Mencermati Paradigma Wagub ttg Mampu – Tidak Mampu

Pasangan Gubernur Teladan

Pemimpin yang baik harus memiliki 2 hal. Visi, dan control. Pemimpin yang sukses harus mampu bersikap visioner. Visi itu dia terapkan dan dia minta anak buahnya jalankan. Dalam pelaksanaannya, dia melaukan control atau dalam dunia korporat, melakukan performance management. Pasangan gubernur Jakarta, Jokowi dan Ahok membawa perubahan yang Jakarta perlukan karena mereka adalah sosok dengan performance management yang sangat kuat. Ahok itu jeli dan pintar dalam menyusun anggaran sehingga tidak ada yang dapat mengelabui dia. Jokowi sering blusukan sebaga control dan managing performance camat dan lurah. Berpasangan, kedua orang ini benar-benar mendatangkan perubahan yang hebat. Gue gak akan berlebihan jika berkata bahwa Jokowi dan Ahok adalah pemimpin teladan karena performance management ini.

 

Apa pun perangainya, apa pun motivasinya, tidak data dinihilkan bahwa Jokowi dan Ahok memberika perubahan positif. Tidak akan ada yang pernah mampu menihilkan hasil kerja mereka.

 

Bagaimana dengan Visi?

Tapi control/performance management, baru 1 sisi dari seorang pemimpin. Sisi lain adalah visi. Visi yang baik adalah visi yang mengakomodir semua rakyatnya. Visi juga dating dari kerangka berpikir seseorang. Setelah berapa lama menjadi wakil gubernur, gue mulai mencermati paradigm yang mengkhawatirkan dari Ahok. Simak setidaknya 2 artikel ini:

 

===

Berita 1: http://www.berita8.com/read/2012/10/18/1/57865/Ahok-Wacanakan-Orang-Kaya-Tinggal-di-Pinggiran-Jakarta

Quote: “Orang kaya harusnya tinggal di luar kota karena mereka punya sopir, mobil, dan duit.”  kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (18/10/2012).

Untuk merealisasikan wacana tersebut, Ahok akan menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Jakarta. Hal ini akan membuat keengganan untuk memiliki tanah maupun bangunan di kawasan Jakarta.

“Jadi di sini kenapa orang kaya pindah ke luar kota karena nanti kami akan menjadikan PBB di Jakarta ini tinggi sehingga mereka memilih tinggal di luar Jakarta.” katanya.

Dan untuk menyiasati agar warga yang berekonomi kecil tak terlalu terkena imbas naiknya PBB Jakarta. Ahok juga berwacana untuk membangun Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di kawasan bisnis Jakarta.

:End quote

===

Jujur aja ya, gue khawatir dengan kerangka berpikirnya. Kerangka berpikir Ahok dalam kasus ini adalah: Jika elo kaya, maka elo harus tinggal di luar kota, karena elo punya uang yang dapat elo hamburkan di supir dan bensin.

Gue bukan orang kaya. Gue kerja mati-matian untuk gaji gue. Tapi dengan gue punya uang, bukan berarti gue bersedia menghamburkan uang gue untuk supir dan bensin. Gue capek-capek kerja ya gue tabung lah. Paradigma di mana orang berduit = harus pindah ke pinggiran karena lebih mampu bayar supir dan bensin adalah paradigm sosialis/komunis. Yang lebih mampu harus suffer.

Maaf tapi gue jadi mampu karena kerja jujur kok. Kerja halal kok. Kerja keras kok. Gue punya uang juga gak dibantu sama Ahok kok. Kenapa gue harus dipunish dengan pindah ke pinggiran?

Niat Ahok adalah: memberikan kesempatan dan ruang bagirakyat kurang mampu untuk tinggal di tengah kota. Ini niat mulia. Caranya bisa kok, ya bangun aja apartemen murah di tengah kota dan pastikan yang membeli dengan slip gaji tertentu. Ini sudah dilakukan di apartemen kalibata. Gue pengen beli apartemen kalibata karena pada saat itu gaji gue udah over-qualified, gue mengurungkan niat. Sistem kontrolnya di situ. Ini solusi yang leih baik. Implementasinya keok. Implementasinya lah yang harus dijaga.

Jika niatnya memberikan ruang bagi golongan kurang mampu, maka caranya sudah ada, tinggal implementasinya dipantau. Tapi jangan pernah mengusir orang mampu dari rumah yang mereka beli dengan hasil kerja keras mereka. Itu namanya memberikan kesempatan bagi orang gak mampu dengan cara menghukum orang mampu, hanya karena mereka punya uang lebih banyak. Konyol.

 

===

Berita 2: http://lipsus.kompas.com/gebrakan-jokowi-basuki/read/xml/2012/11/16/08444818/Basuki.Anak.Orang.Kaya.Punya.Alphard..Masuk.Al.Azhar

Quote: “Filosofinya, semakin kurang beruntung nasib seorang anak karena penghasilan bapaknya rendah sekali, gizinya kurang, IQ-nya pas saja untuk tidak dikatakan idiot, masukkan dia ke sekolah unggulan tersebut. Karena itu negara yang bayar,” kata pria yang akrab disapa Ahok itu dalam video di Youtube berjudul “14 Nov 2012 Wagub Bpk Basuki T Purnama menerima paparan Dinas Pendidikan”.

“Jika anak orang kaya punya Alphard, sekolah aja di Al Azhar. Anak saya pun tidak boleh sekolah di MHT karena MHT didirikan untuk anak-anak tidak mampu supaya mereka bisa mengubah nasib untuk masa yang akan datang. Jadi, jangan dibalik,” ujar Basuki lagi.

: end quote

=====

Berita kedua berbicara tentang kualifikasi siswa di sekolah MHT yang dibiayai pemprov. Niatnya mulia; menjamin anak kurang mampu mendapatkan kualitas pendidikan yang tinggi. Karena selama ini pendidikan tinggi diiringi dengan harga mahal.

Implementasinya sudah benar. Anak dari orang mampu tidak boleh masuk ke sekolah ini.

Tapi lagi-lagi paradigm Ahok mengganggu: “Jika anak orang kaya punya Alphard, sekolah aja di Al Azhar.” Paradigma yang terbaca adalah: kalo elo punya duit, elo harus beli yang mahal-mahal. Sama dengan paradigm kasus rumah.

Jika gue jadi anak, gue juga gak akan mau masuk MHT. Gak akan boleh masuk MHT pula. Tapi dengan gue punya uang, bukan berarti gue akan memasukkan anak gue ke sekolah mahal juga.

 

Gue jadi ingin meneliti lebih lanjut tentang sekolah MHT ini. Apa bedanya dengan SMAN 70 yang gue masuk dulu. Dan ITB yang gue masuk dulu. MHT, katanya sekolahnya dibiayai Negara. Well, guru SMAN 70 juga pegawai negeri kok. Itu dibiayai Negara kan? Beda sama SMA Swasta yang gaji guru dari SPP. Gue dulu bayar SPP hanya 10 ribu karena sisanya ditanggung anggaran daerah. Masuk ITB, dosennya juga pegawai negeri kok. Gue hanya membayar 1/13 dari biaya pendidikan sebenarnya. Apa bedanya MHT, SMA 70 dan ITB? Mereka sama-sama sekolah subsidi. Ada yang tau? Gue bener-bener gak tau. Jawaban dari pertanyaan gue ini lumayan penting sebenernya.

Jika system subsidi MHT beda dengan SMA 70, then memang fair. Mungkin MHT disubsidi lebih banyak, selain dari APBN, juga dari APBD gitu. OK lah kalo gitu sih memang orang mampu gak boleh masuk MHT. Gue juga gak maul ah masuk sana.

Tapi jika system subsidi MHT = SMA 70, gimana dong? Apa ini artinya gue gak boleh masuk SMA unggulan? Enak aja. Siapa Ahok membatasi kesempatan orang mampu? Untuk kasus ini, semoga gue aja yang salah. Dan gue berharap gue memang salah. Jika ingin memberikan pendidikan yang baik, ya perbanyak aja jumlah sekolah unggulan. Ngapain batas-batasin orang kiri kanan?

 

  1. Kebanyakan orang jadi mampu karena kerja kerasnya, karena doanya karena rezekinya. Itu udah urusan masing-masing. Tetangga kiri gue miskin. Tetangga kanan gue kaya. Tetangga gue yang kaya tidak bersalah atas miskinnya tetangga gue yang di sebelah kiri kan?
  2. jangan pernah membuat kebijakan berdasarkan paradigma di mana “jika elo mampu, elo harus lebih susah. Elo harus keluar duit lebih banyak.” Kita udah ada pajak. Udah bayar pajak. Kita udah zakat. Kita udah bayar zakat. Kita udah sedekah. Orang yang tergolong mampu, kebanyakan udah melakukan bagiannya dalam menyokong kehidupan bernegara dan beragama. Gak perlu dikotak-kotakkan orang mampu harus tinggal di pinggiran.
  3. Implementasi dari sekolah MHT dan apartemen kalibata sudah benar. Tinggal diawasi aja.
  4. Memberikan kesempatan pada orang tidak mampu tidak harus dengan memerkecil kesempatan orang mampu. Orang mampu menjadi mampu, kebanyakan tidak dengan merugikan orang tidak mampu itu.

 

Ps: Waktu pilkada kemarin, gue pilih Jokowi dan Ahok (round 2). Jadi gue punya tempat dan hak juga untuk ngomong gini.


Category: Uncategorized

Swasembada di Indonesia

Sebelumnya mohon maaf kepada pembaca blog gue Karen bahasan yang ada di bawah, kembali lagi sebuah bahasan serius. Sekarang Indonesia sedang disibukkan oleh kasus tersangka korupsi seorang anggota dewan, yang mana korupsi tersebut berada dalam bidang pertanian (sapi). Di sini gue ingin mengupas tentang swasembada dan kenapa kita beda denga Negara lain. Semoga ini membuat kita mengerti juga.

 

Berangkat dari Sapi

Dari tahun 2004, Indonesia melalui kementan menggagas dan menggegas agar Indonesia bisa swasembada daging sapi. Target awal 2010. Kemudian direvisi jadi tahun 2014. Definisi swasembada = ada cukup daging untuk memenuhi kebutuhan local. Ini, adalah definisi ekonomi. Yang lain, ekonomi dasar nih ya,

Swasembada adalah di mana produksi local = konsumsi + sedikit buffer.

Dalam definisi lain, swasembada adalah di mana produksi lokal = 90% konsumsi + 10% import.Pendekatan mana yang Indonesia ambil? gue gak tau.

Net eksportir adalah di mana produksi local > konsumsi

Net importer adalah di mana produksi local < konsumsi

Gue baca di twitter juga, ada seorang ulama yang mengatakan bahwa kementan dan semua pakarnya mengatakan bahwa progress swasembada daging sapi ini sudah mencapai 80%. Artinya produksi local dapat memenuhi 80% konsumsi. Maka dari itu, impor sudah mulai dapat dibatasi.

Di sini, mulai aneh semuanya. Logisnya putus. Mari kita tilas balik harga daging sapi.

Harga daging potong awal 2012 = rp 65 rb/kg vs. harga daging Negara lain 40-45 rb/kg.

Kita sudah 20% lebih mahal. Ini adalah kondisi di mana daging sapi dipasok dengan campuran local dan impor.

Harga daging potong Mei 2012 = rp 75 rb/kg

Ini adalah kondisi di mana pasokan masih campuran namun impor sudah dibatasi.

harga daging potong awal 2013 = rp 90 rb/kg

ini adalah kondisi yang sama. Pasokan masih campuran namun impor dibatasi.

pertama, inflasi daging sapi tu dari 65k ke 90k. itu 38%. Inflasi Negara kita aja paling parah 6%. Artinya kenaikan daging sapi >>>>> inflasi. Dan 38% ini adalah kenaikan dari 65rb/kg sementara Negara lain 40-45 rb/kg.

Kedua, jika pasokan local mampu mencakup 80%, artinya kekurangan hanya 20%. Teorinya, harga naik 20%. Dari 65rb ke 78rb. Tapi nyatanya meroket ke 90 rb/kg.

 

Ini fakta. Harga di pasar adalah fakta. Harga faktanya naik 38% dan terus naik. Pakar khusus, ngakunya cukup 80% pasar.

 

Pertanyaan yang muncul dari sini adalah, kenapa swasembadanya tidak di 100%kan dulu sebelum kuota dibatasi? Kenapa impor harus dibatasi ketika swasembada baru hanya 80%. Dengan kekurangan 20% saja, harga naik 38%. Mau sampai kapan seperti ini?

 

Nah sebelumnya, swasembada adalah ranah pertanian dan impor adalah ranah perdagangan. Apa ini artinya terjadi diskonek? Kementan belum beres swasembada tapi kemendag dan menkoekuin udah membatasi impor? Apakah kesalahan dalam koordinasi? Apakah kesalahan dalam kerja sama? Apakah memang ada yang niat buruk?

 

Pertanyaan-pertanyaan ini gak bisa gue jawab tentunya. Buntu di situ semua. Yang jelas, semua pertanyaan di atas berawal dari pertanyaan, jika memang swasembadanya SUKSES 80% dan on going, kenapa harganya naik 38% dalam satu tahun? Ingat, swasembada itu ada cukup barang untuk dikonsumsi dalam harga wajar.

 

Tentang Swasembada

Pertanyaan-pertanyaan di atas gak bisa terjawab. Namun memang memaksa kita untuk berpikir lagi tentang swasembada. By the way, ini omongan mulai lepas dari sapi ya. Kita masih ingat banyak rakyat, anggota DPR dan banyak golongan yang berteriak:

“IH! Gula aja impor!”

“Mau jadi apa Indonesia? Kedelai aja impor!”

“Kita ngapain aja? Beras kok impor dari Thailand”

“Hee? Garem impor? Sumpeh lo?”

“Sapi aja impor dari Amiriki? KONSPIRASEEEH!”

Apa yang sebaiknay kita swasembada?

Kita kembali lagi definisi atau prinsip. Prinsipnya, sebuah Negara akan menjadi efisien jika Negara itu mampu memroduksi local (swasembada) semua kebutuhan hidup yang mereka anggap penting. Ada 5 hal yang manusia Indonesia konsumsi dengan banyak:

Gandum/terigu, beras, kedelai, daging, minyak goreng. Gandum dan kedelai bukan termasuk sembako tapi kenyataannya kita membutuhkan kedua hal ini dalam jumlah yang luar biasa banyak.

OK, kita tau barang yang kita butuhkan untuk sebaiknya swasembada. Ini masih teorinya ya. Sekarang kita lihat resourcesnya. Kita punya gak?

Alat Pendukung swsembada (kita punya gak?)

Untuk swasembada semua hal di atas, kita butuh 3 hal. Iklim, landmass dan teknologi.

Iklim – kunci pertama swasembada

Kedelai adalah bahan dasar tempe dan kecap yang berasal dari kedelai. Roti dan mie berasal dari terigu dari gandum. Kedelai dan gandum adalah tenaman 4 musim. Indonesia sebagai pengonsumsi kedelai dan gandu yang besar, tidak memiliki iklim untuk menumbuhkan kedua tanaman ini. Jangan omongin lahan dulu, iklimnya aja. Mau sampe botak juga kita tidak akan mampu membuat sebuah iklim buatan yang cukup luas untuk menumbuhkan jumlah kedelai dan dan gandum yang kita butuhkan untuk swasembada. Makanya ketika beberapa orang koar-koar tentang kenapa kita harus impor kedelai dan gandum, 2-3 hari setelah itu, suara lantang mereka juga lenyap kok. Akal sehat aja. Seorang presiden yang pintar, akan selalu meninjau tiga hal ini,iklim, landmass dan teknologi.

Apakah kita punya iklim untuk menumbuhkannya?

Apakah kita punya cukup lahan untuk menumbuhkannya?

Jika lahan tidak cukup, apakah kita punya teknologi untuk intensifikasi panen? Panen 3-4 kali ketimbang 1-2 kali? Jika punya, berapa harga teknologi itu?

Jika iklim yang tidak cocok, apakah kita punya teknologi membuat iklim buatan? Jika iya, berapa harga teknologi itu?

Jika harga teknologi > harga impor, maka presiden yang memaksakan swasembada akan menghasilkan gandum dan kedelai yang mahal (karena teknologinya mahal). Presiden yang cinta sama rakyatnya gak akan tega menciptakan pasar dengan kecap 500 ribu/botol. Mending impor aja kedelai dari Negara yang memang memiliki lahan dan iklim untuk menumbuhkannya dengan teknologi rendah.

Itu sebabnya, Indonesia mengimpor gandum dari dari Australia, USA, Brazil dan Argentina. Mari kita lihat berapa sih lahan yang tersedia untuk setiap kepala, dari Negara-negara produsen gandum dan kedelai ini:

USA, 916 jt ha, 313 jt, 2.9 ha/org

Brazil, 845 jt ha, 205 jt, 4.1 ha/org

Australia, 767 jt ha, 22 jt, 34.8 ha/org

Argentina, 273 jt ha, 42 jt, 6.5 ha/org

Dan berapa Indonesia?

Indonesia, 182 jt ha, 237 jt, 0.76 ha/org

Lets say kedelai bisa lah tumbuh di Indonesia. Padahal tidak. Mau maksa numbuhin gandum untuk konsumsi 237 juta? Boleh. Itu htang lindung tolong ditebang. Ntar banjir gak usah komplen. Itu lahan sawah padi untuk dikonversikan. Ntar beras jadi 600 rb/kg ga usah komplen. Atau mau beras dan gandum? Bisaaa. Kita batalin aja semua kontrak pendirian pabrik untuk tenaga kerja. Nanti kalo pengangguran dan gak punya uang untuk beli kecap dan nasi, ga usah komplen.

 

Pemerintah memilih. Dan pemerintah gak bisa melawan dikte iklim.

 

Landmass – kunci kedua dari sasembada

Landmass? Benda apa itu? Kenapa itu penting? Indonesia tidak pernah punya masalah dengan landmass!! Ow? Really? Ini adalah daftar luas daratan Negara-negara di dunia:

http://beasiswa.ptkpt.net/_a.php?_a=area&info1=4

Ini adalah Negara-negara pilihan guekarena ada relevansinya denga tulisan gue.

Russia, 1700 jt ha, 138 jt, 12.3 ha/org

China, 937 jt ha, 1343 jt, 0.7 ha/org

USA, 916 jt ha, 313 jt, 2.9 ha/org

Brazil, 845 jt ha, 205 jt, 4.1 ha/org

Australia, 767 jt ha, 22 jt, 34.8 ha/org

Argentina, 273 jt ha, 42 jt, 6.5 ha/org

Perancis, 64 jt ha, 65 jt, 0.98 ha/org

New Zealand, 27 jt ha, 4 jt, 6.75 ha/org

Indonesia, 182 jt ha, 237 jt, 0.76 ha/org

Vietnam, 32 jt ha, 91 jt, 0.35 ha/org

Thailand, 51 jt ha, 67 jt, 0.76 ha/org

Indonesia hanya memiliki 0.76 ha/org untuk bertahan hidup. 0.76 ha/org ini harus dibagi untuk

Perumahan, untuk 237 juta orang,

industry, untuk lapangan kerja 237 orang itu

hutan lindung (untuk air),

pengairan (untuk industry dan pertanian),

pertambangan (mari kita akui, kalo ada kandungan emas atau minyak di atas sebuah sawah, mending menambang emas dan minyak) ,

swasembada beras, sapi, garam, minyak goreng, gula, (gandum dan kedelai sudah kita perlihatkan tidak akan mampu karena iklim).

Dengan 0.76 ha/org, memenuhi semua kebutuhan Negara di atas jauh lebih menantang ketimbang melakukannya di Negara lain seperti Australia atau Newa Zealand atau Brazil. Intinya yang gue ingin bilang adalah: dari awal, kita gak punya terlalu banyak landmass. Perkara apakah bisa atau tidak swasembada beras dan sapi, tinggal mikirin teknologinya. Gue bahas sapi dulu ya.

Australia, 767 jt ha, 22 jt, 34.8 ha/org

New Zealand, 27 jt ha, 4 jt, 6.75 ha/org,

USA, 916 jt ha, 313 jt, 2.9 ha/org dan

Argentina, 273 jt ha, 42 jt, 6.5 ha/org

Bandingkan dengan Indonesia: Indonesia, 182 jt ha, 237 jt, 0.76 ha/org

Sapi tidak membutuhkan iklim tertentu untuk berkembang biak. Ini kesempatan untuk Indonesia. Tapi sapi adalah hewan yang membutuhkan lahan luas untuk perkembang biakan. Lebih tepat lagi, pakan sapi membutuhkan lahan yang luas. Ini bisa diakalin sama teknologi dan industry yang terintegrasi sebenernya. Gue akan jelaskan.

Yang pemerintah sudah lakukan untuk swasembada sapi sebenarnya sudah tepat. Eg: mereka tahu impor daging potong mahal. Maka mereka tidak membeli daging potong. Tapi mengimpor bibit sapi muda. Mereka ternakkan di Indonesia. Pakannya gimana? Indonesia juga impor kok. Animal feed itu banyak sekali impornya ke Indonesia dari US. Indonesia tahu bahwa mereka gak punya lahan untuk memanen pakan ternak. Jadi ketika pemerintah mereka ingin swasembada sapi, mereka bermaksud bilang swasembada DAGING sapi. Bibitnya masih impor. Pakannya impor. Tapi gak papa. Ini sudah cukup bagus. Indonesia cukup pintar. Bibitnya juga tidak selalu harus diimpor. Cukup beli bibit beberapa kali, dan kembang biakkan di Indonesia.

Yang tidak pintar adalah ketika swasembada daging sapi belum mencapai 100% + buffer tapi impornya sudah dibatasi. Itu yang menyebabkan harga naik dari 65 rb/kg ke 90 rb/kg (38%) > dari inflasi Negara.

Bisa jadi ini salah perhitungan dari kemendag. Bisa jadi ini adalah salah koordinasi antara kementan dan kemendag. Entah lah, pemerintah juga tidak pernah bagus dalam memberitakan progress bagus dan prestasi mereka dan selalu membiarkan media memberitakan progress buruk dan set back mereka.

 

Teknologi – Kunci ketiga dari Swasembada

Kita mengimpor beras dari Negara-negara ini:

Vietnam, 32 jt ha, 91 jt, 0.35 ha/org

Thailand, 51 jt ha, 67 jt, 0.76 ha/org

Tambahan juga, jepang juga swasembada beras ya.

Bandingkan dengan Indonesia, 182 jt ha, 237 jt, 0.76 ha/org

Iklim, kita tahu kita punya.

Lahan, nah ini dia. Thailand dan Vietnam memiliki luas lahan/kapita yang sama dengan Indonesia. Kenapa kok ya kita masih impor dari mereka? Yang gue tahu:

Pertama, kita sebenarnya sudah hampir mampu swasembada. Impor beras itu sebatas untuk buffer. Ingat bahwa swasembada itu = konsumsi + buffer.

Kedua, teknologi kita lebih buruk dari mereka. Untuk setiap petak sawah, teknologi yang mereka gunakan lebih baik dari kita sehingga bisa panen lebih banyak dan lebih sering.

Ketiga, konsumi beras kita lebih tinggi karena kita tidak mampu (atau mau) makan yang lain. Konsumsi beras orang Indonesia 139 kg/orang. Bandingkan dengan Cina yang 100 kg/orang ata jepang yang 70kg/orang. Gak salah juga sih karena kentang juga gak bisa tumbuh di sini dengan skala besar. Gandum bukan tanaman tropis. Ini kenyataan hidup aja. Pemerintah juga sadar bahwa kjika mereka suruh kita makan mie, impor gandum akan lebih besar dari sekarang.

Tahukah kalian, penggilingan gandum terbesar di dunia di mana? Di Sumatera, namanya Indofood I. Tahukah kalian penggilingan gandum kedua terbesar di dunia? Di sebelahnya. Namanya Indofood II. Jadi menjawab pertanyaan apakah konsumsi 139 kg/kapita itu sudah dengan mencampur dengan konsumsi staple lain? Sudah kok. Tap kita ga punya iklim untuk tani gandum. Itu aja.

Jadi sudahlah, kalo memang kita mampunya makan beras ya mau diapain lagi? Jepang dan Cina konsumsinya bisa rendah karena luas Negara mereka mencakup iklim tropis (bisa panen beras) DAN subtropis (bisa panen gandum >> terigu >> mie).

Gue lebih concern kepada teknologi yang kita gunakan untuk swasembada beras. Di atas kertas, jika kita menerapkan teknologi yang sama dengan Vietnam dan Thailand, kita akan mampu untuk swasembada beras (local + buffer) DAN masih bisa ekspor.

Produktivitas lahan tergantung dari teknologi pengairan, suplai air, bibit unggul yang digunakan.

Sekarang kita memiliki produktivitas 5 ton/ha sawah. Genetic engineering sangat kita perlukan untuk menghasilkan padi tahan hama dan yang mampu panen 3-4 kali pertahun ketimbang sekarang (terakhir gue baca, 2-3 kali setahun ). Dengan ini, diharpakn produktivitas tahunan meningkat >> 5 ton/ha sawah.

Bisa dilakukan? Bisa. Thailand adalah contoh yang sangat baik dalam genetic science untuk hasil tani mereka. Itu sebabnya semua durian di Thailand bijinya kecil dan dagingnya besar. Ini sebabnya thailand dengan raio landmass yang sama 0.76 ha/orang dengan indonesia, mampu mengekspor beras dan kita terkadang mampu dan terkadang tidak. Jika negara lain mampu melakukan inovasi dalam teknologi, maka Indonesia harus bisa. Inovasi teknologi bergantung pada otak manusia. beda dengan iklim dan landmass yang merupakan takdir yang tidak dapat kita ubah, kita semua terlahir dengan otak yang sama.

 

Apakah kita bisa swasembada beras? Bisa. Lahan terbatas tapi bisa. Tinggal kitanya aja mau gak jadi orang pinter menambahkan teknologi.

Apakah kita bisa swasembada sembako yang lain? dalam strategic management, ada istilah, choose your battles. Choose the battles that we can win. We can win on beras. We may win on daging sapi. We cannot win on gandum and kedelai. We already win on minyak goreng (secara ya banyak bener plantasi kelapa sawit)

Gula dan garam? mari pakai akal sehat saja. Jika memang tidak mampu karena lahan terbatass jangan dipaksakan. kondisi sekarang dengan porduksi lokal + impor, gula dan garam harganya X. Jika maksa swasembada dan harganya menjadi 2X, itu akan membahayakan hajat hidup orang banyak.

Apakah kita bisa swasembada DAGING sapi? Gue akan berprasangka baik dan percaya pada angka 80% ini. Tapi sampai target demand local + buffer tercapai, impornya jangan dikurangi. Kasian rakyat.

Sebenernya dengan harga naik 38%, gue jadi ingin riset lebih lanjut, apa benar swsembada daging sapi kita sudah sampai di 80%? Jangan-jangan tidak. isu yang santer sekarang adalah produksi lokal sudah 80% dan impor 20% tapi stoknya dipermainkan agar ada keuntungan yang diambil. Ini adalah perkara hajat hidup orang banyak. Siapa pun yang mengambil keuntungan layak diparut mukanya.

Itu aja sih. Udah malem. Tidur dulu. Thanks for reading guys.


Category: Uncategorized

Kita dan Makanan

Berawal dari sharing gue di twitter tentang makanan, gue akhirnya bikin juga posting blog ini.

 

Generasi Dulu dan Sekarang

Tentang makanan dan pola hidup, ada beberapa hal yang berbeda antara generasi bapak kita dan generasi kita sekarang. Gue kupas satu persatu ya.

  1. Ketika bapak dan ibu gue dan teman-teman segenerasi mereka melahirkan kita, semuanya melahirkan anak yang sehat. Tapi ketika generasi kita melahrikan anak-anak kita (cucu mereka), kita melihat bertambahnya anomali seperti, autism, anak bayi yang lahir tanpa anus. Atau paru-paru di luar badan. Jantungnya gak punya klep yang sempurna. Bayi lahir tanpa tempurung otak.
  2. Ketika bapak dan ibu gue dan teman-teman segenerasi mereka mencoba punya anak, hanya sedikit sekali yang tidak berhasil. Di generasi kita, mari kita lihat kiri-kanan. Pasti ada 1 teman SMP kita yang susah punya anak. Ada 1 lagi di SMA. Ada 1-2 lagi di teman kuliah. Ada yang terkena rubella lah. Ada yang terkena toksoplasma lah. Banyak dan miris mendengarnya.
  3. Ketika kita semua masih kecil, satu kompleks biasanya didatangi oleh 1 tukang somay, 1-2 tukang baso, 1 tukang bubur ayam keliling dan lainnya. JAman sekarang, kalo kita jalan di trotoar jalan KH Mas mansyur, dalam jarak 700 meter gue melihat setidaknya 5 tukang bubur ayam bersaing.

 

Semuanya menuju ke satu hal. Bahwa pola hidup generasi kita ternyata melahirkan generasi anak dengan kelainan yang meningkat. Apa penyebabnya? Ada 3 hal yang kita konsumsi setiap hari. Udara, makanan dan air.

 

Makanan Dulu dan Sekarang

Udara yang kita hirup lebih banyak polusi. Buruknya pemerintah mengelola Negara berbuntut pada kondisi di mana kita memiliki terlalu banyak mobil, mengonsumsi terlalu banyak bensin dan menghasilkan terlalu banyak polusi. Namun ini adalah sesuatu yang tidak dapat kita hindari. Udara adalah sesuatu yang kita tidak dapat pilih untuk hirup atau tidak. Jadi mari kita tidak perlu bahas udara.

Makanan. Ini yang menjadi pokok bahasan gue. Setidaknya waktu gue kecil, Jumlah itu ga banyak-banyak amat. Seperti yang tadi gue bilang. Sekomplek itu ga seberapa banyak lah tukangnya. Mereka juga orang-orang yang menjadi langganan kita. Lha sekarang? Gila tukang bubur ayam berserakan di mana-mana. Pedagang kaki lima (K5) jadi punya banyak saingan. Di saat yang sama, di generasi kita ini mulai terungkap banyak hal. Berikut adalah kasus-kasus yang pernah terjadi. Kita bisa google sendiri kok.

  1. Jualan martabak, ternyata dagingnya pake daging busuk (lebih murah, cost cutting).
  2. Jualan nasi goreng, ternyata nasinya adalah nasi basi yang dibeli dari sisa vendor catering (lebih murah, cost cutting).
  3. Makan somay pinggir jalan, ada kaki kecoanya terselip dalam satu somay (Mungkin orangnya ga mampu ngontrak tempat bersih di saat mengolah somay mentahnya).
  4. Air minum dan es batunya dari air mentah (kalo masak airnya dulu, jadi mahal, cost cutting).
  5. Jualan bubur ayam, ayam yang digoreng adalah ayam mati kemaren (lebih murah, cost cutting).
  6. Jualan baso, pake boraks biar awet dan gak buang stok (reduce waste, cost cutting).
  7. Jualan tahu pake formalin biar awet dang a buang stok (reduce waste, cost cutting).
  8. Makan gudeg di pinggir jalan ganesha, tepat di depan tai kuda yang mongering.
  9. Makan di pinggir jalan yang ada lalatnya. Kita ga tau apakah lalatnya cukup santun untuk cuci kaki dulu setelah sebelumnya dia hinggap bangkai tikus 200 meter di kanan.

 

Kenapa ini terjadi? Mungkin karena harga makanan gak bisa terlalu mahal. Kalo mau pake daging yang busuk atau tiren, pedagang bisa cost cutting. Kenapa sih cost cutting jadi idola? Karena saingan banyak dan harga jual ga bisa mahal-mahal. Dulu, orang desa migrasi ke Jakarta karena Jakarta adalah land of opportunity. Dengan jualan baso, dia masih bisa kirim banyak uang ke kampong. Itu generasi dulu. Generasi sekarang? Jakarta sudah berubah jadi land of opportunists. Jika tidak cost cutting, maka lebih sedikit uang yang terkumpul.

 

Pastinya masih lebih banyak pedagang K5 yang jujur. Yang beli daging ayam segar. Yang beli daging sapi yang ga busuk. Yang masak airnya dulu sebelum dijadikan es. Tetap saja jika dia jualan di tempat yang lingkungan kotor, ada lalat yang menghinggapi dan kita gak tau lalat itu dari mana.

 

Gue bukan dokter dan tidak memiliki data untuk membuktikan korelasi antara bayi lahir cacat dan jumlah tahu dan baso yang orang tua konsumsi sebelumnya. Tapi tolong tunjuk tangan jika ada yang setuju bahwa makan formalin dan daging busuk itu sehat dan halal. Bahwa daging ayam mati kemaren benar-benar tidak ada 100% aman dan tidak ada korelasinya dengan sakit. Mohon tangannya. Ga ada kan? Setuju kan semuanya bahwa jika pun hubungannya dipertanyakan, cheating dalam berjualan makanan itu sangat keji dan berbahaya.

 

Gue pribadi juga sering makan di warung. Tapi warung itu terpercaya. Sudah tahunan. Dalam warung itu, ada air keran yang mencuci piring. Ada panic yang masak air panas untuk minum. Lha kalo gerobak langganan? Meski langganan tahunan juga tetep aja gerboak. Logikanya, gerobak = mobilitas tinggi = akses ke air bersih ga ada = cuci piring pake apa? Dia pipis di pinggir jalan megang anunya, cuci tangan pake apa? Iya kalo baek anunya bersih. Kalo dia baru semalem pulang dari lokalisasi gimana? Paling aman ya memang warteg sih. Di dalam. Kita bisa liat kompornya masak air. Kita bisa liat ikannya dimasak sendiri. Itu mengurangi resiko daging curang dan air mentah, setidaknya. Meski gak mengurangi resiko lalat yang menghantarkan tipus, hepatitis dan berbagai macam penyakit lain juga. Selama ini gue makan di kantin basement. Air keran ada. Mereka cuci piringnya. Mereka masak makanannya. Dan lalat ga ada.

 

We owe it to ourselves to stay healthy. We owe it to our children to be a healthy parent and giving birth to healthy children. Segitu aja tweeps. Thanks.

 

 

 

 


Category: Uncategorized

UMP 2.2 juta

Menarik sebenarnya tindakan pemerintah menaikkan UMP ini. Banyak pengusaha yang protes. Apakah salah buruh? Tentu tidak, Buruh layak mendapatkan penghasilan yang layak. Semua orang menginginkan hal itu. Namun apakah ini tindakan yang tepat? Apa multipler effect dari kondisi ini?

Dalam kondisi yang ada, ini mungkin adalah tindakan yang tepat. Dalam kondisi yang ideal, ini tidak tepat. Kenapa? Coba kita lihat alasan banyak brand mendirikan pabrik di Indonesia. Ada banyak lagi yang tidak buka pabrik di Indonesia, tapi sourcingnya dari Indonesia. Saat ini ada lebih kuat alasan untuk tidak investasi di Indonesia ketimbang investasi.

Pertama, infrastruktur yang buruk. Mau buka pabrik tapi jalan untuk truk rusak. Jalan menuju port Tg Priok terlalu kecil untuk melayani traffic truk. Seharusnya thru put container di Tanjung Priok per minggu bisa 5000 TEU, tapi karena jalanan rusak dan kecil, kita hanya mampu membuka thru put untuk 4000 TEU.

Kedua adalah uang siluman dan uang preman. Sudah bukan rahasia lagi ada banyak uang bawah meja yang harus pengusaha keluarkan untuk menjalankan bisnis di Indonesia. Mau buka pabrik di Indonesia? Di level menteri sudah disapprove, pergilah pengusaha itu ke site. Gubernurnya datang.

“Fuck the minister. I don’t report to him. This is my land. You give me something.”

Lantas bupatinya datang.

“Fuck the governor. tI was chosen by the people. You want to build a factory here? You pay me something.”

3 negara paling bersih di dunia, Norway, Denmark dan Swedia menahan diri untuk buka took dan pabrik lego, toko Ikea karena factor ini.

Ketiga, listrik masih byarpet.

Sedangkan alasan untuk buka pabrik di Indonesia?

Pertama: untuk meraup pasar Indonesia sendiri yang sangat atraktif karena banyak yang growing middle class. Mercedez buka pabrik di Indonesia untuk melayani pembelian di Indonesia. LG buka pabrik terbesarnya di dunia itu di Indonesia. Sebagian output di ekspor ke mancara Negara dan sebagian untuk konsumsi kelas menengah. Nike juga begitu. Sebagian diekspor sebagian masuk gerai lokal. Foxconn, produsen iphone juga berencana buka di sini.

Kedua: Karena bahan baku murah dan skill buruh yang bagus. Memang benar bahwa ada banyak sekali merk yang sourcing di Indonesia seperti merk baju Macys, Victoria Secret, Walmart, etc etc.

Ketiga: upah buruh yang lebih murah dari cina.

 

Nah nah nah. Kalo upah buruh kita jadi sama dengan kita. Dunia tidak akan lagi buka pabrik di Indonesia. Buat apa? Karena tidak ada lagi yang membuat Indonesia lebih unggul. Bahan baku? Di cina juga ada. Upah buruh? Sama mahalnya. Infrastruktur? Malah cina lebih bagus. Uang siluman dan korupsi? Cina lebih bersih.

 

Sampai di sini, logika yang bermain adalah dua hal yang bertentangan,

Pertama, naiknya upah buruh akan berdampak kepada daya saing kita juga. Kalo upah naik, harga barang naik, orang jadi males beli, toko bangkrut, buruh diPHK juga. Gitu logikanya.

Kedua, upah buruh harus naik karena buruh layak mendapatkan penghidupan yang lebih baik.

 

Issuenya di sini adalah: mengusahakan kehidupan yang lebih baik untuk buruh. Here’s the thing: naik upah adalah salah satu cara, tapi akan berakibat fatal ke daya saing.

Jadi gimana dong memberikan penghidupan yang lebih baik untuk mereka?

Jawabannya gue dapat dari seseorang di twitter namun maaf user idnya lupa. Yang jelas, dia seorang pengusaha dan solusinya jenius ekali. Jawaban berikut bukan dari gue ya, tapi dari dia:

Pertama, Buatlah infrastruktur yang bagus dan bersihkan korupsi seperti cina. efeknya apa? Pengusaha berlomba-lomba buka pabrik di Cina. Saking banyaknya pabrik di Cina, pengusaha kekurangan buruh. Karena kekurangan buruh, Pabrik di sebelah kiri menaikkan upahnya. Buruh pindah. Pabrik kanan butuh buruh juga, dia naikin upah lebih tinggi lagi. Pabrik di belakang ga mau ketinggalan, dia naikkin juga.

Perbaikan taraf hidup buruh terjadi dengan natural karena pabrik menaikkan upahnya dengan cara natural. Karena pabrik menaikkan upahnya secara natural, pabrik akan berusaha agar kenaikkan upah ini tidak sepenuhnya ditimpakan ke harga jual. Karena kenaikkan upah ini adalah sebuah kebutuhan produksi, maka nilai ekonomisnya pun bergeser secara natural. Kerugian terjadi di pabrik. Maksudnya gini. Dengan upah buruh $2, pabrik A jual baju seharga $20. Pabrik B ngebajak buruh gue dengan upah $2.5 dan dia jual baju $20 juga. Sialan lo! Kok bisa ya Pabrik B? Ya udah Pabrik A naikin juga upah buruh jadi $2.6 tapi mau gak mau harus tetep jual bajuu $20. Lha wong pabrik sebelah juga tetep bertahan bisa jual di $20. Ngerti kan logikanya?

Bandingkan dengan Indonesia. UMP dinaikkan atas dasar kebijakan pemerintah. Nilai ekonomisnya gak masuk. Karena gak masuk dangan natural, yang terjadi adalah pabrik akan menimpakan sebanyak mungkin penambahan biaya ini pada harga jual. Pembeli yang rugi. Kalo pembelinya di Indonesia, semua orang rugi karena jadi mahal. Yang terjadi gini. Pabrik C dan pabrik D sama-sama upah buruh $2 dan jual baju $20. Tiba-tiba UMP dinaikkan jadi $2.5. Pabrik C dan pabrik D ngerasa, ah semua pabrik toh kena ini. Ya udah pabrik C dan pabrik D sama-sama jual baju $20.5 juga. Beban ke mana? Beban ke pembeli. Kalo pembeli ini elo dan gue, ya biaya hidup kita jadi mahal. Tapi gak papa lah ya, buruh kan saudara setanah air, rela dong ya biaya hidup naik dikit demi buruh. Rela kok. Tapi tau apa yang terjadi dengan eksport kita? Setelah kenaikan UMP itu, Victoria Secret ingin sourcing celana dalemnya dari cina dan Indonesia. Dia survey dong harganya.

“Mas bro, kalo gue bikin celana dalem seperti ini berapa harganya mas bro?”

Di cina Pabrik A dan pabrik B bilang: $20.

Di Indonesia, Pabrik C dan D bilang: $20.5

Dadah Indonesia…

Gak lama, pabrik C dan D tutup deh. Gak ada order.

 

Ini lah yang gue maksud sebagai kenaikan taraf hidup buruh harus dari proses natural kenaikan kebutuha pabrik. Dan kenaikan kebutuhan pabrik harus akibat persaingan mencari buruh, bukan kebijakan pemerintah.

 

Kedua: nah ini dari gue. Menaikkan taraf hidup semua orang itu bisa dengan 2 cara. Naikkan upah mereka, atau turunkan biaya hidup mereka.

Seorang buruh pergi dari rumah ke pabriknya naik 3 kali angkot. 3 x 2000 = 6000. Total sehari abis aja 12000. Kemana larinya uang itu? Ke juragan angkot yang swasta. COba kalo transportasi dibenahi dna disubsidi pemerintah dengan lebih baik. Biaya bus si buruh mungkin bisa 4000 saja.

 

Seorang buruh pulang ke rumah nyalain listrik. Listrik dari PLN. PLN bangkitkan tenaga dari sebagian solar dan sebagian batu bara. Cerita Batu bara? Ancur. Ini salah satu kasus paling ekstrim yang dialami sendiri sama temen gue: Pemilik tambang di Kalimantan mau shipping batu baranya ke PLN di jawa. Bupatinya minta bagian, kalo ngga, ijin operasi dicabut. Sebagian masyarakat ada yang nyegatin truknya maintain duit. Kalo nggak, jalan dipalang. Masuk tongkang di pinggir laut, ada aparat minta bagian. Sampe jawa, gitu lagi. Maling semua. Pada akhirnya PLN harus membayar 1 ton batu bara dengna Rp X padahal seharusnya bisa Rp 0.5X. tapi PLN ga mau rugi dong? Akhirnya dengan batu bara Rp 2X,dia naikkan tariff dasar listrik kita. Yukkkkk. Itu lah bahayanya mental maling.

 

Yang kayak gini yang membuat kita beda dengan Singapur dan Malaysia. Di sana, gaji seseorang itu 3 kali lipat kita. Tapi biaya hidup kita hanya 2/3 dari biaya hidup singapur. Yang terjadi, kita di Indonesia hanya bisa nabug lebih sedikit dari pada jika orang yang sama tinggal di Singapura.

Nah jadi rakyat biasa aja udah nyesek sama korupsi, gak heran kenapa banyak pengusaha yang males sourcing dari pabrik di Indonesia dan kenapa banyak merk terkenal yang males buka pabrik di Indonesia.

 

Ingin menyejahterakan buruh?

Bangun infrastruktur. Biarkan pabrik buka di sini dan rebutan buruh. Upah pasti naik.

Bangun infrastruktur dan berantas korupsi. Niscaya biaya hidup jadi murah.


Category: politics

Kapitalisme, Demokrasi dan Indonesia ke Depannya

Kapitalisme dan Demokrasi

Amerika – Pendidikan yang tidak sejalan dengan kebutuhan

Obama menjadi presiden untuk yang kedua kalinya. Rakyat US masih memercayakan ekonomi US, yang mana ekonomi terbesar di dunia, kepada presiden ini.

Masalah dengan kemakmuran di US sebenarnya terletak di ideology yang masyarakat US sendiri pegang teguh. Kapitalisme. Benang merah dari kapitalisme adalah mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal yang paling sedikit. Pasarnya bebas. Yang kuat, menang.

Masyarakat US meminta agar mereka mendapatkan pekerjaan. Di sini masalah pertama bagi mereka. Dan ini sebenarnya sudah masalah lama, dari 10 tahun yang lalu. Masalah pertama dimulai dari system pendidikan mereka. Sistem pendidikan US masih mengacu kepada kebutuhan ekonomi di tahun 1950-1960 yang mana: hanya dibutuhkan 20% kerah putih (lulusan universitas) dan 80% lulusan SMA (kerah biru). Di tahun 1950-1960, ini cocok karena pada saat itu, industry manufaktur membutuhkan banyak orang. Jalan 20 tahun, labour cost di US makin tinggi. 70% populasi asudah masuk kelas menengah. Perusahaan seperti GM, Ford, Walmart, Apple yang kapitalis, harus berpikir, jika pabrik tetap di US, maka harga jual unit produk mereka jadi tinggi. Jadi tidak dapa bersaing. Jadilah perusahaan pelan-pelan memindahkan pabrik mereka ke Thailand, Cina, Indonesia dan Vietnam. Pemindahan ini membuat produk mereka murah dan dapat dibeli baik oleh masyarakat US mau pun dunia. Pelan-pelan, tingkat pengangguran naik. Makin banyak lulusan SMA yang menganggur dan tiba-tiba sadar bahwa pekerjaan yang tersisa membutuhkan gelar sarjana. Ini baru 1 masalah. Pengangguran dari kerah biru. Detroit yang dulunya pusat otomotif US, sekarang seperti kota hantu,

Apa yang terjadi di cina dan asia tenggara? Pekerjaan membanjir. Pelan-pelan terbuka pabrik sana-sini di Indonesia dan cina. Pengangguran menurun. Pertumbuhan ekonomi kita naik. Ini sudah terjadi dalam 15 tahun terakhir.

 

Bagaimana dengan kerah putih? Hal yang sama terjadi. Miscrosoft sadar bahwa memekerjakan 3000 customer service di amerika sangat mahal. Being capitalist, Microsoft mencari negara yang banyak lulusan universitasnya dan mampu berbahasa inggris. Pilihan jatuh ke tangan India dan Filipina. Mulai lah pekerjaan kerah putih yang sifatnya non strategic seperti customer service dan IT, dipindahkan. Sekarang 1/3 staf Microsoft adalah orang india, berlokasi di india. India dan Filipina mengalami penyerapan tenaga kerja yang baik. Apa yang terjadi di amerika? Sekarang lulusan diploma pun mulai menganggur. Tinggal lulusan universitas. Ini masalah pengangguran gelombang kedua.

 

Masalah ketiga, system pendidikan amerika tidak berubah sedangkan industry yang amerika fokuskan berubah. Pekerjaan yang tersisa di amerika hanya kerah putih strategis, sales, marketing, banking, produk desain. Contoh gampangnya, Microsoft. Pekerjaan trouble shooting IT dan customer service, yang kerah putih non strategis, sudah pindah ke india. Sedangkan pekerjaan seperti desain produk untuk windows 8, sales dan marketing, masih di US. Pertama, lowongan ini tidak banyak. Kedua, lowongan ini butuh gelar sarjana. Tapi ada daya? 80% lulusan amrik hanya SMA dan diploma. Akhirnya mau gak mau, amerika masih membuka keran imigrasi bagi lulusan sarjana. Makanya kita sering bingung, ada banyak sekali pengangguran di US tapi kok ya tetangga kita, sodara kita ada aja yang bisa kerja di US.

 

Middle class US sekarang terperangkap dalam pengangguran. Pekerjaan kerah biru gak ada. Pekerjaan kerah putih sangat sedikit. Yang ada pun, mereka kurang punya kualifikasinya.

 

Apakah kemudian orang-orang yang survive di US dapat menikmati hidup? Well ga juga. Misalnya gini. Banker di US ditarget 100 customer per tahun. Dia juga kesulitan karena dengan banyaknya pengangguran, gak ada yang bisa jadi customer mereka. Semuanya mulai melingkar. Yang jelas ameriak bisa survive karena pasar dari produk mereka mendunia. Iphone misalnya. Desainernmya masih di US. Pabriknya di Cina. Produknya dijual ke seluruh dunia.

 

Jatuhnya Negara maju dan bangunnya Negara berkembang + Demokrasi

Cina dan India sangat baik dalam menangkap peluang perpindahan pekerjaan ini. Cina membangun infrastrukturnya denagn rezim yang parah. Pekerjaan akan pindah ke cina dan produk harus diship out. Apa yang kita harus lakukan?

Bangun port besar di shanghai.

Oh bangun di mana pak?

Bangun di sini sampai situ.

Tapi pak, di sana ada banyak orang.

Pindahkan mereka.

Simple. Otoriter. Semua orang nurut. Hasilnya? Liat cina sekarang. Saking banyaknya produk pindah pabnrik ke cina, there is a million millionaire di Cina. Nah Indonesia? Masih aja sibuk sama mbah priok. Gimana mau bangun port?

India sangat baik dalam pendidikan. Makanya bisa menggaet pekerjaan kerah putih itu.

 

Tadinya kita sejajar dengan mereka. Tapi Cina dan india siap menadah pekerjaan ini dengan pemerintahan yang otoriter. Ingat kata lee Kwan Yew. Demokrasi itu cocok untuk Negara yang middle class (terdidik)nya besar. Kalo masih banyak yang miskin, sebaiknya memimpin dengan rezim. Hanya saja, pastikan pemimpin itu amanah. Ini yang tidak pernah terjadi di Indonesia. Saat order baru, semuanya teratur dan terarah tapi pemimpinnya tidak amanah. Order baru tumbang, demokrasi naik, semua pelaku demokrasi sibuk malingin uang negaa dan membodohi rakyat. Kita pergi dari satu ekstrim ke ekstrim lain dengan memanen semua kejelekannya saja.  Apa yang terjadi sekarang 14 tahun dari reformasi, seharusnya kita sudah bisa bangun infrastruktur dan menaikkan pendidikan kita. 14 tahun itu ½ generasi lho. Nyatanya? Semua orang sibuk maling dan pada akhirnya kita ketinggalan dari cina dan india yang benar-benar memanfaat kesempatan itu dengan sikap kepemimpinan yang otoriternya.

Perhatikan semua Negara berkembang di bawah ini dan gaya kepemimpinan mereka:

Cina, otoriter, pabrik semua dibangun di sana.

India, demokrasi terpimpin, semua kerah putih pindah ke sana.

Brazil dan Russia, pemimpinnya dari partai sosialis, ekonomi tumbuh pesat

Singapur dan Malaysia, rezimnya ketat seperti Suharto, dan kita semua ngiri sama kemajuan Negara ini. MRT ada. Jalan beres. Negara maju.

7 negara di atas menikmati kesempatan emas dengan baik dan memakmurkan negaranya dan demokrasi tidak ada di tempat mereka. Kita? Kita praktek demokrasi tapi politisi kita preman dan tukang palang semua. Gak maju-maju kitanya. Pemerintah mau maju, dijegal partai lain. Susah.

Kok jadi ngomongin demokrasi ya? Well, balik ke kapitalisme.

 

Road Map Indonesia Ke Depan

Dulu, middle class amerika konsumtif dan India, cina dan Indonesia memasok kebutuhan kebutuhan middle class US ini.

Sekarang, middle clas india dan cina memasok kebutuhan middle class US dan kita memasok kebutuhan ekonomi dari middle class india dan cina.

Ini adalah ironi yang menguntungkan. Ironis karena kita tertinggal satu langkah dari cina dan india karena kita menyia-nyiakan reformasi. Menguntungkan karena pasar india + cina jaaaauh lebih besar dari pada pasar US dan eropa. Ketika US dan eropa kolaps, pabrik di cina productionnya menurun. Tapi kita tidak. Karena pabrik di kita sebagian memasok kebutuhan US dan eropa, dan sebagian lagi memasok kebutuhan india dan cina. Untuk detilnya ini yang kita ekspor:

Bahan mentah ke cina dan india untuk konsumsi rakyat mereka (tetap kenceng walau krisis)

Bahan mentah ke cina dan india untuk mereka olah lagi dan ekspor ke US dan eropa. (nurun saat kritis)

Bahan mentah ke US dan eropa (nurun saat krisis)

Bahan jadi ke semua Negara  (tetap kenceng walau krisis)

Keren kan? Hasilnya? Ekspor kita memang turun tapi gak turun-turun amat. Either by luck or by design, kita selamat karena kelambatan kita sendiri. Tapi ya masak kita mendesain diri kita untuk selangkah lebih lambat dari Negara lain?

 

Kalo gue bilang, Gita Wiryawan sudah benar ketika dia mengarahkan Indonesia sebagai produsen barang jadi dan menaikkan pajak untuk ekspor barang mentah. Ekspor barang jadi memiliki multiplier yang banyak. Buka pabrik di sini sehingga ada lapangan kerja. Cargo value yang tinggi sehingga devisa tinggi.

 

Sekarang pendidikan. Banyakin STM agar kita siap kerja. Banyakin universitas agar lulusannya bisa memasok lapangan kerja dalam negeri dan luar negeri. Kenapa luar negeri? Liat jepang dan US. Mereka kekurangan tenaga kerja. Beberapa Negara seperti US, kekurangan tenaga kerja karena salah system pendidikan. Tapi eropa dan jepang, kekurangan banker, kekurangan dokter, kekurangan perawat (semua yang kerah putih dan lulusan tinggi) karena populasi mereka menua. Biarkan manusia Indonesia berdiaspora ke mana-mana (ini sangat ditentang PDIP, dan itu yang membuat gue membenci PDIP). Rejeki itu tersebar di semua Negara, Kita harus manfaatkan. Kalo kita jadi tenaga ahli di luar negeri, bukan artinya Indonesia ga bisa berikan lapangan kerja. Tapi karena (1) Negara lain kekurangan tenaga ahli (2) indonesia tidak butuh 250 juta orang untuk berdiam di Indonesia untuk menjalankan ekonominya.

 

PR ketiga dari SDM mungkin meningkatkan wiraswasta. Benerin prosedur hak paten. Mudahkan prosuder buka usaha. Bisa jadi 10 tahun lagi Bejo dari Nganjuk membuat saingan apple bernama “Duren”.

 

Ya udah gitu aja sih pengamatan gue. Inti dari posting ini adalah: ketika kapitalisme memakan tuan sendiri, kita harus bisa memanfaatkannya. Itu yang 15 tahun terakhir kita gagal, karena demokrasi dipakai untuk malingin duit.

Rgds.


Category: politics

Bangga Sama Indonesia

Ini adalah posting gue sebelum 17 agustusan.

Cinta Kita sebagai Anak Bangsa
Sama seperti kalian, gue gak pernah minta untuk dilahirkan jadi warga Negara Indonesia. Ini sudah suratan. Bumi tempat gue berpijak telah memberikan segalanya dengan murah hati. Ada dua ibu yang mengasihi gue tanpa pamrih. Ibu kandung gue, dan ibu pertiwi ini. Leh karenanya, gue cinta pada Negara ini. Indonesia.

Gue yakin kalian juga cinta pada Negara ini. Berusaha mengharumkan namanya. Berusaha membelanya. Berusaha mmbuat benderanya berkibar dengan martabat dan harga diri. Tanya semua orang di kiri kanan kita, ini lah yang kita akan lakukan. Malah, kita semua sudah berusaha membuat Indonesia bangga masing-masing dengan kapasitasnya sendiri. gue yang punya kesempatan, berusaha mengusung nama Indonesia dengan baik dalam 5 tahun kerja gue di luar. Juga membuka industry buku untuk buku komedi local setelah sebelumnya toko buku kita didominasi buku terjemahan saja. Cari donatur kiri kanan bersama teman-teman agar belasan guru dan puluhan anak sekolah dapat tetap mengjar dan tetap di sekolah.

Maling
Namun ada beberapa hal yang sangat mengganjal gue ketika melihat Indonesia masa kini. Korupsi. Setiap hari, media mainstream mau pun non-mainstrem membuka borok mereka memegang kuasa, baik itu eksekutif dan legislatif. Mereka yang kita percaya mewakilkan kita. Korupsi. Mereka yang kita pilih eksekusi pemerintahan, korupsi. Mereka yang bertugas menjadi palang pintu akhir keadilan dan penegakkan hokum korupsi.

Lucunya, mereka ini adalah orang yang tiap 5 tahun sekali meminta kita untuk percaya pada mereka untuk menjalankan Negara ini. Gila men perih banget ngeliatnya.

Maling yang menghisap Kemajuan
Ketika maling ada di mana-mana dan tidak tersentuh hukum, Negara jalan di tempat. Prestasi olahraga tidak terurus. Singapura dan Malaysia yang merdeka lebih lambat dari kita, jadi lebih maju dari kita. MRT gak jadi-jadi karena keberadaannya akan merugikan koruptor. Negeri tetangga udah beres dengan MRT dan bangun marina bay sands dan Menara petronas. Negara lain udah beres bangun kilang minyak, kita masih beli minyak jadi karena itu yang menguntungkan mafia minyak. Satu container berankat dari pulau jawa ke papua berisi semen, dipatok harga ongkos kirim 40 juta rupiah karena ada mafia transportasi yang menguasai. Kasian jadi orang Indonesia. Di mana kita hidup, di sana ada mafia.

Menpora entah sibuk ngapain yang jelas selama dia menjabat, prestasi olahraga ga pernah seancur ini. Menteri pertanian yang dari partai islam itu entah ngaain di departemennya sampe kedelai aja kita impor. Kementerian agam entah ngapain aja yang jelas, banyak datamembuktikan bahwa ongkos haji bias lebih murah dari yang mereka patok. Kasian jadi jemaah haji Indonesia. Seharusnya nabung X aja cukup, tapi karena mark up, harus bayar Y. nabung lebih lama. Bukan gak mungkin ada yang meninggal duluan sebelum mampu bayar Y.

Masih Bangga sama Indonesia?
Dulu gue termasuk golongan yang mengajak orang melakukan perubahan. be that change maker. Tahun 2008-2010, gue dan seorang dosen bernama Yanti Herlanti, mencarikan donator untuk guru dan anak sekolah agar mereka dapat hidup lebih baik. Suatu hari gue berhenti karena urusan kantor. Tapi lantas gue refleksi balik. Kesejahteraan guru adalah tanggung jawab pemerintah. Pendidikan adalah tanggung jawab pemerintah. Apa yang terjadi di Indonesia? Gue dan bu Yanti pontang-panting cari donator kiri-kanan bertahun-tahun cari dana untuk guru, sedangkan kemendikbud masih saja tetap korupsi dan tidak peduli. Katanya pendidikan gratis tapi tetap tidak gratis.

Tahun 2010-2011, gue bergabung dengan www.sahabatfoundation.org. Ini sebuah organisasi dari Sampoerna group di mana mereka yang mampu, menolong memberikan modal tanpa bunga pada orang kecil, untuk menjalankan usaha mereka. Seperti Jualan kambing, buka warung, ternak lele. Gue promo kiri-kanan. Mulai dari Singapur sampe gue balik ke Indonesia, gue sering sekali ngajak orang untuk gabung ke sini. Kemudian gue terdiam dan merefleksikan lagi. Kenapa orang-orang ini segitu gak mampunya? Bukankah untuk UKM, Indonesia punya bank daerah yang membidik microfinance? Ternyata jawabannya gak kuat di bunga. Microfinance tidak menuntut jaminan namun bungannya 15%-20%. Bandingkan dengan SBI yang 6.75%. jika saja pemerintah meregulasi microfinance agar bunga tidak lebih dari 10-15%, niscaya orang-orang ini akan berdaya guna. Dan ini adalah tugas pemerintah. Pemerintah memilih untuk tidak meregulate dan pada akhirnya menyusahkan rakyat kecil. Pemerintah yang dulu minta kita milih nereka, menyusahkan kita yang gak pernah minta mereka jadi pemimpin.

Gue akhirnya sadar satu hal: gue mau jadi change maker? Silahkan, bagus. Tapi beberapa hal yang gue lakukan ini sebenarnya tanggung jawab pemerintah yang mereka tidak jalankan.
Dari sini gue sadari 2 hal.

 

pertama: Jika gue ingin menjadi change maker, maka pastikan gue melakukan sesuatu yang memang pemerintah bukan kewajiban pemerintah. Kenapa? Karena jadi katumanan.

 

kedua: Ihtiar ribuan orang melakukan perubahan hasilnya tidak akan optimal jika goresan tanda tangan 1 pejabat tolol mementahkan usaha itu. Contoh ya? Kita pergi ke NTT yang susah air. Kita habiskan ratusan juta membangun pompa air yang mengantarkan air dari jauh. sialnya satu. pompa itu butuh pasokan solar yangkita sendiri gak bisa biayain.

 

Nah kalo pejabat di sana tidak menggiatkan suplai solar,pompa air itu ga ada gunanya. Padahal dia bisa saja membuat sebuah kebijakan. 10% solar kiriman dari jaarta, untuk pompa air ini. 1 goresan tanda tangan saja dibutuhkan untuk memerbaiki hajat hidup orang banyak. nahkenyataan bahwa banyak orang terlantar di Indonesia menunjukkan sesuatu yang salah dengan bagaimana tanda tangan itu digunakan.

 

Contoh jelasnya ya, kalo gue punya 10 milyar, jangan sumbangkan untuk kemajuan persepakbilaan Indonesia. Itu udah jelas tanggung jawab pemerintah. Kalo punya 10 milyar, mungkin gak perlu santunin uang sekolah anak gak mampu karena janji pemerintah adalah sekolah udah gratis. Kenyataan bahwa sekolah masih ga gratis, itu kegagalan pemerintah. Bayarin orang naik haji? Well, sudah ada yang membongkar di twitter bahwa harga-harga naik haji itu sebenernya gak semahal itu.

Intinya: gue sih akan pastikan bahwa uang dan tenaga gue gak abis untuk mengubah sesuatu yang sebenernya udah jelas jadi tanggung jawab Negara.

Kalo mau efektif, masuklah ke dalam lingkaran mereka, dan ubahlah dari dalam. Itu jauh lebih efketif secara teori.

 

Atau mungkin bantuin anak-anak yang terkena kanker, seperti yang dilakukan Pandji. Itu memang di luarranah pemerintah. Ok lah jadi change maker di situ. tapi jadi change maker dengan cara membantu bikin jalan di Papua? Man… mending elo dateng ke pemdanya, cari bupati yang bisa elo tempeleng dan suruh dia bikin jalan itu. Lebih efektif dan memang itu kewajiban dia.

Kuis – Apa yang Kita Layak Banggakan
Nah pembaca yang budiman, sebagai penutup, gue ingin mengajak anda ikut dalam kuis.. Hadiahnya, DVD serial Jomblo gue. Gue minta kalian untuk sebutkan 1 hal tentang pemerintahan Indonesia yang membuat bangga.

Gue spefisik bilang pemerintah Indonesia dan bukan Indonesia karena gue butuh tahu apakah ada hasil man-made kita yang bias dibanggakan?

Contoh yang ga termasuk hitungan:
1. Saya bangga dengan keindahan alam Indonesia. Ini gak masuk itungan. Keindahan alam bukan hasil kerja menbudpar. Itu pemberian alam.
2. Saya bangga akan ragam buaday Indonesia. Ini gak masuk itungan. Ini hasil nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu,bukan dari mendubpar. Malah menbudpar gak ngapa-ngapain tuh setiap kali budaya kita dicuri Negara tetangga.
3. Saya bangga TKI kita penyumbang $10milyar devisa. Bentar dulu. Ini hasil kerja menrakertrans atau atas usaha TKI-TKI itu sendiri? pergi diperas, di rantau disiksa, pulang diperas. Dari segi perjuangan layak dbanggakan. Tapi apa peran pemerintah yang melindungi mereka yang layak kita banggakan?
4. Saya bangga ada orang indoensia yang jadi CEO is silicon valley, earning jutaan dolar. Keren! Ini kisah nyata. Tapi peran pemerintah apa dalam menolong dia mencapai hal itu? Gak ada.

Contoh yang masuk itungan:
1. Saya bangga Indonesia sedang kerja sama dengan Korsel untuk bikin 50 unit pesawat tempur paling canggih sedunia.
2. Saya bangga Indnesia berhasil swasembada beras.

Jadi, pembaca yang budiman, tolong ya, ceritakan kebanggaan kalian akan Indonesia. Sebentar lagi kita 67 tahun mereka. Tapi dari mereka semua yang berkuasa, apa achievement mereka yang layak kita banggakan. Ingat satu hal, mereka yang minta kita milih mereka. Sangat wajar jika kita menuntut sesuatu yang bias dibanggakan.

Kuis ini juga akan membantu gue membuat peta. Apa yang sudah pemerintah tackle sehingga orang-orang bisa melaju menjadi change maker untuk bidang yang belum terjamah.
Rgds/ Warga Negara indonesia


Category: politics

Mencoba Sukses – Novel Baru

Sebenarnya ini adalah postingan yang cukup terlambat. Karena keluarnya buku ini di pasaran, bersamaan dengan Pilkada DKI yang mana waktu dan tempat gue berikan kepada Tim Faisal Basri (posting sebelumnya).

Anyway, Mencoba Sukses ini adalah buku gue yang kelima. Sejauh ini response di twitter cukup baik. Bagi yang belum tahu ceritanya bagaimana, ini adalah ceritanya:

 

Pocong dan Babi Ngepet bekerja sama mencari popularitas di dunia perfilman Indonesia. Dalam prosesnya, mereka menemukan banyak cobaan untuk mewujudkan impian mereka. Ada beberapa hal yang mesti gue terangkan di sini.

 

1. Ini adalah buku yang gue tujukan untuk kedua anak gue, ketika mereka besar nanti. Agar mereka tidak perlu takut pada mahluk halus atau dunia klenik lainnya.

2. Ini adalah buku yang paling ngocol yang gue pernah tulis. Sangat-sangat politically incorrect. Nyentil sana-sini. Cuek banget bikinnya.

 

Buku ini sudah beredar dari pertengahan Juli di toko buku. tapi mungkin agak sedikit lambat sampai ke luar pulau jawa. Di seluruh sulawesi sudah ada. di Kalimantan (ie: Banjarmasin) sepertinya belum sampai.

 

Jadi bagi kalian yang di luar daerah dan ingin mendapatkan buku gue (edisi tanda tangan), sila beli di www.books.istribawel.com

 

 

 


Category: books

Memilih Faisal Basri

Tanggal 9 Juli nanti buku gue akan terbit. Blogger/writer yang berpengalaman akan menghias blognya dengan promo untuk menyambut hari besar ini, termasuk di beberapa hari sebelum bukunya terbit. Tapi tidak untuk kali ini.

 

Kali ini ada yang lebih penting bagi gue untuk gue tulis. Sesuatu yang datang hanya 1 kali dalam 5 tahun. Sesuatu yang jika berhasil, bisa jadi akan mengubah banyak hal. Jadi, gue akan menulis di bawah ini.

 

Sebagai orang yang merdeka, gue bebas menulis apa saja. Termasuk mengajak pembaca blog ini melakukan sesuatu. Kali ini gue akan mengajak kalian untuk melakukan sesuatu yang gue juga akan lakukan.

 

Sesuatu itu adalah: Gue mengajak kalian, pembaca blog gue, pembaca buku gue, untuk memilih Faisal Basrie sebagai Gubernur Jakarta 2014-2019.

 

Sebelum bergerak lebih lanjut, gue ingin menandaskan beberapa hal:

  1. Gue gak dibayar untuk menulis ini.
  2. Faisal Basri dan atau timnya tidak menghubungi gue untuk menulis ini.
  3. Sama seperti Pandji di www.pandji.com, aspriasi politik gue tidak dapat dibeli dengan uang. Maaf tapi gue sudah berkecukupan. Suara gue dalam konteks politik terlalu berharga untuk dibayar dengan uang karena gue tahu 1 suara gue dapat menentukan kemenangan orang yang tepat untuk menjadi pemimpin.

Jelas ya. Gak usah ada yang komentar dibayar berapa.

Nah untuk kenapa gue mengajak kalian memilih Bang Faisal, gue gak akan mengupas banyak dari sosoknya. Kita semua sudah tahu kompetensi beliau. Tapi gue ingin mengupas beberapa aspek yang mungkin belum banyak dikupas orang lain. Gue juga gak akan mengupas apa yang Jakarta butuhkan. Kita semua tahu apa yang Jakarta butuhkan.

Aspek pertama adalah, beliau dari pihak independen

Ini luar biasa besar artinya. Beliau tidak terikat pada hutang politik pada parpol apa pun. Kita semua tahu mekanisme politik di negeri ini. Semua orang yang beneran pinter, yang ingin maju menjadi bupati, gubernur atau presiden harus datang dari atau meminta dukungan sebuah partai tertentu. Bertahun-tahun partai politik tumbuh besar menjadi calo, preman dan maling dari negeri ini. Negeri yang sama mereka klaim bela. Pada kenyataannya, semua partai dari ikon pohon, sapi, burung, bintang dan kabah sekali pun, semuanya minta bancakan. Semua parpol meminta posisi politik tertentu pada calonnya di tambah dengan uang juga. Hampir semua bupati dan gubernur wajib mengembalikan utang politik baik dari segi kedudukan atau uang kepada partai politik yang berhasil mengangkat mereka mendapat jabatannya. Di titik ini, negeri kita diperas. Diperas di tingkat daerah, di tingkat nasional, semua hal diperas. Semua orang memeras. Dengan mekanisme seperti ini lah semua partai politik itu hidup. Basi semuanya, Sampah semuanya. Maling semuanya.

 

Seorang calon yang datang secara independen, tidak ingin terlibat utang politik seperti ini. Dan tidak akan terjerat utang politik seperti ini. Dari semua cagub DKI, Bang Faisal datang secara independen.

Maju karena mau. Bukan maju karena ada maunya.

Meraih suara dengan reputasi yang puluhan tahun dia bangun, bukan dengan membeli suara dengan uang.

 

Aspek kedua adalah dana kampanye yang paling sedikit namun paling bersih.

ICW sudah merilis berita temuan (dan ini informasi publik, bukan black campaign) bahwa Foke memiliki aliran dana kampanye yang tidak jelas sebanyak 22 milyar. Kedua adalah Jokowi dengan 2 milyar yang dia harus jelaskan (mengingat integritas Jokowi, yakin lah dia mampu menjelaskan). Faisal Basri? 2 juta rupiah saja yang tidak jelas. Beliau harus menjual rumahnya untuk membiayai kampanye cagub ini. Yang lain karena didukung partai, dengan santai melenggang. Kita tidak perlu kasihan dengan pilihan beliau. Kita patut renungkan betapa dia menjaga integritas dan menjaga agar tidak terjadi banyak utang dari dirinya pada orang lain.

 

Aspek ketiga adalah visi beliau

Dia tidak menyetujui pembangunan 6 ruas jalan tol yang sedang dalam perencanaan karena pembangunan jalan hanya memanjakan pengguna mobil. Sebagai gantinya beliau akan merevitalisasi penggunaan bus dan kereta. Semua ini sejalan dengan apa yang gue pernah tulis di beberapa posting sebelumnya (sila klik tag politik). Bahwa pemerintah lebih suka membangun jalan karena akan memaksa orang membeli mobil. Kenapa? Karena pemerintah gak perlu keluar banyak uang merawat jalan. Karena pemerintah malah mendapat uang dari pajak mobil tahunan. Sedangkan jika pemerintah mervitalisasi bus dan kereta, pemerintah malah keluar uang untuk perawatan bus dan kereta.

Analisis gue tentang transportasi di atas sudah pernah gue posting di sini: http://suamigila.com/2012/03/24/rakyat-transportasi/

 

Aspek keempat yang ingin gue kupas justru adalah dampak jangka panjang dari kemenangan seorang calon independen.

Ingatkah kita sekitar 4-5 tahun yang lalu, semua orang kaget oleh Dede Jusuf dan Rano Karno yang menjadi cawagub jabar dan banten? Lebih dikagetkan lagi oleh kenyataan bahwa mereka menang. Sejak saat itu, mata semua orang terbuka bahwa seleb memiliki harga suara tinggi dalam politik. Seperti jamur, banyak seleb lain ikut masuk politik juga. Harus ada yang mendobrak sebuah ketidakmungkinan menjadi sebuah kepastian. Publik perlu dibuka matanya oleh sebuah contoh yang berhasil.

 

Hal yang sama gue harapkan dari kemenangan seorang calon independen. Bayangkan efeknya ketika seorang calon independen menjadi gubernur. Semua orang akan terbuka matanya,

“Eh ternyata saya gak perlu partai politik ya untuk merealisasikan idealisme saya untuk bangsa.”

“Eh ternyata saya gak perlu utang budi atau uang pada partai politik ya untuk maju menjadi bupati. Untuk maju menjadi gubernur.”

Jika Faisal Basri menang, ada ribuan Faisal Basri lainnya yang tiba-tiba akan merasa empowered dan memiliki kekuatan bahwa mereka dapat menyumbangkan idealism mereka tanpa cara kotor. Tanpa berhutang. Tanpa menjadi maling di kemudian hari. Ini poin pertama yang paling penting kenapa gue tulis postingan kali ini.

 

Poin penting kedua adalah…

presiden independen.

Mahkamah Konstitusi sudah mengunci bahwa semua capres harus datang dari partai politik. Masalahnya, kita tahu semua partai politik itu maling. Jika calon independen dapat menang menjadi gubernur, siapa tahu (dan ini sangat spekulatif) ada desakan kepada MK untuk mencabut aturan itu (aturan capres harus dari parpol). Ini yang gue benar-benar harapkan untuk terjadi. Jika pencabutan ini terjadi maka terbukalah pintu bagi calon independen untuk menjadi presiden. Dan setelah merasakan semua parpol maling, gue pribadi sangat menginginkan 2014 nanti ada calon independen.

 

Agar seorang presiden 2014 berasal dari calon independen, maka putusan MK harus dirubah.

Agar putusan MK dapat dirubah, harus ada bukti bahwa seorang calon independen dapat menang dalam sebuah pemilu.

Agar ini terjadi, kita harus membantu Faisal Basri menang.

Spekulatif ya? Long shot ya? Tentu, tentu. Tapi tidak ada salahnya menginginkan yang baik-baik. Dulu semua orang menginginkan pergi dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat namun dirasa tidak mungkin. Henry Ford mendobrak ketidakmungkinan itu dengan menciptakan mobil

Jutaan kakek-nenek kita mendamba kemerdekaan dari penjajah namun dirasa tidak mungkin. Sampai akhirnya Bung Karno, Hatta, Tan Malaka, Dan sejumput sosok super nekat lainnya mendobrak ketidakmungkinan itu. Apa yang terjadi? Terima kasih pada bung Karno dan Indonesia, Negara-negara lain melihat kita, dan mencontoh kita untuk merdeka juga. Gue tinggal di Pantai Gading 2 tahun. Di sana, mereka masih berterima kasih pada Bung Karno karena Bung Karno dan Indonesia mencontohkan pada mereka bagaimana caranya sebuah Negara menjadi merdeka. Gue gak boong.

 

Kembali pada cagub DKI kali ini.

 

Intinya: salah satu dari banyak penentu pemilu presiden 2014, bertumpu pada percontohan dari pemilu gubernur DKI 2012 ini.

 

Lihat ini jangan dalam konteks DKI, tapi efek psikologisnya dalam cakupan Negara. Lihat ini jangan dalam rentang waktu sampai 2012, tapi rentang waktu 2014. Lihat ini jangan dari 1 event tertentu, tapi melihat bahwa 1 event akan menjadi pemicu, pemacu dan pembuka gerbang kemungkinan untuk hal-hal baik lainnya (dan hal baik yang gue maksud di sini adalah, calon presiden independen).

 

Jadi, pembaca blog gue yang baik, yang dermawan, yang pintar, yang gak mandi aja cakep, gue ajak kalian untuk memilih Faisal Basri, cagub DKI independen.

 

Lihat ke jauh ke depan, lihat dari atas, lihat dari sudut pandang Negara.

 

Coblos nomor 5, pilih Faisal Basri

 

Rgds/ Adhitya

Penulis yang gak dibayar siapa-siapa untuk menentukan suaranya.


Category: politics

Keuangan Negara – Masalah & Potensi

Ada masalah menakutkan tentang bagaimana uang Negara di-manage di Indonesia. Beberapa hal seperti korupsi sangat jelas. Tapi jika pun tidak dalam kondisi korupsi, keuangan negara tetap tidak dalam kondisi sehat. Ada beberapa hal yang menunjang ketidaksehatan ini. Postingan ini tidak akan membahas korupsi ya. Kita semua tau, bangkrut ga bangkrut, korupsi harus hilang.

 

Masalah

Kita mulai dari yang paling mudah dulu ya. Dari kaca mata gue keuangan negara itu hanya sedikit beda dari keuangan perusahaan. Negara harus surplus dalam budgettingnya karena surplus itu lah yuang negara butuhkan untuk investasi di pembangunan. Jika tidak surplus (eg: pemasukan hanya cukup[ untuk bayar utang dan belanja rutin pegawai dan negara) maka secara akunting dapat dibilang bahwa negara hanya break even. Mending tutup toko sekalian. Lebih parah lagi kalau untuk bayar utang + belanja rutin saja sudah minus. Itu parah sekali.

Cost = bayar pokok utang + bayar bunga utang + belanja rutin PNS + belanja rutin negara

Revenue = Pajak + royalti pertambangan etc etc

 

Kalo revenue = cost, mana buat pembangunan infrastruktur kita?

 

1. Belanja Pegawai

Ini yang gampang dilihat mata. Kabar terakhir yang gue baca dari kompas, bahwa subsidi BMM + PNS mencapai 40% (atau malah 60%) dari APBN. Ini bahaya sekali. Sisanya bayar pokok dan bunga utang dan sisa sedikit sekali untuk pembangunan.

 

Belanja rutin untuk gaji pegawai harus dipotong karena kuantitas PNS terlalu banyak. Agus Marto sudah teriak berulang kali tentang ini.

 

2. Hasil dari SDA diandalkan sebagai Pemasukan

Ini yang gak gampang. Kalian sering kan baca koran atau lihat berita bahwa pemerintah menargetkan lifting minyak bumi 1 juta barrel/hari untuk membiayai APBN? Nah ini yang salah. Di sini, minyak bumi diumpamakan sebagai uang yang kita ambil dari perut bumi Indonesia untuk membiayai hidup negara. Ibaratnya, perut bumi kita adalah mesin ATM yang kita ambil sesuka hati untuk membiayai negara yang mana 40% adalah belanja rutin. Pertanyaan gue: Apa yang pemerintah lakukan jika minyak bumi kita habis? Ini penmting untuk dicari solusinya karena belanja rutin (kekal) akan selalu rutin sedangkan minyak bumi tidak kekal. In fact, minyak bumi akan habis dalam 10-15 tahun. Oh kan masih ada batubara yang cadangannya masih 200 tahun lagi. Yeah, lantas nanti cicit dari cicit gue belanja rutinnya gimana ketika 200 tahun ketika batubara habis?

 

Solusi

Lantas solusinya apa? Kita kupas satu-satu

 

  1. Kurangi Belanja rutin

Sudah ada moratorium penerimaan PNS. Sudah ada dorongan untuk PNS pensiun dini. Proses untuk mengikis ini sudah ada, namun gue harus bilang lambat dan tidak dilakukan sepenuh hati di setiap departemen.

 

Buat semua departemen dan PNSnya kerja efisien. Seefisien mungkin. Insentifnya bagaimana? Bisa aja kita cut jumlah PNS -40% tapi anggaran untuk gaji PNS hanya kita cut -30%. Praktisnya, PNS yang tersisa kerja lebih keras tapi hidup lebih makmur. Lumayan kan? Kasih tau gue manusia mana, PNS atau bukan PNS yang tidak ingin dapat kenaikan gaji 10%? Semua pengen pastinya.

 

Menghemat belanja negara juga wajib karena ini jadi ladang korupsi juga. Haruskah pejabat travel dengan kelas bisnis? Haruskah mobnil dinas ban-nya ganti setahun sekali? Kemungkinan tidak dan takutnya ini jadi ladang korupsi. Ada sejuta hal-hal kenegaraan seperti ini yang bisa dipangkas.

 

  1. Pendapatan dari pertambangan dijaga

Maksudnya gini. Pastikan bahwa yang cost yang rutin (belanja PNS, negara) dicover oleh revenue yang rutin juga (pajak). Sedangkan revenue dari pertambangan (yang mana tidak kekal) harus dimasukkan ke dalam investasi. Maksudnya investasi di sini adalah pendidikan, pembangunan kilang minyak, pembangunan infrastruktur. Intinya adalah kita measytikan bahwa revenue dari pertambangan (yang suatu saat akan habis) kita gunakan untuk investasi yang berbuah revenue di masa depan.

 

Contoh satu:

Saat ini, kita jual 50% minyak mentah dan kita beli 50% BBM. Nah revenue dari penjualan minyak mentah kita pakai untuk bangun kilang minyak agar 5 tahun lagi, kita bisa memroduksi semua minyak mentah kita agar menjadi BBM, agar kita tidak perlu beli BBM impor.

 

Contoh dua:

Saat ini kita jual batu bara kita ke cina. Padahal cina juga punya tambang batu bara. Ryoyalti penjualan batu batra harus kita pakai untuk kembangkan teknologi destilasi batu bara menjadi BBM. Ini bisa, South Africa melakukannya. Pionir dan leading market untuk destilasi.

 

Contoh tiga:

Royalti pertambangan kita pakai untuk menggalakkan pembuatan ethanol dari tebu. Kita beri insentif untuk industri tebu untuk memenuhi gula dan ethanol dalam 20 tahun. Kalo bisa, tanah kita, digunakan untuk tanam padi dan tebu saja untuk memanen ethanol. Memangnya ethanol bisa jadi BBM? 40% mobil di Brazil berhasil dikonversikan untuk memakai ethanol.

 

Contoh empat:

Royalti penjualan minyak bumi kita pakai untuk membangun jembatan, jalan dan jaringan transportasi yang luas, agar ongkos kirim menjadi murah. Asal tahu saja, 1 sak semen di papua bisa sampai 1 juta rupiah. Kiriman 1 kontainer 40 feet ke papua bisa sampai 40 juta. Orang papua itu kaya-kaya. Tapi ada mafia transportasi yang membuat biaya transportasi jadi mahal. Kasian.

 

Ini semua untuk memastikan agar di saat minyak bumi kita habis, kita sudah menjadi negara yang mandiri dari minyak bumi. Gak bangkrut, gak kolpas dan gak defisit. Dengan setting APBN sekarang, maaf aja, ada kemungkinan kita kolaps.

 

  1. Galakkan, bina dan do our best untuk mendapatkan revenue dari pariwisata

Contoh lima: gunakan royalti batu bara untuk mengemas tujuan pariwisata kita dan prasarananya agar turis datang dan menghabiskan dollarnya di Indonesia. At teh end of the day, its about revenue. Mengirimkan 100,000 anak beasiswa ke Luar negeri butuh dolar kan. Beli vaksin kan butuh dolar. Nah untuk mendapatkan dollar yang fresh dan kekal (tidak seperti OGC yang tidak kekal) pariwisata lah kuncinya. Thailand nomor 1 di ASEAN. Malaysia belajar dari Thailand. Kita? Satu iklan bilangnya kita punya trademark ‘remarable Indonesia’ iklan lain di saat yang sama, trademarknya ‘wonderful indonesia’. Come on government… really? Can you be this stupid?

Jangan bangga bahwa raja ampat bagus. Jangan bangga bahwa pantai belitung itu bagus. jangan bangga sama indahnya pemandangan bromo. Itu semua pemberian Tuhan. Gak ada keringat dan otak kita yang membuat ketiga lokasi itu jadi indah. Bangga lah kalo kita berhasil membangun prasarana yang membuat pantai belitung mudah diakses dan menjadi penghasil devisa penduduknya.

 

  1. Galakkan, bina dan do our best untuk mendapatkan revenue dari SDM

Bingung memberikan lapangan pekerjaan ke 30 juta angkatan kerja? Tenang. Ini ada 2 fakta dalam ekonomi:

  1. Sebuah negara tidak membutuhkan 100% angkatan kerjanya untuk menggerakkan eknomi. Katakanlah kita punya 150 juta angkatan kerja. Kita hanya butuh 80 juta orang untuk menggerakkan ekonomi dalam negeri untuk membuat ekonomi tumbuh 8%. Jika dipaksakan tambah tenaga kerja, malah jadi tidak efisien. Malah jadi padat karya.
  2. Sebuah negara hanya membutuhkan sekitar 20-35% kerah putih dan 65-80% kerah biru (pekerja buruh, pekerja domestik, asisten rumah tangga) untuk menggerakkan ekonomi domestiknya.

 

Jika kita hanya membutuhkan 80 juta tenaga kerja untuk menggerakkan ekonomi di Indonesia, ke mana 70 juta lainya harus bekerja? Jawab: kirim ke luar negeri.

 

Apakah ada lapangan kerja? Ah paling jadi Asisten rumah tangga semua.

 

Jawab: nggak juga.

Kesempatan satu: Beberapa negara maju seperti Negara eropa, dan jepang mengalami pertumbuhan negatif.

Penduduknya udah mulai senior. Di Inggris sudah confirm bahwa angkatan manula > angkatan kerja. Inggris dan jepang, kekurangan tenaga kerah putih untuk kerja di bank, dokter, engineer dan sebagainya. Lihat kiri-kanan kita, pasti kita punya teman di facebook yang kerja di luar negeri. Ya kan? Coba liat temen elo dari TK sampai kuliah. Pasti udah ada yang kerja di luar negeri.

 

Kesempatan dua: beberapa negara lain membutuhkan tenaga kerja kerah biru (buruh) untuk menjalankan ekonomi mereka

 

Bagaimana menggunakan kesempatan ini?

  1. Pemerintah harus menjamin keselamatan TKI (baik kerah biru dan kerah putih).
  2. Pemerintah harus memberikan pelatihan untuk menjadi TKI kerah biru yang terampil. Jangan lepaskan ke swasta yang asal kirim aja.
  3. Pemerintah harus memermudah semua orang untuk kerja di luar negeri. Tenang, kita ini negara 240 juta orang. Kita tidak akan kekurangan orang pintar untuk dibagi kerja di dalam negeri dan di luar negeri.
  4. Ubah mindset. Orang kerja di luar negeri itu jangan dipersulit. Orang sampe bisa kerja di luar negeri itu sudah meringankan beban pemerintah karena kita praktis mengurangi tingkat pengangguran di dalam negeri.
  5. Orang kerja di luar negeri yang gak mau pulang, jangan dikatain ga nasionalis. Mereka udah memermudah hidup kita di Indonesia dengan kiriman uang mereka. Mereka udah bagus gak berebut butiran nasi yang kita makan di dalam negeri sini. Ada banyak kabupaten di Indonesia yang 70-80% income daerah mereka adalah dari remittance warga mereka yang menjadi TKI/TKW.
  6. Semua lulusan S1 harus world class. Jangan sampe inggrisnya malu-maluin.

 

Contoh sukses di sektor SDM kerah putih adalah India. India, meski diuntungkan bahasa inggris, tetap berhasil mengirimkan jutaan kerah putih  ke luar negeri.

 

Contoh sukses di sektor kerah biru adalah Filipina. Filipina butuh SDM mereka untuk remit dolar ke filipina karena jika tidak ekonomi mereka kolaps. Orang di Filipina beli beras memakai devisa kiriman orang filipina yang kerja di luar negeri. Ngeri kan? Karena itu Filipina kerja keras dan memiliki perjanjian bilateral dengan Singapura dan Saudi Arabia. Bahwa setiap TKW mereka harus diupah minium XXX, harus mendapatkan 1 hari libur. Indonesia? Bahkan MoU aja ga ada. Kasian kan.

 

Satu-satunya contoh sukses akan TKW kita adalah di Jepang, Taiwan dan Hong Kong. Di sana kita mensuplai perawat.

 

Sebenarnya ngomongin potensi devisa untuk negara ini ga ada abisnya. Banyak sekali yang kita dapat lakukan dengan lebih smart namun kita tidak lakukan.

 

Indonesia emas itu sebentar lagi. Di 2020-2025. Indonesia emas adalah era di mana Indonesia memiliki angkatan kerja produktif terbanyak sepanjang sejarah. Ini harus pemerintah siapkan dari sekarang. Kalo nggak, ratusan juta angkatan kerja produktif itu akan menjadi pengangguran.

Indonesia emas hanya akan terjadi jika uang yang kita punya sekarang kita pakai untuk investasi. Jika SDM kita, kita bagi untudengan cermat untuk gerakkan ekonomi dalam negeri dan sebagian kita kirim keluar untuk menjadi penghasil devisa. Indonesia emas bisa terjadi jika biaya rutin PNS kita bayar dari hasil pariwisata plus pajak.

Intinya satu: gunakan semua SDM kekal dan SDA yang tidak kekal, untuk mendapatkan revenue yang kekal, yang harus mencover biaya kekal.

Kalo kita masih ngandelin minyak bumi untuk bayar biaya rutin kita? Selamat tinggal Indonesia.

Gitu aja dari gue. Udah jam 3 pagi. Mohon maaf gue tidur dulu ya. Semoga mencerahkan.

Rgds.


Category: politics

Pencabutan Subsidi BBM

Efek dari Harga Minyak Bumi

Jika ada anggota DPR di luar sana, atau orang yang merasa cukup pintar untuk menghitung bahwa kenaikan harga minyak bumi tidak perlu berimbas pada kenaikan BBM, maka gue ingin mengajak semua orang ini untuk bekerja di industry transportasi.

 

Dua belas hari lagi dari sekarang gue akan sudah bekerja 11 tahun di perusahaan transportasi kapal laut terbesar di dunia. Di tahun 2008, gue dibangunkan dari tidur dan dihadapkan pada 1 realitas. Ketika harga minyak bumi naik dari $80 ke $100 per barrel, harga bunker kita (bunker = bensin untuk kapal laut) naik juga. Naik ke tahap di mana kami mulai mecat-mecatin orang. Antara 2008-2009, gue mengalami 3 kali perampingan perusahaan. Itu sebabnya gue gak pernah nulis lagi. Gue terlalu sibuk mengejar karir dan mencoba survive (Alhamdulillah sekarang surviving). Apakah gue menyalahkan company gue atas hal ini? Tidak. Company gue hanya berusaha bertahan hidup melawan kenaikan bunker price yang terjadi karena naiknya oil price ini.

 

Apakah ini terjadi hanya di perusahaan gue? Tidak. Industri transportasi penerbangan terkena lebih parah. Pertama mereka melakukan perampingan. Jutaan orang worldwide dari industry penerbangan kena PHK. Mereka yang survive tidak diPHK, harus mendapatkan potongan gaji 10-25%. Company gue yang mana adalah industry transportasi laut, tidak separah itu. Kita masih naik gaji. Kita masih dapet bonus. I am so very lucky.

 

Separah itulah dan selangsung itulah, efek kenaikan harga minyak bumi kepada hajat hidup orang banyak. Jadi kalo ada manusia yang ngerasa cukup pinter dan sotoy untuk ngitung-ngitung, sini lo, kerja bareng gue di industri transportasi. Sehari juga udah kena pecat kali.

 

Bagaimana Sih Korelasi Minyak Bumi Indonesia?

Fakta 1: Kita mengekspor minyak mentah dan mengimpor BBM (minyak jadi).

Fakta 2: perbandingannya, jumlah ekspor minyak mentah kita < jumlah impor BBM

Fakta 3: harga 1 barrel minyak mentah < harga 1 barrel BBM. Perbandingannya jauh pula. 2:3 atau 1:2 sekarang.

Banyak anggota DPR yang bilang, kalo harga minyak bumi naik, Indonesia sebenarnya untung. Well, no. karena kita mengimpor BBM > ekspor minyak mentahnya. Jadi ketika harga minyak bumi naik, harga BBM juga naik. Ini yang anggota DPR luput untuk pikirkan.

 

Kenapa subsidi BBM harus dikurangi?

Sekarang ambil 2 asumsi.

Asumsi 1: perbandingan jumlah ekspor import kita 2:3

Asumsi 2: perbandingan harga minyak bumi vs BBM jadi 2:3 juga (ada yang bilanmg udah 1:2 malah).

Asumsi 3: Jika harga minyak bumi naik 10%, katakanlah harga BBM jadi yang kita beli juga naik 10% (padahal sebenernya nggak. Naiknya eksponensial).

Liat aja matematikanya.

neraca awal = harga x jumlah =  2×2 (ekspor) : 3×3 (impor) = 4:9 (belum apa-apa, pemerintah jebol 4-9 = 5)

Harga setelah kenaikan 10% jadi: 4.4 : 9.9 (pemerintah jebol 0.5)

Setiap kenaikan 10%, pemerintah jebol 0.5. Nah kebayangkan kalo naiknya lebih dari 10%.

Penambahan ini lah yang pemerintah gak sanggup lagi untuk subsidi.

 

Apakah Benar Pemerintah Gak Sanggup Subsidi?

Sanggup sih. Yang gak sanggup adalah men-subsidi penambahan harga yang terjadi akibat kenaikan harga itu. Jika kenaikan harga ini selalu diimbangi dengan penambahan subsidi, maka akan tersisa lebih sedikit uang untuk pembangunan infrastruktur. Lama-lama, ekstrimnya bukan ga mungkin semua anggaran habis untuk subsidi.

 

Apakah Ada Cara Lain Selain Menurunkan Subsidi BBM?

Jawabannya, ya dan tidak.

Untuk jawaban ada, apa saja solusi lain itu?

Pertama: Efisiensi anggaran. Bagi kalian yang pernah baca kompas, subsidi BBM dan listrik + belanja gaji PNS = 60% APBN. Hanya tersisa 40% untuk pembangunan infrastruktur dan perkembangan bangsa. Mohon maaf bagi pembaca yang PNS tapi harus diakui, kalian itu jumlahnya kebanyakan. Apakah ini salah kalian? Tidak kok. Salah pemerintah jaman ORBA yang memaksa menyerap PNS gede-gedean dulu. Kita bisa memertahankan subsidi BBM jika jumlah PNS dikurangi dan dibuat efektif. Mungkin 60% dari jumlah sekarang. Agenda ini sudah dipush sekuat tenaga oleh Agus Marto, menkeu kita sekarang. That’s a good start.

 

Tapi apakah ini gampang? Ini akan susah. Sebagian dari kita pasti tahu bahwa saking enaknya jadi PNS, banyak orang termotivasi menjadi PNS karena benefitsnya. Sampai-sampai, orang yang gak punya koneksi, bersedia nyogok 20-80 juta per kursi. Orang yang punya koneksi, menitipkan saudaranya untuk menjadi PNS. Merampingkan jumlah PNS tidak bisa dalam 1-2 hari. Sedangkan minyak bumi bisa naik dari $80/barrel jadi $120/barrel dalam 2 hari. Good luck fighting that one.

 

Kedua: Berantas korupsi di mana-mana. Gayus punya asset 100 milyar dari hasil penggelapan pajak. Yang mana jika semua perusahaan yang Gayus tangani bayar pajak semestinya, negara bisa mendapatkan trilyunan. Apakah hanya Gayus saja? Itu kemarin ada Dhana. Kemarin lagi ada Bahasyim Asyafii yang punya asset 800 milyar. Itu dari sektor pajak aja. Anggota DPR juga gitu. Setiap kali daerah minta dana untuk membangun jembatan atau jalan, badan Anggran meminta fee antara 4-6% atau bahkan 10% dari nilai permintaan. Gue pernah denger cerita miris bahwa ada bupati yang tidak memiliki cara lain selain menyuap anggota DPR untuk mendapatkand ana untuk membangun daerahnya. Caranya? Miris. Sang bupati sampe harus meminta uang pada anak-anak buahnya. Salah satu anak buahnya, sampai mencairkan deposito mertua. Orang baik pun dipaksa jadi jahat untuk mendapatkan uang dari badan anggaran. By the way, Bahasyim, Gayus dan Dhana itu aktif di masa pemerintahan menteri mana? Sri Mulyani.

 

Ketiga: Gunakan APBN yang tersisa untuk membangun infrastruktur energy terbarukan, atau bangun PLT dengan tenaga batu bara. Contohnya:

  1. Pastikan setiap lampu fasilitas umum memiliki energy dari solar panel. Bupati Sarmi, Eduard Fonataba di Papua membuat terobosan di mana dia menggunakan APBDnya untuk menginstall solar panel di setiap rumah warganya, gratis. Multiplier effectnya:

-      Bupati tersebut tidak perlu meminta PLN untuk menggali kabel sampai daerah sana (cost saving untuk APBN).

-      Rakyat Sarmi yang tadinya membeli solar untuk menerangi rumahnya, sekarang memiliki energy gratis dari matahari. Tiba-tiba daya beli rakyat papua meningkat karena uang yang tadinya habis untuk solar, mereka dapat tabung dan belikan seragam untuk anak-anak mereka.

  1. Sekarang ini 51% energy yang PLN gunakan sudah berasal dari batu bara karena solar sudah terlalu mahal. Ini adalah langkah pemerinta yang sangat smart. Entah apakah ini ide Jusuf Kalla, SBY atau Dahlan Iskan.
  2. Bangun PLT panas bumi (PLTG = pembangkit listrik tenaga geothermal). Tenaga panas bumi adalah gratis dan satu lagi karunia Tuhan pada negara Indonesia. Kita hanya perlu mengharnessnya. Dulu Jusuf Kalla pernah marah-marah pada seseorang karena orang itu gak mau memberikan jaminan untuk proyek pembuatan sebuah PLTG. Tau siapa orang itu? Sri Mulyani.

Intinya sih, menggunakan APBN, membangun infrastruktur yang memetik energy yang gratis atau yang kita punya secara berlimpah. Baca: tenaga matahari. Batu bara (cadangan kita cukup untuk 200 tahun dibandingkan minyak bumi yang cukup untuk 12 tahun). Tenaga angin untuk daerah-daerah pesisir yang menghadap hamparan samudera.

 

Untuk tenaga angin ini, gue baru tahu bahwa Indonesia adalah lokasi pertemuan dua angin besar dari hamparan samudera pasiik dan hindia. Keduanya bertabrakan di Indonesia sehingga saling membatalkan. Artinya kecepeatan anginnya sangat rendah dan tidak cukup untuk membangun energy. Cuman ya, ada beberapa daerah di Indonesia (baca pesisir pantai) yang mendapatkan angin kencang konstan sepanjang tahun. Itu lumayan banget.

 

Keempat: Bangun lebih banyak kilang refinasi. Deangan begini, kita bisa mengurangi BBM jadi dan hanya membeli minyak mentah. Dengan begitu, kita lebih hemat. Sekarang ini kan kita harus menjual 3 barrel minyak mentah untuk membeli 1-2 barrel BBM jadi. INi karena kilan refinasi kita gak cukup banyak. Kalo banyak, maka minimal rasionya bisa lebih seimbang, jadi 1 barrel minyak mentah ekspor untuk mengcover 1 barrel minyak mentah impor.

 

Kemudian timbul pertanyaan, kalo sudah cukup banyak refinasi, kenapa sih kita harus masih ekspor dan impor minyak mentah? Itu karena karakteristiknya beda-beda. Contoh: minyak bumi dari tanah Amerika hanya cocok untuk menghasilkan minyak jadi kualitas rendah yang cocok untuk kapal laut. Sedangkan minyak dari Libya, sangat bagus sehingga hanya butuh 1 kali refinasi untuk menjadi BBM (kepada teman-teman oil engineers, correct me if I’m wrong here…)

 

Kelima: Mengurangi subsidi BBM. Ini adalah solusi yang paling cepat dan bagus karena dua factor:

  1. Bagus karena minyak bumi bisa naik dalam 1 hari. Sedangkan 4 solusi pertama butuh 5-10 tahun untuk membuatnya.
  2. Bagus asalkan hasil dari pengurangan subsidi ini dipakai untuk membangun 4 opsi pertama. Dan in lah niat pemerintah.

 

Tapi itu dia masalahnya. Partai politik menggunakan isu ini untuk memerlihatkan pada rakyat bahwa mereka membela rakyat. Maklum, pemilu capres 2 tahun lagi. Di depan TV dan kamera mereka tampak membela rakyat hari ini.

 

Masalahnya adalah, dengan tidak adanya pengurangan subsidi, ada lebih sedikit uang di APBN untuk membangun infrastruktur energy yang gue paparkan. Efeknya, guenya sih enak. Tapi anak cucu gue? Mereka suatu hari akan menjadi budak minyak bumi dan berkata, “iya, ada orang tolol di jama bokap gue yang gak mikir jauh ke depan…”

 

Mau anak kita ngomong gitu?

 

Mau berantas korupsi dulu sebelum cabut subsidi BBM? Itu belasan tahun aja gak beres-beres kok. Gus Dur gak bisa. Mega gak bisa. SBY gak bisa.

 

Mau bangun kilang refinasi, PLTG, bangun kincir angin sebelum cabut subsidi BBM? Pertama, itu butuh 3-5 tahun. Bangun kayak gituan gak bisa besok selesai. By the time we build it, Subsidi sudah makin parah.

 

Mau rampingkan PNS? Itu pertanyaan yang bagus tapi butuh berbulan-bulan prosesnya, jika tidak bertahun-taun. Belum lagi pasti ini dipolitisir sama anggota DPR atas nama yang sama dengan menahan cabutan subsidi BBM. Yaitu, “Atas nama Rakyat”.

 

Mencabut subsidi BBM bukan satu-satunya opsi. Tapi kenaikan harga minyak bumi itu nyata. Benar-benar nyata. Dan opsi-opsi lain yang ada di meja, makan tahunan sebelum efeknya kita rasakan.

 

Apakah gue suka dengan SBY? Gue menilai dia lambat dalam memberantas korupsi, so, no, gue gak suka. Tapi u know what? Gue lebih percaya pada SBY + menteri-menterinya seperti Dahlan Iskan, Gita Wirwayan, Agus Marto ketimbang anggota-anggota DPR yang tidak pernah tulus membela rakyat. Setidaknya pemerintahan kali ini terlihat ketulusannya. Liat SBY, meski gua gak suka dengan kelambanannya, dia masih santun. DAlam pidato BBMNya, udah dikebiri sama DPR, masih bilang terima kasih. Anggota DPR bisanya apa? Melancong dengan biaya 5 milyar per trip (bawa istri pula), pulang-pulang minta bancakan ke setiap bupati. Elo mau percaya sama orang kayak gitu? Mana yang elo lebih percaya? Gue sih pemerintah.

 Rgds.


Category: politics