
On Characters
Gege
Tahun 1990. Tahun ajaran baru 1 bulan berjalan di SMP 19 Jakarta ketika para guru memutuskan untuk mengajak siswa kelas dua berkaryawista. Para siswa kelas dua itu berkeliaran dengan tidak jelas di pinggir Jalan Bumi. Mereka sedang berebut untuk naik sejumlah bus karyawisata. Sebagaimana layaknya karyawisata SMP, bus dibagi per kelas. Sayangnya, kelas di SMP itu terbagi dari pintar ke bodoh. Adalah Geladi Garnida, seorang anak sehat yang menyadari pembagian ini, hari itu. Hari itu juga mereka akan pergi ke Kebun Raya Bogor. Beberapa dari mereka yang tidak berniat naik kelas langsung memilih bus kota, bolos.
”Kelas 2-1 itu anaknya pinter semuah…” dia berusaha menjelaskan pada teman-teman sekelas, kelas 2-8 di dalam bus. ”Nah kelas kitah, isinya semua calon tukang nusuk orang.”
Hal ini segera disanggah secara skeptis oleh teman-teman.
”Ah gak percaya gue!”
”Bagi kelasnya acak lagi. Kebetulan aja temen-temen kita yang preman, ngumpul di sini.”
Gege berusaha terus menjelaskan.
”Liat ajah, semua yang ranking satu pas kelas satu masuk 2-1 kecuali guah. Ini sepertinya ada kesalahan.”
”Rese lo. Bilang aja pengen diaku pinter. Eh uhm, besok masih boleh nyontek ama elo kan?”
______________
Gege dengan penuh percaya diri berjalan pelan menghampiri sebuah cubicle.
”Selamat sore Caca…” ujarnya dengan nada pasti.
”Selamat sore Pak. Bisa saya bantu?”
Gege melempar pulpen ke mukanya.
–plak–
”ADUH!”
Gege berkata pada Ventha. ”Gimana guah bisa konsentrasi kalo yang jawab pake suara jin tomang?” Gege menunjuk lawan bicara yang tidak lain adalah Eman.
”Si Tia pake acara ijin setengah hari pula.” Gerutu Gege. Dia membayangkan lebih baik berlatih dengan seorang wanita.
”Ya udah, ulang. Ge, lo jalan lagi dari sana, ceritanya elo nasabah bank lah. Man, elo coba pake suara perempuan.”
Gege kembali berjalan.
”Sore Ca.”
”Sore Mas….” jawab Eman dengan kerling mata.
”Okeh.
Satu, mata Caca gak mungkin kerlip gituh kayak orang cacingan.” Gege kembali dengan sikap analitisnya.
”Dua, sekarang suaranyah mirip kuntilanak”
”Adaptif kek dikit?” omel Ventha.”Jadi gimanah dong guah? Terlebih lagi, guah entar ngomong apah?”
______________
Tia
Di saat yang sama, pegal dan linu masih membuat Tia berjalan seperti orang kurang buah di pagi hari, diiringi lagu mellow dari ruang siaran. Seminggu setelah tangisnya di dalam studio, dia telah bertekad untuk mencari perhatian ekstra.
Langkah kongkrit dari ikrar ini adalah dengan mengikuti kelas senam termahal yang, santer isu beredar, dapat merubah emak-emak bau tanah menjadi super model. Yang Tia tidak sangka adalah betapa berbahayanya aktivitas ini. Teriakan Bang Punjab – Sang pembugar masih mengiang men-traumakan Tia, lengkap dengan spandex pink ketatnya.
”AYO INDONESIA! JALAN KAYANG SEMUA!”
”Hiiighg” Tia menggigil traumatis menutup kuping. ”Things I do for Men…” gerutunya.
_________________
Take sound selesai. Tia berjingkrak seperti anak kecil mendatangi Gege. Gege tampak sedang bersiap-siap pergi membawa sebuah bungkusan.
”Heh, Polar Bear…makan siang yuk. Kali ini gue janji deh gak rewel kalo lewat gedung sana”
”Wah guah gak bisa Ti….”
”…”
”Guah makan siang sama Caca.”
”…” Tia tiba-tiba ternggelam dalam khayalan. Gege menjadi bintang tamu acara masak Rudy Choiruddin.
’Jadi ibu-ibu… kita iris hatinya kecil-kecil…’
”Kok…kok….kok bisa?” Tia kaget terbata-bata, seperti orang yang gengsi mencintai orang lain yang mencintai orang lain lagi dan baru tahu orang lain itu akan makan siang dengan orang yang dia cintai[1].
”Iyah. Kemaren guah datengin dia.”
”Kok sekarang langsung makan siang? Besok ngapain? Beranak?”
Gege merengut tidak mengerti.
”Elo udah mulai resmi nih, deketin dia? Bukannya masih nanti-nanti? Elo mau nunggu elo siap dulu?”
Gege lantas menjelaskan apa yang terjadi kemarin hari.
”Kemaren ituh gara-gara gugup, guah kenalannyah pas udah tutup kantor. Jadinyah dia nawarin makan siang bareng hari inih. Di restoran Jepang atas kantor dia. Mahal bo. Miskin deh guah abis inih.”
Tia terdiam.
Kemarin?
Kenapa Tia tidak mencegahnya?
Ke mana Tia?
Tia pergi.
Izin pulang cepat.
Beli soft lens.
Demi Gege.
”*&%*%^#(&$*^%#%^$!!!!”
”Trus udah gitu dia tambah cakep Ti. Rambutnya sekarang yang bener-bener lemes jatoh gituh.”
”Lo suka ya rambut lemes?” tanya Tia sambil melirik ke cermin, melirik rambutnya yang ikal jatuh sejauh tengkuk dengan poni dan anak rambut yang sama panjangnya.
”Guah suka apa ajah yang Caca tampilkan…kecuali botak. Udah ah..guah duluan yah….” Gege berlalu menuju pintu.
”CEPAT! CEGAH! CE! GAH!”
”GE! GE! TUNGGU!”
Gege berbalik menunggu Tia yang berlari.
[1] Sori gua juga bingung. Let’s see. Orang lain cinta sama orang lain…you know what? Just go on reading!
No related posts.


