zaralde.com

A new Novel from mang Jamal
Saturday, June 12, 2004

Baru terbit sebuah Novel, berjudul "Rakkaustarina" from a dear friend of mine dari Bandung. First of all, selamat buat mang Jamal untuk novel kedua ini. Sebelumnya beliau menerbitkan novel (obviously) pertamanya "Louisiana-Louisiana" di tahun 2003 dan dipandang beberapa orang seebagai salah satu novel dengan isi mendalam di tahun 2003 (versi milis tiziana@yahoogroups.com) Semoga semua berjalan lancar untuk beliau. feel free to visit his website here. Please find as per below guys. rgds.



Penerbit: Grasindo
Paperback Comments :
Bukan Jamal bila tidak nakal, menggelitik, dengan humor-humor jahilnya dunia percintaan mahasiswa. Penjelajahan budaya dan etnis negeri Viking masih tetap memikat, bahkan memperkaya wawasan. Dengan jeli melalui tokoh bernama Hendra, ia gambarkan penuh hikmat keberadaan prasasti, patung-patung penyair dan sastrawan Finlandia yang menghias taman dan jalanan kota-kota secara terhormat. Menunjukkan kesadaran sebuah bangsa yang menyadari peradaban manusia hanya dapat dibangun oleh seni dan sastra bukan oleh kekuatan bedil. Kali ini novel Rakkaustarina mengajak kita lebih menukik ke dalam kepekatan renungan Jamal. Hidup berawal dari ketiadaan kembali pada ketiadaan. Di dalam ketiadaan ada banyak makna yang harus dicari manusia untuk dialami. Seniman harus memelihara kebebasan spiritualnya agar mampu berkarya, seperti kata pelukis besar Russia, Kasimir Malevich.
Ani Sekarningsih, sastrawati

Cara bertutur Jamal sangat lancar, segar, menghibur dan juga berwawasan. Dengan kelebihannya ini, kisah percintaan yang dituturkannya menjadi tidak klise atau murahan, namun menawarkan sesuatu yang baru: percintaan hanya menjadi bingkai dari apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh pengarang. Novel ini lebih berwarna ketimbang novelnya yang pertama, selain dibawa bertamasya pada kemegahan Eropa, kita juga bisa menengok tatar Sunda yang masih menyisakan keunikan alam, manusia dan budayanya. Lewat novel-novelnya, Jamal ingin merangsang kita untuk berapresiasi terhadap banyak hal yang ada hubungannya dengan kesenian dan kebudayaan.
Acep Zamzam Noor, Penyair

Dalam kesan saya, Jamal menulis seperti anak-anak yang bermain di bibir pantai: tak banyak beban, ringan, leluasa, dan mungkin cenderung gembira. Seperti dalam novelnya terdahulu, Louisiana Louisiana, dalam Rakkaustarina pun pembaca dapat merasakan kelancaran pengarang dalam upayanya untuk menuturkan kisah. Kecenderungannya untuk mengambil latar perkisahan dari tempat-tempat yang asing dan jauh bagi sebagian besar pembacanya barangkali akan menimbulkan kesan tersendiri bahwa membaca novel ini hingga batas tertentu seperti mengikuti tamasya. Seraya bertamasya pembaca diajaknya pula untuk memikirkan percikan permenungan filsafat mengenai cinta, seni, juga nilai-nilai budaya pada umumnya. Salah satu tantangan bagi Jamal, saya kira, adalah mencoba untuk menyiasati atau melampaui jebakan-jebakan turistik dalam prosa
Hawe Setiawan, eseis.

Ibarat berkendara, Jamal adalah pengemudi yang lancar. Dalam bingkai pop, ia mahir mengemas persoalan disorientasi budaya, moralitas, kejujuran, juga bagaimana tetap mempertahankan idealisme di tengah situasi atau godaan yang sulit dan tidak sesuai. Dibumbui konsep estetika arsitektur dan budaya urban Finlandia--sesuatu yang akan mengayakan pembaca Indonesia-Jamal kembali menghadirkan roman yang asyik untuk dibaca. Anwar Holid, kolumnis

Sebagaimana novel perdananya Louisiana Louisiana, dalam Rakkaustarina-pun Jamal membawa pembaca ke 'belahan dunia lain' yang tentunya akan menambah wawasan pembaca dalam hal budaya maupun seni terutama kebiasaan warga negara lain dalam menghargai seni dan sekaligus senimannya. Percampuran budaya barat dan timur serta pergolakan bathin sang tokoh dalam mempertahankan prinsip, masih mewarnai novel ini. Dengan kepiawaiannya bercerita yang memikat, rasanya baca Rakka ini bisa diibaratkan makan kacang atau keripik yang tidak akan berhenti sampai semuanya terlahap habis.
Dedi S Wihardja, penikmat buku.
________________________________________________________________________________________


BAB 1 - Sketsa Rumah Tebing

Randi sedang duduk-duduk di teras paviliun ketika dia melihat sepeda motor dengan Galuh di atasnya masuk halaman membonceng seseorang. Yang dibonceng loncat duluan, sementara Galuh melaju mendekati teras.
"Hei. baru pulang, ya? Betah ya, di hutan? Dari pagi baru pulang." Galuh menyapa Randi sambil mematikan mesin motor lalu turun.
"Haha.iya. A Hendra langsung ke Cirebon, katanya ada urusan." Randi melihat teman Galuh mendekat.
"O iya, tadi pagi dia bilang mau ke Cirebon sore ini. Eh, kenalin ini teman saya, ulat bulu." Dipa memegang lengan Dipa yang nyengir dibilang ulat bulu. Dipa dan Randi tersenyum lalu bersalaman.
"Luh, kalau temanmu Ulat Bulu, kamu ini siapa?'
"Kadang-kadang kadal, kadang-kadang kutu. Seringnya toke belang!" Dipa cepat-cepat menjawab duluan.
"Hahaha.."
"Eh, tolong jagain makhluk satu ini, kang,"pinta Galuh pada Randi. "Jangan sampai dia makan semua daun, apalagi daun pintu. Kalau daun telinganya sendiri sih, tidak apa-apa."

Galuh masuk rumah lewat paviliun. Dia merasa nyaman lewat situ, daripada harus lewat pintu ruang tamu di rumah utama, karena sore-sore begini biasanya Diah nongkrong di ruang tamu dengan segala macam buku, majalah, makanan kecil dan cd yang seluruhnya berserakan dan tidak perduli ada suara orang karena kupingnya ditutup headset cd-player. Kadang-kadang bersama gengnya mengerjakan tugas sekolah. Ibunya menjuluki Diah si ratu ruang tamu dan minta maaf kepada tamu yang kebetulan datang di tengah suasana ruang yang mirip pasar kaget. Diah sendiri memanfaatkan ruang tamu itu setelah ia tahu ruang itu sering menganggur, hanya jadi ruang antara dari teras depan dan ruang keluarga.
Dipa duduk dengan takzim di teras bersama Randi.
"Pa, kamu kenal Tia dan Wina, mahasiswi Arsitektur?"
"Mm.kenal banget sih, tidak.Tapi karena mereka bening, kita hampir naksir waktu sekelas di TPB."
"Haha.ada istilah 'hampir naksir' segala.eh, kita?"
"Maksud saya, saya dan kutu yang barusan masuk pintu."
"O ya? Tadi aku bertemu mereka di Pakar."
"Hah? Waduh.kok bisa, ya? Sayang sekali saya tidak ikut. Bagaimana tampang mereka sekarang? Dulu yang rada saya taksir, Wina."
"Wah, saya tidak tahu tampangnya dulu. Tapi mereka memang bening."
"Ya, mereka gadis-gadis bening. Kalau saja Wina mau sama saya, dunia ini benar-benar elips. Benar-benar berputar, benar-benar mengelilingi matahari, benar.-benar.apa lagi ya?" kedua tangan Dipa membentuk bulatan di atas kepalanya, seperti anak TK sedang berdeklamasi!
"Ada-ada saja." Randi tertawa ngakak melihat kekonyolan Dipa yang asli.
"Saya mau ngajak Galuh lomba gaet cewe. Taruhannya SPP satu semester!"
"Lho? Taruhannya kok unik begitu?"
"SPP kampus negeripun sekarang mahal, kang. Heran saya, orang bilang pendidikan itu mahal. Udah tahu mahal, dibebankan pada masyarakat. Mestinya yang mahal-mahal begitu ditanggung negara. Seperti beli kapal induk atau pesawat tempur. Negara ngumpulin dananya dari pajak. Jadi lebih gampang, kan? Dasar stu."
"Stu?"
"Pid."
Randi tertawa, ternyata dari stupid! "Ya, negara seharusnya menanggung semua biaya pendidikan seperti di Skandinavia, Jerman dan Perancis. Kalau banyak rakyat yang cerdas, yang untung kan negara juga. Rakyat banyak yang berpenghasilan tinggi, artinya pajak juga jadi banyak, lalu negeri ini jadi maju dan kaya dan rakyat sejahtera. Uang negara seharusnya diputar untuk meningkatkan kualitas generasi yang akan datang, investasi negara untuk meningkatkan kualitas bangsa."
"Sayangnya nasionalisme para penyelenggara negara sudah luntur termakan keserakahan masing-masing. Big Stu!" Dipa mengangkat bahu.
Randi tertawa mendengar cara Dipa menunjukkan kekecewaannya yang khas. "Eh, kamu pasti pengen ketemu Wina, kan?"
"Tentu saja. Malah sekarang ini lagi cari akal gimana caranya ketemu dia, tanpa memberi kesan saya mengejarnya. Soalnya kalau begitu, nanti dia lari. Dia kan jinak-jinak polisi! Pura-pura ramah, ujungnya nilang juga."
Randi tertawa lagi mendengar istilah-istilah Dipa. Ia heran, anak ini makannya apa, ucapannya aneh-aneh! Randi membetulkan posisi duduknya, lalu menatap Dipa. "Eh, aku punya ide. Tadi, Tia dan Wina meminjam buku sketsaku. Nah, kamu punya alasan untuk bertemu, pura-pura menanyakan buku gambarku. Bilang saja, aku memintamu untuk mengambilnya.'
"Hmmm..usul bagus," kata Dipa dengan wajah cerah. "Tapi jangan bilang-bilang Galuh, ya? Soalnya dia pasti akan merusak suasana."
"Tapi kan gadis bening itu berdua, satu-satu lah.." Randi mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Dipa menolak ketika disodori. "Eh. Pa, kenapa dulu kamu ngga nerusin naksir Wina?"
"Waah, dulu saya dan Galuh sama-sama naksir keduanya. Padahal saya suruh dia naksir pohon saja!"
"Hahaha.naksir kok disuruh-suruh?"
"Yaa.supaya masing-masing tidak mengejar kedua gadis itu. Kan kalau masing-masing punya sasaran yang berbeda. Dunia persilatan aman. Tapi kedua gadis itu memang sebening danau Saguling, kalem tapi juga judes seperti kucing."
"Hahaha.." Randi ngakak sambil geleng-geleng kepala mendengar gaya kocak Dipa yang sepertinya ngalir begitu saja. "Judes itu cara wanita menutupi hal lainnya yang bisa jadi kebalikannya, Pa."
Dipa terdiam. Berusaha memahami ucapan Randi.
Galuh keluar. Membawa dua gelas besar minuman dingin. Menyimpan satu di meja dengan hati-hati. Dipa siap-siap mengambilnya.
"Eiit.enak ajah. Minuman ini buat kang Randi. Kamu ngga usah minum! Kapan pernah lihat ulat bulu minum?" Galuh mereguk minumannya dan meletakkan di meja.
Randi tertawa sambil geleng-geleng kepala. Benar apa yang diceritakan Hendra tadi, mereka teman tapi gayanya saling serbu seperti kucing dan anjing! "Ngga usah, buat Dipa saja".
Mendengar itu, Dipa dengan tersenyum penuh kemenangan mengambil gelas itu dan meminumnya sekaligus. Habis!
"Dasar ulat bulu!" maki Galuh yang segera mengambil gelasnya takut di sambar Dipa.
"Hahaha. Eh, Luh, aku punya strategi deketin lagi Wina.."
"O ya? Sejak kapan kamu maen strategi? Strategimu kan BTN.!"
"BTN?" Randi menatap Galuh lalu Dipa.
"Berani Tampil Norak[1]!"
"Pokoknya yang ini pasti tokcer."
"Apaan, emang?"
"Tuh.kan, jadi mau tahu. Kang Randi yang ngasih tahu."
Galuh menoleh pada Randi yang tengah mematikan rokoknya di asbak.
"Tadi saya ketemu Tia dan Wina di Pakar. Terus mereka meminjam sketsa yang saya bikin di sana. Saya minta Dipa mengambilnya.'
"Waah.boleh juga. Kapan kamu ke tempat Wina?"
"ASAP[2]! Pasti mau ikut!?"
"Jangkrik! Aku takut keduanya malah naksir aku."
"Hahaha.langkahi dulu mayat gajah!"
"Galuh kan bisa sama Tia." Randi berusaha memberi solusi seperti tadi diceritakan Dipa," kalau kalian keukeuh mengejar gadis yang sama, repot atuh. Saya pikir keduanya juga sama-sama bening."
"Memang.." Kata Galuh yang tiba-tiba setengah melamun. Pikirannya mencari-cari data wajah kedua gadis itu di memorinya.
"Ah, kamu kan nyari tipe yang setia," kata Dipa sambil melirik gelas punya Galuh yang masih terisi setengah.
"Terus?"
"Pacarin aja pintu! Pintu kan selalu setia menantimu."
"Dasar ulat bulu!"
Randi tertawa ngakak. "Sebenarnya ada satu acara lain yang bisa kalian jadikan acara pedekate lagi."
"O, ya? Acara apaan?"
"Akhir bulan, mereka mau nganter saya ke Kampung Naga Tasik,"Randi melihat ke arah Galuh."Luh, minggu besok ngga ada acara? Kamu yang nyetir, ya, SIM saya sudah lama kadaluarsa."
"Untuk bareng sama Wina dan Tia, ada acara apapun akhir bulan ini akan saya batalkan, kecuali membunuh ulat bulu yang satu ini." Galuh menunjuk Dipa. Dipa nyengir, lalu garuk-garuk kepala.
"Luh, Tia dan Wina itu dua wanita yang berbeda. Kalau aku mati, salah satu atau keduanya akan sangat berduka. Tia akan menyumpahimu jadi cacing sedang Wina mengutukmu jadi jomlo[3]! Udah jadi cacing, jomlo lagi!"
"Hahaha.."
"Usai dari Tasik, aku mau ke Kuningan, nengok bibi. Kalian balik lagi aja ke Bandung. Saya pake bis dari Tasik. Kalian kan jadi asyik, double couple."
"Siip, lah!"
"Perlu kiat sukses menggaet wanita?" Randi iseng bertanya.
"Barangsiapa mengajari saya satu huruf, maka saya akan menyebutnya Suhu!"
"Hahaha.."
"Cara kalian yang bicara ngawur, konyol tapi lucu, asal terkontrol sudah jadi modal buat menggaet wanita."
"Lho? Apa iya? Itu saja.?" Galuh seperti tidak yakin.
"Ya, itu saja. Bahasa bagusnya, buatlah mereka bahagia. Kalau perlu, coba berlagak tolol di depan wanita. Membuat mereka geli. Ada tipe wanita yang suka cowo keliatan stu." Randi meniru istilah Dipa.
"Wah kalau tampang stu.tanpa pura-pura juga, si Dipa udah dari sononya begitu."
"Ssst.jangan pernah memotong ucapan Suhu, kualat!"
"Selain tampang bloon, pasang juga tampang baik hati, supaya mereka merasa nyaman. Terus, yang pokok, ketemu wanita yang kamu suka, tanyalah.apa saja. Jangan dibiarkan kesempatan lewat begitu saja. Paling tidak, bila ditolak, kamu sudah melakukan apa kata hatimu. Itu yang penting. Ketemu gadis yang kamu taksir, jangan berpikir, tanya saja, ajak ngobrol, apa saja."
"Hahaha.kalau itu saja sih, dari dulu bisa gaet puluhan wanita." Galuh merasa mudah melakukannya, padahal ia dulu bikin ribut di kelas bersama Dipa karena ingin menarik perhatian gadis-gadis, tapi sayang respon mereka negatif, karena cara itu malah bikin mereka sebal. Cara kedua cowo norak ini memang sering over dosis! Sebenarnya, mereka tidak pernah bisa memulai mengajak gadis incaran mereka untuk sekedar ngobrol. Belum apa-apa mereka sudah diserbu rasa deg-degan! Ya, ketika perasaan cinta menguasai, nyali jadi sering sekecil ikan teri.
"Cobalah. Tidak tokcer, uang kembali, tapi bayar dulu!"
"Hehehe.."Galuh tertawa tapi terhenti tiba-tiba ketika ia lihat tangan Dipa meraih gelas minumannya dengan mereguknya isinya. Galuh menyeringai dengan geram sepenuh hati!
.......................


[1] Mohon maaf pada yang memiliki singkatan yang mirip, kesamaaan singkatan hanya kebetulan saja.
[2] As Soon As Possible
[3] Basa gaul Bandung: tidak laku atau tidak punya pacar dalam waktu yang relatif lama.


bab 6 - Seribu Cerita di Sauna

Sauna milik keluarga kakak Ilona terletak beberapa meter di belakang rumah agak dekat ke danau Pyhajärvi. Bangunan seperti pondok yang seluruhnya terbuat dari bilah kayu birch dengan cerobong asap di salah satu dinding.
Ilona dan Hendra masuk ke ruang ganti. Hendra agak ragu untuk ikut masuk, karena sebelah kanan ruang ganti terdapat kamar mandi berbentuk shower yang terbungkus kotak kaca transparan dengan pintu geser. Ia merasa jengah, lalu masuk ke sauna di sebelah kiri. Ia lihat ruangan empat persegi panjang dengan seluruhnya dari kayu birch yang berwarna krem cerah dilengkapi dengan bangku panjang dua tingkat berbentuk L, di salah satu dinding terdapat tungku perapian.
"Hei.masuk sauna harus telanjang!"
Hendra menoleh ke arah suara dan kaget ketika Ilona tengah membuka pakaian dengan cueknya. Ia mengajak Hendra masuk ruang ganti.
"Buka pakaianmu." Pinta Ilona ketika ia usai melepas seluruh bajunya luarnya. Di tangan Ilona tergenggam botol Lapin Kulta yang kemudian dia reguk langsung lalu menyerahkannya pada Hendra. Ilona dengan enteng dan tanpa merasa kikuk lalu membuka seluruh kain yang tersisa di tubuhnya. Hendra kaget bukan main! Dalam keadaan telanjang, Ilona melenggang masuk ke shower. Hendra berusaha menghindarkan pandangannya dari kotak kaca itu. Sementara Ilona bernyanyi kecil di tengah guyuran air. Beberapa menit kemudian, Ilona keluar mengambil salah satu handuk yang terlipat di tempatnya. Sementara Hendra dengan perasaan tak menentu berpura-pura memperhatikan serat kayu birch yang dipakai rak botol yang digantung di samping rak handuk.
"Sekarang, giliran kamu mandi, saya menyiapkan sauna. Ayo minum, sauna bikin kita haus."
Ilona masuk ke ruang sauna untuk menyalakan kayu bakar di dalam tungku. Beberapa menit kemudian udara di ruangan terasa mulai hangat. Dengan kedua kaki terbuka lebar, Ilona duduk di bangku kayu beralaskan handuk kecil.
Di shower, sambil membiarkan air menyiram kepala dan badannya, Hendra kebingungan. Usai mandi, Hendra mengenakan kembali celana dalamnya di ruang ganti. Ia berlama-lama di ruang ganti, mencoba membayangkan prosesi di sauna. Ia harus berada berdua dengan Ilona yang telanjang? Ya ampun.!
"Hendraa.cepat ke sini!"
Dengan perasaan masih diliputi bingung tapi juga kepala dipenuhi keingintahuan, Hendra masuk ruang sauna. Melihat-lihat sekeliling lalu memperhatikan tungku berisi kayu bakar dan perlengkapan sauna lainnya seperti batu seukuran kepala dengan lekukan di tengahnya dan bak berisi air dan seonggok daun birch. Uap mulai terasa menyentuh tubuhnya. Ia meletakkan handuk kecil di atas bangku dan duduk di atasnya, meniru Ilona. Duduk menyamping. Kesan canggung tampak sekali dari wajahnya yang mulai merasakan hangatnya uap. Ilona tersenyum menatap Hendra, lalu dengan santainya ia membuka lebar kedua kakinya persis di depan Hendra.
"Ayo, buka saja semuanya. Lebih enak dalam keadaan telanjang."
"Ngga..." suara Hendra putus. Ia lagi berpikir mengapa ia merasa malu sementara Ilona cuek-cuek saja dengan ketelanjangannya?
"Ayo." Ilona mendekat dan berdiri di depan Hendra yang duduk di bangku paling atas, lalu memegang bagian atas celana dalam Hendra lalu menariknya ke bawah sampai ke lutut. Hendra terpana dengan apa yang dilakukan Ilona. Tapi lebih terpana lagi pada tubuh dan payudara Ilona yang berdiri di depannya! Jantungnya berdenyut lebih kencang. Ia ingin menutupi juniornya. Tapi ketika secara reflek matanya menatap dada dan pangkal paha Ilona, niat untuk menutupi alat vitalnya ia urungkan. Bila Ilona tidak merasa malu atau canggung telanjang di depannya, kenapa pula ia harus malu atau canggung? Ia meluruskan kedua kakinya membiarkan Ilona melorotkan celana dalamnya sampai ujung jari kaki lalu menyimpannya di tepi bangku. Gila! Dia dan Ilona tiba-tiba saja telanjang di sebuah ruangan! Ia lihat Ilona begitu wajar dengan ketelanjangannya. Tidak tampak grogi atau malu. Ia malah seperti dengan sengaja memamerkan keindahan lekuk liku tubuhnya yang memang indah. Tiba-tiba saja ia iri
pada
Ilona, karena dengan merapatkan kedua paha, alat vital Ilona otomatis tersembunyi, hanya menyisakan sedikit miniatur rumput liar.
Melihat Hendra tampak grogi, Ilona tersenyum lalu beranjak ke ruang ganti dan sejurus kemudian kembali dengan Lapin Kulta di tangan. "Ayo minum, biar lebih rileks."
Hendra menolak. "No, thank you, I'll be fine." Tapi udara panas di ruangan membuatnya haus. Ia mencari minuman lain, dapat, tapi apa ini? Ia mencicipinya sedikit, pahit. Sepertinya bir juga. Ia hanya berharap apa yang dikatakan Ilona tadi benar, dengan minum, ia akan lebih rileks dengan ketelanjangannya di depan seorang gadis yang juga telanjang. Tapi ia tidak yakin untuk minum. Ia takut minum akan mengurangi atau malah menghilangkan kesadarannya. Akhirnya ia mengambil Jaffa, minuman soda, sekedar membuat perhatiannya tidak melulu pada tubuh Ilona. Hendra butuh kesadaran penuh untuk menguasai dirinya, lebih-lebih di situasi seperti ini. Ilona mengambil botol dan meminumnya lagi dan lagi. Lalu bangkit ke arah tungku. Menuangkan sebagian isi botol ke atas batu di atas tungku, menghasilkan uap löyly yang kali ini dengan aroma khas menyebar di ruangan.
Ilona kembali duduk di bangku bagian bawah di depan Hendra, badannya disandarkan pada bangku sebelah atas, menjulurkan kakinya, matanya terpejam. Tangannya mengipas-ngipaskan daun birch. Menikmati uap panas yang mengelus tubuhnya, membuka pori-pori di seluruh bagian tubuhnya dan mengeluarkan kotoran badan dalam bentuk keringat.
Pengaruh bir yang memang berkadar alkohol tinggi mulai tampak pada Ilona, ia lebih rileks, telentang dengan kaki dijejakkan pada dinding. Hendra membuang pandangan dari Ilona, ia menatap dinding lain, lalu memejamkan mata, mencoba melupakan Ilona yang telanjang dengan nyamannya di bangku atas. Tapi segera ia buka kembali matanya. Dengan mata tertutup, pikiran malah dengan segara membayangkanan sosok Ilona. Gila! Menutup mata malah mempertajam apa yang tidak ingin ia lihat! Haha..ia jadi tahu, kenapa ketika Dewi meninggalkannya dulu, ia susah tidur, karena ketika matanya ia pejamkan, gambar Dewi muncul. Segala sesuatu ternyata tidak diatur pikiran. Indra membantu membuat pikiran bekerja atau tidak. Selama pikiran tidak terkonsentrasi dan tidak ada gerakan tubuh untuk melakukan apa yang dipikirkan, selama itu pula badan diam. Indra sering mememberi impuls pada otak hal-hal yang tidak diterima indra. Seperti bayangan tentang sesuatu atau seseorang, malah hadir jelas ketika mata
dipej
amkan! Pikiran sepertinya punya mata sendiri!
Agar pikiran sibuk, Hendra biarkan matanya terbuka meskipun ia yang ia tatap hanya dinding kayu yang lalu ia coba lihat detailnya, garis-garis serat halus yang memanjang horisontal. Hendra dengan susah payah mengatur pikirannya agar tidak menjurus pada keinginan untuk melihat Ilona dari sisi erotis, meskipun objeknya persis di samping dia. Ia harus bisa merasa tidak canggung. Bila Ilona bisa, masa ia tidak? Ah, melihat juga sepertinya tidak apa-apa selama tidak menikmati objek yang dilihatnya, menatap lama-lama dengan sepenuh perasaan!
"Boleh nanya?" Hendra menatap wajah Ilona, matanya masih terpejam.
"Apa?" Ilona membuka matanya.
"Kamu biasa ke sauna naked?"
"Orang sini ke sauna naked."
"Dengan orang lain?"
"Resminya kita begitu kalau dengan keluarga. Tapi aku begitu waktu masih kecil saja. Di tempat sauna publik, laki-laki dan perempuan di pisah. Kalaupun di gabung, biasanya mereka memakai swimsuit. Tempat ini favoritku sejak kecil, kalau liburan aku tinggal di sini."
"Eh, kamu kok telanjang? Padahal aku kan bukan keluarga."
"Sengaja, biar kamu juga telanjang. Dan supaya uap sauna masuk ke semua pori-porimu. Lalu, aku juga ingin lihat kulit coklatmu. Indah." Cuma kulit?
"Bukan untuk membuat kita saling terangsang?" Hendra mencoba blak-blakan.
"Sebagian.hahah." Ilona membuka kedua pahanya lalu dirapatkan kembali. Hendra mendekat. Menyentuh telapak kaki Ilona yang langsung berteriak menahan geli.
"Kulitku sudah coklat dari sananya, nanti sering sauna jadi gosong."
"Haha.ngga kok, sauna tidak berpengaruh pada warna kulit. Sauna untuk refreshing. Kami punya peribahasa untuk itu, If sauna, liquor and tar don't help, your condition's fatal. Orang tua bilang, masuk sauna harus seperti masuk gereja, harus khidmat, beserta aturan lain seperti layaknya masuk ruang sakral. Hahah."
"Hahahaha." Hendra jadi ingat tulisan di brosur wisata tentang sauna yang ia dapat ketika jalan-jalan bersama Gitta dulu di Esplanadi. Mereka mampir ke tourist office, Gitta mengambil berbagai macam brosur dan menjejalkannya pada ransel Hendra. "Jangan lupa, kamu harus rajin ke sauna, ya!" katanya waktu itu. Kata statistik, di Finlandia terdapat 1,7 juta sauna. Penduduk Finlandia 5,1 juta, berarti satu sauna untuk tiga orang.
Sekarang Hendra dengan leluasa bisa melihat ketelanjangan Ilona dan dirinya dengan biasa saja. Aneh! Dulu ia pikir dengan melihat wanita telanjang akan segera terangsang dan membuat juniornya ereksi. Tapi ternyata tidak. Ia yakin dirinya normal, mungkin karena tanpa bersentuhan atau Ilona sendiri tidak melakukan gerakan sensual yang akan membangkitkan listrik diantara keduanya. Atau karena pikiran tidak terkonsentrasi ke hal-hal erotis meski matanya dapat dengan leluasa menikmati ketelanjangan gadis itu.
............

Mj

http://geocities.com/mangjamal

Labels:






About This Strikingly Handsome Writer:


Adhitya Mulya adalah Dewa Ganteng yang tinggal di kahyangan bersama 100 dayang-dayang. Dia menghabiskan waktunya turun ke bumi untuk bertemu dengan rakyat jelata dan berburu menjangan dan babi hutan... (or is it, berburu rakyat jelata dan bertemu dengan babi hutan? anyways, same thing). Oh ya, sesekali dia menulis buku komedi.

Contact:

adhitya_mulya@hotmail.com

10 Recent Entries

  • Troy, The Movie
  • Request Lagu
  • Book Review Jomblo by Adhitya Mulya
  • We're Moving in
  • Madam Pulibale
  • And THEY, were The Gods
  • Dear Dad,
  • Lost In Translation
  • Back From Wedding
  • Things NOT To Do, In Abidjan

  • orang telah melihat kegantengan gua yang legendaris itu.




    Get Firefox!

    Pictures




    Links

    Ninit ; Aan ; Agung ; Aip ; Alaya ; Avianto ; Aris ; Atta ; Detta ; Ewink ; Enda ; Erly ; Fairy ; Fanny ; Ganda ; Hagi ; Hanzky ; Isman ; Ita Leyla ; Ni'ang ; Ndari ; Nita ; Pip ; Okke ; Roi ; Ruri ; Shinta ; Tyaz ; Udhien ; Umar; Adi ; Afo ; Alaya ; Alfa ; Ale ; Alvons ; Aiff ; Andhi ; Andin ; Andin ; Anggie ; Anto ; Aprian ; arb3i ; Ari ; Arma ; Arif ; Ayu ; Axlandra ; Bantot ; Be-Es ; Beranda ; Bintang ; Bios ; Blub ; Brandy ; Buzz ; Cay ; CB ; Celia ; C'est la Vie ; Civent ; Claustrophobic ; Comel ; Comel ; Crey ; Dagungsta ; Dayat ; Deksay ; Dian ; Dican ; Didi ; Didiet ; Diki ; Dini ; Dion ; Disposable Hero ; Drey ; Duwie ; Dwi ; Dyah ; Ekodox ; Emil ; Ephe ; Eric ; Erika ; Erwin ; Eve ; Eyi ; Farid N ; Farid ; Finalizabeth ; Fitri ; Flow ; Flow ; Fresh ; Gajah Duduk ; Gauz ; goblog ; grE3nY' PrinceZz ; Guido ; Grizz ; Harris ; Harris ; Harris ; Heri ; Herlyanti ; Hero ; Ibiza ; Ika ; Ilsa ; Inex ; Inna ; Ipan ; Irene ; Irene ; Iris ; Isnaini ; Koebiz ; Kun ; Lacsar ; Lemans ; Lilik ; Lindie ; Little Mermaid ; Lontar ; Matz ; Memey ; Merkurius ; Morningdew ; N[a] ; Nasgor ; Neen ; Neenoy ; Nice green ; Nisa ; Nita+Agus ; Nono ; Novie ; Nukov ; Nunik ; Ochan ; Ollie ; Paylo ; Pipit ; Prazz ; Prianca ; QQ ; Radith ; Rapa ; Reena ; Ren ; Ria ; Richoz ; Ridwan Fauzi ; Rihsa ; Riena ; Rita ; Sapi ; Sasha ; Sazi ; Seggaf ; ; ; ; Snydez ; StormyMonday ; Supta ; Sweeney ; Sylvie ; Tamtam ; Tari ; Toet ; Trippin' D ; Tutup Botol ; t.w. ; Ty ; Tyaz ; Tychan ; Umar ; Un^Goe ; Vanda ; Vanya ; Viga ; Vellas ; Weedee ; Yudha ; visit rice bowl journals !