Indonesian Movies

Indonesian Movies

Movies

Seneng banget ngeliat bahwa film Indonesia sedang menggeliat. Bahkan tidak hanya itu, produksi film Indonesia di tahun 2005 ini sudah fixed minimal akan rilis sebanyak 40 buah. Ini angka yang fantastis ketimbang 18 (2004) dan 13 (2003). Ini setidaknya yang gue baca di Layar Perak.

Adalah bagus bahwa kita berkembang sepesat ini. Garin Nugroho dalam sebuah interview pernah berkata bahwa untuk sebuah industri film di bilang eksis syaratnya adalah:

  1. minimal produksi pertahun harus 20.
  2. 5 di antaranya memenuhi standar internasional, yang mana artinya layak ikut serta dan memang ikut serta dalam ajang festival film internasional.
  3. Poin 1 dan 2 harus beruntun terjadi 5 tahun berturut-turut.

Apakah kita bisa menghejar standar yang dibilang Garin? Entah lah, tapi angka 40 itu memang berkesan ‘demam’ dan semoga aja gue salah, meaning gue berharap bahwa memang produksi tahunan kita bisa berjalan 20-40 film pertahunnya.

Genre
Lumayan sih, kita udah ada horor, drama dan komedi. Yang belum itu action yang mana gue gak terlalu pengen lliat juga karena karakter penonton Indonesia itu, mereka menyenangi tontonan yang dekat dengan kehidupan, setidaknya sejauh ini. Dan action dalam kehidupan kita sangat jauh dari tembak-tembakan, so kalo sampe ada production house yang maksa membuatnya (denger2 Richard Buntario lagi bikin ‘Bad Wolves’) mungkin butuh waktu agak lama bagi penonton Indonesia untuk menerimanya.

Are We Being Too Critical?
Ini adalah wacana yang cukup mengganggu ya. Satu hal yang jelas gue lihat sehari-hari dari bangsa Indonesia adalah bahwa kita terlalu kritis terhadap bangsa sendiri. Kritik memang perlu dan kritik lah yang membuat kreasi seni ber-evolusi dan bertambah maju. Namun yang gue liat, kita kurang menghargai usaha-usaha dari orang-orang sedarah sendiri. Bukti:

  • Dalam sebuah milis pernah ada orang yang meng-kritik para penulis Indonesia ‘Kenapa sih kita gak bisa seperti orang Inggris yang bikin buku fantasi seperti Tolkien dan Harry Potter? Jujur aja di sesi itu gue rada ngamuk. Gila. Sastra Inggris sudah mencapai puncaknya di jaman 1600, di saat Shakespeare. Indonesia? Abdul Muis baru bikin buku fiksi pertama di Indonesia, ‘Siti Nurbaya’ di tahun 1900. Ada 300 tahun margin antara kita dan Inggris. Kematangan sebuah industri di mana pun memang membutuhkan waktu. Terimalah bahwa kita memang terlambat. Maklumlah dulu kita dijajah dan yang paling penting, tolonglah, biarkan kita maju dan mengeksplor potensi kita dengan kecepatan kita sendiri.
  • Ada beberapa pengamat film profesional yang kalo dari mata gue terlalu kritis. Dalam sebuah kritik untuk film ‘Banyu Biru’, gue baca bahwa dia memuji film itu dari kualitas dan dengan sadisnya menutup artikel dengan ‘satu aja pertanyaan saya: apa iya sebuah pemuda yang kerjanya hanya cust. service hypermarket bisa beli Hyundai dan malah berpikir untuk menggantinya?’ GILA! Memang detil itu penting, gue akui. Tiap kali ada penulis debutan yang minta kritik gue, gue selalu ‘going surgical’ (term yang gue pake ketika gue mengkritik dia bahkan sampai kata per kata dari 200 halaman A4). Tapi berilah kritik on what matters. Perfilman kita udah mati 12 tahun dan ini tahun pertama kita reaching 40 film. Masak iya kita harus going surgical ke mereka? Gue bilang sih belum waktunya.
  • ‘Buruan Cium gue!’ Dikecam habis oleh masyarakat yang lucunya, hampir semua yang mengecam pada belum nonton. ‘Karena ciuman bukan budaya kita!’ kata mereka. Dian Sastro ciuman di AADC, dapet aktris terbaik. Tora Sudiro ciuman homo di Arisan!, artis terbaik juga. Surya Syahputra ciuman, aktor pembantu terbaik. Kedua film juga dipuji oleh semua orang. Againa, dari pendapat gue, Buruan Cium Gue! hanyalah dan hanya kasus kesalahan dalam Brand Imaging aja. Gara-gara judulnya doang semua orang betingkah. Mungkin lebih baik kalo judulnya lebih halus ‘Kecupan Pertama Sigit’ atau apa lah. Let’s face it, semua orang punya first kiss mereka, judul seperti itu lebih sopan dan lebih catchy.

Itu pendapat gue doang sih, in which many may disagree.

Things to Be Careful On

So, sekarang kita boleh bahagia. Film Indonesia mulai banyak lagi. Rata-rata pun pada lumayan bagus meski terkadang ada obvious flaw yang mana bagi gue sih lumrah banget considering kita udah mati 12 tahun. We will pick it up and be better. We will.

But to sustain this creative industry, what do we have to look after?

  1. Cineplex 21. Kita hanya punya dia sebagai tempat kita menonton. Ada temen gue, penulis penulis skrip dandia cerita betapa sulitnya sekarang meminta 21 untuk slot tayang. 21 lah yang bisa menentukan ‘elo pasang di oktober aja’ yang mana bisa fatal ke produksi dan promosi sebuah film meski memang gue akui, kalo production housenya punya planning yang baik, film produksi 2004 bisa aja ditayangin di tahun 2007 dan gak akan masalah. Tambahan lagi, 21 kan udah membeli banyak film luar untuk ditayangkan di pasarm mereka juga harus menayangkan film-film luar yang mereka sudah beli itu. kalo nggak, ya mereka rugi. Pertanyaannya yang gue gak tau sekarang adalah, apa mungkin bisa direm jumlah film luar negeri yang beredar? Kalo pun direm, apa masyarakatnya bisa terima juga ‘kok film ini gak ada sih di Indo?’ Pusing juga gue mikirnya. Bolak-balik. Keknya kalo punya duit, bagusan bikin bioskop yang khusus menayangkan film Indonesia kali ya? Kan baru dikit tuh. Tiket bisa lebih murah - kebeli sama kita. Film bisa tayang - bagus buat sineas. DAN - film Indonesia udah banyak - bagus buat pengusaha biooskopnya. Win-win semua orang dapet duit. Let’s face it, kalo gak ada duitnya orang males ikutan usaha dan itu manusia banget. Wajar banget.
  2. Pajak. Gue baca di Jakarta Post, gak ada kejelasan yang baik dari dept. Pariwisata untuk memberikan semangat kepada sineas untuk berkarya. Ada ajaaaaa pajaknya. Di Jakarta Post gue juga baca, Mira Lesmana ended up paying 5 milyar rupiahs untuk AADC. That’s cruel. Gue sendiri gak tau seluk beluk pajak gimana and do not wish to discuss further. I don’t cut in the dark sih. But from what I read, it seems that mereka yang menghasilkan duit banyak kok jadinya kek yang diperes ya?
  3. Aktor. Like I said, film kita banyak. 40. ini butuh banyak aktor. Akan jenuh juga jika kita melihat 40 film bintangnya itu-itu saja. Kita memang butuh wajah baru. Mutualis lah. Cuman ya itu, kita keknya mesti hati-hati. Jangan sampe kayak sinetron yang kebanyakan isinya artis cabutan yang bermental ‘ikutan ah siapa tahu…’. This is a serious business.
  4. Kematangan skrip. Gue pernah nonton di TV, bahwa survey menunjukkan 90% artis di dunia bilang bahwa mereka tertarik mengambil peran setelah dan karena baca skripnya. Joko Anwar di Jakarta Post juga sering meng-kritik film di skripnya. Dari mata gue, gue sendiri baru satu tahunan masuk dunia film, nyoba nulis skenario yang mana emang susah bo. To come up with a good script itu memang gak gampang. Kalo gak percaya, here’s a fact:
  • Skrip film Ray dibuat 13 tahun sebelum filmnya diproduksi.
  • Skrip film Little black Book selesai tahun 2001 dan baru release filmnya 2004

Intinya apa? Intinya bahwa film yang baik itu membutuhkan skrip yang matang. Apa;ah sebuah film kalo film itu gak punya cerita yang baik? memang membuat film itu sulit.
Skripnya bagus, kalo directingnya jelek, ya jadinya jelek.
Directingnya bagus, aktornya gak bisa maen, mampus.
Semuanya bagus, tapi skripnya jelek, tetep aja mental.

Well…that’s my two cents on movies. Hope it lasts.

Upcoming film is Janji Joni. Keren banget. Selamat buat Joko Anwar atas debut directingnya dan semoga menang banyak award. Klik di sini untuk ngedenger soundtrack-soundtrack yang killer abis dari Joko Anwar. Janji Joni Dot Com.

Ps: Joko Anwar itu alumni ITB juga.

rgds.

Post to Twitter Tweet This Post

possibly related posts:

  1. Indonesian Songs
  2. Movies
  3. Movies

Leave a reply