Setelah tinggal di sini lagi baru deh kerasa betapa gilanya macet di Jakarta. Gue pribadi sih udah pasrah dan dari awal balik udah berniat meng-embrace kesulitan ini. Misalnya, kalo pergi pagi, pake sendal dan kaos. Biar nanti sampe kantor baru pasang separu dan kemeja. Toh di mobil gak ada yang dikecengin. KJika pun niat ngeceng, udah ada golok istri nunggu di rumah.
Terlepas dari gue yang pasrah macet, solusi harus ada. Dan solusi yang ada harus dijalankan tanpa tertunda kepentingan politik atau kepentingan uang pejabat. Kita ulas dulu beberapa hal:
Bahaya macet
Macet ini bahaya karena macet membuat konsumsi energi kita meningkat tanpa perlu. Seharusnya devisa negara bisa terpakai untuk bangun subway, ini habis terbakar di jutaan tanki kendaraan bermotor di Jakarta.
Membuat orang Jakarta jadi tidak produktif. Dengan kemacetan 4 jam sehari, seorang sales hanya dapat 3 meeting dan 2 deal. Jika macetnya hanya 1 jam, maka dia akan mampu katakanlah, dapat 6 meeting dan closing 4-5 deal.
Belum lagi masalah psikologis. Kurang waktu sama anak.
Belum lagi masalah fisik. Macet > 2 jam beresiko orang sakit ginjal karena ada yang nahan pipis misalnya. Atau orang dapat serangan jantung di bus dan tidak bisa tertolong karena busnya stuck di macet. Itu kejadian udah sering bener orang meninggal di dalam bus.
Kemakmuran wearga terhambat. Jika tidka macet maka budget perbulan untuk bensin hanya 500k. karena macet, bisa 1.2jt.
The Problem with Jakarta
- Jakarta ini aneh. Udah belasan tahun blue print subway udah jadi tapi gak realisasi juga. Kenapa ya? Apa karena segelintir pejabat mendapat untung dari setoran bus/angkot? Apa karena mafia/kartel bus/angkot sedemikian kuatnya? Jika iya, orang-orang itu layak dilaknati karena membuat hidup dari 12 juta orang lebih susah dari yang seharusnya.
- Apakah Transjakarta sebuah solusi?
Ya dan tidak. TJ adalah satu dari banyak simbol inkompetensi PEMDA membunuh root cause. Maunya solusi cepat dan murah tanpa memikirkan collateral effect yang terjadi karena solusi cepat itu.
TJ secara teori adalah sebuah solusi. Tapi kenyataannya, TJ memerparah kemacetan Jakarta. Kenapa? Ini sebabnya:
Logika simple dari pengadaan TJ adalah ini:
TJ mengambil 1 dari 3 jalur mobil. Jika tidak ada TJ, maka seharunya di satu garis jalan, terdapat 3 mobil. Karena 1 diambil jalur TJ maka mobil hanya bisa 2. Logika simplenya, TJ hanya akan efektif jika dia mampu menyerap
+ 1/3 pengguna mobil Jakarta
+ pengguna bus
+ pengguna motor
Jika 1/3 tidak terserap maka jalan hanya makin macet. Meski tidak ada data, jelas kita melihat bahwa TJ tidak menyerap 1/3 pengguna mobil Jakarta. Bukti dari ini adalah sebagian pengguna mobil akhirnya pindah menjadi pengguna motor. salah satu faktor Ini yang menyebabkan motor jumlahnya sangat banyak.
- Celakanya, Pemda Jakarta tidak melihat bahwa naiknya motor adalah konsekwensi alami kebijakan yang buruk. Mereka malah menganggap bahwa motor sebagai penyebab kemacetan. dan sekarang ada wacana bahwa motor harus dibatasi. Oalah, bukannya mobil yang dibatasi, bukannya subway dibangun, bukannya penyerapan TJ diperbaiki. Malah motor yang ditembak.
Solusi Kemacetan Jakarta:
+ pastikan TJ menyerap 1/3 pengguna mobil karena jalur TJ telah mengorbankan 1/3 kapasitas jalan umum. Caranya:
1. perbanyak armada
2. halte yang lebih manusiawi. masak WC aja gak ada?
3. Jika tidak kuat sediakan AC, mbok ya haltenya dibikin rindang, pake kaca rayban + kipas angin.
4. Sterilkan busway.
5. Perbanyak stasiun gas. Jika kita tidak kuat menyediakan banyak armada, maka armada yang ada harus terpakai semaksimal mungkin. Sekarang ini armada harus antri 3 jam hanya untuk isi gas. Itu bodoh. Sekarang tinggal dihitung mana yang lebih mahal. Penyediaan armada? atau penyediaan stasiun gas? Ingat bahwa bertambahnya armada, makin banyak yang antri gas juga. Jadi multiplikasi stasiun gas sangat wajib. Kenapa sih gak disatukan saja dengan pertamina? dari pada bagun stasiun gas dari nol yang pastinya mahal, mending taro semua gas di SPBU yang ada.
6. Jangan dibebankan ke rakyat. Ini lah beda pola pikir negara maju dan negara tertinggal. Bahwa angkutan umum itu tidak bisa menguntungkan dan maka dari itu, disubsidi pemerintah. Di Barcelona. Paris dan Singapore, semua tarif subway rata2 1 dolar atau 1 euro. emangnya dipikir balik modal apa investasi segitu mahal dengan 1 dolar. Tentu tidak. Negara yang tanggung agar rakyat dapat menyisihkan uangnya agar lebih makmur.
7. Di setiap jalan yang ada busway, angkutan lain minggir. Jangan ada yang bareng. Contohnya, kita punya koridor TJ kota blok M via sudirman. Maka reduksikanlah metro mini yang melewati sudirman. ini untuk memastikan semua pengguna bus beralih ke TJ dan jalanan jadi lebih nyaman. Ini membutuhkan renegosiasi dengan operator bus yang pastinya tidak hepi. Ini juga hanya menjadi masalah tambahan jika armada tidak ditambah.
+ Bangun Subway
Ini udah jelas, gue gak perlu terangin lagi kenapa.
+ Parkir!
Gue baca dari seorang blogger bernama treespoter yang sangat brilyan. Untuk lengkapnya, tolong baca di blog dia di sini: http://treeatwork.blogspot.com/2010/07/tujuh-solusi-kemacetan-jakarta.html
Ini gue kutip:
Parking surcharge, bukan road pricing.
Road pricing bagus, tapi repot pelaksanaannya dan rawan pelanggaran. Ada cara lebih mudah dan efektif: kenakan saja biaya parkir tambahan yang cukup tinggi (Rp 20.000 per sekali masuk?) di luar biaya parkir resmi buat seluruh kendaraan yang parkir di kawasan bisnis utama Jakarta. Orang akan enggan membawa mobil ke kawasan tersebut . Kalaupun membawa mobil, kalau sudah parkir akan enggan mengeluarkannya lagi. Untuk bepergian mereka akan terdorong untuk memilih berjalan kaki atau menggunakan angkutan umum.
Bagus kan? Tapi pre-conditionnya jelas bahwa
+ TJ harus dimaksimalkan
+ pertumbuhan motor jangan dihalangi
+ bangun subway
jangan sampai parking surcharge ini diberlakukan tanpa ada penyelesaian. Pemda dari dulu dalam mengatasi kemacetan selalu menerapkan kebijakan tanpa memberikan alternatif. Ketika altrnatif ini berbuah buruk, dibiat lagi kebijakan tambal sulam. Gitu aja terus sampai semua orang Jakarta rugi uang dan waktunya.
+ Perbaiki Perolehan SIM
motor dan angkot dituding ugal-ugalan oleh semua orang. Dibilangnya gak tau aturan etc etc. Tapi kita ga pernah nanya pada diri kita sendiri, lantas proses mendapatkan SIMnya gimana? Sekarang ini dalam jargon bebas korupsi, POLRI sudah bagus memudahkan proses SIM. Gak ada lagi korupsi dan calo. Nah di situ root causenya. Semua yang ingin mendapat SIM wajib lulus tes rambu dan tes kendara. Nanti di dalam SIMnya tandalan saja dengan bintang yang mengartikan telah lulus tes itu. Bintang ini akan membedakan mana orang yang belum perpanjang SIMnya dan mana yang sudah.
Oke deh segitu aja dulu dari gue. Yang jelas, warga Jakarta butuh solusio cepat. Merealisasikan semua yang di atas butuh waktu dan uang jadi gak pemda gak bisa gerak cepat memberi. Tapi mbok ya solusi yang diberikan itu menyentuh akar masalahnya. Bukannya kebijakan tembak itik terbang.


