Book Promo + Puasa Book Promo
Maafin Gue First off, pitching into Ramadhan, gue mohon maaf atas segala perkataan yang nyakitin dan yang lebih gue minta maaf lagi, segala perkataan yang gue gak tanggepin. As u know, one of my biggest flaw in life is not attending my own blog. Well that's because I have been working on the book. Sorry for that. berhubung skg udah selesai, insya allah, gue bisa bales semua comment yang masuk ke shoutbox atau komen. Sori ya, kemarin2 gue bener kudu konsen sih. Sounding buat buku gue, tunggu aja kali ye, gue masih dinilai dulu sama penerbit. Kan malu kalo udah sounding duluan eh penerbitnya bilang gak mau. Book Promo Oke, You tell me if the fight below is sensible in the most insensible way or not. Gue lagi upload foto yang nyiapin sounding buat Ratih Kumala ketika istri gue noticed what i was doing dan brenti jalan kayang dan deketin gue. 'Itu punya siapa?' 'Punya si Ratih.' 'Tinggalnya di mana?' 'Indonesia.' 'Dia penulis juga?' 'Iya.' 'PASTI KAMU NAKSIR YA?'
ANYHOO, allow me to have the honour of promoting her book. Ratih Kumala, seorang perempuan (ya iya lah, masak cowok?) beberapa pendapat informal berkata bahwa she can be the next best thing after Ayu Utami. Oh ya, peringatan aja. Ini bukan covernya yang final. Cover yang beredar adl yang tanpa tulisan 'In Memorian - Khrashnaya' Who is she? I know you begged to know because one of the features of this blog is IQ measurements and I can I tell you, WE IMPROVEMENTS, PEOPLE! Ratih Kumala relatif masih muda dan sudah bisa menjadi salah satu pemenang menulis novel, which is amazing. Ini gue quote dari cyber sastra.net ---- quote RATIH KUMALA, lahir di Jakarta, tanggal 4 Juni 1980. Dia adalah mahasiswa Jurusan Sastra Inggris, Universitas Sebelas Maret Surakarta, semester 7. Menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Inggris. Mengikuti International Poetry Contest 2001, diadakan oleh Library of Poetry. Puisinya "A Drop of Life" dan "Of Love (Mine)" masuk dalam semi final dan dimuat dalam buku kumpulan puisi amatir berjudul Under A Quicksilver Moon. Dia juga mengikuti Lomba Cerpen Perdamaian 2002, diadaka oleh Yayasan Citra Kasih Cerpennya yang berjudul "Tanahku di Satu Titik" masuk dalam 15 besar dan dimuat dalam buku kumpulan cerpen perdamaian berjudul Metamorfosa Cicak di Atas Peta. Beberapa tulisannya pernah dimuat di koran lokal. ---- end quote Beneran nih dia menang lomba? Ini gue quote lagi dari cybersastra.net. Para pemenang Sayembara Menulis Novel: Juara Pertama: Dadaisme, karya Dewi Sartika Juara Kedua: Geni Jora, karya Abidah El Khalieqy Juara Ketiga: Tabula Rasa, karya Ratih Kumala Juara Harapan I: Ular Keempat, karya Gus tf Sakai Juara Harapan I: Tanah Biru, karya Pandu Abdurrahman H. Ini hasil seleksi Dewan Kesenian Jakarta. Tapi sayangnya gue lupa apakah ini novel pertamanya atau nggak. yang jelas untuk bisa sampe menang juga udah keren banget, apalagi untuk ukuran gue yang mana juri Literary Award melewatkan jomblo untuk masuk shortlist hanya dengan alasan 'soalnya komedi sih'. Well, may be next time. But enough about me, this post is about Ratih. Beli deh ni buku. Keren punya. Teaser - Bab Satu Kampus - Yogyakarta, Agustus 2001 Galih Kamu seperti menara. Selalu dapat kulihat walau jauh dan dikerumunan orang. Ada sinergi di dalammu, kharisma yang dulu sempat kunikmati dari dekat dan dalam jarak. Adalah pesona yang membuat pria bertekuk dan mencium ujung-ujung jarimu. Hanya sanggup menunduk memandang kukumu yang tidak berkutex, mungkin juga hidungnya mencari odor tubuhmu yang akan selalu dikenang dan dikenalnya di kemudian hari pada setiap orang yang menyemprotkan parfum berbau sama denganmu ke tubuh-tubuh mereka. Dan saat tak mampu menggapaimu lagi, mungkin aku atau orang lain yang pernah mengagumimu akan bertanya pada orang itu; “Kumohon katakan, parfum apa yang kau pakai?” walau mungkin akan dianggap gila. Lalu kucari mereknya dan kusemprotkan pada kacuku agar senantiasa dapat kuhirup lembutnya bersamaan dengan kubanyangkan adamu. Tahukah kamu dari jauh selalu kunikmati gerakmu. Aku tak pernah yakin dengan perasaan ini (apakah aku pria yang sedang jatuh cinta?), atau aku hanya kembali terlena dengan adanya gambaran dirinya pada bahasa tubuhmu, caramu berdandan, dan keras kepalamu. Belum pernah kuungkapkan tapi aku tahu itu semua ada pada dirimu. Kamu mengingatkanku akan kehilangan yang sangat mendalam. Sungguh aku minta maaf jika terlalu lancang berani mencoba menggapaimu seperti bintang, mengangkatmu seperti dewi dan menjatuhkanmu kembali ke bumi nyata, terlempar di lautnya, cair, pasrah pada benda bermolekul padat yang menjadi wadah. Mengikuti bentuk. Bukan sebagai gas yang bebas beterbangan di ruang dan tak berruang sekalipun. Bahwa aku menginginkanmu karena ada gambaran dirinya dalam dirimu. Tuhan mungkin tengah kehabisan ide saat menciptakanmu, pokokmu begitu mirip, orang yang pernah aku miliki. Bangunkan kelaki-lakianku hingga tumbuh hasrat bercampur deru. Tengahkah kasmaran, atau rasa ini hanya mengulet dari tidur panjang ? 40 musim yang sudah hadir dalam 10 tahun. . . Kremlin - Moscow, 22 December 1990 Dingin. Antri. “Kenapa kita harus datang ke sini musin salju sih, yah?” “Karena memang jatah kita datang musim ini, son! Now, you quiet. Still wanna see that old grandpa there or not?” masih mau lihat ‘kakek’ nggak? “Okey…but I hate this, masak tiap mau apa-apa harus antri kayak gini?” “Memang begini keadaannya. If you keep complaining, you better wait there with Bunda. Ayah masih mau lihat Lenin.” kalau ngeluh terus, mendingan tunggu disana aja sama Bunda. “No, I want to see him now. Bunda nggak tau kalau nunggu besokpun masih harus antri. Kata Diaz orang disini antri mau lihat Lenin setiap hari dari jam 5 pagi. Jadi percuma nunggu besok.” Aku mau lihat Lenin. “Yeah…” Ayah tersenyum, menang, aku tahu dia senang karena aku ikut antri. Itu artinya dia masih punya teman untuk antri. Bunda dan adikku Dian sudah menyerah, kecapekan berdiri antri. Orang Rusia memang patut diacungi jempol dalam hal antri. Banyangkan, satu jam antripun dilakoni. Di Rusia kalau kamu tidak biasa antri maka kamu mati. Tidak bisa beli roti dan kebutuhan lainnya. Maka, mengantrilah! Ini hari kesepuluh kami di Moscow. Ayah tiba-tiba mengajak aku dan Dian untuk ikut tinggal di negara tempat tugasnya ini. Padahal aku sudah mulai merasa tenang tinggal di Jakarta dan tidak ikut Ayah dan Bunda tugas ke mana-mana. Aku tidak tahu berapa lama kami akan tinggal di sini. Ayah juga tidak tahu. Katanya, kalau tugasnya diperpanjang itu berarti dia harus tinggal lebih lama. Menurutnya sudah terlalu lama aku dan Dian hidup ‘terlantar’ tanpa pengawasan orang tua. Setelah terakhir saat aku kelas 3 SMP sampai kira-kira sekolah setingkat 1 SMA kami ikut Ayah ditugaskan di Hongkong, kini aku dan adikku ikut lagi. Kuliahku di Jakarta di transfer ke Moscow. Karena termasuk anggota keluarga orang dari kedutaan maka dengan mudah aku bisa masuk Moscow State University. Hanya saja aku harus menyesuaikan kredit yang sempat aku tempuh di Universitas Indonesia. Jadilah banyak kredit yang terbuang sia-sia, menurutku sama saja mengulang dari semester awal. Ini payah, kami tidak bisa bahasa Rusia. Yang aku ingat hanyalah “Ya nyemagu pa Ruski” diajari Diaz, anak teman ayah yang sudah 2 tahun tinggal di sini, yang artinya ‘saya tidak bisa bahasa Rusia’. Orang sini bahasa Inggrisnya juga payah. Mau tidak mau aku belajar bahasa Rusia sedikit-sedikit. Kebangsaan orang Rusia sangat kental. Kebanggaan akan negaranya sangat jelas. Mereka bahkan meletakkan karangan bunga dibawah kaki patung Lenin yang berserakkan di mana-mana. Hal ini untuk menunjukkan rasa cinta mereka kepada Lenin, pahlawan Rusia yang sekarang jasadnya terbujur kaku dan masih bisa dilihat kalau kamu bersedia antri masuk ke Mausoleum. And that’s exacly what I am doing now. “Lih! Galih!” suara Bunda memanggil sambil melambai-lambaikan tangan “sini aja, gak usah ikutan antri. Ayah biar sendiri.” Dari kejauhan aku bisa melihat Bunda dan Dian nyengir. Dian lalu lari menghampiriku, menarikku keluar antrian “ayo ikut, lihat prajurit aja.” Setiap satu jam selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, prajurit Rusia bergantian menjagai pintu masuk. Pergantian prajurit ini menjadi pemandangan indah tersendiri. Kira-kira dua menit sebelum lonceng Kremlin berdentang, tiga prajurit dengan senjata bayoret keluar dari pintu gerbang gedung utama Kremlin. Dua melangkah di muka satu mengawal di belakang. Ketiganya berbaris sangat-sangat rapi dan serempak seperti sudah diprogram menuju Lenin Mausoleum. Gagah sekali. Tatkala mereka tiba di muka Mausoleum lonceng berdentang lagi. Pergantian penjagaanpun berlangsung, yang lama melangkah keluar dan yang baru menggantikan masuk ke muka pintu gerbang Mausoleum. Seperti halnya prajurit istana di Inggris, mereka tidak boleh bergerak walau mungkin ada lalat lewat dan mampir di hidung. Soal lalat, jangan salah...aku sendiri agak terkejut dengan Rusia yang menurutku termasuk salah satu negeri indah dengan gedung-gedung kuno yang lumayan terawat. Memang pemerintah disini menyediakan biaya untuk perawatan gedung-gedung kuno terutama yang bersejarah. Dan aku yakin kalau aku sudah travel sana-sini di Rusia aku akan melihat lebih banyak gedung-gedung kuno nan megah. Tapi WC di mana-mana bahkan di tempat umumpun sangat kurang terrawat. Pertama-tama aku heran dengan lalat yang beterbangan, kok ada banyak? Ternyata sumbernya dari WC. Aku dengar dari Diaz kalau orang luar yang datang ke Rusia banyak yang mengeluh tentang WC umum yang kotor. Untuk ukuran negara besar seperti ini kesadaran kebersihan kakus sangat kurang, mungkin mereka tidak tahu bahwa kebersihan kakus akan sangat mempengaruhi kesehatan. Pantatku terbiasa duduk di kakus duduk atau kakus jongkokan ala Indonesia, dibersihkan pakai air kalau perlu sabun, selanjutnya dikeringkan dengan kertas tisu gulung. Tapi disini…sebuah lubang memang suatu prasyarat utama untuk sebuah tempat yang disebut WC. Hanya saja tidak dibarengi dengan alat sentor yang seharusnya menjadi prasyarat kedua sebuah tempat untuk disebut sebagai WC sebab kerap kali alat sentor tidak bisa digunakan dan tidak ada tisu gulung. Bukannya aku sok bersih. Kata Diaz pemerintah Rusia kekurangn pegawai untuk mengurus WC. Sejak perestroika-nya Gorbachev, pemerintah mulai membuka diri dan tidak lagi melulu semuanya milik pemerintah, tidak hanya taksi swasta saja, tapi juga siapa saja warga yang ingin buka WC umum. Menurut Diaz, waktu dia datang ke sini dua tahun yang lalu WC umum belum begitu banyak. Tapi kelihatannya sekarang mulai menjamur karena orang-orang bisa mendapatkan tambahan uang belanja yang lumayan dari WC umum. Kupikir sama halnya dengan wartel di Indonesia yang mulai menjamur. “Prajurit dari sini juga kelihatan, kok!” Ayah setengah teriak pada Dian “heh, jangan. Ayah sama siapa nanti? Galih, kamu disini aja.” Ayah dan Dian jadi tarik-tarikkan aku. “Udah, lihat ‘engkong’-nya besok-besok aja. Kelamaan nunggunya. Ayo jalan-jalan aja. Kita ‘kan disini masih lama. Kita ke GUM aja, yuk! Bunda pengen foto-foto di depan Katedral yang itu tuh.” Katanya sambil menunjuk St. Basil. Dian terlanjur menarikku. Ayah terpaksa melepaskan genggamannya, takut keluar antrian. Bisa-bisa malah harus ikut antri lagi dari ujung. Di hari-hari biasa Ayah harus ke kantor, jadi hari ini adalah kesempatan Ayah untuk melihat Lenin, makanya Ayah bertahan di antrian. Aku, Bunda dan Dian lalu foto-foto di depan Katedral St. Basil. Kami jingkrak-jingkrak kegirangan, maklum ini pertama kalinya kami ke Kremlin. We’re so excited. Red Square sangat luas, bisa untuk main bola. St. Basil Cantik sekali. Seperti istana. Ujung bangunannya seperti kubah masjid, hanya saja lebih kerucut dan berwarna-warni seperti permen. Dan ini bukan masjid melainkan dulunya gereja. Dari kejauhan ada beberapa orang yang sedang melukis. Saat aku dekati mereka kebanyakan melukis St. Basil. Beberapa orang yang belum selesai melukis menutup lukisannya dan membawa kanvasnya pergi. Mungkin besok mereka datang lagi untuk melanjutkan. Seorang gadis yang cukup menarik perhatianku. Sementara yang lain melukis St. Basil ia melukis Kremlin lengkap dengan Red Squarenya. Dari jauh tersamar kulihat warna catnya tidak berwarna-warni seperti kalau melukis St. Basil yang memang berwarna gembira. Coklat, kelabu, merah, abu-abu, hijau tua, putih, hitam. Dia menunggu lukisannya kering sebentar sambil memasukkan cat, kuas dan peralatan lukis lainnya ke dalam tas. Ambil jarak + 1 meter. Memandang lukisannya sebentar. 5 menit, 10 menit, 15 menit. Rasanya waktu seperti melambat, slow motion. 15 menit lebih berapa detik, waktu di jam tanganku. Tapi aku merasa lebih lama dari itu. Slow motion. Setelah itu gerakkannya mendekat ke arah lukisannya, menutupnya dengan kain putih. Diangkat. Tali gantungan lukisan di samirkan ke bahu. Dikempit di antar tubuh dan lengan kananya. Tangan kiri mengangkat tas dan tangan kanan mengangkan penyangga kanvas. Kenapa rasanya jadi lebih lambat, ya? Sooo Slooow... Ia berjalan membelakangiku yang jaraknya lumayan jauh. Aku tahu dia bahkan tidak sadar aku ada. Aku hanya salah satu dari sekian puluh, ratus bahkan mungkin ribu orang yang datang ke Red Square untuk menikmati indahnya, itulah aku baginya. Berlalu, berlalu, ber-la-lu, b e r l a l u...dan waktu seperti dibangunkan lagi. Waktu berjalan normal. Samar-samar terdengar diantara telinga yang tiba-tiba kedap suara, angin, dingin dan “...ya, Lih? Lih...Galih! Kok bengong sih? Hei, kamu lihat apa. Are you there, helloo...knock-knock-knock, anybody home...?” suara Dian, dan tangan yang melambai-lambai tepat di depan wajahku. Lalu bertepuk-tepuk. Aku mulai kembali dari alam slow motion. “Bunda, kakak baru mengalami mati waktu, mungkin déjà vu.” Katanya manja sambil menarik-narik baju Bunda. “Apaan sih, kamu...nggak kok!” Lalu aku berjalan ke arah mana saja. Kulihat antrian di pintu Lenin Mausoleum, mataku mencari Ayah. Tapi tidak kutemukan. Kelihatannya Ayah sudah masuk. Tadinya aku ingin ikut antri lagi untuk menghindari Dian yang ngoceh. Tapi sekarang aku sudah merasa malas. Lain kali aku pasti akan masuk untuk melihat Lenin. Diana terlanjur menarikku ke GUM. Dasar tukang belanja! Sebentar lagi Natal, tidak seperti di negara-negara lain. Walau suhu disini super dingin dan ..... ---- dan meski dingin coba deh Jij ke toko buku dan Jij beli buku punya temen Ik. Segitu dulu dari gue. Sumpah sekarang gue bisa balesin komen. sori ya guysssss. Labels: books |
Adhitya Mulya adalah Dewa Ganteng yang tinggal di kahyangan bersama 100 dayang-dayang. Dia menghabiskan waktunya turun ke bumi untuk bertemu dengan rakyat jelata dan berburu menjangan dan babi hutan... (or is it, berburu rakyat jelata dan bertemu dengan babi hutan? anyways, same thing). Oh ya, sesekali dia menulis buku komedi.
orang telah melihat kegantengan gua yang legendaris itu. Ninit ; Aan ; Agung ; Aip ; Alaya ; Avianto ; Aris ; Atta ; Detta ; Ewink ; Enda ; Erly ; Fairy ; Fanny ; Ganda ; Hagi ; Hanzky ; Isman ; Ita Leyla ; Ni'ang ; Ndari ; Nita ; Pip ; Okke ; Roi ; Ruri ; Shinta ; Tyaz ; Udhien ; Umar; Adi ; Afo ; Alaya ; Alfa ; Ale ; Alvons ; Aiff ; Andhi ; Andin ; Andin ; Anggie ; Anto ; Aprian ; arb3i ; Ari ; Arma ; Arif ; Ayu ; Axlandra ; Bantot ; Be-Es ; Beranda ; Bintang ; Bios ; Blub ; Brandy ; Buzz ; Cay ; CB ; Celia ; C'est la Vie ; Civent ; Claustrophobic ; Comel ; Comel ; Crey ; Dagungsta ; Dayat ; Deksay ; Dian ; Dican ; Didi ; Didiet ; Diki ; Dini ; Dion ; Disposable Hero ; Drey ; Duwie ; Dwi ; Dyah ; Ekodox ; Emil ; Ephe ; Eric ; Erika ; Erwin ; Eve ; Eyi ; Farid N ; Farid ; Finalizabeth ; Fitri ; Flow ; Flow ; Fresh ; Gajah Duduk ; Gauz ; goblog ; grE3nY' PrinceZz ; Guido ; Grizz ; Harris ; Harris ; Harris ; Heri ; Herlyanti ; Hero ; Ibiza ; Ika ; Ilsa ; Inex ; Inna ; Ipan ; Irene ; Irene ; Iris ; Isnaini ; Koebiz ; Kun ; Lacsar ; Lemans ; Lilik ; Lindie ; Little Mermaid ; Lontar ; Matz ; Memey ; Merkurius ; Morningdew ; N[a] ; Nasgor ; Neen ; Neenoy ; Nice green ; Nisa ; Nita+Agus ; Nono ; Novie ; Nukov ; Nunik ; Ochan ; Ollie ; Paylo ; Pipit ; Prazz ; Prianca ; QQ ; Radith ; Rapa ; Reena ; Ren ; Ria ; Richoz ; Ridwan Fauzi ; Rihsa ; Riena ; Rita ; Sapi ; Sasha ; Sazi ; Seggaf ; ; ; ; Snydez ; StormyMonday ; Supta ; Sweeney ; Sylvie ; Tamtam ; Tari ; Toet ; Trippin' D ; Tutup Botol ; t.w. ; Ty ; Tyaz ; Tychan ; Umar ; Un^Goe ; Vanda ; Vanya ; Viga ; Vellas ; Weedee ; Yudha ; visit rice bowl journals ! |