Trailer from the book Gege Mengejar Cinta
A – Awal Dari Segalanya
”Kelas 2-1 itu anaknya pinter semuah…” dia berusaha menjelaskan pada teman-teman sekelas, kelas 2-8 di dalam bus. ”Nah kelas kitah, isinya semua calon tukang nusuk orang.”
Hal ini segera disanggah secara skeptis oleh teman-teman.
”Ah gak percaya gue!”
”Bagi kelasnya acak lagi. Kebetulan aja temen-temen kita yang preman, ngumpul di sini.”
Gege berusaha terus menjelaskan.
”Liat ajah, semua yang ranking satu pas kelas satu masuk 2-1 kecuali guah. Ini sepertinya ada kesalahan.”
”Rese lo. Bilang aja pengen diaku pinter. Eh uhm, besok masih boleh nyontek ama elo kan?”
”Itu anak baru! Itu tuh anak yang baru! CAKEP!” Gege dan teman-teman kali ini berebut keluar bus untuk melihat anak baru itu. Anak baru itu perempuan, cantik memang. Beberapa anak perempuan menggerutu.
”Lain kali bilang kek cowok apa cewek. Aku kan capek lari-lari.”
”Whaaa cantiknyaaa…” ujar anak-anak pria. Mereka sibuk membahas.
”Masih seger! Baru masuk minggu kemarin.”
”Emangnya ayam?” tanya Gege. ”Kelas berapah dia?”
”Kelas 2-1.” ujar teman Gege.
”Wah pinter dong, Ge, menurut teori lo.”
”Namanya siapa?” tanya Gege.
”Caca. Lengkapnya Annisa Saripuspita.”
”Cakep banget ya…”
”Iya…cakep.” ujar Gege pelan, masih di pintu bus menatap anak baru itu masuk. Dia mengenali anak gadis itu. Caca juga tetangga barunya.
Mereka sampai di Bogor setelah 2 jam perjalanan. Sebuah perjalanan di mana Gege bertanya kepada wali kelas apakah pembagian kelas ini benar adanya dan bahwa kelas 2-8 berisi orang sakit semua. Gege juga bertanya apakah dia salah masuk. Sang wali kelas berkata tidak dan menjelaskan kepada Gege bahwa tidak ada yang perlu Gege khawatirkan tentang kelas ini sebelum meneruskan bermain kartu remi dengan anak-anak di belakang bus.
”Perhatian anak-anak, jalannya diperhatikan, hati-hati. Ini taman bunga presiden. Jalannya yang tertib.” ujar Bu Oom, guru biologi yang stres mengatur anak dengan toa dan desibel suara yang jaya. ”Ya, ya, contoh ni kelas 2-1, bagus. Kelas 2-8!! ADUH ITU BANDEL SEMUA!”
Karyawisata ini dipakai oleh kebanyakan anak laki untuk mengambili bunga di kebun raya dan memberikannya pada Caca. Pelaku kejahatan terbanyak berasal dari kelas Gege. Seorang anak yang 2 kali tidak naik kelas mencabut bunga.
”Itu dong dibaca! Bunga Matahari Tibet. Spesies langka. Apa gak takut ditembak aparat?” protes Gege.
”Justru itu. Gue bisa bilang ke Caca. ’Sayangku, ini bunga langka. Selangka dirimu.’”
Anak itu lantas pergi mendekati Caca yang sudah memegang banyak bunga. Tinggal Gege panik sendiri membereskan serabut tanah.
”GEGE! NGAPAIN KAMU NGAMBILIN BUNGA!?”
”Bukan saya bu, sumpah!”
”JADI KETUA KELAS BUKANNYA NGASIH CONTOH.” teriaknya dengan toa mengarah ke seorang anak yang sial. Dia kemudian berjalan menuju Gege.
”Sumpah bukan sayah Bu.”
”Bukan saya, bukan saya….kamu kira saya gampang apa diboongin? Balikin semua bunga!”
”Tapi kan udah pada dipetik Bu.”
Sang ibu tidak ingin mendengar alasan apa pun.
”Biang kerok!” Gege menggerutu membereskan serabut tanah.
”Ini nih, aku kembaliin.” suara dari belakang Gege.
”Hei, ini aku kembaliin. Aduh anak-anak ya. Jahat sama tanaman.”
Gege menoleh dan terdiam. Caca.
”Tapi aku ambil satu deh ya. Abisnya bagus sih.”
”…”
”Aku duluan ya.”
Caca berlalu.
Gege masih terdiam. Dia menatap bunga itu dan plang di depannya.
’Bunga Matahari Tibet[1]’
”Tibet? Bukannya malah banyak Yak[2] di sanah?” Gege menanam kembali bunga langka itu. Semua bunga itu patah di tangkainya.
”Nah…sekarang lebih pantes dinamain Bunga Matahari Tibet Kontet.”
Gege menatap di kejauhan. Caca terlihat di barisan paling belakang kelas, menerima gangguan dari siswa lain dan bunga masih mengalir.
Gege menatap Bunga Matahari Tibet yang sekarang sedikit terhibrida. Gege mengantongi satu tangkai dan pergi menyakukannya.
——————————–
1 – Seseorang Dari Masa Lalu
Every little thing she does is magic
Every thing she does just turns me on
Even though my life before was tragic
Now I know my love for her goes on
(The Police – Every Little Thing She Does Is Magic)
Ah, saya pernah…
sayang ditolak. ANYWAY, mari kita dengarkan lagu lain.”
Percakapan Tidak Penting Di Pagi Hari
“Hmmmm…” hari ini dia memutuskan untuk menggesekkan kartu dengan gaya balet.
–ting–
Resepsionis menatapnya dengan iba.
Semenjak lulus 3 tahun yang lalu, Gege meniti karir di bidang broadcasting sebagai producer. Radio tempat dia bekerja adalah Radio Hertz 93.00 FM. Radio yang bersegmen 30 tahun ke atas dengan daya jual seleksi lagu lama. Radio ini membidik pendengar dengan memanggil mereka
’Profesional muda’
’Pasangan muda’
’Young mom and dads’
mengambil segmen sedikit di atas Hard Rock FM.
Sahabat Gege adalah bentuk kehidupan hampa berintelejensia minim yang dengan salahnya dipercaya sebagai penyiar. Ventha. Ventha terlalu kurus untuk terlihat sehat dan terlalu miskin untuk disangka pemadat. Cacingan adalah deskripsi yang tepat. Ventha mengalami kebotakan dan berkacamata. Gege adalah Sunda. Ventha adalah setengah Jawa, setengah gila.
Gege sampai dalam cubiclenya[3], menaruh tas, memboot komputer, mengambil mug berlabel ’Visit Indonesia year 1991’ dan sama sekali tanpa pertimbangan yang masak, meminum sisa kopi di dalamnya.
Sepasang mata milik seorang wanita mengamati Gege dari jauh. Sepasang mata itu tidak pernah lepas dari pintu masuk untuk mengetahui dengan tingkah laku apa Gege akan membuatnya tertawa hari ini. Sepasang mata itu milik seorang wanita dalam bagian accounting bernama Fathia Shakuntala.
–kring–
Gege yang masih berdiri dan minum, mengangkat telfon.
”Manusia jorok! Kopi kemaren diminum.” ejek Tia.
Gege menengok ke sisi seberang dan memeletkan lidah. ”Pagi Tia. Minum kopi kemaren ituh penting bagi mereka yang kurang darah.”
”Kurang darah, kurang darah…kurang waras iya.”
Jika Ventha adalah sobat pria, maka Tia adalah sobat wanita bagi Gege. Tia berambut pendek sassy, berkacamata kucing, smart, berpostur dan berbadan cukup menarik. Satu hal yang mencolok dari Tia adalah senyumnya yang manis.
”Guah ke tempat eluh.” ujar Gege, dengan logat sundanya menutup telfon. Gege berjalan sambil mengamati staf lain. Tidak pernah Gege sadar bahwa setiap kali Gege bersanding ke Tia, Tia selalu dengan cepat melirik cermin memastikan hal-hal kecil sudah rapi di muka.
Menurut Gege, perjalanan menuju cubicle Tia dapat merangkup kurang lebih kondisi sosial para pekerja kerah putih di Jakarta. Hari belum berawal karena para staf datang terlambat. Sesampainya mereka, hari juga belum dimulai karena mereka sibuk bertukar informasi betapa macetnya Jakarta membuat mereka telat. Kemudian dibahas betapa aktivitas mereka membahas ’telatnya mereka akibat macet’ semakin memperlambat mulainya kerja lebih parah lagi.
Habis itu tidak lupa sarapan. Setelah itu, e-mail. Setelah e-mail, cyberspace. Pilihan yang ada adalah serius membaca situs berita atau tertawa membaca situs gosip. Sebagian kolega terlibat perdebatan sengit dalam sebuah diskusi yang hangat, yaitu apakah Greg akan terus tahan dengan Dharma dalam kelanjutan episode ’Dharma & Greg’. Sebagian kolega tidak menyukai aktivitas ini karena menurut mereka, Dharma justru cocok dengan Greg. Setelah itu, 15 menit bekerja dan tiba waktu makan siang. Sibuk.
”Pagi lagi Tia.”
”Ngapain si lo tiap hari gentayangan ke tempat gue? Bikin sempit meja aja….ini apa seh!?” protes Tia yang spasinya dijajah Gege.
”Sanaan dong. Sanaan dong. Gak betah guah di tempat guah sendiri. Bau W.C.”
”Emang kenapa?”
Gege memulai analisanya dengan serius. ”Tiap hari nih, jam 9 pagi orang udah berjejer mengantri depan guah depan pintu W.C. satu-satunya milik kantor. Gak ada tuh acara basa-basi
’Pagi Ge. Ge gua masuk W.C. dulu ya, mo nyiksa orang sekantor.’
’Ge, semalem gua salah makan jadi…tabah aja ya Ge.’”
”Huahahah…”
”Apakah penderitaan guah selesai sampe di sanah?”
”Tidak?”
”Oh tidak. Giliran selesai, baunya cukup fatal untuk ngebuat resepsionis kantor yang bohai terlihat seperti demit. Belum lagi kalo Ventha yang masuk. Bikin guah bingung makan apa itu orang.”
”Seriously Ge, gak usah terlalu dipikirin Ventha makan apa.”
”Pagi semua.” Seseorang menyapa mereka. Eman. Sulaeman Chaniago. Dia adalah penyiar pagi, partner dari Ventha. Eman menyukai puisi dan tidak tahu bahwa dia tidak berbakat menulis puisi.
”Ngapain lo keluar kek ayam lepas? Balik sana siaran!”
”Pernahkah aku mengatakan betapa cantiknya Tia pagi-pagi?”
”Pernah dan itu gak cukup untuk gue ngebagi gorengan sama elo. Gege mau? Mau ya Ge, Gege mau ya, ini Tia beliin yang kesukaan Gege.” tutur Tia, dengan timpang.
”Pasti tadi udah jatoh deh…” Gege curiga.
”Ah, pilih kasih sekali Tia yang cantik pagi-pagi ini. Siapa yang ingin mendengarkan puisiku yang terbaru?”
Gege dan Tia hanya saling berpandangan.
”Baiklah…” Eman mengeluarkan selembar kertas.
”Ke heula, ke heula….kitah belum bilang iyah.”
”Ehm..ehmm…”
”Oh God..”
”Man, Man, itu lagu mo abis itu! Ventha udah nyariin!”
”Judulnya Cinta yang Kelabu.”
”Man, kamih mohon….demi nilai-nilai kemanusiaan…”
”Anak kecil bermain di pinggir kali..”
”Wah lumayan nih.”
”Iya, lucu gitu, imut.”
”Dia kemudian…dipatok ayam…”
”BOOO!”
Indonesia Merdeka
Semua tim produksi duduk dalam ruang meeting setelah segmen pagi selesai. Gege, Ventha, Eman dan beberapa orang lainnya. Masuk Pak Soni, Programme Director (PD) radio.
”Pagi semua.” kilap botak stres Pak Soni memantulkan lampu tungsten ruangan.
”Silaw man!”
”Gak usah bikin gara-gara deh Ven..”
”Siang, Paaaaaak.” sahut para staf dengan canda ceria.
”Masih saya yang menggaji kalian dan ini pagi.”
”Pagi Paaaaaak.”
Pak Soni menggaruk-garuk botaknya sambil melihat agenda rapat.
”Wuih wuih…ngerapel elmu! Ngerapel elmu!” bisik Ventha pada Gege. Gege yang sadar penuh bahwa Ventha memiliki hobi membahayakan nyawa umat dengan berkomentar sinis, tidak bereaksi.
”Minggu kemarin Bapak mendapat kabar dari Asosiasi Radio Jakarta. Dalam rangka menyambut ulang tahun Indonesia ke 59, sebuah dewan juri akan menilai secara kualitatif, radio mana yang paling mampu menyambut kemerdekaan.”
”Oooo….” begitu reaksi para staf.
”Mengerti maksudnya?”
”Nggak Pak.”
Pak Soni memijit kepalanya dan memejamkan mata.
”Ini adalah tim paling jelek dalam sejarah karir saya. Maksudnya begini. Radio mana yang paling mampu men-generate excitement pendengar untuk menyambut kemerdekaan.”
”…”
”Well? Ada ide?”
”Aku Pak!!” Eman menunjuk dengan antusias. Pak Soni melirik Eman dan
”Yang lain?”
”Pak! Pak!”
”Yang lain?”
”Pak!”
”Ya sudah, kamu Man.”
”Bagaimana kalau aku pegang sebuah segmen yang berisi pembacaan puisi?”
”Wah, gak bisa!!”
”Jangan mau Pak!”
”Bisa minggat semua pendengar.”
Usul ini dengan semangat juang, disanggah Gege, Ventha dan segenap tim.
”Puisi adalah bentuk apresiasi sastra yang tinggi. Lihat Dian Sastro. Pintar sekali dia buat puisi dalam film AADC.”
”Puisi dia, bermutu. Puisi lo, yang denger bisa meninggal.”
”CUKUP!
Kamu Ven, tidak lagi komentar.
Kamu Man, sekali lagi kamu usul tentang puisi, saya pastikan kamu akan menyedot sesuatu, segera. Apa saja yang penting segera. Kamu Ge, punya ide?”
”Nggak Pak.”
”Jawaban saya anulir. Sekali lagi, kamu punya ide Ge?”
”Punya Pak.”
”Saya gak percaya. Lha wong barusan kamu bilang gak punya kok.”
”Lho?”
Gege berpikir sebentar, ”Gimanah kalo kitah bikin sandiwara radio Pak?”
Usul ini juga mendapat sambutan kurang sedap oleh Ventha sendiri dan yang lain.
”Maksud lo yang kayak Saur Sepuh Ge?”
”Garingnya…”
”Sekarang ginih…semua yang ada di ruangan ini gak jauh kan umurnyah dari segmen kitah? Selain Eman, tentunya kita semuah punya masa kecil yang normal kan? Pulang sekolah dijemput ibu. Setelah itu kitah memiliki dua pilihan hiburan.
Pertama, nonton Wok With Yan.
Kedua, sang ibu nyalain radio, nyiapin makan siang sambil denger sandiwara radio yang kitah gak sengaja denger. Dulu ada banyak macamnya. Dari sengketa keluarga, Bagito sampe cerita rakyat.”
”…”
”Anak-anak ini sekarang telah dewasa dan meski pun sandiwara radio sudah tidak awam, mereka masih memiliki kenangan tentang itu..” Ini targetnyah. Kita bikin sandiwara perang kemerdekaan. ”
”Bagus, bagus!” semua orang setuju.
”Jenius luh Ge!”
”Baru jual nyawa sama setan ni kayaknya sobat gua.”
”..dan itu cocok sekali aku masukkan puisi perjuangan.”
”Man..”
”Ya Pak?”
”Pergi keluar dan sedot pemadam kebakaran. Kamu Ge, saya beri satu minggu untuk memulai membuat skrip. Delapan minggu lagi kan 17 Agustus. Kita harus cepat-cepat. Kamu juga mulai buat iklan-iklannya. Adlib[4]-nya juga.”
Rapat selesai, waktunya makan siang.
Tentang Seseorang
Saat makan siang adalah saat-saat terindah bagi Tia setiap hari karena saat ini adalah saat di mana dia dapat menghabiskan 1 jam penuh dengan Gege, meski sering kali terpaksa harus menahan keinginan menempeleng Ventha. Pinang dibelah dua bukan frase yang tepat bagi mereka. Mengingat tingkah laku mereka yang kekanak-kanakan anak jin terbelah dua mungkin lebih tepat.
Tia membereskan semua pekerjaan secepat mungkin sambil sesekali menatap pintu ruang meeting berkaca di mana rapat berlangsung. Dia memperhatikan Gege. Tia bergabung dengan radio Hertz sekitar satu tahun yang lalu dan sekitar 11 bulan 28 hari yang lalu dia jatuh cinta dengan Gege. Gege adalah pria pertama yang dia kenal dalam kantor yang tidak berusaha menggoda anak baru. Dia terbawa dalam ingatan.
”Ge, ini Fathia, anak baru yang kemarin kita terima. Kamu ajak keliling ya. Kenalkan dia dengan yang lain.”
”Oh…” mereka bersalaman.
”Fathia, ini Gege.” Pak Soni segera berlalu. Gege terdiam mengangguk, menyandarkan tangan pada dinding cubicle dan mengetuk jari ke dindingnya. Dia berpikir keras akan apa yang harus diperkenalkan pada Tia.
”Orientasi.”
”…”
”Orientasi.”
Tia hanya mengangkat alis, antusias.
”Orien. Tasi.” tangan Gege membuat segregasi antara ’Orien’ dan ’Tasi’.
”Yap.”
”Ini W.C.”
”Oh.”
”Bau.”
”Hmm..”
”Ituh kaktus sayah. Empoy.”
”Hmm..”
”Itu Jakarta diliat dari lantai enam. Serasa di manaaa gituh.”
”…” Tia mulai tersenyum.
”Serasa di…ya di tingkat enam sebuah gedung melihat Jakarta kali yah?”
”…” Tia mulai menahan tawa.
”Saya di sinih jadi produser. Udah 2 tahun. Tahun depan … ya tiga tahun.” Gege terus memberi informasi yang tidak memberi nilai tambah. Gege mengajak Tia berkenalan dengan anggota kebun binatang yang lain.
”Di radio ini, meski segmennya dewasa, secara mengejutkan kelakuan penyiarnya seperti anak kecil semuah. Untung cuman penyiarnya ajah yang ancur.”
”Maksudnya?”
”Tinjau sample pertama. Ini namanya Eman. Penyiar kitah.” tunjuk Gege ke sebelah.
”Tia, Mas.”
”Panggil aku Bang. Apakah Tia bersedia mendengar puisi?”
”Boleh Mas!”
”Emh, anak baru. Lanjut!” Gege segera beralih.
”Sekarang kitah menuju cubicle Ventha, penyiar juga.” jelas Gege sambil berjalan.
”Dia sobat sayah. Pak Soni mengharuskan kami untuk duduk berjauhan soalnya kalo deketan, dunia bisa kiamat. Ini diah… Halo Ven!”
”Mhh.. Mhhh.”
”Sample kedua melambangkan mereka yang sering tenggelam dalam keheningan kontemplatif mendownload yang nggak-nggak.”
Tia mengangguk. Bukan cara membangun reputasi yang baik jika hari pertama sudah menunjukkan ketidaksukaan pada Ventha yang menghina harga diri wanita seperti itu.
Terakhir mereka bersanding dalam pantry.
”Selain mereka sih orang-orang di sini normal, yah.”
”Bener nih Mas Gege, gak ada yang aneh-aneh lagi?”
Mata Gege pergi ke atas sebentar dan,
”Yaaa….h. Terkadang saya suka ngomong sama kaktus.”
”Itu normal kok Mas. Banyak kok yang ngomong sama tumbuhan. Ada riset ilmiah untuk itu. Tia pernah baca.”
”Wah bagus deh. Trus kalo ngedenger kaktusnya ngejawab, masih normal juga kan?”
Tia tersedak dari kopinya. Anak baru itu paling menyukai pria yang membuatnya tertawa. Mata mereka bertemu sejalan dengan Gege bercerita tentang Empoy, kaktusnya dan betapa Gege sering merasa Empoy menjawab.
Diamatinya pria itu. Sangat biasa. Namun ada aura yang terlihat dari mata pria itu. Jenaka dan sedikit dewasa. Setidaknya, dibanding teman kerja yang lain.
Hari berganti, mereka berteman. Cinta merambat tumbuh pelan tidak terasa dalam hati Tia setiap kali Gege membuatnya tertawa.
Hanya ada dua masalah dalam hubungan mereka. Bahwa Gege tidak sadar dan bahwa Tia terlalu gengsi untuk menyatakan cinta.
Sekte aliran sesat itu akhirnya selesai dengan rapat mereka. Gege menghampiri Tia. ”Makan?”
Seseorang Dari Masa Lalu
Ini adalah hari di mana gaji datang. Radio Hertz terletak di Gedung I dalam kompleks perkantoran Wisma Trinusa. Bank dari para staf radio Hertz adalah Bank Graha yang terletak di Gedung II. Gege, Ventha, Eman dan Tia dengan penuh suka cita berjalan ke bank itu di saat makan siang.
”Serang! Serang!”
”Iyah! Ganyang ajah!” ujar Gege dan Ventha menunjuk Bank Graha yang sudah ada di depan mata.
Tia memasang muka tidak kenal. Gege memang paling tahu cara membuat Tia malu. Lokasi terbaik sebuah Bank dalam sebuah gedung adalah lantai dasar untuk memudahkan nasabah, begitu pula letak Bank Graha. Bank lokal pertama di Indonesia yang baru saja melebarkan jaringan nasabah ke skala regional.
”Elo ya Ge, aduh kayak anak kecil aja.” tawa Tia. Mereka kemudian mengantri di mesin ATM yang terletak di depan bank Graha. Gege, Ventha dan Eman terlibat dalam percakapan serius tentang bank dan ATM. Menurut hemat Gege jika ada Bank, sebaiknya tidak perlu ada ATM. Ventha berpikir bahwa jika ada ATM, lebih baik tutup banknya dan pecat semua orang. Eman lebih senang berurusan dengan ATM karena mesin ATM tidak pernah menatapnya dengan tidak ridho.
”Ge, giliran lo….” suruh Tia.
Gege tidak menjawab dan melihat sesuatu dari luar jendela bank. Gege melihat sesuatu. Tangan Gege terlihat sedikit bergetar dan dengan pelan dia berjalan masuk ke dalam Bank. Teman-teman segera menyusul.
”Kenapa ni anak?”
”Ini adalah reaksi normal pria awam ketika melihat wanita cantik.” jelas Ventha.
Mereka menemukan Gege berdiri dekat dispenser air dan menatap jauh ke areal kerja bank. Lama terdiam.
”Ge?”
”Ge?”
”Ge?”
Gege tidak menjawab dan berjalan keluar lagi. Tatapannya penuh arti. Bibirnya tersenyum. Sebuah senyuman yang dia tunggu lama untuk hadir di mukanya.
”Kenapa sih?” Tanya Ventha.
”Caca.”
[2] The ugliest-looking kind of cows on earth. That, they have many.
[3] Spasi kerja untuk seorang staf yang berkomposisi meja, kursi, dan 4 bilah dinding kayu setinggi dada *
* No..I mean it. Seriously
[4] Adlib = Sebuah teknik iklan yang diselipkan dalam pembicaraan penyiar ketika sang penyiar berbicara ketika siaran berlangsung. Beberapa orang menggunakan terminasi adlips untuk hal yang sama.
No related posts.


