Kedua dari Anjar First off, wld like to apologies because gue gak bisa attend comment di postingan sebelumnya. gue lagi sibuk banget, sumpeh lo. Anyways, ada bingkisan dari komunitas buku untuk komunitas blogger di bawah ini. Most likely u'll enjoy it! Grasindo lagi hoki akhir-akhir ini. Kemaren baru kita liat mang Jamal menerbitkan novel keduanya dan mendapat raving reviews from his readers. Sekarang, di waktu yang hampir bertepatan, salah teman kami juga menerbitkan buku keduanya. Setelah sukses dengan 'Beraja' (Grasindo - 2003), Anjar kembali dengan 'Kidung'. Do not miss this novel! and this is ME talking. Preview bab satu dapat dibaca di bawah. Untuk Teh Anjar, maaf kalo ada salah-salah kata atau gimana sama itu fotonya kemaren saya coba kecilin tapi kekecilan huahahah. Oh ya, kalo suka sama bukunya dari dulu atau emang fans, imelin aja ke gua ntar gua kasih tau imelnya dia. Segitu dulu aja, I'm off to the beach for the weekend. Have a nice weekend y'allCuplikan Kidung Warung Pecel Lele, Pasar Simpang, 28 Februari 1994 “Kamu tuh unik, Glen,” ujarku memulai pembicaraan, “Dan, katamu aku nyentrik.” Glenna terus menyuapkan pecel lelenya. Sesekali mulutnya menguap-nguap karena sambelnya yang pedas. Seteguk air Teh ia minum buat mengurangi kepedasannya. “Gimana kalo yang unik dan nyentrik ini dijadiin satu aja. Kayaknya bagus deh.”“Hah....?????” Mata bagus Glenna langsung melotot. Hampir saja ia menjatuhkan piring nasi. Aku cuma bisa menahan ketawa. “Kamu teh ngomong naon (apa) sih?” “Nembak kamu.” Glenna memandangku tak percaya. Dia seperti mencari-cari kebenaran atas apa yang barusan aku bilang. Ia mengkibas-kibaskan tangannya di depan wajahku seolah menyadarkan orang. Aku tetap bergeming. “Kamu nih nembak kok kayak nggak niat gitu sih?” “Dengan segala ketulusan hati, Glenna Riva. Aku niat.” Kali ini Glen mati kutu. Dia diam. Gaya makannya yang cepat itu mendadak sangat lamban. Pelan-pelan nasi tanpa diselipi sambal dan cuilan ikan lele, ia masukkan ke mulut. Nampaknya Glen sembari berpikir. “Kamu yang membuatku seperti tidak niat, Glenna,” kuberanikan diri menggenggam tangan kiri Glen yang ada di atas pahanya. “Aku yakin, kamu juga nggak akan percaya kalau dari awal pertemanan kita, sejak itulah aku ngecengin kamu.” Lagi-lagi tanpa komentar. “Ngecengin kamu, benar-benar enjoy. Tanpa beban. Aku sungguh-sungguh menikmati. Baik aku maupun kamu bisa manunjukkan siapa diri kita masing-masing. Nggak perlu bersandiwara.” Kalimat panjang itu keluar begitu saja. Ah, mungkin karena kekagumanku sekian lama padanya.... Glen menatapku. Kali ini tatapannya teduh. Sama seperti saat ia menyuapkan makanan ketika aku sakit tempo hari. Aku juga merasa tertantang untuk memandangnya sedemikian rupa. Beberapa detik kami saling bertatapan. Sampai akhirnya Glen kembali menyuapkan makanan. Kali ini gaya makannya sudah kembali seperti semula. Nggak lamban. “Aku nggak secantik Shifa, Jik.” Aku kaget. “Wah, gosip kampus sudah sampai ke telingamu juga?” Glen mengangguk pelan. “Aku cuma dua kali dengar. Itu juga nggak sengaja.” Kepalaku menggeleng-geleng. Siapa nih biang gosip. Kok ya urusan dalam negeri bisa merembes ke telinganya? “Shifa memang cantik. Banyak yang suka sama dia. Aku dekat dengannya sejak penataran P4. Tapi, sebatas itu saja. Nggak lebih. Perasaanku padanya biasa-biasa saja. Beda dengan kamu. Kamu bisa membuat perasaanku jadi luar biasa meskipun seringkali keras kepala kamu melebihi batu.” Aku tergelak. Glen ikut tersenyum lebar. Ia menyudahi makan malamnya. Tangannya dibersihkan dengan air yang ada di kobokan yang tersedia. Dihabiskan pula sisa air minumnya. Sementara aku, sebelum nembak tadi telah menghabiskan satu porsi nasi soto ayam. Aku nggak terlalu suka pecel lele. “Kalo gitu.... Gimana dengan Kei?” tanya Glen tiba-tiba. “Kenapa dengan Kei?” “Kamu nggak cemburu lagi dengan dia?” “Nggak.” “Biarpun aku sama dia sering jalan berdua?” “Nggak.” “Biarpun dia sering maen ke rumah?” “Nggak.” “Biarpun dia sering ke Jatinangor, jemput aku?” “Hah?!” Rada panas kupingku barusan. Spontan aku seperti orang tak percaya. “Hahaha.... Tu kan.... Kamu masih cemburu sama si Jepang itu!!!” Glen tertawa ngakak. Nampaknya dia senang bisa mengerjaiku. Tapi, buru-buru ia menerangkan kondisi sebenarnya. Dan, aku sangat percaya padanya. Amat sangat percaya. Nggak lama setelah itu, Glen menerima penembakanku yang jauh dari romantis itu. Glenna Riva telah resmi menjadi ratu hatiku yang amat kujaga. Persemaian yang kian hari kian subur itu memberi arti lebih dalam sejarah hidupku. Betapa kunikmati dan kusyukuri setiap kali mendapati keindahan hadir serta memancar terang dalam diri perempuan gagah perkasa itu. Terkadang Glen memang terlihat gagah perkasa. Lebih gagah daripada aku. Dengan potongan rambut dan gaya berpakaian yang nyaris jauh dari rok atau pakaian layaknya seorang perempuan, seringkali orang salah memanggilnya dengan embel-embel Mas. Kalau sudah begini, aku cuma bisa tergelak. Tak ada niatku untuk mengubah Glen menjadi yang kata orang, yang seharusnya kodrat seorang perempuan. Dengan apa yang ada sekarang, Glen sudah menampilkan keperempuanan, apa adanya. Keluarga di Lampung juga telah tahu hubunganku dengan Glen. Pada dasarnya mereka setuju meskipun mereka pernah mempertanyakan soal perbedaan diantara kami. Terus terang, aku nggak ambil perduli soal ini. Baik aku maupun Glen sejak awal sudah berjanji untuk tidak mengusik apalagi saling mempengaruhi. Kami akan saling menghormati. Walaupun kami merasa hubungan ini adalah hubungan sangat serius, namun untuk urusan ke depan, kami percaya alam dan yang di Atas akan menuntun kami. Perbedaan kami bukan halangan buat meneruskan hubungan ini. Toh, justru karena kami kebetulan berbeda itulah kini kami bersatu. Hari-hari pun dijalani dengan amat menyenangkan. Termasuk ketika aku lulus dan mendapat pekerjaan di Jakarta. Glenna yang waktu itu baru saja menyelesaikan masalah draft skripsinya yang bermasalah, merelakan aku bekerja di Jakarta. Sebenarnya aku nggak tega meninggalkan dia sendirian menyelesaikan skripsinya. Apalagi kalau sampai bermasalah lagi seperti draft sebelumnya. Ratu hatiku itu pasti akan lebih down. Kerja kerasnya seperti sia-sia. Namun, Glen berhasil meyakinkanku. Meyakinkan atas skirpsinya yang pasti akan berhasil dan menyakinkanku atas bakal pekerjaanku yang nggak boleh disia-siakan. “Itu konsultan hukum ternama, Jik. Sayang banget banget kalo panggilan kerjanya kamu sia-siakan. Ada banyak orang yang ngiler pengen kerja di sana.” “Tapi, mereka lebih sering dapat order dari pemerintah atau para pejabat yang jelas-jelas bermasalah.” “Justru itulah tantangannya, Jik. Apakah kamu akan bekerja pakai otak, hati atau keduanya?” Semangat dari Glen itulah yang kemudian menghantarkanku bekerja di sini, di sebuah konsultan hukum dari seorang kuasa hukum ternama di negeri ini. Harus kuakui, aku belajar banyak atas apa yang aku lalui selama di sini. Sementara Glen, setelah lulus dengan baik dari kuliahnya, lebih memilih tinggal di Bandung. Dari zaman masih kuliah, dia memang tertarik bisnis tanaman. Ia sangat rajin mengembangbiakkan berbagai jenis tanaman terutama tanaman bunga. Rumah yang sekarang ia tinggali, sebagian tanahnya ia isi dengan berbagai jenis tanaman termasuk “pohon cinta” kami. “Pohon cinta” itu menjadi kebanggaan tersendiri bagiku. Telah beberapa kali panen yang memuaskan. Hasil pengembangbiakkan tanaman ini telah bisa menghidupinya. Seminggu dua kali, Glen juga memberi les menyanyi di sebuah sekolah musik dan menjadi guru privat pelajaran sekolah. Pokoknya Glenna Riva yang amat kucintai itu kini telah menjadi perempuan mandiri. O ya, karena hobi bercocok tanam itu pula, Glenna berbisnis dengan Kei. Mereka berbisnis sayur mayur. Menurut yang aku dengar, selepas kuliah awalnya Kei coba-coba berbisnis sayur dengan seorang sepupunya. Karena ternyata cukup menguntungkan, Glen tertarik dan ikut menanamkan modal. Sekarang usaha itu bukan lagi cukup menguntungkan, tapi sudah sangat berkembang. Usaha Kei yang semula kecil-kecilan sekarang sudah berbentuk Perseroan Terbatas. Akta pendirian PT itu aku yang mengusahakan via seorang Notaris, teman kuliahku. Meski yang kudengar, pengelolaan sehari-hari masih Kei juga yang repot, tapi itu tidak menghalangi laju perkembangan usaha mereka. Dan, karena bisnis itulah yang kemudian hari menjadikan hubungan Kei dan Glen semakin dekat. Mereka lebih sering bertemu, berdiskusi bahkan turun ke lapangan bersama. Dari segala laporan Glen selama ini, kedekatan mereka memang tidak dapat dihindari. Terlebih dengan kondisi aku dan Glen yang terbatas jarak begini. Sekali lagi, aku tetap percaya pada Glen. Tetap percaya pada komitmen yang telah kami pegang bersama sekian lama. (“Kidung, senandung cinta untukku”, halaman 25-31, Grasindo 2004) “Perempuan bagiku adalah: hidup. Saat hidup kurang bermakna, mereka memberi warna warni yang tak kudapat di tempat lain. Hidupku jadi hijau, biru, merah, hitam, kuning, jingga, coklat…” (Andy Rahadian P) Aku tertawa terbahak-bahak ketika kudapati e-mail dari Kei hari ini. Si Juragan Sayur satu itu ternyata sedang kesulitan mengurus segala yang berbau administrasi. Menghitung segala bentuk pendapatan, pengeluaran, pajak, gaji pekerja dan sebagainya. Biasalah, jelang awal bulan begini, dia memang diharuskan konsentrasi untuk urusan satu itu. Padahal sudah sejak lama kuanjurkan agar ia mengambil seorang sekretaris atau orang yang cakap di bidang administrasi. Maksudnya sih supaya mengurangi kepusingannya tiap kali akhir bulan, mengurus tetek bengek itu sehingga dia bisa konsentrasi di lapangan. Tapi, jawabannya selalu sama: “Kalo lu mau nambah modal ke gua, gua ambil deh sepuluh sekretaris buat ngurusin hal yang musingin gua tiap bulannya ini.” Jawaban aneh karena bagaimana mungkin aku menambah modal dari yang sudah kuinvestasikan kepadanya hanya buat nambah pegawai administrasi? Padahal sebagai tukang sayur, begitu aku dan teman-teman menyebut pekerjaannya, Kei pastilah mampu membayar satu saja sekretaris. Nggak usah sepuluh. Tapi, itulah Kei. Kalau ada duit atau modal tambahan lain, dia lebih memilih ditanamkan buat bisnis sayur mayurnya. Makanya dia nggak mau nerima saran banyak orang, nggak cuma aku saja, buat nambah pegawai administrasi. Kei lebih memilih dia sendiri yang ngurus meskipun ujung-ujungnya ya seperti di e-mail barusan. misuh-misuh nggak jelas. “Lu aja deh yang jadi sekretaris gua. Itung-itung menghemat. Kan gaji lu ya deviden modal lu.” “Huuuu.... Lu enak, gua rugi.” “Lha daripada deviden lu telat terus gua masukin ke bank dan lu jadi tempat gua marah-marah?” “Gua lebih milih itu.” “Payah nih. Kagak setia kawan.” “Eh, kawan sih kawan. Bisnis mah still bisnis, man!” Itu debat kusir kami beberapa waktu lalu ketika Kei pertama bercerita tentang kesulitan yang lama-lama dia rasakan. Kalau sudah begini biasanya akan ada “perang” diantara kami. Kei yang sebenarnya ngambek, tapi masih berusaha merayu, nggak akan ragu-ragu melancarkan serangan mautnya, menggoda dikit-dikit, mengilikitik lalu bakal terjadi kejar-kejaran karena aku pasti tidak mau menerima dengan mudah segala rayuannya itu. Tinggal orang di sekeliling kami saja yang hanya bisa memandang heran. Sudah sebesar ini masih seperti anak-anak. Who cares?! Ngomong-ngomong soal kejar-kejaran... hmm.... Aku melongok ke luar jendela. Di dekat pagar masuk, dua tanaman setelahnya ada tanaman mangga bangkok sedang menonjolkan buahnya yang sedang kubungkus dengan kertas koran supaya lekas besar dan matang. Pohon mangga itu menyimpan cerita sendiri. Waktu itu dalam rangka lima tahun hubunganku dan Jik, kami berniat membeli sebuah tanaman sebagai lambang cinta kami yang hingga lima tahun tetap subur bersemi. Tadinya aku ngotot pengen beli tanaman bunga. Aku memang paling senang bunga. Tapi, Jik nggak kalah ngotot. Dia bilang, kalau tanaman bunga, cuma aku sendiri yang bisa menikmati sementara dia nggak. Setelah melalui adu argumentasi, aku mengalah. Kali ini menyenangkan kekasih hati, nggak ada salahnya, toh? Setelah berkeliling mencari, kami mendapati pohon itu di sebuah rumah penangkaran pohon buah-buahan di derah Lembang. Lalu, dibelilah tanaman mangga bangkok cengkir itu. “Setelah enam bulan, bakal menghasilkan buahnya, Neng,” begitu janji sang penjualnya. “Asal dirawat dengan baek. Jangan lupa disiram dan dipupukin.” Oleh karena Jik di Jakarta sementara aku masih di Bandung maka kesepakatan kedua adalah aku yang merawatnya. Aku sih tidak keberatan. Aku kan suka tanaman meski lebih memilih tanaman bunga. No problem. Enam bulan kemudian, buah mangga yang dijanjikan penjualnya akan membuahkan hasil itu ternyata benar berbuah. Cuma 3 biji, tapi cukup membikin Jik bergirang hati. Dia bela-belain minta cuti sehari hanya buat menikmati buah mangga itu. Saat kuiriskan mangga hasil dari “pohon cinta kami”, begitu Jik mengistilahkan, Jik benar-benar begitu menikmati iris demi iris. Bahkan dia nggak peduli ketika ada kliennya yang mendadak menelepon ke ponselnya memintanya untuk segera kembali ke Jakarta. Pokoknya hari itu adalah harinya untuk sang mangga yang ternyata manis serta gurih. Nyam..., nyam.... Seminggu kemudian, lewat jasa kurir, aku mendapat hadiah dari Jik. Hadiah yang membuatku geleng-geleng kepala. Ada tiga buah tanaman buah-buahan, jeruk garut, belimbing manis serta sawo kecik yang katanya “dititipkan” agar kurawat sehingga menghasilkan. Sempat kuajukan protes. Memelihara pohon buah bangkok harus lebih telaten ketimbang tanaman lain. Padahal tanaman di rumahku ini sudah begitu banyaknya. Namun, sekali lagi rayuan Jik memang paling mujarab, dia satu-satunya orang yang berhasil menjadikan keinginannya aku penuhi. Biar dengan segala persyaratan supaya ia juga mau terlibat, tanaman “titipan” Jik itu sudah beberapa kali panen. Yang terakhir, baru seminggu lalu panen. Hanya pohon sawo kecik saja yang sulit kukembang biakkan. Entah kenapa. Mungkin jenis tanahnya nggak bisa kompak dengan tanah atau udara di sini. Jik sempat menyesal, tapi mau dibagaimanakan lagi? Senyum memadati bibirku. Aku beranjak dari tempat duduk lalu keluar menuju tempat pohon-pohon itu berada. Ke tempat pohon mangga bangkok penuh kenangan itu berdiri, kakiku menghampiri. Kubelai daun dan buah-buah yang sedang kuperam. “Kamu itu belai daun kok lebih mesra daripada belai aku sih, Glen?” protes Jik saat melihat aku begitu serius membelai daun-daun pepohonan yang ada. “Ooo..., jadi kamu mau disamain dengan daun-daun yang kadang berulet itu?” sanggahku separo bergurau. “Oalah, Glen. Masa kekasih hatimu yang ganteng ini disamain ulet. Lha kalo aku ulet, kamu apanya?” “Ya aku kekasih hatinya sang ulet dong. Siapa lagi?” Jik cuma senyam senyum saja. Nggak lama, dia pasti akan menjitak lalu mengacak-acak rambutku. Akh. Mendadak aku kangen Jik. Kusentuh kepalaku yang lama tidak ia usap dengan kasih cintanya itu. Apa kabar pangeran jiwaku yang hingga kini tak bisa memudarkan rasa hatiku itu? (“Kidung, senandung cinta untukku”, halaman 45-49, Grasindo 2004) “Alam bagiku adalah: Alam bagiku adalah keindahan, sumber inspirasi, realitas dan tempat eksistensi” (Indra Herryantho) Pasar Andir 2002 Jumat malam, 23.27 Kei asyik memilah kangkung darat yang baru saja datang setelah ia pesan sore tadi. Di Pasar ini, ia tidak pernah takut bergaul dengan para pedagang dan buruh pasar. Meski mereka terlihat lebih lusuh dan kotor darinya, tanpa sungkan ia berbaur bersama mereka. Tanpa ragu. Tertawa dan bercanda khas orang-orang pasar ini menjadi makanan keseharian yang kadang-kadang justru Kei rindukan. “Aku punya cerita,” sela Kei tiba-tiba, “Ada orang sumbing lagi belajar alat-alat gamelan. Ini apa? Kecapi, kata orang sumbing itu. Yang ini? Gong. Kalo yang ini? Orang itu diam sambil memandang nggak senang yang nanya. Itu ngahina aing (menghina saya), gitu katanya.” “Emang yang ditunjuk apa, Gan?” tanya salah satu pedagang yang ikut nongkrong di situ. “Yang ditunjuk mah seruling. Tapi, kan karena dia sumbing jadi ngomongnya, suing haha…” Kei tertawa ngakak diikuti yang lain. (suing = sumbing) “Kang Gan mah aya-aya wae…” “Saya juga punya, Kang.” Tiba-tiba Ujang menerjang. Salah satu karyawan kesayangan Kei ini dengan yakin ikut menceritakan jokenya. “Ada orang cedal mau beli nasi goreng. Nasi goyeng satu, Bu. Ibu penjual bingung. Dia bilang nggak jual nasi goyeng. Si orang cedal itu ngotot. Ibu penjual juga ngotot. Akhirnya si cedal pulang. Di rumah, dia ngadu ke istrinya. Lalu sang istri mengajarkan ngomong nasi goreng yang benar. Seminggu kemudian, si cedal datang lagi ke penjual nasi. Dia bilang, nasi goreng spesial pake telor dengan lafal benar. Ibu penjual pun buatin pesanannya itu. Waktu ditanya mau minum apa, si cedal dengan stil yakin bilang: es jeyuk.” “Hahaha…” “Hehehe…” Humor Ujang menjadikan orang-orang di sekelilingnya langsung tertawa. Beberapa yang bingung akhirnya ikut tertawa begitu tahu apa yang dimaksud Ujang atas cerita itu. Ujang senang sekali bisa membuat suasana menjadi riang. Kei yang semula kelelahan mengangkut beberapa karung sayur mayur yang dia beli, kali ini merasa fresh. Meski gurauan tadi agak kasar, tapi mereka menganggap semua cerita itu dengan santai saja. Tidak ada yang tersinggung. Karena itu hanya sekadar joke. Kei merasa keakaraban di sini memang bisa meleraikan penatnya. Pekerjaan memilah kangkung, tidak terasa selesai sudah. “Gan Kei, kita buat makan malam, yok,” ajak Mang Yaya, salah satu pedagang sayur yang Kei kenal baik. Mang Yaya bergegas menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam yang ia tawarkan. “Sok-lah. Boleh aja,” Kei setuju. Ia membantu Mang Yaya untuk menyiapkan makan malam yang dimaksud. Tidak ada lilin panjang menyala, piring gelas bersih tersaji, anggur wangi pengahangat tubuh atau mawar sekuntum menambah suasana romantis. Yang ada justru katel hitam legam, bakaran yang terbuat dari kayu-kayu bekas peti buah-buahan, beberapa bumbu, minyak goreng dan daun pisang yang terbentang. Mulanya Kei dan Mang Yayat memasak nasi dalam ketel. Ngeliwet kalau mereka bilang. Liwetan nasi itu dicampur daun salam dan sereh yang sudah digepengkan. Sambil menunggu matang, cumi asin digoreng setelah matang dijadikan satu dengan liwetan nasi. Nggak lama, hidangan makan malam itu siap disantap. Jangan bayangkan cara santapnya sopan, anggun layaknya makan di resto besar dan mewah. Daun pisang yang dibentangkan itu adalah piring bersama yang menampung hasil liwetan tadi. Cara memakannya pun bersama-sama dengan siapa saja yang mau memakannya. Mereka duduk melingkar. Sambil bercerita tentang banyak hal, meminum segelas kopi atau merokok, orang-orang pasar itu memuaskan rasa lapar perut mereka. Tak perlu lama-lama untuk menghabiskan makan malam penuh keramaian itu. Mungkin rasanya tak selezat di restoran atau warung nasi yang pasti jam segitu sudah tutup. Tetapi, sensasi dan keakraban yang terjadi tak akan Kei temui di tempat “bersih” itu. Kamana atuh…, kamana. Neangan dana…. Nu opat angka…. (Kemana, kemana. Nyari dana yang empat angka) Itu lagu kebangsaan Kei, Mang Yayat dan pedagang lain jika mereka sedang mencoba memasang nomor buntut atau judi togel. Kegiatan ini memang ilegal, tapi bagi orang-oang pasar tersebut, bukan cuma karena menghasilkan duit tambahan, tapi juga untuk refreshing setelah seharian kerja. Hura-hura sedikit tanpa beban. Dapat sukur, tidak ya tidak masalah. Belum beruntung saja. Kei sendiri nggak seheboh para temannya yang lain. Mereka bisa selalu masang tiap minggunya. Kei cuma sekali dua kali saja. Cukup. Kei nggak mau menjadikan hal ini kebiasaan baru buatnya. Di kehidupan pasar itulah, Kei mendapat banyak hal yang bisa menambah kasanah hidupnya. (“Kidung, senandung cinta untukku”, halaman 99 - 102, Grasindo 2004) “Sesama bagiku adalah: mereka yang bikin aku tersenyum karena aku udah bikin mereka tersenyum…. Manis banget.” (Ferdinanda Sri Tjondro Utami) ----- rgds/ Adhitya on behalf of Anjar Labels: books |
Adhitya Mulya adalah Dewa Ganteng yang tinggal di kahyangan bersama 100 dayang-dayang. Dia menghabiskan waktunya turun ke bumi untuk bertemu dengan rakyat jelata dan berburu menjangan dan babi hutan... (or is it, berburu rakyat jelata dan bertemu dengan babi hutan? anyways, same thing). Oh ya, sesekali dia menulis buku komedi.
orang telah melihat kegantengan gua yang legendaris itu. Ninit ; Aan ; Agung ; Aip ; Alaya ; Avianto ; Aris ; Atta ; Detta ; Ewink ; Enda ; Erly ; Fairy ; Fanny ; Ganda ; Hagi ; Hanzky ; Isman ; Ita Leyla ; Ni'ang ; Ndari ; Nita ; Pip ; Okke ; Roi ; Ruri ; Shinta ; Tyaz ; Udhien ; Umar; Adi ; Afo ; Alaya ; Alfa ; Ale ; Alvons ; Aiff ; Andhi ; Andin ; Andin ; Anggie ; Anto ; Aprian ; arb3i ; Ari ; Arma ; Arif ; Ayu ; Axlandra ; Bantot ; Be-Es ; Beranda ; Bintang ; Bios ; Blub ; Brandy ; Buzz ; Cay ; CB ; Celia ; C'est la Vie ; Civent ; Claustrophobic ; Comel ; Comel ; Crey ; Dagungsta ; Dayat ; Deksay ; Dian ; Dican ; Didi ; Didiet ; Diki ; Dini ; Dion ; Disposable Hero ; Drey ; Duwie ; Dwi ; Dyah ; Ekodox ; Emil ; Ephe ; Eric ; Erika ; Erwin ; Eve ; Eyi ; Farid N ; Farid ; Finalizabeth ; Fitri ; Flow ; Flow ; Fresh ; Gajah Duduk ; Gauz ; goblog ; grE3nY' PrinceZz ; Guido ; Grizz ; Harris ; Harris ; Harris ; Heri ; Herlyanti ; Hero ; Ibiza ; Ika ; Ilsa ; Inex ; Inna ; Ipan ; Irene ; Irene ; Iris ; Isnaini ; Koebiz ; Kun ; Lacsar ; Lemans ; Lilik ; Lindie ; Little Mermaid ; Lontar ; Matz ; Memey ; Merkurius ; Morningdew ; N[a] ; Nasgor ; Neen ; Neenoy ; Nice green ; Nisa ; Nita+Agus ; Nono ; Novie ; Nukov ; Nunik ; Ochan ; Ollie ; Paylo ; Pipit ; Prazz ; Prianca ; QQ ; Radith ; Rapa ; Reena ; Ren ; Ria ; Richoz ; Ridwan Fauzi ; Rihsa ; Riena ; Rita ; Sapi ; Sasha ; Sazi ; Seggaf ; ; ; ; Snydez ; StormyMonday ; Supta ; Sweeney ; Sylvie ; Tamtam ; Tari ; Toet ; Trippin' D ; Tutup Botol ; t.w. ; Ty ; Tyaz ; Tychan ; Umar ; Un^Goe ; Vanda ; Vanya ; Viga ; Vellas ; Weedee ; Yudha ; visit rice bowl journals ! |