Sabtu Bersama Bapak – Response Sejauh Ini

sabtu bersama bapak_revisi coverAlhamdulillah, ternyata buku yang satu ini responnya jauh lebih baik dari yang gue perkirakan.

Dari mulai terbit pertengahan Juni 2014 sampai sekarang pertengahan September 2014, sudah 4 kali cetak ulang dan estimasi sudah terjual …(rahasia lah yaw).

Dari interaksi gue dan beberapa orang dengan petugas-petugas gramedia ambas, plaza semanggi dan grand indonesia, buku ini banyak sekali yang menanyakan.

Tentunya gue seneng dengan perkembangan ini. Apa yang gue tulis ber-resonansi dengan pembaca.

Review-review yang gue dapat di dalam www.goodreads.com juga bagus. Malah, SBB ini adalah buku gue dengan rating paling tinggi dari semua buku yang gue pernah tulis. Per 12 September 2014 ini, ternyata 4.28/5. Lumayan banget. Review-review yang ada di dalam goodreads pun sangat baik dengan beberapa masukan yang gue hargai. Ini adalah link menuju laman Sabtu Bersama Bapak dalam www.goodreads.com https://www.goodreads.com/book/show/22544789-sabtu-bersama-bapak

Sedangkan ini adalah laman google untuk hasil search Sabtu Bersama Bapak: https://www.google.co.id/#q=%22sabtu+bersama+bapak%22

Terakhir, banyak orang yang mengeluh bahwa mereka sering kehabisan buku gue. Untuk itu, berikut adalah beberapa buku online yang menjual buku-buku gue:

www.bukabuku.com: http://www.bukabuku.com/browse/bookdetail/2010000248430/sabtu-bersama-bapak.html

www.inibuku.com: http://inibuku.com/45865/sabtu-bersama-bapak.html

www.kutukutubuku.com: http://kutukutubuku.com/2008/open/42968/sabtu_bersama_bapak_ft

Gue ingin mengucapkan terima kasih bagi teman-teman yang sudah baca. Bagi yang belum baca, mariiiii…

 

 


Category: Uncategorized

Mari Lari in cinemas 12.06.2014

mari lariTHIS MOVIE, IS AWESOME!!!!!

Duh Alhamdulillah banget. Jadi ceritanya tadi siang (Sabtu 31 May) gue datang ke press screening di epicentrum – standing in untuk Ninit yang harus tugas kantor meeting di Singapura.

Gue sempat melihat proses produksinya. sempat deg-degan juga. dan ternyata hasilnya sangat memuaskan.

Directing yang OK oleh Delon Tio, script yang OK dari Ninit Yunita. Scoring yang OK banget dan soundtrack yang OK juga. They pulled it off. Film ini mengangkat tema bapak-anak sebagai main plot dan romance sebagai secondary plotnya.

Film ini menjadi tayangan seni yang bermutu. Film ini menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk ditonton oleh publik, dan sesuatu yang dapat membuat  cast dan crew bisa dengan senyum dan bangga bilang ‘I made this movie’.

Sedikit banyaknya gue ikut bangga sama film ini – karena memang idenya lahir dari dalam ruang kerja Ninit dan gue – temppat di mana kita banyak berbicara dan saling memantulkan ide cerita.

Setelah press screening ada press conference. Ada beberapa orang press yang memberikan feedback positif. Wah sangat menyenangkan semua crew yang sudah bekerja keras membuat film ini.

Ninit should be proud of this movie. I am proud of her.

 

As for all cast and crew…super job, guys! super job!!

 

Coming soon in cinemas 12 June 2014 ya guys!!!!


Category: Uncategorized

Sabtu Bersama Bapak

Beberapa hari yang lalu, penerbit kesayangan memberikan kabar bahwa buku gue sedang dalam proses naik cetak. Cihuiiii. beberapa waktu sebelumnya gue pernah menulis tentang buku ini di sini: http://suamigila.com/2014/04/updates-dari-gue.html

sabtu bersama bapak_revisi cover Bukunya

Dan ini adalah bukunya. Novel gue yang ke 5. Judulnya “Sabtu Bersama Bapak.” Dalam novel ini, Gue mengangkat tema kekeluargaan. Mungkin karena gue sendiri sudah menjadi kepala keluarga jadi keluarrga memang menjadi sesuatu yang gue hadapi sehari-hari. Coba kalo tiap hari gue ngurusin dukun, mungkin yang ada gue akan nulis novel “Mbah Suro dan rukonya.”

Alasan kedua kenapa gue angkat tema kekeluargaan adalah karena gue melihat ini tema yang masih jarang. Dan ini memamng menjadi strategi gue. Selalu bercerita atau memberi wacana, yang orang banyak belum bahas. Contohnya tahun 2003 belum banyak yang komedi kayak Jomblo dan Gege Mengejar Cinta. Alhamdulillah sukses.  Kemudian Travelers Tale, novel dengan tema travel, gue terbitkan sebelum buku travel fiksi dan nonfiksi berjamur. Coba aja, Travelers Talke terbit februari 2007. Kita bisa itung berapa banyak buku travel yang terbit sebelum dan sesudah februari 2007.

 

Cerita

Buku ini bercerita tentang sebuah keluarga (manusia ya, bukan tapir). Saat anak-anak mereka masih kecil, sang bapak jatuh sakit. Dia takut kedua anaknya tidak memiliki figur bapak saat mereka tumbuh besar nanti. berdasarkan ketakutan itu, sang bapak menyusun sebuah rencana. Bertahun-tahun kemudian, rencana sang bapak menjadi pegangan bagi kedua anak dalam menjalankan hidup mereka masing-masing.

Itu outline dari ceritanya.

Kapan dapat dibeli?

Insya Allah, buku ini sudah selesai cetak pertengah Juni. dengan distribusi etc etc, mungkin minggu ketiga Juni, buku ini sudah dapat beredar.

Apa yang dapat kita Expect dari buku ini?

A different kind of Adhitya’s writing style. Mari kita akui, gue bertambah tua sejalan dengan umur dan semua yang gue lalui dalam hidup.  Gue masih bisa kok menulis tentang jomblo kuliahan. Tapi apakah itu masih dekat dengan gue? secara gue terakhir kuliah 13 tahun yang lalu. yang ada di depan mata gue sekarang adalah sekolah anak, karir, tagihan listrik. I am not the same young Adhitya who write Jomblo 10 years ago. Gue tidak berubah. Gue masih seganteng yang dulu. Nicolas Saputra  doang mah lewat. Tapi yang jelas gue juga berubah.

Teman-teman pembaca dapat melihat tulisan dan topik yang lebih dewasa dari yang teman-teman biasa temukan dalam tulisan gue pada umumnya. Itu aja sih.

Untuk siapa gue tulis cerita ini?

Gue selalu berpikir seperti ini. Setiap orang adalah anak dari seseorang. Dan orang tua dari seseorang. So this book, is for everyone of you. Yang masih muda, yang masih kuliah, orang tua muda, semuanya.

 

Semoga cerita ini, novel ke lima gue ini, mendapat tempat yang dekat di hati teman-teman.

 

Ditunggu ya di toko buku terdekat. Thanks guys!

 

 

 

 


Category: books

Analisis Capres 2014

Jadi pada akhirnya Indonesia diberikan pilihan capres. Prabowo Hatta atau Jokowi Kalla. Gue pribadi tidak melihat bahwa pada akhirnya pilihan-pilihan kita jatuh pada kombinasi kedua pasangan ini. Gue tertarik untuk menganalisis. Ada 7 faktor yang gue lihat penting untuk di analisis di kubu Prabowo dan 5 faktor untuk kubu Jokowi.

 

Prabowo-Hatta

Yang menguatkan mereka:

  1. Media.

Prabowo-Hatta memiliki backing media yang cukup kuat. Orang terkuat media, Harry Tanoe, mendukung mereka. Gue pernah bilang sebelumnya bahwa siapa pun yang menjadi capres adalah dia yang mengontrol media. Perkataan gue tidak seluruhnya tepat karena Wiranto menggandeng Hary Tanoe pun kalah. Surya Paloh yang punya metro tv sudah entah ke mana. Jadi memang publik tetap mencari figur. Tapi media benar-benar dapat meloncerkan figur tersebut untuk eksposur gratis.

 

  1. Memegang Populasi Besar.

Ini masih analisis yang sangat kasar. Tapi gue lihat ini dapat mempengaruhi juga, sedikit banyaknya. Ada dua hal di sini. Pertama, tokoh-tokoh yang memiliki kepercayaan publik yang tinggi di populasi yang besar, mendukung Prabowo-Hatta. Jawa Barat adalah propinsi dengan populasi terbesar. Menang di Jawa Barat, akan sangat meloncerkan jalan ke kursi presiden. Gubernur jawa barat berasal dari PKS. PKS termasuk koalisi Prabowo-hatta. Walikota Bandung dan ulama Aa Gym dari Bandung pun mendukung Prabowo-Hatta. Publik Jawa Barat tahu Ridwan Kamil dan Aa Gym adalah tokoh berotak. Publik akan berpikir dua kali menimbang pilihan mereka.

 

  1. Beda generasi.

First time voters kita yang berusia 17-22 tahun. mereka adalah generasi yang 15 tahun yang lalu masih balita ketika kerusuhan bulan Mei terjadi. Mereka tidak terlalu faham dengan betapa buruknya saat itu. Yang masih ingat adalah generasi 2nd time voters atau yang lebih tua.

Yang tidak berpengaruh pada Prabowo

  1. Sinonim dengan ketegasan.

Ini adalah yang sesuatu yang tim kampanye Prabowo selalu kedepankan. Padahal sebenarnya tim sukses Prabowo harus hati-hati di sini. Pertama, tidak seperti Jokowi, Prabowo belum pernah memegang jabatan pelaksan. Jadi, bahwa Prabowo tegas itu sebenarnya sebuah claim, bukan sebuah fakta. Beda dengan Jokowi yang memang sudah lama menjadi pelaksana. Baik di Solo mau pun di Jakarta.

 

Yang sebenarnya merugikan Prabowo

  1. Faktor Hatta

Ada sesuatu yang gue khawatirkan di sini dan gue harus hati-hati mengeluarkannya. Prabowo-Hatta selalu bilang menegakkan hukum. Tapi kasus anak Hatta menabrak mati orang, itu tidak jelas sampai mana. Orang bisa mengemukakan keinginannya untuk menegakkan hukum. Bahkan untuk beberapa orang, mereka berani menegakkan hukum bahkan untuk diri mereka. Gue percaya Hatta punya integritas tinggi dan intelektualitas tinggi juga. Jika tidak, dia tidak akan terpakai menjadi menteri bertahun-tahun. Tapi ujian paling berat adalah ketika hukum tersebut harus ditegakkan pada anak sendiri. Gue gak bilang anaknya mangkir ya. gue gak tau karena gak jelas. Yang dapat merugikan Prabowo adalah, sebagian masyarakat akan berpikir, bagaimana pemimpin akan menegakkan hukum jika dia tidak tega menghukum anaknya sendiri? Tim kampanye Prabowo-Hatta sebaiknya menyiapkan sebuah paket komunikasi yang dapat mengantisipasi dan menjelaskan kasus ini. Gue aja yang voter rakyat biasa, gak tau kelanjutannya dan gue jadi ragu memilih karena hal ini.

 

  1. Terlanjur terlihat berbagi kekuasaan

Media terlanjur mengekspos bahwa pemimpin partai akan diberikan posisi menteri. Masyarakat terlanjur memiliki persepsi bahwa ini adalah praktik bagi-bagi kapling. Dan kita tahu apa yang terjadi saat bagi-bagi kapling. Partai PD yang menguasai kementerian ESDM, memiliki Sutan batugana yang terbongkar memeras ESDM. ini bukan pencemaran nama baik. Ini sudah diulas di media. Kemenpora dengan kasus Nazaruddinnya. ini bukan pencemaran nama baik. Ini sudah di KPK. Kemenkominfo yang berniat memblokir youtube facebook dan twitter karena mengambdung pornografi (padahal sendirinya follow akun). Ini bukan pencemaran nama baik, ini sudah diulas di media. Kementerian pertanian yang dibagi ke partai dan sukses membuat swasembada daging sapi, dengan cara membuat rakyat tidak mampu beli daging sapi karena harganya jauh lebih mahal. Dan korup dan tertangkap. Ini bukan pencemaran nama baik, ini sudah masuk KPK.

 

Kita semua punya nightmare dan capek dengaan kapling-kaplingan. Dan sekarang belum apa-apa, sudah terulas bahwa ada pemimpin partai yang akan diberikan jabatan menteri senior. Tim kampanye Prabowo harus pintar dan harus bis amelihat, mereka bisa diserang di sini. Dan bahwa smart voters akan tidak memilih Prabowo karena kita melihat hal yang sama akan terjadi.

 

  1. Berkoalisi dengan PKS

Gue melihat ini adalah langkah yang salah dari segi menggaet voters. Kita sudah melihat apa yang terjadi dengan kementerian pertanian. Korupsi. Dan kita sudah lihat visi menkominfo kita yang bertanya ‘buat apa internet cepat-cepat?’

 

Menurut analisis gue. ketika seorang capres berkoalisi dengan PKS, capres tersebut mengambil resiko kehilangan suara. Misalnya Prabowo sudah punya 40 suara. Dan dia ingin koalisi dengan PKS yang memiliki 25 suara. Hasilnya tidak akan 40+25 = 65. Bisa jadi hasilnya 50 saja. Karena bisa jadi ada 15 dari 40 suara awal yang tidak jadi memilihnya karena faktor PKS ini (contoh angka hanya ilustrasi saja). Gue sudah melihat ini di teman-teman sekitar. Dan ini keluar dari tulisan gue, yang di tahun 99 memilih PK sebagai vote pertama gue. PKS sudah sangat melenceng dari PK.

Dari gue pribadi, gue melihat sosok Prabowo sebagai sosok yang lumayan OK. Gue percaya akan integritasnya. Gue percaya akan ketulusannya membangun Indonesia yang lebih baik. Tapi poin 5 6 7 adalah poin yang akan membuat seseorang berpikir 2 kali untuk memilih Prabowo.

 

Jokowi – Kalla

Yang menguatkan mereka

  1. Perubahan yang lebih Nyata

Jokowi dikenal mampu membuat perubahan mental.

 

  1. Faktor Kalla

Kalla dikenal cekatan. Bergerak cepat. Kalla adalah level presidennya Ahok. Di tahun 2004-2009, kita merasakan pembangunan dan melihat pemerintah bekerja, ini karena faktor Kalla. Dia bekerja cekatan dan dia lancar berkomunikasi dengan wartawan memperlihatkan progress dan kerja yanag pemerinta lakukan.

 

  1. Menggandeng Populasi Besar

Yang gue lihat, bisa jadi hampir semua masyakarat timur mendukung Jokowi Kallla karena Kalla datang dari timur.

Jokowi dan PDIP sendiri kuat di Jawa tengah dan timur. Itu sudah cukup untuk mengimbangi Prabowo Hatta yang menggaet Jawa Barat dengan PKSnya dan Sumatera karena faktor Hattanya.

Yang dapat merugikan mereka

  1. PDIP, hasil survey = partai terkorup

Memang sih, masyarakat sekarang lebih memilih figur ketimbang partai. Tapi bagi voters yang sangat memperhatikan partai, ini menjadi faktor penting. Ingat bahwa ketika kita memilih pemimpin, kita juga memilih segudang kader-kader yang membonceng dirinya. Dan gak semua itu elok.

Tim sukses Jokowi sebaiknya bersiap-siap mengantisipasi serangan untuk titik ini karena ini bisa jadi isu yang panas jika berhasil digoreng lawan.

 

  1. Kurangnya Media

Media itu penting. Wiranto dan Hanuranya tidak akan setinggi itu jika tidak ada Hary Tanoe. Jika kubu Jokowi – Kalla tidak mampu memegang 1 media besar, corong mereka akan kalah. Media itu penting untuk menjelaskan diri, menjual diri, mengklarifikasi serangan yang datang. tanpa media, serangan akan behasil membentuk sebuah persepsi negatif dann tidak punya media untuk mengoreksi persepsi itu.

 


Category: Uncategorized

Wacana – Apakah Poligami Masih Valid?

Artikel di bawah gue unduh dari facebook account seorang pria bernama Faqihuddin Abdul Kadir. Sebuah argumentasi yang cukup solid untuk mempertanyakan validitas dan relevansi Poligami dalam islam.

 

Gue pribadi selalu percaya bahwa penerapan poligami itu sama dengan penerapan budak. Ada relevansinya pada waktunya. Islam turun saat perbudakan sangat marak. Yang terjadi adalah turun perintah bahwa memiliki budak boleh tapi adalah surga bagi mereka yang memerdekakan budak. Sejalan dengan waktu, perbudakan menjadi sesuatu yang umat muslim tidak lagi lakukan. Menurut gue poligami juga seperti ini. Konteksnya berlaku saat turun tapi tidak seperi sekarang. Sekarang gue mendapat argumen yang baik dari penuturan di bawah. Sila dibaca.

Rgds

======

Poligami dilarang dalam Islam

Nyatanya, sepanjang hayatnya, Nabi lebih lama bermonogami daripada berpoligami. Bayangkan, monogami dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang menganggap poligami adalah lumrah. Rumah tangga Nabi SAW bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru kemudian, dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Dari kalkulasi ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan “poligami itu sunah”.

UNGKAPAN “poligami itu sunah” sering digunakan sebagai pembenaran poligami.
Namun, berlindung pada pernyataan itu, sebenarnya bentuk lain dari pengalihan tanggung jawab atas tuntutan untuk berlaku adil karena pada kenyataannya, sebagaimana ditegaskan Al Quran, berlaku adil sangat sulit dilakukan (An-Nisa: 129).

DALIL “poligami adalah sunah” biasanya diajukan karena sandaran kepada teks ayat Al Quran (QS An-Nisa, 4: 2-3) lebih mudah dipatahkan. Satu-satunya ayat yang berbicara tentang poligami sebenarnya tidak mengungkapkan hal itu pada konteks memotivasi, apalagi mengapresiasi poligami. Ayat ini meletakkan poligami pada konteks perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang.

Dari kedua ayat itu, beberapa ulama kontemporer, seperti Syekh Muhammad Abduh, Syekh Rashid Ridha, dan Syekh Muhammad al-Madan –ketiganya ulama terkemuka Azhar Mesir– lebih memilih memperketat.

Lebih jauh Abduh menyatakan, poligami adalah penyimpangan dari relasi perkawinan yang wajar dan hanya dibenarkan secara syar’i dalam keadaan darurat sosial, seperti perang, dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan dan kezaliman (Tafsir al-Manar, 4/287).

Anehnya, ayat tersebut bagi kalangan yang propoligami dipelintir menjadi “hak penuh” laki-laki untuk berpoligami. Dalih mereka, perbuatan itu untuk mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. Menjadi menggelikan ketika praktik poligami bahkan dipakai sebagai tolok ukur keislaman seseorang: semakin aktif berpoligami dianggap semakin baik poisisi keagamaannya. Atau, semakin bersabar seorang istri menerima permaduan, semakin baik kualitas imannya. Slogan-slogan yang sering dimunculkan misalnya, “poligami membawa berkah,” atau “poligami itu indah,” dan yang lebih populer adalah “poligami itu sunah.”

Dalam definisi fikih, sunah berarti tindakan yang baik untuk dilakukan. Umumnya mengacu kepada perilaku Nabi. Namun, amalan poligami, yang dinisbatkan kepada Nabi, ini jelas sangat distorsif.

Alasannya, jika memang dianggap sunah, mengapa Nabi tidak melakukannya sejak pertama kali berumah tangga?

Nyatanya, sepanjang hayatnya, Nabi lebih lama bermonogami daripada berpoligami. Bayangkan, monogami dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang menganggap poligami adalah lumrah. Rumah tangga Nabi SAW bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru kemudian, dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Dari kalkulasi ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan “poligami itu sunah”.

Sunah, seperti yang didefinisikan Imam Syafi’i (w. 204 H), adalah penerapan Nabi SAW terhadap wahyu yang diturunkan. Pada kasus poligami Nabi sedang mengejawantahkan Ayat An-Nisa 2-3 mengenai perlindungan terhadap janda mati dan anak-anak yatim. Dengan menelusuri kitab Jami’ al-Ushul (kompilasi dari enam kitab hadis ternama) karya Imam Ibn al-Atsir (544-606H), kita dapat menemukan bukti bahwa poligami Nabi adalah media untuk menyelesaikan persoalan sosial saat itu, ketika lembaga sosial yang ada belum cukup kukuh untuk solusi.

Bukti bahwa perkawinan Nabi untuk penyelesaian problem sosial bisa dilihat pada teks-teks hadis yang membicarakan perkawinan-perkawinan Nabi. Kebanyakan dari mereka adalah janda mati, kecuali Aisyah binti Abu Bakr RA.

Selain itu, sebagai rekaman sejarah jurisprudensi Islam, ungkapan “poligami itu sunah” juga merupakan reduksi yang sangat besar. Nikah saja, menurut fikih, memiliki berbagai predikat hukum, tergantung kondisi calon suami, calon istri, atau kondisi masyarakatnya. Nikah bisa wajib, sunah, mubah (boleh), atau sekadar diizinkan. Bahkan, Imam al-Alusi dalam tafsirnya, Rûh al-Ma’âni, menyatakan, nikah bisa diharamkan ketika calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya. Demikian halnya dengan poligami. Karena itu, Muhammad Abduh dengan melihat kondisi Mesir saat itu, lebih memilih mengharamkan poligami.

Nabi dan larangan poligami

Dalam kitab Ibn al-Atsir, poligami yang dilakukan Nabi adalah upaya transformasi sosial (lihat pada Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 108-179). Mekanisme poligami yang diterapkan Nabi merupakan strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka.

Sebaliknya, yang dilakukan Nabi adalah membatasi praktik poligami, mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam berpoligami.

Ketika Nabi melihat sebagian sahabat telah mengawini delapan sampai sepuluh perempuan, mereka diminta menceraikan dan menyisakan hanya empat. Itulah yang dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan, inilah pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama sekali.

Pada banyak kesempatan, Nabi justru lebih banyak menekankan prinsip keadilan berpoligami. Dalam sebuah ungkapan dinyatakan: “Barangsiapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus” (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 168, nomor hadis: 9049). Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Nabi SAW menekankan pentingnya bersikap sabar dan menjaga perasaan istri.

Teks-teks hadis poligami sebenarnya mengarah kepada kritik, pelurusan, dan pengembalian pada prinsip keadilan. Dari sudut ini, pernyataan “poligami itu sunah” sangat bertentangan dengan apa yang disampaikan Nabi. Apalagi dengan melihat pernyataan dan sikap Nabi yang sangat tegas menolak poligami Ali bin Abi Thalib RA. Anehnya, teks hadis ini jarang dimunculkan kalangan propoligami. Padahal, teks ini diriwayatkan para ulama hadis terkemuka: Bukhari, Muslim, Turmudzi, dan Ibn Majah.

Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Sama dengan Nabi yang berbicara tentang Fathimah, hampir setiap orangtua tidak akan rela jika putrinya dimadu. Seperti dikatakan Nabi, poligami akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya.

Jika pernyataan Nabi ini dijadikan dasar, maka bisa dipastikan yang sunah justru adalah tidak mempraktikkan poligami karena itu yang tidak dikehendaki Nabi. Dan, Ali bin Abi Thalib RA sendiri tetap bermonogami sampai Fathimah RA wafat.

Poligami tak butuh dukungan teks

Sebenarnya, praktik poligami bukanlah persoalan teks, berkah, apalagi sunah, melainkan persoalan budaya. Dalam pemahaman budaya, praktik poligami dapat dilihat dari tingkatan sosial yang berbeda.
Bagi kalangan miskin atau petani dalam tradisi agraris, poligami dianggap sebagai strategi pertahanan hidup untuk penghematan pengelolaan sumber daya. Tanpa susah payah, lewat poligami akan diperoleh tenaga kerja ganda tanpa upah. Kultur ini dibawa migrasi ke kota meskipun stuktur masyarakat telah berubah. Sementara untuk kalangan priayi, poligami tak lain dari bentuk pembendamatian perempuan. Ia disepadankan dengan harta dan takhta yang berguna untuk mendukung penyempurnaan derajat sosial lelaki.

Dari cara pandang budaya memang menjadi jelas bahwa poligami merupakan proses dehumanisasi perempuan. Mengambil pandangan ahli pendidikan Freire, dehumanisasi dalam konteks poligami terlihat mana kala perempuan yang dipoligami mengalami self-depreciation. Mereka membenarkan, bahkan bersetuju dengan tindakan poligami meskipun mengalami penderitaan lahir batin luar biasa. Tak sedikit di antara mereka yang menganggap penderitaan itu adalah pengorbanan yang sudah sepatutnya dijalani, atau poligami itu terjadi karena kesalahannya sendiri.

Dalam kerangka demografi, para pelaku poligami kerap mengemukakan argumen statistik. Bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah kerja bakti untuk menutupi kesenjangan jumlah penduduk yang tidak seimbang antara lelaki dan perempuan. Tentu saja argumen ini malah menjadi bahan tertawaan. Sebab, secara statistik, meskipun jumlah perempuan sedikit lebih tinggi, namun itu hanya terjadi pada usia di atas 65 tahun atau di bawah 20 tahun. Bahkan, di dalam kelompok umur 25-29 tahun, 30-34 tahun, dan 45-49 tahun jumlah lelaki lebih tinggi. (Sensus DKI dan Nasional tahun 2000; terima kasih kepada lembaga penelitian IHS yang telah memasok data ini).

Namun, jika argumen agama akan digunakan, maka sebagaimana prinsip yang dikandung dari teks-teks keagamaan itu, dasar poligami seharusnya dilihat sebagai jalan darurat. Dalam kaidah fikih, kedaruratan memang diperkenankan. Ini sama halnya dengan memakan bangkai; suatu tindakan yang dibenarkan manakala tidak ada yang lain yang bisa dimakan kecuali bangkai.

Dalam karakter fikih Islam, sebenarnya pilihan monogami atau poligami dianggap persoalan parsial. Predikat hukumnya akan mengikuti kondisi ruang dan waktu. Perilaku Nabi sendiri menunjukkan betapa persoalan ini bisa berbeda dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lain. Karena itu, pilihan monogami-poligami bukanlah sesuatu yang prinsip. Yang prinsip adalah keharusan untuk selalu merujuk pada prinsip-prinsip dasar syariah, yaitu keadilan, membawa kemaslahatan dan tidak mendatangkan mudarat atau kerusakan (mafsadah).

Dan, manakala diterapkan, maka untuk mengidentifikasi nilai-nilai prinsipal dalam kaitannya dengan praktik poligami ini, semestinya perempuan diletakkan sebagai subyek penentu keadilan. Ini prinsip karena merekalah yang secara langsung menerima akibat poligami. Dan, untuk pengujian nilai-nilai ini haruslah dilakukan secara empiris, interdisipliner, dan obyektif dengan melihat efek poligami dalam realitas sosial masyarakat.

Dan, ketika ukuran itu diterapkan, sebagaimana disaksikan Muhammad Abduh, ternyata yang terjadi lebih banyak menghasilkan keburukan daripada kebaikan. Karena itulah Abduh kemudian meminta pelarangan poligami.

Dalam konteks ini, Abduh menyitir teks hadis Nabi SAW: “Tidak dibenarkan segala bentuk kerusakan (dharar) terhadap diri atau orang lain.” (Jâmi’a al-Ushûl, VII, 412, nomor hadis: 4926). Ungkapan ini tentu lebih prinsip dari pernyataan “poligami itu sunah”.

Faqihuddin Abdul Kodir Dosen STAIN Cirebon dan peneliti Fahmina Institute Cirebon, Alumnus Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Suriah.


Category: islam

Kritik

Setiap hari kita melihat karya terbit. Dan sering juga kita lihat orang-orang bereaksi atas karya itu dan memberi kritik. yang menarik adalah melihat reaksi dari pembuat karya menanggapi kritik. Reaksinya beda-beda. Gue sendiri punya reaksi yang beda dengan pembuat karya yang lain dalam menanggapi kritik.

Gue menulis blogspot ini dalam kapasitas gue yang sudah lama membuat cerita ya. Mungkin ada beberapa penulis junior atau teman-teman pembuat karya yang akan menemukan pakem-pakem di bawah, lumayan membantu.

 

4 Hal tentang Kritik yang harus Pembuat Karya pegang:

 

  1. Pemberi kritik memberi kritik dalam kapasitas mereka sebagai penikmat karya kita.

Implikasinya: kita tidak berhak berkata “Coba, elo bisa gak bikin yang lebih baik?”

Contohnya, gue ini udah 10 tahun menulis. Bakat gue di sana. Bakat itu gue asah 10 tahun. Apakah etis bagi gue untuk menantang seorang pemberi kritik yang tidak punya bakat menulis?

Jika kita adalah pembuat karya tapi kita sering nantangin balik, mungkin kitanya yang belum siap jadi pembuat karya. Jika memang sering panas sendiri dengan kritik, maka sebaiknya kita nikmati saja karya kita sendiri. Tidak usah dipublikasikan.

 

  1. Pembaca/penonton karya kita tidak pernah meminta kita membuat karya.

Malah sebenarnya, kita sendiri yang memiliki aspirasi dan keinginan kuat untuk menciptakan karya ini. Malah sebenarnya, adalah kita yang merasa yakin bahwa ide kita ini akan diterima masyarakat. Jadi jika pada akhirnya tidak diterima, pertanyaannya kembali kepada kita, “Apakah kita sudah riset dahulu bahwa karya kita akan mampu dicerna semua kalangan?”

“Apakah kita sudah yakin dahulu bahwa karya ini sudah bagus?”

 

  1. Mulut & selera orang lain, bukan di bawah kendali kita.

Manusia tidak lahir dengan 1000 budak yang berhutang pada kita. Jadi kita tidak berhak mengontrol apa yang menurut mereka bagus dan tidak berhak mengontrol omongan mereka. Sering juga gue membaca atau melihat pembuat karya yang memilih untuk berterima kasih menerima kritik, selama kritik itu membangun. Dan marah/sedih/jatuh oleh kritik yang pedas. Sebenarnya ini satu langkah lebih maju dari pembuat karya yang tidak dapat menerima kritik sama sekali. Tapi ya, dari personal point of view gue, tidak ada yang namanya kritik yang membangun atau kritik yang menjatuhkan. Semua kritik adalah kritik. Kenapa? Lihat kedua pembaca/penonton di bawah:

Si A adalah orang yang pintar dan objektif. Dia punya selera yang baik dan pemikiran yang baik.

Si B lahir di kolong langit. Tidak pintar dan sama sekali tidak punya wawasan. Mereka membaca buku atau film yang sama, buatan kita.

Si A mungkin mampu memberikan kritik yang membangun. Si B, hanya kritik pedas. Apakah wawasan dan selera A dan B di bawah kontrol kita? Tidak kan?

Jadi, ya, jika mendapat kritik yang membangun, kita berterima kasih. Tapi jika mendapat kritik yang menjatuhkan, tidak usah down atau sedih.

 

  1. Satu-satunya kritik yang salah adalah kritik yang keluar dari orang yang belum baca atau belum nonton.

Nah kalau ini, baru silakan parut mukanya. Orang-orang seperti ini tidak berhal memberikan kritik karena nonton aja belum. Sebagai pembuat karya, kita tanya aja, “Eh, mbake, coba nonton dulu.”

 

Bagaimana bereaksi terhadap Kritrik?

Lantas, bagaimana dong sikap yang benar bagi seorang pembuat karya dalam menghadapi kritik? Bagaimana caranya agar kita tidak gentar/down saat meneriuma kritik yang maha pedas? Teorinya, gak susah kok.

  1. Kalo gue pribadi, gue selalu bilang pada diri gue:

Harga dari diri gue, Kualitas dari bakat gue, tidak ditentukan dari omongan orang lain, apalagi kritik mereka.

Gue lah, yang tahu berapa harga dari diri gue. Gue lah yang tahu, seberapa besar/kecil dan kualitas dari bakat gue.

 

Kritik-kritik itu berguna karena mungkin ada beberapa aspek yang kita belum sadar bahwa kita kurang. Tapi untuk hal—hal yang gue tahu pasti bahwa gue bisa, gua tidak akan merasa down saat dikritik.

 

  1. Cerna kritik dengan membedakan beberapa hal seperti ini:

“Oh dia bilang ceritanya banyak yang bolong. Ini teknis. Coba gue lihat lagi.”

“Dia gak suka sama ceritanya. Oh ini berarti masalah selera. Yo wis, selera orang beda-beda.”

 

  1. Ingat bahwa satu-satunya kritik yang tidak layak kita dapatkan adalah kritik yang dari orang yang belum baca/nonton/denger karya kita. Kalau mereka sudah, berarti, semua kritik datang dari selera atau wawasan mereka, dan kita tidak punya kuasa atas itu semua.

Have a nice weekend, everyone.


Category: Uncategorized

Updates dari Gue

Jadi ceritanya beberapa waktu yang lalu, blog ini abis masanya. And now up and running again. Sebenernya ada banyak yang terjadi antara Februari sampe sekarang. Two big events coming up.

Pertama adalah bahwa buku gue udah ampiiir selesai. Cuman tinggal nulisnya aja. (itu sih namanya belum nyet). Tinggal masalah putusin pake cover mana dan abis itu cetak deh. Semoga bisa nih akhir April ini beredar. Judulnya masih rahasia ya. Novel ini gue tulis di tahun 2012. Sempat 3 kali mengalami perombakan besar. dan akhirnya terbit dalam format fiksi. So yes people, this is my next novel. My next story. However tho, gue harus mengariskan bahwa tulisan gue bertambah dewasa sejalan dengan bertambah dewasanya gue. Novel ini tentang father and son. Tentang cinta juga. Tentang marriage. 3 topik yang cukup dalam dan lebih dewasa dibanding topik-topik yang gue pernah angkat sebelumnya.

mari lari

Kedua adalah film berjudul Mari Lari akan tayang bulan Juni ini. 12.06.2014. So excited. film ini didasari oleh cerita yang istri gue bikin. Dijadikan skrip dan dijadikan versi buku juga. karena sedikit isu dengan legalitas, Filmnya berjudul Mari Lari dan novelnya akan berjudul ‘Just Keep Running’.

Ini adalah sebuah movie tentang father and son. Juga tentang seorang slacker yang ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Touching story. Directornya adalah seorang pelari juga. Delon Tio (produser rumah dara). Kita tambah excited ketika tahu bahwa Doni Damara was on board. Ninit dan gue ngeliat proses syuting dan kaget mendapati betapa humblenya beliau. Dan mari kita akui, semua orang pengen ngelap keringetnya Olivia Jensen.

Anyways, be sure not to miss it. I will be talking about this movie alot in the near future.

Exciting times ahead. ini akan menjadi Q2 yang sangat hectic karfena on tp of everything else, gue di kantor juga sedang ada 3 hal besar yang berjalan. So lets see.

 

 

 


Category: Uncategorized

3 Bulan Yang Worth It

As you know, gue mulai ngegym dan gue malakukannya atas banyak alasan. In my pursuit to be healthier and look healthier, dan karena ternyata, lari saja tidak cukup – karena saban lari, gue melata.

Sign up ke FF beberapa bulan dan mulai menjalani berbagai macam training. Memang gue akui, baru kali ini gue ngegym dengan rada serius. Serius dalam konteks, gue sampe punya PT. Gue menuruti rezim dan program yang dia tentukan. Pergi ngegym pada waktu yang ditentukan dan jika terhalang kerjaan, ya gue ganti.

 photo image6_zps6717b7ff.jpeg  photo image4_zpsd93b8d75.jpeg

To be fair, PT gue (namanya Rahmanto) emang jago. Badannya tone, menjadikannya seperti papan berjalan iklan layanan kesehatan masyarakat. Gue juga tinggal tunjuk, kalo mau kayak gini, gimana caranya. Dan mulailah gue dengan semangat mencoba. Dan kali ini gue memilih untuk tidak lebih sotoy dari PT gue. Hanya mencerna instruksi, berusaha mengerti asalan scientific di balik instruksinya dan menjalankannya.

Dalam prosesnya, gue mendapati bahwa personal preference gue tidak terletak pada alat-alat yang ada. Tiap kali mendapati diri gue haru ikut rezim latihan dengan alat-alat yang mirip ekskavator atau truk molen ini, gue lakukan dengan semangat juang keong dan mental bajaj. Tapi lebih kepada circuit training. Circuit training ini maksudnya adalah training yang memerlukan sedikit alat dan lebih banyak pergerakan.

Gue suka yang seperti ini karena banyak ilmunya dan gue bisa praktekkan di rumah tanpa bergantung pada alat-alatnya. Yang di samping kiri ini contohnya. Di FF ada alat tertentu yang memberikan berbagai macam pola dan ketentuan speed.
 photo image3_zps2cecaa33.jpeg  photo image5_zpsc2dbbd0e.jpeg

Hal yang sama, dapat gue lakukan di dalam rumah tanpa bantuan alat tersebut. Yang penting adalah mikirin pola lompatan dan udah deh, langsung latihan otot. Lumayan capek tapi efektif.

Training yang lain yang gue suka juga yang ini. Gue melakukannya beberapa kali di gym, dengan bimbingan PT. Kemudian di hari-hari di mana gue sibuk kerja dan gak bisa pergi ke sana, gue dapat mengimitasi gerakan yang sama di rumah. Bedanya, gue memakai beban yang gue punya aja. Hasilnya sama.

Dapat badan yang OK bukan hasil sih menurut gue. Taopi proses yang yang harus dimaintain. Makanya, dalam 3 bulan gue ngegym, gue berhasil mengolah badan. Tapi yang tidak kalah pentingnya, gue juga dapat ilmunya. Dan yang paling penting, ilmu tersebut cukup praktis untuk gue terapkan di rumah setelah gue menghabiskan semua session PT bersama Rahmanto ini.

Kudos to Rahmanto yang ilmunya segudang dan aplikatif. Juga untuk FF yang tempat fitnessnya sangat OK dan nyaman. Now if you’ll excuse me, gue mau latihan lagi.


Category: Uncategorized

Contoh Untuk Anak

Jujur ya, I take parenthood dan fatherhood quiote seriously. Bahkan mungkin lebih serius (beberapa akan berkata lebay) dari orang lain. Apa pun itu, gue serius. Dan fakta sudah membuktikan bhawa anak itu menuruti orang tuanya melalui contoh, bukan nasihat. Maksudnya, mencontoh itu jauh lebih efektif daripada menasehati. Contohnya bokap gue sendiri. Dia itu sering sekali melakukan A, meski dia tidak pernah menyuruh gue melakukan A. Tapi karenna gue lihat dia konsisten melakukannya setiap ssaat dari tahun ke tahun, gue tumbuh melihat benefit dari aktifitas itu pada bokap gue. Dan setelah gue besar gue melakukan A menjadi kebiasaan gue. Apa A itu, gak akan gue kasih tau tapi yang jelas bukan bakar menyan atau meluk kompor.

 

Sekarang gue sudah menjadi bapak dari anak-anak gue. Masalahnya satu. Gue mendapati diri gue menjadi sosok dewasa yang…well…rada lazy. Kalo wiken, bangunnya siang. Gak pernah olahraga, apalagi mengajak anak-anak gue olahraga. Tadinya gue gak ambil pusing. Tapi kemudian gue ingat dengan hubungan gue dan bokap gue dulu. Bahwa pengajaran sebuah value itu emang dari contoh. Yang berarti gue harus memberikan contohnya. Ya gue lah, masak tukang kebon? Dan dari beberapa values yang gue ingin tanamkan pada anak-anak gue, salah satunya adalah hidup sehat. Hidup sehat is common sense. Gak makan beling aja udah sehat. Gak nangkring depan truk molen juga bisa dibilang sehat. Tapi ya tentunya kita ingin yang lebih eksak dari itu. Maksud gue, sehat dengan berolahraga. Dan gak akan masuk ke anak gue jika gue encourage mereka meyukai olahraga jika gue sendiri gak suka olahraga.

 

Jadilah gue beberapa tahun terakhir, take up running sebagai sport. Dan hasilnya lumayan. Gue dapat memperlihatkan bahwa diri gue lebih sehat dan sebaliknya, anak-anak gue lebih mudah diajak berolahraga juga. Setelah sekitar 1 tahun lebih lari, gue melihat efek nyata bahwa gue lebih sehat. Tapi gue tidak terlalu melihat perubahan fisik dalam diri gue, selain wajah yang terlihat ngos—ngosan dan meregang nyawa saban lari. Maksudnya meski gue sudah tidak pernah sakit, tetap saja lari tidak terlalu memberikan perbedaan visual pada otot-otot gue. Sedangkan di sisi lain, contoh yang baik untuk anak kecil, adalah contoh yang nyata. Yang visible di mata mereka. Akhirnya gue mikir, bahwa gue harus take up sesuatu yang dapat memberikan efek yang visual juga. Dan aktifitas yang efektif membawa perubahan secara visual, adalah ngegym.

 

And I think I’m on the right track here.

http://www.fitnessfirst-letsgetpersonal.com/


Category: Uncategorized

Follower Twitter dan Buku

Kasus

Gue ingin memberikan analisis tentang bagaimana seorang writing talent ditemukan atau menemukan jalur mereka ke dalam industry buku. Di era social media, kita melihat beberapa kejadian berkenaan dengan industry buku.

Kasus pertama. Seorang pemilik akun twitter sejalan dengan waktu, menjadi seseorang yang dengan influence kuat. Bisa dibilang menjadi influencer (gue menolak untuk memakai istilah selebtwit karena ada kesan negatif). Dia menjadi influencer karena 1 dari 2 hal ini atau keduanya

  1. Konten twit dia lucu dan cerdas. beresonansi dengan banyak orang, terlepas banyak atau sedikitnya follower dia.
  2. Konten twit dia yang lucu dan cerdas membuat dia memiliki banyak follower.

Setelah satu atau kedua hal ini terjadi, dia menerbitkan buku. Entah apakah mereka yang pergi ke penerbit atau mereka yang diincar penerbit, ditawarkan untuk menulis buku.

Kasus kedua. Seorang penulis yang tidak aktif di dunia twitter, menulis sebuah buku. Memberikannya pada sebuah penerbit. Penerbit tersebut menolaknya dan bilang bahwa syarat menerbitkan buku adalah dia harus punya banyak follower.

 

Dari sini muncul beberapa pertanyaan.

Apakah jumlah follower penting bagi seorang penulis?

Apakah penulis harus lantas memiliki akun twitter?

Kenapa jumlah follow menjadi penting bagi beberapa penerbit? Sedangkan bagi penerbit lain, tidak?

Platform 3 Zaman

Tanpa bermaksud nyombong,  tapi sekedar fakta aja, gue sudah menulis lebih lama dari kebanyakan penulis muda yang beredar sekarang. Izinkan gue untuk berbagi sudut pandang gue. Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus runut balik dulu ke 20 tahun yang lalu saat era social media belum ada, dan ke era gue di 2000an saat era socmed masih sangat pagi. Gue akan cerita tentang bagaimana perjalanan 3 penulis dari 3 angkatan ya.

Era 80-90an. Seorang penulis, sebutlah A, menulis sebuah novel. Oleh penerbit, novelnya ditolak. Dia tidak menyerah dan ditolak lagi. In total, dia ditolak 9 kali oleh penerbit yang sama. Di saat yang sama, dia menghunus ilmu menulisnya dengan cara memasukkan cerpen ke majalah cetak. Sukses.

Apa yang terjadi di sini? Di era 80-90an, penerbit tidak yakin bagaimana selera pasar akan menanggapi novelnya. Makanya dia ditolak berkali-kali. Tapi kemudian cerpennya terbit. Penerbit tersebut mikir. Ini si A, cerpennya aja lolos kok masuk majalah atau Koran yang terhormat, pasti kualitasnya bagus. Apakah penjualan oplah majalah 100% akibat cerpen dia dimuat? Tentu tidak. Penerbit melihat langsung bagaimana cerpennya diterima di masyarakat. Barulah penerbit percaya akan keahlian si A menulis dan menerbitkan novelnya.  Apakah ini terjadi hanya pada si A? Tidak. Ada puluhan penulis seperti ini. Malah, bagi kebanyakan penulis senior kita dari era 80-90an, cerpen di koran dan majalah adalah platform latihan mereka menghunus ilmu menulis mereka. Menghunus rasa percaya diri mereka. Tiga pembelajaran:

1.       Majalah atau Koran adalah platform menulis.
2.       Cerpen jadi alat melatih menulis.
3.       Konten dari cerpennya bagus.
4.       Dari sekian banyak yang baca (yang jumlahnya kita gak tau), beberapa dari mereka memberikan feedback positif.
5.       Jumlah pembaca tidak dapat ditentukan.

 

Era 2000-an. Sebutlah seorang penulis ganteng, muda, sakti mandraguna, rupawan melegenda bernama Adhitya Mulya. Dia tidak pernah menulis cerpen. Tidak pernah menang lomba tulis. Tidak pernah menulis novel sebelumnya. Suatu hari, dia menemukan sebuah platform socmed bernama, blog. Lucu juga nih. Di blog itu si Adhitya Mulya yang gantengnya selangit ini mulai nulis-nulis cerita lucu. Ternyata, komen yang masuk cukup positif. Sayangnya gue itu sama dengan kebanyakan blogger yaitu rada gaptek. Gak punya tools yang bisa mengukur traffic yang masuk ke blog.  Jadinya sama dengan nasib cerpen. Berapa jumlah yang baca blog gue, gue gak tau. Tapi dari yang meninggalkan komen, mereka meningalkan respon yang cukup positif. Cukup positif untuk membuat gue menghunus ilmu menulis gue jadi lebih baik lagi. Komen positif yang ada, cukup untuk membuat gue merasa percaya diri bahwa, OK, sepertinya gue bisa nih, nulis cerita lucu. Dari blog lah gue jadi PD nulis dan menerbitkan buku.

Apa yang terjadi di sini? Di era 2000-an, cerpen di majalah dan Koran tidak lagi menjadi platform penulis untuk latihan. Blog lah yang menjadi platform penulis angkatan gue, untuk latihan nulis dan bangun percaya diri. Apakah ini hanya terjadi pada gue? Tidak. Raditya Dika adalah blogger yang memiliki pembaca ratusan ribu orang sebelum dia merilis buku. Muhammad Ihsan @ichanx adalah seorang blogger of the year di tahun 2000an sebelum dia merilis buku. Isman @ismanhs punya blog yang sangat terkenal sebelum dia merilis buku. Valiant Budi @vabyo memiliki blog yang sangat-sangat lucu dan dinikmati banyak orang sebelum dia merilis buku. @okkesepatumerah adalah blogger senior yang sangat terkenal dan dibaca banyak orang, sebelum dia merilis buku.

1.       Blog adalah platform menulis.
2.       Posting jadi alat melatih menulis.
3.       Konten dari blognya bagus.
4.       Dari sekian banyak yang baca (yang jumlahnya kita gak tau), beberapa dari mereka memberikan feedback positif.
5.       Jumlah traffic/pembaca seringnya tidak dapat ditentukan.  Beberapa pasang traffic meter, beberapa tidak.

Coba scroll back ke atas. Hampir sama kan?

Ill tell you a secret. Gue tahu setidaknya 2 penerbit besar yang di tahun 2000an, menghire staf hanya untk melakukan 1 hal: yaitu, duduk depan computer, browsing blog seharian. Mereka baca konten blog, dan memeriksa reaksi pembaca. Blog yang konten dan reaksi pembaca bagus, mereka kontak untuk ajak menulis buku. Yang jelas, penerbit tidak selalu dapat melihat jumlah traffic yang masuk untuk sebuah blog. Jadi penerbit juga tidak pernah mengunakan jumlah traffic sebagai syarat. Jika tahu, itu hanya sebuah informasi tambahan yang berguna bagi penerbit.

 

Era 2010-an. Ada seorang twitter user yang sangat-sangat lucu. Everyone enjoys his twits dan his company. Orangnya baik dan ramah. Katakanlah dia B. Twitter adalah micro blogging. Konten twitnya lucu-lucu dan karenanya, banyak yang suka. Dan banyak yang follow. Sama kan dengan  blogging?

Baik disadari oleh si B atau tidak, diniatkan oleh si B atau tidak, dia memakai platform twitter untuk belajar menulis, sebagaimana gue memakai platform blog untuk belajar menulis, sebagaimana si A 20 tahun yang lalu memakai majalah untuk belajar menulis. Sama kan?

 

Reaksi pembaca majalah terhadap cerpen X adalah cerminan selera pasar,

Sebagaimana reaksi dan komen positif reader gue di blog gue adalah cerminan selera pasar,

Sebagaimana reaksi follower twitter si A di twitter adalah cerminan selera pasar.

 

Jumlah pembeli majalah setiap kali X nulis cerpen tidak dapat ditentukan.

Sebagaimana jumlah traffic di blog gue tidak dapat diketahui.

Bedanya dengan twitter, followernya dapat diketahui. Ini yang menjadi pembeda.

Recap:

1.       Twitter adalah platform menulis.
2.       Twits jadi alat melatih menulis.
3.       Konten dari twitnya bagus.
4.       Dari sekian banyak yang baca, beberapa dari mereka memberikan feedback positif.
5.       Nah ini bedanyaè Jumlah follower dapat dilihat.

Good Content is Mandatory – Follower is Supplementary

Analisis gue memperlihatkan dengan jelas bahwa proses yang 3 penulis alami ini sama. Hanya berbeda platform saja. Bedanya, orang yang mgeasah bakat menulisnya lewta twitter, diuntungkan oleh betapa mudahnya orang mengakses twitter. Jauh lebih mudah dibanding tahun 2000, ketika orang berniat pergi ke warnet untuk baca blog gue. Dan itu pun masih lebih mudah ketimbang jaman bokap gue beli koran untuk baca cerpennya Arswendo.

Analisis gue memperlihatkan dengan jelas bahwa untuk jaman sekarang, penulis yang bagus, memiliki 1 hal yang pasti ada (mandatory) ya itu content. Dan 1 hal yang mungkin ada (supplementary) ya itu follower.

Penulis yang bener-bener disukai pembacanya pasti disukai karena konten twitnya bagus. Sebagaimana jaman gue dulu, konten blognya bagus. Sebagaimana jaman dulu konten cerpen bagus.

Keyword: konten yang bagus, terlepas dari apa platformnya dan berapa yang beli/baca/followernya berapa.

Followers are only supplementary

Penulis yang bener-bener disukai pembacanya terkadang punya follower banyak atau follower sedikit. Ada penulis yang konten twitnya lucu cerdas. Followernya pun banyak. Setelah rilis buku, konten bukunya cerdas. Contohnya adalah teman gue @newsplatter (Henry Manampiring). His writing skill is superb.

Ada banyak penulis yang konten twitnya lucu tapi followernya sedikit. Contoh, Teman gue @ichanx dan @mbot adalah salah dua penulis super lucu. Konten twit dan buku mereka lucu-lucu tapi follower mereka tidak sampai 30ribu. Kenapa? Ada banyak alasan. Mungkin kita sibuk, jadinya kita gak bisa engage follower kita dengan baik.

Ada beberapa orang yang menerbitkan buku karena followernya banyak tapi sebenernya dia gak bagus.

Analisis ini memperlihatkan kepada penerbit bahwa followers bukan parameter yang valid untuk lantas menghasilkan buku yang bagus. 20 tahun yang lalu, data dari jumlah pembeli majalah ketika si A nulis cerpen tidak ada kok. Itu tidak jadi criteria. 10 tahun yang lalu, penerbit juga tidak selalu dapat melihat traffic ke sebuah blog. itu tidak jadi criteria. Yang aneh, sekarang jumlah follower menjadi criteria beberapa penerbit. Sampai ada penulis yang bukunya ditolak karena jumlah twitter followernya sedikit. Satu-satu alasan yang dapat terdeduksi adalah anggapan bahwa banyak follower = banyak penjualan buku. Yang mana artinya orang yang menulis itu menjadi korban.

 

Adalah konten twit yang menjadi parameter valid untuk konten buku. Sebagaimana dulu konten blog dan konten cerpen.

 

Hal Terakhir Yang Bernama Kemudahan

Tapi memang ya, dari semua penjelasan di atas, ada 1 hal lagi yang membedakan penulis yang lahir dari twitter dengan angkatan sebelum mereka. Mudah.

Tahun 80-90an: Ketika pujangga-pujangga Indonesia tahun 80-90 dulu menulis cerpen untuk koran, itu butuh niat. Mereka berniat menulis. Pakai mesin tik malah, ribed. Mereka berniat mengasah skill mereka.  Setelah terbit, dapat pengakuan, baru lah penerbit berdatangan.

Tahun 2000-an: Ketika blogger-blogger membuat blog, kami niat. Niat keluar duit di warnet, niat utak-atik html, niat nulis. Kami berniat mengasah skill menulis kami. Setelah posting, dapat respon, baru lah penerbit browsing.

Tahun 2010: orang demen ngetwit yang lucu-lucu, belum tentu sadar bahwa dia itu sedang mengasah skill menulisnya. Ada yang niat, tapi ada juga yang tidak. Tau-tau penerbit datang dan dia menerbitkan buku. Terkesan mudah. Padahal belum tentu lho. Pandangan gue akan hal ini adalah: ya udah lah, namanya juga beda jaman, memangnya kenapa? Hanya karena tidak terlihat sulit, bukan berarti tidak ada usaha kan. Apakah kita bisa menuntut semua orang untuk pakai mesin tik di jaman sekarang? Gak juga kan ya?

Penutup

Jika seseorang twitnya lucu dan punya banyak follower, apakah dia salah nerbitin buku? Tidak. Itu benar. Itu tidak salah. Again, yang penting itu kontennya.

Penerbit yang baik tidak akan membuat mengharuskan seorang penulis memiliki twitter follower yang banyak. Jika iya, maka itu artinya (1) mereka malas memasarkan buku elo. Mereka hanya bergantung pada follower elo untuk beli buku yang mereka cetak. Konten saja cukup. Sebagaimana dulu penerbit melihat konten blog. Sebagaimana penerbit dulu liat konten cerpen. (2) mereka gak tau selera pasar saat ini seperti apa. Apalagi selera pasar masa depan. Mereka menunggu seseorang punya follower banyak dulu baru percaya. Implikasinya gini. Misalnya gue demen twitpic yang porno. Follower gue nambah dari 3000 jadi 40 ribu. Dengan logika jumlah follower = pasti penulis bagus, penerbit yang akalnya kurang sehat, akan mikir “Nah itu dia selera pasar. Yang porno-porno.”

 

Penerbit yang mengharuskan penulis punya follower banyak adalah penerbit yang tidak bijak.

 

Itu aja sih. Semoga ini meluruskan persepsi tentang arti jumlah follower terhadap industry buku. Semoga tidak ada lagi sinisme terhadap  penulis yang lahir dari twitter. Tidak salah kok. Itu hanya beda platform. Semoga postingan ini berguna untuk penulis dan penerbit juga.

Rgds/ Adhitya


Category: Uncategorized