Pasangan Gubernur Teladan
Pemimpin yang baik harus memiliki 2 hal. Visi, dan control. Pemimpin yang sukses harus mampu bersikap visioner. Visi itu dia terapkan dan dia minta anak buahnya jalankan. Dalam pelaksanaannya, dia melaukan control atau dalam dunia korporat, melakukan performance management. Pasangan gubernur Jakarta, Jokowi dan Ahok membawa perubahan yang Jakarta perlukan karena mereka adalah sosok dengan performance management yang sangat kuat. Ahok itu jeli dan pintar dalam menyusun anggaran sehingga tidak ada yang dapat mengelabui dia. Jokowi sering blusukan sebaga control dan managing performance camat dan lurah. Berpasangan, kedua orang ini benar-benar mendatangkan perubahan yang hebat. Gue gak akan berlebihan jika berkata bahwa Jokowi dan Ahok adalah pemimpin teladan karena performance management ini.
Apa pun perangainya, apa pun motivasinya, tidak data dinihilkan bahwa Jokowi dan Ahok memberika perubahan positif. Tidak akan ada yang pernah mampu menihilkan hasil kerja mereka.
Bagaimana dengan Visi?
Tapi control/performance management, baru 1 sisi dari seorang pemimpin. Sisi lain adalah visi. Visi yang baik adalah visi yang mengakomodir semua rakyatnya. Visi juga dating dari kerangka berpikir seseorang. Setelah berapa lama menjadi wakil gubernur, gue mulai mencermati paradigm yang mengkhawatirkan dari Ahok. Simak setidaknya 2 artikel ini:
===
Quote: “Orang kaya harusnya tinggal di luar kota karena mereka punya sopir, mobil, dan duit.” kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (18/10/2012).
Untuk merealisasikan wacana tersebut, Ahok akan menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Jakarta. Hal ini akan membuat keengganan untuk memiliki tanah maupun bangunan di kawasan Jakarta.
“Jadi di sini kenapa orang kaya pindah ke luar kota karena nanti kami akan menjadikan PBB di Jakarta ini tinggi sehingga mereka memilih tinggal di luar Jakarta.” katanya.
Dan untuk menyiasati agar warga yang berekonomi kecil tak terlalu terkena imbas naiknya PBB Jakarta. Ahok juga berwacana untuk membangun Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) di kawasan bisnis Jakarta.
:End quote
===
Jujur aja ya, gue khawatir dengan kerangka berpikirnya. Kerangka berpikir Ahok dalam kasus ini adalah: Jika elo kaya, maka elo harus tinggal di luar kota, karena elo punya uang yang dapat elo hamburkan di supir dan bensin.
Gue bukan orang kaya. Gue kerja mati-matian untuk gaji gue. Tapi dengan gue punya uang, bukan berarti gue bersedia menghamburkan uang gue untuk supir dan bensin. Gue capek-capek kerja ya gue tabung lah. Paradigma di mana orang berduit = harus pindah ke pinggiran karena lebih mampu bayar supir dan bensin adalah paradigm sosialis/komunis. Yang lebih mampu harus suffer.
Maaf tapi gue jadi mampu karena kerja jujur kok. Kerja halal kok. Kerja keras kok. Gue punya uang juga gak dibantu sama Ahok kok. Kenapa gue harus dipunish dengan pindah ke pinggiran?
Niat Ahok adalah: memberikan kesempatan dan ruang bagirakyat kurang mampu untuk tinggal di tengah kota. Ini niat mulia. Caranya bisa kok, ya bangun aja apartemen murah di tengah kota dan pastikan yang membeli dengan slip gaji tertentu. Ini sudah dilakukan di apartemen kalibata. Gue pengen beli apartemen kalibata karena pada saat itu gaji gue udah over-qualified, gue mengurungkan niat. Sistem kontrolnya di situ. Ini solusi yang leih baik. Implementasinya keok. Implementasinya lah yang harus dijaga.
Jika niatnya memberikan ruang bagi golongan kurang mampu, maka caranya sudah ada, tinggal implementasinya dipantau. Tapi jangan pernah mengusir orang mampu dari rumah yang mereka beli dengan hasil kerja keras mereka. Itu namanya memberikan kesempatan bagi orang gak mampu dengan cara menghukum orang mampu, hanya karena mereka punya uang lebih banyak. Konyol.
===
Quote: “Filosofinya, semakin kurang beruntung nasib seorang anak karena penghasilan bapaknya rendah sekali, gizinya kurang, IQ-nya pas saja untuk tidak dikatakan idiot, masukkan dia ke sekolah unggulan tersebut. Karena itu negara yang bayar,” kata pria yang akrab disapa Ahok itu dalam video di Youtube berjudul “14 Nov 2012 Wagub Bpk Basuki T Purnama menerima paparan Dinas Pendidikan”.
“Jika anak orang kaya punya Alphard, sekolah aja di Al Azhar. Anak saya pun tidak boleh sekolah di MHT karena MHT didirikan untuk anak-anak tidak mampu supaya mereka bisa mengubah nasib untuk masa yang akan datang. Jadi, jangan dibalik,” ujar Basuki lagi.
: end quote
=====
Berita kedua berbicara tentang kualifikasi siswa di sekolah MHT yang dibiayai pemprov. Niatnya mulia; menjamin anak kurang mampu mendapatkan kualitas pendidikan yang tinggi. Karena selama ini pendidikan tinggi diiringi dengan harga mahal.
Implementasinya sudah benar. Anak dari orang mampu tidak boleh masuk ke sekolah ini.
Tapi lagi-lagi paradigm Ahok mengganggu: “Jika anak orang kaya punya Alphard, sekolah aja di Al Azhar.” Paradigma yang terbaca adalah: kalo elo punya duit, elo harus beli yang mahal-mahal. Sama dengan paradigm kasus rumah.
Jika gue jadi anak, gue juga gak akan mau masuk MHT. Gak akan boleh masuk MHT pula. Tapi dengan gue punya uang, bukan berarti gue akan memasukkan anak gue ke sekolah mahal juga.
Gue jadi ingin meneliti lebih lanjut tentang sekolah MHT ini. Apa bedanya dengan SMAN 70 yang gue masuk dulu. Dan ITB yang gue masuk dulu. MHT, katanya sekolahnya dibiayai Negara. Well, guru SMAN 70 juga pegawai negeri kok. Itu dibiayai Negara kan? Beda sama SMA Swasta yang gaji guru dari SPP. Gue dulu bayar SPP hanya 10 ribu karena sisanya ditanggung anggaran daerah. Masuk ITB, dosennya juga pegawai negeri kok. Gue hanya membayar 1/13 dari biaya pendidikan sebenarnya. Apa bedanya MHT, SMA 70 dan ITB? Mereka sama-sama sekolah subsidi. Ada yang tau? Gue bener-bener gak tau. Jawaban dari pertanyaan gue ini lumayan penting sebenernya.
Jika system subsidi MHT beda dengan SMA 70, then memang fair. Mungkin MHT disubsidi lebih banyak, selain dari APBN, juga dari APBD gitu. OK lah kalo gitu sih memang orang mampu gak boleh masuk MHT. Gue juga gak maul ah masuk sana.
Tapi jika system subsidi MHT = SMA 70, gimana dong? Apa ini artinya gue gak boleh masuk SMA unggulan? Enak aja. Siapa Ahok membatasi kesempatan orang mampu? Untuk kasus ini, semoga gue aja yang salah. Dan gue berharap gue memang salah. Jika ingin memberikan pendidikan yang baik, ya perbanyak aja jumlah sekolah unggulan. Ngapain batas-batasin orang kiri kanan?
- Kebanyakan orang jadi mampu karena kerja kerasnya, karena doanya karena rezekinya. Itu udah urusan masing-masing. Tetangga kiri gue miskin. Tetangga kanan gue kaya. Tetangga gue yang kaya tidak bersalah atas miskinnya tetangga gue yang di sebelah kiri kan?
- jangan pernah membuat kebijakan berdasarkan paradigma di mana “jika elo mampu, elo harus lebih susah. Elo harus keluar duit lebih banyak.” Kita udah ada pajak. Udah bayar pajak. Kita udah zakat. Kita udah bayar zakat. Kita udah sedekah. Orang yang tergolong mampu, kebanyakan udah melakukan bagiannya dalam menyokong kehidupan bernegara dan beragama. Gak perlu dikotak-kotakkan orang mampu harus tinggal di pinggiran.
- Implementasi dari sekolah MHT dan apartemen kalibata sudah benar. Tinggal diawasi aja.
- Memberikan kesempatan pada orang tidak mampu tidak harus dengan memerkecil kesempatan orang mampu. Orang mampu menjadi mampu, kebanyakan tidak dengan merugikan orang tidak mampu itu.
Ps: Waktu pilkada kemarin, gue pilih Jokowi dan Ahok (round 2). Jadi gue punya tempat dan hak juga untuk ngomong gini.
Category: Uncategorized




