangnya karena mereka adalah keturunan dari abdi kerajaan Prabu Siliwangi. Dan bahwa salah satu nenek moyang Gunadi, menghilangkan medali tersebut. Dan bahwa Medali itu sebenarnya adalah kunci dari harta karun sang Prabu. Lima Hari Sebelumnya Gunadi berlabuh di Soenda Kelapa dan membayar 10 gulden untuk biaya labuh kepada Sjahbandar. Sang Sjahbandar, seorang turunan Pakistan-Melayu dengan warisan bulu yang tidak normal itu[4] tampak tidak percaya ketika Gunadi mengaku sebagai pengusaha batik dari Banjarmasin, dengan beberapa alasan yang cukup fundamental. Pertama, Banjarmasin tidak memproduksi kain Jawa. Kedua, sejak kapan ada orang beraksen Garut menjadi pengusaha kain Jawa? Ketiga, sebagai pengusaha batik, Gunadi dan awak tampak terlalu banyak bekas luka tembak dan bacok dan membawa golok. Setelah Sjahbandar disuap, semua pertanyaan menguap.Gunadi segera mengalami kesulitan meng-koordinasi anak buah karena setelah berbulan-bulan merompak dan membunuh di selat Malaka, tidak ada yang mereka lebih inginkan dari makan gulali dan es lilin sambil menonton Barongsai di Glodok atau menonton Kumpeni bernyanyi aneh dalam celana ketat di Opera Huis dekat Rijswijk. Setelah 5 hari berada di Batavia, Gunadi dan awak berhasil menemukan di mana meneer Van Gaal dan semua perilakunya. Meneer Van Gaal adalah seorang duda tua berumur 50 tahun. Seorang pemuda Belanda tampak tinggal bersama beliau. Hari ini pemuda tersebut pergi ke Pasar Baroe. Gunadi menitah 4 orang awaknya untuk menguntit pria tersebut sementara dia dan 3 awak lain pergi ke rumah meneer. Rencana mencari medali itu berjalan dengan baik dengan satu cacat. Sebelum van Gaal dapat memberi tahu mereka, van Gaal mati ditembak. Oleh mereka. -- Di Pasar Baroe Keempat perompak yang lain itu adalah Daeng, Surendro, Gumelar dan Jamil. Daeng adalah seorang Bugis yang menjadi tangan kanan Gunadi. Surendro dan Gumelar adalah awak lama dari Nganjuk dan Banten. Surendro adalah bujangan sepi impian yang memiliki persepsi bahwa inti dari kehidupan manusia di dunia ini adalah fornikasi dengan lawan jenis. Gumelar, adalah seorang yang sedang belajar debus. Jamil adalah orang Riau yang baru mereka rekrut 1 bulan yang lalu bersama dengan Rustam dari Tumasik[5]. Pria Belanda itu memanggil dokar, sebuah kendaraan cukup mahal. Daeng dan awak segera memanggil riksaw. Abang riksaw menolak dengan alasan curiga karena penampilan mereka tidak cukup kredibel untuk membayar dan juga bahwa mereka berempat. ”Coba ya! EMPAT! Mau mati apa gue?” namun pada akhirnya dia mau. Sesampainya di Pasar Baroe, sang abang riksaw pingsan dengan sukses. Daeng menjelaskan pada ketiga temannya bahwa di kampung asalnya, tidak baik membangunkan orang pingsan. Untuk itu mereka tidak berani membayar dan meninggalkan sang abang di pinggir jalan. Pasar Baroe dengan hustle and bustlenya adalah salah satu dari banyak pasar yang menjadi pusat ekonomi Batavia. Konsumsi rumah tangga Batavia disokong oleh keberadaan Pasar Baroe, Pasar Ikan di Sunda Kelapa, Pasar Senen dan yang paling baru, pasar Tanah Abang[6]. Mereka menguntit sang belanda muda dan mengintip aktivitasnya secara tidak perlu karena pasar memang sibuk. ”Waduh! dia beli ayam!” ujar Surendro. ”Bukankah itu wajar?” tanya Daeng. ”Ndak jika sampeyan Londo...” Jamil turut masuk dalam percakapan minim kecerdasan ini. ”Gitu ya Mas...emangnya orang Belanda...makannya apa Mas?” Gumelar tidak berkata apa-apa namun dia mulai teriritasi dengan Jamil yang selalu bertanya orang apa makan apa. Pria Belanda itu kemudian membeli daging kambing setengah ekor, rempah-rempah dan 5 ekor ayam hidup yang disambung teori konspirasi aliran sesat oleh para awak. Jamil juga bertanya orang dalam sekte aliran sesat makan apa. Setelah menemukan bahwa ini semua membosankan, ketiganya memutuskan untuk berjalan-jalan di Pasar Baroe dan hanya Surendro yang menguntit. Daeng dan Gumelar berjalan-jalan mencari kain kashmir India namun gagal bernegosiasi dengan saudagar India dengan kondisi bulu yang mengerikan. Jamil bertanya orang India makan apa dan keduanya memutuskan untuk tidak menjawab. Setelah itu mereka membeli bak pao, ketoprak dan dengan sabar mengantri untuk foto. Sebuah teknologi baru yang mampu mengambil gambar dari objek nyata, seharga 12 gulden. Gumelar bertanya kepada pemilik toko apakah dia bisa difoto dengan seorang wanita belanda dengan pakaian dalam namun sang pemilik toko mengatakan bahwa dia hanya memiliki pembantu dari Wonosobo. -- Gunadi, Su’eb, Aceng dan Rustam menyewa riksaw dari Rijswijk sampai Pasar Baroe dan sesampainya di sana abang cina penarik riksaw itu pingsan di samping abang cina yang lain. ”Aneh ya, banyak orang pingsan hari ini?” tanya Aceng, retoris. Gunadi menyematkan 1 gulden di kantong abang pingsan itu. Gunadi memiliki prinsip yang kontradiktif di mana bekerja merampok orang bukan berarti gak perlu bayar karena dia merampok untuk bisa bayar-bayar[7]. Kelompok Gunadi dan Daeng bertemu di tengah pasar. ”Gimana?” tanya Daeng. ”Meneer itu meninggal terbunuh.” ”Bagus lah. Sama siapa?” ”Kita.” ”Oh, tapi yang penting medalinya dapat kan?” ”Itu lah. Dia ditembak si kutil inih sebelum kita bisa buat dia ngaku.” Semua melihat Rustam dengan tidak bersahabat. ”Di kampung saya ya...” tegas Daeng. ”Ya ya, di kampung sayah juga gituh.” ”A...a...” ”Sudahlah.” ”Rumahnya tapi udah dicari Gun?” tanya Daeng. ”Udah atuh. Sayah cari sampe jongkok. Gimana si kumpeni yang muda ituh? Ngapain ajah dia? Dan siapa dia?” Jamil turut dalam percakapan ini ”Mungkin meneer tua itu menyenangi percintaan sesama jenis. Meneer muda ini hidup dibawah kuasa sang meneer tua untuk memuaskan nafsu liarnya dan tiap hari harus ke pasar membeli ramuan aneh yang membuat mereka bercinta sapanjang malam, Pak.” ”...” ”...” ”...” ”Atau mungkin mereka sodaraan.” tukas Gunadi. ”Ya itu juga mungkin.” Menit-menit berikutnya mereka menyusun rencana dengan semua sedikit menjauh dari Jamil. Gunadi berkesimpulan bahwa mereka harus menculik pria muda ini karena dia mungkin satu-satunya yang tahu di mana medali ini disimpan. Masalahnya, apakah mereka mampu mengeksekusi sebuah rencana penculikan di tempat umum dalam kota berpopulasi 500 ribu orang, di siang hari bolong, 3 kilometer dari kapal dan dalam kota dengan 3 benteng penuh bedil kumpeni. Menculik Sang Meneer Sebuah rencana tersusun. "Nah, jadi gini." Gunadi menuturkan analisis tingkat tinggi dengan intelejensia tingkat rendah. "Orang dengan belanjaan sebanyak itu hanya mungkin kembali pulang dengan minimal dokar, atau riksaw dengan abang yang sebesar badak. Mengingat tidak ada orang sebesar itu, dia pasti make dokar!" "..." "..." "Terus?" "Ya sekarang ke pojok dokar!" Mereka berdelapan segera menuju pojok dokar di luar pasar. Gumelar langsung merebut dokar ”PAK! KAMI PERLU DOKAR INI!” ”Muke lu jidat!” -PLAK!- Mereka berdelapan meminta maaf dan memutuskan menunggu si belanda di pinggir jalan. ”Serasa gak punya harga diri ih!” gerutu Aceng yang menunggu di bawah pohon jambu. Tak lama kemudian, meneer muda itu benar naik dokar. ”Nah ini rencananya.” sigap Gunadi, lagi. ”Kamuh Ndro, kamu cegah dokar itu di tengah jalan. Dokar akan brenti dan kita bertujuh akan naik dokar, menyerang si londo, menendang abang dokar keluar dan setelah membayarnya 2 gulden, kita larikan dokar itu secepatnya ke pelabuhan.” susunnya, dengan detil. Mereka mengangguk. Semua siap aksi. Dokar lewat dan Surendro dengan sigap melompat ke tengah jalan ”BERHENTI!!” Dengan suksesnya, Surendro ditendang kuda dan sang dokar tetap berlalu. ”Kamuh gak papa Sur?” ”Ohhh..” ”KEJARRR!” Mereka berdelapan mengejar sang dokar dan mereka berhasil hinggap ke dalamnya. SUKSES! Pikir Gunadi, meski mereka harus hinggap dengan beberapa posisi yang tabu secara seksual di beberapa negara. Hanya Jamil yang tampak menikmati. Sekarang tinggal melarikan dokar ini ke pelabuhan. Dan dokar berhenti. Terlalu berat. Ada satu detik yang canggung ketika mereka menatap abang dokar yang ternyata menyemat golok sebesar lonceng dan kumis sebesar golok. Needless to say, mereka ciut. ”Permisi Bang, aye mo nyulik anak orang.” ”GRRR..” ”Aye bayar ya bang. 4 gulden. Ampe pelabuhan ya Bang” pinta Gunadi dengan sopan. Setelah dokar berjalan, barulah sang meneer muda panik. Dia tadi berharap dari kebaikan hati abang dokar untuk menendang 8 orang ini keluar namun itu tidak terjadi. ”KOWE! SIAPA KOWE! LEPASKAN IK! LEPASKAN!” teriaknya ketika mereka berdelapan berusaha mengikat sang belanda. Penculikan pun menjadi aneh karena menjadi tontonan orang banyak dan berjalan lambat. Akhirnya 5 orang turun dari dokar untuk menyerang dokar lain. Rencana dirubah menjadi menyewanya setelah abang dokar yang baru ini juga berkumis golok. ”Kita ini perompak. Perompak! Harusnya orang yang takut sama kita!” gerutu Gumelar pada 4 orang lain di dokar kedua. Mereka melihat Gunadi dengan susah payah mengikat dan mengarungkan kepala pria muda itu. Kedua dokar berjalan secepatnya menyusuri jalan yang sejajar dengan sungai Ciliwung dengan melewati beberapa pos jaga kumpeni. ”KOWE! STOP KOWE!” seru beberapa kumpeni. Mereka menembaki kedua dokar itu yang dibalas Gunadi dengan melempar daun sawi, daun bawang dan ayam hidup, sebelum dia teringat bahwa dari tadi dia memang membawa senjata. Kedua dokar itu dengan cepat memasuki daerah Pasar Ikan, melewati menara Sjahbandar dan tidak masuk kapal. Mereka berhenti di sebuah gudang pala dekat menara dan berjongkok di antara karung. Susana pasar ikan menjadi ramai dengan datangnya kumpeni. Mereka duduk terdiam di gudang itu. Sampai para kumpeni lewat. Setelah situasi aman, mereka berjalan menuju pier dari phinisi mereka dan segera siapkan layar. Mereka sedang memundurkan kapal ketika Gunadi akhirnya membuka karung dari kepala sang belanda muda itu. ”Di mana Ik?” ”Di kapal.” ”Kapal apa?” ”Nama kamuh siapa?” ”Douwes-Dekker. Eduard Douwes-Dekker.” ___________________________________________________________________ [1] Berdasarkan riset yang sama sekali tidak dapat diandalkan, kalo gak salah, Rijswijk itu di daerah jalan medan merdeka utara sekarang. [2] Orang pribumi sering menyamaratakan orang asing dengan sebutan kumpeni. Kata “Kumpeni” yang mereka kenal erat bermula dari 20 Maret 1602 ketika V.O.C pertama kali dibentuk. Orang Belanda di saat itu jarang memperkenalkan diri sebagai orang Belanda. Mereka memperkenalkan diri sebagai sebuah perusahaan bernama Verenidge Oost-Indische Compagnie (VOC). Compagnie -> Kumpeni. Yang banyak anak muda sekarang tidak tahu adalah bahwa dari 1600 sampai 1800 kita tidak dijajah oleh sebuah pemerintah negara*. Kita dijajah oleh sebuah perusahaan. Dari 1800, VOC bangkrut oleh korupsi dan kerajaan Belanda memutuskan mengambil alih otoritas di Indonesia. Karakteristik kolonialisasi oleh sebuah pemerintah adalah bahwa pemerintah kolonial cenderung memiliki keinginan untuk membuat koloninya maju (Inggris terhadap India, Singapur dan Malaysia). Sekolah, gereja, dan lainnya. Kolonialisasi oleh sebuah perusahaan (VOC terhadap Indonesia) cenderung hanya sebatas mengambil keuntungan. Itu salah satu sebab mengapa Indnesia kalah maju dari bekas jajahan lain. [3] Buitenzorg (Belanda) = Bogor (Indonesia). Didirikan oleh Governor Generaal Van Imhoff di 17 Februari 1745. [4] Now that’s a lot of unnecessary description right there. [5] Tumasik = Singapur. Berdasarkan, again, riset yang sangat asal (the kind of research you do on the net, flipping history pages with free porn) Singapore didirikan Sir Thomas Raffles di 19 Januari 1819. [6] Kota Batavia sejak abad 16 berkembang dari Utara ke Selatan. Itu sebabnya semakin ke selatan, umur bangunan dan tempat semakin muda dan bangunan-bangunan tua paling selatan di Jakarta hanya terlihat di Menteng. Itu karena Batas Kota Batavia waktu itu memang hanya sampai Menteng yang merupakan daerah perumahan mewah, bahkan sampai sekarang. [7] Loh? Labels: books |
Adhitya Mulya adalah Dewa Ganteng yang tinggal di kahyangan bersama 100 dayang-dayang. Dia menghabiskan waktunya turun ke bumi untuk bertemu dengan rakyat jelata dan berburu menjangan dan babi hutan... (or is it, berburu rakyat jelata dan bertemu dengan babi hutan? anyways, same thing). Oh ya, sesekali dia menulis buku komedi.
orang telah melihat kegantengan gua yang legendaris itu. Ninit ; Aan ; Agung ; Aip ; Alaya ; Avianto ; Aris ; Atta ; Detta ; Ewink ; Enda ; Erly ; Fairy ; Fanny ; Ganda ; Hagi ; Hanzky ; Isman ; Ita Leyla ; Ni'ang ; Ndari ; Nita ; Pip ; Okke ; Roi ; Ruri ; Shinta ; Tyaz ; Udhien ; Umar; Adi ; Afo ; Alaya ; Alfa ; Ale ; Alvons ; Aiff ; Andhi ; Andin ; Andin ; Anggie ; Anto ; Aprian ; arb3i ; Ari ; Arma ; Arif ; Ayu ; Axlandra ; Bantot ; Be-Es ; Beranda ; Bintang ; Bios ; Blub ; Brandy ; Buzz ; Cay ; CB ; Celia ; C'est la Vie ; Civent ; Claustrophobic ; Comel ; Comel ; Crey ; Dagungsta ; Dayat ; Deksay ; Dian ; Dican ; Didi ; Didiet ; Diki ; Dini ; Dion ; Disposable Hero ; Drey ; Duwie ; Dwi ; Dyah ; Ekodox ; Emil ; Ephe ; Eric ; Erika ; Erwin ; Eve ; Eyi ; Farid N ; Farid ; Finalizabeth ; Fitri ; Flow ; Flow ; Fresh ; Gajah Duduk ; Gauz ; goblog ; grE3nY' PrinceZz ; Guido ; Grizz ; Harris ; Harris ; Harris ; Heri ; Herlyanti ; Hero ; Ibiza ; Ika ; Ilsa ; Inex ; Inna ; Ipan ; Irene ; Irene ; Iris ; Isnaini ; Koebiz ; Kun ; Lacsar ; Lemans ; Lilik ; Lindie ; Little Mermaid ; Lontar ; Matz ; Memey ; Merkurius ; Morningdew ; N[a] ; Nasgor ; Neen ; Neenoy ; Nice green ; Nisa ; Nita+Agus ; Nono ; Novie ; Nukov ; Nunik ; Ochan ; Ollie ; Paylo ; Pipit ; Prazz ; Prianca ; QQ ; Radith ; Rapa ; Reena ; Ren ; Ria ; Richoz ; Ridwan Fauzi ; Rihsa ; Riena ; Rita ; Sapi ; Sasha ; Sazi ; Seggaf ; ; ; ; Snydez ; StormyMonday ; Supta ; Sweeney ; Sylvie ; Tamtam ; Tari ; Toet ; Trippin' D ; Tutup Botol ; t.w. ; Ty ; Tyaz ; Tychan ; Umar ; Un^Goe ; Vanda ; Vanya ; Viga ; Vellas ; Weedee ; Yudha ; visit rice bowl journals ! |