Updates dari Gue

Jadi ceritanya beberapa waktu yang lalu, blog ini abis masanya. And now up and running again. Sebenernya ada banyak yang terjadi antara Februari sampe sekarang. Two big events coming up.

Pertama adalah bahwa buku gue udah ampiiir selesai. Cuman tinggal nulisnya aja. (itu sih namanya belum nyet). Tinggal masalah putusin pake cover mana dan abis itu cetak deh. Semoga bisa nih akhir April ini beredar. Judulnya masih rahasia ya. Novel ini gue tulis di tahun 2012. Sempat 3 kali mengalami perombakan besar. dan akhirnya terbit dalam format fiksi. So yes people, this is my next novel. My next story. However tho, gue harus mengariskan bahwa tulisan gue bertambah dewasa sejalan dengan bertambah dewasanya gue. Novel ini tentang father and son. Tentang cinta juga. Tentang marriage. 3 topik yang cukup dalam dan lebih dewasa dibanding topik-topik yang gue pernah angkat sebelumnya.

mari lari

Kedua adalah film berjudul Mari Lari akan tayang bulan Juni ini. 12.06.2014. So excited. film ini didasari oleh cerita yang istri gue bikin. Dijadikan skrip dan dijadikan versi buku juga. karena sedikit isu dengan legalitas, Filmnya berjudul Mari Lari dan novelnya akan berjudul ‘Just Keep Running’.

Ini adalah sebuah movie tentang father and son. Juga tentang seorang slacker yang ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Touching story. Directornya adalah seorang pelari juga. Delon Tio (produser rumah dara). Kita tambah excited ketika tahu bahwa Doni Damara was on board. Ninit dan gue ngeliat proses syuting dan kaget mendapati betapa humblenya beliau. Dan mari kita akui, semua orang pengen ngelap keringetnya Olivia Jensen.

Anyways, be sure not to miss it. I will be talking about this movie alot in the near future.

Exciting times ahead. ini akan menjadi Q2 yang sangat hectic karfena on tp of everything else, gue di kantor juga sedang ada 3 hal besar yang berjalan. So lets see.

 

 

 


Category: Uncategorized

3 Bulan Yang Worth It

As you know, gue mulai ngegym dan gue malakukannya atas banyak alasan. In my pursuit to be healthier and look healthier, dan karena ternyata, lari saja tidak cukup – karena saban lari, gue melata.

Sign up ke FF beberapa bulan dan mulai menjalani berbagai macam training. Memang gue akui, baru kali ini gue ngegym dengan rada serius. Serius dalam konteks, gue sampe punya PT. Gue menuruti rezim dan program yang dia tentukan. Pergi ngegym pada waktu yang ditentukan dan jika terhalang kerjaan, ya gue ganti.

 photo image6_zps6717b7ff.jpeg  photo image4_zpsd93b8d75.jpeg

To be fair, PT gue (namanya Rahmanto) emang jago. Badannya tone, menjadikannya seperti papan berjalan iklan layanan kesehatan masyarakat. Gue juga tinggal tunjuk, kalo mau kayak gini, gimana caranya. Dan mulailah gue dengan semangat mencoba. Dan kali ini gue memilih untuk tidak lebih sotoy dari PT gue. Hanya mencerna instruksi, berusaha mengerti asalan scientific di balik instruksinya dan menjalankannya.

Dalam prosesnya, gue mendapati bahwa personal preference gue tidak terletak pada alat-alat yang ada. Tiap kali mendapati diri gue haru ikut rezim latihan dengan alat-alat yang mirip ekskavator atau truk molen ini, gue lakukan dengan semangat juang keong dan mental bajaj. Tapi lebih kepada circuit training. Circuit training ini maksudnya adalah training yang memerlukan sedikit alat dan lebih banyak pergerakan.

Gue suka yang seperti ini karena banyak ilmunya dan gue bisa praktekkan di rumah tanpa bergantung pada alat-alatnya. Yang di samping kiri ini contohnya. Di FF ada alat tertentu yang memberikan berbagai macam pola dan ketentuan speed.
 photo image3_zps2cecaa33.jpeg  photo image5_zpsc2dbbd0e.jpeg

Hal yang sama, dapat gue lakukan di dalam rumah tanpa bantuan alat tersebut. Yang penting adalah mikirin pola lompatan dan udah deh, langsung latihan otot. Lumayan capek tapi efektif.

Training yang lain yang gue suka juga yang ini. Gue melakukannya beberapa kali di gym, dengan bimbingan PT. Kemudian di hari-hari di mana gue sibuk kerja dan gak bisa pergi ke sana, gue dapat mengimitasi gerakan yang sama di rumah. Bedanya, gue memakai beban yang gue punya aja. Hasilnya sama.

Dapat badan yang OK bukan hasil sih menurut gue. Taopi proses yang yang harus dimaintain. Makanya, dalam 3 bulan gue ngegym, gue berhasil mengolah badan. Tapi yang tidak kalah pentingnya, gue juga dapat ilmunya. Dan yang paling penting, ilmu tersebut cukup praktis untuk gue terapkan di rumah setelah gue menghabiskan semua session PT bersama Rahmanto ini.

Kudos to Rahmanto yang ilmunya segudang dan aplikatif. Juga untuk FF yang tempat fitnessnya sangat OK dan nyaman. Now if you’ll excuse me, gue mau latihan lagi.


Category: Uncategorized

Contoh Untuk Anak

Jujur ya, I take parenthood dan fatherhood quiote seriously. Bahkan mungkin lebih serius (beberapa akan berkata lebay) dari orang lain. Apa pun itu, gue serius. Dan fakta sudah membuktikan bhawa anak itu menuruti orang tuanya melalui contoh, bukan nasihat. Maksudnya, mencontoh itu jauh lebih efektif daripada menasehati. Contohnya bokap gue sendiri. Dia itu sering sekali melakukan A, meski dia tidak pernah menyuruh gue melakukan A. Tapi karenna gue lihat dia konsisten melakukannya setiap ssaat dari tahun ke tahun, gue tumbuh melihat benefit dari aktifitas itu pada bokap gue. Dan setelah gue besar gue melakukan A menjadi kebiasaan gue. Apa A itu, gak akan gue kasih tau tapi yang jelas bukan bakar menyan atau meluk kompor.

 

Sekarang gue sudah menjadi bapak dari anak-anak gue. Masalahnya satu. Gue mendapati diri gue menjadi sosok dewasa yang…well…rada lazy. Kalo wiken, bangunnya siang. Gak pernah olahraga, apalagi mengajak anak-anak gue olahraga. Tadinya gue gak ambil pusing. Tapi kemudian gue ingat dengan hubungan gue dan bokap gue dulu. Bahwa pengajaran sebuah value itu emang dari contoh. Yang berarti gue harus memberikan contohnya. Ya gue lah, masak tukang kebon? Dan dari beberapa values yang gue ingin tanamkan pada anak-anak gue, salah satunya adalah hidup sehat. Hidup sehat is common sense. Gak makan beling aja udah sehat. Gak nangkring depan truk molen juga bisa dibilang sehat. Tapi ya tentunya kita ingin yang lebih eksak dari itu. Maksud gue, sehat dengan berolahraga. Dan gak akan masuk ke anak gue jika gue encourage mereka meyukai olahraga jika gue sendiri gak suka olahraga.

 

Jadilah gue beberapa tahun terakhir, take up running sebagai sport. Dan hasilnya lumayan. Gue dapat memperlihatkan bahwa diri gue lebih sehat dan sebaliknya, anak-anak gue lebih mudah diajak berolahraga juga. Setelah sekitar 1 tahun lebih lari, gue melihat efek nyata bahwa gue lebih sehat. Tapi gue tidak terlalu melihat perubahan fisik dalam diri gue, selain wajah yang terlihat ngos—ngosan dan meregang nyawa saban lari. Maksudnya meski gue sudah tidak pernah sakit, tetap saja lari tidak terlalu memberikan perbedaan visual pada otot-otot gue. Sedangkan di sisi lain, contoh yang baik untuk anak kecil, adalah contoh yang nyata. Yang visible di mata mereka. Akhirnya gue mikir, bahwa gue harus take up sesuatu yang dapat memberikan efek yang visual juga. Dan aktifitas yang efektif membawa perubahan secara visual, adalah ngegym.

 

And I think I’m on the right track here.

http://www.fitnessfirst-letsgetpersonal.com/


Category: Uncategorized

Follower Twitter dan Buku

Kasus

Gue ingin memberikan analisis tentang bagaimana seorang writing talent ditemukan atau menemukan jalur mereka ke dalam industry buku. Di era social media, kita melihat beberapa kejadian berkenaan dengan industry buku.

Kasus pertama. Seorang pemilik akun twitter sejalan dengan waktu, menjadi seseorang yang dengan influence kuat. Bisa dibilang menjadi influencer (gue menolak untuk memakai istilah selebtwit karena ada kesan negatif). Dia menjadi influencer karena 1 dari 2 hal ini atau keduanya

  1. Konten twit dia lucu dan cerdas. beresonansi dengan banyak orang, terlepas banyak atau sedikitnya follower dia.
  2. Konten twit dia yang lucu dan cerdas membuat dia memiliki banyak follower.

Setelah satu atau kedua hal ini terjadi, dia menerbitkan buku. Entah apakah mereka yang pergi ke penerbit atau mereka yang diincar penerbit, ditawarkan untuk menulis buku.

Kasus kedua. Seorang penulis yang tidak aktif di dunia twitter, menulis sebuah buku. Memberikannya pada sebuah penerbit. Penerbit tersebut menolaknya dan bilang bahwa syarat menerbitkan buku adalah dia harus punya banyak follower.

 

Dari sini muncul beberapa pertanyaan.

Apakah jumlah follower penting bagi seorang penulis?

Apakah penulis harus lantas memiliki akun twitter?

Kenapa jumlah follow menjadi penting bagi beberapa penerbit? Sedangkan bagi penerbit lain, tidak?

Platform 3 Zaman

Tanpa bermaksud nyombong,  tapi sekedar fakta aja, gue sudah menulis lebih lama dari kebanyakan penulis muda yang beredar sekarang. Izinkan gue untuk berbagi sudut pandang gue. Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus runut balik dulu ke 20 tahun yang lalu saat era social media belum ada, dan ke era gue di 2000an saat era socmed masih sangat pagi. Gue akan cerita tentang bagaimana perjalanan 3 penulis dari 3 angkatan ya.

Era 80-90an. Seorang penulis, sebutlah A, menulis sebuah novel. Oleh penerbit, novelnya ditolak. Dia tidak menyerah dan ditolak lagi. In total, dia ditolak 9 kali oleh penerbit yang sama. Di saat yang sama, dia menghunus ilmu menulisnya dengan cara memasukkan cerpen ke majalah cetak. Sukses.

Apa yang terjadi di sini? Di era 80-90an, penerbit tidak yakin bagaimana selera pasar akan menanggapi novelnya. Makanya dia ditolak berkali-kali. Tapi kemudian cerpennya terbit. Penerbit tersebut mikir. Ini si A, cerpennya aja lolos kok masuk majalah atau Koran yang terhormat, pasti kualitasnya bagus. Apakah penjualan oplah majalah 100% akibat cerpen dia dimuat? Tentu tidak. Penerbit melihat langsung bagaimana cerpennya diterima di masyarakat. Barulah penerbit percaya akan keahlian si A menulis dan menerbitkan novelnya.  Apakah ini terjadi hanya pada si A? Tidak. Ada puluhan penulis seperti ini. Malah, bagi kebanyakan penulis senior kita dari era 80-90an, cerpen di koran dan majalah adalah platform latihan mereka menghunus ilmu menulis mereka. Menghunus rasa percaya diri mereka. Tiga pembelajaran:

1.       Majalah atau Koran adalah platform menulis.
2.       Cerpen jadi alat melatih menulis.
3.       Konten dari cerpennya bagus.
4.       Dari sekian banyak yang baca (yang jumlahnya kita gak tau), beberapa dari mereka memberikan feedback positif.
5.       Jumlah pembaca tidak dapat ditentukan.

 

Era 2000-an. Sebutlah seorang penulis ganteng, muda, sakti mandraguna, rupawan melegenda bernama Adhitya Mulya. Dia tidak pernah menulis cerpen. Tidak pernah menang lomba tulis. Tidak pernah menulis novel sebelumnya. Suatu hari, dia menemukan sebuah platform socmed bernama, blog. Lucu juga nih. Di blog itu si Adhitya Mulya yang gantengnya selangit ini mulai nulis-nulis cerita lucu. Ternyata, komen yang masuk cukup positif. Sayangnya gue itu sama dengan kebanyakan blogger yaitu rada gaptek. Gak punya tools yang bisa mengukur traffic yang masuk ke blog.  Jadinya sama dengan nasib cerpen. Berapa jumlah yang baca blog gue, gue gak tau. Tapi dari yang meninggalkan komen, mereka meningalkan respon yang cukup positif. Cukup positif untuk membuat gue menghunus ilmu menulis gue jadi lebih baik lagi. Komen positif yang ada, cukup untuk membuat gue merasa percaya diri bahwa, OK, sepertinya gue bisa nih, nulis cerita lucu. Dari blog lah gue jadi PD nulis dan menerbitkan buku.

Apa yang terjadi di sini? Di era 2000-an, cerpen di majalah dan Koran tidak lagi menjadi platform penulis untuk latihan. Blog lah yang menjadi platform penulis angkatan gue, untuk latihan nulis dan bangun percaya diri. Apakah ini hanya terjadi pada gue? Tidak. Raditya Dika adalah blogger yang memiliki pembaca ratusan ribu orang sebelum dia merilis buku. Muhammad Ihsan @ichanx adalah seorang blogger of the year di tahun 2000an sebelum dia merilis buku. Isman @ismanhs punya blog yang sangat terkenal sebelum dia merilis buku. Valiant Budi @vabyo memiliki blog yang sangat-sangat lucu dan dinikmati banyak orang sebelum dia merilis buku. @okkesepatumerah adalah blogger senior yang sangat terkenal dan dibaca banyak orang, sebelum dia merilis buku.

1.       Blog adalah platform menulis.
2.       Posting jadi alat melatih menulis.
3.       Konten dari blognya bagus.
4.       Dari sekian banyak yang baca (yang jumlahnya kita gak tau), beberapa dari mereka memberikan feedback positif.
5.       Jumlah traffic/pembaca seringnya tidak dapat ditentukan.  Beberapa pasang traffic meter, beberapa tidak.

Coba scroll back ke atas. Hampir sama kan?

Ill tell you a secret. Gue tahu setidaknya 2 penerbit besar yang di tahun 2000an, menghire staf hanya untk melakukan 1 hal: yaitu, duduk depan computer, browsing blog seharian. Mereka baca konten blog, dan memeriksa reaksi pembaca. Blog yang konten dan reaksi pembaca bagus, mereka kontak untuk ajak menulis buku. Yang jelas, penerbit tidak selalu dapat melihat jumlah traffic yang masuk untuk sebuah blog. Jadi penerbit juga tidak pernah mengunakan jumlah traffic sebagai syarat. Jika tahu, itu hanya sebuah informasi tambahan yang berguna bagi penerbit.

 

Era 2010-an. Ada seorang twitter user yang sangat-sangat lucu. Everyone enjoys his twits dan his company. Orangnya baik dan ramah. Katakanlah dia B. Twitter adalah micro blogging. Konten twitnya lucu-lucu dan karenanya, banyak yang suka. Dan banyak yang follow. Sama kan dengan  blogging?

Baik disadari oleh si B atau tidak, diniatkan oleh si B atau tidak, dia memakai platform twitter untuk belajar menulis, sebagaimana gue memakai platform blog untuk belajar menulis, sebagaimana si A 20 tahun yang lalu memakai majalah untuk belajar menulis. Sama kan?

 

Reaksi pembaca majalah terhadap cerpen X adalah cerminan selera pasar,

Sebagaimana reaksi dan komen positif reader gue di blog gue adalah cerminan selera pasar,

Sebagaimana reaksi follower twitter si A di twitter adalah cerminan selera pasar.

 

Jumlah pembeli majalah setiap kali X nulis cerpen tidak dapat ditentukan.

Sebagaimana jumlah traffic di blog gue tidak dapat diketahui.

Bedanya dengan twitter, followernya dapat diketahui. Ini yang menjadi pembeda.

Recap:

1.       Twitter adalah platform menulis.
2.       Twits jadi alat melatih menulis.
3.       Konten dari twitnya bagus.
4.       Dari sekian banyak yang baca, beberapa dari mereka memberikan feedback positif.
5.       Nah ini bedanyaè Jumlah follower dapat dilihat.

Good Content is Mandatory – Follower is Supplementary

Analisis gue memperlihatkan dengan jelas bahwa proses yang 3 penulis alami ini sama. Hanya berbeda platform saja. Bedanya, orang yang mgeasah bakat menulisnya lewta twitter, diuntungkan oleh betapa mudahnya orang mengakses twitter. Jauh lebih mudah dibanding tahun 2000, ketika orang berniat pergi ke warnet untuk baca blog gue. Dan itu pun masih lebih mudah ketimbang jaman bokap gue beli koran untuk baca cerpennya Arswendo.

Analisis gue memperlihatkan dengan jelas bahwa untuk jaman sekarang, penulis yang bagus, memiliki 1 hal yang pasti ada (mandatory) ya itu content. Dan 1 hal yang mungkin ada (supplementary) ya itu follower.

Penulis yang bener-bener disukai pembacanya pasti disukai karena konten twitnya bagus. Sebagaimana jaman gue dulu, konten blognya bagus. Sebagaimana jaman dulu konten cerpen bagus.

Keyword: konten yang bagus, terlepas dari apa platformnya dan berapa yang beli/baca/followernya berapa.

Followers are only supplementary

Penulis yang bener-bener disukai pembacanya terkadang punya follower banyak atau follower sedikit. Ada penulis yang konten twitnya lucu cerdas. Followernya pun banyak. Setelah rilis buku, konten bukunya cerdas. Contohnya adalah teman gue @newsplatter (Henry Manampiring). His writing skill is superb.

Ada banyak penulis yang konten twitnya lucu tapi followernya sedikit. Contoh, Teman gue @ichanx dan @mbot adalah salah dua penulis super lucu. Konten twit dan buku mereka lucu-lucu tapi follower mereka tidak sampai 30ribu. Kenapa? Ada banyak alasan. Mungkin kita sibuk, jadinya kita gak bisa engage follower kita dengan baik.

Ada beberapa orang yang menerbitkan buku karena followernya banyak tapi sebenernya dia gak bagus.

Analisis ini memperlihatkan kepada penerbit bahwa followers bukan parameter yang valid untuk lantas menghasilkan buku yang bagus. 20 tahun yang lalu, data dari jumlah pembeli majalah ketika si A nulis cerpen tidak ada kok. Itu tidak jadi criteria. 10 tahun yang lalu, penerbit juga tidak selalu dapat melihat traffic ke sebuah blog. itu tidak jadi criteria. Yang aneh, sekarang jumlah follower menjadi criteria beberapa penerbit. Sampai ada penulis yang bukunya ditolak karena jumlah twitter followernya sedikit. Satu-satu alasan yang dapat terdeduksi adalah anggapan bahwa banyak follower = banyak penjualan buku. Yang mana artinya orang yang menulis itu menjadi korban.

 

Adalah konten twit yang menjadi parameter valid untuk konten buku. Sebagaimana dulu konten blog dan konten cerpen.

 

Hal Terakhir Yang Bernama Kemudahan

Tapi memang ya, dari semua penjelasan di atas, ada 1 hal lagi yang membedakan penulis yang lahir dari twitter dengan angkatan sebelum mereka. Mudah.

Tahun 80-90an: Ketika pujangga-pujangga Indonesia tahun 80-90 dulu menulis cerpen untuk koran, itu butuh niat. Mereka berniat menulis. Pakai mesin tik malah, ribed. Mereka berniat mengasah skill mereka.  Setelah terbit, dapat pengakuan, baru lah penerbit berdatangan.

Tahun 2000-an: Ketika blogger-blogger membuat blog, kami niat. Niat keluar duit di warnet, niat utak-atik html, niat nulis. Kami berniat mengasah skill menulis kami. Setelah posting, dapat respon, baru lah penerbit browsing.

Tahun 2010: orang demen ngetwit yang lucu-lucu, belum tentu sadar bahwa dia itu sedang mengasah skill menulisnya. Ada yang niat, tapi ada juga yang tidak. Tau-tau penerbit datang dan dia menerbitkan buku. Terkesan mudah. Padahal belum tentu lho. Pandangan gue akan hal ini adalah: ya udah lah, namanya juga beda jaman, memangnya kenapa? Hanya karena tidak terlihat sulit, bukan berarti tidak ada usaha kan. Apakah kita bisa menuntut semua orang untuk pakai mesin tik di jaman sekarang? Gak juga kan ya?

Penutup

Jika seseorang twitnya lucu dan punya banyak follower, apakah dia salah nerbitin buku? Tidak. Itu benar. Itu tidak salah. Again, yang penting itu kontennya.

Penerbit yang baik tidak akan membuat mengharuskan seorang penulis memiliki twitter follower yang banyak. Jika iya, maka itu artinya (1) mereka malas memasarkan buku elo. Mereka hanya bergantung pada follower elo untuk beli buku yang mereka cetak. Konten saja cukup. Sebagaimana dulu penerbit melihat konten blog. Sebagaimana penerbit dulu liat konten cerpen. (2) mereka gak tau selera pasar saat ini seperti apa. Apalagi selera pasar masa depan. Mereka menunggu seseorang punya follower banyak dulu baru percaya. Implikasinya gini. Misalnya gue demen twitpic yang porno. Follower gue nambah dari 3000 jadi 40 ribu. Dengan logika jumlah follower = pasti penulis bagus, penerbit yang akalnya kurang sehat, akan mikir “Nah itu dia selera pasar. Yang porno-porno.”

 

Penerbit yang mengharuskan penulis punya follower banyak adalah penerbit yang tidak bijak.

 

Itu aja sih. Semoga ini meluruskan persepsi tentang arti jumlah follower terhadap industry buku. Semoga tidak ada lagi sinisme terhadap  penulis yang lahir dari twitter. Tidak salah kok. Itu hanya beda platform. Semoga postingan ini berguna untuk penulis dan penerbit juga.

Rgds/ Adhitya


Category: Uncategorized

Disiplin

Awal

Jadi sebulan yang lalu gue kan mulai ngegym nih ya. Pertama-tama gue buka www.fitnessfirst-letsgetpersonal.com. Later gue menemukan bahwa cara pendaftaran di site ini lumayan OK. Dalam konteks, the function of teh website meets my purpose. Jadi pertama-tama gue daftar, kemudian gue tentukan pilihan training gue. Kalo ga salah pilihan trainingnya ada

  1. Muscle toning
  2. Muscle building
  3. Tambal ban

Ya gue pilih muscle toning aja karena gue takut kalo terlalu berotot, cewek-cewek makin tergila-gila sama gue. Sampe ada yang bunuh diri kan gawat gitu ya untuk gue.

Anyway… Setelah memilih muscle toning keluarlah pilihan trainer. Ada 3 trainer yang qualified untuk muscle toning. Dan gue memilih 1, yang namanya Anton. Beberapa hari kemudian, dia nelefon gue untuk melakukan assessment.

Kita ketemu dan badan gue di assess.

Lantas dia memberikan solusi yang dia lihat terbaik untuk mencapai muscle tone yang gue inginkan. Dan kemudian memberikan rezim latihan yang dia lihat terbaik untuk mencapai tujuan ini dalam 15 sesi. Dan dimulailah latihan-latihan bersama dia.

 

Disiplin

Enaknya memakai jasa PT adalah gue jadi disiplin. Ada dua keuntungan buat gue. Pertama gue gak tau bagaimana cara mencapai tujuan gue. Gue gak punya ilmu untuk itu. Yang tau adalah Anton, PT gue. Gue percaya sama dia dan percaya akan kualifikasi dia. Dan dia yang tahu frekuensi atau interval terbaik untuk latihan ini. Dia juga yang tahu seberapa intens gue harus menjalankan program gue. Akhirnya ya gue jadi disiplin dan terarah. Kalo mau efektif, latihannya harus 2 kali seminggu. Gak boleh bolos. Harus isi perut sebelum latihan. That kind of stuff. Gue udah beberapa kali ngegym dan memakai PT juga. Kelemahan gue di masa lalu adalah gue gak disiplin. Ini membuat gue gak konsisten. Ini membuat gue gak berhasil mencapai apa yang gue inginkan (baca: jadi mirip Vin Diesel gitu).

Sebenernya ngegym untuk punya badan bagus itu gak beda kok dengan belajar untuk masuk ITB. Atau kerja untuk mendapat promosi. Jika kita tidak terlalu menginginkannya, kita tidak akan mendapatkannya. Kita berhasil masuk ITB, kita berhasil naik pangkat, karena kita benar-benar menginginkannya. Karenanya kita jadi disiplin, konsisten, etc etc. Kali ini gue bener-bener ingin punya badan bagus. Dengan sendirinya sebenernya gue jadi disiplin. Tapi harus gue akui, punya PT membuat gue jadi lebih terarah dan membuat gue punya pengingat untuk selalu disiplin.

Yah semoga 3 bulan dari sekarang badan gue akan lebih OK. Syaratnya, disiplin.

 


Category: Uncategorized

Capres 2014

Capres 2014

OK, sori gue akan ngomong politik lagi. Can’t help it. Sebenarnya terinspirasi dari postingan Dian paramita di www.dianparamita.com. Pertama-tama harus gue garisbawahkan bahwa gue gak dibayar siapa-siapa untuk menulis ini. Gue hanya sekedar memetakan apa yang akan terjadi ke depan. Itu saja. Ada 2 hal tentang Capres 2014.

Pertama: Kriteria yang paling pas untuk menjadi pemimpin. Atau dengan kata lain, atribut internal mereka.

Kedua: Atribut eksternal yang dimiliki seorang capres. Terlepas dari apakah dia kompeten atau tidak, pantas atau tidak, jahat atau tidak, jika dia memiliki atribut eksternal inidia memiliki kans lebih baik menjadi presiden.

 

Kita bahas dulu yang pertama ya.

Atribut Internal yang perlu dimiliki:

  1. Pencapaian dirinya sudah luar biasa.
  2. Sudah kaya dan puas dengan dirinya.
  3. Sudah Lama berguna bagi Orang lain
  4. Kepemimpinan yang terbukti di saat yang sulit.
  5. Decisiveness.
  6. Kecerdikan.
  7. Integritas.
  8. Ahli Komunikasi

Pencapaian dirinya sudah luar biasa & Sudah kaya dan puas dengan dirinya.

Ini gue setuju dengan Dian Paramita. Orang-orang yang ambisius selalu berusaha membuat dirinya mencapai sesuatu di umur tertentu. Baik dengan modal kecerdasan, kecerdikan atau apa pun. Jadi rakyat tahu bahwa ketika dia menjadi presiden, dia pun bukan orang sembarangan. Contohnya, Ridwan Kamil. Dia adalah seorang arsitek terkenal sebelum menjadi walikota. Apakah dia perlu menjadi walikota? Nggak. Hidupnya sudah luar biasa sukses saat dia belum jadi walkot bandung.

Jokowi dan Ahok jadi pasangan Gubernur Jakarta karena butuh duit? Nggak. Jokowi adalah eksportir yang kaya raya bahkan dari sebelum dia menjabat walikota sekali pun. Ahok sudah sangat kaya dari usahanya sebelum masuk ke dalam politik.

Jadi ketika ketiga sosok ini masuk politik, mereka tidak perlu berhutang pada partai politik. Malah partai politik yang beruntung mendapatkan mereka. Ketika ketiga orang ini masuk politik, mereka tidak dapat disogok. Mereka sudah punya uang.

Mari kita lihat beberapa capres yang memenuhi kriteria ini. Jokowi, Anies Baswedan, Dahlan iskan, Jusuf kalla, Gita Wirjawan, Surya Paloh, Hari Tanoe, Prabowo, Mega. Semuanya kaya. Beberapa kaya karena usaha sendiri. Beberapa kaya mungkin dari limpahan yang ga jelas. Tapi yang jelas, semuanya kaya.

 

Sudah lama berguna bagi orang lain.

Ada beberapa golongan manusia di dunia ini.

Mereka yang merugikan diri sendiri, keluarga dan orang banyak (koruptor)

Mereka yang merugikan diri sendiri dan keluarga (mungkin contohnya drug addict, orang yang utang CCnya menggunung).

Mereka yang merugikan diri sendiri (orang yang menyiayiakan waktu).

Mereka yang berguna bagi diri sendiri (sebagian besar dari kita ada di sini)

Mereka yang berguna bagi diri sendiri dan keluarganya (sebagian kecil dari kita ada di sini)

Mereka yang berguna bagi diri sendiri, keluarga dan orang banyak.

Orang yang pantas menjadi capres adalah orang-orang sudah masuk ke dalam golongan ke 6 dari bahkan sebelum mereka masuk politik.

Dari mata gue, capres yang memenuhi kriteria ini hanya. Jokowi, Anies B dan Jusuf kalla. Mereka sudah jelas sekali berguna bagi orang banyak dari dulu.

Dahlan iskan dan Gita Wirjawan gue lihat masih harus membuktikan diri mereka untuk menjadi orang yang lebih berguna lagi dalam jabatan menteri mereka.

Surya Paloh, Hari Tanoe sama sekali tidak dan belum terasa.  Ketika Surya Paloh kampanye nasdem dan bilang “bangsa ini dalam keterpurukan” gue sebenarnya bertanya dalam hati, “Lha elo ngapain aja selama ini?”

Mega sangat parah karena dia adalah mantan presiden. Dan ketika dia menjadi presiden, tidak ada perbaikan apa-apa. Baiklah mungkin 2 tahun tidak cukup baginya. Tapi itu tidak menghapuskan fakta bahwa di kala dia memimpin, tidak terlihat perbaikan di jamannya dan bahkan 1-2 tahun setelagh dia selesai menjabat. Kebijakan memang membutuhkan waktu untuk memberi manfaat. Gue gak inget 2004-2005 sebagai waktu yang baik untuk gue.

Prabowo memiliki image yang lebih buruk dari semua capres yang ada. Ddalam persepsi masyarakat, dia tercatat melakukan pelanggaran HAM. Masalahnya, banyak sekali pemilik suara yang merasakan kelamnya 98. Ini dapat menghambat lajunya.

 

Kepemimpinan yang terbukti di saat yang sulit.

Atribut ini sangat penting. Capres yang memiliki sifat ini akan berani menetapkan kebijakan yang terbaik untuk rakyat, meski belum tentu rakyat suka. Intinya, berani untuk tidak populer.

Dari semua capres yang ada, yang sudah terbukti dapat melakukan ini adalah: Jokowi, Jusuf Kalla, Anies B dan Gita Wirjawan. Gita gue singgung terkait kebijakan dia akan serangakaian impor yang meski dihujat orang banyak, sebenarnya dibutuhkan orang oleh banyak. Prabowo gue singgung di sini karena gue punya keyakinan dia akan berani melakukan manuver yang tidak populis jika dia tahu kebijakannya demi hajat hidup orang banyak. Apakah Anies adalah pemimpin di saat yang sulit?

Yang jelas, dia adalah pemimpin. Tapi apakah dia terbukti memimpin di saat yang sulit? Kita harus fair menilai itu belum terbukti, sebenarnya. Lihat program gurunya. Itu sangat mulia. Tapi program itu berjalan di mana sedikit manusia jahat berusaha menggagalkannya. Akan sangat menarik untuk melihat jika program itu akan merugikan 300 politisi. Gue pribadi sangat ingin Anies Baswedan menjadi presiden kita. Tapi gue sendiri harus adil berkata bahwa aspek ini sangat ada tapi belum teruji.

Surya Paloh, gue tidak yakin. Karena kampanye dia sering dimulai dengan menggambarkan “betapa terpuruknya bangsa ini”. Dia sering memulai pidato dengan memberikan apa yang orang ingin dengar. Meng-amplifikasi negatifitas. Ini ciri orang populis.

Dahlan, Hary tanoe, belum terbukti apa-apa.

Mega sangat tidak berani. Buktinya dia tidak berani menaikkan harga bensin. Dia pernah diquote media “biar saja presiden berikutnya yang melakukannya.” Perkataan ini seperti yang mengunci dirinya dari luar kamar kerja presiden selamanya.

 

Decisiveness.

Kita butuh orang yang cepat mengambil keputusan. Bukan yang galau, curhat dan luncurin album di saat ada banyak sekali prioritas di negara ini yang harus menjadi fokus. Bukan yang diam saja saat ada gereja dibakar tapi saat keluarganya difitnah langsung konferensi pers. Middle class kita growing. Dengan itu, kecerdasaan dan kedewasaan kita juga growing. Kita tidak akan memilih pemimpin seperti itu lagi.

Hanya ada 4 orang capres yang memiliki atribut ini. Jokowi, Jusuf Kalla sudah terbukti. Prabowo, gue punya keyakinan besar bahwa dia mampu menjadi decisive. Terakhir adalah Anies Baswedan.

 

Kecerdikan.

Gue lebih memilih atribut cerdik daripada cerdas. Orang yang pintar tapi tidak cerdik hanya akan kerja dan menabung. Orang yang cerdik akan membuka usaha, melihat peluang, memberi kerja pada si pintar dan memajukan usahanya. Orang yang hanya pintar, hanya akan mampu keluar dengan konsep negara yang hebat itu seperti apa. Bisa koar-koar dan kritik kiri-kanan. Tapi belum tentu bisa menggiring konsep itu menjadi kenyataan. Eksekusi di lapangannya. Kecerdikan yang dibutuhkan untuk merealisasikan pembangunan. Lee Kwan Yew adalah pemimpin yang cerdik. Kepada anak buahnya dia tidak hanya meminta ide yang brilyan. Dia bilang. “Guys, great ideas are great. But I need great ideas that work.” Kalo ide si orang pintar itu hebat tapi gak mungkin dieksekusi, sia-sia aja kan. Mending punya ide yang cukup baik tapi dapat dieksekusi untuk memperbaiki hajat hidup orang banyak.

Dari semua capres, yang gue liat cerdik ini hanya Jokowi, Jusuf Kalla dan Anies Baswedan.

Prabowo malah terlihat terlalu saklek.

Gita, Dahlan, Surya Paloh, Harry Tanoe dan Mega, tidak pernah terlihat cerdik pun belum terbukti memiliki potensi cerdik.

 

Integritas.

Ini tidak dapat ditawar ya. Atribut ini gue lihat bersinar di dalam: Prabowo, mega, Jokowi, Gita, Dahlan, Jusuf Kalla, Anies B.

Surya Paloh dan Harry Tanoe? Belum terlihat dan belum terbukti.

 

Ahli Komunikasi

Gue pribadi senang dengan pemimpin yang komunikatif. Gue tahu bahwa indonesia gak akan maju dalam 5 tahun. Lihat Obama. Orang US tahu betapa pentingnya komunikasi. Setiap ada isu nasional, Obama langsung presscon. Ada penembakan massal, dia langsung presscon. Di sini? Banyak sekali isu penting yang didiamkan. Ketika seorang pemimpin diam saja, rakyat akan bertanya apakah dia tidak peduli? Lebih parah lagi, yang bicara hanya jubir. Giliran personal, langsung presscon. Porang jadi bertanya, ya ampun, segitu banyaknya isu genting dan dia presscon untuk itu aja?

Lebih parah lagi adalah ketika seorang pemimpin bekerja keras, tapi dia tidak mengemas hasil kerja kerasnya ini pada rakyat, Yang terjadi adalah keduanya frustrasi. Rakyat merasa presiden tidak melakukan apa-apa. Presiden merasa frustrasi tidak dihargai. dan situasi ini lah yang presiden kita hadapi. Kasian juga sama dia, sebenarnya.

Kalo gue jadi presiden, ini yang gue akan lakukan. Misalnya 3 prioritas. Infrastruktur, pendidikan, pangan, Setiap 2 minggu sekali gue akan mengharuskan semua stasiun TV dan radio untuk menyiarkan broadcast perkembangan dari 3 prioritas ini selama 30 menit aja. Gak banyak. Jika gue tidak dapat mengharuskan stasiun TV menyiarkannya, asli gue BAYAR semua untuk menyiarkan. Dalam 30 menit itu gue akan paparkan progressnya

“Gini ya guys, untuk pendidikan minggu ini, sedang kita rekrut 3000 guru baru khusus untuk perbatasan. Gajinya 7x gaji biasa. Yang berminat, sila ikuti lelang lowongan di mendikbud.

Untuk infrastuktur, sebagaimana kita tahu kita lagi bikin jalan lintas cirebon. Tapi ada kendala di DPR. Mereka tidak setuju budgetnya. Mohon doa restu rakyat agar DPR segera menyetujuinya. Kalo ada yang tau rumahnya mungkin bisa dikunjungi gitu.

Untuk pangan, riset kami dari tim LIPI baru saja membuktikan bahwa jika kita konversi semua lahan jadi sawah, perkebunan kopi kita menyusut. Dan kebon kopi ini adalah ekspor kita yang devisanya kita butuhkan untuk bayar rumah sakit kita. Kita masih cari jalan keluarnya. Insya Allah apa pun caranya, tujuan kita adalah semua orang bisa beli beras murah.”

Kalo gue udah ngomong gini, rakyat akan tau bahwa “eh presiden gue kerja lho. Eh ternyata dia lagi disusahin orang lho. Sialan gue butuh jalan itu! Mana sini orang nyusahin dia, gue datengin rumahnya sekalian.”

 

Capres yang sudah terbukti ahli komunikasi adalah hanya Jusuf Kalla. Dia sangat dekat dengan wartawan. Ingatkan tahun 2004-2009, Indonesia terasa sekali pesat? Kita melihat dan membacas bahwa pemerintahan kita kerja. Itu karena Jusuf Kalla sering memberi kita update.

Ingat kan betappa kita nyaman di jaman Soeharto? Itu karena komunikasi berjalan. Karena Harmoko rutin memberikan penerangan. Bahkan sampai cabe kriting sekali pun.

Yang berpotensi sebagai ahli komunikasi yang baik adalah Anies Baswedan dan Gita wirjawan. Tapi itu baru potensi. Yang jelas, terlihat jelas bahwa mereka tahu komunikasi adalah penting.

 

Atribut Internal yang Tidak perlu dimiliki

Visi

Percaya atau tidak, gue orang yang termasuk percaya bahwa visi bangsa ini tidak perlu keluar dari otak presiden. Itu dibutuhkan kecerdasan. Dan kecerdikan lebih penting. Gak percaya? Lihat bagaimana Jokowi dan Ahok memimpin Jakarta.

Yang mereka lakukan adalah performance management. Jokowi ada di lapangan nongkrong, memastikan bawahannya menjalankan tugas yang sudah jelas ada aturannya. Ahok nongkrong di kantor memastikan semua program yang sudah ada berjalan dan gak dikorup. Kelemahan dari jakarta adalah visinya sudah bagus dirancang oleh orang-orang pintar. Tapi gak ada yang jalan karena semua dikorup dan malas. Jadi, Jokowi dan Ahok gak perlu repot-repot mikirin visi. Visinya udah ada. Mereka punya nyali dan kecerdikan untuk memastikan semua berjalan sesuai rancangan.

Bayangkan jika semua presiden punya visi. Setiap 5 tahun, ganti visi. Setiap 5 tahun, kita mulai lagi dari nol membangun visi itu. Setelah 5 tahun, ganti. Gak akan pernah maju. Visi bagaimana Indonesia maju itu sudah ada. Di sebagian departemen, rancangan menuju sana juga sudah ada. Tinggal apakah sang presiden punya nyali untuk menekan DPR untuk menyetujui eksekusinya.

Gak perlu orang pintar untuk sadar bahwa ketahanan pangan itu penting. Itu visi kita. Bukan swasembada pangan ya, tapi ketahanan pangan. Pemimpin yang pintar akan berusaha sekuat tenaga berpikir bagaimana kita tahan pangan dengan menanam 9 sembako di tanah air kita yang rasio tanah/laut = 0.3 ini. Pemimpin yang cerdik akan membuat semua orang pintar duduk dan bertanya, “Guys, tolong hitungkan untuk saya, agar beras menjadi murah untuk rakyat, apa yang harus kita lakukan? Apakah tutup tambang perak dan jadikan tempat itu sawah? Atau bangun industri ekspor perak, agar kita bisa ekspor mahal dan punya uang untuk impor beras murah?”

“Guys, agar garam menjadi murah, apakah kita harus membangun industri garam di pesisir pantai, atau kita impor danau purba di australia yang isinya garam semua? Lebih murah mana ya untuk rakyat?”

Pemimpin yang cerdik akan memutuskan apa yang terbaik untuk bangsanya. Dengan nyali, dia akan eksekusi ide itu, meski mungkin dihujat. Agar visi bangsa menjadi nyata.

Bukannya visi gak penting. Tapi gue yakin Indonesia sudah penuh dengan orang pintar. Indonesia itu kurang pemimpin yang berani, decisive, dan cerdik dalam membuat visi bangsa menjadi nyata. Itu aja. Great ideas are great. But they need to be executable. And we need the guts to execute it.

 

Atribut Eksternal yang akan memberi capres kans lebih baik

Media

Orang yang mampu mengambil hati media akan mampu diekspos positifnya. Citranya jadi baik. Kansnya lebih besar.

Lebih jauh lagi, orang yang memiliki media, akan mampu menambah pemberitaan positif akan dirinya dan menambah pemberitaan negatif akan lawannya.

 

Uang

Gue masih melihat, sayangnya, mereka yang memiliki paling banyak uang, akan memiliki kans lebih banyak untuk menang.

Dan, orang yang sangat kaya akan mampu membeli banyak slot di media untuk menambah pemberitaan positif akan dirinya.

 

Dari semua atribut ini, yang paling pantas menjadi presiden

pertama Jokowi,

kedua Jusuf Kalla,

ketiga ditempati bersama oleh Anies Baswedan, Prabowo, dan Gita Wirjawan.

Sisanya mending gak usah repot-repot jadi capres deh.

Gitu aja analisis gue.

Personally, gue akan sangat bersyukur jika salah satu dari Jokowi, Jusuf Kalla, atau Anies Baswedan menjadi presiden.


Category: politics

10 Tahun Jomblo – 10 Tahun Menulis

10 Tahun Novel

12 November kemarin, tepat 10 tahun novel Jomblo gue lihat terpajang di etalase toko buku. Senang sekali. Setelah 1 tahun latihan menulis di blog, akhirnya bikin buku dan jadilah novel itu.

Novel yang direject di mana-mana.

Novel yang akhirnya diterima sama penerbit yang juga baru berdiri.

Novel yang jadi national best seller.

Novel yang jadi film.

Novel yang memberikan banyak pelajaran.

Terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan banyak pelajaran untuk gue dalam menjadi penulis. Pelajaran yang berupa kesusahan,  karena dari kesusahan itu, gue percaya gue menjadi penulis yang lebih matang. Pelajaran berupa kesempatan, karena kemudahan itu mungkin tidak didapat banyak orang. Pelajaran yang berupa trust dan partnership dengan gagas media. Terima kasih untuk semua itu.

 

10 Tahun Bercerita

Sepuluh tahun novel jomblo juga artinya 10 tahun gue berkecimpung menjadi seorang pencerita. Gue tidak berbeda dari orang lain. Gue ingin untuk selalu dapat menjadi lebih baik dari diri gue kemarin. Kemungkinan besar, gue akan memperluas medium bercerita gue, di luar format buku. Gue tidak akan berhenti bercerita. Hanya mungkin medium bercerita gue akan berbeda.

 

Bingkisan di tahun ke 10

Tulisan gue tumbuh dewasa sejalan dengan gue tumbuh dewasa. Di akhir tahun 2013 ini, di tahun ke 10 gue bercerita, gue punya beberapa bingkisan untuk pembaca.

  1. Jomblo dicetak ulang.
  2. GMC dicetak ulang. Nantikan keduanya di bulan Desember 2013.
  3. Buku ke-6 gue akan hadir. Jika tidak di akhir tahun ini, mungkin awal tahun depan.

 

Terima kasih kepada teman-teman yang sudah mencari, membeli, membaca dan menunggu karya-karya gue. Semoga gue dapat terus bercerita dan menghibur kalian.

 

Rgds/ Adhitya, your humble writer.


Category: books

Menarik Untuk Istri – Ngegym di FF

Motivasi

Jadi ya, wiken kemarin gue akhirnya ikutan program fitness (lagi). Kali ini gue memilih Fitness First. Sebelum gue bercerita betapa gue megap-megap meregang nyawa di sesi perkenalan kemarin, ada baiknya gue ceritain sejarah gue dulu.

Sebelum milih ngegym di fitness first, gue ngegym di tempat lain. Sebelumnya lagi, gue sekitar 1 tahunan lari. Dan larinya gak main-main. Gue udah sampai, dan masih kuat untuk lari half marathon. Nah mungkin sampai di sini udah ada yang bertanya dalam hati,

“Dit, kegantengan elo dan keperkasaan elo kan sudah membahana, ngapain repot-repot lari dan ngegym segala?”

Nah, jawabannya adalah motivasi gue sendiri. Monyet dibedakin juga tahu bahwa semakin kita tua, semakin kita lebih gak menarik. Dan gue punya motivasi untuk – selama mungkin – memiliki badan sehat. Untuk – selama mungkin – bisa tampil menarik di depan istri.

Kenapa? Well, because she deserves it.

Gue ngeliatnya, if I deserve a sexy wife, then my wife deserves a sexy husband.

Ada sifat resiprokal di situ yang kebanyakan suami abaikan. Dan ketika suami mengabaikan prinsip ini, mereka tiba di titik di mana mereka menuntut istri sexy, tapi dia sendiri buncit kayak mayat ngambang. Dan tidak jauh dari sana, mencari simpanan dan istri muda. Mengabaikan kenyataan bahwa istri-istri berhak atas suami yang sehat dan menarik juga.

 

Perjalanan

Anyways, berbekal motivasi ingin tampil menarik depan istri, gue mulai lari. Kemudian gue mulai ngegym. Masalah dengan lari adalah lari itu terbatas wiken dan gue gak selalu bisa lari saat wiken. Jadilah gue ngegym. Di beberapa gym-gym yang gue coba kunjungi sebelumnya entah kenapa gue gak ngerasa cocok.

 

Sampai lah gue di suatu hari di mana gue diperkenalkan oleh seorang teman pada fitness first. Well gue udah tau fitness first. Siapa sih yang gak tau coba?  semua akan setuju bahwa nama ini well known di industri fitness centre. Masalahnya selama ini gue gak cukup peduli untuk tau kenapa fitness first adalah brand yang diperhitungkan. Jawabannya gue dapatkan saat session perkenalan gue wiken kemarin.

 

FF

Gue itu orangnya kepo. Dan bawel. Dan satu hal yang puaaaaling particular tentang gue adalah ketika gue beli sesuatu, gue ingin barang atau servis yang gue beli, worth the money. Kenapa? Karena gue cari uang susah. Siang kerja, malem nulis. Mata gue sampe kedutan kurang tidur. So kalo sampe uang gue habis dengan servis atau barang yang gak setara, gue males.

Di sesi perkenalan kemarin, gue menemukan beberapa hal menarik. Pertama, dengan keponya gue nanya-nanya semua PT yang ada. Ternyata untuk seorang trainer bisa memimpin sebuah kelas (katakanlah TRX atau Muaythai), mereka harus lulus sertifikasi asosiasi internasional dari bidangnya. Jadi ketika misalnya seorang PT nyuruh gue jalan kayang 2 kilo, yah…dia tau apa yang dia lakukan (dan tentunya gue akan coba tawar jadi 2 meter aja).

Poin pertama ini menjelaskan poin kedua yang gue liat. Bahwa PT-PT yang berinteraksi dengan gue, punya knowledge yang OK. Contohnya, di awal sesi perkenalan, mereka memberikan gue health assessment. Caranya, gue disuruh ditimbang di sebuah timbangan dan dialiri listrik. Dari sana ketauan banyak informasi. Mereka menjelaskan bahwa mungkin setelah lama ngegym, berat kita malah makin naik dan bukan turun. Mereka menjelaskan bahwa satu gumpal otot beratnya = 3 x 1 gumpal lemak. ini sebabnya beberapa orang atlet yang terlihat slim, actually lebih berat timbangannya dari orang gemuk. Karena atlit itu meski slim, isinya pure muscle. Sedangkan orang yang gemuk itu ngembang oleh lemak.

Informasi ini gue nilai sangat bagus dan harus gue akui gue gak dapet dari mana-mana. Entah karena orang-orang sebelumnya gak ngerti fundamentalnya atau orang-orang itu mikir, “Kalo gue kasih tau kenapa, klien gue akan bisa jalan sendiri tanpa gue.” Gue gak tau dan gue gak akan menilai lah. Bukan urusan gue. Yang jelas intinya, di tempat lain gue gak dapet yang gue cari (ilmu), di tempat ini, gue dapet.

Gue ngerti PT itu bukan ahli gizi. Gue ngerti PT itu bukan dokter. PT juga bukan fisioterapis. Tapi gue tetap nyaman bekerja dengan orang yang tau apa yang mereka kerjakan. Karena ketika kita dealing dengan orang yang memang ahlinya maka apa yang kita berikan, setimpal dengan ilmu yang kita dapat.

 

Anyhoo, gue nyoba 3 bulan dulu. Kita lihat aja nanti, apakah istri gue bakalan klepek-klepek ngeliat gue. Karena pada dasarnya bukan di fitness firstnya. Yang penting adalah gue menarik bagi istri. Just that this time, I think I found the right people to help me accomplish that.

 

Untuk info lebih lanjut, atau kalo elo mau ngecengin gue dengan penuh harap (cewek ya, jangan cowok), bisa kunjungi website : www.fitnessfirst-letsgetpersonal.com  dan  fitnessfirst.co.id.

Atau bisa ikutin hestek #FFLetsGetPersonal untuk ingin tau lebih lanjut.

Rgds / suamipalinggantengduniaakhiratsepanjangmasamaumatimauiduptetepajaganteng


Category: Uncategorized

Differentiate or Die

Differentiate or Die – a marketing case study

Sekali-kali gue nulis tentang marketing boleh ya, secara gue 5 tahun kerja di bidang marketing B2B. Anyways, posting ini terinsiprasi dari sebuah buku. bagi gue, buku yang baik adalah buku yang member impact pada hidup gue. Dalam konteks, Informasi yang gue baca berhasil mengubah mindset, atau perilaku gue. Salah satu buku itu adalah Differentiate or Die, oleh Jack Trout & Steve Rivkin. Menurut gue, buku ini penting untuk dibaca oleh mereka yang ingin menjalankan atau membangun bisnis sendiri.

 

Kebutuhan yang Tidak Berubah

Setelah jaman berkembang, kebutuhan manusia sebenarnya gak banyak berubah. Sandang, pangan papa, hiburan, rohani, pendidikan dan sex. Yang terus berkembang hanyalah metode penjualan dari kebutuhan-kebutuhan ini. Contoh paling gampang aja, kalo dulu beli buku harus ke toko buku, sekarang bisa beli online. Tinggal tunggu sampai depan rumah. Atau beli di kindle. Film dulu hanya nonton di bioskop, sampai akhirnya ada rental. Video. Kemudian berubah bentuknya jadi VCD. Kemudian DVD, dan sekarang mengarah ke digital. Sepanjang waktu itu, orang butuh hiburan. Yang berubah, seperti yang gue sudah jelaskan, hanya metode penjualannya. Iya kan?

Sampai titik ini, setuju ya, bahwa kebutuhannya tidak banyak berubah. anyaHanya metode bagaimana kita menjual produknya yang berubah-ubah.

Dalam kasus rental film ini, gue punya cerita. Dulu, waktu gue kecil, semua orang punya video. Deket rumah gue juga ada tuh tukang sewa video. Namanya Abeng. Tiba saatnya pelan-pelan dunia dikenalkan dengan VCD. Tadinya orang-orang gak ngerti VCD. Abeng santai-santai aja. Dia emang gak terlalu tech savvy. Ketika ada 1 orang buka sewa VCD, Abeng gak takut. Tapi malang bagi Abeng, sedikit demi sedikit, jaman mulai modern dan semua orang mulai punya VCD player. Rental VCD di tempat lain jadi ramai dan rental video Abeng jadi sepi. Perpindahan medium hiburan ini membuat Abeng mulai bangkrut. Abeng dengan cepat belajar tentang VCD. Cari penyalurnya etc etc. Abeng dengan cepat mulai rental VCD juga. Dan tidak lama, porsi VCD yang dipajang lebih banyak. Sampai akhirnya video hilang sama sekali. Abeng termasuk rental yang lebih dulu konversi ke VCD. Oleh karenanya, dia mampu menyewakan VCD dengan agak mahal. Selang 1-2 tahun, pengusaha lain kesiangan bangun dan baru buka rental VCD juga. Di titik itu, keuntungan Abeng mulai menurun, but hey, Abeng sudah menikmati 1-2 tahun keuntungan yang besar gara-gara dia adaptfif dan cepat berubah.

Pembelajaran:

  1. Apa yang konsumen minta tidak pernah berubah. Mediumnya sering berubah. Sebagai penguasaha, adalah penting bagi kita untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan medium ini.
  2. Early Birds gets the worm. Pengusaha-pengusaha yang mampu cepat beradaptasi, mendapat posisi awal di market dan dapat mengambil untung lebih banyak, setidaknya sampai ada pengusaha lain yang mampu meng-copy bisnisnya.

 

Barrier of Entry – Commoditised Market

Dalam dunia bisnis, salah satu pilar yang penting dalam business survival adalah barrier of entry dari business itu. Untuk menjelaskan bagaimana barrier of entry memainkan peranan dalam bisnis kita, kita coba lihat kasus lain. Kalian pernah gak pergi ke Bandung lewat Padalarang? Di Padalarang, kalian akan menemukan bahwa di sepanjang jalan Padalarang, kita lihat di kiri dan kanan pada jual tape kan? Kios penjual tape gak ada abis-abisnya. Ya kan? Mari kita analisa kenapa ini dapat terjadi.

 

Tesebut lah Kang Asep. Suatu hari kang Asep punya ide, “ah gue jual tape ah!” Dengan mudah, Kang Asep ambil singkong id halaman belakangnya dan dia buka kios pinggir jalan. Ternyata, banyak pengguna jalan yang laper dan beli tape dari kang Asep.

Tetangga-tetangga kang Asep pada mikir, “gila si Asep. Hebat ya, untung besar dia jualan tape.”

Kemudian, Kang Asep besar kepala dan mulai cerita-cerita bagaimana dia menajalnkan bisnis jualan tapenya dengan sukses. Dengan tekun, Ceu Kokom, tetangga kang Asep mendengarkan. Setelah mendengarkan Kang Asep, Ceu Kokom tiba-tiba kepikiran.

“Eh, bentar dulu. Sebenernya susah gak sih jualan tape tuh? Singkong? Gue ada. Kios? Gue bisa bikin. Lahan jualan? Epan rumah aja bisa. DAMN! GUE BISA JUALAN TAPE JUGA!!” Nah, segera lah Ceu Kokom melakukan hal yang sama. Ambil singkong, buka kios, dan jualan.

 

Tidak lama kemudian, semua orang belajar bahwa barrier of entry untuk mendulang rejeki dari jualan tape itu tidak tinggi. Apa yang terjadi? Akhirnya tape hanya menjadi commodity saja. Tape jualan kang Asep dan Ceu Kokom tidak ada bedanya dengan 100 penjual tape lain. Pengunjung bisa parker di mana saja dan akan mendapatkan tape dengan kualitas yang sama.

Pembelajaran:

  1. Bisnis yang memiliki barrier of entry yang rendah, akan mudah dikopi orang. Pada akhirnya, akan menjadi commoditised market tanpa ada pembeda. Dengan kata lain, bisnis yang memiliki barrier of entry yang rendah.
  2. Hati-hati dalam berbagi ‘Kiat Sukses’ di tabloid atau seminar. Bijak lah dalam berbagi ilmu. Jika bisnis anda yang sukses ini sebenarnya memiliki barrier of entry yang rendah, maka tinggal tunggu waktu saja sampai bisnis anda dikopi plek ketiplek.

 

Differentiate or Die

Nah kita tiba di diferensiasi produk. Apa sih diferensiasi produk ini? Ketika sebuah produk dideferensiasi, dia menjadi beda dari yang lain. Dan yang seperti ini, biasanya yang dicari. Hal-hal yangmembuat produk terdiferensiasi itu ada banyak hal.

Pertama: modifikasi dari produknya.

Contoh yang dapat kita pelajari adalah pengusaha restoran steak. Dari beberapa restorans teak, hanya satu dua yang ngehits banget. Itu karena dia berhasil mendiferensiasi steak dia dengan resep yang rahasia.

Contoh lain adalah restoran ayam goreng. Gue masih inget waktu kecil, ayam goreng mbok berek itu gak ada saingannya. Resepnya juga rahasia. Dan mereka juga punya pengunjung loyal. Sekarang kenapa mbok Berek sepi banget? Mbok Berek sepi bukan karena resepnya mudah dikopi. Tidak Resepnya tetap menjadi satu hal yang membuat produknya berbeda di market. Hanya saja, industry kuliner sudah sangat berkembang sehingga konsumen punya pilihan mau makan sushi, ayam goreng, fastfood atau steak. Jika kita memberikan survey pada 1000 orang untuk memilih antara sushi, steak, ayam goreng dan fastfood, mungkin sushi yang jadi juara. Tapi jika memberikan survey yang meminta orang untuk memilih antara ayam goreng fatmawati, ayam goreng wong solo, ayam goreng mbok berek dan ayam goreng saur kuring, mungkin mbok berek masih yang teratas. Produknya masih terdiferensiasi dengan baik. Sedikit catatan untuk mbok berek, saingan dia dalam gorengan ayam adalah ny Suharti. Ketika disandingkan dengan ayam goreng ny suharti, kedua ayam ini sekilas terasa sama. Di titik ini lah ayamnya ter-commoditised.

 

Kedua: Memanfaatkan Barrier of Entry yang Tinggi

Seorang pengusaha dapat saja memanfaatkan barrier of entry yang tinggi untuk menjaga kompetisi. Contohnya, adalah lokasi. Karina punya resep rahasia keluarga berupa ayam kukus, dan dia punya uang 2 milyar. Dengan modal 2 aspek ini, dia punya pilihan:

  1. Buka restoran ayam kukus di blok M, harga toko = 1.8 M.
  2. Buka restoran ayam kukus di SCBD, harga toko = 2.3 M.

Karina mulai analisa. Jika buka restoran di blok M, maka dia akan bersaing dengan 300 restoran lain. Tapi jika dia buka restoran di SCBD, dia akan bersain dengan 60 restoran lain. Tidak mudah untuk buka restoran di SCDB but you know what, marketnya gede di sana. Dan jumlah restorannya yang bersaing juga gak terlalu banyak. Sekarang tinggal harus yakin atau tidak bahwa ayam kukusnya akan menjadi kegemaran orang-orang atau tidak. Jika iya, maka Karina akan lebih sukses buka restoran di SCBD. Jika tidak, ya pastinya akan bangkrut. Tapi setidaknya, barrier of entrynya tinggi kan. Intinnya, disbanding 360 restoran yang lain, Karina memiliki lokasi di SCBD yang mana lebih baik dari 300 resotran yang lain. Dengan memilih restoran di SCBD, dia sudah menyisihkan kompetisi jadi hanya 60 restoran saja. Resep dia akan menjadi penentu apakah dia bisa survive bersaing dengan 60 sisa restoran ini.

Contoh lain adalah skill yang unik. Contoh yang dapat kita lihat di bidang ini adalah jasa financial planning. Sampai tahun 2010-2011, jasa financial planning masih menjadi suatu jasa dengan skill yang unik. Itu sebabnya jasa financial planning yang ada, sangat sukses. Jalan 2012-2013, gue melihat sepertinya jasa financial planning sudah mulai banyak. Tingkat keunikannya sedikit berkurang melihat jasa ini mulai banyak yang nawarin. Meski demikian, setidaknya sampai saat ini, ilmu financial planning ini terlihat tinggi barrier of entrynya. Gak tau deh kalo nanti gimana. Yang jelas, financial planner yang ada sementara menikmati barrier of entry yang tinggi. Ini berarti sedikit pesaing. Ini berarti kemampuan untuk meng-quote harga yang lebih tinggi.

Contoh lain adalah network. Sebuah manajemen artis ABC lebih banyak diminati artis dari manajemen artis XYZ, karena manajemen artis ABC ini memiliki hubungan baik dengan semua rumah produksi. Lain halnya dengan manajemen artis XYZ yang hanya menjadi langganan 1-2 PH. Manajemen artis ABC ini tau bahwa network adalah asset mereka. Artis pun masih rela bahwa ABC bilang, sama kiota, komisinya 11%. Padahal manajemen artis XYZ hanya 10%. Artis akan mikir, ah, sudahlah, 1% lebih mahal tapi job yang gue bisa dapet bisa jauh lebih banyak. Sudahlah meski mahal, sama ABC aja.

 

Contoh Persaingan dengan Product Differentiation Yang Nyata

Contoh terbaik adalah adalah perusahaan travel. Cerita di balik perusahaan travel melibatkan kedua aspek, modifikasi produk dan barrier of entry.

Travel AAA hanya punya 4 mobil. Karenanya asetnya terbatas, maksimum dia punya jadwal berakngkat pukul 6, 10, 14, 18. Travel BBB, punya armada 8. Karenanya dia bisa memberikan jadwal keberangkatan tiap jam. Dalam konteks ini, jelas travel BBB punya produk yang beda dari yang lain. Tiap jam bok. Dan untuk menyaingi travel AAA itu susah, karena barrier of entrynya tinggi (duit/asset).

Eh ternyata nih, masuk competitor CCC dengan 8 armada 8. Hasil minjem di bank dan memberikan jadwal perjam juga. Tiba-tia barrier of entry Travel BBB hilang kan. Ada kompetisi. Travel BBB terpaksa memodifikasi produknya. Semua interior mobilnya dia overhaul, jadi jauh lebih nyaman. Travel BBB kembali menjadi favorit.

Eh ternyata travel CCC overhaul juga, plek ketiplek. Karena tidak susah untuk overhaul. Travel BBB berpikir keras mencari akal untuk memodifikasi produknya lagi. yang lain. Dia belajar dari riset bahwa orang dari Jakarta ke Bandung itu paling banyak dari Kemanggisan dan ingin ke Cihampelas. Maka untuk membuat produknya terdiferensiasi, travel BBB buka cabang di kemanggisan dan cihampelas. Begitu seterusnya.

 

Contoh lain adalah pengalaman gue menulis Jomblo di tahun 2003. Di tahun itu, toko buku didominasi buku sastra yang serius. Penerbit juga melihat bahwa pasar buku adalah XX juta pembaca, yang membeli lets say 20 judul buku sastra serius.

 

Kemudian gue datang dengan differentiated product. Dari 20 judul buku sastra serius, gue jual buku komedi. Ternyata gue laku. Karena buku gue, gue desain agar yang membeli adalah bukan XX juta pebuku. Tapi YY juta orang yang butuh hiburan. Ternyata, buku gue membuka mata banyak penerbit bahwa market buku itu, selain XX juta pembaca serius, ada juga YY juta pembaca hiburan. XX juta pembaca buku membeli 20 judul buku, YY juta pembaca buku beli buku gue. Jadilah gue best seller. Untuk beberapa waktu, gue menjadi penulsi yang beda. Yang menjual sebuah product yang differentiated.

Tapi kemudian para penerbit cepat tanggap dan mulai menerima penulis-penulis yang menghibur juga. Setelah 1-2 tahun, gue tidak lagi menjadi satu-satunya penulis komedi. Gue tidak lagi beda dari yang lain. Gue jadi punya saingan. Ya sudah, begitu saja. Gak apa-apa rejeki kan gak salah kasih ya. Everything is fair in this jungle. Itu lah kasus gue jika kita telaah dari segi marketing ya.

 

Pembelajaran:

  1. Ketika sebuah bisnis memiliki barrier of entry yang tinggi, saingannay semakin sedikit.
  2. Sebaiknya sebuah usaha memiliki product differentiation yang susah ditiru,
  3. Sebaiknya sebuah pengusaha memiliki product differentiation lebih dari 1, untuk menjamin business modelnya sulit ditiru.

 

So, jika elo mau sukses, jadilah orang yang beda dari yang lain. Jiak elo ingin jadi poengusaha yang sukses, pastikan kita punya produk yang beda. Dan bedanya gak hanya 1 level saja.

Rgds.


Category: Uncategorized

Khasiat Fisik Puasa

Ada seorang teman dari India yang pernah memberikan gue beberapa pertanyaan seputar puasa. Untungnya dia hanya bertanya. Bukan mendebat dan bukan dengan mindset dia harus menang argument. We were not trying t turn this discussion into a debate anyway. Meski gue bukan nutrisionis, gue mencoba menjawab memakai ilmu yang gue tahu pasti tentang puasa. Jawaban terhadap pertanyaan dia gue fokuskan pada fisik saja.

 

Tanya: Kenapa kita harus berpuasa?

Dia bertanya ini dengan dasar pemikiran, jika puasa itu menyehatkan, kenapa islam tidak menganjurkan vegetarian saja, seperti yang banyak orang lakukan di India, misalnya.

Jawab:

Dari ilmu medis, banyak dokter yang setuju bahwa puasa adalah salah satu bentuk detoksifikasi. Yaitu aktifitas di mana, dengan kita mengubah pola makan kita, racun yang menumpuk dalam tubuh kita dapat keluar. Organ pencernaan kita jadi dapat beristirahat. Cermati di sini bahwa gue bilang mengubah pola makan. Mengubah pola makan di sini bisa berarti:

-          Dengan tidak memasukkan makanan selama sepanjang waktu, kita mengijinkan organ kita istirahat. Belum tentu mengurangi junlah makan. Karena pada kenyataannya, puasa dan tidak puasa itu sama kok.

Di kala tidak puasa, kita sarapan light meal, makan siang, lantas makan malam.

Di kala puasa, kita buka puasa dengan light meal, makan malam, dan sahur.

Secara intake, volume makanan yang masuk tidak banyak berbeda, mungkin bisa dibilang tidak berkurang. Hanya waktu absen makanannya lebih lama, yang mengijinkan organ beristirahat dan mengeluarkan racun yang menumpuk.

-          Mengubah pola makan juga berarti memerhatikan intake makanan di malam hari. Contoh kasus, puasa seharusnya menyehatkan. Tapi sehatnya puasa mungkin terganggu jika ketika buka, kita hajar dengan intake gula berlebihan. Atau makan malamnya gulai otak, ditambah gulai kepala ikan, ditambah tongseng kambing. Yah kalo gitu mah, susah ya. Organ istirahat lama tapi begitu buka, intakenya keterlaluan juga. Proses detoksifikasinya jadi tidak maksmial.

 

Tanya: Kenapa kita harus berpuasa specifically 29-30 hari berturut-turut.

Dia bertanya ini dengan dasar, jika puasa memang memberi khasiat yang menyehatkan, kenapa harus 30 hari? kan dalam islam sudah ada puasa nabi daud atau puaa senin kamis. Tidakkah itu sudah cukup? Maksud dia, puasa senin kamis sepanjang tahun hijriah = 104 hari, yang artinya 29% (104/355) yang mana lebih banyak dari jika kita berpuasa di bulan ramadhan 8% dari satu tahun hijriah (30/355).

Jawab:

Sebenarnya kembali pada proses detoksifikasi itu. Yang gue pernah baca, sayangnya referensinya gak dapet di google…(sori), dan teman-teman dokter, mohon koreksi gue kalau gue salah, dan gue akan revisi perkataan gue ke temen gue, Proses detoksifikasi akan lebih efektif jika dilakukan terus-menerus sepanjang waktu tertentu. Jika selang-seling (puasa, nggak, puasa, nggak) seperti puasa senin kamis atau puasa nabi Daud, khasiat hesatnya ada tapi efektifitas terhadap detoksifikasinya tidak sehebat jika kita puasa 30 hari berturut-turut. Puasa 30 hari berturut-turut, mengubah kebiasaan kita. Mengubah waktu-waktu di mana organ kita menjadi terbiasa. Puasa yang selang-seling, meski sehat, tidak memberikan khasiat ini.

 

Tanya: Jika puasa memang sehat, kenapa orang India yang banyak yang vegetarian jumlahnya bisa 1 milyar? Kenapa orang di cina yang gak puasa dan makan babi, bisa 1 milyar juga. Mereka gak puasa. Orang di cina makan babi. Orang di India gak makan daging.

 

Jawab:

Ini gue agak sulit menjawabnya karena perbandingannya bukan apple to apple ya. More like apple to orange. But, lets review.

Orang di India,

Orang india menjalani hidup yang sangat sehat. Beberapa tidak makan nasi. Beberapa tidak makan daging (vegetarian). Ditambah lagi yoga. Hasilnya, non muslim population di india = 1.2 billion – 250 million Indian muslim yang berpuasa. Total, give or take, 1 milyar orang sehat.

Orang di Cina

Orang di Cina menjalani hidup yang sehat juga. rajin tai chi. Rajin minum teh. Hasilnya, meski orang cina sama seperti orang barat, pemakan segala daging, populasi orang di cina = 1.2 milyar.

Populasi muslim,

Rata-rata puasa 30 hari dalam 354 harinya. Setelah itu makan segala. Salat bagi orang islam mungkin gerakan kesehatan yang sama seperti yoga bagi orang india dan tai chi bagi orang di cina. Populasi islam worldwide = 1.6 milyar.

http://www.pewresearch.org/fact-tank/2013/06/07/worlds-muslim-population-more-widespread-than-you-might-think/

Malah lebih banyak.

Orang bule

Makan: Pemakan segala. Vegetarian? Nggak. Puasa? Nggak. Ada pantangan tertentu seerti babi di islam atau yahudi? Nggak.

Exercise: tidak ada aliran agama/budaya khusus. Melakukan yoga? Nggak. Melakukan tai chi? Nggak. Melakukan salat? Nggak. Hasilnya? Meski orang bule total di amerika+eropa 3 milyar lebih, banyak orang di eropa dan Amrik menderita obesitas,kanker dan diabetes.

Gue pernah baca LSM asing memberikan gambaran tentang Indonesia. Bahwa di Indonesia, kita (muslim dan non-muslim ya) masih sangat buruk dalam mendeteksi jumlah orang yang menderita kanker atau obesitas atau jantung atau penyakit apa lah. Makanya terlihat rendah. Karena perhatian kita terhadap kesehatan, rendah. Atau karena orang Indonesia terlalu miskin untuk pergi ke dokter

Gue mikir sebenernya pernah gak ya LSM-LSM ini mikirnya dibalik. Coba orang-orang bule yang puasa. Gak perlu masuk islam. Cukup puasa aja. Atau gak usah puasa lah. Rajin-rajin aja semuanya tai chi. Atau rajin-rajin yoga. Mungkin angka obesitas, angka kasus penyakit kanker dan angka penyakit diabetes bisa berkurang.

 

Dan untuk pertama kalinya, temen gue dari India yang nanya-nanya itu….brenti berhenti bertanya.


Category: Uncategorized