
The Project
Remember 2 months ago I made a quiz on my project? Well…
In case u haven’t noticed, I wrote a book…yes…a book. YES, A BOOK. It took me a year to make it and took me 3 rejections but at last, I made it.
The Story
It’s a story about 4 jomblos.
The 1st one never managed to find the one he loves.
The 2nd one never had the guts to tell her dream girl that he loves her.
The 3rd one stole away his own best friend’s dream girl.
The 4th one had two girls fallen for him.
It’s a book with comedy of errors. How tough it is to be a jomblo and how typical jomblos see women from male prespective.
The Publishing
By Gagas Media. Thanks to Moeammar Emka and FX Rudy Gunawan for everything!
The Review
“Jomblo, bukanlah cerita biasa… melainkan sebuah studi antropologis tentang hidup anak muda kita di masa kini, studi yang serius dan dalam.. tapi kok aku bacanya ngakak… Komedi?? Pembaca jangan senang dulu – halaman demi halaman dari novel ini akan semakin membawa anda menuju tikungan tikungan tajam yang menukik sekaligus. Dan berakhir dengan bensin dan api… Selamat Adhitya untuk debut novel yang penting ini.”
Riri Riza – Produser Film
Semua kejadian dan dialog dalam novel ini tidak ada yang ‘diada-adain’. Tulisannya yang tidak bertele-tele, mudah divisualisasikan saat saya baca dari halaman ke halaman. Interaksi karakter yang apa adanya (dan membuat saya tertawa karena beberapa punchline-nya!) memang khas anak muda. This book is so ‘today’, so real, with just a dash of sarcasm in a fun way. Very entertaining.
Sarah Sechan – Cosmo Girl!
The Request
BUY IT!! Heheheh
:):)…!!!!
Chapter One – Promo
Hinanya Menjadi Jomblo
Peluh membasahi kedua badan mereka. Mereka bercinta. Deru nafas Agus mengibas rambut seorang wanita yang dia peluk dari belakang. Kulit langsat wanita itu bersinar indah diterpa lampu meja belajar di kamar kos. Menderu cinta, berbalas nafsu. Tenggelam dalam kecupan.
”Agus, datangi aku…” desah wanita itu,
”Saya sayang kamu..tapi..mengapa saya tidak pernah ingat nama kamu? Di mana kita pernah bertemu?”
”Aku juga sayang kamu….minta korek dong.”
”HAH?” Agus tergagap ketika wanita tanpa nama yang kerap datang dalam mimpinya tiba-tiba berbicara di luar konteks dan bersuara mengindikasikan adanya jakun. Dia terbangun, mendapati dirinya di kursi penumpang depan dalam mobil Doni yang meminta korek.
Agus, Doni, Bimo dan Olip adalah empat mahasiswa tingkat 3 jurusan teknik sipil Universitas Negeri Bandung (UNB) yang sedang ada perlu ke Universitas Negeri Jatinangor (UNJAT), sebuah kampus yang terletak di pinggir kota Bandung. Mereka menemani Bimo membeli ganja ke pengedar terkenal se-Bandung yang kuliah di jurusan FISIP UNJAT sekaligus cuci mata dan jual pesona kepada anak-anak kampus seberang kota ini. Hal ini tidak dapat mereka lakukan di kampus mereka sendiri karena mayoritas mahasiswa di UNB adalah pria.
Mereka sampai di kampus UNJAT. Doni memarkir mobilnya di areal parkir FISIP. Keempat anak itu turun dan menuju kantin. Agus memperhatikan mahasiswa-mahasiswa yang sedang bermain basket dari kejauhan. Dalam otaknya, dia berusaha membuat perbandingan antara mahasiswa UNJAT dan UNB.
Mahasiswa UNJAT. Wanitanya cantik-cantik, modis dan terlebih lagi, intelek dan pintar. Banyak mahasiswi UNJAT yang berprofesi sampingan sebagai model. Pria-pria terlihat gagah, tampan dan wangi. Berotot perut seperti martabak yang membuat Agus merasakan pilunya iri ketika membandingkan mereka dengan dirinya yang berbentuk ikan asin. Mereka gagah seperti yang sering dia lihat di poster iklan parfum maskulin atau celana dalam pria.
Mahasiswa UNB. Bau Naga.
Pikirannya kembali ke celana dalam pria dan dia gagal menemukan korelasi mengapa sebuah iklan celana dalam harus memasangkan pria berparas tampan. Tidak berkoneksi, kecuali jika celana itu dipasangkan di muka dan meski sekonyol itu, tetap akan menimbulkan efek minder dan rasa bahwa dunia ini tidak adil kepada orang-orang bertampang minus sepertinya.
”Ngelamun jorok lu ya?” Doni mendorong Agus yang akan duduk di kantin.
”Nggak.”
Sesaat mereka terdiam geli. Mereka mendapati beberapa kelompok mahasiswa yang mereka kenal sebagai mahasiswa UNB. Ada prinsip mendasar yang semua mahasiswa UNB pegang teguh secara kompak. Jangan pernah membuka identitas seorang teman, jika bertemu di kampus orang lain.
”Itu anak jurusan tambang UNB. Sebelah sana, segerombolan anak-anak geodesi UNB. Barusan gua liat ada anak mesin UNB lewatin kita…solo karir.” tunjuk Doni dengan geli.
”..dan kita sebagai kontingen dari teknik sipilnya, jangan menyapa mereka, ntar kita juga ketauan bukan anak sinih.” kata Agus.
”Kok ngeceng bisa sampe bedol desa geneh..” kata Doni. Mereka semua saling lirik dengan pria-pria penyusup dan saling tersenyum tahu-sama-tahu. Getir dan pahit mengudara bersilang di antara mengangkatnya alis mata dan dagu saling menyapa. Hal yang paling memalukan di dunia ini adalah terekspos menjadi jomblo dan jual pesona di kampus orang lain.
”Kalian tunggu saja di sini ya. Aku ta’ cari temenku yang itu. Kalo sudah dapet itunya, aku mbalik lagi.” kata Bimo, anak seorang ilmuwan nuklir dari Jogjakarta. ”Oh ya…rambutku gimana? Bagus?” Mahluk hitam bertampang kriminal itu berbalik dan bertanya sambil mengais-ais rambut keriting gagalnya. Anak-anak mengacungkan jempol penuh kebohongan dengan tatapan penuh hina. Bimo berlalu.
”Seperti biasa jika Bimo tertangkap, kita gak kenal dia, okeh?” Agus mengonfirmasi prosedur standar menemani Bimo beli ganja.
”Oke.”
”Mengapa Bimo setia dengan pengedar ganja yang ini?” tanya Olip.
”Dia punya cukup stok buat membuat orang 3 kabupaten teler.”
Mata Agus dan Doni pergi ke kiri dan kanan menikmati mahasiswi-mahasiswi yang terlihat pintar dan cantik. Pemandangan yang kontras dengan kampus UNB di mana siswanya pintar dan berjanggut. Doni menspot seorang wanita.
”Gus, jam 3 elu, cantik!”
”Cantik sih, tapi itu adalah tipe kecantikan yang memiliki tendensi yang jika ditinggalkan seorang pacar, berubah menjadi psikopat dan mengoleksi ginjal dari sejumlah korban.” ujar Agus dengan penuh asumsi. Agus Gurniwa, pemuda kurus ceking, anak terkutuk jomblo dari Jakarta yang mengidap penyakit kurang percaya diri dan mudah salah tingkah. Dia tinggal bersama sepupunya, seorang pengusaha roti. Di waktu luangnya sendiri Agus mencoba mengikis penyakit minder tersebut dengan menjadi penyiar radio Arjay, sebuah stasiun radio anak muda.
”Elu kebanyakan nonton film” kata Doni Suprapto. Dia adalah tipikal anak gaul dari Jakarta yang kehidupannya dipenuhi dengan seks dan hedonisme. Mantan anak band ini berkulit coklat dan berbadan gempal. Penuh percaya diri, berbeda dengan sobatnya yang paling dekat, Agus. Dia juga seorang penyiar radio.
”Sialan, gua udah lama gak ketemu cewek yang satu alam sama gua.” ujar Doni sambil memain-mainkan teh botolnya.
”Hmm..” Agus menampik topik itu dengan antusiasme rendah dan kata –Hmm- yang sering dikeluarkan orang yang baru saja menduduki kacamatanya sendiri.
”Jangan kau coba-coba ajak tidur wanita di kampus ini ya. Kita bisa laa dicabik-cabik singa!” Olip yang tadinya terdiam, menunjuk ke Doni. Olfiyan Iskandar adalah seorang pemuda asal Langsa-Aceh. Pendidikan 3 tahun di Taruna Nusantara membuahkan hasil postur tubuh yang tinggi, tegap dan memiliki otot perut yang lelaki. Orang akan berpikiran dua kali sebelum mengundang masalah dengannya.
”Nggak kok Lip. Santai aja. Kita ke sini kan buat cuci mata dan nemenin Bimo.”
Wanita
”Emangnya segampang itu Don? Cari kepuasan dari wanita?” Agus bertanya penuh rasa ingin tahu. Olip menunjukkan raut muka yang sama. Sejenak mereka terlepas dari kehausan akan menikmati pemandangan di depan mereka.
”Kok kayaknya eluh gampang pisan (banget) gaet sini-situ?”
”Gak gampang sebenernya. Untuk bisa mendapatkan kepuasan dari wanita, pertama-tama kita harus menemukan wanitanya.” Doni secara terstruktur menjelaskan sesuatu yang sudah jelas.
”Terima kasih. Itu guah baru tau.” Ujar Agus mengejek. Logat sunda didikan keluarganya masih melekat di mana selalu terdapat imbuhan H setelah saya dan kamu.
”Selanjutnya?”
”Selanjutnya go with the flow. Tapi bukan berarti wanita adalah mahluk yang gampangan. Justru mereka mahluk yang sangat rumit dan kompleks. Akan mudah untuk berbuat nakal..” Doni memberikan gestur tanda kutip dengan kedua tangan ”…jika kita, pria nakal, bertemu wanita nakal. It takes two to tango. Sering juga kok guanya udah pengen banget berbuat lebih…” Kembali dia dengan gestur kutipnya ”..si ceweknya cuman mau sekedar pengen ngobrol aja. Kalo gitu ya jangan maksain. Jangan pernah ngajak nakal wanita baik-baik. Ntar reputasi kita jatuh. Dia juga terhina dan kita sebagai pria, jangan pernah menghina harga diri wanita.”
Kedua temannya tercenung.
”Mengapa kau tak punya pacar, Don?” Olip bertanya.
”Gua lebih suka dengan kebebasan seperti ini. Suka sama suka, nakal-nakalan sebentar dan berpisah dengan damai. Simple, lepas dan nggak terikat.”
”Kalo dari sudut pandang guah mah….lebih susah deketin wanita untuk hubungan serius ketimbang untuk sebuah hubungan singkat.” ujar Agus.
”Kok elu bisa bilang gitu?” tanya Doni. Olip mencondongkan badan ke depan. Semua ini hal baru baginya.
”Wanita adalah mahluk yang lebih superior derajatnya dari priah…”
”Pria.”
”Iyah, Priah.”
”Pria.”
”..pokoknya, KITAH kudu jungkir-balik, tiarap dan masuk jurang kalo udah ngejar cewek. Kitah kudu berhadapan dengan ketatnya persaingan,” Agus menunjuk jomblo-jomblo hina yang tadi mereka identifikasi ”…kepasrahan terhadap jeleknya tampang…” Agus menunjuk parasnya sendiri dan paras Olip.
”Terima kasih.” Tukas Olip dengan asam.
”Dan berlutut di belas kasih seleksi yang wanita miliki berdasarkan selera mereka. Orang yang 5 tahun memuja wanita bisa saja ditepis sang wanita dalam 2 detik jika wanita tersebut tidak suka atas dasar alasan apa pun.”
Omongan Agus terpotong oleh peristiwa lewatnya beberapa bidadari UNJAT yang membuat mereka menyesal mengapa di kala TK mereka bercita-cita menjadi insinyur dan masuk UNB dan bukan akuntan. Setelah mereka lewat, Agus melanjutkan analisisnya akan wanita yang lebih rumit dari thesis ilmuwan pembuat roket.
”Wanita punya absolutisme menyeleksi. Dari alasan yang solid seperti
’Agamanya kurang kuat’ sampai alasan yang paling pikaseubeuleun (menyebalkan)
’Orangnya sih baik, tapi sayang bau kelek.’, mereka punya hak atas ituh. Setelah ituh sang wanita melanjutkan kehidupannya dengan tralala-lala sementara si pria hancur berkeping-keping di pinggir dunianya yang porak-poranda. Wanitalah yang memutuskan
’Oke, elu boleh kenalan sama guah’ ketika kitah berkenalan dengan mereka. Wanitalah yang memutuskan
’Oke, elu boleh jadi pacar guah’ ketika kitah menyatakan cinta pada mereka.” Agus menutup thesisnya dengan berdiri dan tangan mengacung ke atas dan dengan kata OKE yang terlalu banyak.
”Analisa yang mendalam….”
”Elu adalah bukti nyata betapa fatalnya efek kurang ASI.”
Asri
”Elu kenapa masih terkena kutukan jomblo Lip?” tangan Doni mengarah ke Olip. Dia ingin tahu bagaimana orang selurus Olip, memilih teman hidup.
”Tak selera awak melihat mereka semua…” sambil menunjuk ke mahasiswi-mahasiswi UNJAT. Perkataan ini adalah penghinaan bagi Doni.
”Elu gegar otak atau minta dapet gegar otak?” tanya Doni.
”….awak punya puteri impian. Bidadari pagi awak. Ratu di hari rabu” ujar Olip dengan hiperbolis dan puitis menggambarkan sosok gadis impiannya. Telah 2 tahun Olip menaruh hati kepada satu wanita. Suatu hari wanita cantik itu melintas ke dalam kehidupan Olip, hinggap di hati dan tak pernah pergi.
”Ya..ya…Guah mah udah tau ceritanya…ampe bosen.” Ujar Agus melayangkan mata ke atas.
”Yang mana sih? Gua kok gak pernah tau.” Doni merasa kesal dengan kenyataan bahwa salah satu teman baiknya menyimpan sebuah rahasia yang dia tidak tahu selama 2 tahun.
”Asri, anak Biologi 96…seangkatan kok sama kitah…” kata Agus ”..sebenerna (sebenarnya) mah normal bisa naksir cewek. Sehat.” mata jenaka Agus menyala mengejek Olip ”…yang NGGAK normal adalah gak pernah berani kenalan.”
”Jadi 2 tahun elu belum pernah kenalan Lip?” tanya Doni mengacungkan dua jari. Olip menggelengkan kepala, tersenyum pahit. Matanya penuh dengan kenangan. Dia tenggelam dalam ingatan di suatu hari di kala dia masa awal kuliah.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Kampus, September 1996
Agus dan Olip duduk di anak tangga gedung kuliah mereka. Waktu menunggu jam kuliah fisika mereka isi dengan perdebatan yang mengasah intelektualitas.
”Kalo eluh diberi kesaktian untuk mampu mengubah warna buah terong, eluh pilih warna apa?” Agus mengawali perdebatan.
”Awak pilih merah jambu..dan setelah itu, awak suruh kau pegang terong itu dan awak lempar kau ke dalam jurang.”
”Masak sih?…Merah jambu?” Agus gagal menangkap sarkasme
Di saat itu sesosok manusia sempurna melintas, Asri, nama wanita itu, dari jurusan Biologi. Rambut hitam legam tergurai. Kulit seputih susu membungkus tubuhnya dengan apik, kontras dengan rambutnya. Memakai kemeja hitam dengan lengan sesiku dengan kancing terbuka sampai dada. Kaos putih membungkus badannya dari dalam. Dia berjalan melintas anak tangga dengan sendal hak 9 cm dan celana hitam. Dia berjalan bersama teman-teman sejurusannya.
Mata mereka bertemu. Retina Olip membesar, jantung berdegup dan nafas terhenti. Dunia bergerak dengan slow motion. Asri memalingkan muka sambil terus bercakap. Satu detik yang tidak berarti baginya dan terlupakan dari hidup untuk tahun-tahun berikutnya. Namun, itu satu detik yang tidak akan Olip hapus dari memori sampai akhir hayat. Di detik itulah, hati dan setiap serat dalam tubuhnya menyatakan cinta kepada Asri. Sebuah rahasia yang sedikit saja dia bagi dengan sahabat-sahabatnya. Jika sampai teknologi mengijinkan adanya transplantasi otak, yang mana Olip sangat butuhkan untuk selamat dalam UNB, dia akan meminta kepada dokternya,
”Dokter, tolong jangan potong bagian otak awak yang menyimpan adegan seorang wanita cantik berkemeja hitam yang berjalan depan gedung jelek. Adegannya slow motion dan ada iringan lagu Brian McKnight – One Last Cry.MP3.”
”Oh maksud anda, bagian otak yang juga menyimpan 3313 adegan porno?”
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
”Olip? Yuhuuuuuuuu!!” Agus dan Doni memberikan gestur tangan ’halo’ dan ’lay-bangun-lah-kau-lay’. Olip kembali ke masa kini.
Perbedaan
”Kalo elu Gus, punya kriteria khusus mencari pacar?” Doni bertanya sambil menyalakan rokok.
”Guah pengen pacar guah nanti, adalah seorang figur ibu yang baik bagi anak-anak.”
”Elu berpikir sejauh itu?” tanya Doni dengan nada penuh tidak percaya bahwa biawak di depannya memiliki tingkat seleksi wanita yang tinggi.
”Iya.”
”Kenapa? Kenapa mesti sedalam itu?” tanya Doni.
”Pacaran itu penting. Salah satu jenjang menuju pernikahan.”
”Jadi, meski dia nyebelin, gak cocok, sok ngatur, dominan dan menguasai diri lu…elu akan tetap cinta sama dia?”
”Guah rasa begitu ya….kayaknyah…demi anak-anak guah nanti. Guah pengen mereka tumbuh jadi orang-orang yang baik.”
”Mana ada bapak yang ingin anaknya ngerampok bank, Gus? Elu terlalu rumit deh kalo berpikir…Gak ada yang bakal ajarin anaknya,
Bagus Nak, bagus. Nah, setelah kamu cekik anak itu dengan tali sepatunya sendiri, hantam kepalanya dengan batu ini.
…”
”Ya gak gituh juga.”
”Gua gak pernah berpikir sejauh elu….” Kata Doni ”Gua cuman nyari wanita yang cocok dan mengerti gua dan dia bisa mengerti gua.”
”Jadi kalo dia janda beranak tiga bekas tukang ngobat dan menderita raja singa…eluh akan tetap cinta sama dia?”
”Kenapa nggak? Yang penting cocok.”
”Gua mah gak bisa … berpikir sependek itu.” Agus menggelengkan kepala.
Semuanya terdiam. Dua orang yang berbeda.
Fly
”Bimo minta dicolok gergaji mesin. Sampe sekarang belum dateng.” ujar Agus melihat jam.
”Santai aja….masak sih elu gak suka liat cew….”
”MONYET! ADA MONYET!” Suara parau berkumandang di tengah lapangan parkir. Dengan sekejap, semua orang di kantin melihat sumber suara itu.
”ADA MONYET CANTIK..ITU DIPOHON!!” Ujar Bimo sambil terhuyung menunjuk ke atas tiang bendera. Beberapa wanita cantik mulai cekikikan geli. Ketiga teman Bimo terpana. Syok oleh malu, amarah dan iba. Saat itu Bimo sangat rawan untuk keceplosan memberitahu seperempat kampus UNJAT dengan suara besarnya bahwa dia adalah anak UNB yang baru membeli ganja. Anak-anak UNB mampu mengambil resiko tertangkap membeli ganja. Yang mereka tidak kuat adalah menahan malu tertangkap basah menjadi jomblo hampa yang ngeceng di kampus orang lain. Mereka bertiga tidak keberatan melihat Bimo dihantam satpam dan massa. Malah mungkin mereka akan bantu carikan bensin dan korek api. Terbit ide brilyan Agus untuk berbagi tugas.
”Oke. Ini rencananya….” Agus menunjuk ke Olip dan Doni.
”Olip, eluh cari benda tumpul berat dan panjang, kalo bisa dari logam dan lakukan hal-hal keji pada saluran pembuangan dia.”
”Mengapa mesti Awak? Dan kenapa mesti organ itu?” Olip protes sambil berair muka ’oh-why-me?’ Agus tidak menjawab dan melanjutkan
”Guah cari batu dengan bentuk paling jelek sedunia dan pukul Bimo di kepala. Eluh Don, masukin Bimo dalam karung selagi dia megap-megap, naik ke mobil dan giles dia pelan-pelan sampe tulang belakangnya patah. Oke?”
”Hal-hal keji seperti?”
”Apa Guah mesti gambar?”
”Seperti apa?”
”Gak tau lah, Anuskopi mungkin?”
”Anuskopi ilegal di beberapa negara.”
”Tidak di negara ini.”
”Gua sebenernya pengen nimbrung di perdebatan yang penuh intelektualitas tentang kontribusi perangkat hukum berbagai negara pada saluran ekskresi warga negaranya, tapi saat ini kita punya prioritas yang lebih PENTING MUNGKIN?” Doni melerai sambil menunjuk Bimo yang dengan santai melambai-lambai ke arah mereka.
Mereka bertiga menutupi muka dengan tas berlari ke tengah lapangan menuju Bimo.
”Lapor Komandan! Saya Lihat monyet!”
”Laporan diterima, kopral.”
”Monyetnya cantik, Komandan!”
”Yak, sekarang masuk mobil cepetan!”
”Siap komandan, laksanakan!….”
Agus dengan sabar menggandeng temannya, mutan semangka. Agus menatap bungkusan ganja yang dibawa Bimo. Bimo membeli cukup banyak ganja untuk ditanam ulang dan mensukseskan program hutan hijau di Kalimantan. Mereka semua melompat ke dalam mobil dan pergi.
No related posts.



Hey, guy, your blog is nice. It can bring me many useful information.